Dua Pertanyaan Yang Berarti

Tulisan berikut terlahir dari komentar yang dilontarkan dalam forum blog ini. Untuk itu, saya sangat berterima kasih pada Heikal, yang dalam pertanyaannya telah memberikan ruang bagi satu perenungan penting bagi kita semua. Heikal mengungkapkan sesuatu, yang menurut saya, juga kerap terlintas dalam benak kita semua:

“Tidakkah penghentian konsumsi protein hewani akan menghasilkan masalah baru? Misalnya konsumsi telur dihilangkan. Entah berapa pekerja yang ikut kehilangan pekerjaan seiring dengan menghilangnya telur. Pekerja di peternakan, buruh pabrik pakan ternak, dan lingkungan tempat pabrik itu berada kehilangan potensi ekonominya. Dan hal ini akan berlangsung di seluruh dunia… Belum daging, ayam, ikan (tawar & laut), dan produk hewani lainnya. Berarti semua peternakan penghasil daging, juga nelayan, pasar ikan, dan semua mata rantai jaringan distribusinya, dan semua pekerja sampai lini terakhir, akan berpotensi kehilangan pekerjaannya. Mereka semua akan jadi korban kebijakan vegetarian. Terbayang di benak saya kerusuhan massal yang sekiranya mungkin terjadi… Ketika harga solar naik, pemerintah sulit membantu para nelayan karena mereka adalah nelayan! Mereka tidak mampu beralih profesi menjadi petani, misalnya… Pola vegetarian bisa diterapkan, tapi tidak dalam waktu singkat. Mungkin, sekali lagi mungkin, harus melalui proses, katakanlah, kerusuhan, harga-harga produk pertanian yang meningkat, kemiskinan bertambah, dan tetap terjadi pertempuran kepentingan antara penggunaan lahan untuk pertanian sebagai konversi dari industri hewani, dengan kebutuhan manusia akan lahan untuk tempat tinggal.”

Mari kita renungkan perlahan dan mendalam. Sekalipun pertanyaan dan pernyataan di atas sangat menarik dan mengusik, menurut saya semua itu bersifat spekulatif, dan jika ada yang tergerak untuk menjawab, maka jawaban yang diberikan pun otomatis juga cuma spekulasi belaka. Bagaimana jadinya jika satu dunia serempak sim-salabim jadi vegetarian? Saya tidak tahu. Saya tidak yakin ada yang tahu. Saya bisa saja berfantasi demi menjawabnya, tapi tentu tidak akan banyak berguna. Jadi, pertama, mari kita pilah mana fantasi, mana fakta.

Faktanya, gaya hidup termasuk pola makan kita memiliki jejak gas rumah kaca yang tidak kecil. Hal itu bisa dihitung secara matematis, dan sudah diungkap di mana-mana. Jika masing-masing dari kita menghapus jejak tersebut, sedikit atau sekaligus, secara matematis tentunya terjadi perubahan pada wajah Bumi.

Namun, tolong, sekali lagi kita renungkan pelan-pelan. Pola mental kita dapat menciptakan trik yang amat halus. Alih-alih berubah, kita malah asyik berspekulasi, membayangkan chaos yang terjadi kalau orang sedunia mengubah pola makannya, atau gaya hidupnya. Dan lagi-lagi, kita menunda perubahan demi penelusuran spekulasi. Mari kita pilah sekali lagi, mana fakta di depan mata, mana fantasi di kepala. Saya bisa saja berfantasi: apa yang terjadi kalau semua orang berhenti mengonsumsi BBM? Apa yang akan terjadi dengan seluruh pembangkit listrik di dunia, seluruh mesin-mesin yang digerakkan oleh BBM? Apakah mereka akan jadi onggokan besi tua tak berguna? Bagaimana nasib karyawan tambang minyak di seluruh dunia, Pertamina dan seluruh perusahaan minyak di dunia, tukang isi bensin, dll? Bukankah ini akan mengakibatkan pengangguran gila-gilaan? Kemiskinan, kerusuhan, bahkan perang? Satu penelusuran yang sangat fantastis dan menarik, tentunya. Kita bisa membayangkan apa pun, tapi bayangan Anda dan saya belum tentu benar. Mengapa? Karena semua itu adalah khayalan masa depan yang belum terjadi.

Tapi ini yang terjadi: dunia memasuki krisis energi. BBM adalah sumber energi yang punya umur karena tidak bisa diperbaharui, jadi satu saat pasti habis. Semua itu adalah fakta.

Sama halnya dengan vegetarian. Teman saya bahkan pernah berfantasi, kalau semua orang jadi vegetarian, rantai makanan di Bumi jadi kacau, karena populasi singa dan binatang buas lainnya jadi meledak akibat ketersediaan makanan mereka yang tahu-tahu membludak berhubung ternak-ternak itu dianggurkan manusia. Fantastis, bukan? Mata kita justru tertutup dari fakta bahwa kondisi sekaranglah yang tidak beres, karena manusia mengadakan intervensi alam dengan industri peternakan dan mengadakan miliaran hewan ternak. Kenapa tidak terjadi ledakan populasi kecoak atau cicak di dunia? Karena manusia tidak beternak kecoak atau cicak.

Lebih lanjut, disebutkan pula:

“Intinya, menurut saya, dari rantai kehidupan yang kita jalani sekarang, vegetarian bukanlah solusinya. Jika industri ternak sebagai penyumbang pemanasan global terbesar dihentikan, bukan berarti faktor pencetus pemanasan global berhenti… Logikanya begini, industri ternak & populasi hewan besar karena kebutuhan manusia akan ternak yang besar. Kebutuhan ternak yang besar karena populasi manusia di dunia ini juga besar. Jadi, seharusnya LAJU POPULASI MANUSIA-lah yang harus dikendalikan. Jadikan pertumbuhan populasinya 0% di seluruh dunia. Ini mustahil juga kan? Jadi kampanye Penanggulangan Pemanasan Global saat ini sudah sangat terlambat. Tak ada kata terlambat, kita harus mengakui keterlambatan itu…”

Mari cermati pelan-pelan, benarkah industri ternak berkembang karena “kebutuhan” manusia? Jika benar isunya adalah butuh, bahwa manusia di Bumi ini “membutuhkan” hewan ternak sekian banyak demi memenuhi “kebutuhan” mereka, mengapa 3,6 miliar manusia mengalami kelaparan kronis? Mengapa 40 ribu orang mati setiap harinya karena kelaparan? Ke mana larinya enam miliar hewan ternak yang diadakan demi kebutuhan umat manusia? Ada 12 Mitos seputar isu “World Hunger”, dan mitos nomor tiga disebutkan: jumlah manusia yang terlalu banyak (www.worldhunger.org). Kita kerap berpikir, Bumi tak cukup memberi makan 6,5 miliar jiwa. Nyatanya, pertanian dunia masa kini mampu memberi makan semua manusia 2720 kalori per hari. Artinya, jumlah manusia bukanlah determinan mengapa kelaparan ada. Telah disebutkan, pakan ternak di Amerika tok sudah bisa memberi makan 1,3 miliar orang. Jadi, benarkah industri hewan ternak tumbuh karena manusia butuh? Menurut saya, industri ternak tumbuh karena nurani kita lumpuh. Demi profit, satu penelitian atas tikus setengah abad yang lampau menjadi acuan bagi kita untuk mengisi perut. Demi sepotong lidah panjang 10 senti, kita jadikan lambung kita kuburan bagi ratusan hewan, yang dalam kaca mata besarnya juga menjadi kuburan bagi saudara-saudara kita.

Satu catatan penting mengenai laju populasi manusia. Sesungguhnya, sejak tahun 1987, laju populasi manusia di dunia menurun dengan rata-rata pengurangan 2,1 juta manusia per tahun. Jika kecepatan ini bertahan, kita akan mencapai titik zero population growth dalam waktu dua puluh tahun (www.overpopulation.net). Dan kecenderungan dalam enam tahun terakhir bahkan menunjukkan penurunan yang berangsur lebih besar lagi. Jadi, apakah mungkin terjadi pertumbuhan populasi nol? Sangat mungkin. Kita bahkan sedang berproses menuju ke arah sana. Di atas kertas, kita bisa menganggap hal ini sebagai kabar baik. Namun, penurunan laju penduduk tidak selalu berarti “baik”, karena dalam penurunannya, yang terjadi adalah kelaparan meningkat, penyebaran penyakit bersifat epidemis, dan sebagainya. Dua faktor yang paling berperan adalah krisis pangan dan air, yang lagi-lagi bermuara pada faktor eksploitasi lingkungan yang tidak berpihak pada kelestarian alam.

Sekali lagi, mohon direnungkan dalam-dalam. Mengapa kita susah sekali mencerna fakta-fakta ini? Mengapa kita lebih mudah berspekulasi ketimbang bertindak? Mungkinkah karena ini adalah pembiasaan sistemik yang sudah begitu merasuki sistem berpikir kita, yang kemudian membentuk cara pandang kita terhadap hidup dan dunia?

Saya percaya, kunci spesies manusia bisa bertahan dan berevolusi hingga detik ini adalah karena kemampuannya beradaptasi. Itulah satu-satunya modal sejati kita untuk bertahan hidup. Perubahan menuju zaman baru tidak terelakkan, dan mereka yang bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi. Dari detik kehidupan bermula, demikianlah rumusnya. Like it or not. Semua pemain dalam industri energi harus beradaptasi, mau tak mau. Para petani dan peternak, sama halnya dengan para pekerja lain di dunia yang terus berubah ini, harus beradaptasi, tanpa kecuali. Semua makhluk hidup harus beradaptasi dengan perubahan iklim, tanpa bisa menolak. Ada yang masih bertahan, ada juga ribuan spesies lainnya yang sudah punah, dan akan punah. Di akhir abad ini, beruang kutub diperkirakan akan punah. Bisakah Anda bayangkan, jika kita berpikir dari sudut pandang beruang kutub? Bagi mereka, mencairnya kutub adalah kiamat total. Sementara kita, manusia, masih bisa asyik berspekulasi ini-itu. Begitu banyak makhluk dipaksa beradaptasi di ujung batas hidup dan mati selagi saya dan Anda berkorespondensi lewat blog ini. Dalam hitungan detik, eskalasi kepunahan berbagai spesies terus meroket.

Saya tidak ambil pusing tentang spekulasi skenario perubahan pola makan dunia bukan karena tidak peduli. Tapi karena hal itu tidak sanggup saya kendalikan. Lalu untuk apa saya membuang waktu? Kadang-kadang, kita terus berlarut memikirkan orang lain dan situasi yang tidak bisa kita kendalikan, dan lagi-lagi, melupakan kendali yang paling riil dan bisa kita pakai segera: kendali pada diri kita sendiri. Sejenak, lupakan nelayan, lupakan peternak, lupakan pemerintah, lupakan siapa pun yang ada di luar diri Anda. Termasuk saya.

Sekarang, mari bertanya: siapa Anda? Apa yang Anda bisa lakukan? Menurut saya, dua pertanyaan itulah yang paling berarti. Sisanya fana.

50 Comments

  1. e-ndrew said,

    May 20, 2008 at 7:22 pm

    yep, setuju.. sama seperti spekulasi apa jadinya klo perusahaan rokok di indonesia dilarang beroperasi.. lagi2 masalah buruh dan kesejahteraan..

  2. daus said,

    May 20, 2008 at 7:58 pm

    Gak lah. Utopis semua kok konsepnya. Tidak vegetarian tidak berarti setiap hari makan daging. Dan being vegetarian juga belum tentu memecahkan masalah.

    pertanyaanya, seberapa besar emisi karbon yang dihasilkan dari konsumsi rumah tangga dibandingkan dengan, katakanlah, sektor industri dan transportasi?

  3. Anonymous said,

    May 21, 2008 at 1:08 am

    Dee dan teman-teman lain,
    Seumur hidup Bumi, yang kini telah memasuki usia 4,5 miliar tahun, dalam enam kali sejarah kematian massal, belum pernah ada satu pun yang disebabkan oleh makhluk hidup. Dinosaurus diam di Bumi selama 250 juta tahun, tidak ada catatan kerusakan yang ditimbulkannya. Manusia, makhluk yang terakhir lahir, umur singgahnya di Bumi ini baru 3,3 juta tahun namun sampai detik ini, catatan merah ’sumbangsih’ kerusakannya hanya manusia sendiri yang tau. Makhluk hidup tidak pernah berada dalam situasi di mana mereka dapat menghancurkan seluruh wajah planet Bumi, seperti yang dilakukan manusia. Umur Bumi dipangkas 100 tahun lebih pendek (bahkan mungkin kita masih bisa mendiami Bumi 1000 tahun lagi, seandainya manusia tau bagaimana cara bertamu di Bumi ini). Penuaan Bumi bukan dini lagi tapi ekstrem.
    Seperti kata Dee, “kita memimpikan keharmonisan, kita kan sering menyanyikan lagu..we are the world namun apa yang kita lakukan justru mencekik Bumi itu sendiri”
    Manusia harus sungguh-sungguh belajar melihat siapa dirinya. Jika jari ini selalu mengarah keluar, saling tunjuk Amerika yang salah, negara maju yang bertanggung jawab. Lalu ketika solusi itu dicantelkan pada negara maju, mereka menjawab,”terlalu besar kerugian yang harus ditanggung” lalu perubahan akan datang dari siapa? Tidak individu, tidak negara raksasa. Karena keduanya memilih lipat tangan.

    Bayangan multikrisis sudah membakar alis mata, namun kita masih sibuk tunjuk sana-tunjuk sini malah masih sempat hitung duit. Saya jadi ingat cerita rekan saya Riri. Waktu gempa 5,9 pada skala Richter di Yogya, jam 9 pagi dia langsung ke klinik cek kerusakan yang terjadi. Keluar dari apotek, tiba-tiba semua orang panik dan berteriak “Tsunami, tsunamiii! Jalan-jalan macet! Rumah makan Padang sebelah klinik Riri kelabakan. Mereka bertiga, Suami-istri dan adik iparnya. Motor hanya cukup untuk dua orang, tidak ada pilihan bagi suami istri ini, adik iparnya ditinggal. Melihat ini Riri spontan menawarkan, bareng mobil saya aj Bang! Namun sesaat sebelumnya, sang pemilik jerit,”aduh rumah makanku!” Eeeih Pak, udahlah duit bisa dicari! kata Riri
    Demikianlah…Bahaya sudah di depan mata, bahkan sudah di mata, membakar alis, kita masih saja sulit membacanya dan ambil tindakan waras.

    Salam,
    Chindy Tan

  4. Ahmad Sahidah said,

    May 21, 2008 at 1:49 am

    Saya mencoba mengurangi konsumsi daging. Tidak serta merta. Ia memerlukan waktu. Kesadaran semacam ini bagaimanapun perlu ditularkan.

    Terima kasih kepada Anda yang coba untuk peduli dan mencoba meneriakkannya.

    Salam kenal.

  5. titi said,

    May 21, 2008 at 9:22 pm

    Dee yang saya kagumi..
    saya termasuk orang yang prihatin terhadap kondisi bumi kita sekarang ini,
    saya penasaran, menu makan sehari2 Dee apa? bagi2 tips dan menu donk.. mungkin bisa saya terapkan dalma kehidupan sehari2..
    Thanks,
    Titi

  6. euphoriant said,

    May 22, 2008 at 12:48 am

    Awalnya saya bingung baca konsep ‘global vegetarian’ ini. Terang saja, selama menjalani program wajib belajarnya pemerintah, saya didoktrin dengan konsep ‘empat sehat lima sempurna’. Tapi setelah baca fakta-faktanya, ternyata kebingungan saya menguap… ‘global vegetarian’ demi menunda perluasan efek global warming itu masuk akal.

    “…Saya mmemilih peran menjadi penulis. Dan saya hanya menulis apa yang saya suka…”:
    Jangan pernah berhenti menulis, selama Mbak masih mampu, please… Info yang saya dapat dengan membaca tulisan-tulisan Mbak 100% lebih bermanfaat daripada 12 tahun saya sekolah. Hehehe. Hiperbolis…

  7. Anonymous said,

    May 22, 2008 at 3:32 am

    @Chindy: Manusia memang diciptakan untuk merusak Bumi kok ;) Dan kiamat adalah puncak kekacauan itu. Sorry to say.

    Btw. Mbak Chindy ke mana-mana naik angkot apa mobil pribadi?

  8. Anonymous said,

    May 22, 2008 at 3:34 am

    Sama saja sebenarnya dengan Chindy yang main tuding bahwa pemakan daging adalah penyebab bencana :)

  9. Vipassi said,

    May 22, 2008 at 4:27 am

    Saya setuju dengan 2 paragraf terakhir.

    Sebagian besar manusia justru asyik berandai-andai, berspekulasi dan meributkan hal-hal yang sebenarnya di luar kendali mereka. Termasuk saya.

    Saya jadi ingin berandai-andai:
    bagaimana jika semua orang berpikiran bahwa memegang kendali atas diri sendiri-lah yang lebih penting dibandingkan meributkan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, siapakah saya, dan apakah yang bisa saya lakukan…

    Terima kasih.

  10. abi_ha_ha said,

    May 22, 2008 at 8:20 pm

    mbak Dee, apa betul-betul sahih tentang metana dari metabolisme hewan menjadi satu faktor utama pemanasan global?

    Satu ketika, ketika isu globwarm ini dilempar pertama kali oleh peneliti, komunitas atau tepatnya sindikat, produsen energi karbon juga mengsponsori penelitian yang mementahkan isu tersebut. Walaupun kemudian makin besar kesahihan isu globwarm tersebut yang akhirnya diterima secara formal.

    Intinya adalah, apakah isu mengenai metana ini betul diteliti oleh mereka yang kredibel tanpa sponsor? karena seolah melempar tanggung jawab polusi energi karbon pada metana dari metabolisme ternak.

    Banyak terbukti kemudian, penelitian yang memang disponsori dengan tujuan keuntungan sponsor. Misal, pernah ada hasil penelitian bahwa bukan rokok pencetus utama kanker paru, tenggorok atau lidah. Tentu jelas siapa sponsornya.

    Atau masih hangat isu susu formula berbakteri yakiniku teriyaki (atau apalah kemarin itu) yang diteliti oleh pihak yang bukan seharusnya, yang ternyata setelah diteliti ulang, selain tidak separah itu pencemarannya, juga bakterinya tidak seganas yang didengungkan. Konon, isu tersebut diangkat untuk menutupi isu lab. asing yang diduga mencuri sample-sample virus kita untuk kepentingan komersial.

    Sementara untuk persaingan pangan antara hewan ternak dan manusia, saya sependapat tanpa syarat.

    Apa kabar Keenan? dulu jaman keluarga mbak Dee dan mas Michel masih bareng kakak & adik di Sangkuriang, Keenan sering ikut digendong nannynya mampir ke rumah, mungkin update gossip antar nanny. Mudah-mudahan sehat ya.

  11. Anonymous said,

    May 22, 2008 at 9:57 pm

    Saya punya 1 pertanyaan yang juga berarti:
    Haruskah anjing saya ikut menjadi vegetarian???

    Jelas saya tak boleh mengabaikan perutnya. Dan kenyataan bahwa dia berkodrat sebagai karnivora.

    Atau… mungkin Mbak Dewi dan Mbak Chindy juga punya fakta betapa anjing tidak membutuhkan daging seperti halnya manusia? :) Just a thought.

  12. Dewi Lestari said,

    May 22, 2008 at 10:05 pm

    Menu makanan saya sehari2? Wah, simpel2 aja kok. Tahu – dengan segala variasi olahan. Tempe – juga dengan segala variasi olahan. Sayur-sayuran. Jus buah. Kadang2, untuk acara khusus, saya membeli dari restoran vegetarian yakni aneka olahan gluten. Saya merekomendasikan buku “Diet Enak Ala Vegetarian” dari Drs. Susianto, selain ada resep masakan terdapat juga banyak info mengenai gizi pola makan nabati. Drs. Susianto ini adalah Sekjen IVS Indonesia.

    Lalu, untuk Abi, secara fisiologis memang hewan ternak menghasilkan gas metana, contohnya: sapi, menghasilkan 12 liter gas metana per hari. Kalau ada miliaran sapi di dunia, tentu sekian miliar liter juga gas metana yang terproduksi ke Bumi ini. Bukan salah sapi memproduksi metana, tentunya. Sudah demikianlah bagaimana alam mendesain mereka, sama seperti kita memproduksi CO2 secara alamiah.

    Namun ketika jumlah hewan ternak ini membludak, tentunya masalahnya bukannya hanya metana. Jadi saya tidak bisa mengatakan bahwa metabolisme hewan ternak khususnya perihal metana menjadi penyebab tunggal mengapa industri peternakan memiliki kontribusi besar terhadap pemanasan global. Sistem industri peternakan membutuhkan lahan, sistem irigasi, pangan, dsb, yang sama sekali tidak kecil. Deforestasi di Amazon hampir semuanya diperuntukkan untuk membuka lahan peternakan. Alasannya simpel tentu, untuk perekonomian para peternak. Tapi mereka beternak untuk siapa? Untuk sesama manusia lain yang mengonsumsi daging. Jadi, kita kehilangan paru2 Bumi untuk perut kita. Dan benarkah dengan demikian spesies manusia di Bumi ini makmur? Sebagian. Sementara sebagian besar lainnya, dalam jumlah miliaran, kelaparan kronis. Kalau kita tidak menyadari lingkaran setan ini, maka dalam keseharian kita, kita tetap merajut ketidakseimbangan tsb.

    Btw, kamu anaknya Tante Erica yang tetangga depan Sangkuriang, bukan? Seingat saya, Keenan seringnya main ke rumah itu :)

    ~ D ~

  13. Dewi Lestari said,

    May 22, 2008 at 10:18 pm

    Anjing vegetarian? Setahu saya, Master Ching Hai (bisa dilihat di situs beliau or Supreme Master TV) mengadopsi banyak anjing, dan semua anjing dia menjadi vegetarian. Don’t ask me how :)

    Dan selama saya roadshow bersama IVS, ada profil kucing bernama Bona yang kerap ditampilkan. Bona ini juga vegetarian. Don’t ask me how, too. Ask Bona :)

    Saya nggak berminat mengubah kodrat hewan carnivora jadi vegetarian/herbivora. Dan saya nggak melihat itu sebagai solusi, bahkan sesuatu yang esensial. Saya lebih tertarik pada fenomena makhluk berfisiologis herbivora, dan selain faktor keadaan (nggak ada sayur yang bisa tumbuh di lingkungannya, mis. suku Inuit), namun lebih kepada pengaruh lingkungan dan pembiasaan, bersikeras menjadi omnivora, bahkan carnivora :)

    ~ D ~

  14. Anonymous said,

    May 22, 2008 at 10:49 pm

    Yah, dan anjing saya mengonsumsi daging merah sementara saya berusaha lebih banyak mmengonsumsi sayur dan tahutempe. Menurut saya ini cukup ironis menilik perbandingan jatah makan mingguannya dan jatah makan mingguan saya sendiri…

    Tapi saya paham maksud Mbak :)

  15. Anonymous said,

    May 22, 2008 at 11:02 pm

    Saya tahu komentar ini nggak relevan sama tulisan Mbak, jadi nggak penting untuk di approve. Saya cuma ingin tahu apa Mbak membuka konsultasi cara menulis yang baik?
    Kalau ya, saya mau…
    Hehehe.
    Thx.

    -Saya yang bertanya tentang anjing vegetarian :) -

  16. Dewi Lestari said,

    May 23, 2008 at 3:05 am

    Saya belum pernah kasih pelatihan untuk menulis secara pribadi. Beberapa kali pernah kasih workshop tapi semuanya diundang (diadakan oleh pihak ketiga).

    But here’s my fave quote on writing:
    To Write Is To Write Is To Write Is To Write Is To Write… dst.

    Sometimes the best way to learn to write is just to… write. Try it and love it :)

    Cheers,

    ~ D ~

  17. gacanti said,

    May 23, 2008 at 7:50 am

    Halo Dee, dan halo Chindy Tan..:)
    saya baca semua posting Dee dan posting tentang bumi sangat menarik hati.
    Anyway, saya nonton film Earth yang isinya sangat menyentuh & membuka mata. Film dokumenter yg tidak menjudge kelakuan manusia, bahkan tidak disebutkan sama sekali, tapi justru menampilkan kehidupan binatang dari segi sosial , moral yang jauh lebih baik daripada kita manusia yang kata buku PPKn diberkahi Tuhan dg akal sehat bahkan moralitas.
    Benar, yang Di Atas pasti menciptakan setiap makhluk dengan kelebihan&kekurangan agar mereka dapat melangsungkan hidup dg mencari sumber makanan mereka sendiri. We dont need to feed them. Alam sudah menyediakan makanan untuk kita dan mereka secara natural. Dan bayangkan. Di film Earth, ikan paus, beruang kutub, gajah dlsb mencari sumber makanan mereka sendiri dengan berjalan / berenang sejauh ribuan kilometer, kemudian mereka ‘makan’ karena mereka ‘lapar’. Ketika kenyang, mereka berjalan beriringan, bersama2 menari senang..
    Jika dibandingkan dg kita, kita lapar, lalu makan, tapi ketika sudah kenyang, kita masih terus ‘makan’. Makan duit, makan yang lain, makan temen..
    Siapa mulia siapa?
    Saya juga berpikir, kita adalah herbivora, namun karena mind set yang keliru, kita terpaksa menjadi omnivora bahkan carnivora dan ini menyedihkan.
    Sedih rasanya ketika saya mengetahui fakta2 tentang 4sehat 5sempurna yang menipu, yang guru2 tidak menjelaskan mengapa harus ada telur,ikan di menu, mengapa tidak sayur kelima2nya jika protein/gizi yang diperlukan dapat diperoleh dari sayur saja? Menjadi rancu dan secara tidak langsung membentuk cara berpikir kita sejak kecil dari cara2 doktrinisasi demikian walaupun sepele. Bahwa kita berpikir sesuai dg apa yang ada di buku tebal Ilmu Pengetahuan Alam sd – smp, sesuai kata guru, kalau tidak, nilai kita 5.
    Mengetahui ada pertanyaan seperti yg dilontarkan Haikal dan jawaban Dee memang membuat kita berpikir dengan batasan : kesampingkan orang lain dan mulai bertanya balik kepada diri sendiri, siapa kita, apa yang bisa kita perbuat? Dan ini justru jawaban yang sesungguhnya. Kita seharusnya memaksimalkan apa yg bisa kita lakukan, daripada buang2 waktu berspekulasi hal yang tdk bs kita kendalikan..
    Yang kita perlukan memang kesadaran untuk tahu diri.
    Semakin tahu diri.

    Keep posting, dee, chindy tan…

    Posting dan komentar chindy yang up to date membuat saya semangat menyebarkan info2 tsb. Sangat sangat berguna and i highly appreciate your effort to write.

  18. euphoriant said,

    May 23, 2008 at 9:26 pm

    :D great quote, mbak. i’ll tattooed it this in my mind.

    yah, saya sedang mencoba—lewat blog, yang mungkin akhirnya cuma sekedar ajang curhat. just hoping one lil’thing will lead to another..

    mau berkunjung dan mengritik? :)

    -lagilagi saya yang bertanya tentang anjing vegetarian-

  19. Calvin Michel said,

    May 25, 2008 at 4:54 am

    Tulisan yang menarik mbak dee, saya tidak bisa bicara terlalu banyak karena saya pernah mencoba menjadi “setengah vegetarian”, saya sadar bahwa pola makan saya yang (agak) jarang mengkonsumsi sayur ini suatu saat akan mempercepat akhir hidup saya.

    Saya tidak berpikir besar mengenai global vegetarian dan semacamnya, tapi itu tadi, saya mau menjadi vegetarian karena kepentingan saya.

    Tapi mungkin karena memang memakan daging sama saja dengan kultur, saya malah merasa lemas dan kurang bertenaga, “kalau belum makan daging rasanya belum makan”.

    Mungkin ini masalah kebiasaan saja, tapi saya rasa saya belum siap secara drastis menjadi vegetarian.

    Dan setuju dengan kata-kata mbak dee, merubah diri sendiri menurut saya lebih penting daripada membayangkan dan berspekulasi, karena akhirnya, manusia tidak melakukan apa-apa, hanya berhenti di tahap imajinasi. Kemungkinan-kemungkinan baru menjadi hilang karena tidak ada tindakan dan dihalangi spekulasi tersebut.

  20. ParisParis said,

    May 26, 2008 at 3:45 pm

    kalau kita terus berpikir kalau, kalau dan kalau, maka kita tidak akan pernah bergerak. tidak ada yang sempurna, semuanya pasti ada risikonya

  21. pappara.. said,

    May 30, 2008 at 8:59 am

    saya sangat rindu dengan supernova..
    apa mbak dee melupakan yang itu, yang belom kelar?

    nulis yang baru terus..
    terbitin dong mbaak..
    kangen aku..
    T_T

  22. Anonymous said,

    May 31, 2008 at 6:02 pm

    cerita pendek buat dee:
    post #574 & #590 http://forum.detik.com/showthread.php?t=20224&page=58

  23. indri said,

    June 1, 2008 at 4:19 am

    apa jadinya bila seorang bondan winarno menjadi seorang vegetarian?
    mak nyusssss untuk menu2 vege?
    dia keliling dunia untuk mencari menu2 vege yang enak dan sehat?
    akan ada siaran khusus kuliner vegetarian di stasiun tv?
    who knows? or he will be broke ?

  24. arimurti.com said,

    June 1, 2008 at 12:19 pm

    paling suka maem sayur

    Regards,
    http://www.arimurti.com

  25. Dewi Lestari said,

    June 2, 2008 at 4:03 am

    Kalau Anda keluarga langsung dari Bondan Winarno, sangat dimengerti jika Anda concern Bondan berisiko bokek karena vegetarian. Tapi kalau bukan? Lagi2 pertanyaan spekulatif :)

    Sungguh sederhana bertanya siapa saya, dan apa yang kita bisa perbuat. Nyatanya, kita memang lebih senang dihibur dengan pertanyaan2 yang membuat kita “berlari” dari jawaban yang sesungguhnya…

    Untuk Pappara, saya memang belum bikin Supernova lagi. Tapi karya terbaru udah ada, judulnya Perahu Kertas, detailnya bisa disimak di blog saya yang lain: http://www.dee-55days.blogspot.com

    Thanks!

    ~ D ~

  26. Musthov said,

    June 2, 2008 at 4:07 pm

    Tanpa sengaja, dua bulan yang lalu saya diantarkan ke weblog mbak Dewi ini, setelah saya mengikuti sebuah acara lingkungan di Kaliandra, Pasuruan. Saya betul-betul semakin terpikat dengan tulisan dan gagasan-gagasan mbak Dewi. Dulu, saat Landung Simatupang membacakan fragmen Supernova 1 di LIP Jogja, saat saya masih kuliah di Jogja (itu tanggal 16 Maret 2001), dan mbak Dewi hadir dan berdiskusi di situ, saya sudah terpikat. Tapi tulisan-tulisan di weblog ini memberi tahu saya bahwa mbak Dewi benar-benar lihai menulis–dan yang terpenting, menggali gagasan.

    Tulisan-tulisan yang inspiratif dan menggerakkan. Dalam pekan kemarin, saya–kembali–membacakan beberapa tulisan terakhir di weblog ini di hadapan murid-murid SMA tempat saya mengajar. Semalam, saya kembali membacakannya beberapa untuk adik saya yang sekolah di Jombang. Posting terakhir ini saya bacakan di depan murid-murid untuk memperdalam contoh perbedaan FAKTA dan OPINI/SPEKULASI.

    Sungguh, tulisan di weblog ini menggerakkan, menggiring saya untuk mulai berubah. Setelah saya membacakan tulisan tentang vegetarian itu, anak-anak di kelas banyak yang tanya ini-itu tentang vegetarian yang saya sendiri masih belum tau benar–kadang ada pertanyaan yang lugu juga.

    Saat sehari kemarin saya mencoba untuk tak mengonsumsi daging, ada rasa lega yang tak bisa saya ceritakan. Saya tau, itu baru langkah yang teramat kecil. Tapi tentu, tanpa itu, perubahan besar tak mungkin terjadi.

    Ala kulli hal, saya sangat butuh informasi dan panduan praktis untuk “berdamai dengan Bumi”. Selepas dari Kaliandra kemarin, saya dengan beberapa rekan di sini, di pedalaman Madura, mencoba lebih peduli dengan Bumi. Tapi betul, sungguh sulit, karena itu terkait dengan gaya hidup.

    Saya ingin belajar tentang pengolahan sampah. Satu bulan yang lalu, saya mencoba browsing di toko-toko online (Indonesia), tapi 3 buku yang saya beli masih kurang memuaskan, kurang praktis.

    Salah satu yang sempat saya lakukan dengan murid-murid di sini pas aksi Hari Bumi kemarin adalah sosialisasi bahaya sampah plastik. Di hari itu, kami beramai-ramai menjadi pemulung sampah plastik. http://madaris3annuqayah.blogspot.com/2008/04/menjadi-pemulung-di-hari-bumi.html.

    Ya. ini juga baru langkah kecil. Dan langkah kecil saya dan teman-teman di sini harus terus dijaga. Dee, kami butuh meminjam satu pacar gelapmu. Kami butuh bergandengan tangan.

  27. Dewi Lestari said,

    June 3, 2008 at 1:05 am

    Halo Musthov,

    Comment Anda membuat saya terharu. Terima kasih sekali. Saya pun yakin, dalam setiap langkah kecil, jika dijalankan dengan setia, akan mengantarkan kita ke jarak yang paling jauh sekalipun.

    Untuk pengolahan sampah, setelah mencoba dengan tiga metoda, akhirnya saya merasa penggunaan kotak Takakura adalah yang paling praktis, khususnya untuk level rumahan. Selama ini saya memang memesan sampai ke Semarang, lewat teman saya bernama Didut (suka kasih komentar juga di blog ini).
    Tapi sebetulnya kotak ini sederhana.

    Jadi, keranjang plastik (yang biasa dipakai untuk baju kotor), kita lapisi sisi2 dalamnya dengan bahan busa yang biasa dipakai untuk meredam audio (suka dipakai di studio2 musik). Lalu kita isi sekam. Untuk proses pembusukannya, bisa dibantu dengan pupuk kandang atau cairan khusus berisi mikroba (bisa dibeli di toko pertanian). Tapi hanya itulah yang kita butuhkan. Sisanya tinggal masukkan sampah dapur yang sudah dipotong kecil2. Pastikan kelembapannya pas (kalau diperas masih terasa berair, tapi tidak menetes). Dan buat lubang dalam tumpukan sekam di kotak kita, masukkan sampah, dikubur lagi dengan sekam. Kalau ada sampah baru, bikin lubang baru lagi, kubur, dst.

    Sejauh ini kotak takakura saya tidak berbau dan berulat. Jadi sangat nyaman meski diletakkan di dekat rumah. Mudah2an penjelasan ini cukup membantu. Kalau sempat nanti akan saya lengkapi juga dengan foto, biar lebih kebayang.

    Sekali lagi terima kasih untuk upaya2 ‘kecil’-nya. Mari kita bergandeng tangan…

    ~ D ~

  28. Anonymous said,

    June 3, 2008 at 5:36 am

    waduh Wi g nyangka tulisan2 ini udah bergulir kemana-mana ya…jadi tambah semangat!
    kepala saya lagi berasap neh,hehe…balik lagi ngutakngatik istilah medis(ud tll lama ditinggal,loading’e jadi agak lambat;)
    btw @ apakah saya kemana2 naik angkot? pada rute tertentu iya. rute ider selalu saya upayakan sependek mungkin. jika ada rapat, biasanya saya minta via telp, kalo mendesak baru ikut. mobil? saya jadi ingat anjuran seorang pegawai kecamatan wilayah dinas saya dulu. ketika turun dari angkot dan berjalan kaki ke kantor dia nanya,”kok jalan bu?” neng solo banyak mobil murah sekarang…begitulah, kita sadar tak sadar hidup dalam ukuran masyarakat. bila Anda punya kedudukan ini atau itu, ‘pantasnya’ tumpaan’e roda empat. dan banyak dari kita pasrah saja mengikuti ukuran-ukuran kelayakan, pantas g pantas ala masyarakat. didiktelah pilihan kita dengan gengsi, dengan ukuran pantas. saya kadang masih merasa risih juga dengan pandangan2 yang berlaku dalam masyarakat kita, tapi sampai kapanpun kita tidak akan pernah punya pilihan atau ukuran sendiri jika kita tidak mau keluar dari ukuran luar diri…kok saya jadi bingung ya..maksudnya, beranilah punya sikap, punya ukuran sendiri. saya tidak beli mobil karena tidak butuh, saya memilih buka klinik satu lagi. saya cukup terbantu dengan roda dua dan kendaraan umum.
    trus untuk @ yang pernyataannya ttg saya juga nunjuk pemakan daging. Anda boleh menilai apa saja. segala akibat pasti ada asapnya. ukuran yang bisa kita pakai untuk menelusur asapnya adalah realita. realita menunjukkan pada kita, kebutuhan kita akan daging punya ongkos yang tidak kecil terhadap sekian, sekian dan sekian sumber daya Bumi kita. kita selalu punya pilihan. saya memilih belajar bertanggung jawab atas semua yang telah saya nikmati. air, udara, berbutir padi, buah dan apaa saja. sahabat, kita tidak seperti anjing yang telah dibekali insting untuk membaca masalah dalam sistem cernanya dengan makan rumput tertentu. insting kita tumpul tapi kita diberi otak dan hati untuk menganalisa setiap masalah dalam hidup kita. kita berusaha survive dengan menjadi makhluk pembelajar. ada masalah, ada objek pembentuk masalah, jalan keluar dari analisa identifikasi objek masalah itu sendiri.
    baik sahabat, semoga selalu ada ruang dalam diri kita untuk berefleksi…

    salam,
    chindy tan

  29. andy said,

    June 11, 2008 at 7:26 am

    Satu lagi.. (masih hangat)
    http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/11/21183033/hemat.energi.mulailah.dari.menu.di.piring

  30. rahadian said,

    June 13, 2008 at 2:30 am

    vegetarian mungkin terlalu ekstrem. tapi kekhawatiran tentang rantai pekerjaan, itu juga terlalu kapitalis. Kenapa tidak ada yang mau (berani) mencoba subsistensi? Salam!

  31. idlehead said,

    June 25, 2008 at 10:54 pm

    Huufff..kenapa memilih makanan yang baik saja sepertinya susah?
    Bukankah kadang2 insting lbh harus digunakn drpd fantasi2 dan fakta2?

  32. MyNameIs said,

    June 28, 2008 at 7:06 am

    Hai Mba Dee,

    Mo nanya dong. Bener gak sih kalo mengkonsumsi daging juga berpengaruh pada emosi kita? Khususnya untuk daging merah. Karena berawal obrolan dengan seorang teman, kini saya sedang mencoba mengurangi konsumsi daging merah guna mencapai tingkat emosi yang lebih stabil (baca: tenang).

  33. Trina Tallei said,

    July 4, 2008 at 7:41 pm

    Hi Dee, lama nda ketemu. Well, kemiskinan struktural Wi, orang pada lupa akan hal satu ini. Buat saya, you are what you eat nda ngaruh, yang ngaruh adalah you are what you think, mindset. Immune system bisa di boost hanya dengan mengelola mindset. Remember yoga principle?

    salam,
    Trina Tallei
    trinatallei@yahoo.com

  34. Anonymous said,

    July 13, 2008 at 6:09 am

    Wah ya kembalikan saja ke alam, kenapa sapi diciptakan? Untuk diplototin atau untuk di konsumsi? (menjadi bagian dari rantai/jaring makanan?)

  35. RAMPA MAEGA said,

    July 14, 2008 at 10:15 pm

    Anjing dan kucing vegetarian????
    FYI all, di kampung saya, anjing dan kucing peliharaan terbiasa diberi makan nasi (meskipun kadang sekali2 ditambahin tulang2 ikan sebagai pelengkap). Dengan kondisi yang seperti itu, mereka tetap tumbuh sebagai anjing dan kucing yang normal.

  36. John said,

    July 23, 2008 at 3:51 am

    Dee yang baik,
    membaca topik ini beserta ulasan-ulasan dari dari para pemaca lainnya, aku jadi ingat isi judul buku terbaru “The World without us” tulisan Alan Weisman.

    Stay cool, D!!

  37. Elfarid said,

    July 25, 2008 at 6:42 pm

    Kalau berkenan bisa baca tulisan vegetarian di http://elfarid.multiply.com/journal/item/13

  38. rntxd said,

    July 30, 2008 at 9:16 am

    DEE
    entah bagaimana memulai kata
    ketika semua yang ada di kepala memohon untuk dikeluarkan sebagai yang pertama

    akhirnya sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan sederhana
    yang (semoga) mampu mewakili kompleksitas yang ada

    Hanya ada dua :

    satu
    aku pengagummu

    dua
    boleh aku tau alamat rumahmu sehingga aku bisa mengirim beberapa naskahku untukmu

    Mungkin yang pertama, telah terlalu sering kau dengar sehingga bunyinya hanya serupa desing peluru bagi pejuang
    Sedikit membuat sensasi tegang, tapi cepat hilang karena intensitas yang keseringan

    tapi untuk pernyataan yang kedua
    Mungkin terasa aneh dan terkesan sedikit lancang

    Sungguh
    (kalau aku tidak boleh mengatakan sumpah)
    aku meminta ini hanya karena aku ingin mengirimkan beberapa sampah tulisanku yang ingin (sekedar) kau baca diantara kesibukanmu menguraikan dunia

    Aku berjanji demi roh para pejuang, bahwasanya keingintahuanku ttg alamatmu semata2 hanya ingin berbagi tulisan dan keresahan yang terkadang (baca : selalu) bikin panas demam.

    Dan saya bukan ingin mengirimkan ke penerbit atau perusahaan percetakan, tetapi saya hanya ingin memberikannya pada beberapa orang yang saya kagumi.
    Dan (sayangnya) salah satunya adalah dee.

    jadi,
    jika saja dee tak keberatan, bolehkan saya tahu alamatmu dee?
    Karena saya tak ingin kurang ajar mengorek alamat dari media atau orang, sedangkan aku tak pernah mengetuk pintu rumah yang bersangkutan.

    Semoga atas nama apapun, kau mau menuliskannya padaku
    (walaupun hanya sekedar karena iba melihatku menulis ribuan kata hanya untuk sebuah alama saja
    -kalau ibu guru bilang, untuk upah nulis, katanya-

    just if u dont mind, plis send me an email at
    penjagamonas@yahoo.com

    or u can sms me at
    08128228446

    Aku berjanji demi Bulan yang menemaniku menulis email ini, bahwa aku tak akan memberikan alamat,email atau no hpmu kepada siapapun tanpa seijinmu.
    Aku berjanji
    Karena tak ada yang dimiliki seorang lelaki kecuali sebuah janji untuk ditepati

    mungkin sesuatu yang sederhana bagimu
    bisa berarti besar untukku atau yang lain
    (seperti kepak sayap kupu yang mengakibatkan badai di belahan Bumi yang lain)

    regards
    rntxd

  39. deka said,

    August 10, 2008 at 7:45 pm

    saya memaknai hidup seperti aliran sungai, jangan kawatir, akan tetap mengalir, bagaimanapun kita umat manusia memperlakukan sungai itu, karena aliran sungai akan mengikuti hukum alam, akan selalu begitu…hanya saja, ‘wajah sungai’ yang akan berubah, karena perlakuan kita akan sungai kehidupan.., tapi apapun ‘wajah sungai’ tak ada yang harus disesali,ditakuti,dikawatirkan,dsb.. kita hanya perlu ‘menyesuaikan’ diri dengan wajah sungai itu!
    seperti gelombang, ada pasang naik, ada pasang surut, karena itu hukum alam, ada masa ‘kehancuran’ ada masa ‘kehidupan’, dunia akan menyembuhkan dirinya sendiri, sebesar apapun ‘perlakuan/kerusakan’ yang kita buat, seperti pasang naik, tak akan selamanya gelombang itu pasang naik, akan ada masanya pasang surut, dan pada saat gelombang pasang surut, itu bukan bermakna ‘kehancuran’ tapi itulah hukum alam,.. ‘kehancuran’ memberikan ruang untuk ‘kehidupan’.
    Sama seperti ‘menjadi vegetarian’ akan menghancurkan peternak ini, itu, bla, bla, dee bilang itu khayalan, karena masa depan belum terjadi, tapi mungkin benar, jika kita ‘memprediksi’ bakal itu yang terjadi, stop BBM karena efek rumah kaca akan menghancurkan dunia, dan bla, bla, itu juga mungkin terjadi dimasa depan,
    tapi seperti aliran sungai tadi,..kita tidak perlu kawatir, hukum alam akan membawa kepastian, aliran sungai akan tetap mengalir, hanya saja ‘wajahnya’ yang berbeda..kita atau cucu kita hanya perlu untuk memahami wajah ‘baru’ sungai itu, dan menerimanya, niscaya tidak ada kegelisahan, kekawatiran akan masa depan!
    Coba renungkan..Dua atau beberapa ratus tahun lalu, minyak bumi (BBM), listrik dan mesin belum ditemukan..kehidupan umat manusia selama jutaan tahun, berjalan dengan peradabannya sendiri, sekarang, setelah kemajuan teknologi seperti ini,setelah wajah sungai berubah, apakah kita sanggup membayangkan peradaban tanpa BBM, listrik,mesin?? kenapa kita kawatir BBM habis dari perut bumi?? jika efek rumah kaca terjadi, dan bencana lingkungan terjadi karena rusaknya alam oleh perbuatan maanusia, percayalah, kita akan menemukan wajah sungai yang baru, dan kita..hanya perlu untuk menerimanya..itu saja..

    Penutup: tapi apakah itu berarti kita santai saja melakukan perusakan lingkungan?? Apakah kita sebaiknya menganjurkan vegetarian atau pemakan daging??
    untuk menjawab itu, saya teringat kata bijak Budha, kehidupan seperti memainkan harpa, untuk mendapatkan nada yang merdu, bukan mengendurkan senar terlalu kendur, karena jika terlalu kendur tidak akan ada nada, juga bukan dengan mengencangkan senar sekencangnya, karena jika terlalu kencang tidak akan ada nada…

  40. Lizca Lee said,

    August 11, 2008 at 5:00 am

    Human beings were not meant to consume flesh according to the bible, God allowed people to eat meat only after the flood as not much veggies/fruit plants around after the flood but back then nyaris tidak ada polusi, pencemaran air dan udara, juga penyakit2 hewan seperti yang sekarang ini, jd kalo kita jd vegetarian sekarang ini yah memang sudah naturenya Tuhan ciptain kita begitu, He is our creator, He knows what’s best for us. Tapi yang saya agak concern dengan vegetarian di Indonesia, they relied too much on Tahu and Tempe. On western vegetarian diet, they use variety of beans and nuts too besides fruits and veggies, not just soy beans. Ada 2 teman dekat yang vegetarian menderita asam urat yang lumayan serius, I suspect it’s because they don’t have a balance diet. Salam dari OZ….:)

  41. Peter said,

    August 13, 2008 at 6:32 pm

    hi dee, tulisan ini sangat bagus, saya minta ijin utk di publish di scene “betterday” scene tentang straightedge and Vegetarian dr jogja yg dibuat oleh rekan xNanuxel veganox, saya salah satu kontributor di scene tsb, thanks before.

    XPeterX

  42. BeLcHuNk said,

    August 22, 2008 at 7:26 pm

    hi mba dewi lestari

    aku dan tmn2 GREENCHOOD seneng bgt

    ma crita artikel inii

    jadi ign mengulang kembali

    5 hari di Villa Lagenta Lembang

    :) hehe

    .bella sma 6.
    GREENCHOOD :
    8 siswi program BE THE CHANGE oxfam

  43. yanuar-n said,

    August 24, 2008 at 4:01 pm

    senang membaca refleksi-refleksi di sini. salah satu “kutuk” globalisasi adalah konsumsi yang mengada-ada. itu yang membedakan antara konsumsi dan konsumerisme. salam, y.

  44. ronny said,

    October 1, 2008 at 8:26 pm

    Dee dan teman-teman yg lainnya di forum ini.

    Kita hidup dalam suatu kencenderungan dan dominasi, sehingga menimbulkan mayoritas dan minoritas. Di dunia ini, mayoritas orang utk menggunakan BBM, mengkonsumsi makanan dari bahan daging. Di dunia ini, minoritas orang menggunakan bahan bakar non BBM, mengkonsumsi makanan Vegetarian. Memang, kehidupan dicirikan dengan perbedaan, mayoritas-minoritas.

    Meskipun demikian, kehidupan dicirikan pula dgn Perubahan. Setiap perubahan tentu menimbulkan efek baik positif maupun negatif, oleh karena itu, kita perlu berpikir dan bertindak ‘Bijaksana’. Pada suatu saat BBM di dunia akan mendekati jumlah yang menipis, tentu kita perlu melihat persoalan ini bukan ketika BBM sudah hampir habis, tetapi jauh sebelum itu terjadi kita perlu mengambil sikap dan langkah yg tepat.

    Kita perlu mengubah kebiasaan atau kecenderungan kita untuk mengkonsumsi BBM. Memang benar bahwa kita hidup dalam suatu Sistem atau Pola, tetapi Sistem itu dpt kita ubah sedemikian rupa sehingga mencapai Tujuan yang baru tentu dengan mempersiapkan segalanya. Peralihan dari konsumsi BBM ke konsumsi Non-BBM tentu menimbulkan resiko, misalnya timbulnya pengangguran bagi orang yang bekerja di bidang terkait BBM. Tetapi Energi dapat berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Demikian pula, orang yg bekerja dari satu pekerjaan dapat dialihkan ke pekerjaan yg lain. Jadi, persoalan pengangguran tetap dpt teratasi. Kebutuhan yang bersifat mayoritas dapat digeser atau diubah ke kebutuhan yg bersifat minoritas.

    Intinya adalah bagaimana kita melihat persoalan ini dengan Pikiran yang ‘Bijaksana’. Sekarang ini, Kita memerlukan orang yang dapat menjadi Pelopor Perubahan itu. Jika kita berada dalam kegelapan, tidak ada gunanya kita mengutuki kegelapan itu, lebih baik dan lebih bijaksana, kita mencari lilin untuk menerangi kegelapan itu. Lilin itu adalah Kaum Pelopor.

    Salam
    http://www.ronny-hukum.blogspot.com

  45. Bruno said,

    October 16, 2008 at 8:31 am

    salam,
    kapan anda boleh tampil lagi di media…
    mohon informasinya, karna saya mau dengar lebih banyak…
    dan saudara kita yang lain juga boleh berinterpretasi..
    terima kasih.

  46. yossy said,

    November 27, 2008 at 10:09 pm

    mbak dee, nanti diposting sendiri ya ttg daur ulang sampahnya, plus foto biar jelas.. tq

  47. Agus said,

    January 2, 2009 at 1:05 pm

    Wah, gak sengaja buka blog ini, rasanya seperti menemukan oasis yang menyegarkan di tengah gurun pasir yang gersang. Saya dan teman-teman selama ini juga berjuang menyampaikan masalah global warming dan vegetarian sebagai solusinya melalui blog http://hiduplebihmulia.wordpress.com
    Kami menyediakan beberapa ebook yang bisa didownload gratis disana. Silahkan didownload & semoga bisa berguna bagi teman-teman semua.

    Salam kenal mbak Dee, setuju banget dengan apa yang mbak Dee sampaikan. Kita senantiasa berspekulasi dan melarikan diri dari masalah di depan mata. Dan pada kenyataannya tertutupnya mata dan hati kita sering kali lebih karena lidah yang panjangnya tidak lebih dari 10cm seperti yang dikatakan mbak Dee. Jujurlah pada nurani kita masing-masing, sesungguhnya dengan perenungan yang dalam pada suara hati kita paling dalam, kita bisa menentukan apa yang benar2 harus kita lakukan di saat ini. Saat ini!

    Berhentilah berspekulasi wahai saudara-saudaraku! Perekonomian dan kemakmuran tidaklah ada artinya kalau planet ini hancur! Sudah cukup bukti & fakta yang disampaikan oleh ilmuwan2 dunia, baik dari PBB, NASA, dan banyak lagi dari universitas2 terkenal di dunia lainnya. Jangan tunggu hingga kita mencapai titik tanpa bailk (point of no return) seperti yang dikhawatirkan oleh para ilmuwan tersebut. Saat itu yang tertinggal untuk kita hanyalah penyesalan.

    Terima kasih……

  48. landungsimatupang said,

    January 10, 2009 at 4:47 am

    Halo Dewi! Aku koq jadi kecemplung di situsmu. Wah hebat, usahamu. Salut. Kapan main ke Jogja? Salam hangat.

  49. Nisha said,

    January 25, 2009 at 3:12 am

    Hi Dee…
    Boleh ga tulisan ini dan “Daging Makanan Bergizi Kelas satu, Benarkah?” aku posting di catatan Facebook-ku? mohon konfirmasinya yah? aku ingin banyak orang tahu tentang ini.

    Thx…
    Nisha

  50. MysteryE said,

    March 2, 2009 at 4:21 am

    Dear Dee,
    terima kasih atas postingan yang berharga ini.
    Salam kenal ya, saya mahasiswa DKV BiNus yang sedang menempuh Tugas Akhir demi kelulusan di tahun ini. Topik yang saya angkat adalah kampanye sosial “Mengurangi Makan Daging demi Mengurangi Global Warming”. So pasti berhubungan erat dengan vegetarian.
    Kalau punya ID di kaskus dan kalau sempat, mampir ya di thread ini dan bantu nge-vote juga menjelaskan pada teman-teman yang masih belum mengerti pentingnya mengurangi makan daging demi bumi kita tercinta. :)

Post a Comment