July 8th, 2007 at 6:58 am (Ekologi)
Harta Karun Untuk Semua
Hari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: “Stuff – The Secret Lives of Everyday Things”. Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.
Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya dalam skala jam—bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.
Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.
Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?
Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.
Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing. Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka. Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun dan membedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil.
Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu? Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan? Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.
Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.
Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protokol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita—memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup—adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.
Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu. Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung. Bagaimana dengan fashion? Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.
Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti ‘harta karun’, yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.
Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.
Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan. Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan pada intinya… dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?
Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.
Banyak orang yang berkomentar pada saya, “Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja.” Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri. Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.
Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari. Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.
I Gede S. Aryana said,
July 8, 2007 at 5:37 pm
Dee, renungan yang menggugah.
Saya boleh share sedikit ya.
Saya memutuskan untuk menjadi vegetarian suatu hari di akhir tahun 1993, di New Delhi, ketika saya mendapat tugas belajar selama 10 minggu di sana.
Saya bertemu dengan Pak Wayan, wartawan senior yang waktu itu habis mengunjungi asrham Sai Baba. Beliau menyarankan agar saya menjadi vegatarian. Beliau mengatakan itulah prasyarat utama kalau hendak bertemu Sai Baba.
Saya waktu itu menanyakan apa manfaat yang Pak Wayan rasakan setelah sekian lama menjadi vegetarian. Beliau menjelaskan bahwa yang waktu itu beliau rasakan setelah sekian tahun mejadi vegetarian, adalah bahwa beliau sudah bisa lebih waspasa memilah yang mana kebutuhan, dan yang mana keinginan. Jawaban yang sederhana sekali, jauh di luat dugaan saya, yang mengharapkan jawaban yang lebih ‘spiritualis.’
Sekarang, setelah saya menjalaninya selama sekian tahun, saya bisa mengertikannya. Sewaktu saya pulang ke Bali bulan lalu, ibu mertua saya memperhatikan baju yang saya pakai. Katanya, baju itu adalah baju yang saya pakai dua tahun lalu ketika kami sekeluarga pulang ke Bali. Saya sempat terdiam sebentar. Saya sendiri tidak begitu memperhatikan. Karena bagi saya baju itu masih bagus untuk saya pakai. Saya tidak begitu memperhatikan apakah orang lain sudah pernah melihatnya atau belum.
Saya setuju sekali kalau kita harus lebih berhati-hati menuruti ‘keinginan.’ Terutama dalam hal fashion. Kalau kita sendiri sudah bisa mulai berpikir untuk lebih hati-hati, maka niscaya kita tidak akan terjebak dalam lingkaran masalah polusi. Kita tidak boleh menjadi apatis. Lakukan sesuatu dari hal terkecil sehari-hari.
Terima kasih sharingnya.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta.
Semoga semua mahluk berbahagia.
Adi said,
July 9, 2007 at 2:12 am
hmmm…ringan tapi dalem
.. emang kalo Dee yg nulis terasa beda yah
*yg msh belajar nulis :p *
amalia wulansari said,
July 9, 2007 at 2:29 am
tak pernah terbesit di benak maupun hati kita akan semua itu. sudah seharusnya kita sebagai makhluk dengan akal pikiran yang paling unggul diantara makhluk yang lain mencoba merubah apa yang telah terbudaya di pikiran maupun perilaku kita.
Mungkin, sistem pendidikan serta pola transfer knowledge kita yang salah bagaimana seharusnya kita berhadapan dengan barang-barang yang kalau boleh saya kata produk-produk kapitalis yang tak bertanggung jawab.
plastik dan tetek bengek yang lain yang sebenarnya membuat dunia ini penuh sesak dan kompleks dengan segala masalah akibat dari keberadaannya.
Budaya instan serta kapital menjangkit negeri ini. Dengan segala upaya untuk mencapai ketertinggalan era global yang tidak masuk akal. Dengan instan kak kita mampu sejajar dengan mereka? Produk-produk instan serta praktis mulai melanda negeri ini, namun konsekwensi dari itu semua tidak mampu terpecah oleh kita.
salah satu bukti adalah dengan masukknya Jakarta sebagai urutan ketiga sebagai kota terpolusi di dunia. Bangga kah kita dengan sebutan itu?
Bangga kah kita dengan sampah di Paris Pan Java yang aduh….
Ahmed Dee said,
July 9, 2007 at 8:04 am
Mbak Dee, mengenai plastik… apa yang bisa kita lakukan untuk mengolah sampah plastik tersebut di lingkungan rumah kita? Bagaimana cara mendaur ulang / memanfaatkan kembali di area rumah kita.
elly said,
July 9, 2007 at 11:18 pm
sungguh perenungan yang cukup membuat saya pusing, tapi juga berfikir ternyata saya ini sudah cukup banyak menghaabiskan sumber daya alam, eniwei salam kenal mbak, saya suka sekali membaca tulisan2 mbak dee!
ropix said,
July 10, 2007 at 12:17 am
wew, keren dee.
cuman lingkaran setan itu yg bikin roda perekonomian berputar
hanindyo said,
July 11, 2007 at 4:42 pm
Untuk komputer pakai Mac kan? berbahagialah karena mempergunakan salah satu produk yang ramah lingkungan ^_^
http://www.apple.com/environment/
Anonymous said,
July 12, 2007 at 6:05 am
dee aku cuma mo tau cara buat blog? thank’s b4
doo said,
July 12, 2007 at 1:12 pm
rasanya kekhawatiran seperti itu juga pernah “muncul” bbrp tahun yg lalu, beratus tahun yg lalu atau beribu-ribu tahun yg lalu…
mungkin sumber daya yg sekarang berguna adalah sampah atau limbah ratusan atau ribuan tahun yg lalu…
*seneng bisa nemu blognya dewi*
Avante_Ray said,
July 12, 2007 at 8:07 pm
Hidup ini memang menarik ya Dee? karena dibalik segala keberlimpahanan yang Dee utarakan ternyata masih ada juga orang yang kekurangan.
Sehingga korelasi antara kebutuhan manusia dan kebutuhan “lingkungan” seolah menjadi sebuah lingkaran setan. Hal yang sederhana tetapi menjadi rumit atas nama ego manusia.
Kita tidak bisa memaksa manusia untuk hidup sederhana meskipun itu akan membuat limbah berkurang dan keuangan menjadi lebih baik.
Dewi Lestari said,
July 13, 2007 at 3:25 am
Untuk Mas Anonymous dulu nih… saya juga amatiran dalam hal bikin blog. Saya fokus di membuat content-nya saja, tapi secara teknis saya jauh ketinggalan dengan blogger2 lain yang sepertinya sudah bisa mengoptimalkan aneka fitur dan fasilitas yang ada.
Kalau advis dari masalah content, saya pikir intinya kita harus menemukan masalah yang benar-benar kita suka agar selalu bisa terpancing berkarya. Nggak harus satu tema sih, bisa beragam. Contohnya di sini saya juga memuat cerpen, puisi, dll. Jadi nggak harus dalam bentuk artikel. Malah kalau saya lihat kebanyakan blog sifatnya lebih ke curhat harian (diary). So it can be anything. Yang penting kitanya semangat
Mudah2an bermanfaat,
~ D ~
chindy said,
July 14, 2007 at 8:40 am
Dee,
nimbrung beri saran u Ahmed dee yo;)
u sampah plastik,
langkah awal yang dpt dilakukan adalah sebisa mungkin mengurangi jumlahnya. Mulai dari yang paling sering sampai di tangan kita, kantong asoy. Saat ke supermarket, ke pasar atau ke kelontongan. Beli ini, beli itu selalu diberi kantong asoy. Coba amati, dalam waktu satu minggu saja tumpukannya yakin deh sudah menggunung.
1. Reduce: Biasakan untuk selalu membawa kantong asoy/kresek sendiri. Paling simple, kantong asoynya dilipat kecil dan masukkan ke saku baju, rok atau celana. Ada seorang Profesor yang ditemui rekan saya melakoni kebiasaan ini dengan sangat konsisten. Selalu ada kantong kresek di saku celananya.
Rantainyakan sederhana, barang belanjaan–kasir–kantong asoy. sampe di kasir kita boleh kok nolak, dan keluarin aj kresek sendiri.
Kalo belanjaan banyak, temen saya Santi selalu bawa tas ransel, barang belanjaan dimasukin ke ransel.
Untuk kantong asoy yang kadung numpuk,
2. Reuse: Berikan saja pada ibu2 bakul di pasar, atau toko kelontongan. Pasti mereka mau. Ini jurusnya Santi;) Malah sering diberi sayur lo, barter jadinya,hehe..lumayan.Setidaknya mengurangi peredaran kantong plastik baru dengan menambah edaran kantong lama paling tidak satu putaran lagi. Sukur2 kalo ada yang mau melakukan hal yang sama. Makanya jangan sungkan dan bosan beritau tips ini pada siapa saja ya;)
2. Recycle: Kalo jumlahnya banyak banget, berikan saja pada pemulung. Mulai langganan pemulung deh. Sewaktu saya masih kecil, bila ada panci yang bocor sudah ditambal bolak-balik dan tidak tertolong juga, plus ember pecah,botol bekas saos atau kecap. Mama selalu meminta saya untuk menunggu pemulung yang lewat, untuk diberikan pada pemulung tersebut. “Sayang kalo dibuang” kata Mama. Iya sih, sama pemulung kan di bawa ke tempat penampungan barang bekas yang masih bisa di daur ulang. Plastik ada kastanya juga lo. Kualitas plastik daur ulang yang terbaik diperoleh dari kresek berwarna bening, makanya harganya bila dijual ke penampungan bisa lebih mahal. sedangkan yang berwarna, terutama hitam. Paling murah, karena bijih palstik yang dihasilkan hanya bisa dibuat ember2 hitam yang harganya murah banget, banyak dipakai buat angkut semen cor di proyek2 bangunan. Jadi melalui pemulung, kita tidak hanya mengurangi volume sampah, namun kita juga mendukung efisiensi pemakaian barang lewat recycle. Tapi hati2 dengan jalan ini, karena proses recycle itu sendiri tidak ramah lingkungan. Ada industri, ada mesin, ada bahan bakar dan ada polutan. Entah itu limbah buangan cair, padat maupun gas. Jangan sampe terbit pikiran,”Ah gpplah kan bisa direcycle” Paling ideal setel perilaku untuk reduce dan reuse. Mentok2 baru recycle deh;)
Sebenarnya, jika kita mau kritis, seribu satu rupa berbahan baku plastik yang akrab dalam tiap kegiatan konsumsi kita. Di Bangka, semenjak air mineral kemasan gelas mulai dikenal dan akhirnya memasyarakat. Dalam tiap kesempatan, saat saya ke SMK, ke SMA Santo Yosef , SMP Theresia, SD Theresia, ke kantor Dinas Kebersihan, Ke Kantor Walikota. Saya disuguhi dengan segelas air mineral kemasan. Saat saya tanya pada salah seorang guru SD, “lebih praktis” jawabnya.
Dan salah satu fakta dampak pemujaan “praktis” ini, Dee dan teman2 lain bisa akses di National Geography Indonesia edisi Oktober 2005. Sepintas saya lihat, foto dua sisi halaman bersambungan, sisi kiri, foto seekor burung yang tampak isi perutnya difoto dengan dengan setumpuk sampah diperutnya dan sisi kanan, foto segala macam pernik sampah. Awalnya saya pikir, foto tsb diambil dari karya seni, hasil imajinasi seorang seniman. Ternyata, setelah saya baca, astaghfirullah! Nyata Dee!
Seekor anak burung Albatros Laysan berusia 6 bulan. Mati kelaparan dan “kekenyangan” sampah dalam perutnya. Induknya, karena semakin menipisnya bahkan langkanya ikan maupun udang di daerah sekitar mereka tinggal, perairan Hawaii. Induk Albatros ini harus berjuang terbang ribuan mil jaraknya untuk mencari makanan. Namun tak dinyana, wilayah jangkau terbang maksimalnya, lautnya juga hanya menyisakan sampah. Tragisnya, sang induk sering tidak ngeh kalo hasil tangkapannya bukanlah ikan melainkan; pemantik api, selonsong peluru, penjepit baju, dan ratusan item barang yang diuraikan dari perut anak Albatros Laysan ini, semuanya umumnya berbahan baku plastik.
Duhai manusia,
segala yang ada di laut dikuras untuk lapar yang tak kenal puas(konsumsi global telah menguras 75% potensi perikanan global-NatGeo April07). Ini ternyata tak cukup, ragam ampas, sampah,dan polutan pun kita cecer di dalamnya. Kompas, Jumat 13 July 07(kemarin) menurunkan berita: ikan2 yang mendadak mati terapung di salah satu danau di China,jumlahnya diperkirakan seberat 30.000 kg. Penyebabnya; polusi dan cuaca.
Dee, adakah jalan memasuki hati kita yang sudah terlalu sesak oleh lapar nikmat, buta rasa, kalap hasrat?
nooxie said,
July 15, 2007 at 12:15 am
wah baru tau kalo Dewi Lestari punya blog..^^. Kapan Supernova-nya terbit lagi Mbak Dee..?
-ninuk
Dewi Lestari said,
July 15, 2007 at 1:42 am
Thank you untuk semua yang mampir dan sharing. Jeng Chindy ini bahkan akan mempublikasikan buku tips untuk hidup lebih ‘hijau’.
Untuk Pak Gede, saya termasuk baru bervegetarian, tapi salah satu manfaat langsung yang saya rasakan persis sama dengan manfaat yang dikatakan Pak Wayan. Perspektif saya tentang makan dan kegiatan makan jadi berubah. Kalau dulu lebih kepada pemuasan, sekarang kebutuhan. Banyak orang yang berkomentar melihat makanan di meja saya “Seperti makanan penjara” dan itu ditujukan untuk melukiskan absennya daging yang dikonotasikan makanan mewah, bahkan wajib ada di meja keluarga ekonomi menengah yang notabene sanggup membeli daging. Tapi “makanan penjara” itu ternyata mampu mencukupkan saya beraktivitas, menjaga kesehatan, bahkan untuk pertambahan anak saya yang batita. Terima kasih Pak Gede, ditunggu sharing2nya di blog ini…
Saya juga setuju dengan apa yang dikatakan Chindy. Pemujaan terhadap hal yang “praktis” dan “cepat” adalah bentuk dari unmindful consumption. Apabila kita renungkan secara mendalam, sebetulnya tidak ada cost sama sekali untuk mengubah pola konsumsi kita menjadi mindful consumption. Kita hanya perlu lebih lambat dan cermat, bukan cepat dan asal lewat. Merenungkan asal makanan kita dan jerih payah yang diupayakan untuk menyediakannya di meja makan, merenungkan asal barang2 kita dan bagaimana Bumi ini dikuras untuk mengadakannya, akan membuat kita lebih berhati-hati sekaligus menghargai apa yang kita miliki dan membatasi konsumsi yang tak perlu.
Untuk Ahmed, sekadar tips ringan saja, di rumah saya diberlakukan aturan bahwa plastik tidak boleh ada yang dipakai hanya sekali. Setiap kantong kresek harus bisa dimanfaatkan min sekali lagi, untuk kantong belanja, kantong sampah, dll. Plastik bekas undangan nikah, misalnya, selalu disimpan untuk menjadi dimanfaatkan lagi. Yang juga sangat berguna adalah pemilahan sampah kering dan basah. Bahkan kalau bisa lebih spesifik lagi, plastik dan kertas/tisu, kayu dan logam, juga dipisah. Supaya apa? Banyak pemulung tak bisa memanfaatkan plastik kita karena bercampur dengan sampah basah. Sementara sampah basah pun susah terurai apabila bercampur dengan sampah anorganik. Jadi pemisahan ini memudahkan rantai pengolahan sampah yang berikutnya. Edukasi pemisahan sampah ini pun akan sangat bermanfaat bagi seisi rumah. Ini juga termasuk aktivitas mindfulness. Setiap kita buang sampah, kita berpikir dulu “sampah jenis apa yang saya pegang sekarang?” dan tidak segera membuangnya.
Ekonomi ini masih bisa berputar. Dengan menerapkan mindful consumption, mindful waste, dan mindful eating, kita justru menciptakan economy sustainability, yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar “berputar”. Karena kegiatan perekonomian yang kita lakukan melibatkan empati terhadap Bumi, terhadap sesama, dan semua makhluk.
Hidup lebih sederhana bisa diupayakan, bahkan bisa dibuat menjadi aturan. Tapi perubahan paling fundamental terjadi apabila yang berubah adalah kesadaran manusianya dulu. Sehingga paradigma perubahan itu terjadi dari dalam, hasil dari observasi, bukan pemaksaan dari pihak luar. Saya setuju, sumbernya memang Ego.
Untuk Ninuk, Supernova mudah2an bisa tahun depan. Mohon maaf agak lama menyiapkannya. Sekarang ini saya sedang menyiapkan proyek bernama Rectoverso (gabungan buku dan musik) lalu buku nonfiksi, yang isinya kira2 senada dengan blog ini, intinya bagaimana kita bisa mengubah dunia dari rumah.
~ D ~
anangyb said,
July 19, 2007 at 11:47 pm
Dee,
Ada buku lain yang juga bagus dan temanya rada mirip. Judulnya ’101 Ideas To Save Our World’ aku pernah bikin resensi singkat di blog http://www.layakbaca.blogspot.com …
Buku ini -hebatnya- ditulis bocah berusia 14 tahun, tapi idenya hemmm luar biasa!
Dari buku ini aku jadi tahu ternyata ada alternatif lain yang lebih ramah lingkungan dibandingkan menggunakan Kotex alias pembalut wanita. Ada juga trik agar kita hemat air saat menekan kran kloset.
Satu nasehat yang terus terekam seusai membaca buku itu adalah: “… jika menyelam di air, jangan tingkalkan apapun kecuali kasih..”
anangyb said,
July 19, 2007 at 11:50 pm
Satu lagi Dee,
Buku ’101 Ideas To Save Our World” persis seperti gagasan kamu, Menyelamatkan Dunia Diawali di Rumah !
Dewi Lestari said,
July 20, 2007 at 12:56 am
Hi Anang,
Terima kasih untuk rekomendasi bukunya. Kebetulan saya juga memang lagi cari referensi sebanyak2nya untuk menerapkan prinsip green living dari rumah. Tapi saya cari di Amazon (untuk buku aslinya) dan nggak ada. Barangkali aslinya bukan dari publisher Amerika ya. Akan saya cari yang terjemahannya juga.
~ D ~
Ahmed Dee said,
July 22, 2007 at 5:30 am
To Chindy : thanks for saran mengenai sampah plastiknya (kamu punya blog juga nggak Chin..?).
To Dee : makasih buat informasinya…
unai said,
July 22, 2007 at 5:49 pm
wah ternyata kita punya andil dalam kerusakan lingkungan. Sangat!!! Budaya kapital sudah sedemikan mewabah menjangkiti negeri ini. Memulainya dari diri kita sendiri meski dalam lingkup paling kecilpun mungkin tak mudah. Tapi kita tidak boleh pesimis.
rime said,
July 24, 2007 at 6:33 pm
Dee, saya setuju sekali, bahwa pengetahuan tentang lingkungan mutlak harus diberikan sejak kecil, karena manusia jaman sekarang sudah sangat jauh dari alamnya.
Saya sempat kaget begitu mengetahui ada seorang anak kecil tyang hidup di kota besar tidak tahu bahwa ayam goreng yang sehari2 dikonsumsi sebenarnya berasal dari binatang bernama ‘ayam.
Kalau hal-hal seperti ini saja mereka tidak tahu, atau tidak mau tahu, atau tidak diberitahu, bagaimana mereka bisa ‘kepikiran’ hal-hal lain semisal kemana sampah kita pergi atau betapa buruknya efek emisi kendaraan bermotor bagi lingkungan.
Masalah per-plastikan, saya juga sudah mulai melakukan gerakan ‘membawa kresek sendiri ke supermarket’. Dan saya pun sudah mulai menularkan virus ini kepada teman2. Namun sayang, beberapa di antara mereka menolak melakukan ini dengan alasan ‘malu’.
Oh, come on guys.. kenapa mesti merasa malu untuk menyelamatkan lingkungan?
rima
~nice to know your blog ^^~
fahmi said,
July 25, 2007 at 5:17 pm
Just snap into this Langton Ant Theory: http://www.greenspirit.org.uk/Resources/Langton.htm
Kalo ini bisa dijadiin semacam blueprint dari pola ‘behaviour’ manusia, could we add more order track to the pattern ? (sori bahasa inggrisnya belepotan ya)
Anonymous said,
July 27, 2007 at 1:33 am
halo mbak dee..
tulisannya bagus banget. pas banget karena baru kemarin2 ini saya ngobrolin soal global warming sama temen saya.
ternyata Bumi ini sedang menuju kerusakan yang fatal ya. saya suka mengeluh jakarta panas, padahal saya sendiri ikut punya andil dalam “memanaskan” jakarta, tanpa saya sadari.
lalu sekarang, sepertinya tidak ada pilihan lain selain mengubah gaya hidup dan lebih peduli lingkungan.
Rioe said,
July 27, 2007 at 6:53 am
Saya sering berpikir orang2 ( jaman skrg) akan tertawa kalau terlalu peduli dengan hal2 kecil spt misalnya kantong plastik yg bisa dengan mudah kita dapat jika belanja daripada hrs bawa dari rmh..
Kadang saya merasa mereka yg benar (karena kebodohan)sehingga ikut arus saja..
Saya senang sekali bisa ketemu blognya mbak Dewi..
Semoga bisa membuat blog spt ini.
Memang harus bergaul dengan para bijaksana,dan tdk bergaul dgn mereka yg bijaksana..
Ratie said,
July 29, 2007 at 8:25 pm
Mba dee, kita kampanye yuuuk untuk :
1.Mengurangi styrofoam! Dengan cara bawa tempat bekel sendiri kemana-mana, misalnya.. atau di acara2 ultah, nikahan, arisan, lebih prefer pakai piring dan gelas lengkap dengan sendok-garpu dari logam. Karena limbah cucian piring,dkk akan lebih mudah diolah daripada sampah styrofoam.
2.Mengurangi plastik! Dengan cara bawa kantong/tas kain sendiri kalo belanja2.
Saya yakin, sebagai public figure mba dee pasti bisa membuat pengaruh besar pada masyarakat.
Cheers and salam kenal!
chindy said,
August 5, 2007 at 9:37 am
Dee,
banyak terima kasih atas dukungannya..kalo ud jadi bukune pasti saya kirim;)btw, buku 101 ideas to save the world-starting at home, karangan Mia Schmallenbach ya?
Ahmed dee, balik terima kasih..senang bisa berbagi;)blog saya..khusus isu lingkungan boleh kunjung ke solam_sarangkabar.blogs.friendster.com
untuk corat-coret iseng saya di blog.360.yahoo.com/chindy_tan
oy, Ahmed ini salah satu artikel di blog solam, Dee saya bagi di sini ya;)judulnya ‘Simaklah Pesan Sang Bijak”
Kebaikan mengasihi alam ternyata tak tanggung-tanggung berkahnya, mari kita simak dari apa yang diriwayatkan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW. Ada seorang penghuni surga, ketika ditanyakan kepadanya perbuatan apakah yang dilakukannya ketika di dunia hingga ia menjadi penghuni surga? Dia menjawab bahwa selagi di dunia, ia pernah menanam sebatang pohon. Dengan sabar dan tulus dia merawat dan memelihara pohon itu hingga tumbuh subur. Sebaliknya jika menganiaya dan menyakiti makhluk hidup, siapa pun baiknya menaruh gentar dalam hatinya. Pada hadist riwayat Ahmad, Bukhari, dan Ibnu Majah "dari Abi Hurairah: seseorang perempuan masuk ke dalam neraka disebabkan seekor kucing yang diikatnya, tiada diberikan makan dan tiada pula dilepaskannya untuk mencari makan sendiri dari binatang-binatang di bumi sehingga dengan sebab itu kucing itu mati
Anonymous said,
August 7, 2007 at 1:41 am
Finally.. I’ve got you..!!
Enna said,
August 7, 2007 at 2:07 am
Dee.. jadi adakah temen2 yang bisa memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang berguna.. seperti menjadi undangan dan souvenir pernikahan..kalau ada tolonglah di informasikan..
ku tunggu…thanks
Anonymous said,
August 9, 2007 at 6:24 pm
Kok belum ada update an terbaru nih …?
hansen_zinck said,
August 9, 2007 at 11:36 pm
hmm… artikel yang sangat menarik
terkadang saya merasa lupa bahwa kita-manusia, hidup berdampingan dengan alam semesta dan lingkungan. ada begitu banyak kebodohan yang dilakukan oleh manusia- yang seharusnya “disadari” namun kita membela diri kita sendiri dengan mengatakan:”oh sebelumnya saya tidak menyadarinya- saya tidak menyadari telah melakukan ini, melakukan itu” yang pada akhirnya merusak lingkungan. dan itu bukan hanya sekali- dua kali. tapi telah terjadi berjuta-juta kali sepanjang hidup kita sampai detik ini. mulai dari bayi pun sebenarnya kita telah menyumbang begitu banyak hal yang akan merusak lingkungan- tempat kita bernaung.
mungkin isu yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah ketersediaan sumber air bersih. para ahli di bidang hidrologi dan konservasi telah meramalkan sisa cadangan air bersih ini. bayangkan lebih dari 97% air di dunia ini terdapat di samudra- yang jelas tidak bisa diminum. bagaimana dengan sisanya? terbagi dalam cadangan air berupa air danau, air sungai, air dalam bentuk beku (gletser) di kutub sedangkan cadangan sumber air bersih di dunia hanya kurang dari 1 %!!!
ini barulah wacana yang ditulis dan dipaparkan begitu saja. namun wacana ini tidak berhenti disini. pada saatnya, sama seperti minyak bumi- manusia akan berebut air bersih, muncullah istilah “BLUE GOLD”. akankah timbul perang yang memperebutkan air bersih ??? bayangkan betapa banyak anak-anak di Afrika dan sebagian Asia yang mengalami kelaparan dan dehidrasi?? pangan tidak dapat berproduksi, usia manusia akan semakain memendek, manusia yang berumur 10 tahun akan terlihat berumur 20 tahun, yang berumur 20 tahun akan terlihat seperti papa-mamaku sekarang (50tahun). mengapa semua ini terjadi??
tanyakan saja pada diri kita sendiri, sumbangsih apa yang telah kita berikan pada lingkungan sekitar kita?!!
btw, ini pertama kali saya membuka blogger mb dee, isinya menarik, padat, dan informatif.thank u atas sharing pengalaman mb dee
may all beings be happy
may u be happy
from:hansen_zinck-vidyasena, jogja
Blackopie said,
August 10, 2007 at 6:34 am
hi, ito (kakak) Dee…
kenalkan, aku tonggo simangunsong.. bangga deh punya kakak seperti dirimu…
sekali-sekali nongkrong ke blog aku dong: http://www.tonggo.wordpress.com atau http://www.blackopie.blogspot.com
aku ga bisa komentar, cuma bsa geleng-geleng kepala saja deh…
Tanty said,
August 10, 2007 at 11:18 pm
It’s shocking to know bahwa manusia yang konon dilengkapi dengan akal budi yang kemudian membedakannya dari saudara-saudara mamalia kita yang lain ternyata membawa dampak yang sangat merusak bagi bumi yang sedemikian besar ini. Ibaratnya kita seperti ikan yang kencing di kolam yang kita tinggali sendiri, tanpa kita sadar bahwa kita kemudian minum air kencing kita sendiri.
Sharing mba Dee membawa saya pada perenungan baru, bahwa selama ini usaha saya untuk membuat bumi ini lebih ramah untuk ditinggali masih jauh, I still have a lot of homeworks to do. Karena dalam sehari entah berapa kali saya mencuci tangan dan sudah berapa puluh liter yang saya habiskan dalam sehari. Entah berapa meter tissue yang saya habiskan dalam sehari untuk hal-hal yang tidak penting.
Untuk kepentingan lidah yang hanya kurang lebih tiga inci ini, saya sering membeli makanan dari luar yang tentunya menggunakan elemen plastik sebagai pembungkusnya.
Saya tidak lama ini menonton acara Naked Science tentang skenario kiamat yang mungkin terjadi. Kematian matahari, meteor yang menghantam bumi adalah beberapa skenario yang dipaparkan. Namun ternyata yang paling mungkin menyebabkan dunia ini kiamat adalah manusia sendiri yang terus membuat bumi ini sekarat.
Bumi belum pernah sepanas ini sejak ribuan tahun yang lalu. Bumi yang sudah kita tinggali selama ribuan tahun ini sedang meminta tolong melalui serangkaian fenomena alam, namun berapa banyak orang yang menyadari permintaan tolongnya?
Semoga semakin banyak orang yang terbuka matanya betapa bumi ini sedang sekarat. Semoga semakin banyak orang akan berusaha menghargai bumi.
Mba Dee tetap semangat dengan green livingnya ya, I’ll try to do it as well. Thanx for the inspiration.
May all beings be happy.
Maya Tauriana said,
August 11, 2007 at 12:36 am
Dee, saya stuju banget tuh.
Tp menurut saya, sebenarnya di dunia ini ga ada individu, karena ga ada orang yang bisa berfikir tanpa pemikiran orang lain. Sejak seseorang lahir kedunia sebagai individu, dia belajar untuk hidup dan berfikir dari semua orang di sekitarnya. Sehingga individu itu dibentuk oleh orang lain atau dalam kata lain keluarga, lingkungan, kota, negara, bahkan dunia.
Bahkan ketika dia bertindak sebagai individu untuk memilih apa pun dalam hidupnya, ia tidak lepas dari segala sesuatu yang pernah masuk ke dalam kepalanya dari dunia di sekitarnya.
Btw, thanks a lot for the sharing
herdiningkusumajati said,
August 11, 2007 at 1:56 am
setelah baca tulisannya dee, saya seperti tersentak, bener-bener ga kebayang selama ini…, berarti kita ini ada di atas bumi ini lebih banyak meningalkan masalah dari pada memecahkan masalah, air, tanah, dan udara tercemar dan hanya akan meninggalkan sampah dan racun bagi generasi nanti…semoga kita menjadi peduli dan sadar akan lingkungan.
thanks dan salam kenal
herdie
syairsyiar said,
August 12, 2007 at 2:51 am
saya heran kok mbak dewi cerita panjang lebar ginian? mbak lingkaran kapitalisme itu belum ada rumusan untuk mengatasinya… ketika manusia berkehendak maka, dia akan mencari jalan untuk mencapainya, dan begitulah… semua harus berjalan masuk ke dalm sistem yang membangun peradaban sekarang, lantas apa yang bisa kita lakukan… menunggu alam sendiri yang berevolusi, entah terhadap apa…
IRA LATHIEF said,
August 13, 2007 at 2:26 am
Inspiring posting. Thx. Kayaknya cuma Mbak Dee yg bs nulisin panjang lebar ttg sampah mjd suatu hal menggugah…
Chuang said,
August 13, 2007 at 3:00 am
Kpd Mbak Dewi dan lainnya
Saya ingin berbagi tulisan lama saya yg meskipun tidak sama persis, tetapi memunyai semangat yang sama dengan tulisan Mbak Dewi.
Salam
Chuang
http://baliedu.blogspot.com
++++++++++++++++++++++++++++
Orang Utan, Orang Desa dan Orang Kota
Kawan, pernahkah engkau pergi ke pusat-pusat perbelanjaan, ke mal-mal dan lihatah betapa besar, penuh barang-barang dan manusia di sana? Tiada hari yang tiada ramai, dan tiada hari yang tiada memerlukan segala macam kebutuhan. Pernahkah engkau pikirkan, mengapa kita manusia modern ini merasa memerlukan sangat banyak kebutuhan? Pernahkah engkau bandingkan kehidupan kita (orang kota) yang begitu banyak memiliki kebutuhan, dengan kehidupan orang-orang desa yang sederhana, yang tak pernah terlalu sibuk untuk menikmati mekarnya mawar, atau mencium wanginya bunga kopi yang sedang merekah, atau wangi tanah kemarau yang tersiram hujan disenja hari?
Tampak jelas sekali dari begitu besarnya pusat-pusat perbelanjaan, dari begitu banyaknya barang-barang yang diperjualbelikan, orang-orang kota seperti kita ini seakan-akan tiada habis-habisnya memiliki kebutuhan. Dari kebutuhan dasar berupa makan-minum, pakaian dan tempat tinggal, kita beranjak menuju kebutuhan-kebutuhan lain semacam hiburan (kehidupan kota membuat kita stress), perawatan tubuh (polusi kota menyebabkan tubuh kita mudah menua dan mudah sakit) pendidikan (persaingan yang ketat cuma menyisakan mereka yang kuat), aksesoris (penampilan luar adalah nilai utama, soal mutu bisa direkayasa), transportasi, komunikasi..dsb.
Kawan, kita sering melihat di kota mana pun, selalu ada kesibukan yang luar biasa. Lalu lintas macet karena banyaknya mobil, meskipun jalan raya sudah di buat sampai bertingkat-tingkat dan selebar-lebarnya. Pabrik-pabrik beroperasi sepanjang hari, menghasilkan barang-barang yang kita anggap sebagai kebutuhan. Orang-orang hilir mudik, dan semuanya tampak sibuk.
Mengapa kita demikian sibuk, kawan? Apa yang kita cari? Harta benda? Uang, uang, uang? Gengsi dan kehormatan kelas? Kenikmatan hidup atawa hedonisme? Bukankah untuk mencapai tujuan sejati manusia—kebahagiaan—kita tidak butuh tetek bengek sebanyak itu? Bukankah semua yang kita anggap sebagai kebutuhan, sesungguhnya cuma prioritas terendah dari kehidupan yang sebenarnya?
Kawan, satu hari saya melihat seekor orang utan sedang duduk santai sambil makan sebuah pisang. Terlihat betapa sederhananya kehidupannya. Dia tak membutuhkan apa pun selain makan, atap untuk berteduh, dan rasa aman bagi diri dan kelompoknya untuk mencari makan, beristirahat, dan berkembang biak.
Pernahkan engkau melihat seekor orang utan yang memerlukan sebuah mobil, rumah berikut kolam renang ukuran olympic, pergi ke salon perawatan? Atau pernahkah engkau melihat seekor orang utan yang memerlukan komputer dan akses internet, atau segala macam tetek bengek benda-benda yang kita anggap sebagai kebutuhan padahal sebenarnya tidak?
Kawan, jangan salah sangka. Saya tidak sedang mengajak anda untuk menjadi orang utan, hidup cuma untuk makan dan berkembang biak. Saya cuma ingin kita coba merenung sejenak, mengapa dari hari ke hari kita selalu sibuk mencari nafkah, selalu tampak tergesa-gesa mengejar kesempatan, dan selalu tiada habis-habisnya memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tiba-tiba muncul untuk dipenuhi?
Renungkanlah, mengapa kita semakin menjadi budak dari rutinitas kita sendiri. Pagi bangun bersiap-siap untuk kerja, sarapan dengan terburu-buru karena takut macet di jalan, kerja keras demi meningkatkan prestasi dan ujung-ujungnya demi uang yang lebih banyak lagi….lebih banyak lagi…dan lebih banyak lagi, untuk memenuhi segala macam kebutuhan yang muncul dengan tiba-tiba, merengek-rengek minta dipenuhi. Bukankah keadaan seperti ini tiada berbeda dengan kondisi seorang pecandu putauw?
Renungkanlah, mengapa dari hari ke hari kita semakin menjadi budak dari keinginan kita sendiri. Didorong oleh segala macam godaan duniawi, kebutuhan semu yang diciptakan oleh iklan-iklan yang menampilkan gaya hidup semu oleh bintang-bintang yang juga semu, betapa makin kaburnya pengertian kita akan bedanya kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan kawan, ada batasnya. Tetapi keinginan, sayangnya, sampai saat ini belum ditemukan batasnya.
Kita bukan robot kawan, dan kita bukan budak siapa pun. Jangan biarkan diri kita diperobot dan diperbudak oleh sesatnya nilai-nilai materialisme dan hedonisme. Jangan biarkan remote control diri kita berada di tangan tuan rutinitas, tuan materialisme dan nyonya hedonisme. Mari kita bentengi diri kita dengan kebijaksanaan untuk dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan.
Seperti kata Mahatma Gandhi, “High thinking, Plain living.”
Chuang 130501
++++++++++++++++++++++++++
Dewi Lestari said,
August 13, 2007 at 4:51 am
Hi to all,
Sorry it took me quite long to publish all the comments. Kesibukan lagi padat akhir2 ini, harap maklum. Makanya belum sempat juga ada update, tapi bahan tulisannya sedang disiapkan kok.
Untuk Enna, saya juga belum tahu banyak tentang teman2 yang bergerak dalam pemanfaatan barang2 bekas jadi barang siap pakai, tapi saya yakin sudah ada yang bergerak ke sana. Salah satunya yang paling umum adalah recycled paper yang sudah banyak dijual di mana-mana dalam bentuk agenda, blocknotes, kertas surat, dll. Baru2 ini saya ke Jogja dan makan malam di Milas, di sana dijual semacam nampan dan baki yang sekilas pintas seperti terbuat dari rotan, setelah didekati ternyata dari pilinan koran bekas yang dicat dan diplitur warna kayu. Bagus sekali.
Yang saya tahu juga ada XS Project, mereka membuat aneka tas dari bekas kemasan softener, detergen. Dan tasnya sangat layak pakai lho. Lumayan untuk dipakai ke supermarket sambil kampanye secara halus
Bisa dilihat infonya di: http://www.xsproject.com
Untuk Hansen dan Chuang, thank you untuk sharingnya. Para futuris memang sudah meramalkan bahwa perseteruan berikutnya bukan lagi perebutan minyak or the black gold, but the blue gold alias air bersih. Dan sepertinya waktu itu tidak akan lama lagi.
Untuk Syairsiar, saya pun setuju bahwa kapitalisme sebagai sistem sudah menjadi ‘udara’ tempat kita hidup. Dan susah rasanya bagi kita untuk ‘mengkritisi’ udara. Mau lari ke mana lagi? Namun saya merasa bahwa ini bukan semata2 masalah kapitalisme. Jika ini disebut masalah human nature, nature yang mana dulu?
Melalui perenungan, saya menemukan bahwa segala masalah dalam dunia bermuara pada kesadaran, keelingan. Kapitalisme, sosialisme, politik, ekonomi, budaya, dsb, adalah produk dari aktivitas kesadaran manusia. Jika kita berkutat dalam produknya saja tanpa menggugah sumbernya, maka semua upaya akan sia-sia. Menggugat kapitalisme menjadi upaya yang percuma. Menggugat apa pun, selama itu produk dan bukan sumber, hanya memberi efek sementara dan tidak sustainable.
Namun yang saya tulis di sini tidak bertujuan untuk menggugat produk, meski bisa saja berkesan demikian. Keelingan hanya bisa dicapai dengan penelusuran ke dalam batin, menembus ego, dan setelah itu terjadi, pandangan kita dan aksi kita bisa berubah total dengan sendirinya. Tanpa dipaksa, tanpa disuruh. Gunanya tulisan2 ini? Hanya menginspirasi. Seperti kail, seperti remah roti yang menunjuk ke sebuah jalan. Jika ada yang terpancing, syukur. Jika tidak, juga tidak apa-apa. Tak terhitung banyaknya gerbang, kail, dan remah roti di luar sana yang akan menuntun kita untuk menggali realm kesadaran.
Karena itu saya lebih percaya pada perubahan skala kecil, tapi dilakukan dengan setia. Saya lebih percaya pada perubahan individu atau kelompok kecil, ketimbang mobilisasi massa yang dilakukan seketika (dan menurut saya setiap revolusi besar di muka Bumi ini pun dimulai dengan revolusi individu dan kelompok kecil terlebih dahulu).
Dan apa yang dikatakan Maya bahwa sesungguhnya tidak ada individu, saya pun percaya itu. Individu adalah ilusi. Ini menjadi paradoks, tapi bukan kontradiksi. Ketiadaan ‘individu’ justru mengilustrasikan bagaimana setiap manusia punya kontribusi dalam mempengaruhi medan kesadaran ini, seinsignifikan apa pun kelihatannya manusia itu. Ibarat telaga, sebutir pasir jatuh pun dapat menimbulkan riak.
Intinya adalah, kita selalu punya pilihan. Evolusi bisa berakhir dengan skenario apa pun, dan kita tak akan mampu meramalkannya dengan akurat. Namun hidup lebih selaras dan lebih terkendali, tidak hanya berakibat baik pada Bumi, tapi juga pada keberadaan kita secara menyeluruh. Life is suffering, Buddha said. And suffering surfaces out of desires. We cannot fundamentally eliminate suffering using suffering, or in other words, we cannot change a byproduct using another byproduct. But we can do something with our desires. We can do something with the source.
Salam kenal untuk semua yang mampir. Terima kasih banyak untuk semua yang telah dibagi di sini…
~ D ~
Endik Koeswoyo said,
August 16, 2007 at 12:12 am
Hmmm….Gini aja…Pertama saya mengucpkan terimakasih untuk makan siangnya….vegetarian itu menyenangkan…klo di hitung dari segi keuangan…yang jelas lebih murah dech…kebukti kok…beberapa orang (ARTIS) yang bukan Vegeratian, sekali makan bisa menghabiskan RP.179.000. NAH Suatu siang aku makan sama Siang sama Mbak Dewi…tau nggak berapa yang harus aku bayar untuk 4 orang? Hanya Rp. 24.000,-…Terkadang aku berpikir, murah juga ya? tapi yang jelas bukan harga ato masalah keunagan…tapi lebih ek pada kesehatan…Suatu ketika aku menemani Mbak Ita Purnamasari pada sebuah acara di Jogja,, Semacam konsultasi…ternyata si pakar kesehatan mengatakan kalau Ayam Potong itu nggak sehat…banyak penyakitnya….eh…pas makan malam….nggak seorangpun makan ayam….Ya…Ya…semua memang aneh dalah hidup ini….Buat Mbak Dewi….makasih atas kunjungan dan mau menghadiri acara di jogja…Saya dan Temen-temen Arpro mengucapkan banyak-banyak terimakasih….
Salah Hormat
Endik Koeswoyo
Terus Menulis Ya…
chindy said,
August 17, 2007 at 8:22 am
Dee,
Banyak hal yang membentuk pola konsumsi kita. Salah satu faktor terbesar adalah prestise, yang terurai dalam budaya pantas, tak pantas. Layak tak layak. Ketika pertama kali survei sebuah klinik bersama yang ditawarkan teman untuk memindahkan klinik gigi saya ke sana. saya berjalan kaki, dari jalan besar hanya sekitar 20 meter dari jalan besar Jogja-Solo daerah Delanggu Raya-Klaten. Sesampai di sana, ketika hendak pulang mereka bersikeras menawarkan mengantar ke jalan besar dengan gumaman, “moso’ jalan to” dengan kata lain tak selayaknya jalan kaki. Saya tolak dengan alasan, saya sudah sangat jarang berolahraga, saya ingin jalan kaki ben olahraga sisan.
Dengan alasan gengsi pula, tak jarang dengan segala macam cara, tak peduli gaji dipotong tinggal 42ribu tiap bulan sing penting bisa kredit mobil. Citra diri dilekatkan pada mobil tersebut, positioning yang tak disadari membiarkan diri dicucuk hasrat, ukuran kelayakan dalam frame hasrat,gengsi bukan asas butuh, nilai guna. Seorang rekan saya mengeluh gaji 10 juta jarang bersisa. padahal masih single. gile yee. abis baju dalam aj di dry clean, semua barang yang dipake kudu bermerek..wajarlah kalo pengeluaran juga super duper bengkak.
Coba mari kita duduk bersama, jika kita bercermin, selama ini, pola konsumsi kita tak ubahnya dengan seekor monyet dengan botol yang terus tergondel ditangannya. Ilustrasi ceritanya begini, untuk memerangkap seekor monyet, satu botol yang diisi permen dengan diameter mulut botolnya hanya cukup untuk dilewati satu kepalan tangan. Bila monyet memasukkan tangan dan mengambil permen, ukuran kepalan tangan bertambah, sehingga diameter kepalan lebih besar dari ukuran semula berarti lebih besar dari mulut botol itu sendiri akibatnya tangan tidak akan bisa ditarik keluar dari botol tersebut. Apa yang terjadi? Mudah ditebak, monyet tersebut memasukkan tangannya ke dalam botol dan mengambil permen, namun karena tak bisa keluar bukannya melepas permen di genggamannya. Konyol seribu kali konyol, monyet tersebut memilih terus menggenggam permen tersebut alhasil jadilah dia kemana-mana membiarkan botol permen tersebut tergondel terus. Tanpa sadar kalau pilihannya justru membebaninya.
Demikianlah adanya kita, kita menggenggam segala yang kita kira ‘milik’ kita, milik atas acuan gengsi hingga jadi boros tak jeli melihat akar nilai guna barang tersebut. Nyata pola ini adalah pemborosan energi yang hanya akan jadi beban semata. Beban bagi mental dan fisik sendiri-dikejar cicilan, tagihan yang sebenarnya tak perlu-perlu amat jadilah kita manusia perah, diperah oleh keinginan kita. Kerja jumpalitan pagi,siang,malam balik lagi begitu terus. Umur habis dicucuk duit, keuangan yang maha kuasa, demi membeli segala yang sekali lagi kita klaim sebagai ‘milik’ kita. Gengsi berujung boros juga hanya akan jadi beban bagi bumi-air,tanah dan udara karena ujungnya akan banyak barang yang dikonsumsi bukan dari nilai gunanya tapi karena ikuti trend, ikuti rasa senang, bisa mengangkat prestise. Ketika bosan datang, barang2 ini hanya akan berakhir di gudang tak jarang dibuang begitu saja. Sia-sialah segala bahan baku sepatu, baju, pernak-pernik, koleksi ini-itu..
Pandangan Chuang sangat menyentuh, bukannya mau mengajak kita jadi simpanse, namun segala yang kita konsumsi kita bebas memilih akan mengonsumsi dengan cara apa, sebanyak apa. Ada baiknya kita mulai memasukkan satu tanda tanya besar ini dalam mengonsumsi apa pun, berapa besar sih kebutuhan kita? untuk tanah, meminjam inti salah satu cerpen Leo Tolstoy, ternyata tanah yang kita butuhkan tak lebih dari ukuran tubuh kita,alias kuburan. Kalau saya, bahkan tak seinci pun, saya tak butuh kuburan, kalau meninggal kelak saya ingin diperabukan dan abunya alirkan di sungai;)
Eva.M said,
August 18, 2007 at 2:59 am
De, coba cek web ini deh: http://www.greenhome.com/
Majalah Yoga+ yang terbaru mengangkat isu green sebagai topik utamanya.
Salah satu yang dilakukan oleh sebuah tempat latihan yoga di bawah Green yoga Association (http://www.greenyoga.org/), adalah dengan memberikan diskon buat muridnya yang datang dengan berjalan kaki atau naik sepeda. menarik..
salam,
Eva
dega said,
August 20, 2007 at 12:51 am
Halo mbak dee..
Aku baru ikutan neh…
Gak sengaja nemu blognya mbak dee…
Belum bisa nulis banyak…
Baru sampai pada tahap berpikir kembali..
Mudah2an besok2 sudah bisa mulai berbagi… =)
Setiawan said,
August 20, 2007 at 5:29 am
Mbak DEe, sharenya sangat menarik dan penting banget bagi dunia, semoga semua yang membaca SADAR dan sedikit memberi sumbangsih, agar dunia ini menjadi tempat yang lebih baik dan lebih nyaman ditingali. terutama bagi anak cucu kita, jadi bagi teman-teman yang baca tolong mulailah dari diri sendiri.
inggit said,
August 24, 2007 at 10:36 pm
hi mbak Dee..
seneng negh, akhirnya bisa baca juga blog-nya mbak dee [baru nemu skarang heuheuhue].
Btw, mo ijin link blognya yak..
tengkiu,
Inggit
Anonymous said,
August 25, 2007 at 7:07 am
Kak Dee, nama saya Melly. Saya mo tny, klo saya mau posting artikel nya Kak Dee di milist2 gitu boleh ga? Terutama artikel yang ini. Pasti nya saya bakal cantumin nama Kak Dee dan alamat blog ini sbgai referensi. Klo boleh, tar saya kasih liat Kak Dee dulu sebelum saya posting, thanks bgt ya Kak.
DooHaN said,
August 25, 2007 at 9:27 am
(pikir mode:on) benar juga ya…
trus kita musti gimana dong????????
AlwaysMommo said,
August 25, 2007 at 12:44 pm
wah blum di update juga nih,,, padahal saya ingin cepat-cepat baca tulisannya yang terbaru…
andy said,
August 26, 2007 at 8:15 pm
Mbak Dee, kenalkan saya Andy dari Singkawang, Kal-Bar
Sebelumnya, saya salut atas tulisan2 mbak Dee..terutama pd artikel kali ini dg topik ekologi.
To the point ya, saya ingin menawarkan produk pembersih/deterjen serba guna yg ramah lingkungan kepada mbak Dee. Detil produknya dapat mbak lihat di
http://goods.ruten.com.tw/item/show?10061114321250
(dalam bahasa mandarin)
web tersebut bukan bikinan saya dan kyknya tidak ada dalam bahasa Indonesia, soalnya produk tsb blm / tidak diproduksi di Indonesia. Bila mbak Dee berminat, mbak bisa hubungi saya di mtryboy@gmail.com
Pada tahap awal produk tsb nanti akan saya berikan secara gratis, sehingga mbak Dee dapat merasakan sendiri manfaat produk tsb.
Kritik, saran, dan pertanyaan saya nantikan. Ok?
Dewi Lestari said,
August 27, 2007 at 5:19 am
Untuk Andy, thank you atas link-nya. Tapi karena nggak ngerti huruf Mandarin jadi saya tidak bisa mengerti produknya lebih jauh. Boleh banget kalau bisa dicoba. Thank you sebelumnya. Nanti saya e-mail japri ya. Untuk Inggit, silakan di-link. Dan untuk Melly, makasih untuk pemberitahuannya terlebih dulu. Much appreciated. Jika artikel ini bisa berguna bagi banyak orang, saya sangat bersyukur. Pencantuman nama dan sumber sudah lebih dari cukup. Kalau mau japri silakan e-mail ke: dee_addict@yahoo.com
Info link dari Eva sangat berguna, mudah2an teman2 sempat mengunjungi juga.
AlwaysMommo, I know… so sorry nih, bahan tulisan banyak tapi belakangan banyak kesibukan jadi nggak sempat nulis serius. Thanks for your concern and patience.
Love,
~ D ~
orangcurhat said,
August 27, 2007 at 5:56 am
wah menarik tulisan..
akhirnya nemu juga blognya mbak dee…
mungkin untuk tahapnya bisa dimulai dari sosialisasi untuk memilah2 jenis sampah..
mulai dari sampah organik, plastik, sampe kaca..
jd sampah plastik2 itu bisa di recycle lagi..
Dimas Budiman said,
August 28, 2007 at 2:56 am
Hahahhah…,
lebih indah jika ku tak dilahirkan.
memang beginilah nyata adanya. hal yang kita lakukan inipun terwariskan dalam peri hidup anak cucu.
menyampah dan menyampah disetiap tindakan kita.
bwuahahhahhaha..,
pengetahuan membuat kemarahanku lebih banyak munculnya.
berbahagialah wahai orang orang yang tak peduli’.
In-partibus infidelium,
db
______________________ said,
August 31, 2007 at 10:28 pm
Mbak Dee,
Saya sepakat bahwa kita harus mulai “bersalin”. Melakukan sejumlah koreksi diri untuk membangkitkan kembali kesadaran ekologis kita. Saat ini alam memang sedang rajin “berunjuk rasa”, sambil berteriak, “ku tak mau seorangngpun kan merayu”, seraya membabi-buta memuntahkan lumpur, banjir, dan lainnya di mana-mana.
Mungkin alam sudah bosan jadi (dan diperlakukan sebagai) “pelacur” (meminjam istilah Sayyed Hossein Nasr, Man and Nature) sebab manusia modern kerap memperlakukan alam sebagai pelacur; diperas kenikmatannya tanpa pernah dipedulikan nasibnya–apalagi dipelihara.
Saya sepakat bahwa kita harus “bersalin”: (1) mulai mengganti kebiasaan kita yang mengonsumsi seperti berlari, dengan mulai belajar berjalan. (2) berhenti menjadi “manusia hidung belang” dengan tak lagi memperlakukan alam sebagai pelacur. Seraya mulai memikirkan nasib alam dan memeliharanya, tentu saja.
Tapi Mbak Dee,
menurut saya, yang lebih tepat adalah bukan mengganti “berlari” dengan “berjalan”. Kita harus berhenti bergerak sejenak: menyaksikan bagaimana alam bergerak dalam diri dan kesadaran yang “diam”.
Saya jadi ingan proyek “Global Prayer”-nya James Redfield, bila manusia di seluruh dunia berhenti beraktivitas (mesin-mesin di matikan, pejalan kaki berhenti) sejenak saja. Bersama-sama. Seluruh dunia. Satu menit saja, misalnya. Kita akan melihat bagaimana alam berubah, me-refresh dirinya, dan kita akan melihat sebuah perubahan besar, sebuah transformasi, dalam hidup kita!
Tapi pertanyaannya, mungkinkah manusia di seluruh dunia patuh pada sebuah komando untuk “berhenti sejenak” secara bersamaan?
Bila rasanya tak mungkin, kita bisa melakukan “multilevel kindness project” untuk alam ini. Seperti dalam film “Pay it Foward”, seseorang hanya perlu melakukan sebuah tindakan kebaikan yang bertujuan melestarikan dan menjaga alam, lalu menularkannya (sebagai meme?) kepada tiga orang di sekitarnya. Begitu seterusnya sampai menjadi 100 orang, 1000 orang, sejuta orang, seluruh dunia.
Bila itu kita pikir masih tak mungkin, mungkin kita telah benar-benar menjadi “manusia hidung belang yang” bebal dan benar-benar tak pentas diberi amanat oleh Tuhan untuk menjaga alam.
Senang sekali bisa ikut berdiskusi.
Fahd Djibran
fahdisme@yahoo.co.id
______________________ said,
August 31, 2007 at 10:37 pm
Tuesday, September 4 (8 pm Eastern/US) atau 13:36:21 Saturday September 1, 2007 (waktu Jakarta) ada Global Prayer Project-nya James Redfield. Meskipun nggak dateng dan nggak tersambung dalam teleconference, kita bisa berdo’a dalam hari. Menyelaraskan energi kita dengan alam. Mengoreksi diri dan sejenak berefleksi.
Fahd Djibran
Dewi Lestari said,
September 1, 2007 at 8:16 am
Wah, saya yang senang sekali Fahd Djibran menyempatkan mampir di blog ini. Saya suka sekali karya kamu “Kucing”, bahkan sempat memborong buku itu dan membagi2kannya pada teman2 sastrawan di Jakarta. Saya sering bilang sama Fahmi (desainer semua cover buku saya-RED) bahwa saya kepingin ketemu dan kenalan langsung dengan kamu. Yah, lumayanlah bisa kontak lewat blog ini, hehe.
Saya suka dengan ide “diam” tsb. Mungkin disesuaikan dengan karakter dan kapabilitas, seseorang bisa memilih langsung rem mendadak dari berlari menjadi berhenti, atau berangsur dari berlari ke berjalan lalu diam. Dalam diam, gerbang pemahaman dan keelingan bersemayam. Saya setuju itu.
Saya sangat menunggu karya selanjutnya dari Fahd. I find your writings are delicately shining, like a raw diamond. So promising, and so full of immense potentials.
Semoga terus bersinar…
~ D ~
______________________ said,
September 2, 2007 at 7:04 am
Mbak Dee,
Senang sekali dapet reply. Akhirnya saya menemukan “pintu” juga untuk mulai bercakap dengan Mbak Dee. Lama sebetulnya saya ‘ngintip’ blog ini, kadang-kadang membaca posting terbaru. Di lain waktu iseng melihat-lihat komentarnya. Meski sekedar lewat.
Sampai akhirnya saya memutuskan untuk ‘ikutan’, sambil berharap Mbak Dee mau membalas komentar saya. Eh, ternyata ‘nyambung’.
Saya juga udah lama pengin ketemu, berkenalan, dan berdiskusi. Dulu Kang Fahmi di iF pernah mengajak ketemuan dan ngobrol bareng Mbak Dee. Tapi sayang, waktu belum berkenan untuk berpihak.
Sampai akhirnya saya pindah ke jogja buat kuliah. Di jogja, waktu ternyata lebih sering menindas jarak. Saya pun kehilangan kontak dengan Kang Fahmi, dan kesempatan buat ketemu dan berkenalan dengan Mbak Dee terpaksa harus tertunda.
Sampai akhirnya, di sini kita, “bertemu” dan bertukar komentar.
Oh ya, makasih buat support-nya, Mbak. Saya udah lama juga nih nggak nulis karya fiksi. Baru beberapa bulan ini ‘kembali lagi’.
Oh ya, Mabak. Kucing sekarang sudah saya ‘repackage’. Ada beberapa tulisan yang dibenahi, beberapa judul dihilangkan dan beberapa lagi ditambahkan. Saya seperti merombak interiornya sampai 70%. Rencananya akan saya terbitkan secara lebih serius (kemarin Kang Fahmi, Mbak Eldest dan Mbak Yeni sudah menghubungi saya untuk proses penerbitannya. Rencananya mau minta bantuan Mbak Dee juga buat ngasih catatan pembuka di situ. Hehehe)
Ah sudah dulu deh, saya terlalu memanfaatkan space komentar ini buat cuap-cuap yang terlalu individual.
Tentang “diam” itu, saya sepakat kita harus belajar dulu untuk diam. Perlahan-lahan, tentu saja. Diam secara mendadak tentu saja akan jadi maslaah baru buat dunia dan kehidupan kita.
Dunia ini seperti sebuah truk tua yang berjalan kencang dan mengangkut terlalu banyak beban (manusia, perabotan, apa saja). Bila kita mengeremnya mendadak, tentu saja seluruh benda akan berantakan. Beberapa saya pastikan terlepar ke punggung jalan. Bila sudah begitu, kita terpaksa harus menatanya kembali dari semula.
Memperlambatnya untuk kelak berhenti sejenak, tentu saja sangat penting. Bagaimanapun, segala hal perlu semacam “istirahat”, beralih sejenak dari sebuah pekara ke perkara lainnya. Bersalin.
Masalahnya, bisakah kita berkompromi dengan waktu yang begitu angkuh dan tak pernah mau menoleh ke belakang? Apalagi berhenti?
Bila saya seorang fatalis sekaligus nihilis, semua ini adalah kehendak Tuhan dan memang sudah hukum hidup segalanya berangkat menjadi rusak, menjadi hancur, menjadi tiada, menjadi bukan apa-apa.
Tetapi sayang sekali saya adalah seorang yang masih memiliki keyakinan bahwa kita masih bisa memperbaiki segalanya dan bersahabat dengan Alam. Saya pikir, Tuhan tentu saja bukan anak kecil yang selalu berpikir linier; awal-akhir. Baik-Buruk. Tidak rusak-rusak. Bagi Tuhan, kerusakan tak selamanya berujung kehancuran. Ia mungkin saja membuat kehidupan ini seperti jejaring. Kita hanya sampai pada sebuah sambungan yang mungkin sedang rusak, dan tidak pernah ada yang bilang bahwa kita tak bisa memperbaiki kerusakan itu untuk kemudian menginjakkan kaki di lintasan jaring lain yang lebih baik.
Oh ya mbak, boleh japri nggak? Siapa tahu bisa berdiskusi lebih banyak. Tentang apa saja. Saya juga mau ngasih lihat naskah Kucing Repackage.
Many thanks.
-Fahd-
Endik Koeswoyo said,
September 4, 2007 at 10:42 pm
Aku terdiam sendiri…Di sudut kamar lalu bertanya pada dinginnya malam yang pengab
1. Dimana kubuang usiku ketika umurku sudah segini?
Satu saja pertanyaan membuat jantungku terhenti seketika..betapa tidak….ketika itu kupandang sebungkus rokok di hadapanku, sebuah asbak penuh berisi puntung rokok….mata redupku tertuju pada sebaris kata-kata yang benar-benar aku hapal di luar kepala…MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. sungguh sebuah peringatan yang menyentuh, mengerikan atau malah menantang? ah peringatan itu bukanlah masalah! Yang jelas…aku sekarang berusia 25 Tahun…lalu apa yang telah aku lakukan di usiaku ini? aku perokok, menghisap setidaknya 10 batang perHAri…aku hidup di kota…menghirup polusi setidaknya 17.270 tarikan nafas setiap harinya atau setara dengan 2.25 liter x 17.270 tarikan nafas? bayangkan saja 38.857,5 liter per Hari udara yang kita hirup. Standar polisi di Indonesia mencapai 65% untuk kota-kota Metropolitan, atau kita setidaknya menghirup 25.575, 375 liter udara kotor per hari.
Apakah usiaku akan bertahan hingga 60 tahun? Aku lalu menunduk lesu….25 tahun…setidaknya aku harus telah memiliki satu anak yang usianya 4 tahun….itu harus menurutku…kenapa? karena peringatan di bungkus rokok sudah jelas,,…MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. jika aku tidak menikah di usia 20 tahun maka kesehatan Spermaku tidak akan ada jaminan. jika aku tidak menikah di usia 20 tahun…jantungku juga tidak normal…jika aku tidak menikah di usia 20 tahun maka kanker akan membunuhku….dan bla…bla..bla…lalu aku MATI…tanpa ada garis keturnan…tanpa ada penerus….Lalu muncul pertanyaan lagi….dengan siapa aku akan menikah jika kuliah saja belum lulus, sementara jiak di hitung standar…rata-rata manusia Indonesia Lulus kuliah di usia 24 Tahun….itupun belum tentu langsung kerja…mau makan apa? Mau dengan apa menghidupi anak istri? sementara Lelaki mau tidak mau akan menjadi mesin ATM bagi keluarga..sementara LAki-laKi mau tidak mau akan menjadi tameng keluarga..sementara laKI-LAKI mau tidak mau akan menjadi TULANG PUNGGUNG keluarga…MAu kerja tanpa Gelar Sarjana? hanya 1 dari Seribu orang yang mampu sukses tanpa gelar…Mau jadi pejabat? Banyak kasus Pejabat ketahuan mamalsukan ijazahnya untuk bisa naik pangkat….Mau Jadi pegawai Negri? Biaya masuknya saja mahal….harus menyuap sana…menyuap sini….Menyuap itu dosa, kalau bisa tobat sich tidak msalah…KARENA TUHAN MAHA PENGAMPUN….kalau belum tobat sudah mati? Duh kasiannya….Modal belum balik….tobat belum sudah mati….sengsara kok dunia akerat..nggak masuk akal…
Woooekeeeeeeeee….
Apa yang bisa kita lakuka ketika usia sudah segini?
Pikirkan dengan hatimu….
Pikirkan dengan jiwamu
Pikirkan dengan Logikamu….
Itu baru asep…bagaimana dengan Plastik? Mbak Dee bener deh dengan reningannya….bagaimana dengan benda-benda lain? Mbak Dee bener lagi dengan pronsipnya….Bagaimana dengan anak cuku kita? Mbak Dee bener dengan idenya….
Maaf klo terlalu panjang ya Mbak…
http://www.endikkoeswoyo.blogspot.com/
tanya tania said,
September 7, 2007 at 1:14 am
penutup tulisan ini saya jadikan shout out di friendster…biar semua shopaholic spt saya akan mulai berjalan santai di antara etalase-etalase yg membuat kalap itu
chindy said,
September 13, 2007 at 12:49 am
Dee,
Ada berapa ruang pikir yg dapat dikembangkan dalam diri tiap kita?
Menurutku tidak terbatas tapi juga bisa sangat berbatas. Cendek. Ketika sedikit saja sentilan, teguran,”kok sampah kertasnya masih nyasar di tempat sampah organik?”keluh bu Tuti. “Si mbok mungkin bingung liat saya, sampah salah kamar aja dipikirin segitu ribetnya” lanjut bu Tuti berkeluh kesah kepada saya.
Hmm, memang tidak mudah membiasakan dan membentuk perilaku. Saya jadi ingat cerita bu Suyanto dari wilayah percontohan swakelola sampah. Tak putus mereka mendekati warga, dalam tiap pertemuan selalu mengangkat pentingnya dan betapa simpelnya nambah kantong sampah di rumah untuk mulai memilah. Demi nasib TPA Piyungan di Jogja yang dlm hitungan dua tahun lagi tak bisa lagi tampung sampah. Terus dan urun rembuk terus digelar. Tapi, tetap masih saja ada yang nyeletuk,”buang sampah aj kok ndada’ mikir”
Ketika nalar tak dipakai, hanya dijadikan manikin yang didandanin molek, necis. Penampilan lagak intelek sejati tapi kelakuannya, maaf, telek aja masih punya arti di tanah, masih bisa buat subur tanah. Namun manusia yang malas berpikir?
Gelar berderet disandang pun namun sampah dengan enaknya asal dicecer. Ini pengalaman saya, terhitung dua kali. Sebelumnya saya mohon maaf jika terkesan ada justifikasi, ijinkan saya membawa hati saya tidak merasa lebih baik dari siapa pun termasuk rekan yang memilih mencecer sampahnya, pas ketika saya ke WC, balik ke mobil rekan saya terlihat terburu-buru membuang tisu dan bungkus makanan dari dalam mobil. Juga ketika pulang dari melayat seorang rekan yang lain, pas hari yang sama saya menceritakan ide ‘Gerakan Sapa Sahabat’ Gerakan memungut puntung rokok atau sampah apa pun yang dicecer pas di depan orang yang melakukannya dan memberikannya kertas pembatas buku yang berisi pesan yang menyentil kebiasaan ini, saya kaget setengah mati. Saat barengan di mobil ambulans, permen dibagikan, rekan bersangkutan membuang kulit permennya di jalan. spontan saya bersuara,”Kok di buang ke jalan Bu?” Dikantongi dulu kan bisa…”Malas ah, nggowo sampah” jawabnya. Demikianlah adanya kita Sobat. Sekali lagi saya tidak merasa lebih baik dari siapa pun. Saya hanya seperti Zaiya(3thn) yang spontan menjerit,”Masyaa Allah!” ketika temannya menggambar pakai crayon di lantai dan menyodorkan kertas gambar. Ada tempatnya. coret di lantai kurang elok, ada tempatnya..coretlah pada tempatnya. Begitu juga dengan Sampah. Ada satu ilustrasi yang saya usulin dalam gerakan Sapa Sahabat ini, “Tubuh manusia, dari ujung rambut hingga ujung kaki, kotorannya tidak sembarang kita cecer. Kotoran telinga tidak kita ulas di jidat. Upil tidak kita totol-totol di pipi. Beol tidak di kebon tetangga, di kebon belakang atau di halaman depan tapi ada tempatnya. Semua kotoran ada tempatnya. Oleh karena itu, bagi saya cecer sampah sembarangan ibaratnya sama dengan mencecer upil di wajah. sendiri. Jorok kan…
Manusia berani mengaku mulia karena konon satu-satunya ‘makhluk berpikir’ namun ketika diminta sedikiiit saja beri ruang pikir untuk dampak satu puntung rokok atau satu bungkus permen disahuti dengan,”gitu aj kok ndada’ mikir” dan akibatnya? Ungkapan Amit-amit saja blm cukup punya gigi (baca menggigit) untuk menggambarkan dahsyatnya kekonyolan dampak dari malas pikir
atau ‘sebodo amat’ ini.
S e b u a h p u n t u n g r o k o k menyulap satu SPBU, plus satu mobil truk, plus satu sepeda motor menjadi arang dalam satu kejapan mata. Tujuh unit pemadam kebakaran diturunkan, tiap truk harus bolak-balik sampai 5 kali untuk mengambil air, barulah api padam. Jalan Siliwangi, dari arah Semarang-Kendal macet selama beberapa jam.
Coba, mau kurang konyol seperti apa lagi. Kata konyol saja angkat tangan untuk mendeskripsikan dampak sikap sembrono menyepelekan satu puntung rokok ini. Terlalu dibesar2kan? Ah tidak juga, semua ini realita kok. Tempat dan bukti kejadian masih mengepul asap, baruuu saja kemaren senen kedadiane, 10 September 2007. Pergi dan tengoklah ke sana saksikan dengan mata kepala sendiri.
Bangsa ini tidak akan pernah menjadi BESAR bila untuk hal-hal KECIL saja kita sembrono, sebodo amat, sampai kapanpun kita tidak akan bergerak dari kekonyolan demi kekonyolan. Ada satu ilustrasi gambar karikatur dalam buku Saudara Bumi Saudara Manusia, Sikap Iman dan Kelestarian yang sangat menyentil hati saya. Seorang anak kecil duduk menyenuk bersama neneknya di atas atap rumah mereka, seolah sedang berlayar ( dengan latar Tugu Monas, pastilah Ibune kote Indonesia nyang dimaksud, DJakartee).
Bocah ini bertanya pada Mboknya,”Kita ini mau dibawa sampai dimana Mbok?”
“Sampai kita sadar apa yang membuat kita sering kebanjiran Tolol!” Seru Mbok’e
Aar said,
September 17, 2007 at 5:02 am
Terima kasih Dewi atas inspirasinya…
Saya dapatkan artikel Dewi dari milis. Kelihatannya gagasan itu akan terus menyebar ke mana-mana. Isunya kuat dan sangat inspiratif.
Saya suka gagasan utk berkomitmen melakukan hal-hal kecil sehari-hari yang baik. Hal kecil itu berharga, bahkan sangat berharga utk kita lakukan.
Minta ijin utk memuatnya di blog keluargaku ya… Saya suka sekali artikel ini… Jangan khawatir, semuanya tertulis dengan credit title dan link kembali ke situs ini… ^_^
Salam,
Aar
Dewi Lestari said,
September 17, 2007 at 7:23 am
Salam kembali untuk Aar…
Dengan senang hati artikel ini dapat dimasukkan ke blog keluarga Aar, dan tentu saja, semoga bermanfaat.
Saya jadi teringat satu kutipan yang saya muat dalam salah satu artikel saya di blog ini, saat saya sedang belajar membuat kompos: Tidak ada perbuatan besar di dunia. Yang ada hanyalah perbuatan kecil yang dilakukan setia.
Bukan hal mudah ketika dilaksanakan, memang, tapi sekali lagi, bukan pula tidak mungkin.
Regards,
~ D ~
Aar said,
September 17, 2007 at 7:31 am
Thanks Dewi for your immediate reply..
In case Dewi susah cari artikel Dewi yang saya letakkan di situs, berikut ini linknya… http://www.sumardiono.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1097&Itemid=102
Terima kasih dan salam,
Aar
PS: kelihatannya saya akan sering berkunjung ke sini nie.. dan juga blog satunya yang lucu banget… ^_^
Anonymous said,
October 4, 2007 at 7:36 am
rasanya baru kemarin mulai kenal Dee lewat Rana dan Rere-nya, ngobrolin novel tsb sama seorang sahabat di jkt sana… tau2 udah hampir 10 thn yg lalu… dan dikirimin artikel ini bbrp hari lalu oleh seorang teman… segera saya google sumbernya darimana, tak dinyana malah ketemu blog dari Dee sendiri…
saya numpang tarok link dan artikel ini di multiply saya ya Dewi… thanks for a worth reading thought…
-bayuindra-
Anonymous said,
October 29, 2007 at 2:50 am
Dee,
Artikel Harta Karun Untuk Semua menarik untuk disimak. Kami punya buletin kecil 3 bulanan untuk internal gereja. Apakah boleh artikel ini kami muat dengan menyebutkan sumbernya tentu saja.
Terima kasih atas perhatiannya.
- Julianto Dj. -
julianto.dj@istw.co.id
Dewi Lestari said,
October 29, 2007 at 5:35 am
Hi Julianto,
Boleh banget dimuat di buletin tsb. Dan terima kasih juga untuk pencantumannya nanti.
chindy said,
November 2, 2007 at 6:46 am
Dee,
Eeh, Adikku curhat tentang artikel harta karun
Tiga malam lalu, badan saya pegel, leher tengleng, mata udah riyep-riyep, aduh nulis bukunya lanjut lain waktu aja aaah, kasur sungguh menggoda jadilah badan nyosor ke kasur, rebahan..fiuhhh nikmatnyaaa…iseng saya telp yank-yank si bungsu neng Makassar. Mumpung star one masih promo boo, g tanggung2 sejam cuman dua rebong. ente jeber, bibir nyecer di mana-mana, ngobroool terus…eeeh si Yank2 ternyata dikirimin pacarnya artikel Dee, dia crita ke saya kalo Dewi ada tulis tentang sampah plastik. daun telingaku langsung tegak! “artikel yang mana?”
“Da dapat dari blog tidak?”
Dewi kan punya blog. ko sudah pernah mi masuk Yank?
Ayank bingung, trus bilang “karun, apaaa..harta karun”
Oooo, itu memang artikelnya Dewi…ko masuk mi di blognya.
Adikku cerita kalau dia mau sebarin artikel itu ke teman2 kampusnya…
iyo ko sebarkan mi ko sudah kopi mi kah?” tanyaku
“sudahmi”jawab Ayank
Ayank crita lagi,”itu Dondi sudah ketularan kau mi”
“kenapa ketanya?”
Da tidak mau makan permen, kalo ingat kulitnya. kulitnya kan plastik. mau dibuang kemana bikin hati tidak tenang saja.
Hehe…adikku, adikku…pacaran pun topiknya berujung plastik…seneng nian hati ini
memang sudah saatnya kita belajar konsumsi yang bertanggung jawab. melihat setiap produk adalah turunan dari bahan baku, sampai ke kemasannya sekali pun. inilah yang membuat kita dapat masuk dalam ritme konsumsi yang berkesadaran. konsumsi yang sadar dan cermat akan tiap konsekuensi konsumsi itu sendiri. makan permen kita berhadapan dengan bungkusnya. jika ada pilihan lain, kacang misalnya. Hati kita akan lebih ringan, bebas himpitan bila milih kacang daripada permen. kacang residunya kulit kacang yang mudah dicerna tanah sedangkan permen residunya bungkus plastik yang mungkin cuma secuil tapi menyiksa tanah.
Hmmm, sahabat-sahabatku…
hari ini rekan kerjaku dr Dewi bercerita kalo dia lagi menjalankan diet lemak. karena kadar lemaknya bablas 7-8poin. sudah berjalan dua hari. dia yang sebelumnya kalo makan tak pernah terbersit paha ayam dampaknya begini, cake dampaknya begono…sekarang berubah 180 derajat. Ada alarm yang mengingatkan, Eng Ing Eng! Heiheiheii..itu kan bersantan…ehm, kayaknya ini gulanya tinggi deh..jadilah diri berhadapan dengan diri. Konsumsi yang berkesadaran. Memang banyak-banyaklah kita memberi makan pada alam sadar kita dengan sebuaaanyak mungkin fakta. fakta yang menunjukkan konsekuensi dari setiap pilihan kita…hingga kita tidak kena batunya baru mikir, namun pandai berandai-andai bilamana batu datang dari arah utara, kita tau harus mengelak ke arah mana….
satu lagi…malam ini saya baca satu kalimat bijak yang sangat ‘padepu’ dari confucius mengenai betapa sering kita merasa kecil hati dengan tiap usaha yang kita lihat ‘kecil’…apalah daya cegah satu bungkus permen, sampai ke tanah, berapalah kecepatan satu upaya memilih mengganti satu lembar tisu dengan sapu tangan, mampukah pilihan ini mengejar laju pembalakan liar di tanah pertiwi ini….kembali ke Khongce, Beliau memberi penghiburan pada semua upaya ini,”It does not matter how slowly you go so long as you do not stop”
Night Elf said,
November 7, 2007 at 7:10 pm
artikel yang menarik…
manusia memang banyak dikelilingi aura konsumerisme. beli beli beli..
c-line said,
November 11, 2007 at 11:12 am
Ikutan komen yaa…
Tentang plastik, ini adalah produksi teknologi yang tidak bisa dihindari karena tuntutan kebutuhan manusia dan berkurangnya sumber daya alam yang bisa digunakan sebagai pembungkus.
Sebelum ada plastik, orang menggunakan dedaunan dan kertas sebagai pembungkus. Kalau tidak ada plastik dan kebutuhan alat pembungkus meningkat terus, keseimbangan lingkungan akan terganggu juga.
Waktu SMA (awal 90-an) saya hobi mengkliping artikel sains dan lingkungan dari berbagai surat kabar. Saat itu, isu Global Warming sebenarnya juga sudah mendominasi media tanah air (yang kemudian tertelan oleh isu terorisme). Selain artikel tentang penipisan Ozon, saya juga temukan banyak artikel tentang daur ulang, di antaranya tentang riset para ahli menciptakan plastik ramah lingkungan. Herannya sampai saat ini saya belum dengar aplikasinya secara massal.
Sekalipun berbagai jenis teknologi sudah sedemikian berkembang di abad ini, tapi teknologi daur ulang plastik dan kertas tampaknya masih begitu tertinggal dan tidak banyak diketahui orang. Padahal, saya yakin semua perkara lingkungan terkait plastik dan kertas tidak akan begitu meresahkan jika negara-negara (terutama negara maju yang terdepan dalam hal teknologi) bersedia berinvestasi dalam riset dan produksi massal plastik dan kertas daur ulang.
Tentang tersedianya banyak pilihan produksi sandang-pangan-papan yang memuaskan kebutuhan konsumen, saya rasa ini wajar. Bayangkan jika konsumen tidak punya banyak pilihan, yang terjadi adalah monopoli. Sesuai hukum ekonomi, ini akan berakibat pada naiknya harga-harga yang pada akhirnya akan mengganggu stabilitas ekonomi dan sosial. Selain itu, industri2 penghasil semua kebutuhan manusia ini juga menyerap banyak tenaga kerja.
Memang benar, ada banyak fakta ironis terkait proses produksi. Produksi uang 1 penny Amerika memakan biaya lebih dari 1 penny. Juga ada yang berpendapat, proses produksi versi daur ulang sebuah benda memakan energi lebih banyak daripada versi asli benda itu. Tapi, ini bukan inti masalah sebenarnya.
Peduli “kantong”
Selama 2 tahun tinggal di Amerika, hanya satu-dua kali saya membeli pakaian baru. Selebihnya (pakaian, sepatu, tas, buku, dll, kecuali pakaian dalam lho!) adalah hasil “mungut” dari depan rumah anggota2 grup Chicago Freecycle, atau hasil “hunting” di Thrift Store (toko barang bekas). FYI, Thrift Store favorit saya di Chicago namanya Unique Thrift Store. Saya belanja hanya di hari Senin, karena selalu ada tawaran potongan 1/2 harga. Asik loh, sepatu keren kondisi OK bisa dapat $1. Jaket winter $3, Jeans Levi’s $1.5 (weleh, jadi ngelantur).
Saya dan suami juga ketat dalam menyeleksi benda-benda yang akan masuk tong sampah, termasuk plastik dan kertas. Suami dalam hal ini lebih parah dari saya, hingga kadang2 bikin saya jengkel. Kalau dalam penggunaan energi, saya lebih pelit dari suami. Tapi, kalau dalam penggunaan tissue toilet, saya boros setengah mati (nah, ngelantur lagi).
Semua ini bukan karena saya peduli lingkungan, tapi terutama karena peduli “kantong”. Kalau saya punya uang saya lebih suka menabung. Prinsip saya, dengan punya uang banyak kita bisa membiayai proyek2 idealis kita yang pada akhirnya dapat mengubah wajah dunia. Sayangnya sampai sejauh ini, cita-cita saya jadi orang kaya belum kesampaian (hiks…)
Saya yakin, sumber semua masalah di dunia ini termasuk lingkungan adalah penyalahgunaan uang dan kekuasaan. Faktanya, negara perusak lingkungan nomor wahid di dunia adalah Amerika, sebuah negara kaya. Tidak seperti China, besarnya jumlah total polutan yang diproduksi Amerika bukan karena faktor jumlah penduduknya, melainkan pemborosan energi yang dilakukan warganya.
Kalau contoh ini terlalu besar skalanya, mari kita lihat contoh orang kota vs orang desa di Indonesia. Orang kota lebih merusak lingkungan daripada wong ndeso semata-mata karena lebih punya banyak uang. Karena punya uang, orang kota (temasuk saya dan suami) bisa beli mobil, komputer, HP, iPod, dll, dengan alasan tidak bisa hidup tanpa semua itu. Padahal, orang desa bisa juga menikmati hidup hanya dengan menyeruput kopi di balai-balai di tengah sawah sementara angin semilir bertiup sepoi-sepoi diiringi alunan kecapi (lagi-lagi ngelantur).
Tidak seperti di Jakarta, umumnya orang desa atau orang pedalaman tidak perlu penyuluhan untuk peduli lingkungan. Dalam melakukan berbagai aktivitas mereka dengan sendirinya memperhatikan faktor-faktor lingkungan. Aslinya, manusia itu cenderung hidup seimbang dengan alam. Kesalahan konsep akan uang dan kekuasaanlah yang merusak kecenderungan ini.
Memang benar, setiap individu bertanggung jawab akan masa depan lingkungan di sekitarnya. Tapi keadaan tidak akan berubah jika tanggung jawab lingkungan seisi Bumi lebih dibebankan pada rakyat biasa seperti kita. Adalah fakta, wajah dunia berubah begitu cepat bukan karena ulah rakyat mayoritas, melainkan segelintir orang atau pihak yang punya uang dan kuasa besar. Jadi, kalau kita peduli lingkungan, kita harus tetap menuntut pemerintah Amerika menandatangani Protokol Tokyo detik ini juga. Menuntut semua bos (jangan kacung-kacungnya) penjarah hutan ditangkap detik ini juga. Segala bentuk kriminalitas lingkungan janganlah ditolerir karena cepat atau lambat kita semua menanggung akibatnya.
Kesimpulannya, yang terbaik untuk kita lakukan untuk ikut memperbaiki lingkungan menurut saya adalah, pertama, teruskan semua pesan2 peduli lingkungan kepada semua kalangan. Kedua, bagi mereka yang sudah punya kepedulian, BERHEMATLAH! Kuatkan cita-cita jadi orang kaya agar bisa membiayai proyek2 cinta lingkungan. Ketiga, “Speak up your mind!” Jangan biarkan orang-orang kaya dan berkuasa bersikap semena-mena pada lingkungan sekitar kita.
P.S. komentar ini juga saya muat di blog saya:
http://ckwms.blogspot.com/
Trims!
windede said,
November 15, 2007 at 9:50 am
kontemplasi yang dahsyat sekali, dee…
boim said,
December 13, 2007 at 9:35 am
kagum n saluut buat dee atas tulisannya. bikin saya khawatir, sedih awalnya, malah sampai mo nangis rasanya waktu baca.
rasanya seperti disentil dan dicubit supaya lebih sadar n peduli pada kondisi yg ada.
saya punya kegelisahan yg sama, tapi ga pernah bisa mengungkapkannya
thanks buat tulisannya yg menyentuh hati dan semoga membangkitkan kesadaran dan semangat saya untuk dpt merealisasikannya dlm tindakan harian yg sederhana…
semoga…
vipe said,
December 17, 2007 at 10:27 am
ya. mari berjalan.
dengan berjalan kita bisa sambil berpikir untuk lebih memilih “want” or “need”.
vina said,
December 25, 2007 at 12:35 am
after read it, every time i want to throw things i don’t use it anymore, i think…i think…i think…then i think…where do these things will end up to…
what a great and inspiring article,Dee..
hidoep@perjoeangan said,
February 27, 2008 at 12:51 am
Berbagi sedikit cerita saja. Satu waktu ketika di Taipe, saya & kawan mampir ke Seven Eleven, kalau disini kayak indomaret/alfamart. Cuma beli beberapa makanan kecil & minuman. Ternyata setelah bayar di kasir, kami tidak diberikan plastik, bahkan wadah lain sekalipun. Sempat terbengong, tapi akhirnya kami mengerti. Belanjaan kami tenteng, sambil menghabiskannya di tengah jalan menuju penginapan. Ha……..
Artinya, selain dimulai dari diri kita sendiri, ada baiknya regulasi yang membatasi pemakaian terutama kantong plastik bisa dilakukan pemerintah.Bahkan sampai jengkelnya seorang teman bilang: Kalau nanti g jadi menteri lingkungan, program pertama adalah melarang hypermart, carefour, dll pake plastik. Sebuah ide yang menarik!
Semoga semua makhluk berbahagia
anedyaniedar said,
May 1, 2008 at 1:00 am
Mbak dee..
Cerita mbak dee tentang memilah-milah barang bekas itu ‘ngena’ banget buat saya.
Keluarga saya bisa dibilang keluarga yang konsumtif. Yah, untuk hitungan jaman sekarang, masih dalam taraf wajar lah.. tapi yang bikin susah, keluarga saya susah sekali disuruh membuang barang. Walhasil, sekian banyak barang yang sudah nggak terpakai lagi, bahkan sampai mobil yang sudah rongsok pun masih teronggok di rumah. belum lagi dengan tumpukan baju, buku-buku, yang sebenernya sudah nggak mungkin di pakai lagi.
Suatu hari, saya pernah menonton Oprah, ketika show-nya membahas tentang topik yang sama. Betapa sekian persen (saya lupa, pokoknya banyak..) dari penduduk AS juga menimbun barang2 yang sudah tidak berguna lagi di rumah. Hidup jadi tidak efisien, rumah pun jadi berantakan dan tidak teratur. Seorang pakar yang hadir dalam acara itu mengatakan, ada dua tipe penimbun barang:
1. Orang yang menimbun barang karena kenangan. Jadi dia menyimpan barang-barang tersebut karena nilai historisnya, bahwa barang-barang itu *seremeh apapun* pernah mewarnai hidupnya di masa lalu.
2. Orang yang menimbun barang karena mungkin suatu saat dapat dipergunakan lagi. Jadi dia menyimpan barang-barang tersebut karena nilai ekonomisnya.
Parahnya: Bapak saya adalah penimbun tipe pertama dan ibu saya adalah penimbun tipe kedua.
Tips yang diberikan si pakar nggak jauh beda dengan apa yang dilakukan mbak dee: mengevaluasi ulang isi lemari pakaian, menyesuaikan kapasitasnya. Beli satu baju, konsekuensinya singkirkan juga satu baju.
Si pakar juga menyarankan untuk membuat sebuah ‘quick decision’ dalam memilah barang. Kumpulkan semua barang. Amati tiap barang selama 5 detik, lalu tanyakan pada diri sendiri “Apakah barang ini masih berguna?”, lalu langsung ambil keputusan. Keep it or not. Begitu diputuskan, “this is not-to-keep”, segera sisihkan dan lanjutkan ke barang berikutnya sebelum berubah pikiran.
Setelah menonton acara itu, saya begitu tergugah, sampai2 saya memutuskan untuk mulai membongkar dan menata ulang isi kamar saya. Cukup berhasil, saya bisa menyingkirkan beberapa kardus baju,handout,dan barang-barang yang sudah tak relevan lagi untuk disimpan. Kamar saya jadi rapi dan cukup lega. Meja saya juga jadi lebih enak dilihat.
Sayangnya, susah banget untuk menerapkan prinsip ini ke keluarga saya. Ibu saya sudah berhasil sedikit2 saya ‘hasut’ untuk ikutan memmilah2 barang, tapi bapak saya… wah, ampun2an deh mbak dee.. susah banget!! Sudah dasarnya berpendirian keras, disuruh menyingkirkan barang-barangnya yang sudah tidak bisa dipakai lagi itu susaaah sekali..
barangkali mbak dee ada saran untuk bantu saya?
yanuar-n said,
August 24, 2008 at 4:19 pm
dee, thanks untuk tulisan ini. memang buku itu bagus sekali.
sudah lihat ini?
http://www.storyofstuff.com/
salam,
y
Ephi Ong said,
September 7, 2008 at 6:30 pm
Dee, saya udah pre-order Rectoverso, dan terus terang permintaan untuk meminta data-data pribadi seperti tanggal lahir dan agama via telepon untuk mencocokkan ‘data’ pemesan itu sangat mengganggu, coba tolong disampaikan kepada mereka yang mengurus pemesanan yah. Makasih.
Junaidi Heryanto said,
February 10, 2009 at 9:43 pm
membaca tulisan ini telah menyadarkan saya akan pentingnya peran serta kita terhadaap kelangsungan hidup dan menjaga ekosistem yang semakin complex.
merenungi akan pentingnya membuat keputusan dalam hidup, dimulai dari apa yang menjadi kebutuhan kita sehari hari, bukan keinginan kita sehari hari.
keinginan berbasis pada kepuasan sedangkan kebutuhan berbasis manfaat. walaupun keduanya nyaris sama. tapi secara detail akan tampak perbedaannya.
Dee, saya sangat berterima kasih sekali apabila kita bisa berkomunikasi lagi untuk kedepan, bisa lewat dunia maya ataupun nyata. saya sangat tertarik dengan pola pikir anda.
semoga kita bisa bekerja sama dalam berbagai hal.
terima kasih.
salam.
Arinda said,
March 3, 2009 at 10:20 am
Mba Dewi,
Tulisan Mba Dewi dan semua komentar di sini adalah merupakan kumpulan perasaanku *ciee* tentang kerusakan di muka bumi ini. Mungkin terdengar paranoid ya, tapi asli aku cemas melihat plastik-plastik bertebaran di depan mataku setiap hari, dan mikir, ketika aku ga ada kelak, semoga anak2ku ga kesusahan hidup di bumi yang sudah rusak ini.
Boleh aku co-pas tulisan Mba Dewi ini di Multiply ku ya? Untuk mengingatkanku agar senantiasa berhati-hati dengan apa yang aku pakai dan aku buang setiap hari. I feel like I found my ‘home’ when I read this article.
Thanks a million Mba.