<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: </title>
	<atom:link href="http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/</link>
	<description>an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Oct 2009 02:21:35 -0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/comment-page-1/#comment-1224</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Jul 2008 16:39:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/#comment-1224</guid>
		<description>Hai Dee, hai the void...&lt;br/&gt;saya boleh bantu beri masukan ya...mengenai kelengkapan protein hewani dibanding protein nabati. Diskriminasi akan kualitas protein hewani yang dilabeli ‘lebih komplit’ ini dijernihkan  oleh Dr. Alfred Harper (Chairman of Nutritional Sciences at the University of Wisconsin, Madison, and of the Food and Nutrition Board of the National Research Council) mengatakan bahwa,”Salah satu kekeliruan terbesar yang masih saja dipelihara sampai detik ini adalah adanya istilah yang kita kenal dengan  protein komplit”.  American Dietetic Association menyatakan bahwa selama diet yang dikonsumsi bervariasi, kecukupan protein akan mudah diperoleh bahkan tanpa perlu melakukan kombinasi khusus. Pernyataan ADA ini meluruskan ide kombinasi khusus dari berbagai macam jenis biji-bijian, kacang, buah atau sayur untuk memenuhi kebutuhan akan protein. &lt;br/&gt;Tubuh kita juga memiliki sistem daur ulang 70% protein yang dikenal dengan pool asam amino (Arthur C Guyton, Physiology of the Body). Inilah salah satu jawaban mengapa kasus kekurangan protein sangat jarang terjadi. Dan isu komplit tak komplit ujung2nya kan bermuara pada rasa takut akan defisiensi protein.  Defisiensi hanya terjadi pada kasus kelaparan berat, kwashioskor, busung lapar atau diet yang kurang dari 500 kalori. Bukankah ketakutan yang kita pelihara selama ini sudah sangat berlebihan? &lt;br/&gt;Takutlah pada defisiensi umur bila tubuh dibuat bergantung dari protein hewani, karena protein hewani tidak pernah datang sendirian, SELALU membonceng seribu satu resiko. Kompilasi 15 penelitian yang dilakukan oleh LEMKES  Institut Karolinska, Swedia yang dipublikasi dalam jurnal National Cancer Institute, Amerika (agustus 2006). Setiap konsumsi 30 gram daging selama 10 tahun beresiko 15-38% kanker perut ( Agustus 2006).&lt;br/&gt;Masih banyak segudang info resiko dari konsumsi protein sumber hewani, cobalah telusuri lewat google. tiap ragu datang, cek, cari tau, cukup beralasan tidak keraguan tsb&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;salam,&lt;br/&gt;chindy</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hai Dee, hai the void&#8230;<br />saya boleh bantu beri masukan ya&#8230;mengenai kelengkapan protein hewani dibanding protein nabati. Diskriminasi akan kualitas protein hewani yang dilabeli ‘lebih komplit’ ini dijernihkan  oleh Dr. Alfred Harper (Chairman of Nutritional Sciences at the University of Wisconsin, Madison, and of the Food and Nutrition Board of the National Research Council) mengatakan bahwa,”Salah satu kekeliruan terbesar yang masih saja dipelihara sampai detik ini adalah adanya istilah yang kita kenal dengan  protein komplit”.  American Dietetic Association menyatakan bahwa selama diet yang dikonsumsi bervariasi, kecukupan protein akan mudah diperoleh bahkan tanpa perlu melakukan kombinasi khusus. Pernyataan ADA ini meluruskan ide kombinasi khusus dari berbagai macam jenis biji-bijian, kacang, buah atau sayur untuk memenuhi kebutuhan akan protein. <br />Tubuh kita juga memiliki sistem daur ulang 70% protein yang dikenal dengan pool asam amino (Arthur C Guyton, Physiology of the Body). Inilah salah satu jawaban mengapa kasus kekurangan protein sangat jarang terjadi. Dan isu komplit tak komplit ujung2nya kan bermuara pada rasa takut akan defisiensi protein.  Defisiensi hanya terjadi pada kasus kelaparan berat, kwashioskor, busung lapar atau diet yang kurang dari 500 kalori. Bukankah ketakutan yang kita pelihara selama ini sudah sangat berlebihan? <br />Takutlah pada defisiensi umur bila tubuh dibuat bergantung dari protein hewani, karena protein hewani tidak pernah datang sendirian, SELALU membonceng seribu satu resiko. Kompilasi 15 penelitian yang dilakukan oleh LEMKES  Institut Karolinska, Swedia yang dipublikasi dalam jurnal National Cancer Institute, Amerika (agustus 2006). Setiap konsumsi 30 gram daging selama 10 tahun beresiko 15-38% kanker perut ( Agustus 2006).<br />Masih banyak segudang info resiko dari konsumsi protein sumber hewani, cobalah telusuri lewat google. tiap ragu datang, cek, cari tau, cukup beralasan tidak keraguan tsb</p>
<p>salam,<br />chindy</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: The Void</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/comment-page-1/#comment-1194</link>
		<dc:creator>The Void</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 11:47:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/#comment-1194</guid>
		<description>Mbak Dee, setahu saya waktu pelajaran Biologi SMA saya diajarkan kalau manusia membutuhkan 20 jenis asam amino sedangkan jenis asam amino pada tumbuhan tidak sebanyak itu karena itu beberapa jenis asam amino memang hanya bisa didapatkan dari protein hewani.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Mbak Dee, setahu saya waktu pelajaran Biologi SMA saya diajarkan kalau manusia membutuhkan 20 jenis asam amino sedangkan jenis asam amino pada tumbuhan tidak sebanyak itu karena itu beberapa jenis asam amino memang hanya bisa didapatkan dari protein hewani.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Dewi Lestari</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/comment-page-1/#comment-1122</link>
		<dc:creator>Dewi Lestari</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 05:11:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/#comment-1122</guid>
		<description>Hai Eben,&lt;br/&gt;Sejujurnya saya tidak menjadi vegetarian karena Buddhism. Murni karena faktor lingkungan. Saya sudah tertarik dan mempelajari Buddhism sejak tahun 2000, tapi belum menggerakkan saya untuk bervegetarian (yes, Buddha dipercaya adalah seorang vegetarian). Dan tidak semua umat Buddha juga vegetarian. Terkecuali aliran Mahayana dan Maitreya, tidak semua umat Buddha memilih bervegetarian. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagi saya, isu &quot;conscious eating&quot; sudah seharusnya lintas agama, kepercayaan, dan budaya. Kita tinggal mawas diri akan apa yang terjadi dalam diri dan pada dunia, niscaya itu akan menuntun kita untuk menentukan pilihan yang lebih bijak. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;~ D ~</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hai Eben,<br />Sejujurnya saya tidak menjadi vegetarian karena Buddhism. Murni karena faktor lingkungan. Saya sudah tertarik dan mempelajari Buddhism sejak tahun 2000, tapi belum menggerakkan saya untuk bervegetarian (yes, Buddha dipercaya adalah seorang vegetarian). Dan tidak semua umat Buddha juga vegetarian. Terkecuali aliran Mahayana dan Maitreya, tidak semua umat Buddha memilih bervegetarian. </p>
<p>Bagi saya, isu &#8220;conscious eating&#8221; sudah seharusnya lintas agama, kepercayaan, dan budaya. Kita tinggal mawas diri akan apa yang terjadi dalam diri dan pada dunia, niscaya itu akan menuntun kita untuk menentukan pilihan yang lebih bijak. </p>
<p>~ D ~</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ebenhard</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/comment-page-1/#comment-1121</link>
		<dc:creator>ebenhard</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 02:25:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/#comment-1121</guid>
		<description>jadi inget...&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Sempat heran sewaktu melihat bapak dari teman saya yang kelihatannya kok lebih sehat, lebih segar. Padahal, beberapa bulan sebelumnya masih sakit.&lt;br/&gt;Waktu saya tanya, jawab teman saya itu, bapak nya diet daging. Sama sekali tidak makan daging.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saking terinspirasi nya, saya menyarankan ibu saya untuk mulai mengurangi konsumsi daging.&lt;br/&gt;(well sebenarnya, waktu saya berkata begitu, yang kepikiran memang &quot;hanya daging&quot;, tidak termasuk telur, susu, dan derivat lainnya)&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Anyway, ada sesuatu yang menggelitik di hati.&lt;br/&gt;Saya kira mbak dee sangat terbantu &quot;berhasil&quot; menjadi vegetarian karena beliau ini beragama Budha.&lt;br/&gt;Bukan kah sang Budha sendiri adalah seorang yang vegetarian?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Nah, somehow, bukan defense, agak susah merubah kebiasaan yang tertanam, bukan hanya seumur hidup ini, tapi yang diwariskan dari moyang kita.&lt;br/&gt;it takes time.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Anyway, saya kagum dengan ide ide yang di sebarkan&lt;br/&gt;tetap lah berkarya&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;-eben</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jadi inget&#8230;</p>
<p>Sempat heran sewaktu melihat bapak dari teman saya yang kelihatannya kok lebih sehat, lebih segar. Padahal, beberapa bulan sebelumnya masih sakit.<br />Waktu saya tanya, jawab teman saya itu, bapak nya diet daging. Sama sekali tidak makan daging.</p>
<p>Saking terinspirasi nya, saya menyarankan ibu saya untuk mulai mengurangi konsumsi daging.<br />(well sebenarnya, waktu saya berkata begitu, yang kepikiran memang &#8220;hanya daging&#8221;, tidak termasuk telur, susu, dan derivat lainnya)</p>
<p>Anyway, ada sesuatu yang menggelitik di hati.<br />Saya kira mbak dee sangat terbantu &#8220;berhasil&#8221; menjadi vegetarian karena beliau ini beragama Budha.<br />Bukan kah sang Budha sendiri adalah seorang yang vegetarian?</p>
<p>Nah, somehow, bukan defense, agak susah merubah kebiasaan yang tertanam, bukan hanya seumur hidup ini, tapi yang diwariskan dari moyang kita.<br />it takes time.</p>
<p>Anyway, saya kagum dengan ide ide yang di sebarkan<br />tetap lah berkarya</p>
<p>-eben</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anonymous</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/comment-page-1/#comment-1118</link>
		<dc:creator>Anonymous</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 May 2008 08:01:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/#comment-1118</guid>
		<description>Dee, &lt;br/&gt;terima kasih telah memberi ruang untuk artikel ini ya. Saya hanya mengantarkan fakta, selanjutnya terserah bagaimana kita akan menyikapinya. Bagi saya, pilihan yang bijak adalah pilihan yang tak terbantahkan latar objektifnya &lt;br/&gt;Baik teman-teman, semoga bermanfaat ya...&lt;br/&gt;to. Ghazi masalah protein, saya usahakan merangkumnya dalam ulasan lebih detil, mgk minggu depan saya kirim ke imel Ghazi ya &lt;br/&gt;Namun pada prinsipnya tubuh kita tidak mendiskriminasi protein yang masuk dalam tubuh kita. Justru protein hewani karena bersifat asam malah meningkatkan resiko rapuh tulang, karena proses kompensasi cadangan basa tubuh dalam hal ini kalsium untuk menetralkan keasaman darah.&lt;br/&gt;Jurnal ilmiah terkemuka Lancet sudah sejak 1959 menurunkan artikel yang membahas kenyataan bahwa kualitas protein hewani tak lebih tinggi dari protein nabati dan kualitas protein nabati tak lebih rendah dari protein. Bagi tubuh, protein adalah protein. Darimanapun sumbernya, protein tetap sama berguna dan sama kualitasnya untuk membentuk enzim, membentengi tubuh dari serangan penyakit, menjalankan metabolisme tubuh, termasuk fungsi pemeliharaan dan pembangun tubuh.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Salam&lt;br/&gt;Chindy Tan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dee, <br />terima kasih telah memberi ruang untuk artikel ini ya. Saya hanya mengantarkan fakta, selanjutnya terserah bagaimana kita akan menyikapinya. Bagi saya, pilihan yang bijak adalah pilihan yang tak terbantahkan latar objektifnya <br />Baik teman-teman, semoga bermanfaat ya&#8230;<br />to. Ghazi masalah protein, saya usahakan merangkumnya dalam ulasan lebih detil, mgk minggu depan saya kirim ke imel Ghazi ya <br />Namun pada prinsipnya tubuh kita tidak mendiskriminasi protein yang masuk dalam tubuh kita. Justru protein hewani karena bersifat asam malah meningkatkan resiko rapuh tulang, karena proses kompensasi cadangan basa tubuh dalam hal ini kalsium untuk menetralkan keasaman darah.<br />Jurnal ilmiah terkemuka Lancet sudah sejak 1959 menurunkan artikel yang membahas kenyataan bahwa kualitas protein hewani tak lebih tinggi dari protein nabati dan kualitas protein nabati tak lebih rendah dari protein. Bagi tubuh, protein adalah protein. Darimanapun sumbernya, protein tetap sama berguna dan sama kualitasnya untuk membentuk enzim, membentengi tubuh dari serangan penyakit, menjalankan metabolisme tubuh, termasuk fungsi pemeliharaan dan pembangun tubuh.</p>
<p>Salam<br />Chindy Tan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ghazi</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/comment-page-1/#comment-1109</link>
		<dc:creator>ghazi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 01:43:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/#comment-1109</guid>
		<description>oh, begitu yah, mbak. saya jadi ingat waktu guru biologi saya bilang bahwa manusia sebenarnya ditempatkan di ordo herbivora dalam sistem klasifikasi. mungkin karena alasan ini tubuh manusia gak cocok sama daging. soalnya pada dasarnya manusia itu vegetarian.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;jujur, saya bukan seorang vegetarian. tapi kalau niat untuk jadi vegetarian sih udh ada. tapi terkadang saya masih ngerasa berat untuk meninggalkan makanan-makanan yg saya suka bgt.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;tapi, saya teringat guru biologi saya lagi, bukankah ada beberapa jenis protein yang hanya terdapat pada hewan? kalau ini benar jd bagaimana para vegetarian mencukupi kebutuhan protein yg ini?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;sudah segitu saja. mohon maaf kalau ada kesalahan data. mungkin saya salah dengar dari penjelasan guru biologi saya.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;terima kasih</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>oh, begitu yah, mbak. saya jadi ingat waktu guru biologi saya bilang bahwa manusia sebenarnya ditempatkan di ordo herbivora dalam sistem klasifikasi. mungkin karena alasan ini tubuh manusia gak cocok sama daging. soalnya pada dasarnya manusia itu vegetarian.</p>
<p>jujur, saya bukan seorang vegetarian. tapi kalau niat untuk jadi vegetarian sih udh ada. tapi terkadang saya masih ngerasa berat untuk meninggalkan makanan-makanan yg saya suka bgt.</p>
<p>tapi, saya teringat guru biologi saya lagi, bukankah ada beberapa jenis protein yang hanya terdapat pada hewan? kalau ini benar jd bagaimana para vegetarian mencukupi kebutuhan protein yg ini?</p>
<p>sudah segitu saja. mohon maaf kalau ada kesalahan data. mungkin saya salah dengar dari penjelasan guru biologi saya.</p>
<p>terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
