July 16th, 2008 at 4:44 am (Uncategorized)
Catatan Tentang Perpisahan
Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.
Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti.
Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.
Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.
September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran.
Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell, menikah, dan seterusnya. Fate, atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.
Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, “memaafkan” tidaklah identik dengan “pengembalian situasi ke kondisi semula”. Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, juga Marcell, dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan.
Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.
Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.
Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.
Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya”, seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis.
Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya.
Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep “kecuali”.
Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima kasih untuk semua. Kami pun tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai keputusan kami. Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari Anda kecewa. Saya juga mengerti begitu banyak yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha, mempertanyakan usaha kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan keputusan ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan “kemarin sore”. Kita semua tahu keputusan bercerai adalah keputusan yang besar. Intinya, terima kasih atas perhatiannya, dan mari kita kembali urus diri masing-masing.
Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi dari beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem, karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi. Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan sebagai buah upaya kami yang nyata karena semua orang sibuk mengedepankan pertunjukan teater versinya masing-masing. Apa pun yang saya katakan, pada akhirnya selalu dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini si penulis naskah. Itulah yang akhirnya membuat saya dan Marcell lebih banyak tertawa sendiri, pers hiburan rasanya seperti servis sosial di mana kami mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka, bukan lagi berbagi kebenaran. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau.
Hari ini, saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan (Fitriawan Ginting – RED). Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk “mengubur masa lalu”. Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk mengepas “gambar realitas” ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan.
Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang menjadi pengadilan tak resmi. Ada banyak nama yang disebut, dispekulasikan, dan sampai didiskreditkan. Orang-orang yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan privasi. Sekalipun dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami berpisah bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu, mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat saya. So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”. Lucu. Yang menjalani saja santai-santai, yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain. Jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini.
Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.
Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.
Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.
Salam,
~ D ~
wuzun_fly said,
July 19, 2008 at 5:21 am
Sejak tanpa awal semua insan sudah berpijak pada garis batas sendiri-sendiri, mengapa malah berbicara ttg perpisahan yang seolah2 sudah pernah bersatu?
Anonymous said,
July 19, 2008 at 5:38 am
Ketika seseorang hendak menikah..tolonglah..bahwa hal tersebut adalah bertambahnya tanggung jawab .. bukan fasilitas..fasilitas yg baik-baik didapat dari pernikahan..semua berasal dari pernikahan yg didasari dengan niat tulus… dan pernikahan adalah suatu perjanjian dengan Maha Kuasa bukan antar manusia…
Antown said,
July 19, 2008 at 8:58 am
maaf, mbak Dee. saya baru tahu nih kalo ada musibah seperti ini. Saya turut bersedih. Semoga cahaya di depan bersinar kembali
Ifa said,
July 19, 2008 at 10:17 am
Agree, memaafkan adalah menerima kondisi apa adanya.. nggak saling menyalahkah satu sama lain, berdamai dengan kenyataan. I think it will easier..
Sandy Widianto said,
July 19, 2008 at 12:43 pm
Dewasa dan rasional, mungkin dengan perpisahan bisa membuat mbak dee tersenyum
ceashop said,
July 19, 2008 at 1:01 pm
sorry to say…
saat saya membaca tulisan yang panjang ini.. cuma ada satu yang langsung terbesit di pikiran saya.. ini adalah sebuah pembelaan yang baik secara sadar maupun tidak sadar Anda berikan.. pembelaan untuk semua orang yang menyalahkan Anda atas kejadian ini.. dan sebuah pembelaan untuk hati kecil Anda yang turut merasakan kesedihan ini..
Apa mau dikata.. Smua sudah terjadi.. Tapi bisa dengan lantang saya katakan.. Apapun alasannya.. Ini adalah suatu tindakan yang salah.. Yang terpenting bukanlah apa yang menjadi penyebab berakhirnya suatu hubungan.. Namun apa yang menjadi penyebab berakhirnya usaha untuk mempertahankan suatu hubungan..
Sudah waktunya? Sudah pasti bukan itu.. Karna selama kita masih mencintai pasangan hidup kita.. Bahkan kematianpun tak bisa menghapuskan rasa cinta yang ada dalam hati kita.. Lalu apa yang membuat kita tidak lagi bisa mempertahankan suatu hubungan? Sudah pasti karna itu adalah emosi sesaat yang terjadi.. Saya rasa Anda hanya perlu sedikit waktu untuk kembali mengingat betapa besar rasa cinta Anda kepada pasangan Anda.. Sebelum Anda memutuskan untuk mengakhiri segalanya..
Semoga sebuah kisah yang saya tuliskan ini bisa membuka hati dan pikiran Anda mengenai pergelutan apa yang sebenarnya terjadi dalam diri Anda..
Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.
Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen.
Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian. “Mengapa?”, dia bertanya dengan terkejut. “Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan” Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan
akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?”.
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya:
Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?”
Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”
Hati saya langsung gundah mendengar responnya
Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan….
“Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya.”
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Sayamelanjutkan untuk membacanya.
“Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya bias membantumu dan memperbaiki programnya.”
“Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.”.
“Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu.”
“Kamu selalu pegal-2 pada waktu ‘teman baikmu’ dating setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.”
“Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi ‘aneh’. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.”
“Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.”
“Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu”.
“Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.”
“Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu.”
“Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu, aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.
“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya.
Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu.”
“Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu.
Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”.
Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.
Karena cinta tidak selalu harus berwujud “bunga”.
Anonymous said,
July 19, 2008 at 9:35 pm
Dee,
mungkin banyak dukungan yang tertulis di sini, tetapi tidak termasuk tulisanku.
Kejujuranmu menulis kubalas dengan kejujuranku… boleh kan?
Semakin panjang argumenmu, semakin jelas kamu menulis tentang pemikiran-pemikiranmu, semakin jelas menunjukkan kegagalanmu, Dee….
Maaf…
Kuperhatikan,
tidak sekalipun terlihat kerendahan hatimu di hadapan pembaca yang setia mengomentari blogmu, tidak juga kerendahan hatimu di hadapan Marcell yang pernah sangat kaucintai, tidak juga kerendahan hatimu di hadapan Keenan buah hatimu, apalagi kerendahan hatimu di hadapan Tuhanmu.
Maaf Dee…
Mungkin kamu memang tidak perlu jadi martir buat keluargamu,
atau martir buat sahabat-sahabatmu,
tetapi pikirkanlah untuk jadi martir buat Keenan…
Gali lebih dalam di kedalaman hatimu…
Apakah tidak ada keinginan untuk itu?
Jikalau saja masker di pesawatmu tidak berfungsi, apakah kau akan memakai parasut dan menyelamatkan diri terlebih dahulu, baru setelah itu kau akan menggapai-gapai ke arah Keenan? Menurutku itu tidak ada gunanya Dee….
Dee,
aku selalu menghargai kamu,
selalu setia membaca blogmu,
menyukai caramu menulis,
tetapi itu semua tidak membuatku setuju dengan semua pikiranmu…
Mengacu pada prinsipmu yang selalu terbuka untuk berubah,
kuharap untuk hal inipun engkau mau berubah Dee….
Salam manis…
Yeni
Anonymous said,
July 19, 2008 at 9:51 pm
Berita percerain mbak dee lah yg paling malas saya tonton d tv,mjalah,dan lainnya.. Cz mereka pasti 'based on stories not the truth', &karena saya yakin mbak punya alasan sndiri..mski bg org lain trlalu filosofis.
Life goes on,mbak..!
natazya said,
July 19, 2008 at 10:15 pm
saya sangat setuju dengan bagian di mana dibilang kita tidak akan pernah bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri merasa bahagia…
Yap! Saya selalu memegang teguh prinsip ini!
dan memang… jangan pernah menjadikan anak sebagai alasan untuk apapun, apalagi suatu pembenaran yang belum pasti juga benar… pernah terpikir tidak sebagai anak yang orangtuanya tidak jadi bercerai hanya karena dirinya, tapi dalam rumah yang dengan kedua orang tua yang utuh tidak ada kebahagiaan sama sekali di dalamnya?
saya berTuhan… saya yakin dee juga berTuhan… dan bagaimanapun perpisahan adalah pilihan… dan keputusan… sekalipun ada yang bilang berarti tidak mampu menghadapi ujian, toh yang menjalani diri sendiri dengan segala konsekuensi yang sudah pasti sudah siap diantisipasi ^_^
saya baca ini dari link di blognya temen siaran… ah… asupan yang bagus di hari minggu!
GOODLUck in ur everyway
bagaskara said,
July 19, 2008 at 11:14 pm
with a cup of cofee i write this comment..
dee…
being to be death body is an option not givent from God, i feel that and i chose that way…
death isn’t ending process for our life, i belieuve it is one of many way to get WISDOM…to get many hapyness…
i realy hope God is still up there,…and smile
-Che_
Goklas Tambunan said,
July 19, 2008 at 11:19 pm
Sebuah ‘hak jawab’ yang menarik. Awalnya aku kecewa atas keputusan kalian. Tapi aku pikir, kalian berdualah yang paling tau apa yang terbaik buat kalian. Mudah-mudahan bukan hanya kalian berdua, bertiga dengan Keenan.
Satu yang mengusik pemikiran saat membaca ‘hak jawab’ ini, benarkah Keenan adalah busur? Karena [terus terang terprovokasi oleh Gibran], bukankah Keenan hanya anak panah? Dee dan Lae Marcell adalah busurnya. Bukankah kalian berdua yang mengarahkan dia akan dilesatkan kemana? Maaf, kalau kesannya menggurui. Mungkin karena aku belum terlalu memahami analogi anak panah dan busur, atau analogi busur, yang Dee pilih. Salamku buat Lae Marcell, Keenan dan keluarga besar kalian berdua.
mitra w said,
July 20, 2008 at 12:20 am
kok saya keblenger juga baca komen2nya si Etfu yaK? ya sudah laah, ini udah pilihan seorang dee lestari, kalo terima ya ambil hikmahnya, kalo gak setuju gak perlu mekso. Perceraian bukan akhir sgala2nya.
Saya penggemar karya2 mba, berita ini sama sekali ga akan menghilangkan respect saya thdp karya2nya mbak dee…
Well, banyak setuju juga dengan pendapat mbak. Memang kebanyakan kita tuh menetapkan standard yang harus sama, padahal kapasitas kita beda2..
Anonymous said,
July 20, 2008 at 12:49 am
Lucunya kita tidak saja bisa belajar dari tulisan awal mbak Dee, tetapi juga dari keberagaman komentar para pengunjung blog ini. Saya menemukan beberapa benang merah yang menarik, kalau boleh ingin berbagi.
Pertama, reaksi biasanya bermuara pada penilaian, dan penilaian yang kita buat tergantung dari sistem nilai yang kita lekatkan.
Bagi mereka yang secara sadar maupun tidak , melekatkan makna BURUK pada perceraian, dan makna BAIK pada pernikahan, maka dengan akurasi mendekati 100% kita bisa meramalkan bahwa nuansa reaksi adalah sedih, menyayangkan, kecewa, bahkan menuduh mbak Dee sedang memberikan pembenaran maupun pembelaan.
Bagi yang melekatkan makna BURUK pada pernikahan, dan makna BAIK pada perceraian, mungkin karena pernah mengalami atau menyaksikan betapa kehidupan seseorang paska perceraian menjadi lebih baik, maka umumnya akan bereaksi penuh dukungan sepenuh hati terhadap keputusan Dee.
Bagi yang mengerti bahwa sebenarnya penilaian BAIK maupun BURUK sebenarnya tidak pernah absolut, namun tergantung dari situasi unik yang dihadapi setiap individual, maka mereka cenderung tidak menentang, juga tidak mendukung, namun sekadar mengakui bahwa hidup ini memang penuh misteri dan konsekuensi, dan justru lahir rasa menghargai yang jujur pada pilihan setiap orang, termasuk Dee, yang pada dasarnya juga mencari kebahagiaan jiwa.
Tulisan Dee bisa saja dilihat sebagai pembenaran / pembelaan, kalau anda BERASUMSI bahwa dia menyimpan niat bahwa ingin diakui pilihannya bercerai benar. Tetapi bagaimanapun juga siapa yang tahu niat hati seseorang? Sampai kapanpun juga, ini tetap tergantung dari ASUMSI pembaca terhadap tulisan Dee.
Tulisan Dee bisa juga dilihat sebagai pelurusan salah paham, yang tentu niatnya adalah menuntaskan komunikasi yang sebelumnya salah dimengerti. Dalam niat seperti ini, targetnya bukan lagi diakui orang lain bahwa pilihannya benar, namun sekadar ingin dipahami maksud sebenarnya. Namun ironisnya, bila inilah sebenarnya niat Dee, maka inipun tidak mudah dicapai selama pembaca tulisan ini masih menggunakan asumsi dasar bahwa Dee ingin dianggap benar.
Jadi apa kesimpulannya? Kita semua punya pilihan. Anda bisa berasumsi bahwa Dee ingin dianggap benar, lalu bereaksi berdasarkan sistem nilai Anda sendiri. Bila jalur ini yang Anda tempuh, sadari bahwa Anda sedang tidak membaca dengan jeli, karena perhatian Anda terbias dengan ASUMSI Anda sendiri tentang apa yang ingin Dee sampaikan.
Atau pilihan lain, berusaha melepas kacamata asumsi Anda, membaca ulang tulisan ini, dan memetik pelajaran hidup yang bisa kita petik dari pengalaman orang lain, tanpa harus kita jalani sendiri sebuah pengalaman perceraian.
Atau pilihan lain, pahami saja bahwa inilah perjalanan seorang Dewi Lestari, inilah kebenaran yang dia temukan. Ini tidak harus jadi perjalanan Anda, referensi Anda, atau kebenaran Anda. Kita semua punya peta pembelajaran masing-masing, dan melihat perjalanan orang lain barangkali berguna sebatas untuk melatih diri kita agar bersyukur dan berhening.
Tuhan punya cara yang misterius dan tidak bisa diprediksi tentang bagaimana pelajaran disuguhkan kepada setiap individu. Saya, Anda dan juga Dee tidak berhak menilai secara absolut, barangkali kita hanya berhak punya sudut pandang sendiri yang tetap kastanya relatif.
Selamat Dee atas kejujuran dan keterbukaanmu berbagi pengalaman hidup, semoga kamu bisa memetik yang terbaik.
Anonymous said,
July 20, 2008 at 1:02 am
dee….sorry ini saya yang dulu dan sudah lama sekali tepatnya pada tahun 1997 – 1999 sering berkomunikasi entah melalui telepon atau diskusi langsung, terutama tentang permasalahan yang saya dalami hingga saat ini, yaitu tentang HIV/AIDS & Napza bahkan saya pernah meminta dee untuk menjadi narsum dalam sebuah seminar untuk remaja.
mendengar berita tentang rumah tangga anda, agak tersentak juga tapi saya yakin dengan kekuatan, pilihan serta ketegaran dee..
karena anda bukan seorang yang cengeng, dan ketika memilih sebuah pilihan, sesulit apapun pilihannya dee…akan tetap teguh dengan pilihannya.
maaf kalau saya salah, keputusan ini mungkin hampir sama dengan pilihan dee, ketika memutuskan untuk konsentrasi dalam dunia penulisan, dan pelan-pelan mengurangi atau menarik diri kegiatan di dunia tarik suara
tapi sesulit apapun, dan sekeras apapun kecaman masyarakat atau penggemar dee dan marcel, saya yakin dee tegar & kokoh,
semoga tuhan bersama mu…
dian novita subrata said,
July 20, 2008 at 2:34 am
mbak dee, ini dian, one of 3 girls in the kosan dulu.
cukup terkejut mendengar berita ini, tp bukan ini yg mau saya komentari.
tulisan mbak dee bagus sekali, keseluruhannya.
bukan, saya bukan pendukung perceraian, tapi yg paling saya percaya, bahwa kebenaran yang dipegang tiap orang itu relatif.
ttg perumpamaan emergency di pesawat saya jg pernah membaca sebelumnya, dan setuju sekali.
ini hidup mbak dee, mbak dee yg paling tau mana jalan terbaik yg mau mbak dee jalanin.
so, nevermind with people thinks or what they say. they just think, say, and see from what they want to see.
smoga mbak dee selalu bahagia dan bisa semakin menikmati hidup yg sedang mbak jalani ini.
dan terus menulis ya, terus menginspirasi orang lain dengan tulisan2 mbak dee.
salam buat keenan yg lucu sekali.
ndut said,
July 20, 2008 at 2:45 am
mba dee,
sebagai orang yang juga nggak suka ngurusin orang lain, saya senang membaca posting ini. sebuah cerita tanpa maksud konfirmasi, tapi melegakan dan tidak menyalahkan.
saya satu pandangan dengan mbak dee, dan susah rasanya menjelaskan kepada orang lain bahwa “utuh”, adalah diri kita. bahwa itu bukan “egois”.
saya sampai di satu titik dimana saya tidak ingin lagi mencoba menjelaskan pola pikir saya kepada orang lain. kalau ngerti, syukur. kalo enggak, tidak perlu juga ngurusin.
last, semoga dengan ini mbak dee bs mencapai keutuhan itu.
salam!
Gitar said,
July 20, 2008 at 5:43 am
kebanyakan orang tidak mengerti apa yang terjadi dalam diri orang yang memiliki tingkatan mental tertentu.
Mempertahankan kesadaran seperti itu di dalam dunia serba terbalik apalagi dalam sorotan media bukan pekerjaan mudah.
Ini seperti meladeni banyak orang yang sedang menghisap energi positif Anda.
Mau kembali ke gunung?
kkyn said,
July 21, 2008 at 8:23 am
saya melihat tulisan ini sebagai ungkapan sisi emosi seorang wanita yang berusaha membungkusnya dalam kain logika filosofi..tetapi bagaimanapun juga kita semua bisa melihat isi dalamnya..tidak bisa disembunyikan..
oiya, mbak dee, sebenarnya kebahagiaan seperti apa yang dicari? atau kasarnya apa yang mbak cari dalam hidup ini? saya tiba-tiba penasaran..
*bad habit euy..:p
robby said,
July 21, 2008 at 8:28 am
Sebelumnya aku pengagum berat karya2 novelnya Dee nih. Setelah membaca ‘pembenaran’ dari kisah perceraian Dee ini kok saya ngerasa dee sangat…sangat…self oriented banget ya?? Mohon koreksinya kalo keliru, atau itu hanya perasaan saya saja?? Dan seolah2 berkata, karena saya merasa tidak bahagia sudah lah kita cerai saja?? Trus, bagaimana masalah nasib anak kita nanti, biarlah jgn terlalu dipikirin, nanti juga anak kita nemu jalannya sendiri. Kasarnya seperti itu nggak ya? atau mungkin gaya ‘penuturan’ dee yang terlalu ‘tinggi’ hingga pemahamanku yg salah…mohon maaf sebelumnya, bukan maksudnya menghakimi. Karena sy setuju tiap orang berhak untuk menentukan jalannya sendiri2, cuman sy kurang sreg aja…dengan sesuatu yg ‘dibungkus’2x…klo’ dee mau cerai…monggoooo….itu haknya, tapi tidak perlu dengan melakukan pembenaran disertai justifikasi2, yang malah menunjukan betapa self oriented dan egoisnya Dee. Mohon maaf klo kesannya seakan menghakimi…
gadisbintang said,
July 21, 2008 at 11:05 am
ah, saya pikir, salah satu alasan mengapa komentar negatif muncul adalah karena si empunya komentar kecewa, mereka tidak berhasil menemukan pencitraan ideal – hasil konstruksi sosial yang melekat erat – yang ingin mereka lihat: hidup sempurna dengan perkawinan bahagia.
dan label “gagal” pun mereka sandangkan. padahal, siapa yang berhak memberi stempel usang macam itu? tak seorang pun.
menutup mulut dan telinga kadang memang jadi pilihan paling tepat.
Dewi Lestari said,
July 21, 2008 at 12:30 pm
Yep. Goklas benar. Maksud saya dalam konteks ini adalah “anak panah”, bukan “busur”. Terima kasih untuk koreksinya. Teks posting akan saya ubah.
Regards,
~ D ~
Anonymous said,
July 21, 2008 at 3:05 pm
Mo ikutan komen, mumpung gratis he2…
Kalo pernyataan “Segala sesuatu ada masa kadaluarsanya” diganti jadi “Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi” beda ga ya komentar2 orang?
Hahahaa… *Whatever!*
Satu hal yang menurut saya penting (kalo menurut yang lain ga penting yah terserah aja).
Saya SETUJU SEKALI dengan komen dari “Anonymous ke-3″ di tgl 20 Juli, s/he said:
“Bagi yang mengerti bahwa sebenarnya penilaian BAIK maupun BURUK sebenarnya tidak pernah absolut, namun tergantung dari situasi unik yang dihadapi setiap individual, maka mereka cenderung tidak menentang, juga tidak mendukung, namun sekadar mengakui bahwa hidup ini memang penuh misteri dan konsekuensi, dan justru lahir rasa menghargai yang jujur pada pilihan setiap orang, termasuk Dee, yang pada dasarnya juga mencari kebahagiaan jiwa.”
Kalo saya maaah….Pusing2 amat mikirin hidup orang, mikirin hidup sendiri aja udah pusyiiinggg…
Nah lho, egois donk diriku ini… Auk ah!
(Yang jelas saya sadar, kapasitas saya sebagai manusia itu sangat terbatas)
Mba Dewi, kalo boleh saran sih… Tidak perlulah digubris komentar2 yang tidak sepaham dengan dirimu, atau tutup aja kolom Komentar, BERES!
Oya, saya masih penasaran sama Supernova, dan saya rasa bukan cuma saya yang masih setia menanti…
So, ENJOY YOUR LIFE, Mba Dewi! And I’m sure you are doing it in your own way…
[SPASI] said,
July 21, 2008 at 3:14 pm
Dewi ..
Seperti yang kamu mengerti, bahwa kita hadir dibumi ini karena Tuhan.
Ada hal-hal yang tidak bisa kita atur .. seperti
Kita hadir di bumi ini sebagai apa .. wanita, orang indonesia, suku batak dan seterusnya.
Saya juga percaya bahwa Tuhan juga yang mengarahkan kamu menjadi Penyanyi dan akhirnya Penulis buku.
Untuk hal ini Tuhan tidak bodoh menentukan keinginanNya tersebut dengan memaksa umatNya.
Saya percaya Tuhan menciptakan dunia ini penuh keteraturan, siang-malam, hujan-panas dan seterusnya .. semuanya harmonis.
Begitu juga dengan ..keluarga, Tuhan menciptakan keluarga sebagai alat untuk menciptakan keharmonisan itu .. lihat-lah pohon dari buahnya. Berapa persen anak yang dilahirkan dari keluarga harmonis menjadi baik?
Semua itu pilihanmu .. memang hal yang jahat akan terjadi .. tetapi sebaiknya kita tidak mengambil bagian darinya.
akang said,
July 21, 2008 at 7:05 pm
Punten …
Numpang beropini
Saya setuju bahwa yang abadi adalah perubahan, termasuk pada seorang Dewi Lestari. Entah sehari, seminggu, setahun yang akan datang setelah membaca ‘masukan’ dari para komentator, kemudian ngedit postingan “…sebenernya gw nyesel neh..sori gw waktu itu masih emosi lai, …eh gw mau rujuk neh ama Marcell…pan ane dah bilang manusia bisa berubah coi..”
“Don’t take it seriously…this is my blog, if you don’t like it…please press Alt+F4…”
–intermezzo ah ti babaturan smp2 baheula —
Anonymous said,
July 21, 2008 at 8:17 pm
Saat individu tidak lagi menemukan bahwa perkawinan adalah suatu kebahagiaan maka wajarlah Ia memilih perceraian. All about the choice. Kalau dee memilih jalan ini dan siap dengan segala konsekuensi nya, itulah pilihan bukan lagi benar atau salah karena itu sesuatu yang tak berujung.
Tetap menulis ya Dee-dengan kerendahan hati tentunya karena menurut Sang Buddha:
“Begini Atula, ada satu perumpamaan bukan hari ini sahaja mengatakan: yang diam disalahkan, yang berbicara banyak juga disalahkan, bahkan yang berbicara sedikit pun disalahkan. Di dunia ini tidak ada orang yang tidak disalahkan”
me said,
July 21, 2008 at 10:11 pm
cuma mau menyampaikan support ~ selesai.
be well ya =)
Anonymous said,
July 21, 2008 at 11:18 pm
hanya satu alasan orang bercerai:
pernikahan!
there is only one thing people getting divorced: marriage!
glory h suryandari said,
July 21, 2008 at 11:33 pm
Mbak Dewi yth,
Sudah tiba waktunya saya mampir setelah sekian lama membaca buah fikiran mbak.
Yang terbaik untuk mbak dewi selalu, do’a dari saya, selalu.
Anonymous said,
July 21, 2008 at 11:50 pm
Dee/Dewi, bersyukurlah kamu, karena semua care sama kamu, dengan semua memberi comment berarti mereka care sama kamu n keluarga, tapi sayangnya kamu tidak mau berpikir untuk orang lain.
sepertinya itu yg harus kamu isi untuk hatimu, untuk keutuhan hatimu.
all the best 4 u
Enna said,
July 22, 2008 at 1:57 am
Hi Dee,
Cepatlah menjadi “Penuh” agar bisa “memenuhi” yang lain.
Cepatlah menjadi “Utuh” agar “keutuhan” bisa cepat dibagi.
Cepatlah menjadi “Bahagia” agar yang lain juga ikut merasa.
All the best for You and Marcell.
salam sayang buat Keenan.
Luv
Enna
shanty ida simanjuntak said,
July 22, 2008 at 2:09 am
Dee: Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti.
Kalau pertanyaannya dibalik: Apakah Keenan bisa memilih dee dan marcel sebagai orangtuanya? Apakah Keenan bisa memilih untuk terlahirke dunia dan akhirnya harus melihat dan merasakan kepedihannya atas orangtua yang berpisah? semoga dee bisa menjawabnya!
panda said,
July 22, 2008 at 2:14 am
Dee..
Tulisan yang menarik, yang membuat banyak pro dan kontra bagi orang-orang yang membacanya.
Banyak sekali yang bisa dipetik manfaatnya dari semua tulisan kawan-kawan yang pro dan yang kontra.
Saya hanya ingin sharing saja, inti dari semua pro dan kontra yang terdapat dalam blog ini adalah ” Cara pandang mengenai sesuatu” ; kebetulan beberapa hari yang lalu saya jg memperoleh manfaat dari seseorang yang lebih tua mengenai point ini. Intinya adalah setiap orang memiliki cara pandang sendiri-sendiri terhadap sesuatu.
Jika ada 6.5 milyar penduduk ini mempunyai cara pandang masing-masing terhadap sesuatu yang mereka anggap benar, maka semua orang merasa dirinya benar, tidak ada seorangpun yang berhak menyalahkan seseorang.
Pada waktu pertama kali saya membaca tulisan Dee, saya jg menganggap bahwa itu adalah pembelaan atas ego Dee sendiri, tetapi setelah saya membaca semua komentar yang masuk, dan jawaban-jawaban Dee… rasanya pikiran menjadi terbuka, bahwa kita tidak boleh menyalahkan/menjudge seseorang atas tindakannya ,.karena seseorang berpikir/bertindak melalui cara pandang mereka sendiri-sendiri,. kita harus bisa menghargai itu
nona tria said,
July 22, 2008 at 4:18 am
pukpukpuk
salam untuk keenan dan marcell
oktober ke mendhut lagi ga mbak ?
thebutterfly said,
July 22, 2008 at 8:43 am
dewi hanya manusia … biarlah dia menjalani prosesnya dan kita menjalani proses kita masing-masing …
dee, apa makna kebahagiaan bagimu? apakah berkorban untuk orang yang kita cintai membunuh keutuhan kita untuk bahagia atau menopang makna kebahagiaan seseorang ?
thanks…
richard si pendosa said,
July 22, 2008 at 10:20 am
Seorang pemenang bukan seorang yang tak pernal gagal. Seorang pemenang adalah seorang yang tak pernah menyerah.(ELC)
Bahkan matipun bukanlah akhir dari segalanya. Tatap saja semuanya dengan mata tajam dan membelalak sambil menegakkan kepala menantang badai yang sedang berhembus kuat. Layaknya rajawali yang semakin terbang tinggi di kala angin semakin berhembus kuat.
Dan pastilah, ada oknum yang memang sanggup memberikan kekuatan ekstra itu.
Keep the faith, dee! God, is always be there for you.
ahead said,
July 22, 2008 at 6:54 pm
Sebenernya saya dalam posisi gawat akan ada kemungkinan berpisah, makanya saya datang kesini untuk cari jawaban kenapa mba’ dee keliatan ringan untuk menerima perpisahan saat di infotainment.
Sebaliknya saya masih menginginkan orang yang saya rasa akan berpisah ini… sulit banget….
tapi dengan segala rasa sakit di hati, mungkin memang ada kalanya kita tidak ditakdirkan bersama dengan seseorang yang kita inginkan…
saya berjuang mati-matian untuk mempersatukan kita, tapi keadaan sosial, perbedaan keyakinan spiritual, kesukuan, itu yang memisahkan…
fakta yang ada sekarang memang, kebahagiaan diukur dari kebahagiaan semua orang dan panggapan semua orang yahh… bukan kebahagiaan pasangan itu…
(**sigh)
Wish I was as ready as you… as prepared as you
novi said,
July 22, 2008 at 7:51 pm
Dee.
aku dapat blog ini dari bangwin.aku sangat ingin bil thanks dan ingin nulis personal letter kenapa aku bil terima kasih. bisa tahu alamat emailmu?
Love and Light
Widya Dwi Setyawati said,
July 22, 2008 at 8:43 pm
Dee…
Saya termasuk yang menyayangkan episode perpisahan kalian. Tapi setelah membaca tulisan ini, saya yakin segala sesuatu yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan ikhlas maka jalannya akan dipermulus.
Layaknya menyaksikan orang yang mati dalam keadaan “khusnul khotimah” maka keluarga yang ditinggalkan tidak akan menangis dalam kepedihan tapi akan mengikhlaskan kepergiannya menghadap Tuhan Sang Pemilik Hidup.
Dee..
good luck and keep the faith yach…
Rivan Dwitantra said,
July 22, 2008 at 10:27 pm
Nggak tau deh apa yang harus aku katakan. tapi jika aku membaca ini bersama istriku, pasti dia berkomentar “jangan diresapi dalem-dalem, nanti kamu punya pikiran yang sama lagi”
Anonymous said,
July 22, 2008 at 10:29 pm
Mbak Dee yang baek,
Saya menghargai pendapat dan keputusan mbak.
Hanya saya punya ego yang pengen saya tuang disini.
Bagi saya sendiri, pernikahan adalah sakral karena dalam pernikahan kudus ada yang mengikat kita yaitu janji kita kepada Allah untuk setia sampai mati, dalam keadaaan (apapun) susah dan senang. So dalam membina sebuah Rumah Tangga dari awal kita sudah tahu konsekuensinya.
Tentang kebahagiaan itu dari dalam diri kita sendiri itu benar adanya, karena kebahagiaan itu bisa kita peroleh dengan merubah cara pandang kita.
Bisakah kita yang menyukai durian merasa bahagia/senang saat diberi apel? bisa. Karena jika kita mau coba memandang dari sisi lain seperti misalnya, kita tidak suka apel, tp saat kita tahu bahwa apel itu diberikan dengan rasa kasih sayang oleh orang yang kita cintai, pastilah kita merasa bahagia. Jadi bukan masalah suka dan tidak suka, tapi bahagia adalah bagaimana kita bisa merubah cara pandang kita dan menjadikan diri kita bahagia.
Percayalah mbak Dee, Tuhan sumber kekuatan akan memberi pertolongan dan pengharapan bagi kita yang mau berseru kepadanya.
Anonymous said,
July 23, 2008 at 12:01 am
ya ampun..
If I were you, I wouldn’t bother explaining myself to a bunch of strangers. YOU live YOUR own life, YOU ARE the one who feels what you feel. Not other people. So why should you care about what others think and say . IMO There’s no need to go justifying your actions.
Anonymous said,
July 23, 2008 at 3:14 am
Hi Dee,
Saya termasuk salah satu pengagum tulisan2 kamu. Pertama dengar berita ini, kaget juga.
But i think everyone have their own life, which we can;t judge from the surface, as long as we had tried our best in every circumstances, so we won't regret when we look back. The rest maybe just accept and pray….. put it all on the path…
As no body perfect! But lies behind the imperfection, selalu ada beauty yang tersimpan. Time will reveal it. Just try our best as Dee did .. be positif! Will always help us see the bright side.
Changes sometimes also bring hope. A company/ a person that can't adapt with the changes or stay the same all the time, its mean death had approached…
Kita sendiri juga…
Coba bayangkan dari jaman batu, bersikeras tidak mau berubah, mana bisa kita berkesempatan mendapat inspirasi2 dari blogmu ini.
Every day we are die & reborn again, our old cell die and change to the new one (dimana ini hasil reseach dari science), or otherwise we will still be the same size as the size of a baby when we were initially born. So changes are natural, just part of our life. Accept, learn and move forward!
We are so skillfull and natural in become a judge for others, even without a court & sometimes without wanting to know what really happen to other, (tidak terkecuali saya sendiri yg masih belajar), kadang lebih tertarik sama opini kita sendiri, tanpa berusaha untuk mengerti terlebih dahulu atau mencoba mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya.
We think we are always the right one! Which "benar" bagi tiap orang maybe beda, tergantung konsep dan pendidikan kita atau all the things that we perceive/ influence us during our life time. But the worst is we always thinks our views are the most correct one ( or if perlu mutlak/ tidak boleh di ganggu gugat, gaya ini bisa di pakai di jaman batu, dimana memang kayak batu kaku, kaga gerak2 ), and we think we have the right to judge others, according to what we think as right. And then start argue with others, and finally continue with a fight and then a war.
This is why so many wars happened without an ending.
The wars ( or the same with peace as well) start from when a family can't live in harmony. And after that to tingkat RT and RW, and then maybe an etnic, perangin etnic lain (which is so silly, cause we judge and merasa orang lain dan kita beda, hanya karena selapis kulit tipis dimuka, dimana abis di kupas… sebenarnya semua sama, padahal 'sorry' tahi…tahinya aja juga sama) and the worse a country, which is so stupid and silly, to kill and destroy other, out of ignorance (berpikir kamu dan saya beda, karena itu kamu harus di hancurkan) and bring so much suffering, in the name of … to protect what is right/ truth.
In a war no body is right! Which may be hard to accept by some, but we can see the result proof that: both parties are suffer from the consequences. Improvement come from a sincere communication between both.
We can't deny that every child/ everyone want to live in a harmony family, with both dad and mom together… But i had seen thru right with my eyes, in order to follow what society/ others think what is right. They also suffer alot within the family. Both parents try to pertahankan so hard or be together, and nearly everyday can't avoid from argue or fight/ have a perang dingin.
To be a child yang tumbuh dengan kondisi family seperti ini, it's a suffering, like a living hell…(And i am sorry have to say this), but this is the truth, some child that live in this kind of family, sometimes even wish that "they are not alive." As they maynot have the capacity to cope/ to deal with.
Result: a lot of the child also grow up ke arah yang tidak benar, some may choose never want to get married. As some child remaja/ saat gede (either karena broken home or parents keep argue/ fight yang intinya tidak di perdulikan ortunya yang sibuk urusan masing2) may do all sort of things that bring negative effect to society & damage diri mereka juga.
But it doesn't mean kita encourage divorce, semua kembali tergantung circumstances tiap orang, just try our best in all situation & made the decision in accord with the circumstances at that time, it's enought.
Even divorce (as Dee said but we still remember our responsibility), which could be to nurture/ give the child love and taking care of them, let them know that as a parent, you will always be there whenever they need you, it is crucial for the child.
So married or divorce, or what ever we do…Janganlah hidup karena hanya mengikuti apa yang masyarakat say 'its right, it's wrong'… tidak ada kebenaran yang fix untuk satu hal, setiap kondisi pasti punya keadaan yang beda.
Just try our best with good motivation. Selama masih hidup/ masih bernafas, pasti masih ada harapan, betapapun susahnya hidup! So just do everything the best we could and pray. The rest just let it be…
Oh btw, Dee wartawan yang terbitin, justru pasti dia juga maybe ada struggle dengan karirnya, otherwise he won't do it if he is a profesional one, and not every wartawan are like that. Even maybe hard to find a good one, but wartawan juga manusia yang "just wanting happiness, don't want suffer", But out of ignorance, they go to the wrong way thinking of they are heading to the way that bring happiness, which actually not, jadi out of that … just arouse your compassion for them, biar kaga bikin connection untuk keep meeting them again in the future in an unfavorable way. Tiada sesuatu tanpa sebab, ada bertemu ada 'jodoh'/ cause.
Btw ada juga wartawan yang bagus, yang bekerja sebarin info ttg justice/humanity atau tulisan bermanfaat kayak gua ha…ha (bercanda kok) Take care… bye
DW
endangcinta said,
July 23, 2008 at 3:39 am
bukankah selalu akan ada saja org yg berbicara ttg kehidupan yg kita jalani, dan kita bisa memilih dan memilah utk mendengarkan yg baik dan tidak baik…….apalagi seorang publik figur, sudah konsekuensinya jika lbh luas dibicarakan org.
jadi … terima saja semuanya, semua komentar itu….pasti emosi, apalagi ketika kita sendiri jg sedang mencari justifikasi utk setiap yg kita lakukan…..
yanu said,
July 23, 2008 at 6:43 am
Mungkin sudah terlambat, mungkin juga tidak akan dibaca oleh Dee, tapi tergelitik saja untuk menulis ini setelah ada rekan wanita di tempat kerja mengirim tulisan Dee:
Dee bilang bahwa perpisahan akan terjadi apabila sudah sampai waktunya . Itu cuma kata-kata panjang dari sebuah kata sakti yaitu takdir. Tapi saya sejalan dengan Dee soal ini, apa ada di dunia ini yang tidak ditentukan takdir ?
Karena seperti takdir-takdir lainnya kita tidak pernah tahu apa takdir untuk kita sampai saatnya datang, maka kita perlu berusaha dengan maksimal agar perpisahan itu tidak terjadi
Tapi kalau dikatakan bahwa perpisahaan itu adalah takdir, maka KDRT dan lain-lain adalah gejala, saya berseberangan dengan Dee dalam hal ini. Analogi Dee agak tidak tepat.
Perpisahan adalah akibat (rasa sakit), KDRT dan lain-lain adalah sebab (virus flu), pertengkaran hebat, luka fisik adalah gejala(batuk). Bahwa tidak semua KDRT berakibat pada perceraian bisa jadi karena usaha yang berhasil dari kedua belah pihak dan tidak berpisah (seperti juga berpisah) adalah sebuah takdir.
Lantas menganalogikan mempertahankan kebahagiaan seorang anak karena hubungan orang tua yang utuh dengan prosedur mengenakan masker oksigen saat keadaan darurat di pesawat terbang adalah membuat analogi yang lagi-lagi tidak mengena.
Kebutuhan akan oksigen adalah mutlak sedangkan kebahagian adalah sesuatu yang relatif (Dee menulis tentang hal ini juga bukan ?). Memang betul seseorang harus penuh terlebih dahulu sebelum bisa memenuhi orang lain, tapi apakah kebahagian seorang ibu mutlak menjadi kebahagian sang anak ? Jawabannya belum pasti. Bagaimana seorang anak menjadi bahagia pastilah suatu hal yang kompleks dan apa yang membahagiakan seorang ibu belum tentu membahagiakan sang anak, terutama untuk jangka pendek. Sang ibu bisa saja bahagia karena tidak lagi harus berkompromi tentang banyak hal setelah perceraian dengan suami, tapi hal itu belum tentu membahagiakan sang anak
Pertanyaannya adalah apakah kompromi yang kita buat demi mempertahankan hubungan suami istri itu terlalu besar?
Itu membawa kita untuk berbicara apakah dasar sebuah hubungan. Pada akhirnya dasar sebuah hubungan dapat direduksi menjadi mutual benefit with a certain mutual sacrifice. Benefit bisa jadi sesuatu yang sifatnya abstrak ataupun yang sifatnya sangat nyata. Demikian pula halnya dengan sacrifice. Agar sebuah hubungan menjadi langeng maka perlu sebuah usaha berkesinambungan agar terjadi keseimbangan antara benefit dengan sacrifice tersebut. Masalahnya tentu adalah seberapa besar ego kita berbicara dalam mencari keseimbangan antara benefit dan sacrifice.
Jadi sebenarnya kalau mau bicara takdir, seluruh proses hidup yang kita jalani ini adalah sebuah takdir. Termasuk bagaimana kita bisa belajar dari sebuah kejadian yang baru saja berlalu.
Apakah kita mau belajar atau sekedar mengatakan itu adalah takdir ?
Dee, tulisan ini akhirnya buat saya pribadi terasa seperti sebuah usaha “pembelaan” dari ulasan media infotainment. Padahal mungkin “pembelaan” seperti ini sama sekali tidak diperlukan.
Sorry kalau kepanjangan…….
Weny's Kitchen said,
July 23, 2008 at 7:30 am
Saya bangga dan salut kepada Dewi. Bangga karena Dewi sudah mampu selangkah lebih jauh dalam memahami hidup (Dewi), dan mampu menuangkan pikiran-pikiran tersebut ke dalam tulisan. Salut, karena Dewi sudah bisa memerdekakan diri dari belenggu keraguan, ketakutan, kekhawatiran, serta mampu mengambil keputusan dan tindakan dengan yakin dan sadar. Ini yang langka tidak dimiliki banyak orang.
MAsih terngiang di telinga saya ketika seorang bijak (yang juga seorang suami & bapak dari seorang istri dan beberapa anak) berkata, "Pernikahan hanyalah diatas kertas semata". Saya terhenyak mendengarnya, penuh tanda tanya, dan baru memahaminya setelah setelah saya menikah. Cinta tidaklah cukup untuk memelihara sebuah pernikahan, namun usaha keras untuk memelihara lentera kebahagiaan sejati masing-masing individu yang terlibatlah yang menjadi kuncinya. Pernikahan yang sejati ada di dalam hati kita. Dan betapa nistanya tatkala kita berpikir, berucap, dan bertindak tidak selayaknya seorang istri/suami sejati. Atau manakala kita harus membohongi diri sendiri dengan hidup dalam kepalsuan.
Bagi beberapa, memahami dan sadar bahwa pernikahan adalah sebuah panggilan dan tugas dari Tuhan, merupakan salah satu cara untuk mempertahankannya. Namun sungguh, pernikahan bukanlah lakon mudah untuk ditarikan.
Selamat kepada Dewi yang mampu memutuskan dan bertindak dengan yakin dan sadar. Semoga diberi kesempatan bertemu dengan si dia yang mampu membantu memelihara kebahagiaan sejati Dewi. Salam.
novi said,
July 23, 2008 at 8:47 am
Apapun pilihan Mbak, saya yakin Mbak dee pasti udah siap dengan segala konsekuensi nya, saya salut sama pemikiran mbak tentang perceraian, yang saya yakin tidak semua orang termasuk saya bisa bersikap seperti Mbak Dee…
Best Regards
Mustika said,
July 23, 2008 at 8:53 am
Salut kepada Dee yang selalu berpikir positif dan selalu belajar tentang makna dan nilai kehidupan.
Saya suka dengan novel2 Dee; juga seminar yang dibawakan Dee, memberikan banyak pencerahan kepada saya.
Apapun keputusan yang sudah diambil, semoga kebahagiaan selalu mengikutimu.
Jurist said,
July 23, 2008 at 4:39 pm
It feels terribly cliché to leave a comment like this, but I agree with all your points regarding God, relationship and happiness, so just know that there’s at least one person beside you and Marcell who sees where you’re coming from.
And though I know you understand this point as much as I do, I thought you could use another person saying: oh well, you can’t please everyone. You’ve tried your best explaining your thought process –and, indeed, it’s difficult to find other explanations as thorough and as well-thought out– so if others still disagree, too bad. Mo diapain lagi.
P.S. I’m sure with parents as wise and thoughtful as you and Marcell, Keenan would be fine. I wish all three of you well.
veronica said,
July 23, 2008 at 5:37 pm
Dee..
Saya bisa memahami apa yang Dee rasakan. Hanya diri kita sendiri yang bisa menentukan kebahagiaan kita sendiri (tentunya tanpa merugikan orang lain). Kita juga tidak pernah tau rahasia Tuhan yang telah dibuat untuk diri kita.
Saya hanya bisa mengucapkan selamat karena Dee berani membuat keputusan besar dalam hidup Dee, semoga banyak kebahagiaan yang Dee peroleh dalam hidup ini (semoga kebahagiaan itu dapat dibagikan juga kepada Keenan dan Marcell-sebagai sahabat).
GBU
-V-
~Dewi~ said,
July 23, 2008 at 7:02 pm
Setiap orang berhak untuk bahagia, gak terkecuali kamu Dee. You deserve it!
Kalau cinta sudah ternodai, teraniaya, tersakiti… menurut aku ga ada gunanya juga diterusin, just wasting time.
Untuk apa menjalani hidup dengan kepura-puraan? pura-pura bahagia padahal makan hati, diluar tersenyum dalam hati menangis, dsb. I hate everything fake!
Im proud of you… kamu perempuan yg tau apa maumu. Tough, open minded, dan berprinsip. cmiiw
Dun care what people say dear, just follow your heart. Karna bahagia atau tidaknya kamu, depend on you!
Good luck for ur new beginning life n GBU!
ViS said,
July 23, 2008 at 9:00 pm
Dear Dee..
Saya salut kpd anda berdua, yang berhasil mematahkan belenggu “kemelakatan”…
mungkin dikehidupan “lampau”, kalian berdua bukanlah suami istri, tapi hanyalah guru dan murid..yg begitu dekatnya, hingga bertemu lagi pada kehidupan sekarang sebagai suami istri…
Yah..memang sudah waktunya…hubungan karma sebagai suami istri harus berakhir…
Semoga kalian semua berbahagia
Anonymous said,
July 23, 2008 at 11:38 pm
mbak dee,
kasih atau versi mbak dee “ego” saya memaksa saya untuk juga ikut berkomentar disini. benar bahwa setiap orang memiliki pendapat dan pandangannya sendiri sendiri. orang boleh bicara apapun, tapi coba kembalikan lagi ke hati yang terdalam, dan temukan jawaban terjujur disana. seringkali jawaban nurani yg terdalam itu adalah suara Tuhan. namun karena EGO kita sebagai manusia, ditambah segenap fakta fakta pendukung seperti KDRT, tidak bahagia dsb-nya,..membuat kita lebih cenderung membenarkan keputusan yang lahir dari EGO pribadi. sebagai perempuan, saya ragu mbak Dee setegar gambaran yg mbak tuliskan..saya yakin dalam hati terdalam juga banyak pertentangan. sedikit bercerita, saya lahir dan dibesarkan dikeluarga yang SANGAT miskin yang ibu saya sejak saya kecil mengalami banyak KDRT berat berkali kali bahkan terjadi didepan mata saya. bapak saya seorang pemalas yang kurang bertanggung jawab dan sering melakukan kekerasan thdp istri dan anak anaknya juga. dan bahkan yang terparah kekerasan yang beliau lakukan thdp saya. kalau saya tuang semua disini, terlalu panjang dan mungkin terkesan dramatis, tapi itu kenyataan dan fakta yang saya alami. duluuu sekali, saya SANGAT membenci bapak, dan berharap saya punya suami tidak seperti beliau. saya juda duluuu tidak mengerti kenapa mama tetap bertahan. sama bingungnya seperti banyak orang lain yang juga mempertanyakan hal yg sama pada ibu saya. ibu saya pernah mengalami hamil muda dipukuli sapu, lebam lebam dan keguguran, bleeding,..DI DEPAN MATA SAYA.itu hanya salah satu KDRT yang dilakukan bapak terhadap ibu. banyak yang lainnya. sampai satu waktu ketika usia saya kira kira 14tahun, saya tanyakan pada ibu kenapa bertahan sampai detik itu terhadap bapak, karena memang sama sekali TIDAK ADA ALASAN untuk beliau bertahan.SAMA SEKALI TIDAK ADA. ibu saya selalu menjawab dgn senyum dan bilang, Tuhan tidak pernah salah memilihkan orang, kelak dewasa, kamu akan tau jawabannya. ibu saya selalu dan tetap menghormati bapak. dan beliau terus mengajar kami untuk menghormati bapak. seiring saya bertambah dewasa, dan menemukan pribadi Tuhan yang saya sembah, yang mengajarkan saya untuk mengasihi dan mengampuni secara total. sekarang saya SANGAT mengasihi bapak dan berdoa bagi beliau. saya sudah melupakan dan menganpuni semua yang bapak lakukan dimasa kecil saya, dan saya sudah mampu bilang pada beliau bahwa sayang sangat mengasihi bapak. hubungan kami dipulihkan. hubungan bapak dan ibu juga pulih. demikianpun saudara saudara saya. Dan lewat teladan ibu saya, saya jatuh pada satu kesimpulan, bersama Tuhan, seperti yang dilakukan ibu dalam hidupnya, apapun dalam hidup bisa kita lewati, yang pada akhirnya, teladan ibu saya juga mengakar pada anak anaknya untuk toleransi terhadap pasangan dan mengasihi sebagaimana adanya dia, pernikahan jadi ajang pembelajaran dan pendewasaan karaker yang sama sekali TIDAK ADA MASA USANGNYA terkecuali maut yang memisahkan. AKAN SANGAT LAIN ceritanya kalau dulu ibu saya memilih berpisah dgn bapak, maka keluarga kami, saya dan saudara saudara saya, juga mungkin akan bertumbuh dgn cara dan pandangan hidup yang jauuh berbeda dari apa yg kami punya sekarang. dan saya amat sangat bersyukur, memiliki ibu yang tegar, yang lewat teladan beliau, tanpa beliau berkata kata, saya juga bertekad menjadi wanita yang tegar, dan juga penuh kasih dan maaf seperti beliau. teladan yang sangat memberkati hidup saya. semoga apa yang saya tulis disini, mbak Dee sudi membaca dan boleh menjadi berkat. salam kasih dari kami sekeluarga. Tuhan memberkati selalu.
kebhoganteng said,
July 23, 2008 at 11:39 pm
Bhante Pannya bilang pada saya saat saya tidak jadi menikah dengan orang yang saya sayangi :
“…logika tidak selalu sesuai dengan kenyataan, semua jawaban bisa menimbulkan pertanyaan, namun tidak sebaliknya. Mencintai yang sesungguhnya adalah menyadari saat datang dan pergi, tidak melekat dan tidak harus memiliki…”
Saya rasa Mbak Dee dan Mas Marcell lebih memahami akan hal ini. JAdi apa yang dialami Mbak sekeluarga merupakan proses. Kita yang melihat tidak berhak memberi “judgement” apapun, kecuali melihat kebenaran dengan bijaksana tanpa PEMBENARAN. Apa yang dialami merupakan proses sebab-akibat bukan karena kutukan, atau kekuatan gak jelas lainnya, yang mungkin akan kita alami kelak.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia
fajar said,
July 24, 2008 at 12:14 am
Mbak Dee yang budiman.
Jadi ini hanya masalah waktu saja. hampir seperti kematian yang tidak bisa kita tolak. Rupanya hubungan pun memiliki masa kadaluarsa juga.
Hanya saja, sepengetahuan saya, masa kadaluarsa itu dicantumkan begitu suatu produk selesai dibuat. Sudah terukur dari awal proses produksi.
Apa anda juga begitu? Sudah mencantumkan kapan masa kadaluarsa dari pernikahan anda?
Saya belum lama ini bercerai. Dan sampai saat ini masih merasa bahwa ini adalah kegagalan kami dalam menjaga sebuah hubungan. Masih juga mencari-cari pembenaran dari apa yang telah kami putuskan.
Sebab apa? Ternyata saya tidak merasa sebahagia yang saya bayangkan sebelumnya.
Saya tidak dalam posisi yang berhak untuk menilai. Tulisan ini hanya untuk berbagi saja.
Semua orang dalam pencariannya.
Semoga sukses menemukan apapun yang anda cari.
salam
faizz said,
July 24, 2008 at 12:52 am
hai dee…
saya baru menemukan blog ini dan baca postingan dari dee…
baru baca paragraf awal aja udah bisa dipastikan ini adalah sebentuk klarifikasi dee untuk beberapa informasi yang beredar diluar sana, dan tidak hanya itu, setelah postingannya kelar saya baca, saya jadi berfikir ini adalah sebentuk curhat, perenungan, bantahan, dan apalah itu.
tapi yang pasti, saya cuma bisa comment orang-orang seperti kami (yang hanya bisa melihat dan mendengar tanpa bisa merasakan apa sebenarnya yang terjadi) percaya bahwa tidak ada orang lain yang paling mengenali diri kita, selain kita sendiri dan tuhan yang sudah menciptakan kita dengan segala bentuk kesempurnaan.
jadi apapun bentuk persoalan dan permasalahan yang dee hadapi saat ini dan kedepan saya juga setuju bahwa itu adlah hal yang semustinya terjadi dan tidak mungkin dihindari atau dibantah. sekarang hanya tinggal menjalni dan berusaha menjadi diri kita sendiri. komentar orang-orang hanya sebagai bentuk kepedulian dan suport terhadap seorang dee….
M5W said,
July 24, 2008 at 10:08 am
Kejadian ini tidaklah terlepas dari Ti-Lakkhana (tiga corak umum dalam kehidupan)
Anicca – Dukkha – Anatta
http://en.wikipedia.org/wiki/Tilakkhana
Perlu diketahui bahwa dalam Buddhisme tidak dikenal tuhan, yang ada itu konsep ketuhanan.
Segala perbuatan kita tidak dipertanggung jawabkan kepada siapapun kecuali diri kita sendiri.
Kita sendiri yang akan menghadapi konsekuensi dari hasil perbuatan kita (karma).
wian said,
July 24, 2008 at 7:39 pm
apapun yang terjadi…intinya setiap individu harus terus meng-upgrade, meng-improve kualitas dirinya dalam wadah apapun itu…
dee…im your huge fans (dan emang karena gede beneran..hehe)…
so…ditunggu karya-karya selanjutnya
yuDa said,
July 24, 2008 at 8:10 pm
100% setuju dengan isi tulisannya dan pandangan dee serta marcel tentang kehidupan dan pernikahan.
kehidupan ini milik kita masing masing. nevermind the bollock!
thanks for sharing…
walk on!
vitarlenology said,
July 24, 2008 at 8:29 pm
wahh dee.. aku setuju sama pandang kamu.. mungkin kamu ga mencari persetujuan juga
, tapi kamu menggaris bawahi sebuah point penting, anak tidak seharusnya menanggung beban sebagai pengikat atau pemersatu.. sebagai orang dewasa tentunya yang menyatakan diri berhubunganlah yang mesti bertanggung jawab dengan semua konsekuensi dari hubungan itu..
good luck..
no matter how cold the winter there’s a spring time ahead..:)
Anonymous said,
July 24, 2008 at 8:37 pm
dear ibu dewi,
saya juga seperti penonton televisi yang lain, sempat terkejut mendengar kabar perpisahan ibu dan suami. tapi kembali saya berkaca, memang dalam sebuah pernikahan, semua adalah tidak pernah seperti sesuatu yang tampak. saya terdiam, berpikir dan menangis pilu membaca cerita ibu dalam perpisahannya. saya pilu bukan karena saya sedih ibu berpisah, saya pilu karena saya menahan nahan diri dalam pernikahan saya yang belum 3 tahun, dengan seorang yang sanagt baik hati dan mengahdiahkan seorang laki laki muda untuk kami pelihara dan bekali. saya pilu karena , betapa saya mau mati bosan dan mati kutu dalam pernikahan saya. bukannya saya tidak berdaya dalam posisi saya, tapi entah bagaimana, kami memnag memposisikan anak kami sebagai pengikat pernikahan kami. kami berdua tak lagi utuh karena sedikit sedikit kematirasaan yang kata ibu, kadaluarsa, menggerogoti jiwa kami sedikit sedikit. saya tidak tahu sampai kapan kami bisa bertahan, tapi yang saya tahu, anak saya memanggil ayahnya hampir setiap malam jika ia belum pulang dari kerjanya, begitu pula jika saya kebetulan bertugas di luar daerah, anak saya akan memenaggil saya pada ayahnya. saya tidak tahu, ketidaklengkapan kehadiran kami akan membawa pengaruh sebesar apa bagi anak kami, dan karena itu kami bertahan. tulisan ibu membuat saya kembali berkaca, menata, jika memang ada jalan yang begitu damai walaupun panjang, harusnya untuk kami pun ada kesempatan damai yang serupa. entah akhirnya berpisah ataupun tetap bersama. thx for sharing.
-ada disni-
Lenny said,
July 24, 2008 at 8:47 pm
Mba Dee..
Semoga masih ingat dengan saya, karena hasil karma baik yang berbuah, kita berjumpa di acara dhammadesana Twin Plaza Hotel. Kebetulan saya mengajukan pertanyaan saat diskusi, namun herannya saat berhadapan untuk mendapat tanda-tangan, Mba Dee masih ingat nama saya (that really impressed me)..
Berita perceraian M’Dee memang mengejutkan, akan tetapi dengan makin tinggi kebijakan seseorang saya rasa hal tersebut wajar (mohon maaf kalau saya salah), saya pribadi berpendapat selama kita ‘menggantungkan’ kebahagiaan kita pada seseorang atau sesuatu (kemelekatan), kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan itu sendiri.
Mengutip kata-kata M’Dee, semua orang berbicara atas nama Keenan, menyalahkan perpisahann ini, padahal mereka semua tidak pernah mengenal Keenan. Semua pendapat orang adalah opini bukan..??Semua orang bebas beropini, akan tetapi kita sendiri yang menjalankan hidup ini..
Semoga selalu berbahagia..:)
Nurul Diana said,
July 24, 2008 at 9:37 pm
Dee..
kita berdua, saya dan hilman kaget luar biasa, rasanya gak ada yang salah dengan pasangan ini. Bahkan kita pernah expect bahwa kalian bisa bikin album berdua, atau bahkan seawet sophan sophian dan widyawati, dengan profesi yang hampir sama. Tapi semuanya memang kita lihat secara lahiriah aja..segala bentuk infotainment yang mengatakan ini itu kita juga gak percaya, masa sih gitu..
thanks buat tulisannya, semoga tetap menjadi dee yang sekarang dan semoga keenan tetap ada dalam pengasuhan kalian berdua. Ketemuan lagi pas halal bihalal ya? cyaaa
ginatri said,
July 24, 2008 at 9:41 pm
Karena saya percaya kalau mati, rejeki dan jodoh di tangan Tuhan, maka saya yakin orang menikah bukan karena percaya kalau orang yang dinikahinya adalah jodohnya.
Sebaliknya, dia ingin menikah karena ingin MEMBUKTIKAN kalau orang itu adalah jodohnya.
Kalau pun dalam perjalanan ternyata terbukti mereka memang belum berjodoh atau sudah habis masa jodohnya, apa salahnya untuk berpisah?
Toh dua orang itu sudah berusaha untuk membuktikannya.
Novi said,
July 25, 2008 at 1:54 am
orang hanya bisa menilai karena mereka tidak merasakan apa yang sebenarnya yang terjadi…
tinus hariadi said,
July 25, 2008 at 2:01 am
speechless … dee, you’re so settle in mind …
tinus hariadi said,
July 25, 2008 at 2:13 am
dee, you’re so settle in mind …
Sebuah proses tentunya melewati banyak hal, banyak tikungan, jalan lurus, tanjakan ataupun turunan. Bahkan layaknya lau lintas Jakarta, sebuah proses itu kadang melewati kemacetan dan traffic lamp. Traffic lamp unik yang mewakili pilihan akan kelanjutan sebuah proses kehidupan.
Adakalanya ketika hati dan pikiran bersatu dalam satu kesatuan traffic lamp tersebut saya patuhi. Tapi seringkali juga ketika saya merasa capek akan kemacetan – kemacetan proses hidup, ketika saya merasa sudah melakukan banyak hal, ketika saya merasa deserve untuk memberi sedikit reward berupa kesenangan yang bersifat absurd buat saya. Saya tidak mematuhi traffic lamp proses perjalanan hidup saya.
Terkadang hasilnya adalah saya melewati proses hidup yang lebih lancar, sering juga macet dan stuck di satu titik. Well, suka atau tidak, itulah konsekuensi atas pilihan saya…
Kemacetan – kemacetan yang terjadi kadang mendewasakan saya, mebuat saya belajar banyak hal. Termasuk mencari solusi dan jalan keluar dari kemacetan proses hidup tersebut. Dari situ saya juga belajar bahwa tidak hanya melalui jalan protokol saja untuk mencapai tujuan hidup. Banyak juga jalan – jalan alternatif yang bisa dijadikan pilihan.
Bagaimana dengan anda? Apakah anda ter masuk yang mematuhi traffic lamp of life atau tipe yang seperti saya?
Karena dalam proses kehidupan tidak ada polisi kehidupan ataupun surat tilang kehidupan. Andalah yang yang menetukan pilihan…
merah kuning hijau hidup anda…
Tiwoel said,
July 25, 2008 at 2:50 am
Dee..
Setelah semua yang terjadipada kamu.. ihklaskan saja.. serahkan sama yang diatas.. karena semuanya ini sudah terjadi… kalau memang kami perlu klarifikasi demi karir dan masa depan.. yah silahkan dengan tapi jangan berlarut-larut.. dan Saya setuju banget dengan prinsip kamu untuk menjadi manusia yang utuh untuk bisa berbagi dengan anakmu nantinya..
Semoga selalu dilindungi yang diatas..
Salam
mang iyus said,
July 25, 2008 at 3:02 am
Analogi kijang yang diterkam harimau itu terasa kurang pas. Kijang itu tidak pasrah atau ikhlas. Ia hanya tak berdaya saja. Kalau ia ikhlas maka namanya kijang masokhis, yang menikmati cengkeraman, gigitan dan sobekan taring harimau ke daging tubuhnya.
Manusia tidak pernah tidak berdaya. Manusia hanya memilih untuk mau atau tidak mau lagi berjuang lebih lanjut. Memilih untuk menyerah kepada keadaan yang impasse. Tetapi tidak semua pasangan akan memilih demikian. Ada yang memilih berkorban untuk sesuatu niat yang baik. Mereka mengadopsi nilai pengorbanan (sacrifice). Dan justru ikhlas menerima semua kepahitan impasse yang harus dijalani dan ditelan karena suatu komitmen yang sifatnya definitif. Bukan komitmen bersyarat atau komitmen temporer. Komitmen bersyarat itu misalnya: Kalau komitmen perkawinan ini menghambat pertumbuhan spiritual maka boleh-boleh saja dibatalkan. Apakah benar komitmen itu yang menghambat pertumbuhan spiritualnya? Main sepakbola ada komitmennya 2 x 45 menit dan kalau seri diperpanjang 2 kali 15 menit. Kalau seri terus lalu pakai penalti. Komitmen perkawinan tidak ada batasan seperti itu. Sumpahnya justru dalam senang dan susah, dalam sehat dan sakit, dalam untung atau malang, sampai maut memisahkan mereka. Komitmen dengan sumpah ini apa cuma lips service yang dimarginalisasikan menjadi suatu komitmen kondisional dan bukan lagi suatu komitmen yang definitif yang diambil berdasarkan keputusan iman?
Bagaimanapun juga adalah hak setiap pasangan untuk menentukan bagaimana sikapnya terhadap komitmen bersama. Karena itu keputusan Dee – Marcel harus tetap dihargai sebagai keputusan eksklusif mereka. Tetapi tidak lalu berarti bahwa argumentasinya dapat diterima – atau perlu diterima oleh setiap orang bukan?
haree said,
July 25, 2008 at 6:53 am
thanks for sharing.
sekedar berbagi rasa. saya lahir dan besar dalam keluarga yg mengambil langkah ‘berbeda’ dari Mbak Dewi. Ayah-Ibu masih berstatus suami-istri, tapi ya hanya sekedar status… tak ada hubungan, ngga’ ada komunikasi.
dengan segala hormat kepada Ibu saya yang pernah bilang kalo langkah yang beliau ambil semata-mata untuk kami, anak-anaknya… agar bisa tetap sekolah, agar masih punya sebuah keluarga yang ‘lengkap’, menjaga warisan, dsb.
jujur saja saya tidak setuju dengan langkah itu. di sini, korbannya malah kami–anak-anaknya yang tiap hari disuguhi kepalsuan. sedih rasanya melihat kedua orang tua tak bisa ‘mengembangkan’ dirinya demi kami..
saya ngga membenarkan atau menyalahkan langkah Mbak Dewi.. setiap kasus unik dan ngga bisa disamakan.. dan yg juga penting: setiap kita punya tingkat kesadaran yang juga beragam, jadi sebanyak apapun kalimat yg dipakai untuk menjelaskan pilihan kita tetap aja ngga akan bisa ‘memuaskan’ semua orang.
tetap semangat, Mbak Dewi…
Salam,
MH
Anonymous said,
July 25, 2008 at 6:53 am
BALANCE
Your life is a gift and you havae come to unwrap the gift. In the process of unwrapping, remember to also save the wrapper.
Your environment, the situations around you, the circumstances in which you find yourself, and your body are the wrapping paper. when we unwrap, we often destroy the wrapping paper. We are in such a hurry that at times we even destroy the gifts. With patience and endurance, open your gifts and save the wrapping paper as well
european ashram, bad antogast,germany
dec 24,1997
Dhea said,
July 25, 2008 at 7:07 pm
Klo saya… pada masa2 berat seperti itu hanya bisa pasrah ke Tuhan saja. Karena saya yakin… Tuhan sayang, dan memberikan yang terbaik untuk umatnya. Walaupun seberat apapun itu..
uwa said,
July 25, 2008 at 8:27 pm
Saya berfikir tentang manusia sekarang, kayaknya mereka lebih banyak mencari daripada mensyukuri??. “Berhenti mencari, maka kau akan menemui” (Dee dalam Akar).
Adakalanya otokritik saja tidak cukup sebagai pengendali, dan manusia terus saja mencari tanpa tahu apa yang hilang.
Mbak Dee apa pun kondisinya sekarang, saya punya pesan dari seorang kawan : kapan PARTIKEL selesai?, hatur nuhun.
Anonymous said,
July 25, 2008 at 9:12 pm
just live and let live, dee.
ribet amat ya?
life is cruel, don’t keep making excuses.
cheers!
dejavu said,
July 26, 2008 at 1:50 am
good story…….good luck
Ade Alifya said,
July 26, 2008 at 6:27 am
mbak Dee,
mbak dan marcell adalah pasangan selebritis yg menginspirasi saya.
dari awal saya yakin, mbak pasti punya pertimbangan cerdas dibalik keputusan ini.
apapun, ini tidak akan mengurangi rasa hormat dan kagum saya sama mbak juga sama mas marcell.
God Bless Both of U!!
inKa said,
July 26, 2008 at 6:39 am
@Dee
Saya turut gembira dee telah menemukan sesuatu hal yang dee rasa harus dilewati..
Selamat Yah…
Maap Sebelumnya..
Jujur waktu denger kabar perceraian dalam hati saya berkata “waduh.. gimana karya2 dee ntar..”
Saya merasa takut kehilangan itu..
mungkin ego dalam hati saya…
dan saya berharap dee masih terus akan berkarya..
dan saya berdoa buat keenan supaya nanti suatu saat bisa menemukan paradigma yang tepat untuk perpisahan orang tuanya agar bisa membahagiakan dirinya sendiri….
^_^v
sate ayam said,
July 26, 2008 at 7:24 am
Demikianlah Anicca yang didengungkan oleh Buddha lebih dari 2500 tahun silam. Kita semua tahu sampai pada suatu titik, kadaluarsa adalah sesuatu yang mutlak. Tetapi makhluk itu bukanlah bernama manusia bila dia menyerah pasrah pada kenyataan akan kadaluarsa tersebut.
Saya merasa pendapat Dee soal kadaluarsanya hubungannya hanya sebuah upaya berlari ke dalam sebuah cangkang bernama self defense. Mencari excuse yang lebih tinggi dari sekadar excuse biasa.
Nah…. intellectual excuse mungkin kata yang cocok. Seorang Dewi Lestari tentu akan memiliki bahasa yang berbeda dengan seorang Dewi Persik untuk mengumumkan sebab perpisahannya.
Bila kita hanya pasrah pada kenyataan bahwa semua hal adalah ada akhir, pertanyaan terbesar yang timbul adalah mengapa kita memulai dari awal-awal sekali? Sudah tahu akan mati mengapa pilih hidup? Disinilah letak distinctive dari makhluk bernama manusia dengan makhluk yang lain, dan titik inilah jelas membedakan kita dengan seekor Kijang.
Mengapa Dee bisa sampai pada sebuah titik harus menganalogikan diri dengan seekor Kijang? Bukan sebagai Harimau? atau menempatkan dirinya sebagai manusia yang mengamati perburuan tersebut dengan cekatan melalui sebuah kamera yang kemudian mengemasnya dalam “Earth”.
Manusia menciptakan peradaban sebagai upaya untuk mengontrol ketidakberdayaan dirinya dalam hukum alam. Dan sampai sekarang, manusia terus mencari obat melawan kadaluarsa pada dirinya.
Di dalam peradaban tersebut manusia menciptakan berbagai perangkat untuk mengendalikan alam dan dirinya serta sekitarnya (orang lain), salah satu adalah bernama PERNIKAHAN. Dee bukannya sudah memutuskan terlibat dalam permainan bernama peradaban manusia. Dan sudah melangkah demikian jauh ke dalam level bernama pernikahan. Bila dibagi dalam kuartal, boleh dibilang kuartal kehidupan ke-3 dari 4 kuartal telah dilalui.
Menurut pendapat saya, tanpa ingin menjustifikasi siapapun. Pernikahan adalah komitmen. Bukankah bukan fate atau destiny yang membuat dua manusia bisa menikah. Tetapi pertimbangan demi pertimbangan yang kemudian berujung kepada satu keputusan. Satu keputusan yang tidak lain adalah wujud sebuah komitmen untuk maju berdua melanjutkan perjalanan dalam peradaban manusia. Bila komitmen sudah dibuat, maka semestinya dipertanggungjawabkan sampai kehidupan ini kadaluarsa. Bukan malah komitmennya yang kadaluarsa.
Apakah logis kalau saya terlahir sebagai anak gelandangan sebatang kara, hidup jauh di bawah garis kemiskinan, lalu saya mencapai sebuah penyadaran bahwa hidup saya sudah kadaluarsa? Lalu saya sudah sepantasnya bunuh diri? Hanya karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan berbunyi di kepala saya (baca:insting) menyuruh saya demikian?
Biarpun saya seekor Kijang, hal itu tidak akan pernah saya lakukan. Mengapa?
Deep down inside, binatang atau manusia hanyalah hidup memenuhi egonya sendiri. Kita akan melakukan hal yang kita senangi dan menjauhi hal yang tidak menyenangkan bagi kita. Bila kita sudah merasakan ke-tidak-bahagia-an akan sesuatu maka kita akan menjauhi atau menendang jauh sumber yang membuat ketidaknyamanan hati tersebut. Dan yang jelas sumber penyebab tersebut tidak akan pernah kita akui berasal dari diri kita sendiri (walau yang merasa gerah adalah hati sendiri), melainkan hal lain atau orang lain yang harus dikorbankan demi membuat rasa gerah di hati sirna.
Mengapa tidak kita obati dulu hati masing-masing? Daripada mencari pembenaran akan tindakan kita menendang jauh masalah demi menenangkan ego?
Anonymous said,
July 26, 2008 at 7:28 am
menurut saya sih titik titik totol totol…budak leutik nyo’o botol..
empat kali empat sama dengan enam belas…sempat tak sempat kalau bisa dibalas…
dan jangan lupa tujuh kali tujuh sama dengan empat puluh sembilan…setuju tidak setuju yang penting penampilan..
Anonymous said,
July 26, 2008 at 8:10 am
Dee..
Sependapat kalo semua ada masanya dan perpisahan tidak ada hubungannya dengan karma. banyak yg berpikir bahwa kalau kita memutuskan hubungan maka kita akan pst akan dibalas hal yang sama. Tapi setelah aku menelaah dan berdiskusi dengan bhante, aku menemukan jawaban yg sama dengan dee.
Celestine propechy salah satu buku yg membuka wawasan ttg hubungan antar manusia.
Lalu dee, apa makna dan tujuan dari pernikahan? ini yang menjadi pertanyaan besar utkku (kalau ada perceraian?).
Thanks dee dan aku tau dee adlh seorang yang bijak dengan keputusannya.
Gudluck
Anonymous said,
July 26, 2008 at 4:58 pm
tp sy pgn nulis: wish you all the best
~Ps. anjing sy tetap menolak jadi vegetarian.. hehe.~
SIWA BUDDHA said,
July 26, 2008 at 9:29 pm
Salam Damai dan Cinta Kasih… ,
Salam kenal mbak Dewi Lestari…
Yang tahu hal yang baik bagi diri kita adalah diri kita sendiri.
Keputusan yang telah diambil Mbak Dee tentu merupakan yang terbaik… .
Penuh dukungan dari kami mbak… .
SEMOGA SELALU BERBAHAGIA… ,
Salam Damai dan Cinta Kasih… .
novbrian said,
July 26, 2008 at 9:51 pm
Masalahnya, konsep perceraian ada jelas dalam konteks institutif dan agamis (tidak perlu menyebut nama agama). Bukan begitu?
Apakah kata-kata ’sehidup semati’, ’sampai maut memisahkan’, atau apapun simbol estetis yang mengikat dua orang di sebuah pernikahan adalah hanya sedangkal persatuan tanpa esensi jasmaniah yang akan harus dipertahankan selama-lamanya?
Saya rasa Tuhan, siapapun Tuhan kita, tidak sedangkal itu.
Saya dukung Dee dengan segala keputusannya. Thanks for sharing, Dee.
awan said,
July 27, 2008 at 12:57 am
Dee…
Rada kaget juga 'akhirnya' pasangan ideal (secara kasat mata ya) berpisah..
Klo ada kalimat : say goodbye is just like say hello.. mungkin hanya sedikit orang yang bisa menerapkan itu, karna say hello mengacu pada harapan akan adanya pengalaman baru sementara say goodbye lebih kepada mencoba menghapus segala pengalaman yang pernah ada atau menerimanya dengan lapang dada..
Kita 'orang luar' gak pernah tau apa yang ada di pikiran Dee & Marcell selama menjalani instansi yang kita sebut pernikahan itu…
Ibarat rasa buah durian gak seseram tampak luarnya..
Pernikahan bukanlah awal hidup, pun perceraian bukanlah akhir dari segalanya.. It's just a matter of moment in life..
Sempet surprise juga liat tulisan Dee soal perpisahan.. Kesehatan hati dan jiwa emang nomer satu! You rock, Dee!
Pun sempat saya berpikir tentang ungkapan Tuhan adalah ciptaan manusia, Tuhan diciptakan manusia untuk kekuatan hati dan jiwa nya.. menciptakan sesuatu yang segala maha, sehingga manusia ada batasan dalam bertindak, berpikir dan berinteraksi.. plus segala sesuatu yang belum ada jawabannya bisa dijawab dengan satu kata itu "Tuhan".. Ekstrim yak?
Jadi kalo 'cuma' momen perpisahan dalam lembaga pernikahan.. piece a cake!
Saya sih gak mau ucapin apa2.. baik itu ucapan duka.. ucapan selamat or yg laen2.. karna saya yakin.. Dee udah sehat hati dan jiwanya saat ini..
Cheers!
Anonymous said,
July 27, 2008 at 1:30 am
Aku jenis orang yang suka dengan tantangan. Pernikahan adalah tantangan selain sebuah komitmen. Bagaimana aku bisa menyelesaikan skenario yang diberikanNya untukku untuk aku mainkan dengan baik dan secara sepenuh hati. Memenangkan pertandingan yang sudah disiapkanNya untukku agar bisa aku menangkan. Mengikuti alur dimana telah disiapkanNya seseorang yang setiap saat sangat “bersedia” untuk mengasah aku dengan alat asahnya yang super tajam agar aku menjadi “sesuatu” seperti yang sudah Dia rencanakan.
Pada saat “rasa” mulai hilang, aku tinggal meminta pada yang Empunya rasa. Pada saat kesabaranku mulai hilang, aku tinggal meminta pada yang Empunya sabar.
Semua tinggal bagaimana aku bisa jadi “rekan” bagi Dia, untuk memenuhi setiap tujuan penciptaanku.
Bukan begitu????
Retno di Surabaya
I-Think-Oke said,
July 27, 2008 at 4:07 am
Saya tidak akan memberi komentar apapun, karena Mbak benar, bahwa bahagia atau tidak kitalah sendiri yang paling tahu. Anda tetaplah seorang pribadi yang saya kagumi dan makin kagum sejak saya pernah interview Mbak lewat telepon (masih ingat Anda ditelepon seorang reporter dari Surabaya?). Semoga tetap sukses dan tetap berkarya
Ayu said,
July 27, 2008 at 7:29 pm
Dee,
You have made up your mind about the divorce, so there is nothing to comment about. Saya di sini hanya ingin memberi sudut pandang lain bagi pembaca ‘tulisan Dee ttg kasus divorcenya’. Life always has a choice, but death and birth is not our choice.They are God’s grace. Bila Dee and Marcel memutuskan untuk menerima kekadaluwarsaan hubungan mereka, it’s their choice. Walaupun sebenarnya bisa saja mereka memutuskan untuk mengingat kembali apa yang membuat mereka menikah dulu. Dengan kerendahan hati, memutuskan untuk memulai lembar baru dan meneruskan perkawinan. Karena perkawinan itu berbeda dengan pacaran. Pacaran kita hanya menyatakan suka dan sayang kepada pasangan kita, tapi perkawinan, regardless the religion, kita berjanji kepada Tuhan bahwa kita akan setia, mencintai pasangan kita dalam suka dan duka.
Anonymous said,
July 27, 2008 at 8:08 pm
Sebenarnya saya sangat menyayangkan hubungan kalian bisa kandas di tengah jalan, karena saya pengagum kalian berdua. Kalian berdua terlihat begitu serasi dan pada waktu perpisahanpun kalian teap mesra.
Tapi biar bagaimanapun hubungan tidak dapat dipaksakan apabila kalian telah memutuskan apa yang aklian anggap jalan terbaik dalam kehidupan perkawinan kalian.
Sukses selalu buat Dee & Marcel…
Renni said,
July 27, 2008 at 8:41 pm
Mbak Dee, tulisan mbak seperti menerjemahkan apa isi kepala saya tentang perpisahan. Sebagai orang yang pernah merasakan perpisahan, persis seperti itu lah yg saya rasakan. Thank u.. mudah2an hidup selanjutnya menjadi jauh lebih baik.
kebhoganteng said,
July 27, 2008 at 9:33 pm
kadang bahkan pada umumnya pikiran orang sering mengkambinghitamkan takdir, kutukan, malah secara ndak langsung Tuhan atas segala kejadian yang terjadi terutama penderitaan, tanpa pernah menyadari apa yang pernah kita perbuat pasti ada akibatnya
ronitoxid said,
July 27, 2008 at 11:36 pm
mungkin terlalu berebihan aku membahasnya disini
Hanya karena logika tak selamanya jadi dewa
dan perihnya perasaan tak selamanya menjadi penderitaan
Bukankah hidup harus mulai belajar dari rasa pahit, bukan semata mencecap kebebasan dan sebuah independensi logika yang terkadang menjadi terlalu berlebihan
maka,
memilih mana mempertahankan perih pernikahan sakral, atau memilih egoitas pribadi atas nama kebebasan ?
Maaf
aku pengagum terbesarmu
maka aku rasa tidak layak bagiku untuk memujimu
(just to anyone who wanna share a word with stupid me
http://ronitoxid.multiply.com/journal/item/277/P.E.R.C.E.R.A.I.A.N
tan_intan said,
July 28, 2008 at 8:10 am
wow.. membaca tulisan mba Dewi dan 182 comment lainnya benar-benar… melelahkan! tapi sangat worth it, begitu banyak pandangan dan sudut pandang tentang masalah ‘beginian’.
komenku cuman: sabbe sankhara anicca. Semoga ketika aku harus menghadapi sesuatu seperti ini, aku tetap ingat kumpulan cerita-cerita di blog ini. terima kasih buat para ‘komentator’ terutama mba Dewi.
hadidot said,
July 28, 2008 at 6:50 pm
dee, saya dapat tulisan ini dari kiriman email teman. terus terang saya tidak pernah tahu blog anda. saya langsung search di google dan akhirnya saya end up disini menulis komen ini.
bener banget apa yg ditulis, saya juga mengalami perpisahan secara baik2 sama pacar saya,karena kami berdua sadar,bahwa “sudah saatnya berpisah”,mungkin kami akan kembali lagi bersama, mungkin juga tidak. apa sih yg tidak mungkin di dunia ini? saya tidak pernah menutup diri untuk keduanya.
kebetulan mantan pacar saya selalu menggantungkan kebahagiaannya secara eksternal kepada pasangannya,dan saya bilang, saya tidak mau menanggung beban itu ,beban yang terlalu berat buat saya, yaitu menjadi sumber kebahagiaannya. kebahagiaan adalah milik masing2 pribadi, dan merupakan tanggung jawab pribadi,bukan untuk diserahkan kepada orang atau sesuatu yang lain.
mungkin “keutuhan” yang dee maksud adalah kebahagiaan pribadi atau kedamaian hati. memang benar,kebetulan saya juga mendalami yoga,dan di dalam yoga,kita diajarkan untuk melihat kedalam agar bisa bahagia dengan benar. the fact is kita tidak butuh apapun dan siapapun untuk bahagia. cukup dengan hidup dan menjadi diri kita sendiri saja,menerima kelebihan dan kekurangan diri secara total,kita sudah bisa bahagia.toh hidup sebagai manusia saja sudah luar biasa mewah bukan? bisa merasakan cinta dan tangisan. itu juga suatu berkah. mau hidup sebagai orang kaya atau miskin,ganteng atau jelek, itu semua tidak penting, yg lebih penting adalah kesempatan hidup jadi manusia di dunia,untuk dapat merasakan apapun bentuk sedih ,senang,marah. bagaimana jika kita hanya hidup jadi tumbuhan? terlalu mewah bukan menjadi seorang manusia dari kacamata tumbuhan?
ah saya jadi terlalu banyak bertanya.
anyway, semoga Tuhan menguatkan anda dalam perjalanan ini,remember : what doesn’t kill you only makes you stronger.
pasti ada rencana Tuhan yang baik dibalik semua ini, everything happens for a good reason right?
salam kenal dee,saya seorang pengagum cara berpikir anda yang berbeda
-didot-
Anonymous said,
July 28, 2008 at 11:19 pm
semua orang punya sudut pandang masing-masing. begitu juga keinginan dan kebutuhan. sesuatu yang kita anggap fundamental dan penting, belum tentu sama dengan orang lain.
saya pikir semuanya kembali pada itu. apapun alasannya, tinggal memilih saja, mau mengikuti perasaan atau logika. kebahagiaan sendiri atau orang lain. keinginan sendiri atau orang lain.
setiap pilihan punya konsekuensinya masing-masing. itu yang haru slebih dipikirkan;)
dhania said,
July 28, 2008 at 11:22 pm
saya pengagum setia supenova, filosofi kopi dan blog ini.
garis besar dari komen-komen diatas jelas :
bentuk kepedulian/care terhadap dee
(hehehe…jadi mirip sama ibu-ibu yang beli C&R soal dewi-marcell juga, trus nggosip, komentar, cuma bedanya media-nya lain, lebih intelek, bahasanya bisa lebih abstrak)
kenapa sih kemudian orang banyak menjadi peduli : mau tidak mau, suka tidak suka, ketika seseorang sudah dilabeli 'public figure', konsekuensi-nya adalah masuknya ruangan privasi menjadi ruang publik (yang pada akhirnya menjadi sebuah bisnis bernama infotainment).
jadi tidak bisa disalahkan untuk apapun komen2 diatas, sama kita juga tidak bisa men-judge apapun keputusan dee.
Jadi buat dee : statement apapun, akan berimplikasi sama seperti koin dengan 2 sisinya.
THE SHOW MUST GO ON DUDE
rgds
dhani
Anonymous said,
July 29, 2008 at 12:12 am
segala sesuatu memang akan ada ajalnya, karena keabadian hanya ada pada kehidupan setelah mati. that’s what I believe in.
Anita M. said,
July 29, 2008 at 12:36 am
Mbak Dee… i really love your thoughts and i agree with most of your theories. I can feel them cause thats what i believe too. It’s beautiful. The earth should be filled with more people with great minds like yours. Then world peace will become reality.
Ms said,
July 29, 2008 at 12:47 am
Dear Dewi, terlepas dari saya setuju/tidak setuju dgn pandangan Dewi ttg hidup-perpisahan-dll, tapi 1hal yg berkesan & penting bagi saya: Dewi berani jujur & menjalankan apa yg Dewi yakini — It's a big thing. Saya berharap agar yg terbaik saja (sesuai pandangan Dewi & Marcell) buat Dewi, Marcell & Keenan. Oya saya juga suka dgn metafora yg Dewi gunakan, membuat saya mengerti pemikiran Dewi. Juga kerunutannya. Salam,
Tina said,
July 29, 2008 at 1:10 am
D,
Salut!! Bukan benar atau salah yang menjadi permasalahan. Tetapi, ketika berani jujur terhadap diri sendiri dan menjalani keputusan yang diambil.
Good luck for D, Marcell and Keenan.
zaky muzakir said,
July 29, 2008 at 1:12 am
Saya rasa Dee tidak sedang membuktikan apapun dalam hubungan dia dan Marcell dan si kecil Keenan. Jadi pertanyaan kenapa harus cerai; kenapa tidak mempertahankan pernikahan; dsb, tidak relevan.
I love dee
Anonymous said,
July 29, 2008 at 1:22 am
D,
Semuanya bukan menjadi benar atau salah. Tapi belajar untuk jujur pada diri sendiri dan menjalani keputusan yang diambil. Apa yang terbentang didepan tidak pernah kita ketahui, yang bisa dilakukan hanyalah berusaha sejauh yang kita mampu.
Good luck for u, Marcell, and Keenan.
zaky muzakir said,
July 29, 2008 at 1:44 am
Tak mengikuti ego memang sering TERKESAN paradoks. Dalam kasus perceraian, misalnya. Masyarakat kadung menilai bercerai adalah keputusan egois orang tua, yang pada akhirnya anak menjadi korban.
Bertahan dalam sebuah pernikahan, disebut keberhasilan. Melalui sebuah persidangan perceraian tapi kemudian rujuk, disebut kemenangan. Dan suami-istri yang tidak-jadi-cerai ini dinilai berhasil mengalahkan ego masing-masing.
Tapi di saat bersamaan, bila mempertahankan pernikahan karena tak ingin disebut egois adalah juga keputusan egoistis.
Apakah keputusan Dee bercerai egoistis? Hanya Dee yang tahu. Bahkan, menurut saya, Marcell pun yang terlibat langsung tidak akan pernah tahu; apakah keputusan Dee itu egoistis atau tidak. Begitu pula keputusan Marcell (menyetujui?) bercerai.
Baik Marcell maupun Dee tidak punya kapasitas untuk menilai keputusan pasangannya egoistis atau tidak. Kalau dua pihak yang terlibat langsung saja tidak punya kapasitas menilai satu sama lain, apalagi infotainment? Siapa elu?
Salam,
Zaky Muzakir
Scriptwriter Infotainment Juga (yang baik hati tentunya, hahaha)
Gusnelia said,
July 29, 2008 at 3:37 am
Mba’ Dewi,
Saya baru saja mampir ke blogmu dan membaca catatan perpisahan. Saya tidak bermaksud dan tidak ingin ikut campur dalam masalah yang sedang mba’ hadapi, juga tidak ingin menilai orang lain.
Membaca catatan itu mengingatkan saya pada tulisan saya sendiri. Saya akan senang sekali kalau mba’ ada waktu berkunjung ke blog saya dan membaca tulisan saya yg terakhir diposting yg berjudul “Kisah Sepasang Rel Kereta”. Adalah manusiawi kita membuat kekeliruan2 semasa hidup kita, namun sebisanya suatu kekeliruan itu cukup kita buat satu kali saja. Saya sendiri tidak takut atau malu membuat kekeliruan sepanjang bukan untuk hal yang sama karena artinya kita telah gagal memetik pelajaran dari pengalaman kita sendiri.
Blog saya di http://www.gusnelia.blogsopt.com. Tulisan itu saya buat tidak untuk menyinggung siapapun dan semata hasil renungan saya sendiri setelah terinspirasi buku ‘the zahir’. Semoga mba’ menyempatkan mampir. Terima kasih.
Nela Dusan
Nwrite said,
July 29, 2008 at 11:37 am
Mbak Dee perkenalkan saya Yana, tulisan-tulisan Anda selalu menginspirasi dan menyadarkan saya akan banyak hal. Anda memberi saya sudut pandang yang baru dalam memahami hal-hal yang pernah saya pelajari tapi tidak begitu saya mengerti.
Satu hal yang tidak saya mengerti adalah tentang pernikahan. Kadang saya berdebat dengan orang tua kenapa saya harus menikah. Saya juga tidak mengerti kenapa setiap orang antusias dengan yang namanya pernikahan. Saya pikir itu justru merepotkan, tidak logis maupun empiris. Katanya atas saksi tuhan tapi kenapa tuhan tidak menghentikan pernikahan jika dia tahu kalau banyak yang akan gagal (maaf jika tuhan disini saya tulis dengan hurup kecil karena saya sendiri tidak meyakini tuhan yang personal)
Dalam kasus Mbak Dee saya pikir jika kasih dan persahabatan Mbak dengan Marcell tulus seperti itu maka pernikahan tidak berarti apa2 hanya formalitas di atas kertas. Selama kasih menyertai hubungan seperti itu saya rasa itu lebih baik daripada terikat untuk saling manguasai. Bandingkan dengan orang yang nikah kemudian melakukan KDRT, atau yang cerai kemudian nikah lagi berulang-ulang (dalam pandangan saya ini hanya seks bebas yang disahkan dengan pernikahan). Pernikahanpun sekarang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan birahi (semoga Mbak ngerti karena saya tidak pandai merangkai kata,hehe).
Maksud saya disini adalah ingin bertanya karena benar-benar tidak mengerti. Tradisi mendesak saya untuk itu dan sayapun tidak mau makin membingungkan orang tua, tapi saya mau pada saatnya nanti saya bisa menjalaninya dengan tulus bukan dalam ketidakmengertian seperti ini. Apabila Mbak ada waktu saya sangat berharap dapat sudut pandang yang lain tentang ini dari Mbak Dee karena setiap jawaban yang saya terima selalu memunculkan pertanyaan lain. Maaf kalau terlalu panjang dan tidak koheren.
Mengenai Keenan saya rasa karena dididik oleh seorang Dee dia akan menjadi anak yang bijak. Saya sendiri berasal dari keluarga yang berpisah tapi saya bersyukur karena kedua orang tua saya bahagia dengan dirinya masing-masing. Dalam keluarga seperti ini anak akan cenderung menjadi seorang penyendiri. Dalam kesendirian saya justru banyak mendapat ilham.
sisesu said,
July 29, 2008 at 3:05 pm
saya setuju. selalu belajar memahami hikmah hidup yang diberikan Tuhan terhadap kita. apapun yg terjadi, pasti ada alasannya. semoga alasan Tuhan kali ini membuat Dee, Marcell dan Keenan bahagia. love your blog, as always…..
ditt said,
July 29, 2008 at 10:41 pm
akankah ada kasih sayang yang sifatnya emotionless hanya mengandung kasih dan sayang di antara 2 manusia atau lebih…
akankah ada ikatan tanpa pamrih mengikat dengan tulus dan memberikan rasa aman kepada anggota ikatan…
akankah ada cermin sebelum kita melangkah, petunjuk kita akan menoleh, panduan ketika kita akan menatap ke depan..
hidup ini bagai berjudi, all bet are on you.. follow the result … follow the heart…
semua sebab pasti berakhibat, semua akhibat pasti muncul dari sebab, berkaitan, berpasangan, dan saling berhubungan, itulah duniawi yang nyata dan ada, sisanya milikNYA semata, in His mysterius ways…
selalu akan di coba kita semua untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin ..
Anonymous said,
July 30, 2008 at 3:02 am
Saya seorang suami, ayah dari 3 anak laki2 (28/27/18) sudah lebih dari 29 tahun menikah. Saya sulit untuk menerima perceraian bukan karena agama melarang tapi justeru karena bagi saya cinta itu bukan hanya ‘feeling good, at ease, peace” tapi cinta juga mengandung kata “pengorbanan”, bahwa perceraian adalah fakta, fenomena sosial, saya bisa menerima dalam “extreme cases” saat pintu tertutu rapat dan seluruh daya upaya sudah dilakukan seperti, marriage counseling, bertanya pada orang bijak dst.nya. Dewi mengutip kata bijak “Khalil Gibran” yang menganalogikan “anak sebagai busur panah” saya sependapat dalam konteks memberi kebebasan bagi anak untuk berkembang “anak mu bukan anak mu dst.nya’, Dewi mengutip analogi “oxygen mask pada diri kita terlebih dahulu.” tapi ingat saya yakin masih dalam konteks menyelamatkan anak tersebut.” Sehubungan dengan menyelamatkan diri kita dalam sebuah perkawinan, hendaknya dilihat dalam satu kesatuan bukan terpisah-pisah.
Saya hanya menyayangkan (saya tidak kenal kamu oleh karena itu saya tidak mau menghakimi kamu) namun bila masih ada waktu membaca dalam keheningan, maka bacalah dan baca dalam konteks dan tidak sepenggal-sepenggal.
Seorang ayah yang sedang terus berproses tanpa kadaluwarsa (karena hidup adalah sebuah proses).
JD
lina_jenie said,
July 30, 2008 at 3:17 am
Hai Dee,
membaca tulisan kamu, terkesan berisi teori pembenaran2 dirimu untuk bercerai saja.
Semoga masih ada pasangan2 di luar sana yang mau mempertahankan pernikahannya dengan tidak egois sendiri maupun saling egois satu sama lain. Juga tidak pernah bosan membangun cintanya, supaya tidak pernah kadaluarsa.
Maafkan saya, karena tidak setuju dengan pendapatmu.
Semoga kamu bisa terus bertahan untuk tidak pernah kadaluarsa di semua hal.
-gc- said,
July 30, 2008 at 7:55 am
last minute of working neh…
Jeng Dewi in benar2 pintar keterlaluan, mungkin cocoknya hidup di jaman orang2 Yunani yang gemar berfilosofi ria, tapi ujung2nya manusia lah yang jadi sentral cerita.
Saya sih jujur gak sreg bacanya (pasti mbak dewi menghargai feeling saya, hehehehe),
Waktu temen saya kirimin blog ini ke email saya saya cuma bilang kurang lebih begini: ya ya ya inilah generasi dunia relativisme yang orang2nya doyan menentukan kebenaran sendiri. Gak ada Tuhan yang mutlak, tergantung suasana hati lagi pengen punya pikiran Tuhan yang mana. Gak ada kebeneran yang mutlak, tergantung si X, si Y, si B yang punya hak menentukan kebenaran. Bermilyar manusia, bermilyaran pula kebenaran itu.
Kalo dunia penuh kejahatan, perang dan kebusukan2 lainnya, yah salah manusianya sendiri. Ego manusianya sendiri.
Tuhan itu tidak boleh dibatasi. Mbak dewi yang bilang, tp mbak dewi yang mendefiniskan Tuhan menurut pikiran mbak dewi sendiri.
Manusia rusak ketika keintiman manusia dengan Tuhan rusak. Ketika manusia mencoba mendefinisikan kebenaran sendiri. ketika manusia mencoba menjadi Tuhan.
No wonder ada perceraian…. mau alasan sejuta apa pun…
dari berjuta-juta kasus perceraian semoga yang model seperti ini adalah yang terakhir….(pesimis nih nulisnya..hehehehhe)
Have a better life in da future!!! Man’s mistake can’t change God’s master plan!
-gc-
Eko said,
July 30, 2008 at 11:11 am
Aku juga punya temen namne dewi, dia juga pinter ayak kamu ni lo wi…Tak tunggu lo, ku pengen kenal lebih dalam ma kamu..hehehe.
Mia said,
July 30, 2008 at 7:28 pm
Hi Dee,
stuju banget dengan statmentnya “hanya masalah waktu”, menurut gw mmg semua mahluk yg ada diatas bumi ini harus siap dengan yg namanya perpisahan. Pasangan menikah pun demukian, klo gak cerai hidup ya cerai mati bukan begitu ?
gw juga setuju dengan perumpamaan tindakan penyelamatan di pesawat pasang masker oksigen utk diri sendiri dulu baru pasangkan utk anak kita, yah mmg begitulah seharusnya bahwa untuk bisa membahagiakan orang lain, maka buatlah diri kita bahagia dulu.
Semoga lbh kuat menjalani hidup
altroz said,
July 30, 2008 at 8:30 pm
yang terbaik yang pasti akan datang.
selamat berbahagia.
Lina said,
July 30, 2008 at 9:53 pm
Tidak pernah ada yang namanya “Cinta yang Kadaluarsa” kalau kamu benar-benar cinta. Pernikahan bukan hanya masalah cinta tapi juga komitmen. Komitmen untuk menjalani hidup bersama-sama, dalam suka dan duka, untung dan malang, sehat ataupun sakit, bukankah kamu juga berjanji demikian di hadapan Tuhan ketika menikah dulu?Kemana janji dan komitmen tersebut?
Kenapa ada kesedihan, kejahatan dan lain2, bukan hanya kegembiraan?..Tuhan tidak pernah mengijinkan perceraian Dee, tidak after kamu sudah berjanji di hadapan-Nya dan kini kamu tarik kembali janji tersebut dengan alasan “sudah waktunya”…waktu dari siapa??waktumu???Egois sekali..Kalaupun ada perselisihan, pertengkaran, ketidakcocokan selama dalam hidup berumahtangga, itu berarti kalian hanya perlu sedikit berusaha untuk menyelesaikannya bersama, bukan dengan meninggalkan satu sama lain. Ingat, percobaan yang ada dalam hidup tidak pernah lebih besar dari kemampuan kamu untuk menghadapinya.
Saya terus doakan semoga kamu mendapatkan kebenaran sejati itu dan kembali padanya.
Adika Ranggala said,
July 30, 2008 at 10:00 pm
Sejak awal saya mendengar berita perceraian tersebut, saya menahan diri untuk meng-es-em-es atau menelpon Dee, lantaran ya memang kesannya tidak enak. Waktu itu saya hanya mengira bahwa paling Dee sedang beduka (dan jika saya menghubunginya, maka kesannya memang saya hanya basa-basi saja). Lebih jauh saya pikir bahwa pada level kedewasaan seperti Dee, saya agak yakin bahwa perceraian ini sepertinya akan diterima sebagai sebuah keniscayaan hidup, ANICCA (semua yang berkondisi adalah tidak kekal, berubah terus).
Dan hari ini saya membaca tulisan Dee ini, saya sungguh merasa senang bahwa ternyata dugaan saya benar.
Saya tidak akan mengucapkan TURUT duka cita karena saya tidak melihat Dee berduka, dan saya melihat Dee telah lepas dari sebuah belenggu, karena hidup dalam sebuah situasi yang tidak diinginkan lagi jelas bukan sebuah hidup yang ‘hidup’.
Selanjutnya, saya juga menaruh harapan yang sama untuk Marcell, murid Dee pada kehidupannya yang lalu.
Abin Adika Ranggala
Shin Orochi Matsuura said,
July 30, 2008 at 11:59 pm
Im not good with words, and not going to outsmart this with my lousy philosophia…
Just wanted to say that you two looked so great back then, but I am sorry it din’ work out well for you two, but I wish this will open new door for happiness for you guys.
…me wo tojite konpeki ni kagayaku Philosophia…
Anonymous said,
July 31, 2008 at 2:48 am
mba’ dee… cuman mau nanya nie
trus apa dunk bedanya ama pacaran???
jika semua hubungan ada kadaluarsanya, kenapa nggak pacaran aja???
apakah pernikahan hanya sekedar formalitas???
apakah pernikahan hanya sekedar “penghalalan” untuk melakukan hal2 yang dianggap tak boleh dilakukan jika belum menikah???
-inge-
si nengero said,
July 31, 2008 at 7:40 am
smoga terbaik untuk Keenan..
Kris said,
July 31, 2008 at 7:41 pm
-io”Kadang-kadang Tuhan mengirim surat cinta-Nya dalam amplop yang pinggirannya hitam. C.H. Spurgeon.”
Surat cinta Tuhan selalu indah adanya.Gambar realitas Pernikahan pun merupakan retakan dari Pertemuan, Perpisahan, Cinta dan Tuhan yang menemukan kesadarannya dalam sakralitas rasa pahit-manis akan pemahaman kita masing-masing,menggabungkan semuanya akan jejak ke depan, sebuah jejak yang ketika dilangkahi pun masih penuh misteri.Amplop cinta Tuhan yang penuh misteri,eh?
Regrads,
Kris
http://www.gian-oleh-olehdaripikir.blogspot.com
Anonymous said,
July 31, 2008 at 8:35 pm
dee…,
wow…. speechless
kalo aku pribadi masih belum bisa & belum berani untuk mengambil keputusan itu…Entah sampai kapan akan bertahan…karena faktor2 'external'….
Goodluck
Diyah Hayu said,
July 31, 2008 at 9:36 pm
lagi-lagi..
Dee membuat saya terhenyak dengan tulisan-nya
sama seperti ketika saya membaca “Supernova” dulu semasa SMA
ah, saya jadi ingat coretan saya sendiri
tentang cinta..
yang saya maknai sebagai sebuah siklus..
barangkali Dee tengah berada di siklus patah hati, atau siklus yang tidak jelas (patah hati bukan, jatuh cinta juga bukan)
tapi saya yakin..Dee akan sampai pada siklus jatuh cinta lagi..
salam,
^_^
Manik said,
July 31, 2008 at 10:54 pm
Sebelumnya terimakasih atas cerita diatas.. sangat mengharukan sekali mbak…
“Semua Akan Indah Pada Waktunya”
Salam
yani_faridza said,
July 31, 2008 at 11:13 pm
mbak dee..maaf ya..tulisan anda sangat indah tapi kebanyakan teori dan teori2 anda samasekali sudah tidak berguna
Putri said,
August 1, 2008 at 5:19 am
Mbak Dewi,
bener2 analogi yg gak banyak dmunculkan oleh banyak orang. aku bisa gak bosen ngebacanya, walopun lumayan panjang
gak brani komen untuk masalah yg satu itu, kayaknya juga aku gak terlalu berhak, hehe!
hatur nuhun sdh ngasih pandangan baru Mbak. semoga aku bs sering2 ngunjungin blog ini.
Anonymous said,
August 1, 2008 at 5:58 am
ah….
LIZA said,
August 1, 2008 at 7:52 pm
kak Dee,
saya salut membaca tulisan kakak yang begitu tegar.
Memang untuk melihat masa lalu orang pasti jitu. Untuk melihat masa depan itu sulit,semua kembali kepada yang menjalankannya masing2.
Semoga kakak Dee mendapatkan kebahagiaan seutuhnya kasih-NYA slalu bersama mu
brainwashed said,
August 1, 2008 at 11:20 pm
bacaan yg bagus..menjadi pencerahan buat saya. thx
smoga tuhan selalu menerangi jalan anda..
salam.
Anonymous said,
August 2, 2008 at 3:48 am
hi..dee..
apapun yg terjadi n diputusin smua punya konsekwensinya.salut..
jika semua kembali ke semula akan terlihat bagus depannya,blm tentu dalamnya.cinta lbh baik dikembangkan universal kn?drpd cinta yg melekat yg menimbulkan penderitaan.84rb pintu menuju kebhagiaan terbuka lebar buat siapa saja yg memahami kebenaran
phin said,
August 2, 2008 at 4:00 am
dee…
c u….
banyak org yg hanya cuma tau mengurusin masalah org lain.tdk pernah mencoba berdiri di posisi org lain dlm menciptakan suatu pandangan.tapi yah itu smua hanyalah pembelajaran.prosesnya sesuai dgn berubahny kondisi.indahny cinta itu bkn hny dlm suatu wadah pernikahan kok,g setuju itu.indahny cinta itu jk kt mulai mengerti alam n hukum2nya.spt yg km blg setelah menonton “earth” that is beauty.glad to know u punya kemajuan yg sangat membuat g salut.kemajuan melihat kehidupan apa adanya.tq uda memberi pembelajaran thdp g jg wlu secara tak lgsg.
Chuang said,
August 2, 2008 at 6:18 am
Jika Seseorang Tak Dapat Menemukan Kebahagiaan di Dalam Dirinya Sendiri, Maka Ia Tak Akan Dapat Menemukannya Di Mana pun juga
–Buddha–
nia said,
August 2, 2008 at 6:21 am
Salam,
Kalo orang Betawi bilang,”emang udah begitu jalannye…!”. Jadi memang sudah sampai pada perpisahan, mau dikate ape dong?!
Memang media yang melabelkan diri sebagai infotainment kebangetan, gak punya etika. Khusus untuk yang TV, mereka itu khan bukan media, tapi production house kok bisa2nya ngaku sebagai wartawan! Etika jurnalistik yang paling mendasar sudah dilanggar! Mereka bukan menyampaikan fakta tapi opini yang tidak mempunyai dasar. Boro-boro data, faktanya aja gak ada, kok bisa-bisanya beropini!
Gimana, kalau Dewi menuntut infotainment itu ke pengadilan? Biar bisa jadi pembelajaran buat mereka. Jangan ada damai, uangnya diambil aja untuk untuk membangun WC umum diseluruh Indonesia….
Akan sangat membantu memperbaiki kondisi sanitasi negara ini. Selain itu bisa jadi sarana kampanye jadi presiden independen!
Wassalam,
nia
Anonymous said,
August 2, 2008 at 6:32 am
Dee..
Thanks for sharing us such a lovely note.Bagi saya,Dee seprti sudah mencapai penerangan sempurna.. hihihi karena inti-inti ajaran Budha sangat tersirat dengan proposional dalam tulisan Dee (mengingat blog ini memang bukan khusus untuk Budhist).Kalo nggak, mungkin istilah-istilah Pali keluar semua ya Dee…hehehe
Mungkin bagi sebagian orang yang membaca tulisan Dee akan bingung, menganggap Dee sok suci lah, super ego lah, meremehkan Tuhan lah,atau malah menganggap Dee seperti orang aneh…hahaha
Biarin aja mereka Dee karena saya tahu betul konsep berpikir orang berbeda-beda, keyakinan juga beda,ada batas hitam putih yang memang sudah terpatri dalam pikiran setiap orang sehingga terkadang sulit untuk menyusupkannya ke warna yang lain.
Saya sangat-sangat memahami esensi dari tulisan Dee tentang perpisahan, hidup,”masa kadaluarsa”, kemelekatan,takdir, semuanya. Dan saya setuju 1000% dengan tulisan Dee.
Semua kembali lagi pada prinsip dan tujuan hidup kita. Kebahagiaan ada di dalam hati dan merupakan keputusan harian.Apa yang kita punya,apa yang kita bisa harus dilakukan dengan sepenuh hati dan selalu berpikir nothing to loose either we get something or not.
Kita memang harus mencintai sesama manusia tetapi terlebih dahulu kita harus mencintai dan menghargai diri kita sendiri. Dengan begitu baru kita bisa mencurahkan cinta dengan lebih bijaksana kepada orang lain.
Tidak ada satu pun yang kekal di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. So,
Life is too short to wake up in the morning with regret
Believe that everything happened for a reason
If you get a chance, take it
If it changes your life, Let it
No body said it would be easy,but
They just promised it would be worth it!!
Don’t give up,Keep your spirit gal!
Design your own art of living ^_^
Salam kenal,
tiny
Dewi Lestari said,
August 2, 2008 at 9:20 am
Bagi JD, Lina, Lina Jenie…
Silakan teruskan apa yang menurut Anda menjadi perjuangan dan layak diperjuangkan. Semoga sama-sama menemukan apa yang dicari. Apa pun itu. Saya turut berdoa.
Jika yang dituju oleh masing-masing dari kita ternyata berbeda, ya tidak apa-apa. Tidak masalah. Pencarian saya tentu belum tentu pencarian Anda. Dan sebaliknya. Tuhan yang kita bicarakan belum tentu sama. Apalagi yang lain-lainnya.
Untuk Mbak Retno, silakan ditelusuri archive blog ini. Saya resmi ikut pelatihan kompos dan memang membuat kompos. Pohon di rumah saya ada 10 lebih untuk rasio penghuni rumah yang sktr 5 orang. Jadi, satu orang dua pohon. Untuk ini saya memang tidak menanam sendiri, tapi dibantu oleh mertua dan tukang kebun.
I walk what I talk, as best as I can. I don’t walk what I don’t talk, as best as I can. Regarding the environment, menurut saya, daripada mempertanyakan apakah orang lain berbuat sesuatu atau betulan berbuat sesuatu, lebih baik gunakan waktu Anda untuk BENAR-BENAR berbuat sesuatu. Semampunya.
Terima kasih,
~ D ~
Anonymous said,
August 3, 2008 at 12:50 am
Dee,
ketika unsur hara yang ada diantara dua pihak yang hidup bersama tidak membutuhkan unsur yang relatif sama, pertumbuhan mungkin menjadi tidak optimal. jika ladang tempat bertumbuh beda, unsur hara yang dibutuhkan berbeda, tidak memaksakan diri untuk bertumbuh bersama mungkin akan lebih sehat bagi keduanya
salam,
Chindy
Seni said,
August 3, 2008 at 6:19 pm
mengenai Keenan, saya sepakat untuk tidak mempertahankan atau melepaskan apapun demi hal lainnya, termasuk mengatasnamakan Keenan untuk alasan mempertahankan atau melepas ikatan pernikahan….
sewaktu aku memfasilitasi kegiatan MOS di sekolah, seorang Bapak mewakili orang tua siswa berkata “Kami ingin anak-anak kami mendapatkan pendidikan terbaik, namun kami pun masih ingin menikmati anak-anak kami.” Intinya, setiap orang berbuat untuk “mengutuhkan” dirinya sendiri, sehingga dia bisa memenuhkan orang lain….
-salam-
ishtar said,
August 4, 2008 at 3:06 am
Salut buat Dee yang sudah berani berkeputusan karena walaupun saya belum menikah, tp saya yakin bercerai bukanlah keputusan yang mudah.
Terima kasih buat Dee, karena setelah membaca tulisan ini, saya baru sadar untuk melepaskan “bangkai” dari hidup saya. “Bangkai” yang merupakan suami perempuan lain, yang jauh sebelum saya masuk dikehidupannya pun, dia sudah merasa bahwa rumah tangganya tidak dapat dipertahankan lagi, kecuali dengan alasan anak-anak.
Satu lagi pertanyaan saya…?
Apakah menikah memang sudah jadi konsep yang utopis..?
Anonymous said,
August 4, 2008 at 4:15 am
Well,untuk kehidupan yang lebih baik dari 2 orang, say pikir ok2, aja,tuh,
the writer said,
August 4, 2008 at 4:35 am
Biasanya dan yang paling umum.. perceraian itu gara-gara orang ketiga.. dan apa salahnya dengan itu ?
)
dan juga apa salahnya dengan pasangan2 yang keras kepala bertahan? dan berupaya mengikis semua trauma “orang ketiga”?
)
hidup adalah pilihan. Dan selamanya begitu. Yang paling melegakan adalah apabila kita selalu menentukan pilihan di dalam relung kecil yang sepi, tempat kita sendirian dan bertemu dengan Kebenaran, Suara lirih yang seringkali kita abaikan..
Semoga kita bisa terus berada di dalam ruang yang sepi itu. Sepi bahkan dari entitas yang sering kita namai “diri”..
Ruang untuk menentukan pilihan, dimana kita tak akan pernah membutuhkan lagi semua bentuk pembenaran dari keputusan yang kita ambil.
selamat berjalan..everyone!
Adhini Amaliafitri said,
August 4, 2008 at 7:02 am
*speechles*
even sedih banget pas tau kalian mau cerai.. jujur, liat kalian memang serasi sangat! tapi ternyata klo ini keputusan yg terbaik untuk semua pihak, apa boleh buat
setuju, dengan kalimatmu
“Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia.”
karena itulah, saya ikut bahagia tau kalian bercerai secara baik2 dan masih punya hubungan baik
cheers
ReaNdick said,
August 4, 2008 at 7:05 am
mungkin krn aq terlalu mengidolakan mu dee..
yg mmbuat ku hanya bisa meng “iya” kan,
tanpa bimbang!!
Mariska said,
August 4, 2008 at 7:28 pm
Saya pernah mendengar banyak sekali “pembenaran” tentang sebuah perceraian. Tapi “pembenaran” yang satu ini terdengar paling aneh.
Kalau kamu menganggap sebuah hubungan punya masa kadaluarsa, termasuk yang diwadahi dengan pernikahan, aku rasa kamu sebaiknya tidak memilih untuk menikah. Karena kalau prinsipnya perpisahan itu “ada waktunya”, tidak ada bedanya dengan saat berpacaran. Kenapa harus melegalkannya dalam sebuah lembaga yang disebut pernikahan? Toh alasan “kadaluarsa” itu bisa dipakai lagi dalam hubungan berikutnya.. dan berikutnya lagi.. Bagaimana jika setiap kali berhubungan, dalam masa tertentu hubungan tersebut kadaluarsa?
Sebuah keputusan selalu ada konsekuensinya. Dan konsekuensi itu, aku rasa, diikuti juga dengan sebuah tanggung jawab.
Mengejar kebahagiaan.. setiap orang pasti melakukannya. Tapi cuma sekadar berbagi, menurutku kebahagiaan itu ada pada pikiran kita sendiri. Kita bisa mengatur kapan akan bahagia dan kapan tidak bahagia.
Maaf, Dee.. Aku nggak bermaksud apa-apa, cuma berbagi pikiran saja.
Semoga bahagia..
jc said,
August 4, 2008 at 8:41 pm
Hai, Dee!
Gosh, I still love your writing. I can tell you are one of those who inspire me to keep writing.
However, ada beberapa hal yang saya nggak setuju dari tulisan ini. Terlepas dari apa kata infotainment, apa kata dunia, apa kata comment2 sebelumnya, saya tetap merasa pernikahan itu sakral adanya dan tetap worthed untuk dipertahankan. Dee bilang, segala sesuatu ada masa kadaluwarsanya. Dee juga bilang Tuhan tidak pake ‘kecuali’. Kalau begitu, bisa dong saya simpulkan Tuhan juga punya masa kadaluwarsa. Bener?
Dee kasi contoh kasus mereka yang teraniaya karena terus bertahan dalam wadah pernikahan. Betul, kasihan sekali kalo tidak cerai. Tapi lebih kasihan lagi karena dia baru tahu kalo pasangannya suka menganiaya sebelum dia married dengannya.
Oke lah, itu cuma contoh kasus. Tapi tetap buat saya pernikahan tidak se-absurd itu yang punya kadaluwarsa seperti commercial food. Pernikahan lebih daripada itu. Saya nggak sekedar ngomong, karena saya sudah menikah, dan saya tahu bagaimana rasanya saat-saat kita merasa semuanya tidak benar dan harus diakhiri.
Seperti yang kamu bilang, kebahagiaan terletak pada diri kita sendiri, bukan karena orang lain. Kalau perpisahan ini merupakan kebahagiaan terbesarmu saat ini, ya monggo dilakukan. Saya percaya Dee sudah siap dengan konsekuensinya. But, don’t let me – as your admirer – down, please?
Diajeng said,
August 5, 2008 at 12:30 am
Who are we ???? We’re nothing …. everything is nothing …..
Peny said,
August 5, 2008 at 5:35 am
terimakasih tentang definisi perpisahan. dan saya sendiri sudah menerima hal tersebut sebagai bagian dari hidup.
petualang said,
August 5, 2008 at 10:17 am
yah… demikianlah ‘privilege’ yang bisa dinikmati dan mungkin diresahkan celebrity. Walau kesal mudah-mudahan tetap bisa melihat secara positif.
Pernikahan dalam peradaban manusia adalah melegalkan hubungan cinta antara 2 insan baik secara hukum negara ataupun kepercayaan. Kalau manusia bisa menjadi lebih beradab dan bertanggungjawab masihkah proses legalisasi dibutuhkan?
Eddy said,
August 5, 2008 at 10:45 am
Saya juga nyasar ke blog ini karena dapat dari teman, tertarik banget dengan ide-ide dari Mbak Dewi soal perceraian ini..
one question :
Andai.. hanya andaikan saja… Keenan.. nangis2 sedemikian rupa, agar papa mama nya gak cerai…
gimana Mbak Dewi?
Jhatz Caesar said,
August 5, 2008 at 11:53 am
Mbak Dee..
sebelumnya maaf karena saya belum pernah berkeluarga sudah lancang sharing dalam masalah mba.. hehehe..
Menurut saya dalam masalah yang mbak hadapi ini saya yakin bahwa mba sudah melakukan hal yang mba putuskan dengan dewasa. Pilihan hidup kan memang untuk dipilih dan harus bertanggungjawab atas pilihanya itu dengan yakin atas pilihanya itu walaupun sebenarnya kurang baik. Jadi jika mba merasa yakin, maka pilihlah itu. untuk kedepanya mungkin mba bisa menggunakan pedoman orang jawa yaitu “Nrimo” atau pasrah niscaya Yang Kuasa pasti memberi jalan. Yang penting Yakin! maaf lho mba.. bukan menggurui lho.. tapi sharing hehehe..
semangat ya mba..
Regards Jhatz Caesar
Dewi Lestari said,
August 5, 2008 at 11:58 pm
Pertanyaan Mariska harusnya menjadi permenungan kita semua: mengapa manusia menciptakan institusi pernikahan? Saya tidak yakin kalau Adam dan Hawa punya akte nikah.
Kita memang selalu hidup bersandingan chaos dan order. Kita bertendensi untuk menciptakan tatanan, aturan, dan rambu-rambu. Dan paradoksnya, kita pun bertendensi sama untuk memberontak, melanggar aturan, dsb.
Saya tidak melihat ada yang inheren salah dengan pernikahan. Itu adalah sebuah sistem yang kita ciptakan agar hidup ini lebih tertata. Sama seperti kita membentuk negara, sistem kependudukan dengan KTP, dsb.
Begitu juga opini saya dengan pelembagaan agama. Saya tidak yakin tuh Yesus punya rancangan organisasi gereja dalam ajarannya (setahu saya Petrus yang bikin gereja), Buddha pun mencari pencerahan agar manusia terbebas dari dukkha, bukan untuk bikin institusi atau organisasi bernama agama Buddha. And yet, every teaching of the truth has to succumb to our natural tendency to organize, to structurize. That’s human. That’s us. That’s why we have nations, countries, churches, MUI, WALUBI, dsb… we need system. But don’t ever mistake the system with the essence. I respect system, but system is not everything.
Pada permukaan saya menikah, beragama, sama halnya dengan kebanyakan dari kita. Namun saya tidak ingin menjadikan institusi2 tsb penjara absolut. Kalau isi sudah tak sesuai dengan cangkang, buat apa dipaksa? Itu pilihan dan prinsip saya. Prinsip Anda tentu berbeda-beda.
Saya nggak anti dengan menikah lagi. Tapi saya tidak mau terbelenggu ilusi keabadian dari segala hal, termasuk menikah. Tidak berarti saya akan terus seumur hidup putus-nyambung, cerai-kawin juga kan? Kalau menikah lagi ternyata menjadi jatah saya, ya boleh. Nggak juga boleh. Kalau bisa kelak sampai seumur hidup ya oke, kalau enggak ya nggak apa-apa juga. Kita memasuki hidup ini dengan pelajaran karma berbeda-beda. Yang tidak waras adalah mengharapkan semua orang mendapat pengalaman dan pelajaran yang persis sama.
Tidakkah Anda melihat, bahwa cengkeraman kuat kita terhadap cinta, perpisahan, pernikahan… justru yang harusnya kita renungkan? Ada apa sebenarnya? Mengapa saya begitu bermasalah dengan opini si Dewi Lestari? Ada isu apa antara saya dengan konsep kadaluarsa, dengan konsep perceraian, dengan konsep perubahan?
Have a good dive…
~ D ~
Eddy said,
August 6, 2008 at 10:34 am
Mbak Dee,
kok pertanyaan saya gak dijawab?
i just wonder …
gimana kalau Keenan nangis2 sedemikian rupa.. minta papa mama nggak cerai?
Anonymous said,
August 6, 2008 at 11:11 am
Dee, serasa melihat ‘dunia lain’ setelah membaca blog kamu.
Here some of my ‘analysis’
Mengutip kata2 Dee di blognya: “Saya tidak berdagang dengan Tuhan” sepenuhnya saya setuju karena kita tidak pernah bisa menjual ataupun membeli apapun dariNya. Tuhan sebagai pemberi kehidupan dan penentu ajal dalam kehidupan yang pastinya juga penentu sesuatu dalam kehidupan ini ’sudah kadaluwarsa alias sudah waktunya’.
“setiap detik dalam hidup adalah hadiah” dan dikatakan juga …”Mereka sadar, menerima, dan memaafkan bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan”.
Apakah titik perpisahan adalah hadiah juga?
Adakalanya hadiah tidak semata-mata hal-hal yang positif karena hadiah tidak bisa dilihat dari penampilan saja.
As I know ’til death do us apart’ is the one and only statement which can take us to believe that ‘perpisahan’ adalah hadiah.
Its just food for thought, no harmful meaning on it.
All the best for your future endeavour!
Anonymous said,
August 7, 2008 at 1:06 am
To : Dee..
Banyak yang kusukai tentang semua yang ada padamu, cerdas, mandiri, terkenal, mempunyai banyak kelebihan. Dan, yang jelas, sampai tanggal 24 Juli 2008, berbagai kekaguman kutujukan padamu sebagai wanita. Sampai,,,,aku membaca blog mu!
Kecewa sekali, tak ada sedikit pun pembenaran dariku untuk kembali mengagumimu..
Perceraian… perpisahan… kata-kata yang jelas berkonotasi negatif itu, sama sekali tidak aku sukai !
Membuatku takut malah ! dan itu terjadi padamu….. ah.. kupikir kamu adalah wanita paling bahagia Dee, aku bisa lihat Marcell sangat mencintaimu…sangat terlihat…walau aku sama sekali tidak mengenalmu,,tidak pernah! Bertemu dan bertegur pun bahkan… metro TV,,, stasiun itu pernah menayangkan kalian bernyanyi bersama, dan jelas sekali kalian masih saling menyayangi dan membutuhkan. Sempat terbersit dibenakku, aku ingin merasakan gelora cinta suatu hari nanti, bersama lelaki yang aku cintai seumur hidup, inspirasi itu dari penampilan kalian…!! dan seperti jutaan manusia lain di Indonesia,,aku tertipu…
Perceraian…….bukanlah suatu hal yang baik apapun alasannya..
Itu justru membuktikan,,kita tidak bertanggung jawab pada diri sendiri…tidak bertanggung jawab pada janji kita pada Tuhan,, bukankah saat kita menikah kita berjanji pada Tuhan, pada diri sendiri, untuk sehidup semati,,,dan kita merayakan pernikahan kita dengan berbagai macam pesta agar semua orang tau,,bahwa kita berani bersumpah..berjanji untuk saling setia, berbagi, melengkapi sampai mati dengan pasangan kita… ahh…mungkun essensi itu yang terlupa pada orang jaman sekarang… lagi2 menyalahkan jaman,,,edan!
Saat kita memutuskan untuk mencintai seseorang..bukankah berarti kita memutuskan untuk siap untuk berkorban untuknya…???? entahlah… mungkin memang ini jalan yang kau anggap baik,,, tapi Demi Allah.. masih banyak jalan yang lebih baik dan lebih dewasa dari perceraian… APAPUN ALASANNYA PEMBENARAN YANG MENGIKUTINYA…!!!!
Aku akan menjaga lelakiku baik-baik..dan aku akan menjaga jiwa ragaku untuk mencintainya baik-baik…. i Love Him..so much…….
rachel mila said,
August 7, 2008 at 5:25 am
dear, D..
salut karena dee emang seorang wanita ‘kuat’ yg smart and mandiri.
cuma mau nanya dee.. apa si gunanya janji nikah? (selain sbg simbol pernikahan?) what the meaning inside? just word? or rule?
satu lagi, pernah ga dee pikir kalo dee meditasi lebih dari 2,3,5, bahkan 10 taun? yg penting result nya.. bukannya dee ngmg setiap hidup itu seperti 2 sisi mata uang? disetiap sisi negatif pasti ada sisi positif, rite?? tergantung cara menyikapi tiap manusia itu sendiri.
dee.. aku wanita yang akan menikah..
mungkin cinta itu gombal.. yg pasti aku belum tau apa yg akan terjadi nantinya, yup, itu betul.
dari sisi pandangku, suatu saat nanti kita akan tua, bahkan sangat tua dan untuk hidup sendiri? i dun think so, is like cheating on ourself. mencari pengganti Marcell one day? pasti.
pertanyaan saya.. apa yang SEBENARNYA manusia cari dalam hidup ini? pembenaran hidup?
Dee… tiap orang memiliki kelebihan, demikian juga kelemahan (seperti 2 sisi mata uang tadi)
whatever it takes, kita sbg manusia punya semua itu, and mau nya pasangan hidup kita nanti menerima kedua2nya and sebaliknya juga begitu.
Dee, itu pandangan saya.. tanpa bermaksud judge dee.. semua yg rasain dee, yg melewati dee juga.
apapun sepak terjang dee.. satu hal yg harus dee ingat!
DEE tidak pernah sendiri, dan badai itu pasti surut dan berlalu.. banyak yang menyayangi dee, bahkan saya yakin, sangat banyak
Tuhan selalu menjaga dee, Dia pribadi yang paling memahami kita.
salam,
rachel mila =)
rNest said,
August 7, 2008 at 5:34 am
Kematian tidak dapat dipisahkan dari kehidupan karena ada kuasa di luar manusia yang menentukannya.
Kapan kita lahir, kapan kita mati, hanya Tuhan yang tahu.
Di lain pihak, pertemuan dan perpisahan adalah sesuatu yang bisa dikendalikan oleh manusia.
Pernikahan dan perceraian juga merupakan sesuatu yang dikendalikan oleh manusia.
Ketika Anda menyinggung tentang ego, saya sebaliknya berpikir tentang komitmen.
Pernikahan bukan soal rasa. Pernikahan itu soal komitmen dan kerja keras.
Perceraian, menurut hemat saya, hanyalah bentuk pelarian manusia dari ketakutannya akan berkomitmen, keengganannya melepaskan segala bentuk mementingkan diri sendiri, dan kodratnya sebagai manusia untuk taat kepada jalan yang sudah ditentukan oleh Tuhan.
Tuhan tidak pernah merancang keburukan dalam dunia yang diciptakanNya. Manusialah yang menyebabkan semuanya itu.
Tuhan tidak pernah merancang perceraian saat Dia memberkati Adam dan Hawa. Manusialah yang tidak pernah puas akan apa yang sudah diberikan Tuhan kepadanya.
Dewi Lestari said,
August 7, 2008 at 9:50 pm
Untuk Edi,
Pertanyaan Anda spekulatif. Jadi jawaban saya pun pastinya cuma spekulasi belaka. Jadi, apa gunanya? Kenyataannya, Keenan tidak menangis2 minta agar orang tuanya tidak bercerai. Haruskah saya berkhayal dan berandai-andai demi memuaskan spekulasi dan keingintahuan Anda?
Kalau di kasus lain, ada anak yang nangis2 memohon permintaan tsb, ya saya juga tidak bisa menjawab untuk mereka. Saya tidak mengalaminya. Jadi, harus gimana? Semoga Anda paham maksud saya. Bukan saya menghindar dari pertanyaan Anda. Tapi saya sungguhan tidak punya jawabannya, karena tidak mengalaminya langsung.
Untuk Anonymous… I’m sorry that you have so much myth around me. Hal yang sangat wajar. Kita semua memelihara mitos terhadap segala hal. Terutama mereka yang tidak kita kenal. Saya pun punya mitos tentang Keanu Reeves, atau Vic Zhou. Bukan salah Keanu atau Vic kalau persepsi saya tentang mereka ternyata berbeda dengan kenyataan. Saya bertanggungjawab atas persepsi apa pun yang saya buat. I hope you realize that too.
Like I said before, perjuangkanlah apa yang kita anggap penting, tapi jangan minta saya untuk menganggap perjuangan Anda harus menjadi perjuangan saya juga. Like I said before (again), Tuhan yang kita omongin aja bisa beda2, apalagi yang lain2nya.
Saya nggak punya niat menipu Anda dan jutaan orang Indonesia lainnya. Kalau Anda merasa tertipu, itu sepenuhnya masalah Anda. Kami memang memutuskan berpisah. Tapi dalam prosesnya kami baik-baik saja, karena itu kami masih bisa bernyanyi sepenuh hati, dan masih bisa saling menyayangi tanpa perlu akting atau tipu menipu.
Dalam hal perpisahan ini, saya tidak menyalahkan siapa pun atau apa pun, termasuk “jaman edan”, “takdir”, atau pasangan saya. Lantas, kenapa Anda begitu bersemangat menyalahkan saya, menyalahkan jaman, dsb? Funny.
Terakhir… saya kutip lagi comment saya sebelumnya: “Tidakkah Anda melihat, bahwa cengkeraman kuat kita terhadap cinta, perpisahan, pernikahan… justru yang harusnya kita renungkan? Ada apa sebenarnya? Mengapa saya begitu bermasalah dengan opini si Dewi Lestari? Ada isu apa antara saya dengan konsep kadaluarsa, dengan konsep perceraian, dengan konsep perubahan?”
Anda sendiri mengatakan, Anda punya masalah dengan kata perpisahan dan perceraian, yang Anda anggap punya konotasi negatif. Ada baiknya Anda renungkan itu dalam-dalam, dengan mengajukan pertanyaan simpel pada diri Anda sendiri: KENAPA?
Padahal, jangankan dengan manusia lain, kelak kita pun akan berpisah dengan “diri” ini, bercerai dengan jasad ini.
Anyway, semoga bertemu jawabnya.
~ D ~
Anonymous said,
August 8, 2008 at 12:56 am
let love travels through time and space…
coz we are just tiny dust in this world…
honda said,
August 9, 2008 at 2:24 am
Semoga ikhtiar yang dijalankan membawa kebaikan bagi diri Dee, agama Dee dan masa depan Dee. Amin
johanna said,
August 10, 2008 at 9:56 pm
Dee…
emm saya hanya ingin bertanya….
anda sudah mengucapkan janji pernikahan di hadapan Tuhan untuk sehidup semati hingga kematian memisahkan kalian berdua..
Bagaimana anda bisa mengingkari janji itu??
Maafkan kelancangan saya.. saya cuma penasaran aja bagaimana pendapat anda tentang itu..hehe
cheers,
jojo
pingala said,
August 14, 2008 at 12:44 am
hey Dee..
melihat komen anda .. implisit, anda ..”tertekan” dengan komen orang2 disini..
mmhh..
SARAN saya.. lanjutkan menulis novel atau apapun itu..
tidak usah komentari lagi..apa apa disini.. tidak baik untuk kamu, akhirnya
sebab argumentasi kamu sungguh mengundang perdebatan..
sudahlah Dee..Cukup.
argumen kamu sudah lebih dari cukup
dalam 250 biji komen yg ada sejauh ini
lebih banyak orang suka kamu menulis Novel..dibanding kamu mengomentari — apologi — balas membalas — alasan kawin dan kemudian cerai kamu…
toh secara tersirat maupun harafiah ..
kamu sendiri bilang ..
“..perjuangkanlah apa yang kita anggap penting, tapi jangan minta saya untuk menganggap perjuangan Anda harus menjadi perjuangan saya juga..”
cukup fundamental!-(is ?)
case closed.
~ Mission Accomplished ~
itu saja barangkali.
saya fans-mu Dee !! Tolong saya.
tulis saja Novel baru.
Claude said,
August 14, 2008 at 5:43 am
Dear mbak Dee…
Sangat menarik sekali membaca blognya…
Apalagi saat membaca tentang “perpisahan”
Saya juga pernah mengalami “hal” itu..
Walaupun sampai saat ini saya masih merasa “trauma” tapi mungkin kata ‘pisah’ yang terbaik untuk saya dan pasangan saya…
Ada banyak penyesalan yang saya rasakan. Kenapa saya harus bertemu? Kenapa saya melewati beberapa tahun bersamanya? Kenapa harus terjadi perpisahan itu?
Apakah mbak Dee pernah menyesal dengan keputusan itu?
Kadang saya sangat merindukan masa-masa dimana saat masi bersama…
Melihat mbak Dee yang begitu tegar menghadapi ‘hal’ ini, saya mencoba untuk bisa melewati hal tersebut..
Mbak, sering2 ya nulis di blog (apalagi hal2 yang bisa menginspirasi buat para kaum hawa)
Ps: Thx mbak 2 inspiring me. Good Luck yah ^^
melancozy said,
August 14, 2008 at 9:26 am
social judgement,
Dee, kamu hidup dalam masyarakat yang mengenal hukum negara dan hukum Tuhan.
Kalau pengadilan negara ada hakim, jaksa pembela dan saksi. maka pada pengadilan masyarakat saksi merangkap jadi hakim,jaksa dan pembela.
Kamu melakukan sesuatu yang menurut masyarakat melawan hukum atau tidak disukai Tuhan, maka pengadilan masyarakat berlaku.
Saya rasa jauh hari sebelum kamu mengambil keputusan ini kamu sudah tau akan segala konsekuensinya.
Jadi nikmatilah pengadilannya.
Lamanya hukuman? selamanya atau sampai masyarakat menemukan pesakitan lainnya untuk diadili
Anonymous said,
August 14, 2008 at 10:23 am
D, saya mampir ke”rumah”mu ini dan akhirnya ikutan baca..serta mohon ijin me-link rumahmu in ke rumahku. anyhow…sejauh yg saya rasakan D itu konsisten..semoga semua tulisan ini jujur dari hati dan pikiranmu..karena apa..terkadang saya juga skeptis dengan pencitraan. Tapi sekali lai saya merasa kamu genuine dan konsisten..kamu termasuk individu yang saya hormati dan berpengaruh positif..salam
vivi
sangratu@yahoo.com
Rudy Gunawan said,
August 14, 2008 at 10:12 pm
Hi!
gue kaget banget, nggak percaya, sedih dan kecewa waktu denger berita nya.
selama ini orang yang gue jadiin idola terasa jauh dan cuma di kulit nya aja, Dewi adalah salah satu dari sedikit idola yang gue bisa ngerasa nyambung dan bisa di jadiin panutan.
mungkin Dewi nggak sadar kalo Dewi sudah jadi milik publik dan tindakan / kata2 Dewi bisa ditiru, bahkan tindakan untuk cerai. kalo Dewi sadar, tinggal tunggu aja mereka2 yang cerai dan memakai alasan yang serupa disini.
mungkin Dewi berpikir seperti Sang Buddha yang ninggalin kerajaan + keluarganya, atau seperti Yesus Kristus yang ninggalin Maria ibunya, padahal kalo mau Yesus bisa aja menghindar dari salib.
mungkin Dewi sudah advance roh nya jadi bisa men-justify tindakannya.
jadi maksud Dewi atas nama ‘perubahan’ dan ‘waktunya sudah tiba’semua keputusan yang nggak umum bisa sah? bisa rusak semua tatanan budaya masyarakat ini. atau memang “sudah waktunya” dirusak (baca diubah) untuk menyambut “perubahan” besar yang akan datang.
jadi dibutuhkan agen agen perubahan skala besar (milik publik) yang bisa mendidik masyarakat secara lebih luas?
kenapa nggak bisa nggak cerai and tetep bahagia dengan siapapun orang yang mau dekat.
batas antara ego dan kesadaran cuma setipis rambut dan cuma pelakunya aja yang tahu. Setiap tindakan memang bisa ditempel ego, cuma pelakunya aja yang tahu seberapa banyak atau nggak sama sekali.
Tulisan ini pun ada ego gue karena gue sangat terpengaruh dengan keputusan Dewi.
tapi ya sudahlah…
Anonymous said,
August 15, 2008 at 9:43 am
Ah…Dee…Dee…
Tidak tahu kenapa ya…feeling saya anda koq seperti orang bingung, seperti tidak mempunyai pegangan. Banyak statement yg satu membunuh statement anda yg lain…Hanya semua itu tertutupi dgn kelihaian anda menulis dan merangkai kata.Mungkin ini salah, tapi saya merasakan ada banyak tulisan anda yg sebenarnya bisa dirangkum dlm satu kalimat saja yaitu “SAYA BINGUNG”….maaf kalau kurang berkenan dgn apa yg saya rasakan…
Rudy Gunawan said,
August 15, 2008 at 12:39 pm
Hi Dee!
Comment saya sebelumnya banyak dipengaruhi emosi + ego karena saya merasa sangat dekat dengan figure Dee, melalui novel + blog ini. Banyak perubahan dalam diri saya + cara berpikir yang dipengaruhi tulisan Dee semenjak Supernova muncul.
Setulusnya terima kasih buat semua tulisan2 itu. Terima kasih buat bikin blog ini, dan kalo boleh, tolong jangan pernah di shut down blog ini. Kita bisa aja ‘cut and paste’ tapi nggak akan terasa sama. Nggak ada nuansa Dee. Buka blog ini seperti oasis di padang pasir. Saya mulai nulis blog pun karena terinspirasi dari sini.
Keputusan Dee adalah hak pribadi, meskipun kita (fans) sulit untuk mengerti, karena sosok Dee cenderung digambarkan positif. Mungkin itu salah satu paradox kehidupan yang kita harus belajar.
Thanks ya Dee.
Thanks juga buat menjalankan forum demokrasi di blog ini.
Tolong jangan berhenti menulis, karena melalui itu kita (fans) merasa ‘hidup’…:)
Dewi Lestari said,
August 15, 2008 at 11:11 pm
Untuk Anonymous,
Ah… ah… agaknya Anda harus cek satu kemungkinan lagi: mungkin Anda yang bingung, sehingga hasil akhirnya menjadi saya membingungkan Anda. But hey, it could be the other way around
Untuk Rudy,
Terima kasih atas supportnya. Seringkali kita memang ‘terpikat’ dan ‘terpenjara’ oleh citra. Citra berubah, persepsi berubah, sikap kita pun berubah2. It’s completely okay. Saya tidak ada keberatan apa pun dengan comment kamu yang sekarang maupun yang sebelumnya. Pada akhirnya, untuk mengetahui siapa diri yang sesungguhnya, itu sajalah yang menjadi pekerjaan rumah kita seumur hidup. Blog ini, posting ini, hanya sekelumit wahana untuk kita sama2 berproses.
Regards,
~ D ~
7sins said,
August 15, 2008 at 11:18 pm
cerai = bego
apa yg jd komitmen kalian pertama mo naik jenjang perkawinan.
smua tulisan ini cuma permakluman..
ga ada penyelesaian buat permakluman kayak gini, percuma, segala dukungan, masukan cuma mantul di telinga aja.
lebih baik diem aja, kan mo gimana2 juga permaklumanmu aja yg kmu anggap benar.
Fuih.
Kindly regards,
7sins
casanova said,
August 16, 2008 at 7:29 am
Saya salut dengan tulisan mba Dee,
memberikan sudut pandang positif paling tidak untuk menatap kemasa depan. Proses untuk tidak saling menyalahkan dan memaafkan, saya tangkap sebagai proses tidak memaksa kembalinya masa kemarin yang positif.
terima kasih mba Dee, diluar pro-kontra soal perpisahan (yang saya rasa bukan hak siapapun untuk ikut campur). Mba Dee, memberikan visi baru yang jelas makin berguna buat yang membacanya.
salam
y4ni said,
August 17, 2008 at 8:10 am
Belum pernah saya se-amaze ini ama seorang manusia manapun…And having a friend like yourself would be a treasure…
Even though your theory of separating hasn’t click my mind,but I’m possitive that you have the kindest thoughts for the people around you…That you’re not doing this for yourself needs only, but for everybody around you too…
edwin syahruzad said,
August 17, 2008 at 9:31 am
The artist is the creator of beautiful things…
beautiful meanings in beautiful things…
apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.
what a beautiful meaning…
Edwin Syahruzad
hellen said,
August 17, 2008 at 11:13 pm
dear dee..
terima kasih atas postingan ini.
saya termasuk salah seorang ‘fans’ yang mengidolakan pasangan dewi-marcel.. dan ketika akhirnya mereka lebih memilih untuk menjadi pasangan dalam ‘kemasan’ lain, saya cukup mempertanyakan tentang cinta yang ada selama ini antara mereka, ke mana cinta itu.
akhirnya, dengan membaca postingan ini saya menjadi mengerti. cinta itu masih ada dan saya semakin kagum dengan keberanian kalian.
satu hal lagi, postingan ini sangat menjawab mengenai perpisahan yang saya alami baru-baru ini.
semoga kita semua tidak akan pernah lupa dan tidak berhenti percaya pada ‘the immensity of love’
be happy, dee..
salam..
Anthony Chen said,
August 18, 2008 at 9:09 pm
Dear Mbak Dee,
Setiap hal di dunia fana ini pasti berubah, tidak ada yang kekal adanya, termasuk hubungan dalam pernikahan pasti juga akan berubah, tergantung bagaimana kita menyikapinya dan akhir apa yang disepakati bersama. Keinginan untuk tidak berubah hanya membawa penderitaan, tetapi kemampuan memanage batin dalam menerima perubahan dan tidak melawan arus perubahan akan meminimalisir efek penderitaan.
Perceraian terjadi jika memang jodoh karma suami istri sudah selesai dan hal ini juga tidak bisa dipaksakan untuk dilanjutkan. Saya sendiri juga baru bercerai, dan bisa melewati hal ini dengan baik karena memahami akan penderitaan yang timbul karena kemelekatan dan ketidakmauan menerima perubahan, dengan bisa memahami hal ini dan melepaskan hal2 tersebut, maka semua berjalan dengan lancar.
Dengan kemampuan Mbak Dee yang tinggi dalam memahami hakikat kehidupan di dunia Saha ini, maka saya yakin semuanya dapat teratasi. Saya sangat setuju dengan pendapat Mbak Dee tentang pemenuhan cinta akan diri sendiri dulu. Kebahagiaan dan cinta hanya bisa mengalir keluar dari seseorang yang dipenuhi dengan kebahagiaan dan cinta itu sendiri. Bagaimana mungkin kita sendiri kehausan, namun berusaha mengalirkan keluar.
Semoga Mbak Dee dan Mas Marcell tetap bisa mempertahankan kontemplasi yang mendalam tentang hakikat kehidupan dan bisa melewati semuanya dengan batin yang tenang dan teguh, tidak tergoyahkan oleh berbagai pandangan awam dunia yang terpolusi oleh Kebencian, Keserakahan dan Ketamakan. Jagalah selalu Keseimbangan Batin yang telah terbina.
Doa tulus untuk kebahagiaan kalian berdua dan Keenan.Semoga berbahagia.
RaNeE said,
August 18, 2008 at 11:44 pm
Thank You for every lesson you put on your every word, I learn..U’re a great learner for me to learn
met bahagia,=p
devil may care said,
August 19, 2008 at 6:44 am
Dee…
Konsep Pemikiran Dee tentang Tuhan dan Perpisahan lolos antivirus di hardrive logika saya.
Kalo boleh, saya mau tau pendapat Dee Arti “Benar” dan “Salah”, Apakah ada “Benar” dan “Salah” dalam menjalani hidup ini? Apakah hidup ini hanya penuh dengan pilihan dan tak ada satupun pilihan itu yang benar atau salah?
Satu lagi, apakah/benarkah/mungkinkah manusia mempunyai sifat dasar (@least 1 sifat) yang tidak akan terpengaruhi atau berubah atau hilang oleh apapun dari dia lahir sampai meninggal?
Thx buat tulisan2 Dee yang udah menambah fitur baru untuk meihat kehidupan dalam otak dan logika saya.
Bye.
diannovi said,
August 19, 2008 at 8:03 am
Mba Dee, salam kenal.
Saya diannovi. Senang sekali membaca postingannya. Rasanya terwakili apa yang tengah saya rasakan.:)
Pasti bukan persoalan mudah untuk jujur mengungkap apa yang kita rasa. Apalagi dengan segala konsekuensinya. Pasti sangat sulit merubah kebiasaan sehari-hari dimana biasanya segala sesuatu selalu dilakukan bersama. Juga bukan persoalan mudah saat kita harus memberi penjelasan pada banyak orang atas sikap kita, terutama pada orangtua yang kehilangan menantu kesayangannya.;)
You’ve got the point, bahwa yang bertanggung jawab terhadap hidup kita adalah diri kita sendiri. Bukan orang lain. Kita menghadap Tuhan sendiri. Mati sendiri. Tidak ada yang bisa intervensi.
Hanya kita yang paling paham tentang keadaan diri. Bukan orang lain. Orang sekitar tidak punya hak untuk men-judge keputusan yang kita ambil. Toh, situasi inipun pasti bukanlah sesuatu yang kita harapkan pula. Pahit, pasti. Sakit, tentu.
Berpisah. Hanyalah bentuk lain dari suatu relasi. Dalam suatu relasi yang kita butuhkan adalah interaksi yang dapat saling melapangkan. Satu sama lain. Sangat tidak sehat bila dalam suatu relasi ada yang merasa tertindas, tertekan. Sungguh tidak pada tempatnya bila kita kemudian mencari rasionalisasi dengan atas nama; agama, nama baik, apalagi sekedar harga diri.
So, Dee. Thanks atas sharingnya.
Dan.. selamat berkarya.
Anonymous said,
August 20, 2008 at 6:17 am
berpisah untuk bahagia? kebahagiaan seperti apa yang dicari? sedangkan kebahagiaan itu sendiri selalu berubah. bahkan perubahan itupun selalu berubah.
btw, teuteup aja dimana-mana kalau masalah pribadi banyak yang komen euy!
coba bandingin sama postingan dee yang lain. kalau soal pribadi yang komen bejibun!!
Ain said,
August 20, 2008 at 8:09 pm
Dee, dalam hidup kadang kita perlu berhenti dan melihat apa yang sudah terjadi. bersantai sejenak, untuk berlari lebih cepat. Dee, saya percaya, sudah melihat dan mengamati dengan sangat cermat.
Tanpa berusaha melepaskan tanggung jawab personal terhadap kehidupan, ada pola, intervensi Tuhan, atau takdir, yang mengatur ini semua. Tidak mudah untuk meruntuhkan ego demi mengakui sudah melihat ini semua. selamat ya.
Camar Letih said,
August 21, 2008 at 5:45 pm
Gw cuma bisa bilang: gw salut, atas keberanian kalian untuk jujur pada diri sendiri. Banyak orang yang belum mampu untuk melakukan hal tersebut. Dan salah satunya, mungkin adalah gw, meskipun gw gak berharap seperti itu…
Rudy Gunawan said,
August 21, 2008 at 9:12 pm
Hi Dee!
Saya baru sadar kalo Supernova itu dari awal sampai akhir bercerita tentang ‘perubahan’+'kadaluarsa’yang tiap individu harus lalui.Mudah baca novel tapi sulit buat praktek di hidup nyata.
Yang menakjubkan, tiap kali buka novel itu selalu muncul ‘pengertian’ baru.
cheers,
caca said,
August 22, 2008 at 1:37 am
Saya mau usul bagi bagaimana kalau para jurnalis tabloid gosip diberi penghargaan stephen glass award, karena mampu menulis sebuah cerita fiksi terlihat seperti nyata.
Dan para penulis diforum gosip ditempatkan dibagian penulisan naskah sinetron indonesia, kan lumayan bisa menyalurkan, dari pada fitnah-fitnah orang, berhalusinasi pernah menangkap basah atau lain sebagianya.
Pantas saja sinetron khas opera sabun dikita laku keras orang yang nonton juga serupa, penuh drama…..
Maaf ya dee, ikut nimbrung, habis saya kesal dengan orang-orang semacam itu. Padahal saya juga salah ya dengan menyalahkan mereka berarti saya sama saja…haaaaahhhh… susah
Anonymous said,
August 22, 2008 at 10:58 am
I’m going along with Eftu’s comment. Just to add a few, i was once like u dee… but thank God i’ve been saved by His grace and He totally changed my life, put back my family united. All u need is His Love, without coming or living in His Love…impossible u can see miracle in ur life. Only by His love, and not the Universe molecules defeats any human ego. Because even universe bows down before its Creator. And i think not right to keep saying Ego as our excuse as human being. Because if that way…we’ll never go any further in this life. I came up with the thought that u’re way just too over deep thinking of everything on this earth and over too count on ur own mind and self. Human being and universe is limited compared to this Planet Creator. If u do really have deep thinking…then interesting to think of this words “God’s Love for u, me and others is way much too stronger than people rejection on this earth”. So??! God Bless us ~Hana~
juli di bulan agustus said,
August 22, 2008 at 11:42 am
saya pembaca yang puyeng baca postingan ini(tapi tetep memaksakan untuk membaca dan mengerti), yang juga puyeng baca komen segini banyaknya. (jadi cuma punya energi untuk baca komen yang awal awal saja)
cuma mau bilang
’saya cinta (comment)eftu’
dan juga…
saya kagum dengan pemikiran anda yang detail, karena saya pun hobi mikir, sampai pada akhir saya tahu ternyata otak saya terbatas. bodohnya saya(karena perlu bertahun-tahun untuk menyadari hal sesimple itu). karena sama seperti saya tidak mengatahui jalan-jalan angin dan jalan jalan tulang-tulang dalam rahim, begitu juga saya tidak tahu banyak hal, yang memang tak terjangkau. ya pada akhirnya saya sampai pada kesimpulan yang sama dengan kesimpulan yang didapat oleh penyair ternama (raja salomo)
‘membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan. Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Tuhan….’
(maaf bukan curhat, cuma mau berbagi pikiran)
Anonymous said,
August 23, 2008 at 2:35 am
pacaran saja yuk teh, gak usah merit kalo menurut teteh merit ada kadaluarsanya. memangnya relationship dalam pernikahan itu seperti makanan dalam kemasan yang ada ED nya? walah kessian dech sama both of u, yang menyamakan hubungan pernikahannya seperti makanan yang dijajakan,huehuehueh!?
Anonymous said,
August 23, 2008 at 3:03 am
begini nih kalo kawin cuma napsu dowank, cuma cinta-cintaan dowank! kagak bisa ngormatin ikatan suci sebuah pernikahan! udah bosen bilangnya kedeluarsa, biar keliatan pinter kali yak jadi make istilah laen?! pernikahan ‘ntu jangan dipikirin berat” jadinye keblinger dah lu! lu keder ‘ndiri trus nanye kawin ‘ntu apaan#ngepain#tujuannye kemane padahal lu udeh ngrasain enaknye, si keenan akibat keenakan lu kagak dipikirin, dia kagak mewek soalnye orangtua buat die adalah orang yang ngelahirin die, ‘ntu dowank, kaga nangis=ikatan emosional antar kluarga nyang kaga kuat. dari awal lu ngandelin luph aje! sekarang udeh bejalan sekian taon lu berasa hampa dah!
astie said,
August 25, 2008 at 1:21 am
Mba Dee..
“Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.”
“Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri.”
Guess i’m not alone in this freakin’ planet..
Thank you for being my inspiration!!!
caca said,
August 25, 2008 at 10:03 pm
Hallo…
saya mau usul, gimana kalau para wartawan yang suka mengkhayal itu diberikan penghargaan stephen glass award’s. Soalnya mereka adalah orang-orang yang telah merubah sebuah kebohongan menjadi seperti sebuah kebenaran. Atau sekalian aja mereka membuat stephen glass association, dijamin seru, satu sama lain saling mengkhayal dan patologi kebohongan mereka tambah akut.
Untuk para pengisi forum gak jelas, daripada jatuhin nama orang lebih baik kirim naskah ke PH2 sinetron opera sabun yang sedang marak dan menjamur. Kan lumayan tuh dapet penghasilan, Kalau tulisannya se-drama queen begitu saya sih yakin bakalan diterima. jangan lupa sertakan eksperisi mata menyipit nyalang, hidung kempis kembang, lalu berujar “Pokoknya aku harus….” Tak perlu belajar jauh2 ke teater koma atau putu wijaya, liat aja aktris aktor opera sabun indonesia, dua hari juga bisa sebab semua sama….
Eh kok rimanya enak ya? khihihihihi…
Buat Dee, anjing menggonggong kafilah berlalu. Orang menebar bohong, kamu buat buku heheheheh….
Tak lucu memang.
Hardi Darjoto said,
August 27, 2008 at 3:01 am
Saya termenung membaca tulisan ini. Begitu banyak perbedaan nilai dan cara pandang terhadap keluarga, pernikahan, anak. Tetapi falsafah yang terkandung dalam tulisan ini segera menyadarkan saya bahwa, manusia adalah makhluk mulia. Kemuliaannya itu membuatnya mampu untuk bergulat mencari jalannya sendiri menuju kesempurnaan, apapun definisi kesempurnaan itu.
Semoga kita semua berhasil mencapai apa yang kita cari dan inginkan, tanpa harus memaksakannya kepada orang lain.
Mengenai pers, saya setuju kalimat Dewi ini: “they don’t have any concern for the truth. They have concern on stories”.
Anonymous said,
August 28, 2008 at 9:29 am
gw sebenarnya ngga peduli sama lu or mantan swami lu. ngga sengaja masuk, dan cukup sering menemukan/mengasosiasikan masalah lu dengan sifat sebagian besar masyarakat kita: asumtif & spekulatif. untuk dua kata ini, gw akhirnya sepakat dengan lu.
MickMock said,
September 2, 2008 at 1:30 am
Hidup itu Takdir sekuat apapun melawan kalo dah takdirnya tetep aja akan terjadi seperti takdirnya…
Sekenario hidup bisa kita ubah2… tapi tetap ada Tuhan yang ngedit… Sesuai takdirNya kah..? skenario itu kita jalanin….
So… Hidup ini ini begitu simpel… Hanya mengambil keputusan dan jangan menyesal… Ikuti saja takdir membawa kemana…
umed said,
September 2, 2008 at 3:55 am
heu..
bingung mo bilang apa. terus lagi seringnya aku mengintip aja blog ini teh.
selain tercengan karena nyampe ratusan komentar yang nyampe, aku juga didiamkan karena ratusan pertanyaan dan komentar yang ingin dilayangkan sudah terwakili oleh teman-teman.
satu kata yang ‘mengganggu’ ketika baca tulisan ini adalah ‘wayahna’.
sedikit udah dee bahas tentang wayahna/waktunya. dan khusus bagi orang yang sering mendalami kata ‘wayahna’ bisa jadi kejadian ini adalah kejadian yang alami. se-alamiah lahir dan mati.
maka dari itu, penyikapan akan sesautu yang alalmi tak perlu dibarengi dengan dramatisasi yang berlebih.
bahkan (sebutlah ini gila) penyikapan akan kematian pun tak perlu dengan sedu sedan yang edan.
entahlah..
wayahna weh..
woro pratiwi said,
September 2, 2008 at 4:30 am
dee komen : Tuhan yang kita bicarakan belum tentu sama
maaf mba, setau saya Tuhan itu Esa, seperti Pancasila menyebutkan ; satu, Ketuhanan YME.
kalopun ada ketidaksamaan adalah cara meyakini dalam bentuk ibadah ajaran agama.
woro pratiwi said,
September 2, 2008 at 10:58 pm
rasanya kita perlu banyak belajar pada orang tua dulu, dimana orang tua dulu identik jauh dari cerai, langgeng, awet rajet. mungkin kesederhanaan pemikiran kuncinya. saking sederhananya, hampir tak pernah terlintas pemikiran aneh-aneh yg bisa memicu perceraian. meyakinkan diri dan pasangan bahwa pernikahan adalah sebuah ibadah, melaksanakannya dengan ketulusan dan penuh keikhlasan.
Selamat Datang said,
September 4, 2008 at 7:52 pm
saya suka membaca 2 buku dee yang pertama, kadang saya berfikir kalau buku yang berjudul akar itu mirip dengan kisah dee…..btw selamat menjalani kehidupan baru…konsekuensi setiap pilihan dan kemungkinan untuk memilih pilihan lagi adalah dinamika hidup..
Anonymous said,
September 6, 2008 at 7:24 pm
Buat mba dewi,
Membaca catatan perpisahan mba, dibandingkan dengan membaca hasil karya novel2 mba, saya menyimpulkan bahwa mba dewi menentukan jalan hidup nyata sendiri tidak sebaik mba dewi menentukan jalan hidup tokoh2 dalam novel mba dewi.
Kenapa saya berkata demikian? Karena saya percaya bahwa manusia diciptakan Tuhan tidak hanya untuk sekedar menjalani suratan takdir Tuhan, tetapi manusia juga diberikan “kehendak bebas” untuk menentukan jalan hidup yang diambil. Dan setiap jalan hidup yang diambil akan membawa ke suratan takdirnya. Jadi tidak melulu satu garis takdir yang disediakan Tuhan, tetapi garis takdir itu bercabang dan terus bercabang sesuai dengan pilihan hidup manusia.
Saya pikir kalau seseorang yang sudah bisa mencipta karya tulis pasti punya wawasan luas,pasti suka membaca, setidaknya suka memikirkan kehidupan dan akhirnya menimbulkan prinsip-prinsip hidup yang lebih baik dibanding orang yang bukan pemikir.
Ternyata saya salah. Sekarang ini saya sampai di tahap kesimpulan bahwa ternyata, banyak membaca justru kurang baik untuk orang yang jiwanya lemah, yang pendiriannya mudah goyah, yang imannya mudah luntur dan berganti. Hasil dari banyak membaca tidak mendewasakan orang, tidak membuat orang menjadi lebih bijaksana menghadapi kehidupan tetapi justru menjadi orang yang sekedar “luas wawasannya” dan menggunakan keluasan wawasannya untuk membuat pembelaan diri atas keputusan mengingkari janji yang pernah dibuatnya atau pembelaan atas keputusan egois yang diambilnya atau pembelaan atas mengabaikan norma2 kehidupan dan etika yang ada di keluarga, agama atau masyarakat. Jadi sebelum memutuskan membaca sesuatu harus diingat bahwa apa yang dibaca akan mempengaruhi prinsip hidup, Jadi jangan sembarang baca.
Saya pikir prinsip hidup mba dewi sekarang masih belum ke arah yang benar.
Saya jadi bertanya-tanya, apakah mba dewi pernah mengalami trauma perceraian ortu?
Karena saya tidak yakin penyebab perpisahaan mba dewi adalah seperti yang ditulis. Pasti ada alasan yang lain, disadari atau tidak.
Nenek saya pernah mengatakan:Perempuan atau laki-laki yang baik adalah yang bisa mempertahankan pernikahan sampai maut memisahkan. Saya setuju dengan prinsip itu, karena pernikahan adalah komitmen seumur hidup.
Mudah2an mba dewi mau meninjau kembali prinsip hidupnya.
Anyway saya mendoakan Keenan yang akan kena dampak psikologis perpisahan ini agar supaya diberikan jiwa yang kuat supaya bisa mengambil hikmah dari perpisahan ortunya. Saya yakin setiap tindak tanduk orang tua akan memberikan dampak psikologis atau trauma (positif atau negatif)yang tidak disadari akan membentuk prinsip hidupnya kelak.
Salam kenal,
Diana
Dewi Lestari said,
September 6, 2008 at 11:15 pm
Salam kenal juga, Diana.
Saya rasa Anda benar, bahwa Anda memang salah. Kemampuan seseorang menulis atau berpikir tidak menentukan kebijaksanaannya dalam menempuh hidup. Saya setuju itu. Luasnya wawasan tidak lantas menjadikan seseorang luput dari kesalahan atau masalah. Saya sepakat. Jadi, tentunya, Anda lain kali sudah bisa lebih bijak dalam memberikan penilaian atau menjustifikasi seseorang. Sebelum Anda kenal langsung orangnya, jangan cuma bisa menilai dari lapis luarnya. Itu namanya termakan mitos.
Saya tidak berasal dari keluarga yang mengalami perceraian. Orang tua saya menikah lebih dari seperempat abad sampai akhirnya Mama saya meninggal karena sakit. Mohon maaf kalau itu lantas merusak teori Anda bahwa saya ini korban trauma perceraian dalam keluarga. Sayangnya, saya memang tidak punya nenek seperti nenek Anda yang mengatakan bahwa: “Perempuan atau laki-laki yang baik adalah yang bisa mempertahankan pernikahan sampai maut memisahkan.” Karena kalau punya, mungkin saya akan berkata pada nenek saya itu: “Nek, terima kasih atas nasihatnya. Tapi ada semiliar ukuran lain untuk mengatakan seseorang baik atau tidak, selain ia mampu mempertahankan pernikahan sampai akhir hayat, atau mempertahankan iman yang sama sampai liang kubur. Nenek dan saya barangkali tidak tahu semiliar yang lain itu apa. Tidak apa-apa, Nek. Kita tidak perlu berlagak tahu kalau memang tidak tahu. Tapi saya hargai pendapat Nenek. Bagi saya pribadi, orang “baik”, ataupun “kuat” itu tidak sama artinya dengan “bertahan sampai akhir hayat”, terlepas dari apa pun itu yang ia pertahankan. Untuk melepaskan dan menerima perubahan pun perlu kekuatan dan kebajikan, yang bisa jadi lebih besar daripada sekadar untuk bertahan. Oh ya, Nek, tambahan sedikit. Saya tidak punya ambisi jadi orang “baik”. Saya lebih kepingin jadi orang yang apa adanya saja. Jujur pada diri sendiri.”
Terima kasih untuk doanya buat Keenan. Saya juga berdoa buat Diana, semoga Anda berhasil menjadi orang yang baik dan kuat sebagaimana yang Anda definisikan. Dan jika hidup berkata lain, dan jika entah berapa tahun kemudian, Anda mengalami sesuatu dalam kehidupan Anda yang menggugurkan atau mengguncang kebenaran Anda yang lama… saya berdoa, semoga Anda tidak akan kehilangan kekuatan hanya karena definisi Anda tentang “baik” dan “kuat” dipaksa mengalami perubahan.
Salam untuk Nenek Anda, beserta seluruh keluarga Anda yang utuh, harmonis, dan penuh dengan orang-orang baik, kuat, yang mampu bertahan sama sampai akhir hayat.
~ D ~
Jenny Jusuf said,
September 8, 2008 at 12:46 am
Tanpa bermaksud ikutan nyampah di blog ini, saya hanya mau bilang: saya ketawa sampai kram membaca komen terakhir Mbak Diana (BTW, mudah-mudahan Anda memang sungguh-sungguh eksis, karena akhir-akhir ini semakin banyak ‘karakter rekaan’ di dunia maya ^_^).
Sungguh, komentar Anda adalah salah satu yang terlucu yang pernah saya baca di blog ini. Dan sejujurnya saya kagum pada ‘niat’ Anda menuliskan argumentasi sepanjang itu di blog orang lain, ketulusan Anda untuk berdoa untuk anak yang tidak Anda kenal, usaha Anda untuk ‘menelisik’ trauma masa lalu orang yang tidak pernah Anda jumpai, dan sebagainya. Sungguh mulia..
Sebentar…
Tadi saya bilang, ‘tidak bermaksud ikutan nyampah’?
Ah… sepertinya saya sudah terlanjur nyampah juga di sini.. maaf, Mba Dee
Anonymous said,
September 8, 2008 at 2:17 am
Mungkin akan lebih bijaksana, jika kita tidak berkomentar tentang tulisan tersebut. Komentar kita, pro atau kontra, hanya menjadi angin lalu, keputusan sudah diambil. Biarlah tulisan menjadi sekedar tulisan, dan kita urus saja urusan kita masing-masing.
Anonymous said,
September 8, 2008 at 2:26 am
Your comment has been saved and will be visible after blog owner approval.
Yang tidak mendapat “approval”? Mungkin yang di “iya” kan penulis.
ReeeVaaa said,
September 8, 2008 at 2:44 am
saya tidak peduli dengan apapun keputusan Anda.. itu memang sepenuhnya hak Anda untuk memutuskan sesuatu dalam hidup.
tapi yang ingin saya bagikan adalah, keanekaragaman itu ada pada keBAIKan, bukan pada keBENARan.
kerelativan juga ada pada keBAIKan, dan sekali lagi bukan pada keBENARan.
sekalipun ada 7miliar manusia, beras tetaplah beras!
tidak mungkin saya mennyebut bulir putih hasil dari tanaman padi itu sebagai beras, tapi Anda menyebutnya JAGUNG!
itu adalah keBENARan!
suatu hal yang mutlak! bukan relatif!
keBAIKan, itulah yang terpatri pada sudut pandang masing2 orang.
Tuhan adalah pencipta segalanya!
tapi kegelapan ada, karena keTIADAAan dari cahaya. dan dingin ada karena keTIADAan panas.
kejahatan ada, karena keTIADAan Tuhan.
demikianlah yang -menurut saya- terjadi pada Anda.
1 yang saya sayangkan adalah kedangkalan penerimaan atas tulisan Anda yang luar biasa ini.
apa dasar Anda menyatakan adanya masa kadaluarsa dalam suatu hubungan?
kapan Anda akan memiliki pendamping hidup sejati kalau semua memiliki masa kadaluarsa?
yakinkah Anda kalau sahabat2 Anda saat ini tidak sedang menimbang-nimbang kapan persahabatan mereka dengan Anda harus berhenti, atau kalau tidak mereka akan keracunan karena masa kadaluwarsa tersebut?
Tuhan tidak pernah merencanakan suatu hal yang sedemikian dangkalnya dalam kehidupan kita.
kita yang mendangkalkan semuanya, karena kita tidak mampu menjalaninya.
demikian pendapat yang ada dalam benak saya.
yang memang berasal dari saya pribadi tanpa ada tedensi apapun dan tidak bermaksud memaksa Anda membuat suatu akhir yang dramatis.
Tapi yakinlah, orangtua yang utuh bersatu dalam kasih dan ikatan pernikahan atas nama Tuhan akan menjadi busur yang lebih kokoh untuk anak panah dapat melesat mantap.
saya belum menikah, tapi saat saya menikah, saya akan berdoa dan berusaha agar tdak perlu ada masa kadaluarsa dalam kehidupan saya!
pengawet saya adalah cinta, kasih, keluarga, dan Tuhan.
selamat menikmati kehidupan yang telah Anda pilih. jangan pernah menyerah untuk segalanya.
karena manusia itu kosong tanpa pengharapan.
- terima kasih -
God Bless!
Dewi Lestari said,
September 8, 2008 at 9:41 am
Untuk Reeevaaa:
Iya, Reeevaaa. Saya juga ikut berdoa. Semoga nyala api yang berkobar2 saat Anda menuliskan komentar Anda tsb, dapat menjadi bahan bakar penyemangat Anda kelak untuk mempertahankan apa pun yang Anda rasa benar. Mau itu iman, kebenaran, pernikahan, pacaran, dsb, dll, dst. Amin. God Bless.
Untuk Anonymous yang mempertanyakan soal approval blog. 97% komentar yang masuk ke blog saya, yang mana pun juga, saya approve. 3% yang tidak lolos, kasusnya berkisar di lima hal ini:
1. Mereka yang beriklan, atau memuat komentar yang sama sekali tidak relevan dengan posting blog.
2. Mereka yang mengirim komentar sama dua-tiga kali, sehingga kalau di-approve semua maka hasilnya akan berganda di tampilan blog.
3. Meski langka, tapi pernah terjadi, yakni salah memencet tombol Reject, sementara posting lain yang di luar kategori di atas ikut ke-checked. Poin nomor tiga ini murni ketidaksengajaan.
4. Mereka yang sial karena kebetulan saya sedang korslet dan akibatnya jadi malas memuat komentar. Fenomena ini juga langka. Tapi terjadi.
5. Mereka yang protes keras sampai kategori marah membabi buta, bahkan sampai ada yang mengeluarkan kata-kata yang saya rasa tidak patut dicantumkan di blog ini… dan orangnya ANONYMOUS pula. Setidaknya kalau dia berani mengungkapkan identitas, artinya dia masih punya tanggung jawab dan harga diri. Dan saya mungkin saja mau meloloskan, meski komentarnya ekstrem sekalipun. Anehnya, semua yang kategorinya seperti itu TIDAK PERNAH ADA yang berani mengungkapkan identitas. I wonder why. Poin nomor empat ini adalah murni kesengajaan.
Jika Anda, atau teman Anda, pernah berkomentar tapi tak tercantumkan di sini, lihatlah kategori di atas.
Kalau Anda masuk ke kategori 3 & 4, saya memohon maaf sebesar-besarnya. Kadang tangan dan otak ini kurang sinkron, terutama kalo lagi ngantuk dan melamun. Kadang batin ini yang kurang fit, bahasa Jermannya: "Nggak Mood". Dan untuk itu, saya mohon maklum. Namanya juga manusia.
Kalau komentar Anda masuk ke kategori 1, 2, dan 5… well, dalam bahasa Yunani dikenal istilah: WAYAHNA. Alias sudah sepantasnya.
Komentar Anda buktinya tetap lolos2 saja. Justru saya merasa Anda telah mengangkat isu penting di sini. So, thank you.
~ D ~
deka inspiration said,
September 21, 2008 at 5:36 pm
dear D,
saya dulu pernah tiga kali hampir berpisah karena suatu alasan yang membuat saya merasa tidak mampu bertahan. tapi karena pertimbangan anak, saat itu saya tidak jadi berpisah. seiring perjalanan waktu, alasan-alasan yang dulu membuat saya merasa tidak mampu bertahan jadi hilang. dan bahkan saya sering merasa jatuh cinta kesekian kalinya ke suami saya dan merasa bersyukur bahwa saat itu tidak jadi berpisah.
ternyata tetap bertahan dalam pernikahan tidak menjadikan kami manusia yang rapuh, justru menjadikan kami bahagia, saling mengisi dan melengkapi. ternyata hal yang sama juga terjadi pada kakak saya yang pertama dan ketiga (saya anak kelima).
pernikahan adalah penyatuan dua individu yang berbeda latar belakang pendidikan dari orang tua, kebiasaan, rumah .. begitu banyak hal kecil yang kadang kala menjadi aral melintang yang seolah tidak terselesaikan. tapi saat kita coba bertahan menjalani bahtera rumah tanggu, sudut mata memandang mulai berubah. kita mulai menikmati kebersamaan dan kebagiaan, dan tak jarang jatuh cinta berulang kali kepada orang yang sama.
apapun yg D putuskan adalah hak D, tapi mungkin tulisan kecil saya bisa menjadi masukan bagi D bahwa saat kita merasa pernikahan tidak berjalan seperti yang kita harapkan, kadang kala dibutuhkan kesabaran yang lebih. dan kesabaran itu tidak selalu berbuah kerapuhan diri dan jiwa.
salam
ria said,
September 23, 2008 at 6:12 am
saya adalah penggemar novel supernova anda, tapi jujur saja saya tidak mengerti tentang semua teori psikologis yang anda ceritakan dlm novel anda.sejujurnya sejak anda memutuskan untuk pindah agama saya kecewa berat dan memutuskan memberikan movel itu pada teman saya.
saya bukan penggemar tabliod gosip maka ketika anda menikah dengan marcell saya tau dari novel anda dan ketika anda bercerai saya tau dari majalah femina langganan saya.
reaksi saya cukup terkejut dan saya tegerak untuk berkomentar.
saya tidak menyalahkan anda,saya percaya anda sudah memikirkan semuanya.
hanya saya tidak setuju pada konsep hubungan kadaluarsa spt kata anda,dan maaf saja bagi saya yang awam ini teori anda terlalu rumit dan terlalu sok filosofis.
yang saya tau hanya lah ini
APA YANG TANAM ITU JUGA YANG ANDA TUAI
terima kasih
melli s wilson said,
November 19, 2008 at 2:31 am
apapun putusan anda mbak dee…. itu yang terbaik yang kalian rasakan… untukmu, untuk marcell, untuk reza, untuk kinan…. semuanya..biar lah kita (outline youre priv).. melihat… tanpa perlu mencibir, menghakimi, dan sok meberi nasihat (sebaiknya)… siapa sihh kita??? (pentingkah pendapat kita)… yang terbaik yang harus dijalanin… dan saya tau: cuma anda yang tau… juga malaikat juga tahu apa yang terbaik untuk kalian.. seperti rectovestomu yang mengagumkan….. siapa yang jadi juarannya……
Kinan said,
December 1, 2008 at 7:41 pm
aku tak tau apakah ini suatu bentuk pembelaan atau memang sudut pandang kita sebagai manusia yang menyikapi kekuatan yang lebih besar dari kemauan dan tujuan hidup kita.
kekuatan akan kehendak Tuhan yang tak dapat dihindari, dipungkiri atau pun bahkan dilawan
apakah ini suatu bentuk pembelaan atas semua yang terjadi?
entahlah,
yang pasti
lebih banyak pertanyaan daripada jawaban di dunia ini
apa pun itu ini semua kembali pada pemikiran kita sebagai manusia
yang tercela, yang selalu memiliki dosa, baik dosa paling besar dan doa paling kecil
pun semua pemikiran kita sebagai manusia pasti lah tak sanggup mengalahkan pemikiran Tuhan
mungkin catatan tentang perpisahan ini adalah salah satu cara kita bagaimana berdealing dengan kekuatan besar ini (God will)
gut lak 4 our soul
Kinan said,
December 1, 2008 at 9:11 pm
dari catatan tentang perpisahan ini
aku malah jadi berpikir banyak mengenai perpisahan
perpisahan yang selalu mengiringi jalan hidup kita hingga akhir nantipun ada perpisahan
bisa kah kita menghindari perpisahan?