October 10th, 2006 at 9:52 pm (Artikel)
Sinkronisitas
(Published – Trolley Magazine, 2000)
Sebut saja inisial pacar saya DL. Buntut nomor ponsel saya 7929. Setelah tidak ada kontak selama berhari-hari, satu malam saya tercenung di tempat parkir. Mata saya tahu-tahu tertumbuk pada satu plat mobil: B 7929 DL. Saya langsung yakin, malam ini saya pasti dapat kabar darinya. Dan benar saja, tidak sampai sepuluh menit, ponsel saya berbunyi.
Satu hari, saya membaca sebuah buku dalam perjalanan mobil. Buku yang sangat menggugah itu rupanya terserap begitu intens sehingga mungkin ada satu jendela sensitivitas saya yang terbuka. Ketika saya membaca sebuah bab yang membahas perihal arti nama, mendadak saya terdorong untuk mendongak, hanya untuk mendapatkan sebuah truk pasir di depan saya yang bertuliskan besar-besar: ‘Arti Sebuah Nama’. Saya pun termenung lagi. Apakah arti semua ini? Terlalu naif kalau saya sebut kebetulan. Rasa-rasanya semesta sedang bergerak bersama dengan pikiran. Memberi konfirmasi untuk sesuatu yang dianggapnya berguna. Sekalipun konfirmasinya diberikan melalui hal seremeh tulisan pada truk atau nomor plat mobil, tapi bisa jadi itu menjadi jalan menuju wawasan yang lebih dalam.
Sinkronisitas dapat diartikan sebagai kebetulan-kebetulan yang bermakna. Bahkan istilah ‘kebetulan’ pun tidak lagi sufisien, karena pada level tertentu tidak ada satu hal pun yang kebetulan atau insidental. Semua punya makna. Semua berinterelasi dalam satu maha rencana.
Sinkronisitas adalah proses dialogis, sebuah pola komunikasi dari ‘tali pusar’ yang menghubungkan semua pikiran, perasaan, sains dan seni dalam rahim semesta, yang kemudian melahirkan semuanya ke dalam realitas ini. Itulah yang membedakan sinkronisitas dengan kebetulan belaka, yaitu makna inheren yang terkandung di balik segala peristiwa tadi. Sinkronisitas menunjukkan ada satu nuansa makna yang kaya, bahkan dalam hal paling insignifikan sekalipun – andaikan kita mau lebih sensitif menelaahnya.
Realitas yang kita geluti sehari-hari adalah realitas dualistis yang senantiasa melihat segalanya dalam dikotomi: terang-gelap, benar-salah, tinggi-rendah, dan seterusnya. Boleh dibilang, begitulah cara kerja alamiah pikiran kita. Sehingga otomatis segalanya menjadi linear, cause and effect. Saya begini karena kamu begitu. Saya jadi begini karena kemarin saya berbuat begitu. Siapa yang menabur, dia akan menuai.
Namun sinkronisitas memberikan alternatif pikir lain, bahwa dengan sudut pandang yang lebih tinggi, semesta tidak lagi berbicara dalam bahasa sebab-akibat. Semesta bukan garis lurus yang punya awal dan akhir. Melainkan sebuah lingkaran tak terputus yang terus berekspansi. Segalanya ternyata sinkronis. Atau bisa diartikan, semesta bergerak dalam satu gerakan tunggal. Namun sayangnya, paham reduksionis yang mendominasi dunia sains cenderung membawa sudut pandang dunia – dari mulai level sosial ekonomi hingga budaya – untuk mereduksi sinkronisitas menjadi fragmen-fragmen yang tak terperhatikan. Kausalitas, masih memiliki efek hipnotis kuat yang membawa kita untuk terus menerus berusaha menguasai kehidupan dengan cara memecah-belahnya menjadi bagian-bagian kecil yang bisa dianalisis dalam kontrol penuh.
Saya ingin mengambil satu contoh, yakni permainan tenis. Dalam sudut pandang yang kausal, permainan tersebut begitu sederhana, sekadar perjalanan sebuah bola yang dipukul bolak-balik. Setiap pukulan adalah hasil kontraksi otot lengan pemainnya. Info posisi inisial maupun kecepatan setiap pukulan menjadikan lintasan bola itu terukur/terhitung. Namun, ada daya lain yang ikut memberi pengaruh yakni gravitasi. Dan gravitasi beroperasi pada keseluruhan ruang si bola, bukan pada gerakan inisialnya saja. Sementara menurut Einstein, gravitasi adalah gerakan ruang-waktu yang melengkung, sehingga apabila didesak sampai batasnya, kausalitas yang terjadi harus melibatkan lintasan bulan, planet dan bintang, bahkan massa orang yang lalu lalang di lapangan tenis itu. Dengan kata lain, seluruh elemen semesta punya peran dalam menentukan lintasan bola tenis tadi. Maka tidak berlebihan kalau Edward Lorenz berkata bahwa kepakan kupu-kupu di Hongkong dapat mengakibatkan badai besar di New York.
Rantai sebab-akibat tersebut dapat dilihat juga sebagai network atau jaringan. Semakin lebar batasan satu masalah ditarik maka semakin nyata rengkuhannya yang meliputi seluruh dunia, tata surya, bahkan semesta. Segalanya mengakibatkan segalanya.
Setiap dari kita pastinya pernah mengalami sinkronisitas, betapapun remeh kejadiannya, baik disadari atau tidak. Ada pendapat yang mengatakan bahwa sinkronisitas biasanya baru terasa pada titik kritis kehidupan seseorang, yang bisa diinterpretasikan sebagai bibit perkembangan orang itu pada masa yang akan datang. Ada juga yang melihatnya sebagai konfirmasi bahwa kita berjalan di jalur yang ‘tepat’. Namun saya juga ingin menambahkan bahwa sinkronisitas adalah dialog yang terjadi antara diri kita dan Diri, dan satu bukti bahwa pada satu level kita semua adalah satu.
Bibit pemecah-belah yang terjadi di segala aspek kehidupan adalah imbas dari cara pandang yang reduksioner, sehingga ‘power’ adalah sesuatu yang perlu diperebutkan dan bukan dibagi. Cinta adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan bukannya tumbuh alami. Simbiosa antarmakhluk dilihat sebagai kompetisi antara yang lemah dan kuat. Kita menghakimi orang-orang dengan mengategorikannya sebagai ‘winner’ dan ‘looser’. Dan cara pandang ini adalah warisan ratusan bahkan ribuan tahun.
Sinkronisitas adalah sudut pandang alternatif yang memungkinkan kita untuk melihat realitas yang sama sekali lain. Dan tentu saja, itu akan membawa perubahan perilaku dan sikap. Bukti dampak pandangan reduksionisme pada dunia rasanya tidak perlu kita perdebatkan: perang yang tak kunjung punah, separuh dunia yang masih kelaparan, dan derita yang dimulai dari level global sampai interaksi antara dua kekasih. Semua karena pemisahan, pengotak-kotakkan, yang melampaui batas fungsi yang sesungguhnya. Mungkin inilah saatnya kita mempertaruhkan kenyamanan sudut pandang lama kita dengan sesuatu yang baru. Merengkuh sinkronisitas dan terbang bersamanya.
* Artikel yang sudah berusia enam tahun ini kembali mengusik benak saya ketika sebuah sms dari seorang teman di Jogja, Chindy, yang juga rajin mengunjungi blog ini, bercerita perihal sinkronisitas yang kerap ia alami. Untuk sms yang belum sempat saya balas itu, artikel ini adalah gantinya.
chindy said,
October 31, 2006 at 10:11 pm
mak mano na’ ngomongke’nyo yo? adakalanya kejadian seolah punya mata, mereka meletakkan diri dalam urutan yang sedemikian rapi hingga kita cuma bisa nyeletuk,”kok iso pas yo?” gerangan apa yang menuntun skenario peristiwa berentet pas ini, bagi saya, proses dan waktu pemilik keniscayaan menyusun puzzle jawabnya
Kemarin siang, 31 okt 06 sewaktu bertandang ke rumah kenalan di solo, dia bertanya apakah ada rekan-rekan lulusan psikologi yang mungkin b’minat kerja di solo? Dia menawarkan kerjasama, harapannya bisa membuka suatu wadah konseling di solo.
Keinginannya ini berangkat dari keprihatinannya akan nasib beberapa putra relasinya. Empat kasus yang diceritakannya. semua relatif masih sangat muda. salah satunya, masih 20 tahun. dulunya terkenal anak yang berprestasi, 10 besar tak pernah lepas dari tangan. tamat smu melanjutkan studi ke australia, namun ternyata tak mudah baginya beradaptasi dengan sist pend disana, hingga putus tengah jalan. balik ke indo, sikap sudah sangat berubah. pasif, tak mau berbuat apa2. bantu usaha ortu,ogah. ditawarin sekolah lagi di indo juga ogah. ngapa-ngapain juga emoh. dia memilih diam saja di rumah. kasihan sekali….
Sepulang dari solo, kepala saya seliweran sejuta gundah. keping hati manusia ternyata bisa demikian rapuh,ringkih. masyarakat apa yang sedang kita bangun Dee? salah satu sisi yang menyedot resah saya adalah wajah dunia pendidikan dan keluarga. mungkin ada nilai yang luput dari perhatian kita, bagaimana memberi keleluasaan seorang anak menjelajahi ruang hidupnya. tidak mengungkungnya dengan hal2 diluar esensi hidup seperti patokan nilai sebagai tolok prestasi. hingga memaksa mereka mati2an belajar demi nilai. saat gagal memperoleh nilai memuaskan, matilah juga asa hidupnya.
Hari ini, jam 11 entah lewat berapa, saya cek imel. seorang sahabat, mengirimkan imel perihal tawaran sh u lowongan salah satu sekolah. semoga kawan saya tidak keberatan jika tulisannya diteruskan disini.
“kalian tau aku adalah orang dengan idealisme yang masih hidup
aku ‘tidak tahan’ dengan bau2 ‘elit’. sekolah dengan spp mahal, hanya orang2 berekonomi mapan yang bisa menyekolahkannya anak2nya di situ
aku mencari tempat yang sederhana. sebuah sekolah kecil. tempat anak2 bisa bergembira sambil menikmati keindahan puisi. bukan setengah mati belajar untuk mengejar nilai. sekolah yang tak menuntut anaknya untuk nilai tapi memasuki kehidupan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai anak yang kaya kegembiraan”
saya kaget membacanya, seolah pantun bersahut dgn wacana di amben resahku
chindy said,
November 2, 2006 at 8:46 pm
kemaren, 2Nov06 12.40BBWI saat makan siang, ada Jansen, A Yang, Budi dan A Kuang. Mulanya cuma obrolan asal, gado-gadolah. omongan mengalir mengikuti apa yang tercetus dalam pikiran saat itu, hingga sampailah kita pada topik duit. entah kenapa jadi duit buntut topiknya, padahal sebelumnya hangat dengan pola didik. nampaknya Jansen punya persepsi yang agak berbeda, maraknya kasus depresi berat akibat Drop Out dirabanya dengan trend money oriented sedang kami melihatnya dari cara didik dalam lingkungan keluarga dan ukuran sukses yang dipatok. Menurut Jansen tatkala duit ditempatkan sebagai tolok ukur sukses, kekacauan orientasi mudah terjadi. Tapi tak bisa dipungkiri semua orang juga butuh duit. Dia melempar satu pertanyaan, menurut kalian duit untuk apa? Baginya, duit tak beda dengan air minum, diminum saat kita butuh. ukuran dasarnya sesuai kata butuh itu sendiri. yang jadi masalah batasan butuh itu sendiri kan relatif, butuh ala socrates jarak bedanya sehampar langit dan bumi dengan ukuran butuh seorang Jacko,…sesaat sebelum Jansen meninggalkan depot, dari radio mengalun lagu Madonna’Material Girl’Nah lo…kok pas banget, omongan Jansen serasa diamini en di soundtrackin ama eks hit lagu jadoel ini,hehehe…
chindy said,
November 14, 2006 at 6:35 am
Kemaren, 2Nov06 12.40BBWI saat makan siang, ada Jansen, A Yang, Budi dan A Kuang. Mulanya cuma obrolan asal, gado-gadolah. omongan mengalir mengikuti apa yang tercetus dalam pikiran saat itu, hingga sampailah kita pada topik duit. entah kenapa jadi duit buntut topiknya, padahal sebelumnya hangat dengan pola didik. nampaknya Jansen punya persepsi yang agak berbeda, maraknya kasus depresi berat akibat Drop Out dirabanya dengan trend money oriented sedang kami melihatnya dari cara didik dalam lingkungan keluarga dan ukuran sukses yang dipatok. Menurut Jansen tatkala duit ditempatkan sebagai tolok ukur sukses, kekacauan orientasi mudah terjadi. Tapi tak bisa dipungkiri semua orang juga butuh duit. Dia melempar satu pertanyaan, menurut kalian duit untuk apa? Baginya, duit tak beda dengan air minum, diminum saat kita butuh. ukuran dasarnya sesuai kata butuh itu sendiri. yang jadi masalah batasan butuh itu sendiri kan relatif, butuh ala socrates jarak bedanya sehampar langit dan bumi dengan ukuran butuh seorang Jacko,…sesaat sebelum Jansen meninggalkan depot, dari radio mengalun lagu Madonna’Material Girl’Nah lo…kok pas banget,lagi-lagi kebetulan bro;) omongan Jansen serasa diamini en di soundtrackin ama eks hit lagu jadoel ini,hehehe…
chindy said,
November 14, 2006 at 7:12 am
Dee yang baik,
artikel sinkronisitas ini, orisinil buah olahan batin Dee ya…baik sekali pemaparannya ya..Anda sangat intens berkontak dengan DIRI, ada keterhubungan yang nyaris tak berbatas me’reka simbol-simbol semesta..bravo Dee!
Actually I didnt pay any attention to what exactly happen around me..it just, some of them so exact, can put them self in the right time, the right idea, the perfect number.how could it be? where did the reason hide? it just like the game…surprising, weird!
my First Coincidentia go to this short story..
kalo g salah kejadiannya bulan July, hati saya mengejar jawab, apakah satu aksi kecil bisa punya kekuatan menghembus angin perubahan.adakah ia akan mampu? jika api kesadaran baru merambah dalam seeegelintir,sungguh hanya
segelintir orang untuk menata alam Pertiwi ini.. pesimis sangat kuat memenuhi hati saya, saat mencari2 buku di Toga Mas, saya terus bertanya,apa mungkin, apa mungkin, apa mungkin setitik saya punya suara dalam semesta ini..sampai saya melihat satu judul buku Kata adalah senjata-Subcomandante Marcos dan pas membuka satu tulisan pendek berjudul Kisah sebuah Awan Kecil
7 Nov 1997, Alkisah, hiduplah sebuah awan yang sangat kecil dan sangat kesepian dan biasa berkeliaran jauh-jauh dari awan-awan besar. Ia sangat kecil, nyaris tak sampai seuntai. dan manakala awan-awan besar menjadikan diri mereka hujan untuk mengecat hijau pegunungan, si awan kecil akan terbang mendekat untuk menawarkan jasanya. tapi mereka mengoloknya karena ia begitu kecil.
“Kau tak punya apa-apa buat diberikan,”awan-awan besar biasa memberitahunya alangkah kecilnya dirimu.”
Mereka mengoloknya menjadi-jadi.Lantas, dengan sangat sedih si awan kecil mencoba menyingkir ke tempat lain untuk menjadikan dirinya hujan, tapi ke manapun ia pergi, awan-awan besar mendesaknya minggir. Maka si awan kecil pergi lebih jauh lagi sampai ia tiba di tempat yang sangat kering kerontang, saking keringnya sampai tak satu dahan pun tumbuh, dan si awan kecil berkata pada cerminnya(aku lupa memberitahumu bahwa si awan kecil ini membawa-bawa cermin agar bisa bicara dengan dirinya bsendiri saat sedang sendirian):
“Ini lokasi sempurna untuk menjadikan diriku hujan karena tak seorang pun pernah datang kemari.”
Si awan kecil mengerahkan banyak upaya untuk menjadikan dirinya hujan dan akhirnya menelurkan SATU tetes kecil. Begitulah, si awan kecil lenyap dan mengubah dirinya menajdi setetes hujan kecil. sedikit demi sedikit, si awan kecil, yang kini tetes hujan kecil, jatuh meluncur. dalam segenap kesepiannya, ia jatuh dan jatuh, tapi tak ada yang menantikannya di bawah sana. Akhirnya tetes hujan kecil itu menciprat sendirian. karena padang pasir itu begitu lengang, si tetes hujan kecil menimbulkan kebisingan hebat waktu menciprat tepat di atas batu. Ia membangunkan Bumi yang bertanya:
“Ribut-ribut apa itu?”
“Tetes hujan jatuh,”jawab batu.
“Tetes hujan? Artinya hujan bakal turun! Lekas! Bangun! HUjan akan turun! “ia mengingatkan tetumbuhan yang sembunyi di bawah tanah dari terik matahari.
maka tumbuh-tumbuhan pun bangun dan mengintip, dan untuk sesaat seisi padang pasir tersaput warna hijau, dan awan-awan besar pun melihat hijau itu dari kejauhan dan berkata:
“Lihat. Ada banyak hijau di sana. Ayo bikin hujan ditempat itu. Kita tidak tahu di sana begitu hijau.’
Maka pergilah mereka menjadikan dirinya hujan di tempat yang dulunya padang pasir. Mereka curahkan hujan dan hujan dan tanaman pun tumbuh dan segala sesuatu berubah hijau sekaligus.
“Mujur nian kita ada di sekitar sini,”ucap awan-awan besar.
“Tanpa kita, tak bakal ada hijau.”
Dan waktu itu, tak seorang pun teringat akan seuntai awan kecil yang mengucurkan stetes hujan kecil yang cipratannya membangunkan mereka yang tertidur.
Tak seorang pun ingat, tapi si batu menyimpan rahasia awan kecil itu. Waktu berlalu, dan awan-awan besar pertama itu pun lenyap dan tanaman-tanaman pertama itu pun mati. dan batu, yang tak pernah mati, memberitahu tanaman-tanaman baru yang terlahir dan awan-awan baru yang tiba kisah mengenai seuntai awan kecil yang mengucurkan setes hujan kecil.
Adakah ini suatu KEBETULAN?
chindy said,
December 7, 2006 at 1:25 am
Dee, masih salinan artikel ce Chai Yean…september lalu awal dia balik dari Taiwan, aq nginap tempat ce CY..kami ngobrol saban malam ttg coincidentia,..keesokan pagi saat ke warung beli sayur en buah…duit ditangan ce cuma 26ribu,g kurang g ;lebih..saat kami nanya mbok bakul total belanjaan habis berapa..jawabnya,”26ribu” Hah!! kok pas banget…
coincidence-1
buatku, hal yang menjengkelkan dari kates adalah dinginnya dia menanggapi coincidence. meaningful coincidence tepatnyahari minggu lalu data stat di page view: 333, visitors: 33hari minggu itu juga baca rispondimi (susanna tamaro). di cerita ketiganya, paragraf pertama: dia lahir tanggal 3 bulan 3 jam 3 pagi…1983aku menatap katestanyanya cuek: iya kenapa katanya coincidence adalah kita memilih dua, tiga dari seratus yang terjadi sehari, lalu meletakkannya dalam satu kerangka. mengabaikan yang 98, 97 waktu udah balik ke jogja, aku kirim kartu terima kasih. antara lain ke wang wenhua yang acaranya di news98 cukup membantuku belajar mandarin selama di taipei. senin, untuk pertama kalinya setelah balik indonesia, aku dan kates denger lagi programnya. denger nama dan kartuku disebut di program malam ituaku menatap katestanyanya tak terlalu peduli: kenapa katanya, sesuatu terjadi ada kalanya karena kalian mengharapkannyaitulah lucunya, kata kates: dari semua makhluk kemampuan itu hanya dimiliki manusia tanpa manusia mengetahuinya. sedangkan makhluk tak memiliki kemampuan itu tetapi mereka tahu manusia dapat menjadikan nyata apa yang ada dalam benaknya
Anonymous said,
December 16, 2006 at 8:32 pm
waktu chatting, laras mengadukan cockroates yang tak percaya synchronicity
lalu bertanya kepadaku: tante percaya meaningful coincidence itu ga?
aku kira adalah baik jika kita bisa memberi rongga dalam diri untuk mengerti,
apa sebabnya manusia percaya synchronicity, juga sebabnya ada yang tak percaya
artinya kita tak berdiri dimana-mana. tanya laras
tak punya sikap sendiri. sergahnya
kita boleh memilih melihatnya dari sudut itu
tapi selalu ada sudut yang terbuka untuk melihat diri sendiri,
bahwa kita adalah jiwa bebas
bebas bukan berarti tak peduli. tapi bebas sebab dapat melihat manusia
melampaui konsep yang sekarang ada dalam diri mereka
menembus semua lapisan itu, sehingga dapat melihat mereka sebagai
roh yang mempersonifikasi
roh yang sebenarnya bersih dari pertentangan
yang sebenarnya kaya senyum
yang menyukai kehangatan matahari tetapi tak menghakimi gelap
yang baik tanpa membenci jahat
(tante tersenyum, membayangkan wajah laras yang tersenyum)
(laras juga, ingat wajah tante yang tersenyum)
tante: laras, masih ingat jonathan livingston seagull (oleh richard bach)?
laras: kita akan selalu mencintai jonathan seagull kan , tante
laras, jika engkau menggantikan jonathan dengan cockroates,
engkau akan menyadari betapa dekatnya cinta dan jiwa bebas itu denganmu
dan betapa beruntungnya engkau mengenal cockroates
blog.360.yahoo.com/laraskanti
chindy said,
January 17, 2007 at 2:02 am
Pagi tadi lepas periksa pasien, asisten saya cerita kalo Ocha lagi demen2nya nyanyi, lirik’e asal ceplos. Kemaren wt keluarga besar dari Riau tiba diyk dan kumpul ngaso di ruang tengah, Ocha nyanyi”Mama sini dong, ta’kasi celana bolong, Whuuuahaha..Ocha, kentir’e ra’ukur-ukur. Pukul 10.04:59 saya kirim sms-cerita ini ke ce cy.Jam 13an, ce balas..oalaa, kok nyambung banget ama posting tbaru blog anton.
Oy? sore ini 16.50 saya cek blog Anthon, Astagafirullah! Lagi2 coincidentia! kata2 ini ngagetin banget, Anton menulis:
“Hari Minggu kemarin mamaku menelepon,
adikku mau pulang dan dia bertanya kira-kira saya mau nitip sesuatu atau tidak?
“……kamu punya celana-celana yang sobek nggak? titip adikmu aja, nanti mama jahitkan
disini”
Kata-kata itu menembus sampai hatiku yang paling dasar, sedemikian detil perhatian seorang mama sampai dia bisa memikirkan hal-hal yang demikian kecil.
Dan memang belakangan ini celanaku banyak yang sobek dan belum sempat kujahit, sampai-sampai saya sering binggung karena kehabisan celana untuk dipakai.
Begitu tajam naluri keibuan mama sehingga bisa menangkap getar-getar pikiranku.
chindy said,
January 17, 2007 at 2:14 am
Pagi tadi, selepas periksa pasien, asisten saya cerita kalo Ocha lagi demen2nya nyanyi. lirik’e asal ceplos,”Mama sini dong..ta’kasi celana bolong” Whuuuahaha!
Pukul 10:04:59, saya kirim cerita ini ke ce cy.
Pukul 13an ce bls:”Oalaa, kok nyambung banget ama posting tbaru Anton.
Oy? sore ini, pukul 16:58 saya cek blog Anton, Glothaaak! Berdebar hati saya bacanya:
Sang Maha Detil
16 Januari 2007 20:11:55
Hari Minggu kemarin mamaku menelepon,
adikku mau pulang dan dia bertanya kira-kira saya mau nitip sesuatu atau tidak?
“……kamu punya celana-celana yang sobek nggak? titip adikmu aja, nanti mama jahitkan
disini”
Kata-kata itu menembus sampai hatiku yang paling dasar, sedemikian detil perhatian seorang mama sampai dia bisa memikirkan hal-hal yang demikian kecil.
Dan memang belakangan ini celanaku banyak yang sobek dan belum sempat kujahit, sampai-sampai saya sering binggung karena kehabisan celana untuk dipakai.
Begitu tajam naluri keibuan mama sehingga bisa menangkap getar-getar pikiranku.
Hatiku langsung menggugat, bagaimana dengan LAOMU, Bunda Ilahiku, pastilah Beliau sang maha mengerti, maha detil, maha kecil, maha merasakan setiap getar-getar kalbu anak-anaknya…
chindy said,
January 28, 2007 at 1:19 am
Dee,
rasane sendi-sendiku dah karatan kuuuabeh. iseng pengen refresh, mampir ke blog ce cy. ada yang menarik,
pukul 15:40 baca ‘unlocked’ paragraph pertamanya langsung konek
laras kecil gambar. awannya akan diwarnai orange muda boleh ga. tanyanya.
15.55 aq posting comment:”ce..kemaren, pasienku, mr. David (temen ketemu di kinoki cafe saat gelar acara “chatting veggie”) Nyentrik g ukur-ukur. A sampe Z antik semua, termasuk ceritanya. dia suka ngamati mimpi. tiap ketemu orang dia akan nanya, What’s d colour of ur dream? is it black and white, colurfull, or even transparant? Weird, one ever said, i do always find the colour of sky is orange. Nah lo! kok pas amir(”,)ketoe those one is genk sejiwa ame si laras kecil hehe… little part of coincidence,hmm..more ya Dee, last night Anton said actually there’s no coincidence, we just have been being connected for over past in the circle of birth and death.Nothing more than just reunion. Like Buddha ever said, when the king see the mosquito, is it might the mosquito looking and thinking it was ever the king before or the king looking and thinking, he was ever the mosquito. that’s way Buddha said, every man is my father and every women is my mother.Excellent!
Anonymous said,
March 9, 2007 at 7:10 pm
kadang gw berpikir alam bergerak sesuai dengan pikiran kita,
bagaimana tidak ketika saat saya sedang konsen tentang sesuatu, n selang tak berapa lama
saya menemukan sesuatu itu…
idealnya seperti gw berteriak di atas gunung, n alam memantulkan kembali suara itu.
gw pernah berpikir ‘kopi itu pahit tapi tidak dibenci’ n beberapa minggu kemudian
ketika gw sedang berjalan di pertokoan, gw menemukan buku
yang berisikan pandangan penulis tentang filosopi kopi.
n gw berteriak, sambil menepuk-nepukkan telapak tangan didinding
‘apa yang terjadi disini! apakah ini semacam telepati antar mahluk!’.
pernah juga gw punya keinginan kuat untuk membeli merek minuman soda tertentu, tapi
saat itu gw benar2 ga sempat membelinya.oh, give up! n tebak apa yang terjadi!
saat gw masuk kamar minuman itu sudah berada di kamar’, ayolah apakah ini kebetulan lagi?
dan persepsi saya mengangguk ‘alam bergerak sesuai dengan pikiran kita’..
hingga suatu hari teman gw bercanda dengan tebakan pskilogisnya.
‘dikamar ini coba jangan perhatikan warna kuning!’ n ternyata pikiran gw
sibuk mencari warna kuning.n gw bertanya ato ini hanyalah pristiwa psikologis kepekaan biasa
kita saja karena konsentrasi kita memang ke sesuatu yang kita cari ato
apakah alam bergerak sesuai dengan pikiran kita,
ato ini karna kedua-duanya? n kita memandang tepat di saat ruang probabilitas kejadian
memihak pada kita. entahlah gw ga bisa menjawab itu!
dan hati kecil gw menghibur gw… ‘zam, kali ini ayo kita melihat naga asli terbang?’
n gw menatap dengan tatapan misterius pada buku bercover biru muda itu.
jimshere said,
April 28, 2007 at 6:27 am
Dee.. proses & kebetulan itu ga pernah benar2 terjadi, semuanya sudah ada di’sana’.
Best Wishes,
J.
tan_intan said,
May 10, 2007 at 11:09 am
sinkronitas.. bisa jadi!
as i started to create a blog when i miraculously found your blog, mba dewi!!
i started to dug out the-not-so-important-stuff-by-my-thinking-back-then that i wrote.
just in the best time, best mood and best works.
Hadi Blogger said,
June 19, 2008 at 1:23 am
Dee Wrote: Bukti dampak pandangan reduksionisme pada dunia rasanya tidak perlu kita perdebatkan: perang yang tak kunjung punah, separuh dunia yang masih kelaparan, dan derita yang dimulai dari level global sampai interaksi antara dua kekasih
Me Wrote: perang melawan reduksionisme dong ya mbak Dee. gimana nih. disaat kita sedang enak-enaknya menikmati keselarasan dan kesinkronan, kita sulit untuk melanjutkannya ketika berhadapan dengan dunia reduksionisme. Padahal untuk menikmati hidup yang menyenangkan kita dituntut berjuang menyelaraskan petunjuk-petunjuk alam dengan kehidupan kita sebenarnya. jadi penuh perjuangan nih. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk menyelaraskan petunjuk-petunjuk alam itu ke dunia nyata untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki
Salam,
Hadi
Puput said,
August 19, 2008 at 11:00 pm
miss Dee,
bagaimana dengan ‘firasat’?
imamwahyudi.com said,
August 26, 2008 at 8:16 pm
My second comment
Not only surprised that you use exactly the same design for dee-idea with my blog (I use it first actually ;-p)
Another “it happens again” struck me when I find it we use the same design in dee-unessential vs deadleaf.
Is it a coincidence, or syncronized?
Is it possible that there is a classification of mind like they classify colors, so that there’s a twin mind? People that think alike,and are they syncronized to each other?
Resonance comes when sound in certain frequency amplify other with the same frequency. And mind have frequency.
It just a nice serendipity. And universe seems like thousand of that if only we want to “see” it more clearly.
Glad to know you more
-imamwahyudi.com-