Bumi Kita Butuh Langkah Cepat, Please Go Veggie!
by: Chindy Tan


Alarm tanda bahaya dampak pemanasan global berbunyi semakin nyaring. Pola pencairan es di Arktika merupakan salah satu indikatornya. Perubahan demi perubahan melaju dalam hitungan bulan. Tanggal 18 Maret 2008, Jay Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Arktika hampir semua akan mencair pada akhir musim panas 2012. Hanya dalam waktu dua bulan prediksi itu bergeser. Tanggal 1 Mei 2008 lalu, prediksi terbaru dilansir NASA: mencairnya semua es di Arktika bisa terjadi di akhir tahun 2008 ini. Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es di Arktika pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton. Fenomena terbaru lainnya, pada tanggal 8 Maret 2008 beting es Wilkins di Antartika yang berusia 1500 tahun pecah dan runtuh seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya atau sepertiga luas Jakarta).

Efek domino apa yang membayang bila es di Arktika mencair semua? Mencairnya es di Arktika tidak akan menaikkan level permukaan air laut, melainkan akan mempercepat siklus pemanasan global itu sendiri. Bila es di Arktika mencair semua, 80% sinar matahari yang sebelumnya dipantulkan akan diserap 95% oleh air laut. Konsekuensi lanjut adalah potensi terlepasnya 400 miliar ton gas metana atau 3000 kali dari jumlah gas metana di atmosfer. Gas metana dapat terlepas akibat mencairnya bekuan gas metana yang stabil pada suhu di bawah dua derajat celcius. Seperti diketahui, gas metana memiliki efek rumah kaca 25 kali lebih besar dari gas CO2. Salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah terulangnya bencana kepunahan massal yang pernah terjadi pada 55 juta tahun yang lalu dikenal dengan masa PETM (Paleocene-Eocene Thermal Maximum). Saat itu, gas metana yang terlepas ke atmosfer mengakibatkan percepatan pemanasan global hingga mengakibatkan kepunahan massal. Bukti geologi lain menunjukkan kepunahan massal juga pernah terjadi 251 juta tahun lalu, pada akhir periode Permian. Akibat terlepasnya gas metana, lebih dari 94% spesies mengalami kepunahan massal. Kematian massal terjadi mendadak karena turunnya level oksigen secara ekstrem.

Membaca fakta-fakta di atas, satu hal yang patut digarisbawahi adalah tenggat waktu yang semakin sempit. Dr. Rajendra K. Pachauri, Ketua IPCC, menekankan bahwa dua tahun ke depan merupakan masa tenggat penting untuk menghambat laju pemanasan global yang bergerak dengan sangat cepat. James Hansen, ahli iklim NASA, mengatakan bahwa kita telah berada di titik sepuluh persen di atas batas ambang kemampuan Bumi mencerna CO2. Artinya, kita telah melampaui titik balik. Pada level saat ini, tindakan yang harus diambil bukan lagi mengurangi, melainkan menghentikan.

Kita butuh kecepatan dan ketepatan membaca masalah hingga dapat memilih solusi yang efektif. Solusi yang mampu berpacu dengan waktu untuk memperlambat laju pemanasan global. Berkaitan dengan ini, dalam konferensi persnya di Paris, 15 Januari 2008, Pachauri mengimbau masyarakat dunia dalam tingkat individu untuk: pertama, jangan makan daging. Kedua, kendarai sepeda. Ketiga, jadilah konsumen yang hemat.

Mengapa ”jangan makan daging” berada pada urutan pertama? Fakta berbicara, seperti laporan yang dirilis Badan Pangan Dunia – FAO (2006) dalam Livestock’s Long Shadow – Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas penghasil emisi karbon paling intensif (18%), bahkan melebihi kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter) di dunia (13,5%). Peternakan juga adalah penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan berkontribusi emisi 2,4 miliar ton CO2.

Memelihara ternak membutuhkan energi listrik untuk lampu-lampu dan peralatan pendukung peternakan, mulai dari penghangat ruangan, mesin pemotong, mesin pendingin untuk penyimpanan daging. Mesin pendingin merupakan mata rantai paling tidak efisien energi listrik. Hitung saja mesin pendingin mulai dari rumah jagal, distributor, pengecer, rumah makan, pasar hingga sampai pada konsumen. Mata rantai inefisiensi berikutnya adalah alat transportasi untuk mengangkut ternak, makanan ternak, sampai dengan elemen pendukung lain dalam peternakan intensif seperti obat-obatan, hormon dan vitamin.

Mata rantai lain yang sangat tidak efisien tapi telah berlaku demikian kronis adalah pemanfaatan hasil pertanian untuk peternakan. Dua pertiga lahan pertanian di muka Bumi ini digunakan untuk peternakan. Sebagai contoh, Eropa mengimpor 70% protein (kedelai, jagung dan gandum) dari pertanian untuk peternakan. Indonesia sendiri pada tahun 2006 mengimpor jagung untuk pakan ternak 1,77 juta ton. Prediksi produksi pakan ternak naik dari 7,2 juta ton menjadi 7,7 juta ton, kata Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas-Paulus Setiabudi (Kompas, 8 November 2007). Sementara itu, menurut data Indonesian Nutrition Network (INN), setengah dari penduduk Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi (16 Sept 2005), sebagaimana yang dikemukakan oleh Menteri Kesehatan DR. dr. Fadillah Supari, SPJP(K).

Tanggal 30 April 2008 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak segenap bangsa ini untuk bersama saling membahu menghadapi krisis pangan dunia. Akar masalah kelangkaan pangan jika dicermati salah satunya adalah krisis manajemen lahan itu sendiri. Secara matematis, inefisiensi pemakaian lahan pertanian untuk pakan ternak tercermin dari perhitungan kalori yang “terbuang” untuk membesarkan ternak cukup. Pakan yang selama ini diberikan kepada ternak dapat memenuhi kebutuhan kalori 8,7 miliar orang! Berarti masih ada kelebihan kalori untuk 2,1 miliar orang. Sebenarnya tidaklah sulit untuk memahami mendesaknya perubahan pola makan ini, yakni perubahan ke pola makan yang mata rantainya pendek. Perut manusia bisa langsung mencerna kedelai, jagung dan gandum tanpa harus melalui perut ternak terlebih dahulu. Tidakkah beralih ke pola makan bebas daging justru dapat menjadi solusi ketimpangan akses pangan seluruh dunia?

Pertanian untuk pakan ternak itu sendiri merupakan penyumbang 9% CO2 (karbondioksida), 65% N2O (dinitrooksida) dan 37% CH4 (metana). Perlu diketahui efek rumah kaca N2O adalah 296 kali CO2, sedangkan CH4 adalah 25 kali CO2. Satu lagi masalah industri peternakan yang sangat krusial yakni, inefisiensi air. Sekian triliun galon air diperuntukkan untuk irigasinya saja. Sebagai gambaran sederhana, untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi mulai dari pemeliharaan, pemberian pakan ternak, hingga penyembelihan seekor sapi membutuhkan satu juta liter air! Data yang dihimpun Lester R. Brown, Presiden Earth Policy Institute dan Worldwatch Institute, memaparkan dalam bukunya ”Plan B 3.0 Mobilizing to Save Civilization” (2008) bahwa karena untuk memproduksi satu ton biji-bijian membutuhkan seribu ton air, tidak heran bila 70% persediaan air di dunia digunakan untuk irigasi.

Jejak emisi gas rumah kaca daging terukur jelas. Dr Rajendra memberi ilustrasi konversi energi untuk memelihara sampai menghasilkan sepotong daging sapi, domba atau babi sama besar dengan energi yang dibutuhkan untuk menyalakan lampu 100 watt selama 3 minggu. Satu kilogram daging menyumbang 36,4 kg CO2, tidak heran bila data dari film dokumenter ”Meat The Truth” menyebutkan emisi CO2 seekor sapi selama setahun sama dengan mengendarai kendaraan sejauh 70.000 km. Penelitian di Belanda (www.partijvourdedie.en.el) mengungkapkan, seminggu sekali saja membebaskan piring makan dari daging masih 7,6 kali lebih cepat dibandingkan gerakan hemat energi skala rumah tangga dalam setahun.

Penelitian paling gres yang dilakukan Prof. Gidon Eshel dan Pamela A. Martin (”Diet, Energy and Global Warming”) merunut kontribusi setiap potongan daging terhadap emisi karbon. Penelitian ini diakui secara ilmiah dan dipublikasikan dalam jurnal bergengsi para ilmuwan Earth Interaction Vol. 10 (Maret 2006). Jumlah gas rumah kaca yang diemisikan oleh daging merah, ikan, unggas, susu dan telur jika dibandingkan dengan diet murni nabati/vegan, ternyata jika satu orang dalam setahun mau mengganti diet hewani mereka ke diet nabati murni/vegan akan mencegah emisi CO2 sebesar 1,5 ton. Lima puluh persen lebih efektif daripada upaya mengganti mobil Toyota Camry ke mobil Toyota Prius hybrid sekalipun yang ternyata hanya mampu mencegah 1 ton emisi CO2.

Objektivitas akan menuntun kita untuk mengakui pola konsumsi daging sebagai kontributor terbesar emisi gas rumah kaca. Pilihan kita tidak banyak, mengingat tenggat waktu yang demikian sempit. Mengutip tulisan Senator Queensland, Andrew Bartlett, bahwa seluruh dunia tidak mesti menjadi vegetarian atau vegan untuk menyelamatkan planet kita, tapi kita harus mengakui fakta-fakta ilmiah ini, bahwa jika kita tidak mengurangi konsumsi produk hewani, kesempatan kita untuk menghentikan perubahan iklim adalah nihil. Menurut Bartlett, tidak ada langkah yang lebih murah, lebih mudah dan lebih cepat untuk dilakukan yang dapat mengurangi kontribusi tiap individu terhadap emisi gas rumah kaca selain memangkas jumlah konsumsi daging dan produk susu dan olahannya.

Aksi untuk hemat bahan bakar kita masih banyak bergantung pada fasilitas umum. Upaya yang paling bisa kita lakukan adalah menggunakan kendaraan umum. Namun, sudah menjadi rahasia umum, tidak mudah untuk menggunakan kendaraan umum jika berhadapan dengan kepentingan keamanan, dan untuk ini kita masih bergantung pada kebijakan pemerintah. Aksi hemat energi dalam konteks yang paling ideal bergantung pada teknologi. Sumber energi paling ramah lingkungan yakni tenaga angin, air, dan matahari, masih jauh membutuhkan teknologi dan biaya yang tidak kecil. Butuh waktu yang panjang dan upaya ekstra untuk menggerakkan kesadaran massal untuk hemat energi, hemat listrik, hemat bahan bakar karena harus berhadapan dengan kebiasaan dan perilaku yang telah mengakar.

Mengubah pola makan juga berhadapan dengan kebiasaan yang telah mengakar. Namun, memegang sendok dan akhirnya menjatuhkan pilihan apa yang akan dimasukkan ke mulut kita, sepenuhnya berada di kendali kita. Langsung bisa dilakukan! Jarak antara piring dan mulut kita mungkin hanya sejarak panjang sendok, membalikkan isi sendoknya hanya butuh waktu sekedipan mata, tapi kendalinya ada pada mindset tiap kita. Sejenak, biarkan kepala dingin hadir. Mari dengan mata jernih melihat realitas, mengakui fakta betapa tekanan pola konsumsi daging sedemikian hebatnya pada daya dukung Bumi. Sejenak merasakan beban berat Bumi ini mungkin akan menggeser pilihan kita ke pola konsumsi tanpa daging, pola yang jauh lebih ramah Bumi.

PS 1.Penulis adalah Koordinator Indonesia Vegetarian Society Regional Yogyakarta – Jateng.
PS 2. Ini sesuatu yang tidak biasanya saya lakukan, yakni memuat posting karya orang lain. Tapi, artikel Chindy ini menyimpan begitu banyak informasi yang terlalu penting untuk dilewatkan. Dan menurut saya bisa membantu kita semua untuk lebih bijak bersikap, sekaligus juga menerangkan banyak hal yang melatarbelakangi tulisan-tulisan saya di Dee-Idea selama ini. Hope you guys can enjoy this article as much as I do.
PS 3. Gambar Bumi diambil dari spacetoday.org

38 Comments

  1. andy said,

    May 16, 2008 at 6:12 am

    Yg terlintas dalam pikiran saya ketika membaca artikel ini adalah: sungguh tidak menyangka begitu berpengaruh pola hidup vegetarian yg saya jalanin sekarang, betapa luhur jalan hidup yg saya pilih, walaupun menjalani pola hidup vegetarian awalnya dikarenakan mengikuti agama/ajaran yg saya yakini, tapi ini merupakan suatu ketidaksadaran dan ketidaksengajaan yg manis :)

  2. mitora in life said,

    May 16, 2008 at 7:31 am

    mmm, kalo himbauan vegetarian masih rada aneh sih menurutku..

    kalo naik sepeda n hidup hemat masih ok sih. Tp vegetarian??? rasanyaaa… masih ambigu. Bagaimanapun hewan pun memiliki gizi yg dibutuhkan oleh tubuh kan? kayak daging2an, ikan, dll..

  3. Anonymous said,

    May 16, 2008 at 7:46 am

    Dee,
    hatur nuwun sanget, kaget banget tau artikel ini mau muat di blog Dee.
    Demi terbukanya mata hati kita semua, yang saya yakin punya keprihatinan yang sama terhadap Bumi kita
    Demi pulihnya kembali hubungan kita dengan Bumi, jadi meski punah kita sempat berdamai
    Demi keceriaan semua renik eksistensi yang membentuk wajah Bumi ini

    Salam ceria;)
    Chindy Tan

  4. Dewi Lestari said,

    May 16, 2008 at 8:37 am

    Hi Mitora,

    Barangkali yang kamu maksud ‘ambigu’ adalah vegetarian dari sudut pandang kesehatan?

    Karena untuk sudut pandang lain2, khususnya manfaat vegetarian dari sudut lingkungan, sepertinya apa yang diungkap dalam artikel ini dan banyak artikel saya lain maupun entah berapa banyak artikel, jurnal ilmiah, riset, buku, dsb, sudah menjadi “truth that speaks for itself”. Sehingga jika mengalamatkan kata “ambigu” untuk itu, hmm, rasanya… hmm… luar biasa aneh. Dan tentunya, IPCC, organisasi bergengsi pemenang Nobel Prize, ketika menyerukan hidup bervegetarian bukanlah berdasarkan alasan yang ambigu.

    Mungkin perlu juga ada posting yang membahas pola makan nabati (baca: vegetarian) dan manfaatnya bagi kesehatan (Chindy, berminat menyumbang?). Menurut saya, dalam hal ini faktor pembiasaan dan info gizi yang umum beredar di masyarakatlah yang memegang peranan penting.

    Majalah National Geographic pernah menulis laporan utama tentang beberapa kelompok masyarakat di dunia yang berumur paling panjang. Dan dari semua kelompok yang mereka teliti, salah satu persamaannya adalah: pola makan nabati. Sementara, suku Inuit di Eskimo, yang karena faktor alam terpaksa hidup dengan konsumsi ikan tinggi, memiliki ekspektasi hidup paling rendah. Secara fisiologis (bentuk usus, gigi geligi, dsb), manusia memang lebih cocok mengonsumsi makanan nabati ketimbang hewani.

    Apakah makanan hewani memiliki kandungan gizi? Tentunya iya. Adakah gizi yang terdapat pada pola makan hewani yang tak tergantikan di pola makan nabati? Tidak. Bahkan pola makan nabati memiliki beberapa keuntungan, salah satunya sesuai dengan PH tubuh alami manusia, di mana masalah PH ini ternyata faktor yang sangat berperan dalam kesehatan tubuh.

    Sejujurnya, lebih banyak yang bisa dijelaskan dari sudut pandang kesehatan mengenai vegetarianisme ketimbang dari lingkungan. Karena sudah bukan rahasia juga bahwa hidup vegetarian relatif lebih sehat.

    Pls, just google :)

    ~ D ~

  5. Anonymous said,

    May 16, 2008 at 9:18 am

    artikelnya nyentuh banget, saya mau nangis sekaligus dihantui perasaan mencekam atas kelangsungan hidup manusia dan keturunannya saat baca artikel ini.
    g nyangka bila jd seorang vegetarian dapat berdampak besar terhadap lingkungan,….
    saya jd terisnpirasi buat jd vegetarian mulai detik ini, thx dee juga chindy yg nulis artikel ini…
    thx….

    tapi yg masih menjadi tanda tanya buat saya adalah… apabila hasil riset tsb valid dan diakui di dunia. mengapa negara2 eropa dan amerika tetap saja memproduksi daging2, padahal negara2 tsb terbilang sangat concern terhadap isu2 global warming dan berlomba2 mengembangkan teknologi2 yg ramah lingkungan. apakah mereka dengan sengaja membuat skenario besar kehancuran bumi? dan mereka sendiri telah mempersiapkan tempat perlindungan (bunker) bagi rakyatnya?. atau mereka hanya berpura2 conceern? dan menjadikan benua asia paru2 bagi mereka?

    jd buat apa al gore berkoar sana sini apabila ternyata ada hal kecil yg berdampak besar atas pemanasan global….

    rikas dwi cahyo.

  6. Dewi Lestari said,

    May 17, 2008 at 1:50 am

    Hai Rikas,

    Kebijakan pemerintah di Amerika memang belum berpihak pada penurunan emisi, tapi pada level masyarakat sudah banyak sekali yang terbangun dan tergugah. Jadi boleh dibilang, antara yang berkoar dengan yang menjalankan kebijakan masih belum kompak.

    Konsumsi daging di negara Eropa dan Amerika memang sangat tinggi. Amerika adalah importir daging sapi terbesar. Ini berhubungan dengan pola pembiasaan makan, dan… yang lebih penting lagi… kepentingan industri di baliknya.

    Banyak yang belum tahu, pola 4 Sehat 5 Sempurna yang kita anut adalah warisan dari kesepakatan konsorsium gizi di Amerika yang notabene disponsori oleh National Meat Council dan National Dairy Council. Mereka punya pengaruh dan dana yang sangat besar, hingga bisa penetrasi ke sekolah-sekolah. Dan semua wawasan gizi kita (juga dunia) amat terpengaruh oleh Amerika. Jadi, ada kepentingan industri yang sangat kuat di balik itu. Info lebih lengkapnya, salah satunya, bisa dibaca di buku “Diet For A New America”.

    Al Gore sendiri mendapat teguran cukup keras karena hanya ‘sekilas pintas’ menyebutkan pola makan nabati sebagai salah satu upaya untuk meredam pemanasan global. IPCC sudah lebih berani untuk mengatakan gamblang soal pentingnya mengurangi makan daging.

    Soal data, saya tidak meragukan validasinya. It’s a fact that we all share. Keengganan untuk mengeksplorasinyalah yang menjadi PR sebenarnya. Why? Karena banyak dari kita yang masih enggan berubah. Faktornya pun macam2. Makanya, bagi saya, tidak afdol bagi seseorang yang mengaku peduli lingkungan tapi emoh bervegetarian. Sama seperti saya dulu.

    Saya ini mantan karnivora sejati. Akhirnya banting setir setelah mengetahui fakta2 perusakan lingkungan di balik pola makan. Heheh.

    Hope this is useful,

    ~ D ~

  7. Anonymous said,

    May 17, 2008 at 8:37 pm

    Dee saya nambahin ya..
    Hai Mitora, ini Chindy…
    mari bersama kita menelusuri dari mana asal-usul pemahaman kita bahwa daging adalah makanan bergizi, bahkan kita yakin ‘lebih’ berkualitas dibanding makanan nabati. Saya boleh minta alamat imelnya? tks

    Rikas, banyak terima kasih atas penghargaannya ya, dan terutama telah memilih ‘bangun’;)…masalah produksi daging yang masih saja dilakukan karena daging menyangkut profit miliaran dolar. Tulisan Harvey dan Marylin Diamond sangat jitu menggambarkan bagaimana hebatnya upaya untuk ‘menjual’,jika berhubungan dengan mega laba seperti daging meski tak terbantahkan lagi jika daging biang kerok sederet penyakit papan atas, bahkan kolesterol yang hanya terdapat pada produk hewani menempati pembunuh nomor satu di Amerika.
    ilustrasinya seperti ini: Jika seratus miliar dolar dialokasikan secara teratur untuk meyakinkan orang bahwa jika mereka memotong kaki, maka tidak akan kesandung, mungkin sebagian orang akan meneliti kebenarannya. Aneh kan? Tidak perlu dipikir pun, dalil seperti ini baru lewat telinga saja kita seharusnya udah refleks menolaknya. Namun seperti rokok. Peringatan bahaya rokok berderet-deret seperti itu toh data jumlah perokok pemula kurvanya tak pernah turun, malah meroket. Tidak heran satu batang rokok labanya 300%. Demikian juga dengan daging, industri2 raksasa ini membuktikan pada kita, mereka tau bagaimana caranya, agar keburukan produk mereka tidak sampai diproses di alam nalar kita. Kita bisa memilih sebenarnya, mau kritis atau dihipnotis. Dan ketika daya kritis itu ‘sembuh’ waras jika kita menolak, waras jika kita memilih swicth pilihan kita seketika, tidak ada yang radikal dari pilihan mengurangi beban bumi, karena kita selama ini telah secara ekstrim membebani bumi, tanpa kita sadari melalui proyek hipnotis massal dari industri2 raksasa tsb. Dan ketika Rikas telah ‘Bangun’ gugahlah yang lain. siapa saja. Bisa dipertemuan rt, bisa di saat ngumpul sama teman, bisa saat persekutuan atau ngaji. Di mana saja, kapan saja. Jadilah corong, jadilah katalis untuk ‘kebangunan’ massal ini. Saya bisa mengirimkan booklet tentang global warming pada Rikas, minta alamat rumahnya kalau memang berminat ya…

    Matur nuwun Rikas;)
    Matur nuwun Dee;)

    ciayooo!
    Chindy Tan

  8. Anonymous said,

    May 18, 2008 at 12:56 am

    setelah baca artikel ini, jadi inget dengan bincang-bincang saya & chindy (inget gak cing..) beberapa bulan lalu dijogja….kayaknya yang kita rumpiin tentang topik ini juga :)

    mungkin bagi sebagian orang agak berat untuk ‘go veggie’ karena kita jadi keliatan ‘beda’. Saya dulu jg berpikiran begitu..ternyata setelah dijalani..hehehe…enjoy aja ;)

    ika

  9. Anonymous said,

    May 18, 2008 at 6:42 am

    to chindy….

    thx bget klo kmu mau ngirimin booklet tentang global warming ke saya….
    sejauh ini saya udah nyebarin artikelnya kamu ke teman2 dekat saya dan saya harap saya bisa nyebarin artikel ini lebih luas lagi dan dengan fakta2 yg lebih detail lagi klo ngirimin bookletnya….

    alamat saya : jl. cisitu lama 1 gg 1 no 1, bandung jawa barat.
    tapi klo kmu mo kirimin ke email saya kirim ke ricassijeniusdungu@hotmail.com

    thx bget buat chindy & dee….
    dan semua orang yg mau peduli atas buminya….
    saya harap kita semua bisa bertemu untuk bersama2 membahas dan menyebarkan secara lebih luas tentang sebuah hal kecil kecil yg berdampak sangat besar ini baik itu berbentuk seminar atau kampanye kecil2an…

    thx all.,
    rikas dwi cahyo.

  10. Fahd Djibran said,

    May 18, 2008 at 6:57 am

    Hampir semua buku yang saya baca mengenai pemanasan global atau perubahan iklim menyarankan kita untuk menjadi vegetarian. Saya mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang kesulitan untuk menjadi vegetarian sejati. Sulit karena habitus yang telah terbangun bertahun-tahun dalam diri saya selalu mengatakan bahwa “daging” adalah makanan yang “wajib”, “mewah”, dam “istimewa”. Seminggu tanpa daging adalah seminggu yang sulit dan “hambar”.

    Dulu waktu SMP dan SMA di pesantren, saya hanya makan daging sekali seminggu. Setiap hari selasa. Dan semua orang menantikan selasa yang begitu lama. Ketika selasa datang, ruang makan menjadi sesak, orang-orang mengantri berjejalan. Saya jadi curiga, jangan-jangan kebiasaan makan daging di Negara kita adalah sebuah “pemaksaan”. Daging selalu dicitrakan sebagai sesuatu yang “mewah” dan “istimewa”, sejak dulu, dulu sekali.

    Masyarakat kita yang makan danging seolah lebih “tinggi” derajatnya dan lebih “membanggakan” dari pada mereka yang hanya menjumpai kol dan terong di meja makannya. Buktinya, teman saya ketika di pesantren dulu, dengan bangganya menunjukkan tangannya yang belum dicuci setelah makan daging pada mereka yang nggak kebagian. Ia menghirup tangannya sendiri yang masih berlumur bumbu. Bangga. Yang lain kesal bukan main, dan berjanji minggu depan akan mengantri di paling depan demi daging yang lebih besar.

    Kolonialisme yang panjang juga, bagi saya, turut memiliki andil besar. Masyarakat kita “dendam” karena hari-hari mereka yang panjang selama penjajahan dulu, hanya menghadirkan sayur biji nangka atau singkong rebus di meja makan mereka. Dan tentu saja, mereka selalu memendam mimpi ingin makan enak dengan daging seperti yang tersedia di meja makan kompeni. Penjajahan Jepang jauh lebih menyiksa, bahkan untuk memasak biji buah nangka saja, mereka harus menunggu dua sampai tiga hari dengan perut yang lapar.
    Setelah merdeka, keadaan juga masih belum jauh berubah. Sampai lepas tahun enam puluh tujuh, kehidupan masyarakat baru mulai membaik. Nenek saya bercerita, dulu, untuk makan daging mereka harus menunggu Idul Fitri atau Idul Adha. Idul Fitri untuk ayam, Idul Adha untuk sapi dan kambing. Dalam kondisi sosial masyarakat yang terkolonialisasi selama berabad-abad, daging tentu saja sebuah prestasi yang membanggakan. Daging adalah penantian yang panjang.

    Tapi “sialnya”, saat ini daging dianjurkan untuk dijauhi karena emisinya jauh lebih gila dari emisi mobil orang-orang kaya. “Makanlah sayur-sayuran dan buah-buahan. Jadilah vegetarian.” Kenyataan itu membisik sekali lagi di telinga mereka. “Ya, baiklah, demi bumi.” jawab mereka. Masyarakat kita memang masyarakat yang baik.
    Kasihan memang Negara-negara miskin dan Negara-negara dunia ketiga. Penyebab utama pemanasan global adalah Negara-negara Eropa dengan pola produksi dan gaya hidup mereka selama berabad-abad, tapi kita juga harus turut bertanggung jawab dan kena batunya. (Saya menulis sesuatu yang lain tentang “ironi” ini, klik aja di http://www.ruangtengah.co.nr). Bila es di kutub mencair, negara-negara Eropa adalah yang akan pertama kali kena imbasnya, mungkin kita belakangan. Jadi wajar kalau mereka ketakutan, kan? Ada yang bilang global warming ternyata hanya ketakutan negara–negara dekat kutub yang dibesar-besarkan. Tapi sudahlah, tak penting mengurusi itu benar atau tidak. Kesadaran determinasi ruang dan waktu menuju kehancuran adalah adalah kesadaran yang memang harus ada dalam diri umat manusia.

    Termodinamika II: segala hal menuju kehancuran dan ketakberaturan. Kiamat adalah proses panjang menuju kehancuran itu, bukan sehari jadi dimana dunia meledak seperti bom waktu, seperti kata Keith Ward. Masyarakat kita memang masyarakat yang baik. Jadi, mari sekali lagi menjadi vegetarian. Demi bumi. Demi semua orang di seluruh dunia.
    Saya sedang belajar menjadi vegetarian. Meski mungkin dalam taraf yang masih sederhana. Sebisa mungkin saya menghindari “daging”. Sebisa mungkin. Pagi ini, ketika seorang teman menawari saya makan bareng, saya bilang, “nitip aja, deh!”.

    “Sama apa?” Tanya teman saya.

    “Ayam?” Sambungnya.

    “Nggak…” jawab saya agak ragu.

    “Trus apa?” Tanya teman saya.

    Lalu saya berpikir sejenak tentang es di kutub utara, tentang emisi yang dihasilkan industri ternak, tentang kotoran ternak yang lebih berbahaya dari pada 8 juta mobil di jalan raya, tentang pemanasan global, dan saya berkata dengan yakin, “lotek!”

    Saya belum sepenuhnya bisa jadi vegetarian. Tapi saya mau belajar. Ayo belajar. :) Will you?

    Salam,
    Fahd [www.ruangtengah.co.nr]

  11. Anonymous said,

    May 18, 2008 at 5:46 pm

    Stephanie C, ni…Hi!

    Ok. Aq dah baca,C. Tp sekarang jadi bingung, gimana caranya meringkas tulisan sebanyak -di atas- supaya muat dalam max 3 SMS?

    OW, dapat ide!

    Info Vegetarian, baca artikel ‘Bumi Kita Butuh Langkah Cepat, Please Go Veggie!’ di http://dee-idea.blogspot.com

    gimana? ide bagus?

    Tapi apa kabar oma-opa yang gaptek ya? Ah, baiklah… mari meringkas…

    Go Veg! Moga2 makin banyak orang yang vegetarian!

  12. Miss Clueless said,

    May 18, 2008 at 6:56 pm

    mengejutkan banget pengaruh vegetarian terhadap terhadap ibu bumi kita ini.
    saya tertarik untuk menjalani pola hidup vegetarian. selain untuk menurunkan berat badan (ehem…) juga ramah lingkungan.
    mungkin cindy bisa bantu bagaimana menjadi vegetarian yang sehat?

  13. vinividivici86 said,

    May 18, 2008 at 10:37 pm

    Hey Dee,
    [Adakah gizi yang terdapat pada pola makan hewani yang tak tergantikan di pola makan nabati? Tidak.]
    < < bisakah diverifikasi pernyataan tersebut dengan sumber yang akurat? Hanya mengambil sebuah contoh, sepengetahuan saya sumber Fe (zat besi) yang paling signifikan adalah daging sapi. Memang kita bisa mendapatkannya dari sayur2an hijau, tapi tubuh kita hanya menyerap 1/5-1/3 dibandingkan bila zat besi diperoleh dari daging. Selain itu, sebut saja susu, protein (alpha, beta casein) yang terkandung di dalamnya merupakan sumber gizi yang cukup penting yang sekiranya sulit didapatkan dari produk lain (kecuali air susu ibu yang mungkin lebih berkualitas dan lebih sesuai oleh kebutuhan manusia). Pertanyaan kedua, apakah sistem perkebunan di Indonesia mampu menyediakan produk sayuran yang siap untuk dikonsumsi dengan minimal proses pengolahan, e.g. salad. Bukannya banyak vitamin dan mineral yang terdegradasi karena buah dan sayuran melalui banyak proses 'heat treatment' sewaktu dimasak di level rumah tangga? Semisal memang ada kapasitas perkebunan untuk menyediakannya, bukannya proses distribusi sayuran dan penyimpanannya (refrigerasi) juga membutuhkan banyak energi?
    Secara pribadi, saya saat ini juga mengkonsumsi makanan hewani seminimal mungkin (low fat diet), hanya saja dari sudut pandang nutrisi, saya blm yakin akan banyak hal…

  14. Heikal said,

    May 19, 2008 at 1:59 am

    Lanjut ya Dee…
    Intinya menurut saya, dari rantai kehidupan yang kita jalani sekarang, vegetarian bukanlah solusinya. Jika industri ternak sebagai penyumbang pemanasan global terbesar dihentikan, bukan berarti faktor pencetus pemanasan global berhenti.

    Maksud saya logikanya begini, industri ternak & populasi hewan besar karena kebutuhan manusia akan ternak yang besar. Kebutuhan ternak yang besar karena populasi manusia di dunia ini juga besar. Jadi, seharusnya LAJU POPULASI MANUSIA-lah yang harus dikendalikan. Jadikan pertumbuhan populasinya 0% di seluruh dunia. Ini mustahil juga kan? Jadi kampanye Penanggulangan Pemanasan Global saat ini sudah sangat terlambat (mengingat artikel Chindy tentang es di Arktik). Walaupun tak ada kata terlambat, kita harus mengakui keterlambatan itu…

    Thanks Dee.
    -Haikal-

  15. mitora in life said,

    May 19, 2008 at 6:52 pm

    eh , ia ia :D , gak maksud menyinggung yang vegetarian kok. Saya cuman merasa, rada susah aja menghubungkan antara vegetarian dan global warming (maaf atas keterbatasan saya :) .

    tapi mungkin ini bisa jadi wacana bagus bagi siapapun yang siap untuk jadi vegetarian, siapa tau ini malah jadi solusi tercepat yang bisa dicapai..

    -peace- don’t be angry ^_^ (karna saya pun concern dg isu global warming, makanya skg memlih untuk jalan kaki dan gak gunakan kendaraan pribadi :D )

  16. Heikal said,

    May 19, 2008 at 7:42 pm

    Secara artikel, saya setuju sekali dengan apa yang dipaparkan Chindy. Saya juga tidak menyangka sebegitu besar dampak pola makan terhadap pemanasan global. Artikel ini sungguh memberikan informasi sangat penting dan berharga untuk diketahui.

    Tapi, Dee & Chindy…
    Ada banyak hal yang mengganjal pikiran saya. Ajakan menjadi vegetarian mungkin bisa menghentikan–paling tidak– mengurangi pemanasan global jika dilakukan bersama-sama. Namun, tidakkah penghentian konsumsi protein hewani akan menghasilkan masalah baru?

    Kita ambil satu contoh kecil saja. Misalnya konsumsi telur dihilangkan. Entah berapa pekerja yang ikut kehilangan pekerjaan seiring dengan menghilangnya telur. Pekerja di peternakan, buruh pabrik pakan ternak, dan lingkungan tempat pabrik itu berada kehilangan potensi ekonominya. Dan hal ini akan berlangsung di seluruh dunia. Ini baru dari telur saja. Belum daging, ayam, ikan (tawar & laut), dan produk hewani lainnya. Berarti semua peternakan penghasil daging (sapi, kerbau, babi, ayam dll) & faktor-faktor pendukungnya, juga nelayan, pasar ikan, dan semua mata rantai jaringan distribusinya, dan semua pekerja sampai lini terakhir, akan berpotensi kehilangan pekerjaannya. Mereka semua akan jadi korban kebijakan vegetarian.

    Terbayang di benak saya kerusuhan massal yang sekiranya mungkin terjadi. Jika ada pendapat yang mengatakan bahwa industri ternak bisa dialihkan menjadi industri pertanian, tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Contohnya mudah saja. Ketika harga solar naik, pemerintah sulit membantu para nelayan karena mereka adalah nelayan! Mereka tidak mampu beralih profesi menjadi petani, misalnya. Bantuan pemerintah dalam pengadaan lahan pun tidak menyelesaikan masalah.

    Itu baru contoh kecil di Indonesia. Bisa dibayangkan bagaimana nasib industri ternak di negara-negara seperti Brazil & Australia. Keduanya penghasil sapi, susu, keju, yang cukup besar pengaruhnya terhadap perekonomian negara masing-masing. Juga ada Norwegia & Jepang dengan industri ikannya yang luar biasa.

    Menurut saya, pola vegetarian bisa diterapkan, tapi tidak dalam waktu singkat. Mungkin, sekali lagi mungkin, harus melalui proses, katakanlah, kerusuhan, harga-harga produk pertanian yang meningkat, kemiskinan bertambah, dan tetap terjadi pertempuran kepentingan antara penggunaan lahan untuk pertanian sebagai konversi dari industri hewani, dengan kebutuhan manusia akan lahan untuk tempat tinggal (land).

  17. ParisParis said,

    May 20, 2008 at 1:11 am

    Dee, saya mau nanya. Gimana caranya ‘berubah’ menjadi seorang vegetarian karena untuk daging, saya ga ada masalah, dari kecil saya emang kurang suka daging. tpi klo ikan, kyaknya sulit….hiks
    ^^

  18. Willy said,

    May 20, 2008 at 5:16 am

    Selain industri ternak, rasanya ada industri lain yang jelas-jelas perlu dibasmi agar bumi kita ini tidak semakin rusak, yakni industri hiburan.

    Coba bayangin aja semua produksi film, album, TV dan radio shows, konser musik, acara awards, dll. udah ngabisin berapa buuanyak energi listrik buat mulai dari sound system dan lighting studio/panggung yang gila-gilaan sampe rumah-rumah mewah para selebritis (berapa banyak tuh lampunya?). Kalo kita stop membuat semua produk hiburan itu kita bisa mengurangi produksi listrik dari PLTU-PLTU — yang artinya jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfir bisa ditekan. Saya pernah liat di TV katanya kalo semua rumah di Eropa make lampu hemat energi, 16 PLTU di benua itu bisa ditutup. Wuih, bayangin kalo ditambah enggak ada sama sekali industri hiburan berapa banyak lagi PLTU yang bisa almarhum!

    Eits, jangan bilang membasmi industri hiburan itu membungkam kebebasan berekspresi dan seni, lho. Lha wong, menghapus industri ternak bukannya sama aja dengan membungkam kebebasan orang yang mau makan daging dan orang buka usaha? Oh lagian, sama dengan makan daging yang gak perlu ada industri ternak (contohnya piara ayam sendiri di rumah) dan berseni kan juga enggak mutlak harus buat film, album, konser, acara radio dan TV — yang telah dan terus menyedot energi dan mengotori (physically and spiritually) kehidupan di bumi ini. Kan, masih bisa berseni yang environmentaly-friendly, contohnya ngamen.

    Makanya yuk berhenti nonton film di bioskop, beli VCD, DVD dan kaset, pergi ke konser, nonton TV dan dengerin radio. Ayo mulai batasi penggunaan komputer (kalo bisa kembali pake mesin ketik) dan stop Friendstering, chatting, blogging dan download video dan musik. Say big no and bye-bye to Hollywood, Bollywood, Jacky Chan, Madonna, KD and Radja (and Marcel too).

    Tidak ada alasan kita tidak bisa melakukan semua ini; yang ada adalah kita tidak mau. Tuk gak?

  19. Anonymous said,

    May 20, 2008 at 11:42 pm

    To. Miss Clueless dan Vini, ini Chindy
    untuk Vege yang seimbang butuh ulasan yang lebih detil ya, mungkin baiknya saya kirimkan ke alamat imel kalian saja. Tapi mohon maaf mungkin minggu depan baru bisa. seminggu ini pamit offline dulu ya.
    Baik teman-teman,

    nuwuun
    Chindy Tan

  20. Haridivanandha said,

    May 24, 2008 at 3:45 pm

    Artikel yang sangat baik dan menarik, hal ini sudah diwacanakan di berbagai tempat di seluruh dunia. Manusia akan hancur karena keserakahannya sendiri, dan menutup kepudiliannya pada alam hanya untuk kenyamanannya sendiri. Lupa bahwa ia juga bagian dari alam…

    Dari banyaknya informasi yang kita terima, manusia memang tidak bisa menghentikan akselerasi pemanasan global saat ini, apalagi dengan pola hidup kita saat ini. Sulit rasanya untuk bisa lepas.

    Untuk pola makan vegetarian, bahkan walau saya berasal dari kalangan medis, hingga saat ini belum menemukan efek samping yang sampai membahayakan hidup manusia dengan pola hidup ini. Jadi bagi yang masih ragu sebenarnya tak perlu risau. Walau banyak artikel dan jurnal yang mungkin memperlihatkan kualitas hidup seorang vegetarian jauh lebih baik dibandingkan mereka yang mengkonsumsi daging, namun selayaknya kita menjadi jujur pada diri kita sendiri. Apakah sesungguhnya tubuh kita memerlukan daging untuk tetap dapat hidup (setidaknya itulah fungsi utama dari makan), adakah daging kita makan “sungguh-sungguh” untuk bertahan hidup, kita yang di negara tropis saya rasa bukan suku eskimo yang terpaksa mengkonsumsi daging karena tak ada sumber nabati. Lagi pula kita sendiri dianugrahi kecerdasan, dan perasaan, kita bisa membandingkan pola hidup vegetarian dengan non-vegetarian, yang manakah yang lebih baik bagi kita setelah kita mencobanya, dan tentunya yang lebih baik tidak selalu lebih enak ^_^

    Walau kita tak bisa menghentikan pemanasan global, namun mungkin ada sesuatu yang bisa kita lakukan untuk deselerasi pemanasan global.

  21. harun_motivation said,

    June 22, 2008 at 7:54 pm

    Memang sih sedikit sekali manusia yang mau vegetarian, saya pikir seyogyanya di awali sejak masa bayi supaya terbiasa vegetarian nah dengan begitu kepedulian terhadap alam lebih besar. harun dethan/ motivator

  22. Tedjo said,

    July 4, 2008 at 9:42 am

    salam

    Ulasan yang menarik dan saya setuju pada dasarnya memang human activities yang menyumbang excess gas seperti C02, Methane etc, sehingga mempengaruhi process keseimbangannnya (unbalance ab-desorb). Laporan IPCC menyebutkan bahwa driving force pemanasan global adalah Co2, dan jika di skala dengan methane adalah 1.66 dan 0.48 (jika dikatakan methane 25 x lipat, itu benar tapi lihat ppm-nya) atinya Co2 penyumbang terbesar. jika disebutkan bahwa deforestation adalah penyumbang Co2 adalah benar? tapi cuman 25% dari total sisanya 75% adalah pembakaran fuel dan industry, dan saya tidak yakin deforestation itu disebabkan oleh peternakan saja. setahu saya lewat Scientific american ed 08.2007 methane menyumbang 20% pemanasan global dan hanya 20% dari itu dari peternakan..sisanya juga dari alam, tumbuhan, dan industry. lalu, peternakan di indonesia saya bilang menyatu dengan alam, memberi makan sapi-kambing dari rumput liar dan juga limbah, artinya secara ekosistem sudah by design karena kehidupan mereka jauh dari industrial product. Mereka benar-benar miskin (ekonomi?). Pada akhirnya saya cuman mau bilang bahwa mengurangi makan daging mungkin salah satu cara. Tapi saya khawatir big problem..yaitu kekonsumtif an manusia lewat barang barang industry, mobil, pakaian, TV, over-consumed listrik jadi semacam terlupakan. Saya sendiri secara pribadi berpendapat mengurangi tidak harus menghilangkan secara total, seperti vegetarian yang tidak makan daging. Sama seperti halnya kita tidak mungkin tidak menggunakan listrik atau naik mobil, tidak mungkin tidak utak atik FS atau Facebook. Tidak masak menggunakan elpiji ETC… jadi menurut saya kata kuncinya adalah mengurangi

    salam

  23. Anonymous said,

    July 6, 2008 at 8:54 am

    Dee, foto2e uapik tenan;)
    nuwuun ye…
    to clueless,
    Adakah gizi yang terdapat pada pola makan hewani yang tak tergantikan di pola makan nabati? Tidak. Clueless bertanya: bisakah diverifikasi pernyataan tersebut dengan sumber yang akurat? Hanya mengambil sebuah contoh, sepengetahuan saya sumber Fe (zat besi) yang paling signifikan adalah daging sapi. Memang kita bisa mendapatkannya dari sayur-sayuran hijau, tapi tubuh kita hanya menyerap 1/5-1/3 dibandingkan bila zat besi diperoleh dari daging. Selain itu, sebut saja susu, protein (alpha, beta casein) yang terkandung di dalamnya.

    clueless,
    Bila kita bertanya tentang gizi, kita bertanya tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan tiap sel tubuh kita. Tiap sendok makanan yang dipilih untuk dimasukkan ke dalam mulut, itulah juga yang akan sampai pada tiap sel tubuh kita.
    Secara sederhana kita berharap apa yang ditelan dapat memberi manfaat, dapat memberi kehidupan, namun bila ternyata malah memberi beban, memberi toksin yang akhirnya memberi resiko dan petaka apakah ‘makanan’ tersebut layak disebut makanan bergizi? T I D A K jadi jika sumber hewani dikatakan bergizi, fakta-fakta penelitian memberi jawabannya kepada kita.
    Mari menjernihkan makna gizi atau nutrien, jika suatu produk mengandung tinggi protein belum bisa disebut bergizi jika ternyata perannya pada tingkat sel justru membebani atau bahkan merusak. Selama ini kita menilai gizi hanya dari sisi kandungan namun abai dari sisi fungsi. Fungsi dikatakan optimal ditentukan dari manfaat dan kecukupan jumlah nutrien yang dibutuhkan sel tubuh tubuh, tentu dengan minim resiko. Kata butuh selalu menjadi acuan karena keliru persepsi banyak lahir dari iming-iming ‘lebih tinggi’ pada protein, zat besi dan B12, namun abai mencemati faktor lain, yakni resiko.

    Zat besi
    seperti kata clueless, “sepengetahuan saya sumber Fe (zat besi) yang paling signifikan adalah daging sapi. Memang kita bisa mendapatkannya dari sayur-sayuran hijau, tapi tubuh kita hanya menyerap 1/5-1/3 dibandingkan bila zat besi diperoleh dari daging.”

    faktanya adalah: Apa yang abai diperhatikan adalah tubuh tidak mampu membuang stok zat besi, kecuali dengan donor darah. Dalam banyak kasus, tingginya ketersediaan zat besi dalam tubuh justru mempertinggi resiko kanker lambung, kanker usus besar, diabetes tipe 2 dan serangan jantung. Jurnal Circulation dari American Heart Association’s melaporkan ilmuwan Harvard University meneliti sebanyak 45.000 pria dan menemukan bahwa semakin banyak zat besi heme dalam tubuh, maka resiko terkena penyakit jantung semakin tinggi. Demikian juga dengan resiko diabetes tipe 2 akibat ketersediaan zat besi yang tinggi dalam tubuh. Bagaimana resiko ini dapat muncul? Zat besi merupakan katalis dalam pembentukan radikal bebas hidroksil yang sangat kuat menyerang membran lemak, protein dan asam nukleat. Mekanisme inilah yang diduga mengawali proses resistensi insulin dan mengakibatkan menurunnya pengeluaran insulin sehingga memicu penyakit diabetes tipe 2.
    (JAMA. 2004;291:711-717).
    Tingginya stok zat besi juga membonceng resiko pada lambung.Makanan sumber hewani secara umum tinggi akan zat besi yang merupakan faktor penting untuk pertumbuhan Helicobacter pylori. Kaitan kombinasi bakteri Helicobacter pylori terhadap kanker lambung telah terbukti signifikan (www.medicalnewstoday.com)

    salam,
    chindy

  24. Anonymous said,

    July 7, 2008 at 10:27 pm

    Aduh ternyata daging yang kecil gitu garang juga yah, apa datanya benar dari PBB sama NASA? Kalo bener, sulit ya menyuruh masyarakat jadi vege, kecuali pemerintah sama media yang angkat bicara. Jadi pengen coba vege. Ada yang punya daftar restoran vege di Indo ga?

  25. Anonymous said,

    July 7, 2008 at 11:09 pm

    Dewi Lestari tulis buku tentang vege dong supaya meledak seperti Supernova. Demi planet kita. Waktunya tinggal sedikit, semua harus benar-benar menjadi pahlawan penyelamat bumi, waktunya sekarang, bukan untuk ketenaran, tapi demi untuk kemanusiaan dan lingkungan, kalau tidak, mungkin bencana pemanasan global bisa datang ya. Kalau buku global warming, bisa download di http://www.kontaktuhan.org/pemanasan-global.zip

    Thanks

  26. Anonymous said,

    July 12, 2008 at 6:20 am

    Mba Dewi, Kemaren aku baru baca artikel tentang pemanasan global. Serem deh. Judulnya begini:

    Harus Dibaca!

    Enam Derajat:
    Masa Depan Kita
    di Planet yang Semakin Panas

    Apabila pemanasan global terus berlanjut pada suhu tertentu maka kita akan menghadapi kepunahan. Jadi apa yang sebenarnya akan terjadi apabila bumi terus memanas?

    Jurnalis dan penyiar acara lingkungan hidup asal Inggris, Tuan Mark Lynas, melakukan perjalanan selama 3 tahun yang mengelilingi 5 benua untuk menyaksikan berbagai perubahan karena dampak pemanasan global. Dari mencairnya tundra di Alaska, tenggelamnya pulau di Pasifik dari negara bagian dari Tuvalu, dan bertambahnya dataran tandus di pedalaman Mongolia sampai pada lenyapnya lapisan es di Peru dan banjir, serta badai yang menyebabkan erosi di China. Tuan Lynas secara pribadi mengumpulkan semua bukti yang dikumpulkan dalam bukunya mengenai perubahan iklim, High Tide: The Truth About Our Climate Crisis (Gelombang Besar: Kenyataan Mengenai Krisis Perubahan Iklim Kita).

    Setelah itu, dalam waktu singkat Tuan Lynas mempelajari lebih mendalam tentang berbagai bukti ilmiah serta rasional mengenai efek pemakaian bahan bakar fosil terhadap iklim, lingkungan, dan kehidupan di planet ini. Beliau menghabiskan waktunya beberapa bulan di perpustakaan ilmiah Radcliffe di Universitas Oxford untuk membaca ribuan buku literatur ilmiah yang telah dianalisa secara mendalam sebelum mempublikasikan buku kejutannya yang kedua, Six Degrees: Our Future on a Hotter Planet (Enam Derajat: Masa Depan Kita di Planet yang Semakin Panas); sebagai media lain untuk membangkitkan kesadaran.

    Buku terbarunya secara sistematik membahas perubahan iklim berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian secara ilmiah dengan penggunaan aplikasi komputer tahap lanjut dan juga pencarian secara palaeoclimatic untuk menelusuri sejarah bumi yang memberikan gambaran akan pemanasan iklim di masa mendatang dan akibat yang akan dihadapi. Selain itu ia juga meneliti periode-periode dari perubahan iklim dramatik sebelumnya melalui proses alami dan meramalkan akan efek menakutkan dari pemanasan global yang akan dihadapi semua kehidupan dan lingkungan di planet ini.

    Derajat demi derajat, satu derajat per bab. Enam Derajat disusun berdasarkan “Laporan Perkiraan Ketiga” dari Panel Antar Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2001 (http:/www.ipcc.ch). Pada setiap halaman, efek dari peningkatan temperatur di bumi dan lapisan biosfernya digambarkan dalam realitas yang menguatirkan.

    Kenaikan suhu 1ºC sampai 3ºC merupakan “titik puncak”, tetapi jika naik sampai pada 6 ºC maka peningkatan ini dapat menyebabkan kepunahan pada hampir semua kehidupan, termasuk manusia! Sulit dibayangkan jika perilaku dari manusia sendiri yang menyebabkan kerusakan dan penderitaan yang tidak diharapkan. Kita telah membahayakan planet ini dan berada di ambang kehilangan momentum apabila kita tidak bertindak secepatnya untuk membatasi efek emisi gas rumah kaca.

    Kenaikan Suhu 1 Derajat:

    Pada kenaikan suhu 1 derajat, Kutub Utara akan kehilangan es setengah tahun penuh, Atlantik Selatan yang sebelumnya tidak ada badai akan mengalami serangan badai dan di barat AS terjadi kekeringan parah yang mengakibatkan banyak penduduk menderita.

    Kenaikan Suhu 2 Derajat

    Beruang kutub berjuang untuk hidup saat lapisan es mencair. Lapisan es di Greenland mulai menghilang, sedangkan batu karang menjadi lenyap. Permukaan air laut mengalami kenaikan 7 meter secara global.

    Kenaikan Suhu 3 Derajat

    Hutan hujan di Amazon mengering dan pola cuaca El Nino bertambah intensitasnya menjadi sesuatu yang biasa. Eropa secara berulang mengalami musim panas yang teramat panas yang sangat jarang terjadi sebelumnya. Jutaan dan milyaran orang akan berpindah dari sub tropik menuju daerah pertengahan garis lintang.

    Kenaikan Suhu 4 Derajat

    Air laut akan meninggi dan meluap membanjiri kota-kota di daerah pesisir. Menghilangnya lapisan es akan mengurangi banyak persediaan air tawar. Suatu bagian di Kutub Selatan akan tenggelam dan menyebabkan area air yang meluap semakin jauh. Temperatur musim panas di London akan menjadi 45ºC.

    Kenaikan Suhu 5 Derajat

    Daerah yang tidak bisa dihuni semakin menyebar, tumpukan es dan air tanah sebagai sumber air untuk kota-kota besar akan mengering dan jutaan pengungsi akan bertambah. Kebudayaan manusia akan mulai menghilang seiring dengan perubahan iklim yang dramatik ini. Dalam hal ini kelompok yang kurang mampu sepertinya akan menjadi paling menderita. Tidak ada lagi es yang tersisa pada kedua kutub seiring dengan punahnya bermacam species di lautan dan tsunami dalam skala besar memusnahkan kehidupan dekat pantai.

    Kenaikan Suhu 6 Derajat

    Pada kenaikan suhu 6 derajat, kepunahan massal sebesar 95% akan terjadi; makhluk yang masih hidup akan mengalami serangan badai dan banjir besar yang terus menerus; hidrogen sulfat dan kebakaran akibat gas metana akan menjadi hal yang biasa. Gas ini berpotensi menjadi bom atom dan tidak ada yang mampu bertahan hidup kecuali bakteri. Hal ini akan menjadi “skenario hari kiamat.”

    Hal yang lebih menguatirkan adalah karena kompleksnya ekosistem di planet ini, kenyataan akan perubahan iklim ini dapat menjadi lebih buruk dibandingkan dengan perkiraan yang dilakukan secara ilmiah! Prediksi akan efek dari perubahan iklim sangat menguatirkan. Saat menganalisa ulang seluruh data yang ia kumpulkan, Tuan Lynas berpikir, mungkin ia “harus merahasiakan semuanya” karena kebenarannya sangat “menakutkan.” Sebenarnya, beberapa dari perkiraan mulai menjadi kenyataan, sebagai contoh, gelombang panas saat musim panas di Eropa telah mulai mempengaruhi kesehatan manusia, khususnya para manula. Cuaca yang memanas juga menyebabkan malaria dan penyakit lainnya yang bertambah secara regional. Pemanasan global telah membuat lapisan es di China menyusut 7% setiap tahunnya, hal ini dapat berakibat kerusakan yang lebih besar dan memberi efek kepada 300 juta jiwa yang sangat menggantungkan kebutuhan air mereka dari situ. Di India, mencairnya es yang sangat cepat telah menyebabkan 70.000 orang harus pindah dari Pulau Lohachara yang tenggelam, dan kenaikan permukaan laut telah menyebabkan dipindahkannya 20.000 penduduk yang tinggal di dataran paling rendah di Kepulauan Duke of York pada tahun 2000. Pada keadaan yang rentan dari ekosistem serta sistem sosial yang saling terkait satu sama lainnya, planet yang semakin panas juga menyebabkan rantai reaksi yang memicu terjadinya kelangkaan makanan dan air seiring dengan bertambahnya pengungsi sebagai akibat perubahan iklim.

    Akan tetapi, Tuan Lynas tidak berniat membuat pembaca pesimis akan masa depan planet ini. Sebaliknya dia menyampaikan peringatan dini secara jelas dan mendesak perhatian internasional akan diperlukannya usaha bersama untuk mengatasi pemanasan global seperti “mengambil tabung pemadam dan memadamkan api.” Tidak diragukan lagi bahwa “api’ tersebut timbul sebagai akibat yang berkaitan dengan perilaku manusia dan berdasarkan analisis data, berbagai jenis emisi yang menyebabkan kenaikan temperature; dan waktu yang tersisa kurang dari 1 dekade saat kenaikan mencapai puncak ‘enam derajat’! Sesuai indikasi yang tercantum di bagan, kita telah mendekati tingkat 2 derajat, dengan demikian pilihan kita satu-satunya adalah bertindak secepat mungkin serta mengurangi emisi karbon dan metana.

    Bagan : Kenaikan Suhu dan Emisi Karbon*

    PERUBAHAN SUHU

    TEMPERATUR YANG BERUBAH DALAM CELSIUS

    JUMLAH CO2

    Satu Derajat

    0,1- 1,0ºC

    350ppm (Level saat ini 380ppm)

    Dua Derajat

    1,1- 2,0 ºC

    400ppm

    Tiga Derajat

    2,1- 3,0 ºC

    450ppm

    Empat Derajat

    3,1- 4,0 ºC

    550ppm

    Lima Derajat

    4,1- 5,0 ºC

    650ppm

    Enam Derajat

    5,1- 5,8 ºC

    800ppm

    *Tabel dari hal 279 di Enam Derajat: Masa Depan Kita di Planet yang Semakin Panas

    Enam Derajat adalah sebuah tiupan terompet perang, panggilan kepada semua orang akan kondisi bumi kita yang berada pada situasi yang sangat kritis; ini adalah masa terpenting bagi para pemimpin dan tokoh politik untuk mengimplementasikan ketentuan ambang batas untuk mengurangi karbon dan gas dari efek rumah kaca lainnya, seperti metana. Tidak dapat di pungkiri bahwa ulah manusialah yang menyebabkan cepatnya kenaikan perubahan iklim. Kita harus mengubah gaya hidup kita ke arah yang lebih gembira dan lebih sehat seperti berlaih ke energi yang berkelanjutan dan gaya hidup vegetarian untuk menyelamatkan bumi kita. Kita hanya mempunyai sedikit waktu yang sangat terbatas untuk membuat titik balik. Pemanasan global adalah sebuah realitas dan membutuhkan perhatian semua umat manusia di planet ini. Untuk itu marilah kita segera bertindak untuk menyejukkan bumi kita.

    Referensi:
    http://www.opendemocracy.net/arts/mark_lynas_4470.jsp
    http://www.suprememastertv.com/bbs/board.php?bo_table=sos&wr_id=58
    Enam Derajat: Masa Depan Kita di Planet yang Semakin Panas, oleh Mark Lynas

  27. andy said,

    July 19, 2008 at 9:24 am

    Wah bagus banget nih ada artikel2 seperti ini.. sehingga bisa menyadarkan orang..
    mkn bakal banyak yang kontra dengan kenyataan yang sebenar2nya adalah benar…
    Mereka masi beranggapan daging adalah segalanya…
    tapi saya yakin tidak sedikit orang yang berubah setelah membaca artikel ini..
    saya sendiri pun sedang dalam tahan mencoba untuk vegetarian…lumayan deh 5 hari dalam 1 minggu saya bervegetarian..hehhee…saya sendiri sampe bingung kok bisa yah…padahal dl suka bgt ama daging..

    Semua berawal dari kaka dan mama saya adalah seorang vegetarian…
    kemudian saya mendapatkan link2 bagaimana hewan2 disiksa, disembelih, dan diperlakukan dengan sangat tidak semestinya….
    mungkin klo kita tidak perna melihat bagaimana hewan2 tersebut mati kita gak akan perna tau,,,
    bagaimana sebenernnya penderitaan yang sebenarnya terjadi…

    berikut ada beberapa website tentang bagaimana hewan di dalam peternakan…
    http://www.peta.org/
    http://www.kentuckyfriedcruelty.com/
    http://www.youtube.com/watch?v=DOZF25L6u2k
    http://www.youtube.com/watch?feature=related&v=INjnXK3dslY

    masi banyak website2 lainya…..
    kalo anda masi ragu kenapa harus bervegetarian..
    coba nonton deh…lihat bagaimana mereka diperlakukan….
    Buat semua temen2 yang menyerukan vegetarian smangatt..hehehe…
    buat Mba dewi sama Mba Cindy…
    bisa tolong emailin saya mengenai cara vegetarian yang baik supaya mendapatkan gizi yang seimbang?
    makasih yah….

  28. andy said,

    July 19, 2008 at 9:27 am

    Saya ada baca mengenai Suara Hati Seekor Anak Babi..
    Berikut ceritanya:

    Di hari pertama aku bertemu denganmu

    Adalah hari kelahiranku.

    Merah muda dan bulat, oh aku sungguh montok

    Bersama Ibu aku bersenda gurau dengan gembira.

    Dengan kasih engkau memandangku

    Memuji, “Oh, kau sungguh bulat, betapa lucunya!”

    Setiap hari engkau datang berkunjung

    Membawa air sejuk dan hidangan vegetarian yang lezat.

    Ibu dan aku sangat tersentuh

    Kebaikanmu lebih berharga dari emas.

    Aku menjalani kehidupan yang damai

    Di bawah pemeliharaan dan perlindunganmu

    Seiring dengan berlalunya waktu aku semakin montok

    Hanya makan, istirahat, dan bermain saja…

    Begitu indahnya pagi ini

    Di kala awan sedang melayang melintasi langit,

    Aku dan Ibuku berdekapan erat

    Tak sadar akan tragedi yang akan menimpa!

    Dua pria muda berotot

    Kuat laksana macan dan gajah

    Melumatkan tubuh kecilku

    Masuk ke dalam sangkar kengerian!

    Tidak ada jalan untuk lolos!

    Oh Tuhan, api pencucian apakah ini?

    Aku meratap dalam ketakutan dan kengerian

    Ibu, oh Ibu, tolong selamatkan aku!

    Oh pemeliharaku, tolong segera datang lindungi aku!

    Selamatkan hidupku, aku masih muda!

    Ibuku menjerit dalam duka

    Air mata putus asa memenuhi matanya.

    Surga yang tak terukur tak dapat menampung

    Derita yang tak terkira ini!

    Pengurusku berpaling pergi

    Tangannya sibuk menghitung tumpukan uang.

    Dengan malang aku terguncang-guncang dalam peti barang

    Hati yang hancur lebih sakit daripada penderitaan tubuh!

    Dua pria muda itu berkelakar:

    “Anak babi ini akan sangat lezat!

    Besok kita akan menyembelihnya

    Untuk merayakan kelahiran bayiku yang baru lahir!”

    Oh, betapa ironisnya hidup ini!

    Jiwaku dihancurkan,

    Air mata mengalir dalam hatiku

    Laksana darah mengalir dalam anak sungai.

    Aku kira kau mencintaiku

    Memeliharaku sampai dewasa

    Tetapi semua ini hanyalah pura-pura

    Bagimu, ini hanyalah keuntungan dan uang!

    Besok tubuhku akan disembelih menjadi potongan kecil

    Daging dan tulangku berubah menjadi siksaan belaka

    Hanya agar mereka dapat tertawa dalam keriangan

    Di pesta dan pertemuan bahagia mereka.

    Untuk anakmu yang baru lahir dan yang lainnya

    Aku berharap agar mereka panjang umur

    Agar keluargamu dapat berkumpul bersama

    Dan tidak perlu menanggung nasib seperti diriku…

    Aku berdoa agar seluruh keluargamu hidup dengan mulia

    Untuk menjadi manusia dalam banyak kehidupan

    Dan tak pernah dilahirkan sebagai babi

    Yang selalu membayar hutang karma!

    Oh, selamat tinggal kehidupan…

    Aku rindu pada ibuku yang menderita.

    Dengan berlinang air mata aku berteriak…

    Oh, Ibu! Ibu… Ibu…

    Sumber:
    http://www.godsdirectcontact.or.id/vegetarian/vegetarian_01a_suara_hati.htm

  29. woro pratiwi said,

    August 12, 2008 at 7:28 am

    mba dee, mau tanya, apakah mba dee masih menggunakan mobil berbahan bakar premium? apakah dirumah menggunakan AC? pemakai mesin cuci? pengguna dispenser dan mesin pompa air?

    minggu kemarin aku mampir ke jakarta. waktu aku liat sekitar saat masih dalam kereta, dari kejauhan aku liat banyak apartemen, berhubung aku anak kampung, so aku masih terkagum-kagum ada bangunan setinggi itu (heheh.. norak! dan berhayal bisa ketemu dee!wew!)walau ini bukan pertama kalinya aku ke jakarta. dari kejauhan aku lihat, di sela antar jendela ko banyak kotak-kotak kecil yah? aku belum ngeh waktu itu, sampai aku tersadar bahwa kotak-kotak kecil itu adalah AC!
    wex! sebanyak itukah??
    (aku berpikir cepat)ok, iyah, emang sih, memang mau pake apa? kan didalam sana panas bangetz kalo ga ada AC?
    tapi kok..??
    lum lagi saat banyak mobil lalu lalang berkaca riben, aku siy yakin bangetz didalam sana pasti pake AC juga..(aku cuma berkacamata riben, mengingat dijemput pake motor ajah!)

    aku pikir, hal-hal seperti itu yg bikin bumi kita gak ramah lagi..
    kehidupan seperti itu jauh dari keseharian aku, makanya walo sering liat tapi masih ajah asing..
    dirumah aku yg bergenre tempoe doeloe gak ada AC, jendela rumah aku banyak, so cahaya dan udara bisa sliwar-sliwer. halaman rumah aku besar, ada 5 pohon mangga besar-besar, 1 pohon kedondong, 2 palm, 2 kelapa, 1 srikaya, 1 jambu, 1 pace, 1 cerme, dan banyak pohon-pohon kecil dan bunga-bungaan. tapi mungkin itungannya masih kurang kalo dibandingkan dengan jumlah penghuninya.
    dirumah cuma ada 1 tipi, so lebih ramah dan sebagai upaya toleransi antar keluarga.
    pemakaian komputer&internet masih pake jasa rental, acara bersih-bersih harian (nyapu, nyuci, pel) masih tradisional, bahkan untuk nyuci baju paling banyak nyuci seminggu 2 kali (alasan lain karna cape kalo tiap hari mah!), nyetrika seminggu sekali ajah (males juga sih..), punya kendaraan roda 2 (mengingat pekerjaan sekarang sebagai marketing menuntut mobilitas) dan lemari pendingin pun baru 2 tahun terakhir, gak ada dispenser, gak ada mesin pompa air (kalo PDAM ngadat, cukup ngangsu sendiri pake pompa manual)

    alasan terbesar mungkin karna kami gak mampu beli, tapi selain itu manfaatnya adalah kami belajar untuk mandiri dalam arti memilah apa yang memang kita butuhkan selama masih mampu untuk mengerjakannya maka kita kerjakan sendiri walau agak repot memang.

    tadi siang aku liat berita di tipi kalo pemerintah juga lagi hemat energi! baguslah..

  30. rhiez said,

    August 14, 2008 at 6:23 pm

    dee, katanya penyebab global warming karena ada planet lain bernama nibiru yg akan bersinggungan dgn bumi ya ? jadi efek panasnya dah mulai terasa skrg. gue sring lihat di youtube tuh..bener gak sih…pencerahannya dong :)

  31. rizal said,

    August 17, 2008 at 2:41 am

    susah gak sih jadi vegetarian ? apa gak tersiksa melihat rendang padang yang yummy dan fried chicken yang kriuk-kriuk hmmm ;p, juga sate ayam/dan kambing yg bikin ngiler…apalagi kalo melihat soto betawi dengan kuah santan yang yummy..hehehe…menurut gue sih kita hidup seimbang aja, makan daging/ikan/telor diselingi dengan makan sayur dan buah yg cukup dan olahraga teratur pastilah penyakit akan menjauh juga. Masalah global warming kan kebanyakan dari polusi udara akibat banyaknya pabrik dan kendaraan bermotor juga sampah2 plastik dan kaleng serta pembabatan hutan secara besar2an. Kalo semua orang jadi vegetarian, kasian kambing, ayam, bebek serta sapi dan ikan dong….gak ada yg ngejar2 lagi…hahahaha

  32. Anonymous said,

    August 20, 2008 at 5:51 am

    vegetarian?

    ini pure untuk global warming dan kesehatan atau sebagai upaya menjalankan ajaran agama yang dianut sekarang?

    di agama yang saya anut sih, engga ada masalah untuk memakan daging selama halal.

    jadi kenapa mesti repot menjadi vegetarian?

  33. Anonymous said,

    August 20, 2008 at 6:26 am

    mbak dee, melu MELILEA we ra wis?! podho seko organik’e

  34. Anonymous said,

    August 21, 2008 at 9:55 am

    untuk @ kenapa mesti repot vege?
    pertama saya ingin Anda sendiri mencari tau fakta-fakta yang telah didengungkan di media global.
    coba masuk ke you tube ketik global warming vegetarian. CNN, ABC News, BBC News, meliput khusus seruan global urgensi perubahan pola makan. salah satunya, wawancara dengan David Kuchinich, mantan kandidat presiden Amrik dari partai Demokrat, kemudian ulasan detil dari ABC News tentang kaitan konsumsi daging dengan kontribusi gas rumah kaca. Himbauan less meat juga sudah diserukan oleh presiden Taiwan, Ma Ying Jeou dan dalam forum G8 dengan seruan: Less Beef (Japan Times online, 28 Mei 2008)Bahkan Pimpinan UN Climate Agency, Yvo de Boer dalam pertemuan para pemimpin UN Climate di Jerman (BBC News, 3 Juni 2008) dengan tegas menyerukan: “Solusi terbaik bagi kita semua adalah bervegetarian” Pada saat yang sama, Ketua otoritas ketahanan pangan eropa menyampaikan,” Vegetarian solusi yang tepat secara moral dan etika” jika tidak kita akan terus memberi makan kepada ternak sementara sejumlah manusia mati kelaparan.
    Agama? Jika vegetarian diidentikkan dengan agama tertentu, baiklah kita melihat kenyataan. Tidak semua penganut Hindu maupun Buddha bervegetarian. Juga tidak semua agama Kristen maupun Islam tidak bervegetarian. Di Iran total komunitas yang bervegetarian kini berjumlah 1500 orang. Patut dicermati: tidak ada satu agama pun yang mengharamkan vegetarian. Vegetarian berada dalam ruang pilih yang tak bersekat karena pilihan tidak makan daging dapat diuji dari aspek mana saja: aspek kesehatan, aspek lingkungan, aspek etika, tidak ada yang timpang dalam semua hasil uji. bukalah lembaran-lembaran fakta, tidak makan daging ternyata memberi sumbangsih: sehat raga, kuat budi, dan waras untuk bumi.

    salam,
    Chindy Tan

  35. anoa said,

    August 23, 2008 at 2:14 am

    gw rasa sih untuk menyelamatkan bumi kita bukan sekedar jadi vegetarian?!
    mbakyu cindi selain jadi vegetarian, sudah melakukan apa saja tuh?
    mestine yo dibarengi karo mlaku po numpak pit, ojo numpak sedan mewah.
    yo kui mung salah sijie thok, mekoten mbakyu

  36. Teddy Delano said,

    September 2, 2008 at 11:22 am

    Buddha Gotama seringkali menghadapi masalah vegetarianism ini. Yang pertama adalah dari Devadatta, saudara sepupu Sang Buddha yang terkenal ambisius dan jahat. Devadatta mencoba mengadu domba Sangha dengan mengajukan lima aturan kebhikkhuan kepada Sang Buddha agar diterapkan oleh Sangha, yakni bhikkhu hanya hidup dari dana yang diterima, tidak boleh memakan ikan atau daging, selamanya harus hidup di hutan, mengenakan jubah dari bekas mayat atau sampah, dan hidup di bawah pohon. Lima aturan ini menyulitkan Sang Buddha untuk memutuskannya, Devadatta yakin jika Sang Buddha menolak permintaannya, maka akan banyak bhikkhu yang mendukungnya serta menyatakan bahwa Sang Buddha tidak welas asih (menolak vegetarian) dan senang hidup dalam kemewahan. Sedangkan apabila Sang Buddha menerimanya, maka berarti Sang Buddha menerapkan pola menyiksa diri.

    Menanggapi hal ini, Sang Buddha dengan penuh kebijaksanaan menyatakan bahwa bhikkhu yang menyenangi vegetarianism boleh melakukannya. Beliau tidak secara tegas menyatakan menolak atau menerima hal tersebut sebagai suatu keharusan. Berdasarkan keputusan Sang Buddha ini, sangat jelas bahwa vegetarianism sebenarnya bukan bagian resmi dalam Dharma Vinaya. Vegetarianism bukanlah pasport mencapai kesucian dan kebebasan sejati (Nibbana). Dengan kata lain, apakah vegetarianism dilaksanakan atau tidak, seseorang tetap mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk mencapai kesucian dan Nibbana.

    Selain masalah Devadatta, Sang Buddha pun pernah menghadapi masalah tentang vegetarianism dengan Nigantha Nathaputta, yang dikenal sebagai Mahavira, pemimpin Jainism. Ia seringkali mencemooh Sang Buddha dengan berkata, “Pertapa Gotama makan daging yang disiapkan bagiNya dengan mata kepalaNya sendiri.” Cemoohan ini kemudian disanpaikan oleh kaum Brethen kepada Sang Buddha. Mendengar ini Sang Buddha menjawab, “Ini bukan pertama kalinya, Brethen, bahwa Nathaputta mencemooh aku karena Aku makan daging yang disediakan bagiKu, dia melakukannya seperti pada masa lampau.”

    Kemudian Beliau menceritakan tentang suatu kehidupan yang lalu (Telovada Jataka) dimana Sang Buddha dilahirkan sebagai seorang Brahmana, Brahmadatta menjadi Raja Benare, dan Nathaputta sebagi orang kaya. Suatu waktu Brahmana turun dari Himalaya dan pergi ke kota untuk meminta dana makanan, orang kaya ini berniat untuk mengganggunya. Ia membawa Brahmana ke rumahnya, mempersilakan duduk, dan menyajikan ikan, dan berkata, “Makanan ini disediakan untukmu dengan membunuh makhluk hidup. Ini bukan kesalahanku tetapi kesalahanmu.”

    Menjawab hal ini Bodhisatva berkata, “Pembunuhan yang kejam, dimasak, dan disediakan untuk dimakan. Dia menjadi kotor oleh dosa dengan memakan daging.” “Pembunuhan ini dilakukan untuk menghidupi anak dan istri. Namun, jika dimakan dengan hati yang suci, tidak ada dosa yang diperbuat.” Jadi, dapat dikatakan bahwa membunuh merupakan suatu kesalahan tetapi bukan kesalahan yang memakan daging. Para bhikkhu diizinkan untuk makan makanan apapun sepanjang apa yang dilakukannya tanpa disertai kesenangan atau nafsu. Sang Buddha tidak mempunyai hak untuk mencegah siapa saja untuk melakukan pembunuhan, seseorang dapat melakukan apa saja dan bertanggung jawab terhadap akibat dari perbuatannya itu.

    Sang Buddha bersabda, “Aku memiliki cinta kasih kepada makhluk-makhluk tanpa kaki, kepada yang berkaki dua pun Aku memiliki cinta kasih. Aku memiliki cinta kasih kepada makhluk-makhluk berkaki empat, kepada yang berkaki banyak pun Aku memiliki cinta kasih.” (Anguttara Nikaya, II,72).

    “Bila seseorang memiliki pikiran cinta kasih, ia merasa kasihan kepada semua makhluk di dunia, yang ada di atas, di bawah, dan di sekelilingnya, tak terbatas di mana pun.” (Jataka, 37).

    Dikutip dari:
    1. Issues of Vegetarianism: ‘Are You Herbivore or Carnivore?’ oleh Jan Sanjivaputta
    2. Tiga Guru-Satu Ajaran oleh Sutradharma Tj. Sudarman, MBA

    Regards
    Teddy Delano
    Salatiga

  37. azhari said,

    September 4, 2008 at 1:50 pm

    himbauan vegetarian, boleh juga tuh,,badan ku kayaknya mmm bisa tambah kerempeng.

  38. Andy said,

    March 20, 2009 at 7:40 am

    Silahkan download film Meat The Truth London 2008 disini:

    http://untukbumi.co.cc/download/
    (ukuran file semua 490 MB, tiap part 100MB)

    Harap untuk tujuan edukasi saja jangan di perjual belikan..
    Terima Kasih…

    PERHATIAN!!!
    Disarankan menggunakan “Download Manager” sehingga klo tiba2 internet putus bisa sambung lagi gak usa ulang dari awal..

    1. Download mulai dari part 1 yang bereksternsi .ex
    2. (setelah download part 1, ubah part satu dari “Meat The Truth.part1.ex” menjadi ekstensi “Meat The Truth.part1.exE”)
    3. download semua sampai “Meat The Truth.part5.rar” letakkan dalam satu folder
    4. setelah semua selesai di download tinggal jalankan file exenya (“Meat The Truth.part1.exe”) aja…
    nanti otomatis menjadi 1 file berekstensi Meat The Truth.avi…

Post a Comment