April 27th, 2008 at 7:13 pm (Uncategorized)
Pesan Dalam Jawaban
Sesungguhnya apa yang saya tulis di sini hanyalah jawaban dari beberapa pertanyaan yang mampir ke posting “Diam di Bumi”. Namun, bagi saya, pertanyaan tersebut cukup penting untuk diulas dalam sebuah posting terpisah. So, here it is…
Sebuah pertanyaan dari Roi: adakah gunanya menunda? Jika dianalogikan ke dokter gigi, pilih dokter gigi yang bekeja cepat? Atau lambat? Ia bertanya. Karena barangkali sakitnya sama. Bagi saya, pemikiran tersebut merupakan sebuah ‘jebakan klasik’, persis dengan contoh logika perokok yang saya tulis dalam posting.
In a way, saya selalu merasa beresonansi kuat dengan pepatah setengah serius setengah bercanda yang berkata: “Man plans, God laughs”. Manusia boleh berencana, Tuhan tertawa. But the same divine power had supplied us with survival instinct and also awareness to evolve. So what do we do?
Mengikuti penyelidikan dan pengamatan Graham Hancock dalam bukunya, saya pun tak luput ikut berpikir: hadirnya monumen misterius seperti Sphinx dan Macchu Picchu, akankah kita mengabaikannya begitu saja? Sudikah kita untuk berkontemplasi sejenak dan merasakan pesan yang dibawanya?
Sebuah peradaban manusia yang sangat maju diindikasikan pernah hadir di muka Bumi, lantas menghilang nyaris tanpa bekas, tanpa warisan, tanpa sejarah, tanpa catatan. Manusia lalu bergulat dalam amnesia panjang, merangkak kembali dari masa primitif. Kehilangan hubungan dengan sejarahnya sendiri. Akankah kita mengulang hal yang sama?
Saya merasa, di sanalah barangkali gunanya “penundaan”. Karena dalam usaha tersebut, kita berbuat jauh lebih dari sekadar menunda, tapi kita semua berusaha eling, sadar, menyadari apa yang kita telah perbuat dan apa yang kita bisa lakukan bagi Bumi. Bagi saya, itulah makna evolusi. Itulah maknanya menjadi manusia.
Lalu, merespons komentar Daus, saya sepakat bahwa setiap orang punya cara masing-masing untuk menyelamatkan Bumi, dan sebaiknya kita bergerak bersama, dari berbagai lini. Namun upaya “garis keras” jika tidak disokong oleh perubahan fundamental dari masing-masing individu, menurut saya, akan superfisial dan bagaikan percik kembang api. Menyala tapi tak ‘panas’. Meriah tapi tak ‘berisi’.
Banyak aktivis yang saya amati, mereka berteriak-teriak untuk konservasi lingkungan dan pengubahan kebijakan, tapi dalam hidup keseharian, mereka tidak memilah sampah, tidak mengurangi plastik, tidak mengurangi konsumsi daging, tidak berhemat, dsb. Tenggelam dalam payung besar bahwa negara majulah yang patut dipersalahkan. Penghematan adalah jatah mereka, bukan jatahnya negara berkembang atau negara miskin. Namun tidakkah ini jebakan klasik berikutnya? Kembali kita melepaskan kekuatan perubahan dari tangan kita sendiri dan kembali menunjuk pihak lain untuk berubah.
Memikirkan emisi Amerika, Jepang, Cina, India, dan aneka negara industri lainnya… memikirkan pemerintah kita yang seolah tak berdaya menghadapi illegal logging, pembakaran hutan, perusakan lingkungan… bukanlah hal yang tak berguna. Namun jika kita hanya berhenti sampai di sana, dan tak mengubah diri kita sendiri, maka sampai kapan pun kita seperti kawanan tikus putih yang sibuk berlari dalam roda. Sibuk, tapi tak ke mana-mana. Perubahan yang paling nyata adalah perubahan yang bisa kita lakukan pada diri kita sendiri. Suarakanlah perubahan, tapi jangan lupa bersuara untuk diri kita sendiri.
Rajendra K. Pachauri dan IPCC telah melansir tiga poin penting untuk mengurangi pemanasan Bumi: Stop eating meat. Be a frugal shopper. Ride a bicycle. Tiga hal yang tampak sederhana. Namun jika kita melakukannya, individu demi individu, maka segala kebijakan dan roda industri akan beradaptasi dan mengikuti. Inilah yang kerap kita lupakan. Kita berperang melawan organisasi besar dan pemerintah, tapi seringkali kita lupa bahwa jika organisasi dan institusi besar itu dilucuti, yang ada hanyalah individu-individu. Sama dengan Anda dan saya. Sama-sama bernapas. Sama-sama makan. Sama-sama bagian tak terpisahkan dari Bumi ini.
Itulah pesan utama dari blog ini sejak hari pertama peluncurannya. Sungguh. Hanya itu.
Pangeran said,
April 28, 2008 at 7:17 am
ada pepatah:
“Saudaranya mengucurkan keringat yang lain malah meminum keringat itu”…
entahlah jika 10 tahun lagi ternyata bumi semakin panas dan tenggelam oleh keringat-keringat miliaran manusia yang sekarang (termasuk saya) sangat berat untuk memulai apa yang seharusnya kita mulai.
d i y a n said,
April 28, 2008 at 8:37 am
Yah ga salah kita meminta negara kaya untuk menekan emisinya, tapi alangkah baiknya jika itu disertai dan dimulai dari dalam diri kita sebagai individu (stop eating meat, be a frugal shopper, ride a bicycle) atas dasar kesadaran kita. Kesadaran seperti itu punya efek yang dahsyat, apalagi kalau bisa semua orang yang sadar (sulit memang). Kalau kondisi tersebut dapat direalisasikan, saya rasa negara-negara maju pun akan inisiatif bertindak, tanpa perlu disodorkan beribu tuntutan yang selalu diteriakkan.
rina said,
April 28, 2008 at 10:54 pm
Salam kenal ya Mbak. Terimakasih udah jadi lilin, dengan kata lain inspirator, yang udah membuat saya, dan mungkin orang lain tergugah kesadarannya dengan membaca postingan Mbak Dee.
Myblogs said,
April 29, 2008 at 6:59 am
menarik sekali membaca blog mbak tentang climate change.Beberapa tahun terakhir ini hampir semua orang di berbagai belahan dunia ini di tuntut untuk lebih care tentang pemanasan global yang sekarang tengah di rasakan oleh kita.Tidak bisa dipungkiri bumi kita menurut para ahli telah berumur miliaran tahun.Saya juga percaya dengan apa yang di katakan oleh mbak Dewi,bahwa bumi selalu punya mekanisme keseimbangan yang secara naturally bisa menyeimbangkan kembali,namun sejak era revolusi di mulai,terutama sejak zaman industri di mulai,pabrik pabrik di dirikan,kendaraan2 mulai di produksi,persaingan industri mulai kompetitip,keseimbangan itu mulai sulit berjalan sebagaimana mestinya.Memasuki tahun 2000 sampai sekarang negara2 seperti china dan india dengan kemajuan industrinya yang luar biasa telah menjadi penyumbang karbon terbesar di dunia selain amerika,segelintir orang dengan semangat yang tinggi menyuarakan,mengedukasi tentang bahaya climate change,namun sebagian besar yang lain sibuk dalam dunia persaingan untuk menjadi yang terdepan,yang terkuat secara ekonomi dan perdagangan dan walaupun sadar akan bahaya yang di timbulkan,apakah mereka akan peduli dengan issue climate change?mungkin sangat sulit bagi mereka untuk peduli.Bagi mereka mereka,masyarakat kaum bawah,yang tersebar di negara berkembang dan miskin,apakah mereka akan lebih peduli dengan climate change dari pekerjaan mereka mencari sesuap nasi?saya rasa tidak..Sekarang seperti di ibaratkan sebuah mobil yang melaju kencang dengan kopling dan rem yang tidak bisa lagi berfungsi bagus..namun semua ini hanyalah pendapat pribadi saya tentang issue ini.terima kasih mbak.blog anda bagus sekali.
koekoeh said,
April 29, 2008 at 5:10 pm
why does the great names such as; Budha, Gandhi, Mother Theresa, etc remain centuries? Simple. Because they not only talk, but they also ACT!
tan_intan said,
April 30, 2008 at 8:09 am
Kalo menurutku, salah satu alasan kenapa kita mesti ‘menunda’adalah buat kepentingan anak cucu kita. Mungkin ada yang merasa masih jauh, masih lama atau sekedar gak peduli, tapi aku sering ngebayangin aku tinggal di bumi yang lebih ijo, lebih adem, lebih biru dan beneran ada bintangnya. (Aku sering nonton film, terutama fantasi dan setelah selesai nonton aku suka ngerasa dunia nyata itu kok warnanya pucet banget.. hehe). Rasanya gak berlebihan kalo kita mau mewarisin mimpi kita itu buat anak cucu kita. Meskipun hasilnya belum pasti, setidaknya kita gak jadi bagian yang menghancurkan masa depan generasi selanjutnya.
Anonymous said,
May 1, 2008 at 3:03 am
Dee, ada berita gres
First reported 17 hours ago – Updated 46 mins ago
Arctic sea ice: another record low forecast
Washington – Arctic sea ice, sometimes billed as Earth’s air conditioner for its moderating effects on world climate, will probably shrink to a record low level this year, scientists predicted on Wednesday. In releasing the forecast, climate researcher … [46 mins ago - IOL]
Entities: Arctic Ice, NASA, Climate
chindy tan: First reported 04/25/2008 – Updated 04/26/2008
North Pole might be free of ice in 2008
LONDON: Scientists have warned that the North Pole might be free of ice before the end of this year, turning into a vast expanse of water.According to a report in New Scientist , Arctic scientists are preparing for this grim possibility after seeing a … [04/26/2008 - Economictimes]
04/25/2008 – North Pole could be ice free in 2008
Entities: Arctic Ice, Mark Serreze
http://environment.newscientist.com/channel/earth/dn13779-north-pole-could-be-ice-free-in-2008.html?feedId=online-news_rss20
Saya berpikir dan saya coba merasa, saat ritme hidup spesies manusia di’pause’ 1X24jam…mungkin akan menjadi catatan extinct massal yang terindah jika setiap hati saat itu sempat habis-habisan berkomtemplasi, mencoba mendengar dengan mata, melihat dengan telinga, merasakan getar dan getir hati atas langit yang terkoyak, Bumi yang tersayat, nadi sungai yang putus…mencoba meniti kembali keterhubungan kita dengan Bumi,
meREKA ulang wajah kita, manusia
meREKA ulang wajah Bumi
jabat erat
chindy
ps. saya milih reinkarnasi jadi jamur;) konon cuma jamur yang akan survive hingga Bumi berproses memulihkan dirinya kembali
fahdisme said,
May 1, 2008 at 7:41 am
Udah lama nggak mampir dan ikut nimbrung ngobrol di blog ini.
Saya jadi ingat film “Dinosaurs” yang saya tonton enam tahun lalu sewaktu masih SMP. Film itu dimulai dengan sebuah kalimat–yang saya lupa bahasa Inggris-nya: “segala hal yang besar dimulai dari sesuatu yang kecil. Yang besar tak akan pernah ada tanpa [segala] yang kecil.” Lalu sebuah telur dinosaurus menetas. Seekor calon Brontosaurus raksasa muncul dalam ukuran yang kecil. Bu Bronto mengelusnya dengan kepalanya. Dua makhluk dalam ukuran yang sangat kontras.
Saya pada saat itu berpikir, mungkin juga semua penonton lain, ” si Bu Bronto yang guede itu,dulunya pasti berukuran kecil seperti bayinya.”
Sejak saat itu, saya memutuskan untuk tak mengabaikan hal-hal kecil–dan memulai segala sesuatu yang besar dari langkah-langkah yang kecil.
Kita kadang terobsesi untuk melakukan hal yang besar seperti “Mengubah Dunia” atau “Menghentikan Pemanasan Global”, tapi seperti kata Dee, di tengah keinginan besar itu kita lupa tak mematikan kran air di kamar mandi, masih membuang sampah sembarangan, atau berkonsumsi secara membabi buta.
Pada titik ini, saya sangat setuju pada projek “world silent day” seperti yang digagas Dee (dulu saya pernah komen juga tentang “World Prayer Project”-nya James Redfield yang hampir serupa, mendelay dunia, membuat jeda pada laju industri yang membabi buta).
Tapi saya lebih setuju lagi bila “nyepi” itu kita lakukan dulu diam-diam secara sendirian. Bisakah kita hidup tanpa [alat-alat] listrik? Bisakah kita hidup tanpa bensin dan solar? Bisalah kita membiarkan hari-hari kita hanya berisi…”kukuruyuuuuk”…yang hening.
Kalau taman-teman bisa, saya jadi merasa bisa juga (Hehehe). Saya jadi akan punya teman banyak untuk men-delay hidup saya yang terus-menerus terjerumus pada tirani kecepatan. sebentar saja. memberinya jeda sambil memahami dan terus mencari.
[Mbak Dee, setiap kali mengubnjungi blog ini, saya jadi merasa punya banyak teman yang punya "kereteg hate" yang sama. Hehehe]
Setelah membaca komen ini, bila tak ada lagi keperluan untuk terkoneksi dengan internet dan komputer menyala. bagaimana kalau kita matikan saja? Kemudian menarik napas sebentar, memusatkan perhatian pada perut, merasakan naik-turunnya, dan meyakinkan diri kita: “melambatlah, kau sudah terlalu jauh berlari.”
Atau sadarilah bahwa bumi sedang terus-menerus mengunjal napas, capek dan gaek. Dan kita–dengan seluruh gaya hidup kita–terus menerus memaksanya untuk berlari semakin kencang. Semakin kencang.
janganbiarkankranairkamarmandimubocor,
Fahd Djibran
Ifa said,
May 1, 2008 at 5:04 pm
Walaupun udah sadar.. kadang aku sendiri lupa, contoh : belanja sayur udah sampai pasar lupa bawa keranjang atau tas blanja walhasil.. numpuk lagi kantong2 plastik dirumah.
nice post dee
daustralala said,
May 1, 2008 at 10:24 pm
Dari komentar-komentar di atas Kayaknya ada something missing yah soal bertindak atau bicara soal perubahan iklim.
Pake contoh-contoh Buddha segala
Bertindak itu sudah semestinya. Justru kebanyakan orang “bicara agar orang lain bertindak”. Kalau mau bertindak ya bertindak saja, tidak usah bicara.
The point is: bagaimana mengarahkan isunya. That’s all. Ya kita sebagai individu tetap bertindak lah.
Hmm…
malado51 said,
May 3, 2008 at 5:03 am
Hebat, pemikiran masa depan seorang wanita yang pantas menjadi pemimpin dunia/bangsa (ngga ngecap) karena memang kesadaran itu lah yang mesti dibangunkan: untuk menyelamatkan bumi yang semakin “panas” (bukan suhu saja, tapi hampir semua aspek).
Anonymous said,
May 3, 2008 at 7:11 am
Salam kenal mbak dewi..
Seneng bisa baca tulisan2nya & ngikutin proses beberapa project baru yg lagi digarap..
Mbak, punya ide ga sih kalo satu waktu tulisan2 di blog Dee-Idea ini
bakal dibukuin? memang buku kumpulan esay bukan hal baru lagi, apalagi skg banyak budayawan-sastrawan ngelakuin itu (Emha Ainun Nadjib, Radar Panca..dll) juga ilustrator
lewat kumpulan komik stripnya.
Tapi aku ngerasa sih tulisan Mbak Dewi sangat “pantas” dan
akan banyak gunanya kalu bisa dibuat bukunya..selain jadi lebih ter-publish tentunya!
Soalnya..kalo masih dalam format biner gini, kaya emas di pucuk pohon!Cuma beberapa orang yang bisa naik & menikmatinya..kasihan kan orang yg lahir “pendek”, heheu!
Ga tau mungkin ada pertimbangan kesibukan & brandingnya mbak Dewi juga kali yha?tapi apapun itu, makasih sudah selalu “nyumbang” pemikirannya untuk banyak orang ..
Nuhun..,
Waone.
Cecilya said,
May 4, 2008 at 12:17 am
kebanyakan orang saling menghimbau satu sama lain untuk mengurangi atau bahkan sama sekali meninggalkan pengunaan plastik, terutama dalam bentuk kemasan suatu produk tertentu. menurut saya yang paling penting dihimbau adalah pabrik yang menghasilkan atau menggunakan plastik itu sendiri, karna tak ada gunanya kita mencari alternatif lain, sedangkan pabrik-pabrik tertentu masih terus menggunakan plastik untuk mengemasi produknya.
apa mbak Dee setuju, atau mbak punya pendapat lain??
thank you…
Mamas Eko said,
May 4, 2008 at 4:32 am
Kesadaran itu memang mahal kok…
Dewi Lestari said,
May 4, 2008 at 8:38 am
Hi Waone,
Sejujurnya, ide itu terpikir juga sih oleh saya. Tapi mungkin ingin menunggu sebentar lagi sampai materi yang dikumpulkan cukupan untuk membuat buku. Karena memang saya cukup serius menuliskan artikel2 di sini, jadi nggak pernah banyak2 amat nulisnya. Mudah2an bisa terealisasi dalam tahun ini atau minimal tahun depan.
Hi Cecilya,
Di berbagai negara maju, memang gerakannya sudah sampai sana. Saya pernah dengar beberapa negara di Eropa bahkan sudah menutup pabrik2 produsen kantong plastik. Tapi sebelum itu, memang sepertinya sudah dicapai titik kesadaran tertentu di masyarakatnya untuk berhenti menggunakan plastik.
Saya pikir, kita masih sama2 bergerak menuju kesadarannya. Yang seringnya terjadi, kebijakan pada level teknis seperti itu yang paling belakangan muncul. Sama seperti pencantuman bahaya rokok di kemasannya, atau melarang merokok di tempat umum. Hal itu tercapai setelah orang2 semakin aware akan bahayanya penyakit yang diakibatkan rokok. Dan proses demikian makan waktu yang cukup panjang dalam penggodokannya hingga sampai ke tahap perumusan kebijakan. Jadi, mari kampanyekan perubahan kesadarannya dulu di level sehari2.
Thank you untuk update data dari Chindy. Dan Fahd… nice to see you again here! Your words are always refreshing. Salam dari losmen Bu Bronto
Untuk semua yang udah mampir, many, many thanks!
~ D ~
Anonymous said,
May 23, 2008 at 8:17 am
“Be the change you want to see in the world” kata Gandhi.
Dan kata-kata ini ditulis Michael Crichton dalam bukunya yang berjudul ‘Prey’: “They didn’t understand what they were doing.” I’m afraid that will be on the tombstone of the human race.
WeHa
sute gandhi said,
July 30, 2008 at 7:16 am
hal yang paling bahagia tentunya ketika kita bisa share dengan orang orang yang punya “isi kepala” dan mimpi yang sama, tapi… hal yang lebih membahagiakan lagi adalah ketika orang orang yang punya mimpi sama tersebut bergerak bersama (walaupun dengan caranya masing-masing) untuk mewujudkannya…
jadi.. berhentilah hanya mengagumi blog ini,…