<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: </title>
	<atom:link href="http://www.dewilestari.com/b/2007/09/16/58/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/09/16/58/</link>
	<description>an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Dec 2011 03:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>By: abubakr saleh</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/09/16/58/comment-page-2/#comment-2240</link>
		<dc:creator>abubakr saleh</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 13:15:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=58#comment-2240</guid>
		<description>oh ya mba dee, saya lagi pengen belajar menulis. tak akan lengkap kiranya kalo mba dee menengok blog saya. dan saya harap mba dee mau memberi saya masukan, kritik, atau mungkin ejekan terhadap kebodohan saya.
aboubakr.wordpress.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>oh ya mba dee, saya lagi pengen belajar menulis. tak akan lengkap kiranya kalo mba dee menengok blog saya. dan saya harap mba dee mau memberi saya masukan, kritik, atau mungkin ejekan terhadap kebodohan saya.<br />
aboubakr.wordpress.com</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: abubakr saleh</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/09/16/58/comment-page-2/#comment-2239</link>
		<dc:creator>abubakr saleh</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 13:12:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=58#comment-2239</guid>
		<description>kata mba dee, Mungkinkah jika sebenarnya perjalanan kita mencari Cinta dan Tuhan adalah perjalanan bukan untuk mendapatkan keduanya, tapi untuk *kehilangan* keduanya? Bahwa untuk mengungkap Cinta dan Tuhan kita justru harus melepaskan semua persepsi kita atas keduanya? 

setuju banget...pemahaman tertinggi tentang Tuhan adalah ketika kita telah sadar bahwa Tuhan tak mapu kita pahami..
dan satu hal lagi menurut saya, kalo kita membagi mengorganisasikan manusia, maka strukturnya ada tiga lapis, yaitu yang paling dalam ruh, yang ditengah hati, yang paling luar badan.Cinta Dan Tuhan adalah tak terpisah.letaknya di ruh.utuh.tanpa ada kontradiksi.karena hati tempatnya kontradiksi(perempuan-laki, senang-benci, manis-pahit). hanya Tuhan yang layak kita cintai.karena cinta adalah Tuhan. maka bolehkah saya mengucapkan tiada tuhan selain Cinta.


makasih..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kata mba dee, Mungkinkah jika sebenarnya perjalanan kita mencari Cinta dan Tuhan adalah perjalanan bukan untuk mendapatkan keduanya, tapi untuk *kehilangan* keduanya? Bahwa untuk mengungkap Cinta dan Tuhan kita justru harus melepaskan semua persepsi kita atas keduanya? </p>
<p>setuju banget&#8230;pemahaman tertinggi tentang Tuhan adalah ketika kita telah sadar bahwa Tuhan tak mapu kita pahami..<br />
dan satu hal lagi menurut saya, kalo kita membagi mengorganisasikan manusia, maka strukturnya ada tiga lapis, yaitu yang paling dalam ruh, yang ditengah hati, yang paling luar badan.Cinta Dan Tuhan adalah tak terpisah.letaknya di ruh.utuh.tanpa ada kontradiksi.karena hati tempatnya kontradiksi(perempuan-laki, senang-benci, manis-pahit). hanya Tuhan yang layak kita cintai.karena cinta adalah Tuhan. maka bolehkah saya mengucapkan tiada tuhan selain Cinta.</p>
<p>makasih..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/09/16/58/comment-page-2/#comment-1240</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 11:32:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=58#comment-1240</guid>
		<description>aku punya jawaban tentang cinta dee,&lt;br/&gt;ini konsepku dan kadang menjebakku...&lt;br/&gt;Aku tahu bahwa aku cinta ma seseorang jika aku bisa berkorban untuknya... &lt;br/&gt;Konsep ini menancapkan kukunya dalam2 di hidupku... dan aku terjebak untuk terus berkorban... &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;aku juga punya jawaban tentang Tuhan dee, ini juga konsepku....&lt;br/&gt;Tuhan itu yang menciptakan langit dan bumi dan seisinya, Ia yang kenal apapun yang diciptakanNya, Ia yang mempertemukan dee ma marcell, Ia menaruh cinta di hati kalian, Ia yang menciptakan Keenan, Ia sayang sekali pada Keenan, Ia yang selama ini menunggu kalian, tanpa ada paksaan kan?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Tuhan senang dengan kebersamaan kalian bertiga...&lt;br/&gt;Tuhan mana yang suka perceraian dee?&lt;br/&gt;Siapapun yang jadi Tuhanmu, aku hanya mengingatkan supaya engkau memikirkan kasih sayangnya ke kamu, Marcell n Keenan... &lt;br/&gt;love u dee...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aku punya jawaban tentang cinta dee,<br />ini konsepku dan kadang menjebakku&#8230;<br />Aku tahu bahwa aku cinta ma seseorang jika aku bisa berkorban untuknya&#8230; <br />Konsep ini menancapkan kukunya dalam2 di hidupku&#8230; dan aku terjebak untuk terus berkorban&#8230; </p>
<p>aku juga punya jawaban tentang Tuhan dee, ini juga konsepku&#8230;.<br />Tuhan itu yang menciptakan langit dan bumi dan seisinya, Ia yang kenal apapun yang diciptakanNya, Ia yang mempertemukan dee ma marcell, Ia menaruh cinta di hati kalian, Ia yang menciptakan Keenan, Ia sayang sekali pada Keenan, Ia yang selama ini menunggu kalian, tanpa ada paksaan kan?</p>
<p>Tuhan senang dengan kebersamaan kalian bertiga&#8230;<br />Tuhan mana yang suka perceraian dee?<br />Siapapun yang jadi Tuhanmu, aku hanya mengingatkan supaya engkau memikirkan kasih sayangnya ke kamu, Marcell n Keenan&#8230; <br />love u dee&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: andri</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/09/16/58/comment-page-2/#comment-1199</link>
		<dc:creator>andri</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 09:39:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=58#comment-1199</guid>
		<description>mohon ijin utk saya taro di blog saya.  maturnuwun.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mohon ijin utk saya taro di blog saya.  maturnuwun.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/09/16/58/comment-page-2/#comment-1175</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 02:19:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=58#comment-1175</guid>
		<description>Sungguh tersentuh rasanya kekekalan lebur pada Tuhan dan Cinta. Tak ada makna hanya realita. Jadi ingat kata2 Dee lainnya izinkan Aku rengkuh dalam cinta. Begitu polos, murni dan tulus dalam mendalami makna keduanya sekaligus.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh tersentuh rasanya kekekalan lebur pada Tuhan dan Cinta. Tak ada makna hanya realita. Jadi ingat kata2 Dee lainnya izinkan Aku rengkuh dalam cinta. Begitu polos, murni dan tulus dalam mendalami makna keduanya sekaligus.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hadi Blogger</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/09/16/58/comment-page-2/#comment-1147</link>
		<dc:creator>Hadi Blogger</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 11:15:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=58#comment-1147</guid>
		<description>Dee Wrote:&lt;br/&gt;==================================&lt;br/&gt;Berikut ini dua pertanyaan yang paling kubenci:&lt;br/&gt;Apa itu cinta?&lt;br/&gt;Apa itu Tuhan? &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Aku membenci kedua pertanyaan itu sepenuh hati sampai kudedikasikan seluruh hidupku untuk mencari jawabnya, agar kedua pertanyaan itu berhenti menghantui. Dan tidak ada yang lebih memahitkan mulut, memualkan perut, menyesakkan jantung, ketika seseorang muncul dengan kertas dan pulpen, atau alat perekam, di tengah jam makan siang, saat rahangmu sedang sibuk mengunyah, saat makanan di piring memohon perhatian penuhmu, dan orang itu bertanya: “Menurut Anda, apa itu cinta?” &lt;br/&gt;==================================&lt;br/&gt;Me:&lt;br/&gt;Dua pertanyaan itu biasanya menghantui kalau kita dilanda jatuh cinta, tapi cinta kita ditolak hehe..kok aku ngga bisa dapat cinta dia, dan kenapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi. Dari pengalaman hidupku, baru aku tahu kalau yang namanya bertemu dengan Tuhan itu suatu perjalanan sakral yang Maha berat bagi orang awam, karena memerlukan konsekuensi dan tanggung jawab dibelakangnya. itulah mengapa kita perlu mensyukuri keberadaan kita sekarang dan mensyukuri para pendahulu kita yang sudah dipilih oleh Tuhan untuk menyebarluaskan ajaran suci yang begitu berat.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;salam,&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;-Hadi-</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dee Wrote:<br />==================================<br />Berikut ini dua pertanyaan yang paling kubenci:<br />Apa itu cinta?<br />Apa itu Tuhan? </p>
<p>Aku membenci kedua pertanyaan itu sepenuh hati sampai kudedikasikan seluruh hidupku untuk mencari jawabnya, agar kedua pertanyaan itu berhenti menghantui. Dan tidak ada yang lebih memahitkan mulut, memualkan perut, menyesakkan jantung, ketika seseorang muncul dengan kertas dan pulpen, atau alat perekam, di tengah jam makan siang, saat rahangmu sedang sibuk mengunyah, saat makanan di piring memohon perhatian penuhmu, dan orang itu bertanya: “Menurut Anda, apa itu cinta?” <br />==================================<br />Me:<br />Dua pertanyaan itu biasanya menghantui kalau kita dilanda jatuh cinta, tapi cinta kita ditolak hehe..kok aku ngga bisa dapat cinta dia, dan kenapa Tuhan membiarkan hal ini terjadi. Dari pengalaman hidupku, baru aku tahu kalau yang namanya bertemu dengan Tuhan itu suatu perjalanan sakral yang Maha berat bagi orang awam, karena memerlukan konsekuensi dan tanggung jawab dibelakangnya. itulah mengapa kita perlu mensyukuri keberadaan kita sekarang dan mensyukuri para pendahulu kita yang sudah dipilih oleh Tuhan untuk menyebarluaskan ajaran suci yang begitu berat.</p>
<p>salam,</p>
<p>-Hadi-</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Hadi Blogger</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/09/16/58/comment-page-2/#comment-1146</link>
		<dc:creator>Hadi Blogger</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 08:48:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=58#comment-1146</guid>
		<description>Dear Dee...menarik membaca artikel pembahasan tentang Tuhan dan Cinta ini serta . Bagaimana menjalani kehidupan dengan terus menerus melihat Tuhan dalam segala bentuk kehidupan, dan segala bentuk cinta dalam keseharian kita. Tuhan ada dalam diri kita masing-masing. namun selalu ditutupi oleh ego dan hal lainnya yang tidak mau Tuhan yang menjadi aktor dari perilaku kita. Setiap nafas yang kita hirup dan kita hembuskan mengartikan cinta Tuhan kepada diri kita. Namun jauh lebih indah kalau kita bisa berbagi cinta dengan kekasih kita, sehingga cinta yang universal itu bisa termanifestasikan kebentuk cinta fitri yang lebih manusiawi :)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;salam,&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hadi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Dee&#8230;menarik membaca artikel pembahasan tentang Tuhan dan Cinta ini serta . Bagaimana menjalani kehidupan dengan terus menerus melihat Tuhan dalam segala bentuk kehidupan, dan segala bentuk cinta dalam keseharian kita. Tuhan ada dalam diri kita masing-masing. namun selalu ditutupi oleh ego dan hal lainnya yang tidak mau Tuhan yang menjadi aktor dari perilaku kita. Setiap nafas yang kita hirup dan kita hembuskan mengartikan cinta Tuhan kepada diri kita. Namun jauh lebih indah kalau kita bisa berbagi cinta dengan kekasih kita, sehingga cinta yang universal itu bisa termanifestasikan kebentuk cinta fitri yang lebih manusiawi <img src='http://www.dewilestari.com/b/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>salam,</p>
<p>Hadi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/09/16/58/comment-page-1/#comment-1062</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 16:58:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=58#comment-1062</guid>
		<description>Prof.Dr.P.J. Zoetmulder S.J., Manunggaling Kawula Gusti&lt;br/&gt;&quot;Sembah dan puji sempurna ialah tidak memandang lagi adanya Tuhan, serta mengenai adanya diri sendiri tidak lagi dipandang(?) Papan tulis dan tulisan sudah lebur, dualitas tak ada lagi. adamu tak dapat diubah. Lalu apa yang masih mau dipandang? Tak ada lagi sesuatu. Maklumilah ini baik-baik, adinda. Inilah penyembahan sempurna.&lt;br/&gt;Bila kau masih menyembah dan memuji Tuhan (dengan cara biasa, kau baru memiliki pengetahuan yang kurang sempurna. Jangan tersenyum(seolah-olah kau sudah mengerti), bila kau belum mengetahui ilmu sejati. Jangan merasa senang menerima ajaran dan instruksi. itu semua berupa tutur kata. Adapun kebenaran sejati ialah meninggalkan sembah dan pujian yang diungkakan dengan kata-kata.&lt;br/&gt;Hanya keheningan yang tetap berharga. Keheningan berarti, jangan mengikuti Kitab suci atau...&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Dee, bagi saya bertemu dengan Tuhan adalah momen  bertemu dengan hati kita sendiri. Momen bertemu dengan hati yang lain, bahkan momen ketika hati bertemu dengan hati seekor ulat sekalipun. &lt;br/&gt;Dalam perjalanan mengantar Papa berobat ke Makassar, sewaktu akan turun dari pesawat  saya melihat rambut Papa berantakan, meski agak sungkan saya memberanikan diri untuk merapikan rambut Papa. Ada rasa janggal karena saya tidak seberapa dekat dengan Papa. Ini adalah salah satu momen yang terindah yang sempat saya persembahkan pada Papa, saat  membenahi rambut Papa, saya bisa melihat sorot mata Papa seolah berkata ’terima kasih’ ada kebahagiaan, rasa senang tersirat di sana. Hati saya mematri detil momen ini, momen ketika hati saya benar-benar menyapa hati Papa.&lt;br/&gt;Satu momen lain, ketika di terminal Magelang menunggu jemputan ke dinas DPLH, saya melihat seekor ulat menggeliat-geliat, berusaha menyelamatkan diri dari kerubungan semut. Saya tak tahan, lantai sekitar kerubungan semut2  tsb saya ketuk-ketuk, mengusir mereka. Semut2 itu pun berlarian, menjauhi sang ulat. Lega bukan main hati saya. Keterbatasan, keterhimpitan, kesakitan makhluk lain bukan frekuensi yang baru dalam stok koleksi pengalaman rasa sakit, takut dan naluri untuk mempertahankan hidup dalam diri setiap kita, rasa yang persis sama bisa kita rasakan. Ketika kita memilih tidak menutup telinga dan mata hati terhadap realita mungkin saat itulah keterhubungan terjalin. Sadar sepenuhnya, eksis sepenuhnya pada saat itu. Saat itulah mata ini melihat Tuhan, dan saat itu jua telinga ini mendengar suara Tuhan. Mata yang melihat Cinta, telinga yang mendengar suara Cinta memanggil&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta&lt;br/&gt;selamat Waisak Dee;) &lt;br/&gt;ucapann&#039;e dipanjar sisan ye..&lt;br/&gt; &lt;br/&gt;Chindy Tan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Prof.Dr.P.J. Zoetmulder S.J., Manunggaling Kawula Gusti<br />&#8220;Sembah dan puji sempurna ialah tidak memandang lagi adanya Tuhan, serta mengenai adanya diri sendiri tidak lagi dipandang(?) Papan tulis dan tulisan sudah lebur, dualitas tak ada lagi. adamu tak dapat diubah. Lalu apa yang masih mau dipandang? Tak ada lagi sesuatu. Maklumilah ini baik-baik, adinda. Inilah penyembahan sempurna.<br />Bila kau masih menyembah dan memuji Tuhan (dengan cara biasa, kau baru memiliki pengetahuan yang kurang sempurna. Jangan tersenyum(seolah-olah kau sudah mengerti), bila kau belum mengetahui ilmu sejati. Jangan merasa senang menerima ajaran dan instruksi. itu semua berupa tutur kata. Adapun kebenaran sejati ialah meninggalkan sembah dan pujian yang diungkakan dengan kata-kata.<br />Hanya keheningan yang tetap berharga. Keheningan berarti, jangan mengikuti Kitab suci atau&#8230;</p>
<p>Dee, bagi saya bertemu dengan Tuhan adalah momen  bertemu dengan hati kita sendiri. Momen bertemu dengan hati yang lain, bahkan momen ketika hati bertemu dengan hati seekor ulat sekalipun. <br />Dalam perjalanan mengantar Papa berobat ke Makassar, sewaktu akan turun dari pesawat  saya melihat rambut Papa berantakan, meski agak sungkan saya memberanikan diri untuk merapikan rambut Papa. Ada rasa janggal karena saya tidak seberapa dekat dengan Papa. Ini adalah salah satu momen yang terindah yang sempat saya persembahkan pada Papa, saat  membenahi rambut Papa, saya bisa melihat sorot mata Papa seolah berkata ’terima kasih’ ada kebahagiaan, rasa senang tersirat di sana. Hati saya mematri detil momen ini, momen ketika hati saya benar-benar menyapa hati Papa.<br />Satu momen lain, ketika di terminal Magelang menunggu jemputan ke dinas DPLH, saya melihat seekor ulat menggeliat-geliat, berusaha menyelamatkan diri dari kerubungan semut. Saya tak tahan, lantai sekitar kerubungan semut2  tsb saya ketuk-ketuk, mengusir mereka. Semut2 itu pun berlarian, menjauhi sang ulat. Lega bukan main hati saya. Keterbatasan, keterhimpitan, kesakitan makhluk lain bukan frekuensi yang baru dalam stok koleksi pengalaman rasa sakit, takut dan naluri untuk mempertahankan hidup dalam diri setiap kita, rasa yang persis sama bisa kita rasakan. Ketika kita memilih tidak menutup telinga dan mata hati terhadap realita mungkin saat itulah keterhubungan terjalin. Sadar sepenuhnya, eksis sepenuhnya pada saat itu. Saat itulah mata ini melihat Tuhan, dan saat itu jua telinga ini mendengar suara Tuhan. Mata yang melihat Cinta, telinga yang mendengar suara Cinta memanggil</p>
<p>Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta<br />selamat Waisak Dee;) <br />ucapann&#8217;e dipanjar sisan ye..</p>
<p>Chindy Tan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/09/16/58/comment-page-1/#comment-1052</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 08:49:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=58#comment-1052</guid>
		<description>Cinta bagi saya adalah proses hidup belajar membelanjakan waktu. waktu dengan sekantong kejutan di dalamnya. ada kejutan yang membahagiakan, membuat hati tumbuh kembang setaman namun ada juga kejutan yang bikin susah nelan, tenggorokan serasa penuh. entah kemana larinya ikhlas saat itu. tidak mudah untuk mendidik hati agar TIDAK MEMIHAK pada realita yang bertamu dalam hidup kita. karena pilihan kita sebenar2nya hanyalah MENERIMA apa adanya. inilah ritme harmoni.  Berteori panjang pendek seperti ini mudah bagi siapa saja, namun ketika berhadapan dengan kenyataan. Kebanyakan  kita memilih kabur, menolak kenyataan. Saya mengilustrasikannya dengan lengkung gunung. perjalanan rasa kita entah itu sedih, kecewa, senang, gembira kodratnya bergerak seperti lengkung gunung. tidak pernah selamanya sakit ataupun senang. Seperti kata Reza hidup ini cair, jika kita mengikuti alur alirnya sejuta rupa rasa akan bergerak entah duka maupun suka. Rasa akan bergerak naik, sampai di puncak gunung bila kita biarkan, dan terus biarkan rasa akan turun, duka pelan tapi pasti akan surut kadarnya. Saya belajar merefleksi kurva ini dalam melepas kepergian Papa. Tak baik untuk Papa, juga tak baik untuk diri saya sendiri jika terus menahan rasa sesal berlebihan di hati,biarkanlah dia bergerak, bersalin rasa oleh waktu...menerima kenyataan apa adanya akan membawa kita satu ritme dengan alam, ritme harmoni, ritme yang tidak memihak;)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sabbe Sankhara Anicca&lt;br/&gt;Chindy Tan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Cinta bagi saya adalah proses hidup belajar membelanjakan waktu. waktu dengan sekantong kejutan di dalamnya. ada kejutan yang membahagiakan, membuat hati tumbuh kembang setaman namun ada juga kejutan yang bikin susah nelan, tenggorokan serasa penuh. entah kemana larinya ikhlas saat itu. tidak mudah untuk mendidik hati agar TIDAK MEMIHAK pada realita yang bertamu dalam hidup kita. karena pilihan kita sebenar2nya hanyalah MENERIMA apa adanya. inilah ritme harmoni.  Berteori panjang pendek seperti ini mudah bagi siapa saja, namun ketika berhadapan dengan kenyataan. Kebanyakan  kita memilih kabur, menolak kenyataan. Saya mengilustrasikannya dengan lengkung gunung. perjalanan rasa kita entah itu sedih, kecewa, senang, gembira kodratnya bergerak seperti lengkung gunung. tidak pernah selamanya sakit ataupun senang. Seperti kata Reza hidup ini cair, jika kita mengikuti alur alirnya sejuta rupa rasa akan bergerak entah duka maupun suka. Rasa akan bergerak naik, sampai di puncak gunung bila kita biarkan, dan terus biarkan rasa akan turun, duka pelan tapi pasti akan surut kadarnya. Saya belajar merefleksi kurva ini dalam melepas kepergian Papa. Tak baik untuk Papa, juga tak baik untuk diri saya sendiri jika terus menahan rasa sesal berlebihan di hati,biarkanlah dia bergerak, bersalin rasa oleh waktu&#8230;menerima kenyataan apa adanya akan membawa kita satu ritme dengan alam, ritme harmoni, ritme yang tidak memihak;)</p>
<p>Sabbe Sankhara Anicca<br />Chindy Tan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/09/16/58/comment-page-1/#comment-995</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 19 Apr 2008 15:20:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=58#comment-995</guid>
		<description>Sahabat..&lt;br/&gt;saya tidak tau harus memulainya dari mana,&lt;br/&gt;sampai detik ini, saya belum mampu berdamai dengan sesal atas sekian momen yang telah saya &#039;sia-siakan&#039; saat bersama Papa..&lt;br/&gt;Papa berpulang tanggal 4 Maret 2008, pukul 1.25 dini hari&lt;br/&gt;Sahabat...orang mungkin menilai saya berlebihan jika saya mengatakan apa yang mengiris rasaku kadarnya masih tetap sama, sama pekatnya, sama pahitnya bila terbayang kembali hari-hari terakhir bersama Papa&lt;br/&gt;Saya kurang dekat dengan Papa&lt;br/&gt;Sedari kecil kami &#039;diurus&#039; oleh kakak-kakak&lt;br/&gt;Orang-orang bilang Papa frustasi. Bertahun-tahun Papa larut dalam putus asa dan kecewanya yang sampai sekarang kami hanya mampu menduga-duga apa gerangan yang memukul Papa.&lt;br/&gt;Namun Sahabat, satu karakter yang sangat kuat dalam diri Papa. Papa sangat jujur. Kata Paman jarak antara bibir dan hati bisa diukur oleh penggaris, seberapa jarak terbentang diantaranya, di situlah terletak harga diri kita sebagai manusia. Dan Papa, kata Paman Chungsuk adalah orang dengan bibir satu kata dengan hati. Orang yang berhati lurus. Papa juga anak dengan hati bakti yang utuh. Papa terhitung anak tertua dalam keluarga besar. Sejak usia 13 tahun Papa telah merantau, makan gaji yang gajinya tanpa sepeser pun disimpan untuk pribadi. Rambut saja dicukur sendiri demi menghemat seperak dua perak untuk dipersembahkan kepada Apho. Tanggung jawab Papa tidak kecil, membantu Kung-kung dan Phopho menghidupi 21 saudara adik beradik.&lt;br/&gt;Sahabat...&lt;br/&gt;setiap memutar balik kejadian demi kejadian, mengingat kata demi kata yang pernah disampaikan Papa..hati saya menangis&lt;br/&gt;Bulan desember 2007 Papa pernah menelepon dan berkata,&quot;Cing  ngi thengsu Papa Nak&quot; (bantu Papa Nak)  &lt;br/&gt;Sahabat...pertamakali tiba di Kendari, sesampai di rumah.. Papa terlihat jauh lebih tua dari 2 tahun lalu, tahun 2005 terakhir kami jumpa di Makassar. Keesokan hari, Papa sendiri dalam sakitnya menyiapkan kamar untukku... baru jelas terasa sekarang betapa Papa ingin dekat dengan saya, Papa ingin menunjukkan rasa sayangnya...dan saya telat menyadari rasa limpahan kasih ini. Benar kata koko,&#039;kebaikan seseorang begitu tertampak jelas setelah dia berlalu&#039;. Saya kurang bisa menghargai momen ketika kasih itu berusaha datang, berusaha menyentuh hatiku. Sahabat, begini rasanya sakit sesal karena tidak mampu menghargai cinta. tidak mampu memegang dan merasakan cinta itu hingga kurang bisa menghargainya. ketika sadar, semuanya sudah terlambat. Momennya hanya tinggal jejak. Saya mencari bau Papa yang tertinggal di baju yang sekarang saya gantung dikamar, saya berusaha mengenali aroma Papa di handuk kecil untuk membersihkan wajah Papa sewkatu Papa sakit, semua sia-sia sahabat...Papa maaf, saya masih terus saja menangis, semoga Papa tidak terganggu oleh adukan emosi, rasa sesal yang masih sulit saya bendung ini...mungkin dengan sungguh melebur dalam rasa ini, saya belajar menghargai setiap momen yang datang di tanganku kini, detik ini dan untuk tiap detik kemudian yang masih dipercayakan sang pemilik waktu untuk kumiliki. Tak putus belajar memampukan diri untuk mencinta apa pun&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sahabat, dari perjalanan hati saya ini..ada satu ketakutan ketika mencoba membaca apa yang sedang ada di depan mata Bumi, semoga kita tidak terlambat menyadari betapa alam berusaha menunjukkan limpahan ayomannya yang tak putus, sehingga kita mampu menghargai setiap berkah Bumi yang sampai kepada kita...&lt;br/&gt;sahabat, saya baru ingat beberapa kali saya meninggalkan sisa makanan begitu saja(di golfer dan parsley cafe)...belakangan baru ngeh. saya akan tarik kencang kontrol kesadaran saya, nampaknya saya butuh upaya ekstra untuk melatih kesadaran, menjaga keterhubungan dengan diri. Agar tidak blank mulu, sering nian kehilangan diri...belajar berjalan dengan kesadaran, berkata dengan kesadaran. Saya bukanlah apa yang saya pikirkan tetapi apa yang saya lakukan. Jika satu kesempatan saya berkata, &#039;saya berharap dapat menghargai, mencintai semua berkah yang sampai padaku&#039; namun dipanggung riil saya malah membiarkan makanan terbuang...itulah saya, oknum yang menyianyiakan berkah. &lt;br/&gt;Sahabat, saya ternyata masih harus terus banyak belajar,&lt;br/&gt;belajar fair pada diri sendiri...&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Terima kasih sahabat, untuk ruang yang disediakan disini...&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;salam sayang &lt;br/&gt;Chindy Tan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat..<br />saya tidak tau harus memulainya dari mana,<br />sampai detik ini, saya belum mampu berdamai dengan sesal atas sekian momen yang telah saya &#8216;sia-siakan&#8217; saat bersama Papa..<br />Papa berpulang tanggal 4 Maret 2008, pukul 1.25 dini hari<br />Sahabat&#8230;orang mungkin menilai saya berlebihan jika saya mengatakan apa yang mengiris rasaku kadarnya masih tetap sama, sama pekatnya, sama pahitnya bila terbayang kembali hari-hari terakhir bersama Papa<br />Saya kurang dekat dengan Papa<br />Sedari kecil kami &#8216;diurus&#8217; oleh kakak-kakak<br />Orang-orang bilang Papa frustasi. Bertahun-tahun Papa larut dalam putus asa dan kecewanya yang sampai sekarang kami hanya mampu menduga-duga apa gerangan yang memukul Papa.<br />Namun Sahabat, satu karakter yang sangat kuat dalam diri Papa. Papa sangat jujur. Kata Paman jarak antara bibir dan hati bisa diukur oleh penggaris, seberapa jarak terbentang diantaranya, di situlah terletak harga diri kita sebagai manusia. Dan Papa, kata Paman Chungsuk adalah orang dengan bibir satu kata dengan hati. Orang yang berhati lurus. Papa juga anak dengan hati bakti yang utuh. Papa terhitung anak tertua dalam keluarga besar. Sejak usia 13 tahun Papa telah merantau, makan gaji yang gajinya tanpa sepeser pun disimpan untuk pribadi. Rambut saja dicukur sendiri demi menghemat seperak dua perak untuk dipersembahkan kepada Apho. Tanggung jawab Papa tidak kecil, membantu Kung-kung dan Phopho menghidupi 21 saudara adik beradik.<br />Sahabat&#8230;<br />setiap memutar balik kejadian demi kejadian, mengingat kata demi kata yang pernah disampaikan Papa..hati saya menangis<br />Bulan desember 2007 Papa pernah menelepon dan berkata,&#8221;Cing  ngi thengsu Papa Nak&#8221; (bantu Papa Nak)  <br />Sahabat&#8230;pertamakali tiba di Kendari, sesampai di rumah.. Papa terlihat jauh lebih tua dari 2 tahun lalu, tahun 2005 terakhir kami jumpa di Makassar. Keesokan hari, Papa sendiri dalam sakitnya menyiapkan kamar untukku&#8230; baru jelas terasa sekarang betapa Papa ingin dekat dengan saya, Papa ingin menunjukkan rasa sayangnya&#8230;dan saya telat menyadari rasa limpahan kasih ini. Benar kata koko,&#8217;kebaikan seseorang begitu tertampak jelas setelah dia berlalu&#8217;. Saya kurang bisa menghargai momen ketika kasih itu berusaha datang, berusaha menyentuh hatiku. Sahabat, begini rasanya sakit sesal karena tidak mampu menghargai cinta. tidak mampu memegang dan merasakan cinta itu hingga kurang bisa menghargainya. ketika sadar, semuanya sudah terlambat. Momennya hanya tinggal jejak. Saya mencari bau Papa yang tertinggal di baju yang sekarang saya gantung dikamar, saya berusaha mengenali aroma Papa di handuk kecil untuk membersihkan wajah Papa sewkatu Papa sakit, semua sia-sia sahabat&#8230;Papa maaf, saya masih terus saja menangis, semoga Papa tidak terganggu oleh adukan emosi, rasa sesal yang masih sulit saya bendung ini&#8230;mungkin dengan sungguh melebur dalam rasa ini, saya belajar menghargai setiap momen yang datang di tanganku kini, detik ini dan untuk tiap detik kemudian yang masih dipercayakan sang pemilik waktu untuk kumiliki. Tak putus belajar memampukan diri untuk mencinta apa pun</p>
<p>Sahabat, dari perjalanan hati saya ini..ada satu ketakutan ketika mencoba membaca apa yang sedang ada di depan mata Bumi, semoga kita tidak terlambat menyadari betapa alam berusaha menunjukkan limpahan ayomannya yang tak putus, sehingga kita mampu menghargai setiap berkah Bumi yang sampai kepada kita&#8230;<br />sahabat, saya baru ingat beberapa kali saya meninggalkan sisa makanan begitu saja(di golfer dan parsley cafe)&#8230;belakangan baru ngeh. saya akan tarik kencang kontrol kesadaran saya, nampaknya saya butuh upaya ekstra untuk melatih kesadaran, menjaga keterhubungan dengan diri. Agar tidak blank mulu, sering nian kehilangan diri&#8230;belajar berjalan dengan kesadaran, berkata dengan kesadaran. Saya bukanlah apa yang saya pikirkan tetapi apa yang saya lakukan. Jika satu kesempatan saya berkata, &#8216;saya berharap dapat menghargai, mencintai semua berkah yang sampai padaku&#8217; namun dipanggung riil saya malah membiarkan makanan terbuang&#8230;itulah saya, oknum yang menyianyiakan berkah. <br />Sahabat, saya ternyata masih harus terus banyak belajar,<br />belajar fair pada diri sendiri&#8230;</p>
<p>Terima kasih sahabat, untuk ruang yang disediakan disini&#8230;</p>
<p>salam sayang <br />Chindy Tan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

