November 2nd, 2007 at 9:15 pm (Refleksi)
A Thank You Note
Beberapa hari yang lalu, seorang wartawan dari majalah lifestyle keluaran baru dari Group Tempo menghubungi asisten saya. Dia ingin mewawancarai saya untuk edisi perdananya yang akan terbit Desember nanti. Kemarin, wartawan dan dua fotografer dari majalah tersebut datang ke rumah saya di Bandung.
Wartawan itu lantas bercerita asal muasal mengapa saya kemudian dipilih menjadi “Story of the Month” untuk edisi perdananya. Sehubungan dengan konferensi di Bali tentang global warming bulan Desember nanti, mereka pun tertarik untuk mengangkat topik lingkungan hidup. Wartawan itu lantas bercerita, bahwa ia menerima tulisan “Harta Karun Untuk Semua” lewat e-mail, dan bukan hanya dari satu sumber, melainkan beberapa. “Setahu saya, tulisan itu juga menyebar di banyak milis,” katanya lagi.
Jujur, saya agak kaget mendengarnya. Namun saya juga teringat, beberapa komentar yang masuk untuk posting itu juga menyebutkan bahwa mereka membaca tulisan itu di milis, atau dikirim via e-mail. Seminggu lalu, saya juga mendapat telepon dari seorang guru piano di Solo, yang ingin mengadakan konser di sekolahnya bertemakan lingkungan, dan ia terinspirasi karena artikel “Harta Karun Untuk Semua”. Setelah membaca artikel yang sama, seorang teman sempat menawari saya menjadi tamu untuk talk show di sekolah anaknya yang juga sedang menggalakkan gerakan sadar lingkungan. Lalu beberapa teman saya pun pernah memberi tahu selewat-dua lewat bahwa mereka membaca artikel itu lewat e-mail yang dikirim massal ke inbox mereka.
Salah satu pertanyaan yang diajukan saat wawancara siang itu adalah, “Apa sih arti perbuatan kita kalau kita hanya seorang diri memisah sampah, membuat kompos, hemat listrik, hemat air, mengurangi makan daging, mengurangi konsumerisme, sementara jutaan orang di luar sana tidak peduli dan terus menjalankan hidupnya seperti biasa?”
Jawaban spontan saya adalah: tidak tahu. Saya tidak tahu apakah perbuatan kecil ini akan menurunkan pemanasan global, tidak tahu apakah kompos di rumah saya punya arti dalam menurunkan debit sampah dunia, tidak tahu apakah dengan saya bervegetarian akan punya dampak untuk kesejahteraan makhluk di Bumi ini. Jika optimis, saya akan mengatakan: iya, saya yakin perbuatan saya akan berarti dan bisa mengubah dunia. Jika pesimis, saya akan mengatakan: tidak, perbuatan saya sangat renik dampaknya, semikron debu di tengah padang pasir, dan bukan tandingan dari kondisi global yang dibentuk oleh miliaran manusia plus aneka faktor lainnya.
Saya yakin, pertanyaan berikut pilihan jawaban tadi adalah hal yang pernah terlintas dalam benak kita semua. Dan apa pun kecenderungan sikap kita—pesimis atau optimis—siang itu, saya dan juga wartawan tadi, sesungguhnya melihat sebuah bukti nyata. Artikel yang saya tulis spontan beberapa bulan lalu telah beredar tanpa saya tahu, tanpa bisa saya pantau, dan kembali lagi pada saya suatu hari, dalam bentuk wawancara, inspirasi, pengembangan ide, undangan, dan sebagainya. Artikel itu telah bergulir bak bola salju, menjadi sesuatu yang lebih besar dari ukuran aslinya.
Saya teringat prosesi rutin setiap kebaktian malam Natal, di mana semua jemaat masing-masing memegang sebuah lilin. Berawal dari nyala lilin di mimbar, beberapa lilin lain dinyalakan lalu menyebar ke seluruh penjuru ruangan, hingga setiap lilin akhirnya menyala tanpa kecuali. Saya membayangkan, prosesi yang sama sesungguhnya sedang terjadi. Di mana-mana. Di seluruh muka Bumi. Artikel “Harta Karun Untuk Semua” hanyalah satu contoh kecil dari sekian banyak upaya dari umat manusia. Saya tidak memasang alat penghitung di blog ini. Saya tidak tahu ada berapa orang yang berkunjung, selain mereka yang memberi komentar. Namun saya ingin berterima kasih pada semua, yang dengan caranya masing-masing telah membuat sebuah prosesi tak terlihat.
Saya masih belum tahu apakah perbuatan kecil skala rumahan saya punya dampak terhadap dunia. Tapi pertanyaannya, apakah perlu kita menagih bukti? Apakah ada alat atau metode yang secara pasti bisa mengukurnya? Dan jika tidak ada, haruskah kita berhenti? Saya tidak yakin saya bisa mengubah dunia, sebagaimana tulisan tersebut tidak ditujukan untuk mengubah dunia, atau siapa-siapa. Namun saya tahu, yang bisa diubah pada akhirnya hanyalah diri saya sendiri. Itulah lilin kecil yang kita pegang. Nyalanya mungkin tak seberapa, hanya menerangi jemari yang menggenggamnya. Namun jika lilin kecil itu menyala di setiap genggaman orang, tanpa terasa… ruangan gelap itu menjadi benderang. Bukan oleh upaya satu orang, melainkan beramai-ramai.
Saya punya sebuah pembatas buku, berbentuk bulan sabit berwarna perak. Saya beli tujuh tahun yang lalu di sebuah toko buku. Apa yang tertera di pembatas buku itu menggerakkan hati saya, hingga saya putuskan untuk membelinya. Sesekali saya suka mengeluarkannya dari laci, hanya untuk sekadar membaca tulisan yang begitu indah dan bermakna. Sebagai tanda terima kasih saya bagi teman-teman semua, izinkan saya memetik tulisan di pembatas buku itu:
“There are two ways of spreading light:
to be the candle or the mirror that reflects it”
– Edith Wharton –
Semoga hadiah kecil ini mampu menjadi harta karun bagi kita semua.
fonghosang said,
November 27, 2007 at 11:40 pm
dear dee,
sebagai umat budha saya ingin menymbangkan ide yang dapat bermanfaat bagi bayak orang. Untuk itu daatkah Dee membantu saya sebagai sesama seniman? Dimanakah alamat koresponden Dee?
fonghosang said,
November 27, 2007 at 11:45 pm
Hidup adalah sebuah perjalanan, sebuah sekolah, yang akhirnya akan sampai pada salah satu dari dua tujuan, yaitu Surga atau Neraka.
Hidup adalah sebuah pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan. Hidup adalah takdir, dan takdir bergantung pada buah karma.
Anonymous said,
November 28, 2007 at 12:04 am
dee
sy sangat mengagumi karya2 dee
yg menyebalkan adalah saat ini sy merindukan karya2 dee
tidak banyak penulis-penulis yang bs ‘memuaskan’ sy
sy yakin dee paham maksud sy
sy harap dee segera mempublikasikan karya2 dee
sekedar mengalirkan air di tenggorokan sy yg kering
your sincerely,
Zaw
jooliet said,
November 29, 2007 at 11:00 pm
kalo pernah nonton pay it forward, ya itulah yang Dee lakukan waktu menulis
Harta Karun Untuk Semua. Write it at your own blog, and let the readers spread them all… or just like our proklamator did. From a piece of paper contains proklamasi, they can build a country…
bedh said,
December 2, 2007 at 3:10 pm
kalo cuma jadi korek wat nyalain lilin boleh nggak?
huhuhuu
—————-
boleh nggak boleh blog ini saya link ke tempat saya
huhuhuhu senangnya menjadi egois.
I Gede S. Aryana said,
December 4, 2007 at 6:38 pm
Dee,
Sekali lagi terima kasih karena telah menjadi lilin sekaligus cerminnya.
Pagi ini istri saya mengirim sms, meminta saya mencari informasi ttg Lubang Resapan Biopori yang ditemukan seorang dosen IPB.
Saya segera cari di Internet dan menemukan bbrp artikel dari Kompas. Saat itu rasanya terharu sekali mengetahui ada banyak sekali orang yang menyadari peranan bumi ini bagi kehidupan kita, dan lalu melakukan sesuatu untuk membalas kebaikan bumi itu, atau setidaknya tidak menambah luka baru bagi ibu pertiwi tercinta. Saya kumpulkan artikel-artikel itu lalu saya sebarkan kepada teman-teman lewat email.
Semoga kesadaran itu terus menyebar tanpa batas, dan semoga ada yang terketuk hatinya untuk melakukan satu tindakan nyata, sebagai satu bentuk Act of Random Kindness (ARK).
Be good, be happy and be mindful.
chindy said,
December 11, 2007 at 8:52 am
“Apa sih arti perbuatan kita kalau kita hanya seorang diri memisah sampah, membuat kompos, hemat listrik, hemat air, mengurangi makan daging, mengurangi konsumerisme, sementara jutaan orang di luar sana tidak peduli dan terus menjalankan hidupnya seperti biasa?”
Dee, sewaktu kecil saya selalu mengamati cara Erl-Cie keramas. Unik. Air bilasan pertama sebelum rambut berbuih sampo, air tsb selalu ditampung, lalu dipakai lagi untuk membilas rambut ketika sudah berbuih. Pemandangan ini masig detil terekam dalam ingatanku. Dan ini sangat mempengaruhi caraku memperlakukan air. Kalo cuci buah, sayang rasanya bila air bilasan terbuang begitu saja. sebisa mungkin saya berusaha mencari baskom atau wadah apa saja untuk menampung. Untuk kemudian dipakai bilas gelas kek, bilas sendok kek atau siram tanaman.
Sekecil apa pun sesuatu hal yang dilakukan, membawa suatu pesan yang HIDUP. Pesan yang hidup mudah menghidupkan bagian yang sama dalam diri. Tiap kita punya peduli, melihat peduli itu begitu Hidup dan berapi2 dalam diri orang lain, pasti ada pengaruhnya pada benih peduli dalam diri kita. Respek yang HIDUP dalam diri orang lain akan menyentil bakat respek dalam diri kita. Getok tular kata orang Jawa.
Menurut saya, apa yang kita lakukan adalah memncoba memperbaiki cara kita memandang Bumi. Bumi dan segala isinya selama ini kita perlakukan tak lebih dari sebuah produk. Kacung pemuas kebutuhan kita. Tafsir kata ‘Kuasai’ mengantar kita pada wajah Bumi kita detik ini. Segala bentuk kehidupan yang ada di muka Bumi adalah komoditi yang punya nilai jual. Habis2an alam dikeruk. Rasa2nya kita jadi sangat kreatif, hampir tak ada yang tak bisa dijadikan duit. Sepuluh tahun lalu tidak pernah terpikir air harus dibeli. tiga tahun lalu sepupu saya menawarkan satu paket O3, 500rb. Udara kualitas terbaik katanya. Sekujur tubuh Bumi dikapling pemilik modal. Jaman imperalis yang dikapling tanah. Lepas Revolusi Industri mata kita berlipat2 lebih jeli melihat apa saja yang bisa dikapling. Perut Bumi dikuras, Hutan dibotakin, air di’aman’kan oleh perusahaan. Sekarang yang lagi marak adalah kaplingan atmosfer….
kalo di klaten ada komoditi lain yang mungkin sulit dipercaya..tuyul. ada pasar tuyul. kalo minat datang saja sendiri dan bisa milih lo…wueleeh,wueeleh jadi ngelantur
Namun demikianlah sepak terjang keserakahan yang telah dipilih untuk dipertuhankan manusia sekarang.
Kembali ke pada setiap upaya yang mungkin terkesan remeh, sepele. Memulihkan hati bukanlah remeh. memperbaiki hubungan kita kembali dengan Alam tidaklah sepele. Beberapa minggu yang lalu saya bertanya pada pak Daliman, “Mengapa sih kita bisa begitu merusak Alam? mungkin karena kita memang sudah sangat jauh dan asing terhadap Alam ya?”
“Pagi sekarang tidak seceria dulu “kata pak Daliman, laboran di pusk kami. Dulu, menjelang pagi saat masih gelap saya suka sekali ke sungai hanya untuk mendengarkan gemericik aliran air, daun-daun seolah mantuk-mantuk menyapa. Burung-burung berlomba bernyanyi. ceria sekali! Sekarang…saya tidak bisa merasakannya lagi. Pagi tidak seramah dulu. Bangun pagi, dimana2 saya ketemu manusia, terlalu banyak manusia. suasana rasanya dingin. rasanya alam menarik diri, mungkin marah sama ulah kita. entahlah…sambat pak Daliman
paul dinardi said,
December 30, 2007 at 5:31 am
saya pikir bermakna sekali untuk membuat suatu perbedaan walaupun dimulai dari diri sendiri… saya jadi teringat juga dengan slogan rekan saya yang bekerja sebagai manajer… we can’t change people, we can only change the environment
Anonymous said,
January 14, 2008 at 8:20 am
mungkin peran orang-orang yang sadar tentang lingkungan memang seperti itu.menyebarkan informasi,menyebarkan kesadaran,menularkan -meminjam istilah Mba Dee di supernova:ksatria dan bintang jatuh- ‘virus’ tentang kerusakan lingkungan dan tindakan-tindakan apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya.
G
ulu said,
February 12, 2008 at 10:12 pm
halo, teh.
teh dee dan Marcell cocok.
saya ulu dari mahanagari.
mau ngajakin teh dee & suami untuk kami foto dengan desain terbaru kami: Rama-Shinta.
kami sengaja pilih satu pasangan yang Bandung banget dan pasangan yang menyenangkan
tentang Mahanagari, bisa dilihat di http://mahanagari.multiply.com/
oiya teh, email saya mahanagari@gmail.com