July 16th, 2008 at 4:44 am (Uncategorized)
Catatan Tentang Perpisahan
Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.
Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti.
Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.
Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.
September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran.
Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell, menikah, dan seterusnya. Fate, atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.
Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, “memaafkan” tidaklah identik dengan “pengembalian situasi ke kondisi semula”. Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, juga Marcell, dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan.
Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.
Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.
Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah busur yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.
Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya”, seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis.
Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya.
Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep “kecuali”.
Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima kasih untuk semua. Kami pun tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai keputusan kami. Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari Anda kecewa. Saya juga mengerti begitu banyak yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha, mempertanyakan usaha kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan keputusan ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan “kemarin sore”. Kita semua tahu keputusan bercerai adalah keputusan yang besar. Intinya, terima kasih atas perhatiannya, dan mari kita kembali urus diri masing-masing.
Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi dari beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem, karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi. Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan sebagai buah upaya kami yang nyata karena semua orang sibuk mengedepankan pertunjukan teater versinya masing-masing. Apa pun yang saya katakan, pada akhirnya selalu dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini si penulis naskah. Itulah yang akhirnya membuat saya dan Marcell lebih banyak tertawa sendiri, pers hiburan rasanya seperti servis sosial di mana kami mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka, bukan lagi berbagi kebenaran. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau.
Hari ini, saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan. Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk “mengubur masa lalu”. Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk mengepas “gambar realitas” ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan.
Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang menjadi pengadilan tak resmi. Ada banyak nama yang disebut, dispekulasikan, dan sampai didiskreditkan. Orang-orang yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan privasi. Sekalipun dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami berpisah bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu, mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat saya. So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”. Lucu. Yang menjalani saja santai-santai, yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain. Jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini.
Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.
Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.
Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.
Salam,
~ D ~
andy said,
July 16, 2008 at 6:26 am
Dee..
Sebelumnya makasih atas “jawaban-jawaban eksklusif” yg diberikan kepada pembaca setia blog Dee, termasuk saya; yg tidak menampik atas rasa penasaran yg mendalam karena daya khayal en imajinasi saya ttg pribadi seorang Dee (dimana imajinasi tsb terbentuk atas tulisan2 Dee); yg berpikir pelepasan wadah talian suci itu adalah hal yg tidak mungkin menjadi pilihan dlm hidup seorang Dee
*Mohon maaf atas kelancangan pemikiran saya..
Di sini saya tidak ingin menyatakan “Turut Berduka Cita”, karena saya pribadi tidak tahu bagaimana yg dirasakan Dee atas kejadian yg merangkul perjalanan hidup demi sebuah ‘keutuhan’ yg diinginkan Dee berbasiskan pilihan tsb.
Dee, semoga mendapatkan kebahagiaan sejati
ipk4cumlaude said,
July 16, 2008 at 6:41 am
Tulisan ini membuat saya merenung setelah membacanya. Emang seperti itulah salah satu ciri tulisan yg bagus.
Oya eniwei saya setuju dengan kalimat “Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya.”
Tapi Mba Dee, kalau mempertahankan rumah tangga ini kita sebut ujian untuk meningkatkan derajat kita di hadapan Tuhan, apakah dengan demikian bahwa Mba Dee menyerah dengan ujian dari Tuhan?
Ditunggu jawabannya ya Mba Dee cuz saya yakin Mba Dee pasti punya jawaban yg sangat bagus dan di luar jangkauans saya. Makasih.
fisto said,
July 16, 2008 at 6:50 am
…semoga selalu bahagia dengan apapun keyakinanmu…Anda yang paling tahu apa yg terbaik buat diri Anda dan keluarga…
Eftu said,
July 16, 2008 at 7:03 am
It sounds like a simple justification to me. To die is inevitable, to divorce is not inevitable. It’s just ego. Your ego is not applicable to avoid death.
didut said,
July 16, 2008 at 8:15 am
hmm gak tau hrs komen apa dee … hanya berdoa buat keenan aja, kalo dee-nya sih sudah mantap kelihatannya
O iya, sorry belum respon soal kotak takakuranya, kami baru pindahan kantor, akhirnya sanggup beli kantor sendiri sejak saya jadi relawan
*kok malah cerita*
Gutlak buat semuanya dan semoga berbahagia selalu
edo said,
July 16, 2008 at 8:18 am
one word dee..
dalemm
thank for a great story
i got a lot from you
Ollie said,
July 16, 2008 at 8:20 am
Good luck.
Jauhari said,
July 16, 2008 at 1:48 pm
Semoga Tetap Indah pada masanya….
saya suka kata kata ini “memang sudah waktunya”
Jenny Jusuf said,
July 16, 2008 at 7:26 pm
Kemarin, sebuah SMS masuk ke handphone saya, mengonfirmasi berita perceraian Mbak Dee yang sedang ramai di media. Saya menjawab “Tidak tahu”, karena saya adalah perempuan cuek yang jarang berdekatan dengan benda bernama TV, apalagi menonton infotainmen.
Karena penasaran dengan SMS itu, saya mencoba menggali informasi di internet. Tapi, akhirnya saya menutup jendela-jendela yang sudah terakses karena ‘malas’. Tidak ada yang penting dari berita-berita itu, dan malas rasanya mencermati ‘informasi’ seheboh apapun.
Saya sangat menyukai tulisan-tulisan Mbak Dee. Sejujurnya, banyak entri blog Mbak yang saya copy-paste dan simpan di komputer (untuk konsumsi pribadi, tentunya) dengan tujuan setiap saat saya membutuhkan ‘nutrisi jiwa’, saya bisa langsung membacanya. Tulisan Mbak telah memberikan pencerahan bagi saya, meskipun saya harus mengakui, seringkali saya kurang konsisten menjalaninya hari lepas hari.
Sungguh, saya bersyukur bisa menemukan rangkaian inspirasi dan makanan jiwa dalam tulisan-tulisan tersebut. Seringkali saya merasa ‘tersesat’, kemudian menemukan setitik cahaya dalam tulisan Mbak. Meski kecil, cahaya itu mampu memberi harapan bagi saya untuk terus melangkah dan menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Saya tak peduli tentang pemberitaan di luar sana. Tak ingin tahu, dan tak ingin berusaha menilik atau memahami apa yang terjadi. Yang saya tahu hanya, saya menunggu tulisan-tulisan Mbak selanjutnya. Selalu.
Salam hangat,
JJ
mirzal said,
July 16, 2008 at 7:42 pm
Be strong,.
Emang sih gw gk ngerti gimana rasanya “dibantai” kuli-kuli tinta pas ada masalah,.
Tp dari yg liat mereka emang suka seenaknya,gak punya otak dan manner yg bener..
Yang kuat ya mbak dee..smoga kputusan yg diambil itu yg terbaik dari yg terbaik..
Perpisahan emang hal yg paling gak enak dan harus terjadi,tapi gimana bentuknya siapa yg tau?
oiya,salam kenal ya
bennywu said,
July 16, 2008 at 7:51 pm
Inilah realitas kehidupan. Ada pertemuan, ada perpisahan. Hanya masalah waktu saja.
Saya sepenuhnya setuju dengan sis Dee.
godot said,
July 16, 2008 at 8:03 pm
hi, hanya mengingatkan saja,
janji pernikahan itu diucapkan kepada Yang Maha Kuasa, bukan untuk diri kita sendiri. jadi pernikahan itu adalah sakral.
“till death do us part”
regards,
I’ve been your fan from long time ago.
linda said,
July 16, 2008 at 8:34 pm
speechless bacanya
semoga ini adalah keputusan terbaik
thepoets said,
July 16, 2008 at 8:35 pm
Salut dengan pilihan Dee.
Banyak yang mempertahankan rumah tangganya karena alasan anak atau tekanan keluarga/lingkungan sekitarnya dan mungkin nama baik. Fakta bahwa hingga saat ini banyak yang memandang negatif perceraian, dan bahkan mereka berusaha untuk menciptakan cerita demi melengkapi kisah drama perpisahan.
Saya sendiri sampai saat ini masih terjebak dengan bingkai itu. Kepalsuan yang menimbulkan kelelahan dan gejolak amarah yang teredam oleh rasa cinta. Hingga detik ini saya kerap bertanya SEJAUH MANA dan SEBERAPA KUAT saya bisa bertahan karena seperti yang Dee bilang semua ada waktunya.
Thanks for the inspiration. You make me shead a tear today.
Dewi Lestari said,
July 16, 2008 at 9:19 pm
Membaca komen Eftu, saya jadi tergelitik membahas perihal “ego”. Sesungguhnya apa ego?
Ego adalah hasil evolusi yang membuat manusia berhasil menjadi makhluk paling berkuasa di Bumi. Binatang tidak punya ego. Ego adalah alat spesies manusia bertahan hidup. Dengan ego, kita mengenal “aku”, “kamu”, “mereka”, “milikku”, “milikmu”, dan “miliknya”. Setiap manusia merasa ada semacam “pusat” dalam dirinya, yang memisahkan dirinya dengan apa pun yang di luar darinya.
Dalam pengertian itu, selama kita mengaplikasikan “aku”-”kamu” dan “keakuan”-”kekamuan” dalam interaksi kita, itulah ego. Dalam tindakan yang kita nilai paling altruistik sekalipun, belum tentu tidak ada ego di sana.
So… jika tindakan seperti perceraian disponsori oleh ego, pernikahan pun sama saja. Dan ego yang sama jugalah yang membawa Eftu berkomentar di sini.
Untuk Cumlaude: Bagi saya, saya tidak punya kepentingan untuk meningkatkan derajat saya di depan Tuhan. Bertahan atau tidak, saya tidak melakukannya hanya untuk membuat saya lebih merasa berharga atau “naik kelas”. Ketika saya masih bisa melewati satu hari dengan senyum dan humor, itu sudah lebih cukup dari saya.
~ D ~
Mirzal Dharmaputra said,
July 16, 2008 at 9:42 pm
Be strong,.
Emang sih gw gk ngerti gimana rasanya “dibantai” kuli-kuli tinta pas ada masalah,.
Tp dari yg liat mereka emang suka seenaknya,gak punya otak dan manner yg bener..
Yang kuat ya mbak dee..smoga kputusan yg diambil itu yg terbaik dari yg terbaik..
Perpisahan emang hal yg paling gak enak dan harus terjadi,tapi gimana bentuknya siapa yg tau?
oiya,salam kenal ya
widya rini said,
July 16, 2008 at 10:16 pm
masih banyak hal yang aku tak mengerti, karena aku belum merasakan arti sesungguhnya dari pernikahan.
yang aku tahu, takdir tak kan berubah meskipun kita berusaha. namun siapakah kita bisa menentukan takdir? kita tak tahu bagaimana hari esok akan terjadi. yang bisa kita lakukan adalah berusaha yang terbaik semampu kita?
tapi apakah kita telah berusaha sekuat tenaga untuk yang terbaik? hanya hati nurani yang tahu.
semoga usaha yang dilakukan tidak berujung pada penyesalan yang terlambat.
doaku semoga yang terbaik selalu diberikan Yang Maha Kuasa kepadamu
MOTD said,
July 16, 2008 at 11:16 pm
Dear Dee,
Wish all 3 of you the best in life.
Admire your courage
Admire your strength
Love the concept of happiness & the responsibility toward it, I believe in it too.
Anonymous said,
July 16, 2008 at 11:35 pm
Terkadang kita tak pernah tau apa yg Tuhan rancang dalam kehidupan qt… tapi kita harus yakin semua akan indah pada waktunya…
lia said,
July 16, 2008 at 11:45 pm
mb dee, terus terang saya kaget pas denger berita itu karena kalian berdua adalah pasangan favorit saya. Tapi saya yakin kalian berdua pasti sudah memikirkan hal ini masak-masak dan punya alasan yang bagus untuk itu. Dan saya yakin, seandainya boleh memilih pasti mb dee gak kepingin ini terjadi kan? Gak ada orang nikah niat untuk bercerai kan ??
Sabar ya mbak…
Anyway tetap ditunggu karya2 kalian berdua…
Nita Sellya said,
July 17, 2008 at 12:10 am
Dear Dee, Keenan, and Marcel..
Everything will be okay in its own right and termm..
God bless you..
Donny Verdian said,
July 17, 2008 at 12:30 am
Terlepas dari apa berita diluar, saya hanya ingin berujar “Selamat Bersahabat” untukmu dan Marcell.
Tak ada yang layak menghakimi dalam hal ini, saya pikir.
mila said,
July 17, 2008 at 12:34 am
wow.. *speechless*
saya doakan yang terbaik untuk mbak dewi-marcell-keenan
windede said,
July 17, 2008 at 12:42 am
kalau maju dan mundur sama-sama berisiko, maka majulah… hidup ini pilihan, dan jangan pernah terganggu dengan pikiran tentang “apa yang orang pikir mengenai kita”.
senang dengan ketegaran dan cara anda menyikapi hidup…
Azure said,
July 17, 2008 at 12:58 am
Sebenarnya, sejak kapan sih perceraian itu dianggap salah?
Saya suka bertanya-tanya sendiri : kalau pernikahan adalah suatu ikatan sakral yang direstui dan bersumber dari Tuhan sendiri, kemudian harus dipertahankan sampai mati… lalu bagaimana dengan era sebelum institusi dan budaya pernikahan DIKEMBANGKAN OLEH MANUSIA?
Apakah berarti manusia-manusia purba itu semuanya pendosa? Apakah suku tertentu di Afrika yang tidak menganut kebudayaan ini lantas dipandang rendah oleh Tuhan?
Menurut saya, sama halnya dengan agama Katolik yang mengagungkan monogami, versus agama Islam yang membenarkan poligami… tiada seorangpun yang boleh mendoktrin orang lain soal pernikahan.
Kebenaran dan kepantasan itu relatif. Kepercayaan di dunia ini banyak dan beragam. Dan setiap individu berhak menentukan jalan hidupnya masing-masing.
Cheers
peaceme said,
July 17, 2008 at 1:02 am
“So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”.”
Begitulah manusia, mempunyai dunianya masing-masing.
Jika ada 6,5 milyar manusia, berarti ada 6,5 milyar dunia
Yang jadi masalah kalau selalu menganggap dunianya (AKU) yang paling penting, kadang dengan label-label “suci”.
peaceme said,
July 17, 2008 at 1:09 am
“Untuk Cumlaude: Bagi saya, saya tidak punya kepentingan untuk meningkatkan derajat saya di depan Tuhan. Bertahan atau tidak, saya tidak melakukannya hanya untuk membuat saya lebih merasa berharga atau “naik kelas”. Ketika saya masih bisa melewati satu hari dengan senyum dan humor, itu sudah lebih cukup dari saya.”
Selama orang masih berpatokan pada norma yang atau yang “seharusnya”; maka selama itu pula bisa timbul salah persepsi dan perselisihan.
Yang “seharusnya” seringkali menutup mata terhadap kenyataan (apa adanya) dan Cinta?
Salut sama @Dee
Anonymous said,
July 17, 2008 at 1:26 am
Mbak dee.
This means a lot. Biarlah semua persepsi awam melintas. Sekilas dibaca emang rasanya garis antara ego dan kesadaran sangat tipis, tapi kalo dirasa dalam hati, setiap kalimat mbak dee terasa kebenarannya.
Its not a justification. Language is just a bridge. Kalo emang ada yang tidak paham, walk on mbak dee. Well, im sure you have walked on indeed.
Take care,
a fan.
Eftu said,
July 17, 2008 at 1:44 am
@Dee,
Betul Dee, tidak ada pertentangan kan? Pernikahan didasari ego, perceraian didasari ego.
Tapi kematian tidak.
Menganalogikan kematian dengan perceraian buat saya sama saja dengan menghina Tuhan. Dan jika bagi Dee itu bukan masalah, ya oke-oke aja. Saya tidak punya hak apa-apa terhadap sikap Dee.
Dan komentar saya juga bagian dari ego. Tidak ada pertentangan.
Semoga berbahagia selalu.
Ben said,
July 17, 2008 at 1:48 am
Dee, apapun keputusan dan latar belakangnya, semoga semuanya sesuai dengan yang diinginkan oleh Dee dan Marcell untuk kebahagiaan masing-masing.
Semoga hal itu tidak jadi penghalang untuk terus berkarya dan berprestasi…
btw, ‘karya’ terbarunya sudah terbit?
*kabur sblm ditimpuk*
fans said,
July 17, 2008 at 1:52 am
Terkadang kita begitu egois akan jalan dan cara kita sendiri, alih-alih mencari kebahagiaan tapi tidak ingatkan kita pada perasaan buah hati kita
sanghyang said,
July 17, 2008 at 2:20 am
Segala yang terbentuk akan musnah, ga terkecuali.
Selamat Ber-evolusi,dee…
Lam kenal
santy said,
July 17, 2008 at 2:25 am
Hidup, memang penuh dengan perubahan, masa lalu adalah kenangan, masa depan adalah misteri..dan hari ini adalah hadiah. Jadilah apa yang kamu bisa saat ini..karena hanya saat ini yang bisa kita lakukan…semoga perubahan hidup Dee, menjadi kearah penuh dengan kebaikannn…
Lam Niez
lintang said,
July 17, 2008 at 2:39 am
rasa, pendapat, wawasan adl buah dr pengalaman. pengalaman membuahkan pemikiran. Dee apa, bagaimana, siapa yg bisa menuntunmu sampai bisa sehebat ini? bukankah pada akhirnya akan kembali juga, pemikiran yg kompleks akan setara dengan yg sederhana. berbahagialah org yg bahagia dgn kesederhanaan
Anonymous said,
July 17, 2008 at 3:20 am
wow… saya nga pernah menyangka bahwa mba dee pada akhirnya akan menulis ttg kehidupan pribadi di blog ini. saya sendiri tau berita tersebut dari suatu forum, lengkap dgn gosip2 yg sebetulnya tidak penting memang.
media dan masyarakat butuh drama, drama yang bisa membuat mereka melupakan kehidupan mereka sendiri, drama yg bisa mengisi hari2 mereka untuk selalu meyakini bahwa mereka benar, drama yang membuat mereka lupa bahwa daya pikir mereka seharusnya bisa digunakan untuk membahas hal yang lebih penting dan lebih besar dibanding mengurusi kehidupan manusia lain.
mmm… stay strong mba dee!
blog ini di update terus yah, saya sudah kecanduan baca tulisan2 di blog ini sambil menunggu perahu kertas dan lajutan dari supernova.
-son2-
Anonymous said,
July 17, 2008 at 4:09 am
Gue sendiri, saat ini berada di ambang perceraian.
Dan memang, selama ini gue salah membaca tanda-tanda yang setelah sekarang direnungkan kembali, sudah jelas bahwa memang ada yang ga sehat di rumah tangga gue.
Sering kali kita terjebak dalam zona nyaman kita sendiri, dan akhirnya kehilangan waspada. Atau kebalikannya, kita terlalu takut kehilangan, berusaha terlalu keras melindungi pada apa yang kita punya dan ujungnya malah perpisahan.
Seperti Dee, gue rasa gue udah melakukan semuanya untuk memperbaiki hubungan keluarga gue. Dari meditasi, konseling sampe gila-gilaan kerja. Dari marah sampai merayu. Plus, diantaranya, beberapa tangisan mengiba.
Dan dalam kubikel kecil ini, gue melacak kejadian beberapa jam yang lalu. Di mana gue setuju dan menandatangani permintaan gugatan cerai istri gue.
Gue mencoba menghargai keputusan dia, dan mencoba ikhlas.
Some time you have to make the right decision, Some time you have to make the decision right.
It was a conscious choice. I let her go.
Funny thing is, now, I feel… liberated.
-thanks for such inspiring writing Dee.
_voldemort_
tandodol said,
July 17, 2008 at 4:14 am
Huaaah saya tidak tahu apa-apa mbak tentang perpisahan.
Yang pasti inilah hidup, kita tidak bisa selamanya bahagia. Pengalaman yang menjadi panutan utama kita mencapai kebahagiaan…
Eh, saya OOT ya?
Kahlil said,
July 17, 2008 at 4:16 am
God alone knows why we fall in love. Poets can try. We can justify. But we won’t scratch the surface. The same for why we grow apart. Marriage, divorce are just the social structbures surrounding these. Don’t even bother digging. We are given these to understand ourselves. We shouldn’t confuse the lesson with the education. I see that you don’t.
lite said,
July 17, 2008 at 4:17 am
Thank you for writing such a note. It’s completely unnecessary for you to explain any of your decision to others. Yet you are still so generous to share the wisdom behind your decision of divorce here.
Thank you. I’ve learnt so many things from your posts.
I wish you all the best, all the strength and happiness.
For you, Keenan, and Marcell.
*hugssss*
Afreeze said,
July 17, 2008 at 5:01 am
Pernikahan, seyogyanya adalah sebuah institusi, kelembagaan yang bertanggungjawab langsung kepada Sang Khalik. Ketika berjanji di hadapanNya bahwa orang yang akan menemani kita di kala suka maupun duka, dialah itu maka kita telah membuat suatu ikatan dengan Tuhan bahwa kita telah mengambil pilihan itu dan akan setia hingga maut memisahkan.
Pernikahan bukan ajang coba-coba. Tidak ada pengecualian untuk hal ini. Kala kita mengutamakan keputusan dalam perasaan-perasaan ekstrem maka mungkin kita tidak pernah tau bahwa di ujung sana masih ada banyak jalan lain.
Semoga lekas menemukan arti kebahagiaan sejati itu..
Salam,
Afreeze
Brokoli sehat said,
July 17, 2008 at 5:22 am
Tulisan ini harusnya dibaca sama semua wartawan infotainment. Tapi kayaknya gak bakalan ngaruh hehehe, soalnya mereka tetep aja bisa nulis gosip untuk komersialitas. Mba dewi, aku tunggu tulisan-tulisan berikutnya
Anonymous said,
July 17, 2008 at 5:45 am
Mungkin sewaktu menikah dulu, janjinya bukan sehidup semati, sehingga saat ini melabeli expire date sendiri.
~~Devita~~ said,
July 17, 2008 at 5:57 am
Hi Dee! semangat!!
me said,
July 17, 2008 at 6:05 am
“hidup mengenal masa kadaluarsa, hubungan pun sama.”
semoga hubungan elo sama tuhan tidak mengenal masa kadaluarsa.
Raffaell said,
July 17, 2008 at 6:07 am
Jujur aku geli baca ini:
konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah.
Sebegitu dalamkah pemikiran tentang memaafkan ?
aRuL said,
July 17, 2008 at 6:10 am
semoga selalu mendapat jalan terbaik buat mbak dee.
btw berarti cinta abadi itu tidak ada yah? cinta yang pada akhirnya terpisahkan oleh maut? kalo ternyata semuanya ada kadaluarsanya.
emilda said,
July 17, 2008 at 6:35 am
like usual.. you always have the best reason to share.
Kenapa setelah membaca dan mengetahui hal ini, membuat “Perceraian” menjadi tidak semenakutkan biasanya ya??
PS : Didn’t mean ‘perceraian’ adalah hal yang begitu menyenangkan!
windy said,
July 17, 2008 at 6:45 am
Don’t worry about a thing
‘Cause every little thing gonna be alright.
Singing’: “Don’t worry about a thing,
‘Cause every little thing gonna be alright!”
Rise up this mornin’,
Smiled with the risin’ sun,
Three little birds
Pitch by my doorstep
Singin’ sweet songs
Of melodies pure and true,
Saying’, (”This is my message to you-ou-ou:”)
salam,
‘ndy
dana said,
July 17, 2008 at 6:52 am
Entah karena saya yang aneh, tapi keindahan hiduplah yang kubaca dari artikel ini.
Semoga tetap sadar.
AJ said,
July 17, 2008 at 7:31 am
a beautiful mind indeed.
so dee, sejak kapan kamu menyadari (percaya) jika pernikahan itu memiliki masa expire (non-death expiry)? sebelum atau sesudah nikah? jika sebelum, why bother menikah?
if it’s too personal, pardon me. no sarcasm intended. merely my egoist curiosity.
RAMPA MAEGA said,
July 17, 2008 at 7:54 am
"Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing".
Pertanyaan saya. Mengapa perceraian ini mesti dimediasi oleh pihak eksternal (baca: pemerintah melalui pengadilan) dan kuasa-kuasa hukum (berdasarkan informasi dari infotainment?
Dari tulisan ini, saya yakin bahwa kondisi yang Dee alami adalah perceraian pada level esensi bukan lagi pada level epidermis atau level gejala sesuai istilah Dee. Esensi yang hanya bisa dipahami dengan utuh oleh sang pelakonnya sendiri.
Buat saya, lembaga pengadilan hanya lah sebuah media. Sebuah simbol. Sama halnya dengan lembaga pernikahan (baik agama maupun pemerintah) yang berusaha melegalformalkan esensi pernikahan. Tapi, sebagai simbol, mereka hanya lah simbol. Tak bisa menyentuh level esensi yang sebenarnya.
Jika buat Dee perceraian ini memang sudah waktunya sebagai bentuk dari hubungan yang sudah kadaluarsa, buat saya, tak perlu ada upaya untuk melegalkan perceraian tersebut. Karena upaya tersebut, balik lagi, hanya lah upaya yang terselubunag dalam sebuah simbol.
Mungkin awalnya sudah terlanjur mulai dengan pernikahan yang dilegalkan secara agama dan pemerintah jadinya perlu diakhiri juga dengan cara yang sama. Tapi, menilik kondisi yang ada sekarang, saya curiga keresahan (jika ada) yang muncul bukan lagi karena esensi pernikahan itu sendiri melainkan dari celotehan pihak-pihak eksternal (termasuk saya) yang kebanyakan sok tahu-nya. Tanpa adanya surat cerai dari pengadilan pun, saya rasa Dee dan Marcell tetap sudah bercerai secara esensi. Dan esensi perceraian itulah yang menurut saya lebih penting.
Note: Artikel ini sudah saya kirimkan ke seorang teman yang di ambang perceraian. Bukan sebagai usaha meyakinkan dia untuk segera bercerai melainkan sebagai bahan perenungan (kasusnya tidak sama dengan tabloid C&R yang mencantumkan alamat tanpa izin kan?:))
abi_ha_ha said,
July 17, 2008 at 9:07 am
oiya… Marcell, ingetnya Michael/Maikel, karena jaman di Sangkuriang kalo Keenan digendong-gendong pengasuhnya ke rumah, pengasuh anak saya selalu presenting, “…ini anaknya Maikel yang penyanyi itu lho pak…”
Semoga menjadi yang terbaik buat semua, terutama Keenan.
Sulit memang, ketika pada banyak hal ‘black box’, terus dipaksakan untuk ada alasannya.
“…That day, for no particular reason, I decided to go for a little run. So I ran to the end of the road, and when I got there, I thought maybe I’d run to the end of town. And when I got there, I thought maybe I’d just run across Greenbow County. And I figured since I run this far, maybe I’d just run across the great state of Alabama. And that’s what I did I ran clear across Alabama. For no particular reason, I just kept on going. I ran clear to the ocean. And when I got there, I figured since I’d gone this far, I might as well turn around, just keep on going. When I got to another ocean, I figured since I’ve gone this far, I might as well just turn back, keep right on going. When I got tired, I slept. When I got hungry, I ate. When I had to go, you know, I went…” -Forrest Gump
ben abel said,
July 17, 2008 at 12:32 pm
Ia sebuah nulis yg bagus, karena pandai, namun demikian bagiku ide mengenai kematian dan perceraian yg di[kau]sejajar – setarakan, ini hanyalah sebuah ego [pen]justifikasi diri semata.
Kematian adalah sebuah peristiwa yg mesti dan pasti sebagai akhir dari kehidupan seseorang. Ia sesuatu yg tidak bisa tidak. Ia berada diluar ego manusia, sekalipun terkadang memang ada yg membuat kematian sendiri. Sedang perceraian sama sekali tidak mesti dan tidak pasti. Ia masih bukan sesuatu yg tidak bisa tidak. Ia lebih merupakan pilihan, ego semata, apapun alasan justifikasinya.
Maaf, aku tidak tertarik dengan perceraian, karena itu urusan pribadimu. Aku hanya tertarik oleh pengakuan seorang penulis populer yg jelas sadar dengan tuntutan penggemarnya.
senasana said,
July 17, 2008 at 3:56 pm
Hi Dee..
apapun itu keputusan Dee, semoga itu menjadi keputusan terbaik demi penyelesaian masalah Dee. Semoga Dee mendapatkan kebahagiaan yang Dee cari…
Tissa said,
July 17, 2008 at 4:36 pm
Membaca tulisan kamu ttg masalah ini, membuat saya seperti “tersentil”.Karena saya mungkin tidak akan punya keberanian sebesar kamu.
Do the best Mba’Dee.
B B U
Anonymous said,
July 17, 2008 at 5:26 pm
Dee,
Secara pribadi saya bukan siapa-sipa. Saya tidak mengenal Anda sebelumnya maupun sekarang. Saya hanya seseorang yang kebetulan membaca tulisan Anda. Tulisan ini telah membuka mata dan hati saya dan memberikan jawaban atas apa yang telah terjadi pada saya.
Terima kasih,
anita
Anonymous said,
July 17, 2008 at 6:19 pm
I am in no position to judge here.
Saya hanya menyayangkan bahwa Dewi harus menuliskan segala ‘personal justification’-nya di dalam sebuah media umum seperti blog ini (walaupun agak konyol menyebut blog sebagai media umum, namun tidak bisa disangkal lewat beberapa kalimat Dewi di blog ini menunjukkan bahwa Dewi memang menulis utk mengklarifikasi sesuatu dengan masyarakat umum, bukan pembelaan semata).
Saya menyayangkan ini karena seseorang yang sudah memutuskan menikah, sudah mengucap janji sehidup semati, tidaklah pantas membela dirinya saat bercerai menggunakan alasan sedangkal ’segala sesuatu ada masa kadaluarsanya’. Dan ini dituliskan di blog dimana pasti akan dibaca penggemarnya. Dan mungkin saja at some level akan mempengaruhi penggemarnya. Bukankan itu bukan tindakan yang dewasa?
Pembelaan pribadi adalah hal yang lumrah dan masuk akal dan bisa diterima untuk seorang manusia dewasa. Tapi begitu itu disampaikan di muka umum, sebaiknya juga merupakan pembelaan yang cerdas dan tidak ‘ridiculous’.
Flower Power said,
July 17, 2008 at 6:40 pm
Mbak Dee,
Thanks banget buat tulisannya, saya belajar banyak.
membaca tulisan ini, saya seperti merasa, apa yang sebelumnya tidak mampu saya ungkapkan dengan kata-kata krn seluruh dunia seakan bersekutu melawan saya, terpapar dengan jelasnya sekarang.
Saya tahu bahwa saya tidak sendiri.
Tidak ada kata “mudah” dalam hidup orang dewasa. Tidak ada seorangpun manusia yang bisa sungguh2 merasakan perasaan manusia lainnya, meskipun dengan pengalaman yang sama. Dalam hidup ini, adakalanya dimana Tuhan yang Maha Kuasa sudah menentukan untuk kita. Namun, adakalanya Tuhan memberikan kebebasan pada manusia untuk memilih. Apapun pilihan seorang manusia, tidak ada manusia lain yang berhak untuk menghakimi. Karena Penghakiman hanyalah milik Tuhan semata. Ketika seseorang mengalami ujian,tidak ada org lain yang tau, kapan org tersebut seharusnya berhenti atau belum. Hanya sang Penguji yang tau. Bila org tersebut menyerah dan berhenti mengerjakan ujiannya, hanya Sang Penguji pulalah yang layak memberikan “nilai” apakah org tersebut lulus ujian atau tidak..
Semua manusia memiliki sikap dan pandangan yang berbeda dalam menjalani hidup, biarkanlah sebagaimana adanya.
Semoga ketika kita melepas semua “atribut” yg melekat pada diri kita krn kita pasangkan demi orang lain…masih ada yang tersisa di diri kita.
Mbak Dee, maap jadi kepanjangan…
Salam kenal dari saya yang sedang belajar ikhlas….
Anonymous said,
July 17, 2008 at 7:15 pm
Ijinkan saya untuk bergabung …..
Adakah perkawinan yang betul-betul sempurna dari sepasang manusia yang serba punya keterbatasan ??
Saya rasa tiap pasangan dalam menjalani perkawinan, akan sampai pada satu saat yang membuat dia akan berpikir kembali apakah betul keputusan yang dia ambil untuk menjalani hidup dengan orang yang dipilih menjadi kawan hidup ??
Dan bagi pasangan yang sudah merasa yakin telah menemukan soul mate ataupun cinta sejati, itupun kadang belum menjadikan mutlak terbebas dari hadirnya cinta lain yang mungkin bisa datang kapanpun. Rasanya godaan akan terus datang sepenjang hidup perkawinan dalam segala rupa bentuk.
Dan kadang memang kita jadi tergoda untuk sampai pada perceraian, disaat semua rasanya sudah kadaluarsa ( meminjam istilah Dee ).
Kemudian , dalam perjalanan kedepan akan sangat dimungkinkan ada kesempatan lain untuk membina hubungan baru dimana kita akan kembali menemukan kawan hidup.
Lalu untuk hubungan baru itu, akankah juga mencapai titik “kadaluarsa” ??
Pertanyaan berikut adalah : sejauh mana kita akan terus berlari ?
Sebuah renungan kecil, buat kita bersama.
isabella said,
July 17, 2008 at 7:18 pm
Dee…
Mbak itu sosok yang hebat sekali yah?? Di tengah masalah semacam ini pun masih berpikir begitu cerdas tapi bukan sok cerdas. Pemikiran2 dan tulisan2 Mbak begitu menginspirasi sekaligus membumi.
Kecanduan abis sama ‘isi kepala’-mu, Mbak :p
Wish you, Marcell, and Keenan all the best!
PS: Aku akan tetap liat infotainment ya, Mbak. Aku ingin mendengar apa berita dan narasi dari mereka.Mereka pasti masih sibuk dengan drama2 yang mengiris hati,hahaha… Dan saat itulah aku akan tertawa dalam hati. Secara,aku udah baca pengakuan Mbak Dee yang sejujurnya ini…
:p
ruly said,
July 17, 2008 at 7:22 pm
hm.. ga semua harus dan bisa dimengerti..
semoga dimampukan dalam menjalani pilihannya..
Anonymous said,
July 17, 2008 at 7:57 pm
thanks for sharing…
saya juga percaya: segala usaha yang sudah optimal kita lakukan adalah takdir..
Icaros Girl said,
July 17, 2008 at 8:31 pm
Terimakasih karena telah sangat jujur… bukan karena pertanyaan pertanyaan yang tidak pernah ada di kepala saya mengenai kehidupan, perceraian bla bla bla dari seorang mba dewi lestari..
(saya ga dikasih napsu buat nonton gosip, sinetron, and I don’t have any business on other people life right?) tapi terimakasih telah berbagi perasaan yang sangat jujur dalam tulisan yang sangat jujur…
Kejujuran itu memerlukan keberanian yang sangat, dan saya merasa telah dibagi keberanian karena tulisan mba dewi.
ini cermin buat saya. kebenaran, kebahagiaan serta keutuhan jiwa yang relatif ini. saya sangat menghargai keputusan alamiah yang terjadi di kehidupan anda.. (setelah baca blog ini mau ga mau jadi pengen comment juga soal gosip gosip itu hahaha..)
sama seperti saya sangat menghargai semua karya anda… yang telah setidaknya membangun jejaring pemikiran yang saya bawa dan bahkan ada beberapa kalimat yang dipakai teman saya ketika saya sedang “LUPA”.
HAH…!!! terimakasih..
yati said,
July 17, 2008 at 9:05 pm
ini jalan hidup, atau apalah namanya. dan tidak ada urusannya dengan oang lain. semoga jalan dee ke depan tetap lancar, Amin
uthee said,
July 17, 2008 at 9:21 pm
sebuah renungan yang membuat saya lebih dewasa dalam menanggapi sebuah masalah lepas dari konteks perceraian (karena saya belum mengalami pernikahan apalagi bercerai). karena dalam tulisan ini ada subuah point yang saya ambil, memang dalam kehidupan semua yang kita inginkan belum tentu diberi tapi kita akan selalu diberi apa yang kita butuhkan. Dan untuk mencapai yang kita butuhkan juga butuh perjuangan.
kemudian perpisahan akan selalu ada ketika ada pertemuan. karena jodoh juga ada pengertiannya, ada jodoh yang memang akan dipisahkan oleh kematian tapi ada juga jodoh yang dipisahkan oleh perceraian hingga akhirnya dipisahkan oleh kematian…..
Jadi semangat buat mba Dee untuk menggapai kebahagian….. ^_^
MAY'S said,
July 17, 2008 at 9:24 pm
tak ada lain, saya hanya ingin berucap, semoga ke depan semua menjadi lebih baik…
untuk dee dan marcel juga Keenan…
salam kenal
Vandij said,
July 17, 2008 at 10:38 pm
seriously, dee..
u don’t have to explain anything to everyone.
those who love you have already known the whys, and people who don’t will never understand them.
but then again, u try. which is a good one. semoga tulisan terakhir minimal bisa jadi cermin sesaat buat orang2 yang mau tau terlalu banyak.
yg sabar ya..
bowieWorlds said,
July 17, 2008 at 10:49 pm
sangat idealis … tapi kadang idealis akan membunuh takdir hidup manusia ..
But gw yakin ini merupakah keputusan terbaik buat kalian berdua, semoga anak anda tidak menjadi korban karena keidealisan anda berdua ..
gw pernah ngalamin ini dan anak gw korbannya …
Gud lak for both of you and your child …
bO-A's wOrLd said,
July 17, 2008 at 11:09 pm
Mba Dee..
Saya bingung mau berkomentar apa, saya terlalu takut jika komentar saya akan berpengaruh baik atau malah buruk. Bukan ge-er, tapi memang ini yang saya rasakan ketika akan menulis komentar di sini. Mungkin memang ada suatu koneksi batin antara penulis dengan penggemarnya.
Terus berkarya ya Mba Dee…
edenia said,
July 17, 2008 at 11:27 pm
mungkin dee sedang menggenapi ini kepada segala sesuatu di luar dirinya sendiri :
“i give you my word, my love, my command, my respect, but the soul belongs to man.”
(Kingdom of Heaven)
dee said,
July 17, 2008 at 11:31 pm
wah saya baru tahu mbak dewi cerai.
ho3,sy hanya hanya nonton tv kalo “Friends” atau MTV pimp my ride mulai (dimana Friends sudah habis masa serinya), jadi saya emg sering dicap ketinggalan jaman masalah celeb.
saya tidak tahu tentang benar salahnya bercerai.
tapi saya sering sekali ingin berteriak ke orang tua saya “Kenapa kalian mengatasnamakan kebahagiaan anak2 atas tidak-jadinya perceraian kalian”
sikap orangtua terhadap apa yang mereka pikir “kasihan anak2, kalo kita cerai”, malah memberikan beban yang luar biasa bagi anak-anaknya selama beberapa tahun.
Jadi, saya pikir, Keenan sungguh beruntung memiliki dua orang tua yang benar2 “dewasa” dan sadar akan pentingnya mencintai diri sendiri terlebih dahulu seperti anda
cheers untuk Mb Dewi, Marcell, dan Keenan
Dewi Lestari said,
July 17, 2008 at 11:33 pm
Ketika kita merenungkan hal-hal besar dalam hidup: kelahiran, kematian, perjumpaan, perpisahan… niscaya kita akan menemukan satu benang merah: Perubahan.
Yang pasti hanyalah perubahan. Tidak ada satu pun hal yang permanen dalam hidup ini. Masa muda punya kadaluarsa, kesuksesan punya kadaluarsa, kecantikan punya kadaluarsa, hubungan cinta pun sama. Ada yang ditamatkan oleh kondisi atau oleh usia.
Kemelekatan, adalah salah satu rintangan batin terbesar manusia. Dalam situasi tertentu, kita bisa begitu “anti perubahan”. Jika hidup kita sedang bahagia, kita ingin selamanya melekat di sana. Sebaliknya, jika kita sedang sengsara, kita ingin secepat-cepatnya perubahan datang. Apa pun keinginan kita, banyak hal yang bermain sebagai penentu perubahan maupun ‘timing’ dari perubahan tersebut.
Tentunya menyakitkan jika apa yang kita berusaha segelkan (apalagi sudah dengan melibatkan Tuhan segala) sebagai perjanjian abadi ternyata berlangsung lebih pendek dari konsep agung “sehidup semati” yang diucapkan? Saya tidak pernah menyesal dengan keputusan saya menikah. Itulah keputusan terbaik yang bisa saya ambil pada saat itu. Tapi, saya harus jujur, bahwa dari dulu pun saya menyadari dalam hati, siapa pun yang menjadi pasangan saya—dia akan terus bersama saya sampai waktunya nanti. Kapan itu? Kita tidak tahu. Syukur-syukur sampai mati, kalau pun tidak, mampukah kita menerima kenyataan hidup bahwa yang absolut hanyalah perubahan? Jika kelak saya punya pasangan baru, kapan pun dan siapa pun itu, prinsip yang sama pun akan berlaku, terlepas seberapa seringnya ikrar “sehidup semati” terucap.
Di satu sisi, saya tidak bisa membayangkan kalau semua hubungan—pernikahan atau bukan—disterilkan dari perubahan. Bagi saya, itulah kematian yang sesungguhnya. Karena dengan demikian kita hanya akan menghabiskan hidup melawan arus alamiahnya. Bisakah kita membayangkan, apa jadinya kalau konsep “sehidup semati” diletakkan di atas hukum perubahan? Di beberapa kasus di mana pernikahan cuma jadi ajang penganiayaan, larangan untuk berpisah karena janji sehidup semati tak lain tak bukan menjadi hukuman mati bagi pihak yang teraniaya.
Namun demikianlah kecenderungan kita semua. Akibat keterbatasan kita mengendalikan hidup, kita membekali diri dengan aneka ilusi keabadian. Ilusi yang berabad-abad kita pelihara sehingga akhirnya terasa sebagai kebenaran. Kita bahkan libatkan Tuhan di dalamnya demi sakralitas. Tapi, jika kita benar-benar jujur, adakah itu sesungguhnya refleksi dari ketakutan kita sendiri yang tak pernah bisa sepenuhnya mengendalikan hidup? Adakah yang sesungguhnya lebih sakral dari perubahan? Karena hidup ini bisa bergulir hanya karena perubahan.
Pada titik itulah, kematian dan perpisahan bertemu. Hakikat keduanya adalah perubahan. Soal yang mana kehendak Tuhan dan mana yang bukan bukan, hanya cuma menjadi debat kusir, karena definisi Tuhan saja bermacam-macam. Saya percaya pada Tuhan yang tak berkehendak, Tuhan yang tak perlu dibela, Tuhan yang tak bisa dihina. Saya percaya ada beberapa hal yang bisa dicegah manusia, dan ada yang tidak. Namun apa yang kita tidak bisa cegah tak terbatas hanya soal jodoh, lahir, dan mati. Begitu banyak hal yang tampak remeh dan kecil yang kendalinya pun tak ada di tangan kita, meski kita ingin sekali berpikir demikian.
Adapun alasan saya menulis di blog ini adalah karena blog inilah media “terakrab” saya dengan Anda semua. Dan sebagaimana pada satu titik, saya pun ingin berbagi cerita dengan teman-teman saya, ini menjadi kesempatan saya berbagi cerita dengan Anda semua. Saya hanya merasa teman-teman saya berhak untuk tahu informasi ini langsung dari saya, dan bukan dari cerita media massa yang terdistorsi. Soal sepakat atau tidak, bukan jadi kepentingan utama saya di sini.
Jadi, mengutip satu komentar di blog ini: “Saya menyayangkan seseorang yang sudah memutuskan menikah, sudah mengucap janji sehidup semati, tidaklah pantas membela dirinya saat bercerai menggunakan alasan sedangkal ’segala sesuatu ada masa kadaluarsanya’. Dan ini dituliskan di blog dimana pasti akan dibaca penggemarnya. Dan mungkin saja at some level akan mempengaruhi penggemarnya. Bukankan itu bukan tindakan yang dewasa?”
Pertama-tama, ini sama sekali bukan tindakan membela diri. Pihak mana pula yang perlu saya minta pembelaan? Tidak ada. Dan mengapa Anda harus begitu khawatir bahwa akan ada yang terpengaruh dengan tulisan saya? Hidup pasti sangat berbeban saat kita merasa punya kendali atas pikiran orang lain. Dan saya tidak ingin hidup seperti itu. Sebaliknya, saya justru percaya pada kedewasaan pembaca saya untuk punya pendapatnya sendiri-sendiri.
Saya ingat cerita Sang Buddha, saat beliau menyadarkan seorang ibu yang tak bisa menerima kematian anaknya, sampai menggendong anaknya yang sudah jadi bangkai ke mana-mana. Sang Buddha hanya meminta satu hal pada sang ibu: Cari satu orang yang tidak pernah mengalami kesedihan, tidak pernah mengalami kedukaan. Si Ibu mencari, dan tidak menemukan. Saat itu ia tersadar akan kemelekatannya. Semua orang tak pernah selamanya senang, tak juga selamanya sedih.
“Segala sesuatu ada masa kadaluarsanya” bukanlah alasan. Itulah kenyataan. Jika bukan, marilah kita sama-sama mencari sesuatu dalam hidup ini yang tak mengalami perubahan.
Semoga “bangkai” apa pun yang kita gendong selama ini akhirnya bisa kita lepaskan dengan hati lapang…
~ D ~
edenia said,
July 18, 2008 at 12:02 am
pikiranmu terlalu kompleks dee,
membutuhkan sinergi tubuh-jiwa dan roh untuk menyelami apa yang kau maksud. aku tak mau dan tak ingin memasukinya, tapi kalau hanya sekadar mengintip, bolehlah..
toh aku sudah membuka blogmu
mg said,
July 18, 2008 at 12:39 am
mba dee saya mengucapkan selamat menempuh hidup baru.walaupun sakit karena perpisahan ini.tapi semoga itu adalah jalan terbaik buat mba dee .marcel dan keenan.dari mg tangerang
iambadung said,
July 18, 2008 at 12:43 am
“Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.”
Cool quotes.
Emang gak ada orang yang tahu seberapa bahagia kita atau sesedih apa kita.
Anonymous said,
July 18, 2008 at 12:57 am
dee kamu sudah semakin bijaksana saya bangga dengan kamu
re-desain said,
July 18, 2008 at 1:24 am
“Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri.”
Agak susah untuk menerapkan konsep ini ke dalam suatu wadah bernama pernikahan. Karena ada dua “diri” di dalamnya…
Eftu said,
July 18, 2008 at 2:25 am
Hehehe, dan kemudian dikau memberikan justifikasi yang lain lagi; perubahan.
Butuh berbincang agak lama soal perubahan, nasib, takdir, Tuhan.
Oke lah Dee.
Semoga berbahagia.
RZ said,
July 18, 2008 at 4:04 am
Dee…..
ada satu yg tidak kadaluarsa….
“ENERGI”… dia hanya berubah bentuk,
..Sesuatu yg tidak pernah bisa diciptakan, tidak pernah bisa dimusnahkan..
‘Energi menulis’ yg berubah menjadi tulisan, .. dia takkan pernah “expired” (kecuali tdk terpublikasi!)
“Sebuah buku”, yg menulis satu, tapi yg terinspirasi ribuan/jutaan orang lainnya.
Saya setuju, perubahan itu pasti, dan itu yg membuat manusia, manusiawi. Selamat datang perubahan, nikmati saja Dee!
anita said,
July 18, 2008 at 4:14 am
menurut saya,,,hal yang dee sampaikan merupakan buah pikiran manusia yang telah memiliki “kesadaran”, jujur pada diri sendiri dan tidak terikat pada hal diluar dirinya…
hope the best for you dee
boim wang said,
July 18, 2008 at 4:24 am
haha..Happiness is A CHOICE.., sis !!
and i’m glad u choose it…^^
keep writing dee, love u..
Anonymous said,
July 18, 2008 at 5:46 am
hidup itu pilihan,
selamat buat mbak dewi, yang telah melewati “proses memilih” nya.
kalau mau dikatakan keenan akan menjadi korban orang tuanya, di satu sisi itu bisa jadi benar, tapi kalau dilihat dari sisi lain, mungkin saja keenan bersyukur atas pilihan orang tuanya.. mengapa..lebih baik melihat keduanya berpisah, daripada bersama, mempertahankan ke”aku”an, atas nama cinta yang sudah tidak ada lagi..sungguh sakit hati kalau disuruh melihat suami istri yang sudah tidak berjodoh, harus bertemu setiap hari..hehe..ga percaya…renungkanlah…
btw, yang menentukan adalah keenan sendiri, berhubung keenan saat ini belum mampu memilh,orang tuanya lah yang mewakili..
so..maju terus mbak dee…
u have already made your choice…
Anonymous said,
July 18, 2008 at 7:06 am
dalam kehidupan memang pasti ada perubahan, tapi perubahan bukan sama dengan kadaluarsa, krn perubahan tidak selalu diikuti akhiran, tapi lebih ke kedepannya… kesambungannya, yg ada hanyalah berjalan seiring waktu, kalo kadaluarsa kan ada konsep stopnya, berubah kan tidak hrs dg stop, tapi lebih spt aliran …. makin ke sana.. makin kesana …makin kesana …..
stanzah said,
July 18, 2008 at 7:40 am
When I find myself in times of trouble, mother Mary comes to me,
speaking words of wisdom, let it be.
And in my hour of darkness she is standing right in front of me,
speaking words of wisdom, let it be.
-The Beatles
Jenny Jusuf said,
July 18, 2008 at 8:05 am
“We don’t look for an answer, we accept, and then life becomes much more intense, much more brilliant, because we understand that each minute, each step that we take, has a meaning that goes far beyond us as individuals. We realize that somewhere in time and space this question does have an answer. We realize that there is a reason for us being here, and for us, that is enough.”
*sekadar kutipan dari Oom Coelho, yang saya kopipes dari blog orang
*
konnyaku said,
July 18, 2008 at 10:50 am
thanks for sharing it with us.
i’m agree that our own happiness is a prerequisite, so we can make others happy by our existence and actions.
this post has been enlightening and inspiring.
hope you can find your true happiness within you.
si buluk said,
July 18, 2008 at 6:34 pm
-keep writing-
Anonymous said,
July 18, 2008 at 6:44 pm
halo mba dee,
saya yakin apapun keputusan yang telah dibuat mba dee dengan mas marcell adalah yang terbaik bagi kalia b2. memang inilah hidup. ada pertemuan, ada pula perpisahan. tapi bukankah tidak berarti semua perpisahan harus diartikan sebagai sesuatu yang negatif?… karena saya meyakini, semua orang memiliki jalannya masing-masing, sekarang hanya tergantung pada pilihan yang akan kita buat. selanjutnya kita hanya akan menerima konsekuensi dari pilihan kita itu. dan saya sadar bahwa setiap pilihan dan konsekuensi yang muncul kemudian, tidak ada yang harus diartikan sebagai sesuatu yang negatif. setidaknya kita bisa belajar dari pengalaman yang telah kita buat itu.
be strong for three of you…
be happy
hansen_zinck @ yogyakarta
Anonymous said,
July 18, 2008 at 7:46 pm
Dee…
Saya 'terbuka' dengan kata-kata kemelekatan dan penutup tulisan dirimu yang terakhir:
>>Semoga “bangkai” apa pun yang kita gendong selama ini akhirnya bisa kita lepaskan dengan hati lapang…<<
Ini benar-benar berarti buat saya. Selama ini saya memiliki 'bangkai' itu dan terus saya simpan dalam bentuk penyesalan yang tidak habis-habis, walau pun isi kepala saya selalu berusaha melupakan. Dengan tulisan Dee, saya menyadari bahwa berusaha melupakan bukan jalan terbaik bagi saya malah sebaliknya semakin membebani, tetapi sekadar melepaskan 'bangkai' itu dan melihat bahwa banyak hal yang seharusnya ditempatkan sebagai kadaluarsa adalah jalan keluarnya.
Thanks Dee…
signifiant said,
July 18, 2008 at 8:58 pm
Dear Dee,
Saya yakin Dee sudah melakukan yang terbaik dalam menjalani proses yang akhirnya mengantarkan Dee pada keputusan ini..
Kita memang hanya bisa berkomentar sebagai pihak luar yang tidak tahu prosesnya seperti apa, tapi saya percaya Dee sudah berusaha searif mungkin menempatkan masalah ini tanpa harus mendiskreditkan pihak mana pun, seraya menerima semuanya dengan ikhlas dan lapang dada..
Take care & be strong..
It's only temporary (this thing you have to go through), cause life itself is only temporary
arikstress said,
July 18, 2008 at 8:59 pm
hmmm…
apapun ada negatif positf.
tergantung dari pilihan juga yang ngejalaninnya. perkawinan adalah dimana proses kita menjadi individu dalam tingkat level tertinggi yang tidak akan pernah habis , menjadi pasangan, orang tua, kakek, buyut, kakek buyut etc.
regenerasi pun sudah pasti akan muncul. entah itu melalui perceraian / tidak. belum tentu semua perceraian buruk dan belum tentu pernikahan bagus. itu yang perlu kita ketahui. tidak semua nya yang sakral akan menjadi bagus. apalagi di jaman gila seperti ini. “semuanya tergantung” dan menurut ku pendapat mbak -d- ini hal yang wajar yang dituangkan di sini personal, yang mungkin orang lain merasa hal ini tidak pantas / tidak tentunya perlu di ingat bahwa tiap individu punya kecenderungan masing masing maupun pendapat masing masing.
well, at least this is something i told you all. marilah sama sama berdoa dan belajar dari apa yang mbak -d- ungkapin, rasain, baik dari segi apapun itu, manusia hakekat untuk belajar tidak berhenti sampai skr, melainkan terus menerus ilmu tidak akan berhenti seiring waktu.
-a-
CY said,
July 18, 2008 at 9:33 pm
Hidup adalah untuk belajar, itu sebabnya Tuhan mengatur agar selalu ada dua hal utama yg saling berkaitan untuk dipilih, ada hitam-putih, tinggi-rendah, kering-basah, dan sebagainya. Dan keduanya saling terikat, tak ada hitam maka putihpun sirna, tak ada basah maka kering itupun tak bermakna. Dalam hal ini kamu diberikan kesempatan untuk belajar, belajar bagaimana menentukan start yang baik supaya mencapai finish yang tetap bersatu, bukan berpisah. Sekian tahun mengendarai motor dan kemudian terjatuh suatu hari tidak berarti sudah waktunya untuk jatuh, tapi sebagai reminder bahwa ada yang tak beres dengan kita. Kalau dengan cara pandang “sudah waktunya” maka motor tidak akan laku dan pabrik Honda bakal tutup karena semua orang memutuskan berpisah dengan motor.
Jadi skill kita perlu diasah dari mulai start mengendarai, sampai tiba di tempat tujuan. Dalam satu rentang kehidupan ada ribuan kali kita belajar bagaimana start yang baik sehingga tiba ditempat tujuan berikut motor, bukan orangnya tiba dirumah motornya nginep di bengkel. Semua itu terbagi dalam fase-fase bertahap, diiringi dengan skill yang makin mumpuni.
We create our own hell, we create our own heaven, we are the architect of our faith.
Selamat belajar…
arie said,
July 18, 2008 at 9:34 pm
Memahami karya karya mbak Dee yg menurut saya extraordinary. Menunjukkan bahwa mbak Dee memang penulis hebat. Saya teman mas Adam Herdanto mbak. Saya juga mengagumi tulisan dan karya beliau. Saya mencoba memahami orang2 seperti anda dan seperti Mas Adam. Memang ada sisi lain, boleh dibilang itu sisi psikologis, yang menuntut kebebasan dalam hal berpikir. Seseorang yang mampu menciptakan karya hebat,(terutama seniman, kayaknya mbak) biasanya memiliki pola pola pikir bebas. Ada hal-hal yang tidak bisa dupungkiri, bahwa pola pikir bebas ini mempengaruhi pola sikap kita dalam menjalani hidup. Sisi baiknya, kita akan menjadi lebih jujur, tidak munafik.
Saya hanya urun-urun aja mbak, istilah bhs jawanya…karena saya fans novel mbak Dee juga. Bahwa apa yang terjadi pada keluarga mbak Dee adalah suatu fase “pendewasaan tingkat lanjut” (wuah.. kayak apa aja ya mbak..mbak!) Buat saya ,dalam kapasitas mbak Dee,perpisahan akan memiliki hikmah besar. Menuju arah perenungan, dalam pendewasaan emosional, Spiritual, yang nantinya semoga akan bermanfaat untuk kehidupan mbak selanjutnya. Dan saya berdoa, semoga juga bermanfaat buat Keenan. Karena mbak Dee adalah ibu,yang akan memberikan kontribusi dalam hidup Keenan dimasa yang akan datang.
Btw.. anyway.. busway.., ayo mbak ! kita sama sama berjuang menjadi diri kita sendiri. Untuk menjadi ibu yang baik bagi anak kita. Karena anak adalah titipanNya, karena buah cinta kita dengan seseorang yang belum tentu jodoh kita yang sebenarnya. Tetap semangat ya mbak! Salut atas penyelesaian damai.
baroezy said,
July 19, 2008 at 2:02 am
inti dari perpisahan adalah… ada yang ditinggalkan..meninggalkan dan bertahan pada satu prinsip yaitu egois…. nggak ada org yang bercerai karena CINTA..bulshit… kenapa orgtua kita bisa sampe akhir hayat mereka mengarungi bahtera RT mrk?? ya karena mrk sepakat akan komitment… bercerai tidak ada yang menang…dua duanya kalah…. kalah akan keegoisan diri sendiri…semua FAKE…!!!
eviwidi said,
July 19, 2008 at 4:12 am
Halo Mba Dee,
Dalem banget tulisanya. Saya sempet beli tabloid Bintang yang memuat poster Mba Dee dan Marcell, sekadar memenuhi keingintahuan akan ‘apa yang sesungguhnya terjadi’ tapi tentu tulisannya tidak sedalem ini.
Semoga Mba Dee bisa mendapat yang terbaik dalam hidup.
Ca yoo..!
-Evi-
winner jhonshon said,
July 22, 2008 at 8:11 pm
ini catatannya dewi dan komentar saya…
Catatan Tentang Perpisahan
Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.
+++++Dewi berusaha untuk memulai pemaparannya (apologi/pembelaannya) dengan baik. Disini dia memulai dengan dialektika, yaitu jika ada perjumpaan, pasti ada perpisahan. Jika ada saya pasti karena ada kamu. Jika ada muda, pasti karena ada yang tua. Logika Cartesian ini, yang diperkenalkan oleh Rene Descartes (seorang filsuf Yunani), mengawali ’pencerahan’ dari sang dewi ini. Kemudian, dia juga memaparkan suatu hal yang akan membawa perdebatan dalam pemaparannya dalam tahap selanjutnya. Perdebatan itu sendiri terjadi diantara teks-teks yang disampaikannya (among themselves), dan bukan pada kita pembaca. Kalimat-kalimat Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati, telah membuka celah bagi diskusi dan dari sejak awal dia sudah mematahkan argumen-argumen yang akan dia paparkan dalam episode apologi berikutnya. Mari kita tengok isi kalimat itu. Dewi tidak pernah tahu kapan dia akan mengalami perpisahan atau kematian. Artinya, tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan waktunya bagi dia untuk berpisah. Yang harus dilakukan adalah bertahan. Demikian juga bahwa dari logika sedemikian ini, kiranya sah pula pernyataan berikutnya, yaitu bahwa dengan demikian maka tidak ada seorang pun juga yang berhak untuk menentukan kapan waktunya bagi dia untuk berpisah. Jadi, yang dilakukan oleh manusia adalah berusaha mempertahankannya. Dan mestinya, manusia hanya sampai pada tahap itu, dan bukan pada tahap mengambil keputusan untuk berpisah, apapun alasannya.
Kedua, dewi ini tidak lengkap menerangkan bahwa dalam sebuah peristiwa, sebagaimana juga dialektika itu terjadi, yaitu ada perjumpaan, ada perpisahan, ada muda , ada tua. Ada lahir , ada mati. Ketika dialektika itu harus berjalan, satu hal yang harus kita pahami, bahwa dalam hal itu pasti ada variabel pendukungnya. Kematian, variablenya bisa penyakit, bisa juga karena pembunuhan. Penyakit itu juga variabelnya bisa beberapa, bisa karena kemiskinan, kurang makan, atau juga bisa saja karena terlalu kaya lantas bisa stroke. Lalu, peristiwa atau keadaan yang namanya kemiskinan, bisa disebabkan oleh kondisi alam yang tidak mendukung, atau karena kemalasan. Jika kita urut lebih jauh lagi, maka akan ada urutan peristiwa yang sangat panjang, dan variabel/premis pendukungnya bisa ribuan. Setiap peristiwa atau keadaan, ada faktor pendukungnya. Jadi, peristiwa perpisahan juga ada variabelnya. Apakah karena dipisahkan oleh Tuhan (kematian) atau perpisahan karena faktor manusianya. Inilah objek obervasi kita atau objek verifikasi kita atas argumen dewi selanjutnya.
Jadi, dari pernyataan dewi, ada dua konklusi penting yang harus kita jadikan pisau penguji dan patokan dalam mengkritisi pendapat beliau berikutnya, yaitu :
++++1. bahwa tidak ada seorangpun yang tahu kapan akan mengalami perpisahan. Dengan demikian, tidak sah pula kewenangan seeorang untuk menyatakan kapan waktunya untuk perpisahan. Kecuali kita memandang bahwa itu bukanlah sebuah perpisahan yang ’memang seharusnya’, tetapi lebih kepada keputusan manusia.
++++2. bahwa dalam setiap peristiwa atau keadaan, pastilah ada variabel pendukungnya. Tidak mungkin sebuah peristiwa terjadi begitu saja. Tinggal diverifikasi, apakah penyebabnya adalah alam, Tuhan, atau ternyata manusia itu sendiri.++++++++
Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti.
Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.
Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.
++++++Nampaknya Dewi kesulitan untuk melakukan pemilahan mana yang merupakan gejala, dan mana yang merupakan penyebab. Jika KDRT dan orang ketiga adalah gejala dan bukan penyebab, jadi penyebabnya apa? Menyerahkan kepada ’memang sudah waktunya’, tidak memiliki penjelasan yang masuk akal. Ini juga menyampaikan lagi pada kita ketidakonsistenan pemikiran dewi. Diatas dia menyampaikan bahwa penyebab batuk adalah virus. Jadi ’bukan sudah waktunya’. Jadi memang alasan ’sudah waktunya’ itu adalah mengada-ada. ++++++++++++
September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran.
+++++++++Disini, inkonsistensi dan irrasionalitas dewi dalam berujar semakin jelas . Pada alinea pertama ujarannya, dia mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan akan terajdi perpisahan. Yang kita bisa upayakan adalah mempertahankannya. Pada alinea terakhir ini, setelah sebelumnya kita ‘diarahkan’ dengan berbagai analogi-analogi dari cerita-cerita yang tidak memiliki nilai filosofis, kecuali mengajarkan kepada kita pragmatisme (dalam banyak karya sastra berupa cerita/novel, sangat sedikit sekali yang didalamnya berisi ajaran yang filsafati, kebanyakan adalah pragmatis dan ilusionis), dewi menjadi ‘mengetahui’ bahwa inilah saatnya dia untuk berpisah dengan Marcell. (frase ‘kesadaran’, ‘awareness’, merupakan suatu pengesahan atas kondisi bahwa seseorang mengetahui sesuatu) Pada titik ini, kita melihat hal yang tidak lagi logis. Dewi sudah mulai mematahkan argumennya sendiri. Dewi mensimplifikasikan sebuah kata ’kadaluwarsa’. Padahal, dalam banyak literatur, kata’kadaluwarsa’ ini membutuhkan legalisasi, atau acknowledgement, mengenai apa yang dimaksud dengan kadaluwarsa itu. Kita breakdown ke peristiwa yang dialami dewi.
1. Apa yang menyebabkan hubungan dewi-marcell menjadi kadaluwarsa?
2. Apa parameter kadaluwarsa tersebut?
3. Apakah benar bahwa perpisahan itu disebabkan suatu faktor eksternal yang tidak dapat dikuasai, atau ternyata faktor internal yang sebetulnya bisa di drive?
Ini yang harus dijelaskan oleh Dewi.
Mengapa dia harus menjelaskan ini ? karena dia menggunakan kata kadaluwarsa. Kadaluwarsa, adalah similar dengan expired. Kata ini sama dengan istilah legal dan sah, yang membutuhkan pengakuan pihak lain jika seseorang hendak menyatakan sesuatu itu sah atau legal. Demikian juga istilah kadaluwarsa. Apa yang diungkapkan oleh Dewi dengan menyederhanakan sebuah hubungan sebagai memiliki aspek kadaluwarsa, adalah berbahaya, sebab adopsi terhadap istilah ini akan menimbulkan sebuah postulat baru, yang akan menimbulkan generalisasi terhadap apa yang dialami oleh dewi , menjadi terhadap semua peristiwa percaraian. Penggunaan istilah ini, memerlukan yang namanya generali opinio necesitatis , atau pengakuan publik atas suatu postulat. Nah, untuk memberikan suatu postulat, maka diperlukan pengujian secara ilmiah beserta parameternya. Jika tidak, maka istilah ini tidak memiliki arti. Akan sama artinya dengan istilah posmodernisme ditangan seorang mahasiswa yang baru belajar filsafat. Kemudian, satu hal yang perlu diklarifikasi lagi oleh Dewi. Benarkah kehidupan ada kadaluwarsanya? Jika kita melihat dalam tataran aktivitas, ya. Tapi itu juga perlu rentangan waktu yang tidak prematur. Namun jika kita melihat dalam sisi yang lain, misalnya posesivitas, seringkali makin lama hidup ini memberikan kepada orang kepemilikan yang semakin banyak atas segala sesuatu. Baik itu tangible seperti harta benda, uang dan sebagainya ataupun juga intangible seperti kehormatan, nama besar dan sebagainya. Apalagi, jika kehidupan dilihat dari nilai yang lebih mulia dari itu, misalnya mama Teresa yang tdk punya apa-apa namun hidupnya mulia, tidak seperti Osama Bin Laden, orangnya kaya tapi hidupnya mirip binatang. Bahkan, jika kita merujuk kepada pendapatnya Tan Malaka, bahkan kematian akan membawa kebesaran yang lebih dahsyat (Ini disampaikan oleh Tan Malaka, dalam bukunya MADILOG (Materialisme, Dialektika Logika), bahwa sebelum dia dihukum oleh pemerintah Hongkong, dia berkata “suaraku akan terdengar lebih keras dari dalam kubur”). . Jadi statement atau premis yang disampaikan dewi tentang kadaluwarsa ini perlu untuk dikaji dan diklarifikasi lebih lanjut, sebab tidak memiliki keabsahan secara rasional.+++++++++
Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell, menikah, dan seterusnya. Fate, atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.
+++++++Kita perlu kejujuran dewi untuk menjelaskan mengapa dia bertemu dengan Marcell. Kita bukanlah makhluk mesin yang tidak memiliki perasaan, ataupun binatang yang tidak memiliki respon terhadap impuls-impuls ataupun rangsangan apapun. Setiap tindakan yang dilakukan manusia, maka normalnya tindakan tersebut memiliki dasar (reasoning ) yang kuat. Saya yakin, ada hal yang diketahui dewi yang membuat dia mau untuk menjalin hubungan dengan Marcell. Jika dia mengatakan bahwa bahwa dia tidak mengetahui mengapa dia bertemu marcell, saya khawatir bahkan dia mungkin tidak tahu siapa dia sekarang (losing identity). Maaf, mungkin kita bahkan perlu mencari tahu seperti apa pergaulan antara Dewi dengan Marcell, atau dengan pacar-pacar terdahulunya dewi, berapa lama rentang waktu antara pernikahan dewi dengan kelahiran anaknya. Hal ini penting untuk mengetahui motif pernikahan antara dewi dengan marcell.+++++++
Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, “memaafkan” tidaklah identik dengan “pengembalian situasi ke kondisi semula”. Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, juga Marcell, dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan.
+++++++Mbak dewi, maaf adalah suatu kata yang merupakan katalisator bagi sebuah restorasi atas keadaan yang telah terjadi, dan membuat hal-hal yang sudah terjadi, dianggap tidak signifikan lagi, dan para pihak akan kembali ke tempat mereka semula dalam konstelasi yang sama, sejauh bahwa hal itu diserahkan kepada diri masing-masing. Kecuali bahwa akibat dari suatu peristiwa tersebut mengundang kekuatan eksternal untuk melakukan suatu penindakan, misalnya dalam hal tindak pidana, walau sudah dimaafkan, namun tetap saja seseorang yang mencuri harus dihukum. Namun, sejauh hal itu dikembalikan lagi kepada masing-masing, atau, kalau dalam bahasa hukum, hal tersebut adalah ranah perdata (dalam hal ini perceraian adalah ranah perdata), maka tentunya makna kata maaf semestinya adalah bermakna pula rekonsiliasi, dan bukan keputusan untuk berpisah. Karena, itu menjadi kontradiktif. Jadi, janganlah kita mereduksi makna dari suatu kata. Kecuali, jika kajian kita adalah postmodernisme, maka hal itu menjadi lain, dan diskusi kita juga tentunya akan mengarah kepada yang lain. Namun demikian, pada sisi ini memang sangat perseptif. Dan kita serahkan pada dewi saja.++++++++++++++++++++++
Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.
+++++++++Kalau begitu, kemungkinan ’cangkang’ perkawinan memang tidak cocok untuk dewi? Karena, jika dewi percaya kepada komposisi alam semesta yang berjalan menurut ’maksim’nya sendiri, maka sebetulnya tidak ada masalah jika dalam cangkang itu marcell atau bukan, karena kan ketika kita mengambil keputusan untuk masuk ke dalam cangkang itu, maka pastilah kita, terutama dewi sebagai orang yang selama ini dianggap oleh para penggemarnya sebagai orang pintar dan futuristik, sudah paham akan konsekuensinya. Tentunya sudah mempelajari apa itu perkawinan dan segala asesorisnya. Kecuali bahwa perkawinan ini memang hanya ’cangkang’ yang tidak memiliki makna apa-apa buat dewi, ya, berarti ternyata pemahaman anda akan hal kehidupan, ternyata sampai sebegini. Kemudian, mengapa cangkang itu tidak pas? Bahkan mengapa dewi harus melontarkan tuduhan kepada mereka yang memang bisa berjuang mempertahankan perkawinannya sebagai hal yang sia-sia? Ini adalah sebuah metode apologi yang salah, semacam menutupi kesalahan kita dengan menunjuk kepada kesalahan orang lain, supaya orang lain melihat ke arah sana dan tidak melihat ke arah sini. Ada sebuah bahaya dalam statemen ini, karena perkawinan disebut sebagai cangkang yang bisa dicampakkan begitu saja, dan bukan sebuah bangunan rumah yang harus dibangun bersama sebagai tempat berteduh. Mungkin saja bangunannya belum jadi dan kita malah bertengkar tentang kebiasaan kita di rumah. Mungkin bukan rumahnya yang harus dibuang, tetapi kitanya yang harus dicerahkan dan direstorasi+++++
Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.
Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.
++++++++++Kembali Dewi disini menyampaikan hal yang sesat lagi. Menganggap bahwa eksistensi seseorang seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri adalah hal yang tidak terlalu benar. Edmund Husserl, seorang tokoh filsafat eksistensialisme, menyatakan bahwa setiap eksistensi selalu diiringi dengan ko-eksistensi. Artinya, setiap keberadaan orang dan apa yang dicerapnya, tentu juga akibat pengaruh dari orang lain. Kira-kira merupakan kelanjutan dari ide Cartesian. Fondasi kita memang bukan anak, namun fondasi kita adalah eksistensi-koeksistensi. Bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan koeksistensi etis. Setiap koeksistensi, tidak layak untuk hanya ditanggapi dengan pembiaran. Apalagi jika kita belajar psikologi perkembangan anak, pastilah kita semua tahu apa itu akibatnya dari suatu perceraian. Dan ini ilmiah lho, dapat dipertanggung jawabkan, bukan pendapat sendiri yang validitasnya masih harus kita pertanyakan. Dewi juga mungkin sudah belajar tentang keseimbangan alam versinya new age. Ada suami, ada isteri. Seorang anak, pastilah memiliki ayah dan ibu. Kemudian ekosistem memiliki unsur-unsurnya yang lebih banyak lagi yang menjamin dunia menjadi seimbang. Demikian pula alam semesta. Lalu, bagaimana kalau seorang anak tanpa ayah dan ibu disampingnya sebagaimana ditetapkan versinya keseimbangan alam? Pastilah sudah tidak seimbang. Dan ingat, dewi berkontribusi menciptakan ketidakseimbangan dalam alam semesta, dan terutama, dalam hidup seorang anak bernama Keenan++++++
Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya” , seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis.
++++++++Sesungguhnya, menurut saya, sains, agama secara esensial dan fundamental tidak berubah. Yang terlihat sebagai perubahan mungkin adalah derivasinya. Mana ada sains jaman ini yang tidak merupakan derivasi dari sains yang terdahulu? Jika kita menggunaan psotulat revolusi sainsnya Karl Raimund Popper ataupun Thomas Kuhn, maka kita tetap akan melihat suatu korelasi derivatif dari Ilmu Pengetahuan. Namun tetap saja ada nilai-nilai yang tidak berubah. Misalnya ukuran meter dan sekon. Ini tidak berubah. Yang berubah adalah derivasinya. Meter bisa menjadi pixel. Sekon bisa menjadi milisekon. Kemudian postulat Newton, juga tidak berubah. Yang berubah pastilah derivasinya. Bahkan jika kita meninjuanya sampai ke Hawking. Demikian juga untuk ukuran moral. Ada yang tidak berubah. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, nampaknya tidak akan berubah sebagai nilai yang positif. Menjadi martir juga tetap akan memiliki nilai yang positif. Egoisme, tetap akan memiliki nilai yang tidak positif, kecuali dalam konsep ubermenschnya Nietzsche, orang yang berakhir dengan kegilaan itu++++++++++++++++++++++++
Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya.
+++++++++++jika memang kebahagiaan tidak ditentukan oleh mekanisme eksternal, lalu mengapa dewi tidak menerima saja segala sesuatu dalam pernikahan ini? Kenapa harus bercerai? Kan bisa juga kebahagiaan karena kita memang merasa bahagia, tidak perduli sejauh apapun itu pahitnya terasa kehidupan ini. Jadi, sekali lagi kita diperhadapkan dengan kontradiksi antara pernyataan dewi dengan keputusan yang diambilnya. Namun, saya tetap mempercayai bahwa dalam dialektika, selalu ada kemungkinan pengaruh eksternal dalam hidup kita. Ingat, bahwa eksistensi selalu mengandung koeksistensi. Demikian juga respon kita, akan dipengaruhi oleh dua hal tersebut. Tidak perlu membahagiakan orang lain, cukup memenuhi tanggung jawab saja sebagai orang yang sudah mengambil keputusan untuk menikah dan punya anak. Belum tentu juga yang orang tuanya lengkap merasakan kebahagiaan. Namun, poinnya saya kir bukan disitu, tapi responsibility saja. Bayangkan sebuah dunia tanpa manusia yang bertanggung jawab, pastilah akan hancur. Dan tanggung jawab itu bisa dinilai dari ukuran yang kecil seperti bertanggung jawab terhadap keluarga dan sebagainya. Sebab, jika kebahagiaan diukur hanya dengan aspek internal, maka saya khawatir ini akan membawa kepada ekstrem yang lain. Kita berbuat sesukanya saja kepada orang lain, toh apakah dia merasa tersakiti atau tidak dengan perbuatan kita, adalah keputusan dia sendiri, bukan karena kita menyakiti orang lain. Dalam sisi ekstrem yang lain, bahkan membunuh orang menjadi halal, karena bisa saja bermakna pembebasan, seperti yang dilakukan oleh seorang ibu di Margahayu Bandung ketika membunuh ketiga orang anaknya dengan alasan menghindari konsekuensi penderitaan bagi anaknya di masa yang akan datang++++++++++++++
Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep “kecuali”.
+++++++++Justru, anda mengkerdilkan Tuhan. Dan ini tidak logis. Tuhan menjadi nir nilai. Bagaimana kita menerangkan tuhan yang tanpa nilai? Bahkan , sekali lagi ini menyangkali logika dialektika, bahwa ada yang baik, ada yang jahat. Ada Tuhan, dan ada setan. Kok jadi banyak yang tidak logisnya ya? Dan, menurut saya terlalu jauh jika diskusinya menyangkut Tuhan. Tidak ada peran Tuhan dalam urusan dewi ini. Semuanya adalah keputusan dewi sendiri. Berusaha melibatkan Tuhan dalam urusan ini, menunjukkan bahwa kita tidak memahami Tuhan. Apalagi berusaha menafsirkan kejadian-kejadian tertentu (air mata, patah hati, ketidakadilan, kejahatan) sebagai perbuatan Tuhan atau pembiaran dari Tuhan+++++++
Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima kasih untuk semua. Kami pun tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai keputusan kami. Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari Anda kecewa. Saya juga mengerti begitu banyak yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha, mempertanyakan usaha kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan keputusan ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan “kemarin sore”. Kita semua tahu keputusan bercerai adalah keputusan yang besar. Intinya, terima kasih atas perhatiannya, dan mari kita kembali urus diri masing-masing.
++++++++++Nah, disini baru kelihatan aslinya. Bahwa dewi memang ’mengambil keputusan’ untuk bercerai. Jadi , bukan karena ’memang harus begitu’, tetapi lebih kepada ’inilah pilihan kami’, untuk menyelamatkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Kata masing-masing, tentunya menyiratkan adanya ego. Sebab, kata ’keluarga’ dengan kata ’masing-masing’, memiliki makna yang agak diametral. Jika keluarga memiliki identitas bersama (plural/korporat), maka masing-masing bermakna pribadi(ego/singular/monolitik). Perkataan kembali urus diri masing-masing juga semakin menyiratkan bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan masing-masing, bukan karena ’kadaluwarsa’, atau karena ’kodrat’ dan sebagainya. Disini baru terlihat aslinya dewi. Itu seharusnya yang a tonjolkan, bukan berusaha untuk membuat dia ’innocent’ dan berusaha menampilkan sosok bijaksana. Dewi adalah bagian dari milyaran manusia biasa seperti saya dan kita semua. Jadi, tidak perlu memberikan penjelasan yang njlimet, karena akhirnya ketahuan juga aslinya+++++++
Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi dari beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem, karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi. Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan sebagai buah upaya kami yang nyata karena semua orang sibuk mengedepankan pertunjukan teater versinya masing-masing. Apa pun yang saya katakan, pada akhirnya selalu dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini si penulis naskah. Itulah yang akhirnya membuat saya dan Marcell lebih banyak tertawa sendiri, pers hiburan rasanya seperti servis sosial di mana kami mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka, bukan lagi berbagi kebenaran. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau.
++++++++++Ah Dewi, kan kamu juga memanfaatkan kehausan publik akan drama, makanya kamu buat novel, cerita, dan bahkan lagu-lagu kamu semasa di RSD, juga penuh dengan dramatisasi. Jangan membuat seolah-olah kamu tidak setuju dengan dramatisasi, tapi kamu hidup dari situ.++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan (Fitriawan Ginting – RED). Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk “mengubur masa lalu”. Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk mengepas “gambar realitas” ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan.
Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang menjadi pengadilan tak resmi. Ada banyak nama yang disebut, dispekulasikan, dan sampai didiskreditkan. Orang-orang yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan privasi. Sekalipun dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami berpisah bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu, mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat saya. So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”. Lucu. Yang menjalani saja santai-santai, yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain. Jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini.
Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.
++++++++++Nah, ini juga menunjukkan fakta yang lain. Artinya, kemungkinan besar Dewi emang tidak tahu lagi siapa dirinya, kemana ia akan pergi atau kemana sebenarnya ia pergi selama ini dan bagaimana dia harus berbuat. Itulah yang menyebabkan dia bercerai. ‘Tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat’. Ini adalah sebuah ’escape clause’, kalusul pelarian. Lari ke ’ketidaktahuan’. Ini juga aspek dramatisasi dari Dewi yang disajikan kepada kita+++++++++++++++++++++++++++++
Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.
+++++++++Lagi-lagi kata ’maaf’, ’sadar’, sudah dilibatkan dalam perdebatan diantara mereka sendiri. Diantara kata-kata itu sendiri. Bahwa hidup membawa mereka ke titik perpisahan. Namun, seperti ungkapan dewi diatas, mengapa mereka tidak sadar dan menerima bahwa tugas kita manusia adalah untuk mempertahankan supaya tidak berpisah dan tidak punya hak untuk memutuskan mengenai kapan harus berpisah?++++++++++
Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.
++++++++++++Abstrak? Mungkin iya. Karena dewi berusaha untuk membuatnya terlihat seperti itu. Uraian yang memiliki kontradiksi didalamnya pastilah akan terlihat abstrak. Tapi, apakah penjelasan ini memiliki makna filosofis? Tidak. Sebenarnya Dengan melontarkan pertanyaan seperti itu, dewi sudah melakukan fait accompli, yaitu dia mempersepsikan bahwa orang yang membaca tulisan ini akan menganggap uraian dia filosofis, dan teoritis. Padahal sama sekali ini adalah ungkapan pragmatis yang dicoba untuk dikemas secara lebih abstrak. Penjelasan dewi ini sebenarnya dangkal, banal (B-A-N-A-L). Mengapa? Sebab dia berputar-putar untuk menutupi kondisi sebenarnya dan apa yang sebenarnya terjadi. Dewi ingin mempertahankan gembaran dirinya sebagaimana mungkin sudah tergambar dalam karya-karyanya. Dewi ingin terlihat wise, dan bahkan berusaha mempengaruhi orang agar mengikuti pemikirannya. Sayangnya, uraian dewi kurang begitu dikemas dengan cerdas, sehingga, dari uraiannya saja sudah terbongkar bahwa paparan ini penuh dengan kontradiksi yang tidak logis. Walau dibungkus dengan tata bahasa yang mirip ’maksim’, tetap saja bagi mereka yang melakukan verifikasi secara mendalam, akan menemukan kedangkalan seorang dewi dalam pemaparannya. Saya belum pernah membaca bukunya Dewi. Tapi, orang menganggap bahwa buku Dewi itu memberi pencerahan, agak saintifik dan sebagainya. Namun dari paparannya yang kita baca hari ini, ternyata Dewi tidak sehebat itu. Mungkin Moammar Emka lebih oke, ketika saya melihat debatnya di TV swasta beberapa waktu yang lalu+++++++++++++++++++++++++++
+++++++++++Mengapa saya tertarik untuk mengomentari tulisan dewi ini? Pertama, karena tuliasn ini mampir di e-mail saya. dikirim oleh seseorang. Kedua, karena ada bahaya mengintai. Dia mencoba untuk mengarahkan opini masyarakat tentang suatu lembaga yang namanya perkawinan, menjadi lembaga yang tidak memiliki nilai sama sekali, kecuali hanaylah sebuah hubungan perdata saja. Dan, bahwa tanggung jawab untuk anak, diserahkan kepada anak itu sendiri. Ini bahaya. Apalagi keluar dari seorang public figure semacam dia. Alasan lain, saya tidak ingin masyarakat juga terbawa dalam logika yang amburadul versinya Dewi Mangunsong. Saya khawatir nanti masyarakat kita tidak lagi paham apa itu logika karenanya++
++++++++++Saran : sebaiknya Dewi menyampaikan kepada publik bahwa ini adalah keputusan saya, untuk kepentingan saya, urusan saya, dan anda urus diri anda sendiri, gitu. Daripada membuat psotulat-postulat baru yang membawa generalitas kasus pribadi yang sebenarnya harus dipandang secara kasuistik, dan tidak memiliki keabsahan untuk digeneralisasi sebagai ’destiny’ nanti, orang berbondong-bondong cerai. Kan sudah ’destiny’.+++
Winner Jhonshon,
Advokat dan Mahasiswa
Di Bandung
winner jhonshon said,
July 23, 2008 at 4:05 am
ini catatannya dewi dan komentar saya…
Catatan Tentang Perpisahan
Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati.
+++++Dewi berusaha untuk memulai pemaparannya (apologi/pembelaannya) dengan baik. Disini dia memulai dengan dialektika, yaitu jika ada perjumpaan, pasti ada perpisahan. Jika ada saya pasti karena ada kamu. Jika ada muda, pasti karena ada yang tua. Logika Cartesian ini, yang diperkenalkan oleh Rene Descartes (seorang filsuf Yunani), mengawali ’pencerahan’ dari sang dewi ini. Kemudian, dia juga memaparkan suatu hal yang akan membawa perdebatan dalam pemaparannya dalam tahap selanjutnya. Perdebatan itu sendiri terjadi diantara teks-teks yang disampaikannya (among themselves), dan bukan pada kita pembaca. Kalimat-kalimat Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati, telah membuka celah bagi diskusi dan dari sejak awal dia sudah mematahkan argumen-argumen yang akan dia paparkan dalam episode apologi berikutnya. Mari kita tengok isi kalimat itu. Dewi tidak pernah tahu kapan dia akan mengalami perpisahan atau kematian. Artinya, tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan waktunya bagi dia untuk berpisah. Yang harus dilakukan adalah bertahan. Demikian juga bahwa dari logika sedemikian ini, kiranya sah pula pernyataan berikutnya, yaitu bahwa dengan demikian maka tidak ada seorang pun juga yang berhak untuk menentukan kapan waktunya bagi dia untuk berpisah. Jadi, yang dilakukan oleh manusia adalah berusaha mempertahankannya. Dan mestinya, manusia hanya sampai pada tahap itu, dan bukan pada tahap mengambil keputusan untuk berpisah, apapun alasannya.
Kedua, dewi ini tidak lengkap menerangkan bahwa dalam sebuah peristiwa, sebagaimana juga dialektika itu terjadi, yaitu ada perjumpaan, ada perpisahan, ada muda , ada tua. Ada lahir , ada mati. Ketika dialektika itu harus berjalan, satu hal yang harus kita pahami, bahwa dalam hal itu pasti ada variabel pendukungnya. Kematian, variablenya bisa penyakit, bisa juga karena pembunuhan. Penyakit itu juga variabelnya bisa beberapa, bisa karena kemiskinan, kurang makan, atau juga bisa saja karena terlalu kaya lantas bisa stroke. Lalu, peristiwa atau keadaan yang namanya kemiskinan, bisa disebabkan oleh kondisi alam yang tidak mendukung, atau karena kemalasan. Jika kita urut lebih jauh lagi, maka akan ada urutan peristiwa yang sangat panjang, dan variabel/premis pendukungnya bisa ribuan. Setiap peristiwa atau keadaan, ada faktor pendukungnya. Jadi, peristiwa perpisahan juga ada variabelnya. Apakah karena dipisahkan oleh Tuhan (kematian) atau perpisahan karena faktor manusianya. Inilah objek obervasi kita atau objek verifikasi kita atas argumen dewi selanjutnya.
Jadi, dari pernyataan dewi, ada dua konklusi penting yang harus kita jadikan pisau penguji dan patokan dalam mengkritisi pendapat beliau berikutnya, yaitu :
++++1. bahwa tidak ada seorangpun yang tahu kapan akan mengalami perpisahan. Dengan demikian, tidak sah pula kewenangan seeorang untuk menyatakan kapan waktunya untuk perpisahan. Kecuali kita memandang bahwa itu bukanlah sebuah perpisahan yang ’memang seharusnya’, tetapi lebih kepada keputusan manusia.
++++2. bahwa dalam setiap peristiwa atau keadaan, pastilah ada variabel pendukungnya. Tidak mungkin sebuah peristiwa terjadi begitu saja. Tinggal diverifikasi, apakah penyebabnya adalah alam, Tuhan, atau ternyata manusia itu sendiri.++++++++
Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti.
Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.
Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.
++++++Nampaknya Dewi kesulitan untuk melakukan pemilahan mana yang merupakan gejala, dan mana yang merupakan penyebab. Jika KDRT dan orang ketiga adalah gejala dan bukan penyebab, jadi penyebabnya apa? Menyerahkan kepada ’memang sudah waktunya’, tidak memiliki penjelasan yang masuk akal. Ini juga menyampaikan lagi pada kita ketidakonsistenan pemikiran dewi. Diatas dia menyampaikan bahwa penyebab batuk adalah virus. Jadi ’bukan sudah waktunya’. Jadi memang alasan ’sudah waktunya’ itu adalah mengada-ada. ++++++++++++
September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran.
+++++++++Disini, inkonsistensi dan irrasionalitas dewi dalam berujar semakin jelas . Pada alinea pertama ujarannya, dia mengatakan bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan akan terajdi perpisahan. Yang kita bisa upayakan adalah mempertahankannya. Pada alinea terakhir ini, setelah sebelumnya kita ‘diarahkan’ dengan berbagai analogi-analogi dari cerita-cerita yang tidak memiliki nilai filosofis, kecuali mengajarkan kepada kita pragmatisme (dalam banyak karya sastra berupa cerita/novel, sangat sedikit sekali yang didalamnya berisi ajaran yang filsafati, kebanyakan adalah pragmatis dan ilusionis), dewi menjadi ‘mengetahui’ bahwa inilah saatnya dia untuk berpisah dengan Marcell. (frase ‘kesadaran’, ‘awareness’, merupakan suatu pengesahan atas kondisi bahwa seseorang mengetahui sesuatu) Pada titik ini, kita melihat hal yang tidak lagi logis. Dewi sudah mulai mematahkan argumennya sendiri. Dewi mensimplifikasikan sebuah kata ’kadaluwarsa’. Padahal, dalam banyak literatur, kata’kadaluwarsa’ ini membutuhkan legalisasi, atau acknowledgement, mengenai apa yang dimaksud dengan kadaluwarsa itu. Kita breakdown ke peristiwa yang dialami dewi.
1. Apa yang menyebabkan hubungan dewi-marcell menjadi kadaluwarsa?
2. Apa parameter kadaluwarsa tersebut?
3. Apakah benar bahwa perpisahan itu disebabkan suatu faktor eksternal yang tidak dapat dikuasai, atau ternyata faktor internal yang sebetulnya bisa di drive?
Ini yang harus dijelaskan oleh Dewi.
Mengapa dia harus menjelaskan ini ? karena dia menggunakan kata kadaluwarsa. Kadaluwarsa, adalah similar dengan expired. Kata ini sama dengan istilah legal dan sah, yang membutuhkan pengakuan pihak lain jika seseorang hendak menyatakan sesuatu itu sah atau legal. Demikian juga istilah kadaluwarsa. Apa yang diungkapkan oleh Dewi dengan menyederhanakan sebuah hubungan sebagai memiliki aspek kadaluwarsa, adalah berbahaya, sebab adopsi terhadap istilah ini akan menimbulkan sebuah postulat baru, yang akan menimbulkan generalisasi terhadap apa yang dialami oleh dewi , menjadi terhadap semua peristiwa percaraian. Penggunaan istilah ini, memerlukan yang namanya generali opinio necesitatis , atau pengakuan publik atas suatu postulat. Nah, untuk memberikan suatu postulat, maka diperlukan pengujian secara ilmiah beserta parameternya. Jika tidak, maka istilah ini tidak memiliki arti. Akan sama artinya dengan istilah posmodernisme ditangan seorang mahasiswa yang baru belajar filsafat. Kemudian, satu hal yang perlu diklarifikasi lagi oleh Dewi. Benarkah kehidupan ada kadaluwarsanya? Jika kita melihat dalam tataran aktivitas, ya. Tapi itu juga perlu rentangan waktu yang tidak prematur. Namun jika kita melihat dalam sisi yang lain, misalnya posesivitas, seringkali makin lama hidup ini memberikan kepada orang kepemilikan yang semakin banyak atas segala sesuatu. Baik itu tangible seperti harta benda, uang dan sebagainya ataupun juga intangible seperti kehormatan, nama besar dan sebagainya. Apalagi, jika kehidupan dilihat dari nilai yang lebih mulia dari itu, misalnya mama Teresa yang tdk punya apa-apa namun hidupnya mulia, tidak seperti Osama Bin Laden, orangnya kaya tapi hidupnya mirip binatang. Bahkan, jika kita merujuk kepada pendapatnya Tan Malaka, bahkan kematian akan membawa kebesaran yang lebih dahsyat (Ini disampaikan oleh Tan Malaka, dalam bukunya MADILOG (Materialisme, Dialektika Logika), bahwa sebelum dia dihukum oleh pemerintah Hongkong, dia berkata “suaraku akan terdengar lebih keras dari dalam kubur”). . Jadi statement atau premis yang disampaikan dewi tentang kadaluwarsa ini perlu untuk dikaji dan diklarifikasi lebih lanjut, sebab tidak memiliki keabsahan secara rasional.+++++++++
Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell, menikah, dan seterusnya. Fate, atau destiny, menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.
+++++++Kita perlu kejujuran dewi untuk menjelaskan mengapa dia bertemu dengan Marcell. Kita bukanlah makhluk mesin yang tidak memiliki perasaan, ataupun binatang yang tidak memiliki respon terhadap impuls-impuls ataupun rangsangan apapun. Setiap tindakan yang dilakukan manusia, maka normalnya tindakan tersebut memiliki dasar (reasoning ) yang kuat. Saya yakin, ada hal yang diketahui dewi yang membuat dia mau untuk menjalin hubungan dengan Marcell. Jika dia mengatakan bahwa bahwa dia tidak mengetahui mengapa dia bertemu marcell, saya khawatir bahkan dia mungkin tidak tahu siapa dia sekarang (losing identity). Maaf, mungkin kita bahkan perlu mencari tahu seperti apa pergaulan antara Dewi dengan Marcell, atau dengan pacar-pacar terdahulunya dewi, berapa lama rentang waktu antara pernikahan dewi dengan kelahiran anaknya. Hal ini penting untuk mengetahui motif pernikahan antara dewi dengan marcell.+++++++
Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, “memaafkan” tidaklah identik dengan “pengembalian situasi ke kondisi semula”. Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, juga Marcell, dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan.
+++++++Mbak dewi, maaf adalah suatu kata yang merupakan katalisator bagi sebuah restorasi atas keadaan yang telah terjadi, dan membuat hal-hal yang sudah terjadi, dianggap tidak signifikan lagi, dan para pihak akan kembali ke tempat mereka semula dalam konstelasi yang sama, sejauh bahwa hal itu diserahkan kepada diri masing-masing. Kecuali bahwa akibat dari suatu peristiwa tersebut mengundang kekuatan eksternal untuk melakukan suatu penindakan, misalnya dalam hal tindak pidana, walau sudah dimaafkan, namun tetap saja seseorang yang mencuri harus dihukum. Namun, sejauh hal itu dikembalikan lagi kepada masing-masing, atau, kalau dalam bahasa hukum, hal tersebut adalah ranah perdata (dalam hal ini perceraian adalah ranah perdata), maka tentunya makna kata maaf semestinya adalah bermakna pula rekonsiliasi, dan bukan keputusan untuk berpisah. Karena, itu menjadi kontradiktif. Jadi, janganlah kita mereduksi makna dari suatu kata. Kecuali, jika kajian kita adalah postmodernisme, maka hal itu menjadi lain, dan diskusi kita juga tentunya akan mengarah kepada yang lain. Namun demikian, pada sisi ini memang sangat perseptif. Dan kita serahkan pada dewi saja.++++++++++++++++++++++
Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan.
+++++++++Kalau begitu, kemungkinan ’cangkang’ perkawinan memang tidak cocok untuk dewi? Karena, jika dewi percaya kepada komposisi alam semesta yang berjalan menurut ’maksim’nya sendiri, maka sebetulnya tidak ada masalah jika dalam cangkang itu marcell atau bukan, karena kan ketika kita mengambil keputusan untuk masuk ke dalam cangkang itu, maka pastilah kita, terutama dewi sebagai orang yang selama ini dianggap oleh para penggemarnya sebagai orang pintar dan futuristik, sudah paham akan konsekuensinya. Tentunya sudah mempelajari apa itu perkawinan dan segala asesorisnya. Kecuali bahwa perkawinan ini memang hanya ’cangkang’ yang tidak memiliki makna apa-apa buat dewi, ya, berarti ternyata pemahaman anda akan hal kehidupan, ternyata sampai sebegini. Kemudian, mengapa cangkang itu tidak pas? Bahkan mengapa dewi harus melontarkan tuduhan kepada mereka yang memang bisa berjuang mempertahankan perkawinannya sebagai hal yang sia-sia? Ini adalah sebuah metode apologi yang salah, semacam menutupi kesalahan kita dengan menunjuk kepada kesalahan orang lain, supaya orang lain melihat ke arah sana dan tidak melihat ke arah sini. Ada sebuah bahaya dalam statemen ini, karena perkawinan disebut sebagai cangkang yang bisa dicampakkan begitu saja, dan bukan sebuah bangunan rumah yang harus dibangun bersama sebagai tempat berteduh. Mungkin saja bangunannya belum jadi dan kita malah bertengkar tentang kebiasaan kita di rumah. Mungkin bukan rumahnya yang harus dibuang, tetapi kitanya yang harus dicerahkan dan direstorasi+++++
Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi.
Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya.
++++++++++Kembali Dewi disini menyampaikan hal yang sesat lagi. Menganggap bahwa eksistensi seseorang seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri adalah hal yang tidak terlalu benar. Edmund Husserl, seorang tokoh filsafat eksistensialisme, menyatakan bahwa setiap eksistensi selalu diiringi dengan ko-eksistensi. Artinya, setiap keberadaan orang dan apa yang dicerapnya, tentu juga akibat pengaruh dari orang lain. Kira-kira merupakan kelanjutan dari ide Cartesian. Fondasi kita memang bukan anak, namun fondasi kita adalah eksistensi-koeksistensi. Bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan koeksistensi etis. Setiap koeksistensi, tidak layak untuk hanya ditanggapi dengan pembiaran. Apalagi jika kita belajar psikologi perkembangan anak, pastilah kita semua tahu apa itu akibatnya dari suatu perceraian. Dan ini ilmiah lho, dapat dipertanggung jawabkan, bukan pendapat sendiri yang validitasnya masih harus kita pertanyakan. Dewi juga mungkin sudah belajar tentang keseimbangan alam versinya new age. Ada suami, ada isteri. Seorang anak, pastilah memiliki ayah dan ibu. Kemudian ekosistem memiliki unsur-unsurnya yang lebih banyak lagi yang menjamin dunia menjadi seimbang. Demikian pula alam semesta. Lalu, bagaimana kalau seorang anak tanpa ayah dan ibu disampingnya sebagaimana ditetapkan versinya keseimbangan alam? Pastilah sudah tidak seimbang. Dan ingat, dewi berkontribusi menciptakan ketidakseimbangan dalam alam semesta, dan terutama, dalam hidup seorang anak bernama Keenan++++++
Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya” , seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis.
++++++++Sesungguhnya, menurut saya, sains, agama secara esensial dan fundamental tidak berubah. Yang terlihat sebagai perubahan mungkin adalah derivasinya. Mana ada sains jaman ini yang tidak merupakan derivasi dari sains yang terdahulu? Jika kita menggunaan psotulat revolusi sainsnya Karl Raimund Popper ataupun Thomas Kuhn, maka kita tetap akan melihat suatu korelasi derivatif dari Ilmu Pengetahuan. Namun tetap saja ada nilai-nilai yang tidak berubah. Misalnya ukuran meter dan sekon. Ini tidak berubah. Yang berubah adalah derivasinya. Meter bisa menjadi pixel. Sekon bisa menjadi milisekon. Kemudian postulat Newton, juga tidak berubah. Yang berubah pastilah derivasinya. Bahkan jika kita meninjuanya sampai ke Hawking. Demikian juga untuk ukuran moral. Ada yang tidak berubah. Mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri, nampaknya tidak akan berubah sebagai nilai yang positif. Menjadi martir juga tetap akan memiliki nilai yang positif. Egoisme, tetap akan memiliki nilai yang tidak positif, kecuali dalam konsep ubermenschnya Nietzsche, orang yang berakhir dengan kegilaan itu++++++++++++++++++++++++
Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya.
+++++++++++jika memang kebahagiaan tidak ditentukan oleh mekanisme eksternal, lalu mengapa dewi tidak menerima saja segala sesuatu dalam pernikahan ini? Kenapa harus bercerai? Kan bisa juga kebahagiaan karena kita memang merasa bahagia, tidak perduli sejauh apapun itu pahitnya terasa kehidupan ini. Jadi, sekali lagi kita diperhadapkan dengan kontradiksi antara pernyataan dewi dengan keputusan yang diambilnya. Namun, saya tetap mempercayai bahwa dalam dialektika, selalu ada kemungkinan pengaruh eksternal dalam hidup kita. Ingat, bahwa eksistensi selalu mengandung koeksistensi. Demikian juga respon kita, akan dipengaruhi oleh dua hal tersebut. Tidak perlu membahagiakan orang lain, cukup memenuhi tanggung jawab saja sebagai orang yang sudah mengambil keputusan untuk menikah dan punya anak. Belum tentu juga yang orang tuanya lengkap merasakan kebahagiaan. Namun, poinnya saya kir bukan disitu, tapi responsibility saja. Bayangkan sebuah dunia tanpa manusia yang bertanggung jawab, pastilah akan hancur. Dan tanggung jawab itu bisa dinilai dari ukuran yang kecil seperti bertanggung jawab terhadap keluarga dan sebagainya. Sebab, jika kebahagiaan diukur hanya dengan aspek internal, maka saya khawatir ini akan membawa kepada ekstrem yang lain. Kita berbuat sesukanya saja kepada orang lain, toh apakah dia merasa tersakiti atau tidak dengan perbuatan kita, adalah keputusan dia sendiri, bukan karena kita menyakiti orang lain. Dalam sisi ekstrem yang lain, bahkan membunuh orang menjadi halal, karena bisa saja bermakna pembebasan, seperti yang dilakukan oleh seorang ibu di Margahayu Bandung ketika membunuh ketiga orang anaknya dengan alasan menghindari konsekuensi penderitaan bagi anaknya di masa yang akan datang++++++++++++++
Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep “kecuali”.
+++++++++Justru, anda mengkerdilkan Tuhan. Dan ini tidak logis. Tuhan menjadi nir nilai. Bagaimana kita menerangkan tuhan yang tanpa nilai? Bahkan , sekali lagi ini menyangkali logika dialektika, bahwa ada yang baik, ada yang jahat. Ada Tuhan, dan ada setan. Kok jadi banyak yang tidak logisnya ya? Dan, menurut saya terlalu jauh jika diskusinya menyangkut Tuhan. Tidak ada peran Tuhan dalam urusan dewi ini. Semuanya adalah keputusan dewi sendiri. Berusaha melibatkan Tuhan dalam urusan ini, menunjukkan bahwa kita tidak memahami Tuhan. Apalagi berusaha menafsirkan kejadian-kejadian tertentu (air mata, patah hati, ketidakadilan, kejahatan) sebagai perbuatan Tuhan atau pembiaran dari Tuhan+++++++
Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima kasih untuk semua. Kami pun tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai keputusan kami. Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari Anda kecewa. Saya juga mengerti begitu banyak yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha, mempertanyakan usaha kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan keputusan ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan “kemarin sore”. Kita semua tahu keputusan bercerai adalah keputusan yang besar. Intinya, terima kasih atas perhatiannya, dan mari kita kembali urus diri masing-masing.
++++++++++Nah, disini baru kelihatan aslinya. Bahwa dewi memang ’mengambil keputusan’ untuk bercerai. Jadi , bukan karena ’memang harus begitu’, tetapi lebih kepada ’inilah pilihan kami’, untuk menyelamatkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Kata masing-masing, tentunya menyiratkan adanya ego. Sebab, kata ’keluarga’ dengan kata ’masing-masing’, memiliki makna yang agak diametral. Jika keluarga memiliki identitas bersama (plural/korporat), maka masing-masing bermakna pribadi(ego/singular/monolitik). Perkataan kembali urus diri masing-masing juga semakin menyiratkan bahwa keputusan yang diambil adalah keputusan masing-masing, bukan karena ’kadaluwarsa’, atau karena ’kodrat’ dan sebagainya. Disini baru terlihat aslinya dewi. Itu seharusnya yang a tonjolkan, bukan berusaha untuk membuat dia ’innocent’ dan berusaha menampilkan sosok bijaksana. Dewi adalah bagian dari milyaran manusia biasa seperti saya dan kita semua. Jadi, tidak perlu memberikan penjelasan yang njlimet, karena akhirnya ketahuan juga aslinya+++++++
Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi dari beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem, karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi. Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan sebagai buah upaya kami yang nyata karena semua orang sibuk mengedepankan pertunjukan teater versinya masing-masing. Apa pun yang saya katakan, pada akhirnya selalu dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini si penulis naskah. Itulah yang akhirnya membuat saya dan Marcell lebih banyak tertawa sendiri, pers hiburan rasanya seperti servis sosial di mana kami mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka, bukan lagi berbagi kebenaran. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau.
++++++++++Ah Dewi, kan kamu juga memanfaatkan kehausan publik akan drama, makanya kamu buat novel, cerita, dan bahkan lagu-lagu kamu semasa di RSD, juga penuh dengan dramatisasi. Jangan membuat seolah-olah kamu tidak setuju dengan dramatisasi, tapi kamu hidup dari situ.++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
saya ditunjukkan tabloid C&R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan (Fitriawan Ginting – RED). Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk “mengubur masa lalu”. Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk mengepas “gambar realitas” ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan.
Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang menjadi pengadilan tak resmi. Ada banyak nama yang disebut, dispekulasikan, dan sampai didiskreditkan. Orang-orang yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan privasi. Sekalipun dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami berpisah bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu, mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat saya. So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”. Lucu. Yang menjalani saja santai-santai, yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain. Jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini.
Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran.
++++++++++Nah, ini juga menunjukkan fakta yang lain. Artinya, kemungkinan besar Dewi emang tidak tahu lagi siapa dirinya, kemana ia akan pergi atau kemana sebenarnya ia pergi selama ini dan bagaimana dia harus berbuat. Itulah yang menyebabkan dia bercerai. ‘Tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat’. Ini adalah sebuah ’escape clause’, kalusul pelarian. Lari ke ’ketidaktahuan’. Ini juga aspek dramatisasi dari Dewi yang disajikan kepada kita+++++++++++++++++++++++++++++
Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan.
+++++++++Lagi-lagi kata ’maaf’, ’sadar’, sudah dilibatkan dalam perdebatan diantara mereka sendiri. Diantara kata-kata itu sendiri. Bahwa hidup membawa mereka ke titik perpisahan. Namun, seperti ungkapan dewi diatas, mengapa mereka tidak sadar dan menerima bahwa tugas kita manusia adalah untuk mempertahankan supaya tidak berpisah dan tidak punya hak untuk memutuskan mengenai kapan harus berpisah?++++++++++
Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.
++++++++++++Abstrak? Mungkin iya. Karena dewi berusaha untuk membuatnya terlihat seperti itu. Uraian yang memiliki kontradiksi didalamnya pastilah akan terlihat abstrak. Tapi, apakah penjelasan ini memiliki makna filosofis? Tidak. Sebenarnya Dengan melontarkan pertanyaan seperti itu, dewi sudah melakukan fait accompli, yaitu dia mempersepsikan bahwa orang yang membaca tulisan ini akan menganggap uraian dia filosofis, dan teoritis. Padahal sama sekali ini adalah ungkapan pragmatis yang dicoba untuk dikemas secara lebih abstrak. Penjelasan dewi ini sebenarnya dangkal, banal (B-A-N-A-L). Mengapa? Sebab dia berputar-putar untuk menutupi kondisi sebenarnya dan apa yang sebenarnya terjadi. Dewi ingin mempertahankan gembaran dirinya sebagaimana mungkin sudah tergambar dalam karya-karyanya. Dewi ingin terlihat wise, dan bahkan berusaha mempengaruhi orang agar mengikuti pemikirannya. Sayangnya, uraian dewi kurang begitu dikemas dengan cerdas, sehingga, dari uraiannya saja sudah terbongkar bahwa paparan ini penuh dengan kontradiksi yang tidak logis. Walau dibungkus dengan tata bahasa yang mirip ’maksim’, tetap saja bagi mereka yang melakukan verifikasi secara mendalam, akan menemukan kedangkalan seorang dewi dalam pemaparannya. Saya belum pernah membaca bukunya Dewi. Tapi, orang menganggap bahwa buku Dewi itu memberi pencerahan, agak saintifik dan sebagainya. Namun dari paparannya yang kita baca hari ini, ternyata Dewi tidak sehebat itu. Mungkin Moammar Emka lebih oke, ketika saya melihat debatnya di TV swasta beberapa waktu yang lalu+++++++++++++++++++++++++++
+++++++++++Mengapa saya tertarik untuk mengomentari tulisan dewi ini? Pertama, karena tuliasn ini mampir di e-mail saya. dikirim oleh seseorang. Kedua, karena ada bahaya mengintai. Dia mencoba untuk mengarahkan opini masyarakat tentang suatu lembaga yang namanya perkawinan, menjadi lembaga yang tidak memiliki nilai sama sekali, kecuali hanaylah sebuah hubungan perdata saja. Dan, bahwa tanggung jawab untuk anak, diserahkan kepada anak itu sendiri. Ini bahaya. Apalagi keluar dari seorang public figure semacam dia. Alasan lain, saya tidak ingin masyarakat juga terbawa dalam logika yang amburadul versinya Dewi Mangunsong. Saya khawatir nanti masyarakat kita tidak lagi paham apa itu logika karenanya++
++++++++++Saran : sebaiknya Dewi menyampaikan kepada publik bahwa ini adalah keputusan saya, untuk kepentingan saya, urusan saya, dan anda urus diri anda sendiri, gitu. Daripada membuat psotulat-postulat baru yang membawa generalitas kasus pribadi yang sebenarnya harus dipandang secara kasuistik, dan tidak memiliki keabsahan untuk digeneralisasi sebagai ’destiny’ nanti, orang berbondong-bondong cerai. Kan sudah ’destiny’.+++
Winner Jhonshon,
Advokat dan Mahasiswa
Di Bandung
winner jhonshon said,
July 23, 2008 at 4:10 am
sori dewi, jadi dua nih. soalnya koneksi internetnya bikin ruwet.
dhamma
seto adhiviro said,
July 24, 2008 at 3:08 am
di dunia ini,
orang yang pendiam dicela,
orang yang banyak bicara dicela.
tidak ada orang didunia ini yang tidak diela.
-Buddha-
hi mbak Dee,
tidak akan komen banyak,
cuma menyadari aja,
emang bener, semua orang punya konsepnya sendiri2 entah dari pengalaman atau katanya kitab suci, dll.jadi wajar aja banyak komen2 yang macem2, memuji ataupun mencela
hehehe.
tapi yang pasti dalam hal ini brahmavihara khususnya yang keempat yaitu upekkha harus berperan besar.
tapi,
dalam hal apapun terutama hal ini, hanya Mbak Dee yang tau penyebab dan kemana harus melangkah.
karena tidak mungkin semua orang bisa mengerti untuk menerima,
bahkan Sang Guru Agung pun tidak bisa membuat muridnya menjadi suci,
so, life must go on, and we must be inherit our own Kamma.
Good luck mbak Dee.
may all beings always be happy
LieZ said,
July 25, 2008 at 12:26 am
di dunia ini yang gak ada kadarluarsanya apa ya??
Elfarid said,
July 25, 2008 at 6:55 pm
Apologia absurd; sebuah ketakutan akan kesalahan tindakan akibat kehilangan pegangan sebuah kebenaran haqiqi.
aurel said,
July 26, 2008 at 6:36 am
Salam kenal, Dee.
WOW! Saya sangat kagum padamu! Sebelumnya, saya tidak begitu banyak tahu ataupun mencari tahu tentang seorang Dewi Lestari (saya tidak mengikuti infotainment).Tapi membaca tulisanmu tentang perpisahan membuat saya merasa kamu seorang yang sangat bijak, tidak membohongi diri sendiri, tidak munafik, tidak egois. Dan saya sangat terpesona! Semua yang ada di benak saya mengenai perceraian, dapat kamu ungkapkan dengan begitu sempurna.
Bagi saya, memang benar cinta itu bisa datang dan pergi tanpa bisa kita perintah. Dan saya menemukan kebenaran dari tulisanmu. Benar kita harus bahagia jika ingin membahagiakan orang lain.
Saya sangat menikmatinya.
Terima kasih Dee. Saya doakan kebahagiaanmu.
Firman said,
July 28, 2008 at 2:43 am
be strong…meski penceraian bukan solusi, tp sy tak ingin jadi Tuhan yg punya hak menghakimi. yang pasti setiap keputusan pasti ada resiko. Jdlah diri sendiri maka hal itu akan menguatkan karakter masing2. Keenan bukan pengikat, tp itu bag tanggung jawab dari buah cinta yg telah kita buat, maka itu merup tanggung jawab seumur hidup yg harus ditanggung….Biarkan banyak anjing yang menggonggong, selama tidak menggigit…ya jalan terus….
salwangga said,
July 28, 2008 at 6:09 pm
aku hanya orang biasa, dengan kemampuan baca yang juga biasa, daya cerna biasa, dan mencoba menulis secara biasa.
aku hanya ingat, saat kera segera memecahkan cermin begitu ia berkaca.
aku juga ingat, bagaimana seorang penari segera berganti sepatu saat gerakannya tak kunjung sempurna.
akhirnya, aku terus mengingat-ingat.
apa yang belum aku berikan, sehingga harus ada perpisahan.
apa yang belum aku minta, sehingga aku merasa selalu kurang.
memberi bukan untuk meminta
meminta untuk memberi.
v said,
July 29, 2008 at 3:36 am
biarkan lah mereka berbicara…
masing-masing punya jalannya kok.
salut!karena sudah berani menentukan pilihan.
deni said,
August 1, 2008 at 5:42 am
“memang sudah waktunya” orang JUJUR tidak kaku TERBUJUR
Winner Jhonshon said,
August 9, 2008 at 1:31 am
sebenernya, ada komunitas lain yang membahas subjek ini dengan progresif, lebih mencerdaskan dan lebih filosofis. ini dia linknya. kalau tertarik. http://galeter.wordpress.com/2008/07/27/pelajaran-dewi-lestari/
Ayu said,
August 14, 2008 at 9:39 pm
Hi, saya tahu Dewi Lestari dari ” Supernova”
Masalah perceraian ini , saya setuju dengan pendapat dengan Winner jhonson…(saya tidak tahu siapa dia), tapi dia begitu pandai menjelaskan argumennya. Salam kenal buat Anda , Winner Jhonson.
Dewi yang kamu tulis adalah kamu, dan saya percaya ada yg bepikir seperti kamu, namun saya juga bisa berharap bahwa apa yg ada dalam hati dan pikiarnmu adalah minoritas di dunia ini, yg jelas walaupun saya tidak sependapat , saya menghargai pemikiranmu.
amelia said,
August 19, 2008 at 1:26 am
salut buat mba dewi…
Vay said,
August 19, 2008 at 1:28 am
Bagus sekali pemaparannya Mba..
pungguk merindu supernova said,
August 26, 2008 at 9:18 pm
dee, selamat menempuh hidup baru
dengan segala alur hidup yang kamu pilih, semoga mengutuh
karena walau Tuhan tak mencampuri, Ia dengan tersenyum memerhatikan segala pilihanmu
yang tersisa dari kita selain senjata akal budi kita hanyalah percaya diri
naungilah jalan pilihanmu dengan bentangan terkuat sayapmu
lalu dalam teduhnya yang nyaman, lanjutin ya supernovanya
udah kelamaan…
Tjie said,
August 27, 2008 at 8:27 pm
Semua keputusan adalah anda sebagai penentunya.
So far menjadikan diri anda menjadi lebih bermakna dalam hidup itulah intinya.
Suami, anak, keluarga serta teman adalah media anda untuk mencapai kehidupan yg lebih sempurna itulah point nya.
Hidup adalah pembelajaran dan kita bisa belajar dari lembar-lembar kertas dari Guru
rayhan ABDI said,
September 23, 2008 at 6:28 am
dee… rani… diva… bodhi.. elektra… dee lagi….
udah ah… mana lanjutan supernova nya? diva, bodhi, elektra pada kmana?
maaf dee, mang ada masanya kita turun gunung berbaur dngan keramaian tapi ingat dirimu harus masih terus berjalan ke timur bukan kebarat… singgah sebentar bukan berarti berleha-leha dengan keadaan..
dee… disana masih banyak menunggu yang dikau panggul…
oya, orang bijak banyak belajar dari anak kecil. bukan mengajari..!!!
ada masanya nanti… skarang terus berjalan dee.. jangan berenti disini….
kowi said,
September 24, 2008 at 2:39 am
waduh, saya sampe terbengong-bengong membaca pemaparannya ‘mas’ Winner Jhonson mengomentari kasus mbak dewi-marcel. ulasan yang ilmiah dan sistematis, bak seorang dosen yang sedang menyidang paper dari seorang mahasiswanya.
saya tidak ingin mengomentari kasusnya mbak dewi dan mas marcel, karna saya tidak mengenalnya secara pribadi. hanya tahu bahwa kalian adalah ‘public figur’. tetapi seperti mas Winner J, saya hanya ingin mencoba ikut urun komentar untuk tulisan mbak dewi.
mbak dewi mungkin tidak menyadari seberapa besar pengaruh kekuatan “tulisan” mbak terhadap hidup orang lain. tidak semua pembaca tulisan anda memiliki tingkat kedewasaan dan kecerdasan yang sama dengan mbak dewi. ada yang bisa memahami dan menganalisa dulu sebelumnya, namun ada juga yang kemudian menelannya bulat-bulat dan mengaplikasikan dalam kehidupannya tanpa sadar akan konsekwensinya.
tapi POIN PLUS buat blognya mbak dewi ini adalah, keterbukaan dari blog ini, dengan menampilkan semua komentar yang masuk baik yang pro maupun yang kontra. Yang pada akhirnya menjadi pembelajaran buat yang membacanya.
Saya tidak berkompetensi untuk menilai baik buruknya keputusan seseorang demi kelangsungan hidupnya, selama itu tidak merugikan orang lain. karna yang saya pahami, setiap orang berhak dengan pilihan hidupnya, asalkan pilihan tersebut didasari atas kesadaran dan tanggung jawab terhadap TUHAN, dirinya sendiri, maupun lingkungan sosial.
dan saya yakin, apapun pilihan mbak dewi, itu sudah diperhitungkan dengan matang. cuma sekedar kritikan, jangan mengatasnamakan TAKDIR atas apa yang telah diputuskan dalam kasus ‘pernikahan’ mbak dewi. TUHAN itu MAHA ADIL, dan selalu memberi petunjuk melalui hati nurani kita. sayangnya Nafsu dan Keegoismean serta Kealpaan yang merupakan sederet kelemahan dari manusia, sering kali menutupi hati nurani tsb.
salam suksess buat mbak dewi, semoga kedepannya akan selalu menjadi kebaikan buat hidup mbak dewi dan keluarga.
amien..
- kowi -
ronny said,
September 30, 2008 at 3:52 am
Salam kenal,
Setelah membaca tulisan Dee dengan judul ’Catatan tentang Perpisahan’, saya merenungkan dengan mendalam apa di balik tulisan itu, bukan apa yang tampak di tulisan itu. Komentar ini merupakan hasil perenungan.
Pertama :
Ada energi yang mendorong manusia sehingga tercipta pertemuan, ada energi yang membuat pertemuan bertahan lama, dan ada energi yang mendorong pertemuan itu berakhir dengan perpisahan. Energi itu bermakna sebagai dorongan atau keinginan. Energi itu tidak statis tetapi berubah, karena kontaminasi dengan energi yang lain dalam alam semesta ini.
Kedua :
Suatu kewajaran bila seseorang berusaha untuk mempertahankan pertemuan, dan wajar pula jika seseorang berusaha untuk melepaskan pertemuan mencapai perpisahan dengan berbagai alasan dan pertimbangan, sebab usaha merupakan energi dalam kehidupan yang memberi kekuatan dalam mempertahankan atau mengubah suatu keadaan.
Ketiga :
Seseorang cenderung untuk berusaha ‘menunda’ perpisahan/kematian dengan berbagai cara. Orang lain berupaya untuk ‘menolak/menghindari’ perpisahan/kematian. ‘Menunda’ dan ‘Menolak/Menghindari’ adalah dua cara pandang yang berbeda. Orang yang menyadari dan menerima bahwa setiap kelahiran berakhir dengan kematian, setiap pertemuan berakhir dengan perpisahan, maka orang itu cenderung ’menunda’ perpisahan/kematian dan ketika perpisahan/kematian itu akhirnya datang juga kepadanya maka dia dapat menerima keadaan itu. Sebaliknya, orang yang kurang menyadari bahwa setiap kelahiran berakhir dengan kematian dan setiap pertemuan berakhir dengan perpisahan, maka orang itu betindak di luar akal sehat untuk ’menolak/menghindari’ kematian/perpisahan dan ketika perpisahan/kematian itu akhirnya datang juga kepadanya maka dia sulit untuk menerima keadaan itu, mengalami stress dan beban mental yang luar biasa. Perpisahan/kematian tak terhindarkan pada waktunya.
Keempat :
Kebahagian muncul dari dalam diri. Kebahagian sejati muncul ketika kita mampu untuk menyadari dan menerima perubahan dalam hidup. Bila orang tua menyadari kebahagian sejati maka dia dapat mengajarkan jalan untuk mencapai kebahagian sejati kepada orang lain termasuk kepada anak-anaknya. Dengan demikian, anak-anak itu akan dapat menerima perubahan dalam kehidupannya sebagai kewajaran, termasuk mampu menerima keadaan dimana orang tuanya (ayah dan ibu) sudah berpisah atau bercerai (misalnya).
Kelima :
Tuhan menciptakan kehidupan dicirikan dengan perubahan yang menimbulkan perbedaan keadaan: kelahiran dan kematian, pertemuan dan perpisahan, dan lain-lain. Tanpa perubahan, kita tidak dapat merasakan kehidupan. Tidak ada yang statis, semuanya berubah. Kehidupan adalah perubahan, dan Perubahan adalah kehidupan.
NB : Buat Dee, jika hasil perenungan saya kurang tepat, mohon diluruskan.
Website : http://www.ronny-hukum.blogspot.com
e-mail : ronny_wuisan@yahoo.com
pungguk merindu supernova said,
October 3, 2008 at 8:01 am
Dee..Tidak semua pembacamu tidak mengetahui apa yang tersirat dan apa yang kamu maksud..dalam memasuki ruang untuk mengapresiasi tulisan dan pemikiranmu..Tidak semua pembacamu tidak mengetahui ruang apa yang sedang mereka masuki. Beberapa di antara mereka termasuk aku menyadari bahwa Dee adalah Dee dengan segala karakteristiknya..
menyenangi tulisanmu bagiku adalah memahami dan mengikuti ke mana setapakmu terus berjalan. Mengamati perkembanganmu dari hari ke hari, tanpa harus selalu berada dalam jejak yang sama, dan tanpa harus berteriak kepadamu untuk berbelok saat kamu ingin lurus…rumput dan ladang yang akan kau temui adalah konsekuensi pilihan yang selalu kau sadari maknanya bukan rupanya.. Juga rumput dan ladang yang akan kutemui.
mengagumi karyamu adalah mengobrol dengan diriku di sampingmu bukan di belakang ataupun di depan. apalagi dari jauh. dalam tingkat logika yang tak perlu terkatakan, kamu dan segelintir pembacamu menyadari bahwa kalian sedang curhat dengan sahabat. bukan sedang memengaruhi ataupun saling mengait.
Dan, tidak semua pembacamu tidak mengetahuinya Dee
mahendra said,
October 20, 2008 at 1:09 am
Dee.. thanks, tulisannya dah kasih pencerahan buat ngadepin diforcesku,
but Dee aku baru merid 3 bulan…
bunda alya said,
November 11, 2008 at 10:48 pm
smoga smua yang baik bisa jadi pelajaran yang baik dan yang burukpun bisa jadi pembelajaran bahwa ini lah hidup itu.
lazuardi said,
March 29, 2009 at 7:48 pm
Dee….
sebuah keindahan kata yang mampu dipahami maknanya dengan sepenuh rasa.
Perceraian sejati….atau cinta sejati, memang selayaknya dari esensi hati..
bukan dari hal diluar hati dan jiwa…
Salute buat Dee..!!!
Mercy said,
April 22, 2009 at 11:19 pm
Perubahan selalu ada, akibatnya kita perlu menyangsikan sebuah teori/pandangan/keyakinan yang nampaknya ditulis dengan sebuah kesadaran penuh, ada baiknya tidak over estimate karena perubahan bahkan bisa dijadikan alasan untuk mengingkari janji kepada Tuhan
Mercy said,
April 22, 2009 at 11:28 pm
Perubahan selalu ada, akibatnya kita perlu menyangsikan sebuah teori/pandangan/keyakinan yang nampaknya ditulis dengan sebuah kesadaran penuh, ada baiknya tidak over estimate karena perubahan RUPANYA bahkan bisa dijadikan alasan untuk mengingkari janji kepada Tuhan
berlan said,
April 30, 2009 at 5:01 am
Saya sangat setuju dengan pemaparan bung winner johnson yang sudah memberikan pencerahan tentang makna institusi perkawinan.Bagi saya, justifikasi dewi hanya berlaku jika manusia hidup dan berjalan di ruang hampa, sayangnya kita tidak hidup dalam atmosfer seperti itu. Manusia hidup sarat dengan nilai-nilai yang mengiringinya, baik secara etis maupun religius yang sekaligus menjadi invisible hand dalam kesadaran diri manusia. Mengidentifikasi faktor perceraian hanya dengan penyebutan sebuah istilah yakni kedaluarsa adalah membuka ruang bagi fatalisme yang berujung pada pembenaran diri mengapa sebuah peristiwa terjadi.