Biyukukung: Saat Alam Menghamili Padi


Minggu ini saya akan pergi ke Bali—ke Ubud, tepatnya. Tempat di mana sawah menjadi bagian inheren dari pariwisata. Penginapan tempat saya biasa menginap juga dikelilingi sawah, yang jaraknya hanya sekian langkah dari teras kamar.

Terakhir kali ke sana, saya sempat menontoni seorang bapak tua membajak sawah dengan bajakan sederhana yang harus ia tarik mengelilingi sawah. Jangankan mesin, pakai bantuan kerbau pun tidak. Sesekali, ia menggemburkan tanah dengan kakinya sendiri.

Sambil sarapan pagi, saya membatin dalam hati: “Kapan pertanian Indonesia bisa maju kalau begini caranya?” Sementara pertanian di Amerika sudah hampir seluruhnya dioperasikan mesin, bapak tua itu masih membajak tanah dengan cara yang barangkali sama dengan para petani seratus tahun lalu. Memandangnya bergerak lamban menyusuri lumpur seolah menyaksikan artefak kuno diarak di Silicon Valley. Sungguh ironis, pikir saya waktu itu.

Saat check-out, perhatian saya tiba-tiba tertumbuk pada satu kata yang tak pernah saya perhatikan, meski saya melihatnya setiap hari, yakni nama hotel tempat saya menginap: “Biyukukung”. Dan saya tergerak untuk bertanya pada sopir hotel, “Beli, Biyukukung artinya apa?” Dia lantas menjelaskan, Biyukukung adalah nama upacara yang dilakukan saat padi “hamil”. Saya spontan tertawa geli. Baru kali itu saya mendengar kata “hamil” diperuntukkan buat padi.

Namun, entah kenapa, konsep padi hamil itu terus mengusik pikiran saya. Setibanya di rumah, saya melakukan riset kecil-kecilan. Dalam sebuah jurnal tentang sistem Subak, yang waktu zaman sekolah dulu saya kenal sebagai sistem irigasi sawah di Bali, saya terhanyut dan tercengang melihat begitu sakralnya sistem pertanian tradisional Bali. Subak bukan semata-mata mekanisme irigasi, bukan sekadar alat tekno-sosial, melainkan pemahaman dasar para petani Bali bahwa pertanian merupakan satu entitas tersendiri yang terajut dengan ekosistem dan spiritualitas. Petani di daerah tertentu akan menyesuaikan perilaku bertaninya bukan hanya berdasarkan kondisi tanah dan air di tempat itu saja, tapi dengan seluruh elemen alam, termasuk nilai religi masyarakat setempat dan para Dewa.

Sekurangnya ada 27 nama upacara yang saya temukan, dari mulai untuk penyemaian benih, menyiangi, pengangkutan, penyimpanan, sampai pengeringan. Setiap upacara berkorespondensi dengan Dewa tertentu yang disesuaikan dengan tujuan dan keberhasilan fase demi fase. Pada fase Biyukukung, misalnya, para petani berdoa kepada Bhatara Surya untuk restu dan perlindungan. Pada fase pengeringan, atau Nedunang Pari, mereka minta restu pada Bhatari Sri untuk proses akhir dari padi mereka. Sebelum dikenal pestisida dan insektisida, hama diusir hanya dengan mantra dan sesajen. Setiap hama memiliki mantra dan sesajennya sendiri; mantra penanganan hama tikus lain dengan mantra mengusir monyet, dan seterusnya.

Penjelasan tentang Subak membuat saya berpikir ulang tentang kesimpulan saya saat menontoni bapak tua di sawah itu. Selama ini kita begitu mengagungkan pertanian modern karena kecepatan dan keberlimpahannya dalam memenuhi kebutuhan manusia. Namun dalam kecepatan itu, kita memutus hubungan sakral kita dengan alam. Tanah hanya tanah. Bibit ya cuma bibit. Padi ya hanya padi. Semuanya adalah alat yang melayani kebutuhan manusia, yang bisa dikendalikan dengan teknis dan mekanis.

Saat kita berbicara soal intensifikasi pertanian, yang kita bicarakan adalah seberapa besar lahan gambut yang bisa disulap jadi subur, seberapa besar volume panen bisa kita genjot, seberapa banyak padi yang bisa kita timbun. Dan dalam prosesnya, entah berapa juta ton racun yang kita kirim ke tanah, dari mulai pupuk kimia hingga pestisida, demi kemakmuran umat manusia. Saat pertanian menjadi masalah mekanis, kita lupa bersimpuh pada alam yang melimpahkan begitu banyak bagi kita secara cuma-cuma. Kita tidak lagi memaknai makanan di piring kita sebagai wujud karya persetubuhan matahari dan air, yang benihnya kemudian bersemayam dalam rahim tanah, tumbuh dan mengandung, untuk kelak kembali ke tanah, menunggu persetubuhan berikutnya antara matahari dan air. Kita lupa bahwa padi pun “hamil”.

Suku Indian di Benua Amerika sangat sohor karena hubungan mereka yang luar biasa dengan alam. Mereka begitu peka, tak cuma pada binatang, tapi juga tumbuhan. Seorang shaman akan pergi hutan untuk mencari obat. Ia tak tahu persis tanaman mana yang bisa berguna untuk kebutuhannya. Ia hanya menunggu tanaman tertentu “berbicara” padanya. Dan sebelum ia petik tanaman tersebut, ia masih menunggu tanaman itu memberi tanda terlebih dulu, mengungkapkan kesiapannya untuk dicabut. Dan sesudah itu, ia berterima kasih pada roh yang bersemayam dalam tanaman itu atas kerelaannya menolong manusia.

Cerita-cerita semacam itu menjadi dongeng bagi manusia modern. Termasuk 27 upacara menanam padi. Petani semi modern di Bali sudah tidak lagi mengandalkan mantra dan sesajen secara eksklusif untuk mengusir hama, mereka kini sudah mencampurnya dengan obat-obatan kimia. Yang bukan petani lebih-lebih lagi, kita bahkan tak tahu betapa beras merupakan bahan makanan pokok yang paling repot untuk diproduksi. Saat kita pergi ke pasar, melihat berkarung-karung beras siap ditimbang dan dibawa pulang… saat kita masak, melihat nasi putih panas yang masih mengepul dalam dandang… saat kita makan, mencampurkan nasi dengan berbagai macam lauk… semua ini menjadi adegan-adegan biasa yang kita jalani setiap harinya tanpa pernah ingat lagi perjalanan Sang Padi.

Mengingat itu semua, saya kembali berpikir ulang. Apakah intensifikasi pertanian satu-satunya jawaban dari kemelut pangan? Mungkinkah kita bergerak lebih dalam dari itu dan melihat bahwa ada yang hilang dalam relasi manusia dengan alam? Dan jika kita pulihkan harmoni itu, mungkinkah kita melihat hidup dengan cara yang sama sekali berbeda? Kita akan berpikir ulang sebelum membuang nasi, sebelum menyajikan makanan secara berlebihan, sebelum makan demi pemuasan dan bukan lagi kebutuhan. Dan upaya kita bukan lagi berdasarkan takut kurang, atau takut dimarahi pihak tertentu, melainkan karena kita memahami dan menghargai alam selayaknya sebuah entitas, bukan alat.

Tidak semua dari kita tahu dan mau tahu soal mantra dan sesajen. Namun saya percaya, alam punya intelijensi luar biasa yang mampu memahami niat dan isi hati kita tanpa batasan bahasa dan cara. Maukah kita mencoba, mensyukuri berkah yang kita lupakan ini, bukan dengan doa yang diucap sembarang karena refleks, tapi dengan setiap kata yang dihayati? Memandang nasi yang kita makan hari ini bak kumpulan mutiara—putih, dan berharga. Memandang mereka sebagai anak-anak hasil perkawinan alam yang telah dilimpahkan pada piring kita, sehingga menjadi gugus-gugus yang membangun tubuh dan jiwa kita.

Saya akan kembali ke Ubud dan melihat sawah di depan teras kamar saya nanti dengan pandangan yang berbeda. Dengan kata dan cara saya sendiri, saya ingin menyempatkan berdoa sederhana: untuk semua padi yang telah hamil demi saya makan, sejak saya di kandungan hingga saya kelak kembali menjadi abu, saya ucapkan terima kasih. Kalian telah menjadi bagian hidup saya, sebagaimana saya pun bagian dari kalian. Maafkan jika saya sering lupa kebenaran itu. Tapi saya percaya, dengan kata dan cara kalian sendiri, kalian tak pernah lelah mengingatkan saya.

* Foto sawah Ubud diambil dari highwaybali.com

48 Comments

  1. didut said,

    June 4, 2008 at 6:21 am

    hmm…memang kita harus selalu belajar terutama dalam hidup yah :D
    saya juga suka bali, emlihat ritual di pagi hari ketika semua orang keluar dan memanjatkan doanya..indah sekali

  2. arimurti.com said,

    June 4, 2008 at 11:55 am

    menghamili? memang Mbak ini kalo milih kata bener2 bikin orang penasaran. Tulisan yang bagus banget. Thanks

    Regards,
    http://www.arimurti.com

  3. ulan said,

    June 4, 2008 at 5:09 pm

    waw.. mbak dee membuat mata ku melihat back stage,
    nice post mbak..

  4. Anonymous said,

    June 4, 2008 at 7:34 pm

    Lah, penggunaan mesin untuk membajak juga menimbulkan dialektika baru bahan bakar, emisi.

  5. Anonymous said,

    June 4, 2008 at 10:04 pm

    Sebutir nasi yang kita makan, butuh sejuta keringat untuk mendapatkannya…

    … demikian juga untuk setiap berkah makanan dan berkah-berkah lain yang kita dapatkan setiap hari dari alam, GRATIS! Bayangkan kalau alam minta kita bayar untuk oksigen yang kita hirup? :)

    Setiap hari kita bisa “tercerahkan” oleh hal-hal kecil disekeliling kita, mari giat mencari…

    Shi

  6. meitymutiara said,

    June 5, 2008 at 7:00 pm

    menghamili padi … mungkin maksudnya ketika padi2 itu mulai ada tunas, eh … mulai ada isinya sebelum menguning.

    foto sawah itu, baguuuuus banget.

  7. mardha said,

    June 6, 2008 at 3:42 am

    GAK AKAN SIA-SIAIN NASI LAGI..
    THANKS YA MBAK..

  8. WeHa said,

    June 6, 2008 at 11:15 am

    Manusia sudah terobsesi dengan hasil. Apa-apa maunya hasil yang cepat dan mudah. Menurut saya, ini semua karena produsen2 mau cepat dapat untung. Jadi segala proses diusahakan secepat mungkin dan semurah mungkin. Pemikiran semacam ini pun merambah ke aspek sosial lainnya. Pendidikan contohnya, menyontek bukan hal aneh lagi. Yang penting lulus ujian. Tapi kita tidak lagi melihat pentingnya proses pembelajaran itu. Hubungan manusia-alam seharusnya adalah simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan. Tetapi martabat sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurnya sepertinya sudah membuat pandangan manusia kabur… Itulah pentingnya kita mempertahankan budaya2 lama seperti yang mbak dee lihat di Bali itu.

  9. realylife said,

    June 7, 2008 at 2:07 am

    mau mengundang untuk mampir di blog saya
    terima kasih
    silahkan mampir di sini
    realylife.wordpress.com

  10. ninzinha said,

    June 7, 2008 at 9:44 am

    hmm
    emang yah, kadang kita lupa betapa kita sama alam sebenernya satu.
    ketika berhenti sebentar untuk mengulik lagi hal-hal yang di take-for-granted, rasanya pencerahan banget!
    posting yang menyegarkan mba!

  11. Made Harimbawa said,

    June 8, 2008 at 2:25 am

    wow… gw yg mengaku orang bali ini mungkin kurang mengapresiasi budaya gw sendiri.

    this posting is an insight! thanks (again) dee..

    suksma,

    M.H.

  12. wisnu said,

    June 8, 2008 at 3:07 pm

    Nice post.. Kita berharap suatu saat pertanian kita bermutu tinggi, agar tidak ekspor beras lagi!!

  13. Adie Does said,

    June 9, 2008 at 1:20 am

    maka dari itu pandai2lah bersyukur
    memasak nasi sesuai kebutuhan, setiap butir beras yang dibeli, setiap butir nasi yang telah matang ditanak memiliki doa yang selalu membawa keberkahan bagi siapa saja yang tidak menyia-nyiakannya.
    Saya jd ingat nasihat nenek dan orang tua saya, bahwa kalau makan dihabiskan, jangan sampai meninggalkan sisa, ntar ayamnya mati. Dahulu mungkin hal itu menjadi semacam ancaman bahwa saya akan kehilangan ayam2 kesayangan saya jika makanan (dalam hal ini nasi) yang saya makan tidak habis.
    Tetapi sekarang saya berpikir bahwa ungkapan tersebut lebih menitikberatkan pada apa yang kita sebut sebagai menghargai sesuatu sesuai dengan makhomnya, menakar dan menimbang bahwa apapun yang ada ada di bumi ini seharusnya mendapatkan penghargaan dan perlakuan yang seimbang sesuai dengan peran yang diembannya di dunia.

    Hanya dengan melakukan hal2 kecil seperti, makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, menghabiskan makanan yang sudah kita beli atau kita masak, mengambil makanan yang jatuh belum terlalu lama, menghidangkan makanan sesuai dengan kebutuhan keluarga merupakan langkah efektif untuk memberdayakan dan menempatkan makanan pada posisinya yang paling mulia sebagai MAKANAN.

    Sebutir nasi yang ketinggalan di piring akan menangis saat dirinya tidak ikut masuk ke dalam mulut, begitu nenek saya selalu bilang. Dan karena seperti saya katakan tadi bahwa setiap butir nasi mengandung doa dan keberkahan (mungkin doa para saat prosesi padi hamil ya mbak ;) ), maka kita tidak pernah tahu bahwa butir nasi yang mana yang mempunyai nilai doa dan keberkahan paling besar. Oleh karena itu, alangkah baiknya memakan makanan (nasi) yang sudah terhidang di piring kita tanpa meninggalkan sebulir pun.

    Mari kita mulai dari hal yang kecil ,dari piring yang biasa menemani kita setiap makan, untuk lebih menghargai betapa berharganya SEBUTIR NASI.

  14. andelumut said,

    June 9, 2008 at 6:04 pm

    Another nice post from kak dee =)

  15. ab69dotcom said,

    June 10, 2008 at 10:33 pm

    aku sangat menyukai tulisan2mu
    salam kenal dan semoga saling mengunjungi

  16. PieTeR said,

    June 12, 2008 at 2:02 pm

    Membaca post ini membuatku menjadi “lapar”..

  17. fallissa ananda putri said,

    June 13, 2008 at 1:49 am

    this is so off topic. but i don’t know where else i can reach you.
    supernova, how do you survive?

  18. zen said,

    June 14, 2008 at 5:24 am

    seharusnya istilah “padi hamil” itu ndak gitu mengejutkan krn dalam cacah jiwa dan kesadaran banyak budaya di nusantara, padi memang berasal dari dewi sri. kisah ini ditemukan di banyak sekali tempat, dg berbagai variasinya, tentu saja.

  19. Chuang said,

    June 16, 2008 at 6:58 am

    Dalam kehidupan kita, ada banyak orang-orang dan hal-hal yang sering tak nampak dan tak disadari karena saking biasanya. Tanpa mereka semua, kita tidak ada.

    Saya senang masih ada sawah asri yg bisa difoto di Bali. Tetapi tampaknya dari pengalaman sehari-hari saya sebagai orang Bali, saya kuatir pemandangan indah spt ini akan menjadi semakin langka dari hari ke hari.

    Tapi untungnya sudah ada orang-orang yg juga prihatin dan sadar dan terutama melakukan tindakan nyata. Mbak Dee pernah ke Desa Wisata Kertalanggu, di tepi jalan by pas Tohpati Dps? Itu semua komunitas persawahan yg dikelola swaasta demi tujuan melestarikan persawahan Bali. Profilnya pernah dimuat di Kompas. Asyik juga, ada jogging track melintasi persawahan.

  20. sisesu said,

    June 16, 2008 at 10:26 am

    sebuah fenomena yg selama ini tidak pernah terlintas dalam pikiran saya. karena di canada tidak dijual beras dari bali, saya musti menelaah ttg perjalanan padi di thailand donk ya? apakah sudah spt yg dibilang de kalau padi modern sudah diracuni fertilizer dsb. jgn2 saya harus beralih ke roti……
    nice post de, as always.

  21. harun_motivation said,

    June 22, 2008 at 7:49 pm

    wah bagus sekali, tulisan nya begitu komplit sehingga aku jadi tahu tentang sesuatu yang ada di bali, ia sih aku mestinya baca sekali lagi and belajar, and berdoa. makasih Mbak tulisannye, salam perkenalan dan tetap melakukan keindahan buat alam agar meninformasikan kepada kite-kite. harun dethan/motivator

  22. idlehead said,

    June 25, 2008 at 10:47 pm

    Hari ini saya belum makan, Mbak Dee. Mau nraktir ga?:p

  23. Oggy said,

    June 26, 2008 at 11:27 pm

    Ternyata istilah hamil padi juga bisa ya? Dewi aku ijin link blog nya dipajang di blogku ya :) salam SMA 2

  24. muhammadamrul said,

    June 30, 2008 at 11:09 am

    nice post….

    jadi pengen ke bali :D

  25. ayaw_jeweltz said,

    June 30, 2008 at 9:43 pm

    saya belum pernah ke Balil, tapi dari tulisan mbak, saya ga hanya bisa merasa indahnya bali dalam imajinasi saya, seperti yang saya inginkan…kedamaian yang saya impikan, kesederhanaan yang mengayakan jiwa….

    tapi saya juga sadar bahwa padi telah “hamil’ untuk kita semua, tanpa pernah merasa takut “los” ato takut “ga kenceng”…

  26. Anonymous said,

    July 1, 2008 at 1:39 am

    “Memandang nasi yang kita makan hari ini bak kumpulan mutiara—putih, dan berharga.”

    Wah bagus sekali kata2nya, terutama kalimat di atas, andai jadi lagu merdu, bisa mengiang-giang …ingatin kita untuk arouse our gratitude for this tiny & yummy padi (lagi laparrr nih..) yang berasal dari jasa orang-orang yang bahkan belum kita kenal/ ketemu, yang telah berjasa tuk hadirkan si padi sampai ke piring kita, di manapun belahan dunia kita berada.

    It’s very amazing to be reminded that even from this tiny little cute ‘padi’ we can see the contribution that involve so many people (pahlawan tanpa jasa).

    Tulisan Dewi bukan hanya bagus, tapi berisi, dan menjadi inspirasi… (mungkin kamu pernah jadi’Dewi’ but spesialis di nulis yang inspire2…ha..ha)

  27. titik said,

    July 1, 2008 at 2:56 am

    Baca tulisannya Mba’Dee sy ingat masa kecil saya,jauh di pelosok jawa tengah dmn alm.nenek saya menyebut padi sbg ‘mbok sri’Sebelum padi di potong,ada upacara namanya Wiwit(bhs jw artinya awal) utk memboyong mbok sri ke rumah.Ada kaca, sisir utk berhias juga nasi urap yg enak sekali ditambah satu potong ayam.Teman2 sy yg jarang makan daging akan menunggu setia dg perut keroncongan hingga upcr berakhir.indah.

  28. Jooliet said,

    July 1, 2008 at 11:27 pm

    jadi pengen pulang ke rumah nenek yang sejengkal bisa nemu sungai, 100 meter dari rumah bisa nemu sawah, 1 km bisa nemu pantai. jauh dari bising server, mobil dan semua polusi udara.
    jadi sadar klo my body and soul Really need to detox.

  29. menapakihidup said,

    July 2, 2008 at 7:45 pm

    mBak dewi,
    minta comment bwt coretan2ku dunk..di blogku yap. pliiissss…
    cerpen ma puisiNya aj deh..

    http://menapakihidup.wordpress.com

  30. novel. said,

    July 5, 2008 at 12:08 am

    hmm.
    saya pengen ngritik kalo ada pemikiran indonesia yang pengen “jadi” kayak negara2 modern. menurut saya, indonesia emang begini,,dengan semua kultur, hal-hal mistik, daerah-daerah yang masih terbelakang, dan lain-lain.

    liat aja Jakarta, yang statusnya “lantang-luntung” sebagai kota metropolis.. segala hal yang tradisional sebaiknya dipertahankan, dilestarikan..itu kan identitas kita sebagai negara Indonesia..

    saya bukannya menentang modernitas, tapi kalo modernitas justru “memakan” identitas, saya lebih memilih tetap jadi tradisional. jangan sampai “iming-iming” kemudahan membawa kita makin terpuruk dan terseok-seok, seperti jakarta.

    kalau saja di bali semuanya sudah pake mesin,,pasti semua ritual-ritual indah itu akan hilang bukan?

    bahagianya kita jadi warga negara indonesia..begitu kaya.. :)

  31. Budhy said,

    July 6, 2008 at 12:03 am

    Jadi Inget ama perkataan salah satu guru saya, Beliau mengatakan bahwa “Kata siapa Alam ini Diciptakan Hanya Untuk Manusia”, Lalu Beliau berkata lagi “Manusia ini Hanya sebagian yang kecil dari Alam Semesta”, jadi Hiduplah sejalan dengan alam, Jaga Keseimbangan alam semesta untuk kepentingan semua makluk….. Terima Kasih Yach Kak Dee…
    May All The Best Come To Us All… May All Beings Be Happy

  32. Anonymous said,

    July 6, 2008 at 9:10 am

    ‘Jika tidak pecah ruyung di mana boleh mendapat sagu’ jika tidak bekerja keras bagaimana bisa mendapat hasil. Jika tidak belajar bersukacita memberi sukacita, memberi sehingga denyutnya sealami napas padi dan Bumi, bagaimana akan mengerti surga itu sesungguhnya telah diletakkan Tuhan di hati bahkan sebelum kita lahir di sini. Indah sekali uraian pepatah di paragraf penutup blog ce Chai Yen-jalankenari.blogspot.com (Cintaku Namanya Bumi)..langsung aku copy paste! btw, telingaku barusan langsung tegak waktu dengar di tv sebut angka pitu..angka sakti yang sengaja dipilih karena pitu dalam suatu acara pernikahan adat keraton Jogja dari tradisi kejawen. sontak inget dua ’manusia pitu’ yang saya jumpa kemaren malam di Soma Yoga. Ce Chai yen dan Ko Eddy, keduanya lahir pada tanggal 29 September (saya 30 september lo, makanya saya selalu ikutan merasa sakti kan cuma beda tipis, lahir subuh pula..konon semua Avatar lahirnya subuh..maksa banget seh,hihi), sama-sama jam tujuh. Satu jam tujuh pagi, yang lain jam tujuh malam. Saya jadi teringat pada Dee, angka pitu juga punya pesan sakral dalam perjalanan spiritual Dee.
    dalam salah satu posting lain ce cy menulis…
    Kupu-kupu (Mycalesis sp) beginian mudah banget dijumpai di sawah. Tiap kali lewat pematang waktu di Jogja, pasti ketemu. Sorean malahan suka ketemu yang lagi kawinan. Hanya hari ini (Senin kemarin) menjadi sedikit istimewa. Gara-gara pitu, tujuh itu, angka sakti kata Cing mengutip khazanah Jawa, yang punya anak namanya pitulungan. Artinya pertolongan. Bantuan. Uluran tangan. Sayap belakang Bushbrown itu, setelah aku hitung-hitung, ternyata plekK punya tujuh eyespot! ‘Ada-ada aja,’ gitu Ananta sering berkomentar. Kenapa bukan sayap depan yang eyespot nya ada lima. Dua gede, tiga kecil. Hayoo

    Ya namanya juga dihubung-hubungkan. Meski aku rasa dia datang untuk membantuku, seperti Cing yang tanpa disadarinya membantuku menemukan Lewis Thomas

    tak abis2 koinsidensi kalo connect ama ce cy, eneeeeng ae,hehe…
    sing penting aku tak pernah jera membujuk dua ‘manusia pitu’ ini untuk mengalah pada suratan yang telah digariskan dalam darah kelahiran mereka kali ini, untuk menjalin dan merajut sekian, sekian, sekian jembatan hati dengan aksara, aksara hati.

    salam,
    dari yang telah memilih jalannya
    ~pertapa freelance~
    alias
    ~pertapa penegak aksara~

    chindy;)

  33. nindy said,

    July 7, 2008 at 1:03 am

    keren,
    ritual semacam itu mengingatkan saya untuk selalu bersyukur sekalipun itu hal yang paling kecil yang terjadi di kehidupan sehari-hari…

  34. Anonymous said,

    July 10, 2008 at 9:10 pm

    kapan supernova nya keluar lagi mbak..saya nunggu2 banget..
    huhu..
    sukses yaaa..

  35. eviwidi said,

    July 10, 2008 at 9:55 pm

    Tulisan yang berarti banged, teringat aku selalu minta maaf pada makanan-ku kalo aku gak bisa menghabiskannya karena udah kenyang.

    Waktu itu aku gak tahu kenapa aku harus minta maaf, tapi ada semacam dorongan dari hati kecil ‘You have to say it’. Entah siapa yang mendorong.

    Tapi setelah membaca ini, aku sepertinya sudah tahu siapa yang mendorong….

    Thanks ya Mba’ Dee..

    -Evi-

  36. mercy said,

    July 11, 2008 at 3:10 am

    Aduh mbak, koq cerai sih. Apakah mau jadi biksuni?

  37. ipk4cumlaude said,

    July 11, 2008 at 11:02 am

    Wah tulisannya bagus banget Mba.
    Tuntutan ekonomi kapitalis telah menjauhkan rasa-rasa kehidupan.
    Salam kenal, Mba.

  38. rinie said,

    July 12, 2008 at 7:17 am

    kau memang slalu membuatku jatuh cinta pada tulisan2mu mbak…

  39. faisal_415z said,

    July 13, 2008 at 2:16 am

    Good Job…… lam kenal aj buat mbak dewi….

  40. pipiet said,

    July 13, 2008 at 10:28 pm

    Bukannya menjadikan wadah ini sebagai ajang ngegosip bersama, tapi terus terang aku prihatin dengan kabar perceraianmu.Bagiku selama ini kamu adalah sosok yang ideal. Apakah terlalu sulit berkompromi dengan suamimu dibanding kompromimu dengan alam selama ini? Bukankah konteksnya serupa tapi tak sama? Ah, tapi jawabanmu untuk pertanyaan ini memang bukan konsumsi publik. Aku akan sangat senang sekali jika kamu mau menjawab pertanyaan ini. Baik via pribadi atau lewat situs ini. Tetap “hidup”, dee…

  41. AriEs said,

    July 16, 2008 at 11:49 pm

    Di pinggir dan belakang rumah saya di Nagreg terhampar luas pesawahan yang hijau. Berhubung daerah Nagreg juga berundak (we all know lah, tanjakan dan turunan curam), pembajakan disini juga tidak dikerjakan oleh kerbau ataupun mesin (sulit untuk membawanya).

    Saya menikmati ’siklus pertanian’-nya. Mulai pembibitan, pembajakan (bukan piracy he he) sawah, penamanam benih, lalu para petani hampir tiap hari datang-pergi untuk menunggu padinya agar tidak dicuri burung-burung, hingga akhirnya padi menguning (mungkin setelah dihamili :) )dan dipanen. Berulang seperti itu hampir 3-4 bulan sekali. Jika panen sudah selesai dan sawah ditinggalkan sementara, rasanya sepi karena nggak denger teriakan-teriakan petani ngusir burung. Itu terasa seperti mekanisme silaturahmi. Hal itu berbeda ketika saya tinggal di Yogyakarta. Di mana sawah dibajak dengan mesin yng membuat telinga warga sekitar sawah pekak.

  42. faizz said,

    July 24, 2008 at 1:12 am

    thanks dee sudah mengingatkan kita semua

    untung kalau saya makan nasinya selalu habis, tapi pernah juga beberapa kali dibuang gara-gara napsu makannya lenyap tiba-tiba, hehehehe….maap kan daku dewi sri….

  43. adit said,

    August 3, 2008 at 6:34 pm

    wow..

  44. vikawisnu said,

    August 4, 2008 at 10:48 pm

    Kebetulan saya half balinese. bapak saya Bali asli dan saya nggak pernah tinggal di Bali… hihihi… tapi di keluarga kami tertanam keyakinan, bahwa segala sesuatu itu hidup, sekalipun tampaknya tidak bernafas. Semua benda bisa bertabiat, berlaku dan berperasaan sebagaimana manusia. Berada dalam keyakinan ini harusnya membuat pikiran jadi liar dan membuka peluang kita untuk lebih cerdas secara verbal. Kisah-kisah seperti Mahabharata, Ramayana membuktikan itu. Sebagaimana Anda juga bisa menceritakan kembali, memetik sari patinya sehingga menjadi kisah yang inspiratif dan menyejukkan.
    Demikianlah, DIA memilih salah satu saja dari kita untuk menjadi ‘penterjemah’ tanda-tanda Kekuasaan-NYA bagi yang lain.

    Semoga Maha Suci Ia memberkati Anda.

  45. Raja Faizal Maradona said,

    August 7, 2008 at 8:06 pm

    salam kenal. ummm… mungkin comment saya terkesan tidak baik, tapi sebenarnya adalah sebaliknya. akan saya coba sebaik mungkin.

    sebelumnya, saya adalah mahasiswa tingkat akhir IPB. saya sangat tertarik dengan penulisan anda. terutama mengenai meditasi, spirit, atau konsep apapun mengenai kedekatan dengan alam dan tuhan secara langsung, tidak melalui sebuah simbol.

    saya sedikit tergerak melihat tulisan anda mengesai moderenisasi pertanian. saya sendiri malu sebagai mahasiswa pertanian memiliki kontribusi yang sangat kecil bagi pertanian indonesia. ada beberapa hal penting mengenai sulitnya moderenisasi petanian di indonesia:
    1. tanah petani yang berpetak petak kecil. traktor tentu sulit untuk selalu berpindah pindah dari tiap petak2 kecil itu (bisa dilihat dari gambar anda)
    2. memiliki kemirihan lahan yang cukup besar. setahu saya slope kemiringan tidak boleh lebih dari 10%.
    3. anggapan petani bahwa a) traktor akan lebih mahal daripada tenaga manusia. oke, akan murah jika menyewa, tapi sedikit sekali jasa penyewaan seperti itu di negeri kita ini. (pemerintah pernah memberikan traktor kepada kelompok tani di beberapa daerah. tapi, petani tidak diberi penyuluhan mengenai perawatan dan pemakiannya. salut…) b) mengurangi lapangan pekerjaan. mungkin karena mereka menyangka tenaga kerja buruh tani (buruh tani terkadang-bahkan seringkali berbeda dengan petani)akan digantikan oleh mesin. untuk penjelasan ini akan cukup panjang.
    sebenarnya ada beberapa faktor lain yang menyebabkan sulitnya moderenisasi pertanian di indonesia. namun yang saya sebutkan diatas adalah isu yang sudah lama menjadi problem pertanian indonesia.

    mengenai berbicara dengan tumbuhan, saya menemui beberapa mandor di kebun teh melakukan hal yang serupa. kebetulan saya melakukan praktek lapang di sebuah perusahaan perkebunan dimana komoditas utamanya adalah teh. mereka percaya bahwa tanaman yang dihargai akan memberikan timbal balik yang positif bagi perusahaan. aneh… hehehe…

    maaf jika terlalu panjang dan bersifat menggurui.

    regards,

    faizal

  46. Lenny Chaniago said,

    August 11, 2008 at 7:42 pm

    Tulisannya mencerahkan dan cukup detil.
    I wish I can learn something more from your blog…
    Something that bring my life become alive…

  47. Camar Letih said,

    August 21, 2008 at 5:40 pm

    Tulisan lo ngingetin gw sama cerita Bokap gw, beberapa tahun yang lalu. Beliau bercerita, bahwa pada zaman kakek buyut gw (yang kebetulan justru Bokap gw sempat mengenal beliau juga karena rentang usia Bokap gw yang juga sudah lumayan sepuh, sekitar sembilan puluh tujuh tahun!) padi masih diolah dengan “upacara” yang cukup sakral. Diawali dengan ritual tertentu sebelum proses penanaman padi, dst. Tapi yang paling menarik buat gw adalah tentang apa yang terjadi di sekitar ritual yang dilakukan sebelum proses panen padi dilakukan. Beliau, kakek buyut gw itu, akan berdoa dan “memohon” kesediaan dari Dewi Sri, agar merelakan padinya dipanen. Bukan. Bukan ritualnya yang menarik, melainkan bahwa banyak tetangga beliau pada saat itu, yang sudah meninggalkan tradisi semacam itu, namun anehnya adalah bahwa hasil panen yang diperoleh oleh kakek buyut gw, selalu yang paling melimpah, dan hampir tanpa gangguan dari hama. Dari situ gw berfikir, barangkali kita memang mesti bersahabat dengan alam, menselaraskan diri dengannya, karena biar bagaimanapun, kita – mau gak mau – akan selalu hidup berdampingan dengan alam, di bawah naungan kekuasaan Yang Maha Kuasa. Buat gw, alam sama saja dengan tetangga, saudara terdekat yang dapat kita mintai pertolongan saat kita kesusahan, teman terdekat yang dapat kita bagi kesenangan saat kita mendapatkan kesenangan, dan lain sebagainya. Jika kita tidak dapat bersahabat dengan alam, sama saja dengan kita tidak mau akur dengan tetangga kita sendiri. Bayangkan sendiri akibatnya…

  48. bicarasamaawan said,

    August 26, 2008 at 11:30 am

    wah! blackberry!!!
    :D

Post a Comment