Menyibak Aku Melalui Kamu

Lebih dari setahun yang lalu, saya pernah membuat sebuah tulisan berjudul “Brunch and Lunch With God” di blog ini. Di sana, saya menggunakan personifikasi Lucky Luke, tokoh komik berprofesi koboi pengelana, yang tak pernah menetap di satu tempat, dan tak mengikatkan diri pada apa pun. Dalam penelusuran spiritual, seringkali (jika tidak selalu) saya merasa seperti Lucky Luke, Sang Lonesome Cowboy, berkuda sendirian menghadap matahari terbenam.

Ketika akhirnya memutuskan ikut retreat Enlightenment Intensive yang diadakan di Ubud tanggal 3-5 Agustus 2007, saya pun melenggang seperti seorang Lucky Luke, sendirian dan tanpa pengharapan. Dalam tiga hari ke depan, 16 peserta akan menjalankan satu metode bernama Dyad (berasal dari bahasa Latin yang berarti ‘dua’). Fasilitator kami, Jack Wexler (Zyoah), sudah berpuluh tahun menjalankan metode ini, dan bahkan mengembangkannya ke berbagai format. Metode yang pertama kali digagas oleh seorang spiritualis bernama Charles Berner ini pada dasarnya adalah kontemplasi mendalam terhadap koan Zen yang didesain sedemikian rupa agar jerat logika pikiran dapat tertransendensi. Bedanya, jika seseorang lazimnya memecahkan koan Zen dengan bermeditasi diam berhari-hari, dalam Dyad koan tersebut digarap oleh dua orang sekaligus dalam bentuk mendengar dan mengungkap.

Mendengar dan mengungkap berbeda dengan bertanya dan menjawab. Dyad bukanlah percakapan. Meski pertanyaan tetap digunakan sebagai pancing, si penanya tidak mengharap jawaban, ia berperan sebagai cermin bagi pasangan Dyad-nya. Cermin sempurna tidaklah bereaksi, tidak mengevaluasi, tidak menjustifikasi, tapi hanya menawarkan keberadaannya secara total. Demikian pula dengan yang ditanya, ia tidak diharap memberi jawaban, melainkan mengungkap apa pun dalam medan kesadarannya yang terpancing oleh koan tersebut, baik dalam bentuk verbal maupun non-verbal. Berbekal kail tunggal “tell me who you are”, satu putaran Dyad berlangsung selama 40 menit. Dalam satu putarannya, seseorang mendapat giliran empat kali menjadi pendengar, dan empat kali menjadi pengungkap.

Jujur, awalnya saya tidak bisa membayangkan bagaimana momen pencerahan atau satori dapat terjadi dengan ‘kebisingan’ komunikasi ini. Belum lagi luberan audio dari kanan-kiri, karena kami melakukan Dyad ini bersama-sama dalam satu ruangan. Sekilas pintas, saya melihatnya seperti ajang curhat massal, di mana terdapat enam belas orang psikiater dadakan yang merelakan kupingnya selama tiga hari ke depan untuk menampung curhat dan sampah batin orang lain, sekaligus mengambil giliran jadi pasien sekaligus.

Namun ketika dijalankan, saya mulai menemukan banyak pengalaman menarik. Setiap pasangan ternyata menghadirkan dinamika yang berbeda-beda dan tak terduga-duga. Terkadang kami tertawa bersama, bahkan bernyanyi bersama, atau malah bisu bersama. Dan jika kita membuka diri secara total pada keberadaan seseorang, ternyata setiap dari kita memancarkan kecantikan dan keindahan yang luar biasa, terlepas dari penilaian fisik yang berlaku umum di masyarakat. Selama Dyad, tak jarang saya hanya menangis, mengagumi kesempurnaan yang terhampar melalui partner saya, dan membuat saya merenung: jangan-jangan di dunia ini tidak ada yang sesungguhnya tidak indah, hanya kita yang tak pernah memberikan perhatian penuh sehingga keindahan itu kerap luput.

Proses Dyad juga bisa menjadi perjuangan yang melelahkan. Saat pikiran dan batin kita benar-benar dikuras, saat kita jenuh setengah mati dengan kegiatan mengungkap dan mendengar, durasi lima menit bisa serasa lima jam. Jangan tanya berapa kali saya berkeinginan untuk mencelat keluar ruangan, atau berencana membuat perhitungan dengan sahabat saya yang menawarkan retreat ini. Kalimat “tell me who you are” bisa terdengar seperti hukuman.

Hari terakhir. Retreat akan selesai beberapa jam lagi. Seusai istirahat siang, saya berjalan kembali ke ruangan dengan satu kegelisahan: dalam tiga hari ini, saya menyadari begitu banyak mutiara yang telah saya dapat, tapi si ‘itu’ yang saya cari sepertinya belum ketemu, sementara batin dan benak ini rasanya sudah kehabisan bahan. Kosong. Tak ada lagi yang ingin diungkap. Tak ada lagi yang ingin dibagi.

Duduklah saya di hadapan partner saya siang itu. Sungguh tak tahu harus beraksi apa lagi. Tiga dari empat kali lima menit saya habiskan dengan tertawa terpingkal-pingkal. Sejadi-jadinya. ‘Kekosongan’ itu mendadak terasa lucu luar biasa. Pada giliran terakhir, tawa saya mereda dan sesuatu merambat naik ke medan kesadaran, bertepatan dengan suara kokok ayam jantan dari kejauhan. Dan terjadilah… pada saat yang paling tak diduga, pada momen yang sungguh tak ditunggu, kokok ayam itu membangunkan saya dari mimpi; dari belitan realitas yang disusun oleh pikiran dan interior mental saya. Dengan mata terbuka, saya menyadari apa yang selama ini ada bersama dengan saya tapi tak disadari keberadaannya. Dan saya mencari ‘itu’ persis seperti ikan dalam akuarium yang mencari-cari air.

Sama halnya dengan hampir semua pengalaman meditasi, bahwa kata-kata hanyalah penunjuk dan bukan realitas yang sesungguhnya, maka deskripsi atas pengalaman tadi amat sangat susah diungkapkan, jika memang tak mungkin. Barangkali kalau saya bercerita bahwa sesudah momen itu saya jadi melihat warna-warni aura, atau terbang menembus awan, kisah ini akan lebih dramatis dan meyakinkan. Sayangnya bukan itu yang terjadi. Yang terjadi adalah sejenak lepasnya ego, yakni konsep ‘aku’ yang dibentuk oleh persepsi, ruang, dan waktu. Sejenak, ‘Dewi Lestari’ berhenti menjadi pusat, melainkan objek dalam medan kesadaran itu sendiri. Segala perasaan, kenangan, dan buah pikiran tidak lagi menjadi properti eksklusif si ‘aku’. Yang tercipta adalah sebuah kesadaran egaliter, inklusif, dan bukan semata-mata kesadaran versinya ‘Dewi Lestari’.

Jika dalam semua Dyad sebelumnya saya masih ‘bercerita’, pada momen itu saya berhenti ‘menceritakan’, berhenti ‘mendeskripsikan’, melainkan berintegrasi langsung dengan kenyataan yang berjalan momen demi momen. Koan “tell me who you are” kali ini dijawab bukan oleh saya, melainkan oleh kokok ayam, kicau burung, kepak kupu-kupu yang melintas, desir angin, dan apa pun yang melintas dalam medan kesadaran… apa adanya. Si ‘aku’ tak lagi menjadi perintang, dan tak lagi mencoba menjembatani.

Masih ada dua kali Dyad sore itu. Dan dalam sesi Dyad yang terakhir, barulah saya temukan cara paling mendekati untuk mengungkap ‘itu’. Saya memohon izin pada pasangan saya untuk menggenggam tangannya, lalu meletakkannya di atas degup jantung saya. Kapankah jantung kita berada di masa lalu atau di masa depan? Satu kali pun tak pernah. Ia bahkan takkan sanggup untuk itu. Jantung kita mendegupkan hidupnya selalu di saat ini. Kita tak mampu memutar balik degup jantung kita yang lewat, atau memproyeksikan degup jantung kita di waktu yang akan datang. Dan di sanalah ‘itu’ ada. Dalam saat ini. Tak satu pun kata mampu meringkusnya.

Dyad selama tiga hari dua malam di Ubud menjadi pengalaman yang unik, karena tidak hanya saya mengalami momen satori tersebut dalam kondisi mata terbuka, tapi juga dengan seorang pasangan. Bukan dalam gelap dan kesendirian. Dan barangkali itu jugalah satu sisi yang saya luput dari profil Lucky Luke. Selama ini saya melihat dia sendirian, padahal tidak. Lucky Luke berkelana di atas pelana Jolly Jumper. Dan dibutuhkan kesadaran yang egaliter dan inklusif untuk mampu melihat signifikansi peran Jolly Jumper dalam perjalanan koboi soliter itu. Lucky Luke dalam analogi ini melambangkan figur ‘aku’ sebagai pusat yang eksklusif, dan semua selain ‘aku’ menjadi fenomena sekunder. Namun ketika dominasi ‘aku’ mereda, kesadaran pun mengembang, merangkul semua, dan tak ada lagi hierarki primer-sekunder. Jolly Jumper bertransendensi sebagai pasangan yang bergandeng tangan dengan sang koboi, bukan lagi figuran.

Bukan pula semata kebetulan jika salah satu sahabat yang saya profilkan dalam artikel “Brunch and Lunch with God” menjadi pasangan Dyad saya terakhir di Ubud. Kehadirannya melengkapkan kesimpulan saya bahwa penelusuran spiritual ini tidak sesendirian yang saya duga. Dalam dinamika kehidupan kita, semua manusia dan makhluk berperan sebagai kail pancing untuk menemukan kesejatian itu, tak terkecuali ayam jago yang kokoknya ikut ‘membangunkan’ saya—yang sampai retreat selesai pun tidak bisa saya alokasi keberadaannya, namun sungguh saya rasakan kehadirannya. Andai ayam itu bisa saya temukan, saya ingin membungkuk, berterima kasih dan berkata: melalui kamu, aku menyibak ‘aku’. Sebagaimana saya membungkuk dan berterima kasih pada semua partner Dyad saya, Zyoah, dan langit biru Ubud.

PS. Mohon maaf jika analogi Lucky Luke dan Jolly Jumper menimbulkan kesan bahwa saya mengasosiasikan pasangan-pasangan Dyad saya dengan seekor kuda. Dengan segala rasa cinta dan humor, saya (mungkin) tidak bermaksud demikian

* Info tentang Zyoah dan Enlightenment Intensive Retreat bisa didapat di www.selffoundation.com

33 Comments

  1. Reza said,

    September 2, 2007 at 10:52 pm

    Dee,

    Tidak sangka ya bahwa keheningan sejati bisa begitu banyak kepingan sisinya, hadir dalam berbagai gelak tawa, tangis, jeritan, bahkan pelukan dari hati yang terdalam. Di tatapan sang mitra itulah aku menemukan diriku, juga. Terimakasih sudah menapak langkah demi langkah di Ubud, bersama.

    Reza

  2. chindy said,

    September 3, 2007 at 7:51 am

    Tulus..satu kata ini yang dalam perjalanan saya mencari dan mencari perhentian, saya tetapkan hati pada tulus inilah saya ingin berhenti. tulus akan menuntun kita melebur pada kemurnian. tanpa embel-embel. sepi ing pamrih. tiap masuk dalam panggung nyata hidup, sungguh tidak mudah memakai tulus, tidak mudah menjaga interaksi panca skandha ini tetap dalam kemurnian..saya selalu merasa kikuk Sobat..mungkin memang butuh waktu, dan memang tulus yang saya impikan butuh ruang dan waktu untuk mengujinya..mengujinya dalam tiap detak pikiran, rasa dan lakon saya…go! go! go!
    saya berharap saya mampu memulihkan getar kemurnian dalam tiap balon hidup yang saya tiupkan. Seperti siang ini, ketika pulang dari dinas, saya melihat segerombolan bebek lepas mandi di kali, mengibas-ngibaskan bulunya, sebagian masih bermain, lima ekor, mencelupkan kepalanya di air, hampir berbarengan hingga terlihat seperti sedang menari dan menikmati musik..sungguh, saya turut merasakan gegap riang canda mereka…hidup mereka bebas embel-embel, membelanjakan waktu mereka dengan begitu lepas, apa adanya…

  3. chindy said,

    September 3, 2007 at 7:55 am

    Pagi ini, seperti biasa saya berangkat ke tempat dinas. Seperti biasa juga, ada satu-dua seniman yang kerap berbagi entah dengan lagu, entah dengan sulap, entah dengan puisi. Namun kali ini lain menurut saya bukan puisi melainkan cermin hidup. Sungguh pagi yang indah, mendengar sebuah petikan hati, dari seorang penutur hidup namanya Oka Rimba. Begitu dia menyebut namanya dalam imel yang dia kirim hari ini. Tapi kelihatannya dia punya nama yang lain, kalau tidak salah Patric Wico. Nama yang dia tulis ketika saya memintanya menuliskan alamat imel di lembar kertas renungan yang dia bacakan di atas bis. Kami bertukar alamat imel, pas usai menuturkan sepetik renungan tersebut, dan mengumpulkan bunga-bunga sosial dari tiap penumpang. Saya menolak menyebutnya pengamen atau seniman jalanan. Kata jalanan merujuk pada sesuatu yang tidak jelas, serabutan. Atribut apa pun termasuk seniman, hatilah yang melayakkannya. Berisi atau tidak suatu atribut juga terletak pada hati. Ketika sebuah kata ditutur oleh hati, kata tersebut akan meninggalkan jejak, merangkul dan memeluk siapa saja. Di situlah letak kesejatian sebuah atribut, dia bukan sekedar atribut lagi..

  4. Dewi Lestari said,

    September 3, 2007 at 12:47 pm

    Sungguh momen yang tak tergapai kata-kata ketika pencarian yang sepertinya rumit dan berbelit dipatahkan oleh kesadaran yang begitu sederhana; ketika diri yang dicari ada di bola mata partner kita, ketika kebenaran yang dicari adalah realitas yang serupa tapi tanpa bingkai jendela, ketika suara menjadi pengantar bagi hening dan hening menjadi bersuara.

    Untuk Reza: Terima kasih sama-sama, dan terima kasih untuk bersama-sama.

    Love, peace, and gaul…

    ~ D ~

  5. Dewi Lestari said,

    September 3, 2007 at 12:52 pm

    Untuk Chindy: Semoga kita bisa menyeberangkan segala atribut menuju kesejatiannya. Lewat napas, lewat detak jantung, lewat denyut nadi, lewat apa pun yang hadirnya hanya saat ini.

    Oh ya, salam untuk spaghetti Soma Yoga… :)

  6. dega said,

    September 4, 2007 at 1:50 am

    Dee,
    Benar-benar sulit, kali ini, untuk mengerti ‘itu’ yang coba kamu bagi.
    Entah mengapa.
    Mungkin karena aku hidup terlalu berpusat pada aku.
    Gamang, rasanya..
    Mungkin harus aku sendiri yang menemukan ‘itu’ ya??

  7. ______________________ said,

    September 4, 2007 at 7:51 am

    Saya membaca “Menyibak Aku Melalui Kamu” di sebuah kamar berukuran 3×4 meter. Lampunya saya matikan. Sekitar jam dua belas malam. Tidak ada suara-suara yang menggangu kecuali kipas laptop saya yang mulai bising, suara cecak yang sedang berkelahi, dan suara knalpot motor yang bocor dari luar rumah. Dan saya merasa sedang berada dalam sebuah sesi Dyad ketika saya sedang mendengarkan partner saya “mengungkapkan” sesuatu. Partner itu adalah Dewi Lestari yang hadir lewat “Menyibak Aku Melalui Kamu”, sedang mengungkapkan momen satori-nya menemukan ‘itu’ yang lama sekali ia cari. Dan saya, mendengarkannya melalui pembacaan yang sunyi.
    Sebelumnya saya tidak pernah tahu apa itu Dyad, saya juga tak pernah mengerti betul soal koan Zen. Saya baru mengenal dan (berusaha) memahaminya malam ini melalui artikel terbaru ini. Tetapi saya seolah sedang berada dalam sebuah sesi Dyad. Tidak di Ubud, tetapi di sini. Tidak bersama seorang partner, tetapi bersama sebuah teks.
    Saya setuju bahwa untuk menemukan ‘aku’ kita memang memerlukan sebuah cermin. Dyad mungkin menawarkan “cermin” berupa partner yang mendengarkan dan mengungkap, seperti cermin yang menerima cahaya dan merefleksikannya. Tetapi, “cermin” itu, bagi saya, tidak mesti harus ‘kamu’ yang memiliki kesejajaran-hierarki kesadaran dengan kita. Cermin itu tidak mesti “seseorang”. Cermin itu bisa saja seekor kuda—seperti Lucky Luke dan Jolly Jumpernya. Cermin itu bisa sebuah pohon ketika kita berteduh di bawahnya. Cermin itu bisa sebuah artikel, buku, gambar, atau apa saja.
    Dalam meditasi sekalipun kita tidak pernah sendiri, bukan? Karena kita memang tidak mungkin berdiri sebagai entitas yang tunggal. Alam adalah ‘yang lain’ dari ‘aku’, yang selain diri kita. Dan dalam meditasi itulah kita ‘bercermin’ pada alam, “partner” kita. Seperti dalam Dyad, saat meditasi kita harus meredakan dominasi aku—menjadi lebur bersama alam, bersama semesta, bersama universalitas.
    Syaratnya hanya satu. Keintegralan kita dengannya. Keintegralan ini bisa diterjemahkan sangat luas, ia mungkin berupa kesatuan koheran dalam bentuk keselarasan energi, atau lainnya.
    Melalui teks “Menyibak Aku Melalui Kamu”, saya seperti sedang bercermin. Saya menemukan partner yang menerima sekaligus memberikan sesuatu bagi diri saya. Melalui pembacaan heurmaneutik-empatik saya menemukan “partner” di sebalik teks yang sedang saya baca. Mungkin seperti Khaled Abou El-Fadl yang seolah bercakap-cakap dengan banyak sekali ilmuan dalam sebuah musyawarah buku. Atau seperti Sophie yang seperti mengobrol dengan Sang Kolonel lewat sebuah surat.
    Saya merasakan energi mengalir dari jaringan internet di mana “Menyibak Aku Melalui Kamu” dituliskan, saya merasakan energi mengalir dari seseorang yang menuliskannya pada siapapun yang membacanya, membuat sebuah teks menjadi “bercahaya” dan menemukan peran transendensinya sendiri. Termasuk di sini, di kamar ini.
    If this is communication, I’m connecting!
    Makasih banyak!
    -Fahd-

    PS. Maaf kalo saya sok tahu, tapi entah kenapa saya mau menulis begini! Hehe 

  8. aLe said,

    September 5, 2007 at 12:08 am

    *oot mode : on*
    lhoh ternyata ini bLog artis tih :D
    wah aLe beruntung bngt bs nyasar disini, salam kenal dari aLe ;)

  9. SPIDOLHITAM said,

    September 5, 2007 at 1:40 am

    thumbs up …

    seneng liat blog ini ada tulisannya lagi … :)

  10. DooHaN said,

    September 5, 2007 at 5:03 am

    ternyata “aku didalam aku” itu ada to…
    sebegitu rumitkah untuk menemukan itu?
    Slaut buat mbak Dea yang mo minum satu sedotan sama penderita AIDS di bali. Banyak orang yang mau melakukannya (tapi kok gak ada di postingan ini?)

  11. yoe said,

    September 6, 2007 at 9:34 am

    Dee.., Salam kenal

    Jika saja yang ada dihadapan kamu saat itu benar-2 seekor kuda, apakah kokok ayam akan berpengaruh sama terhadap “pengertian” yang muncul ?

    pertanyaan menggoda kan ?
    boleh dicoba…

    Kehidupan memang sesungguhnya adalah kesederhanaan, walau bukan dengan maksud menyederhanakan

    Ketika kita bisa berada dalam “kesederhanaan kehidupan” saat itu segala rahasia terungkap

    bahasa gaulnya ;
    njelimet…? NO..!

    yoe

  12. Dewi Lestari said,

    September 7, 2007 at 3:32 am

    Fahd… speechless!

    Doohan… posting yang mengenai pengalaman saya coaching menulis untuk UNAIDS ada di artikel yang judulnya “Mengenang Sendok dan Sedotan”. Ada kok di archive blog ini.

  13. hansen_zinck said,

    September 7, 2007 at 3:41 am

    dear mba dee,

    artikel yang ‘mendalam’ sekaligus bermakna. entah bagaimana terasa mengalir begitu indah…

    berkecimpung dalam sebuah organisasi (saya sedang mengikuti sebuah organisasi) pada intinya bukanlah hal yang mudah. dengan berbagai alasan kita ikut tergabung dalam sebuah kegiatan organisasi- dengan berbagai tujuan. namun ada satu hal yang sama- bahwa kita akan berinteraksi dengan banyak orang pula. nah, terkadang interaksi ini tidak berjalan dengan baik sesuai dengan yang kita harapkan. bukanlah hal yang mudah bagi seseorang untuk bisa menjalankan sebuah organisasi dengan baik. ada begitu banyak kepentingan yang berbeda dari kumpulan berbagai macam orang dengan latar belakang berbeda. mungkin ini pula penyebab utama timbulnya konflik dalam suatu organisasi. berdasarkan apa yang saya pelajari (dan sedang dipraktekkan), di saat-saat kritis seperti itulah kita mulai mencoba untuk belajar memahami kepentingan ‘Aku’ dan mencoba untuk memahami pula kepentingan ‘Dia/Mereka’. kepentingan ini perlu digabung menjadi sebuah kepentingan ‘Kita’ bersama. tentu bukanlah hal yang mudah. diperlukan ketulusan untuk mendengarkan kehendak yang lain, diperlukan ketulusan untuk memahami tindakan orang lain. dan itu sulit (karena ego kita)!! saya rasa inilah saatnya bagi saya untuk serve the others. pak Gede Prama dalam perbincangannya di Mendut berkata ‘berikanlah tangan kanan kepada orang lain dan tangan kiri untuk diri kita sendiri’.

    Dengan segala kesulitan yang ada, saya kira mengikuti organisasi adalah hal yang berharga untuk saya yang sedang kuliah di Jogja. Saya tertawa, berteman, bermusuhan, perang dingin, merasa tertekan, merasa bebas – semua terasa begitu kompleks. Semakin saya mengenal orang lain, semakin saya mengenal diri saya sendiri. Dimana letak kesalahan saya, dimana kelebihan saya, kekurangan saya, dsb. Dan bukanlah hal yang mudah untuk menerima orang lain, terlebih menerima diri kita sendiri. Padahal bagaimana kita mau berubah menjadi lebih baik bila kita tidak mengerti diri kita sendiri…

    Jujur selama menjalani organisasi ini, ada begitu banyak tekanan, ada begitu banyak keputusan yang mungkin belum tentu benar, ada begitu banyak orang yang kecewa dengan diri kita. Merasa tertekan, ingin lari, tidak mau tahu juga pernah muncul. Namun seiring berjalannya waktu saya merasa betapa berharganya hal itu terjadi pada kami saat ini (mungkin konflik selalu terjadi di Vidyasena). Karena dengan adanya konflik itulah maka kita belajar- belajar untuk memahami orang lain, memahami situasi, terlebih memahami diri sendiri. Dan sekarang cukup dengan menyadari apa yang sedang kami lakukan saat ini, semua berjalan dengan lancar. Ternyata tidak hanya dengan mengikuti retreat atau bermeditasi saja kita dapat memahami ‘hakekat’ diri kita, tetapi juga dengan berinteraksi dengan orang lain- di dalam keluarga kita sendiri, di suatu organisasi, di kampus, di kost, di lingkungan masyarakat kita. Ternyata semua begitu berharga untuk dipelajari.

    Thank u, mba dee atas sharingnya
    May u be happy
    May all beings be happy

    Hansen_zinck

  14. Dhamma Pelita Kehidupan said,

    September 10, 2007 at 4:33 am

    Namo Buddhaya Dee
    Dee tulisannya Menyentuh…
    Salam kenal Dee

    Dedi

  15. RAMPA MAEGA said,

    September 10, 2007 at 8:14 am

    Fahd……Menjadikan objek seperti teks atau gambar sebagai cermin sepertinya akan menjadi lebih rumit dibandingkan dengan cermin berupa manusia.

    Terkadang, sebagai individu kita (atau mungkin hanya saya yahh..) merasa kalau kita sanggup memahami sebuah benda. Tapi, kenyataannya seringkali itu hanyalah praduga.

    Ketika menjadikan “teks” atau “gambar” sebagai cermin buat si “aku” mungkin si “aku” dapat melihat dirinya dalam “teks” atau “gambar” tersebut. Namun, bagaimana sebaliknya? Saat “aku” sedang menitikkan air mata bisa saja “teks” atau “gambar” akan melihatnya sebagai air kencing atau bahakan tidak melihat apa-apa sama sekali. Saya jadi berpikir kalau kondisi seperti ini kemudian menjadi tidak adil.

    Hansen_zinck……..Menurut saya meditasi atau retreat merupakan sebuah kondisi yang bisa dibilang “teori” untuk memahami hakekat diri kita sementara pergaulan di organisasi, kampus, dll merupakan praktiknya. Biasanya praktik lebih susah daripada teori.

    Dee…….saya jadi bertanya-tanya, mengapa banyak jawaban buat pertanyaan dalam hidup justru muncul saat kita sudah merasa tidak sanggup bertanya lagi. (Hari terakhir. Retreat akan selesai beberapa jam lagi. Seusai istirahat siang, saya berjalan kembali ke ruangan dengan satu kegelisahan: dalam tiga hari ini, saya menyadari begitu banyak mutiara yang telah saya dapat, tapi si ‘itu’ yang saya cari sepertinya belum ketemu, sementara batin dan benak ini rasanya sudah kehabisan bahan. Kosong. Tak ada lagi yang ingin diungkap. Tak ada lagi yang ingin dibagi ). Di Supernova 1, Rana mendapat jawaban via email dari SUPERNOVA juga setelah ia mengalami kondisi yang kurang lebih sama (maaf kalo salah ingat, tapi pokoknya ada yang kayak gitu, hehe).

    PS. Ketika memilih untuk menggunakan istilah “air kencing” di atas, saya sama sekali tidak bermaksud menganalogikan mata dengan alat kelamin. Juga di paragraf ke-5, saya tidak bermaksud mensejajarkan Dee dengan Rana.

    Fahd…Salut untuk cara berpikir anda yang sepertinya sedikit nyeleneh, tapi menurut saya adalah sebuah hasil dari pemikiran dan pengalaman yang sangat kaya.

    Dee ‘n Fahd…..If you are making a communication, allow me to be connected…

    Kurre Sumanga’,
    RAMPA MAEGA

  16. Dewi Lestari said,

    September 10, 2007 at 8:54 am

    Waktu hari terakhir retreat di Ubud memang diungkapkan oleh fasilitator kami bahwa biasanya momen satori itu muncul di 1-2 Dyad terakhir. Mengapa demikian? Saya tidak tahu persis. Saya sendiri mengalaminya di Dyad ke-3 sebelum akhir. Tapi dari cerita mengenai Charles Berner dan sejarahnya menemukan metode ini, ia bereksperimen terlebih dahulu dengan beberapa puluh orang, dan memang pikiran modern kita membutuhkan rata2 waktu sepanjang itu untuk bisa ‘lepas’ dari ‘jeratnya’ sendiri. Tapi tentunya setiap individu memiliki pengondisian yang berbeda, dan hasilnya tidak akan sama pada setiap orang.

    Secara umum, yang saya rasakan sejauh ini dari pengalaman2 retreat saya, memang ketika pikiran telah melepaskan lapis demi lapis pengondisiannya, maka akan lebih mudah baginya untuk ‘berhenti’. Dan hanya pada momen berhenti itulah satori bisa menguak ke permukaan. Jadi wajar kalau momen itu datangnya menjelang akhir, karena beberapa hari sebelumnya pikiran kita masih struggling, dan wajar jika di tengah2 proses terjadi krisis.

    Bagi saya, rasanya lebih tepat kalau masa2 seperti retreat disebut sebagai “praktek dengan pengondisian”. Noble silence, menonaktifkan segala alat komunikasi, meditasi berjalan, bergerak lambat, dsb, adalah pengondisian yang membantu tujuan retreat itu sendiri.

    Dan, benar, tantangan paling berat adalah ketika kita keluar dari pengondisian selama retreat, dan kembali ke ritme kehidupan sehari-hari namun sebisa mungkin menjaga keelingan kita setiap saat, dalam setiap kondisi. And there can never be a guarantee…

    Salam kenal untuk Dedi, dan thanks atas sharing-nya Hans dan Rampa…

  17. chindy said,

    September 13, 2007 at 1:07 am

    lourcoSalamnye ud nyampe Dee;)
    salam balik jarene, khusus puasa jam tayang Soma Yoga berubah..buka mulai sore kalo g salah jam 16.30pm..awakku kok lagakne dadi koyo bakul yo hehe…

    Oya Dee, bagi sedikit lagi perasan hati saya yee…

    Bau kecoak menyengat sekali. Bukan karena dosa besar hingga kecoak memiliki aroma yang ’sengit’ di hidung kita. Semua sudah demikian adanya. Namun aromanya justru seolah pembawa kutuk baginya.
    Hari ini adalah hari kesekian saya pindah ke kamar baru. Pertamakali masuk kamar, bau khas kecoak sudah tercium. Benar saja, ada 2 ekor seliweran di kamar mandi. Ada yang di pinggir pintu, aroma makin kuat terasa.
    Hmm…kenapa penolakan kita pada bau tertentu bisa begitu sengit. Bau! Begitu seru kita dan segera melacak asal muasalnya. Begitu ketemu, spontan kecoak digebuk, diinjak atau dikejar2 dg sandal jepit kita. Siapa sih kecoak, dan siapa sih kita, manusia?
    Satu pesan Mama yang selalu saya ingat sampai sekarang adalah,”Mereka juga mau hidup” ketika itu kalau tidak salah kakak saya sedang mengadu jangkrik. Saya yakin pesan ini berlaku untuk semua yang hidup. Tidak terkecuali kecoak. Kita punya seribu pembenaran, bisa karena rasa jijik, bisa karena bau, bisa karena kecoak hidupnya di tempat kotor menghalalkan kita untuk membunuhnya. Padahal jika ruangan dibersihkan, kecoak akan hengkang dari
    tempat kita,tidak perlu dibunuh,mereka akan pergi dengan sendirinya. Dengan demikian kita berbagi ruang hidup dengannya. Berkat kecoaklah sampah nenek moyang kita tidak menutupi seluruh wajah Bumi. Kecoak pasukan yang paling tekun dan setia menguraikan sampah kita. Tanpa kecoak sampah kita mungkin sudah
    akan membumbung menyentuh langit ketujuh. Mari hargai dan beri ruang bagi apa pun, siapa pun di alam raya ini dengan begitu kita juga akan dilayakkan u menempati ruang mana pun di muka Bumi ini.
    Satu sudut pandang lain yang ingin saya bagi adalah bila ada makhluk predator yang sangat sensitif dan responsif terhadap aroma kebusukan hati, mungkin makhluk yang bernama manusia sudah lama punah karena diserang dan dibasmi oleh makhluk predator tersebut. Manusia yang tersisa hanya mereka yang bisa dengan ekstra hati-hati menjaga tiap jengkal gerak pikiran dan hatinya dari

    waksyangka,

    purbasangka,

    kepura-puraan,

    tamak,

    haus nama,

    tumpul rasa hingga enggan timbang rasa, hanya kata,”peduli amat” yang meraja di hati.

    Hanya Manusia yang telah selesai bergulat dengan seribu persepsi yang bisa selamat dari inceran Predator ini,
    Manusia yang senantiasa eling siapa yang sedang mendiktenya
    Sadar ketika Persepsi mengaburkan kejernihan rasa
    Sadar ketika Ego sedang membelainya dalam nikmat pengakuan
    Namun semua eksistensi dan realitas dapat dipantulkan dengan utuh, apa adanya…

    Bagi saya Inilah Jalan Keselamatan, Jalan yang membebaskan hati, Jalan yang melapangkan hati dan terbentanglah Ruang harmoni yang tak berbatas bagi Semua Makhluk

    Dunia pun Capai Surganya, Seketika!

    Mimpi kali yee,hehe..

    Iya donk, kite-kite harus berani pancang mimpi tembus langit sekalipun..yee!

  18. MOMMO said,

    September 13, 2007 at 9:10 am

    keheningan sejati belum pernah kurasa, gimana sih rasanya :O aduh aku harus rajin-rajin latihan tapi gmana kalo kalo gak punya pembimbing? dari mana saya belajar metodenya?

  19. Gede said,

    September 18, 2007 at 6:52 pm

    Dee,

    terima kasih insightnya…

    2 kata dari saya… sini & kini

  20. tan_intan said,

    September 18, 2007 at 8:51 pm

    (Namun ketika dominasi ‘aku’ mereda, kesadaran pun mengembang, merangkul semua, dan tak ada lagi hierarki primer-sekunder.) – satu kalimat yang benar-benar ‘membangunkan’ aku. Solusi tepat buat ngilangin kesombongan dan keekslusifan yang dari dulu susah banget diilangin.
    u are the best, mba Dewi!!

  21. wiku said,

    September 25, 2007 at 3:52 am

    mba dee…judulnya keren…membuat berpikir, lalu mengernyitkan dahi dan mengambangkan pikiran…

  22. Anonymous said,

    September 30, 2007 at 8:07 am

    umur selalu ‘bertambah’ setiap detiksatu kantong waktu yang telah dilewati telah menjadi bagian LALUdan tidak akan pernah menjadi KINIKINI adalah satu-satunya kepastian yang dimilikikepastian untuk memberi rupa kerangka apa pada HIDUPkepastian untuk memberi ruang seluas apa tuk sebuah pencariankepastian untuk bertanya dan mendesak diri untuk jujur pada suara sendirikepastian untuk menelanjangi diri sendirikepastian untuk menegur, belajar fair dan mendidik diri sendirikepastian untuk bersua dengan HIDUP, Sang Maha Guru yang coba dirangkum dalam satu kantong waktuAah Sahabatku,Hari ini, sekian ucapan ’selamat’ juga mampir di gerai inbox pesawat elektronik di tangankukucoba membaca gerak apa, suara apa gerangan yang keluar dari lubuk yang konon letaknya terdalam ini…ada suara yang berbunyi,”sebenar-benarnya saat ini kamu itu siapa Cing?”"Dari ujung ubun hingga ujung jempol, saat ini sedang berpijak di mana dan hendak ke mana?”Sahabat, kucoba ukur, timbang, tanya dan terus tanya….jawabannya tidak pernah bulat-bulat jatuh dari langit. Sedikit, sedikiiiit sekali sekelibatan titik yang orang-orang mungkin bilang ‘cerah’ bak setetes embun, tes…lalu berhenti..tidak ada tetes berikutnya. cuma satu tetes. Dan mungkin terlalu terburu-buru untuk saya identifikasi sebagai jawaban dahaga, jawaban lelahnya rahang saya terbuka menanti tetesan. Tetes ‘cerah’ itu coba saya kata-katakan dengan,”lugu dan jujur bersama keduanya melahirkan murni” Aah, lancang sekali saya membatasi tetes cerah dalam kerangka kata…tidak sebatas lugu Cing, tidak sesederhana jujur, tidak segamblang murni…menelorkan lugu, jujur dan murni, oleh perupa kata sekaliber apapun tidak akan pernah bisa mewakili realita….makin coba dikatakan, makin terasa ada paksaan didalamnya….sudah bawaan orok kita agak sering, hampir selalu malah berupaya memfinalkan, memasang jembatan antara realita dan kata….saya sedang mendidik diri untuk bergelutlah dalam batas metafora…cukup..jangan terlalu memaksakan diri memfinalkan segala rupa kebenaran dalam kata. Biarkan kebenaran yang saya coba saya urai dengan kata jujur, lugu dan murni menjadi misteri dalam tiap perjumpaan yang dihadirkan oleh degup hidup….Namun sahabat, saya mungkin terlalu tercekat oleh kata..untuk itu perkenankan saya memberi bentuk dalam rupa kata untuk segala perjalanan membuntuti dan mengikuti segala gerak-gerik pikir dan rasa serta naluri saya. Pertama kali saya sadar akan jarak ini, ketika menunggu bus, di bawah pohon kersen. Saya memegang ‘ranting’ yang setelah mata saya mengikuti arah pangkalnya ternyata adalah seekor kadal. Spontan saya melompat mundur dan menarik melepas pegangan tangan saya pada ‘ranting’ yang ternyata ekor kadal tersebut, saya kaget setengah mati! Jantung saya berpacu lebih cepat! Grudukan tidak karuan. Namun sejenak saya berpikir, kenapa saya bisa jadi begitu takut? Label yang saya lekatkan pada kadal mungkin salah satu jawabannya. Persepsi saya terhadap kadal, membuat saya curiga, takut, was-was pada kadal. Padahal kadalnya kalem saja. Tenang tidak bereaksi apa-apa. Tetap ngaso tuh, tidak terganggu oleh reaksi saya. Saya rasa-rasa inilah jarak. Jarak yang kita bentangkan pada apa dan siapa saja. Jarak yang dibentuk oleh kelekatan pada label dan persepsi…..Coba saya bisa seperti kadal itu, dia polos tanpa prasangka. Dia jujur tanpa curiga. dia juga menikmati keberadaannya apa adanya hingga tak ada jarak antara dirinya dengan semesta.Hmm….perjalanan tiap KINI alangkah akan eloknya bila merayap menuju pelepasan segala label dan persepsi yang bentuk gamblangnya justifikasiYa ampiun, kok dadi ngelantur genee yee…salam sayang, dadababai!
    Chindy tan

  23. chindy said,

    October 6, 2007 at 6:11 am

    Dee,
    sorry dorry morry jee…ngapolah tampilan komentarku terakhir mak itu yo..kage laen waktu aku jingo teliti dululah..
    btw, Dee banyak hatur terima kasih untuk kail-kail yang memancing sadar tak sadar mengajak saya untuk selalu bergerak dari titik. setiap detik kini adalah peluang untuk berubah. saya belajar melihat tidak ada yang baku. saya detik ini tidak baku, selalu ada kemungkinan untuk berubah di detik berikut. Begitu juga dengan orang lain, perilaku yang pernah saya sorot konyol, tidaklah baku. selalu, selalu ada peluang untuk bergeser dari titik konyol itu. makanya terhadap siapa pun tiada yang layak memberi label harga mati. si A begini, si B begono…jika ingin memberi gugatan, sorotan, kritikan dan teguran, ruang yang paling besar adalah pada diri sendiri. kita punya hak penuh untuk memarahi, mengomeli dan akhirnya mendidik diri sendiri….eh kok jadi nulis ini ya, ketoe kurang nyangkut ama isu artikel’e;)

  24. D'intaglio said,

    January 18, 2008 at 8:56 pm

    salam kenal Dee,

    saya dari kuala lumpur dan sudah punya karya dee – supernova 1, akar dan petir.

    sekarang menunggu Supernova Partikel.

    jemput berkunjung dilaman ini:
    http://gurisanintaglio.blogspot.com

  25. Nash said,

    January 29, 2008 at 6:10 pm

    Dear.. dewi lestari.. salam kenal ya.. saya nourma dan saya suka lagu ciptaan anda yg dibawakan o/ Marcel “firasat”, dan saya suka sekali versi puisinya panjanganya. bisakah saya memintanya .. :)

  26. setra said,

    February 11, 2008 at 6:11 am

    saya tidak menyangka seorang ‘artis’ mengalami pengalaman ini…,salam mbak Dee

  27. Anonymous said,

    February 13, 2008 at 5:37 am

    mahamatimahamatimahamatimahamati
    mahamatimahamatimahamatimahamati
    mahamatimahamatimahamatimahamati
    mahamatimahamatimahamatimahamati

    :) -moly-

  28. ill4 said,

    March 8, 2008 at 4:52 pm

    finally..

    Salam kenal untuk dewi lestari..
    aku suka dengan novel supernova, akar dan petir.

  29. kebhoganteng said,

    March 25, 2008 at 12:23 pm

    akhirnya…kumenemukan guruku, wah pemikiran spontan harus segera ditulis yah seerti ZEN. Mbak saya ijin mengungkap pernyataan mbak di Empat mata : kami saling mencintai karena kami adalah cinta, mohon masukan dan kritikannya demi pencerahan bersama

    Semoga semua makhluk berbahagia

  30. kik said,

    June 21, 2008 at 9:01 pm

    dee…………..lam kenal y….
    tx d buat aq jadi agak melek
    selama ini mmerem terus bawaannya……..

  31. ncomputing penganti-pc said,

    July 23, 2008 at 12:12 am

    ini blog mbak Dewi Lestari toh,,,,alhamdulillah bisa ketemu di blog mbak Dee disini…. :) :)

  32. aisha said,

    January 14, 2009 at 12:55 am

    Salam kenal mbak Dee..
    sukses selalu..:)

  33. faizullah sofyan said,

    February 23, 2009 at 6:22 pm

    Hi mbak dee, apa kabarnya? Nama saya joe, saya mau meluncurkan novel, bersediakah mba dee dtg? saya akan mengirimkan undangannya.

Post a Comment