January 1st, 2008 at 4:35 am (Refleksi)
2008 di Pinggir Selokan
Pagi menjelang siang tadi, anak laki-laki saya, Keenan, tiba-tiba menarik tangan saya dan menggiring saya menuju sendal capit yang terparkir di teras depan. Saya sudah hafal aktivitas yang dia maksud, sekaligus rute perjalanan yang menanti kami. Inilah acara jalan kaki yang kerap ia tagih, yakni satu kali putaran ke jalan belakang di mana tidak ada rumah di sana, hanya tanah kosong berilalang tinggi. Jalan itu menurun dan curam, berbatu-batu besar dan banyak dahan berduri di pinggir kiri-kanan. Terakhir kami berjalan ke sana, kaki Keenan sempat luka karena tersobek duri, tapi entah mengapa ia selalu memilih jalur yang sama.
Sejak sebelum kami berjalan kaki, saya sudah mengamati pagi pertama tahun 2008 ini. Langit yang berawan, angin yang bertiup kencang, dan meski matahari bersinar cukup terang dan terlihat angkasa biru di balik timbunan awan, saya tak bisa mengatakan bahwa ini pagi yang cerah. Masih terasa jejak mendung peninggalan hujan semalam. Kendati demikian, pagi ini pun tak bisa disebut pagi yang mendung.
Sambil berjalan, saya merenungi kesan-kesan saya mengenai pergantian tahun kali ini. Ada keinginan kuat untuk menuliskan sesuatu, semacam refleksi dan sejenisnya. Tapi saya tak tahu harus memulai dari mana, harus menulis apa. Yang ada hanyalah keinginan menulis, tapi tanpa konten. Sejujurnya, alam pagi hari ini cukup mewakili apa yang saya rasakan. Saya melewati pergantian tahun ini dengan ‘abu-abu’. Tak melulu berspiritkan optimisme dan positivitas, tak juga melulu pesimistis dan negativitas. Semuanya hadir bersamaan dengan kadar yang kurang lebih seimbang, sehingga rasa yang tertinggal di batin saya adalah… netral dan datar.
Berbeda dengan kebiasaan saya, terutama di usia 20-an, yang selalu rajin bahkan mensakralkan kebiasaan menulis resolusi, evaluasi, pengharapan dan impian, kali ini saya tak berbekalkan apa-apa. Tak ada resolusi, tak ingin mengevaluasi. Harapan dan impian, yang biasanya kita bawa layaknya tongkat estafet dalam pacuan panjang bernama hidup ini, kali ini bahkan absen dari tangan saya. Cengkeraman jemari saya rasanya tak cukup kuat untuk itu. Bukannya kedua hal itu tak ada, tapi malas rasanya menggenggam. Yang ada hanyalah langkah demi langkah kaki di jalanan berbatu, bertemankan suara gesekan ilalang dan terik matahari yang kian menggigit tengkuk.
Keenan pun menolak digenggam. Dengan semangat, ia berjalan dengan gagah berani tanpa mau saya gandeng. Ia sibuk mengumpulkan batu-batu yang pada akhir perjalanan kami akan dicemplungkannya satu demi satu ke selokan. Dengan kedua tangan penuh bongkah batu, ia berjalan sedikit di depan saya. Tepat di turunan curam, tiba-tiba ia tergelincir dan jatuh menengadah. Seketika ia menangis, kaget bukan main. Semua batu di genggamannya lepas. Cepat-cepat saya meraih dan memeluknya. Saya melihat sekeliling, betapa banyak batu besar yang bisa saja menjadi landasan kepalanya saat jatuh tadi. Saya pun menyadari perjalanan kecil ini bisa jadi perjalanan yang berbahaya.
Sambil terisak, Keenan mengucap sendiri, “Tidak apa-apa… Keenan tidak apa-apa.” Dan entah mengapa, respons saya padanya adalah, “Ya, tidak apa-apa. Keenan sekali-sekali harus tahu rasanya jatuh.” Lalu kami berdua meneruskan perjalanan. Tak sampai tiga langkah, ia sudah minta turun lagi dari gendongan saya. Kembali berjalan sendiri, memunguti batu-batu baru, yang pada akhir perjalanan kami dicemplungkannya satu demi satu ke selokan.
Saya menunggui Keenan berupacara di pinggir selokan sambil merenungi perjalanan kami pada pagi hari pertama tahun 2008 ini. Akhirnya saya mendapatkan sebuah ‘pesan’. Terlepas dari kepercayaan kita pada sosok Tuhan personal maupun impersonal, semua dari kita setidaknya pernah merasakan hadirnya sebuah kekuatan, energi agung, atau apapun itu, yang tak luput menemani setiap langkah perjalanan hidup kita. Saat kita asyik berjalan, mengumpulkan segala sesuatu yang kita ingin raih, kita tak terlalu menghiraukan kehadiran ‘sesuatu’ itu. Namun saat kita tergelincir dan terenyak luar biasa, segala sesuatu yang kita cengkeram pun lepas. Tangan kita kembali kosong. ‘Sesuatu’ itu akhirnya punya kesempatan untuk muncul dan menyeruak, meraih tangan kita yang sedari tadi sibuk menggenggam. Lama atau sekejap kita didekap, selama perjalanan ini belum usai, tak urung kita akan kembali melangkah. Mengumpulkan kembali pengalaman demi pengalaman yang kita perlukan.
Sambil berjongkok di pinggir selokan, saya merenungi ‘batu-batu’ yang selama ini saya genggam. Besar-kecil, jelek-bagus, semua itu saya kumpulkan karena itulah yang saya perlukan. Jika hidup adalah siklus berputar dalam satu pusaran, cukup relevan jika saya menganalogikannya dengan trayek yang saya tempuh hampir setiap hari bersama Keenan itu. Jalanan berselimut batu, yang meski begitu sering saya jalani, tak pernah saya tahu batu mana yang akan saya genggam berikutnya, dan batu mana yang akan saya lepas sesudah ini. Tak pernah juga saya tahu, kapan saya akan tergelincir dan terpaksa melepaskan semua yang selama ini erat digenggam.
Sekalipun tahun baru ini saya songsong tanpa resolusi dan evaluasi, ada satu keyakinan yang mengiringi langkah saya pulang ke rumah pagi ini. Jika batu dalam genggaman tangan saya lepas, berarti sudah saatnyalah ia lepas. Jika perjalanan ini belum usai, maka kaki ini—meski lelah dan penat—akan kembali terus melangkah. Jika saya tergelincir nanti, maka sesuatu akan menyeruak muncul dari kekosongan, meraih tangan saya yang hampa dan kembali membawa saya bangkit berdiri. Saya tak ingin memberinya nama. Saya tak ingin menjeratnya dalam sebuah identitas. Yang saya tahu, saya bersisian dengannya. Seperti partikel dengan gelombang. Seperti alam material dan imaterial.
Sedikit batu atau banyak batu, melangkah cepat atau lambat, tergelincir atau terjerembap, ia berjalan seiring dengan napas dan denyut saya. Ia membutuhkan saya sama halnya dengan saya membutuhkannya. Dan hanya dalam keheningan, kami berdua hilang. Dalam keheningan, kami bersatu dalam ketiadaan.
Mendadak, adanya resolusi atau tidak, bukan lagi satu hal signifikan. Mendadak, hari ini menjadi hari yang sama berharganya sekaligus sama biasanya dengan hari-hari lain.
Selamat tahun baru 2008.
blackcoffeecream said,
January 1, 2008 at 6:26 am
first day on the new year just like the other day..
the Creator creates “today” not monday,tuesday,wed…or yesterday even tomorrow..
so..Happy new year..and happy “today” e.v.e.r.y.d.a.y
why not?
iman brotoseno said,
January 1, 2008 at 8:36 am
ada yang mengganggap resolusi hanya sebuah ‘device’ agar kita tetap semangat dan tumbuh hidup. Ada juga yang mungkin dengan pencapaian yang sudah didapat selama ini. what next ?
Apapun itu. Tetap semangats dan tetap produktif.
salam
Fin said,
January 1, 2008 at 8:52 am
Selamat tahun baru 2008 juga Mbak Dee! Ikut seneng juga sang buah hati sekarang sudah besar. Sudah bisa ngomong juga ya?
.
tetra said,
January 1, 2008 at 3:05 pm
Dee,..
apa kabar dengan journal of a 55-days novel nya??
Madé Harimbawa said,
January 2, 2008 at 1:59 am
Jadi ingat.
Beberapa minggu yang lalu saya mampir ke sebuah toko suvenir. Ketika itu saya mengantarkan teman membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-temannya di tanah air.
Ada satu kaos dengan grafis sederhana, bertulis lebih kurang: “I only drink on days ending with Y”, beserta tangan menggenggam segelas bir.
Ah, seandainya saya bisa merunduk dan belajar seperti Mbak Dee dari kejadian sehari-hari.. Ah, baru juga 2 hari berlalu di tahun ini saya sudah mulai sebuah list panjang keinginan.. harapan.. *ough!
mitora in life said,
January 2, 2008 at 2:06 am
tp, ternyata ada juga yang membutuhkan resolusi sbg reminder…
hehe, overall, i love your writing ^_^
didut said,
January 2, 2008 at 2:32 am
Selamat tahun baru Dee … BTW di tahun baru ini saya lg byk merenung, begitu byk kesalahan yg hrs diperbaiki karena mengakui kesalahan itu hal yg paling sulit aku lakukan … gutlak buat 2008 Dee & salam buat keenan dan suami
Donny Verdian said,
January 2, 2008 at 7:10 am
Tulisan yang menarik, Dee!
Selamat tahun baru dan salam kenal
Afra Mayriani said,
January 2, 2008 at 9:09 am
Dear Mb Dee…Selamat Tahun Baru 08 ya, juga untuk keluarga tercinta.
Tulisan yang sangat menyentuh dan dalam, di tahun yang baru ini.
Memang seringkali manusia disibukkan dengan resolusi dan evaluasi hingga tak sedikit yg frustasi ketika setahun berlalu dan resolusinya masih ada yg belum terpenuhi.
Yang sebenarnya penting adalah jalani hari demi hari dengan melakukan yg terbaik yg bisa kita berikan.
Terima kasih untuk pencerahannya.
Salam Sukses,
Afra Mayriani
zaM said,
January 2, 2008 at 5:35 pm
Met Tahun Baru Bu Dee
zaM | http://dzam.blogspot.com
budin said,
January 3, 2008 at 1:05 am
selamat tahun baru mama Keenan,
ada kepasrahan dalam tulisan kali ini, tapi tentu sebuah kepasrahan setelah berjuang dengan kuat yang diawali dengan do’a untuk dikuatkan ya mbak…
cheers,
^_^
keong said,
January 3, 2008 at 7:12 am
tok tok tok… just visit and taking a walk..
tamara said,
January 3, 2008 at 10:49 pm
haPPy neW year mbak dee! ^o^/
resolusi? humm…not to break what we’ve planned, i guess. That will be the best resolution each year =)
IRMA said,
January 4, 2008 at 1:47 am
Selamat Tahun Baru 2008
Tulisan mbak Dewi sesuai dengan “mood” abu-abu saya menghadapi tahun baru 2008
Sabbe Sankhara Anicca, tetapi hidup kita menjadi lebih baik karena karya tangan kita sendiri.
Jia You ya mbak!
Enna said,
January 4, 2008 at 2:09 am
At least you start 2008 with one insipiration.
Tetap semangat untuk lanjutkan mimpi yang baru separoh dijalani dan jangan berhenti untuk raih yang lainnya.Meski kita tetep butuh waktu lampau sebagai kilas balik.
Wish you HAPPY NEW YEAR..;-)
antok said,
January 4, 2008 at 2:35 am
saya antok. fans berat dee. kalo berkenan, kunjungi blog saya http://www.antoksastra.wordpress.com. thanks
-dodol- said,
January 4, 2008 at 3:42 am
senangnya mengetahui dan meastikan bahwa datar tidaklah pernah sebegitu datar. bagaimanapun, kita tetap dibuat berisi dan ditemani ’sesuatu’..
cyn said,
January 4, 2008 at 11:39 am
selamat taun baru..
dengan abu-abu, batu, upacara di selokan yang menyentuh..
Zephyr said,
January 5, 2008 at 2:35 pm
kemarin, saya iseng menulis di salah satu web, resolusi 2008 = no resolusi, tapi di belakangnya buru-buru saya tambahi dengan sepenggal “just kiddin’”. Sepertinya hati kecil saya menolak untuk melewatkan tahun baru tanpa resolusi, terlepas dari saya melaksanakannya atau tidak. Apakah tahun baru memang harus dengan resolusi? Karena rasanya tahun ini adalah tahun ter’abu-abu’ dalam hidup saya.
Happy nu yr!
niko said,
January 6, 2008 at 3:24 pm
selamat menyongsong perjalanan di tahun 2008.
saya senang membaca tulisan mb Dee
salam kenal
nikolaus yosep
malang, jawa timur
Unee.Adisti said,
January 7, 2008 at 11:15 am
” Tahun Baru ” itu hanya label. Judul. Tergantung kita mau mengisinya. Setiap hari juga bisa menjadi tahun yang baru. Perubahan, resolusi,ekspetasi, harapan dan usaha untuk menjadi lebih baik lagi, itu tidak harus menunggu tanggal 1 Januari.Karena proses pembelajaran bukan hanya setahun sekali.
cheers !
The Doublelines said,
January 7, 2008 at 2:15 pm
Hi Dewi, how do u do? kumargi tacan kenal,nah skr udah, jd how are you? howz it goin’ keefian’ha’?
Saya punya minat yang sama dengan mbak, i am 26 so u’re mbak,
. I heard u, and i think that u’re one of musicians that i ever wanna meet and talk to,,,
I never read your novels, the kind of different genre that i like most, but most of all, its good.
Kita pernah ketemu di Sky FM, guess u didnt even notice that, km diwawancarai with ur bloody sisters, and after that i had a gig,the same place that u had,,
I am also a musician, i am a blues man, but heyy i dun wanna have an existential problem here,,,i am nothing that i ever known than,,,at least it’s a name, an address,,
from ur profile, i like it, that way will put words, exactly the same with urs,,,
ok,,ms ragu nih pass di blogspot saya bener gak yaa,,,ahh sy tulis aja dulu messagenya ya,,,but truly Dee,,,daripada sy ktemu Mick Jagger, lebih sy ketemu sama mbak Dee, di beranda, minum teh hangat, u’r husband there, ur kid,,,,and talk till the sun eaten by the west,,,Mick Jagger he’s the one inspired me to sing,,,,
yeah, iam a singer,a songwriter, a writer,,the later still amateur though heheheh,,,teach me then,,but hey i play guitar too,,,why dont you sometimes play piano just like Imel,,,hehehe,,
ohh ya sy jg pnya blogg yg telah luammma tidak diupdate dan dari awal gak diurus,,,ya bgitulah, sy ngurus sorangan ge rariweuhnya, boro2 ngurus blog hehehhe
tp mbak, sy brharap suatu hari kita bisa brtemu, dan berkata, “And it really didn’t have to stop…it just kept on going.
And so castles made of sand slips into the sea,
Eventually” – Jimi Hendrix -
All da Best
J Kondoi
aWik said,
January 8, 2008 at 12:51 am
Wah anda kelihatanya mulai menuju pusat roda kehidupan. dimana disitu tak ada putaran, yang ada hanya keikhlasan, mulai berkurangnya beban kehidupan, yang ada hanya ketenangan dan kebahagiaan.
selamat ya, anda di track yang benar.
saya juga pengen kesana, tapi susah bgt oey. hehehe…
selamat menuju ke pusat roda kehidupan ya…
Anonymous said,
January 9, 2008 at 3:07 pm
Sama seperti saya, saya memulai tahun baru ini tanpa resolusi kecuali tekad untuk tetap mengikuti arus hidup ini dari hulu hingga ke hilirnya nanti. Selamat tahun baru. Semoga sukses selalu dalam menulis. Ditunggu buku selanjutnya.
WeHa
dizz said,
January 11, 2008 at 1:14 am
mbk dee….
saya cuma mau tanya,
kapan supernova partikel nya??????
saya & tmn2 saya udah duduk manis siap baca supernova lagi.
rep :dizzhimura2yahoo.com
please…kabari saya [kami] secepatnya di email saya.
thx a lot!
seto said,
January 12, 2008 at 9:37 am
Kesederhanaan dan kerendahan hati rasanya cukup menjadi sebuah resolusi yang baik.
Seperti halnya matahari dan bulan yang kita lihat sekarang tak beda dengan yang dilihat oleh Muhammad, Jesus, Mahatma Gandhi, para Dalai Lama dulu beberapa abad lampau … tetap sama. Yang bergerak adalah keberanian kita untuk bangkit dan berjalan terus.
Salam kenal Mbak.
seto
d Drama Queen said,
January 12, 2008 at 9:09 pm
Ya, memang nggak ada bedanya, bagi saya resolusi yang saya tulis, sebagai penyemangat saja bagi saya untuk menghadapi hari esok yang lebih baik. Toh, dengan begitu kita memiliki satu tujuan …
Happy new year, Mrs. Dee …
stey said,
January 12, 2008 at 10:59 pm
saya bukannya enggan beresolusi,cm kdg saya juga merasa tidak punya suatu hal untuk saya jdkan resolusi ditaun selanjutnya,cuma ingin menjadi lebih baik saja,bukankah itu lebih penting?
selamat tahun baru dee,apakabar supernova?saya masih setia menunggu..salam buat marcell dan keenan..
fonghosang said,
January 14, 2008 at 1:41 am
TAKDIR. setiap manusia akan dihadapkan oleh sesuatu yang bernama takdir. Ada takdir baik dan takdir buruk. Seorang bijak berkata: “Jika ingin tahu masa lalu, lihatlah keadaanmu sekarang.Jika ingin mengetahui masa depan, lihatlah perbuatanmu saat ini.” Takdir, ditentukan dari karma. Saya ingin menerbitkan buku tentang ajaran budha, jika ada yang ingin membantu, email saya ya, thx. Menyebarkan kebajikan melalui tinta,akan dikenang sepanjang masa. alangkah baiknya jika masing-masing organ menjalankan bagiannya.
Titik Kartitiani said,
January 14, 2008 at 3:59 am
Tulisan ini menyadarkan saya, betapa sombongnya saya, menggenggam ‘batu-batu’ dengan segenap tenaga,bahkan hingga jemari berdarah, kala terjerembab semuanya lepas hanya meninggalkan luka.Ya,kenapa harus kuat-kuat menggenggam? Toh masih banyak batu-batu yang bisa kita dapatkan kalau kita mencari.Salam buat Keenan ya, Mbak..dari Sausan-my little sunset
Salamov Rijadic said,
January 14, 2008 at 5:42 pm
Dee, intinya mungkin ikhlas kalee ya ? Menerima apa yang dianugerahkan olehNya kepada kita. Resolusi, silakan saja, itu satu bentuk dr keinginan untuk jadi lebih baik lagi. Kalau ada resolusi, plus ada keikhlasanya juga, alangkah indahnya hidup. Salam kenal Dee.
Anonymous said,
January 15, 2008 at 8:49 pm
slamat taahun baru juga mrs. dee
u know, daftar orang yag saya mw temui di dunia ini dan berbincang:
-my prophet
-Oprah
-barack obama, and de last is
-YOU
regards
memetolicious al makassari
tan_intan said,
January 16, 2008 at 5:33 am
selamat tahun baru juga mba Dewi.. nice one!!! i love it very much..!!
boim said,
January 17, 2008 at 10:18 am
satu lagi tulisan kamu yg simple tapi dalem ‘dee…selamat..!!!
jadi inget kata2 mpu hora dlm novel MOMO, yg blg..
” setiap org harus memutuskan sendiri apa yg hendak dilakukan dgn wkt yg dimilikinya….
sebagaimana kalian memiliki mata utk melihat cahaya, dan telinga utk mndengar bunyi, kalian memiliki HATI utk merasakan waktu, waktu yg tidak dirasakan dengan hati menjadi hilang sia-sia…. “
jadiii..selamat merasakan waktu, happy ato ngga, cuma masalah pilihan…
caca said,
January 19, 2008 at 12:30 am
Selamat Ulang Tahun untuk Dee pada tanggal 20 Januari, i wish u all the best hehehehe… sederhana sekali ya ucapannya.
Kapan nih menerbitkan buku baru? Denger-denger Supernova episode Partikel, benarkah? Wah jadi ngga sabar menunggu tulisanmu…
Anang, yb said,
January 19, 2008 at 7:48 pm
Dee,
saat pengalaman hidup menghampiri kita lebih cepat dari kemampuan tangan kita menulis resolusi, mengapa resolusi tidak kita simpan secara lisan saja di hati kecil kita?
konnyaku said,
January 22, 2008 at 4:49 am
somehow i still need resolutions to pin point where i will be heading.
btw, happy belated bday dee
-stella
shantiadewi said,
January 24, 2008 at 9:43 pm
selalu membawa sebuah perenungan setiap membaca sepatah dua patah kata dari kamu dee…
love “Filosofi kopi” so much…
masih inget lia? kita udah pernah jalan bertiga waktu diyogya, makan disbuah tempat yang masih asri…dan disitu kita bercerita tentang segala macam apa yang ada dihidup ini, dan kamu cerita banyak tentang harapan, dan kita yang hidup dalam sebuah sistem…?
please keep in touch. i’m so proud of u. salam buat marcell dan keenan
vinividivici said,
January 25, 2008 at 8:17 pm
i like ur style, the way u use words. n i guess one reason is that u inserted some scientific knowledge in ur stories which make them really rich and intelligent and alive and ‘peka’, but at the same time hilarious. i like to laugh as well as think when i read… aniwae i wanna wish u all the best in this coming fruitful year! lets fight and hold on tight to our faith…
vinividivici-
jimshere said,
January 26, 2008 at 10:09 am
Dee, Happy Birthday yah:) S’moga
Sehat Selalu Sekeluarga & Teman2, that was a great opening blog for 2008! You’re my Only One Best Indonesian Writer! I’m Wishing All The Best for You D, in yer every great year to come!
btw I just want to say this sooner than everyone else ahah;p ..Happy New Year 2009!!!
jo said,
January 29, 2008 at 12:11 am
ada yang “satu” dan ada yang banyak. yang “satu” hadir ketika “yang banyak” – yang selalu dikumpulkan sebagai beban hidup -lenyap. adakah hikmah itu hanya selalu hadir ketika musibah datang? nyatanya musibah memang senantiasa mengintip entah kapan datangnya merebut segala apa yang selalu dikumpulkan, dan yang “satu”pun menyeruak menampikan dirinya. tapi dalam dee sepertinya ada hikmah dibalik hikmah, ada lanjutan dan keberlangsungan noumena dari fenomena, lumen gentium yang selalu menyirami hidupnya karena kepekaannya yang luat biasa, karena rasanya yang indah dalam semangat yang mengalir secara plastis, dan karenanya resolusi yang sarat dengan beban pikiran dan jarak itu tiada tempat di dalam setiap pengalaman keindahannya, pengalaman sublimnya. jopri
Abu Salman said,
January 31, 2008 at 9:51 pm
dee, apa itu efek dari meditasi yang dee lakukan ya? kadar ketertarikan terhadap segala sesuatu yang tidak esensial menjadi berkurang, segala sesuatu seperti menjadi tidak penting, biasa netral, hanya fokus pada tujuan-tujuan tertentu sebagai “ajaran hidup”, pernah juga saya merasa tidak tertarik sama sekali dengan obrolan-obrolan orang lain.
opiendhut said,
February 3, 2008 at 10:18 pm
beberapa tahun terakhir saya hampir selalu tidak pernah membuat resolusi untuk hidup saya. saya slalu berusaha untuk menjalani hidup saya ini dengan se-enjoy mungkin karena saya gag mau terjebak dengan smua rutinitas yang saya lakukan demi mencapai resolusi saya. dan awalnya saya bingung dengan itu. tapi setelah baca blog milik mbak Dee, bikin saya sadar bahwa kadang di dalam hidup kita juga harus berserah diri kepada Tuhan.
kicky tea said,
February 4, 2008 at 9:13 pm
dee..blognya templatenya sama dengan gw…hehehe….
lam kenal…
WS Leo said,
February 5, 2008 at 6:01 pm
Dee, despite the belated comment, ceritanya ngalir banget. it brings deep contemplation of journey of life. i love it.
I agree with unee.adisti’s comments.
i have similar piece of writing to share in my blog. http://wsleo.blogspot.com/2008/01/perayaan-usang-tahun-baru.html
Nawangtri said,
February 6, 2008 at 8:49 pm
seumur hidup, saya ndak pernah bikin resolusi meski saya hobi introspeksi diri,saya hanya suka menulis dan ingin menjadi blogger sejati.
Saya menanti buku – buku anda yang lain,Dee.( dan ternyata template blog kita sama! )
pls visit http://www.she-nawangtri.blogspot.,com
thanks
richards said,
February 11, 2008 at 10:59 am
resolusi, bukan mana memulai, namun bagaimana mengakhiri? Sayangnya, tak tahu kapan kita berakhir. Pertanyaannya, untuk apa kita memulai?
Anonymous said,
February 13, 2008 at 5:35 am
mba dee…
moly niy,,, hehehehe….
lg iseng2 surfing,eh dapet blognya mba dee.
mau pamer tulisan dikit yah mba,
mungkin sedikit berhubungan sama tulisan mba.
-LANGKAH KEHIDUPAN-
Jika kamu pernah dalam langkahmu. dan mencoba menengok ke belakang, sejauh mana tapak yang terlewati. kau akan lihat ketakberhinggaan… padahal sepertinya kamu mengingat setiap langkah dan menghitung dengan tepat setiap pergantian waktu. tapi tetap yang kau lihat di belakang, hanya kejauhan… sepertinya memang, semuanya ingin disimpan. dibawa terus kedepan, untuk nantinya tetap tahu jalan pulang. tapi tetap, yang kau bawa hanya catatan perjalanan.
dan pada detik berikutnya, kamu mulai menoleh ke depan. dan tetap yang kau lihat ketakberhinggaan…
hanya tertumpu pada satu redupan cahaya. hanya terlihat kejauhan…
ketidaktahuan menjadi satu-satunya pengetahuan. keyakinan menjadi satu-satunya kekuatan. ketakberhinggaan yang tak mungkin diperhitungkan.
yang kau punya hanya catatan perjalanan, dan satu langkah kehidupan…
–http://mahamati.blogs.friendster.com/my_free_worldwith_my_free/
terimakasih mba dee..
-moly-
Hans said,
February 14, 2008 at 11:46 pm
So inspiring!!!!
ViS said,
February 19, 2008 at 5:33 am
Tidak ada pikiran, tidak ada perasaan, tidak ada ingatan…
tidak ada waktu…
Tidak ada Dee…
Mettacittena,
ViS
ViS said,
February 19, 2008 at 6:17 am
Saya mendengar banyak orang berkata, “Oh, tahun ini adalah tahun yang buruk bagi saya” “Bagaimana bisa?” “Saya sakit sepanjang tahun”,jawabnya. Saya tidak dapat latihan meditasi sama sekali.” Oh! Kalau mereka tidak berlatih ketika kematian sudah dekat, kapan mereka bisa latihan lagi? Kalau mereka sehat, apakah Anda pikir mereka akan berlatih? Tidak. Mereka hanya akan tenggelam dalam kebahagiaan. Kalau mereka menderita, mereka tetap tidak berlatih. Mereka akan kehilangan kesempatan pula. Saya tidak tahu kapan mereka akan berpikir untuk berlatih.
LiLO said,
February 21, 2008 at 5:23 am
dee, minta email pliss..mau sharing sesuatu…
kalo mau ditanggapin, terima kasih..kalo ga, gpp..setidaknya aku tau kalo aku cerita ke orang yang ngerti kegelisahan jiwaku selama ini.
email : feli.napraiseti@gmail.com
dipraka said,
February 21, 2008 at 6:23 am
dee..saya penggemar tulisan kamu..
salam kenal dari saya..
oh ya saya cuma mau bilang betapa cerdasnya kamu memilih sampul supernova1: ksatria,putri,dan bintang jatuh. itu loh gambaran fraktal mandelbrot..kamu tahu gak saya yang mahasiswa teknik aja baru sadar pas malam ini saya belajar fisika dari buku tipler! hebat kamu. cermat sekali!
Anonymous said,
February 23, 2008 at 7:03 am
dee semangat nulisnya
elmo said,
February 24, 2008 at 11:45 pm
nice post…!!! ^^
mampir nii
Java Boys said,
February 28, 2008 at 10:42 am
salam kenal mba’ dee
aku pengen belajar ma mba’ neh..
bleh ya
baca blog ku ya mba’
PCLM ^_^
Ordinary people said,
March 2, 2008 at 10:54 pm
Because we need to accept the concept of relativity. To see our life from a different perspective.
dhodotes said,
March 3, 2008 at 8:10 pm
he..he..Nyi Dewi.
Kalo boleh Carik’e lancang njodoh-menjodohkan, artikel ini berjodoh dengan taktiktuk Carik’e bertajuk ..wel diuwel-uwel..
sori, Nyi ya. Carik’e baru mulai ngeblog jadi ya masih bodong melompong gitu deh.
riway miway said,
March 4, 2008 at 8:01 pm
saya nita dari universitas brawijaya malang.
LPM Brawijaya akan mengadakan workshop kepenulisan sekitar akhir april-awal mei….
kami berniat menjadikan mbak dee sebagai pembicara…
konfirmasinya saya ucapkan terima kasih….
salam kenal
nita…..
nitariway@gmail.com
dian said,
March 10, 2008 at 3:57 am
Yup, awal tahun ini terasa menggantung, merasa akan melakukan banyak sekali ‘pemungutan’ batu baru, tapi lupa melepaskan yang lama.
Lupa, kalau genggaman kita tidak sebesar itu untuk mendapatkan semuanya.
Hhhh
yati said,
March 10, 2008 at 6:28 am
dalem banget ya…
gimana bisa mengasah kepekaan agar bisa mengambil pelajaran besar dari hal-hal sederhana seperti itu?
arianna . said,
March 13, 2008 at 1:11 am
selamat menikmati !
nindalalala said,
March 23, 2008 at 3:59 am
Mba Dee, thx buat corat-coretny yg uda ngasih aku sudut pandang baru ttg kehidupan… dan Tuhan tentu saja. thx bwt sedikit refleksi yg mberi banyak arti. salam knal…
* ninda
)
bodhi said,
March 27, 2008 at 8:34 am
You know dee, you should not consider this comment as an important one, because I just want to say hi. Hello, I’m one of your book’s characters!
Can I refer this site at my about page?
setiapraja said,
March 28, 2008 at 10:49 pm
wew
Anonymous said,
April 3, 2008 at 12:27 am
selamat sore mba…
aku pengen ngundang mba sebagai duta kanker serviks dari GSK…untuk talkshow tentang Kanker Serviks yang diadakan oleh mahasiswa Humas, FIkom Unpad.
tapi, prosedurnya bagaimana?
makasih yah mba…
informasinya, aku tunggu ya di she_gembil@yahoo.com..
makasih
nsueta said,
April 3, 2008 at 9:07 pm
Ya, harus ada suatu proses untuk menyempurnakan kekinian. Kesempurnaan kekinian adalah merasakan masa lalu, masa kini dan masa depan dalam satu titik.
Anonymous said,
April 6, 2008 at 7:22 pm
salam kenal…saya ingin jadi penulis mba dee..mohon tanggapan hasil tulisan saya..
Anonymous said,
April 11, 2008 at 4:37 am
Halo mbak..salam knal..ad yg bs qt ambl dr tulisan mbak bahw qt hrs bangkt untk mraih kmbli ssuatu, sbg penganti yg uda g ad n ngingetin qt klo g slamany jln itu mulus…pasti ad tantangan.tq
jo said,
April 13, 2008 at 5:34 am
pada akhirnya kemampuan kita buat berdiri lagi sesudah jatuhlah yang akan menentukan kesuksesan kita di depan…..thank you for sharing
Desi said,
April 16, 2008 at 8:09 pm
Wah, senangnya bisa nemu blog ini! Dee, saya ngefans banget sama anda!
Yusrizal Helmi said,
April 23, 2008 at 9:39 am
“Dengan segala kerendahan hati, aku hanya jadi orang baek dan belajar pada guru yang terserak dimana-mana” (Nisbi)
http://www.jose-84.blogspot.com
hendy said,
May 10, 2008 at 8:06 pm
2008 di Pinggir Selokan
suatu proses perkenalan yang lebih intim telah saya lakukan dengan membaca blog ini.
mungkin kita sedang bertemu di pinggir selokan itu saat ini.
kita telah berkenalan di pinggir selokan itu hari ini.
saya bisa mengenal sosok mba dee sejengkal lebih dekat, meskipun masih banyak yang belum saya ketahui dari dirinya, apa saja yang
ia kerjakan. it’s ok.
menurutku ini adalah perkenalan yang sangat hangat.
berkenalan di pinggir selokan.
semoga kita tidak hanya berkenalan di pinggir selokan saja. tetapi suatu hari kita bisa bertemu dan mungkin duduk satu meja di salah satu coffe shop dan nengenal lebih jauh lagi satu sama lainnya…
salam kenal,
hendy sibuea, CHt
hendy_sibuea@yahoo.co.id
KLIK SAYA said,
August 29, 2008 at 12:29 pm
Blognya Menarik. akan saya tunggu updates berikutnya.
Salam kenal.
zabogar said,
April 11, 2009 at 5:19 pm
si teteh jago uy nulis nya… ajarin dung…