Cinta Tak Bertuan
(Published – Pikiran Rakyat)

Sepanjang hidup, kita seolah tak berhenti berusaha menaklukkan cinta. Cinta harus satu, cinta tak boleh dua, cinta maksimal empat, dan seterusnya. Jika cinta matematis, pada angka berapakah ia pas dan pada angka berapakah ia bablas? Dan kita tak putus merumuskan cinta, padahal mungkin saja cinta yang merumuskan kita semua. Infinit merangkul yang finit.

Hidup berpasangan katanya sesuai dengan alam, seperti buaya yang hidup monogami tapi ironisnya malah menjadi ikon ketidaksetiaan. Namun terkadang kita melihat seekor jantan mengasuh sekian banyak betina sekaligus, berparade seperti rombongan sirkus. Dan itu pun ada di alam. Lalu ke mana manusia harus bercermin?

Sebagaimana semua terpecah menjadi dua kutub dalam alam dualitas ini, terpecahlah mereka yang percaya cinta multipel pastilah sakit dan khianat dengan mereka yang percaya cinta bisa dibagi selama bijak dan bajik. Yang satu bicara hukum publik dan nurani, yang satu bicara hukum agama dan kisah hidup Nabi. Yang satu mengusung komisi anti itu-ini, yang satu menghadiahi piala poligami.

Merupakan tantangan setiap kita untuk meniti tali keseimbangan antara intuisi individu dan konsensus sosial. Sukar bagi kita untuk menentukan dasar neraca yang mensponsori segala pertimbangan kita: apakah ini urusan salah dan benar, atau sebetulnya cocok dan tak cocok? Jika urusannya yang pertama, selamanya kita terjebak dalam debat kusir karena setiap orang akan merasa yang paling benar. Jika urusannya yang kedua, masalah akan lebih cepat selesai. Kecocokan saya bukan berarti kecocokan Anda, dan sebaliknya. Namun seperti yang kita amati dan alami, lebih sering kita memilih yang pertama agar berputar dalam debat yang tak kunjung selesai.

Semalam, saya menerima sms massal yang mengatasnamakan ibu-ibu seluruh Indonesia yang mengungkapkan kekecewaannya pada seorang tokoh yang berpoligami. Pada malam yang sama, sahabat saya menelepon dan kami mengobrolkan konsep poliamori (hubungan cinta lebih dari satu). Alhasil, saya terbawa untuk merenungi beberapa hal sekaligus.

Pertama, orang yang kita kenal sebatas persona memang hanya kita miliki personanya saja. Persona adalah lapisan informasi paling rapuh, pengenalan paling dangkal, dan oleh karena itu paling cepat musnah. Orang yang tidak kita kenal paling gampang untuk dijustifikasi ketimbang orang yang kita kenal dekat.

Kedua, apakah monogami-poligami dan monoamori-poliamori ini adalah sekat-sekat tegas yang menentangkan nurani vs ego dan setia vs ‘buaya’? Mungkinkah dikotomi itu sesungguhnya proses cair yang senantiasa berubah sesuai tahapan yang dijalani seseorang, ketimbang karakteristik baku yang harus dipilih atau distigmakan sekali seumur hidup?

Sungguh tidak mudah menjadi seseorang yang personanya diklaim sebagai milik umat banyak. Persona seperti secabik tisu yang dengan mudah dienyahkan, diganti dengan tisu baru lainnya yang dianggap lebih bagus dan benar. Banyak dari kita bermimpi dan berjuang mati-matian agar secabik diri kita dimiliki banyak orang. Hidup demikian memang sepintas menyenangkan dan menguntungkan, meski konsekuensinya titian tali yang kita jalani semakin tipis. Ilmu keseimbangan kita harus terus diperdalam. Tali itu harus dijalani ekstra hati-hati.

Tidak mudah juga menjadi seseorang yang sangat teguh berpegang pada persona orang lain, pada mereka yang dianggap tokoh, teladan, panutan. Status selebriti bisa ada karena persona yang dipabrikasi massal lewat media lalu ‘selebaran’-nya menjumpai kita, dan kita pungut. Kita mengoleksi persona mereka seperti pemungut selebaran. Terkadang kita lupa, pengenalan dan pemahaman kita hanya sebatas iklan yang tertera. Oleh karenanya justifikasi yang kita lakukan seringnya bagai memecah air dengan batu; sementara dan percuma saja. Tak terasa efeknya bagi hidup kita, tak juga bagi hidup yang bersangkutan.

Kita yang kecewa barangkali bukan karena cinta telah diduakan. Cinta tak bertuan. Kitalah abdi-abdi cinta, mengalir dalam arusnya. Persepsi kitalah yang telah diduakan. Lalu kita merasa sakit, kita merasa dikhianati. Namun tengoklah apa yang sungguh-sungguh kita pegang selama ini. Perlukah kita ikut berteriak jika yang kita punya hanyalah selebarannya saja, bukan barangnya? Barangkali ini momen tepat untuk mengevaluasi aneka selebaran yang telah kita kumpulkan dan kita percayai mati-matian. Betapa seringnya kita hanyut dalam kecewa, padahal persepsi kitalah yang dikecewakan. Betapa seringnya kita menyalahkan pihak lain, padahal ketakberdayaan kita sendirilah yang ingin kita salahkan.

Apapun persepsi kita atas cinta, tak ada salahnya bersiap untuk senantiasa berubah. Jika hidup ini cair maka wadah hanyalah cara kita untuk memahami yang tak terpahami. Banyak cara untuk mewadahi air, finit mencoba merangkul infinit, tapi wadah bukan segalanya. Pelajaran yang dikandungnyalah yang tak berbatas dan selamanya tak bertuan, yang satu saat menghanyutkan dan melumerkan carik-carik selebaran yang kita puja. Siap tak siap, rela tak rela.

39 Comments

  1. Anonymous said,

    December 20, 2006 at 3:14 am

    Semuanya bergantung pada satu kata : PERSEPSI.
    Kata si anu : nabi itu harus sifatnya begini-begini dan tidak begitu-begitu. Apa betul ?, lha kata si polan ; nabi itu sifatnya begitu-begitu dan tidak begini-begini !.
    Terkaget-kagetlah orang ketika tokoh yang dipersepsikan setia pada monogami ternyata berpoligami.
    Sama kagetnya seperti saudara-saudaraku dari Pemuda Parisadha ketika menemukan buku dengan lambang “Omkara” gede, ternyata lho penulisnya kok bukan Ida Ayu Dewi Lestari tapi Dewi Lestari….Simangunsong.
    Saya tidak mau banyak komentar masalah poligami-monogami ini, karena di luar kompetensi saya, cuma ada kisah menarik dari dua orang Founding Fathers Republik kita, yaitu Bung Karno dan Bung Natsir.
    Bung Karno yang amat karismatik dalam semua wacananya selalu menentang poligami, sedangkan Bung Natsir mendukung kebebasan berpoligami.
    Namun kita tahu bahwa Bung Karno adalah sebuah “contoh soal” poligami yang nyaris sempurna.
    Dan Bung Natsir ?, sampai akhir hayatnya sang tokoh Masyumi ini hanya didampingi oleh satu istri.

    kapitaen999

  2. ganda said,

    December 21, 2006 at 1:04 am

    berkaca dari kesuksesan batagor re(p)ormasi, kalau media jeli seharusnya mereka mulai meracik acara dengan judul Manajemen Syahwat atau Manajemen Cinta (?)

  3. Anonymous said,

    December 21, 2006 at 10:44 am

    Terlalu mudah berlindung di balik kata cinta, karena cinta terlalu banyak konotasi. Dari gejala neurosis sampai sekedar urusan syahwat, cinta memang mudah dipakai sebagai tameng. Dan apakah kamu yakin, kalau orang berdebat berbusa soal poligami atau poliamori, bahwa mereka sedang membicarakan cinta? Saya tidak.

  4. isma (miss.isma@yahoo.com) said,

    December 31, 2006 at 4:05 am

    Dee..saya minta maaf..ini bukan comment untuk tulisan anda yang terakhir..tapi permintaan saya, Isma Noor Anggraeni, mahasiswi Jurnalistik Fikom Unisba yang tempo hari meminta izin wawancara, untuk mengecek e-mail dari saya (kepada dee_addict@yahoo.com) yang berisi daftar pertanyaan untuk skripsi saya.
    tolong ya dee..saya udah ketinggalan satu jadwal sidang..bulan januari is my last chance untuk bisa wisuda bulan februari.

    please..

    thank u

  5. fahmi said,

    January 6, 2007 at 3:47 am

    Hola, Dee. Cover Art buku-buku Dee saya publish di blog ini. Just in case ada yang pengen tau ‘Behind The Scene’ Dee Book Design. Check it out.

  6. ve said,

    January 10, 2007 at 9:18 pm

    kasian bgt ma sang istri yang kayanya “mau gak mau” harus MAU krn memang pilihan dia selama ini utk menjadi tokoh idola atau panutan.. hidup ini penuh dengan pilihan, dan dia memilih untuk sepeti itu… balik ke persoalan perasaan cinta atau adil, itu pun bisa ada beberapa pilihan.. mau segimana kadarnya dan idealnya seperti apa… so?….

  7. evy susanti said,

    January 20, 2007 at 11:30 pm

    Mind your own business
    Ini bukan berarti tak peduli lho..tapi melihat apa yang belum dilakuin dan melihat apa yang sudah dilakukan “diri sendiri” biar mulut ini tidak terlalu bawel mengurus masalah orang.
    Tokoh yang poligami said mulai dari diri sendiri. Nah ini aku setuju.

    Cinta lebih dari untuk si A dan si B untuk si A dan atau si B adalah pesona.

  8. lodzi said,

    February 17, 2007 at 11:32 am

    hallow..Dee. aq bc bbrp crpen km. salute! cool writer. kalo boleh usul, sbaiknya blog km lbh dipermak dikit biar agak lbh mnarik. kasih kotak pesan kek biar ada ruang komunikasi ma penggemar hehe. skaligus testi kan gpp. aq jg kasih tau blog ini ma mbak Ratna (Ratna Indraswari Ibrahim-cerpenis perempuan Malang, aq msh benahin blognya: http://www.ratna-indraswari-ibrahim.blogspot.com. dia baca dan suka…

    thanks. maen jg ke blogq http://www.infectionary.blogspot.com

  9. Danau said,

    February 22, 2007 at 11:44 pm

    Dear Ibu Dewi Lestari (or shall I call you Dee?),
    Nama saya Danau, seorang pengajar bahasa (lecturer) dari University of Western Australia (UWA) di Perth. Kami ingin sekali memakai Supernova (first episode) sebagai textbook salah satu kursus bahasa Indonesia (tingkat tinggi) di UWA karena remaja Australia juga asyik membacanya. Tetapi setelah kami cari-cari di Jakarta, ternyata bukunya sudah out of print. Saya sedang mencoba contact penerbit Ibu tetapi semua nomor telp yang saya dapatkan membawa saya ke dead end. If you are reading this, could you please please kindly contact me and as I would really like to purchase copies of your book asap because the semester starts on Monday Feb 26? I would be truly grateful because we would really like to use your book. My email is danau@arts.uwa.edu.au Thank you very much.
    Danau

  10. Tanty said,

    March 4, 2007 at 8:53 pm

    Manusia secara sadar maupun tidak selalu berusaha mendefinisikan cinta.
    Makna cinta yang umum bagi yang sedang bercinta adalah kamu hanya untukku dan sebaliknya.

    Cinta adalah egois dan harus memiliki. Aku akan berjuang untuk memiliki dia hingga tetes darah penghabisan.

    Hanya inikah makna cinta? Jika cinta hanya untuk satu orang atau menurut Mba Dewi, Persona, maka jika kita mencintai alam semesta ini, bisa dianggap penyelewengan.

    Namun saya percaya pada unconditional love (terdengar sangat melankolis memang), bahwa mencintai dapat dilakukan tanpa memiliki. Karena itu, kita dapat sebanyak-banyaknya mencintai.

    Kita dapat mencintai alam tanpa harus memilikinya, kita dapat mencintai makhluk-makhluk di alam tanpa harus mengurungnya di kandang dengan alasan saya mencintainya maka saya harus memilikinya.

    Kita dapat mencintai seseorang dan mencintai orang lain lagi tanpa dicap sebagai perselingkuhan, karena kita tidak perlu mencap seseorang sebagai milik kita. Easy to say not easy to do, karena kita terlalu terpaku dengan cinta seharusnya diberikan pada satu orang saja.

  11. soin said,

    March 13, 2007 at 5:08 am

    mbak dewi, saya soin, teman chindy tandjung yang dari jogja. saya ngefans banget ama mbak dewi. saya jatuh cinta ama mbak ketika membaca buku filosofi kopi. saya mau permisi ama mbak dewi untuk memuat beberapa artikel mbak dewi ke mading VHR. artikel seperti vegetus libertas dan yang lain.

    oh iya, jika tidak keberatan, visit my blog di
    blog.360.yahoo.com/zhang_charming
    dan kasih comment yah
    makasih. I love Dewi”Dee”Lestari
    from your fans

  12. Anonymous said,

    March 13, 2007 at 5:12 am

    haloo dee
    saya fans berat kamu. saya jatuh cinta ama kamu sejak membaca filosofi kopi. saya temannya mbak chindy tandjung yang dari jogja.
    oh, iya saya mau permisi mau muatin beberapa tulisan dee seperti vegetus libertas di mading VHR.
    kalo tidak keberatan, pliz visit my blog di
    blog.360.yahoo.com/zhang_charming
    thanks
    from your fans
    i love you

  13. Anonymous said,

    March 13, 2007 at 5:14 am

    haloo dee
    saya fans berat kamu. saya jatuh cinta ama kamu sejak membaca filosofi kopi. saya temannya mbak chindy tandjung yang dari jogja.
    oh, iya saya mau permisi mau muatin beberapa tulisan dee seperti vegetus libertas di mading VHR.
    kalo tidak keberatan, pliz visit my blog di
    blog.360.yahoo.com/zhang_charming
    thanks
    from your fans

  14. aRdho Saja said,

    March 26, 2007 at 8:55 am

    halo dee..

    *cuman mau nyapa doank*

    salam kenal.. :D

  15. chindy said,

    March 30, 2007 at 7:53 am

    where did the feeling go?
    the feeling that we used to show…
    penggalan lirik lagu air supply, gugatan sepanjang jaman para pencari, perumus dan pengais cinta..kala cinta divonis berpaling, berlalu, mendua..
    cinta,
    seberapa pekat kadar gelora, seberapa elastis batasmu
    seberapa banyak kriteris tuk
    merujuk eksistensimu,
    bahwa sang cinta
    masih ada

  16. chindy said,

    April 6, 2007 at 7:36 am

    Dee yang baik,
    Detik ini saya sampai pada titik kelana pikir,’kita semua berada dalam level yang sama, sejajar’ salah maupun benar siapa yang berhak memegang dan membaca neracanya?
    level pemahaman, sedetik LALU saya berpikir kita sedang berjalan nanjak. Ada yang sudah keburu di atas, ada yang masih di bawah, ada yang betah ditempat yang sama. Tapi kok ada yang ganjel, karena dengan demikian tetap ada diskriminasi, penjatuhan penilaian, ada yang lebih rendah dan ada yang lebih tinggi level kesadarannya.
    Bagaimana jika pemahaman kita letakkan dalam garis horisontal bukan vertikal. Kalo vertikal ibarat naik anak tangga, dan horisontal ibarat berada di jungkat-jungkit(toyang-toyang dalam bahasa Kendari,saya asli dari sini Dee;)
    Berada di atas jungkat-jungkit, semua duduk sejajar tapi kudu jeli baca situasi kalo tidak mau ta’tongkang, jemplang, jatuhin orang lain atau diri sendiri.
    Wedeew! Belit-belit nian seh..maksud saya, pemahaman apa pun yang kita anut sah saja, sejauh tidak berada titik yang melecehkan, melukai, kemanusiaan. Mengundang martabat manusia sebagai neraca memang tetap relatif, tapi bagi saya adalah pilihan yang paling objektif.
    Maaf untuk penilaian yang pernah saya jatuhkan pada;
    ‘fenomena anak di sekolahin metode dekek religi tertentu’
    ‘fenomena pantang KB yang salah satu konsekuensinya kontrol kelahiran bablas’
    Saya pikir, termasuk masalah poligami sudut pandang yang ditawarkan Dee, menurut saya PADEPU’-JITU. Kerangka ‘cocok’ mungkin kostum yang pas untuk menilai fenomena cinta tak bertuan ini. Cocok untuk saya belum tentu cocok untuk Anda.
    Bravo Dee!
    Kaca matamu jeli nian;)
    Dee, adalah salah seorang manusia ‘padepu-jitu’ yang kungfunya terasah memilah realitas. Mana yang sudah saatnya disisihkan mana yang layak digugu.

  17. globalizacktion said,

    April 9, 2007 at 5:16 pm

    Great book, great person and great you!!!

  18. ceniQ said,

    April 13, 2007 at 12:39 am

    Saat saya tahu bahwa, nanti, mati pun sendiri.. Saya menjadi tidak paham lagi tentang eksistensi saya dan pasangan dan bahkan segala yang saya (terlalu cintai).. Konon, Tuhan adalah Maha Pencemburu mbak Dee, tapii, pengalaman sayaa, perasaan saat bercinta itu membuat kita susah untuk berpikir. Boro-boro mikirin yang cemburu, kita aja kadaang dah empet ngejalanin. Entah satu cinta, dua dan empat cinta yang maksimal katanya pun, terasa ganjil.. Lantas, kemana cinta ini akan mampir dan disudahi.. Kalo tidak boleh disudahi, akan timbul sesuatu yang berlebih.. padahal, cape-cape ngurusin, ngarepin, nanti toh bakalan mati!!!

  19. Ina Bali said,

    July 13, 2007 at 7:17 pm

    Hi Dee,

    I read some of your posting with regard your journey through meditation. Thought you will be interested to use your new spiritual empowerment to contribute to the healing of our world. (check it before the 17 of July 2007)

    http://www.firethegrid.org/eng/home-fr-eng.htm

    I copied the lyric of one of the song they use for this blog. The artist create beautiful music for meditation. I just love the lyric :
    Be Still Thy Soul

    Music & Lyrics by Bradfield

    Be still thy soul
    Relinquish this hold
    Make thee again whole
    Be still thy mind
    Let thee unwind
    And seek out a shrine

    Harvest the gold
    That’s planted around you
    Strand by strand
    You’ll be somewhat more certain
    Carve out your role
    And reach for the heavens
    All you can dream
    What you can be
    Know that the sky will deliver

    Bestir thy heart
    With journeys afar
    And rivers of stars
    Bestow thy love
    On all that ye touch
    On all that ye may

    Hence, let it be told
    That rhyme will be reason
    Paint your world
    With shades that will uplift you
    And break, break from the mold
    Shake off the illusions
    Never again lost in dismay
    All that you need is within you

    Be still thy soul
    And fix on the goal
    Thy tale will be told
    Be still thy mind
    Make thee one
    With the source of life.

    ©2002 Nurtured Spontaneity Publishing (SOCAN)
    All rights reserved. Lyrics reprinted with permission.

    You may have encountered something like this. But, through my personal journey, I have experienced this more and more and heard from different individuals, friends, wise people of the world, books and normal daily life happenings, there are lights and power that try to reach out to us to help ourselves. Looking at your being and your potential, I thought you would be a great contributor. As Deepak Chopra said, it is no longer the survival of the fittest but the wisest.

    The accumulative lights that are created by meditation practitioner, prayers, contemplator, well wishers have reached its tipping point that will be usefull for others and not just for their personal endeavour.
    Unless, something else will naturally burst it.

    On another note, I admire your ability to become the person, the way you really are who you are and not being consumed by the society around you. And blessed to have all those tallents and use them to experience life, to grow and contribute. To recognise there is a religion by birth, sometime also by marriage and then by choice.

    Wishing you well in your growth of being a mother and a partner of your spouse. In your journey of raising a child protect him from the rules and misconceptions of how one should be but letting him find and to be who he is without being afraid of offending anybody.
    Being able to define your role and see the difference when you act to fulfill your own need or your son’s need as he grows.

    Salam kenal,
    Ina Bali

  20. Dewi Lestari said,

    July 15, 2007 at 2:02 am

    Salam kenal juga untuk Ina.
    Thank you for such a lovely sharing. It is a beautiful lyric indeed.

    ~ D ~

  21. Anonymous said,

    September 15, 2007 at 8:38 am

    Mba Dee,,,udah lama banget saya cari taw gmn caranya bsa contact mba Dee,,FINALY!!!
    saya kagum sekali dengan Mba Dee,,,
    karna buku FILOSOFI KOPI sya benar2 jatuh cinta kepada 2 hal: KOPI dan FILOSOFI,,,,
    karna buku SUPERNOVA saya mendapatkan pencerahan tentang hidup,,tentang satu makna yang tak bisa dijelaskan dengan kata2,,,
    saya sangat berterima kasih karena mba dee telah memberikan say inspirasi,,,kalo boleh saya ingin bisa terus contact dengan mba Dee,,,oh ya saya juga maw minta izin untuk menjadikan mba Dee sebagai “MY HERO”(tugas sekolah saya,,karna mba Dee telah menjadi inspirator saya,,,

    terima kasih,,

    salam,
    DHIRA

  22. Dewi Lestari said,

    September 15, 2007 at 9:54 pm

    Hai Dhira,

    Terima kasih sekali untuk kunjungannya ke blog ini, dan semuanya juga yang belum sempat saya sapa. Saya nggak tahu bisa bantu apa untuk tugas sekolah kamu itu, tapi jika dibutuhkan korespondensi, kamu bisa kirim e-mail ke dee_addict@yahoo.com

    Regards,

    ~ D ~

  23. iegha said,

    February 13, 2008 at 1:24 am

    alot of people including me looking for the lyrics of Simply by Dee…

    Can you please write it for us?,,,

    Thanks :)

    Regards,
    iegha

  24. dwiagutriani said,

    May 12, 2008 at 8:30 pm

    mbak dee…aku membaca lagi kestria, putri, dan bintang jatuh. aku selalu hanyut dalam kisahmu…salut

  25. guido said,

    July 9, 2008 at 9:35 pm

    Dear Ibu Dewi,

    my name is guido, i am the Spiritual program coordinator of Potowa Center in Jakarta, an affiliation of FPMT (Foundation for the Preservation of the Mahayana Tradition), under the loving compassionate guidance of Lama Zopa Rinpoche.

    i heard that you were greatly interested in the buddhist spiritual tradition. i have some teachings in MP3 and books i’d like to give to you.

    Boleh minta alamat kantor/ rumahmu?

    Salam hangat,

    g.

  26. Andra said,

    November 11, 2008 at 11:00 pm

    Nagodang hatam itonan, Imajinasi dalam berpikir bisa tapi imajinasi dalam perbuatan dalam relasi sosial berakibat pada pengakuan yang tidak benar atau malah seperti manusia bertindak sebagai malaikat tanpa sayap…. Jatuh deh… sakit….

  27. arini yang hijau said,

    November 18, 2008 at 11:48 pm

    mba dee..
    barusan aku liat mba di tipi..
    aku ingin bisa menulis, dan dunia menjadi hijau.
    video clip terbaru mba keren!

  28. ree said,

    December 15, 2008 at 3:46 am

    dear mbak dee,,,
    satu kata “spektakuler”buat karya-karya mbak…
    dulu ku pikir supernova hanya karya biasa sebab stereotype bahwa artis aji mumpung
    Namun mbak dee mencuciotakku dan akhirnya 4 jempol untukmu….
    terima kasih untuk karya yang menyejukkan jiwa dan mengisi dunia dengan kejujuran lewat kata-kata…….luv u

  29. H-Nif said,

    December 16, 2008 at 12:50 am

    Dee….
    Keren… Rectoversonya… Supernovanya….
    menginspirasi..
    tp mw tny kalo cari buku supernova: ksatria putri bintang jatuh dmn y?
    cz q cari2 dmn y?
    tlng kalo ad yg tw toko buku d jogja yg jual d mana ksh tw y… d
    rha-nief298@yahoo.co.id . Thx bgd…

    btw supernova: partikel kapan keluar mbak?

  30. riki the bodhi said,

    December 20, 2008 at 6:43 am

    supernova…imajinasi dlm imajinasi
    supernova…pkiran yg brfikir
    supernova…khyalan yg brhayal

    adakah kata yg lbh hebat drpd luar biasa.??!!!!

    haLLOWwww tante……
    tante great dee tuh n9rsa cpek ga sih dah lari2 dlm pkiran aQ?

  31. tika said,

    December 28, 2008 at 6:14 pm

    mba dee..aku suka banget karya2x mba..kemaren beli rectoverso..tapi halamannya banyak yang ilang mba…aku bisa tuker ga yah mba? kira2x dimana yah mba? apa emang dah nasib kalo ga bisa tuker…hiks hiks hiks

  32. arie said,

    January 4, 2009 at 8:51 am

    ur the best!

  33. justdi said,

    January 4, 2009 at 10:41 pm

    its just amazing..
    ketika kata dapat menjelma menjadi aksara penuh warna
    dan aku merasakannya,
    sewaktu terlena dalam keping buku yang kau cipta
    thanks..you’re so inspiring..

  34. Lia said,

    January 5, 2009 at 1:14 am

    Dee..adikku mau ngadain acara di kampus. Dan salah satu nominasi yang akan diundang adalah Dee. Boleh nggak tahu CP kamu? Tks a lot..

  35. Galilea said,

    January 11, 2009 at 12:55 am

    Cinta terlalu luas untuk dijelaskan. semoga cinta-cinta yang kita miliki bukan CINTA PEMBODOHAN. Cinta-cinta yang terlihat bodoh, begitu sempit pada hubungan pria dan wanita. Meski saya sering tertawa (bukan menertawai) membaca karya Kahlil Gibran tentang cinta pria wanita, dia punya idea cinta yang lebih luas di kepalanya!
    Saya hanya sedang muak dengan opera-opera cinta pembodohan di televisi. Saya lebih khawatir lagi kalau itu ditiru!
    Untuk Dee…saya tertarik dengan kisah-kisah cinta dalam karyamu.^_^

  36. vivin said,

    January 11, 2009 at 1:24 am

    mba dee,jgn pnh b’henti b’karya y..always be people’s inpiration..smangt:)

  37. abbas said,

    January 17, 2009 at 8:53 am

    waduh karya yang bagus, jadi bingung liatnya, tapi tolong kasih komentar di blog ku gimana karyaku, jangan lupa koreksi semuanya yaaa, met suksses karya 2 bangsaku ini, good night

  38. nasrul said,

    January 25, 2009 at 10:58 pm

    Saya mulai menyukai karya kamu sejak membaca semua seri supernova. Ruaar biasa. Disitu saya menjumpai sisi romantis, filosofis sekaligus humoris dari seorang Dewi Lestari. Dulu, saya pernah jadi wartawan. di minggu pertama saya banyak sekali dapat omelan dari redaktur saya perihal kurang banyaknya berita yang saya tulis. (saya tidak punya latar belakang jurnalistik atau lulusan dari fakultas sastra). seorang teman akhirnya memberi tahu saya untuk bisa mengembangkan materi berita supaya bisa jadi berlembar-lembar halaman. Dari sarannya itulah akhirnya saya bisa menulis lebih banyak dari sebelumnya. Sekarang, setelah saya tidak jadi wartawan, saya menuangkan tulisan-tulisan saya melalui blog saya untuk menghilangkan rasa kangen dengan dunia tulis menulis itu. Namun, saya masih punya banyak kekurangan terutama dalam hal kualitas isi cerita. tolong kasih masukan ke tulisan saya biar saya bisa lebih baik lagi. (tulisan saya berisi berbagai hal sesuai dengan latar belakang pekerjaan yang telah saya lalui, yaitu wartawan, guru dan instruktur fitness). Smoga kita bisa saling share tentang segala hal. Good Bless U…, Dee !

  39. evy said,

    April 20, 2009 at 7:06 pm

    mbak dewi,

    saya suka dengan cerita kamu tentang cinta, kata-kata yang bagus dan indah untuk dibaca…

Post a Comment