June 16th, 2006 at 8:24 pm (Artikel)
Satu Orang Satu Pohon
(Published – Pikiran Rakyat, 23 Juli 2006)
Ada yang tidak beres dalam perjalanan saya menuju Jakarta. Di sepanjang jalan menuju gerbang tol Pasteur, saya melihat pokok-pokok palem dalam kondisi terpotong-potong, tersusun rapi di sana-sini, apakah ini jualan khas Bandung yang paling baru? Sayup, mulai terdengar bunyi mesin gergaji. Barulah saya tersadar. Sedang dilakukan penebangan pohon rupanya. Dari diameter batangnya, saya tahu pohon-pohon itu bukan anak kemarin sore. Mungkin umurnya lebih tua atau seumur saya. Pohon palem memang pernah jadi hallmark Jalan Pasteur, tapi tidak lagi. Setidaknya sejak hari itu. Hallmark Pasteur hari ini adalah jalan layang, Giant, BTC, Grand Aquila, dan kemacetan luar biasa.
Bukan yang pertama kali penebangan besar-besaran atas pohon-pohon besar dilakukan di kota kita. Seribu bibit jengkol pernah dipancangkan sebagai tanda protes saat pohon-pohon raksasa di Jalan Prabudimuntur habis ditebangi. Jalan Suci yang dulu teduh juga sekarang gersang. Kita menjerit sekaligus tak berdaya. Bukankah harus ada harga yang dibayar demi pembangunan dan kemakmuran Bandung? Demi jumlah penduduknya yang membuncah? Demi kendaraan yang terus membeludak? Demi mobil plat asing yang menggelontori jalanan setiap akhir pekan? Beda dengan sebagian warganya, pohon tidak akan protes sekalipun ratusan tahun hidupnya disudahi dalam tempo sepekan. Pastinya lebih mudah menebang pohon daripada menyumpal mulut orang.
Seorang arsitek legendaris Bandung pernah berkata, lebih baik ia memeras otak untuk mendesain sesuai kondisi alam ketimbang harus menebang satu pohon saja, karena bangunan dapat dibangun dan diruntuhkan dalam sekejap, tapi pohon membutuhkan puluhan tahun untuk tumbuh sama besar. Sayangnya, pembangunan kota ini tidak dilakukan dengan paham yang sama. Para pemimpin dan perencana kota ini lupa, ukuran keberhasilan sebuah kota bukan kemakmuran dadakan dan musiman, melainkan usaha panjang dan menyicil agar kota ini punya lifetime sustainability sebagai tempat hidup yang layak dan sehat bagi penghuninya.
Bandung pernah mengeluh kekurangan 650.000 pohon, tapi di tangannya tergenggam gergaji yang terus menebang. Tidakkah ini aneh? Tak heran, rakyat makin seenaknya, yang penting dagang dan makmur. Bukankah itu contoh yang mereka dapat? Yang penting proyek ‘basah’ dan kocek tambah tebal. Proyek hijau mana ada duitnya, malah keluar duit. Lebih baik ACC pembuatan mall atau trade centre. Menjadi kota metropolis seolah-olah pilihan tunggal. Kita tidak sanggup berhenti sejenak dan berpikir, adakah identitas lain, yang mungkin lebih baik dan lebih bijak, dari sekadar menjadi metropolitan baru?
Saya percaya perubahan bisa dilakukan dari rumah sendiri, tanpa harus tunggu siapa-siapa. Jika kita percaya dan prihatin Bandung kekurangan pohon, berbuatlah sesuatu. Kita bisa mulai dengan Gerakan Satu Orang Satu Pohon. Hitung jumlah penghuni rumah Anda dan tanamlah pohon sebanyak itu. Tak adanya pekarangan bukan masalah, kita bisa pakai pot, ember bekas, dsb. Mereka yang punya lahan lebih bisa menanam jumlah yang lebih juga. Anggaplah itu sebagai amal baik Anda bagi mereka yang tak bisa atau tak mau menanam. Pesan moralnya sederhana, kita bertanggung jawab atas suplai oksigen masing-masing. Jika pemerintah kota ini tak bisa memberi kita paru-paru kota yang layak, tak mampu membangun tanpa menebang pohon, mari perkaya oksigen kita dengan menanam sendiri.
Ajarkan ini kepada anak-anak kita. Tumbuhkan sentimen mereka pada kehidupan hijau. Bukan saja anak kucing yang bisa jadi peliharaan lucu, mereka juga bisa punya pohon peliharaan yang terus menemani mereka hingga jadi orang tua. Mertua saya punya impian itu. Di depan rumah yang baru kami huni, ia menanam puluhan tanaman kopi. Beliau berharap cucunya kelak akan melihat cantiknya pohon kopi, dengan atau tanpa dirinya. Sentimen sederhananya tidak hanya membantu merimbunkan Bukit Ligar yang gersang, ia juga telah membuat hallmark memori, antara dia dan cucunya, lewat pohon kopi.
Kota ini boleh jadi amnesia. Demi wajahnya yang baru (dan tak cantik), Bandung memutus hubungan dengan sekian ratus pohon yang menyimpan tak terhitung banyaknya memori. Kota ini boleh jadi menggersang. Jumlah taman bisa dihitung jari, kondisinya tak menarik pula. Namun mereka yang hidup di kota ini bisa memilih bangun dan tak ikut amnesia. Hati mereka bisa dijaga agar tidak ikut gersang. Rumah kita masih bisa dirimbunkan dengan pohon dan aneka tanaman. Besok, atau lusa, siapa tahu? Bandung tak hanya beroleh 650.000 pohon baru, melainkan jutaan pohon dari warganya yang tidak memilih diam.
A Cing said,
June 20, 2006 at 1:05 am
‘Tak bisa membangun tanpa menebang’. kalimat ini mengusik saya. pohon, menurut kita dimana seharusnya tempat mereka? “Saya sudah minta dijelaskan aturan mana yang dilanggar terkait penebangan cemara laut di Pantai Panjang tersebut. Karena kami merasa tidak ada peraturan yang dilanggar, penebangan terus dilanjutkan”demikian keterangan Agusrin,Gubernur Bengkulu saat di wawancara wartawan kompas,jumat 28 April lalu. tidak ada peraturan yang dilanggar. statement yang perlu kita cermati. pihak Walhi Bengkulu sudah menentang keras penebangan ini, memohon pemda mempertimbangkan dampak abrasi dan intrusi air laut yang dapat ditimbulkan dari penebangan ini.Namun sobat, himbauan ini kebentur tembok tebel dan tinggi. hasilnya, seperti kata Gub,penebangan tetap dilanjutkan.
saya iri sekali dengan isi kepala dan isi hati pemerintah Jepang.sadar kalo,wilayah jepang seluruhnya dilalui lempeng tektonik, yang berarti rawan gempa, yang juga berarti kemungkinan tsunami juga ada. Makan daerah sepanjang pesisir pantai ditanami pohon. pohon dapat memecah gelombang air laut bila terjadi tsunami hingga hempasan ke daratan tidak terlalu besar.
Kenapa hal seperti ini tidak terjangkau oleh aturan yang disebut Gub Bengkulu sebagai acuan pembenaran penebangan.padahal di Bangladesh,bencana banjir longsor yang banyak merusak hutan bakau,telah dianggarkan penanamannya kembali, diperkirakan bth wt 25thn untuk memulihkan kembali hutan bakau. Gub Bengkulu juga berdalih tebang satu tanam 10 untuk pembenaran penebangan tsb.apa tidak terpikir nanam pohon, g kaya nyemai taoge.rendam hari ini besok jadi taoge, ud bisa berfungsi sebagai makanan.sedangkan pohon,nyemai benih hari ini, butuh puluhan tahun barulah ada fungsinya. gimana kalo 2,3 tao 10 taon kedepan terjadi tsunami di Bengkulu?pohon2 itu g bisa dikarbit untuk segera tumbuh dan besar agar bisa nahan gelombang.ya ampun Dee…spechless deh..
Bangladesh juga sebagai salah satu negara dengan hutan bakau terluas, terbukti saat bencana tsunami lalu,cukup banyak warga yang dapat selamat karena adanya hutan bakau dan pohon2 pesisir lainnya. Kenapa kita sulit sekali belajar dari fakta-fakta yang udah jelas2 terpapar didepan idung.Tsunami Aceh apakah tidak cukup membuka mata kita, betapa berartinya keberadaan setiap pohon yang bisa mecah gelombang.
A Cing said,
June 20, 2006 at 1:06 am
‘Tak bisa membangun tanpa menebang’. kalimat ini mengusik saya. pohon, menurut kita dimana seharusnya tempat mereka? “Saya sudah minta dijelaskan aturan mana yang dilanggar terkait penebangan cemara laut di Pantai Panjang tersebut. Karena kami merasa tidak ada peraturan yang dilanggar, penebangan terus dilanjutkan”demikian keterangan Agusrin,Gubernur Bengkulu saat di wawancara wartawan kompas,jumat 28 April lalu. tidak ada peraturan yang dilanggar. statement yang perlu kita cermati. pihak Walhi Bengkulu sudah menentang keras penebangan ini, memohon pemda mempertimbangkan dampak abrasi dan intrusi air laut yang dapat ditimbulkan dari penebangan ini.Namun sobat, himbauan ini kebentur tembok tebel dan tinggi. hasilnya, seperti kata Gub,penebangan tetap dilanjutkan.
saya iri sekali dengan isi kepala dan isi hati pemerintah Jepang.sadar kalo,wilayah jepang seluruhnya dilalui lempeng tektonik, yang berarti rawan gempa, yang juga berarti kemungkinan tsunami juga ada. Makan daerah sepanjang pesisir pantai ditanami pohon. pohon dapat memecah gelombang air laut bila terjadi tsunami hingga hempasan ke daratan tidak terlalu besar.
Kenapa hal seperti ini tidak terjangkau oleh aturan yang disebut Gub Bengkulu sebagai acuan pembenaran penebangan.padahal di Bangladesh,bencana banjir longsor yang banyak merusak hutan bakau,telah dianggarkan penanamannya kembali, diperkirakan bth wt 25thn untuk memulihkan kembali hutan bakau. Gub Bengkulu juga berdalih tebang satu tanam 10 untuk pembenaran penebangan tsb.apa tidak terpikir nanam pohon, g kaya nyemai taoge.rendam hari ini besok jadi taoge, ud bisa berfungsi sebagai makanan.sedangkan pohon,nyemai benih hari ini, butuh puluhan tahun barulah ada fungsinya. gimana kalo 2,3 tao 10 taon kedepan terjadi tsunami di Bengkulu?pohon2 itu g bisa dikarbit untuk segera tumbuh dan besar agar bisa nahan gelombang.ya ampun Dee…spechless deh..
Bangladesh juga sebagai salah satu negara dengan hutan bakau terluas, terbukti saat bencana tsunami lalu,cukup banyak warga yang dapat selamat karena adanya hutan bakau dan pohon2 pesisir lainnya. Kenapa kita sulit sekali belajar dari fakta-fakta yang udah jelas2 terpapar didepan idung.Tsunami Aceh apakah tidak cukup membuka mata kita, betapa berartinya keberadaan setiap pohon yang bisa mecah gelombang.
Anonymous said,
June 20, 2006 at 7:22 am
Pohon, jika dapat menjerit..jeritan apa kiranya yang akan kau teriakkan atas semua yang kami, manusia indonesia, lakukan padamu?
jalan layang, pusat pertokoan mendesakmu menjadi bagian dari kenangan
kemakmuran, dalih pamungkas untuk mengamini setiap putaran gergaji menutup usiamu di bumi pertiwi ini
saudaramu yang di pantai, nasibnya tidak lebih baik dari kalian
mulai dari pesisir sabang sampe merauke;
Profit tambak udang, urusan perut orang banyak alasan kami,jadi mohon maklumilah jika kami menebangmu
Pohon, kamu mungkin akan sangat iri dengan sobatmu yang hidup di negeri seberang, di Sydney, pohon-pohon
seperti di Hyde Park diasuransikan. Pepohonan tua
berusia ratusan tahun itu dihargai sekitar $150.000
sampai $300.000 per batang. Menebang pohon
di Australia ini tidak boleh sembarangan, harus
mendapat izin, walaupun itu tumbuh di kebun sendiri.
Bahkan kalau perlu, pohon yang tak dikehendaki
bisa dijual pada suatu ‘Nursery’ (Toko Pohon dan
tanaman). Seorang ‘Tree Surgeon’ alias “Ahli Bedah
Pohon’ akan datang dan mengoperasi pohon itu
seakar-akarnya untuk dipindahkan ke tempat lain.
Sebuah pohon biasa bisa berharga ratusan dolar
namun bisa lebih kalau jenisnya langka.
Tengok juga, nasib sebuah pohon Jelatang Cina besar di Hiroshima.Suatu malam, Agustus 1984 saat topan bergemuruh dan berderu melanda Hiroshima hingga meruntuhkan bangunan dan menumbangkan pepohonan. Tiba-tiba terdengar suara krak! sebuah pohon Jelatang Cina melintang ditanah, tercabut sekitar 4meter dari akarnya. pohon ini bukan pohon biasa, puluhan tahun sebelumnya, pohon ini bahkan mampu bertahan dalam suatu bencana yang lebih besar.saat bom atom dijatuhkan di Hiroshima.setengah batang pohon ini terbakar hangus.dalam keadaan sekarat anak SD Motomachi merawat pohon Jelatang ini hingga hidup kembali dan terus dibiarkan hidup sebagai saksi hidup bom atom. Sampai akhirnya datanglah terpaan topan,semua menduga ajal pohon ini telah tiba.Akarnya tercerabut dari tanah, kerusakan fatal.untunglah dalam perawatan seorang dokter pohon,Tadahiko Yamano.ketika tiba ditempat kejadian, Dr.Yamano menekankan kedua tangannya pada pohon tsb, lalu menutup matanya dan berkonsentrasi..merasakan kelembaban dan yakin bahwa pohon itu masih hidup.Akarnya masih padat.”Pohon ini akan tetap hidup”,ujarnya.Yamano dengan hati-hati mengerok kotoran pada akar pohon itu dengan sebuah garpu hingga pohon tidak rusak.Perawatan membuahkan hasil, kuncup-kuncup baru pada batang mulai tumbuh pada batang pohon. Pohon ini, adalah pohon ke-828 yang diselamatkan Dr.Yamano. Dengan penuh kecintaan Dr.Yamano mengusap pohon dengan tasbihnya sambil berkata,”terima kasih karena kamu sudah hidup sudah begitu lama”….Fiuhhhh, pohon-pohon kalau kalian melayakkan aku detik ini, detik iniiii saja untuk mewakili segenap rasa iri saya pada kesadaran dan kecintaan dan kepedulian yang begitu mengakar hingga intimacy yang sangat kental dapat terjalin sebegitu dalamnya antara manusia dengan kalian, pohon.
Dee, dan semua sobat2ku yang lain..apa saja yang bisa kita lakukan momen ini, lakukan saat ini juga. Anton, sobatku..pernah sangat gelisah sekali sepulang dari kampus bergegas meluncur ke
daerah kemetiran, ke taman depan vhr bodhicitta. ternyata untuk menyelamatkan benih2 kamboja yang yang sudah matang dalam tudung seperti tanduk.takutnya jika tudungnya matang dan membuka kata Anton benih2 di dalam akan terbang terbawa angin. Anton, bertangan hijau menurutku.benih2 itu sudah tumbuh 10cm-an sekarang.banyak lo…kita2 juga bisa memulai saat ini juga, rawatlah satuuu aja tanaman, seperti saran Dee..kalo aku boleh nambahin, jika Saudara tergolong orang sibuk, mgk sebaiknya pilih tanaman yang tahan banting mudah perawatannya dan manfaatnya g asing lagi, pengusir nyamuk-Zodia. Murah cuma Rp 8000,- satu pohon.
salam kasih,
A Cing
Dian Ina said,
August 23, 2006 at 12:01 am
ah, saya sedih sekali waktu sampai ke bandung yang gersang dua minggu yang lalu. hmmm… kok pada lebih suka aspal panas dan beton daripada angin sepoi-sepoi dan suara daun bergesekan ya?
chindy said,
October 16, 2006 at 11:33 pm
Dee, masih tentang Vira, Adik yang resah mengukur mampukah, SATU dari dia memberi perubahan pada luka-luka di Bumi kita ini..
Vira seolah hendak bertanya takzim pada satu pohon yang ditanamnya, adakah dia akan punya arti.
Cemas ini juga pernah ribut dalam balai hatiku, apa yang bisa dilakukan oleh SATU? Apalah arti SATU dari 6,5milyar renik yang berwujud manusia?
Tapi, coba…coba diam sebentar biarkan ampas kalut menata dirinya dalam dasar hati, mengendap..hingga hanya jernih rasa yang tersisa
SATU, ternyata tidaklah sekecil citra apapun yang lagi nyantol dibenakmu sekarang my dear sista..
Lihat jika kita mau bilang tidak pada SATU potong hamburger. Hasil perhitungan menunjukkan produksi setiap SATU potong hamburger ternyata MEMAKAN 5m2 hutan tropis. Ahli Biologi Univ State of Pennsylvania-Christopher Uhl dan Pakar Taman Botani New york-Geoffrey Parker lebih lanjut menguraikan bahwa tanah seluas ini terdiri dari: SATU pohon dengan 50 macam biji dari 20-30 spesies,ribuan serangga dari ratusan spesies, kelimpahan lumut, jamur dan mikroorganisma yang luarbiasa
Tahukah kita, untuk memberi makan kepada SATU orang pemakan daging selama satu tahun maka akan diperlukan tanah seluas hampir SATU hektar. Untuk memberi makan kepada SATU orang vegetarian dibutuhkan 1/10 hektar tanah. (May All Be Fed-Diet for A New World oleh John Robbins)
Dalam sejarah, deplesi topsoil merupakan penyebab keruntuhan banyak kebudayaan besar di dunia. setiap SATU tahun pertanian AS kehilangan lebih dari 5 milyar ton lapisan topsoil. Padahal untuk mengembalikan SATU inci topsoil butuh waktu 500 tahun.(www.navs-online.org/enviro.html)
Satu orang, melalui pilihannya potongan demi potongan daging ke mulutnya, mendorong buangan gas metana sebesar 80liter/hari. Padahal 1 molekul metana berdampak 25kali lipat lebih berbahaya dibanding 1 molekul Karbondioksida terhadap efek rumah kaca.
Beberapa saintis memprediksi dalam waktu 50 tahun, metana bisa menjadi gas rumah kaca utama. Meledaknya aktivitas peternakan sudah pasti adalah kontributor utamanya. Populasi sapi meningkat dobel dalam kurun waktu 40 tahun, terakhir telah sampai pada titik 2 ekor sapi untuk setiap 5 orang dimuka Bumi ini.
Setiap SATU tahun 6 juta hektar tanah merosot kualitasnya sehingga kehilangan kapasitas produksi, berubah menjadi tanah tandus (Desertification of Aridland,Dregue)Dan 80% dari tanah yang terdeplesi berasal dari lahan untuk peternakan.
Hutan tropis, dengan pola konsumsi kita sekarang ini hanya akan bisa bertahan kurang dari 40 tahun.
Experts estimates that we are losing 137 plant, animal and insect species every single day due to rainforest deforestation. That equates to 50,000 species a year. As the rainforest species disappear, so do many possible cures for life-threatening diseases. Currently, 121 prescription drugs sold worldwide come from plant-derived sources. While 25% of Western pharmaceuticals are derived from rainforest ingredients, less that 1% of these tropical trees and plants have been tested by scientists
(www.rain-tree.com)
Tak ada salahnya mencerna anjuran Larry Gonick & Alice Outwater dalam buku Kartun Lingkungan, “Bilang saja tidak pada hamburger!” hal.172…..Atas nama nasib hutan tropis, nasib atmosfer, dan nasib ketersediaan air bersih, keanekaragaman hayati, serta nasib peradaban manusia itu sendiri, pertimbangkanlah pilihan ini!
Lihatlah apa yang telah dan akan ditimbulkan oleh gas rumah kaca (CO2,NO2,CH4, CFC) yang berbuntut pada global warming, salah satunya adalah kenaikan permukaan air laut.
Peningkatan Satu meter kenaikan air laut akan mempunyai dampak pada 360.000 km garis pantai, membuat beberapa pulau tidak dapat dihuni, seperti yang akan terjadi di Bangladesh. Kenaikan SATU meter pada permukaan air laut akan meliputi 14% Bangladesh, menggusur 10% penduduknya dan 145 pertaniannya;infrastruktur fisik yang rusak mencakup 1,9juta rumah,1500km jalan kereta api, 10.300 jembatan,700km jalan berlogam.hutan Mangrove Sunderbans seluas 400.000ha akan rusak akibat salinitas dan kemudian penggenangan.
Setiap kenaikan air laut sebesar 10 cm, mengakibatkan hilangnya 10 meter pantai. Dan setiap 6,5cm berdampak penetrasi air laut kurang lebih 1km lebih jauh ke darat dalam muara datar. Jelas mengancam ketersediaan air bersih.
Pola kenaikan suhu bumi yang terjadi dalam beberapa dekade ini, diprediksi akan mencapai kenaikan 3-5 derajat celcius pada 2100(Time, April 2006) Besarnya kenaikan dalam hitungan abad merupakan rekaman PERTAMA kali dalam 120.000 tahun terakhir ini. Masa sebelumnya kenaikan suhu sebesar 3derajat celcius memakan waktu ribuan tahun dan sekarang hanya dalam ukuran SATU abad. Tahukah kita kenaikan SATU derajat celcius, pada Juli 1991, terjadi suatu fenomena coral bleaching yang sangat mengejutkan. Terumbu karang di kepulauan Maladewa mengalami pemutihan alias mati, padahal terumbu karang adalah tempat bergantungnya 25% spesies dilautan(BBC-State of the planet)
Ikan Tuna, ketersediaannya diperkirakan hanya bisa bertahan sampai 15 tahun kedepan (Newsweek,16 oct 2006)
Oooi, alangkah seremnyo pola tingkah kito mengangkangi semua sumber alam…kita semua sedang bermain dengan waktu. Panjang pendeknya tenggat, semua tergantung pada pilihan kita…sekecil apapun pilihan itu, punya kontribusi pada kelentingan panjang pendeknya harapan hidup Bumi. Lalu apa yang dapat kita lakukan? SATU niat akan melahirkan seludang IDE..Satu ide yang lahir, dua, tiga, empat,dst akan mengikuti dengan sendirinya;)Mari tak ragu untuk awali dengan SATU!
Dalam dampingan Shalink-WALHI jogja, beberapa aktivitas MOS di SMA2 Jogja mulai memasukkan menu SATU ORANG SATU POHON dalam salah satu tugas MOS yang diberikan. Bibit-bibit pohon ini lalu dikumpulkan dan ditanam di Gunung Kidul. Ide seperti ini bisa diperluas diacara tukaran kado akhir tahun barangkali;) daripada tukeran barang yang ga jelas fungsinya mending tanaman kan, hehe…Viva Green!
btw Dee, maap komen’e kepanjangan ketoe yo…
timpakul said,
October 21, 2006 at 2:08 am
tak penting sekedar menanam pohon. penting juga untuk mencegah pohon tertebang. hampir seluruh kota di negeri ini mengkonsumsi kayu illegal. kayu legal hanya untuk kebutuhan ekspor.
pohon bukan sekedar sebagai tempat berteduh. Ia juga bagi hadirnya oksigen dan membuka pori tanah untuk ketersediaan air sehat bagi manusia dan satwa. Ia pun memberikan kebutuhan pangan makhluk di permukaan bumi.
bukan sekedar satu orang satu pohon. menanam hingga memelihara. penting membangun kesadaran untuk mengurangi penggunaan tissue, kertas, hingga perabot rumah tangga. kayu, manfaatkanlah dengan secukupnya. tidak berlebih.
chindy said,
November 3, 2006 at 11:26 pm
Siapa saja kalau ke Jogja, coba sempatkan tengok satu pohon besar di depan Museum Affandi. Kalau dari arah Timur, letaknya di sisi kanan poros jalan Solo.. Entitas dengan kepekaan bernyawa dalam membaca hati alam, satu bahasa dengan alam. Pohon yang unik dan antik, kala akan memasuki musim hujan, hijau semarak mewarna, DEDAUNAN tumbuh di setiap rantingnya. Ketika mulai berbunga, daunnya akan rontok, hingga hanya BUNGA yang tampak mata. Indah! Gumam siapa pun yang melihatnya. Anin bercerita, saat pertama kali melihat bunga Sang Randu, dikiranya bunga sakura, warnanya kuning-oranye.Memikat lekat sampai t’mimpi-mimpi,ceile;) tapi buru-buru dia membatin, tidak mungkin karena sakura tidak bisa hidup di daerah tropis.
Tatkala musim hujan akan berlalu, satu persatu bunga akan gugur, tak terkecuali, meninggalkan tulang ranting, gundul, bersih..tak ada DAUN, tak ada BUNGA. Sungguh bahasa alam yang unik, pohon ini mampu satu hati dengan alam, gejala alam dipahami dengan tepat, tak pernah meleset sedikitpun.
Berbahasa alam, kemampuan yang terfosil lama dalam diri manusia. Sel-sel penginderaan mati, raib kepekaan, hingga rabun untuk membaca bahasa alam, getar jerit alam pun mental, tak mampu kita dengar lagi. Eksistensi pohon ini, sebuah buah pengamatan yang intim dari seorang sahabat, Anton. Dengan sarat dan limpahan cinta, Anton menamakan pohon itu sebagai pohon Anton. Kami ikhlas pohon itu dipatenkan Anton mengingat berkat Anton kami berkenalan dengan sang Randu. Dua hari lalu m’Gie beritau kami kalo pohon itu nama bapstis’e Randu Alas. Kamis, 2 November 2006, pukul 9.40BBWI. Kembali saya menyapanya dengan mata saya, benar seperti kata Anton. “Sekarang daunnya sudah sangat lebat, itu pertanda hujan sebentar lagi akan mengguyur Jogja”
Tanty said,
November 10, 2006 at 7:04 pm
Aku rasa kehadiran genderuwo dan teman2nya sangat diperlukan sekarang untuk melindungi pohon2 tua manakala tidak ada lagi manusia yang mampu melindungi mereka.
Terbukti dengan pohon tua yang menghalangi jalan Busway di Harmoni tidak jadi ditebang karena disinyalir terdapat kawanan genderuwo, dkk
Mungkin sebaiknya kita segera meminta kawanan pemburu hantu agar melepaskan makhluk tersebut dari botol2 mereka ke hutan2 di Kalimantan agar tidak ada lagi yang berani melakukan penebangan liar atau pembakaran hutan.
Well, it just my wildest dream….
Tanty said,
November 10, 2006 at 7:12 pm
Mungkin sekarang kita perlu kehadiran genderuwo dan kawan-kawannya untuk menunggui pohon2 tua manakala manusia sudah terlalu malas merawatnya.
Terbukti dengan pohon tua yang berada di jalur busway Harmoni yang tidak jadi ditebang karena disinyalir ditunggui oleh teman2 kita dari alam lain tersebut.
Kusebut teman karena mereka berhasil membantu orang yang masih peduli dan berbusa mulutnya mencegah penebangan tersebut dengan sangat efektif dan efisien.
Mungkin sekarang saatnya kita meminta tim pemburu hantu untuk melepaskan teman2 kita tersebut dari botolnya ke kawasan hutan Kalimantan agar tidak terjadi penebangan liar atau pembakaran dengan biaya yang sangat terjangkau.
Well, it’s just my wildest dream, maybe…
chindy said,
November 30, 2006 at 2:37 am
Menarik sekali, kemarin siang saya sowan ke tempat bu Suyanto dan ngobrol tentang banyak hal. Salah satunya, tentang ari-ari. Si’Mbah ngarani setiap kelahiran, ada tradisi Jawa untuk menanam ari-ari yang diikuti dengan penanaman 2 pohon, entah itu pohon Kelapa atau Mahoni. Prosesinya dilaksanakan dengan pakaian adat lengkap lo. Luar biasa! Filosofinya, pohon itu sebagai bekal sang Jabang Bayi. Namun, tradisi ini sulit untuk diteruskan sekarang, lahan tidak memungkinkan untuk menanam pohon sebesar Mahoni atau Kelapa. Banyak yang telah berubah. Lahan yang semakin terdesak, berbanding lurus dengan kearifan warisan nenek moyang kita, yang makin asing di telinga kita, seasing kita terhadap empu tanah, empu air, empu udara. Hidup yang makin teralienasi, terhadap yang tak berjarak pun, DIRI sendiri, asing, asing banget. Entah energi apa yang menyedot kehalusan rasa. Nikmat hidup? Apa kaprah nikmat yang coba kita defenisikan dalam tapak demi tapak hidup kita. Kita punya otoritas penuh atas hidup, mau diapain, benar-benar terserah…