<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: </title>
	<atom:link href="http://www.dewilestari.com/b/2007/06/19/53/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/06/19/53/</link>
	<description>an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Dec 2011 03:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>By: chindy</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/06/19/53/comment-page-1/#comment-707</link>
		<dc:creator>chindy</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Sep 2007 14:18:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=53#comment-707</guid>
		<description>Jogja,26-08-2007 (11:31:10)&lt;br/&gt;Beberapa waktu belakang, air mata ini kerap membasahi hati. Pagi ini, membaca artikel tentang ditemukannya kerangka Dodo, burung asal Samudra Hindia, setelah kerangka terakhir terlengkapnya di museum Oxford terbakar. &lt;br/&gt;Sobat, Dodo telah punah 300 tahun yang lalu, HANYA DALAM HITUNGAN 122 TAHUN, sejak pertama kali bertemu dengan manusia, kala itu pelaut Portugal dan Belanda pada tahun 1558.&lt;br/&gt;Dodo tidak takut pada manusia, bertindak seperti makhluk tanpa salah (baca lugu) dan naif, sama sekali tidak berprasangka apa-apa pada manusia. Keluguan dan kenaifan Dodo inilah yang membuatnya &#039;disukai&#039;. Disukai untuk dikejar, dibunuh, dan dimakan s a m p a i  P U N A H&lt;br/&gt;Hati manusia sungguh bisa demikian tega, tidak menyisakan tempat, membawa kiamat bagi makhluk lain...&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;NB.Dee,kisah Dodo ini juga ada dalam film dok yang saya kirim tempo hari trilogi State of The Planet</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Jogja,26-08-2007 (11:31:10)<br />Beberapa waktu belakang, air mata ini kerap membasahi hati. Pagi ini, membaca artikel tentang ditemukannya kerangka Dodo, burung asal Samudra Hindia, setelah kerangka terakhir terlengkapnya di museum Oxford terbakar. <br />Sobat, Dodo telah punah 300 tahun yang lalu, HANYA DALAM HITUNGAN 122 TAHUN, sejak pertama kali bertemu dengan manusia, kala itu pelaut Portugal dan Belanda pada tahun 1558.<br />Dodo tidak takut pada manusia, bertindak seperti makhluk tanpa salah (baca lugu) dan naif, sama sekali tidak berprasangka apa-apa pada manusia. Keluguan dan kenaifan Dodo inilah yang membuatnya &#8216;disukai&#8217;. Disukai untuk dikejar, dibunuh, dan dimakan s a m p a i  P U N A H<br />Hati manusia sungguh bisa demikian tega, tidak menyisakan tempat, membawa kiamat bagi makhluk lain&#8230;</p>
<p>NB.Dee,kisah Dodo ini juga ada dalam film dok yang saya kirim tempo hari trilogi State of The Planet</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dewi Lestari</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/06/19/53/comment-page-1/#comment-643</link>
		<dc:creator>Dewi Lestari</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Aug 2007 18:44:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=53#comment-643</guid>
		<description>Halo Alia, &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bervegetarian memang bukan hal yang dikenal luas dalam tradisi agama Samawi, walaupun bukannya tidak ada sama sekali. Dalam Kristen, ada aliran Advent yang vegetaris. Kalau kita berkunjung ke situs IVU, di sana juga ada organisasi vegetarian Islam yang berbasis di Iran. Bervegetarian, menurut hemat saya, memang baru “komplet” jika dilihat dari empat sisi, bukan hanya satu, yakni: sisi etika, sisi lingkungan, sisi kesehatan, dan sisi spiritual. Jika cuma satu, misalnya dari ajaran agama saja, jelas akan ada banyak pro-kontra dan multi-interpretasi. Jika hanya etika saja, akan banyak argumen yang mengatakan makhluk hidup tak berpikir, jadi tak terlalu apa-apa jika disakiti. Jika hanya kesehatan, orang bisa beralasan: ‘makan sayur juga akhirnya mati, makan daging juga akhirnya mati, jadi kenapa harus nggak makan daging?’ (senada dengan alasan klasik orang merokok). Jika hanya lingkungan, orang akan mengalah pada selera: ‘habis enak, sih’, atau malah berlindung di balik: ‘kan kata ajaran saya begini, kitab ini begini, dst’. Jadi keempat sisi ini perlu direnungkan untuk kita tiba sampai pada satu kesimpulan: perlukah kita bervegetarian? Dan perenungan itu bermuara lagi pada: perlukah kita peduli terhadap penderitaan sesama makhluk hidup? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dalam Alkitab tertulis Kejadian 1 ay. 29: Berfirmanlah Allah : “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.”&lt;br/&gt;Allah tidak menyebutkan hewan sebagai makanan manusia. Sementara untuk perihal manusia sebagai penguasa, masih dari kitab Kejadian juga tertulis: “... Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Boleh jadi kita memiliki sekian banyak interpretasi atas kata “berkuasa”. Tapi saya kira kita bisa sependapat bahwa berkuasa seharusnya bukanlah memakani, mengeksploitasi, dan menihilkan kesempatan untuk hidup bebas alami. Jika iya, maka tak heran kalau begitu banyak sejarah yang mencatatkan kisah penguasa yang memakani, mengeksploitasi, dan mengekang hak rakyatnya. Jika kita renungkan, tentunya akan kita temukan hubungan antara pola konsumsi kita dengan konsep penguasaan ini. Jika berkuasa diartikan sebagai tindakan memelihara, mengasihi, dan berempati, tentu pemerintah dan penguasa bukanlah figur yang seringnya zalim, serakah, bahkan kanibal (baca: ‘memakani’ rakyatnya sendiri). Leo Tolstoy pernah mengatakan, selama ada rumah jagal maka tidak akan ada perdamaian di muka bumi. Bagi saya, pengentasan kekerasan harus dimulai dari dari piring makan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hanya konsep berkuasa eksploitatiflah yang bisa menimbulkan pemahaman bahwa ‘penderitaan’ hanya eksklusif milik manusia saja, hewan tidak. Meski kita tahu mereka bisa merasakan sakit dan takut. Boleh jadi puisi Thich Nhat Hanh adalah romantisme belaka. Namun jika ada yang berpendapat bahwa saat seekor hewan dibantai lalu menangis, maka tangisan itu adalah hasil luapan suka cita sang hewan karena telah menunaikan sebuah tugas mulia? Saya pikir itu pun romantisme yang luar biasa belaka.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Halo Alia, </p>
<p>Bervegetarian memang bukan hal yang dikenal luas dalam tradisi agama Samawi, walaupun bukannya tidak ada sama sekali. Dalam Kristen, ada aliran Advent yang vegetaris. Kalau kita berkunjung ke situs IVU, di sana juga ada organisasi vegetarian Islam yang berbasis di Iran. Bervegetarian, menurut hemat saya, memang baru “komplet” jika dilihat dari empat sisi, bukan hanya satu, yakni: sisi etika, sisi lingkungan, sisi kesehatan, dan sisi spiritual. Jika cuma satu, misalnya dari ajaran agama saja, jelas akan ada banyak pro-kontra dan multi-interpretasi. Jika hanya etika saja, akan banyak argumen yang mengatakan makhluk hidup tak berpikir, jadi tak terlalu apa-apa jika disakiti. Jika hanya kesehatan, orang bisa beralasan: ‘makan sayur juga akhirnya mati, makan daging juga akhirnya mati, jadi kenapa harus nggak makan daging?’ (senada dengan alasan klasik orang merokok). Jika hanya lingkungan, orang akan mengalah pada selera: ‘habis enak, sih’, atau malah berlindung di balik: ‘kan kata ajaran saya begini, kitab ini begini, dst’. Jadi keempat sisi ini perlu direnungkan untuk kita tiba sampai pada satu kesimpulan: perlukah kita bervegetarian? Dan perenungan itu bermuara lagi pada: perlukah kita peduli terhadap penderitaan sesama makhluk hidup? </p>
<p>Dalam Alkitab tertulis Kejadian 1 ay. 29: Berfirmanlah Allah : “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.”<br />Allah tidak menyebutkan hewan sebagai makanan manusia. Sementara untuk perihal manusia sebagai penguasa, masih dari kitab Kejadian juga tertulis: “&#8230; Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”</p>
<p>Boleh jadi kita memiliki sekian banyak interpretasi atas kata “berkuasa”. Tapi saya kira kita bisa sependapat bahwa berkuasa seharusnya bukanlah memakani, mengeksploitasi, dan menihilkan kesempatan untuk hidup bebas alami. Jika iya, maka tak heran kalau begitu banyak sejarah yang mencatatkan kisah penguasa yang memakani, mengeksploitasi, dan mengekang hak rakyatnya. Jika kita renungkan, tentunya akan kita temukan hubungan antara pola konsumsi kita dengan konsep penguasaan ini. Jika berkuasa diartikan sebagai tindakan memelihara, mengasihi, dan berempati, tentu pemerintah dan penguasa bukanlah figur yang seringnya zalim, serakah, bahkan kanibal (baca: ‘memakani’ rakyatnya sendiri). Leo Tolstoy pernah mengatakan, selama ada rumah jagal maka tidak akan ada perdamaian di muka bumi. Bagi saya, pengentasan kekerasan harus dimulai dari dari piring makan. </p>
<p>Hanya konsep berkuasa eksploitatiflah yang bisa menimbulkan pemahaman bahwa ‘penderitaan’ hanya eksklusif milik manusia saja, hewan tidak. Meski kita tahu mereka bisa merasakan sakit dan takut. Boleh jadi puisi Thich Nhat Hanh adalah romantisme belaka. Namun jika ada yang berpendapat bahwa saat seekor hewan dibantai lalu menangis, maka tangisan itu adalah hasil luapan suka cita sang hewan karena telah menunaikan sebuah tugas mulia? Saya pikir itu pun romantisme yang luar biasa belaka.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/06/19/53/comment-page-1/#comment-642</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Jul 2007 04:35:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=53#comment-642</guid>
		<description>maaf, saya mau ikut komentar untuk satu topik ini. saya adalah seorang muslim.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;berbeda dari komentar-komentar lain, dan tanpa kemampuan yang hampir mendekati anda0anda yang sudah lebih dulu berkomentar disini, tapi, sejak kecil saya diajarkan mengenai posisi manusia didunia ini. dalam ajaran yang saya percayai, manusia adalah &quot;pengembara&quot; diatas muka bumi yang mencari arti dari kehidupan dengan selalu beribadah kepada Nya.&lt;br/&gt;tidak disebutkan bahwa manusia sebagai top-of-the-food chain atau yang lainnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;ajaran yang lainnya mengajarkan bahwa binatang adalah makhluk yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, dalam segala bentuk pemanfaatannya, dan karenanya juga harus diperlakukan dengan baik. saat makhluk itu &quot;menangis&quot; menjelang &quot;pembantaian&quot; saya menilai itu sebagai tangisan bahagia karena sudah mampu memenuhi tugasnya dari Yang Maha Kuasa.&lt;br/&gt;mengenai poem by Thich Nhat Hanh titled “Call Me By My True Names”, menurut saya itu romantisme, kalau bukan keanehan.hewan tidak bisa berpikir. mereka hanya punya insting. itulah yang membedakan mereka dengan manusia.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;maaf sebesar-besarnya bila penyampaian ini menyinggung beberapa pihak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;alia</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>maaf, saya mau ikut komentar untuk satu topik ini. saya adalah seorang muslim.</p>
<p>berbeda dari komentar-komentar lain, dan tanpa kemampuan yang hampir mendekati anda0anda yang sudah lebih dulu berkomentar disini, tapi, sejak kecil saya diajarkan mengenai posisi manusia didunia ini. dalam ajaran yang saya percayai, manusia adalah &#8220;pengembara&#8221; diatas muka bumi yang mencari arti dari kehidupan dengan selalu beribadah kepada Nya.<br />tidak disebutkan bahwa manusia sebagai top-of-the-food chain atau yang lainnya.</p>
<p>ajaran yang lainnya mengajarkan bahwa binatang adalah makhluk yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, dalam segala bentuk pemanfaatannya, dan karenanya juga harus diperlakukan dengan baik. saat makhluk itu &#8220;menangis&#8221; menjelang &#8220;pembantaian&#8221; saya menilai itu sebagai tangisan bahagia karena sudah mampu memenuhi tugasnya dari Yang Maha Kuasa.<br />mengenai poem by Thich Nhat Hanh titled “Call Me By My True Names”, menurut saya itu romantisme, kalau bukan keanehan.hewan tidak bisa berpikir. mereka hanya punya insting. itulah yang membedakan mereka dengan manusia.</p>
<p>maaf sebesar-besarnya bila penyampaian ini menyinggung beberapa pihak.</p>
<p>alia</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Taruna</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/06/19/53/comment-page-1/#comment-638</link>
		<dc:creator>Taruna</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jul 2007 07:17:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=53#comment-638</guid>
		<description>Fang shen adalah tindakan yang mulia, tetapi juga harus dilakukan dengan bijak. Di dunia ini selalu ada demand and supply. Saat Fang Shen menjadi tradisi yang besar dan dikenal banyak orang, seringkali tanpa sengaja hal ini memicu pedagang burung untuk lebih banyak menangkap burung dan menjualnya di depan vihara, yang biasanya harganya lebih tinggi dari pasar burung biasa. :-(&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kalau tidak salah majalah Eastern Horizon beberapa waktu lalu juga mengangkat cerita tentang banyaknya burung yang mati sia-sia karena ditangkap dengan tujuan utama di jual ke umat Buddha, tapi tidak laku.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Aku sendiri selalu menganjurkan teman-teman dan keluarga kalau mau fang shen, jangan beli burung di depan vihara. Toh boleh juga beli ikan di pasar, yang dengan atau tanpa acara fang shen tetap banyak ditangkap buat konsumsi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Untuk topik Vegetarian dan non vegatarian, selalu menjadi debat yang abadi. Statistik mengatakan bahwa kita mengkonsumsi daging 3 kali lebih banyak dari para kakek-kakek dan nenek-nenek kita, yang berarti 3 kali lebih banyak hewan yang harus dibantai buat kasih &quot;makan&quot; umat manusia. Bila tidak mau dan tidak bisa menjadi vegetarian, mungkin kita bisa memulai untuk mengurangi konsumsi daging buat kesehatan kita dan &quot;kesejahteraan&quot; mahluk lain. Kalau makan di A&amp;W, tidak ambil paket dua ayam plus nasi tapi satu ayam plus 2 nasi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Cheers,&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Taruna &lt;br/&gt;Taruna@karaniya.com&lt;br/&gt;taruna.widjaja@gmail.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Fang shen adalah tindakan yang mulia, tetapi juga harus dilakukan dengan bijak. Di dunia ini selalu ada demand and supply. Saat Fang Shen menjadi tradisi yang besar dan dikenal banyak orang, seringkali tanpa sengaja hal ini memicu pedagang burung untuk lebih banyak menangkap burung dan menjualnya di depan vihara, yang biasanya harganya lebih tinggi dari pasar burung biasa. <img src='http://www.dewilestari.com/b/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kalau tidak salah majalah Eastern Horizon beberapa waktu lalu juga mengangkat cerita tentang banyaknya burung yang mati sia-sia karena ditangkap dengan tujuan utama di jual ke umat Buddha, tapi tidak laku.</p>
<p>Aku sendiri selalu menganjurkan teman-teman dan keluarga kalau mau fang shen, jangan beli burung di depan vihara. Toh boleh juga beli ikan di pasar, yang dengan atau tanpa acara fang shen tetap banyak ditangkap buat konsumsi.</p>
<p>Untuk topik Vegetarian dan non vegatarian, selalu menjadi debat yang abadi. Statistik mengatakan bahwa kita mengkonsumsi daging 3 kali lebih banyak dari para kakek-kakek dan nenek-nenek kita, yang berarti 3 kali lebih banyak hewan yang harus dibantai buat kasih &#8220;makan&#8221; umat manusia. Bila tidak mau dan tidak bisa menjadi vegetarian, mungkin kita bisa memulai untuk mengurangi konsumsi daging buat kesehatan kita dan &#8220;kesejahteraan&#8221; mahluk lain. Kalau makan di A&#038;W, tidak ambil paket dua ayam plus nasi tapi satu ayam plus 2 nasi.</p>
<p>Cheers,</p>
<p>Taruna <br /><a href="mailto:Taruna@karaniya.com">Taruna@karaniya.com</a><br /><a href="mailto:taruna.widjaja@gmail.com">taruna.widjaja@gmail.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dewi Lestari</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/06/19/53/comment-page-1/#comment-627</link>
		<dc:creator>Dewi Lestari</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2007 03:48:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=53#comment-627</guid>
		<description>Pak Gede, bagus sekali puisinya, terima kasih sudah di-share di sini. Saya jadi tertarik ingin mencantumkannya nanti di buku nonfiksi saya kelak (rencananya akan ada satu bab khusus untuk mengulas soal vegetarian). &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;~ D ~</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Gede, bagus sekali puisinya, terima kasih sudah di-share di sini. Saya jadi tertarik ingin mencantumkannya nanti di buku nonfiksi saya kelak (rencananya akan ada satu bab khusus untuk mengulas soal vegetarian). </p>
<p>~ D ~</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: I Gede S. Aryana</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/06/19/53/comment-page-1/#comment-623</link>
		<dc:creator>I Gede S. Aryana</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 16 Jul 2007 04:57:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=53#comment-623</guid>
		<description>Dee,&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya ada satu puisi yang saya ingin share. &lt;br/&gt;Semoga dapat sedikit memberikan &#039;pencerahan&#039;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Foreword: Here&#039;s a poem with its title inspired by a poem by Thich Nhat Hanh titled “Call Me By My True Names” : http://www.sinc.sunysb.edu/Clubs/buddhism/music/callme.html Those of you familiar with it will realise that though the below has an “inverse” take on it, the message of empathy is intact, as a plea with a touch of tragic bitterness... in the hope that animal-eaters hesitate to order animals for food.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;The last time you ordered me for dinner, you forgot my true name.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;I am not some wonton.&lt;br/&gt;Please call me by my true name -&lt;br/&gt;I am &quot;Pig&quot;.&lt;br/&gt;I wish you saw how lovable I was.&lt;br/&gt;You might have given me a personal name too.&lt;br/&gt;Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.&lt;br/&gt;For I loved my life, just as you love yours.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;I am not some nugget.&lt;br/&gt;Please call me by my true name -&lt;br/&gt;I am &quot;Chicken&quot;.&lt;br/&gt;I wish you saw how lovable I was.&lt;br/&gt;You might have given me a personal name too.&lt;br/&gt;Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.&lt;br/&gt;For I loved my life, just as you love yours.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;I am not some burger.&lt;br/&gt;Please call me by my true name -&lt;br/&gt;I am &quot;Cow&quot;.&lt;br/&gt;I wish you saw how lovable I was.&lt;br/&gt;You might have given me a personal name too.&lt;br/&gt;Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.&lt;br/&gt;For I loved my life, just as you love yours.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;I am not some fillet.&lt;br/&gt;Please call me by my true name -&lt;br/&gt;I am &quot;Fish&quot;.&lt;br/&gt;I wish you saw how lovable I was.&lt;br/&gt;You might have given me a personal name too.&lt;br/&gt;Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.&lt;br/&gt;For I loved my life, just as you love yours.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;I am not some foie gras.&lt;br/&gt;Please call me by my true name -&lt;br/&gt;I am &quot;Goose&quot;.&lt;br/&gt;I wish you saw how lovable I was.&lt;br/&gt;You might have given me a personal name too.&lt;br/&gt;Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.&lt;br/&gt;For I loved my life, just as you love yours.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Before you order me for dinner next time, please remember my true name.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dee,</p>
<p>Saya ada satu puisi yang saya ingin share. <br />Semoga dapat sedikit memberikan &#8216;pencerahan&#8217;</p>
<p>Foreword: Here&#8217;s a poem with its title inspired by a poem by Thich Nhat Hanh titled “Call Me By My True Names” : <a href="http://www.sinc.sunysb.edu/Clubs/buddhism/music/callme.html" rel="nofollow">http://www.sinc.sunysb.edu/Clubs/buddhism/music/callme.html</a> Those of you familiar with it will realise that though the below has an “inverse” take on it, the message of empathy is intact, as a plea with a touch of tragic bitterness&#8230; in the hope that animal-eaters hesitate to order animals for food.</p>
<p>The last time you ordered me for dinner, you forgot my true name.</p>
<p>I am not some wonton.<br />Please call me by my true name -<br />I am &#8220;Pig&#8221;.<br />I wish you saw how lovable I was.<br />You might have given me a personal name too.<br />Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.<br />For I loved my life, just as you love yours.</p>
<p>I am not some nugget.<br />Please call me by my true name -<br />I am &#8220;Chicken&#8221;.<br />I wish you saw how lovable I was.<br />You might have given me a personal name too.<br />Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.<br />For I loved my life, just as you love yours.</p>
<p>I am not some burger.<br />Please call me by my true name -<br />I am &#8220;Cow&#8221;.<br />I wish you saw how lovable I was.<br />You might have given me a personal name too.<br />Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.<br />For I loved my life, just as you love yours.</p>
<p>I am not some fillet.<br />Please call me by my true name -<br />I am &#8220;Fish&#8221;.<br />I wish you saw how lovable I was.<br />You might have given me a personal name too.<br />Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.<br />For I loved my life, just as you love yours.</p>
<p>I am not some foie gras.<br />Please call me by my true name -<br />I am &#8220;Goose&#8221;.<br />I wish you saw how lovable I was.<br />You might have given me a personal name too.<br />Please remember I was killed unhappily, even as you eat me happily.<br />For I loved my life, just as you love yours.</p>
<p>Before you order me for dinner next time, please remember my true name.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: jo priastana</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/06/19/53/comment-page-1/#comment-611</link>
		<dc:creator>jo priastana</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Jul 2007 11:10:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=53#comment-611</guid>
		<description>Fang shen saya kenal tapi ngak pernah ngikutin ngak tahu kenapa. pernah turut orang lepas burung tapi burungnya saya liat kesedot baling-baling psawat mungkin karena lepasnya dekat bandara. pernah beli burungnya di prunpung jatinegara ketika dilepas di vihara dia diam aja rupanya burungnya ngak mau bebas enak dipelihara di kasih makan. kalau penyu katanya umur panjang saya sih sering liat di glodok. tapi kegiatan ini cukup menarik mengingatkan saya pada buku yang sedang saya siapkan Sang Buddha Sahabat Binatang. ada juga yang nolak Buddha disandang dengan kata Sang mungkin terasa tidak menghormati karena yang biasa pakai Sang kan Sang Kancil, Sang Kodok, Sang Ular. tapi bagi saya ok aja malah saya senang nyebut Sang Buddha, karena memang dia kan sahabat binatang dan sebagai bodhisattva dia katanya pernah terlahir menjadi beragam binatang. lagi pula kumpulan bhikkhu Theravada para Bodhisattva itu juga kan beralamat di jl. margasatva pondok labu.ragunan biarlah kita akrab dan bersahabat dengan binatang membiarkan mereka tumbuh berkembang hidup dalam alamnya sebagaiamana juga dengan perjalanan karma kita yang menemui alamnya masing-masing yang mungkin juga ke alam tirachana/binatang. tentang vegetarian saya ada pengalaman, saya pernah bawa teman baik wartawan beragama muslim, makan di restoran vegetarian dengan hidangan yang ada daging babinya, saya tanya dia apakah daging babi-babian ini halal atau haram? dia hanya tertawa saja. padahal saya sendiri tidak vegetarian tapi saya menghormati mereka yang vegetarian karena di rumah isteri saya vegetarian. suatu waktu ketika bersama istri makan bersama frater, istri saya bilang dia vegetarian, frater tanya apakah saya juga vegetarian, karena baru saya mendengar suara isteri saya saya jawab saja justru pemangsa vegetarian. eh dia ketawa lagi. eh eh! salam Jo.P</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Fang shen saya kenal tapi ngak pernah ngikutin ngak tahu kenapa. pernah turut orang lepas burung tapi burungnya saya liat kesedot baling-baling psawat mungkin karena lepasnya dekat bandara. pernah beli burungnya di prunpung jatinegara ketika dilepas di vihara dia diam aja rupanya burungnya ngak mau bebas enak dipelihara di kasih makan. kalau penyu katanya umur panjang saya sih sering liat di glodok. tapi kegiatan ini cukup menarik mengingatkan saya pada buku yang sedang saya siapkan Sang Buddha Sahabat Binatang. ada juga yang nolak Buddha disandang dengan kata Sang mungkin terasa tidak menghormati karena yang biasa pakai Sang kan Sang Kancil, Sang Kodok, Sang Ular. tapi bagi saya ok aja malah saya senang nyebut Sang Buddha, karena memang dia kan sahabat binatang dan sebagai bodhisattva dia katanya pernah terlahir menjadi beragam binatang. lagi pula kumpulan bhikkhu Theravada para Bodhisattva itu juga kan beralamat di jl. margasatva pondok labu.ragunan biarlah kita akrab dan bersahabat dengan binatang membiarkan mereka tumbuh berkembang hidup dalam alamnya sebagaiamana juga dengan perjalanan karma kita yang menemui alamnya masing-masing yang mungkin juga ke alam tirachana/binatang. tentang vegetarian saya ada pengalaman, saya pernah bawa teman baik wartawan beragama muslim, makan di restoran vegetarian dengan hidangan yang ada daging babinya, saya tanya dia apakah daging babi-babian ini halal atau haram? dia hanya tertawa saja. padahal saya sendiri tidak vegetarian tapi saya menghormati mereka yang vegetarian karena di rumah isteri saya vegetarian. suatu waktu ketika bersama istri makan bersama frater, istri saya bilang dia vegetarian, frater tanya apakah saya juga vegetarian, karena baru saya mendengar suara isteri saya saya jawab saja justru pemangsa vegetarian. eh dia ketawa lagi. eh eh! salam Jo.P</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dewi Lestari</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/06/19/53/comment-page-1/#comment-601</link>
		<dc:creator>Dewi Lestari</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Jun 2007 17:22:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=53#comment-601</guid>
		<description>Fang shen yang dimanfaatkan oleh para penangkap hewan memang terjadi juga di Menado. Mereka sengaja menangkap penyu lalu mengontak orang2 yang mereka tahu biasa ber-fang shen lalu minta ditebus. Jadi ternyata untuk ber-fang shen pun dibutuhkan ketelitian. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sedangkan perihal bunuh membunuh ini memang masalah yang berlapis. Terkadang dalam sepak terjang kita berkehidupan, sebagaimana halnya kehidupan natural di alam bebas, membunuh atau mencederai makhluk lain adalah hal yang tak terhindarkan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pernah ada debat seru di internet, melibatkan dua orang peneliti, yang satu vegan dan yang satu bukan. Peneliti kedua meragukan bahwa dengan satu dunia ini bervegetarian sekalipun angka kematian hewan akibat tindakan manusia bisa pupus, karena bahkan kegiatan agraria pun bisa memakan korban, mis kelinci, musang yang tergusur dari habitatnya, dsb. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya pun setuju. Pertanian, apalagi kalau menggunakan pestisida yang notabene bukan hanya membunuh serangga tapi juga bumerang bagi keselamatan manusia dan ekosistem secara keseluruhan, tak bebas dari risiko pembunuhan hewan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Lalu peneliti vegan kembali berargumen, bahwa peneliti pertama luput memperhitungkan satu faktor lain, yakni: binatang2 liar itu, kendati mungkin nyawa mereka melayang di tengah jalan, tapi mereka tidak didesain secara sistemik untuk mati dan dikonsumsi. Komoditas hewan yang kita miliki sekarang telah merenggut kebebasan total binatang2 tsb. Ayam yang dibiakkan secara sistemik dalam industri skala besar sejak lahir tidak pernah keluar dari kandang, dijejalkan dalam petak sebesar oven microwave bersama tiga ayam lain, tidak punya interaksi sosial dan kesempatan mengembangkan insting alamiah mereka di alam bebas, mereka digemukkan hingga tak bisa berjalan, lalu dibunuh. Sapi perah, misalnya, melalui intensifikasi peternakan, sapi perah digenjot untuk memproduksi susu 10 kali lipat lebih banyak dari batas optimal alamiah mereka sepanjang hidup, dan usia sapi alami yang bisa mencapai belasan tahun, karena eksploitasi fisik yang luar biasa, mereka biasanya bertahan hanya 3-4 tahun. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Terkadang, pertanyaannya bukan mati atau tak mati, tapi bagaimana seekor hewan menjalani hidupnya. Kematian adalah hal yang pasti. Tapi tak seorang pun dari kita bisa membayangkan betapa dahsyatnya neraka yang ditempuh binatang-binatang industri tadi sejak detik pertama mereka lahir hingga ajal menjemput di pejagalan.  &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kulit, tak terkecuali. Banyak orang &#039;meloloskan&#039; kulit sebagai sesuatu yang &#039;baik-baik saja&#039; karena dianggap by-product dari apa yang sudah keburu mati. Namun investigasi yang dilakukan organisasi Viva membuktikan sebaliknya. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jujur, melepaskan diri dari produk kulit bukan hal yang mudah. Namun kita bisa belajar mengurangi, dan memakai produk kulit dengan maksimal tanpa harus konsumtif membeli berulang kali. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Industri hewan adalah penyumbang kedua dari pemanasan global sesudah otomotif. Jika rasa tega/tak tega, sehat/tak sehat, etis/tak etis, enak/tak enak masih terus menimbulkan debat, global warming adalah fakta yang lebih konkret untuk kita jadikan acuan dan basis untuk memilih. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tega/tak tega akan bertemu dengan enak/tak enak, etis/tak etis bertemu dengan praktis/tak praktis, sehat/tak sehat akan bertemu dengan banyak/sedikit. Akhirnya saya menjadi vegetarian setelah tahu korelasi antara makan daging dengan konservasi lingkungan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Setiap orang tentunya akan memiliki entry masing-masing yang berbeda-beda. Tapi perdebatan di benak saya selesai ketika bertemu aspek terakhir, yakni lingkungan hidup. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt; ~ D ~</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Fang shen yang dimanfaatkan oleh para penangkap hewan memang terjadi juga di Menado. Mereka sengaja menangkap penyu lalu mengontak orang2 yang mereka tahu biasa ber-fang shen lalu minta ditebus. Jadi ternyata untuk ber-fang shen pun dibutuhkan ketelitian. </p>
<p>Sedangkan perihal bunuh membunuh ini memang masalah yang berlapis. Terkadang dalam sepak terjang kita berkehidupan, sebagaimana halnya kehidupan natural di alam bebas, membunuh atau mencederai makhluk lain adalah hal yang tak terhindarkan. </p>
<p>Pernah ada debat seru di internet, melibatkan dua orang peneliti, yang satu vegan dan yang satu bukan. Peneliti kedua meragukan bahwa dengan satu dunia ini bervegetarian sekalipun angka kematian hewan akibat tindakan manusia bisa pupus, karena bahkan kegiatan agraria pun bisa memakan korban, mis kelinci, musang yang tergusur dari habitatnya, dsb. </p>
<p>Saya pun setuju. Pertanian, apalagi kalau menggunakan pestisida yang notabene bukan hanya membunuh serangga tapi juga bumerang bagi keselamatan manusia dan ekosistem secara keseluruhan, tak bebas dari risiko pembunuhan hewan. </p>
<p>Lalu peneliti vegan kembali berargumen, bahwa peneliti pertama luput memperhitungkan satu faktor lain, yakni: binatang2 liar itu, kendati mungkin nyawa mereka melayang di tengah jalan, tapi mereka tidak didesain secara sistemik untuk mati dan dikonsumsi. Komoditas hewan yang kita miliki sekarang telah merenggut kebebasan total binatang2 tsb. Ayam yang dibiakkan secara sistemik dalam industri skala besar sejak lahir tidak pernah keluar dari kandang, dijejalkan dalam petak sebesar oven microwave bersama tiga ayam lain, tidak punya interaksi sosial dan kesempatan mengembangkan insting alamiah mereka di alam bebas, mereka digemukkan hingga tak bisa berjalan, lalu dibunuh. Sapi perah, misalnya, melalui intensifikasi peternakan, sapi perah digenjot untuk memproduksi susu 10 kali lipat lebih banyak dari batas optimal alamiah mereka sepanjang hidup, dan usia sapi alami yang bisa mencapai belasan tahun, karena eksploitasi fisik yang luar biasa, mereka biasanya bertahan hanya 3-4 tahun. </p>
<p>Terkadang, pertanyaannya bukan mati atau tak mati, tapi bagaimana seekor hewan menjalani hidupnya. Kematian adalah hal yang pasti. Tapi tak seorang pun dari kita bisa membayangkan betapa dahsyatnya neraka yang ditempuh binatang-binatang industri tadi sejak detik pertama mereka lahir hingga ajal menjemput di pejagalan.  </p>
<p>Kulit, tak terkecuali. Banyak orang &#8216;meloloskan&#8217; kulit sebagai sesuatu yang &#8216;baik-baik saja&#8217; karena dianggap by-product dari apa yang sudah keburu mati. Namun investigasi yang dilakukan organisasi Viva membuktikan sebaliknya. </p>
<p>Jujur, melepaskan diri dari produk kulit bukan hal yang mudah. Namun kita bisa belajar mengurangi, dan memakai produk kulit dengan maksimal tanpa harus konsumtif membeli berulang kali. </p>
<p>Industri hewan adalah penyumbang kedua dari pemanasan global sesudah otomotif. Jika rasa tega/tak tega, sehat/tak sehat, etis/tak etis, enak/tak enak masih terus menimbulkan debat, global warming adalah fakta yang lebih konkret untuk kita jadikan acuan dan basis untuk memilih. </p>
<p>Tega/tak tega akan bertemu dengan enak/tak enak, etis/tak etis bertemu dengan praktis/tak praktis, sehat/tak sehat akan bertemu dengan banyak/sedikit. Akhirnya saya menjadi vegetarian setelah tahu korelasi antara makan daging dengan konservasi lingkungan. </p>
<p>Setiap orang tentunya akan memiliki entry masing-masing yang berbeda-beda. Tapi perdebatan di benak saya selesai ketika bertemu aspek terakhir, yakni lingkungan hidup. </p>
<p> ~ D ~</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Trio RaTaNa</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/06/19/53/comment-page-1/#comment-597</link>
		<dc:creator>Trio RaTaNa</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 14:26:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=53#comment-597</guid>
		<description>Di Bali masyarakatnya juga suka mengkonsumsikan penyu. Tapi sekarang sudah dilarang keras atas desakan banyak pihak, terutama para turis yg megnancam tidak akan datang lagi kalau orang-orang Bali masih doyan membantai penyu. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Soal fang shen, kadang2 kegiatan yg maksudnya baik dan mulia spt ini malahan berakibat buruk. Sebagai contoh, bila Fang Shen sengaja diadakan dgn membeli, misalnya, burung-burung dari pasar burung utk dilepaskan kembali, ini secara tidak langsung akan memotivasi para penangkap burung utk lebih semangat lagi menangkap burung2 dari alam bebas.Memang serba salah.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Di Bali masyarakatnya juga suka mengkonsumsikan penyu. Tapi sekarang sudah dilarang keras atas desakan banyak pihak, terutama para turis yg megnancam tidak akan datang lagi kalau orang-orang Bali masih doyan membantai penyu. </p>
<p>Soal fang shen, kadang2 kegiatan yg maksudnya baik dan mulia spt ini malahan berakibat buruk. Sebagai contoh, bila Fang Shen sengaja diadakan dgn membeli, misalnya, burung-burung dari pasar burung utk dilepaskan kembali, ini secara tidak langsung akan memotivasi para penangkap burung utk lebih semangat lagi menangkap burung2 dari alam bebas.Memang serba salah.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Oddiezz</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/06/19/53/comment-page-1/#comment-595</link>
		<dc:creator>Oddiezz</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Jun 2007 08:27:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=53#comment-595</guid>
		<description>Dear Azure,&lt;br/&gt;Topik pembahasan yg menarik yang takkan pernah kelar dibahas. Salah satu pendapat yg pernah saya baca, bahwa menanam padi pun pada prosesnya banyak menyebabkan banyak binatang mati, ribuan cacing, ulat dll. Demikan juga pemberian peptisida dan sebagainya. Jadi jika kita makan nasi atau produk tanaman apa saja sudah menyebabkan banyak binatang mati. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Malahan baju dari produk kapas, sepatu dari kulit sapi. Semuanya itu juga&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Cuman tidak dalam bentuk nyata seperti Mbak Dee katakan sebagai pembantaian lewat industri daging.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jadi setuju dgn pendapat anda, dalam segi apa kita menyikapi hal ini.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sedikit pandangan saya yg rendah.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;rgds&lt;br/&gt;Z</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Azure,<br />Topik pembahasan yg menarik yang takkan pernah kelar dibahas. Salah satu pendapat yg pernah saya baca, bahwa menanam padi pun pada prosesnya banyak menyebabkan banyak binatang mati, ribuan cacing, ulat dll. Demikan juga pemberian peptisida dan sebagainya. Jadi jika kita makan nasi atau produk tanaman apa saja sudah menyebabkan banyak binatang mati. </p>
<p>Malahan baju dari produk kapas, sepatu dari kulit sapi. Semuanya itu juga</p>
<p>Cuman tidak dalam bentuk nyata seperti Mbak Dee katakan sebagai pembantaian lewat industri daging.</p>
<p>Jadi setuju dgn pendapat anda, dalam segi apa kita menyikapi hal ini.</p>
<p>Sedikit pandangan saya yg rendah.</p>
<p>rgds<br />Z</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

