June 19th, 2007 at 7:10 pm (Refleksi)
Endang Berenang Lagi
Nama penyu itu Endang. Saya beri nama demikian karena saya belum sempat tahu Endang itu jantan atau betina, dan nama “Endang” cukup fleksibel mewakili keduanya. Endang dengan “e” taling untuk perempuan, dan Endang versi “e” pepet untuk laki-laki.
Pertemuan saya dengan Endang terjadi tanpa rencana. Saat saya ke Menado tanggal 13 Juni lalu untuk talk show bersama seorang bhikku perempuan Ayya Santini, saya diberi tahu bahwa panitia ingin mengadakan fang shen sesudah makan siang, dan saya diajak ikut. Biasanya saya lebih memilih beristirahat, apalagi perjalanan ke Menado ini dimulai sejak subuh tadi berhubung naik pesawat paling pagi. Tapi saya belum pernah ikut fang shen sebelumnya, dan saya memutuskan ikut demi pengalaman baru.
Fang shen adalah salah satu puja bakti dalam tradisi Buddhis, yakni melepaskan makhluk hidup kembali ke alam bebas. Mereka yang ingin melakukan fang shen dapat membeli ikan, atau burung, atau apa saja, yang barangkali sudah di penghujung maut karena akan dijagal, lalu melepaskan mereka kembali ke habitatnya. Fang shen dipercaya dapat membuahkan umur panjang, kebahagiaan, dan seterusnya.
Terlepas dari umur saya bertambah atau tidak, saya merasa fang shen adalah tradisi yang luar biasa. Burung yang memiliki angkasa tak berbatas sebagai rumahnya mendadak disekap dalam kurungan, hanya karena kita ingin menjamin kicauan merdunya terdengar oleh kuping setiap hari, tak peduli kicauan itu ungkapan kebahagiaan atau frustrasi. Ikan yang memiliki aliran air luas sebagai rumahnya mendadak harus mengitari kurungan kaca, hanya karena kita ingin menikmati keindahan wujudnya. Belum lagi ikan lele yang kemungkinan besar dihantam di kepala lalu berakhir di penggorengan. Melalui fang shen, kita mengembangkan kasih sayang dan rasa hormat bagi semua makhluk. Keluar dari kerangka pikir manusia pemangsa, lalu dengan sadar mengembalikan hak hidup makhluk-makhluk yang selama ini kita sekap dan kita jagal.
Waktu saya dan Ayya tiba di pelabuhan, Endang dan satu penyu kecil lain (saya beri nama Endang Jr.) sudah menunggu dalam perahu motor. Keduanya beringsut saling mendekat seperti mencari rasa aman. Kondisi Endang tidak terlalu baik. Bisa dilihat di foto, kaki depan Endang sobek besar hingga tampak tulangnya mencuat keluar. Lantai perahu bernoda merah di sana-sini karena darah dari luka Endang.
Salah satu petugas perahu berkata, “Tidak apa-apa. Penyu itu binatang kuat. Kepalanya putus saja masih bisa hidup. Baru setelah dimasak, dia benar-benar mati.” Saya lantas membayangkan, jika tangan saya terluka menganga hingga tulang harus berhadapan dengan udara, seperti apa sakit dan ngilunya? Bagaimana kita bisa mengukur rasa sakit Endang, hanya karena penyu tidak memiliki area Broca di otaknya dan tidak berkata-kata? Sementara penyu adalah hewan yang memiliki sistem limbik sempurna, yang memungkinkan ia merasakan sakit, nyeri, ketakutan, sama seperti kita.
Namun Endang dengan tulang terpampang memang bernasib lebih baik, karena teman-temannya yang tertangkap akan dibedah hidup-hidup. Dalam posisi terbalik, tempurung mereka disayat, dan daging mereka dipotong-potong di tempat, untuk lalu dijual dan dijadikan sup. Orang Menado bilang, daging penyu lembut. Namun daging itu aneh, bergerak terus, sekalipun sudah dipotong-potong, dan baru diam setelah matang dimasak.
Baru setahun terakhir ini larangan memperdagangkan penyu diperketat dan daging penyu mulai menghilang dari pasar. Sesekali ada nelayan nekat yang tetap mencuri kesempatan dan menjualnya sembunyi-sembunyi. Endang dan Endang Jr. ditebus dengan harga 500 ribu. Harga yang termasuk murah, karena biasanya tiga penyu bisa kena satu juta.
Sekitar tiga puluh menit kami melaju ke arah Bunaken. Setelah menemukan satu tempat yang dirasa cukup aman dan sepi untuk melepas duo Endang ini, perahu pun berhenti dan Ayya mulai membacakan parita.
Saya diam dan memejamkan mata. Berharap air laut dan waktu akan menyembuhkan luka Endang. Berharap Endang Jr. bisa tahu rasanya menjadi dewasa, mati secara alamiah di alam bebas, dan bukan dalam mangkok sup. Berharap kita semua akan menemukan jalan untuk hidup beriringan dengan makhluk lain tanpa perlu menyekap dan memangsa. Kita menangkap Endang dan kawan-kawannya bukan karena mereka ancaman bagi nyawa kita, tapi karena sebagian dari kita ingin memuaskan lidah dan kita punya cukup uang untuk mengadakannya di meja makan, dan untuk itu sebagian dari kita yang butuh uang rela menangkap Endang dan kawan-kawan, membunuhnya dengan keji. Bukan karena Endang menyerang atau mendendam, tapi karena Endang gurih. Berharap kita semua akan menemukan jalan untuk mengenyangkan perut dengan kekerasan minimal, agar perdamaian dunia yang kita dambakan tidak cuma slogan. Bagi kita, Endang hanyalah satu makan siang, tapi bagi Endang itu masalah hidup dan mati.
Dalam diam dan mata masih terpejam, saya teringat cerita petugas tadi. Katanya, penyu-penyu melelehkan air mata saat mereka dicacah hidup-hidup. Endang ternyata bisa menangis. Saya bahkan tak tahu itu.
Saat Ayya usai membacakan parita, mata saya membuka. Basah. Sore itu, memang bukan Endang yang perlu menangis. Ia dan teman kecilnya cuma perlu berenang lagi.
chindy said,
June 20, 2007 at 7:36 am
Hari minggu, 17 Juni..untuk kesekian kali Ocha “terhitung” fang shen. kali ini untuk lele…
pa’le Dayat bawa pulang beberapa ekor ikan lele. masih idup. jelas niatan mau dipecel. sambil gojeg pa’le godain Ocha, “Cha, lelenya digoreng yaa, sambil gotong lele ke dapur..
Ocha spontan jerit”jangaaan, kasihaan, nanti Tuhan marah..Tuhan marah itu dosa” Ocha ngejar pamannya.
Penasaran saya tanya, gimana nasib lelenya? Tebakan saya pasti dimeja makan.
Ternyata, kejadian yang sama saat lebaran idul fitri lalu terulang, dua ekor ayam piaraan urung disembelih karena amukan Ocha. Masih idup tuh sampe sekarang.
Lele itu juga dilepas di kolam mereka. Ampuh juga amukan Ocha;)
Semoga taon depan,sepuluh bahkan seumur hidupnya, amukan Ocha tidak limbung berhadapan dengan sejuta nilai yang telah kembang dalam bias persepsi…
btw, Ocha juga geleng keras pada daging lo Dee…kemana2 sangunya tahu bacem,hehehe….
azure said,
June 20, 2007 at 9:44 am
Halo Dee…
saya seorang buddhist, dan baru-baru ini saya berdebat panjang lebar dengan seorang teman katolik perihal bunuh/tak membunuh binatang.
soal binatang langka/dilindungi, kami sama-sama sepakat bahwa mereka dapat label “jangan dibunuh”
Nah, bagaimana dengan hewan-hewan macam ayam, ikan, dan jenis-jenis lain yang lumrah dimakan sehari-hari?
Teman saya berpegang teguh bahwa manusia berhak mengonsumsi makhluk lain untuk bertahan hidup.Manusia adalah makhluk tertinggi ciptaan Tuhan (ditandai dengan mempunyai higher thinking order), dan kita makhluk mulia ini diserahi kewajiban memanfaatkan TAPI JUGA memelihara makhluk lain.
Saya bilang manusia juga hewan, toh kita semua sama-sama masuk kingdom animalia. Justru karena lebih bijak manusia seharusnya bisa menghindari dosa membunuh yang menggayuti saudara-saudara spesies lain. Toh kita bisa bertahan hidup dari sayuran.
Debat kami berlangsung dalam hitungan jam : mutar sana, mutar sini, belok kiri-kanan, kejar-kejaran di tempat.
Sampai akhirnya teman saya bertanya, “Lu emangnya vegetarian?”
Skak mat. Saya bukan vegetarian. Makan apa saja yang ada di meja makan, gak ambil pusing.
Jujur, soal bunuh-membunuh binatang ini sangat membingungkan. Rasanya tak ada jawaban yang benar dan yang salah.
Sekadar ingin tahu… apakah Mbak Dee sudah berhasil menjadi vegetarian?
Dewi Lestari said,
June 21, 2007 at 12:16 am
Hi Azure,
Makasih pertanyaannya. Saya bisa berempati dengan situasi kamu karena selama puluhan tahun saya juga berada dalam dilema yang sama. Waktu kecil saya ingin jadi dokter hewan karena sangat suka binatang, saya selalu menganggap diri saya seorang penyayang hewan, selalu menangis kalau melihat adegan hewan disakiti, dsb. Tapi pada satu sisi lain, saya masih ‘membantai’ hewan lewat industri daging.
Saya tidak pernah tega berada di belakang truk yang mengangkut sapi, ayam yang berjejal, babi yang ditumpuk. Saya tahu apa yang akan terjadi pada mereka, dan saya tidak tega. Tapi nyatanya, dengan mengonsumsi daging saya pun memegang peranan. Secara tidak langsung saya memegang pisau untuk menyembelih mereka.
Pada kenyataannya kita tidak melihat anjing atau kucing peliharaan kita seperti kita melihat ayam atau kambing. Kategori pertama adalah teman, kategori kedua adalah makanan. Padahal anjing dan kambing merasakan sakit, takut, dan derita yang sama. Mengapa bisa terjadi ‘pilih kasih’ seperti itu? Saya pikir pembiasaan sistemiklah yang memutuskan rantai simpati kita.
Secara sistemik, kita dibuat berpaling dari derita sapi, babi, ayam, kambing, karena sejak kecil kita melihat fungsi mereka sebagai makanan. Boleh jadi kita mengernyit ngilu melihat ayam digorok, tapi kita melenggang santai melihat bangkai mereka yang putih mulus di rak pendingin supermarket.
Saya menjadi vegetarian hampir dua tahun. Dan sekarang saya boleh bernapas lega, karena ketidaktegaan saya tidak lagi berkonflik dengan gaya hidup saya.
Dan benarkah manusia adalah penguasa alam? Lagi-lagi, menurut saya ini adalah ilusi yang dimapankan secara sistemik untuk membenarkan ego dan keserakahan kita yang tidak dikendalikan. Ada anekdot yang berkata “I’m not fighting my way to be on top of the food chains to be a vegetarian”.
Namun jika kita renungkan sungguh-sungguh, dari aspek fisiologis dan spiritual kita telah hidup dalam ambigu besar. Fisik kita bukan disetel untuk jadi karnivora, tapi kita menggelembungkan kebutuhan kita akan makanan menjadi pemuasan. Betul sekali. Hanya dengan sayur manusia bisa bertahan hidup, tapi jika masalahnya adalah kepuasan, semua spesies di Bumi ini tidak akan mampu memuaskan satu orang manusia. Pada aspek spiritual, kita berbicara soal kasih sayang sesama makhluk, tapi kenyataannya kita mendua dengan memelihara pandangan bahwa manusia diciptakan untuk jadi penguasa dan berhak atas nyawa makhluk yang dianggap “kurang mulia”.
Saya rasa, umat manusia selamanya akan berada dalam konflik dan ketidakdamaian jika bertahan dalam ambiguitas itu. Namun untuk bisa memutuskan apa yang terbaik hanya bisa diputuskan oleh nurani, bukan kata-kata orang atau kutipan ayat suci. Saya pun yakin kamu tahu pilihan yang terbaik
Sadhu,
~ D ~
mandala said,
June 26, 2007 at 12:01 am
Jangan lagi pembunuhan, pemisahan terhadap kehangatan dan kedekatan atau perlindungan, terutama bagi hewan peliharaan, memebuat mereka meneteskan airmata. Ini terjadi pada anjing2 kecil mertua saya. Pada saat perpisahan, saya dan suami bergantian menggulirkan air mata bersama anjing2 kecil ini sendiri – sendiri…..They do really cried….
Oddiezz said,
June 27, 2007 at 12:27 am
Dear Azure,
Topik pembahasan yg menarik yang takkan pernah kelar dibahas. Salah satu pendapat yg pernah saya baca, bahwa menanam padi pun pada prosesnya banyak menyebabkan banyak binatang mati, ribuan cacing, ulat dll. Demikan juga pemberian peptisida dan sebagainya. Jadi jika kita makan nasi atau produk tanaman apa saja sudah menyebabkan banyak binatang mati.
Malahan baju dari produk kapas, sepatu dari kulit sapi. Semuanya itu juga
Cuman tidak dalam bentuk nyata seperti Mbak Dee katakan sebagai pembantaian lewat industri daging.
Jadi setuju dgn pendapat anda, dalam segi apa kita menyikapi hal ini.
Sedikit pandangan saya yg rendah.
rgds
Z
Trio RaTaNa said,
June 27, 2007 at 6:26 am
Di Bali masyarakatnya juga suka mengkonsumsikan penyu. Tapi sekarang sudah dilarang keras atas desakan banyak pihak, terutama para turis yg megnancam tidak akan datang lagi kalau orang-orang Bali masih doyan membantai penyu.
Soal fang shen, kadang2 kegiatan yg maksudnya baik dan mulia spt ini malahan berakibat buruk. Sebagai contoh, bila Fang Shen sengaja diadakan dgn membeli, misalnya, burung-burung dari pasar burung utk dilepaskan kembali, ini secara tidak langsung akan memotivasi para penangkap burung utk lebih semangat lagi menangkap burung2 dari alam bebas.Memang serba salah.
Dewi Lestari said,
June 29, 2007 at 9:22 am
Fang shen yang dimanfaatkan oleh para penangkap hewan memang terjadi juga di Menado. Mereka sengaja menangkap penyu lalu mengontak orang2 yang mereka tahu biasa ber-fang shen lalu minta ditebus. Jadi ternyata untuk ber-fang shen pun dibutuhkan ketelitian.
Sedangkan perihal bunuh membunuh ini memang masalah yang berlapis. Terkadang dalam sepak terjang kita berkehidupan, sebagaimana halnya kehidupan natural di alam bebas, membunuh atau mencederai makhluk lain adalah hal yang tak terhindarkan.
Pernah ada debat seru di internet, melibatkan dua orang peneliti, yang satu vegan dan yang satu bukan. Peneliti kedua meragukan bahwa dengan satu dunia ini bervegetarian sekalipun angka kematian hewan akibat tindakan manusia bisa pupus, karena bahkan kegiatan agraria pun bisa memakan korban, mis kelinci, musang yang tergusur dari habitatnya, dsb.
Saya pun setuju. Pertanian, apalagi kalau menggunakan pestisida yang notabene bukan hanya membunuh serangga tapi juga bumerang bagi keselamatan manusia dan ekosistem secara keseluruhan, tak bebas dari risiko pembunuhan hewan.
Lalu peneliti vegan kembali berargumen, bahwa peneliti pertama luput memperhitungkan satu faktor lain, yakni: binatang2 liar itu, kendati mungkin nyawa mereka melayang di tengah jalan, tapi mereka tidak didesain secara sistemik untuk mati dan dikonsumsi. Komoditas hewan yang kita miliki sekarang telah merenggut kebebasan total binatang2 tsb. Ayam yang dibiakkan secara sistemik dalam industri skala besar sejak lahir tidak pernah keluar dari kandang, dijejalkan dalam petak sebesar oven microwave bersama tiga ayam lain, tidak punya interaksi sosial dan kesempatan mengembangkan insting alamiah mereka di alam bebas, mereka digemukkan hingga tak bisa berjalan, lalu dibunuh. Sapi perah, misalnya, melalui intensifikasi peternakan, sapi perah digenjot untuk memproduksi susu 10 kali lipat lebih banyak dari batas optimal alamiah mereka sepanjang hidup, dan usia sapi alami yang bisa mencapai belasan tahun, karena eksploitasi fisik yang luar biasa, mereka biasanya bertahan hanya 3-4 tahun.
Terkadang, pertanyaannya bukan mati atau tak mati, tapi bagaimana seekor hewan menjalani hidupnya. Kematian adalah hal yang pasti. Tapi tak seorang pun dari kita bisa membayangkan betapa dahsyatnya neraka yang ditempuh binatang-binatang industri tadi sejak detik pertama mereka lahir hingga ajal menjemput di pejagalan.
Kulit, tak terkecuali. Banyak orang ‘meloloskan’ kulit sebagai sesuatu yang ‘baik-baik saja’ karena dianggap by-product dari apa yang sudah keburu mati. Namun investigasi yang dilakukan organisasi Viva membuktikan sebaliknya.
Jujur, melepaskan diri dari produk kulit bukan hal yang mudah. Namun kita bisa belajar mengurangi, dan memakai produk kulit dengan maksimal tanpa harus konsumtif membeli berulang kali.
Industri hewan adalah penyumbang kedua dari pemanasan global sesudah otomotif. Jika rasa tega/tak tega, sehat/tak sehat, etis/tak etis, enak/tak enak masih terus menimbulkan debat, global warming adalah fakta yang lebih konkret untuk kita jadikan acuan dan basis untuk memilih.
Tega/tak tega akan bertemu dengan enak/tak enak, etis/tak etis bertemu dengan praktis/tak praktis, sehat/tak sehat akan bertemu dengan banyak/sedikit. Akhirnya saya menjadi vegetarian setelah tahu korelasi antara makan daging dengan konservasi lingkungan.
Setiap orang tentunya akan memiliki entry masing-masing yang berbeda-beda. Tapi perdebatan di benak saya selesai ketika bertemu aspek terakhir, yakni lingkungan hidup.
~ D ~
jo priastana said,
July 11, 2007 at 3:10 am
Fang shen saya kenal tapi ngak pernah ngikutin ngak tahu kenapa. pernah turut orang lepas burung tapi burungnya saya liat kesedot baling-baling psawat mungkin karena lepasnya dekat bandara. pernah beli burungnya di prunpung jatinegara ketika dilepas di vihara dia diam aja rupanya burungnya ngak mau bebas enak dipelihara di kasih makan. kalau penyu katanya umur panjang saya sih sering liat di glodok. tapi kegiatan ini cukup menarik mengingatkan saya pada buku yang sedang saya siapkan Sang Buddha Sahabat Binatang. ada juga yang nolak Buddha disandang dengan kata Sang mungkin terasa tidak menghormati karena yang biasa pakai Sang kan Sang Kancil, Sang Kodok, Sang Ular. tapi bagi saya ok aja malah saya senang nyebut Sang Buddha, karena memang dia kan sahabat binatang dan sebagai bodhisattva dia katanya pernah terlahir menjadi beragam binatang. lagi pula kumpulan bhikkhu Theravada para Bodhisattva itu juga kan beralamat di jl. margasatva pondok labu.ragunan biarlah kita akrab dan bersahabat dengan binatang membiarkan mereka tumbuh berkembang hidup dalam alamnya sebagaiamana juga dengan perjalanan karma kita yang menemui alamnya masing-masing yang mungkin juga ke alam tirachana/binatang. tentang vegetarian saya ada pengalaman, saya pernah bawa teman baik wartawan beragama muslim, makan di restoran vegetarian dengan hidangan yang ada daging babinya, saya tanya dia apakah daging babi-babian ini halal atau haram? dia hanya tertawa saja. padahal saya sendiri tidak vegetarian tapi saya menghormati mereka yang vegetarian karena di rumah isteri saya vegetarian. suatu waktu ketika bersama istri makan bersama frater, istri saya bilang dia vegetarian, frater tanya apakah saya juga vegetarian, karena baru saya mendengar suara isteri saya saya jawab saja justru pemangsa vegetarian. eh dia ketawa lagi. eh eh! salam Jo.P
I Gede S. Aryana said,
July 15, 2007 at 8:57 pm
Dee,
Saya ada satu puisi yang saya ingin share.
Semoga dapat sedikit memberikan ‘pencerahan’
Foreword: Here’s a poem with its title inspired by a poem by Thich Nhat Hanh titled “Call Me By My True Names” : http://www.sinc.sunysb.edu/Clubs/buddhism/music/callme.html Those of you familiar with it will realise that though the below has an “inverse” take on it, the message of empathy is intact, as a plea with a touch of tragic bitterness… in the hope that animal-eaters hesitate to order animals for food.
The last time you ordered me for dinner, you forgot my true name.
I am not some wonton.
Please call me by my true name -
I am “Pig”.
I wish you saw how lovable I was.
You might have given me a personal name too.
Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.
For I loved my life, just as you love yours.
I am not some nugget.
Please call me by my true name -
I am “Chicken”.
I wish you saw how lovable I was.
You might have given me a personal name too.
Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.
For I loved my life, just as you love yours.
I am not some burger.
Please call me by my true name -
I am “Cow”.
I wish you saw how lovable I was.
You might have given me a personal name too.
Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.
For I loved my life, just as you love yours.
I am not some fillet.
Please call me by my true name -
I am “Fish”.
I wish you saw how lovable I was.
You might have given me a personal name too.
Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.
For I loved my life, just as you love yours.
I am not some foie gras.
Please call me by my true name -
I am “Goose”.
I wish you saw how lovable I was.
You might have given me a personal name too.
Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.
For I loved my life, just as you love yours.
Before you order me for dinner next time, please remember my true name.
Dewi Lestari said,
July 16, 2007 at 7:48 pm
Pak Gede, bagus sekali puisinya, terima kasih sudah di-share di sini. Saya jadi tertarik ingin mencantumkannya nanti di buku nonfiksi saya kelak (rencananya akan ada satu bab khusus untuk mengulas soal vegetarian).
~ D ~
Taruna said,
July 26, 2007 at 11:17 pm
Fang shen adalah tindakan yang mulia, tetapi juga harus dilakukan dengan bijak. Di dunia ini selalu ada demand and supply. Saat Fang Shen menjadi tradisi yang besar dan dikenal banyak orang, seringkali tanpa sengaja hal ini memicu pedagang burung untuk lebih banyak menangkap burung dan menjualnya di depan vihara, yang biasanya harganya lebih tinggi dari pasar burung biasa.
Kalau tidak salah majalah Eastern Horizon beberapa waktu lalu juga mengangkat cerita tentang banyaknya burung yang mati sia-sia karena ditangkap dengan tujuan utama di jual ke umat Buddha, tapi tidak laku.
Aku sendiri selalu menganjurkan teman-teman dan keluarga kalau mau fang shen, jangan beli burung di depan vihara. Toh boleh juga beli ikan di pasar, yang dengan atau tanpa acara fang shen tetap banyak ditangkap buat konsumsi.
Untuk topik Vegetarian dan non vegatarian, selalu menjadi debat yang abadi. Statistik mengatakan bahwa kita mengkonsumsi daging 3 kali lebih banyak dari para kakek-kakek dan nenek-nenek kita, yang berarti 3 kali lebih banyak hewan yang harus dibantai buat kasih “makan” umat manusia. Bila tidak mau dan tidak bisa menjadi vegetarian, mungkin kita bisa memulai untuk mengurangi konsumsi daging buat kesehatan kita dan “kesejahteraan” mahluk lain. Kalau makan di A&W, tidak ambil paket dua ayam plus nasi tapi satu ayam plus 2 nasi.
Cheers,
Taruna
Taruna@karaniya.com
taruna.widjaja@gmail.com
Anonymous said,
July 29, 2007 at 8:35 pm
maaf, saya mau ikut komentar untuk satu topik ini. saya adalah seorang muslim.
berbeda dari komentar-komentar lain, dan tanpa kemampuan yang hampir mendekati anda0anda yang sudah lebih dulu berkomentar disini, tapi, sejak kecil saya diajarkan mengenai posisi manusia didunia ini. dalam ajaran yang saya percayai, manusia adalah “pengembara” diatas muka bumi yang mencari arti dari kehidupan dengan selalu beribadah kepada Nya.
tidak disebutkan bahwa manusia sebagai top-of-the-food chain atau yang lainnya.
ajaran yang lainnya mengajarkan bahwa binatang adalah makhluk yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, dalam segala bentuk pemanfaatannya, dan karenanya juga harus diperlakukan dengan baik. saat makhluk itu “menangis” menjelang “pembantaian” saya menilai itu sebagai tangisan bahagia karena sudah mampu memenuhi tugasnya dari Yang Maha Kuasa.
mengenai poem by Thich Nhat Hanh titled “Call Me By My True Names”, menurut saya itu romantisme, kalau bukan keanehan.hewan tidak bisa berpikir. mereka hanya punya insting. itulah yang membedakan mereka dengan manusia.
maaf sebesar-besarnya bila penyampaian ini menyinggung beberapa pihak.
alia
Dewi Lestari said,
August 1, 2007 at 10:44 am
Halo Alia,
Bervegetarian memang bukan hal yang dikenal luas dalam tradisi agama Samawi, walaupun bukannya tidak ada sama sekali. Dalam Kristen, ada aliran Advent yang vegetaris. Kalau kita berkunjung ke situs IVU, di sana juga ada organisasi vegetarian Islam yang berbasis di Iran. Bervegetarian, menurut hemat saya, memang baru “komplet” jika dilihat dari empat sisi, bukan hanya satu, yakni: sisi etika, sisi lingkungan, sisi kesehatan, dan sisi spiritual. Jika cuma satu, misalnya dari ajaran agama saja, jelas akan ada banyak pro-kontra dan multi-interpretasi. Jika hanya etika saja, akan banyak argumen yang mengatakan makhluk hidup tak berpikir, jadi tak terlalu apa-apa jika disakiti. Jika hanya kesehatan, orang bisa beralasan: ‘makan sayur juga akhirnya mati, makan daging juga akhirnya mati, jadi kenapa harus nggak makan daging?’ (senada dengan alasan klasik orang merokok). Jika hanya lingkungan, orang akan mengalah pada selera: ‘habis enak, sih’, atau malah berlindung di balik: ‘kan kata ajaran saya begini, kitab ini begini, dst’. Jadi keempat sisi ini perlu direnungkan untuk kita tiba sampai pada satu kesimpulan: perlukah kita bervegetarian? Dan perenungan itu bermuara lagi pada: perlukah kita peduli terhadap penderitaan sesama makhluk hidup?
Dalam Alkitab tertulis Kejadian 1 ay. 29: Berfirmanlah Allah : “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.”
Allah tidak menyebutkan hewan sebagai makanan manusia. Sementara untuk perihal manusia sebagai penguasa, masih dari kitab Kejadian juga tertulis: “… Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
Boleh jadi kita memiliki sekian banyak interpretasi atas kata “berkuasa”. Tapi saya kira kita bisa sependapat bahwa berkuasa seharusnya bukanlah memakani, mengeksploitasi, dan menihilkan kesempatan untuk hidup bebas alami. Jika iya, maka tak heran kalau begitu banyak sejarah yang mencatatkan kisah penguasa yang memakani, mengeksploitasi, dan mengekang hak rakyatnya. Jika kita renungkan, tentunya akan kita temukan hubungan antara pola konsumsi kita dengan konsep penguasaan ini. Jika berkuasa diartikan sebagai tindakan memelihara, mengasihi, dan berempati, tentu pemerintah dan penguasa bukanlah figur yang seringnya zalim, serakah, bahkan kanibal (baca: ‘memakani’ rakyatnya sendiri). Leo Tolstoy pernah mengatakan, selama ada rumah jagal maka tidak akan ada perdamaian di muka bumi. Bagi saya, pengentasan kekerasan harus dimulai dari dari piring makan.
Hanya konsep berkuasa eksploitatiflah yang bisa menimbulkan pemahaman bahwa ‘penderitaan’ hanya eksklusif milik manusia saja, hewan tidak. Meski kita tahu mereka bisa merasakan sakit dan takut. Boleh jadi puisi Thich Nhat Hanh adalah romantisme belaka. Namun jika ada yang berpendapat bahwa saat seekor hewan dibantai lalu menangis, maka tangisan itu adalah hasil luapan suka cita sang hewan karena telah menunaikan sebuah tugas mulia? Saya pikir itu pun romantisme yang luar biasa belaka.
chindy said,
September 13, 2007 at 6:18 am
Jogja,26-08-2007 (11:31:10)
Beberapa waktu belakang, air mata ini kerap membasahi hati. Pagi ini, membaca artikel tentang ditemukannya kerangka Dodo, burung asal Samudra Hindia, setelah kerangka terakhir terlengkapnya di museum Oxford terbakar.
Sobat, Dodo telah punah 300 tahun yang lalu, HANYA DALAM HITUNGAN 122 TAHUN, sejak pertama kali bertemu dengan manusia, kala itu pelaut Portugal dan Belanda pada tahun 1558.
Dodo tidak takut pada manusia, bertindak seperti makhluk tanpa salah (baca lugu) dan naif, sama sekali tidak berprasangka apa-apa pada manusia. Keluguan dan kenaifan Dodo inilah yang membuatnya ‘disukai’. Disukai untuk dikejar, dibunuh, dan dimakan s a m p a i P U N A H
Hati manusia sungguh bisa demikian tega, tidak menyisakan tempat, membawa kiamat bagi makhluk lain…
NB.Dee,kisah Dodo ini juga ada dalam film dok yang saya kirim tempo hari trilogi State of The Planet