May 7th, 2008 at 5:26 am (Uncategorized)
Pertempuran Tiga Perut
Belum lama ini, kita resmi memasuki krisis global baru. Krisis pangan dan energi. Meminjam istilah teman saya, Chindy, sekarang ini sedang terjadi persaingan antara tiga macam “perut”: perut manusia, perut ternak, dan perut mobil.
Mari kita bahas dulu mengenai perut mobil. Selayak kodratnya sebagai energi yang tak bisa diperbarui, cadangan minyak dunia kian menipis. Belum lagi dengan tudingan konspirasi ekonomi di balik itu semua. Berbagai macam teori dilontarkan untuk menjelaskan kenaikan harga minyak. Situasi ini lantas memunculkan primadona baru, yakni biofuel. Permintaan dan popularitas biofuel meningkat drastis akibat kepanikan dunia akan menipisnya bahan bakar fosil. Biofuel pun dipandang sebagai substitusi yang lebih ramah lingkungan. Benarkah demikian?
Menurut pemenang Nobel, Paul. J. Crutzen, biofuel justru penyumbang besar pemanasan global, karena asas bekerja dan hasilnya sama-sama saja: pembakaran dan karbondioksida. Belum lagi dengan jumlah permintaan besar dan tuntutan waktu yang cepat, biofuel yang dibuat dengan bahan dasar jagung, kanola, tebu, atau sawit akan memaksa produsennya untuk menggunakan pupuk sintetis yang menyumbang nitro-oksida – salah satu gas rumah kaca yang berbahaya. Nitro-oksida punya efek insulasi 300 kali lipat dibandingkan karbondioksida. Menurut Krutzen, ditinjau dari emisi nitro-oksidanya saja, semua kebaikan biofuel bisa jadi nihil. Bahkan tekor.
Namun demam biofuel tak pelak menyeret para petani seluruh dunia dalam arus hukum ekonomi: menjual kepada yang memberi untung lebih. Akibatnya, mereka berlomba-lomba menjual pada produsen biofuel hingga naiklah harga kedelai, sawit, dan jagung, dibarengi kelangkaan makanan pokok dan minyak goreng di pasar. Beberapa bulan lalu, pengusaha tempe-tahu kita menjerit. Ibu-ibu menjerit. Bukti bahwa perut manusia akhirnya tergusur. Kalah oleh perut mobil.
Laporan Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) memperkirakan, kenaikan penderita kelaparan di dunia mencapai 16 juta orang dari setiap satu persen saja kenaikan harga bahan pangan pokok dunia. Dengan laju kenaikan sebesar itu, IFAD memperkirakan terdapat 1,2 miliar orang yang akan mengalami krisis pangan kronis di seluruh dunia pada tahun 2025.
Namun, pada bulan April 2008, harga satu ton beras di pasar dunia sudah di atas 1.000 dolar AS atau naik sebesar 47 persen sejak Maret 2008. Di Amerika, penjualan beras kini sudah dibatasi. Di Asia, negara-negara eksportir beras mulai mengunci lumbung-lumbungnya. Takut rakyatnya kelaparan.
Bagaimana dengan perut ternak? Saya teringat satu karikatur yang menggambarkan bagaimana hewan tergeli-geli melihat manusia. Sesama hewan tidak memakan spesiesnya, tapi manusia sibuk memberi makan hewan sampai lupa memberi makan spesiesnya sendiri. Di atas puncak piramida makanan, tak ada lagi predator yang menghabisi kita. Hanya kitalah yang bisa membunuh saudara-saudara kita sendiri. Tak melulu dengan peluru atau belati, kita mengosongkan lambung miliaran manusia karena sibuk mengisi lambung hewan ternak.
Di dunia saat ini jumlah seluruh hewan ternak berkaki empat mencapai angka enam miliar. Beda tipis dengan populasi manusia yang sudah mencapai 6,5 miliar jiwa. Enam miliar ternak itu tidak dicapai semata-mata oleh alam, manusialah yang secara sengaja mewujudkannya atas nama pemenuhan kebutuhan hidup. Namun, kenyataannya 40.000 manusia mati setiap hari karena kelaparan. Padahal hasil pertanian yang digunakan untuk pakan ternak di negara Amerika saja bisa memberi makan 1,3 miliar manusia.
Kini kita mulai merasakan efek perang ketiga perut tersebut. Presiden belum lama ini akhirnya mengeluarkan inpres untuk penghematan energi. Petani-petani mulai mengaktifkan sistem lumbung untuk menjaga stok beras. Dan negara-negara Asia, produsen beras dunia, berkumpul untuk berhitung dan berstrategi.
Di tengah seliweran analisa dan solusi atas situasi tersebut, saya merasa bahwa pertempuran tiga perut ini juga terjadi di level terkecil dan terprivat: rumah kita sendiri. Antara perut manusia, perut kendaraan, dan perut ternak, ketiganya melangsungkan dinamika di daftar prioritas kita, di daftar belanjaan, dalam pilihan-pilihan yang kita buat sehari-hari. Dari tiga perut tadi, mana yang ingin kita dahulukan?
Secara instan dan refleks, seharusnya sangat mudah bagi kita untuk menjawab. Namun kenyataannya tak semudah itu. Kita telah dijerat gaya hidup, kebiasaan, misinformasi, hingga meski itikad kita adalah membela perut manusia, pilihan-pilihan kita tak selalu konsisten dengan itu. Tanpa kita sadari dan ingini, seringkali kita “membunuhi” saudara-saudara kita. Bahkan diri kita sendiri. Contoh singkatnya, untuk memproduksi satu kilo daging sapi dibutuhkan enam belas kilo tanaman biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Jadi, bisa dibilang, saat kita mengonsumsi satu kilo daging, kita telah mengambil jatah enam belas porsi makan manusia.
Tips-tips berikut ini sederhana dan barangkali sudah sering kita dengar. Namun, tanpa niat yang kuat, belum tentu mudah untuk dilaksanakan. Apalagi kalau gaya hidup dan pandangan kita dibelit berbagai jeratan yang saya sebutkan tadi. Tapi, bisakah kita mencoba?
Susunlah rute kepergian Anda per hari sebaik mungkin supaya penggunaan BBM kita efektif. Go in a bundle, as best as we can. Sekarang ini, saya memilih pergi dengan travel untuk setiap trip saya ke Jakarta, ketimbang berkendara sendiri dalam mobil pribadi. Cek setiap lampu, alat elektronik, dan titik-titik listrik. Pergunakan secermat dan sebijak mungkin. Matikan yang tak perlu. Pilih perangkat yang paling hemat energi. Jika Anda punya lebih dari satu mobil, gunakan yang paling hemat bensin lebih sering. Beli produk lokal sebisa mungkin, dari mulai makanan hingga barang, karena ini berarti kita menghemat energi yang dipakai untuk shipping dan perjalanan benda-benda itu. Bagi yang ingin mengulik lebih serius dan detail aneka tips penghematan energi, bisa kunjungi tips hemat dari WWF.
Yang berikut adalah tips yang tak terlalu populer, barangkali karena melibatkan kepentingan industri besar dan faktor pembiasaan yang sangat kuat, tapi saya belum jera menyuarakan: bervegetarianlah sesering mungkin. Bisa dimulai dengan pola “vegetarian weekend” alias 5:2 per minggunya, berangsur menjadi 3:3, berangsur lagi menjadi “omnivarian weekend” (or “carnivorian weekend” for some people) alias 2:5, hingga 1:6. Atau, bagi yang sanggup dan mau, bisa langsung total menjadi vegetarian setiap harinya.
Berikut ilustrasi jika kita mau bervegetarian satu hari saja dalam satu minggu. Dalam satu tahun kita telah membantu Bumi berhemat…
• 317.520 liter air
• 111 kilogram tanaman biji-bijian
• 693 m2 lahan
• 58 liter bensin
• 183 kg kotoran ternak
Dalam pertempuran ini, di manakah kita berdiri? Bagaimana kita menata ketiga bidak tersebut dalam peta percaturan krisis global ini? Mari, pelan-pelan, amati daftar belanja, daftar kegiatan, rute perjalanan, isi meja makan, penunjuk bensin, setiap tombol on/off… barangkali di sana kita, manusia peradaban modern, bisa mengibarkan bendera perdamaian. Antara manusia dan Bumi. Untuk pertama kali.
ghazi said,
May 8, 2008 at 2:44 am
wuih, ngeliat kondisi sekarang gak kebayang sama kondisi bumi lima puluh tahun lagi.. sekarang aja udh kayak gini, gimana nanti? mungkin kita semua emang harus “bervegetarian minimal sehari dalam seminggu” kali ya?
Sherlie Yulvianti said,
May 8, 2008 at 7:10 pm
Aduh mbak..miris banget bacanya..
Resesi ekonomi dampaknya gak cuma ke Indonesia tapi ke dunia..
Aku juga gak pernah tau kalo untuk ngasih makan sapi banyak orang kelaparan..
Anonymous said,
May 8, 2008 at 11:46 pm
Dee, terima kasih atas apresiasinya;)
Saya jadi ingat tulisan Romo Mangun…kita jangan terlalu ideal meraih jangkauan. Akal sehatlah. Kalau kita belum mampu menyelamatkan seluruh kapal, ya paling sedikit sekocilah. Kalau sekoci pun macet, ya pelampung. (Kalau pelampung gembos?)Nggaaak! Nggak bisa gembos. Ini lampu merah sudah!
Hehehe..Romo Mangun selalu punya cara yang unik untuk membuat kita JANGAN PERNAH BOSAN MENARUH HARAPAN. tak kenal kata buntu. Pasti ada jalan, sekecil apa pun, sesempit apa pun. THERE IS A WAY!
Saya ingin berbagi sedikit, kebanyakan kita dalam memandang masalah, mata hanya dipakai menyorot keluar, masalah kita letakkan di luar. Mungkin lebih nyaman kita gantungkan(baca limpahkan) di tangan pemegang kebijakan, di tangan negara-negara raksasa sehingga merasa (tidak bersalah jika) tiada punya daya dan upaya lalu hanya berhenti pada tanya, emang seiprit saya bisa apa?
Nyali negara-negara raksasa juga mengkeret, 4 April lalu dalam pertemuan konferensi perubahan iklim di Bangkok, Jepang diperkirakan akan rugi 500 triliun dollar AS jika menurunkan emisi gas rumah kaca di dalam negerinya 11 persen dari tahun 2005 ke 2020. Negosiator dari AS, Harlan Watson, mengatakan, jika biaya sebesar itu dipertaruhkan untuk pengurangan emisi gas rumah kaca dari negara industri, hal itu jelas tidak akan menolong dunia berkembang.
Konteks kata ‘menolong’ sebenarnya merujuk pada relita konkret seperti apa jika pembangunan ekonomi global selama ini ternyata salah satu hasil suksesnya adalah menelorkan prestasi 2 ORANG TERKAYA DI DUNIA, MEMILIKI LEBIH BANYAK UANG dibandingkan dengan total PDB DARI 45 NEGARA TERMISKIN!(National Geography edisi Spesial-DETAK BUMI)
Dalam tataran global, mungkin sudah saatnya dunia putar haluan ke Gross National Happiness, seperti yang telah dilakoni oleh Bhutan sejak tahun 1972. Pembangunan yang tidak mengacu pada pertumbuhan ekonomi berbasis produk melainkan kebahagiaan, kepuasan bain. ukuran kemakmuran bukan pada apa yang dimiliki tetapi pada kebahagiaan dari kepuasan batin. Bhutan tidak kaya, namun mampu memberi pendidikan dan kesehatan gratis pada rakyatnya.Tidak heran karena alokasi budget untuk edukasi dan kesehatan 18%, bandingkan dengan China cuma 2-3%)
Sembilan puluh lima persen mahasiswa yang dikirim keluar memilih kembali ke Bhutan. tidak silau oleh bingar dan gemerlap Amerika, Jerman atau negara2 maju tempat mereka studi. Mengapa? A graduate of the documentary film programat the University of California, Berkeley said,”The real appeal of Bhutan is that we feel HUMAN. Maybe we are somewhat isolated from the world, but we feel part of a living community that is not connected by wires. that’s why 95% of US exchange students return home. By and large you would have to say people are happy here”
Perlindungan terhadap lingkungan, sejak 1995 sampai sekarang, hukum di Bhutan telah memberlakukan 60% lahan di Bhutan adalah hutan dan kini 26% diantaranya telah diproteksi sebagai Taman Nasional)
Menurut saya, sistem yang WARAS ini layak dipertimbangkan secara global. agar roda industri melaju satu garis lurus dengan koridor butuh tok, mematikan tombol perangsang konsumsi yang strateginya luar biasa kreatif menyulap apa pun yang bukan kebutuhan jadi kebutuhan… mari tengok sejarah daging, komersialisasi daging bermula sejak tahun 1854 di Chicago, melihat potensi daging sebagai komoditi yang super duper menggiurkan pada tahun 1861, hanya dalam waktu 5 tahun,peternakan di Chicago menjadi kota terbesar dalam distribusi beef…menjadi “hog butcher for the world” (http://www.jstor.org/pss/2354664 atau http://en.wikipedia.org/wiki/Union_Stock_Yards)
Jabat Hangat,
Chindy Tan
Afra said,
May 9, 2008 at 12:57 am
Perturungan 3 perut yg salah satunya dipicu oleh menipisnya minyak bumi, dimana manusia kini ditantang untuk berdamai dengan bumi, selayaknyalah kita manusia berdamai dulu antar sesama. Dengan menciptakan dunia damai aman sejahtera bersama, maka perdamaian dengan bumipun tidak akan mustahil kita lakukan.
damai bumiku,sejahtera kita semua.
Afra
http://www.aframayriani.wordpress.com
Fahd Djibran said,
May 9, 2008 at 6:16 am
Menjadi vegetarian, bagi saya, selalu menjadi pilihan menarik. Sebab dengan begitu saya bisa menghemat sejumlah uang untuk beli buku yang harganya makin mahal saja. Apalagi di akhir-akhir bulan, menjadi vegetarian adalah pilihan yang sangat tepat. Maklum mahasiswa rantau
.
Tapi, kalau bagi Paul. J. Crutzen “biofuel” justru penyumbang terbesar pemanasan global, berarti mobil dan kendaraan bermotor lain nggak cocok jadi “vegetarian”, dong? Hehehe
Ah, perut memang sering jadi awal dari banyak masalah. Kita juga kadang tidak sadar bahwa persoalan perut berkontribusi besar pada pemanasan bumi kita. Dulu, saya sering diingatkan oleh ibu saya tentang “panas dalam”. “Jangan makan sembarangan,” katanya, “nanti panas dalam.”
Tapi saya sering tidak mempedulikan apa kata ibu. Mungkin banyak “perut” seperti saya yang durhaka pada ibunya. Sehingga panas itu kini tidak hanya di dalam, tapi menyebar keluar. Ke seluruh bumi. Menjadi pemanasan global.
Rasanya saya harus mendengarkan apa kata ibu. “Jangan makan sembarangan”. Saya harus mulai mengatur pola makan saya, ternyata.
Saya jadi menemukan kesimpulan ini: ada salah satu penyebab pemanasan global yang nggak kita sadari, “durhaka pada orang tua.” Seperti saya yang tidak memperhatikan nasihat ibu saya tentang perut.
Bagaimana kalau tiga perut itu kita puas[a]kan saja?
Fahd Djibran
http://www.ruangtengah.co.nr
NB. Teman-teman, kunjungi blog saya ya!?
daus said,
May 9, 2008 at 9:22 am
@Anonimous: yang betul, National Geographic Indonesia.
daus said,
May 9, 2008 at 9:31 am
Lagi-lagi…
timpakul said,
May 9, 2008 at 1:35 pm
biofuel dan unilever sangat menyebabkan permasalahan di dunia, termasuk meningkatkan gas rumah kaca…
^_^
Abah Oryza - Geri Sugiran AS said,
May 10, 2008 at 3:00 am
kok baru kepikiran yah, emang logis juga klo kita kebanyakan makan daging jadi lebih banyak ngasih makan ternak, sehingga jatah manusia berkurang, makan sayur musti ditambah nih mulai sekarang.
salam dari lampung
Cy said,
May 10, 2008 at 1:32 pm
SALAM MBA DEE,
saya datang lagi
setelah mencermati (hoaalah..) berbagai aspek tulisan tentang Global warming (G.W) disini,
bagaimana kalo begini saja … Kita semua kan tahu (mudah mudahan semua komentator tau) ttg MEME — lebih tepatnya meme-nya Richard brodie itu loh…
nah, untuk memperkuat daya penetrasi dan laju meme meme “pemikiran” seperti yg ada disini,(sebab meme jg punya berbagai klasifikasi kritis)
bagaimana kalau kita sempatkan untuk masing masing dari pembaca disini semakin di(mem)-per-sering durasi pikiran “Menceggah G.W dgn berusaha menemukan berbagai bentuk ide kongkrit maupun ide penulisan”
as meme as “internal representation of knowledge
sebab meme ini ‘ternyata’ bisa di tingkatkan ‘power’nya melalui (salah satu) dengan repetition idea — e.g tulisan.
terlebih dahulu (agar lebih yakin) silakan googling dulu .. ttg bagaimana bentuk kuantifikasi (rumus) perihal meme ini.– serta jika memungkinkan lebih jauh googling jg ttg “holographics Universe”
sehingga apa yg tertuang dalam Kepres, Kepment, PP, Perda bisa sama persis alias fotocopy (who knows ?)dgn apapun kerisauan, Solusi, saran, teori dari kita semua yang se’meme ini..
sungguh abstrak dan “kurang punya’ parameter ukur memang
tapi, jk kt mmg mau mengambil peran.. hayo Atuh..
bagaimana temen temen yg laen .. setuju kah..?
lbh khusus lg mba Dee ..Setuju..?
salam
Cy
emaknya farah said,
May 11, 2008 at 12:21 am
Out of topic, DewiLestari.com kapan launching??
Sebuah tempat seperti telaga, bernama safar.... said,
May 12, 2008 at 10:40 am
pertarungan 3 perut,
ada juga “big yellow taxi”
yang disuarakan joni mitchelll
They paved paradise
And put up a parking lot
With a pink hotel, a boutique
And a swinging hot spot
Dont it always seem to go
That you dont know what youve got
They took all the trees
Put em in a tree museum
And they charged the people
A dollar and a half just to see em
Anonymous said,
May 12, 2008 at 8:13 pm
Daus nuwun ats koreksinya yo;)
btw Dee, awakmu mercusuar pencerah tenan, ciayo Jeng!
chindy
Anonymous said,
May 12, 2008 at 8:56 pm
Wahhh…Bagus, inspiring & a good info utk jadi vegetarian…
ternyata buuuaaanyakk benefit sekaligus, dan bisa dengan simply kita lakukan dari diri kita..hemm
seribu langkah di mulai dari satu langkah juga ya…
Aries Setiadi said,
May 13, 2008 at 10:19 am
Bumi makin panas, harga makin mahal. Puasa… puasa… puasa… *sambil ngelus dada, mengingatkan diri sendiri*
eyi said,
May 18, 2008 at 5:00 pm
dee, ini hari pertama saya bervegetarian sehari dalam seminggu.
mohon doa restunya. hihihi….
suryow said,
May 20, 2008 at 1:51 am
jadi serem juga ngeliat apa yang udah dilakuin ma manusia, tapi boleh juga tuh idenya, gue ikutan juga ah..
Anonymous said,
May 26, 2008 at 7:56 pm
Taukah mbak Dee kalo satu lembar kertas membutuhkan 10 liter air untuk memproduksinya? Dan 140 liter air dibutuhkan untuk segelas kopi, dan 35 liter air untuk segelas teh? Dan untuk 1 kilogram beras dibutuhkan 1400 liter air?
Kalau tertarik lebih lanjut, bisa hubungi sy di arsen.avicenna@gmail.com
Anonymous said,
July 6, 2008 at 8:21 pm
mbak dee, saya kagum sama tulisan2 mbak yang begitu kuat dalam mengapresiasikannya, saya kagum sama kecerdasan mbak dalam membahas permasalahan diatas. tapi ada hal yang ingin saya tanyakan.
dari tulisan mbak baik tentang pemanasan global, penghentian konsumsi daging, resiko penggunaan biofuel dsb, seolah mbak mengatakan bahwa semua inovasi yang dilakukan manusia tidak ada yang bermanfaat, kongkritnya, saya belum menemukan solusi menurut pemikiran mbak tentang penanggulangan-penanggulangan masalah diatas selain mbak hanya menulis semua yang dilakukan manusia beresiko membahayakan bumi kita. kita tentu sama-sama mengetahui bahwa setiap tindakan yang kita lakukan akan menimbulkan resiko dimasa datang, namun haruskan resiko-resiko diterjemahkan demikian, terlalu takut dengan resiko hanya membuat kita “jalan di tempat” lagipula kita tidak bisa hanya melihat dari satu sisi saja, karena setiap langkah dalam hidup manusia pasti berkaitan. Data-data yang mbak lampirkan dalam setiap tulisan mbak seolah menggambarkan begitu berbahayanya setiap tindakan yang kita lakukan sehari-hari. Lalu mengapa bidang peternakan seolah dijadikan “kambing hitam” atas pemanasan global terlepas dari gas metana yang mereka hasilkan, saya berpendapat tentu jika hutan tidak segundul sekarang tentu permasalahan tingginya kadar CO2 di udara dapat sedikit ditanggulangi, padahal penggundulan hutan bukan hanya untuk pembukaan wilayah peternakan saja, banyak pembalak liar menebang hutan hanya untuk diambil kayunya lalu dijual untuk kekayaan mereka sendiri.
kita tidak bisa memungkiri semua kejadian sekarang adalah efek domino dari kejadian masa lalu, tapi kenapa malah kita terus-terusan meyalahkan masa lalu, padahal masa lalu tidak akan bisa dirubah, saya harap mbak bisa membuka wawasan saya tentang permasalahan ini.
terima kasih
-Aul-
Anonymous said,
July 17, 2008 at 1:25 am
supernova.
Anda percaya akan Tuhan?
saat semua orang berusaha mencari cara menjadi “sukses”, apakah Anda merasa sukses?
Saya salah satu penggemar Anda, bahkan menjadi panutan hidup saya.
Memang benar, matilah, karena kematian adalah awal kemerdekaanmu.
Biasanya orang gila adalah orang paling waras.
Saya mendukung Anda untuk mengambil semua keputusan Anda, tidak akan menghakimi Anda, karena saya tidak pantas untuk menghakimi Anda.
Saya pun masih mencari satu-satunya pertanyaan yang pernah ada.
Meski pun saya bukan penganut suatu agama, tapi saya percaya Dia ada.
Di nafas saya, aliran tiap darah, bahkan kedipan mata.
Jalan saya belum jelas, tapi bukankah Dia sudah menujukkan peta pada diri kita?
Saya hanyalah saya.
Saya mungkin bukan seorang Bodhi atau Elektra, tapi saya tidak akan menjadi mereka.
Saya tidak bijak seperti Bong, Kell, Suri, atau Diva.
Tapi kebijaksanaan manusia kadang keluar saat dia ada masalah.
Supernova.
Nama yang sangat bermakna.
Tidak ada yang dapat saya katakan lagi.
Kalau Anda berusaha untuk tahu siapa saya, mungkin saya hanya akan menjawab, saya hanya seorang siswi SMA kelas 3, yang bersekolah di Jakarta Pusat.
Saya hanya manusia biasa.
Selamat menjadi S.
kavung said,
July 19, 2008 at 11:15 pm
Salam kenal mba Dewi, saya sangat tertari dengan tulisan mba Dewi saya mulai mengurangi makan daging saat temen – temen dari Swedia melakukan penelitian di lembaga kami. waktu itu mereka heran melihat kami dengan lahapnya makan daging lalu mereka berkata “apa kalian tidak berpikir kalau perut kalian merupakan kuburan bagi hewan yang kalian makan” sejak saat itu timbul rasa mual saat melihat hidangan berupa sate,bistik dan lain – lain yang berbau daging.
Anonymous said,
July 23, 2008 at 7:20 pm
Cogito Ergo Sum (Supernova 1)
Salam Kenal kepada Dee…
Jangan salahkan orang lain terhadap sesuatu yang menimpa kita. Yakinkan diri kita bahwa itu adalah pelajaran!!
Jangan Pernah Putus Asa!!!
Anonymous said,
July 28, 2008 at 10:47 pm
supernova.
adakah saat Anda berusaha untuk keluar dari masalah yang menimpa Anda, tiba-tiba Anda mendapatkan suatu jawaban ?
Inilah hidup.
Lihat sekeliling Anda, maka Anda akan percaya bahwa keajaiban itu ada dimana-mana.
Apakah Anda percaya, bahwa sesungguhnya kita telah menjadi seorang pelacur ?
Saya membaca, dan memahami.
Inilah hidup.
Mau diapakan lagi ?
Kadang usaha kita untuk memperbaiki kesalahan atau kerusakan, malah menjadi tambah menghancurkan kita.
Bukan berarti kia harus berpangku tangan melihat kekacauan.
Biarkan kekacauan menemukan sendiri jawabannya dan jalan keluarnya.
Saya si anak SMA kelas 3 di sebuah sekolah di Jakarta Pusat.
Selamat menjadi S
Anonymous said,
July 28, 2008 at 10:52 pm
mbak, kapan keluar lanjutan dari Akar ?
apa yang selanjutnya terjadi oleh Bodhi ?
siapa itu Ishtar Summer ?
Apakah dia Diva ?
Liem said,
July 30, 2008 at 9:59 pm
segala awal pasti ada akhir…
tak perlu ada tangis, tak perlu ada sesal… seperti salah satu lagu yang dibawakan Iwan Fals “perjumpaan dan perpisahan, di mana awal akhirnya, di mana bedanya…?”
Dukungan selalu untuk D dan M..
Salam Dhamma,
Lim Albert
Anonymous said,
August 3, 2008 at 11:46 pm
Namo Buddhaya,
Tulisan adik Dewi Lestari menunjukkan bahwa Dewi memiliki filsafat hidup yang mendalam terutama pemahaman yang mendalam tentang filsafat Budhis. Meskipun demikian, Dewi masih harus belajar lagi untuk memahami mengapa alam semesta ini memiliki sistem yang sekarang kita alami, ada apa di balik itu?
Salam kenal buat adik Dewi Lestari.
From : Ronny
http://www.ronny-hukum.blogspot.com
petualang said,
August 5, 2008 at 9:42 am
Terkadang kuberpikir tidak sepantasnya manusia mengexploitasi perut bumi hingga sedemikian dalam. Mulai dari sana kita menggali banyak sumber kejahatan di muka bumi. Dan hingga saat ini manusia sudah begitu tercandu dengan minyak dan gas bumi hingga tak ada jalan untuk kembali. Berbagai cara yang dilakukan saat ini adalah bagaimana manusia masih tetap bisa mengkonsumsi candu secara hemat dan bijaksana dan berharap bumi bisa merasa sedikit lebih baik dan tidak marah pada manusia.
Anonymous said,
August 27, 2008 at 8:17 pm
maaf nulisnya di anonymous, soalnya gak punya blog.
anyway, saya jg salah satu yg gak setuju bahan bakar di ganti air…if we really think about it..kl sampe itu berhasil…kita bakal minum apa ya?
coba deh, sudah pasti yg akan di pilih adalah air pilihan yg bersih dan di olah sampai kristal clear. Lalu kl sudah terbukti, wahhhhhhhh yg ada semua air bersih akan di serap u bahan bakar..padahal air adalah kebutuhan pokok kita.
Lain kl air comberan ato air kotor yg bisa di pakai atau air bekas bahan bakar (kl nanti bisa hehehe) nah…itu namanya the ultimate RECYCLE