Meniti Jalan Tengah

Sebuah e-mail saya terima bulan Maret lalu, info tentang retreat lima hari bersama Master Zen Thich Nhat Hanh di Hongkong. Hati saya seketika terangkat, intuisi saya berkata: pergi. Saya pengagum karya-karya beliau, tapi tidak mempelajarinya secara mendalam. Bisikan kedua datang dari guru sekaligus sahabat saya, yang juga berkata: pergi.

Bahkan hingga saya menginjakkan kaki di Hongkong pada tanggal 11 Mei lalu, menempuh perjalanan satu jam lebih ke Wu Kai Sha, dan meletakkan koper saya di dalam kamar yang akan dihuni bersama lima orang lain selama lima hari ke depan, saya masih belum tahu pasti apa yang saya cari, dan apa yang akan saya dapat.

Tercatat sekitar 400 orang yang menginap di kompleks retreat, 400 orang datang pulang-pergi, plus 60 anggota Sangha yang didatangkan dari Plum Village. Ini memang retreat skala besar. Hampir 900 orang berkumpul di dalam aula setiap harinya. Suasana riuh dan tempo cepat yang membungkus kami seketika bertransformasi seusai Thich Nhat Hanh muncul dan memberi orientasi tentang “Five Mindfulness Trainings” yang akan kami jalankan selama retreat. Tidak hanya dalam bentuk penjelasan tapi juga pengalaman langsung yang akan dijalankan lewat meditasi berjalan, meditasi duduk, makan, minum teh, bicara secukupnya, dibantu oleh energi kolektif Sangha yang hadir membaur dengan para peserta.

900 orang lalu mulai bergerak dalam keheningan, dalam tempo lambat, dengan bungkukan hormat dan tangan berpose anjali, diiringi bunyi bel yang sesekali digaungkan untuk mengingatkan semua orang berhenti beraktivitas dan pulang pada irama napasnya. Lambat laun saya mulai memahami mengapa saya memilih pergi.

Sungguh, tidak ada kegiatan “luar biasa” yang saya lakukan di sana. Kami sarapan, bermeditasi duduk dan berjalan, mendengarkan ceramah, makan siang, istirahat, berdiskusi dalam kelompok kecil saat sore, makan malam, tidur. Namun hidup seolah-olah ingin menunjukkan bahwa sesungguhnya setiap hari adalah ritual kesadaran. Dan kita telah melewatkan kegiatan-kegiatan sederhana ini bagai angin ribut yang menyapu padang bunga. Angin yang berlomba menuju ruang kosong tanpa tahu banyaknya keindahan yang gugur di bawah sana. Dan selama lima hari kami dilatih untuk menahan laju angin badai ini, kembali menjadi udara yang bergerak semilir agar sempat memetiki bunga-bunga cantik yang selama ini tumbuh tanpa disadari di padang hidup kita.

Pemamahan itu pun terus membulat dari hari ke hari. Mulai saya mengerti mengapa guru saya menyuruh saya pergi. Pada bulan Maret, beberapa hari sebelum info tentang retreat tersebut tiba, saya terlibat percakapan dengannya, dan Sang Guru berkata: Remember that nature isn’t just about drives and impulses. Reality shouldn’t be perceived as all restriction or compromise, but as a pathway to ensure your safety towards your highest purpose. And as the middle path walker you should be aware of the dynamic between your inside and the outside world. To walk safely and respectfully means you take both realms into consideration. Dan ketika saya bertanya balik, koridor apa yang harus saya pakai, jawabannya singkat saja: five precepts.

Lima Sila ini telah digaungkan Sang Buddha sejak 2500 tahun lalu, sekilas pintas tak jauh berbeda dengan Ten Commandments, atau nasihat standar orang tua: Jangan membunuh. Jangan mencuri. Jangan berbohong. Jangan berbuat asusila. Jangan mengonsumsi apa pun yang melemahkan kesadaran. Dan terkadang, dengan konteks zaman yang jauh berubah, pola pikir yang memodern dan kian canggih, sungguh tidak mudah mengerti kedalaman perintah-perintah singkat itu, bahkan terasa naif dan tidak realistis.

Kita sering lupa, bahwa penderitaan dalam kehidupan manusia, begitu juga kebahagiaan yang didamba semua manusia tetap sama, terlepas dari zaman Abraham manusia naik unta dan sekarang manusia terbang dengan Boeing. Lebih riskan lagi, terkadang kita terjebak dalam pencerahan sebagai momentum. Kita lupa bahwa menjadi tercerahkan melibatkan disiplin dan praktek yang dijalankan seumur hidup. Kita tersesat dalam “spiritual” sebagai konsep tinggal telan, dan mengabaikan aspek “spirit” yang tak lepas dari “ritual”.

2500 tahun telah berlalu, guru-guru yang merupakan emanasi dari kebijaksanaan Sang Buddha telah hadir dan pergi, dan saya bersyukur dapat bertemu dan berpraktek langsung dengan salah seorang guru yang berhasil menerjemahkan Lima Sila ke dalam pengertian modern. “Five Mindfulness Trainings” yang dirumuskan Thich Nhat Hanh tak lain adalah penerapan Lima Sila dalam konteks zaman sekarang, sebagaimana bernamaskara dijembataninya menjadi ritual bersyukur pada bumi, orang tua, dan leluhur. Triratna dijembataninya menjadi ajaran cinta kasih, pemahaman benar, dan komunitas yang harmonis. Pada saat itu baru saya mampu mengapresiasi apa yang telah dilakukan Thich Nhat Hanh selama ini. Beliau mampu menghidangkan kemurnian ajaran Dharma dalam kemasan masa kini, tanpa mengintimidasi, tanpa kehilangan otentisitas.

Sejak lama saya menerima dan menyepakati ajaran Sang Buddha. Namun Mindfulness Retreat menjadi titik balik bagi saya. “Five Mindfulness Trainings” bukan kesaktian atau momen tunggal pencerahan yang sekonyong-konyong menghajar kesadaran, melainkan komitmen harian dan kode etik yang, jika dijalankan dengan setia, niscaya akan membuahkan mental yang bersahaja, bermakna, dan peka. Sesuatu yang masuk akal dan konkret untuk mewujudkan hidup damai yang didamba semua makhluk—terlepas apa pun bentuk dan keyakinannya. Bagi saya, koridor tersebut relevan untuk konteks hari ini dan relevan pada setiap masa.

Hari terakhir retreat. Sejak pukul setengah enam pagi semua peserta berkumpul dalam aula. Kami, yang memilih untuk berkomitmen pada lima praktek kesadaran, duduk berlutut. Dan saat saya bernamaskara, mengucapkan komitmen saya, hati sayalah yang sesungguhnya bersujud mensyukuri setidaknya tiga hal. Pertama, saya berkesempatan terlahir menjadi manusia. Kedua, saya berkesempatan mengenal ajaran kebenaran dan kasih. Ketiga, saya berkesempatan untuk meniti jalan tersebut.

Kita dapat berdiri jauh dari jalan itu, membayangkan untuk meraihnya satu hari tanpa menggerakkan satu pun kaki. Kita dapat berdiri begitu dekat dari mulut jalan, tapi kabut tebal menghalangi pandangan hingga kita berdiam lama tanpa berbuat apa-apa. Kita dapat melancong ke tepi jalan itu, berfoto sejenak, lalu pergi untuk menambah koleksi tempat-tempat wisata kita. Dan kita dapat pergi ke jalan itu, menitinya perlahan, langkah demi langkah, tanpa terbebani iming-iming yang menanti di ujung sana, dan hanya mengapresiasi komitmen dan upaya kecil kita setiap hari. Memetiki bunga-bunga mungil yang selama ini terabaikan, menahan laju angin badai yang senantiasa menggusur kaki ini keluar dari koridor. Jalan Tengah dicari bukan hanya demi filosofi, tapi bukti untuk dijalani.

Teks “Five Mindfulness Trainings” saya renungkan berkali-kali selama retreat, bahkan saya menangis jika perlu. Ada keindahan yang tak tertampung tubuh ketika pemahaman ini mengutuh. Perjalanan hidup saya… pertemuan saya dengan sahabat sekaligus guru saya… hingga selembar tiket elektronik yang menerbangkan saya ke Hongkong… tampak sebagai rangkaian penggalian untuk kembali menemukan apa yang telah tertimbun oleh debu batin dan waktu: vajra—permata yang bersemayam dalam diri. Terakhir, saya bernamaskara bagi mereka, bagi kalian, bagi kita, bagi semua makhluk, yang dengan caranya masing-masing telah menjadi guru terbaik saya.

* Teks lengkap dari “Five Mindfulness Trainings” dapat dilihat di situs resmi Plum Village: www.plumvillage.org

24 Comments

  1. Jenny Jusuf said,

    May 29, 2007 at 8:17 am

    “…bukan kesaktian atau momen tunggal pencerahan yang sekonyong-konyong menghajar kesadaran…”

    Setuju, mbak Dee. Pencerahan yang menghajar kesadaran tanpa dilakoni dengan setia dan konsisten hanya berpotensi membuat kita jadi manusia pandai yang merasa diri sempurna (karena sudah ‘tahu segalanya’) dan punya tendensi merendahkan orang lain.
    *okay, mungkin agak subjektif.. Maklum, pengalaman pribadi :) *

    “Dan kita dapat pergi ke jalan itu, menitinya perlahan, langkah demi langkah, tanpa terbebani iming-iming yang menanti di ujung sana, dan hanya mengapresiasi komitmen dan upaya kecil kita setiap hari.”
    Saya suka banget kalimat ini :) )
    Mengingatkan pada Ithaca-nya Constantine P.C. (yang saya baca di blog Mbak Prima Rusdi):

    ITHACA

    When you start on your journey to Ithaca,
    then pray that the road is long, full of adventure, full of knowledge.
    Do not fear the Lestrygoniansand the Cyclopes and the angry Poseidon.
    You will never meet such as these on your path,if your thoughts remain lofty,
    if a fine emotion touches your body and your spirit.

    You will never meet the Lestrygonians, the Cyclopes and the fierce Poseidon,

    if you do not carry them within your soul,if your soul does not raise them up before you.

    Then pray that the road is long.

    That the summer mornings are many,that you will enter ports seen for the first time
    with such pleasure, with such joy!
    Stop at Phoenician markets, and purchase fine merchandise, mother-of-pearl and corals,
    amber and ebony,and pleasurable perfumes of all kinds,
    buy as many pleasurable perfumes as you can; visit hosts of Egyptian cities,
    to learn and learn from those who have knowledge.

    Always keep Ithaca fixed in your mind.To arrive there is your ultimate goal.
    But do not hurry the voyage at all.It is better to let it last for long years;
    and even to anchor at the isle when you are old, rich with all that you have gained on the way, not expecting that Ithaca will offer you riches.

    Ithaca has given you the beautiful voyage.Without her you would never have taken the road.
    But she has nothing more to give you.And if you find her poor, Ithaca has not defrauded you.With the great wisdom you have gained, with so much experience,
    you must surely have understood by then what Ithacas mean.

  2. Dewi Lestari said,

    May 30, 2007 at 6:48 am

    Hi Jenny, thanks for sharing me “Ithaca”. It is indeed a beautiful piece.

  3. Jenny Jusuf said,

    May 30, 2007 at 7:55 pm

    Sama-sama, Mbak Dee.
    Senang bisa berkenalan :) )

  4. chindy said,

    May 31, 2007 at 8:33 am

    Seni menjatuhkan pilihan sikap dalam hidup ibarat berada diatas ayakan, butir-butir tepung diayak untuk memisahkan debu, batu kecil atau remah-remah yang tak penting Tepung murni dapat diperoleh. Pilihan sikap diambil setelah dikonfrontirkan dengan ragam nilai. Ada yang meletakkan nilai agama, norma masyarakat, nilai moralitas, nilai tradisi, nilai budaya sebagai saringan absolut Namun ada juga yang memilih menguji sikap hidupnya dengan orisinalitas menyorot dan menganalisa fenomena, realitas atau objek.
    Apapun pilihan yang akhirnya diambil, tentu ada alasan yang melatarinya. Persepsi membidani lahirnya semua pilihan. Namun yang menjadi tanda tanya besar sekarang, adakah persepsi yang tidak bias? Adakah persepsi yang objektif, hingga persepsi terhadap suatu nilai yang dianggap benar atau baik dapat diterima sebagai benar-salah, baik-buruk yang absolut.
    Sang Bhagavan memberi ilustrasi yang inspiratif mengenai persepsi. Seekor gajah yang coba dideskripsikan oleh beberapa orang buta. Dia yang memegang kaki, mengatakan gajah seperti tiang. Lalu yang memegang ekor mendeskripsikan gajah sebagai pecut. Lain lagi dengan yang memegang telinga, mantap menjawab gajah seperti tikar. Semua punya persepsi yang berbeda. Tapi tidak ada yang total salah maupun total benar. Adalah fakta kaki gajah seperti tiang, ekor seperti pecut, telinga seperti tikar. Semua yang digambarkan adaah benar adalah bagian dari gajah namun BUKAN sang gajah itu sendiri.
    Suatu objek atau realitas dijepret dari segala titik potret yang mungkin pun hanya bisa menyajikan POTRET yang mendekati wajah aslinya. Potret tetaplah potret bukan realitas itu sendiri. Pencerapan akan objek/realitas MENDEKATI wajah asli bilamana pengamatan objek melintasi batas sang pengamat itu sendiri namun memposisikan diri sebagai objek itu sendiri. Apapun yang dilahirkan dari persepsi, penilaian benar atau salah. Baik atau buruk tidak ada yang absolut. Persepsi hanya mampu mendekati ‘benar-baik’ tatkala persepsi mampu ditelorkan dari memaksimalkan elastisitas jangkauan nalar pikiran(rasio) dan nalar hati(naluri, insting, intuisi).
    Nalar pikiran mampu menyentuh segala apa yang nyata dapat dicerap indera. Nalar hati, memampukan diri menyelami, menempatkan diri dalam posisi objek. Menyelami
    ruang rasa, gerak rasa. Berupaya membaca frekuensi energi objek.
    Persepsi yang sehat lahir dari upaya maksimal mengupas siung bawang hingga ke inti. Runut sampai ke akar, ranah di mana segala yg murni memberi jiwa pada hidup tumbuh. Cinta, bela rasa, solider, adil, toleran,respek yg dituntun, dijaga dan dibela mati-matian oleh kejujuran. Pada ruang ini, warna asli baik-buruk, benar-salah, pantas tak pantas samar dapat ditangkap. Masih samar. Samar berganti jelas ketika pengetahuan sempurna akan realitas dicapai. Nibbana.
    happy Vesak day Dee;)
    Kurang dari 9jam lagi, detik-detik waisak akan dititi…Mugi-mugi kita tidak keliru lagi mengetuk pintu jalan damai ke dalam DIRI..sadhu..sadhu..sadhu

  5. Jennie said,

    May 31, 2007 at 11:03 am

    Salam kenal. I’ve heard a lot about you, but I have just found out about your blog. I haven’t read any of your books, but I’m sure they are marvelous.

    From your fellow author,

    Jennie S. Bev
    http://www.jenniesbev.com
    http://www.jennieforindonesia.com

  6. Deddy said,

    May 31, 2007 at 3:32 pm

    wah, nice to meet u in this blogin’ world dee. Happy Vesak 2551/2007 day :)

  7. Dewi Lestari said,

    May 31, 2007 at 10:07 pm

    Salam kenal juga untuk Jennie & Deddy…
    Saya sempat berkunjung juga ke situsnya Jennie. Very interesting work. Honoured to meet you.

    Terima kasih untuk sharing dari Chindy. Semoga kita semua dimampukan untuk mengapresiasi momen Vesak sebagai penggalian kesejatian yang bersemayam dalam diri semua makhluk.

    ~ D ~

  8. Hareem said,

    June 1, 2007 at 3:20 am

    wah.. pengalaman yang dalam.
    sudah lama rasanya batin gue kering; haus ‘ma hal-hal yang bersahaja.

    senang baca tulisan2mu, Dee!

    Makin rajin update blognya yah!

    Cheers,

  9. chindy said,

    June 2, 2007 at 5:10 am

    u’re most welcome Dee;)
    Mugi-mugi kita sami ngudi
    ngudi ilmu ingkang sampurno
    ngudi ilmu ngewongke & tau
    dadi wong sing waras ati & pikiran’e….

  10. Frederick said,

    June 6, 2007 at 7:29 am

    saya baru aja selesai baca ksatria,puteri, dan bintang jatuh…
    “Doktrinasi yang tidak mendoktrin”
    have you succesfully flow with your complex mind, supernova?
    atau terus melayang dan tenggelam dalam paradoksnya definisi kata…..

    smangaddd!

  11. Frederick said,

    June 6, 2007 at 7:48 am

    may I email you sometimes?(-kemana?)
    email saya
    tirtadinata@gmail.com

  12. szpilman said,

    June 10, 2007 at 12:05 am

    Salam Lagi Ito Dewi :)
    Semoga Ito dan Keluarga Sehat2 dan baik2 saja.
    Maaf jika komen ini ga ada hubungan dengan Postnya.

    Saya hanya baru baca satu karya ito, dan itu pun baru seminggu lalu. Ksatria, Putri, Bintang Jatuh, trus terang Saya sangat suka dengan Karya Ito, baik dari segi keindahan kata-kata dan betapa padatnya ide-ide, dan luasnya dunia ito.
    Sangat menginspirasi Saya dalam menulis, dan membaca.
    Ito adalah salah satu motivator bagi Saya pribadi. Bangga melihat ada orang Indonesia yang secerdas Ito :)
    Izinkan Saya memberitahukan ke dunia alamat blog Ito :)

    Ito, Saya sangat menanti-nantikan karya Ito yang dapat menggugah jiwa nasionalis para pemuda saat ini.

    Kalau boleh, dan tidak keberatan, dapatkah bagikan Saya alamat mail ito ?

    Mail saya :
    eckomanalu@gmail.com

    Selamat Berkarya Ito.

  13. L said,

    June 11, 2007 at 12:12 am

    kk Dee, saya ini penggemar buku2 kk, bole gk saya berdiskusi sama kk tentang beberapa hal yang ada dalam buku kk, terutama Supernova??
    e-mail saya : bertzzie@yahoo.co.id
    sori klo ggu…
    tar klo kk ada wkt krim psan sana ya, ada yang mao saya tanyain…plisss

  14. Dewi Lestari said,

    June 11, 2007 at 2:56 am

    Untuk Frederick, Ecko, and L, you can drop your e-mail at: dee_addict@yahoo.com

    Many thanks!

  15. szpilman said,

    June 11, 2007 at 9:52 pm

    Terima Kasih Banyak
    buat info e-mail nya yah Ito :)

  16. Tanty said,

    June 12, 2007 at 10:30 pm

    Hai mba Dee! We’ve met couples of time but i don’t get the chance to talk to you directly, though I’d love to do so sometimes :)

    Pengalaman Mba Dee membuat saya teringat pada saat saya menjalani Atthasila di Gunung Geulis. Pengalaman pertama tersebut sangat berbekas dan berharga.

    Pengalaman pertama saya dilarang untuk berbicara hingga berhari-hari sehingga terkadang harus memakai bahasa Tarzan untuk menjelaskan maksud saya. Pengalaman pertama bermeditasi lebih dari setengah jam dalam sehari. Pengalaman pertama tidur tanpa lampu tidur dan tidak merasa ketakutan. Pengalaman pertama membaca sutra di subuh tanpa menggunakan alas kaki di udara pegunungan yang sejuk luar biasa. Pengalaman menyalin sutra. Dan banyak pengalaman pertama lainnya yang tidak akan terlupakan. I’d love to repeat the same daily routines.

    Ternyata dengan segala keterbatasan di tempat tersebut, hidup menjadi sangat terasa. Setiap saat yang harus dijalankan dengan kesadaran hingga ke hal paling sederhana seperti kaki apa yang sedang saya langkahkan, membuat saya sepenuhnya sadar apa yang sedang terjadi di lingkungan terlebih lagi dalam pikiran. Berapa kali pikiran buruk timbul pun dapat terdeteksi.

    Namun lepas dari sana, pikiran ini mulai kembali lepas kendali, dan ini murni kesalahan saya yang tidak melatihnya dengan rutin lagi. Semoga saja saya masih dapat menjalani latihan-latihan tersebut lain waktu.

    Mba Dee, Happy Vesakh ya, walaupun sudah agak telat, tapi as they say better late than never, he…he…. (self-defense mechanism :p)

  17. Yenny Lesly said,

    June 13, 2007 at 10:13 pm

    Mbak Dee, aku perlu bantuan masalah endorsement buku aku. Ke mana , aku bisa kirim email ya? Makasih…

  18. taruna said,

    June 14, 2007 at 10:37 pm

    Hi Dee,

    Salam kenal. Aku penggemar karya tulis kamu. Love your wording and how you describe the situation.

    Emosi ku bergetar membaca pengalaman kamu waktu retret. Membawa kebahagian tersendiri bagiku, bahagia karena kamu mendapatkan kesempatan untuk mereasakannya, bahagia karena seorang Dee bisa dengan baik menyerap dan membagikan pengalaman selama berada disana.

    Boleh aku tahu e-mail kamu?

    Thanks dan salam,

    Taruna Widjaja
    e-mail: taruna@karaniya.com

  19. Jo Priastana said,

    July 11, 2007 at 5:00 am

    setiap hari adalah ritual kesadaran. satu kalimat ini yang yang dapat saya petik sebagai benang hijau pengalaman dee pelatihan meditasi TNH. setiap saya temukan TNH entah bukunya orang nyebut tentangnya atau apa saja termasuk info meditasi di HK rasanya selalu mendatangkan hal yang baru dan menyentakkan saya. semula saya kira TNH adalah aktivis yang lebih bergerak di ranah sosial (politik) dengan berlandaskan pada spiritualitas sperti halnya sulak sivaraksa di thailand, pandangan spti ini memang amat saya butuhkan untuk para aktivis dan memberi wajah sosial Buddhism, tapi ini buyar setelah dalam suatu kesempatan saya memperoleh komentar dari rekan saya di STT pak pendeta Martin Lukito bahwa THN lebih spiritualis keimbang Sulak. barulah saya melihat dimensi spiritual dati TNH yang semakin dalam; hukum hidup ketergantungan yang memang menjelaskan fenomena manusia secara filosofis yang semula saya alihkan untuk melihat fenomena ketergantungan secara sosial politik khususnya dengan memadukan teori ketergantungan Johan Galtung untuk melihat pemiskinan negara dunia ketiga oleh negara kaya, saya belokkan kembali menjadi sungguh spiritual dalam arti kelana suffering manusia. hari ini saya temukan setiap hari ritual kesadaran dari dee. saya masih menikmati istilah ini diantara bacaan saya belakangan ini tentang kesadaran, dan membaca lebih dalam tentang ritual keagamaan itu sendiri. masih dalam proses ketegangan namun rasanya asyik. istilah dee tidak membangkitkan tapi seperti embun yang menetes diatas kap mobil saya yang setiap pagi saya cicipi (bila embun itu memang datang,diantara gersangnya lingkungan yang sampai embun saja sulit kita temui) kalimat dee membawa ke masa kanak saya dimana embun itu berhamparan di depan rumah! saya nikamti, entah apakah terus dihari-hari depan. thks. Jo P

  20. bingung said,

    April 28, 2008 at 11:47 pm

    kadang-kadang saya bingung, apa betul yang sudah saya jalani??apa sudah di ‘jalan lurus’ ?? apa sudah sesuai dengn yang maunya Tuhan ??jangan-jangan cuma maunya nafsu-diri sendiri karena mau diri ini banyak?uncountable!! sekian milyar manusia didunia ini so pasti sekian milyar juga maunya dan cara utk memperolehnya.soalnya banyak orang yg ngaku-ngaku sudah benar, paling benar. adakah semuanya itu bisa disatukan dengan cara dan metode yg benar?karena dengan itulah pasti kita akan selamat semua.Dan adakah ajaran yang sempurna?yang tertuang dikitab suci dari masalah atom hingga jagad raya ini?dari masalah hubungan antara manusia, manusia dengn makhluk lain sehari-hari hingga masalah ritual ibadah?kita tdk ingin sekedar ajaran yg mengatur masalah rohani saja.ajaran yg sempurna!tolong carikan ajaran yg detil, yg mengurus dari atom hingga JAGAD RAYA ini!kenapa? karena itu semua punya TUHAN juga kan?yg perlu diatur oleh aturanNya?mustahil TUHAN hanya mengtur urusan manusia saja..betul??ajaran yg membumi, yg aktual-faktual, bukan ajaran yg menyruh kita menjauh dri realita.ajaran yg sesuai dengan kodrat.yg menyuruh nikah,pnya anak,bekerja dan membaur dengan lingkungan dll.sekali lagi adakah ajaran yg mengaturnya?PASTI ADA! karena TUHAN Maha SEMPURNA! Dia ingin makhluknya bahagia dengan kesempurnaan dan kekekalan.kita tidak ingin setengah-setengah.krn nanti hasilnya jg setengah-setengah.we find out what GOD WANTS not WE WANT!

  21. lagi, bingung said,

    April 29, 2008 at 7:20 am

    betul, tambah bingung nih..kebanyakan ajaran spiritual hanya mengajarkan tertentu saja..tidak lengkap,yaitu sisi spiritual saja.tidak ada nilai tambahnya untuk pencerahan. hanya pencerahan dispiritual (kalau ini sih sungguh sangat subyektif sekali sifatnya, sehingga tak heran banyak sekali paham agama dan kepercayaan, mistik, singkretisme dll dan ini berpotensi perpecahan dan sudah terbukti pecah)..tidak ada pencerahan bagi otak utk berpikir, akal utk menimbang.coba ajaran spiritual tu ada sisi ilmiahnya jg dong, yg diakui oleh seluruh pakar, yg bisa dipertanggungjawabkan, universal. padahal kan keduanya kudu imbang/balance..saya yaqin dengan CARA inilah satu-2nya yg bisa MENYATUKAN UMAT MANUSIA–agama yg Ilmiah–coba, selain spiritual ada ga yang dikitab suci menyebut tema ttg atom, galaksi, big-bang, 7 lapis langit-bumi,laut tawar-laut asin, fenomena alam, mengatur hubungan manusia dg manusia disuruhnya manusia belajar, bekerja, kawin, perbanyak keturunan, hub manusia dg alamnya, hub manusia dengan waktu: hari ini,futuristik dan masa lalu, kriminalitas, teknologi, hukum, ekonomi dlsb. untuk masing-masing tema ga perlu DETAIL deh, minimal Global aja/generalnya, atau minimal bisa dibuktikan secara Ilmiah.Ada ga?kalo ada, ini baru ajaran komplet,sempurna yg dibuat oleh Yang Maha Sempurna..yg wajib diikuti, ga perlu mencari cara/ajaran lain lagi! kalau masih mencari-cari,campur sana-campur sini, berarti masih ada yg ga beres dengan diri ini. ibaratnya seorang chef top nomor wahid didunia bikin masakan yg sudah sgt lezat,bumbunya sudah sgt komplet,pokoknya sgt terkenal didunia, sgt digandrungi mulai dari artis-pejabat hingga org awam,masih perlukah kita tega campur lagi masakan td dg yg lain, apalagi dengan resep yg asal-asalan??! tentu tidak, betul? even kepikiran juga malah tidak juga kan? ….nah dlm rohanipun perlu dikasih ‘makanan’ yg kudu lebih lengkap / sempurna lagi bumbunya karena rohani meliputi : OTAK-AKAL, JIWA, NAFSU dan HATI NURANI. so, mari kita semangatkan diri mencari Kebenaran Hakiki,bukan kebenaran semu! JANGAN SALAH JALAN..JANGAN IKUT-IKUTAN..! biarkan hati nurani menerima cahayaNya….

  22. pencerahan said,

    April 30, 2008 at 2:08 am

    best comment of the best above !! I will try to explore my mind to find out the REAL TRUTH..oh God, please Help me to the straight path of YOURS!

  23. arif said,

    May 7, 2008 at 9:29 pm

    mbak novelnya keren banget, aku suka.
    terkadang memang pembagian cerita dengan alur berkeping keping sangat aku gemari.
    membuat logika keluar berpikir, multidimensional,

    boleh tahu alamat email mbak?
    mohon dijawab ya mbak.

    salam
    albertvord@yahoo.co.id

  24. Rahka Lioe said,

    October 11, 2009 at 6:21 pm

    wahh.. tahun ini Thay berkesempatan mengadakan Retreat di Indonesia.. berminat..???

Post a Comment