<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: </title>
	<atom:link href="http://www.dewilestari.com/b/2006/08/30/38/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/08/30/38/</link>
	<description>an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Dec 2011 03:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>By: Yumeita</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/08/30/38/comment-page-1/#comment-1011</link>
		<dc:creator>Yumeita</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 12:20:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=38#comment-1011</guid>
		<description>Vegetarian bukan hal yang baru bagi saya. Ayah dan nenek saya, karena menganut &#039;kepercayaan&#039;, mereka berdua memutuskan untuk tidak mengkonsumsi daging. Malah mereka telah menjalaninya kurang lebih 15 tahun. Dan kami (Ibu, dan kami empat anaknya) terkenaa imbasnya. (Hahahaha...) 
Bla...bla...bla....
Saat ini saya sedang belajar untuk tidak mengkonsumsi semua yang bernyawa, sebelumnya saya juga pernah ber-vege. Malahan, saya telah menjalani 4 fase:
Fase pertama: Saat itu saya baru kelas 3 SD. Selain mengkonsumsi sayur-sayuran, kami juga mengkonsumsi bahan makanan yang terbuat dari gluten (tepung-tepungan). Fase ini hanya bertahan kurang lebih setahun.
Fase kedua: Waktu duduk di kelas 2 SMP. Itu pun hanya bertahan 2-3tahun. Saat itu saya nggak tahan ketika teman-teman saya menyantap renyahnya kulit paha ayam KFC.
Fase ketiga: Waktu SMA kelas 2. Saya vege, dan hanya teman-teman dekat saya saja yang tahu tentang ini. Waktu itu, saya tidak berani buka mulut bahwa saya tidak makan daging. Saya merasa malu. Tidak tahu mengapa?? Ber-vege hanya sampai lulus SMA. Setelah itu saya belajar bahasa di Cina, dan tidak lagi vege. Saya jauh dari rumah, tinggal di asrama, dan tidak bisa memasak. (Hahahaha..) Apalagi hampir semua Chinese food menggunakan minyak babi untuk menyempurnakan kelezatan masakan mereka. Hingga akhirnya, satu setengah tahun berlalu, tepatnya Maret 2008. Tiba-tiba saya memutuskan untuk kembali bervegetarian. Dan kali ini, saya dengan bangga dan tanpa malu-malu seperti ketika jaman SMA mengatakan: &quot;Maaf, saya nggak makan daging. Saya vege...&quot; Saya benar-benar yakin dengan apa yang  saat itu saya lakukan. Tidak lama, saya mendengar dari kakak saya bahwa bervegetarian dapat mengurangi Global Warming. Waktu mendengar itu pun saya merasa tercengang. Masak?? Dari saat itu, saya mulai surfing berita,artikel tentang masalah ini dan &#039;pencarian&#039; saya sampai ke Dee-Idea.
Kemudian, dari halaman blog ini, saya mendapatkan informasi yang tidak sedikit. Malah semakin menguatkan saya untuk tetap bervegetarian.
Thx, D!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Vegetarian bukan hal yang baru bagi saya. Ayah dan nenek saya, karena menganut &#8216;kepercayaan&#8217;, mereka berdua memutuskan untuk tidak mengkonsumsi daging. Malah mereka telah menjalaninya kurang lebih 15 tahun. Dan kami (Ibu, dan kami empat anaknya) terkenaa imbasnya. (Hahahaha&#8230;)<br />
Bla&#8230;bla&#8230;bla&#8230;.<br />
Saat ini saya sedang belajar untuk tidak mengkonsumsi semua yang bernyawa, sebelumnya saya juga pernah ber-vege. Malahan, saya telah menjalani 4 fase:<br />
Fase pertama: Saat itu saya baru kelas 3 SD. Selain mengkonsumsi sayur-sayuran, kami juga mengkonsumsi bahan makanan yang terbuat dari gluten (tepung-tepungan). Fase ini hanya bertahan kurang lebih setahun.<br />
Fase kedua: Waktu duduk di kelas 2 SMP. Itu pun hanya bertahan 2-3tahun. Saat itu saya nggak tahan ketika teman-teman saya menyantap renyahnya kulit paha ayam KFC.<br />
Fase ketiga: Waktu SMA kelas 2. Saya vege, dan hanya teman-teman dekat saya saja yang tahu tentang ini. Waktu itu, saya tidak berani buka mulut bahwa saya tidak makan daging. Saya merasa malu. Tidak tahu mengapa?? Ber-vege hanya sampai lulus SMA. Setelah itu saya belajar bahasa di Cina, dan tidak lagi vege. Saya jauh dari rumah, tinggal di asrama, dan tidak bisa memasak. (Hahahaha..) Apalagi hampir semua Chinese food menggunakan minyak babi untuk menyempurnakan kelezatan masakan mereka. Hingga akhirnya, satu setengah tahun berlalu, tepatnya Maret 2008. Tiba-tiba saya memutuskan untuk kembali bervegetarian. Dan kali ini, saya dengan bangga dan tanpa malu-malu seperti ketika jaman SMA mengatakan: &#8220;Maaf, saya nggak makan daging. Saya vege&#8230;&#8221; Saya benar-benar yakin dengan apa yang  saat itu saya lakukan. Tidak lama, saya mendengar dari kakak saya bahwa bervegetarian dapat mengurangi Global Warming. Waktu mendengar itu pun saya merasa tercengang. Masak?? Dari saat itu, saya mulai surfing berita,artikel tentang masalah ini dan &#8216;pencarian&#8217; saya sampai ke Dee-Idea.<br />
Kemudian, dari halaman blog ini, saya mendapatkan informasi yang tidak sedikit. Malah semakin menguatkan saya untuk tetap bervegetarian.<br />
Thx, D!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tan_intan</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/08/30/38/comment-page-1/#comment-556</link>
		<dc:creator>tan_intan</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 19:29:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=38#comment-556</guid>
		<description>saya pernah dalam rangka ngedoain bokap, nge-vegie 3 hari plus puasa stengah hari. wow!! itu benar2 pengalaman yang terus terang.. ga enak! ga enak dalam arti pada saat itu gw baru menyadari &#039;ketamakan&#039; gw, gluttony! nafsu makan yang berlebihan. nafsu makan pada daging terutama. hasrat itu kaya diracun, saya seperti orang sakaw. padahal cuma 3 hari. &lt;br/&gt;dan itu sangat menyebalkan, lalu apa yang saya lakukan? pada saat &#039;buka puasa&#039; saya langsung makan daging. alhasil saya malah mules-mules dan diare!&lt;br/&gt;huahaha..&lt;br/&gt;sampai hari ini saya belum pernah nge-vegie lagi, takut! takut kaget, takut..apalah! masi belum rela ngebuang koleksi mungkin..&lt;br/&gt;salut banget sama mba dewi yang bersedia ngebuang koleksi2nya!!&lt;br/&gt;muda2han suatu hari saya juga nyusul.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya pernah dalam rangka ngedoain bokap, nge-vegie 3 hari plus puasa stengah hari. wow!! itu benar2 pengalaman yang terus terang.. ga enak! ga enak dalam arti pada saat itu gw baru menyadari &#8216;ketamakan&#8217; gw, gluttony! nafsu makan yang berlebihan. nafsu makan pada daging terutama. hasrat itu kaya diracun, saya seperti orang sakaw. padahal cuma 3 hari. <br />dan itu sangat menyebalkan, lalu apa yang saya lakukan? pada saat &#8216;buka puasa&#8217; saya langsung makan daging. alhasil saya malah mules-mules dan diare!<br />huahaha..<br />sampai hari ini saya belum pernah nge-vegie lagi, takut! takut kaget, takut..apalah! masi belum rela ngebuang koleksi mungkin..<br />salut banget sama mba dewi yang bersedia ngebuang koleksi2nya!!<br />muda2han suatu hari saya juga nyusul.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: chindy</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/08/30/38/comment-page-1/#comment-542</link>
		<dc:creator>chindy</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2007 14:53:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=38#comment-542</guid>
		<description>Beberapa hari lalu saya iseng meliat tanggalan, oalaaa..ada tanggal merah...meraaah bro! berarti kan libuuur, aduh senengnya. Libur apaan sih, Ooo ternyata &#039;easter day&#039;..ya ampun paas banget ama posting komen yll, untuk pertama kalinya voice from heaven &#039;thou shall not kill&#039; bergema dalam hatinya Albert.&lt;br/&gt;Ada satu tulisan ce cy dalam majalah yang sama yang sangat menggugah hatiku, kupikir hari ini adalah saat yang tepat untuk membaginya. Hari untuk memperingati Merahnya Darah Kristus yang tercurah dalam satu bumbungan harapan: DARAH tersebut adalah DARAH terakhir. DARAH yang akan selalu memberi peringatan agar tidak ada DARAH lain yang tercurah. DARAH yang diberi amanat membendung ketidaktahuan, keegoan dan keliru pandang manusia hingga melukai martabat hidup itu sendiri, tidak hanya hidup manusia tetapi laksa ciptaan, teman satu planet BUMI kita.&lt;br/&gt;Aduuh Dee, sorry morry bakal panjang amat nih, gpp ya;)&lt;br/&gt;Berikut cuplikan tulisan ce cy tentang &lt;br/&gt;&quot;MERAH&quot;&lt;br/&gt;Planet yg dipuja sbg dewa perang,berwarna merah.&lt;br/&gt;Lidah yg dpt menyebabkan seribu petaka,ditandai merah.&lt;br/&gt;Mawar yg bduri,dicipta asli dg warna merah.&lt;br/&gt;Apel larangan ditandai merah.&lt;br/&gt;Rambu berhenti,berwarna merah.&lt;br/&gt;Inilah sebuah sebab,darah sgt jelas tak biru,tak kuning,tak coklat,tapi tegas2merah.&lt;br/&gt;Merah yg tak merah muda atau merah lembut,tapi merah yg sgt individual,yg mbuat kita menyebutnya sebagai merah darah. Dengan darah yg merah kental-menggidikkan, &lt;br/&gt;alam telah memperingatkan manusia untuk jgn memandang enteng darah yg tertumpah,meski tampaknya itu &#039;hanya&#039; darah &lt;br/&gt;seekor ayam atau itik.&lt;br/&gt;Karenanya darah manusia,darah kambing, darah sapi, &lt;br/&gt;darah kelinci, darah ayam, warnanya sama,MERAH SEMUA.&lt;br/&gt;Apakah Tuhan mempunyai maksud tertentu membuat darah binatang warnanya sama dengan darah &lt;br/&gt;kita? Pasti ada maksudnya. &lt;br/&gt;Saat pisau dipancang dan menggorok leher, ketapel dan bedil membidik &lt;br/&gt;sang cuicui, jerit ketakutan,perih menahan sakit,tak rela melepas &lt;br/&gt;hidup,membumbungkan gelegak amarah dalam tiap 1 cc darah. &lt;br/&gt;Darah yg tertumpah..getaran ini terekam detil dlm tiap denyut tanah,air &lt;br/&gt;dan udara.semesta saksi akbar jerit penolakan,amarah yg tertumpah bersama darah dan ketika energi ini telah memenuhi seluruh rongga semesta, &lt;br/&gt;tak ada yg tsisa,segala yg terekam terpantulkan kembali. &lt;br/&gt;Hingga kita menyerunya &#039;amukan alam&#039; angin menyapu tanpa pilih bulu, longsor merangsek,  tanah menggeliat,saling tubruk menghempas energi jenuh-emosi &lt;br/&gt;benci,murka,tak puas.mematahkan lempeng2 tanah..&lt;br/&gt;menelan sekian ribu,sekian &lt;br/&gt;juta,sekian,sekian korban. Duhai manusia, dimana mata hikmat yg selayaknya dipakai membaca amanat alam ini? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Moga Paskah kali ini, sungguh menggentarkan hati tu&#039; mencurahkan DARAH apa pun, siapa pun. Baik dalam ucapan, pikiran, niatan maupun lakon</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari lalu saya iseng meliat tanggalan, oalaaa..ada tanggal merah&#8230;meraaah bro! berarti kan libuuur, aduh senengnya. Libur apaan sih, Ooo ternyata &#8216;easter day&#8217;..ya ampun paas banget ama posting komen yll, untuk pertama kalinya voice from heaven &#8216;thou shall not kill&#8217; bergema dalam hatinya Albert.<br />Ada satu tulisan ce cy dalam majalah yang sama yang sangat menggugah hatiku, kupikir hari ini adalah saat yang tepat untuk membaginya. Hari untuk memperingati Merahnya Darah Kristus yang tercurah dalam satu bumbungan harapan: DARAH tersebut adalah DARAH terakhir. DARAH yang akan selalu memberi peringatan agar tidak ada DARAH lain yang tercurah. DARAH yang diberi amanat membendung ketidaktahuan, keegoan dan keliru pandang manusia hingga melukai martabat hidup itu sendiri, tidak hanya hidup manusia tetapi laksa ciptaan, teman satu planet BUMI kita.<br />Aduuh Dee, sorry morry bakal panjang amat nih, gpp ya;)<br />Berikut cuplikan tulisan ce cy tentang <br />&#8220;MERAH&#8221;<br />Planet yg dipuja sbg dewa perang,berwarna merah.<br />Lidah yg dpt menyebabkan seribu petaka,ditandai merah.<br />Mawar yg bduri,dicipta asli dg warna merah.<br />Apel larangan ditandai merah.<br />Rambu berhenti,berwarna merah.<br />Inilah sebuah sebab,darah sgt jelas tak biru,tak kuning,tak coklat,tapi tegas2merah.<br />Merah yg tak merah muda atau merah lembut,tapi merah yg sgt individual,yg mbuat kita menyebutnya sebagai merah darah. Dengan darah yg merah kental-menggidikkan, <br />alam telah memperingatkan manusia untuk jgn memandang enteng darah yg tertumpah,meski tampaknya itu &#8216;hanya&#8217; darah <br />seekor ayam atau itik.<br />Karenanya darah manusia,darah kambing, darah sapi, <br />darah kelinci, darah ayam, warnanya sama,MERAH SEMUA.<br />Apakah Tuhan mempunyai maksud tertentu membuat darah binatang warnanya sama dengan darah <br />kita? Pasti ada maksudnya. <br />Saat pisau dipancang dan menggorok leher, ketapel dan bedil membidik <br />sang cuicui, jerit ketakutan,perih menahan sakit,tak rela melepas <br />hidup,membumbungkan gelegak amarah dalam tiap 1 cc darah. <br />Darah yg tertumpah..getaran ini terekam detil dlm tiap denyut tanah,air <br />dan udara.semesta saksi akbar jerit penolakan,amarah yg tertumpah bersama darah dan ketika energi ini telah memenuhi seluruh rongga semesta, <br />tak ada yg tsisa,segala yg terekam terpantulkan kembali. <br />Hingga kita menyerunya &#8216;amukan alam&#8217; angin menyapu tanpa pilih bulu, longsor merangsek,  tanah menggeliat,saling tubruk menghempas energi jenuh-emosi <br />benci,murka,tak puas.mematahkan lempeng2 tanah..<br />menelan sekian ribu,sekian <br />juta,sekian,sekian korban. Duhai manusia, dimana mata hikmat yg selayaknya dipakai membaca amanat alam ini? </p>
<p>Moga Paskah kali ini, sungguh menggentarkan hati tu&#8217; mencurahkan DARAH apa pun, siapa pun. Baik dalam ucapan, pikiran, niatan maupun lakon</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: chindy</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/08/30/38/comment-page-1/#comment-538</link>
		<dc:creator>chindy</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2007 16:00:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=38#comment-538</guid>
		<description>Siang ini saat akan pulang ke yk, keluar dari halaman puskesmas, di  sebelah barat halaman ada 2 orang pria sedang menembaki burung. Saya bertanya pada bu Narsih mengapa burung2 itu ditembaki Bu? &quot;Gon senang-senang tur Gon pakan ikan,&quot;jawab bu Narsih. Ingin sekali saya mendekati dua orang itu, tapi bu Narsih udah keburu bablas, saya nebeng dia sampe pakis. Rasa tak enak masih menggondeli hati saya. Sesampai di Huili Fuothang, saya liat majalah yang ditinggalkan oleh ce cy. Dia sekedar bernostalgia kilas balik kembali apa yang pernah ditulisnya dalam majalah nasional kami. Iseng saya buka bagian yang dibacanya semalam. Astaghfirullah! ada cuplikan kisah masa kecil Albert Schweitzer, paaas banget dengan gondelan rasa di hati saya saat itu.&lt;br/&gt;&#039;Thou shalt not kill&#039;&lt;br/&gt;Albert schweitzer(1875-1965) adalah filsuf penganjur&#039;Reverence for Life&#039;, dokter,ahli teologi kelahiran Jerman. Suatu hari di saat usianya masih delapan tahun, temannya Heinrich mengajak Albert keluar untuk menembak burung dg katapel. Albert kecil meski merasa ide ini mengerikan tetapi tidak berani menolaknya karena takut ditertawakan. &lt;br/&gt;Albert menuturkan,&#039;kami mendekati sebatang pohon yg sdh tdk berdaun. Burung-burung yg bertengger disana terus bernyanyi dengan manisnya di pagi hari itu. Mereka tampaknya tak takut terhadap kami. Berjongkok seperti pemburu Indian, temanku mengambil sebuah kerikil dan menarik karet katapel. &lt;br/&gt;Tatapannya penuh perintah membuatku mengikuti gerakannya.Tetapi pada &lt;br/&gt;saat itu hati nuraniku merasa tertusuk dan aku bersumpah untuk tak mengarahkan kerikilku kepada mereka. Pada momen yg kritis inilah lonceng gereja berdentang memenuhi hamparan cahaya matahari, bersama-sama dengan suara burung-burung yg sedang bernyanyi.&#039;Albert terkejut ketika lonceng &lt;br/&gt;berdentang dari kejauhan. Baginya itu adalah&#039;a voice from heaven&#039; suara surga. Albert pun segera meletakkan katapelnya dan berteriak mengusir burung2 itu pergi agar tak menjadi sasaran katapel temannya. Setelah itu &lt;br/&gt;Albert sendiri berlari pulang. Mengenang kejadian di masa kecilnya, &lt;br/&gt;Albert menulis,&#039;sejak itulah ketika lonceng Paskah berbunyi di dalam hamparan cahaya matahari dan pohon-pohon yg tak lg berdaun, aku akan ingat,dgn hati yg sgt tersentuh dan berterima kasih, sebab sejak hari itulah berbunyi dalam hatiku perintah &#039;Thou shalt not kill, janganlah membunuh.&#039; Albert Schweitzer menyampaikan di Auditorium Universitas Oslo &lt;br/&gt;setahun setelah beliau memperoleh penghargaan Nobel perdamaian 1954.&lt;br/&gt;&#039;Semua manusia..mampu berbelas kasih..spirit itu ada dalam diri manusia seperti terang yg siap menyala, menunggu hanya setitik percikan api&#039; Adanya jiwa belas kasih yg asali dlm setiap diri manusia, universal,tak terkecuali.&lt;br/&gt;Saya berharap dua pria yang temui siang tadi, suatu ketika, setitik api belas kasih itu memercik dalam ruang hatinya. Mendengarkan keberatan suara nuraninya, bahwa hidup sungguh punya harga, meski hanya seekor burung kecil, siapakah kita hingga layak merampas hidup mereka. Hidup yang mengalir dalam diri tiap makhluk membawa visi kemuliaanNya, hingga hanya Sang Pemberi hiduplah yang layak mengambil hidup itu kembali. Bahagia yang di damba tidak datang gratis tanpa memberi bahagia itu sendiri pada makhluk lain.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;syaloom</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Siang ini saat akan pulang ke yk, keluar dari halaman puskesmas, di  sebelah barat halaman ada 2 orang pria sedang menembaki burung. Saya bertanya pada bu Narsih mengapa burung2 itu ditembaki Bu? &#8220;Gon senang-senang tur Gon pakan ikan,&#8221;jawab bu Narsih. Ingin sekali saya mendekati dua orang itu, tapi bu Narsih udah keburu bablas, saya nebeng dia sampe pakis. Rasa tak enak masih menggondeli hati saya. Sesampai di Huili Fuothang, saya liat majalah yang ditinggalkan oleh ce cy. Dia sekedar bernostalgia kilas balik kembali apa yang pernah ditulisnya dalam majalah nasional kami. Iseng saya buka bagian yang dibacanya semalam. Astaghfirullah! ada cuplikan kisah masa kecil Albert Schweitzer, paaas banget dengan gondelan rasa di hati saya saat itu.<br />&#8216;Thou shalt not kill&#8217;<br />Albert schweitzer(1875-1965) adalah filsuf penganjur&#8217;Reverence for Life&#8217;, dokter,ahli teologi kelahiran Jerman. Suatu hari di saat usianya masih delapan tahun, temannya Heinrich mengajak Albert keluar untuk menembak burung dg katapel. Albert kecil meski merasa ide ini mengerikan tetapi tidak berani menolaknya karena takut ditertawakan. <br />Albert menuturkan,&#8217;kami mendekati sebatang pohon yg sdh tdk berdaun. Burung-burung yg bertengger disana terus bernyanyi dengan manisnya di pagi hari itu. Mereka tampaknya tak takut terhadap kami. Berjongkok seperti pemburu Indian, temanku mengambil sebuah kerikil dan menarik karet katapel. <br />Tatapannya penuh perintah membuatku mengikuti gerakannya.Tetapi pada <br />saat itu hati nuraniku merasa tertusuk dan aku bersumpah untuk tak mengarahkan kerikilku kepada mereka. Pada momen yg kritis inilah lonceng gereja berdentang memenuhi hamparan cahaya matahari, bersama-sama dengan suara burung-burung yg sedang bernyanyi.&#8217;Albert terkejut ketika lonceng <br />berdentang dari kejauhan. Baginya itu adalah&#8217;a voice from heaven&#8217; suara surga. Albert pun segera meletakkan katapelnya dan berteriak mengusir burung2 itu pergi agar tak menjadi sasaran katapel temannya. Setelah itu <br />Albert sendiri berlari pulang. Mengenang kejadian di masa kecilnya, <br />Albert menulis,&#8217;sejak itulah ketika lonceng Paskah berbunyi di dalam hamparan cahaya matahari dan pohon-pohon yg tak lg berdaun, aku akan ingat,dgn hati yg sgt tersentuh dan berterima kasih, sebab sejak hari itulah berbunyi dalam hatiku perintah &#8216;Thou shalt not kill, janganlah membunuh.&#8217; Albert Schweitzer menyampaikan di Auditorium Universitas Oslo <br />setahun setelah beliau memperoleh penghargaan Nobel perdamaian 1954.<br />&#8216;Semua manusia..mampu berbelas kasih..spirit itu ada dalam diri manusia seperti terang yg siap menyala, menunggu hanya setitik percikan api&#8217; Adanya jiwa belas kasih yg asali dlm setiap diri manusia, universal,tak terkecuali.<br />Saya berharap dua pria yang temui siang tadi, suatu ketika, setitik api belas kasih itu memercik dalam ruang hatinya. Mendengarkan keberatan suara nuraninya, bahwa hidup sungguh punya harga, meski hanya seekor burung kecil, siapakah kita hingga layak merampas hidup mereka. Hidup yang mengalir dalam diri tiap makhluk membawa visi kemuliaanNya, hingga hanya Sang Pemberi hiduplah yang layak mengambil hidup itu kembali. Bahagia yang di damba tidak datang gratis tanpa memberi bahagia itu sendiri pada makhluk lain.</p>
<p>syaloom</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: chindy</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/08/30/38/comment-page-1/#comment-525</link>
		<dc:creator>chindy</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2007 15:27:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=38#comment-525</guid>
		<description>aku menangis karena itulah pertama kalinya ada manusia yang peduli,aku makan atau belum kamu nangis. kata laras menarik sapu tangannya itulah pertama kalinya aku ketemu manusia yang bisa melihat airmata kaum kecoak &lt;br/&gt;sebab sesungguhnya airmata kami invisible bagi mata kaki dua &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;saya jadi ingat lirik lagu gress hitnya PINK, dear mr president&lt;br/&gt;&#039;Can you even look me in the eye...&lt;br/&gt;dua hari ini hatiku penuh dengan kata-kata, andai kita tidak memalingkan mata hati,&lt;br/&gt;mata ketemu mata &lt;br/&gt;membaca kedalaman mata yang menyirat lara, &lt;br/&gt;getir kepiluan teramat sangat tersorot di tiap riak air mata &lt;br/&gt;ambang maut, &lt;br/&gt;perih...satu rasa, hanya satu rasa ini mengiring titian satu demi satu nafas yang tersisa&lt;br/&gt;melumat habis asa tuk bernyali</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aku menangis karena itulah pertama kalinya ada manusia yang peduli,aku makan atau belum kamu nangis. kata laras menarik sapu tangannya itulah pertama kalinya aku ketemu manusia yang bisa melihat airmata kaum kecoak <br />sebab sesungguhnya airmata kami invisible bagi mata kaki dua </p>
<p>saya jadi ingat lirik lagu gress hitnya PINK, dear mr president<br />&#8216;Can you even look me in the eye&#8230;<br />dua hari ini hatiku penuh dengan kata-kata, andai kita tidak memalingkan mata hati,<br />mata ketemu mata <br />membaca kedalaman mata yang menyirat lara, <br />getir kepiluan teramat sangat tersorot di tiap riak air mata <br />ambang maut, <br />perih&#8230;satu rasa, hanya satu rasa ini mengiring titian satu demi satu nafas yang tersisa<br />melumat habis asa tuk bernyali</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: chindy</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/08/30/38/comment-page-1/#comment-524</link>
		<dc:creator>chindy</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2007 15:18:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=38#comment-524</guid>
		<description>Kemarin bongkar-bongkar kompas, ada artikel berjudul sahabat atau keluarga- Samuel Mulia, menulis.. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;...kalau sudah kepala habis diisap dan digerogoti, lalu yang tinggal hanya sepasang mata bolanya, saya sering malu sendiri sama ikannya. Mata ikan tak bersalah itu seperti berkata, &quot;Isaaap terus sampai kering.&quot; Jadi, saya selalu menyisakan kedua matanya. Kadang saya berpikir, matanya mungkin sebaiknya ditutup saja sehingga saya lebih enak mengisap tanpa merasa bersalah. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sobat, Garis bawahi kalimat matanya mungkin sebaiknya ditutup saja sehingga saya lebih enak mengisap tanpa merasa bersalah. Tak mungkin sobat! rasa bersalah jujur lahir apa adanya, karena kekejaman adalah kekejaman, sakit adalah sakit! &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Mengapa matanya harus ditutup? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Apakah karena kita ingin lari dari penggalan-penggalan rentet perjalanan tragis sang Ikan sebelum sampai di meja makan kita? Bagi ikan adalah momen tak terperikan kala kena jaring, bibir kena kait kail, takut setengah mati, tergelepar-gelepar payah gelagapan mencari kesempatan hidup. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sama persis ketika kita ditenggelamkan di air, kita berontak, gelagapan memaksa naik ke permukaan, 1 cc oksigen sungguh tak ternilai pentingnya saat itu. saat itu ditawarkan apa saja, tak ada yang sepadan. Berlian? Oscar? Jaguar? semua lewat. tak ada yang lebih penting dari kesempatan hidup. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saat yang sangat mencekam, saat nyawa dipaksa meregang, lepas dari tubuh ini. Semua makhluk merasakannya dalam kadar yang sama persis. tidak kurang sakit, tidak lebih sakit, tapi sama sakit.Kecoak tidak sedang berakting ketakutan dikejar-kejar sandal jepit kita. Ikan juga tidak sedang latihan drama meronta-ronta saat kait kail merobek bibirnya.Tidak Sobat! mereka tidak sedang berpura-pura sakit, berpura-pura menjerit, berpura-pura meronta hingga boleh diabaikan begitu saja!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kemarin bongkar-bongkar kompas, ada artikel berjudul sahabat atau keluarga- Samuel Mulia, menulis.. </p>
<p>&#8230;kalau sudah kepala habis diisap dan digerogoti, lalu yang tinggal hanya sepasang mata bolanya, saya sering malu sendiri sama ikannya. Mata ikan tak bersalah itu seperti berkata, &#8220;Isaaap terus sampai kering.&#8221; Jadi, saya selalu menyisakan kedua matanya. Kadang saya berpikir, matanya mungkin sebaiknya ditutup saja sehingga saya lebih enak mengisap tanpa merasa bersalah. </p>
<p>Sobat, Garis bawahi kalimat matanya mungkin sebaiknya ditutup saja sehingga saya lebih enak mengisap tanpa merasa bersalah. Tak mungkin sobat! rasa bersalah jujur lahir apa adanya, karena kekejaman adalah kekejaman, sakit adalah sakit! </p>
<p>Mengapa matanya harus ditutup? </p>
<p>Apakah karena kita ingin lari dari penggalan-penggalan rentet perjalanan tragis sang Ikan sebelum sampai di meja makan kita? Bagi ikan adalah momen tak terperikan kala kena jaring, bibir kena kait kail, takut setengah mati, tergelepar-gelepar payah gelagapan mencari kesempatan hidup. </p>
<p>Sama persis ketika kita ditenggelamkan di air, kita berontak, gelagapan memaksa naik ke permukaan, 1 cc oksigen sungguh tak ternilai pentingnya saat itu. saat itu ditawarkan apa saja, tak ada yang sepadan. Berlian? Oscar? Jaguar? semua lewat. tak ada yang lebih penting dari kesempatan hidup. </p>
<p>Saat yang sangat mencekam, saat nyawa dipaksa meregang, lepas dari tubuh ini. Semua makhluk merasakannya dalam kadar yang sama persis. tidak kurang sakit, tidak lebih sakit, tapi sama sakit.Kecoak tidak sedang berakting ketakutan dikejar-kejar sandal jepit kita. Ikan juga tidak sedang latihan drama meronta-ronta saat kait kail merobek bibirnya.Tidak Sobat! mereka tidak sedang berpura-pura sakit, berpura-pura menjerit, berpura-pura meronta hingga boleh diabaikan begitu saja!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: olin_lucu</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/08/30/38/comment-page-1/#comment-517</link>
		<dc:creator>olin_lucu</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2007 11:36:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=38#comment-517</guid>
		<description>Sudah 7 bulan ini saya mencoba mengkonsumsi makanan sesuai golongan darah. &lt;br/&gt;Tapi utk masuk ke step berikut being a vegie... rasanya berat. :)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Oh.. mau nanya juga: barangkali ada yg tau blog nya Reda Gaudiamo? &lt;br/&gt;Ma kasih...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah 7 bulan ini saya mencoba mengkonsumsi makanan sesuai golongan darah. <br />Tapi utk masuk ke step berikut being a vegie&#8230; rasanya berat. <img src='http://www.dewilestari.com/b/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oh.. mau nanya juga: barangkali ada yg tau blog nya Reda Gaudiamo? <br />Ma kasih&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: olin_lucu</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/08/30/38/comment-page-1/#comment-516</link>
		<dc:creator>olin_lucu</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2007 11:03:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=38#comment-516</guid>
		<description>Dee masih kristen?&lt;br/&gt;Pengen tau pandangan kristen thd vegie.&lt;br/&gt;Terima kasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dee masih kristen?<br />Pengen tau pandangan kristen thd vegie.<br />Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Peter</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/08/30/38/comment-page-1/#comment-503</link>
		<dc:creator>Peter</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 03 Jan 2007 21:44:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=38#comment-503</guid>
		<description>Dear Dee... hmmm... mau gak ngebantu lebih jauh utk hak2 binatang? ngebantu PeTA (People for the Ethical Treatment af Animals)? setidaknya jadi Icon artist or seleb atau seseorang yg milik publik dengan gaya hidup pro-animal a.k.a Vegetarian... Bantuan dee sekecil apapun akan sangat amat membantu mereka (Binatang). Direct action lebih berarti dari hanya sekedar wacana khan? Tapi apapun itu thanks banget udh spreading the word. GO VEGAN! THX B4.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Dee&#8230; hmmm&#8230; mau gak ngebantu lebih jauh utk hak2 binatang? ngebantu PeTA (People for the Ethical Treatment af Animals)? setidaknya jadi Icon artist or seleb atau seseorang yg milik publik dengan gaya hidup pro-animal a.k.a Vegetarian&#8230; Bantuan dee sekecil apapun akan sangat amat membantu mereka (Binatang). Direct action lebih berarti dari hanya sekedar wacana khan? Tapi apapun itu thanks banget udh spreading the word. GO VEGAN! THX B4.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: chindy</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/08/30/38/comment-page-1/#comment-488</link>
		<dc:creator>chindy</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 Dec 2006 04:18:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=38#comment-488</guid>
		<description>Dee, maap sebelumnya untuk kesekian kali kuteruskan artikel orang lain-ce cy, dudu&#039;gawe dhewe;)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;jika-kita adalah ayam &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;tak makan ayam goreng kecap lagi:sebabku&lt;br/&gt;pandanganku&lt;br/&gt;biasku &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;diantara teman-teman selalu ada yang berkata: tapi ayam kan dicipta untuk dimakan suatu ketika jika kita dipilih tuhan untuk datang ke dunia sebagai ayam, apakah kita akan berkata dengan gembira kepada manusia: aku dicipta untuk kalian makan loh tapi saya tidak pernah merasa ayam gembira untuk dimakan manusia buktinya mereka berteriak-teriak ketika akan disembelih mendengar teriakan mereka, yakin deh kita tidak akan merasa mereka sedang menyanyikan pujian bersyukur bahwa tuhan telah membantu mewujudkan takdir kedatangan mereka ke dunia kita justru merasa sebaliknya kita merasa mereka tidak mau dibunuh. mereka memberontak untuk hidup &lt;br/&gt;kita sendiri juga tak mau membunuh mereka dengan tangan kita sendiri kita sendiri juga akan memilih lebih baik tak usah makan ayam daripada kita sendiri mesti yang menggorok leher mereka</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dee, maap sebelumnya untuk kesekian kali kuteruskan artikel orang lain-ce cy, dudu&#8217;gawe dhewe;)</p>
<p>jika-kita adalah ayam </p>
<p>tak makan ayam goreng kecap lagi:sebabku<br />pandanganku<br />biasku </p>
<p>diantara teman-teman selalu ada yang berkata: tapi ayam kan dicipta untuk dimakan suatu ketika jika kita dipilih tuhan untuk datang ke dunia sebagai ayam, apakah kita akan berkata dengan gembira kepada manusia: aku dicipta untuk kalian makan loh tapi saya tidak pernah merasa ayam gembira untuk dimakan manusia buktinya mereka berteriak-teriak ketika akan disembelih mendengar teriakan mereka, yakin deh kita tidak akan merasa mereka sedang menyanyikan pujian bersyukur bahwa tuhan telah membantu mewujudkan takdir kedatangan mereka ke dunia kita justru merasa sebaliknya kita merasa mereka tidak mau dibunuh. mereka memberontak untuk hidup <br />kita sendiri juga tak mau membunuh mereka dengan tangan kita sendiri kita sendiri juga akan memilih lebih baik tak usah makan ayam daripada kita sendiri mesti yang menggorok leher mereka</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

