Percakapan di Sebuah Jembatan

Berdua kami melintasi jembatan sejarah
Tahun-tahun yang berhiaskan putih harapan dan merah darah
Dan aku bertanya: apakah yang sanggup mengubah luka menjadi pualam,
Yang membekukan air mata menjadi kristal garam?
Sahabatku berkata: Waktu.
Hanya waktu yang mampu.

Kulihat di kiri-kananku; pohon memudar, gedung kaca meruncing
Tahun-tahun yang berlumur peluh dan banjir rencana
Dan aku bertanya: apakah lelah kami cukup terbayar oleh petuah dan janji?
Apakah kemajuan sama dengan kebajikan?
Sahabatku berkata: Hati.
Hanya hati yang tahu.

Terkadang jembatan ini gamang dan berguncang
Tahun-tahun yang terasa garang dan panas mengerontang
Dan aku bertanya: mungkinkah kami tersesat dan hilang arah?
Bisakah pijakan ini goyah dan lantas punah?
Sahabatku berkata: Doa.
Hanya doa yang kuasa.

Jembatan ini panjang kami lalui sudah
Tiada ujung yang kutangkap, tiada awal yang kukenal
Dan aku bertanya: akankah kami bertahan,
Sebagai nusantara, sebagai bangsa, sebagai manusia?
Sahabatku berkata: Pahami lautan tempat jembatan ini terbentang.
Kenali kekuatan waktu
Dalami pengetahuan hati
Selami kekalnya doa

Kabut menyapu jembatan dan sahabatku menghilang
Meninggalkan gugusan pulau tak berjudul dan samudera tak bernama
Namun di sini aku menguntai waktu, memerah hati, dan meratapkan doa
Demi jembatan ini sebagian kami mati, sebagian kami bertahan hidup
Dan aku bertanya: inikah kedaulatan yang sesungguhnya?
Saat manusia bersatu dengan apa yang mengelilinginya
Samudera waktu, hati, dan doa
Ia pun merdeka
Sebuah bangsa pun merdeka
Nusantara pun layak ada

* Dibacakan pada saat perayaan Hari Pahlawan, 11 November 2006, di Surabaya.

4 Comments

  1. WR4 said,

    November 22, 2006 at 1:15 am

    a very nice poem. Keep writing, you give people enlightment…

  2. u2indo said,

    November 22, 2006 at 2:59 am

    Yup ! untuk orang yang jago nulis & smart kaya kamu sih pastinya bisa nulis apa aja yah… termasuk tema nationality ;)

    cheers,
    u2-indonesia.com

  3. ben said,

    December 8, 2006 at 11:58 am

    wah ternyata puisi yg dibacakan saat itu bikinan Dee sendiri ya… mantap!

    Sayang saat itu gak ketemu, siangnya hanya ketemu marcell

  4. bambang said,

    May 27, 2007 at 5:52 pm

    nationality atau nationalism?

Post a Comment