Daging Makanan Bergizi Kelas Satu, Benarkah?
By: Chindy Tan


”Bukankah daging tetap dibutuhkan tubuh untuk kesehatan?” Demikianlah kepercayaan yang sangat mengakar hingga detik ini, yakni daging sebagai sumber protein kelas satu, sumber kalsium, sumber lemak, sumber vitamin B12 dan sumber zat besi.

Salah satu akar kepercayaan ini bersumber dari sebuah studi antara tahun 1929-1950 dengan menggunakan asam amino yang dimurnikan (padahal makanan yang kita makan bukanlah asam amino yang dimurnikan). Kemudian, penelitian lanjutnya dilakukan pada tikus, yang ternyata tingkat kebutuhan proteinnya paling tinggi dari semua mamalia. Sebagai patokan, jumlah kalori protein yang terkandung dalam air susu tikus adalah 49%, sedangkan pada manusia jumlah kalori protein yang terdapat pada ASI hanyalah 5%.

Mengapa Jadi Berlebih?

Patut dicermati bahwa kebutuhan tertinggi tubuh manusia akan protein seumur hidupnya adalah masa usia 0-5 tahun. Pada masa paling krusial 0-6 bln di mana ASI secara eksklusif diberikan, ASI sendiri ‘hanya’ mengandung 5% kalori protein, Terkecuali masa menyusui, American Journal of Clinical Nutrition mematok rata-rata asupan 2,5% kalori protein per hari, dan banyak populasi yang hidup dengan baik-baik saja pada angka ini. Logis saja, karena pada masa kebutuhan tertingginya pun tubuh kita hanya dipasok 5% kalori protein dari ASI. Tentunya setelah lewat masa pertumbuhan, tubuh kita tidak membutuhkan sebanyak itu lagi, atau cukup di bawah 5% kalori protein.

Bukankah hal yang janggal bila National Egg Board, National Dairy Council, National Livestock, dan Meat Board Amerika menambah 30% dari angka yang harusnya kurang dari 6% (“Diet For A New America”)? Batas aman atau RDA 30% inilah yang disoroti sebagai dasar propaganda industri ternak. Kebijakan tersebut lantas dituangkan ke dalam kurikulum pendidikan. Bermula di Amerika, propaganda daging, telur, susu sebagai sumber protein utama ini pun mendunia, termasuk di Indonesia. Bangku sekolah kita tak luput dari jangkauan propaganda ini. Konsep yang sudah sangat akrab sampai ke sumsum kita, bahwa daging adalah sumber terbaik untuk protein.

Kejanggalan ini terjawab pada uraian Dr. David Reuben yang mempertanyakan: siapakah yang sesungguhnya memperoleh manfaat ekstra 30% batas aman tersebut? Beliau menjawab, “Mereka yang menjual daging, ikan, keju, telur, ayam dan semua sumber-sumber protein yang bergengsi dan mahal lainnya. Jika Anda adalah keluarga Amerika umumnya, Anda harus mengeluarkan uang 40 USD per bulan untuk memompa asupan protein yang sebenarnya tidak Anda perlukan. Pengeluaran ini, memberikan 36 miliar USD per tahun ke kantong penjual.” (Diet For A New America – John Robbins)

Business As Usual

Era globalisasi memberi jalan lapang bagi negara-negara industri yang kuat modal dan kuat teknologi untuk menguasai harkat hidup di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Mari lebih jeli menganalisa benang merah tiap fakta berikut: Makanan merupakan 11% dari keseluruhan komoditi perdagangan global, proporsi yang berada di atas perdagangan minyak bumi (Globalization and Human Nutrition, 2001). Produk makanan yang dihasilkan dari produksi pangan yang berlebihan di negara-negara industri mau tak mau harus dipasarkan. Namun karena ‘demand’-nya yang sudah statis (baca: jenuh) atau inelastik di negara industri, maka pilihan pasarnya adalah negara-negara berkembang yang produk pangannya masih ‘tradisional’ dan ‘terbatas’. Untuk ini industri makanan di Amerika Serikat mengeluarkan dana 30 miliar dolar setiap tahunnya untuk promosi (Bulletin of the World Health Organization, 2002). Strategi promosi yang digunakan memberi citra daging sebagai makanan bergengsi, modern dan gaul. Rumus ”Tiga P” digunakan: placing, pricing dan promotion. Hasilnya, menjamur dan mengguritanya bisnis makanan cepat saji hampir di seluruh dunia.

Dampak Terhadap Kesehatan

Prof.dr.Siti Fatimah Muis, M.Sc, SpGK dalam kajiannya,”Globalisasi Pangan: Dampaknya Terhadap Gizi dan Kesehatan” menuliskan bahwa setelah Perang Dunia II, negara berkembang mengalami transisi epidemiologi yakni, menurunnya penyakit infeksi seperti TBC, tifus, diare, lepra dan mulai munculnya penyakit degeneratif seperti penyempitan pembuluh darah jantung atau otak, penyakit gangguan metabolisme dan keganasan. Dan sekarang telah memasuki masa transisi berikutnya adalah transisi gizi atau munculnya masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi berlebih pada saat yang bersamaan muncul dengan masalah gizi kurang. Kelebihan asupan energi pada anak-anak dan remaja, utamanya dari makanan berlemak jenuh tinggi (daging, telur, dan susu) di atas 30% dari keseluruhan asupan energi sehari-hari ternyata juga dapat mengakibatkan kenaikan kolesterol, penebalan/pengerasan dinding pembuluh darah (atherosklerosis) dan diabetes tipe-2 seperti yang dialami usia paruh baya (Rapid Westernization of children’s blood cholesterol in 3 countries, 2000). Pada abad ke-20 diabetes tipe 2 (non-insuline dependent) hanya terjadi pada usia paruh baya dan tua. Namun, tren sekarang menunjukkan penyakit tersebut mulai banyak diderita oleh anak maupun remaja. Terjadi peningkatan empat kali lipat kejadian diabetes tipe 2 pada anak usia anak 6-15 tahun yang terbukti berkorelasi dengan kelebihan berat badan (Type 2 diabetes in young, 2004)

Sesekali saat membesuk rekan yang sakit di RS, cobalah adakan survei kecil. Berapa banyak pasien penderita stroke, serangan jantung, hipertensi, diabetes dan kanker dan yakinlah, sepuluh dari sepuluh penderita tersebut dianjurkan oleh dokter untuk mengurangi atau berpantang daging. Begitu sederhana pesan yang bisa diamati dari sekeliling kita tanpa perlu studi atau riset untuk sampai pada pemahaman bahwa: sederet penyakit inilah yang sebenar-benarnya ’diberikan’ oleh daging kepada tubuh manusia.

* Lagi, satu sumbangan dari Chindy Tan yang dikerjakan dengan begitu sigap untuk kita semua yang masih penasaran soal isu gizi daging dan kesehatan. Saya pribadi merekomendasikan buku “New Diet For A New America” bagi yang ingin mengulik lebih lanjut dan lebih mendalam. Thank you, Chindy, untuk sumbangannya.

* Gambar diambil dari pump.tuthill.com

6 Comments

  1. ghazi said,

    May 19, 2008 at 5:43 pm

    oh, begitu yah, mbak. saya jadi ingat waktu guru biologi saya bilang bahwa manusia sebenarnya ditempatkan di ordo herbivora dalam sistem klasifikasi. mungkin karena alasan ini tubuh manusia gak cocok sama daging. soalnya pada dasarnya manusia itu vegetarian.

    jujur, saya bukan seorang vegetarian. tapi kalau niat untuk jadi vegetarian sih udh ada. tapi terkadang saya masih ngerasa berat untuk meninggalkan makanan-makanan yg saya suka bgt.

    tapi, saya teringat guru biologi saya lagi, bukankah ada beberapa jenis protein yang hanya terdapat pada hewan? kalau ini benar jd bagaimana para vegetarian mencukupi kebutuhan protein yg ini?

    sudah segitu saja. mohon maaf kalau ada kesalahan data. mungkin saya salah dengar dari penjelasan guru biologi saya.

    terima kasih

  2. Anonymous said,

    May 21, 2008 at 12:01 am

    Dee,
    terima kasih telah memberi ruang untuk artikel ini ya. Saya hanya mengantarkan fakta, selanjutnya terserah bagaimana kita akan menyikapinya. Bagi saya, pilihan yang bijak adalah pilihan yang tak terbantahkan latar objektifnya
    Baik teman-teman, semoga bermanfaat ya…
    to. Ghazi masalah protein, saya usahakan merangkumnya dalam ulasan lebih detil, mgk minggu depan saya kirim ke imel Ghazi ya
    Namun pada prinsipnya tubuh kita tidak mendiskriminasi protein yang masuk dalam tubuh kita. Justru protein hewani karena bersifat asam malah meningkatkan resiko rapuh tulang, karena proses kompensasi cadangan basa tubuh dalam hal ini kalsium untuk menetralkan keasaman darah.
    Jurnal ilmiah terkemuka Lancet sudah sejak 1959 menurunkan artikel yang membahas kenyataan bahwa kualitas protein hewani tak lebih tinggi dari protein nabati dan kualitas protein nabati tak lebih rendah dari protein. Bagi tubuh, protein adalah protein. Darimanapun sumbernya, protein tetap sama berguna dan sama kualitasnya untuk membentuk enzim, membentengi tubuh dari serangan penyakit, menjalankan metabolisme tubuh, termasuk fungsi pemeliharaan dan pembangun tubuh.

    Salam
    Chindy Tan

  3. ebenhard said,

    May 21, 2008 at 6:25 pm

    jadi inget…

    Sempat heran sewaktu melihat bapak dari teman saya yang kelihatannya kok lebih sehat, lebih segar. Padahal, beberapa bulan sebelumnya masih sakit.
    Waktu saya tanya, jawab teman saya itu, bapak nya diet daging. Sama sekali tidak makan daging.

    Saking terinspirasi nya, saya menyarankan ibu saya untuk mulai mengurangi konsumsi daging.
    (well sebenarnya, waktu saya berkata begitu, yang kepikiran memang “hanya daging”, tidak termasuk telur, susu, dan derivat lainnya)

    Anyway, ada sesuatu yang menggelitik di hati.
    Saya kira mbak dee sangat terbantu “berhasil” menjadi vegetarian karena beliau ini beragama Budha.
    Bukan kah sang Budha sendiri adalah seorang yang vegetarian?

    Nah, somehow, bukan defense, agak susah merubah kebiasaan yang tertanam, bukan hanya seumur hidup ini, tapi yang diwariskan dari moyang kita.
    it takes time.

    Anyway, saya kagum dengan ide ide yang di sebarkan
    tetap lah berkarya

    -eben

  4. Dewi Lestari said,

    May 21, 2008 at 9:11 pm

    Hai Eben,
    Sejujurnya saya tidak menjadi vegetarian karena Buddhism. Murni karena faktor lingkungan. Saya sudah tertarik dan mempelajari Buddhism sejak tahun 2000, tapi belum menggerakkan saya untuk bervegetarian (yes, Buddha dipercaya adalah seorang vegetarian). Dan tidak semua umat Buddha juga vegetarian. Terkecuali aliran Mahayana dan Maitreya, tidak semua umat Buddha memilih bervegetarian.

    Bagi saya, isu “conscious eating” sudah seharusnya lintas agama, kepercayaan, dan budaya. Kita tinggal mawas diri akan apa yang terjadi dalam diri dan pada dunia, niscaya itu akan menuntun kita untuk menentukan pilihan yang lebih bijak.

    ~ D ~

  5. The Void said,

    June 25, 2008 at 3:47 am

    Mbak Dee, setahu saya waktu pelajaran Biologi SMA saya diajarkan kalau manusia membutuhkan 20 jenis asam amino sedangkan jenis asam amino pada tumbuhan tidak sebanyak itu karena itu beberapa jenis asam amino memang hanya bisa didapatkan dari protein hewani.

  6. Anonymous said,

    July 6, 2008 at 8:39 am

    Hai Dee, hai the void…
    saya boleh bantu beri masukan ya…mengenai kelengkapan protein hewani dibanding protein nabati. Diskriminasi akan kualitas protein hewani yang dilabeli ‘lebih komplit’ ini dijernihkan oleh Dr. Alfred Harper (Chairman of Nutritional Sciences at the University of Wisconsin, Madison, and of the Food and Nutrition Board of the National Research Council) mengatakan bahwa,”Salah satu kekeliruan terbesar yang masih saja dipelihara sampai detik ini adalah adanya istilah yang kita kenal dengan protein komplit”. American Dietetic Association menyatakan bahwa selama diet yang dikonsumsi bervariasi, kecukupan protein akan mudah diperoleh bahkan tanpa perlu melakukan kombinasi khusus. Pernyataan ADA ini meluruskan ide kombinasi khusus dari berbagai macam jenis biji-bijian, kacang, buah atau sayur untuk memenuhi kebutuhan akan protein.
    Tubuh kita juga memiliki sistem daur ulang 70% protein yang dikenal dengan pool asam amino (Arthur C Guyton, Physiology of the Body). Inilah salah satu jawaban mengapa kasus kekurangan protein sangat jarang terjadi. Dan isu komplit tak komplit ujung2nya kan bermuara pada rasa takut akan defisiensi protein. Defisiensi hanya terjadi pada kasus kelaparan berat, kwashioskor, busung lapar atau diet yang kurang dari 500 kalori. Bukankah ketakutan yang kita pelihara selama ini sudah sangat berlebihan?
    Takutlah pada defisiensi umur bila tubuh dibuat bergantung dari protein hewani, karena protein hewani tidak pernah datang sendirian, SELALU membonceng seribu satu resiko. Kompilasi 15 penelitian yang dilakukan oleh LEMKES Institut Karolinska, Swedia yang dipublikasi dalam jurnal National Cancer Institute, Amerika (agustus 2006). Setiap konsumsi 30 gram daging selama 10 tahun beresiko 15-38% kanker perut ( Agustus 2006).
    Masih banyak segudang info resiko dari konsumsi protein sumber hewani, cobalah telusuri lewat google. tiap ragu datang, cek, cari tau, cukup beralasan tidak keraguan tsb

    salam,
    chindy

Post a Comment