December 9th, 2006 at 6:06 am (Fiksi)
Peluk
Ada keanehan yang menyembul keluar dan kini menguasai pikiranku, yang membuat aku berjarak dengan diriku sendiri dan memunculkan satu tanya: mengapa kulakukan ini? Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya. Itukah yang dinamakan firasat? Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin pisah dengan diri sendiri?
Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua. Terkadang kita memang harus berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cinta.
Sedari tadi kamu seperti orang kesakitan, merangkul erat badanmu sendiri dengan mulut terkatup rapat dan rahang mengencang. Aku ingin bilang, aku paham kenapa kamu sakit. Namun tak sepatah katapun keluar. Aku ingin bilang, aku sakit melihat kamu sakit. Namun bungkusan udara ini memberangus mulut kita berdua.
Mengapa kata-kata justru hilang pada saat seperti ini? Saat kulihat kamu butuh penghiburan, nasehat bijak, atau humor segar agar kesedihan ini beroleh penawar? Kemampuan kita berkata-kata menguap. Kemampuanku melucu lenyap. Kebisuan menjadi hadiah kebersamaan kita bertahun-tahun. Aku ingin bilang, berbarengan dengan makin pilunya hati ini, ada keindahan yang kurasakan, dan aku tak mengerti mengapa bisa demikian.
Pandangan mata kita yang sedari tadi berlari-lari mulai berani menemukan satu sama lain. Rasanya kita sama-sama tahu, entah kapan lagi tatapan seperti ini terjalin. Tak mungkin kulupa caramu memandangku, dan tak mungkin kau lupa bagaimana semua ini bermula. Aneh. Pada saat kita hendak berbalik dan menutup pintu, mendadak ruang yang kita tinggalkan memunculkan keindahan yang selama ini entah bersembunyi di mana.
Tanganmu bergerak bimbang seperti ingin meraih tanganku, tapi kau urungkan niat itu. Dua manusia yang sudah bercinta bertahun-tahun dan merasakan setiap jengkal kulit masing-masing, mendadak enggan untuk bersentuhan.
‘Habis ini, lalu apa? Kamu sendirian. Aku sendirian. Buat apa? Kenapa kita tidak berdua lagi saja?’
Suaramu pertama dalam setengah jam terakhir.
Mulutku refleks membuka, ingin menjawab. Tapi tak ada bunyi keluar selain tiupan karbondioksida. Aku tak tahu jawabannya. Aku tidak tahu sesudah ini lantas terjadi apa. Aku tidak tahu kenapa dua manusia yang saling sayang harus kembali berjalan sendiri-sendiri.
Namun kurasa hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Jika malam ini kita memutuskan untuk terus bersama, itu karena kita tidak tahu bagaimana menangani kesendirian. Aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. Kau tidak layak untuk itu. Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukannya ketakutan akan sepi.
‘Apa artinya ‘cinta yang tidak lagi sama’ yang kamu sebut-sebut sejak tadi itu? Memang cinta itu ada berapa macam?’ tanyamu dengan nada meninggi. Air mata yang tadi sudah reda tampak siap-siap melancarkan serangan lanjutan. Entah berapa gelontor lagi yang bakal tiba. Mendadak aku lelah karena harus menjelaskan variasi cinta macam pedagang yang mempresentasikan katalog produk.
Aku tidak tahu cinta punya berapa macam varian. Kau harus bertanya langsung pada hatiku, karena dialah yang satu hari menutup dan berkata: ‘cukup.’ Dia yang berkata: ‘aku tidak lagi jatuh, jalan ini sudah jadi jalan lurus. Teruskan maka aku mati, karena takdirku adalah jatuh. Bukan berjalan di setapak datar apalagi mendaki.’
Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu? Aku pun tak tahu. Barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. Barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia-sia menyalahkan siapa-siapa.
Aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati. Aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama-sama bergerak. Sebelum kita terlalu jengah dan akhirnya pisah dalam amarah.
Jadi, aku tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. Yang kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih dari siapapun yang kutahu. Kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat hujan. Aku aman. Namun aku mengerontang kekeringan. Dan kini kutersadar, aku butuh hujan itu. Lebih dari apapun.
‘Kamu akan menyesal…’ gumammu lagi.
Mungkin. Kini kita tak mungkin tahu.
‘Enam tahun. Kita akan buang enam tahun itu begitu saja?’ Retoris dan getir, kamu bertanya.
Kamu bukan tisu sekali pakai. Kita tidak mungkin membuang apapun jika kita percaya hati bukan diperuntukkan untuk menyimpan. Otakku merekam dan menyimpan kamu, kita, dan enam tahun ini. Hati tidak pernah menyimpan apa-apa. Ia menyalurkan segalanya. Mengalir, hanya mengalir. Namun kata-kata membeku di ujung mulutku seperti stalaktit dan stalagmit. Tampak dinamis dalam konsep tapi tak bergerak.
‘Ngomong, dong!’ Tiba-tiba suaramu meledak murka.
Bentakanmu seperti aba-aba perwira yang menggerakkan kedua tanganku untuk tahu-tahu merengkuhmu. Refleks yang tak kusangka akan muncul.
Tubuhmu berontak. Kurasakan amarahmu, sakitmu. Kupererat rengkuhanku. Tanganmu meronta, berusaha melepaskan diri. Wajahmu kau tarik menjauh. Segala macam cara kau kerahkan untuk bebas dari pelukanku. Namun aku bertahan.
Rasakan, bisikku dalam hati. Panas tubuh kita berdua mencairkan apa yang sudah beku bertahun-tahun. Rasakan betapa lamanya kita terlelap dan membiarkan aliran itu padam. Begitu terbiasa kita memandangi taring-taring es itu hingga menjadi layaknya aksesoris ruangan, padahal kita sudah mau mati kedinginan, kekeringan. Kamu tak layak didera. Kita tak layak disiksa.
Berangsur, tubuhmu tenang. Otot-ototmu yang tegang mulai melemas, lelah meronta, dan lunglai pasrah dalam pelukanku. Kau mulai menangis. Aku mulai menangis. Lenganmu perlahan mendaki dan balik mendekapku. Kita resmi berpelukan.
Cukup lama tubuh kita terpaut hingga kata-kata yang menggantung beku mulai cair dan mengalir ke dalam darah kita masing-masing. Hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Nadi kita mendenyutkan pesan-pesan yang tahunan sudah menanti untuk bersuara. Inilah keindahan yang kumaksud. Kejujuran tanpa suara yang tak menyisakan ruang untuk dusta. Sakit ini tak terobati dan bukan untuk diobati. Dan itu jugalah keindahan yang kumaksud. Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.
Hati-hati, lenganku melonggar, melepaskan tubuhmu. Aku tahu aku telah dimengerti, meski sekali saja pelukanku.
Aliran ini memecah. Indah. Meski aku berbalik pergi dan tak kembali.
* Cerpen ini adalah salah satu cerita dalam proyek saya berikut: Recto|Verso. Dicipta berdasarkan lagu berjudul sama yang pernah dinyanyikan oleh Shanty. Akan dimuat di majalah HAI dalam waktu dekat.
SN Hakim said,
December 10, 2006 at 6:28 pm
Kebalkan saya SN Hakim, seorang pria yang baru dan sedang belajar menulis.
Cerpenmu “peluk” mengalir cepat seperti meteor. Apakah begitu juga dengan ide-ide Mba Dewi dalam setiap menuangkan ide-ide dalam tulisanmu?
Apakah proses berfikir seorang penulis mesti berhubungan dengan pengalaman hidup? Atau sekedar membuat “permainan rasa” yang tertata cantik dalam kemampuan berbahasa? Ataukah ada jurus lain?
konnyaku said,
December 12, 2006 at 10:29 pm
T_T
thanks goodness there isnt any no crying policies at the office.
always love your writings
fahmi said,
December 21, 2006 at 8:11 pm
Yes. Life is dream. Sekarang saya hanya ingin tidur … tenang
chindy said,
December 26, 2006 at 2:09 am
Semalam Sherly bercerita, putri temannya Zaiya (2,5thn) punya kebiasaan jerit selengking-lengkingnya tapi tidak pernah lama, paling cuma 3-4menit. Bila wajahnya sudah nempel di dada atau pundak ibunya, seketika itu juga tangisnya reda, wajahnya akan diusap-usap di sana. Pernah Zaiya, saat nangis, dalam sela isaknya dia berkata,”Bundaaa, Zayaa cinta Bunda..Bunda… cinta itu apa?” Spontan semua gerr mendengarnya…cah cilik iki gemesin tenin;)
Cinta itu apa? Hmm…ehm…hmm lagi…hehe, maksudmu apa sih cing…Cinta? Opung temen saya bilang puncak nikmat dunia, ya saat kalian kawin kelak…hmm, rasane idem dengan apa yang dituangkan Plato dalam karyanya Symposium. Cinta ada 2, Cinta birahi, puncaknya lestarinya keturunan dan cinta antara guru dan murid yang puncaknya adalah lestarinya kebijaksanaan.
Gerak hati manusia umumnya bergerak dalam dua jalur ini. Mau ikut yang mana monggoo. Ada yang sudah berada pada tepian cinta platonik..cinta yang telah melangkah jauh meninggalkan cinta birahi. Seks tawar baginya. Cintanya telah mengembang sedemikian rupa bak diberi fermipan, cintanya merembes kemana-mana. Bukan obral cinta lo! Tapi telah menjadi cinta itu sendiri, telah satu dalam semua. cinta yang altruis. Naifkah ulasan ini? Tentu tidak sobat, seorang sahabat kecil kita yang lain, Vina namanya, berusia 4 tahun. Saat dikelas menggambar, Sherly meminta mereka menggambar orang-orang yang mereka cintai. Semua mulai menggambar, Sherly berkeliling mendekati mereka satu persatu mengamati apa yang mereka gambar. Saat di meja Vina, ada gambar 2 orang, satu perempuan, satu laki-laki. Itu gambar papa dan mama Vina saat ditanya namun Vina balik bertanya pada Sherly, “Bu Sherly, Vina boleh gambar mang Udin g?”boleh, jawab Sher. “klo Mpo Inah?”boleh. Andi boleh Bu? boleh sayang, jawab Sherly. Belum selesai, Vina masih tanya,”pohon kakek boleh ngga Bu?” Alhasil gambar Vina numpuk, penuh. Naluri mencinta no border, no limit, ngendon dalam diri siapa saja. Tinggal mau di expand atau tidak. Cinta yang penuh kehati-hatian, cinta yang membangun kualitas benih kemanusiaan, cinta yang tau arti sakit hingga tidak akan menyakiti, cinta yang bergerak bebas dalam naluri nurani.
chindy said,
January 6, 2007 at 2:01 am
Hari ini, selasa 2 jan 2007, bermula iseng kirim sms met taon baru ama Anin, buntut’e jadi perang doa deh,hehe..
Anin ngotot doain ben narjiku sembuh, soale mnurut’e kenarjianku wes ambrol jarum penunjuk meteran’e, kelewataaan,hehe..
Balasan saya: Eee, Ndu’ narji itu nyawa tiap penyair. ne g narji bisa mandul kreativitas’e;) perihal Narji, Reza sang terapis holistik bertutur, Cantik itu dia yang tidak akan bertanya lagi apakah dia Cantik. Dia mampu mencintai dirinya apa adanya, mengakui dirinya secara penuh, utuh. Dia juga cinta abiezz pada dirinya, mandiri, dan dicinta bukan prioritas kalaupun ada yang mencintainya, itu semata compliment, bonus. Menurutku, Karena cinta dalam dirinya wes keba’ turah tumpah sampe luber kemana-mana, alias tak kekurangan cinta. Baginya mencinta tak bocor, tak tekor bila tanpa pamrih. Mencinta tanpa nuntut dicinta karena dengan mencinta pasti dicinta, ceilee..
radith pratama said,
January 25, 2009 at 4:34 am
cinta,, sebuah kata yang dapat di mengeri meski tanpa bunyi tanpa huruf dan tanpa kata – kata…
mbak dee.. keren… aku suka lagu n cerpenya “peluk”
na_ said,
February 19, 2009 at 11:10 pm
TWO THUMBS UP ! !