May 28th, 2007 at 3:39 am (Puisi)
Cinta Semua Saat
Wajah telaga tidak pernah berdusta,
Ia bergetar saat udara halus menyapu mukanya
Ia beriak saat angin lincah mengajaknya menari
Ia tak menghindar dari undangan alam tempatnya menghampar,
Menghadap awan yang menunggu sabar
Dini hari datang untuk keduanya bersentuhan
Wajah telaga tidak pernah menyangkal,
Ia membeku saat langit memecah menjadi miliaran kristal putih
Ia mencair saat matahari kembali di angkasa tanpa serpih
Ia tak bersembunyi dari perubahan dan gejolak hati,
Menanti awan yang berubah tak pasti
Hingga pagi datang dan keduanya berpulang pada kejujuran
Izinkan wajahku menjadi wajah telaga
Merona saat disulut cinta, menangis saat batin kehilangan kata
Memerah saat dihinggapi amarah, menggurat saat digores waktu
Izinkan wajahku bersuara apa adanya
Bagai telaga yang tak menolak lumut juga lumpur
Namun tetap indah dalam teguh dan ikhlasnya
Kepada udara, kepada surya, kepada alam raya
Menanti engkau yang melayang mencari arti hingga dini hari datang
Lalu kau luruh menjadi embun yang mengecupi halus wajahku
Saat engkau mencair menjadi aku dan aku hidup oleh sentuhanmu
Bersua tanpa balutan apa-apa
Saat semua cuma cinta
Cinta semua saat
Dan bukan lagi saat demi saat
* 23 Mei 2007. Dibacakan sehari sesudahnya, saat pembukaan pameran foto Erhalogy.
di'diaN'diaNameL said,
June 13, 2007 at 1:19 am
mba..saya mampir yah..saya suka banget puisi.. =)
oh,iyah..saya suka banget buku Filosofi Kopi-nya..ceriTanya baGus..puIsi2nya juga saya suka banget..
ditunggu karya2 selanjutnya yah mba..
sukses.. =)
Cen Fo said,
July 16, 2007 at 4:21 am
soliloqui percakapan batin dee yang mau mengelupas helai-helai atau lapisan-lapisan kesemuan menukik kedalam kejernihan jiwa, tetap saja tersapa dimensi sosial, “wajah mereka yang lain” yang sunyi dalam keterpojokan kesendiriannya, yang hampa dalam kekosongan kepunyaan dalam “saat semua cinta, cinta semua saat”, tetap sayupnya terdengar serasa semua membutuhkan cinta, cinta menyembuhkan semua, tak kenal lagi saat demi saat satu demi satu, namun meluruhkan seluruh helai demi helai keakuan kepalsuan dalam totalitas keberadaan jopriastana
chindy said,
August 16, 2007 at 6:31 am
Dee..
cinta,
aaakh…
dia terlalu misteri untuk ditebak, diduga,
difinalkan begitu saja dalam lafalan huruf c i n t a
terlalu sederhana dalam keutuhan rasa
mungkin ini salah satu rasa yang boleh saya sebut cinta
tak tau rasa apa yang memenuhi hati saya, detik-detik ketika sahabat saya, Sandra dan calon suaminya memasuki altar pemberkatan pernikahan. hati saya grudukan, riuh entah oleh apa, sesuatu entah apa,sangat besar, sangat kuat, haru yang tak pernah kurasakan sebelumnya, air mata tak bisa kubendung. mengalir, mengalir dan mengaliir. mungkin ini yang disebut bahagia, sungguh saya bahagia, menggetarkan hati tak henti merapalkan sejuta doa untuk salah seorang sahabat terbaik. Sandra. Untuk gerbang baru yang akan dia tapak, begitu banyak cerita yang akan terhampar mengiringi perjalanan hidupnya. menikah gerbang terbesar kedua setelah kita lahir, salah satu babak penentu hikayat hidup seseorang. semoga cintalah yang akan menjadi pena pengguratnya;)
dega said,
August 28, 2007 at 1:13 am
Dee…
Speachless…
You DEFINITELY can write!!
Irma (siluetkucing@gmail.com) said,
February 19, 2008 at 7:12 am
I love, really love, your poems.
In fact, begitu sukanya hingga buat Tugas Akhir kepikiran pengen desain buku kumpulan puisinya Mbak Dee. Ada rencana puisi2nya dibukukan, Mbak? Boleh gak yah kalo saya angkat jadi case Tugas Akhir saya? (saya mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual, btw, yang dua hari lagi menuju kiamat). Rasanya belom pernah liat buku antologi puisi Indonesia yang isinya ga cuma tulisan doang, tapi digabung visual, jadinya kayak gimana yah?
If this sparks even a slightest bit of interest, email saya: siluetkucing@gmail.com. I’d be very, very thankful…
Itung-itung simbiosis mutualisme, Mbak. Dapet desain gratis hehehe…
annie said,
November 20, 2008 at 9:41 pm
seharusnya cinta menjadikan kita sejujur telaga….
dalam keruhnya ataupun beningnya.
wardha said,
December 18, 2008 at 7:50 pm
mbak…duuuwwhhh..
jadi pengen bisa kaya telaga,,
can I…???