Vegetus Libertas
(Published – IVS official website)

Keengganan umum menjadi vegetarian antara lain enggan jadi repot dan terbatas. Di dunia mayoritas omnivora ini, seorang vegetarian yang bepergian harus dari jauh hari memesan menu khusus ke maskapai penerbangan. Saya harus memberitahu tante saya yang mengadakan hajatan, supaya ia tidak kecewa jika sambal goreng atinya tidak disentuh. Setiap ke luar kota, survei kecil yang selalu saya lakukan adalah mencari restoran vegetarian.

Sebagai vegetarian pemula yang masih beradaptasi, saya sering merenung: apakah ini keterbatasan, atau tantangan? Keterbatasan adalah gagal menemukan makanan vegetarian, lalu dengan hati masygul makan nasi pakai sayur dan sambal tok, sesekali melirik iri piring teman-teman yang berlimpahkan lauk-pauk. Apalagi baru jadi vegetarian beberapa bulan, segala rasa daging masih kuat bercokol di memori. Saya tahu persis, bahkan lidah ini seperti masih bisa mengecap tanpa perlu mengunyah, rasa ayam bakar, sop buntut, gule kambing, babi kecap, udang goreng mentega.

Tantangan adalah menghadapi situasi dan piring yang sama dengan penuh kemenangan. Dan demikianlah upaya saya menyikapi hidup vegetaris. Menjadi vegetarian adalah tantangan dalam satuan hari. Besok adalah tantangan baru, dan seterusnya. Tantangan mengubah persepsi keterbatasan menjadi permainan seru yang dengan serius menantang saya untuk terus menggali etika bermanusia dalam konteks realitas hari ini. Tantangan saya artikan sebagai pembatasan, dan itu tidak sama dengan keterbatasan. Pembatasan adalah kesadaran aktif untuk mengurangi pilihan yang tak perlu.

Sejak dulu, saya paling tidak tahan berada di belakang truk yang mengangkut hewan. Entah itu sapi, ayam, kambing, atau babi. Cepat-cepat saya susul, atau terpaksa terus memalingkan muka. Namun tampang memelas mereka tidak seberapa dibanding kontradiksi yang menyerang saya: saya iba, tapi lewat industri makanan, saya masih membunuhi mereka. Hingga kini rasa iba itu tidak hilang. Namun kontradiksi itu lenyap sudah. Dan saya merasakan kebebasan.

Sebulan belakangan ini saya juga menyadari sesuatu, daerah rambahan saya di supermarket menjadi lebih sempit. Saya akan berjalan melewati jajaran panjang aneka daging segar, mengabaikan rak-rak berisi sosis, kornet, dan hanya mampir di bagian sayur, buah, serta rak pendingin tempatnya tahu dan tempe. Kadang saya menoleh ke belakang, melihat banyaknya pilihan yang saya lewati, dan lucunya, saya justru merasa lebih bebas.

Berapa banyak pilihan yang sebenarnya sanggup kita tangani? Sering juga saya renungi itu. Ketika seseorang memiliki enam mobil, dua ratus potong baju, lima puluh sepatu, adakah itu membebaskan? Saya selalu merasa ada batas tegas antara butuh dan koleksi. Ketika batas kebutuhan dilampaui hingga memasuki tahap koleksi, maka angka berapapun tak akan pernah cukup. Ketika makanan bukan lagi sarana untuk keberlangsungan hidup, tapi ajang koleksi kenikmatan indrawi, seluruh hewan di Bumi tidak akan pernah cukup. Refleks kita pasti menangkis ‘apa salahnya?’, ‘kalau ada uangnya kenapa tidak?’. Percayalah, saya pun masih menyimpan refleks yang sama. Gen primordial kita sebagai ras yang pernah berjuang antara hidup dan mati demi tidak kelaparan akan selalu mendorong kita untuk sebanyak-banyaknya menumpuk lemak dan protein.

Adalah tantangan untuk mengubah refleks primordial dengan sistem akal budi berbasiskan realitas baru, bahwa dunia hari ini sudah punya cukup teknologi untuk kita bisa bergizi tanpa membunuh hewan secara massal, dan dunia hari ini mengalami krisis karena banyak manusia sibuk menggemukkan hewan ternaknya dan lupa bahwa manusia lain kelaparan, bahwa dibutuhkan sepuluh kilo tumbuhan bergizi untuk menghasilkan satu kilo daging.

Amati kehidupan kita sendiri: apakah pola konsumsi kita masih dalam koridor butuh, atau sudah koleksi? Setelah itu, barulah lihat kehidupan sekitar kita, dan simpulkan dengan akal sehat: apakah masih etis untuk menerapkan pola koleksi? Jika tidak, sesuatu pasti bisa kita upayakan untuk mengurangi berlebihnya pilihan, membiarkan mereka yang betulan terbatas untuk melangsungkan hidup dengan jumlah pilihan yang layak. Jumlah yang perlu kita bagi.

Di sebuah food court dengan puluhan stand, saya memilih satu: stand nasi pecel dan gado-gado. Teman saya berkomentar: ‘Kasihan kamu, makannya cuma bisa itu.’ Padahal, meski pesan menu lain, ia juga sama-sama makan satu piring. Jika ada food haven yang menyediakan ribuan stand sekalipun, setiap pengunjung pada akhirnya memilih satu.

Malamnya, ketika iseng buka-buka kamus Bahasa Latin (salah satu hobi saya memang mengoprek kamus), saya menemukan sebuah frase: Vegetus libertas. Artinya, hidup yang menguatkan budi. Saya jadi teringat makan siang tadi. Di food court itu, tanpa disadari, saya telah bertemu kebebasan dalam pembatasan. Hidup yang berbudi ternyata dapat dihikmati melalui sepiring nasi pecel.

16 Comments

  1. ganda said,

    August 31, 2006 at 9:32 pm

    Suatu ketika aku pernah nanya ke seorang teman yg kebetulan berwarganegara India yg kebetulan lagi vegetarian. Pertanyaannya seperti ini: “kenapa nggak makan daging?” Ketika dua individu berinteraksi adakalanya bukan hanya mulut yg harus cuap cuap menghasilkan jawaban tapi juga otak yg seakan sungkan untuk tidak mencerna arah perbincangan. Reaksi dia seperti ini, dia ambil batu didekat kita, terus ngomongnya begini: “kenapa kamu sendiri nggak makan batu ini”

  2. ganda said,

    August 31, 2006 at 9:33 pm

    Suatu ketika aku pernah nanya ke seorang teman yg kebetulan berwarganegara India yg kebetulan lagi vegetarian. Pertanyaannya seperti ini: “kenapa nggak makan daging?” Ketika dua individu berinteraksi adakalanya bukan hanya mulut yg harus cuap cuap menghasilkan jawaban tapi juga otak yg seakan sungkan untuk tidak mencerna arah perbincangan. Reaksi dia seperti ini, dia ambil batu didekat kita, terus ngomongnya begini: “kenapa kamu sendiri nggak makan batu ini”

  3. Cing said,

    September 5, 2006 at 2:13 am

    Sobat yang baik…
    Uni Eropa secara resmi pada tahun 1997 mengakui bahwa binatang mempunyai perasaan. Jadi binatang harus diperlakukan sebagai ‘makhluk hidup’ dan terpisah dari kelompok produk pertanian/peternakan. Dalam arti apel pada saat transportasi boleh dijejalkan dalam satu kotak tapi ayam, sapi, atau babi sudah tak boleh lagi. Sedangkan di Amerika Serikat, binatang ternak secara hukum tidak dianggap sebagai makhluk hidup tapi produk.
    Pengakuan. Alangkah berbedanya perlakuan terhadap binatang setelah ada pengakuan resmi. Di Eropa, mereka yang masih mengabaikan binatang misalnya saat transportasi tanpa air, makanan, istirahat, bisa dikenakan sanksi hukuman. Di amerika, tidak bisa, karena tidak ada pengakuan.
    Apa yang diungkapkan teman saya diatas dalam ‘refleksi nurani-seri renungan maitreyani), sontak mengantar pikiran saya connect dengan cerita Sri Mulatsih, asisten saya perihal perilaku Oca. Beberapa minggu yang lalu tidak seperti biasanya salah satu burung peliharaan Pa’le tidak kunjung pulang. Biasanya sore pasti sudah pada kembali ke sangkar masing-masing. Hari itu, satu burung tak pulang. Oca menunggu sampai hampir larut, jam sudah bergerak ke pukul 11 malam. Oca tak juga beranjak dari teras. Mamanya membujuknya untuk masuk, Oca keukeuh tak mau. Mau nunggu burung pulang katanya.
    Bagi Oca, burung tak beda dengan sepupunya-Lutfi, Ami, atau teman bermainnya yang lain. Oca gembira sekali setiap diajak pamannya memberi makan pada burung-burung ini. Oca juga sering digodain pamannya untuk kelinci peliharaanya,”yo, kelincinya di sate aja ya Ca,” Oca akan selalu menjawab dengan memohon, “Jangan, kasihan!”
    Kasihan, kasihan akan rasa sakit yang juga bisa dirasakan oleh hewan-hewan ini suatu sikap yang dihidupkan dalam tata rasa dan tata laku anak ini terinspirasi darimana sobat? Rasa ibanya lahir spontan. Tumbuh tanpa dikarbit, mekar tanpa diorbit..hati nurani yang mengajaknya menyentuh, merasakan dan mengartikan hangat dan denyut, dari tubuh burung dan kelinci peliharaannya saat bermain bersama, memeluk dan membelai mereka. Oca juga ikut takut bila melihat hewan-hewan ini ketakutan saat dikejar-kejar atau diperlakukan kasar oleh teman-teman sepermainannya yang lain. Pengalaman ini yang mengacakan Oca pada apa yang pada dirinya, burung juga bisa takut kalau di uber, kelinci juga bisa jerit kalau dicekik, hingga membuatnya bertanya,”Mama, kelinci bisa nangis?” Aih sobat, hawa ‘arogan’ belum menumpulkan daya endusnya, sekali lagi dimatanya burung dan kelinci, semut adalah KAWAN bukan abdi, bawahan, jongos apalagi produk! Oca MENGAKUI mereka sebagai makhluk yang HIDUP. dengan segala keunikan sendiri, yang juga mengagungkan HIDUP. Dengarlah koak-koak, rintihan mereka ketika dicekam takut sesaat akan disembelih. Eksistensi naluri pengakuan yang lebih purba sebelum semesta ini tercipta, itu berarti berjuta-juta tahun bahkan mungkin bermilyar tahun di depan pengakuan uni eropa sendiri, karena ide menelorkan KEHIDUPAN dari sang Causa, tak lepas dari pemuliaan pada HIDUP itu sendiri
    Sobat, KASIHAN versi Oca, rujukan yang kini sudah dipermak abis, tergeletak tiada daya,mengkeh-mengkeh merana tersisih jauh entah ke berantah mana dari lubuk kita. Kasihan yang beredar sekarang adalah kasihan ‘papan merek’. Kasihan hanya untuk manusia, untuk manusia saja masih ada teritorinya lagi. Makna dan batasan Kasihan tereduksi sedemikan rupa, hingga babak belur, bonyok, tak karuan tepiannya lagi.
    Entah berpangkal darimana perjalanan evolusi kesadaran kita, dengan sadar tak sadar menepuk dada sendiri, saya manusia dengan embel-embel lebih mulia dan mereka HANYALAH binatang, hingga bagi kebanyakan kita apa yang aneh bila mereka harus dihidangkan dimeja makan..APALAH kodok, APALAH ayam, APALAH sapi…

  4. cing said,

    September 13, 2006 at 3:24 am

    Dear friends, berikut kutipan tulisan Edgar Kupfer, seorang pacifist yang berani membuka mulutnya menentang manuver mabok Hitler-Nazi, yang membuatnya harus mendekam di kamp konsentrasi.
    Di depan matanya, pemegatan sukma terpapar, ribuan bahkan jutaan sukma dicabut dalam neraka jadi-jadian kreasi Hitler- kamp konsentrasi. Kamp konsentrasi, sistem yang dianggap lebih efesien untuk ‘membersihkan’ Jerman dari orang Yahudi. Lebih efesien daripada harus menembaki satu persatu kata Hitler!
    Kesintingan yang tanpa ampun menginjak-injak rasa belas kasih. Edgar Kupfer dalam pojok permenungannya menuliskan suara benaknya membedah makna belas kasih:

    It has often been pointed out that there were many good thinking and decent Germans who listened to Adolph Hitler as he rose to power, knew him for what he was, and yet did nothing. they sensed that his campaign rhetoric masked an insatiable drive for power that would stop at nothing to achieve its ends. but they stood silently by and watced the Nazis take over, because they were afraid to open their mouths.

    One man who did open his mouth was Edgar Kupfer, and he paid dearly for trying to awaken a sense of conscience in his countrymen. Kupfer was imprisoned in the concentration camp at Dachau during World War II. His crime? He was a pacifist.

    In this hell of hells, Edgar Kupfer managed to steal scraps of paper and bits of pencils. Stealthily, he kept a diary. Between the few precious moments when he was able to write in his diary, Kupfer kept his secret work buried underground. He knew what would happen if the Nazis found it.

    On April 29, 1945, Dachau was liberated. Edgar Kupfer was free. And so were his buried diaries. The Dachau Diaries of Edgar Kupfer are now preserved in a Special Collection of the Library of the University of Chicago. In one of his essays, called “Animals, My Brethern,” Kupfer wrote:

    “The following pages were written in the Concentration Camp in Dachau, in the midst of all kinds of cruelties. They were furtively scrawled in a hospital barrack where I stayed during my illness, in a time when Death grasped day by day after us, when we lost twelve thousand within four and a half months..

    “You asked me why I do not eat meat and you are wondering at the reasons of my behaviour..I refuse to eat animals because I cannot nourish myself by the sufferings and by the death of other creatures. I refuse to do so, because I suffered so painfully myself that I can feel the pains of others by recalling my own sufferings…

    “I am not preaching…I am writing this letter to you, to an already awakened individual who rationally controls his impulses, who feels responsible, internally and externally, for his acts, who knows that our supreme court is sitting in our conscience…

    “I have not the intention to point out with my finger…I think it is much more my duty to stir up my own conscience..

    “That is the point: I want to grow up into a better world where a higher law grants more happiness, in a new world where God’s commandment reigns: You shall love each other.” (diet for a new america-p.122-123)

  5. Ben said,

    November 11, 2006 at 2:48 pm

    Menurut saya, jika ingin menjadi seorang vegetarian, jadilah vegetarian yang tidak merepotkan orang lain. Ketika diundang ke sebuah pesta misalnya. Tidak perlu merepotkan orang lain hingga harus menyiapkan masakan khusus di luar menu umum.

    Apakah tidak bisa hanya mengambil bagian yang bukan daging dari menu umum yang tersedia?

    Begitu juga dalam memilih resto. Apakah tidak bisa memesan menu sayur di resto pada umumnya? Kenapa harus ke resto khusus vegetarian?

    Atau ada alasan yang lebih spesifik sehingga harus dipesankan menu khusus atau harus ke resto khusus yang ‘tidak tercemar’ unsur daging? Alergi? :)

    Jadi, tujuannya apa? :)

  6. chindy said,

    December 7, 2006 at 1:12 am

    Semalam jumpa cik Chai Yean di Huei Li Fuothang..aq baca salah satu tulisan diblognya tentang ayam goreng..aq ijin u forward ke blog Dee..ijin turun asaaal..aq sertain alamat blog’e,numpang beken jarene,hehe…maklum Dee, kite2 lagi demam Narji abis, sapoolpoole;)iki copy paste artikel ce..
    tak makan ayam goreng lagi – tiga

    sebab
    kupandangankubiasku
    jika ada makhluk yang badannya lebih besar dari kita, lebih bisa menulis puisi, bisa membangun gedung yang lebih miring dari menara pisa, apakah mereka boleh memperlakukan kita sebagai makanannya. apakah mereka berhak menangkap atau menernakkan kita untuk kemudian digulai atau disate atas nama gizi bayangkan jika itu yang terjadi, kita akan marah besar. manusia seluruh dunia akan serentak demo. pasti heboh mempertahankan diri dari segala sudut. kita akan membicarakan hak hidup, hidup yang sakral, hidup yang diberikan tuhan, etc etc. kita bahkan akan mengancam mereka dengan bom nuklir sebenarnya, pandangan bahwa: ‘apa yang kita tidak mau orang atau makhluk lain lakukan terhadap kita, kita juga tak boleh melakukannya terhadap orang lain, juga makhluk lain,’ apakah bisa dibantah kebenarannyalagipula ayam pasti mau hidup, dan tak mau jadi ayam goreng di piring makan hanya karena kita bisa berlari lebih cepat dari ayam dan menangkapnya, tak berarti kita boleh memakannyaiya kan

    blog.360.yahoo.com/laraskanti

  7. chindy said,

    December 7, 2006 at 8:18 pm

    Dee, maap sebelumnya untuk kesekian kali kuteruskan artikel orang lain-ce cy, dudu’gawe dhewe;)

    jika-kita adalah ayam

    tak makan ayam goreng kecap lagi:sebabku
    pandanganku
    biasku

    diantara teman-teman selalu ada yang berkata: tapi ayam kan dicipta untuk dimakan suatu ketika jika kita dipilih tuhan untuk datang ke dunia sebagai ayam, apakah kita akan berkata dengan gembira kepada manusia: aku dicipta untuk kalian makan loh tapi saya tidak pernah merasa ayam gembira untuk dimakan manusia buktinya mereka berteriak-teriak ketika akan disembelih mendengar teriakan mereka, yakin deh kita tidak akan merasa mereka sedang menyanyikan pujian bersyukur bahwa tuhan telah membantu mewujudkan takdir kedatangan mereka ke dunia kita justru merasa sebaliknya kita merasa mereka tidak mau dibunuh. mereka memberontak untuk hidup
    kita sendiri juga tak mau membunuh mereka dengan tangan kita sendiri kita sendiri juga akan memilih lebih baik tak usah makan ayam daripada kita sendiri mesti yang menggorok leher mereka

  8. Peter said,

    January 3, 2007 at 1:44 pm

    Dear Dee… hmmm… mau gak ngebantu lebih jauh utk hak2 binatang? ngebantu PeTA (People for the Ethical Treatment af Animals)? setidaknya jadi Icon artist or seleb atau seseorang yg milik publik dengan gaya hidup pro-animal a.k.a Vegetarian… Bantuan dee sekecil apapun akan sangat amat membantu mereka (Binatang). Direct action lebih berarti dari hanya sekedar wacana khan? Tapi apapun itu thanks banget udh spreading the word. GO VEGAN! THX B4.

  9. olin_lucu said,

    March 6, 2007 at 3:03 am

    Dee masih kristen?
    Pengen tau pandangan kristen thd vegie.
    Terima kasih.

  10. olin_lucu said,

    March 7, 2007 at 3:36 am

    Sudah 7 bulan ini saya mencoba mengkonsumsi makanan sesuai golongan darah.
    Tapi utk masuk ke step berikut being a vegie… rasanya berat. :)

    Oh.. mau nanya juga: barangkali ada yg tau blog nya Reda Gaudiamo?
    Ma kasih…

  11. chindy said,

    March 22, 2007 at 7:18 am

    Kemarin bongkar-bongkar kompas, ada artikel berjudul sahabat atau keluarga- Samuel Mulia, menulis..

    …kalau sudah kepala habis diisap dan digerogoti, lalu yang tinggal hanya sepasang mata bolanya, saya sering malu sendiri sama ikannya. Mata ikan tak bersalah itu seperti berkata, “Isaaap terus sampai kering.” Jadi, saya selalu menyisakan kedua matanya. Kadang saya berpikir, matanya mungkin sebaiknya ditutup saja sehingga saya lebih enak mengisap tanpa merasa bersalah.

    Sobat, Garis bawahi kalimat matanya mungkin sebaiknya ditutup saja sehingga saya lebih enak mengisap tanpa merasa bersalah. Tak mungkin sobat! rasa bersalah jujur lahir apa adanya, karena kekejaman adalah kekejaman, sakit adalah sakit!

    Mengapa matanya harus ditutup?

    Apakah karena kita ingin lari dari penggalan-penggalan rentet perjalanan tragis sang Ikan sebelum sampai di meja makan kita? Bagi ikan adalah momen tak terperikan kala kena jaring, bibir kena kait kail, takut setengah mati, tergelepar-gelepar payah gelagapan mencari kesempatan hidup.

    Sama persis ketika kita ditenggelamkan di air, kita berontak, gelagapan memaksa naik ke permukaan, 1 cc oksigen sungguh tak ternilai pentingnya saat itu. saat itu ditawarkan apa saja, tak ada yang sepadan. Berlian? Oscar? Jaguar? semua lewat. tak ada yang lebih penting dari kesempatan hidup.

    Saat yang sangat mencekam, saat nyawa dipaksa meregang, lepas dari tubuh ini. Semua makhluk merasakannya dalam kadar yang sama persis. tidak kurang sakit, tidak lebih sakit, tapi sama sakit.Kecoak tidak sedang berakting ketakutan dikejar-kejar sandal jepit kita. Ikan juga tidak sedang latihan drama meronta-ronta saat kait kail merobek bibirnya.Tidak Sobat! mereka tidak sedang berpura-pura sakit, berpura-pura menjerit, berpura-pura meronta hingga boleh diabaikan begitu saja!

  12. chindy said,

    March 22, 2007 at 7:27 am

    aku menangis karena itulah pertama kalinya ada manusia yang peduli,aku makan atau belum kamu nangis. kata laras menarik sapu tangannya itulah pertama kalinya aku ketemu manusia yang bisa melihat airmata kaum kecoak
    sebab sesungguhnya airmata kami invisible bagi mata kaki dua

    saya jadi ingat lirik lagu gress hitnya PINK, dear mr president
    ‘Can you even look me in the eye…
    dua hari ini hatiku penuh dengan kata-kata, andai kita tidak memalingkan mata hati,
    mata ketemu mata
    membaca kedalaman mata yang menyirat lara,
    getir kepiluan teramat sangat tersorot di tiap riak air mata
    ambang maut,
    perih…satu rasa, hanya satu rasa ini mengiring titian satu demi satu nafas yang tersisa
    melumat habis asa tuk bernyali

  13. chindy said,

    April 3, 2007 at 8:00 am

    Siang ini saat akan pulang ke yk, keluar dari halaman puskesmas, di sebelah barat halaman ada 2 orang pria sedang menembaki burung. Saya bertanya pada bu Narsih mengapa burung2 itu ditembaki Bu? “Gon senang-senang tur Gon pakan ikan,”jawab bu Narsih. Ingin sekali saya mendekati dua orang itu, tapi bu Narsih udah keburu bablas, saya nebeng dia sampe pakis. Rasa tak enak masih menggondeli hati saya. Sesampai di Huili Fuothang, saya liat majalah yang ditinggalkan oleh ce cy. Dia sekedar bernostalgia kilas balik kembali apa yang pernah ditulisnya dalam majalah nasional kami. Iseng saya buka bagian yang dibacanya semalam. Astaghfirullah! ada cuplikan kisah masa kecil Albert Schweitzer, paaas banget dengan gondelan rasa di hati saya saat itu.
    ‘Thou shalt not kill’
    Albert schweitzer(1875-1965) adalah filsuf penganjur’Reverence for Life’, dokter,ahli teologi kelahiran Jerman. Suatu hari di saat usianya masih delapan tahun, temannya Heinrich mengajak Albert keluar untuk menembak burung dg katapel. Albert kecil meski merasa ide ini mengerikan tetapi tidak berani menolaknya karena takut ditertawakan.
    Albert menuturkan,’kami mendekati sebatang pohon yg sdh tdk berdaun. Burung-burung yg bertengger disana terus bernyanyi dengan manisnya di pagi hari itu. Mereka tampaknya tak takut terhadap kami. Berjongkok seperti pemburu Indian, temanku mengambil sebuah kerikil dan menarik karet katapel.
    Tatapannya penuh perintah membuatku mengikuti gerakannya.Tetapi pada
    saat itu hati nuraniku merasa tertusuk dan aku bersumpah untuk tak mengarahkan kerikilku kepada mereka. Pada momen yg kritis inilah lonceng gereja berdentang memenuhi hamparan cahaya matahari, bersama-sama dengan suara burung-burung yg sedang bernyanyi.’Albert terkejut ketika lonceng
    berdentang dari kejauhan. Baginya itu adalah’a voice from heaven’ suara surga. Albert pun segera meletakkan katapelnya dan berteriak mengusir burung2 itu pergi agar tak menjadi sasaran katapel temannya. Setelah itu
    Albert sendiri berlari pulang. Mengenang kejadian di masa kecilnya,
    Albert menulis,’sejak itulah ketika lonceng Paskah berbunyi di dalam hamparan cahaya matahari dan pohon-pohon yg tak lg berdaun, aku akan ingat,dgn hati yg sgt tersentuh dan berterima kasih, sebab sejak hari itulah berbunyi dalam hatiku perintah ‘Thou shalt not kill, janganlah membunuh.’ Albert Schweitzer menyampaikan di Auditorium Universitas Oslo
    setahun setelah beliau memperoleh penghargaan Nobel perdamaian 1954.
    ‘Semua manusia..mampu berbelas kasih..spirit itu ada dalam diri manusia seperti terang yg siap menyala, menunggu hanya setitik percikan api’ Adanya jiwa belas kasih yg asali dlm setiap diri manusia, universal,tak terkecuali.
    Saya berharap dua pria yang temui siang tadi, suatu ketika, setitik api belas kasih itu memercik dalam ruang hatinya. Mendengarkan keberatan suara nuraninya, bahwa hidup sungguh punya harga, meski hanya seekor burung kecil, siapakah kita hingga layak merampas hidup mereka. Hidup yang mengalir dalam diri tiap makhluk membawa visi kemuliaanNya, hingga hanya Sang Pemberi hiduplah yang layak mengambil hidup itu kembali. Bahagia yang di damba tidak datang gratis tanpa memberi bahagia itu sendiri pada makhluk lain.

    syaloom

  14. chindy said,

    April 6, 2007 at 6:53 am

    Beberapa hari lalu saya iseng meliat tanggalan, oalaaa..ada tanggal merah…meraaah bro! berarti kan libuuur, aduh senengnya. Libur apaan sih, Ooo ternyata ‘easter day’..ya ampun paas banget ama posting komen yll, untuk pertama kalinya voice from heaven ‘thou shall not kill’ bergema dalam hatinya Albert.
    Ada satu tulisan ce cy dalam majalah yang sama yang sangat menggugah hatiku, kupikir hari ini adalah saat yang tepat untuk membaginya. Hari untuk memperingati Merahnya Darah Kristus yang tercurah dalam satu bumbungan harapan: DARAH tersebut adalah DARAH terakhir. DARAH yang akan selalu memberi peringatan agar tidak ada DARAH lain yang tercurah. DARAH yang diberi amanat membendung ketidaktahuan, keegoan dan keliru pandang manusia hingga melukai martabat hidup itu sendiri, tidak hanya hidup manusia tetapi laksa ciptaan, teman satu planet BUMI kita.
    Aduuh Dee, sorry morry bakal panjang amat nih, gpp ya;)
    Berikut cuplikan tulisan ce cy tentang
    “MERAH”
    Planet yg dipuja sbg dewa perang,berwarna merah.
    Lidah yg dpt menyebabkan seribu petaka,ditandai merah.
    Mawar yg bduri,dicipta asli dg warna merah.
    Apel larangan ditandai merah.
    Rambu berhenti,berwarna merah.
    Inilah sebuah sebab,darah sgt jelas tak biru,tak kuning,tak coklat,tapi tegas2merah.
    Merah yg tak merah muda atau merah lembut,tapi merah yg sgt individual,yg mbuat kita menyebutnya sebagai merah darah. Dengan darah yg merah kental-menggidikkan,
    alam telah memperingatkan manusia untuk jgn memandang enteng darah yg tertumpah,meski tampaknya itu ‘hanya’ darah
    seekor ayam atau itik.
    Karenanya darah manusia,darah kambing, darah sapi,
    darah kelinci, darah ayam, warnanya sama,MERAH SEMUA.
    Apakah Tuhan mempunyai maksud tertentu membuat darah binatang warnanya sama dengan darah
    kita? Pasti ada maksudnya.
    Saat pisau dipancang dan menggorok leher, ketapel dan bedil membidik
    sang cuicui, jerit ketakutan,perih menahan sakit,tak rela melepas
    hidup,membumbungkan gelegak amarah dalam tiap 1 cc darah.
    Darah yg tertumpah..getaran ini terekam detil dlm tiap denyut tanah,air
    dan udara.semesta saksi akbar jerit penolakan,amarah yg tertumpah bersama darah dan ketika energi ini telah memenuhi seluruh rongga semesta,
    tak ada yg tsisa,segala yg terekam terpantulkan kembali.
    Hingga kita menyerunya ‘amukan alam’ angin menyapu tanpa pilih bulu, longsor merangsek, tanah menggeliat,saling tubruk menghempas energi jenuh-emosi
    benci,murka,tak puas.mematahkan lempeng2 tanah..
    menelan sekian ribu,sekian
    juta,sekian,sekian korban. Duhai manusia, dimana mata hikmat yg selayaknya dipakai membaca amanat alam ini?

    Moga Paskah kali ini, sungguh menggentarkan hati tu’ mencurahkan DARAH apa pun, siapa pun. Baik dalam ucapan, pikiran, niatan maupun lakon

  15. tan_intan said,

    May 10, 2007 at 11:29 am

    saya pernah dalam rangka ngedoain bokap, nge-vegie 3 hari plus puasa stengah hari. wow!! itu benar2 pengalaman yang terus terang.. ga enak! ga enak dalam arti pada saat itu gw baru menyadari ‘ketamakan’ gw, gluttony! nafsu makan yang berlebihan. nafsu makan pada daging terutama. hasrat itu kaya diracun, saya seperti orang sakaw. padahal cuma 3 hari.
    dan itu sangat menyebalkan, lalu apa yang saya lakukan? pada saat ‘buka puasa’ saya langsung makan daging. alhasil saya malah mules-mules dan diare!
    huahaha..
    sampai hari ini saya belum pernah nge-vegie lagi, takut! takut kaget, takut..apalah! masi belum rela ngebuang koleksi mungkin..
    salut banget sama mba dewi yang bersedia ngebuang koleksi2nya!!
    muda2han suatu hari saya juga nyusul.

  16. Yumeita said,

    June 20, 2008 at 4:20 am

    Vegetarian bukan hal yang baru bagi saya. Ayah dan nenek saya, karena menganut ‘kepercayaan’, mereka berdua memutuskan untuk tidak mengkonsumsi daging. Malah mereka telah menjalaninya kurang lebih 15 tahun. Dan kami (Ibu, dan kami empat anaknya) terkenaa imbasnya. (Hahahaha…)
    Bla…bla…bla….
    Saat ini saya sedang belajar untuk tidak mengkonsumsi semua yang bernyawa, sebelumnya saya juga pernah ber-vege. Malahan, saya telah menjalani 4 fase:
    Fase pertama: Saat itu saya baru kelas 3 SD. Selain mengkonsumsi sayur-sayuran, kami juga mengkonsumsi bahan makanan yang terbuat dari gluten (tepung-tepungan). Fase ini hanya bertahan kurang lebih setahun.
    Fase kedua: Waktu duduk di kelas 2 SMP. Itu pun hanya bertahan 2-3tahun. Saat itu saya nggak tahan ketika teman-teman saya menyantap renyahnya kulit paha ayam KFC.
    Fase ketiga: Waktu SMA kelas 2. Saya vege, dan hanya teman-teman dekat saya saja yang tahu tentang ini. Waktu itu, saya tidak berani buka mulut bahwa saya tidak makan daging. Saya merasa malu. Tidak tahu mengapa?? Ber-vege hanya sampai lulus SMA. Setelah itu saya belajar bahasa di Cina, dan tidak lagi vege. Saya jauh dari rumah, tinggal di asrama, dan tidak bisa memasak. (Hahahaha..) Apalagi hampir semua Chinese food menggunakan minyak babi untuk menyempurnakan kelezatan masakan mereka. Hingga akhirnya, satu setengah tahun berlalu, tepatnya Maret 2008. Tiba-tiba saya memutuskan untuk kembali bervegetarian. Dan kali ini, saya dengan bangga dan tanpa malu-malu seperti ketika jaman SMA mengatakan: “Maaf, saya nggak makan daging. Saya vege…” Saya benar-benar yakin dengan apa yang saat itu saya lakukan. Tidak lama, saya mendengar dari kakak saya bahwa bervegetarian dapat mengurangi Global Warming. Waktu mendengar itu pun saya merasa tercengang. Masak?? Dari saat itu, saya mulai surfing berita,artikel tentang masalah ini dan ‘pencarian’ saya sampai ke Dee-Idea.
    Kemudian, dari halaman blog ini, saya mendapatkan informasi yang tidak sedikit. Malah semakin menguatkan saya untuk tetap bervegetarian.
    Thx, D!!

Post a Comment