November 22nd, 2006 at 7:17 am (Artikel)
Keenan dan Memetika
(Published – Pikiran Rakyat, 26 Nov 2007)
Dua tahun terakhir ini, dunia saya diinvasi diam-diam. Keenan, anak saya, dengan caranya sendiri telah mendominasi semesta kecil keluarga kami. Dengan caranya sendiri, ia memilih menjadi vegetarian sejak usia satu tahun. Dan kini, ia mereformulasi dunia kami dengan cara menjajah satu-satunya televisi di rumah.
Keenan tergila-gila Baby Einstein sejak usianya enam bulan. Umur satu tahun, ia mulai menyukai Elmo. Baru-baru ini ia memuja Barney dan Teletubbies. Secara berangsur, jatah kami menonton teve berkurang, hingga nyaris tidak pernah sama sekali. Saya tidak ingat kapan persisnya efek cuci otak yang dilakukan Keenan mulai menunjukkan hasil. Namun belakangan saya tersadar anak itu telah melakukan uji coba memetika yang efektif.
Singkat kata, memetika adalah ilmu yang mendedah ‘mem’ sebagai bahan baku dasar pembentuk mental, sebagaimana genetika mendedah gen sebagai bahan baku dasar pembentuk kehidupan fisik. Replikasi mental merupakan kemampuan yang memisahkan manusia dengan primata lain. Bahasa, budaya, agama, merupakan produk-produk yang dimungkinkan karena adanya replikasi mem, seperti halnya gen bereplikasi membentuk gugusan sel hingga menjadi tubuh yang mampu bereproduksi dan mempertahankan diri.
Sebagai spesies yang bertarung melawan alam selama jutaan tahun, agenda genetika selalu menggiring kita untuk bereaksi kuat terhadap isu seks, makanan, dan bahaya. Seiring dengan itu, tombol primordial memetika tak pelak adalah: kemarahan, ketakutan, kelaparan, dan nafsu birahi. Menarik untuk direnungkan bahwa yang membuat sebuah informasi berkembang sesungguhnya bukan persoalan ‘penting’ dan ‘tidak penting’, ‘berguna’ dan ‘tidak berguna’, melainkan seberapa banyak tombol primordial kita yang ditembaknya sekaligus.
Para pengiklan tahu bahwa siluet tubuh perempuan bisa membantu penjualan sebuah mesin pompa air, yang sesungguhnya tidak punya hubungan langsung dengan lekuk pinggul dan belahan dada. Mereka juga bisa menyembunyikan bahaya rokok dalam sosok laki-laki gagah yang berarung jeram di alam nan indah. Begitu juga dengan liputan berita yang kerap menciptakan suasana kritis agar pemirsa merasa terdesak dan tercekam. Reporter berwajah santai dan mengatakan ‘semua baik-baik saja’ tidak akan menularkan mem kuat yang menjadikan berita itu punya nilai penting (atau tepatnya nilai jual).
Seberapapun hebat urgensi yang ditawarkan, apa yang kita konsumsi seringkali bukanlah apa yang kita butuhkan. Ini mengingatkan saya pada penelitian Masaru Emoto; bagaimana molekul air rusak ketika didekatkan pada teve yang memutar adegan kekerasan, dan sebaliknya, molekul air membentuk gugus heksagonal saat diputarkan dokumenter alam. Tampilan dunia yang baik-baik saja ternyata memperbaiki tubuh kita sampai level molekular, sementara dunia yang keras dan bahaya—walau rating-nya lebih tinggi—ternyata merusak kita sama besarnya.
Virus pikiran juga bekerja melalui asosiasi dan repetisi. Ketika artis-artis yang bercerai habis-habisan diekspos, orang mulai percaya bahwa artislah jenis manusia yang paling rentan kawin cerai, bahkan memotori rakyat untuk ikut tren sama. Padahal jumlah artis yang bercerai hanyalah noktah tak berarti dibandingkan kasus perceraian yang terjadi di masyarakat umum.
Patriotisme sebagai nilai tidak muncul spontan sejak kita lahir. Kita diprogram melalui repetisi upacara setiap Senin pagi dan penataran Pancasila setiap naik jenjang sekolah. Keinginan beragama tidak muncul begitu saja, seorang anak diprogram mulai dari nol melalui repetisi dan asosiasi tentang adanya hadiah bernama surga, hukuman bernama neraka, dan bos besar yang lebih berkuasa daripada orang tuanya bernama Tuhan.
Memetika sebagai ilmu yang relatif masih muda mampu memberi perspektif segar untuk memilih, memilah, bahkan berhenti sejenak dari bombardir informasi yang menginvasi pikiran kita. Tidak heran jika dalam hampir semua buku memetika yang saya baca, meditasi selalu jadi bahasan penutup, semacam antiviral yang dianjurkan. Bukan karena meditasi adalah bagian dari mem religi tertentu, tapi itulah satu-satunya metode yang membalikkan proses invasi mem: hening, diam, mengamati, tanpa bereaksi.
Hanya melalui percakapan-percakapan insidental saya jadi tahu kalau dua anggota Peter Pan telah keluar, dan telah terjadi kolaborasi dukun-dukun ilmu hitam untuk mencelakakan Bush. Saya kangen menonton Oprah, Discovery Channel, National Geographic, yang ikut dikorbankan akibat blokade teve Keenan. Dan jujur, saya cukup penasaran apakah usaha para dukun itu berhasil atau tidak. Namun saya berterima kasih pada kesempatan yang Keenan beri melalui program memetikanya: sebuah dunia tanpa kekerasan, tanpa akting hiperbolis yang memualkan, tanpa roh halus dan pemburu hantu, tanpa gosip yang tak perlu, tanpa rentetan iklan yang bikin jemu. Dan terkadang membuat saya berpikir, jika kita bisa demikian bersemangat menyerukan perdamaian dunia, mengapa kita tidak sungguh-sungguh ‘menciptakannya’ dari rumah sendiri? Barangkali yang dibutuhkan adalah para pemimpin dunia dengan program memetika yang tepat; yang tertawa bersama Elmo, bernyanyi bersama Barney, dan berpelukan dengan para Teletubbies.
* Buku tentang memetika yang paling mudah dicerna dari Richard Brodie untungnya sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia (judul asli: Virus of The Mind – The New Science of the Meme), sementara buku yang tak terlampau mudah tapi amat sangat patut dibaca salah satunya ditulis oleh Richard Dawkins (The Selfish Gene) dan muridnya, Susan Blackmore (The Meme Machine).
wr4 said,
November 23, 2006 at 1:27 am
Yup, Mari mulai melakukan perjalanan ke dalam ( diri sendiri )
Anonymous said,
November 23, 2006 at 10:57 pm
We live and work and dream,
Each has his little scheme,
Sometimes we laugh ;
Sometimes we cry.
And thus the days go by.
kapitaen999
dhian's world said,
November 25, 2006 at 9:47 pm
dee….
aku udah suka lama ama cara kamu nulis.
aku iri banget kog gak bisa smart seperti kamu dalam menulis… tapi iri positif kog… hehehe
dee…
aku ikut dalam salah satu bedah buku filosofi kopi di malang.
aku mau tanya, apakah kamu menang katulistiwa award waktu itu ?
btw…
gimana bisa baca buku2 berat itu dee ????????
Joo said,
November 28, 2006 at 12:34 am
salam buat keenan…
chindy said,
November 30, 2006 at 2:48 am
Dan jujur, saya cukup penasaran apakah usaha para dukun itu berhasil atau tidak…
Dee, hehe..cuma bisa ku awali dengan hehe..
kemaren seperti biasa saat maem siang, ngobros ngaros ngidus neng m’Gie depot…eee, metro tv beritain kalo beberapa siswa di makassar kesurupan…ternyata jenk, di jogja juga belakangan banyak berita kesurupan…nah lo…Bush dateng, indo demam surup..dan Ooo, ada konspirasi dukun sejagad indo to? jangan2 wabah surup gara2 dukun2 kite kadung manggil gendruwo laksa penjuru, tapi kalah tarung ama dedemit Bush;) jadi keliaran kemana2 malah nyurupin orang kita sendiri…
ganda said,
November 30, 2006 at 11:25 pm
chindy chindy, dulu nih jamannya masih SD ada yg namanya Pak Macan yg biasa sirkus di terminal deket rumah. Komat-kamit sebelum atraksinya begini, “Punten ka sadaya nu saguru saelmu, teu kenging ngaganggu elmu abdi” (Bhs Sunda artinya kepada mereka yg seguru dan seilmu tolong jangan ganggu praktek keilmuan saya). Dia keluarin pedang. Ditebasin ke kayu, kayunya patah. Dicoba ke kertas, robek. Dicoba ke rambutnya, putus. Terus dia keluarin jimat yg memang rencannya mau dia jual. Entah angin mana yg nyeruduk siang itu, gua kebagian megangin tuh jimat. Asli lho, jimat itu gua genggam, terus pedang dicoba ke rambut gua nggak putus … Serius gua beli tuh jimat, hebat. Ehhh pas gua coba lagi di rumah kok rambut putus pake pisau dapur. Gua cerita ke nyokap, balesannya gini, “Lha iya putus, lawong kamu pulang ngelewatin jembatan” Btw Dee, nyokap dulu dateng ke kawinan kalian yg skrg berbuahkan Keenan, tau komentar nyokap apa? “Marcell dang maradat, nikah kok rambutnya masih panjang” hahaha
konnyaku said,
December 3, 2006 at 2:29 am
Mbak Dewi! Aku mampir
Seneng banget kemarin bisa ketemu. *masih senengggggg banget*
Maaaap, ga bisa ikut nganterin pulang
Next time aku balik Jakarta kita ketemuan lagi ya. Sama Kak Marcell, and of course your dearest son-shine, Keenan
Yesterday was one of the happiest days in my life. Thanks a lot.
Stella
Anonymous said,
December 4, 2006 at 3:53 am
Tidak heran jika dalam hampir semua buku memetika yang saya baca, meditasi selalu jadi bahasan penutup, semacam antiviral yang dianjurkan. Bukan karena meditasi adalah bagian dari mem religi tertentu, tapi itulah satu-satunya metode yang membalikkan proses invasi mem: hening, diam, mengamati, tanpa bereaksi.
***
Tuhan, bersahabat dengan diam. Ditiap Agama kita seragamkan bahwasanya tafakur, hening, renung, senyap menjadi pokok yang luhur dan patut dihargai. Namun kesemuanya tidak semudah direlokasikan pertautannya dengan agama saja. Ada banyak esensi didalamnya yang memaksa meracik secuil pola pikir yang berbeda, melihat dari perspektif yang tak biasa.
-pelle-
chindy said,
March 22, 2007 at 7:47 am
Keenan,
saya yakin seperti anak kecil liane…mereka adalah…
Kunci hati,
Murni dalam tiap sikapnya,
tiap ucapannya dan tiap pikirannya.
He got everyone heart.
Hati siapa pun kenal dgnnya, tercuri seketika itu jua..
Bahasa rasa nan peka dan halus… bagi saya, sangat menyentuh. Kerinduan meramu
keutuhan wajah manusia, terwakil sempurna dalam polah lakonnya,
Mereka ibarat cermin bening,
memantulkan keping demi keping keutamaan dan kemuliaan ruh nurani yang mewujud.
Anak kecil belum kenal seribu kitab,
Belum kenal Bhagawad Gita, namun
gita kesederhanaan, kepekaan, kehalusan rasa mengalunkan kemerduan laksa Begawan dalam tiap celotehannya..
Tak sekalipun bersua dengan Dhammapada, namun rangkai katanya adalah untaian Dhamma yang punya nada dasar, bisa di dengar langsung, live…
Firman Injil, “dereng tau krungu jarene”, namun pesan kejernihan kasih utuh terpancar dari dua bola matanya…
teruntuk Keenan, Ocha, Jovita, Li Ing dan semua malaikat-malaikat cilik yang lain
salam sayang…dari bibimu-sang penyair pinggiran,hehe…manaaa narjimu cing;)
dhira said,
June 9, 2007 at 9:32 pm
membaca tulisan dee di petir,tentang ibu sati dan air”agama”,very inspiring.
based on what kind of idea?
thx
dhira