<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: </title>
	<atom:link href="http://www.dewilestari.com/b/2006/10/10/42/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/10/10/42/</link>
	<description>an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Dec 2011 03:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>By: Jenny Jusuf</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/10/10/42/comment-page-1/#comment-501</link>
		<dc:creator>Jenny Jusuf</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Dec 2006 05:06:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=42#comment-501</guid>
		<description>Saya setuju, Mbak Dee.&lt;br/&gt;Saya sudah lelah memberi makan citra. Lelah hidup baginya. Lelah menilai dan dinilai berdasarkan citra. Di blog saya ada 1 tulisan, Topeng-Topeng Ceria. Konteks dan perspektifnya entah tepat entah tidak, saya tak peduli... karena hanya melalui blog saya dapat berbicara tanpa khawatir dihakimi. Andai semua orang dapat berpuasa citra. Sehari saja.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Andai Supernova betul-betul eksis. Mungkin ia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya setuju, Mbak Dee.<br />Saya sudah lelah memberi makan citra. Lelah hidup baginya. Lelah menilai dan dinilai berdasarkan citra. Di blog saya ada 1 tulisan, Topeng-Topeng Ceria. Konteks dan perspektifnya entah tepat entah tidak, saya tak peduli&#8230; karena hanya melalui blog saya dapat berbicara tanpa khawatir dihakimi. Andai semua orang dapat berpuasa citra. Sehari saja.</p>
<p>Andai Supernova betul-betul eksis. Mungkin ia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jenny Jusuf</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/10/10/42/comment-page-1/#comment-500</link>
		<dc:creator>Jenny Jusuf</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Dec 2006 05:05:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=42#comment-500</guid>
		<description>Saya setuju, Mbak Dee.&lt;br/&gt;Saya sudah lelah memberi makan citra. Lelah hidup baginya. Lelah menilai dan dinilai berdasarkan citra. Di blog saya ada 1 tulisan, Topeng-Topeng Ceria. Konteks dan perspektifnya entah tepat entah tidak, saya tak peduli... karena hanya melalui blog saya dapat berbicara tanpa khawatir dihakimi. Andai semua orang dapat berpuasa citra. Sehari saja.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Andai Supernova betul-betul eksis. Mungkin ia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya setuju, Mbak Dee.<br />Saya sudah lelah memberi makan citra. Lelah hidup baginya. Lelah menilai dan dinilai berdasarkan citra. Di blog saya ada 1 tulisan, Topeng-Topeng Ceria. Konteks dan perspektifnya entah tepat entah tidak, saya tak peduli&#8230; karena hanya melalui blog saya dapat berbicara tanpa khawatir dihakimi. Andai semua orang dapat berpuasa citra. Sehari saja.</p>
<p>Andai Supernova betul-betul eksis. Mungkin ia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: chindy</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/10/10/42/comment-page-1/#comment-473</link>
		<dc:creator>chindy</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Nov 2006 10:16:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=42#comment-473</guid>
		<description>Dee, &lt;br/&gt;Untuk paragraf ini:Bercermin dan membedah refleksinya terkadang dapat menyelamatkan kita dari konflik superfisial yang tak perlu, seperti menghakimi teman yang tidak se-genre, berpusing-pusing menariki batas sana-sini dan bertingkah seperti satpam penjaga portal, karena seperti apakah sebenarnya Normal? Adakah kenormalan sejati? Adakah keabnormalan? Jangan-jangan semuanya adalah jajaran citra yang ingin diberi makan. Tidak ada yang lebih baik, juga tidak ada yang lebih buruk.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sungguh, buah pikir ini reflektor yang tajam, sentilan aktif non stop, rasanya ada yang terus menyentil untuk berkontak dengan Diri, eling dengan setiap persepsi yang berkelibatan di pikiran. bersimpuh saya di altar HIDUP, menjadi hamba HIDUP... bila mas Goenawan Mohamad menulis: kahyangan digambarkan sebagai ‘suwung’ dan tak ada ‘rasa pribadi,’ yang dimaksudkan bukanlah sebuah gambaran kekurangan. Bahkan sebaliknya. ‘Cipta, rasa dan karsa’ tak ada karena tak dibutuhkan.  Keheningan itu total – yang juga berarti kebebasan dari pengaruh  perasaan suka dan sedih:  datan kaprabawaning rasa bungah lan susah. Ijinkan saya nimbrung,&quot;saya punya detik kini yang menanti detik lain momentum bulatnya paham bagaimana menyaput selaput katarak-beban dualisme , mengirisnya dengan pisau bedah kesadaran, duri dalam daging kesadaran yang selama ini t&#039;pelihara sekian episode kelahiran&quot; Penilaian gaul-garing, cool-boring, bijaksana-bijaksini alias egois, keren-kerempeng, yang membuat membiarkan hati terganggu oleh purbasangka, sangka yang sudah terlalu purba untuk dibiarkan mengikuti kita hingga kini,hehe...ngawurmawur;)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dee, <br />Untuk paragraf ini:Bercermin dan membedah refleksinya terkadang dapat menyelamatkan kita dari konflik superfisial yang tak perlu, seperti menghakimi teman yang tidak se-genre, berpusing-pusing menariki batas sana-sini dan bertingkah seperti satpam penjaga portal, karena seperti apakah sebenarnya Normal? Adakah kenormalan sejati? Adakah keabnormalan? Jangan-jangan semuanya adalah jajaran citra yang ingin diberi makan. Tidak ada yang lebih baik, juga tidak ada yang lebih buruk.</p>
<p>Sungguh, buah pikir ini reflektor yang tajam, sentilan aktif non stop, rasanya ada yang terus menyentil untuk berkontak dengan Diri, eling dengan setiap persepsi yang berkelibatan di pikiran. bersimpuh saya di altar HIDUP, menjadi hamba HIDUP&#8230; bila mas Goenawan Mohamad menulis: kahyangan digambarkan sebagai ‘suwung’ dan tak ada ‘rasa pribadi,’ yang dimaksudkan bukanlah sebuah gambaran kekurangan. Bahkan sebaliknya. ‘Cipta, rasa dan karsa’ tak ada karena tak dibutuhkan.  Keheningan itu total – yang juga berarti kebebasan dari pengaruh  perasaan suka dan sedih:  datan kaprabawaning rasa bungah lan susah. Ijinkan saya nimbrung,&#8221;saya punya detik kini yang menanti detik lain momentum bulatnya paham bagaimana menyaput selaput katarak-beban dualisme , mengirisnya dengan pisau bedah kesadaran, duri dalam daging kesadaran yang selama ini t&#8217;pelihara sekian episode kelahiran&#8221; Penilaian gaul-garing, cool-boring, bijaksana-bijaksini alias egois, keren-kerempeng, yang membuat membiarkan hati terganggu oleh purbasangka, sangka yang sudah terlalu purba untuk dibiarkan mengikuti kita hingga kini,hehe&#8230;ngawurmawur;)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: chindy</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/10/10/42/comment-page-1/#comment-464</link>
		<dc:creator>chindy</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Nov 2006 05:56:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=42#comment-464</guid>
		<description>Dee, aq senang banget dengan artikel imagosentrismu ini, keren abiez bro!&lt;br/&gt;Dee, aq share cerita dari pojok dapur kami ya,hehe...&lt;br/&gt;Se yun ngider manggilin penghuni kontrakan, breakfast time ooiii! sarapan pagi ini, menu yang paling selalu kujagokan, havermout bro! Seperti biasa, satu piring disediakan khusus buat saya karena cuma saya yang doyan havemout asin, jadi seporsi disisihkan dulu sebelum diberi gula. Suapan pertama, terasa hambar, garam saya tambahkan lagi,sedikit..ehmm masih hambar tuh, nambahnya terlalu dikit kali...kali kedua saya tambah lagi...rasa tak banyak berubah, lagi-lagi masih hambar. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;      Teg! saya gumam sama diri sendiri, masalah rasa mungkin tak lebih karena  kebiasaan. Lalu saya putuskan untuk tidak menambahkan garam lagi. Iseng saya beride, bagaimana jika saya geser kebiasaan ini, mencoba menikmati rasa hambar, RASA ASLI celetuk Se Yun. Rasa bebas poles, bebas perasa manis, perasa asin, perasa kecut atau apalah. Saya tantang diri saya, apakah saya dapat menikmati hambar?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;    Beberapa waktu yang lalu ketika pertama kali mencicip air hasil saringan dari kiriman Fukuang Fuothang, sekelibat memori mengusik persepsi saya akan rasa air tersebut. Rasa airnya BEDA dari biasanya. Memori awal saya akan cita rasa air, sekonyong-konyong terpanggil mencuat. Dalam benak saya, seperti inilah rasa air. Rasa yang pertama kali tercitra saat pertama kali mencicip air. Saya cerita pada Maya, Se Yun, Se Yi  dan Anton, semua pada koor dengan ekspresi yang sama, termanyun-manyun..hehehe..&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;      Saya  juga ingat kala pertama kali diberi obat Huo Shiang sama Papa, astaganogir, rasanya kenyir, bikin wajah nyinyir bener-bener ANEH. Hidung saya pencet, mata saya tutup, bud taste kalo bisa saya matiin fungsi kecapnya saat itu. Demi menghabiskan seteguk HuoShiang, benaran deh nggak HauSiang banget, baunya tajam banget. Tau sendirilah obat cina rasanya kaya&#039; apa;)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;      Sesungguhnya, apa yang benar-benar membuat lidah kita tak dapat menikmati rasa. Image RASA ENAK barangkali. Enak kita persepsikan dengan rasa tertentu kecuali hambar. Padahal hambar juga RASA kan, lalu mengapa hambar disisihkan, dikeluarkan dari kategori layak cicip. Diskriminatif, mungkin memang bawaan genetik makhluk manusia yang terakui mampu menganalisa. Karena ada penilaian, ada analisa, ada pembedaan. Namun analisa kita nampaknya tak sedikit yang kebablasan. Bablas menabrak batas penilaian, hingga tak sadar membangun, selapis demi selapis tembok jarak yang mengurung diri sendiri dalam sederet penilaian yang tak perlu, bahasa yang lebih mentereng mungkin bisa diungkap sebagai subjektifitas yang melahirkan multidiskriminasi. Dalam hal apa saja. Ini yang menghambat kemampuan berinteraksi yang murni dengan apa pun, dengan siapa pun. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;      Interaksi dengan makanan pun tak sedikit dari kita tak sadar kalau sudah menyulitkan diri sendiri, dengan patokan rasa enak dalam ukuran trend, prestise, atau apalah. Ada teman yang punya kebiasaan hanging out, tiap minggu, keliling dari satu cafe atau resto ke resto untuk mencicip se menu atau dua menu unggulan. Tiap mengajak saya, saya akan selalu punya satu menu tetap buah potong atau sekedar minum jus buah. Mereka hanya akan geleng-geleng tapi menutup dengan satu kalimat, &#039;gpplah sing penting awak&#039;mu enjoy dan iso mencicip suasana&#039;e&#039; A ha! itu dia, ENJOY...dimana saja, apa saja asal ENJOY, tak ada yang terasa berat di lidah, semua aman2 saja. Tak ada rengutan, tak ada bosan, tak ada kata susah mencicipnya...setingkat lebih afdol adalah melampaui rasa itu sendiri, bebas dari kata enak-tak enak, ceilee sok bijak bro..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dee, aq senang banget dengan artikel imagosentrismu ini, keren abiez bro!<br />Dee, aq share cerita dari pojok dapur kami ya,hehe&#8230;<br />Se yun ngider manggilin penghuni kontrakan, breakfast time ooiii! sarapan pagi ini, menu yang paling selalu kujagokan, havermout bro! Seperti biasa, satu piring disediakan khusus buat saya karena cuma saya yang doyan havemout asin, jadi seporsi disisihkan dulu sebelum diberi gula. Suapan pertama, terasa hambar, garam saya tambahkan lagi,sedikit..ehmm masih hambar tuh, nambahnya terlalu dikit kali&#8230;kali kedua saya tambah lagi&#8230;rasa tak banyak berubah, lagi-lagi masih hambar. </p>
<p>      Teg! saya gumam sama diri sendiri, masalah rasa mungkin tak lebih karena  kebiasaan. Lalu saya putuskan untuk tidak menambahkan garam lagi. Iseng saya beride, bagaimana jika saya geser kebiasaan ini, mencoba menikmati rasa hambar, RASA ASLI celetuk Se Yun. Rasa bebas poles, bebas perasa manis, perasa asin, perasa kecut atau apalah. Saya tantang diri saya, apakah saya dapat menikmati hambar?</p>
<p>    Beberapa waktu yang lalu ketika pertama kali mencicip air hasil saringan dari kiriman Fukuang Fuothang, sekelibat memori mengusik persepsi saya akan rasa air tersebut. Rasa airnya BEDA dari biasanya. Memori awal saya akan cita rasa air, sekonyong-konyong terpanggil mencuat. Dalam benak saya, seperti inilah rasa air. Rasa yang pertama kali tercitra saat pertama kali mencicip air. Saya cerita pada Maya, Se Yun, Se Yi  dan Anton, semua pada koor dengan ekspresi yang sama, termanyun-manyun..hehehe..</p>
<p>      Saya  juga ingat kala pertama kali diberi obat Huo Shiang sama Papa, astaganogir, rasanya kenyir, bikin wajah nyinyir bener-bener ANEH. Hidung saya pencet, mata saya tutup, bud taste kalo bisa saya matiin fungsi kecapnya saat itu. Demi menghabiskan seteguk HuoShiang, benaran deh nggak HauSiang banget, baunya tajam banget. Tau sendirilah obat cina rasanya kaya&#8217; apa;)</p>
<p>      Sesungguhnya, apa yang benar-benar membuat lidah kita tak dapat menikmati rasa. Image RASA ENAK barangkali. Enak kita persepsikan dengan rasa tertentu kecuali hambar. Padahal hambar juga RASA kan, lalu mengapa hambar disisihkan, dikeluarkan dari kategori layak cicip. Diskriminatif, mungkin memang bawaan genetik makhluk manusia yang terakui mampu menganalisa. Karena ada penilaian, ada analisa, ada pembedaan. Namun analisa kita nampaknya tak sedikit yang kebablasan. Bablas menabrak batas penilaian, hingga tak sadar membangun, selapis demi selapis tembok jarak yang mengurung diri sendiri dalam sederet penilaian yang tak perlu, bahasa yang lebih mentereng mungkin bisa diungkap sebagai subjektifitas yang melahirkan multidiskriminasi. Dalam hal apa saja. Ini yang menghambat kemampuan berinteraksi yang murni dengan apa pun, dengan siapa pun. </p>
<p>      Interaksi dengan makanan pun tak sedikit dari kita tak sadar kalau sudah menyulitkan diri sendiri, dengan patokan rasa enak dalam ukuran trend, prestise, atau apalah. Ada teman yang punya kebiasaan hanging out, tiap minggu, keliling dari satu cafe atau resto ke resto untuk mencicip se menu atau dua menu unggulan. Tiap mengajak saya, saya akan selalu punya satu menu tetap buah potong atau sekedar minum jus buah. Mereka hanya akan geleng-geleng tapi menutup dengan satu kalimat, &#8216;gpplah sing penting awak&#8217;mu enjoy dan iso mencicip suasana&#8217;e&#8217; A ha! itu dia, ENJOY&#8230;dimana saja, apa saja asal ENJOY, tak ada yang terasa berat di lidah, semua aman2 saja. Tak ada rengutan, tak ada bosan, tak ada kata susah mencicipnya&#8230;setingkat lebih afdol adalah melampaui rasa itu sendiri, bebas dari kata enak-tak enak, ceilee sok bijak bro..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Pembual Kata</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/10/10/42/comment-page-1/#comment-459</link>
		<dc:creator>Pembual Kata</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Nov 2006 13:30:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=42#comment-459</guid>
		<description>Mbak Dee&lt;br/&gt;Jinjing inspirasi dalam setiap kreasi&lt;br/&gt;Teruslah mengisi&lt;br/&gt;Ku kan selalu teraspirasi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mbak Dee<br />Jinjing inspirasi dalam setiap kreasi<br />Teruslah mengisi<br />Ku kan selalu teraspirasi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ganda</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/10/10/42/comment-page-1/#comment-457</link>
		<dc:creator>ganda</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Oct 2006 05:41:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=42#comment-457</guid>
		<description>istilah bedah citra ini rasanya bisa juga dibikin terbiasa dengan sekali sekali public bathing, telanjang dalam arti sebenarnya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>istilah bedah citra ini rasanya bisa juga dibikin terbiasa dengan sekali sekali public bathing, telanjang dalam arti sebenarnya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/10/10/42/comment-page-1/#comment-454</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 28 Oct 2006 12:39:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=42#comment-454</guid>
		<description>berbagai pemikiran anda sering membuat saya berpikir &quot;apakah seorang Dee menulisnya atau mendengar bisikan yang menggerakannya untuk menulis?&quot;&lt;br/&gt;mengagumkan, menimbulkan loncatan kuantum yang membuat saya berani menekan kenop ke dalam&lt;br/&gt;citra?mana yang eksistensinya lebih kuat? dogma yang telah ada dan tertanam atau pemikir dari dogma tersebut?&lt;br/&gt;jika kita menarik diri dari holografis,apakah tidak akan ada yang menjadikan kita sebagai tontonan pula?&lt;br/&gt;sebagian dari kita tidak menyadari kita adalah karya seni yang agung, tersusun rapih dengan susunan PHI yang mengagumkan 1,618&lt;br/&gt;jadi, bukankah dari awal eksistensi kita adalah partikel debu di tengah semesta?&lt;br/&gt;namun segalanya memang ada pada kita, bukan?&lt;br/&gt;menurut saya citra kita dari awal memang tidak pernah ada, karena yang ada hanyalah ada&lt;br/&gt;namun saya setuju, Saya cinta eksistensi diri saya pada alam yang seharusnya terlihat</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>berbagai pemikiran anda sering membuat saya berpikir &#8220;apakah seorang Dee menulisnya atau mendengar bisikan yang menggerakannya untuk menulis?&#8221;<br />mengagumkan, menimbulkan loncatan kuantum yang membuat saya berani menekan kenop ke dalam<br />citra?mana yang eksistensinya lebih kuat? dogma yang telah ada dan tertanam atau pemikir dari dogma tersebut?<br />jika kita menarik diri dari holografis,apakah tidak akan ada yang menjadikan kita sebagai tontonan pula?<br />sebagian dari kita tidak menyadari kita adalah karya seni yang agung, tersusun rapih dengan susunan PHI yang mengagumkan 1,618<br />jadi, bukankah dari awal eksistensi kita adalah partikel debu di tengah semesta?<br />namun segalanya memang ada pada kita, bukan?<br />menurut saya citra kita dari awal memang tidak pernah ada, karena yang ada hanyalah ada<br />namun saya setuju, Saya cinta eksistensi diri saya pada alam yang seharusnya terlihat</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2006/10/10/42/comment-page-1/#comment-451</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Oct 2006 05:10:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=42#comment-451</guid>
		<description>citra ya! artikel ini mengingatkan gw tentang, secret beyond matter..&lt;br/&gt;indera membentuk persepsi, &lt;br/&gt;selanjutnya menentukan cara kita bertindak.. well, robot yang diprogram lingkungan.&lt;br/&gt;apabila benar di luar hanyalah adalah citra holografis, mungkin &lt;br/&gt;di dalam otak kita ada proyektornya, hehehe...&lt;br/&gt;namun ada keanehan di semesta ini&lt;br/&gt;dari partikel terkecil, sampai yang terbesar planet, galaksi, mereka berputar berlawanan arah jarum jam, kesadaran mungkin ini kuncinya...&lt;br/&gt;kita mengaku sebagai mahluk yang miliki kesadaran, tapi lihat lah benda2 disekitar kita mereka juga memiliki kesadaran, mereka berotasi dari tingkatan microcosmis, sampai macrocosmis... ; ) fs:n1z4m_it@yahoo.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>citra ya! artikel ini mengingatkan gw tentang, secret beyond matter..<br />indera membentuk persepsi, <br />selanjutnya menentukan cara kita bertindak.. well, robot yang diprogram lingkungan.<br />apabila benar di luar hanyalah adalah citra holografis, mungkin <br />di dalam otak kita ada proyektornya, hehehe&#8230;<br />namun ada keanehan di semesta ini<br />dari partikel terkecil, sampai yang terbesar planet, galaksi, mereka berputar berlawanan arah jarum jam, kesadaran mungkin ini kuncinya&#8230;<br />kita mengaku sebagai mahluk yang miliki kesadaran, tapi lihat lah benda2 disekitar kita mereka juga memiliki kesadaran, mereka berotasi dari tingkatan microcosmis, sampai macrocosmis&#8230; ; ) fs:n1z4m_it@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

