Brunch and Lunch with God

Dalam pekan yang sama, saya bertemu dua orang muda, sama-sama pria, sama-sama lahir pada bulan Januari, dan yang lebih signifikan lagi, mereka adalah profil nyata dari apa yang selama ini saya kisahkan lewat Supernova. Para pengembara spiritual muda, urban (bahkan gaul), yang jiwanya telah terbangun dan kembali bersua dengan Tuhan yang bersemayam di dalam diri.

Profil semacam itu kerap saya analogikan dengan tokoh komik Lucky Luke. Koboi penyendiri yang berkelana dengan kuda putih. Lucky Luke adalah passer by sejati. Dia tidak pernah menetap di satu tempat, sekalipun selalu diminta. Komik Lucky Luke selalu ditutup dengan adegan di mana dia kembali sendiri, menunggang Jolly Jumper, menghadap horizon tempat matahari terbenam, menyenandungkan lagu yang sama: “I’m a poor, lonesome cowboy…”

Saat kami berbicara, seketika saya tahu kalau hubungan kedua teman saya dengan Tuhan bukan lagi tuan dan hamba, melainkan seperti sepasang kekasih. Tak jarang mereka ‘bingung’ bagaimana harus ‘beribadah’, karena komunikasi mereka dengan Tuhan teramat dekat hingga format ritual standar tak lagi diperlukan.

Bagi yang terbiasa mengenal Tuhan lewat pihak ketiga, baik lewat orang, institusi, maupun manuskrip, pasti janggal mendengar obrolan mereka. Andai kita mundur ke konteks ratusan tahun yang lalu, saya tidak akan heran jika teman-teman saya ini dirajam atau disalib. Kekasih Tuhan yang sedang ekstase dimabuk cinta adalah orang-orang yang sangat berbahaya. Namun pada masa ini saya dapat menemui mereka di gelato bar atau sushi bar dengan aman sentosa.

Teman lunch saya keluar dari pekerjaan nine to five demi mendalami penyembuhan, sementara teman brunch saya mendalami seni lukis dan masih kerja di stasiun teve-nya anak muda. Bagi yang masih berharap bahwa profil para spiritualis itu harus berjubah, berjanggut, dan tua renta, pasti kecewa melihat mereka. They’re just the guys next door. Kita akan berpapasan dengan ratusan profil seperti itu saat jalan di mall atau saat clubbing.

Saya tidak bisa meluputkan fakta itu saat mengamati gaya mereka bicara, menyimak proses pencerahan mereka, sembari melahap sushi dan menyuap gelato, dan saya menyadari apa yang selama ini hilang dari sekitar kita. Profil Tuhan yang mudah diraih. Tuhan yang asyik-asyik aja. Tuhan yang trendi. Tuhan yang gue banget. Tuhan yang menyuarakan kebenaran kekal dalam bahasa gaul.

Saat kita pergi ke bagian spiritual/rohani di toko buku, bisakah kita temukan Tuhan seperti itu? Dengan mudah kita temukan Tuhan dari perspektif dua ribu atau lima ratus tahun yang lalu. Namun perspektif akan Tuhan yang berpijak pada kekinian sungguh susah dicari, nyaris tidak ada.

Saya meyakini para ‘lentera’ muda itu bukan cuma dua-tiga jumlahnya. Dan saat mereka bersuara, atau diberi kesempatan bersuara, sumbu-sumbu yang bersemayam di hati banyak orang muda lainnya akan tersulut dan menyala.

Tidak ada yang otentik dari kebenaran. Kebenaran adalan kebenaran. Sama bunyinya dan sama gaungnya sejak semesta ada hingga hari ini. Namun pengalaman setiap individu atasnyalah yang selalu otentik dari zaman ke zaman. Ini yang telah menjadi langka di sekitar kita. Otentisitas.

Otentisitas pengalaman kedua teman saya mengingatkan kembali pada otensititas pengalaman pribadi saya dengan Tuhan. Pertemuan kami bagai koboi-koboi pengelana yang berjumpa di jalan dan bertukar cerita. Dalam kesendirian di setapak masing-masing kami tahu kami tidak sendiri. Pertemuan semacam ini oase bagi batin dan oksigen bagi nyala api hati.

Setelah berpisah, kami bertukar sms. Lucu. We all thought that we just had meetings with God. God within ourselves. God in a rice roll, God in an ice cream cone. God in a pair of jeans. God that carries a digital camera. God the authentic. God the dude.

Who wouldn’t want one?

16 Comments

  1. Lhukie said,

    July 21, 2006 at 12:29 am

    Mbak Dee, bisa minta emailnya?

    Atau kalau nggak keberatan… mbak Dee yang kirim email ke aku, di itsme@lhukie.net.

    Thanks alot.

  2. Anonymous said,

    July 24, 2006 at 9:36 pm

    dear dee..
    thanks for the beauty of words that you brought in all your stories and lyrics.
    you are the only one who taught me to love.. ;)
    mbak,commentku serem ya?hehehe tapi rasanya pengen banget bilang, that you are awesome!but i’m speachless!
    pengen banget ngobrol sama mbak pengen share yang mbak tulis semua,segala lirik,lagu,nada,cerita mempengaruhi aku gimana caranya ngunngkapin cinta(anjritt norak banget hehehe,tapi itu bener), aku boleh tau imel mbak ga?sama kaya ihukie kalo ga keberatan mba dee yang kirimn email ke aku ya..augusta_2185@yahoo.com, thx dee..
    i always waiting for your story&music..jangan pernah berhenti berkarya ya..

    christie augusta,

  3. cing said,

    August 9, 2006 at 12:59 am

    Gelora yang terbungkam, saat simpul demi simpulnya menemukan jalan urai, selaksa kejutan hadir mewarnai rute perjalanan sang penjejak
    Duhai hamba kehidupan usir penat, sambung asa untuk endus bau esensi, reguk cita rasa hakikat, kejarlah dimensi kebenaran. Adakah dia berbau, tafsir apa gerangan yang akan terdefenisikan andai angin berhembus menebarkan aromaNya..
    Rindu, butuh rindu sehebat apa guna mengusung hadirNya ‘tuk sekedar ’say hello’ pada oase dilubuk perantau jejakNya..
    Orisinalitas meramu rasa kebenaran, merapalkannya dalam tiap pori-pori tubuh, menemukan degupnya dalam tiap kontak indera, gemuruh perasaan, loncatan gerak pikir, sungguh merupakan pengalaman yang melampaui apapun, tak terkecuali ramuan itu sendiri
    Pencarian dalam dosis apapun, baik bak laksa api tak kenal padam hingga separo hati,redup-redup, untuk mengikuti gelora lubuk terdalam, menuntun langkah untuk selalu mencari tau siapa diri sebenarnya, mengapa diri nongol dalam arena hidup ini, apa yang harus diperbuat didalamnya. sepintas mudah dirunut, ada yang lahir, kecil, remaja hingga dewasa..suatu fase standar. Juga dengan skenario yang relatif sama, membentuk keluarga, memiliki keturunan lalu beranjak tua dan akhirnya jasad kembali ke asalnya.
    Banyak tingkatan pertanyaan yang dapat timbul dari fenomena standar ini, mau dari aspek mana melihatnya monggo..
    Tapi nampaknya memilih melihatnya dari esensi, banyak melibas kegamangan, kelatahan dalam mengkreasikan sikap apa yang akan dipilih dalam menjalani skenario apapun yang terbentang dihadapannya..
    Rasa ingin tahu jika terus dikejar akan mentok di tingkat esensi melahirkan polah Objektif dan netral, bebas kepicikan purbasangka
    Lubuk laksa renik terjumpa spot spiritual, ranah bermekarnya kedirian, jati akar eksistensi
    Hangat sobat, hangat itu memenuhi rongga dasar lubuk kala tersentuh iba…seorang sahabat bercerita,”saya tidak tau mau bebankan biaya berapa kepadanya, saya tau benar dia bekerja dari pagi hingga sore membersihkan pekarangan rumah beberapa warga disini. dan saya tau benar berapa upah yang diperolehnya. duit 30ribu tentu sangat besar artinya baginya”
    iba, naluri dasar yang lahir alami, tak perlu studi, kursus atau metodologi tertentu untuk merumuskannya.
    Bahasa dasar nan universal, menyentuh, menyapa dengan cara yang sama dalam hati setiap individu. tak pandang warna kulit, agama, suku dan ras
    Rasanya gerak hati ini banyak terpikat oleh penampakan dimensi bahasa dasar,naluri
    naluri untuk membaca susah orang lain sebagai susah diri sendiri,
    Jovi, bocah 3thn meneteskan air mata ketika pengasuhnya bercerita perihal cincin miliknya yang belum juga ditemukan. Pagi sebelumnya, Ros pengasuhnya cerita pada Jovi kalau dia telah kehilangan cincin. Sorenya, Jovi bertanya,”Ros, ko sudah dapat mi ko punya cincin?”(khas dialek sulawesi)”Belum Jov” jawab Ros.Dan Ros kaget dengan respon Jovi, wajahnya langsung merah dan sambil terisak dia berkata “kasiannya mi kau Ros”
    Rona kasih punya warna dalam wajah anak ini sobat….menggodaku untuk bercermin, yang juga punya rona yang persis sama…Rona yang konon dikabarkan secitra denganNya…getar untuk mencinta, mengasihi, berbagi ayoman
    pertemuan dengan realita-realita ini, merefresh kembali semua naluri-naluri pembentuk wajahku yang sesejatinya…
    Blessings to all;)

  4. Anonymous said,

    August 11, 2006 at 8:48 am

    can i have ur email address?

    just as simple as that and ur lighten my day…

  5. Anonymous said,

    August 11, 2006 at 9:11 am

    i even forget 2 tell u mine… (-_-;)

    >> bohemiangirl_7@hotmail.com

  6. cink said,

    August 21, 2006 at 9:15 pm

    Sobat, siapakah manusia?
    Ada kejadian aneh, lebih mirip kisah-kisah di film India. Jumat kemarin, pacar temanku-NN diculik orang. Terakhir dia jumpa dengan pacarnya, saat di kampus jumat siangnya. Hati saya geger mendengarnya, pantas saja wajahnya kuyu kusut tatkala kami bertemu minggu pagi lalu. NN sudah lapor ke polisi namun sampai hari ini nihil hasil. Bingung, dia coba ke cenayang, jawaban yang diperoleh”pacarnya di gondol oleh mantannya” tak tahu apa yang berkecamuk dalam hati NN saat itu, tambah kalut atau malah sedikit lega. Setidaknya unsur kriminal terpupus, jika benar sang mantan adalah pelakunya.

    Hasrat untuk memiliki, demikian dahsyat gendengnya hingga langkah gendeng yang ditempuh. Manusia sungguh makhluk sakti sekaligus konyol. Konyol kala amuk hasrat tak mampu berhadap-hadapan dengan Empu waras pikir dan Nyai waras hati. Kejernihan berpikir gepeng digilas keinginan yang menggebu, lahirlah kisah gelengdaris, yang dengar cuma bisa geleng-geleng, bertafakur demi sang joko konyol

    Andai luapan hasrat bisa jinak oleh akal jernih, skenario apa yang akan mencuat? Mungkin hubungan NN dengan pacarnya akan baik-baik saja. Namun selalu ada konsekuensi, sang mantan harus rela menyisihkan dirinya dari arena perseteruan. Namun, akankah sang mantan mampu menanggung rasa tak rela, rasa pahit melepas sang pujaan, meninggalkan luka entah seberapa perih. Mampu, kata kunci yang mewakili kumpulan proses seorang manusia bergumul dengan dirinya. Bernegosiasi dengan ketidakpuasannya, sakit hatinya, gundah hatinya dan hasrat primitif dari sang ego, menggelembungkan ruang kesadarannya, menambah sekian ukur kubik volume kesadarannya, mengajaknya memaknai arti dari mencinta.
    Mengantar lahirnya kisah legendaris, dengan pemeran kunci sang joko sakti. Decak salut dan kagum mengiring langkah joko sakti nan gagah.

    Sebentar,sebentar sobat…Andai masing-masing dari kita memegang cermin, obrolan apa yang paling hangat dalam warung hati kita. Siapa yang menguasai pembicaraan? Hasrat atau akal jernih? Ngomong memang gampang, mungkin akan sangat banyak yang menyayangkan sikap yang diambil oleh sang mantan, namun jika saya, Anda atau siapa saja yang berada dalam posisi sang mantan, yakinkah ada kesanggupan mengatasi tuntutan hasrat?
    Dalam masyarakat kita sekarang ini ternyata tidak sedikit kasus yang gelengdaris. Kira-kira sepuluh hari yang lalu di koran Kompas memuat berita seorang bocah 11 tahun, ditemukan tewas bunuh diri karena cintanya ditolak. Sebulan yang lalu Bandung pernah dihebohkan oleh berita seorang ibu rumah tangga yang nekat menghabisi nyawa 2 anaknya dengan alasan himpitan ekonomi. Syair Pablo Neruda mungkin cocok untuk menggambarkan situasi hati manusia sekarang” sucede que me canso de ser hombre” yang artinya “kok aku capek menjadi manusia”
    Memang tidak mudah menjadi manusia, harus mau belajar menari diatas realita apa pun. Sakit yang menusuk tembus kulit, daging hingga ke sumsum, tak ada yang bisa disangkal, pilihan hanya ada satu, dijalani

  7. cing said,

    August 23, 2006 at 10:52 pm

    Dear Dee, masih sekitar kehausan spiritual..saya ingin berbagi tulisan saya sebagai buah keresahan yang selalu mengejar hampir tak kenal waktu, saat maem, saat di bilik renung, ketika mau bobo, ud setengah bobo pun suara2 penuh tanya selalu menggelayut, muteer aj ..dan saya yakin banyak yang mengalami hal yang sama. Dunia tidak kekurangan stok akan ajaran langit, namun di sudut mana dari hati manusia seruan-seruan langit tersebut diletakkan? Karena goresan sejarah manusia sampai detik ini, manusia sonder alasan membunuh sesamanya-di Libanon, tak segan-segan mengisap keringat dan darah serekannya-megakorupsi, kepekaan sosial yang pekok dengan budaya konsumtif yang over kedodoran,dan berteret-teret topeng lain dari roman seorang manusia. Tak heran bila seorang Ahmad Wahib dalam pergumulannya mendesaknya menuliskan isi hatinya perihal pencariannya akan keaslian kebenaran,” Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut Hamka, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno, Islam menurut Djohan, Islam menurut Subki, Islam menurut lain-lain. Dan terus terang aku tidak puas. yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu ISLAM MENURUT ALLAH, PEMBUATNYA. Bagaimana?
    saya sendiri,lama-kelamaan jadi penganut Ocaisme, bocah 3,5tahun, putra asistenku yang banyak menyentil alam sadar maupun bawah sadarku, membuat tertegun sejenak, mikir…
    Oca dengan segudang rasa ingin tahunya, dari bibirnya terlontar tanya,”Mama, kelinci bisa nangis?”
    juga dari bibirnya memprotes mamanya ketika mamanya akan menggencet segerombolan semut yang lewat di atas meja makan mereka,”jangan Mama, kasihan..mereka kan juga bisa nangis!”
    Oca juga dengan hatinya yang lembut stay awake almost for 2 days, resah susah tidur kata mamanya karena satu kelinci peliharaannya mati dimakan anjing sebelah, Oca sediiih banget..
    Kalaulah getar iba, getar jujur, getar solider, getar setia bisa diterjemahkan dalam bentuk melodi, mungkin akan mengalunkan irama yang mewujudkan utopia, sorga di bumi ya Dee..Ah, andai saja
    Kembali ke perburuan hakikat kebenaran. Ada satu bait ungkapan yang sangat menarik minatku. Terkutip dari salah satu bagian novel Nh.Dini Sebuah Lorong di Kotaku “Aku diajar berpuasa bukan karena agama, bukan karena keinginan naik surga. Kakek mengajarku buat menahan keinginan, untuk mengetahui sampai dimana aku dapat mengatur kekuatan.”
    Hmm, kekuatan…ternyata bukan hanya kekuatan otot yang harus dilatih namun batin juga punya lorong-lorong level yang butuh di upgrade. Kembali kisah putra asisten saya-Oca saya ketengahkan, waktu itu dia masih bocah 2,5tahun. Pada perayaan 17an tahun lalu, seperti biasa aneka lomba digelar di tiap dusun. Tak ketinggalan kampung Mberan, Sleman. Pagi-pagi sekali Oca sudah bangun, ribut minta dimandiin oleh eyangnya. Mau ikut lomba katanya, hehe…Udah dandy dan wangi, Oca dengan pede ke halaman depan rumahnya ikut antri daftar lomba. Berhubung masih terlalu kecil, Oca hanya boleh ikut lomba makan kerupuk. Teeet! Saat lomba dimulai semua bersorak, Pa’ le Dayat, Bu’ le Tiwi dan teman-teman lain sorakin dan semangatin Oca. Sebentar jinjit, sebentar lagi lompat, Oca kepayahan mencekal kerupuk dengan mulutnya, melihat Oca kepayahan Pa’le nurunin dan megangin krupuk Oca agar mudah dimakan…kemurnian, kejujuran hati masih punya suara yang kuat dalam hati bocah ini.. Oca protes keras,”Ben atu dhewe, ben atu dhewe! Oca menolak dibantu dengan cara curang. Dia kekeh pada aturan main. Spotif.
    Ck,ck,ck.. setiap kali saya cerita ini pada teman, mereka selalu terbit rasa kagum. Kecil-kecil sudah punya integritas, tau bagaimana harus bersikap. Namun rasanya ada yang berlebih dari kalimat barusan. Kata ‘kecil-kecil’ seolah-olah belum saatnya seorang Oca punya sikap sportif, jujur pada diri sendiri, padahal justru lewat Oca kita ingin diingatkan kembali, jujur adalah bawaan orok.Akar sifat tiap manusia. Sama sekali bukan launching terbaru.
    Apa yang terbaru adalah, degradasi mutu bawaan orok kita, akar menungso yang gelagapan menghadapi pergeseran zaman. Mari kita lihat satu persatu nasib sifat-sifat bawaan orok kita

    jujur; ada selorohan untuk negeri kita ini,”di Indonesia semua urusan ada jalan tolnya”, tak heran bila saudara kita di Papua tetap tak kunjung mengecap kemajuan meski sebuah perusahaan tambang emas raksasa-pt. Free Port menggurita di sana. Hanya tailing yang di dulang oleh orang Amungme-Papua untuk puluhan tahun penambangan emas di Papua. Belakangan konspirasi tingkat tinggi, modus jalan belakang terkuak, terngangalah kita mendengar kerugian negara yang ditanggung akibat permainan kotor ini, angkanya bikin rontok bulu kuduk! 120juta triliun dollar Amerika!

    solider;, mobil mewah Jaguar sangat mudah kita temui seliweran dikota-kota besar di Indo, jumlahnya jauh lebih banyak dari mobil jaguar yang ada di Paris! kata Faisal Basri. Sementara kasus busung lapar pada balita di Indonesia menembus angka 1,67juta jiwa. Ironis!
    Teman saya menulis dalam sebuah refleksi nurani:Sebuah koran nasional memberitakan tentang koleksi sepatu artis top dunia. sepasang sepatu sang artis kononnya paling murah seharga 1400 dolar Australia. Yang lebih mengagetkan lagi, sang artis merasa bahagia dengan koleksi sepatunya yang berjumlah 400-an pasang, yang sebagian besar belum pernah dipakainya. Itu baru sepatu, belum pakaian dan segala macam perhiasan, juga pengeluaran untuk pesta ini dan itu. Sementara di belahan bumi lain, banyak saudara yang mati karena menahan rasa lapar yang berkepanjangan. Lihatlah mereka yang di Ethopia, mereka hanya terbaring tak berdaya sambil menunggu maut datang menjemput karena tak setes air dan sesuap nasi pun yang bisa mereka dapatkan untuk menyambung nyawa.
    Dee, di mata saya, dimata Eddy, di mata riri sahabat saya, di mata Anton atau di mata siapa saja…siapakah sesosok manusia lain yang tertampak di hadapan, maupun yang sedang meringkuk kelaparan di belahan manapun..Siapa?
    Hati nurani sudah terlalu lama di acuhkan, di anggap angin, di biarkan membisu..membiarkan zaman menggusur, mendepak sifat2 orok kita, sifat hakiki tiap manusia.
    Mengutip tulisan Gunawan Muhammad-Pak Said (30 Juni 1979); Zaman dimana sikap hidup seperti Pak Said adalah sikap yang ekstrim: seorang tokoh yang cuma bersandal, seorang anggota Dewan Pertimbangan Agung yang tidak bermobil, seorang menteri(di waktu lampau) yang dari gedung departemennya keluar membeli rokok sendiri di tepi jalan. Betapa aneh zaman, untuk menyebut itu ekstrim. Sebab Pak Said sendiri hanya melakukan hal yang biasa saja untuk dirinya, tidak untuk “nyentrik”, tidaj untuk menarik perhatian atau ngotot dengan satu prinsip. Tapi zaman rupanya ingin mendesakkan suatu pola umum-dimana semua orang harus mengikuti “kelayakan.” Akibatnya ialah “kesederhanaan” jadi suatu pengertian yang menggugat. Ia bahkan mungkin telah mengecewakan mereka yang lebih “radikal”, karena ia kurang cukup bersuara menghardik kemewahan yang kini nampak disekitar.
    Kekuatan untuk menghardik diri sendirilah yang termanjur. Manjur untuk tidak membiarkan rasa solider bisu,tuli dan cacat peka akhirnya jadi pekok. Ah, Dee..Andai semua keprihatinan ini mampu memberi kekuatan bagi siapa saja untuk mengumpulkan serpihan-serpihan potongan wajah kita, wajah manusia Indonesia kita yang tercinta ini…
    Selalulah bertanya masih adakah cinta yang mampu kita tumbuhkan dalam hati kita..masihkan kata-kata ini”semoga semua makhluk berbahagia” punya nyali bergema ditengah krisis kemanusiaan yang
    sudah makin tak jelas ujung pangkalnya..

  8. Anonymous said,

    September 18, 2006 at 8:13 pm

    well,
    seperti menemukan tali yang terputus.
    Yang selama ini melambai-lambai ditiup angin…bukannya kehilangan arah malah semakin banyak jalan yang harus ditempuh..jadi bingung memilihnya..

  9. falling princess said,

    September 25, 2006 at 1:00 am

    mbak dee.. hehee.. ini uTi lagi…
    baca posting yg ini aku jadi mikir… kayaknya mbak banyak angkat karakter org2 urban ya? kalo reurban gimana?
    ada 1 hal yg smp skrg masih sering aku pikirin. aku lahir di daerah. tinggal di daerah. smp akhirnya pas menginjak sd, aku pindah ke jakarta. di sana aku tumbuh jadi remaja dan mengembangkan cara berpikir metropolitan. tp masih ada sedikit unsur2 adat istiadat yg aku bawa krn aku aslinya masih org daerah. smp akhirnya masuk sma, aku balik lagi ke daerah itu. dgn sgala ke-metropolitan-an yg udah aku pelajarin di jakarta. awalnya aku skeptis bgt bisa bergaul dgn baik sm anak2 daerah. kasarnya aku pikir mreka cupu. tp skrg aku tarik lagi smua kata2 itu. justru dgn kembali lagi ke daerah aku jadi sadar perbedaan 180 derajat antara kehidupan, adat, norma, dan moral org2 kota dgn daerah. seandainya aku terusin sma di jakarta, hampir mungkin aku akan terjerumus ke kegiatan2 anak2 muda zaman skrg yg ga ada berguna2nya itu di mataku. dugem krn cuma pengen kerenlah. ngerokok krn pengen dbilang gaul lah. dan sgala macemnya itu. justru dgn pindah lagi ke daerah aku jadi lebih bisa menyelami apa yg artinya hidup. aku justru baru merasa hidup di daerahku tercinta skrg ini. palembang.

    btw ngomongin soal Tuhan, aku juga maw sharing aja nih.
    aku dulu pernah mimpi kalo dunia ini maw kiamat. bumi maw mledak. kayak the core gitu. untuk mengantisipasi, pemerintah udah menyiapkan pesawat luar angkasa untuk mindahin kita ke planet lain. tp sayangnya pesawat itu cuma bisa memuat ijuta org. siapa cpat dya dapat.
    aku sm 6 milyar manusia lainnya panik. langsung packing kalang kabut untuk cpet2an mnuju pesawat itu. pd saat yg bersamaan aku ga maw mati. krn aku taw kalo aku mati aku bakal langsung lanjut terus ke neraka. sholat ga pernah, amal ga pernah, zakat ga pernah, dosa numpuk mlulu. sdangkan maw tobat ga sempet. krn bumi akan mledak dlm hitungan jam.
    aku seret koperku yg berat dan brusaha secepet2nya sampai di pesawat. di tengah jalan aku berhenti. krn aku lyat seorang anak kecil lagi dgn santainya main bekel. pnasaran aku tanya dya “dek, knp ga ikut menyelamatkan diri?”. anak kecil itu jawab “lho? kk blom dnger ya? kiamatnya ga jadi! kita dikasih kesempatan satu kali lg!”
    smua penduduk bumi bersuka cita.
    saya ga maw taw lanjutannya. saya bangun dan langsung sholat.
    boleh percaya boleh nggak, tp inilah mimpi aku duluuuuu bgt.

    aku juga ada satu crita lagi.
    aku punya shbt. wkt itu dya abis pulang ESQ. dya lgsg nelpon aku dan ceramah panjang lebar soal agama dan tobat. intinya sih dya nyuruh aku tobat. trus aku crita ke dya ttg mimpi kiamat aku itu. jawaban dya ga akan aku lupa smp skrg. dya bilang:
    “taw ga ti? knp lo tuh slalu diingetin untuk sholat? baik itu lewat mimpi, lewat gw, lewat iklan, lewat nyokap, lewat teve, lewat mana aja deh! lo terus diingetin untuk sholat. kenapa? itu krn Dia sayang sm lo. lo ga pernah sholat, tp Dia tetep ngingetin lo untuk shoalt. Dia syg sm lo. kalo Dia ga syg, dibiarin aja pasti lo berdosa. pikirin itu.”

    dan kata2 dya relevan bgt dgn kata2 guru agamaku bertahun2 sesudahnya. pak itu bilang:
    “Tuhan tidak memaksa umatNya untuk masuk surga. tp Dia juga tidak membiarkan umatNya untuk masuk neraka. bener kan?”

    yah, jadi kesimpulan saya, itulah yg dimaksud dgn Tuhan itu ada di mana-mana. Tuhan itu ada di diri kita, di diri kamu, di diri teman, di diri tetangga, bahkan di diri teve (lewat sinetron2 agamisnya).. dan Tuhan senantiasa membuka tangan untuk kita. bener ga?

    uTi-the falling princess
    http://everfallingprincess.blogspot.com
    http://ceritatentangkamu.blogspot.com
    thisisuti@yahoo.com

  10. Anonymous said,

    October 5, 2006 at 6:19 pm

    Dee …
    miss your poem …
    -dp-

  11. chindy said,

    December 7, 2006 at 8:24 pm

    Dee, gpp yo..lagi-lagi copy paste dari ce cy;)

    tadi siang beli mangga. katanya masak pohon aku tanya: masak pohon kok masih keras gitu dijawab: iya ini masak pohon sebenarnya jawab ga sih sekilo lima ribuaku pilih lapan. kantongnya kecil. jadi perlu dua kantong untuk isi lapan mangga harganya 18.460 rupiah baru aja aku mo bilang kembali 1500 aja anaknya bilang 18.400lalu ibunya bilang ke anaknya: hitung 18.000 aja hari ini aku ngerti kenapa yesus bilang orang miskin pemilik kerajaan allah (mengutip yesus, bagiku, tak identik dengan kristen sebab kebenaran tak berkotak (manusia yang mengurungnya dalam penjara yang disebut agama)

  12. chindy said,

    December 7, 2006 at 8:32 pm

    Dee, siapa sih tuhan?
    kakak seperguruan saya ce cy, berbagi dalam tulisannya..

    tuhan t besar
    cockroates: laras, kenapa sih nulis tuhan ga dengan t besar
    cockroates: kan tak menghormati tuhan itu namanya
    laras: sebenarnya, siapa yang bisa berkata seperti itu kepada orang lain
    laras: karena siapa bilang ketika tuhan ditulis sebagai tuhan, maka tuhan tidak ditulis dengan t besar kates,membersihkan hati dari iri dan tamak membersihkan mulut dari kata-kata yang sengaja menyakiti sesama mencegah diri menjelekkan orang lain, apalagi memfitnah, mencelakai bukankah itu cara menulis tuhan dengan t besar dalam hari-hari kehidupan
    cockroates: laras, kenapa aku merasa malam ini kamu bijak sekalilaras: sebab aku lagi jatuh cinta dan cinta itu membuat kita menjadi bijaklaras: kalo tak membuat kita menjadi bijak, itu bukan cinta namanya. iya kan, katescockroates :) tersenyum, sebab itu yang pernah dikatakannya kepada laras tentang bagaimana kita tau bahwa benar-benar ada cinta di hati

    having made a monastery within my body
    i forgot the monastery outside
    having embraced the spirit rather than the letter
    i forgot how to play with words*milarepa

  13. Hareem said,

    May 12, 2007 at 4:58 am

    Dee,

    Boleh dong kapan2 makan sushi bareng!
    Ajak Tuhan juga, yaa.. biar rame!!!

  14. Anonymous said,

    June 4, 2007 at 5:42 am

    laras waktu kecil pernah tanya mamanya. tuhan itu manusia? seperti biasa. mama jawabnya, tanya tante seperti biasa. laras akan menatapku
    bukan. kataku
    laras tanya lagi,tuhan punya wajah?tante: ga
    laras: tuhan warnanya apa tante: tuhan tak berwujud,
    tapi kita bisa merasakan tuhan dalam hati kita
    tapi setelah aku pikir pikir.
    aku rasa mestinya aku bilang. warnanya sawo matang lalu laras akan tanya mengapa aku akan jawab, seperti yang aku rasa,karna sawo matang itu seksi:)
    sebenar apa, tuhan cipta manusia menurut image nya
    sesalah apa, kita cipta tuhan menurut image kita sendiri
    blog.360.yahoo.com/laraskanti

  15. pungguk merindu supernova said,

    August 26, 2008 at 9:04 pm

    apakah aku harus menyembahNya
    bagai budak pada tuannya
    seperti maling pada pengeroyoknya
    meraung menyesal, gemetar ciut

    kenapa aku tak bersua saja
    berbicara dengan secongkel nalar
    membahas banyak hal
    tentang tujuanNya menciptakanku

    bagaimana aku harus takut
    kalau Dia selalu percaya padaku
    memberiku kebebasan akal pikiran
    modal dahsyat jutaan sel akal

    untukku berfikir
    agarku melambung

    lewati segala doktrin
    kengerian buta akan bayangan manusia tentangNya
    aku loncat mendarat di tol
    tol di mana aku berjalan
    menyapa, menangisi dan memeluk sesama

    karena Dia membebaskanku
    mempercayai bahwa akhirnya, aku akan memilih

    menjadi manusia, semanusia yang diharapkanNya akanku

    aku bebas dan terkendali

    dengan gapaian karma pada otakku…

  16. pungguk merindu supernova said,

    August 26, 2008 at 9:09 pm

    dee..mana lanjutan supernova??

    pernah dengar ga bisik2 orang:
    manusia apa yang paling menyesal?
    jawab: penggemar berat harry potter yang dipanggil Tuhan sebelum baca buku ketujuh [mudah-mudahan bukan pas lagi hadiri launchingnya pula]

    jangan bikin banyak orang jadi manusia yang menyesal ya dee
    siapa tahu kamu lupa, supernova itu serial lho :)

    mudah-mudahan bu sati muncul lagi ya..what a character

Post a Comment