Mengenang Sendok dan Sedotan
(Published – Pikiran Rakyat, 18 Maret 2007)

Di tengah sawah dan hotel mewah di Ubud, saat saya dan beberapa rekan penulis diminta hadir oleh UNAIDS untuk program pengenalan HIV/AIDS, saya sempat bertanya dalam hati: adakah titik balik di mana virus mematikan itu dapat menjadi akselerator kehidupan? Dan ‘hidup’ dalam konteks ini artinya bukan berapa lama kita bernapas, melainkan seberapa bermakna kita mampu memanfaatkan hidup, mortalitas yang berbatas ini?

Momen serupa saya alami ketika menghadiri peluncuran buku almarhumah Suzanna Murni, seorang aktivis HIV/AIDS yang mendirikan Yayasan Spiritia. Saya terenyak dan terhanyut membaca buku Suzanna. Pertama, karena otentisitas dan kejujurannya. Kedua, karena Suzanna adalah seorang penulis yang sangat bagus. Dan kembali saya merenung, HIV bisa jadi hadiah terindah yang didapat oleh Suzanna Murni. Dengan mengetahui keberadaan bom waktu yang dapat menyudahi hidupnya setiap saat, Suzanna menggunakan energi dan waktunya untuk membangun, membantu, dan berkarya. Sementara kebanyakan dari kita menjalani hari-hari seperti mayat hidup yang bergerak tapi mati, ada dan tiada, tanpa makna dan tujuan, tanpa menghargai keindahan dan keajaiban proses bernama hidup.

Saya lalu kembali dihubungi oleh UNAIDS untuk menjadi mentor dalam program pelatihan menulis bagi para ODHA. Dan di sinilah untuk pertama kalinya saya berinteraksi dekat dengan teman-teman ODHA. Sejujurnya, saya merasa tidak perlu mencantumkan keterangan ‘ODHA’, yang seolah-olah memagari mereka dengan saya atau dengan orang-orang lain. Sama halnya seperti saya merasa tidak perlu mengatakan ‘teman-teman leukeumia’ atau ‘teman-teman hipertensi’. ODHA pasti mati, saya yang bukan ODHA juga pasti mati. Bom waktu itu ada di mana-mana. Kematian adalah jaminan, sebuah kepastian. Caranya saja yang bervariasi, hasil akhir toh sama.

Di sebuah penginapan di Karang Setra, saya berkenalan dengan empat peserta program mentoring. Saya mengamati mereka satu per satu, yang kebetulan semuanya perempuan. Satu bertubuh kecil mungil. Dua peserta lain posturnya jauh lebih berisi ketimbang saya. Satu sedang mengandung enam bulan.

Tugas demi tugas mereka lakukan dengan cemerlang, bahkan di luar dugaan. Hanya ada satu program yang kami terpaksa batalkan: menulis di kebun binatang. Pada saat itu isu flu burung sedang santer-santernya di kota Bandung, dan demi keamanan kondisi kesehatan mereka, kami memutuskan untuk tidak pergi. Barulah saya merasakan ada restriksi itu, kondisi-kondisi khusus yang membedakan ruang gerak kami. Selebihnya, tak terasa ada perbedaan sama sekali. Di luar dari isi tulisan mereka, tidak ada kesedihan atau keputusasaan yang terungkap. Tak seperti reklame tentang ODHA yang selama ini beredar dan mengeksploitasi ketidakberdayaan, terkapar kurus kering kerontang menunggu ajal.

Saya hanya berkenalan dengan pergumulan mereka lewat apa yang mereka tulis. Dari sanalah saya mencoba memahami beragam proses yang mereka lewati dengan HIV, terutama implikasinya terhadap semua yang mereka kenal—keluarga, teman-teman, kekasih, dan seterusnya. Saat kami mengobrol langsung, yang ada hanyalah tawa. Dan saya tersadar, kekuatan itu bisa hadir karena mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. Konseling, penerangan, aktivitas, dan kebersamaan, dapat menyalakan pelita dalam diri mereka untuk menjadi kekuatan dan bukan menjadi yang terbuang.

Pada malam terakhir pelatihan, salah satu fasilitator berulang tahun dan merayakannya di restoran di Dago Pakar. Sebagaimana hari-hari mentoring, kami asyik mengudap sambil menghadap ke lembah kota yang menyala pada malam hari. Sambil mengobrol dan ketawa-ketiwi, kami mencicip-cicip makanan dan minuman satu sama lain. Hingga kami berpisah, saya kembali ke rumah, dan tiba-tiba telepon genggam saya berbunyi. Sebuah pesan masuk:

Mbak, makasih ya buat malam ini. Kami terkesan sekali Mbak mau berbagi sendok dan sedotan dengan kami karena ortu saja belum tentu mau. Terima kasih sudah menambah kepercayaan diri kami.

Lama saya terdiam, memikirkan apa gerangan yang telah saya lakukan. Momen sepanjang di restoran itu rasanya berlalu wajar-wajar saja. Lama baru saya ingat, dalam acara saling coba-cobi tadi, saya telah menghirup minuman dari gelas memakai sedotan yang mereka pakai, lalu mencicip es krim dengan sendok yang mereka pakai.

Lama saya termenung, mengenang sedotan yang sekian detik mampir di bibir saya, mengingat sendok yang sekian detik menghampiri lidah saya. Betapa hal kecil yang saya lewatkan begitu saja ternyata menjadi perbuatan besar dan berkesan di mata mereka. Dan barangkali demikian pula halnya dengan rangkaian keajaiban dalam hidup ini. Sering kita berjalan mengikuti arus tanpa sempat lagi mengamati keindahan-keindahan besar yang tersembunyi dalam hal-hal kecil yang kita lewati. Kita menanti perbuatan-perbuatan agung yang tampak megah dan melupakan bahwa dalam setiap tapak langkah ada banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu yang bermakna.

Jika saja virus itu tidak ada dalam darah mereka, perbuatan spontan saya tidak akan berarti. Saya mungkin tidak akan dikirimi pesan itu, dan saya tidak akan merenungi hal ini.

Pertanyaan saya di Ubud terjawab dengan sebuah pengalaman. Pada satu titik, virus itu telah menyentuh hidup saya. Menjadi akselerator kehidupan saya. Bukan untuk memperlama denyut jantung, tapi mengajarkan saya bahwa hidup itu amat berharga dan selalu kaya makna, andai saja kita memilih untuk mengetahuinya. Suzanna Murni tahu hal itu. Demikian pula para peserta mentoring tadi. Saya hanya berharap mereka terus mengingatnya, demikian juga kita.

Pesan singkat itu dikirim tanggal 13 Mei 2006, dan masih saya simpan hingga hari ini.

19 Comments

  1. Tanty said,

    March 19, 2007 at 10:21 pm

    How precious life is when you know you’re about to die. Benar kata Mba Dewi bahwa bagaimanapun pasti kita mati hanya saja teman-teman kita itu mungkin akan mendahului kita.

    Membaca cerita tersebut membuat saya berpikir bagaimana saya terkadang tidak bersyukur mempunyai kesehatan yang baik. Saya kerap mengeluh ketika diminta ibu saya untuk membeli sesuatu di toko sebelah, padahal saya masih punya kaki yang sehat dan kuat.

    Dengan vonis “mati” yang dijatuhkan lebih awal, ternyata teman-teman tersebut menjadi lebih menghargai hidup dan hal-hal kecil yang luput diperhatikan oleh orang “sehat”.

    Semoga kita tidak terlambat menyadari dan menghargai hidup.
    May all beings be happy.

  2. Ayu Ambarini said,

    March 20, 2007 at 10:58 pm

    Virus itu memang menyerang siapa saja dan kapan saja, gak peduli kaya atau miskin, sebaiknyalah kita manusia menyadari bahwa setiap detikpun ‘ pemangsa hidup berkeliaran dalam segala bentuk dan wujudnya.. Ironisnya banyak yang belum menyadari kekuatan virus pemangsa ini.

    Gue pernah kenal suzana murni, dia orang hebat and friends of many people, begitu tinggi semangatnya dan seakan berlomba dan terus berjuang melawan virus itu dengan semua aktivitas dan kesibukannya.

    Satu ajah mungkin yg bikin miris ketika ada beberapa oknum aktivis yg berkembang ke arah yang hanya mengejar nilai materi saja dgn memanfaatkan nama virus indah ini, semoga saja tidak banyak oknum yg spt ini.

    Rgds
    Ayu

  3. Anonymous said,

    March 24, 2007 at 2:31 pm

    dengan gaya tulisanmu yang menggugah dan menakjubkan, membuat aku cinta padamu dea,,,

    tulisanmu sungguh cerdas, mengalir dan enak untuk dibaca. Kalau disuruh memiliha antara kamu dengan Gunawan Mohammad saya lebih suka dengan bahasa tulisanmu

  4. kiki esa perdana said,

    March 25, 2007 at 10:00 am

    just like a quotes on “dead poets society”..
    “carpe diem.. seize the day..”
    and everyone will know, what life is..

  5. budi said,

    March 25, 2007 at 3:51 pm

    Beberapa waktu yang lalu seorang kawan saya mengutarakan kegundahannya karena anaknya divonis lupus(?). Saya lupa berapa waktu yang tersisa yang diberikan.

    Ha. Kita pun belum tentu hidup demikian lama. Tidak ada yang tahu kapan hidup kita akan berakhir. Siapa tahu dalam hitungan detik ke depan kita sudah sirna. Yang penting adalah hidup kita ini bermanfaat (bagi orang banyak). Bukan soal panjang atau pendeknya usia.

    – budi – http://rahard.wordpress.com

  6. Biho said,

    March 26, 2007 at 7:37 pm

    so nikmati saja hidup ini, dunia cuma panggung sandiwara.

  7. coolz said,

    March 26, 2007 at 9:03 pm

    wow, Life is beatiful isn’t it
    even virus can be beatiful if we put it in another perception…

  8. Jooliet said,

    March 27, 2007 at 5:28 pm

    Well, life is just the way it is. Sometimes you missed out those little details to look out. By the way i love all of your works, I love the way you capture the essences of life. From all the series of the Supernova until Filosofi Kopi, I like it.
    I’m waiting for the next big thing from you…

    Ciao

  9. Ray said,

    March 28, 2007 at 1:18 am

    seandainya semua bisa berbuat sebijak mbak dee.. seandainya semua juga menyadari bahwa mereka sangat berarti dan seandainya kita semua bisa mengerti…ahhh.. panjang ceritanya :)

    *nunggu buku baru*

  10. Jenny said,

    March 28, 2007 at 5:35 am

    “Aku cinta kamu, karena kita adalah cinta.”

    WOW.

    Bagus banget… dan Mbak Dee cantik banget di 4 Mata-nya Tukul semalem :)

    Filosofi Bandrek itu betul2 akan terbit, Mbak? Kapan? *gaksabar*

    Sukses selalu ya Mbak Dee :) )

  11. amanda said,

    April 3, 2007 at 2:15 am

    baca tulisan ini jadi bikin semangat untuk lebih bersyukur atas segala yang telah diberikan Tuhan kepada kita. mungkin kita sering lupa bersyukur. dan akhirnya hanya membuang-buang waktu saja. semoga kita dapat banyak belajar dari kejadian ‘kecil’ namun berharga seperti ini.

  12. ameck kECiL said,

    April 5, 2007 at 9:01 pm

    pengalaman yg menarik sekali…
    sepertinya menyenangkan…
    mampu menambah semangat kita untuk terus berjuang dalam “hidup”

    terima kasih mbak dee..

  13. ameck kECiL said,

    April 5, 2007 at 9:07 pm

    pengalaman yg menarik..
    dan juga menakjubkan..
    baca pengalaman mbak dee..
    saya jadi semangat lagi menjalani kehidupan..
    mudah2an mampu lebih berguna untuk semua pihak…

    sekali lagi terima kasih mbak dee..

  14. Anonymous said,

    April 6, 2007 at 4:22 am

    tulisan yang cerdas….
    ini kita share content ya….please open karya music ku di http://www.malang.blog.com
    artmoschestra

  15. Eva.M said,

    April 15, 2007 at 8:10 pm

    Senangnya bisa bermanfaat secara nyata bagi sesama. Tidak semua orang memiliki atau memanfaatkan kesempatan ini.

    Moga-moga berkelanjutan dan terus meningkat.

    Love and light,
    Eva

  16. Anonymous said,

    April 25, 2007 at 10:08 pm

    ketika eksistensi ada di eternal emmptiness,roh meminta utk dilahirkan ..

    ketika roh menjalani kehidupan yg indah,roh ingin belajar kehidupan yg sedih n menderita jg ..

    ketika suatu fisik terinfeksi HIV ,ingatlah satu pesanku ini wahai temen :
    sblm dilahirkan,kau yg memilih episode kelahiran hidup menderita spt yg kali ini,dan point experience penting yg hendak kau pelajari adalah “fight till the end” ..

    maka berkembanglah spiritmu ke kesadaran selanjutnya

    salam love and light.

  17. Anonymous said,

    July 17, 2007 at 6:10 pm

    keren banget mbak Dee

  18. dega said,

    August 28, 2007 at 1:25 am

    Dee,
    terima kasih karena terus mengingatkanku untuk menjalani hidup ini dengan SADAR dan tidak STUCK di satu titik.
    TERIMA KASIH..

  19. wong aji said,

    August 7, 2008 at 9:21 pm

    selamat menjadi supernova……………..

Post a Comment