June 13th, 2006 at 3:10 am (Artikel)
Kiamat Memang Sudah Dekat
(Published – WWF Indonesia Website www.akusayang.com)
Kiamat bagi sebagian orang adalah peristiwa magis cenderung komikal, melibatkan naga berkepala tujuh atau jembatan dari rambut dibelah tujuh. Peristiwa ini merupakan intervensi pihak eksternal, yakni Tuhan, yang akan datang menghakimi manusia di hari yang tak terduga.
Lalu, jika tiba peristiwa alam yang meluluhlantakkan sebagian besar Bumi sebelah utara, melenyapkan sebagian besar Eropa, menihilkan kehidupan di Rusia, menyusutkan populasi AS hingga separuh, merusak berat Australia, Jepang, dan menenggelamkan pesisir pantai dunia hingga 6 meter, menciutkan populasi Bumi sekurangnya dua puluh persen, lalu membiarkan sisanya dicengkeram iklim ekstrem dan kekacauan global, akankah ini cukup untuk sebuah definisi hari kiamat?
Saya terusik ketika membaca buku Graham Hancock “Fingerprints of the Gods”. Dengan bukti-bukti yang ia kompilasi dari peradaban kuno Aztec, Maya, Hopi, dan Mesir, Hancock menemukan jejak peradaban yang kecanggihannya melebihi peradaban modern hari ini, tapi hilang sekitar 10,000 tahun SM oleh sebuah bencana katastrofik yang mengempaskan ras manusia kembali ke Zaman Batu. Bukti geologis pun mendukung bahwa Bumi telah beberapa kali mengalami climate shift.
Suku Maya dikenal sangat obsesif terhadap hari kiamat. Mereka percaya lima siklus kehidupan (atau ‘matahari’) telah terjadi. Dan sistem canggih kalendar mereka (Hancock meyakininya sebagai warisan dan bukan temuan) menghasilkan perhitungan bahwa matahari ke-5 (Tonatiuh), yakni zaman kita sekarang, berlangsung 5125 tahun dan berakhir pada tanggal 23 Desember 2012 AD. Sementara itu, peradaban Mesir Kuno menghitung siklus axial Bumi terhadap kedua belas rasi bintang. Siklus yang totalnya 25,920 tahun ini bergeser teratur, masing-masing 2160 tahun untuk tiap rasi. Posisi kita sekarang, rasi Pisces, telah menuju penghabisan, bertransisi ke Aquarius dengan pergolakan dahsyat.
Dengan pendekatan yang lebih esoterik, Gregg Braden dalam bukunya “Awakening to Zero Point” meninjau fenomena polar shifting, yakni bertukarnya Kutub Utara dan Kutub Selatan yang ditandai oleh melemahnya intensitas medan magnet Bumi – tercatat sudah turun sebanyak 38% dibandingkan 2000 tahun lalu dan dipercaya akan sampai ke titik nol sekitar tahun 2030 AD. Fenomena alam ini sudah 14 kali terjadi dalam kurun waktu 4,5 juta tahun.
Di luar dari kontroversi saintifik soal teori Hancock dan Braden, sukar untuk disangkal bahwa Bumi kita memang tak lagi sama. Tahun 1998 tercatat sebagai salah satu puncak perilaku alam yang luar biasa. El Nino, disusul oleh La Nina, lalu Tibet dan Afrika Selatan masing-masing mengalami musim dingin dan banjir terburuk dalam 50 tahun terakhir. Memasuki tahun 2005, tsunami memporak-porandakan Asia, lalu Katrina menghantam Amerika Serikat. Entah apa lagi yang akan kita hadapi.
Namun pemahaman kita merangkak lamban seperti siput dibandingkan alam yang bagai kuda mengamuk. Isu pemanasan global membutuhkan satu dekade lebih untuk diakui para skeptis dan birokrat. Di Indonesia, sumber energi alternatif baru ramai dibahas setelah harga BBM melonjak, setelah bangsa ini telanjur ketergantungan minyak. Isu pengolahan sampah dapur hanya sampai taraf bisik-bisik, itupun setelah gunung sampah longsor dan memakan korban.
Selain upaya kalangan industri yang dirugikan oleh turunnya konsumsi energi fosil, lambannya respons kita juga disebabkan perkembangan sains ke pecahan-pecahan spesialiasi hingga fenomena yang tersebar acak jarang diintegrasikan menjadi satu gambaran utuh, dan tanpa sebuah model analisa yang sanggup menunjuk satu tanggal pasti, bencana katastrofik ini hanya menjadi wacana spekulatif. Sekarang ini bisa dibilang kita dibanjiri data dan gejala tanpa sebuah kerangka diagnosa.
Pengetahuan kita tentang akhir dunia pun stagnan dalam kerangka mitos biblikal yang sulit dikorelasikan dengan efek panjang kebakaran hutan atau eksploitasi alam, hingga lazimlah jika orang beribadah jungkir-balik demi mengantasipasi hari penghakiman tapi terus membuang sampahnya sembarangan. Untuk itu dibutuhkan pemahaman akan bahaya dari pemanasan global, dan tindakan nyata untuk meresponsnya dengan urgensi skala hari kiamat.
Ada tidaknya hubungan knalpot mobil kita dengan cairnya es di kutub, bukankah kualitas udara yang baik berefek positif bagi semua? Lupakan plang ‘Sayangilah Lingkungan’. Kita telah sampai pada era tindakan nyata. Banyak hal kecil yang bisa kita lakukan dari rumah tanpa perlu menunggu siapa-siapa. Perubahan gaya hidup adalah tabungan waktu kita, demi peradaban, demi yang kita cinta.
Angkot kita satu dan sama: Bumi. Tarif yang kita bayar juga sama, mau kiamat jauh atau dekat. Tidak ada angkot lain yang menampung kita jika yang satu ini mogok. Penumpang yang baik akan memelihara dan membantu kendaraan satu-satunya ini. Sekuat tenaga.
Kadek Krishna Adidharma said,
June 13, 2006 at 11:26 pm
Dee, gw setuju dunia ini sudah berulang kali berakhir, misalnya bagi orang Aztec, yang menanti kiamat mereka di tebing setelah upacara penyucian ketika layar-layar kapal Spanyol yang mengantar Cortez muncul dari balik horizon.
Demikian banyak peradaban dan bahasa di muka bumi ini: lebih banyak pula world view yang ada.
Saya rasa kalau dikata sekarang ini kiamat kian mendekat, itu karena kiamat itu kian sering terasa oleh berbagai suku dan kaum minoritas di muka bumi ini. Bila dunia tidak memberi mereka ruang sama sekali untuk melatih kemampuan mereka untuk melihat dunia ini melalui kaca mata yang mereka warisi dari nenek moyang mereka, maka lambat laun identitas mereka akan pudar terhapus perkembangan jaman.
Jadi saya tidak main-main, kalau sebagai orang Bali saya berkata, RUU APP merupakan ujung tombak terselubung sebuah upaya untuk membawa kiamat bagi sekian banyak peradaban di Indonesia.
Dunia yang kita kendarai ini mungkin cuma satu, tapi sebegitu beragam keindahannya bukan hanya karena alam, tapi juga karena interpretasi, pemahaman, visi dan perawatan sekian generasi mahluk yang telah menemukan hidup di mukanya.
chindy said,
September 23, 2006 at 11:36 pm
Dee, berikut ilustrasi dari Bruce Wallace,”one member’s view,”
perihal betapa jauh jarak pemahaman yang harus kita kebut untuk menyadari kondisi keterpurukan alam kita, betapa telah mencapai status DARURAT!
Tragedi Titanic merupakan cermin yang refleksinya segambar dengan keadaan kita sekarang.
Lima hari setelah berlayar dari Southampton, Inggris, kapal Titanic menabrak sebuah gunung di Laut Atlantik Utara. Kecelakaan tersebut terjadi tanpa diperhatikan oleh sebagian besar penumpang–sekedar goncangan, menurut salah seorang penumpang itu.
Setelah mendengar laporan-laporan adanya air yang memasuki palka, Kapten Edward J.Smith dan Tuan Thomas Andrews, seorang perancang kapal yang berada di kapal itu sebagai wakil pembuat Titanic, turun ke bawah untuk melakukan suatu pemeriksaan. Setelah kembali ke anjungan kapal, Tuan Andrews melakukan serangkaian perhitungan dengan cepat, kemudian menyampaikan berita itu kepada kapten:”kapal ini mengalami kecelakaan; paling banter Anda mempunyai waktu 1,5 jam sebelum kapal ini tenggelam.” segera keluarkan perintah:Turunkan perahu-perahi penyelamat!
Para penumpang Titanic bukanlah pelaut-pelaut yang berpengalaman. Kapal itu besar dan meyakinkan; kapal itu telah mereka huni untuk beberapa minggu.Para bankir masih kembali ke kantor mereka di New York terus melanjutkan perundingan-perundingan…Para profesor yang baru kembali dari cuti tujuh tahunan masih terus merencanakan akan mengisi kuliah. akhirnya, banyak orang yang yang tetap lebih suka tinggal di kapal daripada menaiki perahu penyelamat yang kecil itu.
Situasi yang telah berubah drastis terbaca dengan sangat lambat, bukan karena penyangkalan melainkan karena TIDAK MEMAHAMI. ketika kenyataan tidak dapat disangkal lagi, para penumpang meperlihatkan segala macam manusia–mulai sifat pemberani dan pahlawan sampai pengecut. Beberapa orang kebingungan bahkan ada yang putus asa sama sekali. Yang lain puas dengan mempertahankan status quo: penumpang kelas tiga dihambat oleh banyak anggota awak kapal agar tidak meninggalkan ruangan-ruangan geladak kapal yang kemasukan air untuk pergi berlindung ke geladak lebih atas yang harganya lebih mahal.
Pada akhirnya, kenyataan tidak dapat disangkal. Pada dini hari tanggal 15 April tahun 1912, Titanic tenggelam dengan korban jiwa lebih dari 1500 orang
Kisah Titanic suatu analogi yang sangat pas untuk melukiskan kurangnya pemahaman akan situasi yang kita hadapi: ketidakmampuan kita untuk mengerti dahsyatnya kemerosotan yang sedang berlangsung di planet bumi kita ini dan bagaimana kita sedang meletakkan masa depan kita diujung tanduk. sedikit orang yang memahami besarnya antrian malapetaka yang menunggu kita;masih sedikit lagi yang mempunyai gambaran yang baik mengenai apa yang harus dilakukan mengenai kemerosotan ini.
Prof Jared Diamond, dalam Why is there a crisis? Dengan ekspresi keprihatinan yang teramat dalam menyampaikan, bagaimana tanah subur berubah menjadi gurun..mula RUNTUHnya suatu peradaban, sejarah merekam lusinan contoh..fertile crescent di Mesopotomia, lembah indus, Missisipi, Chaco canyon,…
Dan Ternyata, kasus serupa cuma 20kiloan meter dari jogja. Gunung Kidul, daerah yang sangat minus, tandus, ternyata dulu adalah hutan yang subur. Saya udah pernah cerita belon ya…Bu Etty, dosen UKDW yang pernah saya temui saat ngisi penyuluhan di Magelang. Beliau bercerita kalo suaminya yang kebetulan ikut gabung dalam penelitian terpadu Ekologi-arkeologi yang di biayai Jepang untuk penyelamatan situs-situs arkeologi di Gunung Kidul. Salah satu hasilnya, Ekologi Gunung Kidul, dulunya subur dan ada jejak hutan lebat pernah eksis disana. Sekarang? Ngeri banget Dee..Medannya berat banget.jalan belon diaspal cuma beralas batu2 terjal udah itu nanjak-nanjak lagi. Saya komentar sama teman, kondisi seperti ini, kuda mungkin kendaraan yang paling cocok. Benar saja, motor anak2 gantian turun mesin lepas kkn;) Disana saya bertemu dengan seorang wanita paruh baya baru saja ngambil air dengan berjalan kaki sejauh 4-5km.
No Forest No Water. Menurut Science Bumi sudah 5 kali mengalami kehancuran dan sekarang kita sudah berada diambang ke-6. Jika kehancuran sebelumnya memakan waktu ribuan tahun sekarang kehancuran ke-6 bisa 10 bahkan 100kali lebih cepat. Untuk 100 tahun ke depan saja, Homeostasis Bumi mungkin sudah berada di puncak kolaps.
Btw, Dee dan temen-temen lain buku terbaru Jared Diamond Collapse:How Societies Choose to Fail or Succed udah beredar di Indonesia. Coba cari di Periplus bookshops.Bandung ada di Istana Plaza,(022)601 7258
cing said,
October 15, 2006 at 8:12 pm
Dee, Kuentire ora ukur-ukur rek! jam 9-13 di klinik, 13.30-14an lewat dikit maem di mba’G..sms masuk, Vera- sie kons konfirm mastiin waktu u lobbying partisipant exhibition u seminar VG besok Des.
Janjie jam 18 tet! padahal saya masih harus ke klinik, drop bahan, jam 16.00 ke shalink-walhi buka bersama dengan anak2 SMA.abis itu 19.30 ada rapat koord. Guemblunk rek! diulek, diobok-obok abis ama jarum jam, mungkin begini rasanya jadi bumbu pecel, guuebyah uyah, hehe..
Tapi asyik berat Nyai! Di acara nonton State of The Planet dan buka puasa bersama, sempat ngobrol ama satu anak yang keliatan minat banget ama menu road show green students movement. Tour to green community category, like Gondolayu lor, Sukunan and Mantrijeron, exeteraaa….
Vira namanya, dia nyempilin satu pertanyaan dalam obrolan kami. Apakah sekian kita yang cuma sejimpit mampu membendung laju kerusakan alam yang sedang terjadi. Apakah mungkin ada perubahan berarti yang bisa dihasilkan jika pemulihan dikejar dari sekarang?
Kadang saya saya iseng berpikir, jika bumi pertiwi, entitasNya, kita undang dalam satu perjamuan Jalankung, dia akan curhat apa ya?
Bayangan saya, dia akan datang dengan langkah yang berat menyuruk langkahnya satu demi satu dengan jubahnya yang rombeng. Kepalanya yang berpitak sana-sini korban ganasnya illegal lodging, dahinya berlipat tujuh, menyirat beban yang sudah terakumulasi sedemikian hebat.
Kemudian mungkin dengan suara lirih perih, dia akan bersuara,”Duhai titisan spiritku, adakah cara untuk memohon kepada keserakahan yang tak jua kalian tilik dalam hati kalian. Tamak yang meraja, membuka mulut menggeraok lapis demi lapis bumi yang kalian sebut pertiwi ini. Tak heran mud volcanoe di lapindo muntah entah sampai kapan. Tak heran tanah kering, merekah nelongso di musim kemarau berganti longsor plus banjir saat musim beregeser. . Tak heran juga asap dari daun, pohon dan batang2 yang terbakar menyambangi saban taon. saking tak herannya, heran pun hampir tak punya arti dinegeri ini. semua sudah biasa. sebiasa kita mengartikannya memang sudah demikian takdir negeri ini. Jerih hati ini memikirkan esok yang bisa kuhantar kepada kalian kelak
Sobat, Bundo pertiwi mengerang dalam kerinduannya mendamba SADAR hadir dalam diri kita. Mendamba momen ‘tuing’ bukan kun fayakun tapi ‘ngeh’ dengan situasi dan paham akan apa yang kudu dilakukan…ondee mandee…..
Hmm..ciut hati seperti ini bukan hanya milikmu adikku..Ijinkan saya, menitipkan satu keluh plus satu doping untukmu sista. “Pahit untuk mengakui kita memang sudah hampir kehabisan tenggat, ruang waktu untuk menata satu persatu kekisruhan fatal yang telah kita lepehkan pada Bumi kita ini, tapi jangan pernah berhenti berusaha, setidaknya bertahanlah menyumbangkan satu partikel harapan yang kita keluarkan dari nafas kita untuk dihirup oleh benih lain yang masih menyimpan harapan sama.”
timpakul said,
October 21, 2006 at 2:05 am
kiamat akan semakin dekat disaat tak lagi muncul kesadaran bertindak lebih bijak terhadap alam. Alam bukan hanya sekedar tempat untuk dinikmatkan, namun ia menjadi sebuah rumah belajar, dan sumber berkehidupan. Harusnya tak sekedar berucap…..