May 5th, 2008 at 7:04 pm (Uncategorized)
Tarian Paradoks di Pentas Bumi
Beberapa hari yang lalu, saya membaca beberapa berita sekaligus, yang entah bagaimana persisnya, menciptakan kombinasi unik yang paradoksikal dalam benak saya.
Sama-sama di bulan April, diperingati Hari Kesehatan Dunia dan Hari Bumi. Di berbagai belahan dunia, ramai-ramai orang-orang memperingati kedua hari itu dengan beraneka macam cara.
Di Jakarta, diselenggarakan Green Fest yang merupakan hajatan edukasi seputar pemanasan global, hasil kolaborasi berbagai perusahaan besar semisal Unilever, Kompas, dsb. Bodyshop dan karyawan-karyawannya menanam seribu pohon. Yayasan Jantung Indonesia (YJI) bahkan mengolaborasikan kedua peringatan tersebut. Bersama Gubernur DKI dan seribu orang lainnya, mereka senam sekaligus menanam pohon di lingkungan Monas. Tema acara ini adalah gerakan hidup sehat untuk menghadapi pemanasan global. Apa hubungannya? Ternyata perubahan iklim dan gelombang panas sebagai efek sampingnya telah meningkatkan penyakit kardiovaskular dan gangguan pernapasan.
Pada bulan yang sama, di belahan dunia lain dipecahkanlah sebuah rekor Guiness. Di Montevidio – Uruguay, diselenggarakan World’s Biggest Barbecue. Sekurangnya 1,250 orang dan berton-ton arang dikerahkan untuk membakar 12 ton daging sapi. Bersama-sama dengan Argentina dan Brazil, Uruguay adalah salah satu importir daging sapi terbesar dan pemilik industri peternakan yang gigantis. Dan pesan yang ingin disampaikan pada upaya pemecahan rekor tersebut adalah: meski Uruguay hanya negara kecil, mereka memiliki daging sapi terbaik di dunia.
Tak hanya terbaik, Uruguay juga memiliki angka ternak per kapita tertinggi di dunia. Di Uruguay saja, ada 12 juta sapi diternakkan, dan setiap tahunnya 2,5 juta sapi baru yang lahir. Tak tanggung-tanggung, negara ini mendedikasikan 82% lahannya untuk industri peternakan. Sementara rekor eksportir tertinggi masih dipegang Brazil. Bayangkan, seperempat daging sapi yang beredar di pasaran dunia berasal dari satu negara itu tok.
Namun di balik potret kesuksesan negara-negara Amerika Selatan tersebut, menguak juga sebuah potret mengenaskan. Berada di sabuk Amazon, hutan yang begitu kaya, deforestation gila-gilaan menjadi harga yang harus dibayar demi menggemukkan industri peternakan.
Saya yakin saya tidak sendirian. Saya yakin kita semua bisa memahami, atau setidaknya merasakan, mata rantai sebab-akibat yang tergambarkan dalam berbagai situasi paradoksikal di atas. Ketika kedua ujung mata rantai bersatu, seperti ular yang melingkar dan akhirnya menelan mulutnya sendiri, kita tiba di lingkaran setan. Tak ada lagi ujung. Tak ada pangkal. Semua yang kita pikir jalan keluar malah mentok dan saling memakan.
Saya lantas teringat ilustrasi terkenal buatan M.C. Escher berjudul “Drawing Hands”. Dalam gambar ini, bisakah kita memutuskan: tangan mana yang menggambar mana? Kiri duluan atau kanan duluan? Pikiran kita, yang juga instrumen dualitas, akan terjebak dalam permainan logika tiada henti jika dihadapkan pada gambar semacam ini. Tangled hierarchy, adalah istilah yang kerap digunakan untuk menamai fenomena jalinan hierarkis nonlinear. Jalan keluarnya adalah dengan lompatan kuantum. Keluar dari jebakan logika. Mentransendensi dualitas dan melihat keduanya secara holistik.

Izinkan saya mengangkat satu pertanyaan dari Cy yang mampir ke blog ini: Kenapa kita tidak menghentikan saja segala kampanye global warming ini, karena bila mengacu pada Law Of Attraction atau buku “The Secret”-nya Rhonda Byrne, apa yang kita tidak inginkan jangan dikoar-koarkan, karena justru malah membawa kita ke realitas yang kita hindari, alias: what you resist, persists? Selain itu Cy menekankan lebih pentingnya persiapan menghadapi kematian. Yang dimaksud di sini adalah kematian spiritual.
Jika kita berhasil keluar dari perangkap dualitas pikiran, segalanya memang menjadi tiada. Tak ada lagi sebab akibat. Tiada kamu. Tiada saya. Tiada benar. Tiada salah. Tiada hitam. Tiada putih. There are no dancers, only the dance, kata guru saya. Tak ada pelaku. Dewi Lestari tidak pernah berbuat apa-apa. There is no doer. Saya dan Anda hanyalah topeng-topeng yang ‘dipinjamkan’ supaya semesta ini menari. Yang sejati adalah tariannya. Kita semua fana. Global warming barangkali hanya drama. Gerakan untuk melawannya pun juga drama.
Lantas, ketika kita berhasil sampai pada pemahaman itu, adakah itu berarti kita diam, tidak bertindak, tidak bersikap (baca: memihak)? Silakan dicoba. Saat Anda memutuskan untuk diam, diam itu jugalah drama. Satu drama di tengah lautan drama tak terhingga. Semua artikel saya hanya drama. Menanam pohon atau menebangi hutan pada esensinya pun cuma drama.
Sang Buddha, setelah puncak pencerahannya, konon berkata: There’s nothing to change. Tidak ada yang perlu diubah dari hidup ini. Beliau bahkan sempat menolak untuk mengajar. Namun, akhirnya, Sang Buddha memutuskan untuk menjadi guru. Mengajarkan dharma pada banyak orang hingga akhir hidupnya. Sang Buddha mengambil perannya sebagai seorang guru dan menjalankannya dengan sadar dan tekun.
Saya punya interpretasi pribadi atas kisah itu. Ketika Buddha mengatakan bahwa tidak ada yang perlu diubah, bukan berarti perubahan tak ada. Yang tidak ada adalah ‘aku’ sebagai pelaku. Namun selama kesadaran kita masih melekat pada jasad, tak satu pun dari kita luput dari peran-peran yang perlu kita jalankan. Bertapa sampai mati adalah peran. Jadi perusak hutan juga peran. Yang membedakan hanyalah tingkat kesadaran dalam menjalankan peran-peran tersebut.
Manusia boleh berbangga dalam ilusinya sebagai Sang Penguasa. Berada di ujung spektrum evolusi, manusia disebut sebagai makhluk autopoietik karena sistem inteligensinya yang sangat kompleks dan canggih. Namun makhluk autopoietik ini adalah biangnya paradoks. Dalam sosoknya yang serba canggih, sistem makhluk autopoietik sangat rentan dan interdependen pada lingkungannya. Hanya masalah kita menyadari atau tidak. Dalam pikiran kita, boleh jadi kita berilusi ini itu. Kenyataannya, semakin modern dan canggih kita berevolusi, semakin rentan dan rapuh tumpuan peradaban ini.
Kita semua berada di tengah dinamika agung ini. Tanpa kecuali, segalanya terikat dengan sifat dualitas. Yin dan Yang. Chaos dan order. Dunia kita yang unik dan paradoksikal ini secara konstan bertumpu pada benang tipis rapuh bernama ekuilibrium. Tak lama lagi, titik bifurkasi baru bagi peradaban manusia akan tiba. Ke mana kita akan mendarat? Tidak ada yang tahu pasti.
Dalam perjalanan ini semua, kita punya peran-peran untuk dimainkan. Saya memilih peran menjadi penulis. Dan saya hanya menulis apa yang saya suka. Dalam Bumi yang kian memanas, saya memilih peran sebagai berikut: saya berbuat apa yang menurut saya pas dengan kata hati saya. Dan saya menyuarakannya sebisa saya. Saya berbagi apa yang bisa saya lihat dan racik melalui filter pemahaman saya. Demikian juga dengan Anda semua.
Segala upaya kita tak pernah lepas dari paradoks. Saat seseorang mengambil posisi ‘berhenti menyuarakan isu global warming’, ia pun menjadi resistor bagi upaya saya dan semua orang lain yang memilih bersuara. Dan hukum “what you resist, persists” kembali berlaku baginya. It’s a zero sum game no matter how we want to play it, sahabat saya berkata.
Di sinilah pentingnya kesadaran, keelingan. Lakon apa pun yang kita pilih, lakukan dengan sepenuh-penuhnya hati. Jalankan dengan kesadaran sebisa-bisanya. Pada akhirnya, semua topeng ini lenyap, terdaur ulang oleh kehidupan. Cepat atau lambat. Lewat usia tua atau lewat kiamat.
Saya kenakan topeng ini, cangkang ini, selagi hidup masih mengizinkan. Dan akan saya tarikan tarian di pentas paradoks ini segemulai mungkin.
daustralala said,
May 5, 2008 at 8:07 pm
Dee, bagaimana pendapat dikau soal teori entropi yang mengatakan bahwa semua sistem cenderung menuju ke kehancuran/ketidakseimbangan. Dalam kimia biasanya disebut delta S.
Saya tidak tahu di mana bedanya dengan chaos theory.
What d’you think?
didut said,
May 5, 2008 at 8:43 pm
mulai dr diri kita pokoknya mulai dr diri kita
serem kalo tau fakta di bumi ini
imas said,
May 5, 2008 at 9:01 pm
hai, salam kenal mba
.
membaca postingan yang ini, membuat aku semakin dan semakin kagum pada mba
anyway, setuju bahwa pada dasarnya tidak ada sebab akibat, tidak ada benar, tidak ada salah…
tapi untuk diam? ah, rasanya rugi jika diam saja
setuju juga bahwa setiap individu menyandang perannya masing-masing dan adalah tergantung niat dan kesadarannya untuk menjalankan peran tersebut dan melihat serta menilai efek dari perannya itu.
ah, bingung harus berkomentar gimana lagi. yang jelas, setuju banget sama isi postingan yang ini
eniwei, salam kenal lagi dan permisi mau mengubek-ubek arsipnya
kopril said,
May 5, 2008 at 9:05 pm
manusia itu hanya wayang, dan di balik wayang ada dalan, dan wayang itu punya cerita…dan cerita itulah cermin…
sopo gelem petung kedumung untung, sopo ra gelem petung bakalan buntung…
Myblogs said,
May 5, 2008 at 9:29 pm
Pujangga terkenal asal inggris William Shakespeare dengan sebuah syairnya yg terkenal mengatakan Dunia ini panggung sandiwara.Setiap manusia memainkan sebuah peran,ada peran masuk dan ada peran keluar..Setiap manusia menjalankan setiap peran,tiap hari tiap saat kita memainkan peran itu..dalam buku secret,hukum tarik menarik mempengaruhi kehidupan kita.Kita berkoar untuk anti perang,perang semakin gampang terkoar.Mahamat Gandhi melawan penjajah dengan tidak melakukan apa2.Tidak bersuara lantang,berkoar koar di dpn podium,he just do a silent..
~~Devita~~ said,
May 6, 2008 at 2:27 am
Fiuh.. heavy..complicated…real…
sepertinya aku harus mempertahankan topeng ini.
mira said,
May 6, 2008 at 6:51 am
Salam Dee.
Saya fan dari Singapura. Waktu itu pensyarah kuliah kami memperkenalkan karya kamu berjudul ‘Filosofi Kopi’ dan mula timbul minat dari situ.
Sayangnya karya-karya Dee sukar didapati di sini tetapi dengan wadah blog ini, saya rasa dapat dimanfaat sekali.
Keep writing & semoga sukses.
aditya said,
May 11, 2008 at 10:00 pm
mmmm mengubah apa yang terjadi pada bumi ini…maksudnya membuat bumi ini menjadi hijau kembali misalnya atau mencegah kehancuran bumi ini kan bukan tanggung jawab qt sepenuhnya kan????
qt tak pernah minta dilahirkan di bumi yg sudah rusak begini kan???
tp berbuat apa yg qt bisa aja n yaaa semoga bisa menginspirasi orang tuk memelihara bumi…setuju deh sama mbak dee
Redy Satria said,
June 8, 2008 at 11:04 am
zero sum game ya? Kadang-kadang saya jadi dibuat bingung dengan segala teori dualitas, membuat manusia seakan-akan terperangkap pada ambiguitas. Tapi ya sudahlah, memang terlalu banyak misteri yang tidak bisa diungkap dengan logika karena bagaimanapun nalar kita punya tepi.
Anyway, terimakasih untuk tulisannya yang begitu inspirasional. Terlepas dari hakikat baik-buruk atau diterima-tidak diterima, saya haturkan banyak terimakasih karena MAU membuka cakrawala pemahaman yang sering lepas dari pengamatan.
Best regards.
antoniusreksa@yahoo.com said,
June 18, 2008 at 5:47 pm
Berkontemplasi pada dualisme dunia,menertawai panggung paradoks semesta, sewaktu dualisme lenyap tak berbekas, Yin dan Yang bersatu tanpa batas, di dalam harmoni yang murni,tiada lagi dibatasi oleh diri, tidak lagi dirusak oleh logika, yang ada hanyalah ada, bersatu dalam Sunyata alam semesta.
yoana_bjo said,
June 23, 2008 at 2:44 am
Filosofi Kukang (Nycticebus coucang)
Ketika dunia diburu oleh waktu, binatang ini sangat menikmati setiap gerakan yang memang lambat, seperti segala sesuatu ada ritmenya, baik itu untuk memanjat pohon, makan, bereproduksi ataupun untuk buang hajat.
Ketika dunia saling berebut makan, untuk mempertahankan hidup dia rela hanya memakan daun dari pohon kesukaannya, dengan konsekuensi kandungan energi dan protein dari dedaunan itu sangat rendah dan sistem pencernaanyapun ikut beradaptasi, karena jika dia memaksa untuk makan buah pohon itu, dia akan kalah bersaing dengan binatang-binatang yang lain.
Seperti sudah digariskan untuk menjadi betina kenikmatan sesaat yang didapat dari kukang jantan harus ditebusnya selama beberapa tahun untuk membesarkan dan melatih anaknya untuk mandiri. Setelah tugas mengawini selesai, kukang jantan pun berlalu dari hidupnya.
Dibalik kemalasannya dan ketidakmampuannya berjalan, namun kukang ini menyimpan suatu potensi yang tidak perlu diragukan, dia adalah perenang yang handal. Sebuah kemampuan yang diperoleh akibat daya adaptasinya.
Ketika dedaunan tidak mampu lagi menutupi tubuhnya, dia pun bersimbiosis dengan ganggang untuk berkamuflase dari para predatornya.
endah said,
July 3, 2008 at 11:07 pm
Numpang mampir ya mbak. Aku tambah kagum denganmu mbak. Mampir ke rumah kalo ke bali ya……
harun_motivation said,
July 4, 2008 at 11:52 pm
manusia menyukai yang tau tetapi setelah banyak tau ngak tau mau ngapain, seperti laut mati ia tidak dapat berbuat untuk dirinya sendiri, dijauhi dan tak sedap bagi penciuman. memang dari tulisan mbak aku juga jadi banyak tau, tapi aku hanya dapat mendorong teman-teman baca tulisan mbak, siapa tau ada yang mulai berpikir melakukan sesuatu. harun dethan/motivator.
next card said,
August 13, 2008 at 10:02 pm
Very Nice Site! Thanx!
http://excellent-credit-card.blogspot.com
ronny said,
October 2, 2008 at 4:23 am
Ijinkan saya berpendapat, singkat saja.
Pertama :
Ketika kita berupaya untuk menghilangkan kemelekatan terhadap kehidupan duniawi tidak berarti kita pergi ke gunung, bertapa dan tidak mau ketemu dgn orang lain atau malahan tidak peduli lagi dgn kehidupan duniawi. Kita berupaya untuk menghilangkan kemelekatan terhadap kehidupan duniawi berarti membangun kesadaran tentang makna kehidupan. Misalnya, kesadaran bahwa semua berubah, segala benda yang kita miliki suatu saat akan hilang atau rusak. Kesadaran seperti itu membuat kita menjadi ’sadar’ bahwa kecenderungan manusia untuk memiliki benda-bedan duniawi secara berkelebihan menimbulkan sifat ‘egois’ dan menciptakan ‘aku’ dalam dirinya, sehingga timbul kemelekatan adalah sikap yang kurang tepat.
Kedua:
Ketika kita sudah mampu menyadari makna hidup yang sebenarnya maka kita tetap beraktifitas dalam hidup tetapi dengan ‘kesadaran’ agar kita tidak terjebak dalam kemelekatan yang bersifat semu. Kehidupan dunia ini penuh dengan warna-warni. Kita harus menentukan sikap dengan ‘kesadaran’ dan ‘Bijaksana’ untuk menentukan ‘warna’ mana yang akan dipilih. Hidup adalah Perubahan, Perbedaan, sekaligus Pilihan. Anda pilih mana: mendukung atau tidak mendukung kampanye Global Warming. Pilihlah dengan penuh ‘Kesadaran’ dari suatu perenungan jiwa yang mendalam.
Terima kasih
http://www.ronny-hukum.blogspot.com
juno said,
October 30, 2008 at 7:16 am
Halo Mbak Dewi,
Aku ingin berkomentar nih. pertama, fenomena penggundulan Amazon untuk menjadi lahan peternakan juga tidak lepas dari supply-demand di dalam perdagangan dunia, di mana negara konsumen juga berkontribusi terhadap rusaknya hutan di Amazon. Kalau tidak salah, dulu pernah ada film dokumenter yang menggambarkan protes anti-Mc D, karena Mc D di negara bagian New Mexico atau California (USA) mengambil suplai daging sapi dari negara-negara Amerika Tengah dan Amerika Latin. Dan, seperti Mbak tahu, dalam hubungan internasional karakter interdependen itu sangat kuat.
Kedua, aku kurang sepakat dengan zero sum-game, tapi relative sum-game. Justru karena banyaknya peran yang bisa diambil, rentang peran bukan dari 0 sampai 1. Peran ekuilibrium, yang mungkin dituduh sebagai orang yg tidak jelas (antara hitam atau putih), adalah satu peran yg bisa dimainkan juga. Kemudian harmoni, kata Zen.
juno said,
October 30, 2008 at 7:18 am
panggung dan topeng ? interaksionisme simbolik, dong. struktural-fungsional.
sufi said,
August 17, 2009 at 7:22 pm
yes Go Veg Be Green Save Our Planet