<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: </title>
	<atom:link href="http://www.dewilestari.com/b/2007/07/08/55/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/07/08/55/</link>
	<description>an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Dec 2011 03:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>By: Arinda</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/07/08/55/comment-page-2/#comment-2261</link>
		<dc:creator>Arinda</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 18:20:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=55#comment-2261</guid>
		<description>Mba Dewi,
Tulisan Mba Dewi dan semua komentar di sini adalah merupakan kumpulan perasaanku *ciee* tentang kerusakan di muka bumi ini. Mungkin terdengar paranoid ya, tapi asli aku cemas melihat plastik-plastik bertebaran di depan mataku setiap hari, dan mikir, ketika aku ga ada kelak, semoga anak2ku ga kesusahan hidup di bumi yang sudah rusak ini.

Boleh aku co-pas tulisan Mba Dewi ini di Multiply ku ya? Untuk mengingatkanku agar senantiasa berhati-hati dengan apa yang aku pakai dan aku buang setiap hari. I feel like I found my &#039;home&#039; when I read this article. 

Thanks a million Mba.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mba Dewi,<br />
Tulisan Mba Dewi dan semua komentar di sini adalah merupakan kumpulan perasaanku *ciee* tentang kerusakan di muka bumi ini. Mungkin terdengar paranoid ya, tapi asli aku cemas melihat plastik-plastik bertebaran di depan mataku setiap hari, dan mikir, ketika aku ga ada kelak, semoga anak2ku ga kesusahan hidup di bumi yang sudah rusak ini.</p>
<p>Boleh aku co-pas tulisan Mba Dewi ini di Multiply ku ya? Untuk mengingatkanku agar senantiasa berhati-hati dengan apa yang aku pakai dan aku buang setiap hari. I feel like I found my &#8216;home&#8217; when I read this article. </p>
<p>Thanks a million Mba.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Junaidi Heryanto</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/07/08/55/comment-page-2/#comment-2254</link>
		<dc:creator>Junaidi Heryanto</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 05:43:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=55#comment-2254</guid>
		<description>membaca tulisan ini telah menyadarkan saya akan pentingnya peran serta kita terhadaap kelangsungan hidup dan menjaga ekosistem yang semakin complex.
merenungi akan pentingnya membuat keputusan dalam hidup, dimulai dari apa yang menjadi kebutuhan kita sehari hari, bukan keinginan kita sehari hari.
keinginan berbasis pada kepuasan sedangkan kebutuhan berbasis manfaat. walaupun keduanya nyaris sama. tapi secara detail akan tampak perbedaannya.
Dee, saya sangat berterima kasih sekali apabila kita bisa berkomunikasi lagi untuk kedepan, bisa lewat dunia maya ataupun nyata. saya sangat tertarik dengan pola pikir anda. 
semoga kita bisa bekerja sama dalam berbagai hal.
terima kasih.
salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>membaca tulisan ini telah menyadarkan saya akan pentingnya peran serta kita terhadaap kelangsungan hidup dan menjaga ekosistem yang semakin complex.<br />
merenungi akan pentingnya membuat keputusan dalam hidup, dimulai dari apa yang menjadi kebutuhan kita sehari hari, bukan keinginan kita sehari hari.<br />
keinginan berbasis pada kepuasan sedangkan kebutuhan berbasis manfaat. walaupun keduanya nyaris sama. tapi secara detail akan tampak perbedaannya.<br />
Dee, saya sangat berterima kasih sekali apabila kita bisa berkomunikasi lagi untuk kedepan, bisa lewat dunia maya ataupun nyata. saya sangat tertarik dengan pola pikir anda.<br />
semoga kita bisa bekerja sama dalam berbagai hal.<br />
terima kasih.<br />
salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ephi Ong</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/07/08/55/comment-page-2/#comment-2150</link>
		<dc:creator>Ephi Ong</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 02:30:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=55#comment-2150</guid>
		<description>Dee, saya udah pre-order Rectoverso, dan terus terang permintaan untuk meminta data-data pribadi seperti tanggal lahir dan agama via telepon untuk mencocokkan &#039;data&#039; pemesan itu sangat mengganggu, coba tolong disampaikan kepada mereka yang mengurus pemesanan yah. Makasih.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dee, saya udah pre-order Rectoverso, dan terus terang permintaan untuk meminta data-data pribadi seperti tanggal lahir dan agama via telepon untuk mencocokkan &#8216;data&#8217; pemesan itu sangat mengganggu, coba tolong disampaikan kepada mereka yang mengurus pemesanan yah. Makasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yanuar-n</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/07/08/55/comment-page-2/#comment-2063</link>
		<dc:creator>yanuar-n</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 00:19:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=55#comment-2063</guid>
		<description>dee, thanks untuk tulisan ini. memang buku itu bagus sekali.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;sudah lihat ini? &lt;br/&gt;http://www.storyofstuff.com/&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;salam,&lt;br/&gt;y</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dee, thanks untuk tulisan ini. memang buku itu bagus sekali.</p>
<p>sudah lihat ini? <br /><a href="http://www.storyofstuff.com/" rel="nofollow">http://www.storyofstuff.com/</a></p>
<p>salam,<br />y</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: anedyaniedar</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/07/08/55/comment-page-2/#comment-1027</link>
		<dc:creator>anedyaniedar</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 09:00:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=55#comment-1027</guid>
		<description>Mbak dee..&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Cerita mbak dee tentang memilah-milah barang bekas itu &#039;ngena&#039; banget buat saya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Keluarga saya bisa dibilang keluarga yang konsumtif. Yah, untuk hitungan jaman sekarang, masih dalam taraf wajar lah.. tapi yang bikin susah, keluarga saya susah sekali disuruh membuang barang. Walhasil, sekian banyak barang yang sudah nggak terpakai lagi, bahkan sampai mobil yang sudah rongsok pun masih teronggok di rumah. belum lagi dengan tumpukan baju, buku-buku, yang sebenernya sudah nggak mungkin di pakai lagi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Suatu hari, saya pernah menonton Oprah, ketika show-nya membahas tentang topik yang sama. Betapa sekian persen (saya lupa, pokoknya banyak..) dari penduduk AS juga menimbun barang2 yang sudah tidak berguna lagi di rumah. Hidup jadi tidak efisien, rumah pun jadi berantakan dan tidak teratur. Seorang pakar yang hadir dalam acara itu mengatakan, ada dua tipe penimbun barang:&lt;br/&gt;1. Orang yang menimbun barang karena kenangan. Jadi dia menyimpan barang-barang tersebut karena nilai historisnya, bahwa barang-barang itu *seremeh apapun* pernah mewarnai hidupnya di masa lalu.&lt;br/&gt;2. Orang yang menimbun barang karena mungkin suatu saat dapat dipergunakan lagi. Jadi dia menyimpan barang-barang tersebut karena nilai ekonomisnya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Parahnya: Bapak saya adalah penimbun tipe pertama dan ibu saya adalah penimbun tipe kedua.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tips yang diberikan si pakar nggak jauh beda dengan apa yang dilakukan mbak dee: mengevaluasi ulang isi lemari pakaian, menyesuaikan kapasitasnya. Beli satu baju, konsekuensinya singkirkan juga satu baju. &lt;br/&gt;Si pakar juga menyarankan untuk membuat sebuah &#039;quick decision&#039; dalam memilah barang. Kumpulkan semua barang. Amati tiap barang selama 5 detik, lalu tanyakan pada diri sendiri &quot;Apakah barang ini masih berguna?&quot;, lalu langsung ambil keputusan. Keep it or not. Begitu diputuskan, &quot;this is not-to-keep&quot;, segera sisihkan dan lanjutkan ke barang berikutnya sebelum berubah pikiran.&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Setelah menonton acara itu, saya begitu tergugah, sampai2 saya memutuskan untuk mulai membongkar dan menata ulang isi kamar saya. Cukup berhasil, saya bisa menyingkirkan beberapa kardus baju,handout,dan barang-barang yang sudah tak relevan lagi untuk disimpan. Kamar saya jadi rapi dan cukup lega. Meja saya juga jadi lebih enak dilihat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sayangnya, susah banget untuk menerapkan prinsip ini ke keluarga saya. Ibu saya sudah berhasil sedikit2 saya &#039;hasut&#039; untuk ikutan memmilah2 barang, tapi bapak saya... wah, ampun2an deh mbak dee.. susah banget!! Sudah dasarnya berpendirian keras, disuruh menyingkirkan barang-barangnya yang sudah tidak bisa dipakai lagi itu susaaah sekali..&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;barangkali mbak dee ada saran untuk bantu saya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mbak dee..</p>
<p>Cerita mbak dee tentang memilah-milah barang bekas itu &#8216;ngena&#8217; banget buat saya.</p>
<p>Keluarga saya bisa dibilang keluarga yang konsumtif. Yah, untuk hitungan jaman sekarang, masih dalam taraf wajar lah.. tapi yang bikin susah, keluarga saya susah sekali disuruh membuang barang. Walhasil, sekian banyak barang yang sudah nggak terpakai lagi, bahkan sampai mobil yang sudah rongsok pun masih teronggok di rumah. belum lagi dengan tumpukan baju, buku-buku, yang sebenernya sudah nggak mungkin di pakai lagi.</p>
<p>Suatu hari, saya pernah menonton Oprah, ketika show-nya membahas tentang topik yang sama. Betapa sekian persen (saya lupa, pokoknya banyak..) dari penduduk AS juga menimbun barang2 yang sudah tidak berguna lagi di rumah. Hidup jadi tidak efisien, rumah pun jadi berantakan dan tidak teratur. Seorang pakar yang hadir dalam acara itu mengatakan, ada dua tipe penimbun barang:<br />1. Orang yang menimbun barang karena kenangan. Jadi dia menyimpan barang-barang tersebut karena nilai historisnya, bahwa barang-barang itu *seremeh apapun* pernah mewarnai hidupnya di masa lalu.<br />2. Orang yang menimbun barang karena mungkin suatu saat dapat dipergunakan lagi. Jadi dia menyimpan barang-barang tersebut karena nilai ekonomisnya.</p>
<p>Parahnya: Bapak saya adalah penimbun tipe pertama dan ibu saya adalah penimbun tipe kedua.</p>
<p>Tips yang diberikan si pakar nggak jauh beda dengan apa yang dilakukan mbak dee: mengevaluasi ulang isi lemari pakaian, menyesuaikan kapasitasnya. Beli satu baju, konsekuensinya singkirkan juga satu baju. <br />Si pakar juga menyarankan untuk membuat sebuah &#8216;quick decision&#8217; dalam memilah barang. Kumpulkan semua barang. Amati tiap barang selama 5 detik, lalu tanyakan pada diri sendiri &#8220;Apakah barang ini masih berguna?&#8221;, lalu langsung ambil keputusan. Keep it or not. Begitu diputuskan, &#8220;this is not-to-keep&#8221;, segera sisihkan dan lanjutkan ke barang berikutnya sebelum berubah pikiran.</p>
<p>Setelah menonton acara itu, saya begitu tergugah, sampai2 saya memutuskan untuk mulai membongkar dan menata ulang isi kamar saya. Cukup berhasil, saya bisa menyingkirkan beberapa kardus baju,handout,dan barang-barang yang sudah tak relevan lagi untuk disimpan. Kamar saya jadi rapi dan cukup lega. Meja saya juga jadi lebih enak dilihat.</p>
<p>Sayangnya, susah banget untuk menerapkan prinsip ini ke keluarga saya. Ibu saya sudah berhasil sedikit2 saya &#8216;hasut&#8217; untuk ikutan memmilah2 barang, tapi bapak saya&#8230; wah, ampun2an deh mbak dee.. susah banget!! Sudah dasarnya berpendirian keras, disuruh menyingkirkan barang-barangnya yang sudah tidak bisa dipakai lagi itu susaaah sekali..</p>
<p>barangkali mbak dee ada saran untuk bantu saya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: hidoep@perjoeangan</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/07/08/55/comment-page-2/#comment-970</link>
		<dc:creator>hidoep@perjoeangan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 08:51:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=55#comment-970</guid>
		<description>Berbagi sedikit cerita saja. Satu waktu ketika di Taipe, saya &amp; kawan mampir ke Seven Eleven, kalau disini kayak indomaret/alfamart. Cuma beli beberapa makanan kecil &amp; minuman. Ternyata setelah bayar di kasir, kami tidak diberikan plastik, bahkan wadah lain sekalipun. Sempat terbengong, tapi akhirnya kami mengerti. Belanjaan kami tenteng, sambil menghabiskannya di tengah jalan menuju penginapan. Ha........&lt;br/&gt;Artinya, selain dimulai dari diri kita sendiri, ada baiknya regulasi yang membatasi pemakaian terutama kantong plastik bisa dilakukan pemerintah.Bahkan sampai jengkelnya seorang teman bilang: Kalau nanti g jadi menteri lingkungan, program pertama adalah melarang hypermart, carefour, dll pake plastik. Sebuah ide yang menarik!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Semoga semua makhluk berbahagia</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Berbagi sedikit cerita saja. Satu waktu ketika di Taipe, saya &#038; kawan mampir ke Seven Eleven, kalau disini kayak indomaret/alfamart. Cuma beli beberapa makanan kecil &#038; minuman. Ternyata setelah bayar di kasir, kami tidak diberikan plastik, bahkan wadah lain sekalipun. Sempat terbengong, tapi akhirnya kami mengerti. Belanjaan kami tenteng, sambil menghabiskannya di tengah jalan menuju penginapan. Ha&#8230;&#8230;..<br />Artinya, selain dimulai dari diri kita sendiri, ada baiknya regulasi yang membatasi pemakaian terutama kantong plastik bisa dilakukan pemerintah.Bahkan sampai jengkelnya seorang teman bilang: Kalau nanti g jadi menteri lingkungan, program pertama adalah melarang hypermart, carefour, dll pake plastik. Sebuah ide yang menarik!</p>
<p>Semoga semua makhluk berbahagia</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: vina</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/07/08/55/comment-page-2/#comment-882</link>
		<dc:creator>vina</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Dec 2007 08:35:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=55#comment-882</guid>
		<description>after read it, every time i want to throw things i don&#039;t use it anymore, i think...i think...i think...then i think...where do these things will end up to...&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;what a great and inspiring article,Dee..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>after read it, every time i want to throw things i don&#8217;t use it anymore, i think&#8230;i think&#8230;i think&#8230;then i think&#8230;where do these things will end up to&#8230;</p>
<p>what a great and inspiring article,Dee..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: vipe</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/07/08/55/comment-page-2/#comment-875</link>
		<dc:creator>vipe</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 18:27:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=55#comment-875</guid>
		<description>ya. mari berjalan.&lt;br/&gt;dengan berjalan kita bisa sambil berpikir untuk lebih memilih &quot;want&quot; or &quot;need&quot;.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ya. mari berjalan.<br />dengan berjalan kita bisa sambil berpikir untuk lebih memilih &#8220;want&#8221; or &#8220;need&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: boim</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/07/08/55/comment-page-2/#comment-865</link>
		<dc:creator>boim</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 17:35:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=55#comment-865</guid>
		<description>kagum n saluut buat dee atas tulisannya. bikin saya khawatir, sedih awalnya, malah sampai mo nangis rasanya waktu baca.&lt;br/&gt;rasanya seperti disentil dan dicubit supaya lebih sadar n peduli pada kondisi yg ada.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;saya punya kegelisahan yg sama, tapi ga pernah bisa mengungkapkannya :P&lt;br/&gt;thanks buat tulisannya yg menyentuh hati dan semoga membangkitkan kesadaran dan semangat saya untuk dpt merealisasikannya dlm tindakan harian yg sederhana...&lt;br/&gt;semoga...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kagum n saluut buat dee atas tulisannya. bikin saya khawatir, sedih awalnya, malah sampai mo nangis rasanya waktu baca.<br />rasanya seperti disentil dan dicubit supaya lebih sadar n peduli pada kondisi yg ada.</p>
<p>saya punya kegelisahan yg sama, tapi ga pernah bisa mengungkapkannya <img src='http://www.dewilestari.com/b/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> <br />thanks buat tulisannya yg menyentuh hati dan semoga membangkitkan kesadaran dan semangat saya untuk dpt merealisasikannya dlm tindakan harian yg sederhana&#8230;<br />semoga&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: windede</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/07/08/55/comment-page-2/#comment-813</link>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Nov 2007 17:50:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=55#comment-813</guid>
		<description>kontemplasi yang dahsyat sekali, dee...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kontemplasi yang dahsyat sekali, dee&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

