August 3rd, 2008 at 10:29 am (Uncategorized)
10 Most Hillarious, Humorous, and Hideous Gossips I Found
Just for the fun of it (and not so fun of it), I’ve highlighted some of the most intriguing news (read: gossip) out there, written by the media or shared by the public through discussion forums. Some were disturbing, but some were absurdly funny. And here they are in random order:
#1: The Titanic Sinks Us (Again)
“Ada sekelumit kisah di balik gugatan cerai Dewi Lestari pada suaminya, penyanyi Marcell. Rupanya sebelum memutuskan bercerai, pasangan dengan satu anak itu mendengarkan album soundtrack film Titanic. ‘Ketika kami memutuskan, kami memasang lagu Titanic dan kita saling curhat,’ jelas Marcell.” [InfoGue.Com]
Fact:
Saat kami konferensi pers, seorang wartawan yang masih belum puas dengan jawaban yang sudah kami berikan lantas meminta keterangan lebih lanjut mengenai alasan perpisahan kami berdua, dan Marcell menjawab “Kalau mau diceritain semuanya ya panjang banget, kita harus ngobrol semalam suntuk…” dan dengan bercanda Marcell menambahkan, “sambil pasang lilin, dengerin lagu Titanic…”. My dear friends of the media, that’s called hyperbolism. And it was meant to be a joke.
Dee’s Comment:
You gotta be kidding me. Titanic soundtrack? TITANIC? Look, if there’s a song we would choose for such an important and dramatic moment, it would definitely be “Kemesraan” from Iwan Fals and Rafika Duri! Why? Cause we support our local music! And if someone’s still taking my statement seriously, then God have mercy on your humorless soul.
#2: Too Much Information
“Istana Baru Sang Supernova: Dewi Lestari seolah ingin mengubur kisah masa lalunya bersama Marcell dengan berpindah rumah… Dewi membeli rumah yang kini ia tempati bersama buah hatinya, Keenan Avalokita Kirana Siahaan itu, dari pemilik pertama dengan harga mendekati Rp 1 miliar.” [Tabloid C&R].
Fact:
Well, terkecuali bumbu “mengubur kisah masa lalu” dan masalah teknis mengenai kepemilikan rumah, harga, dsb, saya memang sekarang berdomisili di Jakarta. That’s the single fact in the whole story (oh, they also mentioned about Keenan’s four-wheeled bike. I don’t know how the heck they knew about it, but it’s actually true. However trivial and unimportant the detail is).
Dee’s Comment:
Sadly, I found this news as the most unethical and impolite one. Why? Belum pernah seumur hidup saya berkarier, sebuah media dengan tanpa izin mencantumkan alamat rumah saya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sang wartawan (Fitriawan Ginting) memotretnya tanpa sepengetahuan dan seizin saya. Hal ini, selain tidak etis, juga sudah menyinggung masalah keamanan bagi saya dan keluarga. Fyi, I didn’t purchase the house, it was rented.
#3: Lost In Time
“Mediasi dipimpin oleh Baslin Sinaga dari PN Bale Endah. Mediasi itu tampaknya berlangsung alot, karena memakan waktu sekitar 1,5 jam.” [Tabloid Nova]
Fact:
Mediasi berlangsung 30 menit saja. Bahkan kurang.
Dee’s Comment:
Saya tidak tahu wartawan yang menuliskan ini menunggu di lorong waktu mana. Entah dia juga memasukkan waktu perjalanannya menuju PN Bale Endah yang memang terletak di wilayah Bandung coret. Tapi inilah bukti bahwa begitu banyak informasi yang ditulis secara resmi, nyatanya tidak ditulis dengan akurasi dan ketelitian, sekalipun terdengar meyakinkan. Dengan “memuainya” waktu dari 30 menit ke 90 menit, tentu bumbu “mediasi berjalan alot” menjadi pas. Namun sesungguhnya, yang faktual terjadi tidak selalu pas dengan bumbu yang diramu.
#4: The Ghastly & Ghostly Interview
“Isu adanya orang ketiga memang menyeruak, seiring retaknya rumah tangga Dewi Lestari dan Marcell Siahaan. ‘Saya sama sekali tidak ada hubungan spesial dengan pakar holistik yang Anda sebutkan itu. Hubungan saya dan Marcell dengan dia, hanya sebagai teman,’ bantah perempuan ini mengawali pembicaraannya dengan sejumlah wartawan, termasuk Edy Suherli, dari C&R. Berikut petikannya:
C&R: Benarkah karena kehadiran orang ketiga?
D: Tidak ada orang ketiga ataupun persoalan KDRT. Semua murni persoalan intern kami, yang sudah tidak bisa disatukan lagi.
C&R: Bukankah Anda dekat dengan seorang pakar holistik yang bernama Reza Gunawan?
D: Kalau dengan dia, saya hanya berteman biasa. Marcell juga berteman dengan dia. Jadi tidak ada hubungan yang spesial antara saya dengan dia.” [Tabloid C&R by Edy Suherli]
Fact:
Wawancara dialogis di atas sama sekali tidak pernah terjadi. Pertanyaan tersebut tidak pernah diajukan, apalagi jawabannya. Pada saat konferensi pers, kami tidak melayani wawancara individual dengan media mana pun. Semua media kami jawab dan layani secara kolektif. Sampai saat ini, kami pun masih belum bersedia melakukan wawancara eksklusif dengan pihak mana pun. Semua berita yang beredar mengenai masalah ini secara resmi ditanggapi hanya lewat satu kali konferensi pers itu saja, jika ada yang diberitakan di luar daripada itu, berarti diambil dari sumber lain atau cuma materi olahan sendiri.
Dee’s Comment:
Saya tidak tahu persis maksud dan tujuan tabloid C&R dengan wawancara imajinernya. Karena jika pertanyaan tersebut benar-benar diajukan, jawaban saya akan sangat lain. Reza Gunawan has been one of our dearest friends for years, and this is what I must say: there’s nothing unspecial about our relating. Everything about it, is special. He is one of the very few trusted friends that has been supporting us all this time. However, he had nothing to do with our decision to separate in the first place.
So, let me get this chronology straight: keputusan saya dan Marcell untuk pelan-pelan berpisah terjadi pada akhir tahun 2006. Kesiapan kami untuk berpisah secara legal dibulatkan pada akhir tahun 2007. Awal 2008, kami mulai menjajaki masalah teknis (pengacara, proses peradilan, dsb).
From the time of NOW, if there’s someone that is very close (or some of you may call it ‘extra-special’) with me at the moment, that person would definitely be Reza Gunawan, and no one else. We began to allow our relating to evolve to the stage we’re now at, which was quite recently, only after me and Marcell had confirmed our legal separation. Tapi dengan menyeruaknya kabar perceraian ini di media, dan tentu saja, tidak ada orang yang mengharapkan kabar yang “biasa-biasa”, nama Reza dan institusi yang didirikannya sempat diseret dan dikaitkan sebagai penyebab perpisahan kami. Semoga penjelasan ini dapat menjadi acuan lebih baik untuk penyusunan berita gosip Anda, sekalipun saya yakin, penjelasan ini pun masih bisa diinterpretasikan dengan ‘miring’, tergantung daya tangkap dan niat dari pihak yang membaca. Dan jika kronologi waktu yang saya jelaskan di atas masih juga dikacaukan, baik karena memang belum tahu atau sengaja, then it’s entirely your own problem.
Mudah-mudahan saya salah, tapi sukar untuk tidak mengasumsikan bahwa wawancara imajiner di atas didesain sebagai “bumerang” bagi saya di kemudian hari, yang barangkali diharapkan menjadi gosip panas berikutnya. Well, let me ruin that genious plan of yours. I’ll say this again: there’s NOTHING UN-SPECIAL about me and Reza. We’ve always loved each other as best friends, and now we love each other as companions. Oh, by the way, don’t bother to sneak this info to Marcell… cause, guess what? Not only that he knows, we also hang out together! The three of us! Especially that now we’re shamelessly endorsing Blackberry for free! *Photo taken on August 5th, 2008, while celebrating Keenan’s 4th birthday.
#5: The Desperate Attempt to Rewrite History
“Jadi… ketidakcocokan Marcell dan Dewi Lestari memang udah terjadi dari taun lalu. Marcell ini ibaratnya baru melek sama pergaulan Jakarta, karena dulunya tinggal di Bandung sebelum ngetop nyanyi dengan Shanty. Awalnya dia kan dulu drummernya Puppen band underground gitu, tiba-tiba kok nyanyi lagu pop? (gak punya pendirian bener). Trus setelah ngetop dengan “Hanya Memuji” dia kawin dengan Dewi. Trus, sekarang ini dianya kayak ‘culture shock’ gimana gitu deh. Tiap gue clubbing di mana, sering banget ada Marcell. No Dewi. Dewi kan emang gak suka clubbing, sukanya meditasi sama nulis di komputer. Sedangkan Marcell kerjanya keluar mulu, gaul sama cewe-cewe cakep, model-model, sampe akhirnya nyangkut dengan model “ISABEL JAHJA” (Abel). Pokoknya social climber bener deh, jadi kesannya norak dan kampung menurut gue. Aduh capek deh pasangan ini, gak di mana-mana ciuman dan grepe2 (enek liatnya), terutama di tempat clubbing dan kesian dalam hati karena Dewinya gak tau apa-apa. Tapi akhirnya Dewinya tau juga. Katanya sih sempet menangkap basah Marcell dan Abel sedang… yah you know lah. Akhir cerita Dewinya mau cerai, dan kabarnya sih udah mau proses. Kesian ya Dewi, padahal orangnya baik, pinter, spiritual pula. Marcell-nya emang masih rada anak kecil gitu sih. Yah maklumlah baru melek pergaulan Jakarta (dasar norak).” [Thread from Forum Detik.com. Posted by: Lollypopsicle]
Dan ketika ada komentator yang meragukan keabsahan kisahnya, dengan yakinnya ia menambahkan:
Yah, liat aja entar. Orangnya yang curhat langsung kok, Bos.
Fact:
Abel is a dear friend of mine. Those horrific incidences—‘menangkap basah’, ‘menangkap kering’, and everything in between—never happened. She had nothing to do with our decision to separate.
Dee’s Comment:
Whoever you are, I appreciate your ‘positive’ review on me. But just between you and me, do you think I will be stupid enough to actually ‘curhat langsung’ to you, an obvious person who doesn’t know what she/he is talking about, and who doesn’t know anything about me? Let me make this clear. Once and for all. Berikut adalah kategori orang-orang yang TIDAK MUNGKIN menjadi teman curhat saya:
• Mereka yang menyangka pekerjaan saya hanya meditasi dan nulis di komputer.
• Mereka yang menyangka Marcell doyan clubbing. He went to club mostly for work, because he once had a trio with a DJ (DJ Romy) and a drummer (Tyo Nugros), where all of their gigs were performed at clubs. Marcell is a vegetarian, he practices Taichi and Brazilian Jiu-jitsu, and he doesn’t smoke or drink alcohol or do drugs. How fun can that be for a clubber? Go figure.
• Mereka yang menyangka seorang Marcell bisa culture shock hanya karena pindah dari Bandung ke Jakarta, I mean, get real. Bandung is 2 hours away from Jakarta, and he had a music career since junior high. And if later you become a recording artist plus a professional actor like him, no matter where you live, you’ll be working a lot in the heart of Jakarta from day one of your career. Unless you’ve been living in Lembah Baliem for your whole life, nothing can be TOO shocking about clubbing life in Jakarta. Social climber? Hello? No ladder that we can see from up here! Nor we care!
• Mereka yang masih mempermasalahkan keluarnya Marcell dari Puppen. It’s so 90’s. Get the hell out of your broken time machine and start live in the now.
#6: The Timeless Underground War
“Karma kali, gara2 Marcell keluar dari Puppen dan malah jadi penyanyi pop.
Pernah tuh Puppen tahun 2002 apa 2003 gitu tampil di acara sma gw, mereka bawain lagu baru yang ceritanya tentang pengkhianat band metal yang beralih jadi lagu cengeng (Marcell)… [2] Mereka susah payah berjalan dengan idealisme mereka, tau2 ada anggotanya yang keluar demi suatu yang mereka mati2an tolak, tau nggak rasanya?” [Thread from Forum Kafegaul.com. Posted by: BU33]
Fact:
That is taken from the thread that’s supposedly discussing our divorce issue. Seriously.
Dee’s Comment:
Marcell keluar dari band bernama Puppen pada tahun 1998. Saat dia masih mahasiswa tingkat dua. Baru empat tahun kemudian, tahun 2002, Marcell berkarier menjadi penyanyi. Dan sukses. I don’t know which part of his career path that was taken so hard by so many people. But I tell you this: it’s been TEN FRIKKIN’ YEARS, people! Get over it! Gosh.
When he plays drum like a rocker and has a voice of a pop singer, do we really need to make him scream and growl? Just so he stays ROCK, UNDERGROUND, and INDIE? And in order to avoid that mortal betrayal, do we need to ban him from singing and forever stick him to his Pro-Mark sticks (though I know he would love to stick to his huge set of Tama Starclassic EFX Performer forever)?
And the funniest part is: within his five years career, Marcell has created three best-selling albums, a movie, a couple of tv series, and hundreds of gigs all over the country, while most of his critics have created… none.
#7: The Sekong Lekong’s Wishful Fantasy
“Katanya si Marcell ketahuan yah lagi pegang2an ama salah satu finalis L-Men 2008? Trus di sini dibilangnya Dewi selingkuh? Jadinya dicere’in. Nah karna itu, mereka nggak mau ngasih tau apa penyebab perceraiannya… [2] Iya, si Marcell kan waktu itu dikabarin lagi deket sama salah satu pria L-men… dan lagi Marcell sempet nyanyi pas di acara L-Men itu sendiri… dia dikabarin lagi rangkul2an gt trus ketahuan ama temen deketnya si Dewi, alias managernya… yah si Dewi nggak terima dong suaminya lekong gitu jadi putus deeh… [3] gue juga kaget waktu dengernya… Dewi aja nangis2 pas managernya ngomong gitu! lagian ****** banget managernya rada2 comel juga sih, masa suaminya kaya gitu dilaporin ke Dewi. Harusnya dilaporinnya ke publik.” [Thread from Forum Detik.com. Originally posted by: Vermouth]
Fact:
Marcell is as straight as an arrow, and has no interest whatsoever in L-Men, X-Men or A-Men. Sorry to disappoint some of you.
Dee’s Comment:
For me, this is the most hillarious finding. I just couldn’t believe how imaginative, creative, and yet delusional people can be.
#8: The New Religion and The Food Status
“Oh, dulu yang katanya pasangan celebrities yang pindah agama dari Kristen ke Buddha itu ya? Apa mungkin mereka pindah ke Buddha supaya cerainya gampang ya? Kirain dulu mereka pindah Buddha karena ajarannya… (2) Menurut saya ya, kalau seorang Dewi Lestari (dan juga Marcell) jika ingin bercerai pindah agama dulu ke Buddhist merupakan langkah yang tepat. Sebab kalau mereka tetap Katholik, perceraian mereka nggak bakal bisa dilaksanakan.” [Thread from Milis Spiritual-Group, Posted by: Bung DK]
Fact:
Setelah bercerai, Dewi dan Marcell kini berpikir-pikir untuk menjadi penyembah Dewa Tapir. Sebuah aliran berhala zaman baru. Para penyembah Dewa Tapir ini percaya akan datangnya hari kiamat bernama The Armagedillo, di mana semua makhluk akan musnah kecuali hewan tapir dan para manusia penyembah Dewa Tapir. Kelak, tapir dan manusia akan kawin silang dan menghasilkan spesies baru bernama Homo Ayanugello. Spesies baru ini akan menggantikan Homo Sapiens sebagai penguasa Bumi. Di bawah dominasi spesies Homo Ayanugello, kehidupan di Bumi akan berubah total. Dijamin akan ada kemudahan untuk segalanya. Baik itu kawin, cerai, tidak kawin, bikin KTP, bikin SIM, bayar pajak, dsb. And if someone’s still taking this statement seriously as fact, this time I don’t think even God Almighty will ever have mercy on your soul.
Dee’s Comment:
Dari hati yang paling dalam, jujur saya mengatakan: agama hanya cangkang bagi saya. Esensi terdalam dari sebuah agamalah yang menarik. Bukan kulit luarnya. Namun cangkang ini kadang memudahkan kita untuk aspek sosial dan bermasyarakat. Aturan pernikahan dan perceraian, menurut saya, ada di kulit luar. Jadi saya mengerti logika Bung DK. Tapi jika untuk bercerai saja saya perlu pindah agama, itu ibarat seseorang yang tertarik pada tusuk gigi di sebuah restoran, dan akhirnya memutuskan untuk membeli seluruh restoran. So inefficient, and so redundant. Out of the question.
Dan masih dari forum yang sama:
“Inti dari tulisan si Dewi tentang perceraiannya: Hubungan yang kadaluarsa. Ditulis dia sendiri pada paragraf ke 3, 4 dan 5. Bicara kadaluarsa, seperti sebuah produk maka tanggal pacaran mereka adalah tanggal produksi. Dan tanggal pernikahan mereka adalah tanggal pergantian kemasan barang dan peningkatan kandungan/ingredients dalam produk… Ada atau tidak ada kadaluarsa adalah pembicaraan yg mengarah sebuah penipuan. Penipuan atas kedok rasa bosan, eksplorasi dan pencarian sensasi. Kalau mau lebih enak ya undang si Dewi masuk milis ini.” [Posted by: David Silalahi]
Fact:
You’ll die. I’ll die. Amoeba will die. Even Earth is dying.
I wish we were all born with an expiry-date tag stapled to our butts so we know how much time left for us to talk all this nonsense. Unfortunately, we weren’t. Maybe that’s why so many of us waste our precious time on Earth scrutinizing and judging somebody else’s business.
Dee’s Comment:
Don’t bother to invite me in, David. Though I cannot see my expiry-date tag, I can feel that my time is not enough to discuss your issue with the word “kadaluarsa”. Dari observasi saya, sepertinya banyak sekali orang yang “korslet” dengan kata itu. Dan karena jerat bahasa dan kata ini, pengamatan kita sering dibuat melenceng. I don’t know what’s the real issue, tapi agaknya kata “kadaluarsa” dianggap menurunkan derajat kita menjadi makanan atau produk pabrik. Dan kita, manusia serba luhur ini, yang mengenal konsep agung semacam Cinta dan Tuhan, tidak layak dituduh punya jadwal kadaluarsa. Kita begitu terobsesi jadi abadi, atau setidaknya “memiliki” sesuatu yang abadi. Padahal jika kita jeli, segala kondisi dan fenomena akan berakhir. Tidak ada yang tetap. I don’t even think we *own* anything in the first place, even though we’d like to believe otherwise. Dan sejauh yang saya tahu, di liang lahat nanti kita betulan akan jadi makanan cacing. We’re food. We’re so edible. Ask Sumanto.
#9: The Mysterious Mid-Age Woman Revealed
“Marcell mendirikan rumah tangga dengan Dewi Lestari, pada 12 September 2003 dan mereka dikurniakan cahaya mata, Keenan Avalokita Kirana, 3. Tup! Tup! Baru-baru ini SS dikhabarkan mereka sudah berpisah. Disebalik cerita mengejut itu, SS tambah terkejut apabila dimaklumkan perceraian mereka angkara orang ketiga.
Khabarnya, wartawan Indonesia sibuk mencari siapakah kekasih baru Marcell hingga sanggup meninggalkan isterinya. Hebat sangatkah yang empunya diri sehingga berjaya merobohkan mahligai yang sudah bertahun dibina atas rasa cinta.
Hasil siasatan wartawan Indonesia itu lebih mengejutkan SS apabila dikatakan wanita yang bertanggungjawab menjadi punca keruntuhan rumah tangga Marcell ialah artis tapi bukan senegara sebaliknya dari seberang tambak Johor.
Artis itu dikatakan cukup terkenal di negaranya dan difahamkan janda anak satu. Bagaimanapun, SS kurang pasti sejauh mana hubungan Marcell dengan artis itu.
Sehingga kini, wartawan Indonesia belum tahu siapa artis wanita itu. Mungkin perkembangan artis di Singapura tidak sehebat artis di Malaysia.
Tapi selepas SS selidik sendiri, rupanya artis itu sedang berusaha membina nama di negara ini. Kalau tak salah SS, drama lakonannya sedang ditayangkan.” [MyMetro.Com – Soseh Soseh, Malaysia]
Fact:
Amazing, isn’t it? Bahkan negara tetangga kita, Malaysia, sudah mulai terinfeksi virus gosip “orang ketiga” dari jaringan media Indonesia. Walaupun kalau dibandingkan, media Malaysia yang satu ini lebih sportif karena masih mengakui bahwa dia tidak tahu pasti. Dan bagi rekan media se-tanah air, yang selalu tahu pasti akan segalanya, hentikan penyelidikan Anda sekarang juga. Saya akan memudahkan pekerjaan kalian semua dengan memberikan update terkini, sekaligus membuka tabir misteri, siapakah artis misterius yang sempat disebut sebagai “wanita paruh baya” di beberapa media Indonesia tanpa mengatakan “tidak tahu pasti” itu? Are you ready?
Her name is Rima Adams (this given link is under her permission). I’ve met her in person, and she’s such a sweet woman, and nowhere near half of century old. She’s a Singaporean actress who’s currently working on Malaysian TV series. Dan dia memang sedang dekat dengan Marcell sekarang ini. Kedekatan mereka baru dimulai setelah saya dan Marcell dengan mantap memutuskan untuk berpisah. I’m sincerely happy for them and wish them all the best for now and for the future.
Dan jika Anda sungguh-sungguh menyimak kronologi di atas, sebetulnya ada fakta yang lebih penting, yang (sayangnya) menurut feeling saya, akan kembali diabaikan oleh beberapa pihak demi kesenangan dan kepicikan berpikir mereka, but I’m just gonna say it: she IS NOT the cause of our separation (subtitle Melayu: dia TAK bertanggungjawab atas punca keruntuhan rumah tangga Marcell. Tup! Tup!).
Dee’s Comment:
By announcing this news to both medias, Malaysia and Indonesia, I feel so international (at least, regional). Cool. Totally.
#10: The Hands That Will Rock Your Cradle… and Grave.
“Dee – Reza Gunawan Takashimaya Singapore / 30 July 2008: Gw barusan (1.10 pm SIN) liat Dewi Lestari ama Reza Gunawan gandengan tangan di Takashimaya B2. I took back what I said earlier bahwa gw ngga percaya Reza Gunawan jalan bareng Dewi. Ternyata oh ternyata… Semuanya bull****. Mau Dewi dengan segala justifikasinya dan Reza dengan klarifikasinya… [2] Gw dah mau foto, tapi batere hp gw abis. Pas gw mau klik, dia udah ngga bisa buat moto. Tapi gw ngga mungkin salah karena gw pernah contact dia beberapa waktu yang lalu… Bullsh1t semua, coba deh baca blognya dewi, di situ ada link ke blognya Reza. Apa yang ditulis ngga sama dengan kenyataan… Gw liat dengan mata kepala gw sendiri mereka jalan berdua, gandengan tangan, terus makan vegetarian food. Masa iya kaya gitu cuman SAHABAT? Ke Singapore bareng? Please deh.” [Thread from Forum Detik.com. Posted by: Chocolate]
Fact:
Damn right we eat vegetarian food. We’re vegetarians! The only place where we’d be hanging out in the midst of Takashimaya food court must be a vegetarian food stall. Yes, it was us, all right. Saya dan Reza baru-baru ini memang pergi ke Singapura untuk mengikuti sebuah pelatihan penyembuhan. So, by all means, be proud of your ‘mata kepala sendiri’. Be very proud. But use them more carefully when you read our blogs next time. We never mentioned anything that contradicts what you saw with those eagle-sharp eyes of yours, darling. Tsk, tsk.
Dee’s Comment:
Poor baby. Hp-nya habis baterai saat ingin menangkap adegan yang dikiranya akan menjadi skandal nasional tahun ini. Jadi, daripada satu arwah terkena risiko mati penasaran di kemudian hari, akan saya tuntaskan cita-cita mulianya yang ingin mengabadikan adegan kami bergandeng tangan di Singapura:

Tidak hanya agar arwahnya terbebas dari kemungkinan gentayangan, saya pun ingin membuat ia kelak mati tersenyum, bahkan hidup bahagia, detik ini, dengan memberikan beberapa bonus foto lagi:

Lihatlah bagaimana kedua tangan kami bermain aneka adu ketangkasan, dari mulai panco sampai injit-injit semut, bahkan melakukan pose balerina yang sedang akrobat. Semuanya khusus untuk Anda! Tak lupa, kami pun mempersembahkan sebuah karya seni, berjudul “American Eagle” by Dewi & Reza:

Oh… sebentar… tampaknya masih banyak dari teman-teman di Forum yang belum merasa puas. Baiklah. Spare your batu bata and head-hammering emoticon. Kami akan menyiapkan foto adegan yang paling Anda tunggu-tunggu… sebuah aksi panas yang pastinya mampu membakar Forum diskusi Anda…

So, rest in peace, my friend. May these small tokens from Singapore will make your days merrier. And don’t worry, all pictures were actually taken in Singapore, in Changi Airport (you can match the carpet’s pattern in our photo through some lab analysis). When it comes to factuality, hey, we’re the guys you can count on.
Barangkali akan ada yang bertanya: untuk apa saya menuliskan semua ini (aside from a good laugh)? Simple. I’d rather speak for myself than having bunch of infotainments or gossipheads do it for me. It’s so much fun to create our own infotainment. And sure, they may still do what they need to do, but I’m not gonna miss all the fun. Heheh.
Demikianlah ulasan iseng-iseng tidak iseng saya. Selama kurang lebih sebulan berita tentang perpisahan saya dan Marcell bergulir, begitu banyak hal yang bisa saya renungkan dan pelajari hanya dengan mengamati berbagai reaksi dan komentar yang dilontarkan media, publik, termasuk dari orang-orang yang kami kenal secara pribadi.
Pertama, reaksi bungkam sering diartikan sebagai tindakan terbijak, karena itu membuktikan bahwa kita kebal dan tidak terpancing emosinya. Kita bahkan punya semboyan: diam berarti emas. Namun seringkali “bungkam” yang terjadi adalah menyumpal mulut setengah mati, sementara hati panas terbakar seperti neraka. Kondisi itu, dalam istilah saya, menjadi: diam berarti emas imitasi. Jadi, dalam diam kita, sesungguhnya kita bisa sangat terpengaruh dan bereaksi. Dan di balik sikap tidak bungkam, seseorang bisa jadi betulan kebal dan tak terpengaruh. Ia hanya semata-mata ikut bermain dengan arus tanpa tenggelam di dalamnya.
Dengan menuliskan kedua posting terakhir ini, Anda bisa melihat bahwa saya tidak memilih sikap seratus persen bungkam. Tapi jangan salah. Tujuan saya menulis ini juga bukan untuk membuktikan bahwa saya sama sekali imun dari reaksi emosi atas gelombang gosip (bahkan menjurus fitnah—as you can see) yang terjadi seputar isu perpisahan saya. Saya sangat punya reaksi emosi, yang juga berwarna-warni. Namun inilah puncaknya: life is so darn funny. It’s the best comedy ever. And I choose to laugh.
Kesimpulan kedua saya, semakin seseorang tidak mengenal kita, semakin banyak ia berkomentar. Semakin seseorang mengenal atau memahami kita (tanpa perlu kenal), semakin sedikit dan berhati-hati ia berkomentar.
Another “bullshit theory” of mine? Yeah. You wish.





Brian said,
August 7, 2008 at 5:40 am
You rock, dee. Now they must be laughing at themselves! And that’s the most ironic part. How pathetic!
Anyway, I myself can’t stop laughing at the HANDS part. Too hilarious. You made my day!!
Brian Novanto
eeajadiclana said,
August 7, 2008 at 5:57 am
wuakakakak…..
lucu bacanya, ga penting ya mbak???
media kok membelenggu fakta
ffiuh….
cayo mb dee…. v(’_')v
~~Devita~~ said,
August 7, 2008 at 6:48 am
“semakin seseorang tidak mengenal kita, semakin banyak ia berkomentar. Semakin seseorang mengenal atau memahami kita (tanpa perlu kenal), semakin sedikit dan berhati-hati ia berkomentar.”
setuju banget dee…..
have a wonderful day!
Anonymous said,
August 7, 2008 at 6:58 am
salut buat dee….
salut dengan pemikirannya dan cara mengatasi gossip
diam berarti emas imitasi
brilliat banget!!
hmm.. what can i say ya…
yang penting happy with our lives
karena hidup cuma sekali
gak tau nanti setelah mati jadi apa
from one of member f detik forum
gugun said,
August 7, 2008 at 7:29 am
whaaaaaaa….jangan keasyikan nanggepin sampah kayak gitu mbak, mending simpen energinya buat selesein “partikel”, saia udah g sabar pengen baca..-.-
semangat ya mbak!
tammi prasetyo said,
August 7, 2008 at 7:34 am
dewi rocks!
goodluck for all the things happen to you..
salam buat keenan, saya mau menunggu keenan yang imortal.
eckodiver said,
August 7, 2008 at 8:37 am
keren… kerennn
dah beberapa hari ini gw ngikutin forum gosip, awalnya sih iseng2…
tapi kok makin aneh.. hehehehe
setelah baca ini asli ngakak gw….
kebayang gimana reaksi mereka yang gosipin mbak dee n nyesel gak bisa moto….
keep the good work mbak
eckodiver@yahoo.com
Eddy said,
August 7, 2008 at 10:37 am
Mbak Dewi…
THIS ROCK!!!
go go super girl! hehehe
best blog in 2008.
gila sekali sih forum2 dan semua wartawan2 detektif itu??? punya dendam apa sama Mbak?
tetap tabah (baca : ROCK THEM!)..
Super Full support from me – not an important person but its SUPER FULL SUPPORT!
didut said,
August 7, 2008 at 10:57 am
hahaha~ baru kali ini baca blognya dee yg panjang tanpa dahi berkerut
Anonymous said,
August 7, 2008 at 2:32 pm
Forum gosip detik mah gak usah diladeni. Kebanyakan low class. Picik. Kecuali ada sih beberapa yg bertutur bahasa baik dan gak kasar.
Kadek Adidharma said,
August 7, 2008 at 3:32 pm
Dee, ever think of doing a special charity stand-up comic act? You’ve got all the makings of a good hour-long show here! You had me rolling in laughter!
I second Gugun’s motion, though. *chanting*: “we want partikel… we want partikel… we want partikel”
Hakuna matata, Kadek
Jenny Jusuf said,
August 7, 2008 at 5:00 pm
“Dan sejauh yang saya tahu, di liang lahat nanti kita betulan akan jadi makanan cacing. We’re food.”
Atau makanan burung, di atas gunung. *hey, that rhymes!*
;-D
7ustm3 said,
August 7, 2008 at 5:41 pm
Wow… that’s my first impression ^^
You did a great thing
silence is not always a pure gold, though sometime it is.. ^^
and i definitely agree with your last theory bout friends ^^ nice thought
keep up the good work ^^
Anonymous said,
August 7, 2008 at 6:04 pm
Dee,
kata orang khe,”an thai hi ma” artinya turah energi, turah waktu, wong jowo ngarani lambine turah..kelebihan bibir;) kata Samuel Mulia, itulah kalo sekolah bibir’e ketinggalan di rumah, hehe…adooo bae…ngapolah berpayah-payah neropong urusan wong. Sang Buddha bae berkalpa-kalpa kelahiran berpuuayah-puuayah meneropong diri agar bisa melucuti satu persatu predikat payah dalam diri…
kapokmu kapan kata orang Jawa;)
salam,
Chindy
celengan_bagong said,
August 7, 2008 at 6:25 pm
You GO mba….
Abin Adika Ranggala said,
August 7, 2008 at 6:58 pm
Perutku sampai sakit baca bagian Dewa Tapir (kalau gak salah bahasa latinnya Tapirus indicus yach)
Sungguh kecerdasan linguistik kamu luar biasa…
Gak sabar menunggu gosip lainnya…
bloggerbercerita said,
August 7, 2008 at 7:09 pm
Hahahaha… Abis baca ini pasti nanti semakin banyak tanggapan atau gosip yang aneh2 aja. Save your energy, Mbak Dee. They’ll never understand. Bagi mereka mengurus urusan orang lain, mendramatisasi kisah hidup orang lain itu jauh lebih menyenangkan daripada mind their own business. Bergunjing itu menyenangkan, begitu katanya. Hehehehe…
roi said,
August 7, 2008 at 7:37 pm
Dee
Thanks for the hilarious posting prior to weekend.
Thanks God It’s Friday
hehehe
Topik said,
August 7, 2008 at 9:12 pm
Cool,,
i know you’re better than media said..
keep up ur good work,, i’ll support u…
ojochan said,
August 7, 2008 at 9:41 pm
I LOVE YOU, MBAK! Good God, i’ve been having heaps of good laughs reading this post. After reading your first post explaining the why’s and how’s of your divorce, I fell in love with the way you think. And after this Dewa Tapir and hand pictures, I can only say: YOU’RE MY NEW IDOL!
ROCK ON!
Anonymous said,
August 7, 2008 at 9:42 pm
Dear Dee,
Thank you for a very entertaining read and I must laugh here just to get it out of my system.
HAHAHAHHAHAKHAKAAHKAKAKAKK!
Man, and they say you're a serious person. Clearly they don't know anything about you.
Just a note on the C&R 'interview',
I remember so very clearly: Back in the days where I was still employed a magazine, I've gotten to know a fellow entertainment journalist who used to work for these so-called tabloids and he told me (ever so proudly) that there is a journalism "technique" called:
WAWANCARA IMAJINER
I was intrigued by this concept and continued to pursue the meaning behind the ubiquitous words. He went on explaining that in some magazines and mostly tabloids, they are allowed to stretch out the facts and muster up lots of imaginations to 'entertain' readers. I tried to argue that it's somewhat wrong, but he tried to convince me that tabloids are meant not only to deliver news, but also to entertain readers. When I argued some more, I was cornered with the fact that I don't even have any journalism educational background to begin with. And this shut me up. Because had we were arguing about what sort of pillow matches a couch, I would have yanked his balls and say he doesn't have the background in interior design. The best thing to do back then is banning the 'wawancara imajiner' thing from penetrating into my magazine, and I've seen some dirty looks thrown at me when I announce this in staff meeting. In addition, I worked freakishly long hours to verify each and every article alone because the guy who revealed this to me won't help me (duh).
And then I tried talking about this with some of my friends who happen to know some people in the tabloids… and they mildly said to me: "Well, they're just doing their jobs. The objects are their inspirations, so who's to blame?" And I ask to people, who indeed? No satisfactory answer came out of this but the classic: 'the higher the tree the harder the wind' et freaking cetera.
Ah yes. The price of fame -or whatever-.
My point is, these people are clearly delusional. And sadly, nowadays some bloggers are heading the same way. Trying to be Perez Hilton, perhaps? Hahahaha! I really admire them.
I really don't know what to say about your divorce from Marcell, I want to get all sympathetic, but you seem so logical about it. So it's best that I laugh with what you cleverly gathered from around the net. I'm still laughing and am craving for more laughs. If not on dee-idea, I'll settle for dee-unessentials.
Anonymous said,
August 7, 2008 at 9:43 pm
go dewi go………….
dari awal aku dah ga percaya dgn semua gosip murahan yang sliweran di tv
setiap orang pasti punya alasan dalam mengambil keputusan penting di hidupnya
dan mungkin dewi ingin alasannya itu tidak dipublikasikan, sah-sah saja donk
maju terus dewi, jangan pedulikan gosip.
hlj said,
August 7, 2008 at 9:57 pm
mbak dee..
dulu saya bingung kalo ada artis bilang dia jarang sekali punya privasi, dan media benar2 senang ngarang cerita bohong soal dia.
Mungkin, karena saya sendiri bukan artis dan jarang sekali menemukan cerita bohong tentang diri saya sendiri ditambah lagi fakta kalau wartawan punya kode etik yang tidak boleh dilanggar, saya tidak sepenuhnya memahami kata-katanya. saya benar-benar tidak paham, bagaimana seseorang saking kurang kerjaannya bisa membuat cerita fiksi, dan mengklaim itu cerita nyata, parahnya lagi, kalau cerita itu menyangkut kehidupan seseorang di dunia nyata.
jadi kalau ada berita miring soal seseorang artis, saya selalu menganggap kemungkinan besar berita itu benar, karena kalau artis tersebut benar2 lurus, bagaimana mungkin bisa ada berita miring soal diri dia.
tapi setelah membaca blog mbak Dee..saya benar2 PAHAM sampai ke akar2nya.paham, bahwa fakta terdistorsi bisa turun sampai ke tahap cerita imajinasi, paham susahnya hidup artis, paham kalau ‘judgment’ saya tentang seseorang sering sekali terdistorsi dengan tampilan luar.
haha…tulisannya mbak dee benar2 lucu dan bisa menyampaikan dan mengklarifikasi banyak hal bagi orang yang masih punya akal sehat.
pokoknya, ‘i pray the best for you and i can’t wait for the next supernova’
Ben said,
August 7, 2008 at 9:59 pm
ck ck ck, harusnya malu tuh media-media yg nulis ngawur gitu…
ditunggu posting2 ‘iseng’ lainnya
richoz said,
August 7, 2008 at 10:07 pm
mau daftar ikutan
aliran penyembah berhala dewa tapir
*worship*
Anonymous said,
August 7, 2008 at 10:19 pm
Never really bothered to watch or listen whole-heartedly to those infotainment programs. What bothers me is that people do make a living by discussing and analyzing other people’s live. Ngga ada kerja lain yang lebih enak ya?
Chichi said,
August 7, 2008 at 10:24 pm
Keren banget, terutama foto-foto panas kalian! Hahahahah..
Mba Dee, just wondering, aku dulu pernah survey ke rumah mba Dee di awiligar, untuk acara Griya Unik tahun 2006, masih inget ngga?
I really really love the house. Sekarang ceritanya rumah itu gimana ya Mba Dee? Apakah dijual atau disewakan? Kalo boleh tau arsiteknya siapa ya?
Maaf nanya-nanya, ngerepotin hehe soalnya pengen banget punya rumah kaya gitu.
Makasih
Anonymous said,
August 7, 2008 at 10:29 pm
dee….quote from Joker, he said
“WHY SO SERIOUS??”
tata said,
August 7, 2008 at 11:26 pm
salam kenal mbak dee.. orang mungkin sering bilang diam itu emas. tapi kalo menurut saya harus liat kondisinya dulu. karena terkadang justru bicara itu tambang emas..
suka banget baca blognya mbak.. terus terang saya baru buka blognya mbak hari selasa kemaren.. karena telat, jadi saya mulai baca dari tahun 2006..(ngisi waktu luang pas longgar kerjaan magang) hehe.. saya suka topik mengenai global warming.. jadi lebih nambah pengetahuan dan kesadaran.. saking antusiasnya, waktu saya nelpon keluarga di sumatera saya kembali mengulas ulang paparan mbak tentang global warming.. telat sih.. tapi dari pada nggak sama sekali.. sekarang kami sekeluarga sedang mengusahakan untuk mengurangi konsumsi daging dan hal lain yang sdh mbak paparkan n_n..
makasih untuk penyampaiannya yang menyadarkan..
akan terus setia baca blog ini..
oh ya mbak, simpen tenaganya buat nulis aja.. jangan sampe capek pikiran nanggepin berita atau komentar orang yang sok tau padahal gak tau..
Vavai said,
August 7, 2008 at 11:54 pm
well,
Penjelasan yang sangat bagus. Forum Detik memang kebanyakan dijadikan keranjang sampah, jadi maklum saja kalau banyak yang menghabiskan waktu disana.
Penjelasannya komprehensif, lugas dan tegas. Two thumbs up buat dee…
woro pratiwi said,
August 8, 2008 at 12:24 am
maaf sebelumnya mbak, terlepas dari benar tidaknya soal gosip yang beredar dan marak, soal perceraian mbak bukan hal aneh buat saya, karna dari awal mbak&mas merit saya memang sudah meragukan kelanggengannya, saya malah berpikir "akan kuat berapa lama..?" karna saya melihat dua dunia yang memaksakan untuk saling memahami, apalagi saya melihat mbak lebih dominan dan mas terkesan "iya ajah". saat itu saya pikir, toh kalupun ada perceraian itu adalah lebih karna ketidakcocokan mengenai prinsip-hidup-pemikiran dan diputuskan bersama.
entahlah, yang saya rasakan berdasarkan apa yang saya lihat begitu adanya mbak, so saat kabar itu beredar saya hanya menghela nafas dan berkata "akhirnya.."
saya tahu saya bukan tuhan yang bisa tahu apa yang terjadi di masa depan dan bisa mengeksekusi (baca:menentukan), saya bukan mama loreng atau ki kok bodoh , tapi intuisi saya berkata begitu, sekali lagi maaf lho mbak.
memang orang yang tidak mengenal lebih banyak berkomentar, tapi ingat: orang mengenal bukan hanya dengan melihat dan berbicara, tapi juga dengan hati yang terpancar lewat aura, yang ada di hati bisa terlihat dari luar kok kalau hati kita juga peka.
soal posting mbak, mungkin yang dimaksud orang itu yang curhat ke dia bukan mbak, tapi mungkin saja yang dimaksud dia adalah orang yang dianggap orang ketiga itu yang curhat ke dia. mungkin.
mbak, jujur saya agak sedikit risih dan kecewa kenapa mbak harus memposting soal ini. tadinya saya yakin (baca:harap) tidak ada posting soal berita perceraian yang beredar, tapi ternyata tidak. karna saya pikir mbak bukan orang seperti ITU (orang yang menanggapi celoteh orang kalau memang itu tidak betul).
yang ingin saya dapatkan dari blog mbak ya soal hidup-lingkungan-esai atau apalah dan tidak ada urusan pribadi apalagi menanggapi gosip itu. saya ajah waktu lihat beritanya hanya bilang "ohh.." dan tidak mau tahu kelanjutannya, benar atau tidak bukan urusan saya, dan dee bukan seleb yang asik untuk dipergunjingkan (misal:tidak seperti D*** P*****), saya lebih asik membahas dee soal karya-karya dee. kalaupun cerita soal pribadi, itu hanya sebagai cameo-ilustrasi-inspirasi saja. seperti terkadang mbak berceloteh tentang tingkah laku keenan yang menginspirasi mbak untuk berpikir dan menulis.
mamalia said,
August 8, 2008 at 12:31 am
Itulah artinya mata yang bebas melihat, dan semua anggota tubuh yang bebas bereaksi.
Ada baiknya kita semua pandai menjaga diri agar bisa terhindar dari segala fitnah yang datang dari mata, anggota tubuh.. dan terlebih hati.
IcaLL said,
August 8, 2008 at 12:34 am
ah you remind me of someone
by the way thank you for making my day dee
cimut said,
August 8, 2008 at 1:46 am
mbak dee…
hehe aku suka yg cerita ttg tapir…
jd kebayang, apa jadinya ya kalo beneran…
( >:) mi n mi imaji )
u go girl!
Arin Yahya said,
August 8, 2008 at 2:13 am
This is HILARIOUS!
You are hilarious!
Have you ever think of doing a stand-up comedy?
isman said,
August 8, 2008 at 2:49 am
Maaf, Dewa Tapir menyampaikan pesan agar sebaiknya namanya disamarkan. Kalau terlalu populer, nanti terlalu banyak orang yang harus diselamatkan saat Armagedillo, padahal kursi terbatas.
Dewa Tapir tidak ingin terpaksa menyeleksi orang-orang terselamatkan dengan memainkan game musical chair.
Dewa Tapir telah bersabda, dan berharap untuk selanjutnya cukup diacu sebagai Dewa Ta.
run-d-man said,
August 8, 2008 at 5:27 am
thank god i never watched the so-called infotainment or gossip shows watever… my brains are much worthy to get brainwashed by them….sorry to say but i guess it might be kind of intellectual degrading process to work in such media.. wat benefit could it get? only to cover themselves for wat they really are……… feel sorry for our beloved growing nation….
CHA said,
August 8, 2008 at 5:29 am
dee!!
ikutan nyembah dewa tapir..
huakakakak.
gosip yang mantabhs abiss.
kupas tuntas
setajam.. tapir!! LOL.
.cha.
Vavai said,
August 8, 2008 at 10:02 am
@Woro Pratiwi,
Saya pribadi mengapresiasi posting Dee ini. Jika kita membiarkan berita tidak benar tentang kita, lama-lama orang akan menangkapnya sebagai sesuatu yang benar.
Pratiwi mungkin bisa membedakan berita infotainment atau tulisan di forum yang ngawur tapi seberapa banyak orang yang punya akses dan kemampuan kesitu.
Saya, tanpa penjelasan Dee disini, kemungkinan besar akan menganggap hal tersebut sebagai fakta karena saya tidak punya pembanding.
Bahwa jalan hidup seseorang berakhir pada perceraian dan itu terbaca sejak awal mereka menikah, well, luar biasa. Tak ada orang yang menikah untuk bercerai dan jika itu dilihat dari awal sebagai menyatukan 2 dunia yang berbeda, toh pernikahan memang tidak melulu harus sama dunianya. Pernikahan 2 orang yang sama dunianya kemungkinan besar justru akan lebih banyak bercerai karena tidak ada rasa saling mengisi disana.
Soal curhat yang ditulis di forum detik dan beberapa forum soal fakta yang tidak benar, saran saya, silakan baca forum tersebut, akan terlihat bahwa tendensinya jelas-jelas mengaburkan fakta.
Anyway, Dee mungkin jauh lebih kalem dan lebih pas menanggapi saran Pratiwi seperti halnya Dee menanggapi gosip-gosip tersebut. Saya menulis tanggapan ini karena saya mengapresiasi penggunaan blog oleh Dee untuk menangkal dan memberikan penjelasan soal gosip pribadi.
Blog, tak aka didistorsi oleh salah dengar wartawan, oleh tendensi media dan oleh hasrat gosip infotainment.
OnO said,
August 8, 2008 at 10:13 pm
way to go dee!!!
btw, sebulan ga ntn tipi tau2 dah ada brita ginian?
media indo hav a lot full of crap…
*no offense buat para kuli berita yg mencari sesuap nasi dari kebohongan demi kebohongan
AnotherWordfrom OnOpuccinno
-blogger yg dah ga penah ngeblog lg-
Dewi Lestari said,
August 8, 2008 at 10:31 pm
Dear all,
Thank you for making time to enjoy the post and drop a comment.
Btw, I’ve received one comment from Anonymous, who dared me to publish his/her comment here. Here’s the excerpt so you know who you are:
“You know I don’t have a grudge against you, heck, I don’t even know you! But I just wanna say that you’re too overrated my dear and I’m entitled to state my opinion, so read on and put it on the comment page if you dare.”
I don’t have any problem with the content of your comment. Not at all. But based on your request, I think it will be fair to ask you one thing also. My request is simple. Put your identity, full name, and an e-mail add or a site, as I’ve also write openly about myself with my complete ID.
As you have accused me to feel “above human”, I clarify one thing: I don’t feel I’m above human. I’m just a human. That’s why I’m asking you to “upgrade” yourself to also become a “human”. Yang dalam konteks ini artinya, tell me who you are, then we can communicate fairly.
If you’re just going to hide behind false or anonymous identity, I see no difference between you and the majority of Detik Forum, even though you claimed you’re not one of them (but just following their discussion–rrr, yeah, right).
Once you write your identity, I’ll publish your comment right away (I’ve kept it in a Word doc, and will not edit a word of it).
Regards,
~ D ~
Iza Hairani said,
August 8, 2008 at 11:26 pm
Ha ha ha ha you are so hilarious! Love your sense of humour!!
bank_al said,
August 9, 2008 at 12:14 am
Ternyata gosip dari si korban memang lebih menarik daripada gosip di TV ya? I like this post.
Meita Nahar said,
August 9, 2008 at 1:17 am
Be patient Dee…
Life is composed of a series of con incidences which we have no control over them
Madé Harimbawa said,
August 9, 2008 at 2:30 am
huahahahah… thanks for the laugh!
untung saya (dulu) batal jadi wartawan; salah satu pekerjaan yang engga gampang. sering dihimpit kepentingan untuk menghasilkan uang (memuaskan pembaca) atau menyajikan kebenaran yang kadang (atau mungkin sering) hambar bahkan pahit. sayang, tidak sedikit yang lebih mengambil pilihan pertama. sayang!
salam,
MH
Kunderemp "An-Narkaulipsiy" said,
August 9, 2008 at 3:10 am
Whoa.. my friend, ojochan put one of her comments here…
Perhaps if she convert to Tapir-worshipper, I’ll follow her.. wakakak…
Of course that was a joke.
Phew..
I didn’t know those gossip-journalist even dare to put “imajinary” dialogue into reality.
Dewi Lestari said,
August 9, 2008 at 3:11 am
Untuk Chichi,
Rumah masih kami keep, biasanya kami kunjungi kalo weekend karena masih harus bolak-balik juga (Keenan mengunjungi nenek-kakeknya, dsb). Sekarang ditempati oleh adik saya.
Arsiteknya bernama Arie Kusuma, bisa dihub di 081-722-7180.
Semoga bisa membantu,
~ D ~
Peny said,
August 9, 2008 at 8:05 am
wah seru banget, baca tulisan dee yg beda ini. full report, dan ada humornya, hahahaha…
thanks utk hari ini.. >:D<
F&M said,
August 9, 2008 at 8:42 am
Dee pls be patient, seems like u lose abit of ur cool.
If u believe in karma, maybe u r harvesting ur bad karma in previous lives. No need to brood abt it. Let it go. U’ve paid ur debts.
Don’t lose ur cool.
Sebuah tempat seperti telaga, bernama safar.... said,
August 9, 2008 at 4:31 pm
semangat, mbak dee!!!
BackCat said,
August 9, 2008 at 6:18 pm
HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH
HA… HAHAHAHAHA….
Darn, i can’t stop laughing. What the hell is the world (hell? world?) i’m living
Ever think to leave this lovely indonesia, oh dear dee? :p
For the first 3 entries, i can’t stop laughing. Up to 8th and 8th entry, darn
i got to leave my seat and ROFL (i wish my office got a roof, so i can freely
scream in laugh, laugh in scream, whatever. it’s sunday anyway)
Saya akui, memang susah menyusun kata2 yang bisa ‘memuaskan’ makhluk2 sekitar kita
yang biasa disebut masyarakat. Membaca entry sebelum ini, ‘Catatan Tentang Perpisahan’,
darn i almost think this entry was a perfect way to tell them, sengaja dipilihkan kata2
sederhana yang (semoga) bisa diterima akal sehat mereka, eh taunya…
Harus saya akui, masyarakat kita memang sangat berdedikasi tinggi, tapi khusus untuk
urusan mengurusi urusan orang lain (quite confusing already?)
I wrote this when i was in 9th entry. What i’m doin’ after that? Surely, read the 10th
entry. Wanna know what happened? I wish i could kill myself (or maybe i wish i could
be the one with the camera). Next time you hear someone died by laugh, no doubt, it’s me
I was and am reading all the blogs by dee (as well as the WHOLE supernova series), but i hold
myself not to press unnecessary keys (they call it typing) in comment submission, yet can’t
hold it any longer
I write this paragraph after read the last paragraph of the last entry, and i wish i could
be the one dee call in the last sentence of the last paragraph of the last entry, hope this
would be my last unnecessary typing, *sigh*
NB: That melayu subtitle was COOOL. Totally.
Feb said,
August 9, 2008 at 7:36 pm
Dee..kmu seseorang yang saya tau krn RSDnya. Trus tau juga sih klo ada bbrp buku karanganmu, tp begitu saya baca sinopsisnya..weks.. ga jd baca deh, abisnya baca sinopsis aja IQku ga nutut, ga ngerti ..hahaha bahasanya susah.
Saya baru tau blog ini seminggu lalu krn ada yg email postingan ini. Comment saya.. WOW! AMAZING! Gue bangeeettt… Duh aku jadi cinta banget sama Dee &postingan ini. cup cupo muac..wakaka
Yah siapa sih yg menikah sudah dgn pemikiran divorce? Tp hal spt ini juga sudah saya pikirkan seandainya hal tersebut sangat terpaksa terjadi.
Saya juga suka jawaban atas "ego"mu di comment ini, krn hal itu yg saya blm bisa jawab dgn bagus saat ada orang menanyai saya ttg pilihan ini. So, abis gini gue jiplak yah Dee
Dee, boleh ga kucopy paste pokok pikiran pd postingan ini ke blogku? Ntar aku kasi adopted from blog ini. Sangking udah terkiwir kiwirnya neehh
Feb said,
August 9, 2008 at 7:50 pm
Huahaha.. i love your “Dewa Tapir”. Sampe cekikikan sendiri bacanya. Thx Dee, u brighten up my day
Udah lah Dee, bilang aja “Don’t talk too much” yg bahasa Surabaya-nya “Ojok kakean cocot” ..wakaka
Eh, masak di Indo media2 ngawur gitu ga bisa dituntut ya? Kok rasanya sering baca artis LN memenangkan tuntutan atas media2 ngawur gitu?
Anonymous said,
August 9, 2008 at 9:00 pm
Tong kosong nyaring bunyinya. Biarkan saja mereka bicara gosip2 ndak jelas. Kayak kurang kerjaan aja. Idup terlalu membosankan sampe mau tau urusan orang-orang laen segala. Pake nyebar2 berita gak bener lagi. Padahal bohong itu dosa. Ya ndak, mbak?
dela said,
August 10, 2008 at 2:25 am
Sumpah!!!
Lucuuuu bgt!!!
I never judge you like all of them..
Dee Rocks!!
Anonymous said,
August 10, 2008 at 2:37 am
Mba Dee, I’ve been in your situations, when everybody’s making up stories about my problem.
Hati ini mangkelnya memang stengah mampus, alhasil curhat di blog, eh tau2 ada yg baca2in blog gue dan dr blog gue pun dibuat crita baru lagi… Hahahahaa… Funny though, I think.
I quoted this statement from internet:
“We cannot control the evil tongues of others; but a good life enables us to disregard them.”
Kalo sekarang sih, gue udah terlalu males nanggepin “cerita imitasi”. Buat gue sekarang “diam imitasi” adalah cara terbaik utk “saving my energy” ngurusin hal2 penting di hidup. It isn’t worth my nerves. Hehee…
*Carpe Diem*
Evy said,
August 10, 2008 at 5:43 am
Tapir is my favorite animal, hehehe….
bacaan yang bagus, membungkus rasa marah dan kesel dan sebel dng kata2 yang sopan, saya harus belajar nih..
Have a nice day D !
Dewi Lestari said,
August 10, 2008 at 8:13 am
To F&Amp…
It's so obvious that I don't have any intention to keep my cool. On the contrary, I'd like to lose them all. It's fun to be that way, sometimes.
Karmic debt? Oh yeah, we're paying it in every second we breathe.
Yang mau nge-link, silakan saja. Thank you sebelumnya.
~ D ~
ariy said,
August 10, 2008 at 8:45 am
Bila memang benar adanya bahwa ada wawancara imajiner, sebagai orang media saya sedih. Saya percaya Dee harus mendapatkan lebih dari sekadar klarifikasi di blognya. Dee patut mendapatkan haknya. Saya sedih saat media playing God, membuat ruang, membentuk karakter, dan memutuskan percakapan-percakapan apa yang harus dilakukan di dalamnya seperti yang mereka inginkan, mencetaknya berlembar-lembar, dan membuatnya seakan fakta. Dee bisa melakukan lebih dari sekadar posting klarifikasi di blog ini.
Di luar itu, saya selalu mencintai tulisan Dee. Sampai saya harus mengulang, mengeja, mengulang, mengeja lagi, sejak ini begitu menyenangkan, terasa seperti moment ternikmat saya: membaca koran di pagi hari lengkap dengan kopi hitam di mug hijau kesayangan saya. Saya setuju dengan Brian di comment sebelum ini: U rock Dee !!!
Anonymous said,
August 10, 2008 at 9:36 am
hahah secara aku gak terlalu kenal Dee… jadinya berkomentar deh, tapi berusaha hati2 lah walaupun ga kenal baik
semuanya bikin salut, tapi yang paling salut tentang :
- perumpaan tusuk gigi dan restoran
- tentang tanggal kadaluarsa di daerah ‘itu’ wew..
dan saya juga setuju dengan teman2 laen yang menunggu PARTIKEL heheh
trus Rectoverso tuh udah launching belum?
dan akhirnya, semoga masalah kali ini beres, soalnya pasti akan ada masalah2 laen yang dateng hehe. namanya jg idup.
regards,
Noel
Burat said,
August 10, 2008 at 10:05 pm
Mungkin baiknya wartawan-wartawan infotainment itu jadi penulis fiksi sekalian aja ya, Mba? Siapa tahu mereka malah sukses dan profesi wartawan pun tidak tercemari.
Oh, atau Mba Dee bikin buku aja, judulnya “Kumpulan Cerpen Wartawan Infotainment”, hehehehe…
This hilarious posting is so inspiring.
Saya link ya, Mba.
deka said,
August 10, 2008 at 10:20 pm
saya kutip kata bijak
“if someone is wounded by a poisoned arrow, he would not delay taking it out so he could first find out the exact details of who shot it, the reason that person shot it, where the arrow was manufactured, etc. If he attended to understanding all these matters before he pulled out the poisonous arrow, he would probably die”
Dian Ina said,
August 10, 2008 at 11:30 pm
Kocak!
Seninku nggak muram, mendung dan ngantuk lagi.
Dimana aku bisa bergabung dengan Dewa Tapir?
*ngakak terguling-guling*
alti said,
August 10, 2008 at 11:51 pm
makin cinta deh ama dee….:P..dee emang cerdas!
manik said,
August 11, 2008 at 12:59 am
I always love her blog…
she's smart
be thankful for it sis! ^^
oya,
saya salah satu orang yang menyayangkan perpisahan dee & marcell… pasangan yang pada kacamata saya terlihat sangaaaaattt romantis & punya hubungan yang "dalem"
btw, mbak…
kok bisa pas banget ya kejadiannya… dee-marcell break-up, then rima & reza's showed up…
hehehehe…
just an unimportant comment of mine…
Anonymous said,
August 11, 2008 at 2:00 am
mba dewi,
komentar saya setelah baca tulisan ini….duuuhh….marah2 aja kok keren bgt siihhh…i wish i am at least half as good as you dalam menulis….keren bgt..lucu bgt…SALLUUTTTT!!!
Anonymous said,
August 11, 2008 at 6:36 am
Dear Dee,
You Go Girl! You know there are lots of stress people (read: journalist) in Jakarta.
I think what you do here is just about being fair and true to the reality.
Be strong and just ignore those “Suara Sumbang”, cause at the end of time only the source directly who knows the truth.
Cheerz,
Erza S.T.
Anonymous said,
August 11, 2008 at 7:58 am
HAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA
Haduh Teh, saya sampai sakit perut bacanya!
stanzah said,
August 11, 2008 at 10:36 am
really i adore you..:D
benzwu said,
August 11, 2008 at 5:38 pm
What the….
Memang media gosip Indonesia nga ada matinya. Lha wong artis tenang2x saja bisa ditawarin utk di gosipin sekadar buat publikasi. Yah buat mereka dapat berita baru.
Sudah tidak jelas mana yang kenyataan dan mana rekaan. Hidup dalam delusi.
Anjali,
Sati,
.benzwu
sar. said,
August 11, 2008 at 5:42 pm
haha! kocak parah.
tp beneran deh, drpd mereka (wartawan mksdnya) susah ngejar2 mbak dewi buat interview, knp ga baca dr blog aja sih. mereka kan ga gaptek.
dewi said,
August 11, 2008 at 9:26 pm
SEbuah postingan berisi justifikasi yang menurut saya nggak penting Dee…
Kenapa tidak membiarkan anjing menggonggong?
nesa said,
August 11, 2008 at 9:27 pm
Mbak Dewi..
lucu banget tulisan yang terakhir..
kayaknya biasa deh gandengan tangan…nesa juga pernah tuh jalan gandengan tangan ma bokap sendiri, tapi disangka jalan sama om-om gimana gitu…hueheuheeu memang benar yang dibilang mbak dewi “semakin seseorang tidak mengenal kita, semakin banyak ia berkomentar. Semakin seseorang mengenal atau memahami kita (tanpa perlu kenal), semakin sedikit dan berhati-hati ia berkomentar”
Ok deh mbak Dewi
sukses Terus yah…
dian said,
August 11, 2008 at 11:24 pm
oh btw, subtitle melayunya salah dikit mbak, bukan NAK, soalnya NAK is MAU in Indonesian. Ntar jadi berita baru lo
d said,
August 11, 2008 at 11:40 pm
kok reaktif si mbak..
pizz
devy said,
August 12, 2008 at 12:15 am
duuh..sabar ya mbaak..
gbs bayangin denger orang2 ngomongin hal2 ngawur ttg hidup kita, sok tau bgt.. ^^
parah ya wartawan indonesia… (^_~)
Anonymous said,
August 12, 2008 at 12:53 am
i am amazed at your intelligence. an entry so well written, you knock my socks off! (does that even sound right?)
you get my drift. best of luck!
Dewi Lestari said,
August 12, 2008 at 7:50 am
Untuk D dan Dewi (lucu nih nama2nya, serasa ngomong sama diri sendiri, hehe)…
Like I’ve said quite clearly in the posting itself, I chose not to be reactionless about this issue, or to keep my cool, or to be 100% silent. My posting is indeed a form of reactivity. Dan saya menyadarinya penuh. I do not see total reactionless as the noblest thing to choose, or the most right thing to do. But again, it’s just my opinion.
Dalam situasi ini, saya memang tidak memilih bersikap “anjing menggonggong, kafilah berlalu”, melainkan: “anjing menggonggong, kafilah balik menggonggong, baru berlalu”.
~ D ~
Dewi Lestari said,
August 12, 2008 at 8:10 am
… And to the same Anonymous who dared me to publish his/her comment, thank you for your latest message.
Rest assured, no hard feeling, no offense taken. I agree with The Joker. Seriously, I don’t take this seriously, if you know what I mean. So why should anybody?
Well, I do take humor seriously, though. I just love good jokes too much.
Saya secara pribadi merasa bahwa perbedaan dan kemajemukan adalah kualitas terindah dan terhakiki dalam kehidupan. Bahkan tak ada serpih salju yang identik, apalagi pemikiran manusia? 6 miliar manusia = 6 miliar konsep Tuhan = 6 miliar kebenaran. I’ve stated that clearly in my previous posting.
Semua dinamika yang terjadi di blog ini, dan di seluruh sudut dunia (termasuk di forum DF), adalah bukti bahwa perbedaanlah yang menggerakkan kehidupan. Termasuk antara saya dan Anda. What we can do best is to state our differences and deal with them without destroying one another (though in real life, it happens sometimes).
I appreciate our differences, and see the beauty that lies within them.
So, sebagai salam perkenalan yang barangkali sekaligus juga salam perpisahan (though you chose not to be open on your ID, but yeah, I can live with that), I shall publish both of your comments in a separate box. Unedited, as promised
Cheers,
~ D ~
Dewi Lestari said,
August 12, 2008 at 8:11 am
Comment #1 From Anonymous:
I don’t actually read your blog, just the post that you deemed hillarious. The word is too difficult for me to process (blame my lazyness Ok?).
You know I don’t have a grudge against you, heck, I don’t even know you! But I just wanna say that you’re too overrated my dear and I’m entitled to state my opinion, so read on and put it on the comment page if you dare.
What’s with all the ‘high’ talk about expiration date? Yes love can expired, in fact it can die along with time. And frankly, I don’t even believe in Love. Love is only a justification for sex, euphoria, and everything that tag along with it. But honey, the way you said that your Love has expired is just too damn pathetic. It’s like you’re trying to justify your decision. It’s like announcing that your Love is on menopause so that makes you entitled to be free and having your midlife crises, which when being associated with your current situation with RG can lead to a horrid yet commonly logical statement know as ’selingkuh’. Life sucks right? So my advice is to mum your word ok? That’s more wise.
And the way you put the hand pictures in effort to laugh at your mocking crowd, that was just sad. I think you need to realize that now you are not laughing with the crowd, but you are now being an object for them. Awful isn’t it when you know the hard bitter truth of life? You, who used to be put on a higher level than majority people out there, has found the truth that yes not many people likes you, and yes your books suck and you’re getting all the hype because you were the IT girl at the moment. Yeah yeah yeah go ahead deny it that you never felt above the majority. Even if you did, I’m sure the elation coming from such blinding adoration can be somewhat addictive huh? It’s human my dear and don’t try to be above human! That’s what annoys people so much!
Oh yeah, I also follow the DF forum although I am not one of them and I find it hillarious the way RG responded to the crowd. The two of you switching while replying those comments right? But you get too emotional in the end, and that’s what unveiled your true character. Hehehehe. Can’t say that I don’t enjoy it. It’s amusing.
What I’m trying to say is that although you’re entitled to your own world, please be reminded that there are other people who may not be as fluent as you are in reciting the phrases of Thoreau’s Walden, but is still having a groundful of common sense and sharp logic to despise you and your friend’s hype OK? So I hope this experience can ground your feet back to the earth, or gaia, or whatever you say. Stay humble my dear, you are a bright person but humility can make you shine brightest.
Comment #2 From Anonymous:
Hey there, it’s me. Yep, the same person who gets on your nerve last weekend. Firstly, I think I owe you an apology since some of my remarks must have come to offend you. I especially regret the remarks regarding of your books and all the hype they bring. It is unwise to have such remarks on someone’s work and for that I sincerely apologize.
However I stay firm on my ground about you and your reaction to all DF comments. If you are not such a person, then please take my remarks as an added perspective beyond your circle. FYI I never accused you as someone who takes herself as above human (my mistake–’above human’ was a too much term, unless you take yourself as a post-human creature or maybe God). Perhaps it will be more appropriate to coin it as ‘above common people’. What I was trying to point out is that no matter how much you deny it, I’m sure that in certain degree the elation and the adoration must have affected you and your way of thinking, be it good or bad. If you are still to deny this then you are only proving my point. I won’t go to further details about my comments on you. Take it as a peace offering or cowardly desire or whatever it is that you like. Frankly my dear, I don’t give a damn (see, not only a total cynics but I’m also as cheesy as hell).
Like I’ve said before, you are a bright person and I’m sure that you will gain a lesson or two from all of these commotions. Surely, an added perspective will enrich your life both as a person and a writer. Sorta like that Twilight controversy, some people takes a positive toll on it, some just don’t. If you find your wisdom by reading Heidelberg and I find mine in Harlequin books, that don’t make me any less human than you. Hey, whatever floats your boat man! The world do not exist only to the things that you know but it also encompasses other 6 billion plus perspectives too, or in this specific case it was my perspective that has come to a clash with yours. Isn’t that what life is all about, to be in full circle? OK, I’m gonna shut up now, because obviously philosophy is not my thing.
Anyway, I refuse to disclose my identity to you. I like to remain as an anonym. I think that’s the true joy and privilege of internet. Whether you wish to upload my comment or not is purely your choice (again my mistake to provoke such reaction from you by stating the words ‘if you dare’). It will not degenerate your humanity to me. It’s human to avoid such negative sentiments, in fact I do admit that my being an anonym is somewhat a part to avoid such negative sentiments between the two of us in real life, and didn’t you say that you are as human as you are? Maybe a little bit more (human) than me and the DF members (since you have chose to publicly announce your id etc.) but still a human indeed
Just remember … if you can talk with crowds and keep your virtue, or walk with Kings—nor lose the common touch, if neither foes nor loving friends can hurt you, if all men count with you, but none too much: if you can fill the unforgiving minute with sixty seconds’ worth of distance run, yours is the Earth and everything that’s in it, and—which is more—you’ll be a Man, my son! Obviously it’s Kipling’s words not mine
P.S: No, I’m not a DF member. It’s amusing but I have no intention to join such endless debacle, unlike a certain someone that you know. Why so serious? Hehe (sorry, cannot help to add).
Dewi Lestari said,
August 12, 2008 at 8:19 am
PS. I have to admit, humility has never been my best quality. And I’m totally comfortable with that. Humility is so tricky. Just think of it. Conscious humility is actually the worst form of snobbishness. It’s a quality you cannot be conscious of. But to remain unconscious of it… rrr, couldn’t see the point of having it either…
Anonymous said,
August 12, 2008 at 9:16 am
Hi Dewi
Actually I also saw you and Reza in IKEA Singapore, ( you maybe able to remember me, Im the one with the baby stroller, near the cashier…??? ) when I saw the 2 of you, the “gossip” thing never crossed my mind, I just immediately missed my time in UK when I studied MSc in Birmingham. When I was there, it was ALWAYS RSD songs that I played in my Peugeot car…especially “Antara Kita” so seeing you makes me remember the birmingham roads and the cold midst of the town…how I missed it
That’s all,I really don’t care bout your personal life. Banyak yang masih ngga bisa makan di Indonesia, kenapa media harus pusing masaah Dewi n Marcell cerai? Ga penting.
Just wanna say I’ve been a fan of RSD and your novels and blog from along time ago… Keep up d good work..
edja said,
August 12, 2008 at 9:18 am
Dee, you are a good person with a great sense of humor. Those infotainment and forums, they don’t even know how to speak. It’s just noise.
All the best for your journey ahead!
calvinms said,
August 12, 2008 at 10:10 am
astaga mbak dee, saya sebetulnya ga terlalu ngikuin infotainment, cuma denger doank kalau mbak dee mau cerai ama marcell dan wow, ternyata gosipnya separah ini ya. ckckck.
Kayanya mbak dewi kalau losing temper bakal lebih serem lagi ya. ini masih ditahan?
mbak keren kok, bisa menjawab semua tuduhan itu dengan diplomatis (bener2 lulusan hi unpar nih)
yaah tabah aja mbak dee, yang pasti postingan ini sudah membuat saya bisa ketawa2 ngga jelas jam satu pagi.
salam,
calvin
Reza Gunawan said,
August 12, 2008 at 10:16 am
Dear Anonymous,
I really appreciate your sharp and intelligent comments on Dee’s writing. And since this is her blog, and you already set on choosing not to disclose your identity so I can’t send this message to you directly, I have one aspect to clarify, just so that we can still have our differences of opinion, yet based on the SAME facts, ok?
Dee never posted a single comment in the Detik Forum page. In my knowledge, she never even access the DF site herself. Dewi knew about everything in DF secondhandedly from me, not by reading the Detik forum.
Every single posting made under ‘rezagunawan’ name, was single handedly done by me. Sure, sometimes I tell her what’s going on there, from my first initial clarification, my social experiment with gossipers, and also recently when I played ‘rude, personal and unethical’, and also my final apologies for such game. (which from my personal perspective, really proved that my observations about basic patterns of behaviours in SOME members were correct).
Now that the forum has more than 1000 postings, I felt that I made my point already. You were right about the endless debacle, I just wanted to reach my personal exit point. There’s no point to state further the fact, when people love their beliefs and assumptions much more than fact.
I too believe that everyone is entitled to their opinion. What both Dee and I have been doing so far is not an endeavor to change others’ opinion. We only wanted to clarify the facts, so that people can choose if they wish to form their opinions based on facts (which a form of KNOWING), or their own assumption (which a form of PRETENDING TO KNOW).
One of my teachers used to say that when we ASSUME, we make an ASS out of U and ME (ASS-U-ME)
I practice my best not to assume who you are, or how you would respond to this. Your 2 comments indicated that you were somewhat more ‘human’ than some others, and I just wanted to say hello.
And perhaps if you were standing behind my shoulder everytime I open the DF page, you would doubt your assumption about the serious-me, then we finally laugh hilariously together. Thru psychic powers, I can see humorous potential in your writing
Adie Riyanto said,
August 12, 2008 at 5:07 pm
sebuah jawaban cerdas untuk pertanyaan2 yang tidak cerdas.
Ada kalanya kita harus diam, ada kalanya kita harus ngomong, tapi yang paling penting adalah bagaimana kita memilah mana yang harus kita omongkan, mana yang harus kita diamkan, mana yang harus kita BUNGKAM.
Dan bagi saya untuk orang sekelas DEWI LESTARI, menanggapi komentar wartawan indonesia yang seolah punya kuasa penuh atas kehidupan pribadi artis adalah kegiatan yang buang2 waktu dan sia2.
Mereka tidak butuh kata2 filosofis. sedikit kata2 tanpa makna mungkin akan lebih cocok jd sarapan pagi buat mereka untuk bersibuk ria dengan jadwal gosip harian yang memang sedang kejar tayang.
Yes I agree with u that silent is not always golden tapi kalo kita berteriak semakin tambah juga hal2 yang harus mereka minta buat klarifikasi (hehehehe saya suka ngakak sendiri klo denger kata2 infotainment satu ini). klarifikasi? plis deh g penting bgt gt lo
klarifikasi itu ditujukan bg orang yang berbuat sesuatu. Dewi nerbitkan supernova, maka pantes klo ada pertanyaan, mbak tolong dong jelaskan soal penerbitan novel mbak. Jawaban dari pertanyaan itu baru yang namanya klarifikasi.
Klo ada berita dari koran A yang mengatakan bahwa artis X begini ato begitu padahal cuma berita lambe luwih, ya klarifikasinya pada si pembuat berita yaitu si penulis dr koran A tadi.
Jd mbak, klo ada pertanyaan dari wartawan tentang ini itu yg g jelas, tanya dolo “kata siapa?”, ntar kan dijawab “itu kata berita2 yang beredar”, jawab dengan ” mbak taunya dari koran mana, ato infotainment apa, minta klarifikasi sono dari yg buat berita, wong saya juga tidak pernah diwawancara apalagi memberikan statement. hehehehehe
ok lah mbak saya mau ngakak dolo
ella said,
August 12, 2008 at 5:53 pm
keren bgt, mbak..
saya ketawa terus baca postingan yang ini..
emang deh wartawan2 itu kurang kerjaan bgt deeh..
gak usah terlalu ditanggepin, lagi mbak.
ditunggu postingan2 selanjutnya ya..
Dewi Lestari said,
August 12, 2008 at 6:42 pm
Untuk Dian,
Yep. Betul sekali koreksinya. Teks di posting sudah saya revisi. Thank you ya.
~ D ~
Anonymous said,
August 12, 2008 at 8:57 pm
dee, kepikir gak untuk nulis novel diilhami saat2 elo berjuang melawan gossip? kayaknya seru! jangan lupa untuk memberikan kata2 bijak or something to think deeply mengenai “pisah”. sesuatu yang berat tapi memeang mau gak mau harus dihadapi. satu lagi kritik habis para wartawan gossip. aq gak habis pikir sebenarnya mereka punya nurani gak ya? ato emang gossip dah jadi bagian hidup masyarakat kita layaknya korupsi dan suap? jujur, sebenarnya aq juga menyayangkan perpisahanmu. dengan alasan apapun perpisahan selalu mengesankan gelap, sedih dan ketidakbisaan kita dlm menoleransi sesuatu. tapi aku juga percaya seorang dewi lestari tidak akan pernah mengambil keputusan dengan terburu-buru, selfish dan bodoh. so, its your life. moga dapet yang terbaik. dan aku percaya kamu akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik.
Anonymous said,
August 12, 2008 at 9:12 pm
ahh…dee…gw jadi malu nih..blog lo bener-bener bikin gue ketawa tapi sekaligus menyesal telah hampir percaya gosip ttg marcell dan pria l-men itu…dan satu lagi : jalan pikiran lo tu unik dee, gue salut, tapi gak semua jalan pikiran elo gue setuju…tapi gue suka banget sama elo, dan kalo ketemu nanti, mau dong kita photo berdua, hehehe, biar gue gak jadi arwah penasaran nantinya
palungsalwangga said,
August 12, 2008 at 11:24 pm
namanya juga orang banyak. kawin, diributin. cerai, apalagi.
setiap pasangan punya karakter masing-masing. pernikahan adalah sebuah keputusan. lantas, kalau harus bercerai tidak ada yang melarang.
semua ada konsekuensi dan tanggung-jawab masing-masing.
membaca blog dewi lestari, bikin otak jadi hidup.
Anonymous said,
August 13, 2008 at 2:08 am
ya amploop, ‘menu ringan’ di blog Dee pun tetep bikin panas kepala. ubun2ku serasa berasap tiap lepas keluar dari blog ini, hehehe….gile topcer amir euy, asli!
chindy;)
Anonymous said,
August 13, 2008 at 3:06 am
love ur writing as always..! ^^
stuju sama gugun, ayo partikel2! hehe,, beneran gak sabar nunggu, sampe2 3 supernova terdahulu dah dibaca lagi…
thx
Anonymous said,
August 13, 2008 at 4:56 am
dear mba dee,
selamat, Anda mendapatkan 1 lagi bakat istimewa: melucu… hehe…
hansen_zinck@yogya
Yack...yack...yack...! said,
August 13, 2008 at 5:58 am
Hahaha enak banget gw ketawa…:D Salut deh i, dari dulu ngga berubah ya, always thinking (and behaving) positively.
Btw, those “hand-affairs” mestinya bisa dijadiin cover “the new-age gossip kamasutra”…
adit said,
August 13, 2008 at 6:00 am
hahhahahahahahhaha. benar2 membuat saya sesaat melupakan tugas menumpuk dengan deadline yang tinggal 3 hari lagi.
standing applause to you dear one of my favorite indonesian writer. saluuuuuut.
byrubyru said,
August 13, 2008 at 6:07 am
Wow…thats the only expression i have. You surely handle it well. It feels great while we could laugh our ownself, isn’t it D?
Semangat terusss
gautamasaja said,
August 13, 2008 at 5:31 pm
aih aih my minha sol
tak usahlah kau urus orang orang bebal tu. mereka kan cuma pengangguran kadaluarsa, yang cuma bisa berkoar dan melebarkan bibir ingin menyaingi tukul
salur saja energi mu wat karya karya baru mu
awak dah kangen benar sama kau punya karya
awak dah tak tahan ingin bercengkrama dengan partikel juga
dengan sekuel filosofi kopimu
anyway, sungguh cara yang elegan tulisanmu ni wat menangkal mulut para bebal tuh..
aih, jadi tambah cinta sama kamu
caca said,
August 13, 2008 at 8:55 pm
Sudahlah dee tak usah menggubris cerita murahan yang ditulis media, terutama tabloid gosip dan infotaiment yang lebih mengedepankan drama khas opera sabun.
pengecut said,
August 13, 2008 at 11:53 pm
katanya support musik lokal..
tapi bahasanya gk lokal.. saya tw situ lancar n jago banget bahasa inggris.. tapi apa poinnya pake bahasa inggris untuk smua isi blog ini??
sok pintar?? maybe?? sok nasionalis dengan mengatakan support kepada musik lokal tapi gk terhadap bahasa nasional??
you’re a big fuckin’ bullshit!!
Anonymous said,
August 14, 2008 at 2:00 am
the hands that rocks the craddle, well…it sure ROCKS!!! hahahah
way to go dee…
hijau said,
August 14, 2008 at 3:05 am
aduh, teh…
— dan ya, aku fans nya puppen di F2WL 95!
Sisi lain Dewi Lestari (penerbit booklet Penataran P4 SMA 2 semasa aku kelas 1) yang aku rindukan
Aku beneran gak pernah ngikutin infotainment di media manapun. Jadi kaget sudah sekelewatan bodoh seperti ini.
Good luck, wherever you are
Anonymous said,
August 14, 2008 at 5:15 am
dee,..yang di DF jangan diliat2 terus, gak ada gunanya.
dan mendingan, gak usah diterusin lagi meladeni mrk..bener tuh yang di bawah, kapan Supernova nyambung??
takecare
AriEs said,
August 14, 2008 at 5:32 am
Sebaiknya wartawan Cek & Bechek itu jadi penulis fiksi saja. Siapa tahu bisa mengalahkan penjualan Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh.
Ha ha ha ha…
Zaman geus lieur. Saya juga mau ikut aliran Tapir. Tapi nggak mau jadi species Homo Ayanugello, maunya (tetep) Hetero (tapi) Lobaduitna.
eka lianawati said,
August 14, 2008 at 5:48 am
TOP BANGET !!!!
Tulisan yang ini kalo dibilang emang DEWI BANGET gitu.
Salut….
Keep on writing and ditunggu artikel yang baru tentang Global Warming-nya di berubahdarirumah.
btw, blm minta ijin, tapi saya udah nge-link berubahdarirumah di blog saya.
untuk tujuan baik, gak papa khan lupa minta ijin….;)
Dewi Lestari said,
August 14, 2008 at 9:08 am
Untuk Pengecut. Mohon disimak ulang baik2 kalimat saya:
“…Look, if there’s a song we would choose for such an important and dramatic moment, it would definitely be “Kemesraan” from Iwan Fals and Rafika Duri! Why? Cause we support our local music! And if someone’s still taking my statement seriously, then God have mercy on your humorless soul.”
*sigh* Another humorless schmuck.
Btw, if you really think speaking and writing Indonesian all the time is the ultimate form of support and nationalism… then you should’ve written: Tinja Kerbau.
Anonymous said,
August 14, 2008 at 10:45 am
HAHAHAHAHAHAHHAA……you brighten my day already D!!!!
vivi
sangratu@yahoo.com
redish said,
August 14, 2008 at 6:36 pm
dear dee
you got the courage to do as your heart say
and i got to say, i admire you for that
rarely people could do that, me include in the majority
sincerely
q
treespotter said,
August 14, 2008 at 10:11 pm
nice piece, but a tad long. Can’t help yourself, can you girl? :p
nis said,
August 15, 2008 at 1:02 am
wow, penulis supernova emang super-sexy
lisda said,
August 15, 2008 at 1:44 am
mbak, maap, punya alamat email ga? saya udah buat blog yang isinya cerita serial, mo minta tanggepan mbak dee.. bolehkah?
kalau boleh, kirim alamatnya ke emailku ya mbak..
thx b4 ^^
-maknya icad-
-lisda-
Anonymous said,
August 15, 2008 at 2:15 am
apa sich?
ada apa yach?
kok pada ketawa?
perasaan biasa aja?
yaelah, kultur kita kan ada orang yang pegangan tangan bukan sama suaminya masih dianggap tabu, apalagi orang itu dalam masa perceraian sama suaminya, pas jalan-jalan ke luar negeri sama orang lain lagi.
kalau enggak kepingin difitnah ya jangan bersikap yang memancing fitnah.
Fahd Djibran said,
August 15, 2008 at 4:22 am
Hallo Mbak Dee,
Sejujurnya, sejak posting catatan perpisahan, saya agak lama nggak mengunjungi blog ini. Saya memilih tak berkomentar ketika itu, nggak tahu kenapa. Kemarin cek e-mail, dan ternyata saya telat untuk “infotainment” gratis ini. Lengkap dengan konfirmasi dan klarifikasi langsung.
Saya masih senyum-senyum waktu nulis komen ini.
Sejujurnya, saya nggak pernah beli koran infotainment, jadi saya nggak begitu tahu. Bahkan saya nggak punya teve untuk nonton infotainment. Tapi saya senang, ternyata saya jadi tidak sempat berprasangka buruk pada para artis dan selebritis.
Sabar aja, mbak. Sabar itu adalah menunda. menunda untuk menunggu waktu yang tepat memberikan respon. saya setuju sabar bukan diam dan tak memberi respon apa-apa. saya pikir, mbak sudah cukup bersabar untuk nggak langsung “menyerang” balik ketika diberitakan yang enggak-enggak di koran dan teve. semoga respon lewat blog ini cukup membuka mata, pikiran, dan hati mereka.
Bersabar, tapi jangan seperti bom waktu; ia menunggu, memberi waktu, memberi jarak tapi kadang meledak tak terduga.
Salam,
Fahd
Everybody’s happy in his own way…semoga kita juga.
JED-ReVoLuTiA said,
August 15, 2008 at 5:15 am
Untung ada blog ya? jadi bisa klarifikasi tanpa distorsi dari pihak-pihak lain yang tidak bertanggungjawab. Tapi kayaknya mah yang gak nyambung mah tetep aja bakal ada.
Titik Kartitiani said,
August 15, 2008 at 5:59 am
“Wartawan gosip itu bukan jurnalis,makanya AJI tak menerima wartawan dari media gosip” Saya mengutip pernyataan ketua AJI (Aliansi Jurnalis Independen)sekitar tahun 2003, ketika pertama kali sy menapaki dunia jurnalistik.Dunia yg membuat sy berbangga,tp sekaligus trenyuh.Dunia yg berderak di area abu-abu.Aplg ketika pasar mendektekan selera yg buruk.dimanakah media bertahta?
Ketika sy bc cerita mbak Dewi dr awal, sungguh sy trenyuh sekaligus ‘menyalahkan’ dengan para ‘penulis’ pada media mereka.
Tetapi ketika uang sudah menjadi raja, apapun menjadi sah. Termasuk kebenaran fakta yang dulunya adalah senjata seorang wartawan, kini bisa diciptakan sbgmna kehendak pasar.
Di lain sisi, seorang ‘wartawan’ di media gosip dituntut untuk menghasilkan gosip hot.Bg mereka, prestasinya bkn lg fakta spt era Rosihan Anwar ato Mochtar Lubis,tp lebih kepada kefantastisan dmn media lain blm menulis. ujung2nya jg uang.
Kl tdk menghasilkan itu, taruhannya jelas : dimarahi bos (redpel) lantas dipecat.kalau dia masih single ga maslh, tp kalo anaknya br masuk SD?
Akhirnya lahirlah ‘agama’ baru untuk wartawan yg menulis gosip: yaitu ketika siap jd selebritis itu artinya siap untuk diberitakan (berbagai sisi ?)
Lalu akhirnyapun pada pilihan masing – masing pribadi : idelisme sebagai manusia yang manusiawi.
Sy mendukung AJI bs jd krn mmg sy bukan di posisi rekan2 wartawn infotainment.Jk sy berada di infotinment, barangkali hal sama akan saya lakukan krn tekanan atasan dan gaji.Hnya saja,drpd saya melakukan itu, lebih baik saya tidak masuk jadi wartawn infotainment.
Anyway,sy mengenal Mba’ Dee dr pemikirannya, tak peduli Mba’ Dee sebagai istri Bang Marcell atau sebagai seleb. Saya lebih kenal lirik lagu2 RSD,buku2 yg ditulis dan juga blog ini:sy suka dg Padi Hamil, berulang saya membacanya)
Dan saya menunggu hasil karya Mbak untuk mencerahkan masyarakat yg semakin gelap otak.
reactivator said,
August 15, 2008 at 4:50 pm
wah seru bgt nih!
baru kali ini baca di blognya mbak, aku bs ketawaketiwi hihihihi…
mbak dewi – mas anonymous – mas reza
bertiga kayak pada lg maen catur.
duh cape ngikutinnya, tp gpp ding, asyiklah bs nambah ilmu bhs inggrisku yg msh childish gini huehehehe… *duh ketauan deh
“Hey, whatever floats your boat man!”
bisa dihubunghubungin ya? hehehe…
–> whahaha… perahu kertas ini
“Anyway, I refuse to disclose my identity to you. I like to remain as an anonym. I think that’s the true joy and privilege of internet.”
hehehe…
–> whahaha… welkom to cybertron, neo.
“Hidup ini main-main, sekolah lah yang telah menyebabkannya menjadi serius”
begitulah katanya kang pidi lho.
besok2 posting yg luculucu lg ya mbak…
heavenice day!
Qeong Ungu said,
August 15, 2008 at 9:07 pm
Meminjam reaksi teman yg sudah lebih dulu baca; kasus 1-8: senyum, kasus 9: tertawa terbahak, kasus 10: lompat-lompat.
Boleh link, mbak?
Dewi Lestari said,
August 15, 2008 at 10:52 pm
Hai Fahd,
Selalu senang dapat comment darimu. Nica to see you again here.
Untuk Titik,
Thank you insight-nya. Sharing yang berharga untuk saya ketahui, dan juga mungkin bagi yang lain2. At the end of the day, we just do what we need to do.
Dan bagi yang mau nge-link, monggo…
~ D ~
Eko said,
August 16, 2008 at 3:28 am
hahahahahaha… Dee sumpeh gw ngakak habis ngelihat postinganmu ini…Keren!!
gw salut sama kalian berdua..
Ade Alifya said,
August 16, 2008 at 4:30 am
ayo kita kampanyekan, jangan tonton infotainment yg tidak mendidik, jangan beli tabloidnya dan para pekerja seni gak usah ladeni wartawan infotainment.
mereka ngerusak dunia jurnalistik, dan bikin banyak orang berdebat, infotainment apakah karya jurnalistik?
seperti di blognya reza gunawan yg bilang : terkadang wartawan dan publik suka mencari sensasi,
trus kalimat : kepada teman-teman media saya minta kerelaannya menghargai privasi…
mungkin dispesifikkan lagi media infotainment.
go mbak dewi, kebenaran pasti akan menemukan jalannya sendiri
narayana said,
August 16, 2008 at 7:36 am
Wah, seliar itukah imajinasi orang indonesia? Kenapa ga dimanfaatkan untuk hal yang benar ya. Mungkin banyak yang bisa jadi penulis Novel atau bahkan fisikawan seperti Einstein yg memakai imajinasi untuk menguak rahasia alam daripada fitnah orang
Fahd Djibran said,
August 16, 2008 at 8:11 am
Makasih, Mbak. Senang sekali diterima dengan baik di rumah orang lain.
Berkunjunglah juga kapan-kapan ke http://www.ruangtengah.co.nr
Tentu juga saya akan sangat senang. Di sana, mungkin kita bisa berbagi apa saja. Tak perlu yang besar, bukan?
di balik akal kita sembunyi
yang tak berakal
sia-sia mencari
Fahd
http://www.ruangtengah.co.nr
Kiky said,
August 16, 2008 at 9:09 am
Membaca penjelasan dan atau klarifikasi dee yang panjang lebar, kenapa saya malah punya kesan mendalam bahwa “you do falling in love with reza yah?”,
well it’s ok kalo itu benar. Hope he is the one u searching for..
And Sorry if my intuision doesn’t work well.. hehehe
Don’t give up on infotainment attack, and fight for ur true love mbak!
derry purwanti. said,
August 16, 2008 at 10:05 am
Emotional post i might say…
Emotional writer, and emotional readers…..
JohanSz said,
August 16, 2008 at 10:08 am
Mwahahaha…!
I am God Tapir Almighty. Come to Papa, O Tapirians, and thou shalt live happyly ever-after.
Mwahahahahahahaha!!!
RZ said,
August 17, 2008 at 10:00 am
…. Energi yg berubah bentuk…
…. simpen semua Dee,
…. trus disusun jadi documentary
…. novel atau sejenisnya
…. you might want to allocate the
…. profit for ‘beasiswa jurnalistik infotainment’..
reza (yg bukan gunawan…)
gacanti said,
August 17, 2008 at 12:28 pm
Mbak dewi..
cuma mau nanya..
karena sepertinya pertanyaan ini belum jodoh sama jawaban…
kapan supernova 2.3 keluar? atau tahap produksi?
apapun yang membuat saya tidak berharap-harap semu…
karena saya menunggu supernova.
seperti pil penawar kerinduan.
bila boleh disebut demikian…
saya doakan semuanya baikbaik.
termasuk dewi, dan partner dewi, keluarga dewi.
=P
nyt said,
August 18, 2008 at 2:40 am
Saya salut dengan bagaimana kamu meramu ‘lelucon murahan’ menjadi komedi kelas atas.
Hahaha..that was a good laugh.
Thanks, dee. You really made my day!
Don’t let them bring you down!
Yaya said,
August 18, 2008 at 11:29 am
namanya juga gosip mbakkk…
gak dikasi bumbu, mana enak? mo hidup darimana tuh infotainment….hahahaha…ikut nikmatin aja, buat entertainment tersendiri.
bramsteins said,
August 19, 2008 at 3:21 am
damn smart….lucu banget..
good job..dee
Anonymous said,
August 19, 2008 at 4:23 am
menghibur sekali..
membuat saya semakin tidak respect terhadap media lokal!
omong2 mba,,kapan supernova berlanjut? saya udah penasaran setengah mampus. apa yang bakal terjadi kalo bodhi ketemu etra?
kalo saya boleh request,,Ferre jangan dimusnahkan ya Dee!
anasthaeka said,
August 19, 2008 at 9:36 am
Jadi ingat tulisan Cinta Tak Bertuan-nya Mbak Dee:
“Persona adalah lapisan informasi paling rapuh, pengenalan paling dangkal, dan oleh karena itu paling cepat musnah. Orang yang tidak kita kenal paling gampang untuk dijustifikasi ketimbang orang yang kita kenal dekat.”
Risiko jadi public figure juga ya… jadi bersyukur saya bukan termasuk di antaranya, hehehehe…
Sudah ah, Mbak, sampai di sini aja ngebahasnya, biar ga bosen. Anjing menggonggong, orang cantik ngelirik dikit terus berlalu…. Ditunggu buku berikutnya, ya Mbak!
Anonymous said,
August 19, 2008 at 8:22 pm
Dee, I’m a Malaysian and I looooove your writing. It’s hilarious. In-your-face kinda thing. hahaha! But i’m sure ramai yang masih tak berpuas hati and screw them.. All the best to you and your future plans.
Anonymous said,
August 20, 2008 at 1:58 am
Hahahaha…. Gile sejahat itu ya media sama urusan-urusan orang gak penting geto.
Mmmmmggghhh kira-kira klo berita-berita laen yg bukan infotainment kyak seputar Indonesia, dll itu britanya bener gak ya???? Serem juga klo cuma isapan jempol demi kepentingan media… Weghhhh
Manipulation Photografer said,
August 20, 2008 at 5:40 am
gw baca artikel ini ketika marcell lagi manggung di duet global tv…huhuhuu
Ain said,
August 20, 2008 at 6:54 pm
though i’m not an infortainment fan, i had a very GOOD LAUGH. thanks Dee.
tatsiana said,
August 20, 2008 at 8:21 pm
it IS the best comedy ever!! hahahaa!! thx dee! LOL!
go girl! y’know da best for yerself. heck with ppl yang ’sok-you-know’. hahahaa!! masih ngakak ni sumpah. apalagi liat poto2 “kerajinan tangan”nya.. thx for posting dee.
can’t hardly wait for ur next book. with keenan on it, rite? as u said in “petir”
best of luck!
Faid said,
August 21, 2008 at 8:34 pm
dooh–tuh tabloid bakal gw sebarluaskan ke tante gw buat gag dibeli.
kalau gw jadi mbak udah gw tuntut tuh biang gosip. *tapi belum seberapa keterlaluan gosipnya ya sepertinya…* ^_^:
syaichur said,
August 21, 2008 at 10:09 pm
Dee … please.
kok lama-lama tulisan diblog ini membuat saya boring.
STOP membuang energi yang gak penting dehhhh – diluar dari ini semua ada byk janji yang masih kamu harus lunasi ke para penggemar tulisan mu
mana next supernova? (udah berapa lama tidur dalam kandungan mu)… mana duet novel and album nya… duhhhhh
remember – (janji adalah utang…)
u.n.e.e said,
August 21, 2008 at 11:40 pm
People would do ,just about, anything for a daily dose of drama.
Without you even explaining,I’m sure people that knows you and your work,are not going to be infected by them,Mba…*points herself*.Hehe.
But,I gotta say one thing though,they sure pick the wrong woman to mess !.
Haha.
=)
u.n.e.e said,
August 21, 2008 at 11:49 pm
Maap,Mba’… nambah satu lagi. Baru “nemu” komen ini *maklum,mata saya minus.Sama seperti kesehatan jiwa*..
“kalau enggak kepingin difitnah ya jangan bersikap yang memancing fitnah.”
Kalo di Indonesia,Mas/Mba..mau sebaik Maria Mercedes atau Esmeralda ( atau tokoh2 yang selalu ditindas di sinetron2 ga penting itu ) juga,teuteup aja bisa di’congkel’ untuk nyari buruknya.
It’s how ,most, Indonesian people have fun.Almost like their cup of tea.
Mau pegangan tangan ama orang lain atau jalan2 ke luar negri sama orang lain,would that be, seriously, any of our business ??. Trust me,we all have our own issues to deal with. By ,some what, judging them,doesn’t make us become any better.
If it doesn’t messes up your cycle of life,in some way, then just….let it go.
salam.dulce.maria.
Anonymous said,
August 22, 2008 at 9:30 am
Eh, eh, Teh, saya ikutan komentar (lagi) ya..
Baru kepikiran, konsep adanya manusia yg ‘lebih manusia’ dari manusia lain itu lucu banget ya! (Seperti statement Teh Dewi), bukannya setiap hal yang dilakukan oleh setiap orang itu adalah unsur ke-manusia-an, dan karenanya ada begitu banyak perbedaan di dunia ini? Jadi kalau ada aksi dari manusia A yang nggak terpikirkan oleh manusia B, bukan berarti si A ini lebih-manusia atau kurang-manusia dari si B. Itu sebabnya ada yang namanya ‘belajar-memahami-perbedaan’.
Dari yang saya pelajari selama ini sih, nggak ada manusia yang lebih tinggi derajat ke-manusia-annya dari manusia lain, semua punya kekurangan dan kelebihan, dan karena inilah manusia disebut manusia. Kalau ada ‘manusia’ yang nggak punya kekurangan, itu sebutannya: malaikat.
‘Gitu kan maksudnya?
Hehee.
Anonymous said,
August 23, 2008 at 1:26 am
Untuk panutanku….
Sabar aza ya terhadap omongan, tulisan yang gak benar tentang retaknya pernikahanmu dengan marcel. Jangan selalu didengarkan, toh yang tahu hidup kita bukan orang lain. Orang hanya melihat dari luar, mendengar dari omongan2 yang ada.
Sebagai penggemarmu, aku hanya bisa berdoa semoga hidupmu bahagia selalu
Btw, kapan balikin buku neh? Dah 2 tahun janji kok belum ditepati! Sibuk merenung ya? Ya udah gpp asal tar kalau udah tenang gak lupa ya
Ra
anoa said,
August 23, 2008 at 2:25 am
welehweleh,ko dho ngomong ra seneng karo inpotainmen but postingan sing paling okeh isi komen’e yo postingan masalah pribadi yo??hayo wis ngaku ae wong indonesia yo ngono kui ‘ndhul!
WeHa said,
August 23, 2008 at 1:18 pm
‘gugun said…
whaaaaaaa….jangan keasyikan nanggepin sampah kayak gitu mbak, mending simpen energinya buat selesein “partikel”, saia udah g sabar pengen baca..-.-
semangat ya mbak!’
Setuju sama gugun. Udah ndak sabaran lagi nih menunggu keluaran baru Mbak Dee. ^^
Eghy Dot Net said,
August 24, 2008 at 8:06 pm
blog walkin hari ini menemukan blog ini. wah, pecinta blogspot juga
chayo mba dee.. dg ato tanpa hubby..
Anonymous said,
August 25, 2008 at 5:34 pm
oke…
ini pertam,a kalinya guw ngeliat blog-nya dee..
uh…without any further chit-chat…
dee….
Gelombang dunks…
pliz abis nih guw udah gag sabar bacanya…
i want to know what happen when bodhi meet elektra at last…
plizz..
guw gag begitu ingin mengubris kehidupan pribadi dee karena saya….percaya itu liberitas dee untuk ngelakuin apa saja..
hehehe,,but still…
zarah,,Alfa,,dan Keenan…
masih 3 lagi..
dan siapa yang bakal jadi fotografer itu?
apakah dia se-sinical bodhi atau…malah se-anomalikalis mpret?
btw,,sekarang karena dee sudah tak terasa begitu jauh lagi (thanks to blog world for God sake)…
saya pengen makasih banget atas monolog Bong pada Bodhi tentang anarki,,
sungguh..terima kasih…
^^
saya akan selalu nunggu gelombang dan partikel…
keep on writing Dee!!!
-ABoyCaldRayth-
contact at: kaskus.us
imamnic said,
August 25, 2008 at 9:10 pm
Hahaha
I rarely read gossip, but I heard about your divorce.This is my first visit & suprised to know that we use the very much same template blog !!
I know the content are uncomparable though. Your mind are awesome
Have a happy life, salut for you two could decide such – straight from the heart, against all odd, horse glasses perspective (kacamata kuda ;-p), – agreement, just based on each other happiness.
PS, Fact : There is a point in my life when I met my jr. colleges friend and – I think she should recheck his lenses – said that I looked like Marcell
Hihihi, just a share
utari said,
August 26, 2008 at 12:01 am
mbak dee, blognya saya link ya? I just really love your writings.Niat buka les nulis gak mbak? heuheu..
utaminingtyazzzz said,
August 26, 2008 at 12:54 am
hehehe… smart!
cyn said,
August 28, 2008 at 11:15 am
huahahahahahahaha…
this is soooooo funny!
daripada gosip, judging other’s life, mending menapirkan diri dengan dewa tapir!
hahahahaha
Ivan said,
August 28, 2008 at 7:58 pm
Udah baca blognya dee dari lama… dan hihi… Makin sedep ngeliat post2 terakhir… Kayak nonton infotainment :p
I laughed so hard though….
U are definitely a real smart woman… Adore u so much
BTW, kalo yang agama tapir kalo ga nikah resmi ga dicerewetin ya?? Mao donk ikud agama tapir :p
Anonymous said,
August 29, 2008 at 12:41 am
ah.. yang komen banyakan ass-kisser kayaknya
tan_intan said,
August 31, 2008 at 8:14 am
hahaha.. now i completely know why i’m a big fan of yours! you are the most FUN fearless female i ever known! hahaha.. kangen deh mba Dewi, kapan yah kita bisa ketemu lagi.. hihi.. btw nice ones on the ‘hands work’!! hahahahaha..
tan_intan said,
August 31, 2008 at 8:16 am
tan_intan to Anonymous who said…
’
‘ah.. yang komen banyakan ass-kisser kayaknya
you are not so nice…
it’s nice being nice, u kno?? try it!
Diah said,
August 31, 2008 at 11:39 pm
Baru pertama kali mampir di blognya Mbak Dee, baru pertama kali baca blognya artis … tulisan ini semakin meyakinkan gue bahwa segala infotainment cetak ato tivi emang nggak bermutu banget. Kenapa sih orang semangat45 banget ngikutin begituan? dan percaya lagi. dan ngomongin seolah mereka kenal banget. Tolong deh … Jadi, Mbak Dee … orang2x itu enaknya diapain ya? Masukin ke GhostShip aja kali ye …
Anonymous said,
September 1, 2008 at 6:14 am
remember the “kata-kata mutiara” you give to me when i saw you in one event in unpar (forget the date
)?
“Find the dimond within”
i give it to you today. smile dee.
egi said,
September 2, 2008 at 9:29 am
hi! i just found your blog and couldn’t stop laughing at this hilarious “pers-conference” dewi lestari had, marvelous and sarcastic in a way! ;p media is always in need to spices things up and media is sometimes fake as it is, and i was the agent of fake itself.
anyway, to those of you who are taken issue, ass-kisser it is. ;p
rock on mbak dee! always in line waiting for your chef d’oeuvre. lol!
Egi Mutiara
nanda aja said,
September 2, 2008 at 9:21 pm
hehehe…
gw membayangkan mimik orang yang gagal bikin gosip… kemudian baca blog ini…
pasti kocak bgt deh!!
wakakakakak…
Btw itu homo ayanugelo.. orang2 dari tatar sunda pasti pada ngerti kan??!!
wakakakakak…
sisie said,
September 3, 2008 at 5:49 am
life is one big laugh anyway, dee… hahaha… a tragicomedy, probably… but at least there’s the comedy part
where we can laugh
reading your blog brings some surge of lights to my mundane daily life
mwah
Anonymous said,
September 4, 2008 at 2:38 am
i dont even know you both are already divorced
i live in the tapir time, sorry…
CLARITY said,
September 4, 2008 at 10:47 pm
hi mba dee..
watta great blog..
btw, one of my lecture (who is great, i think) said that “DetikForum” usually showed “Trash Talking”..they really dont know what they’re talking about..pretending like they know u and ur life very well..
so take it easy dee..
Keep on moving and May God bless U
Anonymous said,
September 6, 2008 at 5:37 am
mba, hari ini ada lagi tu gosipnya..
hwakakakakk..
‘marcell pacaran dengan alexandra..’
‘Benarkah Marcell selingkuh…Benarkah ada orang ketiga dalam perceraian Marcell dan Dewi..’ (dengan bahasa yg terlalu dibuat-buat versi infogosip)
yea what ever..
)
mba, you rocks laa..
byu said,
September 7, 2008 at 6:04 pm
Dewa Tapir?!!! gyaaahahahahahaha!! ikutan ahhh mo nyembah dewa tapir!! takut keburu The Armagedillo! trus mudah2an anak Ayanugelo hasil kawin silang gw ama tapir blasteran mana yak?
damn! i love your words! i love the way you write all of these blogs! I LOVE YOU!! wuahhh mudah2an gw digosipin jd orang ketiga, keempat atw ketujuh jg gpp ama para gosipers di dunia maya! hahahaha.. neh! para gosipers mohon dicatet Dewi Lestari punya gebetan baru, berondong anak umur 22 taun, baru lulus kuliah di enHaii. Sarua urang Bandung ngarana Bayu Fauzi Yusran!!
hakan siah tah gosip! hahaha..
udh ah! thx dee.. you’re inspiring my life!
p.s : enggalan partikel, rectoverso, dan kawan2na di cetak kana buku. download tina hape mah lami nagntosanna, sareng awis deuih biaya downloadna hehe.. tos teu sabar yeuh!!
Anonymous said,
September 8, 2008 at 1:45 am
lucu…
cinta ada kadaluarsanya?
trus kapan lu nemuin yg paling cocok?berapa kali mau kawin?berapa kali mau jatuh cinta?
Dewi Lestari said,
September 8, 2008 at 8:52 am
Tauk. Lu?
Diana said,
October 2, 2008 at 3:50 am
Mbak Dewi yg baik, saran gue lebih baik mbak Dewi mencari pasangan hidup yang memiliki cara pandang seperti mbak Dewi, gue lihat mbak Dewi termasuk pemikir, filsuf, baiknya mbak Dewi cari juga org yang bisa mendorong berbagai gagasan mbak Dewi, terutama jadi teman diskusi, bukan hanya sebagai suami.
Bye
Rana-nya Supernova said,
October 11, 2008 at 9:00 am
Mba dee,
sy penggemar supernova,terutama bagian Rana dan Ferre..
dari buku itu kynya mba Dee pengagung cinta bgt…pas denger mba cerai..waa..kok jd skit hati ya??
sy jg dah merit,baru 2 dua taun,dan sy tau skg, cinta stlh merit tuh mmg beda.
tp jstru itu yg musti kita perjuangkan toh klo kita prcy kekuatan cinta.
jadi..mba dee sbnrnya sm spti yg lain ya..menyerah ktika cinta perlahan berubah dan smkin hambar?
mskipun sy akui ‘kemasan cerai’ mba pstinya lbh keren dr yg laen..dan sy salut msh bs brhubungn baik ma Marcell..tp sy kecewa dan penasaran..
hrs kah perubahan rasa cinta (tanpa ada faktor besar spt beda agama,KDRT,perselingkuhan) bs sbgitu kuat smpai mnybbkn perceraian??
toh siapapun yg kita nikahi, sptnya rasa itu akan berubah juga kan?
semua trgntung sjauh apa kita mau mmprjuangkan…
kenapa menyerah mba??
yakin bukan karena menemukan cinta baru yg masih lengkap dgn sgala insecurity dan exciting romanticism?
=seorangpenganggungcintayangkecewa=
dewer said,
October 27, 2008 at 12:16 am
hahahahahahahaha…..
bisa ya mb’dee bikin jadi selucu ini, sumpah deh, this is soooooooo funny..
Tapi aku masih ga abis pikir ya, apa yang bikin perpisahan itu terjadi. Yah, saya melihat pasangan mb’dee&marcell sbg salah satu pasangan favorit yang bebas gosip, tapi koq tiba2 gitu ya…
Apa pernikahan emang serumit itu y?
Tapi apapun, semoga ini emang yang terbaik.. Amiiiin
putri aries said,
November 23, 2008 at 5:17 am
Dear Mbak De…
Aku salut banget “dynamic duo” nya mba Dee sama mas Rezha!
TOOOOOOOOOOOOOOOP abis!
Mudah2 an dengan menyatunya soul miror dapat menghasilkan kolaborasi & sinergi yang lebih Fenomenal!!!
I Love You Mba Dee….
good_boy said,
December 2, 2008 at 12:03 pm
Ternyata sehebat itukah CINTA dee dengan MARCELL !!??
semua gosip miring tentang marcel ditepis begitu saja oleh dee..
dari tulisan2 yang dee buat,saia bisa merasakan ekspresi kekecewaan pada si penggosip,seandainya marcel tahu sedalam apa cinta dee dengannya..
i hope that i will have a woman like u dee..
terlepas dari smua kekuranganmu,dee salah satu refleksi dari seorang wanita yang superb!!