A Thank You Note

A Thank You Note

Beberapa hari yang lalu, seorang wartawan dari majalah lifestyle keluaran baru dari Group Tempo menghubungi asisten saya. Dia ingin mewawancarai saya untuk edisi perdananya yang akan terbit Desember nanti. Kemarin, wartawan dan dua fotografer dari majalah tersebut datang ke rumah saya di Bandung.

Wartawan itu lantas bercerita asal muasal mengapa saya kemudian dipilih menjadi “Story of the Month” untuk edisi perdananya. Sehubungan dengan konferensi di Bali tentang global warming bulan Desember nanti, mereka pun tertarik untuk mengangkat topik lingkungan hidup. Wartawan itu lantas bercerita, bahwa ia menerima tulisan “Harta Karun Untuk Semua” lewat e-mail, dan bukan hanya dari satu sumber, melainkan beberapa. “Setahu saya, tulisan itu juga menyebar di banyak milis,” katanya lagi.

Jujur, saya agak kaget mendengarnya. Namun saya juga teringat, beberapa komentar yang masuk untuk posting itu juga menyebutkan bahwa mereka membaca tulisan itu di milis, atau dikirim via e-mail. Seminggu lalu, saya juga mendapat telepon dari seorang guru piano di Solo, yang ingin mengadakan konser di sekolahnya bertemakan lingkungan, dan ia terinspirasi karena artikel “Harta Karun Untuk Semua”. Setelah membaca artikel yang sama, seorang teman sempat menawari saya menjadi tamu untuk talk show di sekolah anaknya yang juga sedang menggalakkan gerakan sadar lingkungan. Lalu beberapa teman saya pun pernah memberi tahu selewat-dua lewat bahwa mereka membaca artikel itu lewat e-mail yang dikirim massal ke inbox mereka.

Salah satu pertanyaan yang diajukan saat wawancara siang itu adalah, “Apa sih arti perbuatan kita kalau kita hanya seorang diri memisah sampah, membuat kompos, hemat listrik, hemat air, mengurangi makan daging, mengurangi konsumerisme, sementara jutaan orang di luar sana tidak peduli dan terus menjalankan hidupnya seperti biasa?”

Jawaban spontan saya adalah: tidak tahu. Saya tidak tahu apakah perbuatan kecil ini akan menurunkan pemanasan global, tidak tahu apakah kompos di rumah saya punya arti dalam menurunkan debit sampah dunia, tidak tahu apakah dengan saya bervegetarian akan punya dampak untuk kesejahteraan makhluk di Bumi ini. Jika optimis, saya akan mengatakan: iya, saya yakin perbuatan saya akan berarti dan bisa mengubah dunia. Jika pesimis, saya akan mengatakan: tidak, perbuatan saya sangat renik dampaknya, semikron debu di tengah padang pasir, dan bukan tandingan dari kondisi global yang dibentuk oleh miliaran manusia plus aneka faktor lainnya.

Saya yakin, pertanyaan berikut pilihan jawaban tadi adalah hal yang pernah terlintas dalam benak kita semua. Dan apa pun kecenderungan sikap kita—pesimis atau optimis—siang itu, saya dan juga wartawan tadi, sesungguhnya melihat sebuah bukti nyata. Artikel yang saya tulis spontan beberapa bulan lalu telah beredar tanpa saya tahu, tanpa bisa saya pantau, dan kembali lagi pada saya suatu hari, dalam bentuk wawancara, inspirasi, pengembangan ide, undangan, dan sebagainya. Artikel itu telah bergulir bak bola salju, menjadi sesuatu yang lebih besar dari ukuran aslinya.

Saya teringat prosesi rutin setiap kebaktian malam Natal, di mana semua jemaat masing-masing memegang sebuah lilin. Berawal dari nyala lilin di mimbar, beberapa lilin lain dinyalakan lalu menyebar ke seluruh penjuru ruangan, hingga setiap lilin akhirnya menyala tanpa kecuali. Saya membayangkan, prosesi yang sama sesungguhnya sedang terjadi. Di mana-mana. Di seluruh muka Bumi. Artikel “Harta Karun Untuk Semua” hanyalah satu contoh kecil dari sekian banyak upaya dari umat manusia. Saya tidak memasang alat penghitung di blog ini. Saya tidak tahu ada berapa orang yang berkunjung, selain mereka yang memberi komentar. Namun saya ingin berterima kasih pada semua, yang dengan caranya masing-masing telah membuat sebuah prosesi tak terlihat.

Saya masih belum tahu apakah perbuatan kecil skala rumahan saya punya dampak terhadap dunia. Tapi pertanyaannya, apakah perlu kita menagih bukti? Apakah ada alat atau metode yang secara pasti bisa mengukurnya? Dan jika tidak ada, haruskah kita berhenti? Saya tidak yakin saya bisa mengubah dunia, sebagaimana tulisan tersebut tidak ditujukan untuk mengubah dunia, atau siapa-siapa. Namun saya tahu, yang bisa diubah pada akhirnya hanyalah diri saya sendiri. Itulah lilin kecil yang kita pegang. Nyalanya mungkin tak seberapa, hanya menerangi jemari yang menggenggamnya. Namun jika lilin kecil itu menyala di setiap genggaman orang, tanpa terasa… ruangan gelap itu menjadi benderang. Bukan oleh upaya satu orang, melainkan beramai-ramai.

Saya punya sebuah pembatas buku, berbentuk bulan sabit berwarna perak. Saya beli tujuh tahun yang lalu di sebuah toko buku. Apa yang tertera di pembatas buku itu menggerakkan hati saya, hingga saya putuskan untuk membelinya. Sesekali saya suka mengeluarkannya dari laci, hanya untuk sekadar membaca tulisan yang begitu indah dan bermakna. Sebagai tanda terima kasih saya bagi teman-teman semua, izinkan saya memetik tulisan di pembatas buku itu:

“There are two ways of spreading light:
to be the candle or the mirror that reflects it”
– Edith Wharton –

Semoga hadiah kecil ini mampu menjadi harta karun bagi kita semua.

23 Comments

  1. Puput said,

    November 2, 2007 at 10:45 pm

    inspiratif yak mbak?
    tapi semoga orang²[dan saya tentunya] yang baca artikel itu tidak berhenti pada wacana saja

  2. Tanty said,

    November 2, 2007 at 11:38 pm

    Dear Mba Dee, udah lama saya tidak berkunjung ke Blog ini sehingga rupanya cukup banyak yang saya missed sepertinya. Saya pernah ikut suatu seminar dan pembicaranya berkata bahwa kepak sayap kupu-kupu di sini dapat membuat topan di New York sehingga secara tidak langsung semua yang ada di alam semesta ini memiliki suatu konektivitas.
    Saya percaya dengan adanya beberapa orang yang mulai dengan aksi nyata untuk membuat dunia yang lebih ramah, gaungnya dapat mencapai khalayak yang lebih luas lagi. Dan saya juga akan terus belajar menerapkan prinsip ramah lingkungan.

    May all beings be happy :)

  3. firman firdaus said,

    November 3, 2007 at 6:52 am

    saya selalu membawa-bawa sampah dalam tas saya setiap kali saya tidak menemukan tempat sampah. saya akan terus membawa sampah itu sampai menemukan tempat sampah.

    beberapa teman menilainya sebagai perbuatan yang konyol. saya sendiri tidak tahu apakah apa yg saya buat itu bisa membuat lingkungan lebih bersih atau tidak. saya cuma merasa telah melakukan hal yang benar. itu saja.

  4. Anonymous said,

    November 4, 2007 at 12:14 am

    Dahulu saya pernah diajarkan untuk memasukkan bungkus permen ke saku celana sampai saya menemukan tempat sampah untuk membuangnya. Itu masih saya lakukan sampai sekarang, dan akan saya ajarkan pada anak saya dan siapa pun jika ada kesempatan.

    Kebaikan yang kita lakukan belum tentu mengubah dunia, tetapi keburukan yang kita lakukan sudah pasti akan merusak.

    –riza

  5. DooHaN said,

    November 4, 2007 at 7:19 am

    Saya mungkin hanya bagian dari orang-orang dalam gereja sedang memegang lilin natal dan sementara menunggu lilin yang lain datang membakar lilin saya.
    Saya sadar bahwa memang apa yang saya lakukan terkadang sangat menyimpang sekali dari apa yang seharusnya dilakukan secara positif.
    Saya sadar, tapi saya terus berbuat. Entah kapan ini terhenti, entah secara otomatis, entah manual.

    Ketika membaca “harta karun untuk semua” saya benar-benar terkesima, saya tidak menyangka hal kecil yang kita lakukan membawa dampak yang sangat besar terhadap dunia masa 10, 50 100 tahun kedepan.
    Saya yang belum bisa menghilangkan kebiasaan saya membuang ‘bungkus permen’ sembarangan, hanya bisa mengutip dan mengirimkan ke milis tuisan “harta karun untuk semua” itu. Saya mohon maaf kepada mbak dee jika sekiranya yang saya lakukan sangat tidak beretika. Tapi saya rasa hanya itu yang bisa lakukan jika saya belum bisa menyimpan ‘bungkus permen’ dalam kantong baju saya.

  6. Anonymous said,

    November 5, 2007 at 9:45 pm

    Kisah Sumana Si Penjual Bunga

    Seorang penjual bunga, bernama Sumana, harus mengirimkan bunga melati kepada Raja Bimbisara dari Rajagaha setiap pagi. Suatu hari, ketika ia akan pergi ke istana, ia melihat Buddha Gotama dengan pancaran sinar aura yang sangat terang dan mengagumkan, datang ke kota untuk berpindapatta (menerima dana makanan) dengan diikuti oleh beberapa bhikkhu.
    Melihat Buddha Gotama yang sangat agung, penjual bunga Sumana sangat ingin mendanakan bunganya kepada Sang Buddha, pada saat itu dan di tempat itu pula (hal ini mengajarkan kita bahwa untuk melakukan perbuatan baik hendaknya dilakukan sesegera mungkin, jangan ditunda-tunda. Marilah kita memulai perubahan dari saat ini juga!!). Ia memutuskan, meskipun raja akan mengusirnya dari kota atau membunuhnya, ia tidak akan memberikan bunganya kepada raja pada hari itu (hal ini mengajarkan bahwa segala konsekuensi dari perbuatan kita harus kita pertimbangkan masak-masak, jangan melakukan sesuatu tanpa pertimbangan terlebih dahulu).
    Kemudian ia melemparkan bunganya ke samping, ke belakang, ke atas, dan di atas kepala Buddha Gotama. Bunga-bunga itu melayang di udara; di atas kepala Sang Buddha membentuk seperti payung dari bunga-bunga. Di belakang di sisi-sisi Beliau membentuk seperti dinding. Bunga-bunga ini terus mengikuti Sang Buddha kemana saja Beliau berjalan, dan ikut berhenti ketika Beliau berhenti.
    Ketika Sang Buddha berjalan, dikelilingi oleh dinding-dinding dari bunga, dan dipayungi oleh bunga, dengan enam sinar yang memancar dari tubuhnya, diikuti oleh kelompok besar, ribuan orang dari dalam maupun dari luar kota Rajagaha. Mereka keluar dari rumahnya dan memberi hormat kepada Sang Buddha. Bagi Sumana sendiri seluruh tubuhnya diliputi dengan kegiuran batin (biasanya bagi seseorang yang telah melakukan perbuatan baik dan perbuatannya berhasil membahagiakan banyak orang, akan terasa kepuasan tersendiri bagi orang tersebut. So never stop writing, please!!).
    Istri Sumana kemudian menghadap raja dan berkata bahwa ia tidak ikut campur dalam kesalahan suaminya, karena suaminya tidak mengirimkan bunga kepada raja hari ini (hal ini mengingatkan bahwa mungkin saja perbuatan baik yang dilakukan seseorang tidak didukung oleh orang lain, terkadang kita merasa sia-sia dengan perbuatan baik kita karena tidak berhasil mengubah orang lain untuk melakukan hal serupa. Masih banyak orang di dunia ini yang mungkin tidak mendukung perbuatan baik kita walaupun kecil). Namun raja yang telah mencapai tingkat kesucian Sotapanna malah merasa sangat berbahagia. Ia keluar istana untuk melihat pemandangan yang indah itu dan memberikan penghormatan kepada Sang Buddha. Raja juga mengambil kesempatan untuk memberikan dana makanan kepada Buddha Gotama dan murid-muridNya (di lain pihak pasti ada juga orang yang sedang menunggu lilinnya dinyalakan oleh lilin lainnya, pasti akan ada orang yang mendukung perbuatan baik kita). Setelah makan siang, Sang Buddha kembali ke Vihara Jetavana dan raja mengikutinya sampai beberapa jauh.
    Dalam perjalanan pulang raja memanggil Sumana dan memberikan penghargaan kepadanya yang berupa delapan ekor gajah, delapan ekor kuda, delapan orang pembantu laki-laki, delapan pembantu wanita, delapan anak gadis, dan uang delapan ribu (pada akhirnya perbuatan baik yang kita lakukan walaupun kecil dan sangat renik dampaknya kepada orang lain, tetap saja akan berbuah kebaikan).
    Di Vihara Jetavana, Y.A. Ananda bertanya kepada Sang Buddha apa manfaat yang akan diperoleh Sumana dari perbuatan baik yang telah dilakukannya pada pagi hari itu. Sang Buddha menjawab bahwa Sumana, yang telah memberikan dana kepada Sang Buddha tanpa memikirkan hidupnya sendiri, tidak akan dilahirkan di empat alam menyedihkan (Apaya: neraka, setan, raksasa, binatang) untuk beratus-ratus ribu kehidupan yang akan datang. Dan ia akan menjadi seorang Paccekabuddha. Setelah itu, Sang Buddha memasuki Gandhakuti dan bunga-bunga itu pun jatuh dengan sendirinya.
    Malam harinya, pada akhir khotbah Sang Buddha membabarkan syair 68 Dhammapada berikut ini:

    “Tetapi perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukan, tidak akan menimbulkan penyesalan, akibatnya akan dinikmati dengan kebahagiaan dan kegembiraan”
    ***Diambil dari buku Dhammapada Atthakatha kisah 68 terbitan Vidyasena Vihara Vidyaloka Yogyakarta***

    dear mba dee,..
    Never stop writing, please….
    maybe we cannot change the world with our writing, but i’m sure that we can change ourselves by doing so….

    may you be happy
    may all beings be happy

    hansen_zinck, yogya

  7. Ale said,

    November 5, 2007 at 11:13 pm

    Waktu saya baca artikel mba tentang Harta karun untuk Kita Semua, setelahnya saya langsung membuka lemari saya.
    Hampir 50% isi lemari saya segera didermakan.

    Thanks mbak for being so inspiratif!

  8. Dony Alfan said,

    November 5, 2007 at 11:56 pm

    Perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil dan sederhana, ya seperti membuang bungkus permen tadi. Aa’ Gym pernah bilang, mulailah dari diri sendiri. Hahaha mengubah diri sendiri saja susahnya minta ampun, apalagi merubah dunia.

    PS: ditunggu buku barunya

  9. ndoro kakung said,

    November 8, 2007 at 6:55 am

    dee pilih mana: jadi cermin atau lilin? ah, retorik ya? maaf ..

  10. Abu Salman said,

    November 8, 2007 at 5:26 pm

    Dee, tertarik dengan meditasi, retreat atau sejenisnya ya, mungkin bisa ikut meditasi mengenal diri (MMD) yang dipandu oleh Dr. Hudoyo Hupudio, biasanya di vihara mendut tempatnya. contact No. 021-8730080, semoga bermanfaat.

  11. mitora in life said,

    November 9, 2007 at 6:51 am

    :) to be the candle n the mirror… ^_^

    ia ya mbaa…

  12. mei said,

    November 10, 2007 at 12:12 am

    Posting harta karun untuk semua memberikan inspirasi buat saya. Saat ini saya terlibat dalam penyusuan materi pidato Gubernur Papua Barat dalam the Climate Change conference in Bali berkaitan dengan kontribusi fungsi keberadaan hutan di Papua untuk penyerapan karbon dunia (in relation to the proposed actions on carbon trading). Thanks ya Dew, Desember nanti ke Bali juga?

  13. Dewi Lestari said,

    November 10, 2007 at 5:19 am

    Hi all,
    Untuk Abu Salman, saya sudah pernah mengikuti MMD dua kali. Artikel mengenai itu juga ada di sini, judulnya “Tujuh Tahun Menuju Mendut”. Silakan disimak. Thanks!

  14. chindy said,

    November 10, 2007 at 10:28 pm

    Dee,
    ijin untuk bagikan artikel A Thank You Note dan Harta Karun Untuk Semua, kepada peserta simposium global warming di Taman Budaya 18 Nov besok ya…nuwuun

  15. SiMungiL said,

    November 14, 2007 at 1:01 am

    makasih buat tulisan itu! very inspiring…

    baru sekarang punya kesempatan untuk bilang terimakasih :)

  16. windede said,

    November 15, 2007 at 9:28 am

    hari ini, segala sesuatu bisa menyebar secepat penyebaran virus dalam sel-sel darah. lha video porno anggota dpr saja beredar tak lebih dari 2 jam setelah diberitakan infotainment hehe… btw, tulisannya inspiring sekali, dee…

  17. anangyb said,

    November 20, 2007 at 3:10 pm

    Dee,
    kamu bukan sekadar lilin.
    Kamu juga cermin yang memantulkan cahaya kemana-mana.
    (bila perlu, jadikan aku cerminmu juga, Dee! )

  18. titanic said,

    November 21, 2007 at 11:57 pm

    andaikan gue punya seper-enam-belas kedalaman berpikir-mu Dee …

    salute !

  19. live_life_like_nuts said,

    November 22, 2007 at 10:50 pm

    mbak dee.. Im a new reader. so happy to find ur blog.
    I can’t agree more. beberapa bln yg lalu, saya ikut seminar WWF. namanya build ur own campaign. dsana kita belajar banyak banget. termasuk ketemu Sir Nicholas Stern. He’s a british economist yang nulis buku tentang do something to prevent climate change skarang jauh lebih murah drpd membayar akibatnya nanti. anyway, setelah ikut seminar itu, saya jadi orang yang jauh lebih eco friendly. rasanya ga tahan liat lampu, tv, atau apa pun yg ga dipake nyala. saya juga berusaha untuk cerita ke siapa aja tentang global warming. to bear in mind, saya masih sering bikin kotor, pollute dan sebagainya. at one point, saya bertanya” sendiri. am I credible enough untuk ngomong sm orang” tentang climate change kalo saya sendiri blom ngejalanin dengan sepenuhnya?
    jawabannya. it doesn’t matter. climate change itu semuanya tentang awareness. so just tell as many people. kalo nunggu sampe saya bener” eco friendly dulu, it might be too late.
    cheers,
    tammie
    (pls take a peek at my blog livelifelikenuts.blogspot.com)

  20. macangadungan said,

    November 26, 2007 at 2:38 am

    sangat inspiratif mbak…
    ini kunjungan pertama saya. salam kenal ya…

    saya sangat suka quote-nya. kadang untuk melakukan perubahan tidak usah melakukan hal yang muluk. hal kecil sekalipun tidak akan memberi hasil yang nol sama sekali.

    walau sebenarnya saya skeptis… apakah suara 1 org bisa didengar oleh 10 juta org?
    tapi minimal dia bisa didengar oleh orang yang berdiri di dekatnya… better than nothing =)

  21. Lelaki Senja said,

    November 26, 2007 at 9:37 am

    ya..semua berawal dari hal-hal kecil..menjadi sesuatu yang besar jika banyak orang melakukan hal-hal kecil itu..

  22. kilat rohwadi said,

    November 27, 2007 at 5:38 pm

    dear mba dee,

    your writings are so inspiring and they’re just flawlessly beautiful. read all your post in one seating. i used to think i’m such a wise-ass till i read your words. never read a better indonesian blog than this. your words of wisdom are like nicotine for my soul.

    tanpa ada maksud untuk berdebat kusir sedikitpun, kalo boleh tahu, do you believe in god? as in a personal god that created life and grants people’s prayer and wishes?

    soalnya dari tulisan2 mba, i take it you’re a devout buddhist, dan saya tahu kalo ayya santini dari aliran theravada, aliran yang tidak mengenal ide ‘personal god’ yang mengabulkan doa2 umatnya.
    tapi dari beberapa posting mba, tampaknya mba memiliki sebuah konsep tentang tuhan, bahkan sempat meminta doa dari teman2 mba biar anak mba cepat sehat, seolah-olah kata2 yang dirangkai menjadi doa dapat menghilangkan sympton2 penyakit.

    its really just out of my curiousity, if you dont mind answering

    looking forward for my soul’s next cigarete break..

    ;)

  23. andre said,

    September 29, 2008 at 10:18 pm

    saya tertarik dengan ajaran budha, bagaimana cara saya mempelajarinya?

Post a Comment