August 31st, 2008 at 9:08 am (Refleksi)
Warna-Warni Kacamata-Kacahati
Dalam dua bulan terakhir, begitu banyak eksperimen dan fenomena sosial yang saya jalani, baik sengaja maupun tidak sengaja. Begitu banyak pula pelajaran dan perenungan berharga yang saya peroleh dari rangkaian pengalaman ini.
Saat saya menuliskan artikel “Catatan Tentang Perpisahan”, respons yang saya terima sungguh di luar dugaan. Sejauh ini, itulah artikel yang memecahkan rekor komentar terbanyak di blog ini. Hampir semua artikel di blog ini berbasiskan pengalaman saya pribadi, tapi “Catatan Tentang Perpisahan” sepertinya begitu mengusik ‘dawai’ banyak orang. Entah karena kisahnya yang aktual, faktual, dan mengandung unsur sensasi, but it seems we all have our own saying when it comes to love, relationship, and God. Tiga topik itulah yang menjadi benang merah hampir semua komentar yang terlontar. Dalam boks putih itu, kita mengadu persepsi dan pengalaman kita atas ketiganya.
Saya akan berbagi dengan jujur tentang pengalaman saya pada posisi sebagai si penerima reaksi. Sampai komentar ke-60 sekian, saya masih amat peduli dengan apa yang dikatakan orang. Ketika saya merasa disalahmengerti, dihakimi, dianggap melakukan pembenaran atau bagi-bagi teori, saya masih merasakan kecewa, gemas, bahkan terkadang amarah. Padahal pengunjung blog ini, menurut saya, terbilang orang-orang yang intelektual dan masih santun dalam penyampaian opininya. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan forum-forum gosip di luar sana, di mana kesantunan atau intelektualitas sama sekali tidak dijunjung, bahkan jadi bahan tertawaan. Namun, tak urung hati saya terkadang masih bereaksi.
Begitu komentar sudah bergerak ke angka 100, saya mulai menyadari sesuatu. Hati saya melentur. Bukan berarti komentar yang masuk tidak lagi bermakna, tapi mulai menjadi “nggak penting”. Dan ketika angka itu terus bergerak… 150, 180, 200… saya mulai menyadari sesuatu lagi. Saya tidak lagi peduli. Sekali lagi, bukan berarti komentar itu kehilangan makna, tapi ia kehilangan rasa. Tak lagi manis, pahit, tak juga asam, atau asin. Tawar. Berlalu seperti angin tipis di atas air, hanya meninggalkan riak kecil lalu pergi tanpa bekas. Tidak lagi ada ombak atau debur yang menggebu.
Ada satu titik tolak yang akhirnya membawa saya ke fase ini, yakni ketika saya menyadari—secara empiris—bahwa kita sesungguhnya tidak bisa mengubah siapa pun. Ini bukan kali pertama saya tiba pada pemahaman tersebut. Namun setiap kali ada pengalaman segar yang kembali mengingatkan saya, rasanya ada kedalaman baru untuk menghayati kenyataan satu itu.
Selama ini, kita percaya bahwa kita bisa mengubah pandangan orang lain tentang kita, kita percaya bahwa dengan upaya yang maksimal kita bisa membuat diri kita dimengerti secara utuh, kita juga percaya bahwa kebenaran yang kita miliki—jika dikomunikasikan dengan sebaik mungkin—bisa menjadi kebenaran bagi orang lain. Rasa percaya itu sedemikian umum dan menjadi pegangan hampir semua orang, hingga ketika kita masuk ke dalam sebuah relasi, dengan siapa pun dan apa pun itu, dari mulai dengan manusia lain hingga Tuhan, kita menganggap bahwa kita punya kendali tersebut.
Namun, apa yang saya amati dari pengalaman saya sendiri—dan yang bisa Anda telusuri pula lewat kedua posting terakhir saya dan aneka komentar yang dilontarkan—setiap orang hadir dengan kacamata dan kacahatinya sendiri. Apa pun yang saya ungkap tidak pernah bisa utuh tertangkap sebagaimana yang saya mau. Seolah ada filter, pembatas, penyaring, yang mendiskon cerita saya secara otomatis di kepala pembaca. Sebaliknya, seolah juga ada amplifier, marker, kaca pembesar, yang tahu-tahu membengkakkan beberapa bagian tertentu saja.
Saya lantas membayangkan ilustrasi sebagai berikut: seseorang mencoba menceritakan sebuah alam yang hijau, lalu seorang lain berteriak protes, bilang bahwa alam hijau cuma bualan. Lalu ada yang membela, bilang ‘betul, kok, alamnya memang hijau.’ Tapi ada lagi yang menimpali, sebenarnya alam ini setengah hijau dan setengah ungu.
Lalu, seorang lain datang dan berkata pada mereka: orang yang menceritakan alam itu hijau memang benar, karena dia memakai kacamata berlensa hijau. Yang protes juga tidak salah, karena kacamatanya kuning. Yang sepakat hijau, ketika dicek, ternyata warna lensanya hijau muda. Jadi walau sama-sama hijau, tetap tidak persis sama. Yang bilang setengah hijau setengah ungu juga tidak salah, karena lensanya memang dua warna. Tersadarlah orang-orang yang ribut tadi bahwa selama ini, realitas yang mereka lihat termediasi selapis lensa. Dan orang terakhir tadi pun berkata bijak pada semua, sesungguhnya realitas yang sejati berwarna pink. Dan sepasang lensa pink bertengger di depan matanya, tanpa bisa ia sadari.
Realitas yang kita jalani amat bergantung dengan kacamata dan kacahati yang kita kenakan. Persepsi kita tentang Tuhan, misalnya. Seseorang yang percaya bahwa Tuhan punya kehendak, akan selalu mereferensikan kehendak Tuhan dalam setiap tindakannya maupun dalam menilai tindakan orang lain. Seseorang yang percaya Tuhan tidak ada, akan bicara lain lagi. Seseorang yang percaya bahwa hubungan cinta adalah perjuangan abadi menuju keabadian, akan selalu melihat cinta sebagai sasana perjuangan dan pengorbanan, hingga mereka yang menyerah dianggap kalah. Seseorang yang percaya pada absolutisme janji sehidup dan semati, akan selalu melihat akhirat sebagai plafon keberhasilan sebuah pernikahan. Dalam variasi pemahaman seperti itu, di manakah kebenaran sesungguhnya bersemayam?
Lensa semata-mata adalah lapisan persepsi yang kita tumpuk, rangkai, dan timbun melalui pengondisian, proses evolusi, dan perubahan yang kita alami sepanjang hidup. Lensa kita sangat mungkin berubah, bahkan terus berubah. Yang dulu berkacamata hijau sekarang bisa jadi merah, dan sepuluh tahun lagi berubah jadi putih. Namun, di mana letaknya kendali perubahan ini?
Dalam Law of Attraction, dikatakan bahwa hidup kita baru berubah jika kita mau melihatnya berubah. Law of Attraction bukan satu-satunya hukum dalam kehidupan, tapi untuk perihal satu ini, bisa disimpulkan bahwa kunci perubahan hanya ada pada diri sendiri. Saya tidak bisa mengubah pandangan Anda, hanya Anda yang bisa. Begitu juga sebaliknya.
Selama lensa kita berbeda, kita hanya bisa mengomunikasikan persepsi kita, menyaksikan bagaimana perbedaan kita bertumbuh dan berdinamika. Sayangnya, seringkali dalam kehidupan nyata, kita tidak puas dengan sekadar “menyampaikan”. Kita ingin mengubah seseorang agar sepaham dengan diri kita. Dan kita percaya dengan berkomunikasi yang baik dan benar (baca: baik dan benar MENURUT kita) maka kita mampu melakukannya.
Dan inilah yang saya amati: sesungguhnya kita tidak terlalu peduli pada kebenaran, kita bahkan tidak mengerti apa itu komunikasi sejati, kita hanya peduli pada lensa kita. Bukan apa yang ada di baliknya. Barangkali itulah yang menjadikan “pemahaman benar” sebagai gerbang akhir pencarian Gautama, bukan kebahagiaan. Bukan surga. Bukan juga neraka. Melainkan pembebasan dari keduanya. Dalam memahami secara “benar”, yang menjadi tujuan bukan lagi perihal benar atau salah, tapi memahami bagaimana keduanya bermula dan bagaimana kita bisa bebas dari jerat keduanya.
Kita semua menginginkan kebahagiaan, bahkan keabadian. Namun sesempurna apa pun lensa yang kita kenakan, seindah dan seadiluhung apa pun realitas yang kita lihat, lensa hanyalah lensa. Lensa tetap menjadi lapisan yang membatasi kenyataan yang kita pikir dan kebenaran yang sesungguhnya. Yang dilakukan oleh sosok seperti Buddha Gautama dan para pencari kebenaran lainnya adalah, mereka tak berhenti mengupas lensa mata dan hati hingga menemukan kebenaran sejati. Kebenaran tanpa lapis apa-apa.
Selama kita berada dalam tatanan realitas berlensa, selama kita masih bergantung pada kacamata dan kacahati kita untuk mengungkap kebenaran, saya dan Anda hanya bertukar kebenaran relatif. No winner, no loser. It’s always a zero sum game.
Saya teringat pengalaman setahun lalu saat mengikuti retreat Dyad di Ubud. Bagaimana bisa dua orang yang saling berhadapan lalu membicarakan sampah dan kerak hatinya bisa menjadi momen pencerahan dan penyembuhan? Bagaimana hal itu dimungkinkan? Dyad semata-mata mengajarkan komunikasi yang sejati. Saat seseorang berbicara, partnernya tidak menanggapi, menyela, menilai, dan menjustifikasi. Ia hanya memberikan perhatian, hadir dengan kesadaran penuh bagi lawan bicaranya.
Poin utamanya adalah, kedua pihak belajar memahami bahwa jika ada kesenjangan lensa antara mereka, perbedaan tersebut memang sudah demikian adanya. Bukan untuk disamakan, dipas-paskan, atau dikoreksi. Dan yang terjadi justru adalah keajaiban komunikasi: sebuah pengertian dan koneksitas yang mendalam, bahkan mencerahkan. Karena hanya melalui komunikasi sejati, lapis demi lapis lensa kita bisa terkikis, dan jika kita beruntung, kita mampu mengintip secercah-dua cercah indahnya kebenaran tanpa kacamata. Indahnya hati tanpa kacahati.
Saya sadar, komunikasi semacam itu sukar terjadi dalam forum seperti ini. Semua pengalaman dalam dua bulan terakhir ini hanya akan menjadi pengingat bagi saya untuk terus berevolusi dan bergulir dengan arus kehidupan. So, let’s move on with our life, our love, and our lenses. And for once, may we appreciate not only the beauty of our own spectacles, but also the differences around us all.
u.n.e.e said,
August 31, 2008 at 10:21 am
..dan,mungkin,terasa tak lagi bermakna karena, secara tidak sadar,kita juga sudah mulai bisa menerima. Entah itu keadaan atau juga reaksi orang lain terhadap keadaan itu.
Maybe….
eva said,
August 31, 2008 at 12:09 pm
setiap kali membaca tulisan disini, selalu saja saya mendapat banyak ‘tamparan’ gratis. ada yang bisa dipilahpilah, diambil dan dipelajari untuk kemudian direnungkan lalu diaplikasikan dalam kehidupan seharihari
sebaikbaiknya manusia, adalah yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, sesamanya dan lingkungan sekitarnya, mudahmudahan saya tidak berlebihan ketika menggolongkan mbak Dewi ke dalam golongan orang yang seperti itu..
semangad mbak Dewi! sukses dengan pencariannya! dan semoga tak jera untuk tetap berbagi
WeHa said,
August 31, 2008 at 2:23 pm
Mungkin kata yang cocok bukan “kebenaran”, namun “ketidak-salahan”. Zaman sekarang pertukaran informasi semakin cepat. Mungkin itu sebabnya makin sedikit orang yang benar-benar mendengarkan dalma-dalam. Kita terlalu sering dituntut memberikan balasan informasi hingga kita tidak diberikan waktu untuk berhenti sejenak dan berpikir. Saya suka dengan konsep “No winner, no loser. It’s always a zero sum game. “
Camar Letih said,
August 31, 2008 at 4:48 pm
Tapi itulah hidup. Kita mungkin kadang, tak suka dengan rencana-rencana-Nya (apapun bentuknya). Tapi (sekali lagi), itulah hidup. Atau kita ingin bisa men-skip semua bagian yang tidak mengenakkan dalam hidup kita, dan langsung menuju ke bagian-bagian yang enak, minimal yang masih bisa kita nikmati dengan senyum mengembang? Hidup seperti itu, menurut gw: hidup yang membosankan!
danalingga said,
August 31, 2008 at 4:55 pm
Ketika membaca artikel ini selintas ilham terlintas. Mungkin pencerahan itu adalah ketika kita sudah melihat sesuatu itu tanpa lensa yang menempel di mata. Tanpa persepsi.
Anonymous said,
August 31, 2008 at 5:04 pm
memang seperti itu kan?
mungkin karena dee sudah mengerti diri,,keterasingan diri sudah ga ada di kamu lagi,,sehingga komentar gag lebih dari….ya komentar kan??
pada akhirnya mereka memang selalu menjadi monoton koq,,komentar2 ini,,komentar2 itu…
iya kan?
heheheh..comment dan (dgn bhs efes yang mendunia itu) testi gag lebih dari pembangkit tropeng lamvbang eksplisit keterasingan diri kita.. (marx bisa menangis di alam sana)
anyway..keep writing dee..we are behind you all the way,,and never are behind you..
but,,you already know that..
heheh..
-ABoyCaldRayth-
didut said,
August 31, 2008 at 6:42 pm
kuncinya mungkin menerima perbedaan dee
Masyarakat kita sudah terbiasa dengan 1 kata dan susah sekali untuk menerima perbedaan
PS: dee, BTW komen blogspotnya ada model yg lbh baru lagi loh yg lbh mudah untuk diakses untuk komen
Vandij said,
August 31, 2008 at 6:52 pm
Salah satu momen yang merubah hidup dan pola berfikir gue adalah, saat gue selesai membaca Supernova I, tahun 2002, saat jutaan tanda tanya udah sumpek menjejali kepala.
Telat sekitar 2 tahun dari orang2, tapi mungkin memang harus begitu adanya. Karena kalau bacanya tahun 2000, saat kepala masih enteng, ga akan menghasilkan efek terlalu signifikan.
Mungkin
Anyway, keep sharing ur thoughts & stories ya. And pls remember, despite all the colors one can choose (or given) for their lenses, there are people who actually have grown enough comfort wearing their clear glasses
Anonymous said,
August 31, 2008 at 7:20 pm
Beautifully said Dee.
Ketika akhirnya kita menerima bahwa tidak semua orang menerima pendapat kita, terbukalah pengalaman baru, bahwa emosi kita menjadi tidak bereaksi untuk selalu berusaha menjelaskan pendapat kita.
Regards
Honey
Anonymous said,
August 31, 2008 at 10:01 pm
wuih,, cerita yg ttg org berkata bijak skali lagi ngingetin sy ttg diri sy ndiri.. =.=’
thx ya buat smua postingan..
kayaknya tiap kali baca, pasti deh ad sesuatu yg mbuat sy kembali sadar (baca: kembali diingetin).. dan ahirnya merenung..
“Ini bukan kali pertama saya tiba pada pemahaman tersebut. Namun setiap kali ada pengalaman segar yang kembali mengingatkan saya, rasanya ada kedalaman baru untuk menghayati kenyataan satu itu.”
: )
dan juga mbak. tetep nunggu bukunya dengan setia, walau dah gak sabar..
c ya..
kerin
pepito said,
August 31, 2008 at 11:12 pm
saya pribadi juga mulai menerima perbedaan cara pandang. karena belakangan ini hal itu yang diperlukan dalam rangka mengurangi debat kusir yang kalo dirunut gak akan kelar walaupun sampai syaraf putus
Anonymous said,
September 1, 2008 at 12:27 am
Kalahkan amarah dengan cinta kasih; kalahkan kejahatan dengan kebajikan; kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati; kalahkan kebohongan dengan kejujuran. (Dhammapada 223)
— saya rasa apa yang disampaikan oleh banyak orang dan mungkin termasuk mba dee sendiri adalah cerminan hati (kacahati) yang sayangnya (mungkin juga) tertutupi oleh debu-debu. mungkin di dalam forum inilah qt semua bisa belajar untuk menjadi jujur dan melihat kacahati qt melalui kacamata qt yang berbeda-beda..
hansen_zinck@jakarta
wisangkala said,
September 1, 2008 at 12:37 am
ah ah ah…
zero sum game thing…
i always love the sentense…
[and the theory]
remind me to college time…
poinnya mba…
tiap orang bersikap berlandaskan pengalaman mereka sendiri
sementara pengalaman hidup setiap manusia tentu saja berbeda, even 2 orang kembar sekali pun…
tapi repotnya ya itu, sepertinya mereka faham apa yang dialami orang lain berdasarkan pengalaman mereka, tanpa mereka sadari bahwa, keadaan yang mereka hadapi adalah berbeda satu sama lain…
selamat menjalani hidup saja mba…
saya pikir mba menuju tahap imun untuk komentar2 yang menyangkut diri mba dan keluarga…
eghie.tols said,
September 1, 2008 at 6:12 am
teh, kangen supernova. gimana partikel ama rectoverso ny hehe, maav kl ga ap tu det.cheers
narayanawijaya said,
September 1, 2008 at 6:20 am
Tulisan tentang definisi suatu istilah: kebenaran, cinta, kebaikan, arti hidup dan banyak lagi yang dirangkai dengan kata yang ngejelimet. Semakin banyak saya membacanya semakin saya tidak mengerti dan merasa kata2 hanyalah kekosongan. I think now I understand why Buddha Gautama so silent. Sulit menjelaskan berbagai kebenaran melalui bahasa yang terbatas.
Pada akhirnya hanya jika saya mengalami apa yang Dewi alami baru saya mengerti. Tapi pengalaman yang sama belum tentu dipahami dengan cara sama, tergantung lensa kita seperti yang Dewi bilang.
Singkatnya mungkin no comment
Robby Candra said,
September 1, 2008 at 7:16 am
Saya salut pada tulisa Dee. Kadang saya berharap bisa menulis sebagus Dee.
Yah… Semakin kita bisa melepas lensa-lensa yang ada, semakin jernih kita memandang kehidupan ini. Kemudian dunia menjadi tampak berbeda. Kita bisa memandang dari sudut pandang yang lain. Dan, menjadi lebih bijaksana. Akhirnya, kita semakin mengalir dalam hidup ini dan semakin bersahabat dengan kehidupan.
Salam
audentis said,
September 1, 2008 at 2:35 pm
you’re right. no winner, no loser. but is life a zero-sum game? if we believe life itself grows (and so do we when we fully live it), it can never be any ‘zero-sum’, can’t it? terima kasih atas refleksi mendalam ini. salam, y.
ulan said,
September 1, 2008 at 6:16 pm
waw…
imamwahyudi said,
September 1, 2008 at 6:50 pm
Ada suatu titik dimana aku takut eksplorasi terhadap kehidupan bisa menyesatkan. Titik itu, beberapa saat setelah membaca blog ini, yang mampu menjelaskan perceraian dari sudut pandang protagonis. Yang menjadikan bahwa apapun – bahkan mungkin, pembunuhan – bisa menjadi hal yang benar apabila kita bisa membuat kacamata untuk membenarkan itu. Is it like that?
Note that this not judge you “divorce thing”, it just example. Just not to agree that other couple could use the same lenses to judge their marriage. It would be partial understanding.About your case, you explained enough, hope you find the happiness.
Semakin kita eksplorasi, semakin banyak kita pikir kita tahu, yang menurutku semakin banyak celah untuk kita tersesat. Aku takut jadi kamu mbak. Dalam seluruh kemengertianmu tentang hidup, ada void yang semakin besar yang aku rasakan (this is personal opinion, sorry). And it happens to us who sought to know about universe, tentang kebenaran absolute. Nietzche, Hawkins, Einstein, Tolstoy, Freud. The are not happy even they know more about life and universe. Seperti kata-katamu mbak, “matilah untuk semua yang kau tahu”.
The ability to think, to understand more, to deeply sought for absolute truth. It’s a gift, but also a curse.
Maka tidak seharusnya kita hanya menggunakan kacamata menurut hati masing-masing. Setiap orang akan berbeda-beda karena eksplorasi mereka terhadap kehidupan juga berbeda. Ada alasan yang kuat mengapa diciptakan nilai, norma, hukum, diajarkan agama dan kepercayaan. Itu yang memberikan kacamata universal bagi semua sehingga setiap orang bisa melihat dari sudut pandang yang setidaknya mempunyai garis besar yang sama.
-imamwahyudi.com-
Anonymous said,
September 1, 2008 at 7:52 pm
Ya begitulah mbak
seperti kata Jimmy Lominto
setiap org itu seperti mengenakan sebuah “helm pandangan” yang selalu dipakai di kepala masing-masing dan juga selalu dibawa kemana-mana…
makanya di dlm agama Buddha kita selalu ditekankan untuk memiliki “pandangan benar”
cheers,
-SH-
desta said,
September 1, 2008 at 10:17 pm
keren dee tulisannya, saya pengen jg bisa mempunyai bakat menulis dng tata bahasa yg mengalir (deskriptif & menarik) seperti dee.. suatu hari nanti.. hehehe..
your blog is the best blog that i've read this far.. nice to read it dee.. thank you for that.
woro pratiwi said,
September 2, 2008 at 5:33 am
gimanapun, tetep ya mba kalo masalah pribadi, orang laen tuh ‘rela’ nengokin. terbukti terlihat didepan monitor (itung ajah), lebih banyak orang komen tentang masalah pribadi mba dee daripada pemikiran mba dee soal lainnya. walopun komen yg tertulis kebanyakan menyuport, tapi esensinya sama, ‘rela’ buat baca trus ikut ninggalin sepatah dua patah kata (halah jadul!). mungkin nih, untuk posting yg laen, agak ogah2an bacanya krn ga seseru soal pribadi. termasuk saya, heheh. sangat disayangkan.
(pembelaan : eh tp saya mah pertama nulis komen di go veggie by chindy than! ga mlulu soal pribadi)
udah ah nulis2 begininya mba. nanti malah mirip realty show termewek-mewek.
butuh tau tentang pemikiran dee tentang banyak dan semua hal nih! buat share.
dee menulis : Padahal pengunjung blog ini, menurut saya, terbilang orang-orang yang intelektual dan masih santun dalam penyampaian opininya
mba dee saya mau tanya, apakah mba dee menulis se-njelimetnya itu sebagai “kelas pemasaran” untuk karya-karya dee? sehingga orang2 tertentu (intelektual) saja yg mau menoleh dan mampu mencerna? (saya termasuk yg sulit untuk mencerna) trus apakah banyaknya penggunaan bahasa inggris pun dimaksudkan untuk itu?(terbesit berpikir demikian setelah baca komen PENGECUT di 10 Most Hillarious, Humorous, and Hideous Gossips I Found)
hemm, rasanya kecerdasan seseorang ga terasa papa kalo dia ga melakukan papun. Indonesia butuh orang seperti dee. Saya malah berharap banyak dee bisa berbuat lebih banyak dari pada sekarang. Ok ajah kalo dee butuh share pemikiran dg orang yg satu kelas. tapi sebagai penulis, saya menunggu karya mba dee yg lainnya yg ga cuma bisa dicerna orang tertentu saja tp tetep cerdas.
Ditunggu!
richard™ said,
September 2, 2008 at 9:55 am
arrggggghhh… tulisannya udah pada kayak malekat smua. Kalo ngalamin sendiri juga pada nangis bombay kayak mandra waktu diputusin munaroh. jadi fans boleh2x aja lah, tapi nggak usah ekses. apalagi yang anonymous2x nih, tambah nggak jelas juntrungannya. takut ketauan ya, kalo ngomong soal awan putih, namun nyatanya pake ray ban item legam kayak kang ojek? semprul kaw…
udah dee… mendingan surfing di uluwatu, or nge’lenggang di orchard road, or buat album baru, or makan rujak mang sodikin sampe kepedesan (sapa pula itu sodikin), whatever lah.. forget it… :p
Lari dari kenyataankah saran gua ini? waks, kalo kenyataannya memang sudah berat, masa lo semua tega nambahin beban pikiran orang yang lagi berat sama nilai-nilai malaikat lo semua yang lebih berat dari masalah itu sendiri?
vanitas vanitatum mundi…
widi said,
September 2, 2008 at 11:34 pm
Mba… tulisannya menginspirasi. Thanks a lot
Seni said,
September 2, 2008 at 11:51 pm
sekedar jejak, bahwa bahasamu, menyentuh dawai hatiku, mbak dee…
Salam
mkaturi said,
September 3, 2008 at 2:31 am
mereka yang bisa mengapresiasi perbedaan dengan hati damai dan penuh kasih adalah orang yang kaya raya… Dari setiap komentar yang masuk terlihat jelas betapa Sang Pencipta karena kasihnya memang sengaja membuat banyak hal berbeda dan tidak seragam untuk mewarnai hidup. Pelangi kalau nggak beda warna bukan pelangi namanya…
mkaturi said,
September 3, 2008 at 2:33 am
Dan tolong nyanyi lagi dong… aku lihat & mengalami sendir kalau musik yang datang dari hati itu bisa menjembatani perbedaan…
Fahd Djibran said,
September 3, 2008 at 5:40 am
Mbak Dee,
Mungkin saya tidak memahaminya sebagai perbedaan kacamata dan kacahati yang kita miliki. Sebab, ternyata kita tidak sedang sama-sama berada dan melihat realitas yang “sama” lalu mendiskusikannya di sini. Kita masing-masing berada di realitas yang berbeda, tapi sedang berusaha membicarakannya sebagai sesuatu yang “sama” di sini. Itulah sebabnya mengapa kita selalu berjarak komunikasinya, cara pandangnya, persepsinya.
Sebab ternyata, kau dan aku, juga mereka semua, tidak berada dalam “ruangan” yang sama, dalam “realitas” yang sama. Kita “seolah” berada dalam sesi Cyber-Dyad yang sulit dimengerti. Sebab kau kira aku duduk dihadapanmu, memendang matamu, atau sama-sama menantikan bel pergantian peran berbunyi? Nyatanya tidak begitu. Kita berada di ruang dan realitas yang berbeda; saat kau menuliskannya dengan berkonsentrasi setengah mati, “dengan penuh perasaan”, seseorang mengomentarinya sambil melakukan multi-tasking “winamp-browser-corel draw-adobe photoshop” di komputernya, sambil sibuk dengan segelas jus mangga di tangannya. Tentu berbeda kulitasnya: yang satu berusaha menyambungkan, yang lain tak sadar sedang menceraikan. Di sini, “komunikasi yang baik”, tentu sulit terjadi. Sebab kita berada di “realitas” yang berbeda.
Saya jadi ingat alegori gua Plato tentang hierarki realitas. Di tengah sekumpulan orang yang terperangkap di sebuah gua gelap dengan kaki dan tangan terborgol, seseorag terlepas begitu saja dan berkesempatan “melihat” hal-hal yang tak bisa dilihat yang lainnya. Bila yang lain hanya sanggup melihat bayangan, seseorang yang bebas dari borgol tadi bisa melihat benda-benda—lalu dia lari ke luar, melihat gunung, melihat langit, melihat dunia yang ternyata terang benderang dan jauh lebih luas dari sekadar gua gelap yang pengap. “Hei, di luar sana terang, lho!” Ia berusaha memberi tahu teman-temannya tentang apa yang ia lihat “di luar sana”, tetapi yang lain tak memercayainya. Bahkan menganggapnya gila, terlalu banyak teori, dan lainnya. Bila ada seseorang di antara yang terikat itu memercaiayanya, pikirannya tentang “luar yang terang” sesungguhnya tak akan pernah se-“luar yang terang” milik lelaki yang lolos tadi. Inilah hierarki realitas. Seseorang yang melihat realitas di “ruang yang satu”, tentu berbeda dengan yang hanya sekadar mendengar atau memahaminya dari “ruang yang lain”.
Rumi mencontohkannya dengan lebih jenius. “Bila kau memberitahu pada bayi dalam rahim bahwa di luar sana ada gunung, langit, dan benda-benda, ia tak akan memercayainya.” Kata Rumi. “Sebab baginya ‘dunia’ adalah janin yang sedang ia tempati. Dunia adalah tempat yang diluputi darah.” Sekuat apapun seseorang memberitahunya, si bayi tak memercayainya. Maka, ketika si bayi terlahir ke dunia, ia menangis. Sesungguhnya si bayi sedang menyesal mengapa ia tak memercayainya dari dulu. Tapi itulah hierarki realitas, setiap orang memiliki ruang kesadaran masing-masing. Mungkin, ketika kita bicara ‘perpisahaan’ pada orang yang pernah merasakannya, akan lain rasanya bila kita membincangkannya dengan seseorang yang tak pernah melaluinya.
Ketika seorang teman memberi tahu saya bahwa ada soto ayam+nasi+krupuk+es teh seharga seribu lima ratus rupiah di pojokan Kasihan Bantul sana, setengah mati saya tak memercayainya. Lengkap dengan berbagai argumentasi saya soal harga sembako yang selangit, ekonomi liberal yang membuatnya tak mungkin, dan seterusnya. Tapi dasar saya “belum mengalaminya”, belum memasuki realitasnya, ketika si teman mengajak saya kesana, membuktikannya, seluruh argumentasi saya runtuh. Seluruh penolakan saya tak beralasan. Seluruh ketidakpercayaan saya ternyata sia-sia belaka. Di sisa-sisa kesia-siaan itu, saya menyesal, lalu setelah itu saban hari saya bolak-balik makan di sana—sambil menelan rasa malu yang tak sudah-sudah karena benar-benar ada paket lengkap soto ayam seharga 1500 rupiah.
Mbak Dee. Kau berada di mana, aku berada di mana, juga ternyata penting ketika membincarakan sesuatu. Bukan hanya soal persepsi. Benar katamu tadi, persepsi hanya soal kadar: yang kecil bisa menjadi besar, yang murah bisa terasa mahal, yang hijau terlihat merah, yang sedih terbaca kurang sedih; persepsilah yang bermain di sana. Tetapi ketika kita berada di ruangan yang berbeda, dalam realitas yang berbeda, dalam kesadaran yang berbeda, yang terjadi bukan [lagi] soal “kadar”, tetapi yang lain yang bisa jadi sangat menyimpang, betul-betul berbeda, jauh sama sekali.
Bila terlihat seperti ada filter, lensa yang berbeda, kesalahpahaman, persepsi memang begitu. Persepsi seperti punya kehendak sendiri di kepala masing-masing orang. Ketika kau katakan “Jangan pikirkan aku selingkuh!”, yang terjadi pada persepsi mereka justru lawannya. Ketika kuminta kepadamu, “Jangan pikirkan gajah!” Pasti seekor gajah tiba-tiba muncul di pikiranmu, bukan?
Bila kita berharap “komunikasi [yang baik]”, bila kita berharap orang bisa mengerti keaadan kita, berpikir seperti cara pikir kita, bertindak seperti tindaktanduk kita, lakukanlah seperti melakukan Dyad. Masuki diri partner kita, masuki relaitasnya, jadilah dia: maka kita akan mengerti. Jadi, teman-teman para komentators, jika ingin memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada penulis postingnya: masukilah realitasnya, rasukilah dirinya.
Lho? Kok jadi ngelantur, ya? Hehehe. Saya pikir kita tetap bisa melakukan persuasi—atau negosiasi—untuk mengubah persepsi orang atas kita. Atau lebih tepatnya, kita bisa “mengajak” berubah, meskipun kita tidak bisa menjaminnya benar-benar berubah. Tetap ada nilainya. Tidak nihil. Tidak jadi zero sum game juga. Kita tetap bisa menawarkan “kacamata” atau “kacahati” tertentu untuk dipakai seseorang dalam menilai sesuatu seperti yang kita inginkan. Kita tetap bisa mengajak orang lain memasuki “ruangan” kita, memasuki “realitas” kita, agar mereka juga cukup mengerti. Meskipun pada level “mau atau tidak”, “berubah atau tidak”, keputusan tetap berada pada diri masing-masing (di sini saya setuju ‘tak ada yang bisa mengubah diri kecuali dirinya sendiri’).
Seperti pedagang kacamata hitam lima ribuan di pinggir jalan, mereka tetap menawarkan “lensa” untuk mengubah pandangan para pengendar motor yang merasa silau untuk [jadi] lebih redup. Mereka tetap boleh menawarkannya, dan soal ada yang mau beli atau tidak, bukan yang terpenting. Berjualan adalah bertindak dan berusaha. Dalam berusaha dan berupaya tidak ada nilai yang nihil, bukan? Setidaknya niatnya saja sudah ada nilainya. Maka, tidak ada zero sum game. Hehe.
Jadi, kalo penjual kacamata benar-benar gagal dan kacamatanya “nggak” laku, bukan soal upaya dia yang tak ada nilainya. Mungkin dia salah tempat berjualan.
Mungkin ia menjual kacamata hitam di tengah hutan, mungkin ia menjual kacamata lima ribuan di kompleks elit yang gengsian. Inilah soal hierarki realitas: mungkin Mbak Dee menawarkan kacamata yang terlalu mahal, bermerek terkenal, buatan luar negeri, sementara para calon pembelinya terbiasa dengan kacamata hitam lima ribuan.
Salam,
Fahd
http://www.ruangtengah.co.nr
P.S. Maaf soal ketidaksetujuan. Maaf soal komentar [yang] panjang.:)
Jenny Jusuf said,
September 3, 2008 at 8:18 pm
Membaca artikel ini, gambaran yang bermain di imajinasi saya justru bukan lensa berwarna, tapi kacamata kuda. Hehehe.
Kebenaran sejati terkadang hanya bisa ditemukan ketika seseorang bersedia melepaskan cangkang yang terdiri dari berbagai pengkondisian, konsep ideal dan kontruksi citra. Kesiapan dan kesediaan hati adalah salah dua kuncinya.
Ah.. jadi kangen Dyad.
Herdi said,
September 3, 2008 at 8:33 pm
Malaikat Juga Tahu
Seringkali – sebab jiwa yang dangkal- kita memaknai hidup dari apa yang kita suka, dari apa yang kita cinta .
lewat “Malaikat Juga Tahu” telah memberikan pencerahan… untuk memahami sesungguhnya ada kekuatan kasih dan cinta dari apa yang kita tidak suka
Anonymous said,
September 4, 2008 at 2:09 am
Saya jadi ingat hubungan dengan isteri,kami beda banget tapi bisa menghargai perbedaan itu sendiri, contohnya soal agama, istri katholik, saya Buddhist, soal hoby: istri berkebun , saya nonton, dan begitu banyak perbedaan tetapi bukan untuk di bedabedakan, hari demi hari kami lalui dengan kemesraan dan juga pertengkaran , itu lah hidup, jalani aja apa adanya .biar beda saya tetap sayang sama dia.
hadidot said,
September 4, 2008 at 6:46 am
memang hidup ini masalahnya hanya sudut pandang saja. sepuluh orang maka akan ada sepuluh sudut pandang. seribu orang juga akan ada seribu sudut pandang.
gak percaya? coba aja itu seribu orang disuruh bikin lingkaran. terus suruh pada nunjuk ke kanan semua tangannya. maka disitu akan ada seribu kanan (asal lingkarannya bagus ya;p) semuanya bilang kanan,tapi arahnya berbeda semua,dan itu kurang lebih sama dengan kehidupan kita sehari-hari. kita bisa aja ngomongin hal yg sama,tapi jadi beda karena melihat dari sudut pandang berbeda.
saya bilang tanjakan kamu bilang turunan, soalnya saya dari bawah kamu dari atas,coba kamu turun dulu,baru paham pastinya.
jadi gak usah dipikirin ,kebenaran itu relatif ,tergantung persepsi kita.
akhirnya kesimpulannya adalah :
kalo kamu cuma bisa melihat dari satu sudut pandang,kamu bisa milih,mau jadi orang dengan sudut pandang negatif atau positif.
tapi kalo kamu bisa melihat lebih dari satu saja (keduanya atau lebih) maka kamu udah bisa dibilang orang yg bijak.
makin banyak sudut pandangnya makin bijak jadinya.
semoga dee jadi tambah bijak ya setelah menghadapi semua ini:)
-didot-
afreeze said,
September 4, 2008 at 8:51 am
saya beruntung comment saya dibaca.. hehehe… (masih di bawah angka 100 :p )
segala sesuatu adalah persepsi..
semua tergantung bagaimana ditempatkan dan disikapi
melepaskan kaca itu mungkin lebih damai.. melihat hanya dengan mata dan hati..
indahnya….
rouv_azzacky said,
September 4, 2008 at 8:09 pm
terima kasih, mbak dee..
lagi2 saya kagum dengan cara bertutur anda..
gosh, aku uda mikir kyk gitu dari dulu, tapi gak pernah bisa ngungkapin ke orang laen..
lagi2 terima kasih, mbak dee..
saya gak bisa berhenti senyum baca tulisan mbak dee..
heheheheeee..
ps : masih tetep penasaran, nunggu supernova.. kapan?
MAY'S said,
September 4, 2008 at 9:08 pm
begitulah sejelas apapun pemaparan kita
tiap orang punya point of view yang beda…
itulah kenapa ada ilmu anthropologi dan sosiologi
barangkali…
deka said,
September 4, 2008 at 9:47 pm
mengomentari tulisan dee ini, aku kutip dari “A Collection of
Wisdom” Zen Buddhism, sbb:
Perfect Understanding
Disciple: “Tell me about a person who has a perfect understanding of
things?”
Master: “It is a great practice.”
Disciple: “It is unclear to me—do you practice?”
Master: “I wear clothes and I eat food.”
Disciple: “Those are standard behaviors. It is still unclear to me—do
you practice?”
Master: “Tell me this—what do I do everyday?”
What is Moving?
Two monks were arguing about a flag, and the Sixth Chan / Zen
Patriarch [Hui Neng] overheard them.
First monk: “The flag is moving.”
Second monk: “The wind is moving.”
The Sixth Patriarch: “Not the wind, not the flag. Mind is moving.”
Inco said,
September 5, 2008 at 1:34 am
kebenaran itu cumalah kesepakatan kolektif…
andreas said,
September 5, 2008 at 11:50 am
warna-warni yang memperkaya dan mendewasakan. “Little Monkey Drummer” bukan Palu
itu judul salah satu puisi saya. tetapi barangkali konteks lain tapi tak apalah semoga berguna
akankah aku membuka pintu
kepergian dengan kengerian
seratus tahun kesunyian
karena setelah palu
kamu palu godam
karena palu berkejaran dengan palu godam
tetapi aku akan setia
sebagai paku
bila godam,
maka aku akan jadi paku bumi
bila godam
maka akau akan jadi paku langit
dum dum dum
dan palu
keras menghantam paku
tidakkah indah
tidakkah sesungguhnya mereka
saling mencinta
karena hanya
karena hanya dum dum palu
paku bumi nancap dalam
mbuka jalan bagi minyak mentah
atau air menyembur
sedang paku langit nancap
njebol
sumbat hujan
dan tirai cahaya
setelah awan
kehilangan hitamnya
kehilangan bobotnya
tapi apakah aku dan mungkin kamu
setangguh itu…..
bukan dum dum palu paku
aku samar mendengar tersentak
dum dum ‘little monkey drummer’
hadiah ulangtahun untuk adikku
yang tak kutahu penanggalannya
ia kini telah pergi
tapi tak akan mati-mati
anu said,
September 5, 2008 at 7:45 pm
hoo, jadi inget kuliahnya mas nur! hehe, dee dulu kebagian kan? kalo saya sih termasuk yg percaya kalo manusia itu punya keberdayaan utk membongkar pasang lensanya masing2, mau dituker2 lensa juga bisa, itu semua tergantung tujuan dan kemauannya masing2.
tatiana js soemitro said,
September 5, 2008 at 9:41 pm
hii..mbak dewi..
kita tidak bisa menyenangkan banyak orang. dan orang lain belum tentu tahu kapasitas yang terjadi sebenarnya. masih banyak orang, walau intelektual sekalipun masih menjudge from its cover. Kita bisa mengubah hal negatif menjadi energi positif toh buat diri kita sendiri. Tenang bu, Indonesia memang terkenal komentatornya tohhh..:))..
bilik2engeline said,
September 6, 2008 at 12:03 am
sist…
tawa itu hilang…
pesta telah usai..
tapi matahari tetap hadir
dengan sinar yang masih sama..
berjalanlah lagi dengan langkah tegap
karena mimpimu masih yang sama..
untukmu yang akan selalu ada..
dengan segelas air disaat kau terbaring..
God bless u..
happy lilie said,
September 6, 2008 at 4:13 am
HAI SALAM KENAL KAK DEWI
SAYA BARU KALI INI BUKA BLOG2AN.. HEHE
SAYA JUGA BARU BUAT BLOG SENDIRI..
BY THE WAY.. MAY I KNOW UR EMAIL ADDRESS KAK DEWI?
” SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA “
happy lilie said,
September 6, 2008 at 4:27 am
salam kenal..kak dewi.. nama saya lidya..
saya pengen ngobrol banyak sama kak dewi via email.. boleh gak?
saya tertarik pengen jadi penulis..
selama ini sih pekerjaan saya penulis amatiran di kamar..hahah
maksudnya saya suka nlis2 diary gitu..:P
aku banyak pertanyaan untuk kak dewi..mm.. lebih tepatnya ingin meminta masukan atau bertanya pengalaman kak dewi..
aku juga punya impian pengen nulis buku
pengen buat cerita..
buanyaaak keinginan yang tak tersalurkan…hahaha
yah kalo memang jodoh mungkin saya dan kak dewi bisa berteman ya..:)
saya butuh teman untuk bertanya tentang tulis menulis..dan entah mengapa saya merasa kak dewi org yg tepat.yah itu juga kalo kak dewi gak keberatan..haha
saya merasa saya punya bakat.. dan saya yakin saya bisa menjadi apapun yang saya mau.. tapi saya memiliki banyak halangan.. dan salah satu penghalang saya adalah tiadanya orang yg membimbing atau untuk share..
duuhh,, saya jadi bingung kenapa saya jadi curhat gini ya? hahaha
kalo kak dewi mau berbaik hati meluangkan waktu untuk membalas comment saya.. waw… i will very happy..
l123cool@gmail.com
( nb: this secret comment .. just u and me..haha saya nulis panjang lebar gini saya pikir karena gak otomatis di publishing.. jadi ya.. maybe u will delete this comment)
thank u
semoga semua makhluk berbahagia..
Buddha bless us
Buddha bless all
danny said,
September 6, 2008 at 8:59 am
situ lobang kunci
saia anak kunci
tapi saia anak kunci untuk membuka pintu yg lain
siapa yg salah siapa yg benar?
jalani path-nya sendiri2 aja dl
oneday
maybe
saia akan btemu dgn situ lbh dekat lagi (krn dia yg melengkapi situ merupakan teman d satu gantungan kunci)
^o^ berusaha bangetz bs nulis sbagus mba dee
wish u all d BEST mba
SEMANGATZ
I-Think-Oke said,
September 7, 2008 at 4:38 am
Hai Dee..memang paling enak ngomentarin urusan pribadi orang lain. Abisnya dah stres sih mikirin hidup diri sendiri. Hi..hi… Yah, begitulah Dee. Komentar2 di blogmu sih tak seberapa pedas. Coba tengok di beberapa milis, mereka yang katanya kaum terpelajar dengan gelar sederet dan status bla..bla..bla…toh cara pandangnya jauh lebih picik dan sempit dibanding tetangga saya Pak Ahmad, yang cuma lulusan SMP. Ketidaksukaan mereka lampiaskan dengan mencaci maki agama orang lain padahal yang berbuat salah (mungkin) beberapa gelintir orang. Hidup Indonesia!
em said,
September 7, 2008 at 5:06 am
Jum’at akhir agustus lalu, saya dan sekitar 10 orang kawan juga sengaja membahas “Catatan Tentang Perpisahan” dalam forum diskusi kami “Orange Talk”.
Yah pendapat orang emang macam-macam. Ternyata saya juga tidak bisa menyamakan hasil pembacaan saya dengan teman-teman saya..
alilutfi said,
September 7, 2008 at 8:41 am
Kembalikan ke hati nurani kita masing-masing, saat kejujuran yang paling fundamental dapat kita dengar. Tanpa keinginan untuk memaksa yang lain, maupun menipu diri sendiri. Di tempat itu kita yakin sudah tidak belaku lagi kacamata maupun kacahati sekalipun.
Avatar said,
September 7, 2008 at 10:18 am
… aku baru saja alamin perpisahan, beberapa waktu lalu… gak pernah mudah untuk hadapin hidup yang bergulir cepat, dalam penilaian sepihak orang-orang sekitar kita… tapi, hidup selalu indah dalam catatan-Nya, hanya aku sadar manusia dalam seluruh keterbatasannya selalu terbata dalam pemahaman indah itu…
Dan sekarang, aku jalanin hidup apa adanya, bergulir dalam ketenangan yang harus aku dapatkan.. & uniknya, beberapa waktu terakhir aku temukan ketenangan dengan lagu 'Malaikat juga tahu'… Dee, thanks for enlight life with such a beautiful song… lagu yang bener-bener jujur… thanks for the song…
Anonymous said,
September 7, 2008 at 3:26 pm
Setelah mencermati perjalan kalian ber empat (Dewi, Reza, Marcell dan Rima M. Adams), menurut saya bahwa kalian saat ini sudah memasuki tahap revolusi perilaku..yang sebelumnya sudah melakukan revolusi pemikiran.
Saya jadi inget diskusi dengan anda beberapa tahun lalu dimana anda memimpikan One Big Happy Family (OBHF) yang tidak terikat dengan ikatan pernikahan..anak-anak yang terlahir dari OBHF akan menjadi tanggung jawab bersama OBHF dan impian-impian lainnya.
Saat ini anda dan 3 orang lainya secara sadar ataupun tidak sadar mulai membentuk visi tersebut. Saya hanya khawatir apabila anda mulai mengkampanyekan visi tersebut, ternyata mendapat penentangan keras dari masyarakat dan menjerumuskan anda dan orang-orang di OBHF kedalam clash yang lebih parah dengan masyarakat, terutama masyarakat agamis.
Mungkin apa yang saya sampaikan terlalu jauh..tapi sejujurnya itulah yang saya khawatirkan..Anda dengan reputasi anda, Reza dengan segala kualifikasinya..Marcel dengan segala pencapaian dan Rima M. Adams dengan segala kelebihan yang dimilikinya..akan tergerus oleh kuatnya arus mainstream…sehingga menjadi seonggok batu tanpa nilai yang dicibir oleh masyarakat, sebagaimana AA Gym yang hancur hanya karena 1 perkara yang bertentangan dengan Mainstream.
Mungkin anda lupa dengan saya, tapi anggaplah ini sebuah triger untuk merekontruksi kembali visi anda..sehingga mendapatkan visi yang dikompromikan antara idealis dan realis. sehingga anda bisa menjadi orang-orang yang walking the path not only knowing the path
Salam Pencarian
Someone who walking his path
ella said,
September 7, 2008 at 10:49 pm
u always my fave write dee …
just keep smiling n move ur life
sabar ya mba .. emang orang2 tuh gitu seneng liat orang susah, susah liat orang seneng .
peace
salam kenal
Melissa said,
September 8, 2008 at 5:34 am
Saya bahagia jika manusia menyadari bahwa kebenaran ala manusia pasti tidak valid, karena setiap manusia mengikuti dan mengkukuhkan kebenaran yang berbeda-beda. Tetapi apakah hal ini berarti tidak ada kebenaran yang valid? Jika tidak ada kebenaran yang valid, bukankah berarti setiap manusia tidak akan boleh dihakimi telah berbuat salah?
Reza Gunawan said,
September 8, 2008 at 8:13 am
To ReeeVaaa,
KeBENARan tidak ada yang absolut.
Kita sama-sama lihat bulir padi. Anda bisa sebut beras, kalau saya tinggal di negara Barat disebut rice, kalau di Jepang dibilang bahan Sushi, kalau di Bali buat bahan sesajen, kalau di Eropa dianggap makanan aneh.
Wujudnya serupa, tapi sungguh label dan penyikapannya tetap relatif. Bahkan kalau ahli fisika quantum lihat beras, dia tetap bersikeras bahwa sebenarnya beras pun merupakan ilusi panca indera yang esensinya ruang hampa.
Kalau beras saja bisa RELATIF dan VARIATIF begini sebutannya, penyikapannya, pemanfaatannya, terkadang dari siapa individu yang sedang menghayati… apalagi sesuatu yang tidak berwujud seperti Takdir, Cinta dan Tuhan?
Bahkan upaya Anda untuk tidak sependapat dengan Dewi, atau komentator lain dalam blog ini, bukankah itu justru membuktikan bahwa semua pemahaman kita bersama atas kebenaran adalah relatif? Kalau kebenaran itu absolut, kita sudah sama-sama diam, barangkali tersenyum aneh, karena pada saat itu mengeluarkan kata-kata apapun dari mulut pun sudah membuat kita keluar dari ke-Absolut-an, dan kecebur dalam ke-Relatif-an.
Kata Anda, manusia itu kosong hidupnya tanpa harapan? Saya punya pendapat berbeda (namanya juga kebenaran relatif). Justru ketika kita siap melepas semua harapan, dan semua ketakutan, barulah kita punya kesempatan langka. Kesempatan untuk mencicip CINTA yang sebenarnya, yang bukan konsep.
Selamat mencicip…
Reza
ronny said,
September 30, 2008 at 3:31 am
Lewat tulisan berjudul ’Warna Warni Kacamata-Kacahati’, saya mencoba untuk merenungkan apa di balik tulisan itu.
Pertama :
Dee melihat kehidupan bukan hanya pada sisi yang tampak dengan kasat mata, tetapi mencari makna dibalik yang tampak, mencari jawaban mengapa sesuatu terjadi, dan menyadarinya sebagai sesuatu yang memang terjadi, karena suatu sebab.
Kedua :
Persepsi yang dimiliki oleh Dee dan persepsi yang dimiliki oleh orang-orang yang berkomentar di situs ini dapat berbeda. Perbedaan terletak pada kedalaman pencarian diri, mencari sebab-sebab dari suatu akibat. Mungkin beberapa orang yang berkomentar di situs ini memiliki jangkauan pandangan yang tidak sedalam Dee. Penting untuk dipahami, mengapa itu terjadi? Dee berpendapat karena kacamata, kacahati yang berbeda. Meskipun demikian, Dee tetap memiliki kesadaran bahwa persepsi dapat berubah karena suatu pengaruh, dan tulisan Dee dalam situs ini merupakan alat untuk mempengaruhi persepsi bagi orang-orang yang berkunjung di situs ini.
Ketiga :
Komentar dari berbagai pengunjung di situs ini merupakan refleksi dari suatu energi dalam bentuk tulisan yang dapat mempengaruhi dan menyadarkan Dee akan suatu realitas kehidupan. Komentar yang berbeda dengan apa yang diinginkan oleh Dee bukan untuk dikecewakan tetapi untuk dimaknai sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan, karena kehidupan adalah perubahan yang dicirikan oleh perbedaan.
Keempat :
Bagaimana pun teori yang kita gunakan untuk mengajukan suatu argumentasi, tidak akan berguna jika kita berada dalam posisi untuk memaksakan argumentasi itu, dan tidak mampu untuk menyadari bahwa ada orang yang tidak sepaham dengan kita karena menggunakan persepsi, kacamata, kacahati yang berbeda. Ketika kita mulai menyadari bahwa ada orang yang tidak sepaham dengan kita, ketika itu pula mata hati kita mulai meluangkan kesempatan untuk mendengarkan argumentasi orang lain. Hidup adalah suatu sinergitas, saling pengaruh mempengaruhi. Keterbukaan untuk memandang sesuatu berbeda menjadikan pencerahan bagi kita untuk menyadari keberadaan perbedaan dalam kehidupan. Meskipun demikian, kita tetap memiliki peluang untuk mengubah pandangan orang lain.
NB : Buat Dee, jika hasil perenungan saya kurang tepat, mohon diluruskan.
Website : http://www.ronny-hukum.blogspot.com
e-mail : ronny_wuisan@yahoo.com
buatmaru said,
November 13, 2008 at 1:07 am
memang benar apa yang Dee katakan. kita selalu melihat dari lensa kita masing-masing yang penuh kata-kata relatif…
untuk itu lah Tuhan menurunkan pedoman… buat saya orang Muslim, Allah menurunkan Al Quran dan Rasulullah SAW, Rasul yang sangat mulia… lensa kaum muslimin dan muslimat adalah Al Quran dan Al Hadist yang tidak ada kata-kata relatif…Kebenaran yang disampaikan adalah hakiki…
saya rasa agama yang diyakini umat lain juga sama…mengajarkan kebenaran yang memiliki dasar. jadi tidak menjadikan kebenaran itu sebagai barang relatif
nsueta said,
November 19, 2008 at 5:58 pm
Memang sulit menikmati “now”. Kita cenderung mengkhawatirkan “now” berikutnya, dari pada mempersiapkan “now” berikutnya sambil menikmati “now” sekarang.
dv said,
January 15, 2009 at 2:53 am
aq br kali ini buka blog orang dg tujuan iseng… pengen tw ja kya gmana sich sebenernya sosok penulis yang aq kagumi karyanya itu….
aq emang buka seleb apalagi orang dengan sosok populer, jauh deh…..
tapi aq juga sering digosipin yang aneh-aneh sama temen-temenku..
kadang risih juga sich, tp aq biarin aja mreka mw ngmong ap.. jujur, aq juga ngerasa lebih enak ngomongin orang lain daripada ngomongin diri sendiri, soalnya mata kita tu selalu ngeliat orang lain jadi yang keliatan tu celanya orang, sedangkan celanya sendiri jadi gak kelihatan.
sampek akhirnya aku sadar, bukan apa yang masuk ke mulutku yang berbahaya, tapi apa yang keluar dari mulut itu yang bisa bikin aku masuk neraka. sejak itu aku jadi hati-hati ma bagian tubuhku yang satu ini… sensitif banget…
aq cuma bisa berfikir. semakin tinggi kamu terbang, semakin kencang angin yang menerpa. dan disitulah kamu belajar, jatuh bangun diterpa angin hingga kamu terbiasa menghadapi segala sesuatunya. bukan hasil yang terpenting tapi prosesnya.
kata ayahku, biar aku gak bisa dapet 100 waktu ujian, yang penting aku bisa ngajarin orang lain apa yang aku pelajari, kalo perlu biar orang lain yang nyontek aku tapi aku gak boleh nyontek siapa-siapa.
semangat ya….
jangan lupa, tetep bikin karya yang mengagumkan buat orang lain….yang bisa dicontek tapi jangan nyontek…
Vie said,
March 13, 2009 at 10:27 pm
Halo Mbak Dee ..
Aku seneng banget mbak Dee menyanyi lagi. Lagu mbak Dee “Malaikat pun Tahu ” sungguh mencerminkan siapa mbak Dee. Ternyata Mbak Dee tetap sosok yang patut saya idolakan. Tak ada yang berubah. Tadinya saya ikut sedih banget, mendengar Mbak Dee, maaf – bercerai-. Tetapi setelah pertama mendengar lagu Mbak, saya pun bisa memahami keputusan Mbak.
Saya adalah seorang ibu dengan putra satu berusia 2 th 4 bulan.Saya merasa lagu itu juga mewakili saya sebagai wanita yang berusaha sebaik-baiknya untuk anak dan suami. Saya tidak terlalu cantik, tetapi manis dan menarik he..he… Dan saya mempunyai hati yang kuat,tegar,sekaligus kasih sayang tanpa batas. Dan saya akan melakukan apapun agar selalu bahagia untuk keluarga, khususnya putra saya. Kata Oprah Winfrey, kado terbaik untuk anak adalah ibu (bukan ayah lo..)yang bahagia. Selalu bahagia ya Mbak Dee……
Waktu kuliah di UNS, saya datang ke seminar Mbak Dee th 2002. Oh Mbak cantik banget luar dalam.. Saya juga membaca Supernova. Hebat, Cerdas!
Saya selalu salut dengan orang yang bisa bangkit dari kesedihan. Mbak Dee adalah sosok wanita yang bisa menginspirasi. Terus berjuang ya…