June 22nd, 2006 at 4:22 am (Artikel)
Kisah Dua Belas Murid
(Unpublished)
Hari Rabu, 21 Juni 2006, di Dago Pojok no 36, berkumpul dua belas orang pendaftar pelatihan kompos. Super Kompos-14, demikian judul metoda hasil trial and error belasan tahun Ir. Nugroho Simson. Mendalami kompos merupakan pilihan beliau untuk mempercantik Bumi. Mereka yang hadir juga memiliki semangat serupa. Kebanyakan tidak punya pengalaman sama sekali tapi antusias untuk mencoba, seperti saya.
Peruntungan saya cukup baik dalam perihal kompos ini. Pak Sonson, dari PT Sinar Kencana yang menjual satu-satunya composting bin di Bandung, berbaik hati menghadiahkan saya satu set untuk dipakai di rumah, bahkan menawarkan diri menjadi pembina apabila aktivitas ini bisa diluaskan sampai tingkat RW.
Percaya atau tidak, dalam dari tiga hari perspektif saya berubah. Mata saya mendadak jelalatan melihat onggokan daun, sisa tebangan semak, atau limbah taman tetangga, dan setiap sore saya jalan kaki seputar rumah mencari kirinyuh—sejenis semak liar yang dijagokan Pak Nugroho karena kemudahannya dijadikan kompos. Sekarang, di belakang rumah sudah tersedia dua ember berisi potongan kirinyuh yang akan saya campur bersama sampah dapur setiap harinya dalam wadah pengomposan. Para pembantu di rumah juga saya beri crash course. Masing-masing mencoba mengadon dengan tangannya sendiri agar punya feeling untuk menentukan kelembapan adonan kompos yang pas.
Ada sepenggal kalimat dalam presentasi Pak Nugroho yang mengusik saya: “Lakukan hal kecil ini dengan setia.” Ketika saya mulai menjalani rutinitas mengolah sampah, saya makin tersadar bahwa hal ini memang sederhana. Tidak sulit, sungguh. Tak jauh berbeda dengan posisi pintu yang berubah, atau handel pintu yang ganti model. Intinya adalah pembiasaan diri. Mengubah rutinitas lama kita dengan pola baru. Namun melakukannya dengan komitmen dan kesetiaan, itulah yang membuat hal kecil menjadi besar.
Saya menyukai kompos karena keterlibatan yang disyaratkannya. Kita memilah, kita merajang, kita mengaduk, kita mengecek, kita menunggu. Incinerator tidak melibatkan kita sedalam itu. Kita cuma membakar dengan filter, itu saja. Incinerator menggunakan asas pemusnahan. Kompos menggunakan asas kelahiran baru. Kompos mengajak kita menghayati proses, mengapresiasi bakteri mesophilic, menghargai waktu, dan mencintai hasil.
Kalimat Pak Nugroho begitu gemilang karena kebenaran yang dikandungnya. Tidak ada yang besar atau luar biasa di dunia ini, sungguh. Segalanya adalah hal kecil yang dilakukan dengan setia. Proses panjanglah yang menjadikan sesuatu tampak besar. Dan berproses merupakan bahasa alam yang paling alamiah. Kita melihatnya di mana-mana melalui evolusi. Sebagaimana alam, kemanusiaan kita pun dapat ber-evolusi melalui komitmen kecil yang digulirkan dengan setia.
Saya menyukai kompos karena perubahan perilaku yang disyaratkannya. Inilah solusi yang sejati. Bukan dengan menyembunyikan sampah di balik gunung atau memusnahkannya dengan canggih. Yang sakit bukan sampah, tapi masyarakat penghasil sampah. Yang perlu disembuhkan adalah perilaku dari sang sebab, bukan memanipulasi akibat.
Slide terakhir dari Pak Nugroho berupa pesan yang berbunyi: “Jadilah terang bagi dunia.” Hmm. Sounds familiar, doesn’t it?
Saat pelatihan bubar, kami bagaikan dua belas murid yang diutus oleh guru kami untuk menyebarkan pemahaman sederhana ini: berproses dengan alam, dan alam akan memberimu berlipat ganda. Itu bukan mukjizat. Itu bukan pernyataan iman. Itu adalah fakta.
Dan guru itu bernama kompos.
A Cing said,
June 28, 2006 at 3:51 am
Sabtu pagi, sebelum pamit ke tempat kerja mata saya tertahan pada onggokan sampah; tongkol jagung, kulit blewah, kulit jeruk dan sisa-sisa potongan kangkung, numpuk jadi satu. Hati ini tak tenang melihatnya. Harusnya tak sampai hati membiarkan mereka terbuang begitu saja. Hei Cing, masak sih benar2 nggak bisa buat apa2 dengan sampah2 itu?
Senin pagi, saat sarapan pagi bersama, saya tanya pada Pandita Wang apakah pusdiklat di Batam sudah mengolah sampah basah mereka sendiri. Ternyata sudah, tetapi masih menggunakan metode konvensional-metode timbun. Ngobrol punya ngobrol, ternyata Anton juga sudah pernah membuat kompos, juga dengan cara yang sangat sederhana, sampah organik ditimbun selapis demi selapis. Dasarnya, tanah gembur, sampah organik, lalu ditutup oleh tanah gembur lagi. Setiap minggu, timbunan akan menyusut karena terurai, saat itu pula sampah organik organik ditambahkan lagi dan timbun lagi dengan tanah gembur. Sebaiknya memang diaduk, agar ada sirkulasi oksigen dan tidak mengeluarkan bau tak sedap. proses peruraian relatif sempurna pada minggu ke- 4 dan kompos sudah dapat digunakan, urai Anton.
Kompos, kosa kata ini nempel terus dibenak saya, tak tahan, saya tanya pada siapa saja yang saya temui. Barangkali saja ada lagi yang punya pengalaman buat kompos. Di warung mba’Gie ketemu Sherly, A Yang dan Yosi, ketiganya geleng2..Mbak Gie juga g tau, kata mbak Gie bagus juga kalo bisa olah sampah basah, dia sendiri tiap hari rata2 membuang 2 kantong plastik gede hanya untuk sampah basah. Bengong, nyari info dimana ya? Nampaknya info-net selalu bisa diandalkan untuk nyari info apa aja. Sambil maem, saya coba cari pake mini browser. Hasilnya, dapat info ttg pelatihan dan pembuatan komposter secara massal oleh masyarakat cokroyudan dan jetis-jogja dibawah binaan WALHI..yee, ada no telpnya, saya coba telp..sayang sekali, telp sementara belum bisa dihub, entah ada kerusakan apa. dana sayangnya lagi, g ada alamat cuma ada keterangan gubuk rembug sebagai crisis center WALHI yk
Ada beberapa info lain juga sih, namun masih kurang jelas. Belum puas, saya pergi ke Toga Mas, nyari buku cara buat kompos. Berbekal ini, esoknya, selasa pagi, saya ngider kontrakan nyari wadah yang tidak terpakai untuk nampung sampah organik. A-Ha! Ada sebuah ember nganggur. Saya mulai dengan mencari pasir, jerami, tanah gembur dan beruntung sekali ketemu ibu RT yang memberi saya sekeranjang kecil kotoran ayam peliharaannya, pertama dalam hidup saya, berbunga-bunga melihat kotoran ayam .. Trus pak RT menunjukkan tempat bekas melihara kambing, kata Anton kotoran ternak yang terbaik adalah kotoran kambing. Pas banget, tanah gemburnya saya ambil dari lokasi bekas ngendon kambing tsb(seharusnya pakai kompos atau EM4 ataupun cacing tapi saya belum sempat nyarinya, pake tanah gembur bisa menurut Anton Sampah organik kemarin masih utuh di tempat sampah, saya pilah. Lumayan, dapat sekresek ukuran sedang. Sesuai petunjuk buku yang saya baca, lapisan dasar saya beri pasir dan jerami selanjutnya kotoran ternak yang telah dicampur tanah gembur, barulah lapisan berikutnya sampah organik. Lapisan atasnya saya beri tanah gembur lagi kemudian diaduk-aduk. Dee, kayaknya saya tetap perlu mencari mereka yang benar2 berpengalaman membuat kompos. Saya belum bisa mengira-ngira temperatur yang ideal untuk pengomposan. secara teori, termperatur yang kondusif untuk mikroorg mesofilik 10-45celcius, sedang termofilik (45-65 celcius). Semua ini akan mempengaruhi kualitas kompos yang dihasilkan. sementara, coba-coba dululah moga2 berhasil. Besok kamis, coba hunting ke cokroyudan deh
Saudara-saudaraku semua saya yakin kita semua punya kepedulian yang sama terhadap apa telah beruratakar dalam masyarakat kita. Melihat gunungan sampah, apalagi sampai ada insiden korban sampai 100an lbh di Leuwigajah dan Batujajar akibat sampah longsor, jelas bukan masalah yang sepele. Kita butuh gerak cepat dalam aksi riil. Benar kata Dee, tidak perlu tunggu siapa-siapa. Kedua belah telapak tangan kitalah yang nentuin nyusut-muncaknya gunung sampah. Dengan kedua tangan ini, banyak opsi-opsi yang hanya dalam hitungan detik, dapat memangkas gundukan sampah. Seenteng mengantongi setiap bungkus permen untuk kemudian dibuntal bersama sampah2 plastik kecil lainnya, kebiasaan sejak SD dari Mas Yadi, penjaga malam klinik Medika Prima tempat saya bekerja. Baginya pantang membuang sampah plastik ke tanah karena tidak sampai hati membayangkan tanah yang tidak mampu mengurai plastik2 tsb, tidak sekecil bungkus trebor sekalipun. Juga, se-instan dan secepat yang bisa dilakukan Latief “saya bisa buat sendiri dong kak”, seorang bocah 9th menenteng tas kresek berisi daun2 yang yang dipungutnya dijalan.Untuk dibuat kompos katanya. What a coincidence Dee! Kemarin pagi di klinik, jam 10an dr. Yeni bercerita kepada saya kalau adiknya Latief punya beberapa tanaman kesayangan. Dan Latief bertanya kepada Yeni, “kak, gimana caranya agar tanaman ini bisa cepat besar?” Diberi pupuk jawab Yeni. Pupuk itu apa kak? kejar Latief ingin tahu. Pupuk itu ya, untuk memberi makanan bergizi pada tanaman, dan pupuk ada beberapa macam.pupuk kandang dari kotoran hewan” Iih..kotor dong kak! timpal Latief. lalu pupuk kompos dari daun2 yang telah layu, lanjut Yeni. “Dari daun?” “Kalau begitu saya bisa buat sendiri dong kak”!
Alhasil esoknya, sepulang sekolah Latief sudah menenteng sekantong daun kering, hehe Kelabakanlah Yeni dibuatnya saya akan ke rumah Yeni kalau kompos saya berhasil jadi ya…saya sudah punya satu calon murid, hehe…
Modal lain yang justru jantung dari semua apa yang ingin dimulai adalan kekonsistenan. Tidak musiman, hari ini getol, besok-lumayanlah..bara masih merah..namun lusa, perhatian mulai kendor, esoknya lagi sudah lupa, semangatnya menguap entah kemana. Ajeg, semapan kebiasaan kita menggosok gigi, barulah ada hasil.gigi tidak terdemineralisasi lanjut. Gigi tidak bolong bukan hal yang kecil lo. Demikian juga, rutin menyisihkan waktu untuk mengelola sampah sendiri.15 menit saja, kemarin saya hanya butuh waktu 15 menit untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Memilah sampah, jauh lebih mudah lagi. Semudah mengedipkan mata ini, harusnya semudah itu pula kita menyisihkan kertas nota-nota pembayaran, bungkus kemasan sabun, pasta gigi atau apa saja yang dari kertas untuk dikelompokkan sendiri dalam sampah kertas. demikian juga dengan sampah plastik, karena semua sampah2 ini bisa didaur ulang sobat, jadi jangan di buang begitu saja. karena hanya akan berakhir di TPA yang ujung2nya dipaksa menyatu dengan tanah. Duh, rasanya banyak sekali yang ingin saya sampaikan..tapi mungkin sebaiknya fokus di kompos dulu. masalah lain akan saya share dikesempatan lain. Peliharalah rasa tak sampai hati yang akhirnya dapat terus mendorong kita untuk setia menghindari hal2 yang melukai tanah dan air dan udara dan segenap makhluk didalamnya hingga seisi semesta menjadi kecintaan kita.We can not act wisely without knowledge and we will not act wisely without feeling- Master Thich Nhat Hanh
Salam penuh cinta,
A Cing
A Cing said,
July 5, 2006 at 10:24 pm
Di beberapa tempat di jogja, seperti lingkungan kota baru, depan tiap rumah telah disediakan 2 kotak sampah. Merah untuk sampah basah dan biru untuk sampah kering. Iseng ingin tahu does it work well, saya melongok isi beberapa tempat sampah tersebut namun sayang dan hanya bisa disayangkan, masih banyak sampah yang salah alamat. Kulit pisang di kotak sampah kering, sebaliknya plastik, kertas-kertas hvs, koran dimasukkan ke kotak sampah basah. Dua kotak, dengan dua warna yang berbeda dan dua label belum cukup bisa menyetir tangan kita agar tidak salah masuk kotak. Padahal yang diperlukan hanyalah, membaca tulisan, basah or kering lalu membuka dan memasukkan sampah tersebut sesuai jenisnya.
Dalam sekedipan mata, proses ini mungkin tidak lebih lama dari menerima uang kembalian, memasukkan duit ke celengan, memasukkan uang ke kotak amal. Idem. Tapi kenapa kita masih sulit menyetel kesinkronan info yang masuk sama respon ke organ motorik-tangan kita. Ada yang missing dalam proses ini. Eling bin sadar. Kita belum eling. Lahirnya sebuah perilaku yang akhirnya dapat menjadi kebiasaan, berakar dari kesadaran. Sadar akan dampak dari tiap apa yang akan dibuang terhadap tanah, air, udara.
Sedikit belajar memposisikan diri sebagai tanah, air maupun udara mungkin akan membantu membentuk kesadaran yang pada puncaknya memampukan kita merasakan denyut alam. Sama seperti perut, tanah punya kemampuan terbatas dalam mencerna setiap apa yang jatuh diatasnya. Tidak semua bisa dicerna. Coba bayangkan apa jadinya jika kita tidak sengaja menelan permen karet, atau gigi palsu (protesa)….Hiiii, serem sekali kan! Bila kita ikuti perjalanan si karet atau si protesa. Lambung kita pasti mabok tidak karuan, protes abis and maybe it would asked curiosly …hei what on earth are you? Andai bisa Gigi mungkin akan dikarbit saat itu juga untuk tumbuh di lambung, g mungkin banget kan:’< belum lagi di usus, mereka punya bulu-bulu halus yang dikenal dengan villi. Bisa botak semua deh villi ini kalo saben hidup kita, nelan gigi palsu. Perut kita pasti mulas semulas2nya, sejuta terapi akan diupayakan. Mulai dari urus-urus, cuci usus sampai akhirnya kalo mentok ya dibedah usus. Alamaak, derita hampir tak berujung kan. Nah…persis sama derita yang dialami oleh tanah bila kita semena-mena membuang plastik, karet, Styrofoam, pecahan kaca, kaleng soft drink, kertas. Tanah akan jenuh, cacing-cacing kehabisan tempat, digusur oleh sampah2 tsb, mikroba lain klenger oleh hilangnya kelembaban tanah. Malang nian nasib tanah, gersang, tandus.
Patut kita ketahui, Menurut UNESCO satu ton kertas yang didaur ulang berarti menyelamatkan 13 pohon, jadi untuk setiap 76,92kg kertas yang bisa kita pilah dan di daur ulang menyelamatkan SATU POHON. Dan Satu lembar plastik pembungkus rokok, kresek asoi, atau bungkus permen yang kita buang, memandulkan tanah untuk menumbuhkan satu Melati, satu Mawar, satu Flamboyan atau apa aja. Mandul selama ratusan tahun. Sekeping pecahan kaca beling mensabotase tanah selama ribuan tahun untuk menumbuhkan pohon apapun. Yang lebih dahsyat lagi, Styrofoam mematikan kemungkinan tanah untuk menumbuhkan apa pun, tidak untuk rumput sekalipun.now and forever.Kasihan banget kan
Sobat-sobitku yang saya yakin bercinta kasih, mari kita rasakan luka-luka alam yang selama ini sengaja atau tidak sengaja kita torehkan. Jatuh ibalah pada setiap nelangsa yang truus dan teruuus mereka alami. Sampai kapan mereka akan terzolimi oleh kekonyolan kita. Ketidaksadaran kita. Semua bergantung pada kita sobat. Saat ini juga, buka hati, buka mata untuk melihat apa yang bisa dilakukan. Buaanyak, biannyaak sekali yang bisa kita lakukan. Mulailah dari hal yang sangat sederhana, biasakan untuk tidak membuang begitu saja setiap sampah yang ditangan kita. lihat dan aktifkan kesadaran, slip ATM-ini kertas bung. Abis ambil duit, simpanlah slipnya. nota2 pembayaran, brosur2 promo ato info. sesampai dirumah, masukkan semua ini pada ‘pos’nya. begitu juga sampah plastik, botol aqua gelas.kresek apaa aj, juga masukkan pada posnya. Makanya sebaiknya mulailah sediakan 5 wadah dirumah dengan label 1.P-sampah plastic, 2. K-sampah kertas, 3. L-lain2 seperti u kaleng soft drink,gelas pecah,botol obat atau kemasan dari aluminium foil seperti bungkus Taro, bungkus obat blisteran, bungkus susu atau bubur bayi.4. O-organik untuk sisa2 potongan sayur, kulit buah, daun2 layu. Dan yang terakhir 5.S-sampah asli, untuk sampah sejati.benar2 tidak bisa digunakan lagi, seperti sisa nasi, tulang, kepala udang, kertas makanan yang telah terkena kari, sisa saos, sisa salad.inilah yang layaknya diangkut ke TPS ato TPA. Jadi sampah bisa kita pangkas sampai tinggal 1/5 saja lo…bayangkan seperlima! Wadahnya, tidak mesti yang bagus-bagus, plastik juga bisa jadi tinggal digantung agar tidak makan tempat. Selanjutnya jika kita tidak punya waktu untuk membawa sampah2 ini ke tempat daur ulang, kita bisa berlangganan pemulung.Pemulung adalah sahabat alam sejati, mulai turunkanlah plank2 ‘pemulung dilarang masuk’ ajak warga lain berembug. Jika daerah saudara jarang ada pemulung yang ngider, tidak ada salahnya bersama warga lain kompromi untuk menggaji seorang petugas untuk mengambil sampah2 ini yang selanjutnya bisa dibawa ketempat daur ulang. Bagaimana sobat, mudahkan?
Sabtu kemarin saya ke RW 10 Gondolayu lor, Fascinating friend! Hampir seluruh rumah (kata bu RW 87%) sudah menerapkan swakelola sampah. Tiap rumah di depannya digantung 3 karung goni dengan label P, K, dan L-logam, lain2. satu ember untuk sampah asli dan sepasang composter. Sampah yang telah terpilah ini, oleh seorang petugas yang digaji kampung akan dibawa ke tempat daur ulang. Hasil penjualan akan dibagi dan digunakan sebagai pemasukan kas warga, untuk beli EM4 salah satunya.
Ternyata! Ternyata mudah sekali buat kompos sobat! Composter ini adalah desain warga Gondolayu sendiri, mereka pesan secara massal di toko pecah belah. Modelnya seperti kotak sampah biasa tapi diberi kran pada dasarnya dan tirisan (seperti model kukusan nasi) agar air yang terkandung dalam potongan sayur bisa terpisah dan bisa digunakan sebagai pupuk cair. Cara buat kompos, hanya dengan memasukkan sampah organik yang telah dicacah2 lebih dulu dan disemprotkan dengan EM4 lalu diaduk2 dan lapisan atas diberi pemberat berupa bata atau tegel agar air yang terkandung dalam sampah terpress dan lebih cepat keluar. Esoknya, sampah organik tinggal ditumpuk aja dilapisan atasnya lagi lalu disemprotkan EM4. Begitu terus selanjutnya. Bila kotak A sudah penuh, pindah ke kotak B. setelah kompos kotak A udah matang, kurang lebih 5-7minggu.kompos diangin2kan dan dikemas dalam kantong plastic. Kebetulan sekali, kampung ini bapak dan ibu RW dari latar belakang pertanian (insinyur pertanian-red) Sejak tahun 1995, Ketua RW-Pak Suyanto mengajak warga untuk menanam bunga, masing2 rumah minimal 5 jenis. Alhasil, keren abis lo..asriii banget. Semua rumah ada taman. Meski dengan lahan yang sangat terbatas. Kiri kanan gang, jadi relatif sempit.tapi ciamiik abis. Bu RW promo kesaktian kompos dalam menyuburkan tanah, lihat warna daunnya, hijaunya cerah sekali kan, kata bu Suyanto (bu RW). Hidup banget! Tapi pemakaian kompos kudu hati2, kebablasan dosis bisa angus semua nanti tanamannya. Waktu ke tempat pak Timbul, beliau cerita beberapa tanamannya ada yang jadi korban, angus abis. Dosis pupuk cair kelebihan. Harusnya 300ml atau setengah botol aqua diencerkan dalam 1 ember kurang lebih 10L air.
Oya, semua ini kami rekam, kami juga rekam kondisi tempat pembuangan sampah, rutinitas pembakarannya dan kondisi tanah yang berlapis2 hampir 1,5meter semuanya plastik.mengenaskan. Yap, kondisi mengenaskan inilah yang ingin kami visualisasikan lalu alternatif solusinya, kami juga rekam tempat penampungan dan pemilahan barang2 yang dapat di daur ulang. Rekaman ini, rencana akan kami gunakan sebagai media penyebaran info ke pertemuan2 RW. Malam ini udah ada satu jadwal pertemuan di RW 05 RT 19 Tambakbayan, Babarsari. Bu RW 10 Gondolayu bersedia ikut hadir dan berbagi info plus beri pelatihan cara buat kompos Amboiii, seneng nian hati ini sobat, kita bisa memulainya kapan saja, dimana saja. Mulailah dari lingkungan kita sendiri, kalo bisa ekspan lebih bagus lagi. Saudara punya link sama komunitas mana saja, masuklah kesana, sebarkan info ini sobat. Bicarakan kepada siapa saja. Forward kepada siapa saja. Jangkaulah seluas mungkin. Optimislah, sampah akan tereduksi, umur TPA bisa diperpanjang 5x lebih lama. Tidak tertutup kemungkinan Zero Waste dapat terwujud, bila..BILA negara kita tergerak untuk mengolah sampah seperti yang dilakukan oleh Jepang, mengubah sampah menjadi Bio energi, menjadi sumber energi listrik. tapi kapan ya..sst, denger2 Walikota Bandung Raya sedang memperjuangkan waste energy. Berikut kutipan wawancara Pikiran Rakyat pada walikota; Dada Bersikeras Bangun Pabrik Pengolah Sampah Jadi Listrik
BANDUNG, (PR).-
Wali Kota Dada Rosada menginstruksikan wakil Pemkot Bandung dalam Tim Ad Hoc Penanganan Sampah agar mengamankan dan mempertahankan konsep pembangunan pabrik pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste energy). Wakil pemkot dalam Tim Ad Hoc adalah Kepala Bappeda Kota Bandung, Tjetje Soebrata, dan Dirut PD Kebersihan Kota Bandung, Awan Gumelar.
”Mereka harus mempertahankan konsep kita agar goal,” kata Dada Rosada, usai peresmian rehabilitasi rumah kumuh di Kel. Sekejati, Kec. Margacinta, Kota Bandung, Senin (26/6). Semoga saja Gol ya pak..ciayoo!
Untuk rekaman ini, kami juga bermaksud mengirimkannya kepada WALHI pusat, sekiranya dapat dijadikan media tambahan dalam kegiatan penyuluhan mereka. Atau mungkin sebagai masukan untuk menggarap media serupa dengan liputan yang lebih luas dan detil. Bagi rekan yang terpanggil untuk membantu memberi penyuluhan ke RT, RT lingkungan saudara tinggal, rekaman dapat kami kirimkan ke alamat saudara. Kontak saja ke sekretariat kami KVMI jogja, Jl. Kemetiran No.9 Jogjakarta. Atau ke alamat imel saya,chindy_tan@yahoo.com …Omong-omong, Dee,..saya boleh nggak sih nyantumin alamat organisasi kami ini? Duh, moga-moga jauh dari kesan publikasi ya..
semoga semua makhluk beroleh haknya untuk berbahagia ..
salam kasih,
A Cing
cing said,
August 14, 2006 at 9:30 pm
hai dee.. hampir 2 minggu di pangkal pinang 22 juli sampe 2 agust kemaren, seabrek cerita ingin aq bagi, boleh ya…awalnya diajak liburan ama si santi, karena dia prihatin liat aq berkutat ama kerjaan mulu, ..alhasil aq diangkut by halilintar ke bangka oleh si santi..pontang-panting aq selesaiin janjian pasien, kebut dipadatin sehari. bener2 si santi itu..aq dikerjain abis
ikhtiar awalnya sih share info keliling keliling ke komunitas intern aja, mengenai lingkungan.tapi g nyangka responnya bisa seantusias itu, santi beri kabar kalo pandita bermaksud undang walikota.kaget banget aq!
aq angkat tema utama ‘Berdenyut bersama Alam’ sub temanya ‘nasib semesta ditangan si doyan jajan’. sampe disana mulai deh atur strategi, sayang kalo cuma dikalangan intern. santi, melvin, jessica , maya, melda en budi kami ajak gabung jadi tim untuk gerilya ke sekolah2. kita pikir, paling mudah silahturahmi ke eks-sekolah mereka dulu, kebetulan santi, melvin dan jessi lulusan sd en smp theresia. trus santi lulusan sma santo joseph, budi ud jadi guru di smk bakti. plus, jessi en melvin kenal baik dengan pemilik yayasan smk bakti, katebelece ada gunanya juga ya, hehe..jadilah! empat sekolah berhasil dirangkul hanya dengan modal senyum, ramah-tamah sebentar lalu nyampein isi hati..eeh diterima.wooi senengnya;)
kita pake film trilogi state of the planet-BBC;is there a crisis, why is there a crisis..plus film dok garapan sendiri tentang pembakaran sampah en contoh kelola sampah di gondolayu lor…
saat share di sd theresia..ada seorang guru-ibu yuliana ternyata salah seorang penyiar di radio palupi-radio mandarin di babel.dia nawarin apakah mau nyebarin info ini via radio, tentu saja kami mau..bu yuliana langsung kontak kepala penyiaran. kita jadi masuk ke studio sonora tapi direlay langsung ke 2 stasiun radio lain, palupi dan prima.
Ketiga stasiun radio ini berada pada satu gedung yang sama.
Terakhir diajak ketemu wakil walikota. kepala dinas kebersihan babel, nawarin isi dalam salah satu pertemuan dengan anggota dewan, camat,lurah dan dharma wanita se-babel, ngulas tentang paradigma baru kelola lingkungan ini, masih dalam wacana sih dee..jika diterima dalam anggaran tahun ini, mungkin akan diatur jadwalnya.
ya ampiun, g nyangka rasa greget bisa membawa langkah kaki kita sejauh ini..
suara jadi cempreng g karu2an habis ngomong nyaris g brenti, tapi seneng kok..hehe…
anak2 antusias banget..terutama di smp theresia, di hari terakhir..banyak yang masih ingin nanya2 saat selesai sesi, kami jadi terpikir untuk bentuk genk sobat bumi. ‘mau, mau! jawab mereka..duh seneng banget..awalnya cuma 20 anak..beberapa hari kemudian saat mau pamitan balik ke yk sempat ketemu sama koord yang mereka sepakati-Debby anak 9B, dan ajak foto bareng..yang mau gabung nambah banyak dee..kami lagi buatin buku panduan untuk genk sobat bumi ini berisi liputan bocah2 pejuang alam dari berbagai negara, filipina, taiwan, en amrik kami adaptasi dari supplemen majalah TIME for kids..plus, cergam Nasib Bumi di tangan si Dojan (doyan jajan) kami garap sendiri dan tips-tips hidup berjabat hati dengan alam.
selalu kita ilustrasikan mulai dari bangun pagi, kita buka hari dengan sikat gigi lalu menutup hari kita dengan sikat gigi lagi, tak satu pun luput dari alam. kita terus bersentuhan dengan alam..mulai dari bangun pagi, sikat gigi pake odol, odol dari alam, mandi pake sabun en air juga dari alam, sarapan, ke sekolah pake alat transpor, bensin dan solarnya kan juga dari alam , dan seterusnya…alam menyantuni semua kebutuhan kita..
tugas mereka simple banget..cukup jadi corong alam untuk memberitahu siapa saja tentang perilaku yang meringankan beban bumi. kepada siapa saja, kepada sepupu, tetangga, ponakan atau siapa sajalah. kita himbau mereka menjadi pengamat, bila ada teman yang suka minum dengan air mineral kemasan, tugas mereka cukup menganjurkan untuk membawa wadah minum sendiri. begitu juga dengan perilaku memakai tisu. bisa dianjurkan menggantinya dengan sapu tangan. juga menghindari kebiasaan gampang naksir barang-lalu beli, beli dan beli..akhirnya hanya akan numpuk jadi koleksi yang g jelas fungsinya. lebih mengenaskan lagi banyak yang berakhir di gudang ataui bahkan DIBUANG saat masa cuci gudang tiba.MUBAZIR bin MUBAZIR!
kita ajak anak2 untuk berpikir sebelum membeli barang apa pun itu. apakah benar2 dibutuhkan atau tidak. pena atau pensil saat menulis kita kan hanya akan menyelipkan satu pensil iantara jari telunjuk dan jari tengah TIDAK disemua celah jari kita selipkan pensil.
ini berarti kita hanya BUTUH SATU pensil atau pena, bukan se-tempat pensil ato sekaleng. jika hanya karena naksir, seneng, tertarik bukan karena butuh perilaku ini tanpa disadari menguras sumber alam. Pensil misalnya, berapa banyak sumber alam yang berkonspirasi untuk mengkreasikan SATU pensil. dalam satu pensil ada kayu, ada carbon, karet penghapus, lalu untuk mengolah bahan baku ini, butuh mesin dan untuk menggerakkan mesin butuh listrik atau generator, untuk menghasilkan listrik dihasilkan dari bahan bakar bensin dan solar.
Nah, bayangkan…satu pensil saja sudah membutuhkan begitu banyak sumber alam. bilalah, hanya karena demen sama model pensil punya temen kita lalu beli pensil ..hitung sendiri berapa banyak sumber alam yang nasibnya tak lebih dari onggok rongsok then they probably would end up only as thrash!
berapa banyak bahan baku yang harus dikuras untuk memenuhi kebutuhan seorang DOJAN, boros inilah salah satu pangkal pembawa petaka dibumi kita ini.
menurut asisten deputi urusan ekosistem darat, deputi pelestarian lingk kementrian lingk hidup, Antung Deddy, maraknya illegal logging di Indonesia terutama di picu oleh kesenjangan antara ketersediaan dan permintaan kayu. secara legal, jumlah kayu yang bisa disediakan oleh perusahaan HPH dan HTI tidak dapat mencukupi bahan baku pabrik bubur kertas dan produk kayu lainnya, kekurangannya ternyata dipasok dari kayu-kayu curian. menurut perkiraan FWI tahun 2000 kayu curian memenuhi 50-70persen kebutuhan kayu di Indonesia. Luar biasa ternyata peran konsumen! kita memang bukan pembalak, bukan mereka yang menggergaji tebang habis pohon-pohon itu,tapi kita berada dalam mata rantai pendorong para pembalak untuk menguras alam tak kenal ampun. jadi terlihat jelas dimana posisi kita sebagai pemakai produk, untuk itulah berusaha maksimal untuk efisien dalam mengonsumsi apa pun akan sangat membantu mengurangi laju kerusakan alam…termasuk dalam hal makanan. Bu Etty, seorang dosen UKDW lulusan anthropologi UGM dalam perjalanan pulang dari lokasi KKN anak asuhnya di Kopeng, Magelang, beliau bercerita pada saya. Dalam setiap kuliahnya, dia akan selalu menyampaikan pada mahasiswanya, pentingnya kritis dalam setiap perilaku konsumsi. Saat kita transaksi membeli fast food, hanya dalam sepersekian detik, ada konsekuensi ekologis yang tertanggungkan, konsekuensi yang tidak kecil! kita tau bahan baku utama fast food adalah daging ternak..ternak terakbar di dunia ini salah satunya adalah di amrik selatan. dan bahan2 baku ini banyak diimpor dari amrik selatan. kita juga tau amrik selatan cuma punya lahan tropis yang bisa mereka jual dan mereka mengorbankan lahan ini untuk dijadikan lahan ternak!
lahan tropis, gudang seludang species, pengikat CO2 yang trus membebani atmosfer kita dengan serentet efek domino yang kita tuai sekarang..hilangnya lahan tropis, kadar Co2 meningkat di atmosfer, yang juga berarti gas pembentuk rumah kaca bertambah yang buntutnya suhu bumi menggila-global warming. dan yang yang lebih mengerikan, ternyata global warming ini juru kunci sejuta topan badai yang terjadi belakangan, plus gempa dan tsunami. Metro tv baru2 ini mempublikasikan hub global warming dengan fenomena gempa dan tsunami ini
BENANG MERAH perilaku konsumstif terhadap mengglobalnya kerusakan ekologis terlihat sangat jelas.
dalam salah satu kesempatan di SMA Santo Joseph saya iseng bertanya, apakah ini berarti kita kudu puasa daging?
anak-anak terdiam, saya lanjutkan pikirkanlah dengan cermat dampak tiap pilihan konsumsi kita, termasuk mengonsumsi makanan. acuannya, adakah itu akan membebani, melukai dan bahkan menghancurkan bumi..gentarlah dengan semua dampak ini. jangan abaikan rasa tak enak hati yang timbul saat akan bershopping ria, jjs, nongkrong di cafe, di kedai makan..selalu konsumsilah sesuai kebutuhan…nasib bumi ada di sepiring makanan yang kita makan setiap hari, ada di pilihan memakai sapu tangan daripada tisu, ada di komitmen menolak pipet setiap ke kedai, ada di efisiensi pemakaian kertas, selalu bolak-balik dimanfaatkan. juga ada di kesadaran memilah sampah yang masih bisa di daur ulang atau tidak…ada sebuah tantangan dalam sebuah buku yang saya baca..buatlah menu sarapan, makan siang dan makan malam yang bebas sampah.. terbayang makan pake alas daun pisang seperti kebiasaan pak Mahmud almarhum, ayah dari ibu penjaga perpus smp theresia,andai dengan menu all organik or raw food, wuaow!
sebuah keluarga di new zaeland, yang menurut saya total merengkuh angan hidup yang berjabat dengan alam, membumikannya dalam setiap bilik rumah mereka. Dalam dapur mereka ada sebuah tulisan yang dibingkai indah.
Dapur Alam: daur ulang semaksimal mungkin. kata-kata ini bukan sekumpulan huruf bergincu dirumah ini, perilaku tuan rumah benar2 selalu mengacu pada kepentingan tanah, air dan udara. setiap berbelanja tak sekalipun lupa membawa tas sendiri guna mengurangi penggunaan jumlah kantong kresek, menu harian mereka pun pilihan dari produk yang bebas dari kemasan plastik, kaleng apalagi styrofoam. Teliti dalam memilih bahan baku yang dipakai, terpenting kemasannya tidak dari bahan yang melukai tanah, air maupun udara. mereka yang juga Vegan, menjamu teman saya dengan jus wortel dan jus tomat. ampas organik yang masih kaya serat dan gizi dibuat sup dgn kentang, enak juga kata temen saya. lalu bahan organik lain yang tidak dapat diolah oleh melalui perut, di jadikan kompos untuk menyuburkan kebun sayur ditaman belakang rumah mereka. filosofi mereka sederhana, tanah yang subur (humus) dan manusia (human) berasal dari akar kata yang sama.manusia akan kehilangan kemanusiaannya jika tanah kehilangan kesuburannya…
sobat, mari kita tak henti berderap dalam upaya mengembalikan harmoni milik laksa makhluk, blessings to all;)
rakita said,
August 29, 2006 at 11:43 pm
terus terang, sy bangga dee telah belajar dan mengaplikasikan di kediaman. terus terang terlalu banyak pejabat serta warga kita yang mengajak dan menghimbau tetapi tidak memberi contoh. untuk itu kami acung jempol bagi dee, oh ya, kami juga telah menjalankan pengomposan di lingkungan kami (daerah Puyuh Dalam Sadang Serang. saat ini ada 15 Komposter (BRM) yang kami pergunakan. dan menurut kami ini adalah tindakan nyata. tks. salam
Anonymous said,
December 3, 2006 at 12:16 am
saya tertarik bisa kasih alamat dibandung saya di soreang pingin coba mengolah sampah dapur saya kecil2an komposnya buat taman, ah seandainya kita semua ah…
I Gede S. Aryana said,
July 8, 2007 at 11:13 pm
Dee,
Pak Nugroho punya cabang di Jakarta/Tangerang? Boleh bagi nomor yg bisa dihubingi di Bandung?
Alangkah mulianya kalau kita bisa menjadi bagian dari solusi.
Terima kasih untuk memulai dan menyebarkan, Dee.