<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>dee idea</title>
	<atom:link href="http://www.dewilestari.com/b/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.dewilestari.com/b</link>
	<description>an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between</description>
	<lastBuildDate>Wed, 26 Nov 2008 16:31:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title></title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/08/31/153/</link>
		<comments>http://www.dewilestari.com/b/2008/08/31/153/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 17:08:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dee_addict</dc:creator>
				<category><![CDATA[Refleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/08/31/153/</guid>
		<description><![CDATA[Warna-Warni Kacamata-Kacahati
Dalam dua bulan terakhir, begitu banyak eksperimen dan fenomena sosial yang saya jalani, baik sengaja maupun tidak sengaja. Begitu banyak pula pelajaran dan perenungan berharga yang saya peroleh dari rangkaian pengalaman ini. 
Saat saya menuliskan artikel “Catatan Tentang Perpisahan”, respons yang saya terima sungguh di luar dugaan. Sejauh ini, itulah artikel yang memecahkan rekor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight:bold;">Warna-Warni Kacamata-Kacahati</span></p>
<p>Dalam dua bulan terakhir, begitu banyak eksperimen dan fenomena sosial yang saya jalani, baik sengaja maupun tidak sengaja. Begitu banyak pula pelajaran dan perenungan berharga yang saya peroleh dari rangkaian pengalaman ini. </p>
<p>Saat saya menuliskan artikel “Catatan Tentang Perpisahan”, respons yang saya terima sungguh di luar dugaan. Sejauh ini, itulah artikel yang memecahkan rekor komentar terbanyak di blog ini. Hampir semua artikel di blog ini berbasiskan pengalaman saya pribadi, tapi “Catatan Tentang Perpisahan” sepertinya begitu mengusik ‘dawai’ banyak orang. Entah karena kisahnya yang aktual, faktual, dan mengandung unsur sensasi, <span style="font-style:italic;">but it seems we all have our own saying when it comes to love, relationship, and God.</span> Tiga topik itulah yang menjadi benang merah hampir semua komentar yang terlontar. Dalam boks putih itu, kita mengadu persepsi dan pengalaman kita atas ketiganya. </p>
<p>Saya akan berbagi dengan jujur tentang pengalaman saya pada posisi sebagai si penerima reaksi. Sampai komentar ke-60 sekian, saya masih amat peduli dengan apa yang dikatakan orang. Ketika saya merasa disalahmengerti, dihakimi, dianggap melakukan pembenaran atau bagi-bagi teori, saya masih merasakan kecewa, gemas, bahkan terkadang amarah. Padahal pengunjung blog ini, menurut saya, terbilang orang-orang yang intelektual dan masih santun dalam penyampaian opininya. Sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan forum-forum gosip di luar sana, di mana kesantunan atau intelektualitas sama sekali tidak dijunjung, bahkan jadi bahan tertawaan. Namun, tak urung hati saya terkadang masih bereaksi. </p>
<p>Begitu komentar sudah bergerak ke angka 100, saya mulai menyadari sesuatu. Hati saya melentur. Bukan berarti komentar yang masuk tidak lagi bermakna, tapi mulai menjadi “nggak penting”. Dan ketika angka itu terus bergerak… 150, 180, 200… saya mulai menyadari sesuatu lagi. Saya tidak lagi peduli. Sekali lagi, bukan berarti komentar itu kehilangan makna, tapi ia kehilangan rasa. Tak lagi manis, pahit, tak juga asam, atau asin. Tawar. Berlalu seperti angin tipis di atas air, hanya meninggalkan riak kecil lalu pergi tanpa bekas. Tidak lagi ada ombak atau debur yang menggebu.</p>
<p>Ada satu titik tolak yang akhirnya membawa saya ke fase ini, yakni ketika saya menyadari—secara empiris—bahwa kita sesungguhnya tidak bisa mengubah siapa pun. Ini bukan kali pertama saya tiba pada pemahaman tersebut. Namun setiap kali ada pengalaman segar yang kembali mengingatkan saya, rasanya ada kedalaman baru untuk menghayati kenyataan satu itu. </p>
<p>Selama ini, kita percaya bahwa kita bisa mengubah pandangan orang lain tentang kita, kita percaya bahwa dengan upaya yang maksimal kita bisa membuat diri kita dimengerti secara utuh, kita juga percaya bahwa kebenaran yang kita miliki—jika dikomunikasikan dengan sebaik mungkin—bisa menjadi kebenaran bagi orang lain. Rasa percaya itu sedemikian umum dan menjadi pegangan hampir semua orang, hingga ketika kita masuk ke dalam sebuah relasi, dengan siapa pun dan apa pun itu, dari mulai dengan manusia lain hingga Tuhan, kita menganggap bahwa kita punya kendali tersebut. </p>
<p>Namun, apa yang saya amati dari pengalaman saya sendiri—dan yang bisa Anda telusuri pula lewat kedua posting terakhir saya dan aneka komentar yang dilontarkan—setiap orang hadir dengan kacamata dan kacahatinya sendiri. Apa pun yang saya ungkap tidak pernah bisa utuh tertangkap sebagaimana yang saya mau. Seolah ada filter, pembatas, penyaring, yang mendiskon cerita saya secara otomatis di kepala pembaca. Sebaliknya, seolah juga ada <span style="font-style:italic;">amplifier, marker,</span> kaca pembesar, yang tahu-tahu membengkakkan beberapa bagian tertentu saja. </p>
<p>Saya lantas membayangkan ilustrasi sebagai berikut: seseorang mencoba menceritakan sebuah alam yang hijau, lalu seorang lain berteriak protes, bilang bahwa alam hijau cuma bualan. Lalu ada yang membela, bilang ‘betul, kok, alamnya memang hijau.’ Tapi ada lagi yang menimpali, sebenarnya alam ini setengah hijau dan setengah ungu. </p>
<p>Lalu, seorang lain datang dan berkata pada mereka: orang yang menceritakan alam itu hijau memang benar, karena dia memakai kacamata berlensa hijau. Yang protes juga tidak salah, karena kacamatanya kuning. Yang sepakat hijau, ketika dicek, ternyata warna lensanya hijau muda. Jadi walau sama-sama hijau, tetap tidak persis sama. Yang bilang setengah hijau setengah ungu juga tidak salah, karena lensanya memang dua warna. Tersadarlah orang-orang yang ribut tadi bahwa selama ini, realitas yang mereka lihat termediasi selapis lensa. Dan orang terakhir tadi pun berkata bijak pada semua, sesungguhnya realitas yang sejati berwarna pink. Dan sepasang lensa pink bertengger di depan matanya, tanpa bisa ia sadari.</p>
<p>Realitas yang kita jalani amat bergantung dengan kacamata dan kacahati yang kita kenakan. Persepsi kita tentang Tuhan, misalnya. Seseorang yang percaya bahwa Tuhan punya kehendak, akan selalu mereferensikan kehendak Tuhan dalam setiap tindakannya maupun dalam menilai tindakan orang lain. Seseorang yang percaya Tuhan tidak ada, akan bicara lain lagi. Seseorang yang percaya bahwa hubungan cinta adalah perjuangan abadi menuju keabadian, akan selalu melihat cinta sebagai sasana perjuangan dan pengorbanan, hingga mereka yang menyerah dianggap kalah. Seseorang yang percaya pada absolutisme janji sehidup dan semati, akan selalu melihat akhirat sebagai plafon keberhasilan sebuah pernikahan. Dalam variasi pemahaman seperti itu, di manakah kebenaran sesungguhnya bersemayam?</p>
<p>Lensa semata-mata adalah lapisan persepsi yang kita tumpuk, rangkai, dan timbun melalui pengondisian, proses evolusi, dan perubahan yang kita alami sepanjang hidup. Lensa kita sangat mungkin berubah, bahkan terus berubah. Yang dulu berkacamata hijau sekarang bisa jadi merah, dan sepuluh tahun lagi berubah jadi putih. Namun, di mana letaknya kendali perubahan ini? </p>
<p>Dalam Law of Attraction, dikatakan bahwa hidup kita baru berubah jika kita mau melihatnya berubah. Law of Attraction bukan satu-satunya hukum dalam kehidupan, tapi untuk perihal satu ini, bisa disimpulkan bahwa kunci perubahan hanya ada pada diri sendiri. Saya tidak bisa mengubah pandangan Anda, hanya Anda yang bisa. Begitu juga sebaliknya. </p>
<p>Selama lensa kita berbeda, kita hanya bisa mengomunikasikan persepsi kita, menyaksikan bagaimana perbedaan kita bertumbuh dan berdinamika. Sayangnya, seringkali dalam kehidupan nyata, kita tidak puas dengan sekadar “menyampaikan”. Kita ingin mengubah seseorang agar sepaham dengan diri kita. Dan kita percaya dengan berkomunikasi yang baik dan benar (baca: baik dan benar MENURUT kita) maka kita mampu melakukannya. </p>
<p>Dan inilah yang saya amati: sesungguhnya kita tidak terlalu peduli pada kebenaran, kita bahkan tidak mengerti apa itu komunikasi sejati, kita hanya peduli pada lensa kita. Bukan apa yang ada di baliknya. Barangkali itulah yang menjadikan “pemahaman benar” sebagai gerbang akhir pencarian Gautama, bukan kebahagiaan. Bukan surga. Bukan juga neraka. Melainkan pembebasan dari keduanya. Dalam memahami secara “benar”, yang menjadi tujuan bukan lagi perihal benar atau salah, tapi memahami bagaimana keduanya bermula dan bagaimana kita bisa bebas dari jerat keduanya. </p>
<p>Kita semua menginginkan kebahagiaan, bahkan keabadian. Namun sesempurna apa pun lensa yang kita kenakan, seindah dan seadiluhung apa pun realitas yang kita lihat, lensa hanyalah lensa. Lensa tetap menjadi lapisan yang membatasi kenyataan yang kita pikir dan kebenaran yang sesungguhnya. Yang dilakukan oleh sosok seperti Buddha Gautama dan para pencari kebenaran lainnya adalah, mereka tak berhenti mengupas lensa mata dan hati hingga menemukan kebenaran sejati. Kebenaran tanpa lapis apa-apa. </p>
<p>Selama kita berada dalam tatanan realitas berlensa, selama kita masih bergantung pada kacamata dan kacahati kita untuk mengungkap kebenaran, saya dan Anda hanya bertukar kebenaran relatif. <span style="font-style:italic;">No winner, no loser. It’s always a zero sum game.</span> </p>
<p>Saya teringat pengalaman setahun lalu saat mengikuti retreat Dyad di Ubud. Bagaimana bisa dua orang yang saling berhadapan lalu membicarakan sampah dan kerak hatinya bisa menjadi momen pencerahan dan penyembuhan? Bagaimana hal itu dimungkinkan? Dyad semata-mata mengajarkan komunikasi yang sejati. Saat seseorang berbicara, partnernya tidak menanggapi, menyela, menilai, dan menjustifikasi. Ia hanya memberikan perhatian, hadir dengan kesadaran penuh bagi lawan bicaranya. </p>
<p>Poin utamanya adalah, kedua pihak belajar memahami bahwa jika ada kesenjangan lensa antara mereka, perbedaan tersebut memang sudah demikian adanya. Bukan untuk disamakan, dipas-paskan, atau dikoreksi. Dan yang terjadi justru adalah keajaiban komunikasi: sebuah pengertian dan koneksitas yang mendalam, bahkan mencerahkan. Karena hanya melalui komunikasi sejati, lapis demi lapis lensa kita bisa terkikis, dan jika kita beruntung, kita mampu mengintip secercah-dua cercah indahnya kebenaran tanpa kacamata. Indahnya hati tanpa kacahati.  </p>
<p>Saya sadar, komunikasi semacam itu sukar terjadi dalam forum seperti ini. Semua pengalaman dalam dua bulan terakhir ini hanya akan menjadi pengingat bagi saya untuk terus berevolusi dan bergulir dengan arus kehidupan. <span style="font-style:italic;">So, let’s move on with our life, our love, and our lenses. And for once, may we appreciate not only the beauty of our own spectacles, but also the differences around us all.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dewilestari.com/b/2008/08/31/153/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>57</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/08/03/152/</link>
		<comments>http://www.dewilestari.com/b/2008/08/03/152/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Aug 2008 18:29:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dee_addict</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/08/03/152/</guid>
		<description><![CDATA[10 Most Hillarious, Humorous, and Hideous Gossips I Found 
Just for the fun of it (and not so fun of it), I’ve highlighted some of the most intriguing news (read: gossip) out there, written by the media or shared by the public through discussion forums. Some were disturbing, but some were absurdly funny. And here [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight:bold;">10 Most Hillarious, Humorous, and Hideous Gossips I Found </span></p>
<p>Just for the fun of it (and not so fun of it), I’ve highlighted some of the most intriguing news (read: gossip) out there, written by the media or shared by the public through discussion forums. Some were disturbing, but some were absurdly funny. And here they are in random order:<br /><span style="font-weight:bold;"><br />#1: The Titanic Sinks Us (Again)</span><br /><span style="font-style:italic;">“Ada sekelumit kisah di balik gugatan cerai Dewi Lestari pada suaminya, penyanyi Marcell. Rupanya sebelum memutuskan bercerai, pasangan dengan satu anak itu mendengarkan album soundtrack film Titanic. &#8216;Ketika kami memutuskan, kami memasang lagu Titanic dan kita saling curhat,&#8217; jelas Marcell.”</span> [InfoGue.Com] </p>
<p><span style="font-weight:bold;">Fact:</span><br />Saat kami konferensi pers, seorang wartawan yang masih belum puas dengan jawaban yang sudah kami berikan lantas meminta keterangan lebih lanjut mengenai alasan perpisahan kami berdua, dan Marcell menjawab “Kalau mau diceritain semuanya ya panjang banget, kita harus ngobrol semalam suntuk…” dan dengan bercanda Marcell menambahkan, “sambil pasang lilin, dengerin lagu Titanic…”. My dear friends of the media, that’s called hyperbolism. And it was meant to be a joke.  <br /><span style="font-weight:bold;"><br />Dee’s Comment:</span><br />You gotta be kidding me. Titanic soundtrack? TITANIC? Look, if there’s a song we would choose for such an important and dramatic moment, it would definitely be “Kemesraan” from Iwan Fals and Rafika Duri! Why? Cause we support our local music! And if someone’s still taking my statement seriously, then God have mercy on your humorless soul. </p>
<p><span style="font-weight:bold;">#2: Too Much Information</span><br /><span style="font-style:italic;">&#8220;Istana Baru Sang Supernova: Dewi Lestari seolah ingin mengubur kisah masa lalunya bersama Marcell dengan berpindah rumah&#8230; Dewi membeli rumah yang kini ia tempati bersama buah hatinya, Keenan Avalokita Kirana Siahaan itu, dari pemilik pertama dengan harga mendekati Rp 1 miliar.&#8221;</span> [Tabloid C&#038;R].<br /><span style="font-weight:bold;"><br />Fact:</span><br />Well, terkecuali bumbu “mengubur kisah masa lalu” dan masalah teknis mengenai kepemilikan rumah, harga, dsb, saya memang sekarang berdomisili di Jakarta. That&#8217;s the single fact in the whole story (oh, they also mentioned about Keenan&#8217;s four-wheeled bike. I don&#8217;t know how the heck they knew about it, but it&#8217;s actually true. However trivial and unimportant the detail is).<br /><span style="font-weight:bold;"><br />Dee’s Comment:</span><br />Sadly, I found this news as the most unethical and impolite one. Why? Belum pernah seumur hidup saya berkarier, sebuah media dengan tanpa izin mencantumkan alamat rumah saya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sang wartawan (Fitriawan Ginting) memotretnya tanpa sepengetahuan dan seizin saya. Hal ini, selain tidak etis, juga sudah menyinggung masalah keamanan bagi saya dan keluarga. Fyi, I didn&#8217;t purchase the house, it was rented.</p>
<p><span style="font-weight:bold;"><br />#3: Lost In Time</span><br /><span style="font-style:italic;">“Mediasi dipimpin oleh Baslin Sinaga dari PN Bale Endah. Mediasi itu tampaknya berlangsung alot, karena memakan waktu sekitar 1,5 jam.”</span> [Tabloid Nova]</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Fact:</span><br />Mediasi berlangsung 30 menit saja. Bahkan kurang. </p>
<p><span style="font-weight:bold;">Dee’s Comment:</span><br />Saya tidak tahu wartawan yang menuliskan ini menunggu di lorong waktu mana. Entah dia juga memasukkan waktu perjalanannya menuju PN Bale Endah yang memang terletak di wilayah Bandung coret. Tapi inilah bukti bahwa begitu banyak informasi yang ditulis secara resmi, nyatanya tidak ditulis dengan akurasi dan ketelitian, sekalipun terdengar meyakinkan. Dengan “memuainya” waktu dari 30 menit ke 90 menit, tentu bumbu “mediasi berjalan alot” menjadi pas. Namun sesungguhnya, yang faktual terjadi tidak selalu pas dengan bumbu yang diramu.  </p>
<p><span style="font-weight:bold;">#4: The Ghastly &#038; Ghostly Interview</span><br /><span style="font-style:italic;">“Isu adanya orang ketiga memang menyeruak, seiring retaknya rumah tangga Dewi Lestari dan Marcell Siahaan. &#8216;Saya sama sekali tidak ada hubungan spesial dengan pakar holistik yang Anda sebutkan itu. Hubungan saya dan Marcell dengan dia, hanya sebagai teman,&#8217; bantah perempuan ini mengawali pembicaraannya dengan sejumlah wartawan, termasuk Edy Suherli, dari C&#038;R. Berikut petikannya:<br />C&#038;R: Benarkah karena kehadiran orang ketiga?<br />D: Tidak ada orang ketiga ataupun persoalan KDRT. Semua murni persoalan intern kami, yang sudah tidak bisa disatukan lagi.<br />C&#038;R: Bukankah Anda dekat dengan seorang pakar holistik yang bernama Reza Gunawan?<br />D: Kalau dengan dia, saya hanya berteman biasa. Marcell juga berteman dengan dia. Jadi tidak ada hubungan yang spesial antara saya dengan dia.”</span> [Tabloid C&#038;R by Edy Suherli]</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Fact:</span><br />Wawancara dialogis di atas sama sekali tidak pernah terjadi. Pertanyaan tersebut tidak pernah diajukan, apalagi jawabannya. Pada saat konferensi pers, kami tidak melayani wawancara individual dengan media mana pun. Semua media kami jawab dan layani secara kolektif. Sampai saat ini, kami pun masih belum bersedia melakukan wawancara eksklusif dengan pihak mana pun. Semua berita yang beredar mengenai masalah ini secara resmi ditanggapi hanya lewat satu kali konferensi pers itu saja, jika ada yang diberitakan di luar daripada itu, berarti diambil dari sumber lain atau cuma materi olahan sendiri. </p>
<p><span style="font-weight:bold;">Dee’s Comment: </span><br />Saya tidak tahu persis maksud dan tujuan tabloid C&#038;R dengan wawancara imajinernya. Karena jika pertanyaan tersebut benar-benar diajukan, jawaban saya akan sangat lain. Reza Gunawan has been one of our dearest friends for years, and this is what I must say: there’s nothing unspecial about our relating. Everything about it, is special. He is one of the very few trusted friends that has been supporting us all this time. However, he had nothing to do with our decision to separate in the first place. <br />So, let me get this chronology straight: keputusan saya dan Marcell untuk pelan-pelan berpisah terjadi pada akhir tahun 2006. Kesiapan kami untuk berpisah secara legal dibulatkan pada akhir tahun 2007. Awal 2008, kami mulai menjajaki masalah teknis (pengacara, proses peradilan, dsb). <br />From the time of NOW, if there’s someone that is very close (or some of you may call it ‘extra-special’) with me at the moment, that person would definitely be Reza Gunawan, and no one else. We began to allow our relating to evolve to the stage we&#8217;re now at, which was quite recently, only after me and Marcell had confirmed our legal separation. Tapi dengan menyeruaknya kabar perceraian ini di media, dan tentu saja, tidak ada orang yang mengharapkan kabar yang &#8220;biasa-biasa&#8221;, nama Reza dan institusi yang didirikannya sempat diseret dan dikaitkan sebagai penyebab perpisahan kami. Semoga penjelasan ini dapat menjadi acuan lebih baik untuk penyusunan berita gosip Anda, sekalipun saya yakin, penjelasan ini pun masih bisa diinterpretasikan dengan &#8216;miring&#8217;, tergantung daya tangkap dan niat dari pihak yang membaca. Dan jika kronologi waktu yang saya jelaskan di atas masih juga dikacaukan, baik karena memang belum tahu atau sengaja, then it&#8217;s entirely your own problem. <br />Mudah-mudahan saya salah, tapi sukar untuk tidak mengasumsikan bahwa wawancara imajiner di atas didesain sebagai “bumerang” bagi saya di kemudian hari, yang barangkali diharapkan menjadi gosip panas berikutnya. Well, let me ruin that genious plan of yours. I’ll say this again: there’s NOTHING UN-SPECIAL about me and Reza. We&#8217;ve always loved each other as best friends, and now we love each other as companions. Oh, by the way, don’t bother to sneak this info to Marcell… cause, guess what? Not only that he knows, we also hang out together! The three of us! Especially that now we&#8217;re shamelessly endorsing Blackberry for free! <span style="font-style:italic;">*Photo taken on August 5th, 2008, while celebrating Keenan&#8217;s 4th birthday.</span></p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJrtkFiHJ9I/AAAAAAAAALw/-nqSF7eXpJc/s1600-h/P1030218.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_cFyLpWnSDaM/SJrtkFiHJ9I/AAAAAAAAALw/-nqSF7eXpJc/s400/P1030218.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231755121360578514" /></a></p>
<p><span style="font-weight:bold;">#5: The Desperate Attempt to Rewrite History</span><br /><span style="font-style:italic;">“Jadi… ketidakcocokan Marcell dan Dewi Lestari memang udah terjadi dari taun lalu. Marcell ini ibaratnya baru melek sama pergaulan Jakarta, karena dulunya tinggal di Bandung sebelum ngetop nyanyi dengan Shanty. Awalnya dia kan dulu drummernya Puppen band underground gitu, tiba-tiba kok nyanyi lagu pop? (gak punya pendirian bener). Trus setelah ngetop dengan &#8220;Hanya Memuji&#8221; dia kawin dengan Dewi. Trus, sekarang ini dianya kayak &#8216;culture shock&#8217; gimana gitu deh. Tiap gue clubbing di mana, sering banget ada Marcell. No Dewi. Dewi kan emang gak suka clubbing, sukanya meditasi sama nulis di komputer. Sedangkan Marcell kerjanya keluar mulu, gaul sama cewe-cewe cakep, model-model, sampe akhirnya nyangkut dengan model &#8220;ISABEL JAHJA&#8221; (Abel). Pokoknya social climber bener deh, jadi kesannya norak dan kampung menurut gue. Aduh capek deh pasangan ini, gak di mana-mana ciuman dan grepe2 (enek liatnya), terutama di tempat clubbing dan kesian dalam hati karena Dewinya gak tau apa-apa. Tapi akhirnya Dewinya tau juga. Katanya sih sempet menangkap basah Marcell dan Abel sedang&#8230; yah you know lah. Akhir cerita Dewinya mau cerai, dan kabarnya sih udah mau proses. Kesian ya Dewi, padahal orangnya baik, pinter, spiritual pula. Marcell-nya emang masih rada anak kecil gitu sih. Yah maklumlah baru melek pergaulan Jakarta (dasar norak).”</span> [Thread from Forum Detik.com. Posted by: Lollypopsicle]</p>
<p>Dan ketika ada komentator yang meragukan keabsahan kisahnya, dengan yakinnya ia menambahkan: </p>
<p><span style="font-style:italic;">Yah, liat aja entar. Orangnya yang curhat langsung kok, Bos.</span></p>
<p><span style="font-weight:bold;">Fact:</span><br />Abel is a dear friend of mine. Those horrific incidences—‘menangkap basah’, ‘menangkap kering’, and everything in between—never happened. She had nothing to do with our decision to separate. <br /><span style="font-weight:bold;"><br />Dee’s Comment: </span><br />Whoever you are, I appreciate your ‘positive’ review on me. But just between you and me, do you think I will be stupid enough to actually ‘curhat langsung’ to you, an obvious person who doesn’t know what she/he is talking about, and who doesn’t know anything about me? Let me make this clear. Once and for all. Berikut adalah kategori orang-orang yang TIDAK MUNGKIN menjadi teman curhat saya: <br />• Mereka yang menyangka pekerjaan saya hanya meditasi dan nulis di komputer.<br />• Mereka yang menyangka Marcell <span style="font-style:italic;">doyan</span> clubbing. He went to club mostly for work, because he once had a trio with a DJ (DJ Romy) and a drummer (Tyo Nugros), where all of their gigs were performed at clubs. Marcell is a vegetarian, he practices Taichi and Brazilian Jiu-jitsu, and he doesn&#8217;t smoke or drink alcohol or do drugs. How fun can that be for a clubber? Go figure. <br />• Mereka yang menyangka seorang Marcell bisa culture shock hanya karena pindah  dari Bandung ke Jakarta, I mean, get real. Bandung is 2 hours away from Jakarta, and he had a music career since junior high. And if later you become a recording artist plus a professional actor like him, no matter where you live, you’ll be working a lot in the heart of Jakarta from day one of your career. Unless you’ve been living in Lembah Baliem for your whole life, nothing can be TOO shocking about clubbing life in Jakarta. Social climber? Hello? No ladder that we can see from up here! Nor we care!<br />• Mereka yang masih mempermasalahkan keluarnya Marcell dari Puppen. It’s so 90’s. Get the hell out of your broken time machine and start live in the now. <br /><span style="font-weight:bold;"></p>
<p>#6: The Timeless Underground War</span><br /><span style="font-style:italic;">“Karma kali, gara2 Marcell keluar dari Puppen dan malah jadi penyanyi pop.<br />Pernah tuh Puppen tahun 2002 apa 2003 gitu tampil di acara sma gw, mereka bawain lagu baru yang ceritanya tentang pengkhianat band metal yang beralih jadi lagu cengeng (Marcell)&#8230; [2] Mereka susah payah berjalan dengan idealisme mereka, tau2 ada anggotanya yang keluar demi suatu yang mereka mati2an tolak, tau nggak rasanya?” </span>[Thread from Forum Kafegaul.com. Posted by: BU33]<br /><span style="font-weight:bold;"><br />Fact: </span><br />That is taken from the thread that’s supposedly discussing our divorce issue. Seriously. <br /><span style="font-weight:bold;"><br />Dee’s Comment: </span><br />Marcell keluar dari band bernama Puppen pada tahun 1998. Saat dia masih mahasiswa tingkat dua. Baru empat tahun kemudian, tahun 2002, Marcell berkarier menjadi penyanyi. Dan sukses. I don’t know which part of his career path that was taken so hard by so many people. But I tell you this: it’s been TEN FRIKKIN’ YEARS, people! Get over it! Gosh. <br />When he plays drum like a rocker and has a voice of a pop singer, do we really need to make him scream and growl? Just so he stays ROCK, UNDERGROUND, and INDIE? And in order to avoid that mortal betrayal, do we need to ban him from singing and forever stick him to his Pro-Mark sticks (though I know he would love to stick to his huge set of Tama Starclassic EFX Performer forever)? <br />And the funniest part is: within his five years career, Marcell has created three best-selling albums, a movie, a couple of tv series, and hundreds of gigs all over the country, while most of his critics have created… <span style="font-style:italic;">none</span>. </p>
<p><span style="font-weight:bold;">#7: The Sekong Lekong&#8217;s Wishful Fantasy</span><br /><span style="font-style:italic;">“Katanya si Marcell ketahuan yah lagi pegang2an ama salah satu finalis L-Men 2008? Trus di sini dibilangnya Dewi selingkuh? Jadinya dicere&#8217;in. Nah karna itu, mereka nggak mau ngasih tau apa penyebab perceraiannya… [2] Iya, si Marcell kan waktu itu dikabarin lagi deket sama salah satu pria L-men&#8230; dan lagi Marcell sempet nyanyi pas di acara L-Men itu sendiri&#8230; dia dikabarin lagi rangkul2an gt trus ketahuan ama temen deketnya si Dewi, alias managernya&#8230; yah si Dewi nggak terima dong suaminya lekong gitu jadi putus deeh… [3] gue juga kaget waktu dengernya&#8230; Dewi aja nangis2 pas managernya ngomong gitu! lagian  ****** banget managernya rada2 comel juga sih, masa suaminya kaya gitu dilaporin ke Dewi. Harusnya dilaporinnya ke publik.”</span> [Thread from Forum Detik.com. Originally posted by: Vermouth]</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Fact: </span><br />Marcell is as straight as an arrow, and has no interest whatsoever in L-Men, X-Men or A-Men. Sorry to disappoint some of you. <br /><span style="font-weight:bold;"><br />Dee’s Comment:</span><br />For me, this is the most hillarious finding. I just couldn’t believe how imaginative, creative, and yet delusional people can be.</p>
<p><span style="font-weight:bold;"><br />#8: The New Religion and The Food Status</span><br /><span style="font-style:italic;">&#8220;Oh, dulu yang katanya pasangan celebrities yang pindah agama dari Kristen ke Buddha itu ya? Apa mungkin mereka pindah ke Buddha supaya cerainya gampang ya? Kirain dulu mereka pindah Buddha karena ajarannya&#8230; (2) Menurut saya ya, kalau seorang Dewi Lestari (dan juga Marcell) jika ingin bercerai pindah agama dulu ke Buddhist merupakan langkah yang tepat. Sebab kalau mereka tetap Katholik, perceraian mereka nggak bakal bisa dilaksanakan.&#8221; </span>[Thread from Milis Spiritual-Group, Posted by: Bung DK]<br /><span style="font-weight:bold;"><br />Fact:</span><br />Setelah bercerai, Dewi dan Marcell kini berpikir-pikir untuk menjadi penyembah Dewa Tapir. Sebuah aliran berhala zaman baru. Para penyembah Dewa Tapir ini percaya akan datangnya hari kiamat bernama The Armagedillo, di mana semua makhluk akan musnah kecuali hewan tapir dan para manusia penyembah Dewa Tapir. Kelak, tapir dan manusia akan kawin silang dan menghasilkan spesies baru bernama <span style="font-style:italic;">Homo Ayanugello</span>. Spesies baru ini akan menggantikan Homo Sapiens sebagai penguasa Bumi. Di bawah dominasi spesies Homo Ayanugello, kehidupan di Bumi akan berubah total. Dijamin akan ada kemudahan untuk segalanya. Baik itu kawin, cerai, tidak kawin, bikin KTP, bikin SIM, bayar pajak, dsb. And if someone&#8217;s still taking this statement seriously as fact, this time I don’t think even God Almighty will ever have mercy on your soul.<br /><span style="font-weight:bold;"><br />Dee’s Comment:</span><br />Dari hati yang paling dalam, jujur saya mengatakan: agama hanya cangkang bagi saya. Esensi terdalam dari sebuah agamalah yang menarik. Bukan kulit luarnya. Namun cangkang ini kadang memudahkan kita untuk aspek sosial dan bermasyarakat. Aturan pernikahan dan perceraian, menurut saya, ada di kulit luar. Jadi saya mengerti logika Bung DK. Tapi jika untuk bercerai saja saya perlu pindah agama, itu ibarat seseorang yang tertarik pada tusuk gigi di sebuah restoran, dan akhirnya memutuskan untuk membeli seluruh restoran. So inefficient, and so redundant. Out of the question.</p>
<p>Dan masih dari forum yang sama: <br /><span style="font-style:italic;"><br />&#8220;Inti dari tulisan si Dewi tentang perceraiannya: Hubungan yang kadaluarsa. Ditulis dia sendiri pada paragraf ke 3, 4 dan 5. Bicara kadaluarsa, seperti sebuah produk maka tanggal pacaran mereka adalah tanggal produksi. Dan tanggal pernikahan mereka adalah tanggal pergantian kemasan barang dan peningkatan kandungan/ingredients dalam produk… Ada atau tidak ada kadaluarsa adalah pembicaraan yg mengarah sebuah penipuan. Penipuan atas kedok rasa bosan, eksplorasi dan pencarian sensasi. Kalau mau lebih enak ya undang si Dewi masuk milis ini.&#8221;</span> [Posted by: David Silalahi]<br /><span style="font-weight:bold;"><br />Fact: </span><br />You’ll die. I’ll die. Amoeba will die. Even Earth is dying. <br />I wish we were all born with an expiry-date tag stapled to our butts so we know how much time left for us to talk all this nonsense. Unfortunately, we weren’t. Maybe that’s why so many of us waste our precious time on Earth scrutinizing and judging somebody else’s business.<br /><span style="font-weight:bold;"><br />Dee’s Comment:</span><br />Don’t bother to invite me in, David. Though I cannot see my expiry-date tag, I can feel that my time is not enough to discuss your issue with the word “kadaluarsa”. Dari observasi saya, sepertinya banyak sekali orang yang “korslet” dengan kata itu. Dan karena jerat bahasa dan kata ini, pengamatan kita sering dibuat melenceng. I don’t know what’s the real issue, tapi agaknya kata “kadaluarsa” dianggap menurunkan derajat kita menjadi makanan atau produk pabrik. Dan kita, manusia serba luhur ini, yang mengenal konsep agung semacam Cinta dan Tuhan, tidak layak dituduh punya jadwal kadaluarsa. Kita begitu terobsesi jadi abadi, atau setidaknya “memiliki” sesuatu yang abadi. Padahal jika kita jeli, segala kondisi dan fenomena akan berakhir. Tidak ada yang tetap. I don’t even think we *own* anything in the first place, even though we’d like to believe otherwise. Dan sejauh yang saya tahu, di liang lahat nanti kita betulan akan jadi makanan cacing. We’re food. We’re so edible. Ask Sumanto. </p>
<p><span style="font-weight:bold;"><br />#9: The Mysterious Mid-Age Woman Revealed</span><br /><span style="font-style:italic;">&#8220;Marcell mendirikan rumah tangga dengan Dewi Lestari, pada 12 September 2003 dan mereka dikurniakan cahaya mata, Keenan Avalokita Kirana, 3. Tup! Tup! Baru-baru ini SS dikhabarkan mereka sudah berpisah. Disebalik cerita mengejut itu, SS tambah terkejut apabila dimaklumkan perceraian mereka angkara orang ketiga.<br />Khabarnya, wartawan Indonesia sibuk mencari siapakah kekasih baru Marcell hingga sanggup meninggalkan isterinya. Hebat sangatkah yang empunya diri sehingga berjaya merobohkan mahligai yang sudah bertahun dibina atas rasa cinta.<br />Hasil siasatan wartawan Indonesia itu lebih mengejutkan SS apabila dikatakan wanita yang bertanggungjawab menjadi punca keruntuhan rumah tangga Marcell ialah artis tapi bukan senegara sebaliknya dari seberang tambak Johor.<br />Artis itu dikatakan cukup terkenal di negaranya dan difahamkan janda anak satu. Bagaimanapun, SS kurang pasti sejauh mana hubungan Marcell dengan artis itu.<br />Sehingga kini, wartawan Indonesia belum tahu siapa artis wanita itu. Mungkin perkembangan artis di Singapura tidak sehebat artis di Malaysia.<br />Tapi selepas SS selidik sendiri, rupanya artis itu sedang berusaha membina nama di negara ini. Kalau tak salah SS, drama lakonannya sedang ditayangkan.&#8221;</span> [MyMetro.Com – Soseh Soseh, Malaysia]<br /><span style="font-weight:bold;"><br />Fact:</span><br />Amazing, isn’t it? Bahkan negara tetangga kita, Malaysia, sudah mulai terinfeksi virus gosip “orang ketiga” dari jaringan media Indonesia. Walaupun kalau dibandingkan, media Malaysia yang satu ini lebih sportif karena masih mengakui bahwa dia tidak tahu pasti. Dan bagi rekan media se-tanah air, yang selalu tahu pasti akan segalanya, hentikan penyelidikan Anda sekarang juga. Saya akan memudahkan pekerjaan kalian semua dengan memberikan update terkini, sekaligus membuka tabir misteri, siapakah artis misterius yang sempat disebut sebagai “wanita paruh baya” di beberapa media Indonesia tanpa mengatakan “tidak tahu pasti” itu? Are you ready? <br />Her name is <a href="http://www.lusciouscupcakes.blogspot.com">Rima Adams</a> (this given link is under her permission). I’ve met her in person, and she’s such a sweet woman, and nowhere near half of century old. She’s a Singaporean actress who’s currently working on Malaysian TV series. Dan dia memang sedang dekat dengan Marcell sekarang ini. Kedekatan mereka baru dimulai setelah saya dan Marcell dengan mantap memutuskan untuk berpisah. I’m sincerely happy for them and wish them all the best for now and for the future. <br />Dan jika Anda sungguh-sungguh menyimak kronologi di atas, sebetulnya ada fakta yang lebih penting, yang (sayangnya) menurut feeling saya, akan kembali diabaikan oleh beberapa pihak demi kesenangan dan kepicikan berpikir mereka, but I’m just gonna say it: she IS NOT the cause of our separation (subtitle Melayu: <span style="font-style:italic;">dia TAK bertanggungjawab atas punca keruntuhan rumah tangga Marcell. Tup! Tup!</span>).  <br /><span style="font-weight:bold;"><br />Dee’s Comment: </span><br />By announcing this news to both medias, Malaysia and Indonesia, I feel so international (at least, regional). Cool. Totally. </p>
<p><span style="font-weight:bold;">#10: The Hands That Will Rock Your Cradle… and Grave.</span><br /><span style="font-style:italic;">“Dee – Reza Gunawan Takashimaya Singapore / 30 July 2008: Gw barusan (1.10 pm SIN) liat Dewi Lestari ama Reza Gunawan gandengan tangan di Takashimaya B2. I took back what I said earlier bahwa gw ngga percaya Reza Gunawan jalan bareng Dewi. Ternyata oh ternyata&#8230; Semuanya bull****. Mau Dewi dengan segala justifikasinya dan Reza dengan klarifikasinya&#8230; [2] Gw dah mau foto, tapi batere hp gw abis. Pas gw mau klik, dia udah ngga bisa buat moto. Tapi gw ngga mungkin salah karena gw pernah contact dia beberapa waktu yang lalu&#8230; Bullsh1t semua, coba deh baca blognya dewi, di situ ada link ke blognya Reza. Apa yang ditulis ngga sama dengan kenyataan… Gw liat dengan mata kepala gw sendiri mereka jalan berdua, gandengan tangan, terus makan vegetarian food. Masa iya kaya gitu cuman SAHABAT? Ke Singapore bareng? Please deh.” </span>[Thread from Forum Detik.com. Posted by: Chocolate]<br /><span style="font-weight:bold;"><br />Fact:</span><br />Damn right we eat vegetarian food. We’re vegetarians! The only place where we’d be hanging out in the midst of Takashimaya food court must be a vegetarian food stall. Yes, it was us, all right. Saya dan Reza baru-baru ini memang pergi ke Singapura untuk mengikuti sebuah pelatihan penyembuhan. So, by all means, be proud of your &#8216;mata kepala sendiri&#8217;. Be very proud. But use them more carefully when you read our blogs next time. We never mentioned anything that contradicts what you saw with those eagle-sharp eyes of yours, darling. Tsk, tsk.  <br /><span style="font-weight:bold;"><br />Dee’s Comment:</span><br />Poor baby. Hp-nya habis baterai saat ingin menangkap adegan yang dikiranya akan menjadi skandal nasional tahun ini. Jadi, daripada satu arwah terkena risiko mati penasaran di kemudian hari, akan saya tuntaskan cita-cita mulianya yang ingin mengabadikan adegan kami bergandeng tangan di Singapura:</p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJX-BCIYWJI/AAAAAAAAAKw/7klsVgGlqGU/s1600-h/P1030146_2.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJX-BCIYWJI/AAAAAAAAAKw/7klsVgGlqGU/s400/P1030146_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230365835966044306" /></a><br />Tidak hanya agar arwahnya terbebas dari kemungkinan gentayangan, saya pun ingin membuat ia kelak mati tersenyum, bahkan hidup bahagia, detik ini, dengan memberikan beberapa bonus foto lagi:</p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJX-870N3yI/AAAAAAAAAK4/TfO1hWJrTxU/s1600-h/P1030150_2.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJX-870N3yI/AAAAAAAAAK4/TfO1hWJrTxU/s400/P1030150_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230366865063010082" /></a></p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJX_Q_tB-pI/AAAAAAAAALA/AoPyizFRhXI/s1600-h/P1030154_2.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJX_Q_tB-pI/AAAAAAAAALA/AoPyizFRhXI/s400/P1030154_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230367209703996050" /></a></p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJX_g1HooKI/AAAAAAAAALI/OYdp3N0qLIs/s1600-h/P1030156_2.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJX_g1HooKI/AAAAAAAAALI/OYdp3N0qLIs/s400/P1030156_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230367481740697762" /></a></p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJX_9EHIKDI/AAAAAAAAALQ/WSH4Xgiyupg/s1600-h/P1030155_2.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJX_9EHIKDI/AAAAAAAAALQ/WSH4Xgiyupg/s400/P1030155_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230367966801438770" /></a><br />Lihatlah bagaimana kedua tangan kami bermain aneka adu ketangkasan, dari mulai panco sampai injit-injit semut, bahkan melakukan pose balerina yang sedang akrobat. Semuanya khusus untuk Anda! Tak lupa, kami pun mempersembahkan sebuah karya seni, berjudul &#8220;American Eagle&#8221; by Dewi &#038; Reza:</p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJYA1hqh8zI/AAAAAAAAALY/nP9D5fw2JwA/s1600-h/P1030151_2.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJYA1hqh8zI/AAAAAAAAALY/nP9D5fw2JwA/s400/P1030151_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230368936807232306" /></a><br />Oh&#8230; sebentar&#8230; tampaknya masih banyak dari teman-teman di Forum yang belum merasa puas. Baiklah. Spare your batu bata and head-hammering emoticon. Kami akan menyiapkan foto adegan yang paling Anda tunggu-tunggu&#8230; sebuah aksi panas yang pastinya mampu membakar Forum diskusi Anda&#8230; </p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJYBU8QzDUI/AAAAAAAAALg/_GLamasCg90/s1600-h/P1030153_2.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJYBU8QzDUI/AAAAAAAAALg/_GLamasCg90/s400/P1030153_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230369476523003202" /></a><br />So, rest in peace, my friend. May these small tokens from Singapore will make your days merrier. And don&#8217;t worry, all pictures were actually taken in Singapore, in Changi Airport (you can match the carpet&#8217;s pattern in our photo through some lab analysis). When it comes to factuality, hey, we&#8217;re the guys you can count on. </p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJYCXxe6hHI/AAAAAAAAALo/laNfiEGHAv4/s1600-h/P1030158_2.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SJYCXxe6hHI/AAAAAAAAALo/laNfiEGHAv4/s400/P1030158_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230370624680658034" /></a><br />Hang loose! Ciao!</p>
<p>Barangkali akan ada yang bertanya: untuk apa saya menuliskan semua ini (aside from a good laugh)? Simple. I&#8217;d rather speak for myself than having bunch of infotainments or gossipheads do it for me. It&#8217;s so much fun to create our own infotainment. And sure, they may still do what they need to do, but I&#8217;m not gonna miss all the fun. Heheh.</p>
<p>Demikianlah ulasan iseng-iseng tidak iseng saya. Selama kurang lebih sebulan berita tentang perpisahan saya dan Marcell bergulir, begitu banyak hal yang bisa saya renungkan dan pelajari hanya dengan mengamati berbagai reaksi dan komentar yang dilontarkan media, publik, termasuk dari orang-orang yang kami kenal secara pribadi.</p>
<p>Pertama, reaksi bungkam sering diartikan sebagai tindakan terbijak, karena itu membuktikan bahwa kita kebal dan tidak terpancing emosinya. Kita bahkan punya semboyan: diam berarti emas. Namun seringkali “bungkam” yang terjadi adalah menyumpal mulut setengah mati, sementara hati panas terbakar seperti neraka. Kondisi itu, dalam istilah saya, menjadi: diam berarti emas imitasi. Jadi, dalam diam kita, sesungguhnya kita bisa sangat terpengaruh dan bereaksi. Dan di balik sikap tidak bungkam, seseorang bisa jadi betulan kebal dan tak terpengaruh. Ia hanya semata-mata ikut bermain dengan arus tanpa tenggelam di dalamnya. </p>
<p>Dengan menuliskan kedua posting terakhir ini, Anda bisa melihat bahwa saya tidak memilih sikap seratus persen bungkam. Tapi jangan salah. Tujuan saya menulis ini juga bukan untuk membuktikan bahwa saya sama sekali imun dari reaksi emosi atas gelombang gosip (bahkan menjurus fitnah—as you can see) yang terjadi seputar isu perpisahan saya. Saya sangat punya reaksi emosi, yang juga berwarna-warni. Namun inilah puncaknya: life is so darn funny. It’s the best comedy ever. And I choose to laugh. </p>
<p>Kesimpulan kedua saya, semakin seseorang tidak mengenal kita, semakin banyak ia berkomentar. Semakin seseorang mengenal atau memahami kita (tanpa perlu kenal), semakin sedikit dan berhati-hati ia berkomentar. </p>
<p>Another “bullshit theory” of mine? Yeah. You wish.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dewilestari.com/b/2008/08/03/152/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>171</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/151/</link>
		<comments>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/151/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 12:44:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dee_addict</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/151/</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Tentang Perpisahan
Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati. 
Saya sempat termenung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight:bold;">Catatan Tentang Perpisahan</span></p>
<p>Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati. </p>
<p>Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti. </p>
<p>Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.</p>
<p>Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.  </p>
<p>September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran. </p>
<p>Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell, menikah, dan seterusnya. <span style="font-style:italic;">Fate,</span> atau <span style="font-style:italic;">destiny,</span> menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan. </p>
<p>Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, “memaafkan” tidaklah identik dengan “pengembalian situasi ke kondisi semula”. Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, juga Marcell, dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan. </p>
<p>Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan. </p>
<p>Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi. </p>
<p>Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah anak panah yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya. </p>
<p>Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya”, seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis. </p>
<p>Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya. </p>
<p>Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep “kecuali”. </p>
<p>Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima kasih untuk semua. Kami pun tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai keputusan kami. Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari Anda kecewa. Saya juga mengerti begitu banyak yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha, mempertanyakan usaha kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan keputusan ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan “kemarin sore”. Kita semua tahu keputusan bercerai adalah keputusan yang besar. Intinya, terima kasih atas perhatiannya, dan mari kita kembali urus diri masing-masing. </p>
<p>Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi dari beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem, karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi. Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan sebagai buah upaya kami yang nyata karena semua orang sibuk mengedepankan pertunjukan teater versinya masing-masing. Apa pun yang saya katakan, pada akhirnya selalu dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini si penulis naskah. Itulah yang akhirnya membuat saya dan Marcell lebih banyak tertawa sendiri, pers hiburan rasanya seperti servis sosial di mana kami mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka, bukan lagi berbagi kebenaran. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau. </p>
<p>Hari ini, saya ditunjukkan tabloid C&#038;R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan (Fitriawan Ginting &#8211; RED). Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk “mengubur masa lalu”. Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk mengepas “gambar realitas” ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan. </p>
<p>Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang menjadi pengadilan tak resmi. Ada banyak nama yang disebut, dispekulasikan, dan sampai didiskreditkan. Orang-orang yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan privasi. Sekalipun dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami berpisah bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu, mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat saya. <span style="font-style:italic;">So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”.</span> Lucu. Yang menjalani saja santai-santai, yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain. Jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini. </p>
<p>Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran. </p>
<p>Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan. </p>
<p>Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.</p>
<p>Salam, </p>
<p>~ D ~</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/151/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>202</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/</link>
		<comments>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 12:44:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dee_addict</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Tentang Perpisahan
Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati. 
Saya sempat termenung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight:bold;">Catatan Tentang Perpisahan</span></p>
<p>Perpisahan, sebagaimana kematian, adalah hal yang paling dihindari manusia. Padahal sama seperti pertemuan dan kelahiran, kedua sisi itu melengkapi bagai dua muka dalam satu koin. Hadir sepaket tanpa bisa dipisah. Seberapa lama jatah kita hidup, kita tidak pernah tahu. Yang jelas, kita selalu berjuang setengah mati untuk bisa menerima mati. </p>
<p>Saya sempat termenung melihat salah satu adegan dalam film “Earth” di mana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu titik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi kematiannya dengan alami. Adegan yang tadinya begitu mencekam akhirnya bisa berubah indah saat kita mampu mengapresiasi kepasrahan sang kijang terhadap kekuatan yang lebih besar darinya. Persis bagaikan kijang yang berlari, manusia dengan segala macam cara juga menghindari kematian. Orang yang sudah tidak berfungsi pun masih ditopang oleh segala macam mesin agar bisa hidup. Perpisahan tak terkecuali. Kita pasti akan berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Namun, sebagaimana kijang yang akhirnya berlutut pasrah, sekeras-kerasnya kita menolak kematian dan perpisahan, setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan berhenti. </p>
<p>Dalam semua hubungan, kita bisa saja menemukan 1001 alasan yang kita anggap sebab sebuah perpisahan. Namun saya percaya, penyebab yang paling mendasar selalu sederhana dan alami: memang sudah waktunya. Hidup punya masa kadaluarsa, hubungan pun sama. Jika tidak, semua orang tidak akan pernah mati dan semua orang tidak pernah ganti pacar dari pacar pertamanya. Kita bisa bilang, putusnya hubungan A karena dia selingkuh, karena bosan, karena ketemu orang lain yang lebih menarik, belum jodoh, dan masih banyak lagi. Padahal intinya satu, jika memang sudah waktunya, perpisahan akan menjemput secara alamiah bagaikan ajal. Bungkus dan caranya bermacam-macam, tapi kekuatan yang menggerakkannya satu dan serupa. Tentu dalam prosesnya kita berontak, protes, menyalahkan ini-itu, dan seterusnya. Namun hanya dengan terus berproses dalam aliran kehidupan, kita baru menyadari hikmah di baliknya.</p>
<p>Jadi, semua faktor yang selama ini diabsahkan orang-orang sebagai penyebab perpisahan (orang ketiga, KDRT, tidak dinafkahi, dan lain-lain) menurut saya sebenarnya adalah gejala yang terlihat, bukan penyebab. Sama halnya batuk sebagai gejala penyakit flu. Batuk bukan penyebab, tapi gejala penyakit yang terlihat. Kita sendiri tidak bisa melihat virusnya, cuma merasakan akibatnya, yakni batuk atau beringus. Tapi seringkali kita tertukar memilah mana efek dan mana sebab, hanya karena efek yang terlihat lebih mudah dijelaskan. Alasan sesederhana “memang sudah waktunya” dirasa abstrak, teoritis, filosofis, dan mengada-ada.  </p>
<p>September 2006 adalah momen penyadaran saya dengan Marcell, saat kami merasa bahwa hubungan kami sudah kadaluarsa. Susah sekali kalau disuruh menjelaskan: kok bisa tahu? Tapi kami sama-sama merasakan hal yang sama. Dan pada saat itulah kami memutuskan untuk belajar berpisah, saling melepaskan. Jadi, masalah intinya bukan memaafkan dan memaklumi efek apa yang terlihat, tapi menerima bahwa inilah adanya. Hubungan yang kadaluarsa. Perkembangan yang akhirnya membawa kami ke titik perpisahan. Dan, untuk sampai pada penerimaan ini, dua tahun saya jalani dengan berbagai macam cara: meditasi, penyembuhan diri, dan sebagainya, hingga kami bisa saling melepaskan dengan lapang dada, dengan baik-baik, dengan pengertian, dengan kesadaran. </p>
<p>Memaafkan bagi saya adalah menerima. Menerima kondisi kami apa adanya. Segala penyebab mengapa sebuah kondisi tercipta, barangkali kita cuma bisa tahu sekian persennya aja. Tidak mungkin diketahui semua. Apalagi dimengerti. Sama halnya saya tidak tahu persis kenapa dulu bisa bertemu dengan Marcell, menikah, dan seterusnya. <span style="font-style:italic;">Fate,</span> atau <span style="font-style:italic;">destiny,</span> menjadi cara manusia menjelaskan apa yang tidak bisa dijelaskan. Perpisahan pun sama hukumnya. Meski sepertinya keputusan berpisah ada “di tangan kita”, tapi ada sesuatu kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan. </p>
<p>Namun seringkali konsep “memaafkan” yang kita kehendaki adalah kemampuan untuk mengembalikan situasi ke saat sebelum ada masalah. Alias rujuk lagi seperti dulu. Dan keinginan kami untuk berpisah dianggap sebagai ketidakmampuan kami untuk saling memaafkan. Menurut saya, pemaafan yang sejati hanya bisa diukur oleh masing-masing pribadi, di dalam hatinya sendiri. Dan bagi kami, dalam masalah ini, “memaafkan” tidaklah identik dengan “pengembalian situasi ke kondisi semula”. Dalam proses pemaafan ini, kami pun bertumbuh. Dan di sinilah saya menyadari, juga Marcell, dinamika kami sebagai suami-istri lebih baik disudahi sampai di sini. Kami menemukan wadah yang lebih kondusif untuk menopang dinamika kami sebagai dua manusia, yakni sahabat tanpa wadah pernikahan. </p>
<p>Lantas, orang-orang pun berargumen: semua suami-istri juga pada ujungnya jadi sahabat! Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Bahkan ada suami-istri yang menjadi musuh bagi satu sama lain meski mereka tetap menikah. Ketika sepasang suami-istri menjadi sahabat, mereka tentu bisa merasakan wadah apa yang paling tepat untuk menopang dinamika mereka. Jika pernikahan masih dirasakan sebagai wadah yang pas, maka mereka akan meneruskan persahabatan dalam cangkang pernikahan. Evolusi saya dan Marcell ada di kompartemen yang lain lagi. Cangkang pernikahan tidak lagi kami rasakan sebagai wadah yang “pas”. Jika dijalankan pun, cuma jadi kompensasi sosial yang alasannya bukan lagi kebahagiaan kami, melainkan kebahagiaan masyarakat, keluarga, sahabat, dan seterusnya. Satu opsi yang menurut saya sangat tidak sehat, membunuh pelan-pelan, dan kepalsuan berkepanjangan. </p>
<p>Lantas, bagaimana dengan Keenan? Apakah kebahagiaannya juga tidak kami perhitungkan? Analogi yang barangkali bisa membantu menggambarkan ini adalah petunjuk emergensi di pesawat. Dulu, saya sering bingung, kenapa orang tua disuruh memakai masker oksigen duluan sebelum anaknya. Sekarang saya mengerti, dan setidaknya ini adalah kebenaran bagi saya: kita tidak bisa membahagiakan orang lain sebelum kita sendiri bahagia. Satu buku yang sangat terkenal, “Celestine’s Prophecy”, juga bicara soal ini. Kita harus “penuh” dulu sebelum bisa “memenuhi” orang lain. Cinta bukanlah dependensi, melainkan keutuhan yang dibagi. </p>
<p>Saya menikah bukan karena Keenan, dan kalaupun saya bertahan menikah, seharusnya juga bukan karena Keenan. Karena kalau cuma karena Keenan, dengan demikian saya menaruh beban yang luar biasa besar dan bukan porsinya Keenan, bahkan saya menjadi seseorang yang tidak bertanggungjawab, dengan meletakkan fondasi pernikahan saya pada seorang anak. Ini barangkali bukan pandangan yang umum. Kita tahu betapa banyak orang di luar sana yang bicara bahwa anak harusnya menjadi pengikat, bahkan dasar. Bagi saya, Keenan bukan tali atau fondasi. Dia adalah busur yang akan melesat sendiri satu saat nanti. Kewajiban utama saya adalah menjadi manusia yang utuh agar saya bisa membagi keutuhan saya dengan dia. Dan keutuhan jiwa saya tidak saya letakkan dalam pernikahan, tidak juga pada siapa-siapa, melainkan pada diri saya sendiri. Saya hanya bisa bahagia untuk diri saya sendiri. Kalau ada yang lain merasa kecipratan, ya, syukur. Kalau tidak pun bukan urusan saya. </p>
<p>Di dunia di mana seorang martir selalu memperoleh citra istimewa, apa yang saya ungkap barangkali terdengar egois. Sama seperti narasi yang kerap digaungkan infotainment, yang berbicara soal kebahagiaan anak bernama Keenan dan “hatinya yang terkoyak karena keegoisan ayah-bundanya”, seorang anak yang tidak mereka kenal sama sekali tapi mereka berbicara seolah bisa menembus ke dalam hatinya. Padahal, kalau direnungi dalam-dalam, sesungguhnya kita tidak pernah berbuat sesuatu untuk orang lain, meski kita berpikir demikian. Kita berbuat sesuatu karena itulah yang kita anggap benar bagi diri kita sendiri. Dan kebenaran ini sangatlah relatif. Jika ada 6,5 miliar manusia di dunia, maka ada 6,5 miliar kebenaran dan ukuran kebahagiaan. Norma berubah, agama berubah, sains berubah, segalanya berubah dan tidak pernah sama. Kebahagiaan pun sesuatu yang hidup, berubah, dan tidak statis. </p>
<p>Membahagiakan Keenan, keluarga, para penggemar, masyarakat, juga menjadi keinginan saya. Tapi saya pun tidak bisa selamanya mencegah mereka semua dari ketidakbahagiaan. Karena apa? Seseorang berbahagia karena dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan mekanisme eksternal, tapi internal. Ilustrasinya begini, dua orang sama-sama dikasih apel, yang satu bahagia karena memang suka apel, yang lain kecewa karena sukanya durian. Berarti bukan apelnya yang bisa bikin bahagia, tapi reaksi hati seseoranglah yang menentukan. Yang tidak suka apel baru bisa bahagia kalau akhirnya dia bisa menerima bahwa yang diberikan kepadanya adalah apel dan bukan durian—sebagaimana yang dia inginkan. Alias menerima kenyataan. Saya tidak bisa membuat siapa pun berbahagia, sekalipun saya ingin berpikir demikian. Kenyatannya, hanya dirinya sendirilah yang bisa. Saya hanya bisa menolong dan memberikan apa yang orang tersebut butuhkan, SEJAUH yang saya bisa. Namun saya tidak memegang kendali apa pun atas kebahagiaannya. </p>
<p>Seseorang lantas mampir ke blog ini dan bertanya: Tuhan seperti apa yang saya anut? Karena kasih Tuhan seharusnya mengingatkan saya untuk terus bersatu, sebab tidak ada Tuhan yang menyukai perpisahan. Bagi saya, Tuhan berada di luar ranah suka dan tak suka. Jika dunia ini berjalan hanya berdasarkan kesukaan Tuhan, dan Tuhan hanya suka yang baik-baik saja, mengapa kita dibiarkan hidup dengan peperangan, dengan air mata, dengan patah hati, dengan ketidakadilan, dengan kejahatan? Mengapa harus ada hitam bersanding dengan putih? Lantas, kalau ada orang yang kemudian berargumen bahwa bagian hitam bukan jatahnya Tuhan tapi Setan, maka jelas Tuhan yang demikian bukan Yang Maha Kuasa. Ia menjadi terbatas, kerdil, dan sempit. Bagi saya, Tuhan ada di atas hitam dan putih, sekaligus terjalin di dalam keduanya. Tidak ada yang bukan Tuhan. Ia tak mengenal konsep “kecuali”. </p>
<p>Selama beberapa hari terakhir, begitu banyak pesan dan komentar yang dilayangkan pada kami. Dari mulai bertanya, kecewa, prihatin, sedih, kaget, bahkan bak seorang Nabi bernubuat, ada yang meramalkan ini-itu sebagai konsekuensi keputusan kami. Tak sedikit juga yang memilih tidak berkomentar dan bertanya, hanya memberi dukungan. Kami berterima kasih untuk semua. Kami pun tak meminta banyak, hanya satu hal: hargai keputusan kami. Yang kami selamatkan di sini bukan “keutuhan keluarga” melainkan keutuhan hati dan jiwa masing-masing. Karena buat kami, itu lebih penting daripada keluarga utuh tapi dalamnya rapuh. Maaf jika itu membuat beberapa dari Anda kecewa. Saya juga mengerti begitu banyak yang berupaya mendorong kami untuk terus berusaha, mempertanyakan usaha kami, dan bereaksi seolah-olah kami memutuskan keputusan ini dalam semalam. Sungguh, ini bukan keputusan “kemarin sore”. Kita semua tahu keputusan bercerai adalah keputusan yang besar. Intinya, terima kasih atas perhatiannya, dan mari kita kembali urus diri masing-masing. </p>
<p>Saya bukan penonton infotainment dan juga bukan pembaca tabloid, tapi dari beberapa info yang kebetulan sampai ke pengamatan saya, bisa disimpulkan bahwa manusia begitu haus drama. Mungkin karena itulah kita begitu rajin membuat sinetron dengan akting-akting berlebihan dan cerita-cerita ekstrem, karena hanya dengan cara demikianlah kita bisa menerima realitas. Kita begitu terbiasa dengan drama dan tragedi. Kondisi di mana saya dan Marcell bisa duduk berdampingan, berpisah dengan baik-baik, seolah-olah terlewatkan sebagai buah upaya kami yang nyata karena semua orang sibuk mengedepankan pertunjukan teater versinya masing-masing. Apa pun yang saya katakan, pada akhirnya selalu dibingkai narasi, entah lisan atau tulisan, yang merupakan ramuan opini si penulis naskah. Itulah yang akhirnya membuat saya dan Marcell lebih banyak tertawa sendiri, pers hiburan rasanya seperti servis sosial di mana kami mengumpankan dongeng untuk kepentingan hajat hidup mereka, bukan lagi berbagi kebenaran. Dengan info-info sepotong yang mungkin lebih banyak asumsinya ketimbang faktanya, mereka bisa merangkai pertunjukan teater apa pun yang mereka mau. Dan itulah yang menghibur. Sisanya? Kenyataan yang membosankan. Nyata, tapi tidak seru. Dan bukan itu yang orang mau. </p>
<p>Hari ini, saya ditunjukkan tabloid C&#038;R yang terbaru. Kami berdua menjadi sampul depan, dengan laporan empat halaman. Saya sempat tercengang karena mereka mengutip hal yang tidak pernah saya lontarkan, menuliskan pertanyaan yang tidak pernah mereka tanyakan, tapi ditulis sedemikian rupa seolah terjadi dialog langsung antara saya dan penulis/wartawan. Bahkan, mereka menuliskan alamat rumah saya dengan lengkap, tanpa izin terlebih dahulu. Plus, ditambah unsur-unsur dramatis bahwa kepindahan saya adalah untuk “mengubur masa lalu”. Padahal saya berencana pindah sejak tahun lalu karena semata-mata alasan pekerjaan. Tidak hanya mereka menulis sesuai dengan bingkai yang mereka mau, bahkan untuk mengepas “gambar realitas” ke bingkai tersebut, mereka melakukan hal yang tidak etis. Saya tidak tahu fungsi dari alamat lengkap saya untuk bumbu berita mereka, tapi mereka menuliskannya seolah tidak berpikir bahwa hal tersebut menyangkut isu sekuritas, dan juga privasi. Media seharusnya tidak memberikan alamat seseorang begitu saja. Sejauh saya berkarier, pihak media selalu meminta izin jika ingin memberikan alamat. Entah zaman yang sudah berubah, atau privasi sudah jadi kata-kata kosong dalam realm pers hiburan. </p>
<p>Beberapa debat dan diskusi di internet pun merebak, bahkan terkadang menjadi pengadilan tak resmi. Ada banyak nama yang disebut, dispekulasikan, dan sampai didiskreditkan. Orang-orang yang juga punya kehidupan, keluarga, karier, dan privasi. Sekalipun dengan tegas saya dan Marcell mengatakan bahwa alasan kami berpisah bukan karena pihak ketiga atau ketujuhbelas, tapi seperti angin lalu, mereka tak jemu mengorek sana-sini, termasuk ke sahabat-sahabat terdekat saya. <span style="font-style:italic;">So, seriously, they don’t have any concern for the truth. They have concern on “stories”.</span> Lucu. Yang menjalani saja santai-santai, yang kebakaran jenggot malah orang-orang lain. Jika dilihat secara keseluruhan, sesungguhnya inilah dagelan kita bersama. Barangkali demikian juga halnya nasib semua berita hiburan (bahkan non-hiburan) yang beredar selama ini. </p>
<p>Lalu, hendak ke mana setelah ini? Saya tidak tahu. Apakah akan ada penyesalan? Saya tidak tahu. Apa pun yang menanti saya sesudah ini, itulah konsekuensi, tanggung jawab, dan karma saya. Pahit atau manis. Tak seorang pun yang tahu. Namun inilah pelajaran hidup yang menjadi jatah saya, dan saya menerimanya dengan senang hati. Saya tidak berdagang dengan Tuhan. Setiap detik dalam hidup adalah hadiah. Setiap momen adalah perkembangan baru. Bagi saya, itu sudah cukup. Bagi saya, itulah bentuk kesadaran. </p>
<p>Jadi, kalau pertanyaan emas itu kembali dilontarkan: apa penyebab Dewi dan Marcell bercerai? Mereka sadar, menerima, dan memaafkan… bahwa hidup telah membawa mereka ke titik perpisahan. </p>
<p>Abstrak? Filosofis? Teoritis? Utopis? Saya sangat mengerti mengapa label-label itu muncul. Kebenaran kadang memang sukar dipahami. Hanya bisa dirasakan. Sama gagapnya kita berusaha mendefinisikan Cinta. Pada akhirnya, kita cuma bisa merasakan akibatnya.</p>
<p>Salam, </p>
<p>~ D ~</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dewilestari.com/b/2008/07/16/82/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>122</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/06/04/81/</link>
		<comments>http://www.dewilestari.com/b/2008/06/04/81/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 13:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dee_addict</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/06/04/81/</guid>
		<description><![CDATA[Biyukukung: Saat Alam Menghamili Padi
Minggu ini saya akan pergi ke Bali—ke Ubud, tepatnya. Tempat di mana sawah menjadi bagian inheren dari pariwisata. Penginapan tempat saya biasa menginap juga dikelilingi sawah, yang jaraknya hanya sekian langkah dari teras kamar. 
Terakhir kali ke sana, saya sempat menontoni seorang bapak tua membajak sawah dengan bajakan sederhana yang harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight:bold;">Biyukukung: Saat Alam Menghamili Padi</span></p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SEdO2BVnDZI/AAAAAAAAAJQ/1VaycQc5a34/s1600-h/ubud_bali_ricefield.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SEdO2BVnDZI/AAAAAAAAAJQ/1VaycQc5a34/s400/ubud_bali_ricefield.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208218184056245650" /></a><br />Minggu ini saya akan pergi ke Bali—ke Ubud, tepatnya. Tempat di mana sawah menjadi bagian inheren dari pariwisata. Penginapan tempat saya biasa menginap juga dikelilingi sawah, yang jaraknya hanya sekian langkah dari teras kamar. </p>
<p>Terakhir kali ke sana, saya sempat menontoni seorang bapak tua membajak sawah dengan bajakan sederhana yang harus ia tarik mengelilingi sawah. Jangankan mesin, pakai bantuan kerbau pun tidak. Sesekali, ia menggemburkan tanah dengan kakinya sendiri. </p>
<p>Sambil sarapan pagi, saya membatin dalam hati: “Kapan pertanian Indonesia bisa maju kalau begini caranya?” Sementara pertanian di Amerika sudah hampir seluruhnya dioperasikan mesin, bapak tua itu masih membajak tanah dengan cara yang barangkali sama dengan para petani seratus tahun lalu. Memandangnya bergerak lamban menyusuri lumpur seolah menyaksikan artefak kuno diarak di Silicon Valley. Sungguh ironis, pikir saya waktu itu. </p>
<p>Saat <span style="font-style:italic;">check-out</span>, perhatian saya tiba-tiba tertumbuk pada satu kata yang tak pernah saya perhatikan, meski saya melihatnya setiap hari, yakni nama hotel tempat saya menginap: <span style="font-style:italic;">“Biyukukung”</span>. Dan saya tergerak untuk bertanya pada sopir hotel, “<span style="font-style:italic;">Beli,</span> Biyukukung artinya apa?” Dia lantas menjelaskan, Biyukukung adalah nama upacara yang dilakukan saat padi “hamil”. Saya spontan tertawa geli. Baru kali itu saya mendengar kata “hamil” diperuntukkan buat padi.  </p>
<p>Namun, entah kenapa, konsep padi hamil itu terus mengusik pikiran saya. Setibanya di rumah, saya melakukan riset kecil-kecilan. Dalam sebuah jurnal tentang sistem Subak, yang waktu zaman sekolah dulu saya kenal sebagai sistem irigasi sawah di Bali, saya terhanyut dan tercengang melihat begitu sakralnya sistem pertanian tradisional Bali. Subak bukan semata-mata mekanisme irigasi, bukan sekadar alat tekno-sosial, melainkan pemahaman dasar para petani Bali bahwa pertanian merupakan satu entitas tersendiri yang terajut dengan ekosistem dan spiritualitas. Petani di daerah tertentu akan menyesuaikan perilaku bertaninya bukan hanya berdasarkan kondisi tanah dan air di tempat itu saja, tapi dengan seluruh elemen alam, termasuk nilai religi masyarakat setempat dan para Dewa. </p>
<p>Sekurangnya ada 27 nama upacara yang saya temukan, dari mulai untuk penyemaian benih, menyiangi, pengangkutan, penyimpanan, sampai pengeringan. Setiap upacara berkorespondensi dengan Dewa tertentu yang disesuaikan dengan tujuan dan keberhasilan fase demi fase. Pada fase Biyukukung, misalnya, para petani berdoa kepada Bhatara Surya untuk restu dan perlindungan. Pada fase pengeringan, atau Nedunang Pari, mereka minta restu pada Bhatari Sri untuk proses akhir dari padi mereka. Sebelum dikenal pestisida dan insektisida, hama diusir hanya dengan mantra dan sesajen. Setiap hama memiliki mantra dan sesajennya sendiri; mantra penanganan hama tikus lain dengan mantra mengusir monyet, dan seterusnya. </p>
<p>Penjelasan tentang Subak membuat saya berpikir ulang tentang kesimpulan saya saat menontoni bapak tua di sawah itu. Selama ini kita begitu mengagungkan pertanian modern karena kecepatan dan keberlimpahannya dalam memenuhi kebutuhan manusia. Namun dalam kecepatan itu, kita memutus hubungan sakral kita dengan alam. Tanah hanya tanah. Bibit ya cuma bibit. Padi ya hanya padi. Semuanya adalah alat yang melayani kebutuhan manusia, yang bisa dikendalikan dengan teknis dan mekanis. </p>
<p>Saat kita berbicara soal intensifikasi pertanian, yang kita bicarakan adalah seberapa besar lahan gambut yang bisa disulap jadi subur, seberapa besar volume panen bisa kita genjot, seberapa banyak padi yang bisa kita timbun. Dan dalam prosesnya, entah berapa juta ton racun yang kita kirim ke tanah, dari mulai pupuk kimia hingga pestisida, demi kemakmuran umat manusia. Saat pertanian menjadi masalah mekanis, kita lupa bersimpuh pada alam yang melimpahkan begitu banyak bagi kita secara cuma-cuma. Kita tidak lagi memaknai makanan di piring kita sebagai wujud karya persetubuhan matahari dan air, yang benihnya kemudian bersemayam dalam rahim tanah, tumbuh dan mengandung, untuk kelak kembali ke tanah, menunggu persetubuhan berikutnya antara matahari dan air. Kita lupa bahwa padi pun “hamil”. </p>
<p>Suku Indian di Benua Amerika sangat sohor karena hubungan mereka yang luar biasa dengan alam. Mereka begitu peka, tak cuma pada binatang, tapi juga tumbuhan. Seorang shaman akan pergi hutan untuk mencari obat. Ia tak tahu persis tanaman mana yang bisa berguna untuk kebutuhannya. Ia hanya menunggu tanaman tertentu “berbicara” padanya. Dan sebelum ia petik tanaman tersebut, ia masih menunggu tanaman itu memberi tanda terlebih dulu, mengungkapkan kesiapannya untuk dicabut. Dan sesudah itu, ia berterima kasih pada roh yang bersemayam dalam tanaman itu atas kerelaannya menolong manusia. </p>
<p>Cerita-cerita semacam itu menjadi dongeng bagi manusia modern. Termasuk 27 upacara menanam padi. Petani semi modern di Bali sudah tidak lagi mengandalkan mantra dan sesajen secara eksklusif untuk mengusir hama, mereka kini sudah mencampurnya dengan obat-obatan kimia. Yang bukan petani lebih-lebih lagi, kita bahkan tak tahu betapa beras merupakan bahan makanan pokok yang paling repot untuk diproduksi. Saat kita pergi ke pasar, melihat berkarung-karung beras siap ditimbang dan dibawa pulang… saat kita masak, melihat nasi putih panas yang masih mengepul dalam dandang… saat kita makan, mencampurkan nasi dengan berbagai macam lauk… semua ini menjadi adegan-adegan biasa yang kita jalani setiap harinya tanpa pernah ingat lagi perjalanan Sang Padi. </p>
<p>Mengingat itu semua, saya kembali berpikir ulang. Apakah intensifikasi pertanian satu-satunya jawaban dari kemelut pangan? Mungkinkah kita bergerak lebih dalam dari itu dan melihat bahwa ada yang hilang dalam relasi manusia dengan alam? Dan jika kita pulihkan harmoni itu, mungkinkah kita melihat hidup dengan cara yang sama sekali berbeda? Kita akan berpikir ulang sebelum membuang nasi, sebelum menyajikan makanan secara berlebihan, sebelum makan demi pemuasan dan bukan lagi kebutuhan. Dan upaya kita bukan lagi berdasarkan takut kurang, atau takut dimarahi pihak tertentu, melainkan karena kita memahami dan menghargai alam selayaknya sebuah entitas, bukan alat. </p>
<p>Tidak semua dari kita tahu dan mau tahu soal mantra dan sesajen. Namun saya percaya, alam punya intelijensi luar biasa yang mampu memahami niat dan isi hati kita tanpa batasan bahasa dan cara. Maukah kita mencoba, mensyukuri berkah yang kita lupakan ini, bukan dengan doa yang diucap sembarang karena refleks, tapi dengan setiap kata yang dihayati? Memandang nasi yang kita makan hari ini bak kumpulan mutiara—putih, dan berharga. Memandang mereka sebagai anak-anak hasil perkawinan alam yang telah dilimpahkan pada piring kita, sehingga menjadi gugus-gugus yang membangun tubuh dan jiwa kita. </p>
<p>Saya akan kembali ke Ubud dan melihat sawah di depan teras kamar saya nanti dengan pandangan yang berbeda. Dengan kata dan cara saya sendiri, saya ingin menyempatkan berdoa sederhana: untuk semua padi yang telah hamil demi saya makan, sejak saya di kandungan hingga saya kelak kembali menjadi abu, saya ucapkan terima kasih. Kalian telah menjadi bagian hidup saya, sebagaimana saya pun bagian dari kalian. Maafkan jika saya sering lupa kebenaran itu. Tapi saya percaya, dengan kata dan cara kalian sendiri, kalian tak pernah lelah mengingatkan saya.</p>
<p><span style="font-style:italic;">* Foto sawah Ubud diambil dari highwaybali.com</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dewilestari.com/b/2008/06/04/81/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/20/80/</link>
		<comments>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/20/80/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 10:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dee_addict</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/05/20/80/</guid>
		<description><![CDATA[Dua Pertanyaan Yang Berarti
Tulisan berikut terlahir dari komentar yang dilontarkan dalam forum blog ini. Untuk itu, saya sangat berterima kasih pada Heikal, yang dalam pertanyaannya telah memberikan ruang bagi satu perenungan penting bagi kita semua. Heikal mengungkapkan sesuatu, yang menurut saya, juga kerap terlintas dalam benak kita semua: 
“Tidakkah penghentian konsumsi protein hewani akan menghasilkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight:bold;">Dua Pertanyaan Yang Berarti</span></p>
<p>Tulisan berikut terlahir dari komentar yang dilontarkan dalam forum blog ini. Untuk itu, saya sangat berterima kasih pada Heikal, yang dalam pertanyaannya telah memberikan ruang bagi satu perenungan penting bagi kita semua. Heikal mengungkapkan sesuatu, yang menurut saya, juga kerap terlintas dalam benak kita semua: </p>
<p><span style="font-style:italic;">“Tidakkah penghentian konsumsi protein hewani akan menghasilkan masalah baru? Misalnya konsumsi telur dihilangkan. Entah berapa pekerja yang ikut kehilangan pekerjaan seiring dengan menghilangnya telur. Pekerja di peternakan, buruh pabrik pakan ternak, dan lingkungan tempat pabrik itu berada kehilangan potensi ekonominya. Dan hal ini akan berlangsung di seluruh dunia… Belum daging, ayam, ikan (tawar &#038; laut), dan produk hewani lainnya. Berarti semua peternakan penghasil daging, juga nelayan, pasar ikan, dan semua mata rantai jaringan distribusinya, dan semua pekerja sampai lini terakhir, akan berpotensi kehilangan pekerjaannya. Mereka semua akan jadi korban kebijakan vegetarian. Terbayang di benak saya kerusuhan massal yang sekiranya mungkin terjadi… Ketika harga solar naik, pemerintah sulit membantu para nelayan karena mereka adalah nelayan! Mereka tidak mampu beralih profesi menjadi petani, misalnya… Pola vegetarian bisa diterapkan, tapi tidak dalam waktu singkat. Mungkin, sekali lagi mungkin, harus melalui proses, katakanlah, kerusuhan, harga-harga produk pertanian yang meningkat, kemiskinan bertambah, dan tetap terjadi pertempuran kepentingan antara penggunaan lahan untuk pertanian sebagai konversi dari industri hewani, dengan kebutuhan manusia akan lahan untuk tempat tinggal.”</span></p>
<p>Mari kita renungkan perlahan dan mendalam. Sekalipun pertanyaan dan pernyataan di atas sangat menarik dan mengusik, menurut saya semua itu bersifat spekulatif, dan jika ada yang tergerak untuk menjawab, maka jawaban yang diberikan pun otomatis juga cuma spekulasi belaka. Bagaimana jadinya jika satu dunia serempak sim-salabim jadi vegetarian? Saya tidak tahu. Saya tidak yakin ada yang tahu. Saya bisa saja berfantasi demi menjawabnya, tapi tentu tidak akan banyak berguna. Jadi, pertama, mari kita pilah mana fantasi, mana fakta. </p>
<p>Faktanya, gaya hidup termasuk pola makan kita memiliki jejak gas rumah kaca yang tidak kecil. Hal itu bisa dihitung secara matematis, dan sudah diungkap di mana-mana. Jika masing-masing dari kita menghapus jejak tersebut, sedikit atau sekaligus, secara matematis tentunya terjadi perubahan pada wajah Bumi. </p>
<p>Namun, tolong, sekali lagi kita renungkan pelan-pelan. Pola mental kita dapat menciptakan trik yang amat halus. Alih-alih berubah, kita malah asyik berspekulasi, membayangkan <span style="font-style:italic;">chaos</span> yang terjadi kalau orang sedunia mengubah pola makannya, atau gaya hidupnya. Dan lagi-lagi, kita menunda perubahan demi penelusuran spekulasi. Mari kita pilah sekali lagi, mana fakta di depan mata, mana fantasi di kepala. Saya bisa saja berfantasi: apa yang terjadi kalau semua orang berhenti mengonsumsi BBM? Apa yang akan terjadi dengan seluruh pembangkit listrik di dunia, seluruh mesin-mesin yang digerakkan oleh BBM? Apakah mereka akan jadi onggokan besi tua tak berguna? Bagaimana nasib karyawan tambang minyak di seluruh dunia, Pertamina dan seluruh perusahaan minyak di dunia, tukang isi bensin, dll? Bukankah ini akan mengakibatkan pengangguran gila-gilaan? Kemiskinan, kerusuhan, bahkan perang? Satu penelusuran yang sangat fantastis dan menarik, tentunya. Kita bisa membayangkan apa pun, tapi bayangan Anda dan saya belum tentu benar. Mengapa? Karena semua itu adalah khayalan masa depan yang belum terjadi. </p>
<p>Tapi ini yang terjadi: dunia memasuki krisis energi. BBM adalah sumber energi yang punya umur karena tidak bisa diperbaharui, jadi satu saat pasti habis. Semua itu adalah fakta. </p>
<p>Sama halnya dengan vegetarian. Teman saya bahkan pernah berfantasi, kalau semua orang jadi vegetarian, rantai makanan di Bumi jadi kacau, karena populasi singa dan binatang buas lainnya jadi meledak akibat ketersediaan makanan mereka yang tahu-tahu membludak berhubung ternak-ternak itu dianggurkan manusia. Fantastis, bukan? Mata kita justru tertutup dari fakta bahwa kondisi sekaranglah yang tidak beres, karena manusia mengadakan intervensi alam dengan industri peternakan dan mengadakan miliaran hewan ternak. Kenapa tidak terjadi ledakan populasi kecoak atau cicak di dunia? Karena manusia tidak beternak kecoak atau cicak. </p>
<p>Lebih lanjut, disebutkan pula:</p>
<p><span style="font-style:italic;">“Intinya, menurut saya, dari rantai kehidupan yang kita jalani sekarang, vegetarian bukanlah solusinya. Jika industri ternak sebagai penyumbang pemanasan global terbesar dihentikan, bukan berarti faktor pencetus pemanasan global berhenti… Logikanya begini, industri ternak &#038; populasi hewan besar karena kebutuhan manusia akan ternak yang besar. Kebutuhan ternak yang besar karena populasi manusia di dunia ini juga besar. Jadi, seharusnya LAJU POPULASI MANUSIA-lah yang harus dikendalikan. Jadikan pertumbuhan populasinya 0% di seluruh dunia. Ini mustahil juga kan? Jadi kampanye Penanggulangan Pemanasan Global saat ini sudah sangat terlambat. Tak ada kata terlambat, kita harus mengakui keterlambatan itu…”</span></p>
<p>Mari cermati pelan-pelan, benarkah industri ternak berkembang karena “kebutuhan” manusia? Jika benar isunya adalah butuh, bahwa manusia di Bumi ini “membutuhkan” hewan ternak sekian banyak demi memenuhi “kebutuhan” mereka, mengapa 3,6 miliar manusia mengalami kelaparan kronis? Mengapa 40 ribu orang mati setiap harinya karena kelaparan? Ke mana larinya enam miliar hewan ternak yang diadakan demi kebutuhan umat manusia? Ada 12 Mitos seputar isu “World Hunger”, dan mitos nomor tiga disebutkan: jumlah manusia yang terlalu banyak (www.worldhunger.org). Kita kerap berpikir, Bumi tak cukup memberi makan 6,5 miliar jiwa. Nyatanya, pertanian dunia masa kini mampu memberi makan semua manusia 2720 kalori per hari. Artinya, jumlah manusia bukanlah determinan mengapa kelaparan ada. Telah disebutkan, pakan ternak di Amerika tok sudah bisa memberi makan 1,3 miliar orang. Jadi, benarkah industri hewan ternak tumbuh karena manusia butuh? Menurut saya, industri ternak tumbuh karena nurani kita lumpuh. Demi profit, satu penelitian atas tikus setengah abad yang lampau menjadi acuan bagi kita untuk mengisi perut. Demi sepotong lidah panjang 10 senti, kita jadikan lambung kita kuburan bagi ratusan hewan, yang dalam kaca mata besarnya juga menjadi kuburan bagi saudara-saudara kita.  </p>
<p>Satu catatan penting mengenai laju populasi manusia. Sesungguhnya, sejak tahun 1987, laju populasi manusia di dunia menurun dengan rata-rata pengurangan 2,1 juta manusia per tahun. Jika kecepatan ini bertahan, kita akan mencapai titik zero population growth dalam waktu dua puluh tahun (www.overpopulation.net). Dan kecenderungan dalam enam tahun terakhir bahkan menunjukkan penurunan yang berangsur lebih besar lagi. Jadi, apakah mungkin terjadi pertumbuhan populasi nol? Sangat mungkin. Kita bahkan sedang berproses menuju ke arah sana. Di atas kertas, kita bisa menganggap hal ini sebagai kabar baik. Namun, penurunan laju penduduk tidak selalu berarti “baik”, karena dalam penurunannya, yang terjadi adalah kelaparan meningkat, penyebaran penyakit bersifat epidemis, dan sebagainya. Dua faktor yang paling berperan adalah krisis pangan dan air, yang lagi-lagi bermuara pada faktor eksploitasi lingkungan yang tidak berpihak pada kelestarian alam. </p>
<p>Sekali lagi, mohon direnungkan dalam-dalam. Mengapa kita susah sekali mencerna fakta-fakta ini? Mengapa kita lebih mudah berspekulasi ketimbang bertindak? Mungkinkah karena ini adalah pembiasaan sistemik yang sudah begitu merasuki sistem berpikir kita, yang kemudian membentuk cara pandang kita terhadap hidup dan dunia? </p>
<p>Saya percaya, kunci spesies manusia bisa bertahan dan berevolusi hingga detik ini adalah karena kemampuannya beradaptasi. Itulah satu-satunya modal sejati kita untuk bertahan hidup. Perubahan menuju zaman baru tidak terelakkan, dan mereka yang bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi. Dari detik kehidupan bermula, demikianlah rumusnya. <span style="font-style:italic;">Like it or not.</span> Semua pemain dalam industri energi harus beradaptasi, mau tak mau. Para petani dan peternak, sama halnya dengan para pekerja lain di dunia yang terus berubah ini, harus beradaptasi, tanpa kecuali. Semua makhluk hidup harus beradaptasi dengan perubahan iklim, tanpa bisa menolak. Ada yang masih bertahan, ada juga ribuan spesies lainnya yang sudah punah, dan akan punah. Di akhir abad ini, beruang kutub diperkirakan akan punah. Bisakah Anda bayangkan, jika kita berpikir dari sudut pandang beruang kutub? Bagi mereka, mencairnya kutub adalah kiamat total. Sementara kita, manusia, masih bisa asyik berspekulasi ini-itu. Begitu banyak makhluk dipaksa beradaptasi di ujung batas hidup dan mati selagi saya dan Anda berkorespondensi lewat blog ini. Dalam hitungan detik, eskalasi kepunahan berbagai spesies terus meroket. </p>
<p>Saya tidak ambil pusing tentang spekulasi skenario perubahan pola makan dunia bukan karena tidak peduli. Tapi karena hal itu tidak sanggup saya kendalikan. Lalu untuk apa saya membuang waktu? Kadang-kadang, kita terus berlarut memikirkan orang lain dan situasi yang tidak bisa kita kendalikan, dan lagi-lagi, melupakan kendali yang paling riil dan bisa kita pakai segera: kendali pada diri kita sendiri. Sejenak, lupakan nelayan, lupakan peternak, lupakan pemerintah, lupakan siapa pun yang ada di luar diri Anda. Termasuk saya. </p>
<p>Sekarang, mari bertanya: siapa Anda? Apa yang Anda bisa lakukan? Menurut saya, dua pertanyaan itulah yang paling berarti. Sisanya fana.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/20/80/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/</link>
		<comments>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 13:51:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dee_addict</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/</guid>
		<description><![CDATA[Daging Makanan Bergizi Kelas Satu, Benarkah?By: Chindy Tan
”Bukankah daging tetap dibutuhkan tubuh untuk kesehatan?” Demikianlah kepercayaan yang sangat mengakar hingga detik ini, yakni daging sebagai sumber  protein kelas satu, sumber kalsium, sumber lemak, sumber vitamin B12 dan sumber zat besi. 
Salah satu akar kepercayaan ini bersumber dari sebuah studi antara tahun 1929-1950 dengan menggunakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight:bold;">Daging Makanan Bergizi Kelas Satu, Benarkah?</span><br /><span style="font-style:italic;">By: Chindy Tan</span></p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SEdZ88xooLI/AAAAAAAAAJ4/34JWRgiKSmE/s1600-h/meat.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SEdZ88xooLI/AAAAAAAAAJ4/34JWRgiKSmE/s320/meat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208230397718601906" /></a><br />”Bukankah daging tetap dibutuhkan tubuh untuk kesehatan?” Demikianlah kepercayaan yang sangat mengakar hingga detik ini, yakni daging sebagai sumber  protein kelas satu, sumber kalsium, sumber lemak, sumber vitamin B12 dan sumber zat besi. </p>
<p>Salah satu akar kepercayaan ini bersumber dari sebuah studi antara tahun 1929-1950 dengan menggunakan asam amino yang dimurnikan (padahal makanan yang kita makan bukanlah asam amino yang dimurnikan). Kemudian, penelitian lanjutnya dilakukan pada tikus, yang ternyata tingkat kebutuhan proteinnya paling tinggi dari semua mamalia. Sebagai patokan, jumlah kalori protein yang terkandung dalam air susu tikus adalah 49%, sedangkan pada manusia jumlah kalori protein yang terdapat pada ASI hanyalah 5%.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Mengapa Jadi Berlebih?</span></p>
<p>Patut dicermati bahwa kebutuhan tertinggi tubuh manusia akan protein seumur hidupnya adalah masa usia 0-5 tahun. Pada masa paling krusial 0-6 bln di mana ASI secara eksklusif diberikan, ASI sendiri ‘hanya’ mengandung 5% kalori protein, Terkecuali masa menyusui, American Journal of Clinical Nutrition mematok rata-rata asupan 2,5% kalori protein per hari, dan banyak populasi yang hidup dengan baik-baik saja pada angka ini. Logis saja, karena pada masa kebutuhan tertingginya pun tubuh kita hanya dipasok 5% kalori protein dari ASI. Tentunya setelah lewat masa pertumbuhan, tubuh kita tidak membutuhkan sebanyak  itu lagi, atau cukup di bawah 5% kalori protein. </p>
<p>Bukankah hal yang janggal bila National Egg Board, National Dairy Council, National Livestock, dan Meat Board Amerika menambah 30% dari angka yang harusnya kurang dari 6% (“Diet For A New America”)? Batas aman atau RDA 30% inilah yang disoroti sebagai dasar propaganda industri ternak. Kebijakan tersebut lantas dituangkan ke dalam kurikulum pendidikan. Bermula di Amerika, propaganda daging, telur, susu sebagai sumber protein utama ini pun mendunia, termasuk di Indonesia. Bangku sekolah kita tak luput dari jangkauan propaganda ini. Konsep yang  sudah sangat akrab sampai ke sumsum kita, bahwa daging adalah sumber terbaik untuk protein.</p>
<p>Kejanggalan ini terjawab pada uraian Dr. David Reuben yang mempertanyakan: siapakah yang sesungguhnya memperoleh manfaat ekstra 30% batas aman tersebut? Beliau menjawab, “Mereka yang menjual daging, ikan, keju, telur, ayam dan semua sumber-sumber protein yang bergengsi dan mahal lainnya. Jika Anda adalah keluarga Amerika umumnya, Anda harus mengeluarkan uang 40 USD per bulan untuk memompa asupan protein yang sebenarnya tidak Anda perlukan. Pengeluaran ini, memberikan 36 miliar USD per tahun ke kantong penjual.” (Diet For A New America – John Robbins)</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Business As Usual</span></p>
<p>Era globalisasi memberi jalan lapang bagi negara-negara industri yang kuat modal dan kuat teknologi untuk menguasai harkat hidup di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Mari lebih jeli menganalisa benang merah tiap fakta berikut:  Makanan merupakan 11% dari keseluruhan komoditi perdagangan global, proporsi yang berada di atas perdagangan minyak bumi (Globalization and Human Nutrition, 2001). Produk makanan yang dihasilkan dari produksi pangan yang berlebihan di negara-negara industri mau tak mau harus dipasarkan. Namun karena ‘demand’-nya yang sudah statis (baca: jenuh) atau inelastik di negara industri, maka pilihan pasarnya adalah negara-negara berkembang yang produk pangannya masih ‘tradisional’ dan ‘terbatas’. Untuk ini industri makanan di Amerika Serikat mengeluarkan dana 30 miliar dolar setiap tahunnya untuk promosi (Bulletin of the World Health Organization, 2002). Strategi promosi yang digunakan memberi citra daging sebagai makanan bergengsi, modern dan gaul. Rumus ”Tiga P” digunakan: <span style="font-style:italic;">placing, pricing dan promotion.</span> Hasilnya, menjamur dan mengguritanya bisnis makanan cepat saji hampir di seluruh dunia. <br /><span style="font-weight:bold;"><br />Dampak Terhadap Kesehatan</span></p>
<p>Prof.dr.Siti Fatimah Muis, M.Sc, SpGK dalam kajiannya,”Globalisasi Pangan: Dampaknya Terhadap Gizi dan Kesehatan” menuliskan bahwa setelah Perang Dunia II, negara berkembang mengalami transisi epidemiologi yakni, menurunnya penyakit infeksi seperti TBC, tifus, diare, lepra dan mulai munculnya penyakit degeneratif seperti penyempitan pembuluh darah jantung atau otak, penyakit gangguan metabolisme dan keganasan. Dan sekarang telah memasuki masa transisi berikutnya adalah transisi gizi atau munculnya masalah gizi ganda. Artinya, masalah gizi berlebih pada saat yang bersamaan muncul dengan masalah gizi kurang. Kelebihan asupan energi pada anak-anak dan remaja, utamanya dari makanan berlemak jenuh tinggi (daging, telur, dan susu) di atas 30% dari keseluruhan asupan energi sehari-hari ternyata juga dapat mengakibatkan kenaikan kolesterol, penebalan/pengerasan dinding pembuluh darah (atherosklerosis) dan diabetes tipe-2 seperti yang dialami usia paruh baya (Rapid Westernization of children’s blood cholesterol in 3 countries, 2000). Pada abad ke-20 diabetes tipe 2 (non-insuline dependent) hanya terjadi pada usia paruh baya dan tua. Namun, tren sekarang menunjukkan penyakit tersebut mulai banyak diderita oleh anak maupun remaja. Terjadi peningkatan empat kali lipat kejadian diabetes tipe 2 pada anak usia anak 6-15 tahun yang terbukti berkorelasi dengan kelebihan berat badan (Type 2 diabetes in young, 2004)</p>
<p>Sesekali saat membesuk rekan yang sakit di RS, cobalah adakan survei kecil. Berapa banyak pasien penderita  stroke, serangan jantung, hipertensi, diabetes dan kanker dan yakinlah, sepuluh dari sepuluh penderita tersebut dianjurkan oleh dokter untuk mengurangi atau berpantang daging. Begitu sederhana pesan yang bisa diamati dari sekeliling kita tanpa perlu studi atau riset untuk sampai pada pemahaman bahwa: sederet penyakit inilah yang sebenar-benarnya ’diberikan’ oleh daging kepada tubuh manusia.</p>
<p><span style="font-style:italic;">* Lagi, satu sumbangan dari Chindy Tan yang dikerjakan dengan begitu sigap untuk kita semua yang masih penasaran soal isu gizi daging dan kesehatan. Saya pribadi merekomendasikan buku &#8220;New Diet For A New America&#8221; bagi yang ingin mengulik lebih lanjut dan lebih mendalam. Thank you, Chindy, untuk sumbangannya. </span><br /><span style="font-style:italic;"><br />* Gambar diambil dari pump.tuthill.com</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/19/79/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/16/78/</link>
		<comments>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/16/78/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 May 2008 10:45:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dee_addict</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/05/16/78/</guid>
		<description><![CDATA[Bumi Kita Butuh Langkah Cepat, Please Go Veggie!by: Chindy Tan 
Alarm tanda bahaya dampak pemanasan global berbunyi semakin nyaring. Pola pencairan es di Arktika merupakan salah satu indikatornya. Perubahan demi perubahan melaju dalam hitungan bulan. Tanggal 18 Maret 2008, Jay Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Arktika hampir semua akan mencair pada akhir musim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight:bold;">Bumi Kita Butuh Langkah Cepat, Please Go Veggie!</span><br /><span style="font-style:italic;">by: Chindy Tan </span></p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SEdbMS7RgfI/AAAAAAAAAKI/Id-u9yTk69U/s1600-h/EarthBlueMarbleWestTerra.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SEdbMS7RgfI/AAAAAAAAAKI/Id-u9yTk69U/s200/EarthBlueMarbleWestTerra.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208231760874275314" /></a><br />Alarm tanda bahaya dampak pemanasan global berbunyi semakin nyaring. Pola pencairan es di Arktika merupakan salah satu indikatornya. Perubahan demi perubahan melaju dalam hitungan bulan. Tanggal 18 Maret 2008, Jay Zwally, ahli iklim NASA, memprediksi es di Arktika hampir semua akan mencair pada akhir musim panas 2012. Hanya dalam waktu dua bulan prediksi itu bergeser. Tanggal 1 Mei 2008 lalu, prediksi terbaru dilansir NASA: mencairnya semua es di Arktika bisa terjadi di akhir tahun 2008 ini. Sederet tanda-tanda bahaya yang telah terjadi sebelumnya adalah volume es di Arktika pada musim panas 2007 hanya tinggal setengah dari empat tahun sebelumnya. Es di Greenland yang telah mencair mencapai 19 juta ton. Fenomena terbaru lainnya, pada tanggal 8 Maret 2008 beting es Wilkins di Antartika yang berusia 1500 tahun pecah dan runtuh seluas 414 kilometer persegi (hampir 1,5 kali luas kota Surabaya atau sepertiga luas Jakarta).</p>
<p>Efek domino apa yang membayang bila es di Arktika mencair semua? Mencairnya es di Arktika tidak akan menaikkan level permukaan air laut, melainkan akan mempercepat siklus pemanasan global itu sendiri. Bila es di Arktika mencair semua, 80% sinar matahari yang sebelumnya dipantulkan akan diserap 95% oleh air laut. Konsekuensi lanjut adalah potensi terlepasnya 400 miliar ton gas metana atau 3000 kali dari jumlah gas metana di atmosfer. Gas metana dapat terlepas akibat mencairnya bekuan gas metana yang stabil pada suhu di bawah dua derajat celcius. Seperti diketahui, gas metana memiliki efek rumah kaca 25 kali lebih besar dari gas CO2. Salah satu skenario  yang mungkin terjadi adalah terulangnya bencana kepunahan massal  yang pernah terjadi pada 55 juta tahun yang lalu dikenal dengan masa PETM (Paleocene-Eocene Thermal Maximum). Saat itu, gas metana yang terlepas ke atmosfer mengakibatkan percepatan pemanasan global hingga mengakibatkan kepunahan massal. Bukti geologi lain menunjukkan kepunahan massal juga pernah terjadi 251 juta tahun lalu, pada akhir periode Permian. Akibat terlepasnya gas metana, lebih dari 94% spesies mengalami kepunahan massal. Kematian massal terjadi mendadak karena turunnya level oksigen secara ekstrem.</p>
<p>Membaca fakta-fakta di atas, satu hal yang patut digarisbawahi adalah tenggat waktu yang semakin sempit. Dr. Rajendra K. Pachauri, Ketua IPCC, menekankan bahwa dua tahun ke depan merupakan masa tenggat penting untuk menghambat laju pemanasan global yang bergerak dengan sangat cepat. James Hansen, ahli iklim NASA, mengatakan bahwa kita telah berada di titik sepuluh persen di atas batas ambang kemampuan Bumi mencerna CO2. Artinya, kita telah melampaui titik balik. Pada level saat ini, tindakan yang harus diambil bukan lagi mengurangi, melainkan menghentikan.</p>
<p>Kita butuh kecepatan dan ketepatan membaca masalah hingga dapat memilih solusi yang efektif. Solusi yang mampu berpacu dengan waktu untuk memperlambat laju pemanasan global. Berkaitan dengan ini, dalam konferensi persnya di Paris, 15 Januari 2008, Pachauri mengimbau masyarakat dunia dalam tingkat individu untuk: pertama, jangan makan daging. Kedua, kendarai sepeda. Ketiga, jadilah konsumen yang hemat.</p>
<p>Mengapa ”jangan makan daging” berada pada urutan pertama? Fakta berbicara, seperti laporan yang dirilis  Badan Pangan Dunia – FAO (2006) dalam Livestock’s Long Shadow – Environmental Issues and Options, daging merupakan komoditas penghasil emisi karbon paling intensif (18%), bahkan melebihi kontribusi emisi karbon gabungan seluruh kendaraan bermotor (motor, mobil, truk, pesawat, kapal, kereta api, helikopter) di dunia (13,5%). Peternakan juga adalah penggerak utama dari penebangan hutan. Diperkirakan 70% persen bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Setiap tahunnya, penebangan hutan untuk pembukaan lahan peternakan berkontribusi emisi 2,4 miliar ton CO2.</p>
<p>Memelihara ternak membutuhkan energi listrik untuk lampu-lampu dan peralatan pendukung peternakan, mulai dari penghangat ruangan, mesin pemotong, mesin pendingin untuk penyimpanan daging. Mesin pendingin merupakan mata rantai paling tidak efisien energi listrik. Hitung saja mesin pendingin mulai dari rumah jagal, distributor, pengecer, rumah makan, pasar hingga sampai pada konsumen. Mata rantai inefisiensi berikutnya adalah alat transportasi untuk mengangkut ternak, makanan ternak, sampai dengan elemen pendukung lain dalam peternakan intensif seperti obat-obatan, hormon dan vitamin. </p>
<p>Mata rantai lain yang sangat tidak efisien tapi telah berlaku demikian kronis adalah pemanfaatan hasil pertanian untuk peternakan. Dua pertiga lahan pertanian di muka Bumi ini digunakan untuk peternakan. Sebagai contoh, Eropa mengimpor 70% protein (kedelai, jagung dan gandum) dari pertanian untuk peternakan. Indonesia sendiri pada tahun 2006 mengimpor jagung untuk pakan ternak 1,77 juta ton. Prediksi produksi pakan ternak naik dari 7,2 juta ton menjadi 7,7 juta ton, kata Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas-Paulus Setiabudi (Kompas, 8 November 2007). Sementara itu, menurut data Indonesian Nutrition Network (INN), setengah dari penduduk Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi (16 Sept 2005), sebagaimana yang dikemukakan oleh Menteri Kesehatan DR. dr. Fadillah Supari, SPJP(K). </p>
<p>Tanggal 30 April 2008 lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak segenap bangsa ini untuk bersama saling membahu menghadapi krisis pangan dunia. Akar masalah kelangkaan pangan jika dicermati salah satunya adalah krisis manajemen lahan itu sendiri. Secara matematis, inefisiensi pemakaian lahan pertanian untuk pakan ternak tercermin dari perhitungan kalori yang “terbuang” untuk membesarkan ternak cukup. Pakan yang selama ini diberikan kepada ternak dapat memenuhi kebutuhan kalori 8,7 miliar orang! Berarti masih ada kelebihan kalori untuk 2,1 miliar orang. Sebenarnya tidaklah sulit untuk memahami mendesaknya perubahan pola makan ini, yakni perubahan ke pola makan yang mata rantainya pendek. Perut manusia bisa langsung mencerna kedelai, jagung dan gandum tanpa harus melalui perut ternak terlebih dahulu. Tidakkah beralih ke pola makan bebas daging justru dapat menjadi solusi ketimpangan akses pangan seluruh dunia? </p>
<p>Pertanian untuk pakan ternak itu sendiri merupakan penyumbang 9% CO2 (karbondioksida), 65% N2O (dinitrooksida) dan 37% CH4 (metana). Perlu diketahui efek rumah kaca N2O adalah 296 kali CO2, sedangkan CH4 adalah 25 kali CO2. Satu lagi masalah industri peternakan yang sangat krusial yakni, inefisiensi air. Sekian triliun galon air diperuntukkan untuk irigasinya saja. Sebagai gambaran sederhana, untuk mendapatkan satu kilogram daging sapi mulai dari pemeliharaan, pemberian pakan ternak, hingga penyembelihan seekor sapi  membutuhkan  satu juta liter air! Data yang dihimpun Lester R. Brown, Presiden Earth Policy Institute dan Worldwatch Institute, memaparkan dalam bukunya ”Plan B 3.0 Mobilizing to Save Civilization” (2008) bahwa karena untuk memproduksi satu ton biji-bijian membutuhkan seribu ton air, tidak heran bila 70% persediaan air di dunia digunakan untuk irigasi. </p>
<p>Jejak emisi gas rumah kaca daging terukur jelas. Dr Rajendra memberi ilustrasi konversi energi untuk memelihara sampai menghasilkan sepotong daging sapi, domba atau babi sama besar dengan energi yang dibutuhkan untuk menyalakan lampu 100 watt selama 3 minggu. Satu kilogram daging menyumbang 36,4 kg CO2, tidak heran bila data dari film dokumenter ”Meat The Truth” menyebutkan emisi CO2 seekor sapi selama setahun sama dengan mengendarai kendaraan sejauh 70.000 km. Penelitian di Belanda  (www.partijvourdedie.en.el) mengungkapkan, seminggu sekali saja membebaskan piring makan dari daging masih 7,6 kali lebih cepat dibandingkan gerakan hemat energi skala rumah tangga dalam setahun.</p>
<p>Penelitian paling gres yang dilakukan Prof. Gidon Eshel dan Pamela A. Martin (”Diet, Energy and Global Warming”) merunut kontribusi setiap potongan daging terhadap emisi karbon. Penelitian ini diakui secara ilmiah dan dipublikasikan dalam jurnal bergengsi para ilmuwan Earth Interaction Vol. 10 (Maret 2006).  Jumlah gas rumah kaca yang diemisikan oleh daging merah, ikan, unggas, susu dan telur jika dibandingkan dengan diet murni nabati/vegan,  ternyata jika satu orang dalam setahun mau mengganti diet hewani mereka ke diet nabati murni/vegan akan mencegah emisi CO2 sebesar 1,5 ton. Lima puluh persen lebih efektif daripada upaya mengganti mobil Toyota Camry ke mobil Toyota Prius <span style="font-style:italic;">hybrid</span> sekalipun yang ternyata hanya mampu mencegah 1 ton emisi CO2.</p>
<p>Objektivitas akan menuntun kita untuk mengakui pola konsumsi daging sebagai kontributor terbesar emisi gas rumah kaca. Pilihan kita tidak banyak, mengingat tenggat waktu yang demikian sempit. Mengutip tulisan Senator Queensland, Andrew Bartlett, bahwa seluruh dunia tidak mesti menjadi vegetarian atau vegan untuk menyelamatkan planet kita, tapi kita harus mengakui fakta-fakta ilmiah ini, bahwa jika kita tidak mengurangi konsumsi produk hewani, kesempatan kita untuk menghentikan perubahan iklim adalah nihil. Menurut Bartlett, tidak ada langkah yang lebih murah, lebih mudah dan lebih cepat untuk dilakukan yang dapat mengurangi kontribusi tiap individu terhadap emisi gas rumah kaca selain memangkas jumlah konsumsi daging dan produk susu dan olahannya.</p>
<p>Aksi untuk hemat bahan bakar kita masih banyak bergantung pada fasilitas umum. Upaya yang paling bisa kita lakukan adalah menggunakan kendaraan umum. Namun, sudah menjadi rahasia umum, tidak mudah untuk menggunakan kendaraan umum jika berhadapan dengan kepentingan keamanan, dan untuk ini kita masih bergantung pada kebijakan pemerintah. Aksi hemat energi dalam konteks yang paling ideal bergantung pada teknologi. Sumber energi paling ramah lingkungan yakni tenaga angin, air, dan matahari, masih jauh membutuhkan teknologi dan biaya yang tidak kecil. Butuh waktu yang panjang dan upaya ekstra untuk menggerakkan kesadaran massal untuk hemat energi, hemat listrik, hemat bahan bakar karena harus berhadapan dengan kebiasaan dan perilaku yang telah mengakar. </p>
<p>Mengubah pola makan juga berhadapan dengan kebiasaan yang telah mengakar. Namun, memegang sendok dan akhirnya menjatuhkan pilihan apa yang akan dimasukkan ke mulut kita, sepenuhnya berada di kendali kita. Langsung bisa dilakukan! Jarak antara piring dan mulut kita mungkin hanya sejarak panjang sendok, membalikkan isi sendoknya hanya butuh waktu sekedipan mata, tapi kendalinya ada pada mindset tiap kita. Sejenak, biarkan kepala dingin hadir. Mari dengan mata jernih melihat realitas, mengakui fakta betapa tekanan pola konsumsi daging sedemikian hebatnya pada daya dukung Bumi. Sejenak merasakan beban berat Bumi ini mungkin akan menggeser pilihan kita ke pola konsumsi tanpa daging, pola yang jauh lebih ramah Bumi. </p>
<p>PS 1.<span style="font-style:italic;">Penulis adalah Koordinator Indonesia Vegetarian Society Regional Yogyakarta &#8211; Jateng.<br />PS 2. Ini sesuatu yang tidak biasanya saya lakukan, yakni memuat posting karya orang lain. Tapi, artikel Chindy ini menyimpan begitu banyak informasi yang terlalu penting untuk dilewatkan. Dan menurut saya bisa membantu kita semua untuk lebih bijak bersikap, sekaligus juga menerangkan banyak hal yang melatarbelakangi tulisan-tulisan saya di Dee-Idea selama ini. Hope you guys can enjoy this article as much as I do.<br />PS 3. Gambar Bumi diambil dari spacetoday.org <br /></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/16/78/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/13/77/</link>
		<comments>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/13/77/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 May 2008 19:32:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dee_addict</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/05/13/77/</guid>
		<description><![CDATA[Satu Halaman – Satu Jam
Mohon maaf sebelumnya. Kali ini tulisan saya lebih bersifat pelepasan unek-unek. Curhat, barangkali istilah yang cukup pas. Dan untuk itu, saya akan menulis relatif singkat dan tanpa banyak mikir. 
Pagi ini (13/5), sambil menunggu siaran di Trax FM – Jakarta, saya membuka koran Kompas. Headline halaman depan tentang BBM. Sisa isinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight:bold;">Satu Halaman – Satu Jam</span></p>
<p>Mohon maaf sebelumnya. Kali ini tulisan saya lebih bersifat pelepasan unek-unek. Curhat, barangkali istilah yang cukup pas. Dan untuk itu, saya akan menulis relatif singkat dan tanpa banyak mikir. </p>
<p>Pagi ini (13/5), sambil menunggu siaran di Trax FM – Jakarta, saya membuka koran Kompas. <span style="font-style:italic;">Headline</span> halaman depan tentang BBM. Sisa isinya bervariasi. Seperti halnya koran-koran lain, lebih banyak kabar buruk ketimbang kabar baik. Entah karena memang kabar buruk lebih menjual, atau kita lebih senang berkubang dalam keburukan, atau memang kabar buruklah yang lebih banyak mengepung kehidupan kita. Pagi ini, saya punya niatan iseng ingin menghitung proporsi kabar buruk, kabar baik, dan kabar netral. </p>
<p>Niatan iseng itu berhenti seketika ketika saya menemukan artikel berjudul “Es di Arktik Akan Lenyap Tahun 2008” (maaf kalau tidak identik sama, berhubung korannya milik ruang tunggu radio jadi tidak saya bawa pulang, akibatnya penyebutan judul itu berdasarkan ingatan semata). Artikel tersebut dimuat di halaman berita Internasional. <span style="font-style:italic;">Sorry, but I have to say, it was poorly written.</span> Apa yang ditulis di judul tidak diterangkan di dalam artikelnya. Dan isi artikel itu sendiri hanyalah potongan-potongan informasi tanpa ada satu tujuan atau pesan yang koheren. Yang juga membuat saya miris adalah, bagaimana berita itu—dari masalah penempatan, besarnya kolom, dan kualitas tulisan—seolah menunjukkan level urgensi yang diusung oleh media nasional dalam memberitakan masalah lingkungan global. </p>
<p>Boleh jadi ini cuma pendapat saya seorang, tapi sungguh saya merasa media kita terlena dalam infomasi nggak penting yang dipikirnya penting, dan informasi penting yang diperlakukan tidak/kurang penting. Saya bahkan belum bicara soal televisi—media paling <span style="font-style:italic;">powerful</span> dengan penetrasi hingga bilik kita yang paling pribadi sekaligus media yang paling sesak oleh sampah dan kedunguan kronis yang dipelihara atas nama <span style="font-style:italic;">rating</span> dan iklan. </p>
<p>Minggu lalu, saya diminta menjadi bintang tamu/narasumber oleh sebuah acara pagi salah satu teve swasta. Saya diminta untuk ngomong soal pembatasan kantong plastik, vegetarian sebagai gaya hidup ramah lingkungan, pengolahan kompos, dsb. Tentunya saya bersemangat. Saya membaca skrip dan mempersiapkan aneka jawaban untuk sederet pertanyaan tsb. Ketika kamera berjalan, yang terjadi adalah balap lari antara informasi, durasi, dan jeda iklan. Saya cuma punya lima menit untuk menjelaskan hal-hal yang seharusnya bisa diseminarkan satu minggu. Itu pun bercampur lagi dengan <span style="font-style:italic;">gimmick</span> soal jajanan khas Betawi. </p>
<p>Saat saya mengeluhkan waktu bicara yang terlalu singkat, semua orang di tim produksi menyambut dengan kor keluhan serupa. Iklannya saja bisa enam menit, kata mereka. Lebih panjang dari jatah saya bicara. Durasi singkat + materi padat + iklan banyak = informasi encer. Dan demikianlah formula kebanyakan program <span style="font-style:italic;">talkshow</span> teve kita, yang padahal secara konsep tampak menarik dan (berusaha) mencerdaskan. </p>
<p>Saya termenung panjang sesudah penampilan supersingkat tadi. Bagaimana caranya kita bisa terjaga jika media nasional kita malah terus meninabobokan kita semua? Tidak berarti informasi yang tajam dan edukatif tidak bisa menghibur, tapi kalau kita hanya meluangkan sesuatu sekritis masalah lingkungan dalam satu segmen di sebuah <span style="font-style:italic;">talkshow </span>empat segmen plus dipepet kiri kanan oleh info kuliner dan tetek bengek lain, atau menempatkan berita cairnya Arktik dalam satu kolom kecil di surat kabar paling tebal se-Indonesia, tidakkah ini yang menggelikan? </p>
<p>Empat sampai lima jam teve kita bisa manteng menampilkan penyanyi-penyanyi didampingi ibunya atau seseorang yang dianggap belahan jiwanya, atau seleb-seleb yang kurang bisa nyanyi berlomba menjadi penyanyi top pilihan pemirsa. Saya tidak menafikan kenyataan kalau acara yang demikian menghibur, ditambah ungkapan-ungkapan standar semisal “hidup sudah susah, jangan bikin tambah susah”, “yang begitulah yang disukai rakyat”, dan seterusnya. Namun jika kita hanya terpaku di sana, maka kita lupa betapa tajam dan berkuasanya alat bernama media. Dan kita seperti anak kecil bermain dengan bom atom. Tidak sadar betapa dahsyatnya “mainan” di tangan kita. </p>
<p>Kalau kita bisa berteriak &#8220;rakyat kita bodoh&#8221;, &#8220;rakyat kita maunya dibohongi&#8221;, &#8220;rakyat  memang senangnya acara yang nggak mutu&#8221;, lalu terus menyuapi mereka dengan “makanan pikiran” yang tak bermutu (baca: nggak penting) hanya supaya mereka terpuaskan, lalu <span style="font-style:italic;">rating</span> naik, lalu iklan naik, lalu untung naik, dan terakhir kedua tangan kita naik ke atas sambil berkata “yah, itulah kenyataan media,”… menurut saya, itulah kebodohan yang paling ultimat. </p>
<p>Saya sadar, ada banyak isu penting lain di luar sana. Ada banyak informasi edukatif yang bisa dibagi. Dan, sekali lagi, boleh jadi ini hanya pendapat saya seorang, tapi menurut saya, dalam periode ini tidak ada isu yang paling urgen selain penyelamatan Bumi. Bukan cuma sekadar gembar-gembor soal pemanasan global, melainkan bagaimana kita bisa menyajikan dan membantu transformasi kesadaran manusia untuk kembali bersahabat dengan lingkungan, meniti pulang ke jantung alam, dan terakhir, meniti pulang ke jantung jatidirinya. </p>
<p>Malam ini saya berdoa, di tengah hiruk-pikuk informasi di media yang menggempur panca indra kita, akan ada satu acara yang dikhususkan untuk meningkatkan kesadaran tentang kondisi lingkungan. Dari mulai perbaikan relasi manusia dengan alam di level pemahaman sampai tips-tips praktis yang bisa dilakukan di setiap rumah. Akan ada saatnya bagi media cetak untuk sudi meluangkan satu halaman mereka khusus untuk menyiarkan hal-hal yang dapat membantu Bumi dan peradaban agar bisa hidup berdampingan secara harmonis. </p>
<p>Satu halaman. Satu jam. </p>
<p>Saya berdoa.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/13/77/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/07/76/</link>
		<comments>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/07/76/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 May 2008 13:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dee_addict</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dewilestari.com/b/2008/05/07/76/</guid>
		<description><![CDATA[Pertempuran Tiga Perut
Belum lama ini, kita resmi memasuki krisis global baru. Krisis pangan dan energi. Meminjam istilah teman saya, Chindy, sekarang ini sedang terjadi persaingan antara tiga macam “perut”: perut manusia, perut ternak, dan perut mobil. 
Mari kita bahas dulu mengenai perut mobil. Selayak kodratnya sebagai energi yang tak bisa diperbarui, cadangan minyak dunia kian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight:bold;">Pertempuran Tiga Perut</span></p>
<p>Belum lama ini, kita resmi memasuki krisis global baru. Krisis pangan dan energi. Meminjam istilah teman saya, Chindy, sekarang ini sedang terjadi persaingan antara tiga macam “perut”: perut manusia, perut ternak, dan perut mobil. </p>
<p>Mari kita bahas dulu mengenai perut mobil. Selayak kodratnya sebagai energi yang tak bisa diperbarui, cadangan minyak dunia kian menipis. Belum lagi dengan tudingan konspirasi ekonomi di balik itu semua. Berbagai macam teori dilontarkan untuk menjelaskan kenaikan harga minyak. Situasi ini lantas memunculkan primadona baru, yakni biofuel. Permintaan dan popularitas biofuel meningkat drastis akibat kepanikan dunia akan menipisnya bahan bakar fosil. Biofuel pun dipandang sebagai substitusi yang lebih ramah lingkungan. Benarkah demikian?</p>
<p>Menurut pemenang Nobel, Paul. J. Crutzen, biofuel justru penyumbang besar pemanasan global, karena asas bekerja dan hasilnya sama-sama saja: pembakaran dan karbondioksida. Belum lagi dengan jumlah permintaan besar dan tuntutan waktu yang cepat, biofuel yang dibuat dengan bahan dasar jagung, kanola, tebu, atau sawit akan memaksa produsennya untuk menggunakan pupuk sintetis yang menyumbang nitro-oksida – salah satu gas rumah kaca yang berbahaya. Nitro-oksida punya efek insulasi 300 kali lipat dibandingkan karbondioksida. Menurut Krutzen, ditinjau dari emisi nitro-oksidanya saja, semua kebaikan biofuel bisa jadi nihil. Bahkan tekor. </p>
<p>Namun demam biofuel tak pelak menyeret para petani seluruh dunia dalam arus hukum ekonomi: menjual kepada yang memberi untung lebih. Akibatnya, mereka berlomba-lomba menjual pada produsen biofuel hingga naiklah harga kedelai, sawit, dan jagung, dibarengi kelangkaan makanan pokok dan minyak goreng di pasar. Beberapa bulan lalu, pengusaha tempe-tahu kita menjerit. Ibu-ibu menjerit. Bukti bahwa perut manusia akhirnya tergusur. Kalah oleh perut mobil.</p>
<p>Laporan Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) memperkirakan, kenaikan penderita kelaparan di dunia mencapai 16 juta orang dari setiap satu persen saja kenaikan harga bahan pangan pokok dunia. Dengan laju kenaikan sebesar itu, IFAD memperkirakan terdapat 1,2 miliar orang yang akan mengalami krisis pangan kronis di seluruh dunia pada tahun 2025.</p>
<p>Namun, pada bulan April 2008, harga satu ton beras di pasar dunia sudah di atas 1.000 dolar AS atau naik sebesar 47 persen sejak Maret 2008. Di Amerika, penjualan beras kini sudah dibatasi. Di Asia, negara-negara eksportir beras mulai mengunci lumbung-lumbungnya. Takut rakyatnya kelaparan. </p>
<p>Bagaimana dengan perut ternak? Saya teringat satu karikatur yang menggambarkan bagaimana hewan tergeli-geli melihat manusia. Sesama hewan tidak memakan spesiesnya, tapi manusia sibuk memberi makan hewan sampai lupa memberi makan spesiesnya sendiri. Di atas puncak piramida makanan, tak ada lagi predator yang menghabisi kita. Hanya kitalah yang bisa membunuh saudara-saudara kita sendiri. Tak melulu dengan peluru atau belati, kita mengosongkan lambung miliaran manusia karena sibuk mengisi lambung hewan ternak. </p>
<p>Di dunia saat ini jumlah seluruh hewan ternak berkaki empat mencapai angka enam miliar. Beda tipis dengan populasi manusia yang sudah mencapai 6,5 miliar jiwa. Enam miliar ternak itu tidak dicapai semata-mata oleh alam, manusialah yang secara sengaja mewujudkannya atas nama pemenuhan kebutuhan hidup. Namun, kenyataannya 40.000 manusia mati setiap hari karena kelaparan. Padahal hasil pertanian yang digunakan untuk pakan ternak di negara Amerika saja bisa memberi makan 1,3 miliar manusia. </p>
<p>Kini kita mulai merasakan efek perang ketiga perut tersebut. Presiden belum lama ini akhirnya mengeluarkan inpres untuk penghematan energi. Petani-petani mulai mengaktifkan sistem lumbung untuk menjaga stok beras. Dan negara-negara Asia, produsen beras dunia, berkumpul untuk berhitung dan berstrategi. </p>
<p>Di tengah seliweran analisa dan solusi atas situasi tersebut, saya merasa bahwa pertempuran tiga perut ini juga terjadi di level terkecil dan terprivat: rumah kita sendiri. Antara perut manusia, perut kendaraan, dan perut ternak, ketiganya melangsungkan dinamika di daftar prioritas kita, di daftar belanjaan, dalam pilihan-pilihan yang kita buat sehari-hari. Dari tiga perut tadi, mana yang ingin kita dahulukan?</p>
<p>Secara instan dan refleks, seharusnya sangat mudah bagi kita untuk menjawab. Namun kenyataannya tak semudah itu. Kita telah dijerat gaya hidup, kebiasaan, misinformasi, hingga meski itikad kita adalah membela perut manusia, pilihan-pilihan kita tak selalu konsisten dengan itu. Tanpa kita sadari dan ingini, seringkali kita “membunuhi” saudara-saudara kita. Bahkan diri kita sendiri. Contoh singkatnya, untuk memproduksi satu kilo daging sapi dibutuhkan enam belas kilo tanaman biji-bijian yang merupakan makanan pokok manusia. Jadi, bisa dibilang, saat kita mengonsumsi satu kilo daging, kita telah mengambil jatah enam belas porsi makan manusia. </p>
<p>Tips-tips berikut ini sederhana dan barangkali sudah sering kita dengar. Namun, tanpa niat yang kuat, belum tentu mudah untuk dilaksanakan. Apalagi kalau gaya hidup dan pandangan kita dibelit berbagai jeratan yang saya sebutkan tadi. Tapi, bisakah kita mencoba?</p>
<p>Susunlah rute kepergian Anda per hari sebaik mungkin supaya penggunaan BBM kita efektif. <span style="font-style:italic;">Go in a bundle, as best as we can.</span> Sekarang ini, saya memilih pergi dengan travel untuk setiap trip saya ke Jakarta, ketimbang berkendara sendiri dalam mobil pribadi. Cek setiap lampu, alat elektronik, dan titik-titik listrik. Pergunakan secermat dan sebijak mungkin. Matikan yang tak perlu. Pilih perangkat yang paling hemat energi. Jika Anda punya lebih dari satu mobil, gunakan yang paling hemat bensin lebih sering. Beli produk lokal sebisa mungkin, dari mulai makanan hingga barang, karena ini berarti kita menghemat energi yang dipakai untuk <span style="font-style:italic;">shipping</span> dan perjalanan benda-benda itu. Bagi yang ingin mengulik lebih serius dan detail aneka tips penghematan energi, bisa kunjungi <a href="http://wwfgroup.multiply.com/journal/item/7/LEMBAR_FAKTA_-_Tips_hemat_listrik_gaya_hidup_hijau">tips hemat dari WWF</a>. </p>
<p>Yang berikut adalah tips yang tak terlalu populer, barangkali karena melibatkan kepentingan industri besar dan faktor pembiasaan yang sangat kuat, tapi saya belum jera menyuarakan: bervegetarianlah sesering mungkin. Bisa dimulai dengan pola “vegetarian weekend” alias 5:2 per minggunya, berangsur menjadi 3:3, berangsur lagi menjadi “omnivarian weekend” <span style="font-style:italic;">(or “carnivorian weekend” for some people)</span> alias 2:5, hingga 1:6. Atau, bagi yang sanggup dan mau, bisa langsung total menjadi vegetarian setiap harinya.  </p>
<p>Berikut ilustrasi jika kita mau <a href="http://www.wannaveg.com">bervegetarian satu hari saja dalam satu minggu</a>. Dalam satu tahun kita telah membantu Bumi berhemat… </p>
<p>• 317.520 liter air<br />• 111 kilogram tanaman biji-bijian<br />• 693 m2 lahan<br />• 58 liter bensin<br />• 183 kg kotoran ternak</p>
<p>Dalam pertempuran ini, di manakah kita berdiri? Bagaimana kita menata ketiga bidak tersebut dalam peta percaturan krisis global ini? Mari, pelan-pelan, amati daftar belanja, daftar kegiatan, rute perjalanan, isi meja makan, penunjuk bensin, setiap tombol on/off… barangkali di sana kita, manusia peradaban modern, bisa mengibarkan bendera perdamaian. Antara manusia dan Bumi. Untuk pertama kali.</p>
<p><a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SEdWtpEv2kI/AAAAAAAAAJw/jAw60yLh22I/s1600-h/thumb_define_necessity.jpg"><img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_cFyLpWnSDaM/SEdWtpEv2kI/AAAAAAAAAJw/jAw60yLh22I/s400/thumb_define_necessity.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5208226836197136962" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dewilestari.com/b/2008/05/07/76/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
