September 16th, 2007 at 12:17 am (Fiksi)
Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan
Berikut ini dua pertanyaan yang paling kubenci:
Apa itu cinta?
Apa itu Tuhan?
Aku membenci kedua pertanyaan itu sepenuh hati sampai kudedikasikan seluruh hidupku untuk mencari jawabnya, agar kedua pertanyaan itu berhenti menghantui. Dan tidak ada yang lebih memahitkan mulut, memualkan perut, menyesakkan jantung, ketika seseorang muncul dengan kertas dan pulpen, atau alat perekam, di tengah jam makan siang, saat rahangmu sedang sibuk mengunyah, saat makanan di piring memohon perhatian penuhmu, dan orang itu bertanya: “Menurut Anda, apa itu cinta?”
Demi sopan santun dan etika budaya, aku tahankan garpu agar tak mencelat ke bola matanya, dan kugenggam erat-erat piringku agar tak pecah jadi dua di atas batok kepala wartawan itu. Aku hanya menggeram dan mengulang: “Cinta?”
Si wartawan pun berpikir bahwa pertanyaan brilian berikutnya akan memancing jawaban lebih panjang dan lebih mencengangkan, yang akan menghibur para pembaca majalahnya bersama-sama artikel 10+1 cara bercinta paling panas dan peta terbaru menuju spot-spot orgasmik yang selama ini tersembunyi. Dan dia sungguhan nekat bertanya: “Menurut Anda, apa itu Tuhan?”
Jemariku bergetar, menahan garpu, pisau, piring, gelas, dan benda-benda dalam radiusku yang sangat mungkin kujadikan senjata pembelaan diri atas serangan pertanyaan-pertanyaan paling muskil dijawab tapi selalu ditanyakan itu.
Dan aku teringat baris-baris panjang tentang cinta dan Tuhan yang pernah dimuntahkan mulutku seperti peluru dari senapan otomatis—yang begitu hebat dan jenius hingga menembusi hati orang-orang yang mendengarnya. Aku teringat buih dan busa di sudut mulutku saat berdiskusi tentang cinta dan Tuhan—yang jika dikumpulkan barangkali bisa merendam tubuhku sendiri di bak mandi. Aku teringat jerih payah, keringat, air mata, pegal-pegal, kurang tidur, tak makan, tak minum, yang telah kutempuh demi mencari apa itu cinta dan Tuhan. Dan kini, meski sanggup, tak muncul secuil keinginan pun untuk mengutip data dalam ingatanku.
Tanpa terburu-buru, kuselesaikan kunyahan, lalu minum air seteguk. “Begini,” aku mulai menjelaskan, “pertama-tama, dengan mengetahui apa itu cinta, kita akan mengetahui Tuhan. Dan ketika kita mengetahui Tuhan, kita juga jadi tahu apa itu cinta. Jadi, kita bisa mengungkap keduanya sekaligus.”
Mendengarnya, wartawan itu kian mencondongkan badannya ke depan, matanya berbinar antusias. Semakin yakinlah ia betapa cemerlangnya pertanyaan-pertanyaan itu, betapa bermutu dan menantangnya.
“Tapi saya tidak ingin menjawab ini sendirian. Saya ingin mencarinya bersama-sama. Anda setuju?” ucapku dengan sikap tubuh yang seolah hendak mengambil ancang-ancang.
Wartawan itu terkesiap. Tak siap. Namun rasa penasarannya terusik, dan ada keinginan kuat untuk mempertahankan reputasinya sebagai sang penanya brilian. Akhirnya, ia mengangguk setuju.
Aku lantas menyambar mangkok berisi acar, mencomot dua bawang merah utuh, dan memberikan satu butir kepada wartawan itu. “Ayo, kita kupas. Pakai kuku.” Dan tanpa menunggu, dengan semangat dan giat aku mulai mengupas.
Meski ragu, si wartawan mulai ikut. Mukanya tampak enggan dan berkernyit-kernyit tanda tak rela.
“Ayo. Terus, sampai habis.” Sesekali aku mengingatkan, karena sering kali dia berhenti atau melambat.
Demikianlah kami berdua, dengan mata mengerjap-ngerjap perih, mengupasi bawang dengan kuku yang akhirnya jadi lebih mirip mencacah, dengan serpih-serpih bawang yang berantakan mengotori meja. Dan akhirnya kami berhenti ketika serpih terakhir sudah terlampau kecil untuk bisa dikupas.
Berlinangan air mata, yang jatuh bukan karena duka atau suka, aku pun berkata: “Inilah cinta. Inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa.” Sambil terisak, yang bukan karena haru bahagia atau haru nelangsa, lagi aku berkata: “Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, dan bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.”
Ditandai air mata cinta yang menghiasi pipi kami berdua serta aroma Tuhan yang meruap segar dari kuku, wawancara siang itu usai.
Artikel itu kemudian terbit. Tanpa baris-baris kalimat. Hanya gambar besar semangkok acar bawang. Dan mereka yang membacanya menyangka bahwa itu resep afrodisiak. Mereka lalu melahap semangkok acar bawang, bercinta, sambil terus bertanya-tanya: apa itu cinta? Apa itu Tuhan?
* Inspired by a Dyad in Relationship Evolution Workshop, Aug 2007

nAno_NanO said,
September 16, 2007 at 10:06 pm
eeeemmmm….mo koment apa ya?yg jelas aku juga lum bisa nangka pa yg mba dee maksud dg apa itu cinta dan apa itu Tuhan. mungkin dua kata tu dua hal yg ga bisa saling dipisahkan karena satu dg yg lain saling melengkapi, bukan begitu mba dee?
mitora in life said,
September 17, 2007 at 6:14 am
mba dee… first of all “i adore with ur writing” n nunggu banget krya “rectoverso” nya…
hmm, kalo ngeliat karya2nya mbak,.. sepertinya ada idiologi disana…
jenny jusuf said,
September 17, 2007 at 11:42 pm
Satu kata.
Bukan komentar, bukan pujian, bukan kritik.
“Speechless.”
I beg you… never stop writing.
Fernando said,
September 18, 2007 at 1:02 am
Halo, salam kenal Mbak Dewi.
Baru beberapa minggu yang lalu saya tahu mengenai Blog ini.
I love it!
Saya sangat suka sharing yang ditulis di Blog ini, seperti bukan pentutur biasa tapi menggandeng pembacanya untuk ikut merasakan yg dirasakan.
Mengenai acar, kalau saya jadi Mbak, mungkin sudah saya suruh wartawan itu makan itu bawang
Gede said,
September 18, 2007 at 6:41 pm
dee,
pertanyaan pertama yang muncul dalam benak saya saat menghadapi pertanyaan retorik semacam; apa itu cinta, apa itu tuhan itu adalah, mengapa kita ingin tahu? apa manfaatnya kita ingin tahu.
mungkin karena kita sedang dalam rangka mencari tahu jawaban pertanyaan terbesar dalam seharah manusia… ‘who am i?’ ‘what am i?’
pertanyaan ini masih didasari atas pemahaman akan pentingnya ‘I’, mungkin kalau kita sudah bisa menyadari bahwa setelah menguiti diri, seperti kita menguliti bawang, kita tidak menemukan ‘I’ itu, maka pertanyaan2 itu menjadi trivial…
terima kasih Dee
Dedi said,
September 18, 2007 at 9:52 pm
Dear Dee
Tulisan2 Dee bagus..saya suka baca blog dee….o..ya dee blognya tidak di tambah hiasan…biar lebih bagus….
Ini blog saya
ilham saibi said,
September 19, 2007 at 7:41 am
seperti biasa, tulisan mbak gak ada matinya…. salut
Anonymous said,
September 19, 2007 at 6:23 pm
dear dee,
wah tulisan mbak dewi kali ini kok membuat saya merinding ya?
menurut saya pertanyaan tentang tuhan dan cinta hanya akan bisa di jawab oleh mereka yang telah mencapai tingkat keyakinan dan keikhlasan yang maha sempurna.
meskipun saya memnghabiskan sisa hidup saya untuk belajar ritual agama+kursus cinta tetap saja saya ngak yakin mampu menjawab pertanyaan itu
beberapa hari ini saya berulang kali membaca tafsir dari surat al-ikhlas (Q.S.112)sebagai referensi ketuhanan saya. tapi tetap aja saya ngak mampu.
setelah membaca komentar mbak cindy sebetulnya saya tahu kenapa hal ini bisa terjadi. jawabannya KETULUSAN,
(to mbak cindy tanks inspirasinya)
saya jadi mulai tidak percaya diri, ketika ” mulut ini, berkata saya beriman kepada Tuhan yang maha Esa, eh malah hati dan perbuatan saya berselingkuh menjadikan napsu dan kedengkian sebagai tuhan.
untuk mencintai sesuatu saya pun tidak punya bukti.jangan2 saya mencintai karena napsu.
hmmm…, kok jadi kepanjangan ya.yang jelas tuhan tidak menyuruh umatnya berhasil mengenalnya.tapi mewajibkan kita berusaha mendekatinya. jadi tugas kita hanyalah berusaha dan belajar ikhlas untuk berdoa,Ya Allah tunjukanlah aku ke jalan mu.amin
wiwit
antok said,
September 19, 2007 at 7:46 pm
aq fans berat lho, mbak. oya, aq udah baca “Convercations with God” versi indonesia. di buku di ungkapkan kalo penulis mau bikin beberapa buku. tapi buku selanjutnya kok aq cari gak ada ya di toko buku. apa edisi inggris sudah keluar ya, mbak?
aq tunggu supernova “Partikel”.
salam.
RAMPA MAEGA said,
September 20, 2007 at 4:59 am
(“Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, dan bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.”)
Saya sangat setuju dengan 4 kalimat pertama di atas. Namun, menurut saya pertanyaan tentang cinta dan Tuhan itu bukannya tidak berjodoh dengan segala jawaban. Jawabannya yah PENGALAMAN dan PERJALANAN itu.
Saya pernah berdiskusi dengan seorang sahabat tentang Tuhan saat buku “The Da Vinci Code” lagi laris-larisnya. Sekian jam kami habiskan tanpa kata sepakat. Sahabat saya bersikukuh bahwa seandainya semua data dalam novel tersebut benar, imannya bisa berubah. Saya berprinsip sebaliknya, seandainya semua itu benar, so what gitu lohhh….. Tapi, sahabat saya tidak percaya. Dia menganggap saya “sok beriman”. Akhirnya, saya hanya bisa bilang bahwa saya percaya dan mengalami hubungan secara pribadi dengan Tuhan. Itu sudah cukup buat saya. Hubungan itu mungkin tidak bisa saya gambarkan dengan sempurna, tapi di lubuk hati saya yang terdalam saya yakin bahwa saya mengalaminya.
cyn said,
September 20, 2007 at 8:42 am
wakkkkks….
dalem…….
kena sampai ke hati
nice writings mbak dee…
salam kenal
mei said,
September 20, 2007 at 7:26 pm
jadi ikutan mikir, apa itu cinta, apa itu tuhan? cinta dan tuhan memang sukar dilukiskan karena wujudnya tak nampak. persamaannya terletak pada ‘perasaan pada manusia’. Pada manusia terdapat hormon yang dapat mempengaruhi perasaan seseorang. Otak sebagai pusat berpikir dan perekam kejadian, menyebabkan hormon tertentu menjadi aktif bekerja, efeknya bisa membuat orang mencintai orang lain, ketagihan, tidak bersemangat, ataupun yakin akan sesuatu…
MOMMO said,
September 22, 2007 at 10:44 am
penikmat setia….
aku gak usah comment aja nih
Hareem said,
September 23, 2007 at 2:19 am
hehehe.. entah kenapa abis mbaca tulisan mbak dewi, ada gelembung tawa yang membengkak dalam diri saya… tawa yang lega!
mungkin karena saya tahu kalau saya sekelompok dengan wartawan dalam tulisan mbak. saya mengupas dan mengupas, mencoba menemukan makna, mencari jawaban. terlalu sibuk. sampai-sampai nggak sadar kalo apa yg saya cari (Cinta dan Tuhan) sedang duduk di sebelah sambil menyeruput secangkir kopi.
terima kasih!
______________________ said,
September 23, 2007 at 4:57 am
KOmentar yang agak panjanglagi
Mbak Dee,
“Kita mengarah pada kesederhanaan dan mengharapkan kebenaran.” –Nelson Goodman.
Selepas membaca cerpen ini hampir seminggu yang lalu, saya memutuskan untuk tak tergesa-gesa memberi komentar. Ada beberapa hal yang mesti saya renungkan. Terutama soal bawang merah.
Sejumlah pertanyaan merisaukan saya, seperti derau yang mengganggu. Membuat saya sulit menangkap suara sesungguhnya dari apa yang ingin disampaikan sebenarnya. Apakah mencari (makna) Tuhan dan cinta (benar-benar) serupa memisahkan lembar demi lembar lapisan bawang merah? Apakah pencarian itu (hanya) berujung pada airmata yang bergulir di tebing pipi kita, kuku-kuku yang rekah, dan mata yang merah? Lalu kita tak mendapati apa-apa selain tiada apa-apa—seperti si wartawan yang akhirnya memutuskan untuk tak menuliskan apa-apa selain sebuah foto “acar bawang” sebab ia frustasi semalaman tak mampu menuliskan apa-apa karena merasa tak menemukan apa-apa?
Saya membayangkan malam ketika si wartawan harus mengetik berita di bawah tuntutan deadline. Malam ketika ia berusaha berdamai dengan matanya yang tak henti-hentinya mengerjap-ngerjap, sambil berusaha mengingat-ingat isi percakapan siang tadi, dan gagal menuliskannya menjadi sekedar deretan teks tanpa spasi. Sampai akhirnya ia memutuskan, “aku tak akan menuliskan apa-apa tentang Cinta dan Tuhan.” Lalu sebuah majalah terbit, keesokan harinya. Pada kolom yang semestinya bercerita tentang cinta dan Tuhan, si pembaca tak menemukan apa-apa (seperti si wartawan yang juga tak mendapati apa-apa), selain sebuah foto besar acar bawang: satu-satunya hal yang dianggap si wartawan mampu merepresentasikan jawaban dari pertanyaan ‘apa itu cinta, apa itu Tuhan?’.
Nampaknya Mbak Dee sedang mengajak setiap orang untuk mengupas bawang di sini, menguji sesabar dan sekuat apa kita tetap bertanya: apa itu cinta, apa itu Tuhan? Mungkin kita akan menangis—merasakan hangat mengalir di tebing pipi kita ketika air mata kita merambat di sana, mungkin kuku-kuku kita akan rekah, dan kita akan perih, mengerjap-ngerjap, dan seterusnya. Tapi yang terpenting adalah terus mengupas, mengupas, dan mengupas. Sampai kita menyadari bahwa: Tuhan tak ada di ujung sana, cinta tak ada di balik lapisan bawang. Tuhan dan cinta ada di sini, di kuku kita yang rekah, di mata kita yang perih, di setiap butir air mata kita yang bergulir, di setiap lapisan kulit bawang, dalam pertanyaan kita, dalam keresahan kita, dalam nafas kita, dalam diri kita.
Sampailah saya pada sebuah kesadaraan: mengenal Tuhan dan memahami cinta adalah berusaha menemukan diri sendiri. Terus menerus tanpa henti. Yang terpenting bukanlah akhir dari pencariannya, tetapi proses menemukannya.
Sampailah saya pada pemaknaan ini: nampaknya seseorang mengetuk pintuku. Kutanya, “siapa?”. “Aku,” jawab tamu di luar pintu. “Pulanglah, aku tak menerima dua aku dalam rumahku.” Lalu tamu itu pulang. Di lain waktu ia datang kembali, mengetuk pintuku. Kutanya, “siapa?”. “Kau!” jawab tamu di luar pintu. “Masuklah,” jawabku.
Tetapi, selepas menulis komentar ini, saya memutuskan untuk tak tergesa-gesa merasa puas. Ada beberapa hal yang mesti saya renungkan lagi. Lagi dan lagi. Jujur saja, sejumlah pertanyaan masih merisaukan saya, serupa derau yang mengganggu. Terus mengganggu.
Tolonglah saya,
Fahd Djibran
Dewi Lestari said,
September 24, 2007 at 6:39 pm
Dear all,
Monday morning. Bright sun, (almost) clear sky. And I chose to spend my first lovely morning hours responding to an issue I ‘hate’ the most. Issue on Love and God — which, ironically, I brought up to the surface myself. Heheh.
First thing first, untuk Antok, buku CWG yang terjemahan memang hanya tranlasi dari buku pertama seri CWG. Seri aslinya sendiri ada tiga buku, dan sudah berkembang entah berapa buku, saya tidak tahu persis, mis. Home With God, Tomorrow’s God, dll. Menurut pengalaman saya, buku CWG lebih baik dinikmati versi bahasa asli (Inggris) karena banyak ungkapan2 yang cukup sukar diterjemahkan dan hasilnya jadi tidak sempurna saat dijembatani ke bahasa Indonesia. Sudah tersedia banyak di toko buku impor, mis. Kinokuniya, QB, dll.
Dalam fiksi pendek ini, saya sebetulnya sharing pengalaman sendiri. Entah berapa kali saya diwawancarai tentang definisi Cinta (biasanya menjelang Valentine), dan juga definisi Tuhan (biasanya kalau wawancaranya membahas spiritualitas). Pada saat saya mengikuti workshop Relationship Evolution, dalam sesi Dyad yang kami lakukan pertanyaan satu itu pun muncul lagi: “Tell me what love is.” Dan di sanalah saya menyadari kemuakan luar biasa yang muncul dalam medan kesadaran saya ketika pertanyaan itu dilempar.
Tentu saja, kondisi muak itu hanya berlaku pada saat itu saja. Entah apa jadinya jika pertanyaan yang sama dilempar pada saya saat ini. Who knows what will come up? Mungkin saya akan tertawa terguling2 di lantai. Mungkin. Tidak ada jawaban benar dan salah. Tidak ada reaksi baik dan buruk.
Dan itu jugalah yang saya maksud ketika menuliskan: Pertanyaan yang tak berjodoh dengan segala jawaban.
Di balik itu muncul implikasi lain sebetulnya, yakni pertanyaan yang *berjodoh* dengan segala jawaban. Sehingga jawaban apa pun sah, bukan lagi masalah benar dan salah. Tapi, perlu diingat, bahwa jawaban, juga pertanyaan, adalah produk pikiran. Pikiran kita yang mengajukan tanya, dan kemudian berusaha menjawab. Sementara Tuhan dan Cinta sebagai sebuah pengalaman, berada di luar ranah kata-kata. Tuhan dan Cinta sebagai pengalaman baru bisa terjadi jika pikiran ditransendensi, jika kata-kata dilampaui.
Kata-kata, juga foto bawang dalam cerita itu, hanyalah remah roti yang memancing kita untuk mengalami, untuk mentransendensi. Tapi bukan kebenaran itu sendiri. Cerita saya pun sifatnya reportase atas sebuah pengalaman, dan bukan pengalaman yang lagi aktual, karena pengalaman itu telah lewat dan menjadi masa lalu. Cerita saya adalah barang usang. Namun bisa saja masih punya fungsi sebagai kail pancing. Karena itulah, dalam Dyad, sebuah pertanyaan sesungguhnya tidak diposisikan sebagai pertanyaan per se (baca: pertanyaan yang butuh jawaban), melainkan pancingan. Yang terpancing bisa apa saja. Mengutip kata Bodhi dalam “Akar”: hidup seperti memancing di pinggir kali, kita tidak bisa menduga apa yang kita dapat: bisa sendal capit, bisa sepatu tua, kalung emas, sampah, bahkan tai. Begitu kira-kira.
Kita bisa berbusa-busa bertukar kata mengenai Cinta dan Tuhan, tapi saat kita masih bergerak dari mind level, yang terjadi adalah tanya-jawab tiada habis. Lingkaran setan itu baru bisa reda jika kata-kata dilampaui dan “aku” ditransendensi. Yang terjadi bukan lagi reportase tapi mengalami. Yang terjadi bukan penjelasan, tapi pemahaman. Dengan catatan: pemahaman ini pun hidup, dan bergerak. Kita tidak bisa berharap menjadi manusia yang selamanya sama dan konstan. Pemahaman kita berubah, pengalaman kita berubah.
Saya tidak tahu apakah penuturan ini bisa membantu Fahd. Namun penggambaran lewat pengupasan bawang yang tak ‘menghasilkan’ apa-apa merujuk pada kebanyakan dari kita (termasuk saya) yang berharap ingin *menggenggam* sesuatu lewat penelusuran spiritual kita. Kita ingin satu hasil akhir, satu tujuan mulia, entah itu nirwana, surga, Oneness, dll. Dan dalam penelusuran itu, kita lupa bahwa air mata, bau bawang, kuku panas (yang di sini dimaksudkan sebagai pengalaman) adalah yang aktual, bukan kesimpulan akhir yang kita ingin tuju. Karena ternyata dalam petualangan mencari inti dari bawang tsb, kita tidak mendapat apa-apa. Kita tidak menggenggam apa pun. Bagaimana kita bisa menggenggam sesuatu yang hadir saat ini, here and now? Sementara ‘here and now’ terus baru, terus berubah, terus bergerak. Saat kita menggenggam, saat itu pulalah ia lolos.
Ilusi mencari itulah yang perlu ditransendensi, karena mencari berarti harus ada yang ditemukan. Ilusi penelusuran itulah yang sesungguhnya perlu dikupas sampai kita sepenuhnya terjaga. Kapankah itu? Saya tidak tahu. Namun, menurut hemat saya, ilusi itu bukannya tak bermanfaat. Melalui ilusi itulah, kadang kita menerima stimulus-stimulus, remah-remah roti, kail pancing, untuk mengupas, mengamati, dan memahami. Yang menjadi tantangan tentunya adalah tidak salah mengidentifikasi, bahwa kail pancing *hanyalah* kail pancing, dan bukan kebenaran itu sendiri.
Betul, Fahd. Setidaknya dalam hidup saya, “Tuhan” dan “Cinta” hanyalah kail pancing yang untuk memahami “diri”. Karena saat diri terkupas, Tuhan dan Cinta menjadi aktual. Tuhan dan Cinta lepas dari beban mereka sebagai tujuan akhir, melainkan pengalaman yang terus berubah. Tuhan tak lagi stagnan dan mati, Cinta tak lagi palsu dan usang.
Mudah2an sharing saya ini tidak merusak pagi hari yang sungguh indah
~ D ~
______________________ said,
September 24, 2007 at 9:00 pm
Maaf Mbak di e-mail pertama ada kalimat yang belum lengkap. Hehehe
Mbak Dee,
Pagi ini, nampaknya saya membaca komentar Mbak Dee yang masih panas. Atau paling tidak, masih hangat. Mungkin saya orang pertama kali yang membaca, mungkin saja.
Apakah kita berada dalam pagi yang sama? Tentu tidak. Kita berada dalam pagi yang berbeda. Ruang dan waktu yang berbeda. Saya tertarik soal ‘here and now’, Mbak. Sebuah derau datang lagi berjubah pertanyaan: bila kita membahas Tuhan lewat gagasan ‘here and now’ itu, atau lewat segalasesuatu yang terus berubah, maka kita sedang membahas Cinta dan Tuhan dari sudut waktu. Waktu yang juga berubah dan terus bergulir–terus mengalir (seperti sungai, kata Heraklitos).
Dalam filsafat waktu, persepsi kita memegang kendali besar (meski bukan di atas segalanya). Apakah waktu tetap ada bila persepsi tak pernah ada? Saya ragu. Saya tak bisa menerka-nerka.
Jadi bila gagasan tentang Tuhan dan Cinta harus terus berubah, mengalir, seperti ‘here and now’ yang selalu tak bisa genggam karena pada saat itu juga ia akan senantiasa meloloskan diri, apalagi jika membutuhkan yang “aktual”, berarti cinta dan tuhan telah terperangkap dalam labirin waktu. Pertanyaannya lagi: apakah cinta dan Tuhan terikat waktu? atau sesuatu yang kita “kira” sebagai Tuhan dan Cinta lah yang terikat waktu?
Saya bukan ingin terperangkap dalam mind level, sehingga terus menerus memproduksi kata-kata. Saya ingin terus bertanya, Mbak. Bukankah beriman adalah bertanya? Bertukar tangkap dalam lepas. Sehingga kita tidak lagi beragama–atau berspiritualitas–dalam kesadaran yang magis?
Bila Tuhan dan Cinta terikat waktu, maka mereka berdua terikat persepsi. Bila persepsi kita tak pernah ada, apakah Tuhan dan Cinta tetap ada? Apakah kita bisa mengalami pengalaman spiritual–yang aktual–yang lantas mampu mentransendensi “diri” kita sebagai subjek atau sebagai satu kesatuan yang koheren (umberto eco) bila persepsi tak ada?
Mungkin ini seperti persoalan dalam emanasi. Bila ada sebuah kotak berisi cahaya; di kotak itu terdapat sebuah lobang yang memancarkan cahaya. Kita jadi bertanya, lobang itu meng-”ada” karena cahaya, atau cahaya meng-”ada” karena “ada” lobang?
Mbak, pagi ini sangat indah bagi saya. Sebab di pagi ini, saya mendapati diri berusaha mengupas lembaran bawang berikutnya. Mungkin saya akan terus bertanya, bukan karena ingin menemukan jawaban, tetapi tersebab mata saya yang belum merah, kuku saya belum rekah. Saya masih jauh dari perih, saya masih butuh teman untuk menemani saya mengupas bawang.
Terimakasih dan tolong saya lagi.
Jujur Mbak, saya baru menemukan “teman” yang menyenangkan ketika mengupas bawang–mungkin itu yang membuat mata saya sulit jadi merah, dan kuku saya tak juga rekah.
Fahd
PS. Semoga paginya tetap indah. Semoga semua pagi menjadi indah.
Reza Gunawan said,
September 26, 2007 at 10:42 am
Sungguh indah, sedih dan sekaligus lucu, ketika kita melangkah ke dalam gudang “kata-kata” untuk menjabarkan yang absolut, si raja gudang.
Di satu sisi, Tuhan dan Cinta bisa terlihat seperti terjerat persepsi, ruang dan waktu, karena itulah sarana intelektual terdekat yang bisa kita gapai.
Atau mungkinkah karena kita coba menggapai tanpa mengingat, sehingga Tuhan dan Cinta yang kita kenal bagaikan lagu cover version yang merupakan jiplakan yang cemen dibanding aslinya?
Di titik ini, saya pun menyadari betapa “menyedihkan” dan sia-sianya upaya saya untuk turut berkomentar.
Sungguh sangat sia-sia
…
..
.
(teng… bunyi bel menandakan waktunya bergantian peran dalam dyad)
Anonymous said,
September 26, 2007 at 11:54 am
aduh,topik ini jd terbawa mimpi,kok jadi ikut gelisah ya mikirin tuhan+cinta,kita sebenarnya ga punya kewajiban untuk dicintai,tp kita wajib mencintai.saya jadi ada pertanyaan nih,kalo orang naik haji tu memenuhi undangan tuhan kira-kira bisa ga ya tuhan kita undang?
btw,dee ada inspirasi ga buat nulis ttg puasa (maksudnya puasa sebagai inspirasi universal,bukan ritual umat islam:)
wiwit>jumanji_idea@yahoo.com
Fin said,
September 27, 2007 at 8:24 am
Tuhan adalah Maha Pencipta, Dia juga mempunyai sifat Maha Pemelihara, Dia memberikan cinta kepada semua manusia dan semua makhluk di dunia tanpa minta balasan. It is an unconditional love from Him.
Bisakah Tuhan kita undang? Bisa dimisalkan begini, jika kita ingin mengundang orang yang kita hormati ke rumah, apa yang bisa kita lakukan. Yang bisa kita lakukan adalah berbuat suatu hal yang membuat Ia senang dan menjauhi hal yang tidak Ia inginkan. Maka dengan begitu Tuhan bukan hanya sesaat datang ke tempat kita, melainkan ada selalu bersama kita.
Mbak Dee aku numpang ngelink ke sini boleh ya!
Anonymous said,
September 28, 2007 at 3:19 am
dear mba dee,
lagi2 tulisan yang indah dan saya kira masalah tuhan ataupun cinta adalah dua hal yang selalu dipertanyakan kalau tidak dipermasalahkan sepanjang waktu??
menurut saya, baik tuhan maupun cinta adalah hal yang bisa saja saya personifikasikan seenak saya. ibu adalah tuhan saya, artikel mba dee adalah tuhan saya,jesus chirst adalah tuhan saya, nabi muhammad juga adalah tuhan saya. so what’s the matter? nobody will blame me about my own personification of god… (the same as ‘love’-related-things)
dan saya setuju dengan mba dee yang menulis bahwa kedua pertanyaan itu adalah pertanyaan yang tak berjodoh dengan jawaban. if we are trying to find the answers, we might be ended up with speculations…. (apa ngak capek??)
untuk mas Fahd, mungkin ada baiknya agar mas duduk diam barang sesaat memastikan kesadaran hadir di tempat mas duduk. cukup sadari saja… apakah mas akan mendapat suatu kesan??
yah, menanggapi apa itu tuhan dan apa itu cinta, tampaknya hanya akan berakhir dengan kesimpulan bahwa keduanya telah, masih, dan akan mempengaruhi peradaban manusia, entah sampai kapan…. mari berharap keduanya akan memdatangkan kebaikan bagi kita semua, bukan sebaliknya – bencana bagi kemanusiaan
thank u
may u be happy
may all beings be happy
hansen_zinck
Dewi Lestari said,
September 28, 2007 at 7:53 pm
Jika kalimat ini dilempar pada kita: “Menembus ruang dan waktu”, apa yang seketika muncul di benak kita?
Dengan mudah saya membayangkan sebuah kubah canggih tempat sebuah gelombang entah apa yang menembaki semua partikel pada tubuh saya dan mengubahnya menjadi gelombang lalu berubahlah jasad ini dan pindahlah saya ke sebuah alam lain entah apa.
Yang jelas, membayangkan itu lebih mudah rasanya ketimbang mencerna yang satu ini: menembus ruang dan waktu berarti menembus *persepsi* kita akan ruang dan waktu.
Begitu juga dengan Cinta dan Tuhan. Lebih mudah membayangkan Cinta sebagai substansi manis berwarna pink, dan Tuhan sebagai sosok bapak bijak berjanggut putih, ketimbang menembusi persepsi Cinta dan Tuhan. Menanggalkan persepsi berarti kita *kehilangan* segalanya. Bersiap untuk sesuatu yang kita tidak tahu, yang tidak bisa kita antisipasi.
Mungkinkah jika sebenarnya perjalanan kita mencari Cinta dan Tuhan adalah perjalanan bukan untuk mendapatkan keduanya, tapi untuk *kehilangan* keduanya? Bahwa untuk mengungkap Cinta dan Tuhan kita justru harus melepaskan semua persepsi kita atas keduanya?
Seperti makhluk bersayap yang siap lepas landas, kita ingin terbang, merayakan kesejatian kita sebagai makhluk yang dianugerahi sayap. Namun untuk terbang, kita merasa harus membekali diri kita dengan ini-itu. Lingkungan kita pun menganjurkan untuk membawa ini-itu. Dan sayap kecil ini tak sanggup mengepak karena ada berton-ton persepsi ini-itu yang menggantungi pundak kita–bekal yang kita pikir perlu.
There was a saying: ‘Man is here to learn to unlearn’. Mengingatkan saya juga pada Yesus yang pernah berkata bahwa hanyalah anak-anak yang dapat memasuki Kerajaan Surga dengan mudahnya. Mungkinkah itu pun mengungkapkan hal senada, bahwa hanya batin polos yang bersih dari beban persepsilah, yang memiliki peluang besar untuk mengepakkan sayapnya dengan mudah? Sementara batin “kaya” terlebih dahulu harus melepaskan tanggukan hartanya?
Mungkinkah kita menilai ulang sistem nilai, agama, kepercayaan kita dan bertanya: adakah semua ini membantu saya untuk melepaskan Tuhan dan Cinta? Atau justru memperkaya saya akan keduanya?
Fahd, satu kehormatan bagi saya untuk menjadi rekan pengupas bawang. Mari menangis bersama, bau bersama, dan merekah kuku bersama.
And thank you all for sharing your words, your bread crumbs.
Love, peace, and gaul.
~ D ~
Floresiana Yasmin Indriasti said,
September 29, 2007 at 2:24 pm
ckck… menarik sekali.
haha. mungkin pertanyaan cinta dan Tuhan ada untuk bikin hidup lebih menarik. karena sesuatu yang tidak diketahui jawabannya, jadi menarik. dan karena kepenasaran manusia yang tinggi atas dua hal itu, banyak uang bisa didulang. bisa dijadikan bahan cerita sinetron sampe film hollywood. cerpen di majalah remaja sampe novel best seller dunia. jutaan orang bisa survive karena isu itu masih digemari.
untunglah ada cinta dan Tuhan.
______________________ said,
September 29, 2007 at 10:47 pm
Mbak Dee, kali ini saya tak bermaksud cerewet lagi, saya ingin sharing biasa saja.
Saya ingin memulainya dari sini:
“Katakanlah Allah itu “Ahad”. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak diperanakan. Dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya.” Al-Quran, QS Al-Ikhlas, 1-5.
“Kami menyebutnya “sunyata”, kekosongan. Mengatakan bahwa Ia ada, itu salah. Mengatakan bahwa Ia tidak ada, itu juga salah. Hal yang paling baik adalah tidak mengatakan apapun mengenainya.”—Kitab Suci Zen
“Tao yang dapat diungkapkan dengan kata-kata bukanlah Tao yang kekeal. Nama yang dapat disebutkan bukanlah nama yang kekal. Hal yang tidak bernama adalah permulaan dari langit dan bumi.”—Tao Te Ching, 1
Dalam beberapa hari ini, saya cenderung menyendiri. Saya jadi lebih menyukai aktivitas-aktivitas soliter. Saya mulai menyadari pertanyaan-pertanyaan saya tempo hari mulai merekahkan kuku-kuku saya, membuat mata saya menjadi merah dan perih. Dan tubuh saya jadi bau.
Tidak ada apa-apa lagi di meja, selain irisan bawang yang berserakan.
Tetapi, bagaimanapun, ini bukan akhir dari pencarian saya. Saya belum menemukan makna sejati, nilai sejati. Saya belum menemukan diri. Dan saya harus terus mencari.
Ketika Id saya mengatakan, “carilah Tuhan! Carilah Cinta! Kau harus mengetahuinya!”. Ego saya mengatakan, “Cek apakah pencarianmu akan berguna?”, dan Superego menegur, “Pikirkanlah ciptaan Tuhan, jangan pikirkan zatnya! Pikiranmu tak akan sampai ke sana, dan itu bisa menyesatkanmu!”.
Tapi siapa yang harus saya dengar dan percayai dari ketiganya?
Akhirnya, saya sampai pada kesepakatan dengan diri saya sendiri *dalam hening malam* saya berbisik pada diri saya sendiri, “Tuhan, telah kuputuskan untuk tak mengurungmu dalam nama-nama, dalam makna-makna (ciptaanku).”
Mbak Dee, Terima kasih atas diskusi-diskusi dan sharing-sharaingnya yang menggugah.
Fahd
PS. Saya merasa sedang berjalan ke barat ketika matahari terbenam. Saya berusaha menuju Matahari. Menembus cahaya. Tetapi cahaya Matahari memang terlalu agung dan begitu (men)silau(kan) bagi saya; membuat saya kadang-kadang memejam mata, tak kuat menatap. Membuat saya kadang-kadang merasa putus asa, sambil menutup mata diam-diam saya berbalik arah.
Berusaha membelakangi Matahari pada mulanya saya pikir berguna.Tapi ternyata tidak, saya lebih sering merasa hampa ketika berjalan melawan cahaya. Di tengah perasaan semacam itu. Seseorang tiba-tiba memegang tangan saya. “Ayo kita berjalan bersama.,” katanya.
Kesadaran saya tersintak!
“Dee…?” bisik saya bertanya. Dia tidak menjawab. Hanya tersenyum, dan berkata, “pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat. Aku ingin seiring, dan bukan digiring.”
ordinary girl said,
September 30, 2007 at 9:24 pm
somehow dee and her masterpiece always isnpires me…
huhuhu./.. cinta mati sama ibu yg satu ini deh
sipunD said,
October 1, 2007 at 3:15 am
bener itu, kalau bicara tentang Tuhan, SQ kita gak bakal sampai.
SQ: Spiritual Intelligence Quotient *halah*
tapi kalo mo bicara tentang cinta, nonton film italia bareng yuu..
amaliagmt said,
October 2, 2007 at 4:55 pm
mba dee ..
aku Amalia. Aku sedang jadi asisten riset tentang perpustakaan indonesia non tradisional. Aku butuh beberapa info tentang pustakawan. Aku harap bisa dibantu diberikan info.
bisa email ke amaliamt@gmail.com.
Temen ku yg sedang riset di Canada, kalo mau tau tentang dia bisa ke http://www.reganmian.net
kalo udah baca pesan ini bisa dihapus, mohon maaf sebelumnya karena aku tidak tahu contact ke mana lagi …
thanks!
amalia
tan_intan said,
October 8, 2007 at 9:07 pm
mba Dewi, halo.. apa kabar??
out of this topic, aku bole minta emailnya mba Dewi ga? tengkiu..
SUCCESS AND WISDOM said,
October 9, 2007 at 12:48 am
Artikel yang menarik..Sangat Menarik..ditunggu artikel berikutnya mba dee. Always Success and Wisdom.
Namo Buddhaya,
Bodhi Taruna
http://www.successandwisdom.blogspot.com
NB: Minta ijin, saya jadikan list di blog saya mba dee.thx
Dewi Lestari said,
October 9, 2007 at 11:18 am
Hello untuk Intan, yang akhirnya kopi darat juga. Thank you so much for your gift ya. Mudah2an terus rajin menulis. And I like your taste in graphic design, btw
E-mail saya: dee_addict@yahoo.com
Untuk Amalia, sayangnya saya sama sekali tidak punya kenalan pustakawan. Info untuk itu bisa saya bantu cari, cuma butuh waktu. Barangkali teman2 ada yang bisa bantu?
~ D ~
Anonymous said,
October 11, 2007 at 1:03 am
Horas Ito, saya bangga sekali ada orang Batak yang pintar,tapi klo ngomongin mengenai Tuhan,lebih baik coba ito buka di web : http://www.hidupkekal.com/ atau http://www.spiritlessons.com/
bagus lho untuk bahan renungan.HORAS
www.aframayriani@blogspot.com said,
October 11, 2007 at 1:11 am
Mba Dee, begitu mengena sekali proses mengupas bawangnya. Saya benar-benar terhanyut akan penjelasan yang kalau dipikirkan dengan logika sangat tidak dimengerti ini.
Memiliki makna dalam yang luar biasa. Dan, memang itulah cinta dan itulah Tuhan.
Cinta adalah Tuhan, dan Tuhan adalah Cinta.
Senang jika seandainya bisa berkenalan dengan mba Dee, saya adalah penulis baru dibelantika dunia fana ini. Tekad memberikan kembali apa yang telah Tuhan berikan lewat cintanya untuk sesama. Akhirnya sayapun mulai menulis.
Salam hangat,
Afra Mayriani. aframayriani@yahoo.com; aframayriani.blogspot.com
eka perdania said,
October 14, 2007 at 6:34 am
mbak dewi.. salam kenal, aku eka perdania.
he2, mengenai “Tuhan dan cinta”.. dua topik yg sangat menyenangkan, membingungkan, ,isterius, meyebalkan, dan.. macem2 lah..
tp setelah hidupku yg, so far, udah berjalan 19 tahun, aku punya satu kesimpulan (tentu saja belum final) ttg cinta dan Tuhan. kesimpulan yg dulu aku coba dapetin jungkir balik dari buku2 yg bikin otak tambah ruwet, tapi gagal. ternyata kesimpulan (atau pemahaman?) itu justru aku dapetin dari penghayatanku dlm kehidupan sehari-hari. dari sesuatu yg sederhana.
begini, bagiku itu..
“Tuhan adalah energi yg meresap ke dalam semua hal. energi itu merekah menjadi cinta, dan menyuburkan tubuh kehidupan. lalu membawa tubuh kehidupan itu kembali mencintai, dan kembali pada Tuhan.”
ya bagiku begitu sih.. walaupun kata2ku amburadul bgt, he2.. mbak dewi, u’re my truly inspiration. u have a beautiful mind. keep on ur good work: inspirating. infecting every soul. tulisan mbak dewi itu bagiku kata2nya nggak “meledak2″, tapi efeknya itu kaya bom nuklir. meledak dahsyat bgt dlm tubuh, dan terus mengkontaminasi sampai mati. he2..
thanks for ur novels!! ditunggu partikel dan gelombangnya. judul “intelegensi embun pagi” bener2 indah bgt.
ishmael said,
October 14, 2007 at 6:59 am
hehehehe komparasimu antara tuhan dengan sebuah bawang bener ngenak telak diaku. tuhan tuh memang buat lelah nekdicari. tapi nek ngak dicarik mbuat idup iki ndak asik ato meles2 buat njalanimya. tapi opo yo seharuse tuhan iku yang nyarik2 kita yo hehehehehehe, tapi jadi ndak asik lagi dong idup iki, soale paste ketemue kita nek dicarikama beliau iki
Ben said,
October 23, 2007 at 1:59 am
wah, kok bisa posting sebagus ini baru gw baca hari ini…? he he he
edenia said,
October 24, 2007 at 2:57 am
apa itu cinta, apa itu Tuhan?
buat saya hidup sudah menjawab keduanya..
cinta+Tuhan =hidup
Iwan said,
October 25, 2007 at 5:59 pm
aku setuju dengan ungkapannya “bila kita menemukan cinta, kita akan menemukan Tuhan” kurang lebih begitu.. Karena cinta sejati itu adalah cinta kepada Tuhan atau cinta kepada sesama tetapi yg berdasarkan tuntunan Tuhan atau aturan Tuhan..
ordinary said,
November 14, 2007 at 2:04 am
seperti itukah cinta ?
seperti itukah Tuhan ?
benar benar pertanyaan yang tak berjodoh dengan jawaban
padahal namanya kita lafazkan dalam setiap pertemuan bahkan perpisahan hasrat dan ego, ribuan kali
sementara kita masih meraba-raba, dan dalam kondisi itu pun kita tegak berpura-pura begitu mengenalnya
wuihh.. ini post keren yang aq dapetin minggu ini
thanks mba dee.. uda bikin aq punya niat buwat masuk ke ke-aku-anku lagi
Aska said,
November 18, 2007 at 9:01 pm
Apa itu cinta?…..dan apa itu Tuhan?..…
Salam kenal mbak dewi, saya Aska…
Mungkin saya belum bisa jawab pertanyaan itu…tapi yang saya tahu cinta dan Tuhan itu saling berkaitan. Dari perjalanan hidup saya bersama epilepsi selama sekian tahun ini (dan mungkin akan terus berlanjut), saya mendapatkan banyak sekali pelajaran, salah satunya adalah tentang cinta dan Tuhan itu.
Semuanya berawal dari satu titik keputus-asaan dalam hidup saya tentang kesembuhan saya dari epi yang sudah tumbuh dalam tubuh selama belasan Tahun. Bahkan bisa dibilang sejak kecil, beberapa hari setelah lahir saya sudah kena serangan epi, walaupun epi sempat berhenti menyarang saya. Berhenti yang berarti bersembunyi sejenak, untuk kemudian menyerang saya lagi seterusnya sampai awal tahun ini.
Saya berada dalam titik keputus-asaan setelah segala usaha pengobatan yang telah saya lalui selama sekian tahun nggak nunjukin perbaikan kondisi yang signifikan. Dalam titik keputus-asaan itu akhirnya saya bertanya : “Tuhan kenapa Engkau memberiku Epi? Apakah Engkau menghukumku? Apa kesalahanku pada-Mu?, Apa Engkau tidak mencintaiku?”. Berhari-hari saya mencari jawaban itu, tapi tetep aja nggak bisa menemukannya. Sampai akhirnya saya berusaha mengubah sudut pandang saya, sehingga saya mampu berpikir bahwa pasti ada sesuatu di balik epilepsi ini. Dan Ia pasti punya alasan tertentu kenapa saya diberi epilepsi.
Ketika saya mempu berpikir seperti itu saya jadi lebih PD daripada semula dan saya tidak peduli lagi dengan pikiran negatif saya tentang epi. Sebuah proses yang lama, bertahun-tahun, sampai akhirnya sekarang saya berani bilang bahwa : My name is Aska, dan I’m epileptic…..So what?
Setiap kali serangan epi muncul, saya coba untuk merenungkan kembali, tentang kenapa serangan epi muncul di saat ini dan pelajaran apa yang ingin Ia berikan padaku……dan ternyata benar….banyak sekali hikmah yang saya dapatkan lewat epilepsi ini. Mungkin nanti mbak dewi bisa “mampir” ke blog saya kalau sempat.
Lewat epilepsi saya belajar untuk lebih mencintai Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Kekurangan saya yang Tuhan beri lewat epilepsi dan kelemahan-kelemahan penderitanya ini, sepintas nampak sebagai sesuatu hal yang sulit diterima. Kekurangan itu membuat pilihan hidup saya menjadi terbatas. Saya nggak boleh nyetir sendiri, harus hidup dengan pola yang teratur, nggak boleh memaksakan diri dalam belajar ataupun kerja, atau ketika serangan muncul saya harus beristirahat dan nggak boleh beraktivitas yang terlalu berat, atau yang lainnya. Tapi kalau saya lihat dari sisi lain, bukankah dengan keterbatasan pilihan hidup itu saya jadi lebih mudah dalam memilih yang terbaik buat saya?
Saya juga belajar untuk mencintai diri sendiri. Love my self as an epileptic, sampai akhirnya sekarang saya bisa memandang bahwa epileptic = ordinary people. Nggak ada satupun orang yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata. Satu pertanyaan yang dulu sempat menampar saya adalah : how people can love us, if we can’t love our selves?
Mencintai orang lain. Mencintai keluarga, teman, sahabat, atau bahkan orang yang saya benci sekalipun, dulu adalah hal yang sulit. Tapi lewat epi saya sekarang sedang belajar mencintai mereka dengan tulus. Sebuah stigma negatif dalam masyarakat terhadap epi dulu adalah hal yang membuat saya takut & nggak PD. Dan ketika saya bertemu dengan seseorang untuk pertama kali dan epi menyerang saya, orang itu langsung “kabur“. Akhirnya setelah itu saya melakukan kesalahan besar dalam hidup saya : mencap bahwa semua orang akan bereaksi sama seperti dia. Padalah sebenarnya tidak. Masih banyak orang yang mencintai dan menyayangi saya. Hanya saja mungkin karena dulu saya masih egois, saya jadi nggak bisa menyadari rasa itu dari mereka. Saya egois karena saya hanya memikirkan satu hal : sembuh. Saya hanya memikirkan hasil tanpa paduli proses. Hanya ingin yang instan-instan aja. Yah itu lah kesalahan-kesalahan dulu.
Sebenarnya Tuhan memberi saya epi karena Ia mencintai saya. Ia ingin saya belajar akan segala macam hal, dan ia juga membantu saya dalam menentukan pilihan dalam hidup ini. Saya sekarang percaya bahwa kesembuhan saya itu bukanlah hal yang sulit bagi-Nya. Tuhan hanya cukup mengatakan “terjadilah, maka terjadilah…..” mungkin saat saya masih berprasangka buruk terhadap epi, itu bukanlah saatnya untuk sembuh, karena saya belum bisa belajar & mengambil hikmah.
Akhirnya saya sekarang sudah operasi, dan bukan berarti bebas dari epi, hanya saja serangan epi bisa diminimalisir. Mungkin lain kali saya bisa ceritakan bagaimana proses saya bisa kenal dengan dokter yang mengoperasi saya. Saya kenal beliau bulan januari 2007 dan operasi di bulan maret 2007. suatu proses menuju kesembuhan yang benar-benar berawal dari keikhlasan menerima diri sebagai epileptic, dan menumbuhkan rasa cinta kepada Tuhan.
Makasih mbak dewi….
bedh said,
December 4, 2007 at 3:56 pm
saya sedang mengupas bawang ketika membaca postingan ini, setelah membacanya saya masih saja terus mengupas bawang bukan untuk mengetahui apa yang di dalam kulit bawang itu. saya cuma mau merasakannya. merasakan cinta dan mengerti Tuhan. saya memang bodoh.
cy said,
December 10, 2007 at 3:29 am
saya sedang mengupas bawang ketika membaca postingan ini, setelah membacanya saya masih saja terus mengupas bawang bukan untuk mengetahui apa yang di dalam kulit bawang itu. saya cuma mau menyelesaikan adonan sambal untuk makan di Kost-an huh bawangnya pedis bang-get….
Capry
adhietya said,
December 12, 2007 at 5:53 am
Tuhan..
saya tidak pernah risau dengan pertanyaan apa itu Tuhan..
karena saya tidak tahu apa2 tentang Tuhan..
pengalaman dan pengetahuan hanya berguna untuk menjelaskan apa fungsi dan peran Tuhan..sedangkan hakikat Tuhan itu sendiri tidak akan pernah dijangkau oleh akal pikiran manusia..cukup bagi saya Tuhan itu ada.tentang bagaimana Tuhan itu..mmm..
saya tidak menempatkan Tuhan sebagai objek yang berada pada tingkat akal budi (verstandt)..
bagi saya Tuhan tidak hanya berperan sebagai Causa prima saja..
bila Tuhan bertindak sebagai Causa prima saja, maka peran Tuhan disini bisa dianalogikan sebagai tukang arloji Selesai buat jam udah itu nganggur. Akan ada Tuhan sebelum, saat, dan sesudah penciptaan. Padahal ruang dan waktu itu bukanlah variable yang berdiri bebas dari sebuah materi, tetapi melekat pada materi. Tanpa materi, ruang dan waktu g akan pernah ada.
Tuhan itu ada, tetapi bukan berwujud materi, karena Tuhan tidak berada pada ruang dan waktu.
bagi saya Tuhan tidak berperan sebagai pencipta saja tapi berperan sebagai pemelihara semesta ini dan
bertindak sebagai penyusun pengetahuan yg ada pada diri manusia.
sori mba dewi..
klo komennya kepanjangan..malah jadi curhat ..:P
ps: sori kalo double post..koneksi sy rada eror..
bedh said,
December 13, 2007 at 2:35 pm
wah dejavu…dejavu….
mungkin anda adalah orang yang saya temui beberapa waktu lalu
orang yang berusaha melindungi ketika saya mencoba untuk melihat sosok ibu dari supernova yang pertama. orang yang dengan guyonan pintarnya melindungi sang dewi dari ketak mampuan bicaranya sehabis latihan nyanyi. yang memaksakan saya mendapatkan kertas bila mau minta tanda tangan. yg tanda tangannya masih saya simpan di buku pertama dr ke tiga cetakan buku supernova yg pertama.
yah saya yakin orang yang sama, orang pintar yg sedang mencuri perhatian org pintar lainnya dengan menertawakan kebodohan orang seperti saya hahahahahahahaha
dejavu…dejavu…….
Fin said,
January 1, 2008 at 8:36 am
Siapakah Tuhan? Yang jelas bahwa Tuhan adalah pencipta kita. Pencipta manusia dan alam seisinya. Kita harus mengawali (melandaskan) pencarian tentang Tuhan berdasarkan pada hal ini.
Mungkin kita bisa menjadi bingung sendiri siapakah Tuhan itu sebenarnya karena dalam pikiran kita terdapat persepsi yang salah tentang Tuhan. Dalam hal ini sesuatu yang menjadi landasan untuk berpikir tentang Tuhan adalah sangat penting. Karena jika kita menggunakan sesuatu yang tidak benar menjadi landasan berpikir lebih lanjut untuk memahami sesuatu hal yang lain (dalam hal ini Tuhan), maka kita tidak akan pernah memahami hal tersebut sebenarnya. Sangat penting berbalik ke belakang dan melihat (meninjau) kembali apa yang menjadi dasar kita berpikir tentang sesuatu.
Ada orang yang berkata semisal: Kita adalah Tuhan bagi sesuatu. Buku itu adalah Tuhan bagi sesuatu. Ingat bahwa Tuhan adalah yang menciptakan kita dan alam seisinya. Lalu apakah kita dan buku adalah Tuhan yang menciptakan alam seisinya itu? Tentu saja tidak. Banyak hal dimana ternyata kata “Tuhan” tidak menunjuk ke Tuhan pencipta (Tuhan yang sebenarnya), tapi hanyalah sebuah kata yang mengalami perluasan makna.
si tukang nyampah said,
January 24, 2008 at 9:26 pm
*speechless…*
………………..
*pergi ke dapur, nyari bawang…*
Anonymous said,
February 13, 2008 at 5:45 am
keren nih mba…
oya, moly lg nih mba..
mba msh inget serial tv “kera sakti”?
ada satu kalimat dr si “babi” yg sering saya pake buat ngomentarin tmn2 klo lg pada curhat ttg masalah cinta mereka.(untuk hal ini mungkin cinta dlm konteks yg dangkal).
seperti kata ti pat kai (si babi):
“Begitulah cinta, deritanya tak pernah ada akhir”
hehehehehe…..
Anonymous said,
April 13, 2008 at 6:46 pm
teh dee… supernova kapan muncul lagi? (salam bwt elektra ya…)
boleh ga aku kirim imel?
Anonymous said,
April 19, 2008 at 7:20 am
Sahabat..
saya tidak tau harus memulainya dari mana,
sampai detik ini, saya belum mampu berdamai dengan sesal atas sekian momen yang telah saya ‘sia-siakan’ saat bersama Papa..
Papa berpulang tanggal 4 Maret 2008, pukul 1.25 dini hari
Sahabat…orang mungkin menilai saya berlebihan jika saya mengatakan apa yang mengiris rasaku kadarnya masih tetap sama, sama pekatnya, sama pahitnya bila terbayang kembali hari-hari terakhir bersama Papa
Saya kurang dekat dengan Papa
Sedari kecil kami ‘diurus’ oleh kakak-kakak
Orang-orang bilang Papa frustasi. Bertahun-tahun Papa larut dalam putus asa dan kecewanya yang sampai sekarang kami hanya mampu menduga-duga apa gerangan yang memukul Papa.
Namun Sahabat, satu karakter yang sangat kuat dalam diri Papa. Papa sangat jujur. Kata Paman jarak antara bibir dan hati bisa diukur oleh penggaris, seberapa jarak terbentang diantaranya, di situlah terletak harga diri kita sebagai manusia. Dan Papa, kata Paman Chungsuk adalah orang dengan bibir satu kata dengan hati. Orang yang berhati lurus. Papa juga anak dengan hati bakti yang utuh. Papa terhitung anak tertua dalam keluarga besar. Sejak usia 13 tahun Papa telah merantau, makan gaji yang gajinya tanpa sepeser pun disimpan untuk pribadi. Rambut saja dicukur sendiri demi menghemat seperak dua perak untuk dipersembahkan kepada Apho. Tanggung jawab Papa tidak kecil, membantu Kung-kung dan Phopho menghidupi 21 saudara adik beradik.
Sahabat…
setiap memutar balik kejadian demi kejadian, mengingat kata demi kata yang pernah disampaikan Papa..hati saya menangis
Bulan desember 2007 Papa pernah menelepon dan berkata,”Cing ngi thengsu Papa Nak” (bantu Papa Nak)
Sahabat…pertamakali tiba di Kendari, sesampai di rumah.. Papa terlihat jauh lebih tua dari 2 tahun lalu, tahun 2005 terakhir kami jumpa di Makassar. Keesokan hari, Papa sendiri dalam sakitnya menyiapkan kamar untukku… baru jelas terasa sekarang betapa Papa ingin dekat dengan saya, Papa ingin menunjukkan rasa sayangnya…dan saya telat menyadari rasa limpahan kasih ini. Benar kata koko,’kebaikan seseorang begitu tertampak jelas setelah dia berlalu’. Saya kurang bisa menghargai momen ketika kasih itu berusaha datang, berusaha menyentuh hatiku. Sahabat, begini rasanya sakit sesal karena tidak mampu menghargai cinta. tidak mampu memegang dan merasakan cinta itu hingga kurang bisa menghargainya. ketika sadar, semuanya sudah terlambat. Momennya hanya tinggal jejak. Saya mencari bau Papa yang tertinggal di baju yang sekarang saya gantung dikamar, saya berusaha mengenali aroma Papa di handuk kecil untuk membersihkan wajah Papa sewkatu Papa sakit, semua sia-sia sahabat…Papa maaf, saya masih terus saja menangis, semoga Papa tidak terganggu oleh adukan emosi, rasa sesal yang masih sulit saya bendung ini…mungkin dengan sungguh melebur dalam rasa ini, saya belajar menghargai setiap momen yang datang di tanganku kini, detik ini dan untuk tiap detik kemudian yang masih dipercayakan sang pemilik waktu untuk kumiliki. Tak putus belajar memampukan diri untuk mencinta apa pun
Sahabat, dari perjalanan hati saya ini..ada satu ketakutan ketika mencoba membaca apa yang sedang ada di depan mata Bumi, semoga kita tidak terlambat menyadari betapa alam berusaha menunjukkan limpahan ayomannya yang tak putus, sehingga kita mampu menghargai setiap berkah Bumi yang sampai kepada kita…
sahabat, saya baru ingat beberapa kali saya meninggalkan sisa makanan begitu saja(di golfer dan parsley cafe)…belakangan baru ngeh. saya akan tarik kencang kontrol kesadaran saya, nampaknya saya butuh upaya ekstra untuk melatih kesadaran, menjaga keterhubungan dengan diri. Agar tidak blank mulu, sering nian kehilangan diri…belajar berjalan dengan kesadaran, berkata dengan kesadaran. Saya bukanlah apa yang saya pikirkan tetapi apa yang saya lakukan. Jika satu kesempatan saya berkata, ‘saya berharap dapat menghargai, mencintai semua berkah yang sampai padaku’ namun dipanggung riil saya malah membiarkan makanan terbuang…itulah saya, oknum yang menyianyiakan berkah.
Sahabat, saya ternyata masih harus terus banyak belajar,
belajar fair pada diri sendiri…
Terima kasih sahabat, untuk ruang yang disediakan disini…
salam sayang
Chindy Tan
Anonymous said,
May 9, 2008 at 12:49 am
Cinta bagi saya adalah proses hidup belajar membelanjakan waktu. waktu dengan sekantong kejutan di dalamnya. ada kejutan yang membahagiakan, membuat hati tumbuh kembang setaman namun ada juga kejutan yang bikin susah nelan, tenggorokan serasa penuh. entah kemana larinya ikhlas saat itu. tidak mudah untuk mendidik hati agar TIDAK MEMIHAK pada realita yang bertamu dalam hidup kita. karena pilihan kita sebenar2nya hanyalah MENERIMA apa adanya. inilah ritme harmoni. Berteori panjang pendek seperti ini mudah bagi siapa saja, namun ketika berhadapan dengan kenyataan. Kebanyakan kita memilih kabur, menolak kenyataan. Saya mengilustrasikannya dengan lengkung gunung. perjalanan rasa kita entah itu sedih, kecewa, senang, gembira kodratnya bergerak seperti lengkung gunung. tidak pernah selamanya sakit ataupun senang. Seperti kata Reza hidup ini cair, jika kita mengikuti alur alirnya sejuta rupa rasa akan bergerak entah duka maupun suka. Rasa akan bergerak naik, sampai di puncak gunung bila kita biarkan, dan terus biarkan rasa akan turun, duka pelan tapi pasti akan surut kadarnya. Saya belajar merefleksi kurva ini dalam melepas kepergian Papa. Tak baik untuk Papa, juga tak baik untuk diri saya sendiri jika terus menahan rasa sesal berlebihan di hati,biarkanlah dia bergerak, bersalin rasa oleh waktu…menerima kenyataan apa adanya akan membawa kita satu ritme dengan alam, ritme harmoni, ritme yang tidak memihak;)
Sabbe Sankhara Anicca
Chindy Tan
Anonymous said,
May 11, 2008 at 8:58 am
Prof.Dr.P.J. Zoetmulder S.J., Manunggaling Kawula Gusti
“Sembah dan puji sempurna ialah tidak memandang lagi adanya Tuhan, serta mengenai adanya diri sendiri tidak lagi dipandang(?) Papan tulis dan tulisan sudah lebur, dualitas tak ada lagi. adamu tak dapat diubah. Lalu apa yang masih mau dipandang? Tak ada lagi sesuatu. Maklumilah ini baik-baik, adinda. Inilah penyembahan sempurna.
Bila kau masih menyembah dan memuji Tuhan (dengan cara biasa, kau baru memiliki pengetahuan yang kurang sempurna. Jangan tersenyum(seolah-olah kau sudah mengerti), bila kau belum mengetahui ilmu sejati. Jangan merasa senang menerima ajaran dan instruksi. itu semua berupa tutur kata. Adapun kebenaran sejati ialah meninggalkan sembah dan pujian yang diungkakan dengan kata-kata.
Hanya keheningan yang tetap berharga. Keheningan berarti, jangan mengikuti Kitab suci atau…
Dee, bagi saya bertemu dengan Tuhan adalah momen bertemu dengan hati kita sendiri. Momen bertemu dengan hati yang lain, bahkan momen ketika hati bertemu dengan hati seekor ulat sekalipun.
Dalam perjalanan mengantar Papa berobat ke Makassar, sewaktu akan turun dari pesawat saya melihat rambut Papa berantakan, meski agak sungkan saya memberanikan diri untuk merapikan rambut Papa. Ada rasa janggal karena saya tidak seberapa dekat dengan Papa. Ini adalah salah satu momen yang terindah yang sempat saya persembahkan pada Papa, saat membenahi rambut Papa, saya bisa melihat sorot mata Papa seolah berkata ’terima kasih’ ada kebahagiaan, rasa senang tersirat di sana. Hati saya mematri detil momen ini, momen ketika hati saya benar-benar menyapa hati Papa.
Satu momen lain, ketika di terminal Magelang menunggu jemputan ke dinas DPLH, saya melihat seekor ulat menggeliat-geliat, berusaha menyelamatkan diri dari kerubungan semut. Saya tak tahan, lantai sekitar kerubungan semut2 tsb saya ketuk-ketuk, mengusir mereka. Semut2 itu pun berlarian, menjauhi sang ulat. Lega bukan main hati saya. Keterbatasan, keterhimpitan, kesakitan makhluk lain bukan frekuensi yang baru dalam stok koleksi pengalaman rasa sakit, takut dan naluri untuk mempertahankan hidup dalam diri setiap kita, rasa yang persis sama bisa kita rasakan. Ketika kita memilih tidak menutup telinga dan mata hati terhadap realita mungkin saat itulah keterhubungan terjalin. Sadar sepenuhnya, eksis sepenuhnya pada saat itu. Saat itulah mata ini melihat Tuhan, dan saat itu jua telinga ini mendengar suara Tuhan. Mata yang melihat Cinta, telinga yang mendengar suara Cinta memanggil
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta
selamat Waisak Dee;)
ucapann’e dipanjar sisan ye..
Chindy Tan
Hadi Blogger said,
May 27, 2008 at 12:48 am
Dear Dee…menarik membaca artikel pembahasan tentang Tuhan dan Cinta ini serta . Bagaimana menjalani kehidupan dengan terus menerus melihat Tuhan dalam segala bentuk kehidupan, dan segala bentuk cinta dalam keseharian kita. Tuhan ada dalam diri kita masing-masing. namun selalu ditutupi oleh ego dan hal lainnya yang tidak mau Tuhan yang menjadi aktor dari perilaku kita. Setiap nafas yang kita hirup dan kita hembuskan mengartikan cinta Tuhan kepada diri kita. Namun jauh lebih indah kalau kita bisa berbagi cinta dengan kekasih kita, sehingga cinta yang universal itu bisa termanifestasikan kebentuk cinta fitri yang lebih manusiawi
salam,
Hadi
Hadi Blogger said,
May 27, 2008 at 3:15 am
Dee Wrote:
==================================
Berikut ini dua pertanyaan yang paling kubenci:
Apa itu cinta?
Apa itu Tuhan?
Aku membenci kedua pertanyaan itu sepenuh hati sampai kudedikasikan seluruh hidupku untuk mencari jawabnya, agar kedua pertanyaan itu berhenti menghantui. Dan tidak ada yang lebih memahitkan mulut, memualkan perut, menyesakkan jantung, ketika seseorang muncul dengan kertas dan pulpen, atau alat perekam, di tengah jam makan siang, saat rahangmu sedang sibuk mengunyah, saat makanan di piring memohon perhatian penuhmu, dan orang itu bertanya: “Menurut Anda, apa itu cinta?”
==================================
Me:
Dua pertanyaan itu biasanya menghantui kalau kita dilanda jatuh cinta, tapi cinta kita ditolak hehe..kok aku ngga bisa dapat cinta dia, dan kenapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi. Dari pengalaman hidupku, baru aku tahu kalau yang namanya bertemu dengan Tuhan itu suatu perjalanan sakral yang Maha berat bagi orang awam, karena memerlukan konsekuensi dan tanggung jawab dibelakangnya. itulah mengapa kita perlu mensyukuri keberadaan kita sekarang dan mensyukuri para pendahulu kita yang sudah dipilih oleh Tuhan untuk menyebarluaskan ajaran suci yang begitu berat.
salam,
-Hadi-
Anonymous said,
June 8, 2008 at 6:19 pm
Sungguh tersentuh rasanya kekekalan lebur pada Tuhan dan Cinta. Tak ada makna hanya realita. Jadi ingat kata2 Dee lainnya izinkan Aku rengkuh dalam cinta. Begitu polos, murni dan tulus dalam mendalami makna keduanya sekaligus.
andri said,
June 26, 2008 at 1:39 am
mohon ijin utk saya taro di blog saya. maturnuwun.
Anonymous said,
July 15, 2008 at 3:32 am
aku punya jawaban tentang cinta dee,
ini konsepku dan kadang menjebakku…
Aku tahu bahwa aku cinta ma seseorang jika aku bisa berkorban untuknya…
Konsep ini menancapkan kukunya dalam2 di hidupku… dan aku terjebak untuk terus berkorban…
aku juga punya jawaban tentang Tuhan dee, ini juga konsepku….
Tuhan itu yang menciptakan langit dan bumi dan seisinya, Ia yang kenal apapun yang diciptakanNya, Ia yang mempertemukan dee ma marcell, Ia menaruh cinta di hati kalian, Ia yang menciptakan Keenan, Ia sayang sekali pada Keenan, Ia yang selama ini menunggu kalian, tanpa ada paksaan kan?
Tuhan senang dengan kebersamaan kalian bertiga…
Tuhan mana yang suka perceraian dee?
Siapapun yang jadi Tuhanmu, aku hanya mengingatkan supaya engkau memikirkan kasih sayangnya ke kamu, Marcell n Keenan…
love u dee…
abubakr saleh said,
January 7, 2009 at 5:12 am
kata mba dee, Mungkinkah jika sebenarnya perjalanan kita mencari Cinta dan Tuhan adalah perjalanan bukan untuk mendapatkan keduanya, tapi untuk *kehilangan* keduanya? Bahwa untuk mengungkap Cinta dan Tuhan kita justru harus melepaskan semua persepsi kita atas keduanya?
setuju banget…pemahaman tertinggi tentang Tuhan adalah ketika kita telah sadar bahwa Tuhan tak mapu kita pahami..
dan satu hal lagi menurut saya, kalo kita membagi mengorganisasikan manusia, maka strukturnya ada tiga lapis, yaitu yang paling dalam ruh, yang ditengah hati, yang paling luar badan.Cinta Dan Tuhan adalah tak terpisah.letaknya di ruh.utuh.tanpa ada kontradiksi.karena hati tempatnya kontradiksi(perempuan-laki, senang-benci, manis-pahit). hanya Tuhan yang layak kita cintai.karena cinta adalah Tuhan. maka bolehkah saya mengucapkan tiada tuhan selain Cinta.
makasih..
abubakr saleh said,
January 7, 2009 at 5:15 am
oh ya mba dee, saya lagi pengen belajar menulis. tak akan lengkap kiranya kalo mba dee menengok blog saya. dan saya harap mba dee mau memberi saya masukan, kritik, atau mungkin ejekan terhadap kebodohan saya.
aboubakr.wordpress.com