Dua Pertanyaan Yang Berarti

Tulisan berikut terlahir dari komentar yang dilontarkan dalam forum blog ini. Untuk itu, saya sangat berterima kasih pada Heikal, yang dalam pertanyaannya telah memberikan ruang bagi satu perenungan penting bagi kita semua. Heikal mengungkapkan sesuatu, yang menurut saya, juga kerap terlintas dalam benak kita semua:

“Tidakkah penghentian konsumsi protein hewani akan menghasilkan masalah baru? Misalnya konsumsi telur dihilangkan. Entah berapa pekerja yang ikut kehilangan pekerjaan seiring dengan menghilangnya telur. Pekerja di peternakan, buruh pabrik pakan ternak, dan lingkungan tempat pabrik itu berada kehilangan potensi ekonominya. Dan hal ini akan berlangsung di seluruh dunia… Belum daging, ayam, ikan (tawar & laut), dan produk hewani lainnya. Berarti semua peternakan penghasil daging, juga nelayan, pasar ikan, dan semua mata rantai jaringan distribusinya, dan semua pekerja sampai lini terakhir, akan berpotensi kehilangan pekerjaannya. Mereka semua akan jadi korban kebijakan vegetarian. Terbayang di benak saya kerusuhan massal yang sekiranya mungkin terjadi… Ketika harga solar naik, pemerintah sulit membantu para nelayan karena mereka adalah nelayan! Mereka tidak mampu beralih profesi menjadi petani, misalnya… Pola vegetarian bisa diterapkan, tapi tidak dalam waktu singkat. Mungkin, sekali lagi mungkin, harus melalui proses, katakanlah, kerusuhan, harga-harga produk pertanian yang meningkat, kemiskinan bertambah, dan tetap terjadi pertempuran kepentingan antara penggunaan lahan untuk pertanian sebagai konversi dari industri hewani, dengan kebutuhan manusia akan lahan untuk tempat tinggal.”

Mari kita renungkan perlahan dan mendalam. Sekalipun pertanyaan dan pernyataan di atas sangat menarik dan mengusik, menurut saya semua itu bersifat spekulatif, dan jika ada yang tergerak untuk menjawab, maka jawaban yang diberikan pun otomatis juga cuma spekulasi belaka. Bagaimana jadinya jika satu dunia serempak sim-salabim jadi vegetarian? Saya tidak tahu. Saya tidak yakin ada yang tahu. Saya bisa saja berfantasi demi menjawabnya, tapi tentu tidak akan banyak berguna. Jadi, pertama, mari kita pilah mana fantasi, mana fakta.

Faktanya, gaya hidup termasuk pola makan kita memiliki jejak gas rumah kaca yang tidak kecil. Hal itu bisa dihitung secara matematis, dan sudah diungkap di mana-mana. Jika masing-masing dari kita menghapus jejak tersebut, sedikit atau sekaligus, secara matematis tentunya terjadi perubahan pada wajah Bumi.

Namun, tolong, sekali lagi kita renungkan pelan-pelan. Pola mental kita dapat menciptakan trik yang amat halus. Alih-alih berubah, kita malah asyik berspekulasi, membayangkan chaos yang terjadi kalau orang sedunia mengubah pola makannya, atau gaya hidupnya. Dan lagi-lagi, kita menunda perubahan demi penelusuran spekulasi. Mari kita pilah sekali lagi, mana fakta di depan mata, mana fantasi di kepala. Saya bisa saja berfantasi: apa yang terjadi kalau semua orang berhenti mengonsumsi BBM? Apa yang akan terjadi dengan seluruh pembangkit listrik di dunia, seluruh mesin-mesin yang digerakkan oleh BBM? Apakah mereka akan jadi onggokan besi tua tak berguna? Bagaimana nasib karyawan tambang minyak di seluruh dunia, Pertamina dan seluruh perusahaan minyak di dunia, tukang isi bensin, dll? Bukankah ini akan mengakibatkan pengangguran gila-gilaan? Kemiskinan, kerusuhan, bahkan perang? Satu penelusuran yang sangat fantastis dan menarik, tentunya. Kita bisa membayangkan apa pun, tapi bayangan Anda dan saya belum tentu benar. Mengapa? Karena semua itu adalah khayalan masa depan yang belum terjadi.

Tapi ini yang terjadi: dunia memasuki krisis energi. BBM adalah sumber energi yang punya umur karena tidak bisa diperbaharui, jadi satu saat pasti habis. Semua itu adalah fakta.

Sama halnya dengan vegetarian. Teman saya bahkan pernah berfantasi, kalau semua orang jadi vegetarian, rantai makanan di Bumi jadi kacau, karena populasi singa dan binatang buas lainnya jadi meledak akibat ketersediaan makanan mereka yang tahu-tahu membludak berhubung ternak-ternak itu dianggurkan manusia. Fantastis, bukan? Mata kita justru tertutup dari fakta bahwa kondisi sekaranglah yang tidak beres, karena manusia mengadakan intervensi alam dengan industri peternakan dan mengadakan miliaran hewan ternak. Kenapa tidak terjadi ledakan populasi kecoak atau cicak di dunia? Karena manusia tidak beternak kecoak atau cicak.

Lebih lanjut, disebutkan pula:

“Intinya, menurut saya, dari rantai kehidupan yang kita jalani sekarang, vegetarian bukanlah solusinya. Jika industri ternak sebagai penyumbang pemanasan global terbesar dihentikan, bukan berarti faktor pencetus pemanasan global berhenti… Logikanya begini, industri ternak & populasi hewan besar karena kebutuhan manusia akan ternak yang besar. Kebutuhan ternak yang besar karena populasi manusia di dunia ini juga besar. Jadi, seharusnya LAJU POPULASI MANUSIA-lah yang harus dikendalikan. Jadikan pertumbuhan populasinya 0% di seluruh dunia. Ini mustahil juga kan? Jadi kampanye Penanggulangan Pemanasan Global saat ini sudah sangat terlambat. Tak ada kata terlambat, kita harus mengakui keterlambatan itu…”

Mari cermati pelan-pelan, benarkah industri ternak berkembang karena “kebutuhan” manusia? Jika benar isunya adalah butuh, bahwa manusia di Bumi ini “membutuhkan” hewan ternak sekian banyak demi memenuhi “kebutuhan” mereka, mengapa 3,6 miliar manusia mengalami kelaparan kronis? Mengapa 40 ribu orang mati setiap harinya karena kelaparan? Ke mana larinya enam miliar hewan ternak yang diadakan demi kebutuhan umat manusia? Ada 12 Mitos seputar isu “World Hunger”, dan mitos nomor tiga disebutkan: jumlah manusia yang terlalu banyak (www.worldhunger.org). Kita kerap berpikir, Bumi tak cukup memberi makan 6,5 miliar jiwa. Nyatanya, pertanian dunia masa kini mampu memberi makan semua manusia 2720 kalori per hari. Artinya, jumlah manusia bukanlah determinan mengapa kelaparan ada. Telah disebutkan, pakan ternak di Amerika tok sudah bisa memberi makan 1,3 miliar orang. Jadi, benarkah industri hewan ternak tumbuh karena manusia butuh? Menurut saya, industri ternak tumbuh karena nurani kita lumpuh. Demi profit, satu penelitian atas tikus setengah abad yang lampau menjadi acuan bagi kita untuk mengisi perut. Demi sepotong lidah panjang 10 senti, kita jadikan lambung kita kuburan bagi ratusan hewan, yang dalam kaca mata besarnya juga menjadi kuburan bagi saudara-saudara kita.

Satu catatan penting mengenai laju populasi manusia. Sesungguhnya, sejak tahun 1987, laju populasi manusia di dunia menurun dengan rata-rata pengurangan 2,1 juta manusia per tahun. Jika kecepatan ini bertahan, kita akan mencapai titik zero population growth dalam waktu dua puluh tahun (www.overpopulation.net). Dan kecenderungan dalam enam tahun terakhir bahkan menunjukkan penurunan yang berangsur lebih besar lagi. Jadi, apakah mungkin terjadi pertumbuhan populasi nol? Sangat mungkin. Kita bahkan sedang berproses menuju ke arah sana. Di atas kertas, kita bisa menganggap hal ini sebagai kabar baik. Namun, penurunan laju penduduk tidak selalu berarti “baik”, karena dalam penurunannya, yang terjadi adalah kelaparan meningkat, penyebaran penyakit bersifat epidemis, dan sebagainya. Dua faktor yang paling berperan adalah krisis pangan dan air, yang lagi-lagi bermuara pada faktor eksploitasi lingkungan yang tidak berpihak pada kelestarian alam.

Sekali lagi, mohon direnungkan dalam-dalam. Mengapa kita susah sekali mencerna fakta-fakta ini? Mengapa kita lebih mudah berspekulasi ketimbang bertindak? Mungkinkah karena ini adalah pembiasaan sistemik yang sudah begitu merasuki sistem berpikir kita, yang kemudian membentuk cara pandang kita terhadap hidup dan dunia?

Saya percaya, kunci spesies manusia bisa bertahan dan berevolusi hingga detik ini adalah karena kemampuannya beradaptasi. Itulah satu-satunya modal sejati kita untuk bertahan hidup. Perubahan menuju zaman baru tidak terelakkan, dan mereka yang bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi. Dari detik kehidupan bermula, demikianlah rumusnya. Like it or not. Semua pemain dalam industri energi harus beradaptasi, mau tak mau. Para petani dan peternak, sama halnya dengan para pekerja lain di dunia yang terus berubah ini, harus beradaptasi, tanpa kecuali. Semua makhluk hidup harus beradaptasi dengan perubahan iklim, tanpa bisa menolak. Ada yang masih bertahan, ada juga ribuan spesies lainnya yang sudah punah, dan akan punah. Di akhir abad ini, beruang kutub diperkirakan akan punah. Bisakah Anda bayangkan, jika kita berpikir dari sudut pandang beruang kutub? Bagi mereka, mencairnya kutub adalah kiamat total. Sementara kita, manusia, masih bisa asyik berspekulasi ini-itu. Begitu banyak makhluk dipaksa beradaptasi di ujung batas hidup dan mati selagi saya dan Anda berkorespondensi lewat blog ini. Dalam hitungan detik, eskalasi kepunahan berbagai spesies terus meroket.

Saya tidak ambil pusing tentang spekulasi skenario perubahan pola makan dunia bukan karena tidak peduli. Tapi karena hal itu tidak sanggup saya kendalikan. Lalu untuk apa saya membuang waktu? Kadang-kadang, kita terus berlarut memikirkan orang lain dan situasi yang tidak bisa kita kendalikan, dan lagi-lagi, melupakan kendali yang paling riil dan bisa kita pakai segera: kendali pada diri kita sendiri. Sejenak, lupakan nelayan, lupakan peternak, lupakan pemerintah, lupakan siapa pun yang ada di luar diri Anda. Termasuk saya.

Sekarang, mari bertanya: siapa Anda? Apa yang Anda bisa lakukan? Menurut saya, dua pertanyaan itulah yang paling berarti. Sisanya fana.

Daging Makanan Bergizi Kelas Satu, Benarkah?
By: Chindy Tan


”Bukankah daging tetap dibutuhkan tubuh untuk kesehatan?” Demikianlah kepercayaan yang sangat mengakar hingga detik ini, yakni daging sebagai sumber protein kelas satu, sumber kalsium, sumber lemak, sumber vitamin B12 dan sumber zat besi.

Salah satu akar kepercayaan ini bersumber dari sebuah studi antara tahun 1929-1950 dengan menggunakan asam amino yang dimurnikan (padahal makanan yang kita makan bukanlah asam amino yang dimurnikan). Kemudian, penelitian lanjutnya dilakukan pada tikus, yang ternyata tingkat kebutuhan proteinnya paling tinggi dari semua mamalia. Sebagai patokan, jumlah kalori protein yang terkandung dalam air susu tikus adalah 49%, sedangkan pada manusia jumlah kalori protein yang terdapat pada ASI hanyalah 5%.

Mengapa Jadi Berlebih?

Patut dicermati bahwa kebutuhan tertinggi tubuh manusia akan protein seumur hidupnya adalah masa usia 0-5 tahun. Pada masa paling krusial 0-6 bln di mana ASI secara eksklusif diberikan, ASI sendiri ‘hanya’ mengandung 5% kalori protein, Terkecuali masa menyusui, American Journal of Clinical Nutrition mematok rata-rata asupan 2,5% kalori protein per hari, dan banyak populasi yang hidup dengan baik-baik saja pada angka ini. Logis saja, karena pada masa kebutuhan tertingginya pun tubuh kita hanya dipasok 5% kalori protein dari ASI. Tentunya setelah lewat masa pertumbuhan, tubuh kita tidak membutuhkan sebanyak itu lagi, atau cukup di bawah 5% kalori protein.

Bukankah hal yang janggal bila National Egg Board, National Dairy Council, National Livestock, dan Meat Board Amerika menambah 30% dari angka yang harusnya kurang dari 6% (“Diet For A New America”)? Batas aman atau RDA 30% inilah yang disoroti sebagai dasar propaganda industri ternak. Kebijakan tersebut lantas dituangkan ke dalam kurikulum pendidikan. Bermula di Amerika, propaganda daging, telur, susu sebagai sumber protein utama ini pun mendunia, termasuk di Indonesia. Bangku sekolah kita tak luput dari jangkauan propaganda ini. Konsep yang sudah sangat akrab sampai ke sumsum kita, bahwa daging adalah sumber terbaik untuk protein.

Kejanggalan ini terjawab pada uraian Dr. David Reuben yang mempertanyakan: siapakah yang sesungguhnya memperoleh manfaat ekstra 30% batas aman tersebut? Beliau menjawab, “Mereka yang menjual daging, ikan, keju, telur, ayam dan semua sumber-sumber protein yang bergengsi dan mahal lainnya. Jika Anda adalah keluarga Amerika umumnya, Anda harus mengeluarkan uang 40 USD per bulan untuk memompa asupan protein yang sebenarnya tidak Anda perlukan. Pengeluaran ini, memberikan 36 miliar USD per tahun ke kantong penjual.” (Diet For A New America – John Robbins)

Business As Usual

Era globalisasi memberi jalan lapang bagi negara-negara industri yang kuat modal dan kuat teknologi untuk menguasai harkat hidup di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Mari lebih jeli menganalisa benang merah tiap fakta berikut: Makanan merupakan 11% dari keseluruhan komoditi perdagangan global, proporsi yang berada di atas perdagangan minyak bumi (Globalization and Human Nutrition, 2001). Produk makanan yang dihasilkan dari produksi pangan yang berlebihan di negara-negara industri mau tak mau harus dipasarkan. Namun karena ‘demand’-nya yang sudah statis (baca: jenuh) atau inelastik di negara industri, maka pilihan pasarnya adalah negara-negara berkembang yang produk pangannya masih ‘tradisional’ dan ‘terbatas’. Untuk ini industri makanan di Amerika Serikat mengeluarkan dana 30 miliar dolar setiap tahunnya untuk promosi (Bulletin of the World Health Organization, 2002). Strategi promosi yang digunakan memberi citra daging sebagai makanan bergengsi, modern dan gaul. Rumus ”Tiga P” digunakan: placing, pricing dan promotion. Hasilnya, menjamur dan mengguritanya bisnis makanan cepat saji hampir di seluruh dunia.

Dampak Terhadap Kesehatan

Prof.dr.Siti Fatimah Muis, M.Sc, SpGK dalam kajiannya,”Globalisasi Pangan: Dampaknya Terhadap Gizi dan Kesehatan” menuliskan bahwa setelah Perang Dunia II, negara berkembang mengalami transisi epidemiologi yakni, menurunnya penyakit infeksi seperti TBC, tifus, diare, lepra dan mulai munculnya penyakit degeneratif seperti penyempitan pembuluh darah jantung atau otak, penyakit gangguan metabolisme dan keganasan. Dan sekarang telah memasuki masa transisi berikutnya adalah transisi gizi atau munculnya masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi berlebih pada saat yang bersamaan muncul dengan masalah gizi kurang. Kelebihan asupan energi pada anak-anak dan remaja, utamanya dari makanan berlemak jenuh tinggi (daging, telur, dan susu) di atas 30% dari keseluruhan asupan energi sehari-hari ternyata juga dapat mengakibatkan kenaikan kolesterol, penebalan/pengerasan dinding pembuluh darah (atherosklerosis) dan diabetes tipe-2 seperti yang dialami usia paruh baya (Rapid Westernization of children’s blood cholesterol in 3 countries, 2000). Pada abad ke-20 diabetes tipe 2 (non-insuline dependent) hanya terjadi pada usia paruh baya dan tua. Namun, tren sekarang menunjukkan penyakit tersebut mulai banyak diderita oleh anak maupun remaja. Terjadi peningkatan empat kali lipat kejadian diabetes tipe 2 pada anak usia anak 6-15 tahun yang terbukti berkorelasi dengan kelebihan berat badan (Type 2 diabetes in young, 2004)

Sesekali saat membesuk rekan yang sakit di RS, cobalah adakan survei kecil. Berapa banyak pasien penderita stroke, serangan jantung, hipertensi, diabetes dan kanker dan yakinlah, sepuluh dari sepuluh penderita tersebut dianjurkan oleh dokter untuk mengurangi atau berpantang daging. Begitu sederhana pesan yang bisa diamati dari sekeliling kita tanpa perlu studi atau riset untuk sampai pada pemahaman bahwa: sederet penyakit inilah yang sebenar-benarnya ’diberikan’ oleh daging kepada tubuh manusia.

* Lagi, satu sumbangan dari Chindy Tan yang dikerjakan dengan begitu sigap untuk kita semua yang masih penasaran soal isu gizi daging dan kesehatan. Saya pribadi merekomendasikan buku “New Diet For A New America” bagi yang ingin mengulik lebih lanjut dan lebih mendalam. Thank you, Chindy, untuk sumbangannya.

* Gambar diambil dari pump.tuthill.com

Bumi Kita Butuh Langkah Cepat, Please Go Veggie!
by: Chindy Tan


Alarm tanda bahaya dampak pemanasan global berbunyi semakin nyaring. Pola pencairan es di Arktika merupakan salah satu indikatornya. Perubahan demi perubahan melaju dalam hitungan bulan. Tanggal 18 Maret 2008, Jay Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Arktika hampir semua akan mencair pada akhir musim panas 2012. Hanya dalam waktu dua bulan prediksi itu bergeser. Tanggal 1 Mei 2008 lalu, prediksi terbaru dilansir NASA: mencairnya semua es di Arktika bisa terjadi di akhir tahun 2008 ini. Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es di Arktika pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton. Fenomena terbaru lainnya, pada tanggal 8 Maret 2008 beting es Wilkins di Antartika yang berusia 1500 tahun pecah dan runtuh seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya atau sepertiga luas Jakarta).

Efek domino apa yang membayang bila es di Arktika mencair semua? Mencairnya es di Arktika tidak akan menaikkan level permukaan air laut, melainkan akan mempercepat siklus pemanasan global itu sendiri. Bila es di Arktika mencair semua, 80% sinar matahari yang sebelumnya dipantulkan akan diserap 95% oleh air laut. Konsekuensi lanjut adalah potensi terlepasnya 400 miliar ton gas metana atau 3000 kali dari jumlah gas metana di atmosfer. Gas metana dapat terlepas akibat mencairnya bekuan gas metana yang stabil pada suhu di bawah dua derajat celcius. Seperti diketahui, gas metana memiliki efek rumah kaca 25 kali lebih besar dari gas CO2. Salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah terulangnya bencana kepunahan massal yang pernah terjadi pada 55 juta tahun yang lalu dikenal dengan masa PETM (Paleocene-Eocene Thermal Maximum). Saat itu, gas metana yang terlepas ke atmosfer mengakibatkan percepatan pemanasan global hingga mengakibatkan kepunahan massal. Bukti geologi lain menunjukkan kepunahan massal juga pernah terjadi 251 juta tahun lalu, pada akhir periode Permian. Akibat terlepasnya gas metana, lebih dari 94% spesies mengalami kepunahan massal. Kematian massal terjadi mendadak karena turunnya level oksigen secara ekstrem.

Membaca fakta-fakta di atas, satu hal yang patut digarisbawahi adalah tenggat waktu yang semakin sempit. Dr. Rajendra K. Pachauri, Ketua IPCC, menekankan bahwa dua tahun ke depan merupakan masa tenggat penting untuk menghambat laju pemanasan global yang bergerak dengan sangat cepat. James Hansen, ahli iklim NASA, mengatakan bahwa kita telah berada di titik sepuluh persen di atas batas ambang kemampuan Bumi mencerna CO2. Artinya, kita telah melampaui titik balik. Pada level saat ini, tindakan yang harus diambil bukan lagi mengurangi, melainkan menghentikan.

Kita butuh kecepatan dan ketepatan membaca masalah hingga dapat memilih solusi yang efektif. Solusi yang mampu berpacu dengan waktu untuk memperlambat laju pemanasan global. Berkaitan dengan ini, dalam konferensi persnya di Paris, 15 Januari 2008, Pachauri mengimbau masyarakat dunia dalam tingkat individu untuk: pertama, jangan makan daging. Kedua, kendarai sepeda. Ketiga, jadilah konsumen yang hemat.

Mengapa ”jangan makan daging” berada pada urutan pertama? Fakta berbicara, seperti laporan yang dirilis Badan Pangan Dunia – FAO (2006) dalam Livestock’s Long Shadow – Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas penghasil emisi karbon paling intensif (18%), bahkan melebihi kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter) di dunia (13,5%). Peternakan juga adalah penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan berkontribusi emisi 2,4 miliar ton CO2.

Memelihara ternak membutuhkan energi listrik untuk lampu-lampu dan peralatan pendukung peternakan, mulai dari penghangat ruangan, mesin pemotong, mesin pendingin untuk penyimpanan daging. Mesin pendingin merupakan mata rantai paling tidak efisien energi listrik. Hitung saja mesin pendingin mulai dari rumah jagal, distributor, pengecer, rumah makan, pasar hingga sampai pada konsumen. Mata rantai inefisiensi berikutnya adalah alat transportasi untuk mengangkut ternak, makanan ternak, sampai dengan elemen pendukung lain dalam peternakan intensif seperti obat-obatan, hormon dan vitamin.

Mata rantai lain yang sangat tidak efisien tapi telah berlaku demikian kronis adalah pemanfaatan hasil pertanian untuk peternakan. Dua pertiga lahan pertanian di muka Bumi ini digunakan untuk peternakan. Sebagai contoh, Eropa mengimpor 70% protein (kedelai, jagung dan gandum) dari pertanian untuk peternakan. Indonesia sendiri pada tahun 2006 mengimpor jagung untuk pakan ternak 1,77 juta ton. Prediksi produksi pakan ternak naik dari 7,2 juta ton menjadi 7,7 juta ton, kata Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas-Paulus Setiabudi (Kompas, 8 November 2007). Sementara itu, menurut data Indonesian Nutrition Network (INN), setengah dari penduduk Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi (16 Sept 2005), sebagaimana yang dikemukakan oleh Menteri Kesehatan DR. dr. Fadillah Supari, SPJP(K).

Tanggal 30 April 2008 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak segenap bangsa ini untuk bersama saling membahu menghadapi krisis pangan dunia. Akar masalah kelangkaan pangan jika dicermati salah satunya adalah krisis manajemen lahan itu sendiri. Secara matematis, inefisiensi pemakaian lahan pertanian untuk pakan ternak tercermin dari perhitungan kalori yang “terbuang” untuk membesarkan ternak cukup. Pakan yang selama ini diberikan kepada ternak dapat memenuhi kebutuhan kalori 8,7 miliar orang! Berarti masih ada kelebihan kalori untuk 2,1 miliar orang. Sebenarnya tidaklah sulit untuk memahami mendesaknya perubahan pola makan ini, yakni perubahan ke pola makan yang mata rantainya pendek. Perut manusia bisa langsung mencerna kedelai, jagung dan gandum tanpa harus melalui perut ternak terlebih dahulu. Tidakkah beralih ke pola makan bebas daging justru dapat menjadi solusi ketimpangan akses pangan seluruh dunia?

Pertanian untuk pakan ternak itu sendiri merupakan penyumbang 9% CO2 (karbondioksida), 65% N2O (dinitrooksida) dan 37% CH4 (metana). Perlu diketahui efek rumah kaca N2O adalah 296 kali CO2, sedangkan CH4 adalah 25 kali CO2. Satu lagi masalah industri peternakan yang sangat krusial yakni, inefisiensi air. Sekian triliun galon air diperuntukkan untuk irigasinya saja. Sebagai gambaran sederhana, untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi mulai dari pemeliharaan, pemberian pakan ternak, hingga penyembelihan seekor sapi membutuhkan satu juta liter air! Data yang dihimpun Lester R. Brown, Presiden Earth Policy Institute dan Worldwatch Institute, memaparkan dalam bukunya ”Plan B 3.0 Mobilizing to Save Civilization” (2008) bahwa karena untuk memproduksi satu ton biji-bijian membutuhkan seribu ton air, tidak heran bila 70% persediaan air di dunia digunakan untuk irigasi.

Jejak emisi gas rumah kaca daging terukur jelas. Dr Rajendra memberi ilustrasi konversi energi untuk memelihara sampai menghasilkan sepotong daging sapi, domba atau babi sama besar dengan energi yang dibutuhkan untuk menyalakan lampu 100 watt selama 3 minggu. Satu kilogram daging menyumbang 36,4 kg CO2, tidak heran bila data dari film dokumenter ”Meat The Truth” menyebutkan emisi CO2 seekor sapi selama setahun sama dengan mengendarai kendaraan sejauh 70.000 km. Penelitian di Belanda (www.partijvourdedie.en.el) mengungkapkan, seminggu sekali saja membebaskan piring makan dari daging masih 7,6 kali lebih cepat dibandingkan gerakan hemat energi skala rumah tangga dalam setahun.

Penelitian paling gres yang dilakukan Prof. Gidon Eshel dan Pamela A. Martin (”Diet, Energy and Global Warming”) merunut kontribusi setiap potongan daging terhadap emisi karbon. Penelitian ini diakui secara ilmiah dan dipublikasikan dalam jurnal bergengsi para ilmuwan Earth Interaction Vol. 10 (Maret 2006). Jumlah gas rumah kaca yang diemisikan oleh daging merah, ikan, unggas, susu dan telur jika dibandingkan dengan diet murni nabati/vegan, ternyata jika satu orang dalam setahun mau mengganti diet hewani mereka ke diet nabati murni/vegan akan mencegah emisi CO2 sebesar 1,5 ton. Lima puluh persen lebih efektif daripada upaya mengganti mobil Toyota Camry ke mobil Toyota Prius hybrid sekalipun yang ternyata hanya mampu mencegah 1 ton emisi CO2.

Objektivitas akan menuntun kita untuk mengakui pola konsumsi daging sebagai kontributor terbesar emisi gas rumah kaca. Pilihan kita tidak banyak, mengingat tenggat waktu yang demikian sempit. Mengutip tulisan Senator Queensland, Andrew Bartlett, bahwa seluruh dunia tidak mesti menjadi vegetarian atau vegan untuk menyelamatkan planet kita, tapi kita harus mengakui fakta-fakta ilmiah ini, bahwa jika kita tidak mengurangi konsumsi produk hewani, kesempatan kita untuk menghentikan perubahan iklim adalah nihil. Menurut Bartlett, tidak ada langkah yang lebih murah, lebih mudah dan lebih cepat untuk dilakukan yang dapat mengurangi kontribusi tiap individu terhadap emisi gas rumah kaca selain memangkas jumlah konsumsi daging dan produk susu dan olahannya.

Aksi untuk hemat bahan bakar kita masih banyak bergantung pada fasilitas umum. Upaya yang paling bisa kita lakukan adalah menggunakan kendaraan umum. Namun, sudah menjadi rahasia umum, tidak mudah untuk menggunakan kendaraan umum jika berhadapan dengan kepentingan keamanan, dan untuk ini kita masih bergantung pada kebijakan pemerintah. Aksi hemat energi dalam konteks yang paling ideal bergantung pada teknologi. Sumber energi paling ramah lingkungan yakni tenaga angin, air, dan matahari, masih jauh membutuhkan teknologi dan biaya yang tidak kecil. Butuh waktu yang panjang dan upaya ekstra untuk menggerakkan kesadaran massal untuk hemat energi, hemat listrik, hemat bahan bakar karena harus berhadapan dengan kebiasaan dan perilaku yang telah mengakar.

Mengubah pola makan juga berhadapan dengan kebiasaan yang telah mengakar. Namun, memegang sendok dan akhirnya menjatuhkan pilihan apa yang akan dimasukkan ke mulut kita, sepenuhnya berada di kendali kita. Langsung bisa dilakukan! Jarak antara piring dan mulut kita mungkin hanya sejarak panjang sendok, membalikkan isi sendoknya hanya butuh waktu sekedipan mata, tapi kendalinya ada pada mindset tiap kita. Sejenak, biarkan kepala dingin hadir. Mari dengan mata jernih melihat realitas, mengakui fakta betapa tekanan pola konsumsi daging sedemikian hebatnya pada daya dukung Bumi. Sejenak merasakan beban berat Bumi ini mungkin akan menggeser pilihan kita ke pola konsumsi tanpa daging, pola yang jauh lebih ramah Bumi.

PS 1.Penulis adalah Koordinator Indonesia Vegetarian Society Regional Yogyakarta – Jateng.
PS 2. Ini sesuatu yang tidak biasanya saya lakukan, yakni memuat posting karya orang lain. Tapi, artikel Chindy ini menyimpan begitu banyak informasi yang terlalu penting untuk dilewatkan. Dan menurut saya bisa membantu kita semua untuk lebih bijak bersikap, sekaligus juga menerangkan banyak hal yang melatarbelakangi tulisan-tulisan saya di Dee-Idea selama ini. Hope you guys can enjoy this article as much as I do.
PS 3. Gambar Bumi diambil dari spacetoday.org

Satu Halaman – Satu Jam

Mohon maaf sebelumnya. Kali ini tulisan saya lebih bersifat pelepasan unek-unek. Curhat, barangkali istilah yang cukup pas. Dan untuk itu, saya akan menulis relatif singkat dan tanpa banyak mikir.

Pagi ini (13/5), sambil menunggu siaran di Trax FM – Jakarta, saya membuka koran Kompas. Headline halaman depan tentang BBM. Sisa isinya bervariasi. Seperti halnya koran-koran lain, lebih banyak kabar buruk ketimbang kabar baik. Entah karena memang kabar buruk lebih menjual, atau kita lebih senang berkubang dalam keburukan, atau memang kabar buruklah yang lebih banyak mengepung kehidupan kita. Pagi ini, saya punya niatan iseng ingin menghitung proporsi kabar buruk, kabar baik, dan kabar netral.

Niatan iseng itu berhenti seketika ketika saya menemukan artikel berjudul “Es di Arktik Akan Lenyap Tahun 2008” (maaf kalau tidak identik sama, berhubung korannya milik ruang tunggu radio jadi tidak saya bawa pulang, akibatnya penyebutan judul itu berdasarkan ingatan semata). Artikel tersebut dimuat di halaman berita Internasional. Sorry, but I have to say, it was poorly written. Apa yang ditulis di judul tidak diterangkan di dalam artikelnya. Dan isi artikel itu sendiri hanyalah potongan-potongan informasi tanpa ada satu tujuan atau pesan yang koheren. Yang juga membuat saya miris adalah, bagaimana berita itu—dari masalah penempatan, besarnya kolom, dan kualitas tulisan—seolah menunjukkan level urgensi yang diusung oleh media nasional dalam memberitakan masalah lingkungan global.

Boleh jadi ini cuma pendapat saya seorang, tapi sungguh saya merasa media kita terlena dalam infomasi nggak penting yang dipikirnya penting, dan informasi penting yang diperlakukan tidak/kurang penting. Saya bahkan belum bicara soal televisi—media paling powerful dengan penetrasi hingga bilik kita yang paling pribadi sekaligus media yang paling sesak oleh sampah dan kedunguan kronis yang dipelihara atas nama rating dan iklan.

Minggu lalu, saya diminta menjadi bintang tamu/narasumber oleh sebuah acara pagi salah satu teve swasta. Saya diminta untuk ngomong soal pembatasan kantong plastik, vegetarian sebagai gaya hidup ramah lingkungan, pengolahan kompos, dsb. Tentunya saya bersemangat. Saya membaca skrip dan mempersiapkan aneka jawaban untuk sederet pertanyaan tsb. Ketika kamera berjalan, yang terjadi adalah balap lari antara informasi, durasi, dan jeda iklan. Saya cuma punya lima menit untuk menjelaskan hal-hal yang seharusnya bisa diseminarkan satu minggu. Itu pun bercampur lagi dengan gimmick soal jajanan khas Betawi.

Saat saya mengeluhkan waktu bicara yang terlalu singkat, semua orang di tim produksi menyambut dengan kor keluhan serupa. Iklannya saja bisa enam menit, kata mereka. Lebih panjang dari jatah saya bicara. Durasi singkat + materi padat + iklan banyak = informasi encer. Dan demikianlah formula kebanyakan program talkshow teve kita, yang padahal secara konsep tampak menarik dan (berusaha) mencerdaskan.

Saya termenung panjang sesudah penampilan supersingkat tadi. Bagaimana caranya kita bisa terjaga jika media nasional kita malah terus meninabobokan kita semua? Tidak berarti informasi yang tajam dan edukatif tidak bisa menghibur, tapi kalau kita hanya meluangkan sesuatu sekritis masalah lingkungan dalam satu segmen di sebuah talkshow empat segmen plus dipepet kiri kanan oleh info kuliner dan tetek bengek lain, atau menempatkan berita cairnya Arktik dalam satu kolom kecil di surat kabar paling tebal se-Indonesia, tidakkah ini yang menggelikan?

Empat sampai lima jam teve kita bisa manteng menampilkan penyanyi-penyanyi didampingi ibunya atau seseorang yang dianggap belahan jiwanya, atau seleb-seleb yang kurang bisa nyanyi berlomba menjadi penyanyi top pilihan pemirsa. Saya tidak menafikan kenyataan kalau acara yang demikian menghibur, ditambah ungkapan-ungkapan standar semisal “hidup sudah susah, jangan bikin tambah susah”, “yang begitulah yang disukai rakyat”, dan seterusnya. Namun jika kita hanya terpaku di sana, maka kita lupa betapa tajam dan berkuasanya alat bernama media. Dan kita seperti anak kecil bermain dengan bom atom. Tidak sadar betapa dahsyatnya “mainan” di tangan kita.

Kalau kita bisa berteriak “rakyat kita bodoh”, “rakyat kita maunya dibohongi”, “rakyat memang senangnya acara yang nggak mutu”, lalu terus menyuapi mereka dengan “makanan pikiran” yang tak bermutu (baca: nggak penting) hanya supaya mereka terpuaskan, lalu rating naik, lalu iklan naik, lalu untung naik, dan terakhir kedua tangan kita naik ke atas sambil berkata “yah, itulah kenyataan media,”… menurut saya, itulah kebodohan yang paling ultimat.

Saya sadar, ada banyak isu penting lain di luar sana. Ada banyak informasi edukatif yang bisa dibagi. Dan, sekali lagi, boleh jadi ini hanya pendapat saya seorang, tapi menurut saya, dalam periode ini tidak ada isu yang paling urgen selain penyelamatan Bumi. Bukan cuma sekadar gembar-gembor soal pemanasan global, melainkan bagaimana kita bisa menyajikan dan membantu transformasi kesadaran manusia untuk kembali bersahabat dengan lingkungan, meniti pulang ke jantung alam, dan terakhir, meniti pulang ke jantung jatidirinya.

Malam ini saya berdoa, di tengah hiruk-pikuk informasi di media yang menggempur panca indra kita, akan ada satu acara yang dikhususkan untuk meningkatkan kesadaran tentang kondisi lingkungan. Dari mulai perbaikan relasi manusia dengan alam di level pemahaman sampai tips-tips praktis yang bisa dilakukan di setiap rumah. Akan ada saatnya bagi media cetak untuk sudi meluangkan satu halaman mereka khusus untuk menyiarkan hal-hal yang dapat membantu Bumi dan peradaban agar bisa hidup berdampingan secara harmonis.

Satu halaman. Satu jam.

Saya berdoa.

Pertempuran Tiga Perut

Belum lama ini, kita resmi memasuki krisis global baru. Krisis pangan dan energi. Meminjam istilah teman saya, Chindy, sekarang ini sedang terjadi persaingan antara tiga macam “perut”: perut manusia, perut ternak, dan perut mobil.

Mari kita bahas dulu mengenai perut mobil. Selayak kodratnya sebagai energi yang tak bisa diperbarui, cadangan minyak dunia kian menipis. Belum lagi dengan tudingan konspirasi ekonomi di balik itu semua. Berbagai macam teori dilontarkan untuk menjelaskan kenaikan harga minyak. Situasi ini lantas memunculkan primadona baru, yakni biofuel. Permintaan dan popularitas biofuel meningkat drastis akibat kepanikan dunia akan menipisnya bahan bakar fosil. Biofuel pun dipandang sebagai substitusi yang lebih ramah lingkungan. Benarkah demikian?

Menurut pemenang Nobel, Paul. J. Crutzen, biofuel justru penyumbang besar pemanasan global, karena asas bekerja dan hasilnya sama-sama saja: pembakaran dan karbondioksida. Belum lagi dengan jumlah permintaan besar dan tuntutan waktu yang cepat, biofuel yang dibuat dengan bahan dasar jagung, kanola, tebu, atau sawit akan memaksa produsennya untuk menggunakan pupuk sintetis yang menyumbang nitro-oksida – salah satu gas rumah kaca yang berbahaya. Nitro-oksida punya efek insulasi 300 kali lipat dibandingkan karbondioksida. Menurut Krutzen, ditinjau dari emisi nitro-oksidanya saja, semua kebaikan biofuel bisa jadi nihil. Bahkan tekor.

Namun demam biofuel tak pelak menyeret para petani seluruh dunia dalam arus hukum ekonomi: menjual kepada yang memberi untung lebih. Akibatnya, mereka berlomba-lomba menjual pada produsen biofuel hingga naiklah harga kedelai, sawit, dan jagung, dibarengi kelangkaan makanan pokok dan minyak goreng di pasar. Beberapa bulan lalu, pengusaha tempe-tahu kita menjerit. Ibu-ibu menjerit. Bukti bahwa perut manusia akhirnya tergusur. Kalah oleh perut mobil.

Laporan Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) memperkirakan, kenaikan penderita kelaparan di dunia mencapai 16 juta orang dari setiap satu persen saja kenaikan harga bahan pangan pokok dunia. Dengan laju kenaikan sebesar itu, IFAD memperkirakan terdapat 1,2 miliar orang yang akan mengalami krisis pangan kronis di seluruh dunia pada tahun 2025.

Namun, pada bulan April 2008, harga satu ton beras di pasar dunia sudah di atas 1.000 dolar AS atau naik sebesar 47 persen sejak Maret 2008. Di Amerika, penjualan beras kini sudah dibatasi. Di Asia, negara-negara eksportir beras mulai mengunci lumbung-lumbungnya. Takut rakyatnya kelaparan.

Bagaimana dengan perut ternak? Saya teringat satu karikatur yang menggambarkan bagaimana hewan tergeli-geli melihat manusia. Sesama hewan tidak memakan spesiesnya, tapi manusia sibuk memberi makan hewan sampai lupa memberi makan spesiesnya sendiri. Di atas puncak piramida makanan, tak ada lagi predator yang menghabisi kita. Hanya kitalah yang bisa membunuh saudara-saudara kita sendiri. Tak melulu dengan peluru atau belati, kita mengosongkan lambung miliaran manusia karena sibuk mengisi lambung hewan ternak.

Di dunia saat ini jumlah seluruh hewan ternak berkaki empat mencapai angka enam miliar. Beda tipis dengan populasi manusia yang sudah mencapai 6,5 miliar jiwa. Enam miliar ternak itu tidak dicapai semata-mata oleh alam, manusialah yang secara sengaja mewujudkannya atas nama pemenuhan kebutuhan hidup. Namun, kenyataannya 40.000 manusia mati setiap hari karena kelaparan. Padahal hasil pertanian yang digunakan untuk pakan ternak di negara Amerika saja bisa memberi makan 1,3 miliar manusia.

Kini kita mulai merasakan efek perang ketiga perut tersebut. Presiden belum lama ini akhirnya mengeluarkan inpres untuk penghematan energi. Petani-petani mulai mengaktifkan sistem lumbung untuk menjaga stok beras. Dan negara-negara Asia, produsen beras dunia, berkumpul untuk berhitung dan berstrategi.

Di tengah seliweran analisa dan solusi atas situasi tersebut, saya merasa bahwa pertempuran tiga perut ini juga terjadi di level terkecil dan terprivat: rumah kita sendiri. Antara perut manusia, perut kendaraan, dan perut ternak, ketiganya melangsungkan dinamika di daftar prioritas kita, di daftar belanjaan, dalam pilihan-pilihan yang kita buat sehari-hari. Dari tiga perut tadi, mana yang ingin kita dahulukan?

Secara instan dan refleks, seharusnya sangat mudah bagi kita untuk menjawab. Namun kenyataannya tak semudah itu. Kita telah dijerat gaya hidup, kebiasaan, misinformasi, hingga meski itikad kita adalah membela perut manusia, pilihan-pilihan kita tak selalu konsisten dengan itu. Tanpa kita sadari dan ingini, seringkali kita “membunuhi” saudara-saudara kita. Bahkan diri kita sendiri. Contoh singkatnya, untuk memproduksi satu kilo daging sapi dibutuhkan enam belas kilo tanaman biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Jadi, bisa dibilang, saat kita mengonsumsi satu kilo daging, kita telah mengambil jatah enam belas porsi makan manusia.

Tips-tips berikut ini sederhana dan barangkali sudah sering kita dengar. Namun, tanpa niat yang kuat, belum tentu mudah untuk dilaksanakan. Apalagi kalau gaya hidup dan pandangan kita dibelit berbagai jeratan yang saya sebutkan tadi. Tapi, bisakah kita mencoba?

Susunlah rute kepergian Anda per hari sebaik mungkin supaya penggunaan BBM kita efektif. Go in a bundle, as best as we can. Sekarang ini, saya memilih pergi dengan travel untuk setiap trip saya ke Jakarta, ketimbang berkendara sendiri dalam mobil pribadi. Cek setiap lampu, alat elektronik, dan titik-titik listrik. Pergunakan secermat dan sebijak mungkin. Matikan yang tak perlu. Pilih perangkat yang paling hemat energi. Jika Anda punya lebih dari satu mobil, gunakan yang paling hemat bensin lebih sering. Beli produk lokal sebisa mungkin, dari mulai makanan hingga barang, karena ini berarti kita menghemat energi yang dipakai untuk shipping dan perjalanan benda-benda itu. Bagi yang ingin mengulik lebih serius dan detail aneka tips penghematan energi, bisa kunjungi tips hemat dari WWF.

Yang berikut adalah tips yang tak terlalu populer, barangkali karena melibatkan kepentingan industri besar dan faktor pembiasaan yang sangat kuat, tapi saya belum jera menyuarakan: bervegetarianlah sesering mungkin. Bisa dimulai dengan pola “vegetarian weekend” alias 5:2 per minggunya, berangsur menjadi 3:3, berangsur lagi menjadi “omnivarian weekend” (or “carnivorian weekend” for some people) alias 2:5, hingga 1:6. Atau, bagi yang sanggup dan mau, bisa langsung total menjadi vegetarian setiap harinya.

Berikut ilustrasi jika kita mau bervegetarian satu hari saja dalam satu minggu. Dalam satu tahun kita telah membantu Bumi berhemat…

• 317.520 liter air
• 111 kilogram tanaman biji-bijian
• 693 m2 lahan
• 58 liter bensin
• 183 kg kotoran ternak

Dalam pertempuran ini, di manakah kita berdiri? Bagaimana kita menata ketiga bidak tersebut dalam peta percaturan krisis global ini? Mari, pelan-pelan, amati daftar belanja, daftar kegiatan, rute perjalanan, isi meja makan, penunjuk bensin, setiap tombol on/off… barangkali di sana kita, manusia peradaban modern, bisa mengibarkan bendera perdamaian. Antara manusia dan Bumi. Untuk pertama kali.

Tarian Paradoks di Pentas Bumi

Beberapa hari yang lalu, saya membaca beberapa berita sekaligus, yang entah bagaimana persisnya, menciptakan kombinasi unik yang paradoksikal dalam benak saya.

Sama-sama di bulan April, diperingati Hari Kesehatan Dunia dan Hari Bumi. Di berbagai belahan dunia, ramai-ramai orang-orang memperingati kedua hari itu dengan beraneka macam cara.

Di Jakarta, diselenggarakan Green Fest yang merupakan hajatan edukasi seputar pemanasan global, hasil kolaborasi berbagai perusahaan besar semisal Unilever, Kompas, dsb. Bodyshop dan karyawan-karyawannya menanam seribu pohon. Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bahkan mengolaborasikan kedua peringatan tersebut. Bersama Gubernur DKI dan seribu orang lainnya, mereka senam sekaligus menanam pohon di lingkungan Monas. Tema acara ini adalah gerakan hidup sehat untuk menghadapi pemanasan global. Apa hubungannya? Ternyata perubahan iklim dan gelombang panas sebagai efek sampingnya telah meningkatkan penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan.

Pada bulan yang sama, di belahan dunia lain dipecahkanlah sebuah rekor Guiness. Di Montevidio – Uruguay, diselenggarakan World’s Biggest Barbecue. Sekurangnya 1,250 orang dan berton-ton arang dikerahkan untuk membakar 12 ton daging sapi. Bersama-sama dengan Argentina dan Brazil, Uruguay adalah salah satu importir daging sapi terbesar dan pemilik industri peternakan yang gigantis. Dan pesan yang ingin disampaikan pada upaya pemecahan rekor tersebut adalah: meski Uruguay hanya negara kecil, mereka memiliki daging sapi terbaik di dunia.

Tak hanya terbaik, Uruguay juga memiliki angka ternak per kapita tertinggi di dunia. Di Uruguay saja, ada 12 juta sapi diternakkan, dan setiap tahunnya 2,5 juta sapi baru yang lahir. Tak tanggung-tanggung, negara ini mendedikasikan 82% lahannya untuk industri peternakan. Sementara rekor eksportir tertinggi masih dipegang Brazil. Bayangkan, seperempat daging sapi yang beredar di pasaran dunia berasal dari satu negara itu tok.

Namun di balik potret kesuksesan negara-negara Amerika Selatan tersebut, menguak juga sebuah potret mengenaskan. Berada di sabuk Amazon, hutan yang begitu kaya, deforestation gila-gilaan menjadi harga yang harus dibayar demi menggemukkan industri peternakan.

Saya yakin saya tidak sendirian. Saya yakin kita semua bisa memahami, atau setidaknya merasakan, mata rantai sebab-akibat yang tergambarkan dalam berbagai situasi paradoksikal di atas. Ketika kedua ujung mata rantai bersatu, seperti ular yang melingkar dan akhirnya menelan mulutnya sendiri, kita tiba di lingkaran setan. Tak ada lagi ujung. Tak ada pangkal. Semua yang kita pikir jalan keluar malah mentok dan saling memakan.

Saya lantas teringat ilustrasi terkenal buatan M.C. Escher berjudul “Drawing Hands”. Dalam gambar ini, bisakah kita memutuskan: tangan mana yang menggambar mana? Kiri duluan atau kanan duluan? Pikiran kita, yang juga instrumen dualitas, akan terjebak dalam permainan logika tiada henti jika dihadapkan pada gambar semacam ini. Tangled hierarchy, adalah istilah yang kerap digunakan untuk menamai fenomena jalinan hierarkis nonlinear. Jalan keluarnya adalah dengan lompatan kuantum. Keluar dari jebakan logika. Mentransendensi dualitas dan melihat keduanya secara holistik.


Izinkan saya mengangkat satu pertanyaan dari Cy yang mampir ke blog ini: Kenapa kita tidak menghentikan saja segala kampanye global warming ini, karena bila mengacu pada Law Of Attraction atau buku “The Secret”-nya Rhonda Byrne, apa yang kita tidak inginkan jangan dikoar-koarkan, karena justru malah membawa kita ke realitas yang kita hindari, alias: what you resist, persists? Selain itu Cy menekankan lebih pentingnya persiapan menghadapi kematian. Yang dimaksud di sini adalah kematian spiritual.

Jika kita berhasil keluar dari perangkap dualitas pikiran, segalanya memang menjadi tiada. Tak ada lagi sebab akibat. Tiada kamu. Tiada saya. Tiada benar. Tiada salah. Tiada hitam. Tiada putih. There are no dancers, only the dance, kata guru saya. Tak ada pelaku. Dewi Lestari tidak pernah berbuat apa-apa. There is no doer. Saya dan Anda hanyalah topeng-topeng yang ‘dipinjamkan’ supaya semesta ini menari. Yang sejati adalah tariannya. Kita semua fana. Global warming barangkali hanya drama. Gerakan untuk melawannya pun juga drama.

Lantas, ketika kita berhasil sampai pada pemahaman itu, adakah itu berarti kita diam, tidak bertindak, tidak bersikap (baca: memihak)? Silakan dicoba. Saat Anda memutuskan untuk diam, diam itu jugalah drama. Satu drama di tengah lautan drama tak terhingga. Semua artikel saya hanya drama. Menanam pohon atau menebangi hutan pada esensinya pun cuma drama.

Sang Buddha, setelah puncak pencerahannya, konon berkata: There’s nothing to change. Tidak ada yang perlu diubah dari hidup ini. Beliau bahkan sempat menolak untuk mengajar. Namun, akhirnya, Sang Buddha memutuskan untuk menjadi guru. Mengajarkan dharma pada banyak orang hingga akhir hidupnya. Sang Buddha mengambil perannya sebagai seorang guru dan menjalankannya dengan sadar dan tekun.

Saya punya interpretasi pribadi atas kisah itu. Ketika Buddha mengatakan bahwa tidak ada yang perlu diubah, bukan berarti perubahan tak ada. Yang tidak ada adalah ‘aku’ sebagai pelaku. Namun selama kesadaran kita masih melekat pada jasad, tak satu pun dari kita luput dari peran-peran yang perlu kita jalankan. Bertapa sampai mati adalah peran. Jadi perusak hutan juga peran. Yang membedakan hanyalah tingkat kesadaran dalam menjalankan peran-peran tersebut.

Manusia boleh berbangga dalam ilusinya sebagai Sang Penguasa. Berada di ujung spektrum evolusi, manusia disebut sebagai makhluk autopoietik karena sistem inteligensinya yang sangat kompleks dan canggih. Namun makhluk autopoietik ini adalah biangnya paradoks. Dalam sosoknya yang serba canggih, sistem makhluk autopoietik sangat rentan dan interdependen pada lingkungannya. Hanya masalah kita menyadari atau tidak. Dalam pikiran kita, boleh jadi kita berilusi ini itu. Kenyataannya, semakin modern dan canggih kita berevolusi, semakin rentan dan rapuh tumpuan peradaban ini.

Kita semua berada di tengah dinamika agung ini. Tanpa kecuali, segalanya terikat dengan sifat dualitas. Yin dan Yang. Chaos dan order. Dunia kita yang unik dan paradoksikal ini secara konstan bertumpu pada benang tipis rapuh bernama ekuilibrium. Tak lama lagi, titik bifurkasi baru bagi peradaban manusia akan tiba. Ke mana kita akan mendarat? Tidak ada yang tahu pasti.

Dalam perjalanan ini semua, kita punya peran-peran untuk dimainkan. Saya memilih peran menjadi penulis. Dan saya hanya menulis apa yang saya suka. Dalam Bumi yang kian memanas, saya memilih peran sebagai berikut: saya berbuat apa yang menurut saya pas dengan kata hati saya. Dan saya menyuarakannya sebisa saya. Saya berbagi apa yang bisa saya lihat dan racik melalui filter pemahaman saya. Demikian juga dengan Anda semua.

Segala upaya kita tak pernah lepas dari paradoks. Saat seseorang mengambil posisi ‘berhenti menyuarakan isu global warming’, ia pun menjadi resistor bagi upaya saya dan semua orang lain yang memilih bersuara. Dan hukum “what you resist, persists” kembali berlaku baginya. It’s a zero sum game no matter how we want to play it, sahabat saya berkata.

Di sinilah pentingnya kesadaran, keelingan. Lakon apa pun yang kita pilih, lakukan dengan sepenuh-penuhnya hati. Jalankan dengan kesadaran sebisa-bisanya. Pada akhirnya, semua topeng ini lenyap, terdaur ulang oleh kehidupan. Cepat atau lambat. Lewat usia tua atau lewat kiamat.

Saya kenakan topeng ini, cangkang ini, selagi hidup masih mengizinkan. Dan akan saya tarikan tarian di pentas paradoks ini segemulai mungkin.