<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: </title>
	<atom:link href="http://www.dewilestari.com/b/2007/10/09/59/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/10/09/59/</link>
	<description>an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Dec 2011 03:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>By: Hadi Blogger</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/10/09/59/comment-page-1/#comment-1145</link>
		<dc:creator>Hadi Blogger</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 May 2008 08:20:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=59#comment-1145</guid>
		<description>Dee Wrote:&lt;br/&gt;Dalam kehidupan nyata, cerminan itu pun tak jauh berbeda. Tak heran konsep seperti Ratu Adil atau Ksatria Piningit selalu laku, karena kita cenderung berharap ada tangan lain yang menyelesaikan masalah kita. Kita menaruh harap pada PBB, pemerintah, parpol, dan tokoh-tokoh besar untuk menyelesaikan problem dunia. Dalam interaksi pribadi pun demikian, kita berharap kitalah yang dimengerti, dipahami, agar problem selesai dengan sendirinya. &lt;br/&gt;==================================&lt;br/&gt;Me:&lt;br/&gt;Iya bener, kalau ada mitos seperti itu sepertinya kita ingin membebankan semua beban masalah kita ke pundaknya. tapi kita adalah manusia biasa yang selalu diliputi masalah dan kekurangan. Kalau ada ksatrio piningit atau ratu adil sebaiknya diperlakukan sebagai manusia biasa yang bisa salah juga. kalau dia ada idea dan memang ditakdirkan jadi pemimpin, kita wajib bantu semampu kita. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Wassalam,&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hadi</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dee Wrote:<br />Dalam kehidupan nyata, cerminan itu pun tak jauh berbeda. Tak heran konsep seperti Ratu Adil atau Ksatria Piningit selalu laku, karena kita cenderung berharap ada tangan lain yang menyelesaikan masalah kita. Kita menaruh harap pada PBB, pemerintah, parpol, dan tokoh-tokoh besar untuk menyelesaikan problem dunia. Dalam interaksi pribadi pun demikian, kita berharap kitalah yang dimengerti, dipahami, agar problem selesai dengan sendirinya. <br />==================================<br />Me:<br />Iya bener, kalau ada mitos seperti itu sepertinya kita ingin membebankan semua beban masalah kita ke pundaknya. tapi kita adalah manusia biasa yang selalu diliputi masalah dan kekurangan. Kalau ada ksatrio piningit atau ratu adil sebaiknya diperlakukan sebagai manusia biasa yang bisa salah juga. kalau dia ada idea dan memang ditakdirkan jadi pemimpin, kita wajib bantu semampu kita. </p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Hadi</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/10/09/59/comment-page-1/#comment-994</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Apr 2008 15:43:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=59#comment-994</guid>
		<description>always love your writing..!! always give me an inspiration and reflection..&lt;br/&gt;thx&lt;br/&gt;NB: eager to read the 4th supernova..^^</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>always love your writing..!! always give me an inspiration and reflection..<br />thx<br />NB: eager to read the 4th supernova..^^</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Paulina</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/10/09/59/comment-page-1/#comment-982</link>
		<dc:creator>Paulina</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Mar 2008 05:16:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=59#comment-982</guid>
		<description>Very Nice Article also all comments, very inspiring...Salam Kenal Mbak Dee</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Very Nice Article also all comments, very inspiring&#8230;Salam Kenal Mbak Dee</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Setra</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/10/09/59/comment-page-1/#comment-922</link>
		<dc:creator>Setra</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Mar 2008 04:09:15 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=59#comment-922</guid>
		<description>mengapa saya selalu tertarik dengan topik seperti ini?
saat mencipta lagu pun masih saja ada perasaan untuk menyenangkan orang lain dan diri sendiri. Selalu ada persaan membedakan bahwa lagu si A bagus sementara yang lain tidak, bahwa lagu saya bagus dan orang lain akan menyukainya. 
Bagaimana menjadikan nada itu seperti itu apa adanya?

Well, saya harus mengalami keadaan yang itu, paling tidak secuil sajalah</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mengapa saya selalu tertarik dengan topik seperti ini?<br />
saat mencipta lagu pun masih saja ada perasaan untuk menyenangkan orang lain dan diri sendiri. Selalu ada persaan membedakan bahwa lagu si A bagus sementara yang lain tidak, bahwa lagu saya bagus dan orang lain akan menyukainya.<br />
Bagaimana menjadikan nada itu seperti itu apa adanya?</p>
<p>Well, saya harus mengalami keadaan yang itu, paling tidak secuil sajalah</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: paul dinardi</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/10/09/59/comment-page-1/#comment-885</link>
		<dc:creator>paul dinardi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Dec 2007 13:51:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=59#comment-885</guid>
		<description>enjoy the writings...thank u</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>enjoy the writings&#8230;thank u</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: chindy</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/10/09/59/comment-page-1/#comment-858</link>
		<dc:creator>chindy</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 15:27:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=59#comment-858</guid>
		<description>Ini baru berita Dee!&lt;br/&gt;Kemarin, senen(10 Des 07) di forum UNCC-Bali, anggota Children in Changing Climate (CCC) Programme mengutarakan pendapat mereka untuk turut berpartisipasi mengatasi perubahan iklim, berkomitmen.&quot;Kami Siap Hidup Tanpa Hamburger&quot;&lt;br/&gt;Juga seperti yang dilansir the Jakarta Post, 8 Des 07&lt;br/&gt;Which is worst for environment?&lt;br/&gt;a. Car&lt;br/&gt;b. livestock&lt;br/&gt;c. planes&lt;br/&gt;Livestock are responsible for 18% of the greenhouse gases that cause global warming-more than cars, planes and all other forms of transport put together (sourced from a 2006 report called Livestock&#039;s Long Shadow issued by Food and Agricultural Organization of the United Nations)&lt;br/&gt;Go! Go! Gooo Veggie!&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Btw, kite2 ada tawaran lagi(ini diluar tawaran yang Earth Day, 22 April ya)  untuk gelar kampanye Global Warming di Pusat Bahasa Atmajaya antara 11-16 feb 08 besok, tema besarnya seputar budaya mengerucut ke isu Konsumerisme. Moga2 kali ini Dee bisa ikut gabung yee,(proposal nyusul kalo ude fix)&lt;br/&gt;ciayo!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ini baru berita Dee!<br />Kemarin, senen(10 Des 07) di forum UNCC-Bali, anggota Children in Changing Climate (CCC) Programme mengutarakan pendapat mereka untuk turut berpartisipasi mengatasi perubahan iklim, berkomitmen.&#8221;Kami Siap Hidup Tanpa Hamburger&#8221;<br />Juga seperti yang dilansir the Jakarta Post, 8 Des 07<br />Which is worst for environment?<br />a. Car<br />b. livestock<br />c. planes<br />Livestock are responsible for 18% of the greenhouse gases that cause global warming-more than cars, planes and all other forms of transport put together (sourced from a 2006 report called Livestock&#8217;s Long Shadow issued by Food and Agricultural Organization of the United Nations)<br />Go! Go! Gooo Veggie!</p>
<p>Btw, kite2 ada tawaran lagi(ini diluar tawaran yang Earth Day, 22 April ya)  untuk gelar kampanye Global Warming di Pusat Bahasa Atmajaya antara 11-16 feb 08 besok, tema besarnya seputar budaya mengerucut ke isu Konsumerisme. Moga2 kali ini Dee bisa ikut gabung yee,(proposal nyusul kalo ude fix)<br />ciayo!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: cuek ajalah</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/10/09/59/comment-page-1/#comment-833</link>
		<dc:creator>cuek ajalah</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Dec 2007 23:36:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=59#comment-833</guid>
		<description>saya adalah pahlawan yang telah bisa membunuh hati sehingga dia tak pernah lagi berontak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya adalah pahlawan yang telah bisa membunuh hati sehingga dia tak pernah lagi berontak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Aska</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/10/09/59/comment-page-1/#comment-816</link>
		<dc:creator>Aska</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Nov 2007 06:20:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=59#comment-816</guid>
		<description>Menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri…&lt;br/&gt;Ini salah satu pelajaran lagi yang aku dapat lewat epilepsi. Tapi aku nggak berani bilang bahwa pendapatku ini bener 100%, tapi untuk saat ini, menurutku ini bener. Entahlah kalau nanti, besok, lusa, minggu depan, atau kapan, pikiranku berkembang lagi, mungkin ada sedikit revisi dari pendapatku ini.&lt;br/&gt;Mungkin saat ini aku udah bisa melewati tahap untuk bisa mencintai diri sendiri sebagai epileptic. Aku berani bilang bahwa aku adalah penderita epilepsi, setelah aku berperang melawan ketidak-PD-an dan rasa rendah diri sebagai epileptic. Dan suatu saat nanti ketika aku ketemu sama pujaan hatiku aku juga ingin bilang ke dia, bahwa kalau memang ia mencintaiku apa adanya, bisa ikhlas menerima kekuranganku sebagai epileptic, maka kami akan melanjutkan hubungan kami ke tahap selanjutnya. Huufff.....kesannya aku udah bisa berperang melawan diriku sendiri karena aku udah bisa mencintai diri sendiri.&lt;br/&gt;Tapi apa perjuangan perangku melawan diriku &amp; egoku cuma sampai sini aja? TIDAK....masih ada tahap perjuangan selanjutnya. Mungkin ini perang yang lebih berat lagi. Berperang ketika diriku sudah merasa menang. Perang melawan epi mungkin bisa di bilang menang. Dan kini aku harus perang lagi melawan ego-ku yang berpindah ke sisi lain. Apa aku cukup nunggu pujaan hatiku bilang : “aku mencintaimu apa adanya“, setelah aku selesai berperang melawan rasa malu sebagai epileptic. Nggak cukup semua itu kayaknya.&lt;br/&gt;Aku tahu bahwa dia juga berperang melawan ego-nya sampai akhirnya bisa menerimaku apa adanya, dan rasa cintanya mendorongnya untuk memberikan yang terbaik bagiku. Tapi.....apa yang aku beri ke dia?? Perjuanganku sebelumnya hanyalah dariku, olehku, dan untukku semata. Buat dia??? Nah mungkin inilah yang tadi aku sebut sebagai perjuangan selanjutnya.&lt;br/&gt;Aku tentunya juga harus memberi yang terbaik buat dia, buat kami. Yaahh....bisa dengan meningkatkan kualitas hidup, merubah gaya hidup sehat, “menghidupkan kembali“ syaraf-syaraf perasaanku yang “gak jalan“ dan tertutup oleh gangguan epi di otak, melanjutkan studi yang hampir saja terhambat gara-gara epi, dll. &lt;br/&gt;Walaupun mungkin epi masih bisa menyerang, paling nggak aku juga harus berjuang untuk meraih sesuatu demi dia, dan demi masa depan kami. Ada satu message yang bagus dari buku yang dibaca temenku : jangan menjadikan epilepsi sebagai excuse untuk menjalani hidup ini dengan keterbatasan yang dimiliki oleh para epileptic.&lt;br/&gt;Setelah aku bisa melewati perjuangan melawan diriku sebagai epileptic, sekarang saatnya aku memulai sebuah perjuangan melawan egoisme, kemalasan, ketidak-PD-an ku, untuk menjadi aska yang lebih baik. Untukku sendiri, keluarga, teman-teman, dll.&lt;br/&gt;Perjuangan tanpa henti……di manapun dan kapanpun &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Thanks for inspirasinya mbak dewi….</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri…<br />Ini salah satu pelajaran lagi yang aku dapat lewat epilepsi. Tapi aku nggak berani bilang bahwa pendapatku ini bener 100%, tapi untuk saat ini, menurutku ini bener. Entahlah kalau nanti, besok, lusa, minggu depan, atau kapan, pikiranku berkembang lagi, mungkin ada sedikit revisi dari pendapatku ini.<br />Mungkin saat ini aku udah bisa melewati tahap untuk bisa mencintai diri sendiri sebagai epileptic. Aku berani bilang bahwa aku adalah penderita epilepsi, setelah aku berperang melawan ketidak-PD-an dan rasa rendah diri sebagai epileptic. Dan suatu saat nanti ketika aku ketemu sama pujaan hatiku aku juga ingin bilang ke dia, bahwa kalau memang ia mencintaiku apa adanya, bisa ikhlas menerima kekuranganku sebagai epileptic, maka kami akan melanjutkan hubungan kami ke tahap selanjutnya. Huufff&#8230;..kesannya aku udah bisa berperang melawan diriku sendiri karena aku udah bisa mencintai diri sendiri.<br />Tapi apa perjuangan perangku melawan diriku &#038; egoku cuma sampai sini aja? TIDAK&#8230;.masih ada tahap perjuangan selanjutnya. Mungkin ini perang yang lebih berat lagi. Berperang ketika diriku sudah merasa menang. Perang melawan epi mungkin bisa di bilang menang. Dan kini aku harus perang lagi melawan ego-ku yang berpindah ke sisi lain. Apa aku cukup nunggu pujaan hatiku bilang : “aku mencintaimu apa adanya“, setelah aku selesai berperang melawan rasa malu sebagai epileptic. Nggak cukup semua itu kayaknya.<br />Aku tahu bahwa dia juga berperang melawan ego-nya sampai akhirnya bisa menerimaku apa adanya, dan rasa cintanya mendorongnya untuk memberikan yang terbaik bagiku. Tapi&#8230;..apa yang aku beri ke dia?? Perjuanganku sebelumnya hanyalah dariku, olehku, dan untukku semata. Buat dia??? Nah mungkin inilah yang tadi aku sebut sebagai perjuangan selanjutnya.<br />Aku tentunya juga harus memberi yang terbaik buat dia, buat kami. Yaahh&#8230;.bisa dengan meningkatkan kualitas hidup, merubah gaya hidup sehat, “menghidupkan kembali“ syaraf-syaraf perasaanku yang “gak jalan“ dan tertutup oleh gangguan epi di otak, melanjutkan studi yang hampir saja terhambat gara-gara epi, dll. <br />Walaupun mungkin epi masih bisa menyerang, paling nggak aku juga harus berjuang untuk meraih sesuatu demi dia, dan demi masa depan kami. Ada satu message yang bagus dari buku yang dibaca temenku : jangan menjadikan epilepsi sebagai excuse untuk menjalani hidup ini dengan keterbatasan yang dimiliki oleh para epileptic.<br />Setelah aku bisa melewati perjuangan melawan diriku sebagai epileptic, sekarang saatnya aku memulai sebuah perjuangan melawan egoisme, kemalasan, ketidak-PD-an ku, untuk menjadi aska yang lebih baik. Untukku sendiri, keluarga, teman-teman, dll.<br />Perjuangan tanpa henti……di manapun dan kapanpun </p>
<p>Thanks for inspirasinya mbak dewi….</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: windede</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/10/09/59/comment-page-1/#comment-812</link>
		<dc:creator>windede</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Nov 2007 17:38:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=59#comment-812</guid>
		<description>yang dimaksud pahlawan di republik ini adalah daftar nama dalam salinan undang-undang, juga sederet batu nisan yang hanya ramai dalam seremoni setahun sekali, di sebuah tanah senyap bernama taman makam pahlawan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yang dimaksud pahlawan di republik ini adalah daftar nama dalam salinan undang-undang, juga sederet batu nisan yang hanya ramai dalam seremoni setahun sekali, di sebuah tanah senyap bernama taman makam pahlawan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: wiwit</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2007/10/09/59/comment-page-1/#comment-808</link>
		<dc:creator>wiwit</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Nov 2007 04:04:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/?p=59#comment-808</guid>
		<description>menurut saya pahlawan zaman sekarang adalah orang yang mampu membangun citra,asal punya uang dan kekuasaan citra kepahlawanannya bisa diciptakan oleh media atau para publik relation-nya.berapa banyak para koruptor yang beristirahat di taman pahlawan?kepahlawanan mereka bersifat populis.jasanya hanya bisa dinikmati oleh diri sendiri paling tidak para kroninyalah,disisi lain untuk mempertahankan citra kepahlawannnya ini minta korban, alasannya bisa untuk nainalisme atau pembangunan.tetapi secara tidak sadar,kadang kala kita kagum kepada pahlawan seperti ini.&lt;br/&gt;  &lt;br/&gt;sedangkan pahlawan sejati, biasanya tidak pernah atau jarang lah di ekspos media.meskipun kita merasakan jasanya,kita jarang sekali berterima kasih atau paling tidak menghargai jasanya.nilai dari pahlawan sejati ini,tidak bisa di ukur oleh materi, tapi valuenya terletak dari seberapa banyak orang dapat merasakan manfaatnya + seberapa banyak hati yang terketuk untuk melahirkan kebaikannya yang lain. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;pak sariban,bung tomo,andrea hirata,bu muslimah secara formal mereka tidak diakui kepahlawannya oleh negara, tapi berapa banyak orang yang terinsirasi oleh beliau-beliau ini.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;termasuk teteh kita ini,teh dewi,si gadis metropolitan tatar parahyangan.marah ga ya orang batk enggak ah si mbak ini milik universal (sekarang yang marah keenan sama kang marcel pahlawannya jadi milik universal.... :D:D:D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>menurut saya pahlawan zaman sekarang adalah orang yang mampu membangun citra,asal punya uang dan kekuasaan citra kepahlawanannya bisa diciptakan oleh media atau para publik relation-nya.berapa banyak para koruptor yang beristirahat di taman pahlawan?kepahlawanan mereka bersifat populis.jasanya hanya bisa dinikmati oleh diri sendiri paling tidak para kroninyalah,disisi lain untuk mempertahankan citra kepahlawannnya ini minta korban, alasannya bisa untuk nainalisme atau pembangunan.tetapi secara tidak sadar,kadang kala kita kagum kepada pahlawan seperti ini.</p>
<p>sedangkan pahlawan sejati, biasanya tidak pernah atau jarang lah di ekspos media.meskipun kita merasakan jasanya,kita jarang sekali berterima kasih atau paling tidak menghargai jasanya.nilai dari pahlawan sejati ini,tidak bisa di ukur oleh materi, tapi valuenya terletak dari seberapa banyak orang dapat merasakan manfaatnya + seberapa banyak hati yang terketuk untuk melahirkan kebaikannya yang lain. </p>
<p>pak sariban,bung tomo,andrea hirata,bu muslimah secara formal mereka tidak diakui kepahlawannya oleh negara, tapi berapa banyak orang yang terinsirasi oleh beliau-beliau ini.</p>
<p>termasuk teteh kita ini,teh dewi,si gadis metropolitan tatar parahyangan.marah ga ya orang batk enggak ah si mbak ini milik universal (sekarang yang marah keenan sama kang marcel pahlawannya jadi milik universal&#8230;. <img src='http://www.dewilestari.com/b/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> :D:D</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

