Dicari: Pahlawan Sejati
(Will be published, Eve Magazine, November 2007)

Bicara soal makna pahlawan dan kedaulatan kadang menjadi kegiatan nostalgia belaka. Kita sudah tak perlu lagi mengusung bambu runcing dan meneriakkan pekik “Merdeka!” sambil mengacungkan kepal ke udara. “Pahlawan” dan “perang” cuma kita asosiasikan dengan kematian fisik, peperangan fisik, dan sesosok musuh bersama. Sesuatu yang rasanya tak lagi relevan dengan kondisi kita sekarang, dan juga banyak tempat di dunia.

Puluhan ribu pahlawan telah mati untuk bangsa ini, dan ada jutaan orang di seluruh dunia yang menyandang status pahlawan karena mereka telah mati untuk membela sesuatu. Namun, jika kita benar-benar jujur, pernahkah perdamaian sejati terwujud di muka Bumi? Pada level intelektual, kita mampu merumuskan perdamaian, menyusun klasifikasi seorang pahlawan, bahkan mempabrikasi konsep kemerdekaan. Namun pada level mental, jika kita benar-benar jujur, pernahkah perdamaian sejati terwujud dalam batin kita? Ada satu perang yang sudah ada sejak manusia ada, Bharatayuda yang sesungguhnya, yakni perang melawan diri sendiri.

Setiap saat kita memasuki ajang pertempuran. Saat kita membuka majalah atau nonton teve, kita digempur dengan berbagai potensi perang batin. Waktu kita melihat sesuatu yang kita suka atau tak suka, kita berkonflik antara mengejar dan menolak. Perempuan yang merasa terancam oleh keriput lantas berperang melawan penuaan dengan serum dan botox. Perempuan yang percaya bahwa lebih putih berarti lebih cantik akan berperang melawan melaninnya dengan krim pemutih. Melihat mereka yang lebih sukses dan lebih berpengaruh, kita lantas bertempur dengan keinginan dan hasrat untuk ikut lebih. Setiap hari kita dijajah oleh keinginan baru, harapan baru, dan timbullah konflik baru. Lalu, siapakah pahlawan yang kita harapkan untuk perang tak berkesudahan ini?

Menyimak film-film superhero, saya memperhatikan bahwa masyarakat dalam film-film itu digambarkan menaruh harapan tunggal mereka pada sang pahlawan, entah itu Batman, Superman, atau Spiderman. Begitu ada kejahatan merangsak, mendadak polisi lemah, tentara terlambat datang, dan semua orang pun berharap cemas menanti superhero muncul.

Dalam kehidupan nyata, cerminan itu pun tak jauh berbeda. Tak heran konsep seperti Ratu Adil atau Ksatria Piningit selalu laku, karena kita cenderung berharap ada tangan lain yang menyelesaikan masalah kita. Kita menaruh harap pada PBB, pemerintah, parpol, dan tokoh-tokoh besar untuk menyelesaikan problem dunia. Dalam interaksi pribadi pun demikian, kita berharap kitalah yang dimengerti, dipahami, agar problem selesai dengan sendirinya.

Namun, pernahkah kita merenungi, bahwa di jantung sebuah konsep besar bernama bangsa, suku, ras, agama, yang bersemayam sesungguhnya adalah individu-individu? Dan pada seorang individu, jika dilucuti satu per satu, kita akan bertemu dengan motor penggerak bernama ego? Ketika terjadi peperangan di mana pun, atas nama apa pun, sesungguhnya kita tengah menyaksikan peperangan antar ego, antar ‘aku’ yang masing-masing merasa paling penting.

Ribuan tahun sudah manusia diatur oleh aneka sistem moralitas, tapi perdamaian sejati—baik di muka Bumi maupun di dalam batin—tak pernah terwujud. Sejak kecil saya diberi tahu bahwa bangsa Indonesia terkenal rukun karena toleransi. Namun jika kita tilik ulang, toleransi yang kita kenal adalah: aku menghargai kamu selama kamu tidak mengganggu aku. Kita tidak dibiasakan untuk apresiasi, yakni: aku menghargai kamu apa adanya. Perdamaian yang kita kenal adalah perdamaian yang berbasiskan toleransi, bukan apreasiasi. Perdamaian toleransi adalah perdamaian yang rapuh, karena diberlakukan syarat di sana. Saat syarat itu disinggung, si ‘aku’ disinggung, perdamaian pun luruh seketika.

Begitu jugalah kita kerap memberlakukan diri kita sendiri. Menerima diri apa adanya merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Kita memberlakukan banyak syarat bagi diri kita: ‘saya baru menyukai diri saya kalau ukuran tubuh saya sekian’, ‘saya baru pede kalau saya naik mobil merk anu’ dan daftar syarat ini seolah tak ada ujungnya. Setiap hari kita menambah daftar baru. Setiap hari kita berperang dan bersitegang. Dan dalam perang yang satu ini, tak ada superhero yang akan datang dari balik awan untuk menyelesaikan konflik kita. Tidak ada siapa-siapa di sana, selain diri kita sendiri.

Inilah perang paling relevan dan selalu relevan dari ke zaman ke zaman. Inilah ibu dari segala konflik yang ada di muka Bumi. Namun seringkali kita luput melihat hubungan antar ‘aku’ yang di dalam dengan ‘aku’ yang ada di luar, sehingga kita cenderung berpangku tangan dan terbuai dalam ketidakberdayaan kita. Kita sibuk mengutak-atik ‘aku’ yang di luar tanpa membereskan ‘aku’ yang di dalam—sumber konflik yang sesungguhnya.

Seorang pahlawan sejati dibutuhkan di sini. Seorang pahlawan yang berani masuk ke dalam batin untuk menyingkap egonya sendiri. Seorang pahlawan yang berani ‘mati’ demi perdamaian sejati. Seorang pahlawan yang mau sejenak melangkah mundur dari jerat konflik eksternal dan memasuki arena pertempuran yang sesungguhnya. Dan pahlawan ini akan bertempur tanpa imbalan jasa dan pengakuan apa-apa. Tidak ada siapa-siapa di sana. Namun inilah pertempuran yang paling riil, tepat di bawah hidung kita sendiri tanpa disadari.

Pada Hari Pahlawan, selalu kita diimbau untuk sejenak mengheningkan cipta. Pada hari ini, maukah kita sejenak duduk diam, mengheningkan cipta, dan melihat peperangan di dalam batin? Maukah kita turun tangan dan menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri? Ataukah kita kembali melihat ke balik awan, menunggu sang pahlawan yang tak kunjung tiba…

28 Comments

  1. Bodhi Taruna Profile said,

    October 9, 2007 at 7:38 pm

    Pahlawan sejati bukan hanya simbol maupun status bagi individu yang berjasa secara tindakan. Namun sifat tanpa pamrihlah yang membuat dia pantas disebut pahlawan sejati, pahlawan sejati yang bijaksana.

    Salam Hangat,

    Bodhi Taruna
    http://www.successandwisdom.blogspot.com

  2. annisha said,

    October 9, 2007 at 9:53 pm

    Tulisan yang sangat mencerahkan, terasa seperti Mbak Dewi sedang menerima curhat saya dan memberi arahan dihadapan saya langsung. Terimakasih Mbak Dewi.

  3. aLiaasmara said,

    October 11, 2007 at 2:14 am

    Syarat jd pahlawan tuh cuma NYALI lg. Berani ikut campur atas nama kemanusiaan/keadilan/kebenaran, berani ikut dimusuhi, berani meresikokan piring anak utk harga diri, berani!
    lalu berani utk buntut2nya gak diakui, dilupakan, bahkan dikhianati!
    dan yg terakhir msh punya nyali utk tetap hidup, dan berbuat lg, jd pahlawan lagi. terus… dan terus…!

  4. Putra said,

    October 15, 2007 at 9:22 pm

    Menurut saya kak, sumber semua masalah di dunia kalau boleh dibilang, karena keterikatan manusia dengan hal-hal materil. Juga karena ketidak perdulian mereka terhadap hal-hal yang justru sebaliknya penting. Saya setuju banget kalo setiap manusia lebih memilih egonya diri sendiri jauh di atas segalanya, karena kita semua ingin hidup sebaik-baiknya. Walaupun sebetulnya saya ga seharusnya meng-stereotype semuanya, tapi berhubung mayoritasnya seperti itu. Apa boleh buat.

    Mungkin contoh yang paling ideal bisa ditemuin di dunia politik. Berapa banyak dari masyarakat dunia yang sesungguhnya perduli dengan apa yang diam-diam dilakukan pemerintahnya? Nambah lagi kan berkurangnya kemungkinan tercapainya perdamaian dunia.

    Saya sendiri sebetulnya ga mengerti soal politik (politik bisa pakai logika juga kan), tapi berhubung sekarang lagi ngambil kelas political science, karena sedikit tertarik saya akhirnya sedikit tahu, tentang sistim demokrasi representatif di Amerika (negara nomer satu di dunia, heh). Sistim pemerintahannya diberi kuasa oleh rakyat yang memilih pejabat-pejabat untuk menjalani negara itu. Dipotong pendek aja, suara rakyat jadi penting sekali, apalagi yang mayoritas.

    Balik lagi ke ego manusia, logikanya, belum tentu pejabat-pejabat yang dipilih itu baik. Apalagi untuk Amerika, negara yang mempunyai banyak pengaruh di bumi ini. Siapapun yang terpilih pasti menginginkan yang terbaik untuk Amerika, tapi bagaimana dengan dunia? Sedangkan rakyatnya semua percaya-percaya aja, bahkan di buku pun diakui kalau seringkali opini rakyat bisa dimanipulasi! Kalo boleh dicontoh, perang irak yang masih belum selesai-selesai kan tujuan sebetulnya bukan karena Almarhum Saddam Hussein punya senjata pemusnah massal. Memang Ia seorang diktator jahat, tapi Ia juga jatuh menjadi korban sebagai kambing hitamnya Amerika. Sementara itu rakyat Amerika dikibulin kan? Nah, setiap kali rakyat dikibulin melulu, dari perang vietnam dan entah apa lagi. Lalu bagaimana dengan Indonesia tercinta, begitu korup pemerintahannya.

    Aduh, saya jadi bingung mo lanjutinnya bagaimana. lol. Rakyat salah, pemerintah juga salah. Semuanya salah. Makanya saya bilang satu-satunya sumber masalah di dunia (perang, terorisme, dll), itu karena idealisme setiap kita yang beraneka ragam, yang mengandung unsur-unsur materialistik di dalamnya.

    Betul kata yg di atas, syaratnya jadi pahlawan cuma nyali.

    Tapi nyali bagi saya bukan untuk berani ikut campur, karena itupun juga sama sia-sia! Yang paling susah itu nyali untuk bisa melepaskan diri dari keterikatan materialistik, itu saja. Walau memang secara logika tidak mungkin, kecuali jadi orang hutan, tapi setidaknya meminimaliskan ketergantungan kita dengan sumbernya.

    Haih~ maap saya sendiri heran belom selesai-selesai juga nih yang diomongin. lol. Ngomong-ngomong, kenapa nyali untuk berani ikut campur dari sudut pandang saya itu salah? Gampang jawabannya, karena kalau kita ikut campur, bisa-bisa senasib sama Bapak Ahmadinejad, yang bersama semua pihak yang terkait menyumbangkan satu lagi permasalahan ke dalam kumpulan masalah-masalah dunia yang sudah sekian lama belum dapat diselesaikan baik-baik. Berhubung saya mengungkit Bapak itu, justru malah gak akan ada selesainya permasalahan ini. Bisa-bisa nanti malah membahas terorisme juga, globalisasi, dan seterusnya.
    Sekian.

    >.<”

  5. snowy said,

    October 15, 2007 at 10:29 pm

    wah kalo menurut saya pahlawan itu adalah sikap ke-tulusan dan tanpa pamrih, sikap itu dimiliki dalam diri kita semua tinggal bagaimana kita memilihnya : menjadi pahlawan kesiangan, pahlawan yg gugur sia-sa, pahlawan yg berguna bagi yg membutuhkan (^_^)

  6. chindy said,

    October 18, 2007 at 12:07 am

    My Assistant told me, was it worthy enough if she one self, just only her do disposal waste? She really eager to know, what ONE can do to make a change. Will it really work? Then, she told me again, in hopeless tone…its uselless.

    This big big Question also ever came by and seemingly put a mission impossible when you wanna start do something and you feel only you wanna do that…

    Jane Godall said, the greatest danger to our future is apathy. We cannot expect those living in poverty and ignorance to worry about saving the world. For those of us able to read this magazine, it is different. We can do something to preserve our planet. You may overcome, however, by feelings of helplesness. You are just one person in a world of 6 billion. How can your actions make a difference? Best, you say, to leave it to decisions makers. And so you do nothing.

    Can we overcome apathy? Yes, but only if we have hope. A-Ha! That’s the key word, IF ONLY WE HAVE HOPE;)

    Today Oct 18 2007 12.10, when we had lunch at Milas, friend of mine, Irwan told me that there is someone in Taman Bangirejo, old woman, who consistently creates cotton bag, and give it to her neighbour, with one message,”please leave our plastic bag, use this,” all my thumbs up to this woman, she is the real hero…hero for our own hope, never give up..optimalize our ingenuity. Each of us have given a great talent in solving problem. There is always a way, when we wanna ask and ask then observe each problem, anamnese it then diagnose with multiple choice treatment planning that we can choose, make it plan A to Z;)The the easiest way in my experience, start from your empathy, that will inspire an endless ideas..the real idea A up to Z will come easily, line one by one right in front of etalage mind, then just read it;)
    Dee, this scracth I do send it to my blog concern on enviro issue, onlyoneearth.wordpress.com ( i try to express it in english languange) with my centang perenang english grammar, pede aja lagi…modal utama nekat, malunya disimpan dulu,hehe…
    mampir kalo sempat ye..
    btw kampanye global warming yang bareng Onthelis 17-18 November, Dee bisa bantu sebagai narasumber di simposiumnya ngga ya?

  7. alwaysmommo said,

    October 18, 2007 at 9:01 am

    wah,,, benar-benar tulisan keren… tapi menurutku walaupun kedamaian sejati tak pernah ada, bukan berarti mereka bukan pahlawan. tapi memang perjuangan tersulit yang mesti dihadapi manusia adalah dirinya sendiri.

  8. DooHaN said,

    October 18, 2007 at 11:01 am

    Pahlawan sejati itu seperti angin berhembus tapi tak pernah bilang bahwa dia baru saja berlalu.
    Seperti matahari yang bersinar tanpa lelah, tapi tak pernah bilang bahwa dia sedang bersinar.
    Dan kita… terkadang lupa untuk berterima kasih karena sudah diberi sesuatu yang terkadang tak pernah kita minta padahal sangat kita butuh.

    Memaknai hari pahlawan, dan arti pahlawan sejati, saya teringat tayangan-tayangan tv tentang para veteran kita yang ‘mati enggan hidup pun tak mau’ karena beban ekonomi…
    Apakah yang sudah kita lakukan untuk mereka?
    Apakah sebuah bintang jasa sudah dirasa cukup untuk untuk membayar harga sebuah kaki yang harus diamputasi hanya karena sebuah kata berjudul proklamasi?
    Ataukah kita kita tetap berpikir bahwa mereka memang ‘matahari yang bersinar tapi tak pernah berkata aku bersinar’…?

  9. ______________________ said,

    October 21, 2007 at 10:43 pm

    Mbak Dee, membaca esei ini saya jadi ingat Thomas Carlyle dalam The Hero as Poet, dia bilang, “…the Hero can be Poet, Prophet, King, Priest or what you will, according to the kind of world he finds himself born into.”

    Ya, dalam syarat (menjadi) pahlawan yang ditawarkan Carlyle itu, seharusnya kita semua menjadi pahlawan. Setidaknya untuk diri kita sendiri, untuk dunia ‘kita’ (‘aku’)—yang ternyata berelasi dan berkorelasi dengan dunia ‘orang lain’, dengan dunia yang terhubung seperti jaringan kromosom yang mementuk DNA kehidupan, membentuk semesta.

    Dalam kesadaran mengubah diri, sesungguhnya kita tengah menyumbang sebuah tarikan napas untuk perubahan dunia. Dalam setiap niat transformasi, sesungguhnya kita tengah menyumbang sebuah gerak untuk apa yang disebut sebagai ‘the great transformation’.

    Jika kesadaran transformatif semacam itu sudah muncul, tentu kita tak perlu menunggu superman datang dari balik awan, kita tidak perlu menunggu yang lain. Kita hanya perlu menunggu sebuah keputusan datang dari dalam diri kita sendiri, untuk menjadi penyelamat atau menunggu diselamatkan.

    Air bah sudah datang, gunung-gunung meletus bergiliran, dan bumi kian rapuh saja. Apalagi yang kita tunggu? Segeralah tentukan pilihan itu. Bila masih sulit, kenangkanlah wajah Romain Rolland yang pernah bilang, “…a hero is the one who does what he can. The others do not.”

    Adakah yang bisa menggantikan peran ‘aku’ sebagai ‘aku’ bila ‘aku’ ternyata tak pernah melakukan sesuatu? Bila ‘aku’ ternyata tak pernah menjadi subjek ‘aku’ itu sendiri.

    Salam,
    Fahd

    PS. Mbak, jika setiap orang sudah menjadi pahlawan, bukankah tak akan pernah ada lagi pahlawan? Sebab bukankah ia tak lagi istimewa jika lebur menjadi milik semua? Dan, bukankah ‘heroes can’t stand side by side’? Jika sudah begini, jangankan perdamaian atas dasar apresiasi tercipta, toleransi pun tak!

  10. Indra said,

    October 24, 2007 at 9:23 am

    tak ada pahlawan sejati ….. seorang Nabi pun ber-pamrih-kan Surga…

  11. SPIDOLHITAM said,

    October 24, 2007 at 5:44 pm

    lol …. baca tulisan dee … trus baca komentar2 … pahlawan di pagi hari … malam … jadi maling … ah … dee … kalau lagi malas … biasanya ngapain ?

  12. anggunpribadi said,

    October 25, 2007 at 9:04 am

    halo mbak dee,
    Buat saya pahlawan pada jaman sekarang adalah individu yang berani untuk bertindak! Bergerak dan mau melakukan perubahan sekecil apapun menuju sesutu yang positif.
    Nice writings by the way, saya ndak pernah tau kalau mbak dee punya blog juga.. jejejejeje..

    *mari menanam pohon*

  13. Himura™ said,

    October 25, 2007 at 6:09 pm

    Pahlawan itu ada. Dia adalah sosok yang hidup dan di hidupi oleh pikiran manusia.

    Pikiran baik, Rasa sayang, Tulus adalah beberapa contoh pupuk yang baik untuk sang Pahlawan. Pahlawan akan tetap hidup selama makanannya terpenuhi.

  14. Anonymous said,

    October 26, 2007 at 4:12 am

    a self-experience:

    dalam 2 hari terakhir, saya merasa benar-benar tertampar. dalam benak saya, saya berpikir: “apakah benar saya dapat dikatakan sebagai seorang manusia?” saya merasa telah perlahan-lahan membunuh rasa kemanusiaan saya sendiri. saya tidak bisa menjadi “a hero” bagi orang lain yang membutuhkan,bahkan yang lebih buruk – tidak bisa menjadi seorang hero bagi diri saya sendiri!!

    kemarin ketika sedang berbaring-baring dalam kamar saya ditanya oleh salah seorang kakak saya yang tiba-tiba masuk. dia (she) bertanya: “tua(nama kecil saya), apakah lu benar-benar benci c’ling (nama panggilan saya padanya)??” saya tidak bisa langsung menjawabnya. dalam hitungan detik beberapa pikiran melintas dalam benak saya – berusaha mengingat-ingat apa saja yang pernah dia lakukan/katakan/pikirkan terhadap diri saya dan sebaliknya. jadi saya tetap diam… dia bertanya lagi: “kok ngak dijawab? jadi benci atau sayang?”

    susah juga menjawabnya. banyak hal yang saya kira cukup menyakitkan hati. apalagi dia juga mantan ketum VS- harus saya akui banyak keingintahuannya mengenai adiknya yang satu ini.. bila kita tidak menjawab (atau tepatnya merasa malas menjawab pertanyaan2nya karena merasa percuma menjelaskan kepadanya) kita yang akan disalahkan dan dia dengan sendirinya akan mencari jawaban di luar dan bertanya kembali. senang memerintah dlsb.. kalau boleh jujur, walaupun saya seorang buddhis, tapi saya harus mengakui bahwa rasa jengkel itu ada. bahkan sebersit rasa benci pun ada. jadi saya tidak bisa menjawabnya… takut kalau menjawab dengan jujur akan sulit diterima oleh saya sendiri (kalau bagi dia sih, saya yakin dia orang yang “to the point” dan akan menyelesaikan permasalahan ini – mungkin dengan pergi jauh atau bagaimana…. intinya saya sendiri yang tidak berani menerima konsekuensinya)… mau berbohong pun percuma – tidak akan saya lakukan. jadi yang bisa saya lakukan hanya menatap matanya dan tersenyum cengar-cengir tanpa arti yang jelas. akhirnya dia menyerah juga….
    inilah kejadian pertama yang membuat saya bahkan tak bisa menjadi “a hero for myself”

    kemudian malam harinya saya datang ke vihara vidyaloka untuk melohat persiapan/gladi kotor perayaan kathina (salah satu perayaan buddhis). lagi saat itu ada tamu, seorang wanita umur 21 (maybe) bersama ibunya. kedatangan mereka memiliki maksud tertentu. dan karena malam sudah sewajarnya mereka dipersilakan menginap (mereka dari semarang). namun karena “keanehan” dari si wanita dan adanya satu hal menyebabkan dia dan ibunya akhirnya pulang tanpa pamit (dan saya tidak tahu akankah mereka pulang sampai rumahnya?).. mereka bukan orang kaya saya kira, kemana mereka akan menginap (waktu sudah menunjukkan pukul 10 lebih). saya sendiri tidak tahu sebab pastinya mereka pergi dan tidak menyadari kepergian mereka sampai dikatakan oleh salah seorang teman… saya berpikir: apakah pantas kita “mengusir” mereka apalagi pada waktu malam begini dimana tidak ada lagi bus ke semarang?.. pikiran ini menghantui saya bahkan sampai tadi pagi..
    intinya saya tidak melakukan apapun bagi mereka sebagian karena saya takut pada sikapnya yang aneh, sebagian lagi karena saya pengecut (ha-ha-ha– saya harus menulis ini dengan sedih karena ternyata saya tidak seberani yang saya kira untuk menerima konsekuensi2 dari tindakan saya)

    kejadian hari ini. saya dan papa saya (yang kebetulan datang dari jambi) sedang berjalan kaki mencari studio rekaman. tempatnya dekat dengan rumah saya di jl. gejayan. ketika hendak pulang, saya dan papa melintasi jembatan merah. disana saya melihat di depan saya berjalan seorang wanita muda berjilbab putih dengan tongkat di tangan kanannya – berjalan sambil menepuk-nepuk lembut tongkatnya pada agregat-agregat aspal yang membatu. segera saya menyadari bahwa wanita itu buta. terbesit keinginan saya untuk membantunya (saya kira dia hendak menyeberang jalan, namun ternyata dia sedang menunggu bus). namun LAGI!! hal ini tidak saya lakukan… saya terus berjalan bersama ayah saya yang kelihatannya tidak menyadari hal ini. kami menyeberangi jalan sementara dengan pikiran bergulat saya terus-terusan menoleh ke samping kemudian ke belakang – melihat wanita tersebut. kasihan sekali dia, beberapa bus sempat lewat namun dia selalu telat dan dengan tangan kanan terangkat sebagian, memohon agar supir bus menghentikan laju mobilnya. tapi kejadian berikutnya saya tidak tahu…. saya sudah jauh kala itu.. yang jelas terbayang dalam ingatan saya adalah rautan wajah wanita itu ketika hendak menghentikan bus, begitu pasrah ketika busnya hanya melewatinya.
    lagi ini adalah kekalahan saya dari diri saya sendiri. saya telah membunuh rasa belas kasih saya kepada orang lain secara perlahan2.. di lain pihak saya juga tidak bisa menjadi seorang hero bagi wanita itu (ada rasa takut kalau nantinya dia akan merepotkan saya- rasa yang sedikit banyak menghalangi saya bergaul dengan orang-orang cacat- i’m sorry, really…)ketika sampai di rumah dalam hati saya berkata: lain kali saya akan melakukannya!! pasti!! pasti!!. (tapi untuk teman-teman tahu, saya sudah mengatakan hal serupa puluhan bahkan ratusan kali mungkin – mana mungkin saya ingat?!)

    terlalu banyak kesempatan yang telah saya lewatkan untuk menjadi seorang hero bagi orang lain. terlalu banyak kebajikan yang seharusnya bisa saya lakukan tetapi saya tunda-tunda hanya karena rasa pengecut saya (am i a chicken?) apa yang dapat saya lakukan tapi tidak saya lakukan hanya karena saya merasa tidak siap menerima konsekuensinya..
    sekarang, menulis inipun membutuhkan dorongan yang besar bagi saya, saya merasa terus dihantui oleh kejadian2 ini.
    saya kira banyak juga orang yang pastinya belum bisa menjadi hero bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri…(untuk itulah saya menulis ini)
    2 hari ini menjadi pengalaman tak terlupakan (sekarang sikap saya biasa saja dengan kakak saya, namun ……. – ahh, entahlah) sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi saya karena saya akhirnya benar-benar menyadari bahwa saya telah berusaha mencoba membunuh diri saya sendiri. tapi lebih baik terlambat menyadarinya daripada tidak sama sekali bukan?! saya benar-benar berharap kedepannya (ah tidak!! mulai dari detik ini!!) saya bisa menjadi hero bagi orang lain terutama bagi diri saya sendiri…

    sekian dan doa’kan ya
    thanks berat buat tulisan mba dewi dan teman2 lain yang mencerahkan

    may u be happy
    may all beings be happy

    hansen_zinck
    26 okt 07 (masa2 ujian mid bagi saya), DI Yogyakarta

  15. chindy said,

    October 28, 2007 at 2:55 am

    Dee,
    Kemarin saya ngobrol2 dengan pak Harjono…sampai pada topik aturan nir kekerasan sekecil apapun pada setiap umat yang hendak menunaikan ibadah haji di tanah suci. Ada yang bilang, itu hanya aturan saat di tanah suci. Terbersit tanya dalam diriku, adakah sejengkal tanah yang layak kita katakan kurang atau tidak suci di atas muka Bumi ini? Bolehkah saya memilih percaya, tidak ada sejengkal tanah pun di muka Bumi ini yang tidak suci, SEMUA SUCI adanya. Seperti utopia yang diajarkan dalam doa yang satu-satunya diajarkan langsung oleh Kristus, Doa Bapa Kami…jadilah kehendakMu, di Bumi seperti di Sorga.
    Eksperimen pikiran apa yang terbetik dalam alam pikir kita jika membayangkan sorga… bagi saya sorga adalah jalan panjang meniti HARMONI DALAM DIRI.
    Utopia yang sama tersirat dalam aturan naik haji, tidak boleh melakukan kekerasan sekecil apa pun. Tidak boleh mematikan binatang sekecil semut sekalipun bahkan tidak boleh mematahkan ranting pohon. Kekerasan terhadap sebatang pohon pun TIDAK BOLEH. Hingga kekerasan yang mungkin timbul dalam hati, pikiran dan niat semua kudu dijaga dengan awas. Selama naik haji, tali kendali niat tidak boleh kendur sedikitpun. Niat, ekstra ketat dipantau. Rasa suka, tak suka tak diumbar sapenak dhewe. 24 jam kudu eling.
    Bolehkah saya membaca aturan ini hendak mengajak manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Mengenali semua bentuk kekerasan yang mungkin telah, sedang atau akan ditimbulkan dalam niat, rasa dan pikirnya,hingga dalam rupa yang terhalus..menuju kedalaman DIRI, menungso tenanan, dudu manungso dadi-dadian
    Menungso sing bagas nan waras,
    Titipan buah kebijaksanaan dari Sang Bhagavan mengajak kita berperang, bergelut merobek kulit muka sendiri dengan 3 jenjang sila untuk membedah kebodohan tingkat jasmani, samadhi untuk membongkar kebodohan tingkat pikiran dan perasaan, lalu prajna sang maha guru yang dengan sangat teliti, jeli menyaring semua persepsi, melampauinya. Tongkat yang mutlak dipakai sebagai penuntun adalah kejujuran.
    Jujur menyelidik dan mau mengakui ketelodoran, kecerobohan bersikap, berbicara.
    Dee, saya masih mendua. saya sibuk berkoar-koar tentang apresiasi, sudah saatnya memahami orang lain dari ukuran orang itu sendiri, jangan sekali2 menjejerkan apalagi memaksakan ukuran kita sendiri. kita hanya akan menghakimi. Namun berhadapan dengan kenyataan, saya tidak pernah benar-benar tau apa arti apresiasi, ketika harapan yang kita taruh pada seseorang pupus, berlalu. tak rela rasanya. kecewa dan akhirnya sejuta prasangka dipelihara subur dalam hati, padahal sebuah reaksi pasti karena ada sebab, meski diri sendiri yang salah, hampir selalu mencari pembenaran, pembelaan malah melimpahkan sebab pada orang lain. Menghakimi juga jatuh-jatuhnya. saya mencoba belajar tidak sibuk dengan kecewa, kenapa tidak berkutat pada solusi. intropeksi. pasti ada yang tidak beres. cari tau. ingat yang benar, agar kesalahan yang sama tidak terulang.
    Rasanya untuk jenjang samadhi, saya butuh lompatan kuantum. masih terlalu jauh untuk saya, tapi bukan hal yang mustahil. memasang mata pada semua gerak rasa dan pikir sendiri. belajar noto rasa dan noto ati. level ini, hampir tidak ada jejak sesal yang mengikuti tiap ucapan dan tindakannya, karena telah disaring denga sedemikian selektif. hati yang telah intim dengan dirinya sendiri
    saya ingin serius Dee, serius membedah diri…semoga
    bagi saya Dee adalah sosok yang sangat keras berupaya jujur pada dirinya sendiri
    terima kasih untuk inspirasi ini Dee…

  16. tan_intan said,

    October 28, 2007 at 11:43 pm

    gak nyangka kalo hero itu bisa macem2 bentuknya, bahkan ternyata kita sendiri bisa jadi hero,
    gak nyangka juga apa yang ditulis hansen_zinck bener2 pernah aku alamin juga,
    be a hero for ourselves, kenapa ga kepikiran ya?

    thanx dee, thanx all!

  17. Anonymous said,

    November 1, 2007 at 5:21 am

    Just love it!!! Simple but it’s deep..It gave me a little bit of reflection, and slalu manggut2 pertanda setuju dari awal hingga ke akhirnya..so Love ur writing style.

  18. nadia febina said,

    November 2, 2007 at 10:43 am

    bravo! love it, dee.. :)

    perdamaian di dalam diri sendiri, berdamai dengan diri sendiri.. melepaskan ego dan keinginan… tidaklah kita bisa mencapai tujuan sejati kalau masih direpotin oleh urusan ego dan keinginan2 ini.. :)

  19. wiwit said,

    November 13, 2007 at 8:04 pm

    menurut saya pahlawan zaman sekarang adalah orang yang mampu membangun citra,asal punya uang dan kekuasaan citra kepahlawanannya bisa diciptakan oleh media atau para publik relation-nya.berapa banyak para koruptor yang beristirahat di taman pahlawan?kepahlawanan mereka bersifat populis.jasanya hanya bisa dinikmati oleh diri sendiri paling tidak para kroninyalah,disisi lain untuk mempertahankan citra kepahlawannnya ini minta korban, alasannya bisa untuk nainalisme atau pembangunan.tetapi secara tidak sadar,kadang kala kita kagum kepada pahlawan seperti ini.

    sedangkan pahlawan sejati, biasanya tidak pernah atau jarang lah di ekspos media.meskipun kita merasakan jasanya,kita jarang sekali berterima kasih atau paling tidak menghargai jasanya.nilai dari pahlawan sejati ini,tidak bisa di ukur oleh materi, tapi valuenya terletak dari seberapa banyak orang dapat merasakan manfaatnya + seberapa banyak hati yang terketuk untuk melahirkan kebaikannya yang lain.

    pak sariban,bung tomo,andrea hirata,bu muslimah secara formal mereka tidak diakui kepahlawannya oleh negara, tapi berapa banyak orang yang terinsirasi oleh beliau-beliau ini.

    termasuk teteh kita ini,teh dewi,si gadis metropolitan tatar parahyangan.marah ga ya orang batk enggak ah si mbak ini milik universal (sekarang yang marah keenan sama kang marcel pahlawannya jadi milik universal…. :D :D:D

  20. windede said,

    November 15, 2007 at 9:38 am

    yang dimaksud pahlawan di republik ini adalah daftar nama dalam salinan undang-undang, juga sederet batu nisan yang hanya ramai dalam seremoni setahun sekali, di sebuah tanah senyap bernama taman makam pahlawan.

  21. Aska said,

    November 18, 2007 at 10:20 pm

    Menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri…
    Ini salah satu pelajaran lagi yang aku dapat lewat epilepsi. Tapi aku nggak berani bilang bahwa pendapatku ini bener 100%, tapi untuk saat ini, menurutku ini bener. Entahlah kalau nanti, besok, lusa, minggu depan, atau kapan, pikiranku berkembang lagi, mungkin ada sedikit revisi dari pendapatku ini.
    Mungkin saat ini aku udah bisa melewati tahap untuk bisa mencintai diri sendiri sebagai epileptic. Aku berani bilang bahwa aku adalah penderita epilepsi, setelah aku berperang melawan ketidak-PD-an dan rasa rendah diri sebagai epileptic. Dan suatu saat nanti ketika aku ketemu sama pujaan hatiku aku juga ingin bilang ke dia, bahwa kalau memang ia mencintaiku apa adanya, bisa ikhlas menerima kekuranganku sebagai epileptic, maka kami akan melanjutkan hubungan kami ke tahap selanjutnya. Huufff…..kesannya aku udah bisa berperang melawan diriku sendiri karena aku udah bisa mencintai diri sendiri.
    Tapi apa perjuangan perangku melawan diriku & egoku cuma sampai sini aja? TIDAK….masih ada tahap perjuangan selanjutnya. Mungkin ini perang yang lebih berat lagi. Berperang ketika diriku sudah merasa menang. Perang melawan epi mungkin bisa di bilang menang. Dan kini aku harus perang lagi melawan ego-ku yang berpindah ke sisi lain. Apa aku cukup nunggu pujaan hatiku bilang : “aku mencintaimu apa adanya“, setelah aku selesai berperang melawan rasa malu sebagai epileptic. Nggak cukup semua itu kayaknya.
    Aku tahu bahwa dia juga berperang melawan ego-nya sampai akhirnya bisa menerimaku apa adanya, dan rasa cintanya mendorongnya untuk memberikan yang terbaik bagiku. Tapi…..apa yang aku beri ke dia?? Perjuanganku sebelumnya hanyalah dariku, olehku, dan untukku semata. Buat dia??? Nah mungkin inilah yang tadi aku sebut sebagai perjuangan selanjutnya.
    Aku tentunya juga harus memberi yang terbaik buat dia, buat kami. Yaahh….bisa dengan meningkatkan kualitas hidup, merubah gaya hidup sehat, “menghidupkan kembali“ syaraf-syaraf perasaanku yang “gak jalan“ dan tertutup oleh gangguan epi di otak, melanjutkan studi yang hampir saja terhambat gara-gara epi, dll.
    Walaupun mungkin epi masih bisa menyerang, paling nggak aku juga harus berjuang untuk meraih sesuatu demi dia, dan demi masa depan kami. Ada satu message yang bagus dari buku yang dibaca temenku : jangan menjadikan epilepsi sebagai excuse untuk menjalani hidup ini dengan keterbatasan yang dimiliki oleh para epileptic.
    Setelah aku bisa melewati perjuangan melawan diriku sebagai epileptic, sekarang saatnya aku memulai sebuah perjuangan melawan egoisme, kemalasan, ketidak-PD-an ku, untuk menjadi aska yang lebih baik. Untukku sendiri, keluarga, teman-teman, dll.
    Perjuangan tanpa henti……di manapun dan kapanpun

    Thanks for inspirasinya mbak dewi….

  22. cuek ajalah said,

    December 3, 2007 at 3:36 pm

    saya adalah pahlawan yang telah bisa membunuh hati sehingga dia tak pernah lagi berontak.

  23. chindy said,

    December 11, 2007 at 7:27 am

    Ini baru berita Dee!
    Kemarin, senen(10 Des 07) di forum UNCC-Bali, anggota Children in Changing Climate (CCC) Programme mengutarakan pendapat mereka untuk turut berpartisipasi mengatasi perubahan iklim, berkomitmen.”Kami Siap Hidup Tanpa Hamburger”
    Juga seperti yang dilansir the Jakarta Post, 8 Des 07
    Which is worst for environment?
    a. Car
    b. livestock
    c. planes
    Livestock are responsible for 18% of the greenhouse gases that cause global warming-more than cars, planes and all other forms of transport put together (sourced from a 2006 report called Livestock’s Long Shadow issued by Food and Agricultural Organization of the United Nations)
    Go! Go! Gooo Veggie!

    Btw, kite2 ada tawaran lagi(ini diluar tawaran yang Earth Day, 22 April ya) untuk gelar kampanye Global Warming di Pusat Bahasa Atmajaya antara 11-16 feb 08 besok, tema besarnya seputar budaya mengerucut ke isu Konsumerisme. Moga2 kali ini Dee bisa ikut gabung yee,(proposal nyusul kalo ude fix)
    ciayo!

  24. paul dinardi said,

    December 30, 2007 at 5:51 am

    enjoy the writings…thank u

  25. Setra said,

    March 15, 2008 at 8:09 pm

    mengapa saya selalu tertarik dengan topik seperti ini?
    saat mencipta lagu pun masih saja ada perasaan untuk menyenangkan orang lain dan diri sendiri. Selalu ada persaan membedakan bahwa lagu si A bagus sementara yang lain tidak, bahwa lagu saya bagus dan orang lain akan menyukainya.
    Bagaimana menjadikan nada itu seperti itu apa adanya?

    Well, saya harus mengalami keadaan yang itu, paling tidak secuil sajalah

  26. Paulina said,

    March 20, 2008 at 9:16 pm

    Very Nice Article also all comments, very inspiring…Salam Kenal Mbak Dee

  27. Anonymous said,

    April 18, 2008 at 7:43 am

    always love your writing..!! always give me an inspiration and reflection..
    thx
    NB: eager to read the 4th supernova..^^

  28. Hadi Blogger said,

    May 27, 2008 at 12:20 am

    Dee Wrote:
    Dalam kehidupan nyata, cerminan itu pun tak jauh berbeda. Tak heran konsep seperti Ratu Adil atau Ksatria Piningit selalu laku, karena kita cenderung berharap ada tangan lain yang menyelesaikan masalah kita. Kita menaruh harap pada PBB, pemerintah, parpol, dan tokoh-tokoh besar untuk menyelesaikan problem dunia. Dalam interaksi pribadi pun demikian, kita berharap kitalah yang dimengerti, dipahami, agar problem selesai dengan sendirinya.
    ==================================
    Me:
    Iya bener, kalau ada mitos seperti itu sepertinya kita ingin membebankan semua beban masalah kita ke pundaknya. tapi kita adalah manusia biasa yang selalu diliputi masalah dan kekurangan. Kalau ada ksatrio piningit atau ratu adil sebaiknya diperlakukan sebagai manusia biasa yang bisa salah juga. kalau dia ada idea dan memang ditakdirkan jadi pemimpin, kita wajib bantu semampu kita.

    Wassalam,

    Hadi

Post a Comment