<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: </title>
	<atom:link href="http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/</link>
	<description>an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between</description>
	<lastBuildDate>Mon, 12 Oct 2009 02:21:35 -0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: berlan</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/comment-page-3/#comment-2272</link>
		<dc:creator>berlan</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 13:01:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/#comment-2272</guid>
		<description>Saya sangat setuju dengan pemaparan bung winner johnson yang sudah memberikan pencerahan tentang makna institusi perkawinan.Bagi saya, justifikasi dewi hanya berlaku jika manusia hidup dan berjalan di ruang hampa, sayangnya kita tidak hidup dalam atmosfer seperti itu. Manusia hidup sarat dengan nilai-nilai yang mengiringinya, baik secara etis maupun religius yang sekaligus menjadi invisible hand dalam kesadaran diri manusia. Mengidentifikasi faktor perceraian hanya dengan penyebutan sebuah istilah yakni kedaluarsa adalah membuka ruang bagi fatalisme yang berujung pada pembenaran diri mengapa sebuah peristiwa terjadi.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sangat setuju dengan pemaparan bung winner johnson yang sudah memberikan pencerahan tentang makna institusi perkawinan.Bagi saya, justifikasi dewi hanya berlaku jika manusia hidup dan berjalan di ruang hampa, sayangnya kita tidak hidup dalam atmosfer seperti itu. Manusia hidup sarat dengan nilai-nilai yang mengiringinya, baik secara etis maupun religius yang sekaligus menjadi invisible hand dalam kesadaran diri manusia. Mengidentifikasi faktor perceraian hanya dengan penyebutan sebuah istilah yakni kedaluarsa adalah membuka ruang bagi fatalisme yang berujung pada pembenaran diri mengapa sebuah peristiwa terjadi.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mercy</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/comment-page-3/#comment-2270</link>
		<dc:creator>Mercy</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 07:28:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/#comment-2270</guid>
		<description>Perubahan selalu ada, akibatnya kita perlu menyangsikan sebuah teori/pandangan/keyakinan yang nampaknya ditulis dengan sebuah kesadaran penuh, ada baiknya tidak over estimate karena perubahan RUPANYA bahkan bisa dijadikan alasan untuk mengingkari janji kepada Tuhan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Perubahan selalu ada, akibatnya kita perlu menyangsikan sebuah teori/pandangan/keyakinan yang nampaknya ditulis dengan sebuah kesadaran penuh, ada baiknya tidak over estimate karena perubahan RUPANYA bahkan bisa dijadikan alasan untuk mengingkari janji kepada Tuhan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mercy</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/comment-page-3/#comment-2269</link>
		<dc:creator>Mercy</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 07:19:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/#comment-2269</guid>
		<description>Perubahan selalu ada, akibatnya kita perlu menyangsikan sebuah teori/pandangan/keyakinan yang nampaknya ditulis dengan sebuah kesadaran penuh, ada baiknya tidak over estimate karena perubahan bahkan bisa dijadikan alasan untuk mengingkari janji kepada Tuhan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Perubahan selalu ada, akibatnya kita perlu menyangsikan sebuah teori/pandangan/keyakinan yang nampaknya ditulis dengan sebuah kesadaran penuh, ada baiknya tidak over estimate karena perubahan bahkan bisa dijadikan alasan untuk mengingkari janji kepada Tuhan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: lazuardi</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/comment-page-3/#comment-2265</link>
		<dc:creator>lazuardi</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 30 Mar 2009 03:48:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/#comment-2265</guid>
		<description>Dee....

sebuah keindahan kata yang mampu dipahami maknanya dengan sepenuh rasa.
Perceraian sejati....atau cinta sejati, memang selayaknya dari esensi hati..
bukan dari hal diluar hati dan jiwa...

Salute buat Dee..!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dee&#8230;.</p>
<p>sebuah keindahan kata yang mampu dipahami maknanya dengan sepenuh rasa.<br />
Perceraian sejati&#8230;.atau cinta sejati, memang selayaknya dari esensi hati..<br />
bukan dari hal diluar hati dan jiwa&#8230;</p>
<p>Salute buat Dee..!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: bunda alya</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/comment-page-3/#comment-2193</link>
		<dc:creator>bunda alya</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 06:48:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/#comment-2193</guid>
		<description>smoga smua yang baik bisa jadi pelajaran yang baik dan yang burukpun bisa jadi pembelajaran bahwa ini lah hidup itu.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>smoga smua yang baik bisa jadi pelajaran yang baik dan yang burukpun bisa jadi pembelajaran bahwa ini lah hidup itu.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mahendra</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/comment-page-3/#comment-2184</link>
		<dc:creator>mahendra</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 09:09:14 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/#comment-2184</guid>
		<description>Dee.. thanks, tulisannya dah kasih pencerahan buat ngadepin diforcesku,
but  Dee aku baru merid 3 bulan...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dee.. thanks, tulisannya dah kasih pencerahan buat ngadepin diforcesku,<br />
but  Dee aku baru merid 3 bulan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pungguk merindu supernova</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/comment-page-3/#comment-2178</link>
		<dc:creator>pungguk merindu supernova</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2008 16:01:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/#comment-2178</guid>
		<description>Dee..Tidak semua pembacamu tidak mengetahui apa yang tersirat dan apa yang kamu maksud..dalam memasuki ruang untuk mengapresiasi tulisan dan pemikiranmu..Tidak semua pembacamu tidak mengetahui ruang apa yang sedang mereka masuki. Beberapa di antara mereka termasuk aku menyadari bahwa Dee adalah Dee dengan segala karakteristiknya..

menyenangi tulisanmu bagiku adalah memahami dan mengikuti ke mana setapakmu terus berjalan. Mengamati perkembanganmu dari hari ke hari, tanpa harus selalu berada dalam jejak yang sama, dan tanpa harus berteriak kepadamu untuk berbelok saat kamu ingin lurus...rumput dan ladang yang akan kau temui adalah konsekuensi pilihan yang selalu kau sadari maknanya bukan rupanya.. Juga rumput dan ladang yang akan kutemui.

mengagumi karyamu adalah mengobrol dengan diriku di sampingmu bukan di belakang ataupun di depan. apalagi dari jauh. dalam tingkat logika yang tak perlu terkatakan, kamu dan segelintir pembacamu menyadari bahwa kalian sedang curhat dengan sahabat. bukan sedang memengaruhi ataupun saling mengait. 

Dan, tidak semua pembacamu tidak mengetahuinya Dee</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dee..Tidak semua pembacamu tidak mengetahui apa yang tersirat dan apa yang kamu maksud..dalam memasuki ruang untuk mengapresiasi tulisan dan pemikiranmu..Tidak semua pembacamu tidak mengetahui ruang apa yang sedang mereka masuki. Beberapa di antara mereka termasuk aku menyadari bahwa Dee adalah Dee dengan segala karakteristiknya..</p>
<p>menyenangi tulisanmu bagiku adalah memahami dan mengikuti ke mana setapakmu terus berjalan. Mengamati perkembanganmu dari hari ke hari, tanpa harus selalu berada dalam jejak yang sama, dan tanpa harus berteriak kepadamu untuk berbelok saat kamu ingin lurus&#8230;rumput dan ladang yang akan kau temui adalah konsekuensi pilihan yang selalu kau sadari maknanya bukan rupanya.. Juga rumput dan ladang yang akan kutemui.</p>
<p>mengagumi karyamu adalah mengobrol dengan diriku di sampingmu bukan di belakang ataupun di depan. apalagi dari jauh. dalam tingkat logika yang tak perlu terkatakan, kamu dan segelintir pembacamu menyadari bahwa kalian sedang curhat dengan sahabat. bukan sedang memengaruhi ataupun saling mengait. </p>
<p>Dan, tidak semua pembacamu tidak mengetahuinya Dee</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ronny</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/comment-page-3/#comment-2174</link>
		<dc:creator>ronny</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Sep 2008 11:52:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/#comment-2174</guid>
		<description>Salam kenal,

Setelah membaca tulisan Dee dengan judul ’Catatan tentang Perpisahan’, saya merenungkan dengan mendalam apa di balik tulisan itu, bukan apa yang tampak di tulisan itu. Komentar ini merupakan hasil perenungan.

Pertama :
Ada energi yang mendorong manusia sehingga tercipta pertemuan, ada energi yang membuat pertemuan bertahan lama, dan ada energi yang mendorong pertemuan itu berakhir dengan perpisahan. Energi itu bermakna sebagai dorongan atau keinginan. Energi itu tidak statis tetapi berubah, karena kontaminasi dengan energi yang lain dalam alam semesta ini.

Kedua :
Suatu kewajaran bila seseorang berusaha untuk mempertahankan pertemuan, dan wajar pula jika seseorang berusaha untuk melepaskan pertemuan mencapai perpisahan dengan berbagai alasan dan pertimbangan, sebab usaha merupakan energi dalam kehidupan yang memberi kekuatan dalam mempertahankan atau mengubah suatu keadaan. 

Ketiga :
Seseorang cenderung untuk berusaha ‘menunda’ perpisahan/kematian dengan berbagai cara. Orang lain berupaya untuk ‘menolak/menghindari’ perpisahan/kematian. ‘Menunda’ dan ‘Menolak/Menghindari’ adalah dua cara pandang yang berbeda. Orang yang menyadari dan menerima bahwa setiap kelahiran berakhir dengan kematian, setiap pertemuan berakhir dengan perpisahan, maka orang itu cenderung ’menunda’ perpisahan/kematian dan ketika perpisahan/kematian itu akhirnya datang juga kepadanya maka dia dapat menerima keadaan itu. Sebaliknya, orang yang kurang menyadari bahwa setiap kelahiran berakhir dengan kematian dan setiap pertemuan berakhir dengan perpisahan, maka orang itu betindak di luar akal sehat untuk ’menolak/menghindari’ kematian/perpisahan dan ketika perpisahan/kematian itu akhirnya datang juga kepadanya maka dia sulit untuk menerima keadaan itu, mengalami stress dan beban mental yang luar biasa. Perpisahan/kematian tak terhindarkan pada waktunya.

Keempat :
Kebahagian muncul dari dalam diri. Kebahagian sejati muncul ketika kita mampu untuk menyadari dan menerima perubahan dalam hidup. Bila orang tua menyadari kebahagian sejati maka dia dapat mengajarkan jalan untuk mencapai kebahagian sejati kepada orang lain termasuk kepada anak-anaknya. Dengan demikian, anak-anak itu akan dapat menerima perubahan dalam kehidupannya sebagai kewajaran, termasuk mampu menerima keadaan dimana orang tuanya (ayah dan ibu) sudah berpisah atau bercerai (misalnya).

Kelima :
Tuhan menciptakan kehidupan dicirikan dengan perubahan yang menimbulkan perbedaan keadaan: kelahiran dan kematian, pertemuan dan perpisahan, dan lain-lain. Tanpa perubahan, kita tidak dapat merasakan kehidupan.  Tidak ada yang statis, semuanya berubah. Kehidupan adalah perubahan, dan Perubahan adalah kehidupan. 

NB : Buat Dee, jika hasil perenungan saya kurang tepat, mohon diluruskan.
Website : www.ronny-hukum.blogspot.com
e-mail    : ronny_wuisan@yahoo.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal,</p>
<p>Setelah membaca tulisan Dee dengan judul ’Catatan tentang Perpisahan’, saya merenungkan dengan mendalam apa di balik tulisan itu, bukan apa yang tampak di tulisan itu. Komentar ini merupakan hasil perenungan.</p>
<p>Pertama :<br />
Ada energi yang mendorong manusia sehingga tercipta pertemuan, ada energi yang membuat pertemuan bertahan lama, dan ada energi yang mendorong pertemuan itu berakhir dengan perpisahan. Energi itu bermakna sebagai dorongan atau keinginan. Energi itu tidak statis tetapi berubah, karena kontaminasi dengan energi yang lain dalam alam semesta ini.</p>
<p>Kedua :<br />
Suatu kewajaran bila seseorang berusaha untuk mempertahankan pertemuan, dan wajar pula jika seseorang berusaha untuk melepaskan pertemuan mencapai perpisahan dengan berbagai alasan dan pertimbangan, sebab usaha merupakan energi dalam kehidupan yang memberi kekuatan dalam mempertahankan atau mengubah suatu keadaan. </p>
<p>Ketiga :<br />
Seseorang cenderung untuk berusaha ‘menunda’ perpisahan/kematian dengan berbagai cara. Orang lain berupaya untuk ‘menolak/menghindari’ perpisahan/kematian. ‘Menunda’ dan ‘Menolak/Menghindari’ adalah dua cara pandang yang berbeda. Orang yang menyadari dan menerima bahwa setiap kelahiran berakhir dengan kematian, setiap pertemuan berakhir dengan perpisahan, maka orang itu cenderung ’menunda’ perpisahan/kematian dan ketika perpisahan/kematian itu akhirnya datang juga kepadanya maka dia dapat menerima keadaan itu. Sebaliknya, orang yang kurang menyadari bahwa setiap kelahiran berakhir dengan kematian dan setiap pertemuan berakhir dengan perpisahan, maka orang itu betindak di luar akal sehat untuk ’menolak/menghindari’ kematian/perpisahan dan ketika perpisahan/kematian itu akhirnya datang juga kepadanya maka dia sulit untuk menerima keadaan itu, mengalami stress dan beban mental yang luar biasa. Perpisahan/kematian tak terhindarkan pada waktunya.</p>
<p>Keempat :<br />
Kebahagian muncul dari dalam diri. Kebahagian sejati muncul ketika kita mampu untuk menyadari dan menerima perubahan dalam hidup. Bila orang tua menyadari kebahagian sejati maka dia dapat mengajarkan jalan untuk mencapai kebahagian sejati kepada orang lain termasuk kepada anak-anaknya. Dengan demikian, anak-anak itu akan dapat menerima perubahan dalam kehidupannya sebagai kewajaran, termasuk mampu menerima keadaan dimana orang tuanya (ayah dan ibu) sudah berpisah atau bercerai (misalnya).</p>
<p>Kelima :<br />
Tuhan menciptakan kehidupan dicirikan dengan perubahan yang menimbulkan perbedaan keadaan: kelahiran dan kematian, pertemuan dan perpisahan, dan lain-lain. Tanpa perubahan, kita tidak dapat merasakan kehidupan.  Tidak ada yang statis, semuanya berubah. Kehidupan adalah perubahan, dan Perubahan adalah kehidupan. </p>
<p>NB : Buat Dee, jika hasil perenungan saya kurang tepat, mohon diluruskan.<br />
Website : <a href="http://www.ronny-hukum.blogspot.com" rel="nofollow">http://www.ronny-hukum.blogspot.com</a><br />
e-mail    : <a href="mailto:ronny_wuisan@yahoo.com">ronny_wuisan@yahoo.com</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kowi</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/comment-page-3/#comment-2169</link>
		<dc:creator>kowi</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 10:39:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/#comment-2169</guid>
		<description>waduh, saya sampe terbengong-bengong membaca pemaparannya &#039;mas&#039; Winner Jhonson mengomentari kasus mbak dewi-marcel. ulasan yang ilmiah dan sistematis, bak seorang dosen yang sedang menyidang paper dari seorang mahasiswanya.

saya tidak ingin mengomentari kasusnya mbak dewi dan mas marcel, karna saya tidak mengenalnya secara pribadi. hanya tahu bahwa kalian adalah &#039;public figur&#039;. tetapi seperti mas Winner J, saya hanya ingin mencoba ikut urun komentar untuk tulisan mbak dewi.

mbak dewi mungkin tidak menyadari seberapa besar pengaruh kekuatan “tulisan” mbak terhadap hidup orang lain. tidak semua pembaca tulisan anda memiliki tingkat kedewasaan dan kecerdasan yang sama dengan mbak dewi. ada yang bisa memahami dan menganalisa dulu sebelumnya, namun ada juga yang kemudian menelannya bulat-bulat dan mengaplikasikan dalam kehidupannya tanpa sadar akan konsekwensinya.

tapi POIN PLUS buat blognya mbak dewi ini adalah, keterbukaan dari blog ini, dengan menampilkan semua komentar yang masuk baik yang pro maupun yang kontra. Yang pada akhirnya menjadi pembelajaran buat yang membacanya.

Saya tidak berkompetensi untuk menilai baik buruknya keputusan seseorang demi kelangsungan hidupnya, selama itu tidak merugikan orang lain. karna yang saya pahami, setiap orang berhak dengan pilihan hidupnya, asalkan pilihan tersebut didasari atas kesadaran dan tanggung jawab terhadap TUHAN, dirinya sendiri, maupun lingkungan sosial.

dan saya yakin, apapun pilihan mbak dewi, itu sudah diperhitungkan dengan matang. cuma sekedar kritikan, jangan mengatasnamakan TAKDIR atas apa yang telah diputuskan dalam kasus &#039;pernikahan&#039; mbak dewi. TUHAN itu MAHA ADIL, dan selalu memberi petunjuk melalui hati nurani kita. sayangnya Nafsu dan Keegoismean serta Kealpaan yang merupakan sederet kelemahan dari manusia, sering kali menutupi hati nurani tsb.

salam suksess buat mbak dewi, semoga kedepannya akan selalu menjadi kebaikan buat hidup mbak dewi dan keluarga.
amien..

- kowi -</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>waduh, saya sampe terbengong-bengong membaca pemaparannya &#8216;mas&#8217; Winner Jhonson mengomentari kasus mbak dewi-marcel. ulasan yang ilmiah dan sistematis, bak seorang dosen yang sedang menyidang paper dari seorang mahasiswanya.</p>
<p>saya tidak ingin mengomentari kasusnya mbak dewi dan mas marcel, karna saya tidak mengenalnya secara pribadi. hanya tahu bahwa kalian adalah &#8216;public figur&#8217;. tetapi seperti mas Winner J, saya hanya ingin mencoba ikut urun komentar untuk tulisan mbak dewi.</p>
<p>mbak dewi mungkin tidak menyadari seberapa besar pengaruh kekuatan “tulisan” mbak terhadap hidup orang lain. tidak semua pembaca tulisan anda memiliki tingkat kedewasaan dan kecerdasan yang sama dengan mbak dewi. ada yang bisa memahami dan menganalisa dulu sebelumnya, namun ada juga yang kemudian menelannya bulat-bulat dan mengaplikasikan dalam kehidupannya tanpa sadar akan konsekwensinya.</p>
<p>tapi POIN PLUS buat blognya mbak dewi ini adalah, keterbukaan dari blog ini, dengan menampilkan semua komentar yang masuk baik yang pro maupun yang kontra. Yang pada akhirnya menjadi pembelajaran buat yang membacanya.</p>
<p>Saya tidak berkompetensi untuk menilai baik buruknya keputusan seseorang demi kelangsungan hidupnya, selama itu tidak merugikan orang lain. karna yang saya pahami, setiap orang berhak dengan pilihan hidupnya, asalkan pilihan tersebut didasari atas kesadaran dan tanggung jawab terhadap TUHAN, dirinya sendiri, maupun lingkungan sosial.</p>
<p>dan saya yakin, apapun pilihan mbak dewi, itu sudah diperhitungkan dengan matang. cuma sekedar kritikan, jangan mengatasnamakan TAKDIR atas apa yang telah diputuskan dalam kasus &#8216;pernikahan&#8217; mbak dewi. TUHAN itu MAHA ADIL, dan selalu memberi petunjuk melalui hati nurani kita. sayangnya Nafsu dan Keegoismean serta Kealpaan yang merupakan sederet kelemahan dari manusia, sering kali menutupi hati nurani tsb.</p>
<p>salam suksess buat mbak dewi, semoga kedepannya akan selalu menjadi kebaikan buat hidup mbak dewi dan keluarga.<br />
amien..</p>
<p>- kowi -</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: rayhan ABDI</title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/comment-page-3/#comment-2168</link>
		<dc:creator>rayhan ABDI</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 14:28:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/#comment-2168</guid>
		<description>dee... rani... diva... bodhi.. elektra... dee lagi....
udah ah... mana lanjutan supernova nya? diva, bodhi, elektra pada kmana?
maaf dee, mang ada masanya kita turun gunung berbaur dngan keramaian tapi ingat dirimu harus masih terus berjalan ke timur bukan kebarat... singgah sebentar bukan berarti berleha-leha dengan keadaan..
dee... disana masih banyak menunggu yang dikau panggul...
oya, orang bijak banyak belajar dari anak kecil. bukan mengajari..!!!
ada masanya nanti... skarang terus berjalan dee.. jangan berenti disini....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dee&#8230; rani&#8230; diva&#8230; bodhi.. elektra&#8230; dee lagi&#8230;.<br />
udah ah&#8230; mana lanjutan supernova nya? diva, bodhi, elektra pada kmana?<br />
maaf dee, mang ada masanya kita turun gunung berbaur dngan keramaian tapi ingat dirimu harus masih terus berjalan ke timur bukan kebarat&#8230; singgah sebentar bukan berarti berleha-leha dengan keadaan..<br />
dee&#8230; disana masih banyak menunggu yang dikau panggul&#8230;<br />
oya, orang bijak banyak belajar dari anak kecil. bukan mengajari..!!!<br />
ada masanya nanti&#8230; skarang terus berjalan dee.. jangan berenti disini&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
