Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan

Berikut ini dua pertanyaan yang paling kubenci:
Apa itu cinta?
Apa itu Tuhan?

Aku membenci kedua pertanyaan itu sepenuh hati sampai kudedikasikan seluruh hidupku untuk mencari jawabnya, agar kedua pertanyaan itu berhenti menghantui. Dan tidak ada yang lebih memahitkan mulut, memualkan perut, menyesakkan jantung, ketika seseorang muncul dengan kertas dan pulpen, atau alat perekam, di tengah jam makan siang, saat rahangmu sedang sibuk mengunyah, saat makanan di piring memohon perhatian penuhmu, dan orang itu bertanya: “Menurut Anda, apa itu cinta?”

Demi sopan santun dan etika budaya, aku tahankan garpu agar tak mencelat ke bola matanya, dan kugenggam erat-erat piringku agar tak pecah jadi dua di atas batok kepala wartawan itu. Aku hanya menggeram dan mengulang: “Cinta?”

Si wartawan pun berpikir bahwa pertanyaan brilian berikutnya akan memancing jawaban lebih panjang dan lebih mencengangkan, yang akan menghibur para pembaca majalahnya bersama-sama artikel 10+1 cara bercinta paling panas dan peta terbaru menuju spot-spot orgasmik yang selama ini tersembunyi. Dan dia sungguhan nekat bertanya: “Menurut Anda, apa itu Tuhan?”

Jemariku bergetar, menahan garpu, pisau, piring, gelas, dan benda-benda dalam radiusku yang sangat mungkin kujadikan senjata pembelaan diri atas serangan pertanyaan-pertanyaan paling muskil dijawab tapi selalu ditanyakan itu.

Dan aku teringat baris-baris panjang tentang cinta dan Tuhan yang pernah dimuntahkan mulutku seperti peluru dari senapan otomatis—yang begitu hebat dan jenius hingga menembusi hati orang-orang yang mendengarnya. Aku teringat buih dan busa di sudut mulutku saat berdiskusi tentang cinta dan Tuhan—yang jika dikumpulkan barangkali bisa merendam tubuhku sendiri di bak mandi. Aku teringat jerih payah, keringat, air mata, pegal-pegal, kurang tidur, tak makan, tak minum, yang telah kutempuh demi mencari apa itu cinta dan Tuhan. Dan kini, meski sanggup, tak muncul secuil keinginan pun untuk mengutip data dalam ingatanku.

Tanpa terburu-buru, kuselesaikan kunyahan, lalu minum air seteguk. “Begini,” aku mulai menjelaskan, “pertama-tama, dengan mengetahui apa itu cinta, kita akan mengetahui Tuhan. Dan ketika kita mengetahui Tuhan, kita juga jadi tahu apa itu cinta. Jadi, kita bisa mengungkap keduanya sekaligus.”

Mendengarnya, wartawan itu kian mencondongkan badannya ke depan, matanya berbinar antusias. Semakin yakinlah ia betapa cemerlangnya pertanyaan-pertanyaan itu, betapa bermutu dan menantangnya.

“Tapi saya tidak ingin menjawab ini sendirian. Saya ingin mencarinya bersama-sama. Anda setuju?” ucapku dengan sikap tubuh yang seolah hendak mengambil ancang-ancang.

Wartawan itu terkesiap. Tak siap. Namun rasa penasarannya terusik, dan ada keinginan kuat untuk mempertahankan reputasinya sebagai sang penanya brilian. Akhirnya, ia mengangguk setuju.

Aku lantas menyambar mangkok berisi acar, mencomot dua bawang merah utuh, dan memberikan satu butir kepada wartawan itu. “Ayo, kita kupas. Pakai kuku.” Dan tanpa menunggu, dengan semangat dan giat aku mulai mengupas.

Meski ragu, si wartawan mulai ikut. Mukanya tampak enggan dan berkernyit-kernyit tanda tak rela.

“Ayo. Terus, sampai habis.” Sesekali aku mengingatkan, karena sering kali dia berhenti atau melambat.

Demikianlah kami berdua, dengan mata mengerjap-ngerjap perih, mengupasi bawang dengan kuku yang akhirnya jadi lebih mirip mencacah, dengan serpih-serpih bawang yang berantakan mengotori meja. Dan akhirnya kami berhenti ketika serpih terakhir sudah terlampau kecil untuk bisa dikupas.

Berlinangan air mata, yang jatuh bukan karena duka atau suka, aku pun berkata: “Inilah cinta. Inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa.” Sambil terisak, yang bukan karena haru bahagia atau haru nelangsa, lagi aku berkata: “Itulah cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, dan bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.”

Ditandai air mata cinta yang menghiasi pipi kami berdua serta aroma Tuhan yang meruap segar dari kuku, wawancara siang itu usai.

Artikel itu kemudian terbit. Tanpa baris-baris kalimat. Hanya gambar besar semangkok acar bawang. Dan mereka yang membacanya menyangka bahwa itu resep afrodisiak. Mereka lalu melahap semangkok acar bawang, bercinta, sambil terus bertanya-tanya: apa itu cinta? Apa itu Tuhan?


* Inspired by a Dyad in Relationship Evolution Workshop, Aug 2007

Peluk

Ada keanehan yang menyembul keluar dan kini menguasai pikiranku, yang membuat aku berjarak dengan diriku sendiri dan memunculkan satu tanya: mengapa kulakukan ini? Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya. Itukah yang dinamakan firasat? Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diriku sendiri. Bagaimana bisa kita ingin pisah dengan diri sendiri?

Barangkali itulah mengapa kematian ada, aku menduga. Mengapa kita mengenal konsep berpisah dan bersua. Terkadang kita memang harus berpisah dengan diri kita sendiri; dengan proyeksi. Diri yang telah menjelma menjadi manusia yang kita cinta.

Sedari tadi kamu seperti orang kesakitan, merangkul erat badanmu sendiri dengan mulut terkatup rapat dan rahang mengencang. Aku ingin bilang, aku paham kenapa kamu sakit. Namun tak sepatah katapun keluar. Aku ingin bilang, aku sakit melihat kamu sakit. Namun bungkusan udara ini memberangus mulut kita berdua.

Mengapa kata-kata justru hilang pada saat seperti ini? Saat kulihat kamu butuh penghiburan, nasehat bijak, atau humor segar agar kesedihan ini beroleh penawar? Kemampuan kita berkata-kata menguap. Kemampuanku melucu lenyap. Kebisuan menjadi hadiah kebersamaan kita bertahun-tahun. Aku ingin bilang, berbarengan dengan makin pilunya hati ini, ada keindahan yang kurasakan, dan aku tak mengerti mengapa bisa demikian.

Pandangan mata kita yang sedari tadi berlari-lari mulai berani menemukan satu sama lain. Rasanya kita sama-sama tahu, entah kapan lagi tatapan seperti ini terjalin. Tak mungkin kulupa caramu memandangku, dan tak mungkin kau lupa bagaimana semua ini bermula. Aneh. Pada saat kita hendak berbalik dan menutup pintu, mendadak ruang yang kita tinggalkan memunculkan keindahan yang selama ini entah bersembunyi di mana.

Tanganmu bergerak bimbang seperti ingin meraih tanganku, tapi kau urungkan niat itu. Dua manusia yang sudah bercinta bertahun-tahun dan merasakan setiap jengkal kulit masing-masing, mendadak enggan untuk bersentuhan.

‘Habis ini, lalu apa? Kamu sendirian. Aku sendirian. Buat apa? Kenapa kita tidak berdua lagi saja?’

Suaramu pertama dalam setengah jam terakhir.

Mulutku refleks membuka, ingin menjawab. Tapi tak ada bunyi keluar selain tiupan karbondioksida. Aku tak tahu jawabannya. Aku tidak tahu sesudah ini lantas terjadi apa. Aku tidak tahu kenapa dua manusia yang saling sayang harus kembali berjalan sendiri-sendiri.

Namun kurasa hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Jika malam ini kita memutuskan untuk terus bersama, itu karena kita tidak tahu bagaimana menangani kesendirian. Aku tidak ingin bersamamu cuma karena enggan sendiri. Kau tidak layak untuk itu. Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukannya ketakutan akan sepi.

‘Apa artinya ‘cinta yang tidak lagi sama’ yang kamu sebut-sebut sejak tadi itu? Memang cinta itu ada berapa macam?’ tanyamu dengan nada meninggi. Air mata yang tadi sudah reda tampak siap-siap melancarkan serangan lanjutan. Entah berapa gelontor lagi yang bakal tiba. Mendadak aku lelah karena harus menjelaskan variasi cinta macam pedagang yang mempresentasikan katalog produk.

Aku tidak tahu cinta punya berapa macam varian. Kau harus bertanya langsung pada hatiku, karena dialah yang satu hari menutup dan berkata: ‘cukup.’ Dia yang berkata: ‘aku tidak lagi jatuh, jalan ini sudah jadi jalan lurus. Teruskan maka aku mati, karena takdirku adalah jatuh. Bukan berjalan di setapak datar apalagi mendaki.’

Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu? Aku pun tak tahu. Barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. Barangkali hidup itu sendiri, sehingga sia-sia menyalahkan siapa-siapa.

Aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati. Aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama-sama bergerak. Sebelum kita terlalu jengah dan akhirnya pisah dalam amarah.

Jadi, aku tidak tahu cinta itu terdiri dari berapa macam. Yang kutahu, cinta ini tersendat, dan hatiku seperti mau mati pengap. Kendati kusayang kamu lebih dari siapapun yang kutahu. Kendati bersamamu senyaman berselimut pada saat hujan. Aku aman. Namun aku mengerontang kekeringan. Dan kini kutersadar, aku butuh hujan itu. Lebih dari apapun.

‘Kamu akan menyesal…’ gumammu lagi.

Mungkin. Kini kita tak mungkin tahu.

‘Enam tahun. Kita akan buang enam tahun itu begitu saja?’ Retoris dan getir, kamu bertanya.

Kamu bukan tisu sekali pakai. Kita tidak mungkin membuang apapun jika kita percaya hati bukan diperuntukkan untuk menyimpan. Otakku merekam dan menyimpan kamu, kita, dan enam tahun ini. Hati tidak pernah menyimpan apa-apa. Ia menyalurkan segalanya. Mengalir, hanya mengalir. Namun kata-kata membeku di ujung mulutku seperti stalaktit dan stalagmit. Tampak dinamis dalam konsep tapi tak bergerak.

‘Ngomong, dong!’ Tiba-tiba suaramu meledak murka.

Bentakanmu seperti aba-aba perwira yang menggerakkan kedua tanganku untuk tahu-tahu merengkuhmu. Refleks yang tak kusangka akan muncul.

Tubuhmu berontak. Kurasakan amarahmu, sakitmu. Kupererat rengkuhanku. Tanganmu meronta, berusaha melepaskan diri. Wajahmu kau tarik menjauh. Segala macam cara kau kerahkan untuk bebas dari pelukanku. Namun aku bertahan.

Rasakan, bisikku dalam hati. Panas tubuh kita berdua mencairkan apa yang sudah beku bertahun-tahun. Rasakan betapa lamanya kita terlelap dan membiarkan aliran itu padam. Begitu terbiasa kita memandangi taring-taring es itu hingga menjadi layaknya aksesoris ruangan, padahal kita sudah mau mati kedinginan, kekeringan. Kamu tak layak didera. Kita tak layak disiksa.

Berangsur, tubuhmu tenang. Otot-ototmu yang tegang mulai melemas, lelah meronta, dan lunglai pasrah dalam pelukanku. Kau mulai menangis. Aku mulai menangis. Lenganmu perlahan mendaki dan balik mendekapku. Kita resmi berpelukan.

Cukup lama tubuh kita terpaut hingga kata-kata yang menggantung beku mulai cair dan mengalir ke dalam darah kita masing-masing. Hatimu tahu, seperti hatiku pun tahu. Nadi kita mendenyutkan pesan-pesan yang tahunan sudah menanti untuk bersuara. Inilah keindahan yang kumaksud. Kejujuran tanpa suara yang tak menyisakan ruang untuk dusta. Sakit ini tak terobati dan bukan untuk diobati. Dan itu jugalah keindahan yang kumaksud. Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.

Hati-hati, lenganku melonggar, melepaskan tubuhmu. Aku tahu aku telah dimengerti, meski sekali saja pelukanku.

Aliran ini memecah. Indah. Meski aku berbalik pergi dan tak kembali.

* Cerpen ini adalah salah satu cerita dalam proyek saya berikut: Recto|Verso. Dicipta berdasarkan lagu berjudul sama yang pernah dinyanyikan oleh Shanty. Akan dimuat di majalah HAI dalam waktu dekat.

Guruji

Ada yang janggal dari wajahmu, tapi aku tak pernah memberi tahu. Jejak cambangmu yang kehijauan setelah habis bercukur. Itu aneh. Kulitmu bening bersemu merah seperti bayi, bibirmu merah berkilap seperti dioles gincu, dan kaca mata itu hadir sedemikian rupa membuatmu seperti anak baru lulus sekolah dasar. Kamu tak seharusnya memiliki cambang. Aku yang lebih pantas. Tapi hidup terkadang buta menentukan siapa yang layak dan tidak. Kamu selalu membuatku merasa kurang perempuan.

Ada yang mengganjalku sejak dulu, tapi aku tak pernah memberi tahu. Dulu aku menduga kamu banci. Kamu terlalu ramah dan hangat untuk seorang laki-laki. Berbicara denganmu mengundang sampah hatiku untuk muntah keluar. Sesama perempuan dengan mudah menjadi pencahar rahasia dan gelisahku. Tapi tidak pernah laki-laki. Kamu menelanjangiku tanpa penawar rasa malu. Dan kendati aku ingin menempel padamu seperti benalu, mengisap balik rahasia dan gelisahmu, satu kalipun belum pernah aku menuai sesuatu.

Ketenanganmu, kendalimu atas intonasi dan gejolak emosi, membuatku merasa kurang adab. Kurang manusia.

Dari baris-baris kalimatku tadi, aku memilih sepotong yang terakhir. Kutuliskan pada kertas yang tadi dibagikan dan sekarang sudah harus dikumpulkan. Tercetak di sana dengan tulisan komputer: Apa pendapat Anda tentang Guruji? Lalu terteralah tulisan tanganku: Kurang manusia. Di pojok kanan bawah, tercetak kembali tulisan komputer: Tidak usah menuliskan identitas.

Seusai pelatihan Emotional Healing yang merupakan sesi terakhir pelatihan sepekan ini, Guruji dan anak buahnya membaca hasil angket tadi, dan sesuai prediksiku, mereka tahu itu aku.

Bisik-bisik dan tatapan tidak terima merajami dari kiri-kanan saat aku berjalan melewati murid-murid senior Guruji. Mereka, yang sudah duluan menjadi pelatih dan kelak mewarisi padepokan ini. Statusku masih trainee. Dan sepertinya akan mentok sampai di situ.

Berbeda dengan mereka, Guruji menyambutku dengan tatapan hangat, bersahabat, penuh kasih. Sebagaimana ia menatapku bulan kemarin, kemarin lusa, atau lima menit yang lalu.

‘Ari. Silakan masuk. Tolong pintunya ditutup,’ katanya dengan ritme bicara seperti lagu nina bobo. Anggun, ia melepaskan kacamata minusnya, meletakkannya di meja.

Guruji, tidakkah kamu merasa aneh? Nama kita sama. Tapi kamu laki-laki, aku perempuan.

‘Barangkali tujuan kamu baru tercapai kalau diberi kesempatan untuk bicara langsung,’ lanjutnya lagi.

‘Bicara tentang apa?’

‘Tentang saya. Tentang kamu. Tentang kita.’ Nadanya meninggi di ujung-ujung kata, seolah-olah ia bertanya. Begitulah caranya memindahkan bola. Membuatku menjadi pihak yang seolah-olah menginginkan pertemuan ini.

Refleks aku menoleh lagi ke pintu, memastikannya benar-benar tertutup. ‘Ari—Guruj—Ari… ini tidak wajar! Untuk memanggilmu saja aku bingung!’ hardikku langsung.

‘Kamu boleh panggil aku apa saja. Aku tidak akan bingung. Selama hati kamu yang memanggil, aku akan tahu siapa yang dimaksud.’

Refleks berikutnya, tanganku terangkat, menahan banjiran kalimat bijaknya. ‘Stop. Stop! Mari kita sama-sama menjadi Ari yang biasa, oke?’

‘Memangnya ada yang kamu lihat tidak biasa?’

Ingin kucengkeram kerah bajunya, kuguncang-guncang hingga kepalanya membentur-bentur tembok seperti berlatih bola basket, dan kuteriakkan ini: aku kangen. Manusia yang paling kau rindu ada di hadapanmu dan tetap tak kau temukan apa yang kau cari. Tidakkah itu membuat siapapun ingin gila?

Tiga tahun yang lalu aku masih bisa mencengkeram bajunya, kadang kutanggalkan dengan sopan, kadang brutal. Tergantung besaran dan jenis energi yang hinggap, katanya menganalisa. Dan kami berdua selalu berkomitmen untuk pasrah dan manut terhadap apapun yang kami rasa.

Ari memang bukan manusia standar. Aku tahu itu sejak pertama kali kami bertemu, menyebutkan nama masing-masing, lalu tertawa berdua. Seketika sorot matanya menangkap sorot mataku, bersama kami tenggelam dalam sebuah lautan ingatan, dan dia bergumam, ‘Kita pernah bertemu.’

Waktu itu, aku tidak terlalu paham maksudnya, tapi kuputuskan untuk ikut arus, dan kubalas ucapannya dengan: ‘Apa kabar? Ke mana saja selama ini?’

Kami tidak berpisah sedetik pun sesudah itu, dia bahkan bermalam di rumahku.

Ari melihat-lihat dan membolak-balik koleksi bukuku, dari mulai teknik melihat aura hingga perjalanan astral. Ia memainkan kartu-kartu Tarotku yang beraneka ragam, dari mulai Tarot malaikat sampai vampir. Ia memperhatikan dengan saksama bagaimana caraku melipat selimut dan membentangkan seprai di atas sofa untuknya tidur. Lagi, ia bergumam, ‘Kamu nyaris tidak berubah. Aku benar-benar pulang ke rumah.’ Dan malam itu dia tidak jadi tidur di sofa. Sofa kastanya tamu, dan Ari bukan tamu. Dia penghuni rumah. Dia penghuni hatiku. Hanya saja dibutuhkan seperempat abad untuk ruang dan waktu mewujudkannya.

Ari selalu tertarik pada penyembuhan, di bidang itulah permatanya berkilau gemilang. Tangannya yang lentik dan halus telah mengubah hidup banyak orang. Hanya masalah waktu dia menjadi Ari yang sekarang. Sang Guruji. Dia bahkan mengubah namanya dengan bahasa Sansakerta yang tak bisa kuingat dan kuucap dengan baik.

Dulu, kami dikenal dengan sebutan Duo Plasenta. Ari-Ari. Yang satu menyembuhkan, yang satu merecoki. Dan mereka, para pemuja Ari si penyembuh, yang penampilannya santun-santun dan religius, memandang jengah kadang iri padaku, perempuan aneh bergaya Gypsy yang disayang Ari lebih dari apapun dan siapapun. Kalau jawara Gunung Kawi jimatnya gelang akar bahar, maka jimat Ari adalah aku. Jadi jangan pernah meremehkan penggembira yang satu ini, cibirku dalam hati.

Hingga tibalah momen yang mereka semua harapkan. Manusia tak ayal berevolusi, dan hidup ini tak pelak mengubah kanal alirannya—jika memang sudah waktunya. Dan Ari melakukan itu dengan tiba-tiba, seketika. Hari itu hari cinta, Valentine’s Day, dan aku dapat order baca Tarot selama dua hari di luar kota. Saat aku pulang, Ari sudah tidak ada. Tak ada satu pun barangnya yang tertinggal, ia mengemas semuanya rapi. Plasentaku, jiwaku yang terbelah, pergi tanpa pesan selain beberapa helai anak rambutnya yang menyisa di bantal.

Keterhubungan kami sudah sampai pada level telepatik. Ari selalu percaya aku mampu tahu isi hatinya tanpa perlu komunikasi verbal. Ia lupa, mengetahui tidak selalu berarti paham dan sepakat. Aku tak pernah memahami apalagi setuju atas kepergiannya. Dan lantas ia mengharapkanku rela? Let go, let flow, katanya satu hari, saat bertemu tak sengaja di restoran vegetarian langganan kami. Tanpa bisa menjelaskan lebih rinci. Saat itu, aku makan sendirian dengan baju hitam-hitam. Dia ditemani lima belas orang berbaju putih yang semua wajahnya bercahaya akibat rutin meditasi.

Inilah misteri yang perlu kujawab, yang menjadi motor penggerak hidupku setiap hari sejak Ari pergi: apakah kerelaan bisa lahir tanpa adanya perkawinan lebih dulu antara memahami dan menyepakati? Ari berubah menjadi hantu dalam rumahku, hantu dalam hatiku. Semua tentangnya kudapat dari tangan kedua; cerita orang-orang, artikel majalah, carikan surat kabar. Semua tentangnya tiba padaku dalam bentuk rekaman dan bayangan.

Mengikuti pelatihan di padepokannya adalah perjudianku yang terakhir. Upaya maksimalku untuk menjawab teka-teki yang ia tinggalkan bersama helaian anak rambut di bantal. Sungguh aku tidak peduli apa yang kupelajari seminggu ini. Aku hanya ingin mencari Ari, plasentaku, dalam wujud manusia yang mereka sebut Guruji.

Setiap malam dalam sepekan ini aku pulang dalam tangis tak terkendali. Ari sepertinya memang sudah tidak ada. Manusia kurang manusia bergelar Guruji itu bukan dia. Jadi, haruskah kerelaan ini kulahirkan paksa tanpa adanya benih pemahaman yang lebur bersama kesepakatan? Bagaimana mungkin hidup bisa begitu tidak alamiah? Setiap malam aku mengeluarkan sehelai plastik dari laci meja riasku dan bertanya-tanya, kapankah bisa kulepaskan benda itu ke tempat sampah? Anak rambutnya, yang kukumpulkan dengan pinset dan kusimpan setahun lebih sudah. Bagian nyata dari Ari yang kini punah.

‘Apa yang kamu inginkan dari aku, Ari?’ Guruji bertanya layaknya pada anak yang memelas minta mainan.

Aku mencoba bertelepati, dan rasanya seperti menabrak dinding. Aku terus mencoba, dan mencoba, hingga mataku berkaca-kaca. Bahkan ketenangannya meluruhkan kemampuanku bicara. Siapa kamu? Siapa kamu? Aku berteriak-teriak dalam hati. Air mata mulai berlinangan di pipiku. Kembali aku menangis tanpa isak, hanya banjiran air yang dipompa mata tanpa bisa distop. Bedanya, kini aku menangis tidak hanya bertemankan plastik berisi rambut, melainkan di hadapan si empunya rambut yang sudah menggunduli kepalanya licin seperti bhikku. Dia, yang dulu sebulan sekali creambath di salon, kini tak lagi menyentuhkan tangannya untuk bersalaman.

Guruji yang sejak tadi menatapku dengan datar mulai mengerdip, beberapa detik ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Hatiku seketika melonjak, dan tanpa berpikir kurengkuh wajahnya, kupelototi kedua matanya, ‘Ari? Apakah itu kamu?’

Sesaat kutemukan gejolak yang kukenal. Sesaat kutemukan jejak emosi. Sesaat dia kembali menjadi cerminku. Namun seperti badai yang reda seketika oleh tongkat Nabi Musa, cepat ia kembali tersenyum tipis, dan dengan gerakan tenang terkendali melepaskan tanganku yang menangkupi wajahnya.

‘Ari… lepaskan saya seperti saya melepaskan kamu. Hanya dengan begitu kamu tidak pernah kehilangan saya. Kamu tidak pernah kehilangan apapun,’ ucapnya setengah membisik.

‘Aku cuma ingin tahu, mana Ari? Apa kabar dia? Ke mana saja selama ini?’ balasku, tersengal. Isak itu mulai menyusul hadir. Tangisku melengkap.

‘Bahkan sedetik yang lalu pun kita bukan manusia yang sama,’ jawabnya, tapi mata itu menatap ruang kosong di balik punggungku.

Kami terdiam. Lama. Hanya isakanku dan embusan napas panjang teraturnya yang menghidupkan ruangan itu. Perlahan kusadari sesuatu, inilah perpisahan yang kucari. Utang karma kami yang belum lunas. Hantu yang mengejar-ngejarku setahun lebih. Aku hanya ingin mengucap selamat tinggal pada belahan jiwaku yang telah menemukan keutuhannya dalam dirinya sendiri. Aku dan rumahku adalah persinggahan yang harus ia tempuh, tapi bukan untuk ia miliki.

Kakiku pun bergeser, beringsut hendak meninggalkannya. Misteri ini kuanggap usai. Tak ada lagi detektif pengintai. Kamu bebas, Ari, Guruji, siapapun namamu. Kamu bebas.

Namun tangan halus itu tiba-tiba menahanku.

‘Kamu punya lima menit untuk melakukan apapun yang kamu mau,’ ia berkata.

Aku terenyak. Air muka itu… sorot matanya… seperti air bah yang menelanku tiba-tiba. Ari yang kucari ternyata masih ada. Berlindung di balik topeng Guruji. Atau justru Arikah topeng yang barusan dikenakannya lagi agar urusan kami tuntas?

Rinduku yang sudah mengerontang bagai Sahara tahu-tahu dibalas dengan limpahan air Niagara. Aku betulan tidak siap. Tubuhku terkunci.

‘Apapun… kamu bisa melakukan apapun…’ bisiknya lagi.

Seketika tanganku melayang, mengambil sebuah bantal yang terhampar mengelilingi kami, dan aku mulai memukulinya. Bertubi-tubi. Ari tersungkur, tak melawan, tak melindungi diri. Tanganku terus melayang memukulkan bantal, sekuat tenaga, sekuat segala perasaan yang tersisa, sekuat hantunya yang bercokol di rumah serta hatiku dan sekarang kuusir pergi.

Tangan kiriku menyambar satu lagi bantal dan kupuli dia dengan kedua tangan. Habis-habisan. Ia terlentang tak berdaya di lantai kayu beralas tikar, pasrah menerima setiap pukulanku. Dan terus kuhujani dia tanpa jeda, tanpa ampun, hingga lenganku tiba-tiba berhenti. Tubuhku mengisyaratkan cukup.

Terengah dan tersengal aku bangkit berdiri. Ari perlahan juga bangkit, merapikan kemeja linennya yang kusut bukan kepalang, dan ia mulai kembali bersila dengan posisi lotus. Pipinya basah. Beberapa butir air mata masih tersembul dari pelupuknya. Badannya gemetar.

‘Guruji,’ aku menunduk dan memberikan salam namaste.

Ia membalas dengan gerakan serupa. Lalu tangannya membentang, menunjuk pintu, menyilakanku keluar.

Pintu membuka. Kulewati mereka yang kini menatapku dengan lebih takjub lagi. Mataku yang merah sisa menangis, rambutku yang acak-acakan, bajuku kusut masai, tapi ada ketenangan yang tak tertandingi siapapun sore itu. Tak juga Guruji.

Semua ini hanya topeng yang dipakai dan ditanggalkan kapan saja kita mau. Kumusnahkan kedok kami barusan. Kuhancurkan hingga berkeping-keping. Ari dan Ari dan Guruji. Dan kini aku kembali menjadi aku, siapapun itu, aku tak tahu. Aku hidup. Aku utuh. Itu saja.

21/9/2006
(originally started sometime in July)