August 30th, 2006 at 3:54 am (Artikel)
Menembus Tingkap Kaca
(Published – Pikiran Rakyat, 27 Agustus 2006)
Suasana 17 Agustus selalu membangkitkan kembali pemaknaan dari merdeka itu sendiri. Setidaknya, pada level ritual, setahun sekali kita diajak mengheningkan cipta, mengenang jasa pahlawan, memikirkan ulang kontribusi apa yang bisa kita beri bagi Indonesia. Tahun ini, saya merenungkan konsep merdeka yang sedikit berbeda.
Konsep kedaulatan kadang membuat saya bertanya-tanya, apakah konsep itu nyata? Dunia yang kini menyusut, mengecil, dan tambah rekat, telah menciptakan realitas unik yang memancing saya berpikir ulang tentang kedaulatan dan kemerdekaan. Sudah jadi pengetahuan umum bahwa era globalisasi mengubah fungsi entitas negara, menggeser atau setidaknya membagi porsi kedaulatannya pada pasar. Perusahaan-perusahaan besar yang mendominasi pergerakan ekonomi dunia telah memenetrasi negara hingga memengaruhi kebijakannya, tak jarang malah mendiktenya.
Kemerdekaan dalam konteks hari ini lebih dirasa seperti selembar ijazah, surat lisensi, atau akte kelahiran sebuah bangsa. Sekadar pijakan identitas. Selebihnya, setiap gerak langkah satu negara akan selalu dimonitor, dikendalikan, dipengaruhi, oleh kekuatan besar lain yang memayungi eksistensinya. Kemerdekaan seperti tingkap kaca, seolah-olah tidak ada batasnya, tapi kepala kita terantuk juga.
Banyak nama yang mewakili era kita sekarang. Orang teknologi akan mengatakan era digital, orang poleksosbud mengatakan era globalisasi, orang New Age akan mengatakan Zaman Aquarius. Kita bisa melihat makin banyaknya perubahan yang dimotori grup kecil, entitas non-negara, non-partisan, non-birokrat, yang menjadikan negara seperti gajah besar yang tersuruk-suruk mengikuti kecepatan zaman. Kendati demikian, saya masih ingin menarik lebih dalam lagi makna kemerdekaan, menembus tingkap kaca tadi hingga ke unit individu.
Dalam kehidupan individu, kita tak luput dari impitan harapan lingkungan sekitar kita. Seringkali terasa sulit untuk bernafas bebas dari ekspektasi orang lain, apakah dalam bentuk norma, nilai, aturan maupun kondisi sosial yang mengikat kita. Bahkan terkadang keterpenjaraan ini pun secara halus diungkapkan sebagai “kebebasan yang bertanggung jawab”, agar kita tidak lagi mengenang kesejatian ekspresi pendapat maupun sikap kita.
Ada sebagian orang berpendapat, Indonesia belum siap untuk kebebasan individu. Jelajah rasa saya mengatakan ini seperti fenomena telur dan ayam. Di satu sisi, kita tahu bagaimana riuhnya pendapat massa hasil “komporan” pihak yang berkepentingan tertentu, namun di lain sisi kita tidak bisa terus menerus menunda ekspresi individu yang mungkin justru hadir sebagai bagian dari pendewasaan bangsa ini. Semua ini akhirnya berujung pada ketidakmampuan kita untuk hidup secara total. Pikiran, perasaan, sikap dan pendapat akhirnya terparut oleh kelayakan sosial. Hidup ini menjadi sebagian saja. Dan bagi yang alergi terhadap konflik, akhirnya lebih memilih tertidur dalam keterpenjaraan mental, emosional maupun spiritual.
Adakah kemerdekaan sejati yang tidak menjebak kita dalam ilusi tanpa batas seperti halnya tingkap kaca? Saya yakin ada. Barangkali hanya segelintir individu yang pernah mengecapnya, banyak yang berproses untuk mendapatkannya, dan lebih banyak lagi yang tidak mengenalnya sama sekali. Sebagian besar dari kita hidup seperti Epimenides yang terjebak dalam pilihan dilematis tak berujung. Satu-satunya solusi sejati adalah keluar dari perangkap konflik, menembus tingkap kaca, dan memandang kemerdekaan sebagai suara jiwa, suara individu nan otentik, bukan suara sosial semata.
Kemerdekaan semacam ini tidak bersuara dan tidak berdarah-darah. Kemerdekaan ini tanpa proklamasi, tanpa organisasi, tanpa prosesi. Kemerdekaan ini bernama kesadaran. Merdeka sejati berarti mentransendensi bipolaritas nilai dan mengatasi tingkap kaca yang menaungi kepala. Kita bisa jadi disebut bangsa berdaulat, tapi kita amat jauh dari manusia yang berdaulat.
Semoga suasana kemerdekaan setahun sekali ini dapat menggelitik kita untuk mengecek sejauh mana tingkap kaca di atas kepala kita, dan apakah kita tergerak untuk mengatasinya, menjadi manusia yang sungguhan merdeka dan berdaulat. Manusia otentik yang merayakan kemerdekaannya setiap hari.
* Special thanks to Reza, who managed to break down my writer’s block, and even contributed a few fabulous paragraphs. You’re right. This is our first mutual project.
cing said,
September 13, 2006 at 3:02 am
Merdeka!
Pekik merdeka ini punya siapa Dee?
Papa saya, sekitar taon ‘97 pernah dipanggil ke pengadilan. Grujug-grujug karena pemakaian nama Chandra pada adik saya. Papa didakwa melanggar aturan kewarganegaraan. Adik saya lahir taon 1983, begitu lahir udah nyandang nama Chandra padahal status kewarganegaraan kami saat itu masih ASING-WNA. Sementara WNI kami keluar taon ‘95.
Kewarganegaraan kami ini udah diurus sejak jaman biyen, sejak aq masih TK nol kecil Dee…berarti arsip kami udah ‘debuan’ selama 15 taon di kantor Catatan Sipil, barulah kelar.
Kembali ke masalah nama. Papa digugat karena memberi nama Chandra pada adikku sebelum absah jadi warganegara Indonesia keturunan. Dengan kata lain status masih asing tapi sudah berani memakai nama Indonesia. Kerutlah kening semua orang yang dengar aturan ini, benar aneh tapi waktu dan tempat merekamnya.
Saat ditanya Jaksa, “Apakah Bapak tidak tau aturan pemerintah tentang pemakaian nama pribumi?”
“Tau..jawab Papa
“Lalu kenapa masih memberikan nama Chandra pada putra ke-6 Bapak?”
“Saya mendapat wangsit Pak, saya mendapat penglihatan dalam mimpi saya beberapa minggu sebelum anak saya ini lahir. Saya bertemu dengan seorang tua yang berpesan untuk memberi nama Chandra. Dan saya tidak berani melanggar wangsit ini, takut kalau anak saya bisa sakit-sakitan atau terjadi sesuatu padanya,”Jelas Papa
Selanjutnya, alhasil karena undang-undang tak mampu menjerat wangsit, Papa lalu dibebaskan. Untung saja!
Ini baru seuprit serpihan realita yang benar-benar terjadi di tanah air kita Dee. Kerangkeng punya kemasan elit,undang-undang bro!! Dengan sadar di godok dan diterapkan di negeri kita ini. Hak untuk pilih nama saja diatur sedemikian ribetnya! Mungkin sekarang aturan super wagu ini sudah tidak lagi, saya tidak tau bagaimana perkembangan terakhirnya. Hakikat nama apa sih? What a name? Gugat Shakespeare. Paling banter bisa tertinggal di nisan. Tapi itupun bisa bertahan berapa lama sih? Di Jakarta saking terbatasnya lahan, kuburan pake sistim kontrak. Kalo tidak perpanjang nisan akan disruduk buldozer. Ratalah nama kita dengan tanah!
Masalah etnis, dari jaman kolonial tragedi Angke sampai kerusuhan ‘98 tempo hari, menggurat histori yang selalu sontak perih bila terlintas lagi sobat. Jika otak bisa di setel, ingin memori ini dibuat amnesia saja!
Tak ada satu batang hidung pun yang bisa memilih akan terlahir sebagai etnis apa! Probabilitasnya beda tipis dengan mata dadu yang dilempar. Keragaman yang sewayahnya indah, disusupi waksyangka dan memolesnya menjadi sumber tragedi. Hingga ada seorang yang ditemui Goenawan Mohamad di jalan ke-53 di New York, memilih menyebut dirinya ‘eks-Yugo’tidak Serbia, tidak Kroasia atau Bosnia. “Saya menampik diberi identitas etnis. Dan saya adalah seorang atheis dalam hal etnis,”tandasnya. Mengapa? “Saya datang dari sebuah negeri di mana orang membunuh dan dibunuh hanya karena berada dalam sebuah kategori tertentu dalam kitab sensus”
Sejarah merah negeri kita ini pernah menyajikan fakta, kepala orang Madura jadi the most wanted. Kepala ditenteng kemana-mana dengan entengnya oleh seraut wajah tanpa rasa bersalah, malah senyum tersungging dibibirnya sobat! Wallahualam!
Rumah orang Tionghoa jadi halal jarahan. Jerit tangis anak kecil, wanita, pria asal dia Tionghoa, anggap saja sunyi!
Apa bedanya saya dengan yang lain Dee? Kulit orang Tionghoa, orang Yahudi, Orang Madura, Orang Serbia kalau dikelupas..DAGING & DARAHNYA SAMA MERAHNYA, bahkan kentut pun tak ada yang lebih wangi dari etnis manapun!
Kapankah peradaban kita bergerak melihat manusia sebagai manusia?
chindy said,
September 17, 2006 at 9:51 pm
Sabtu malam kemaren, sehabis cabutin gigi pasien. Pasien bertanya ini-itu. Mulai dari muasal sakit gigi hingga apakah cabut gigi atas bisa bikin buta atau tidak. Hmm..kagum bukan main saya pada daya jangkau sebaran mitos ini. Hampir setiap pasien yang mau cabut gigi ngajuin buah teror yang sama, takut buta! Na’udzubillahimindalik, demi sejuta topan badai! (minjem mantra Kapten Haddock si Tintin;) Pikirlah sebelum takut, ojo sewalik’e, takut sebelum pikir! Tapi memang mungkin seperti itulah mekanisme mitos itu bisa manjur bekerja ya. Mampu mematikan selera berpikir, hingga bulat-bulatlah suatu kepercayaan ditelan.
Hohoho…mari kita berandai-andai. Andai saja cabut gigi atas bisa bikin buta, alangkah bejibunnya orang buta di dunia ini. Absen saja 6,5milyar orang dimuka bumi ini, berapa banyak yang tidak pernah cabut gigi atas? Tidak usah jauh-jauh, amati orang-orang yang seatap dengan kita, paling komplit pengalaman mungkin nenek atau kakek kita. Mungkin gigi mereka sudah lama gone with the wind dari ujung kiri muter ke ujung kanan sudah tanggal semua. Ganti dengan gigi palsu. Adakah mereka menjadi buta karenanya? Sepuluh pasien yang saya tanya, sepuluh menjawab TIDAK. Lalu mengapa takut? Atas dasar apa takut?
Budaya pikir sebelum takut mungkin perlu dibombardir, dirangsang terus agar bisa masuk jadi setelan baru mengkonfrontir tiap info dengan seobjektif mungkin. Adakah kabar, isu bahkan kepercayaan yang lewat dan ditawarkan layak untuk dipercaya atau tidak. Hopefully in next hours each individual in our community step by step could grow up in more condunsive creativity to think, which is FREE to reason, to challenge, to argue, to check and recheck even though to our conviction or religion!
chindy said,
September 20, 2006 at 8:51 pm
What kind of Freedom that we crazy about?
“Jaga haluan, jangan halau jalan orang lain!” Adalah salah satu filosofi hidup orang suku AKIK, di Riau.
Selalu lebih dari satu pihak yang terkait dalam setiap apapun yang kita lakukan. Tak terpungkiri lagi, karena memang kita semua adalah saling terkait. Kepentingan pribadi punya ruang sendiri, namun tetap punya batas, tak bisa lari dari kepentingan publik. Yang menjadi masalah adalah, sebatas apakah ruang pribadi dan sebatas apakah ruang publik. Kapan dikatakan suatu kebebasan bablas menabrak ruang publik. Begitu juga sebaliknya kapan ruang publik sudah terlalu jauh merampas jatah privasi.
Filosofi suku AKIK diatas kiranya cukup memberi jalan tengah batas antara publik dan privasi. “Jaga haluan” boleh kita urai sebagai kebebasan menentukan haluan asal dijaga. Ibarat meditasi, mau nerapin model apa terserah sejauh tidak lari dari hakikat meditasi. Mau ala kelelawar kek, ala kura-kura kek, ala itik kek. Saya jadi ingat salah satu teknik Yoga, menjadi proses. Bagaimana melompati ruang diri memproyeksikannya menjadi sebenih kacang hijau, sedetik berikut begitu mind lebur dalam proses, menjadi proses itu sendiri, mengecambah bebas bertumbuh, beriringan dengan waktu.
Indah sekali ya..rasanya kata akan kehabisan stok untuk mengukir detil pesona sebuah proses tumbuh yang bergerak dalam rel KEBEBASAN penuh. Menjadi taoge yang tak ragu menikmati hangat mentari, desir angir, dingin malam, syahdunya siraman rembulan. Juga menjadi taoge yang tak sungkan untuk terus mengusut mundur arti eksistensinya, apa yang membawanya eksis, bagaimana eksis itu mengada, menggemukkan batinnya hingga membentuknya menjadi taoge yang percaya diri dengan eksistensinya, melenggang dalam arena hidup dengan kepala tertopang tegak tau kemana arah yang akan ditujunya. Menjadi satu noktah dari sekian gambrenk eksistensi dalam bilik sang semesta!
note:
btw, Dee saya jadi bingung,
rasane komen ini koq lebih cocok untuk artikel Ada ya, hehe…
adi said,
September 3, 2008 at 1:33 am
halo mbak dewi lestari, mbak cindy (di IVS jogja)
sorri nggabung ni
kalau ada info2 aku dikirimi yaa
(Lukas Adi Prasetya, wartawan Kompas di Yogyakarta)